.
Stalker Conflict Chapter 6
Genre : Romance, Family, Humor
Rate : T
Disclaimer : Ehem, I don't own Brothers Conflict, I just own the story and few OCs.
.
.
Rabbit and Vampire
Hembusan angin musim semi membelai lembut rambut hitam ikalku. Taman bermain tampak ramai oleh berbagai macam pengunjung dari berbagai usia.
Aku tersenyum puas, setengah ngos-ngosan, setelah berhasil menangkap sosok pria berjas hitam, berkemeja putih dan berdasi hijau yang baru saja kukejar mati-matian. Aku dengan tenaga yang tersisa, memeluk erat tangan kirinya. Tangan kanan pria ini membawa tas kerja sih.
"Jadi," pria yang kini ada di hadapanku menghela nafas panjang, wajahnya tampak pasrah, "apa yang anda inginkan, Aika-san?"
Aku memonyongkan mulutku. "Natsume-chan! Sudah kubilang, panggil aku 'Aika-chan'! Bukan Aika-san!" seruku sambil ganti bergelayutan di lehernya.
"A- adu- duh! Aika-san! Berhenti bertingkah seperti monyet. Anda bukan anak SMP lagi!" ujar Natsume-san sambil merintih kesakitan.
"Panggil aku Aika-chan dulu!" rengekku tak suka.
Natsume-san kembali menghela nafas. "Baiklah, Aika-chan. Kamu nggak berubah juga ya. Padahal sudah SMA, kan?"
Aku terkekeh. "Natsume-san baik deh! Sengaja nggak lari cepat-cepat biar kutangkap kan?" Aku akhirnya kembali menggunakan panggilan '-san'. Aku hanya menggunakan panggilan '-chan' kalau menggoda pria dewasa ini. Hihi.
Natsume-san menampakkan wajah kesal yang lucu. "Saya cuma kasihan melihatmu hampir mati kehabisan nafas tadi. Dan, jangan membelokkan arah pembicaraan! Kebiasaan!"
Aku nyengir kambing. "Gomennasai~! I miss you, Natsume-san! It has been years we haven't met up, y'know! Meany!"
Natsume-san menjedukkan kepalanya ke kepalaku dengan lembut. "Siapa yang jahat? Bukannya saya bilang anda bisa datang kapan saja ke kantor?"
Aku kembali nyengir. "Eeeeh? Masaaa? Ehehe, maaf."
Natsume-san hanya geleng-geleng kepala.
"Aika-chan!" panggil seorang gadis yang sedang berlari menuju arahku dan Natsume-san.
"Ema-chan!" Ah, aku juga bisa melihat Tsubaki-san dan Azusa-san berlari di belakang Ema-chan.
"Ema? Tsubaki dan Azusa?" gumam Natsume-san, terdengar heran.
Aku menoleh ke arah Natsume-san. "Natsume-san kenal mereka?"
"Mereka saudaraku," jawab Natsume-san, kalem.
Kedua mataku melotot. "EHHHH~? SAUDARA?" Tunggu, aku memang tidak terlalu peduli dengan marga keluarga Natsume-san. Jadi, aku rada lupa. Kalau tidak salah… "Natsume-san. Natsume. Asa… Asahina… Asahina Natsume?"
Natsume-san menoel pipiku, gemas. "Jangan bilang anda lupa?"
Aku terdiam sesaat, berusaha me-loading semua informasi ini, lalu… "Hehehe… iya."
Natsume-san kembali geleng-geleng kepala.
"Ada apa?" tanya Ema-chan penasaran setelah ia berada di sampingku. Matanya menatapku dan Natsume-san. Ketika bertemu mata dengan Natsume-san, Ema-chan tersenyum. "Konichiwa, Natsume-san!"
"Konichiwa," balas Natsume-san dengan lembutnya. Aku sempat tertegun ketika melihat bagaimana Natsume-san melihat dan berbicara dengan gadis rambut coklat itu.
"Yo, Natsume!" panggil Tsubaki-san sambil menepuk pundak Natsume-san.
"Tsubaki," Natsume-san melirik barang belanja yang ada di tangan Tsubaki-san dan Azusa-san, "Habis berbelanja?"
Tsubaki-san mengangguk. "Yep. Hmmm, kamu kenal Aika-chan?"
Natsume-san melirikku. "Yeah, meskipun aku berharap banget nggak pernah bertemu gadis aneh ini."
Aku memonyongkan mulutku. "Buuu~ Natsume-chan jahat!"
Natsume-san tersenyum geli. "Bohong kok, bohong."
"Natsume dan Aika-chan kenalan sejak kapan?" Tanya Azusa-san. Hmm, pria berkacamata satu itu tampak penasaran sekali.
Aduh, aku nggak mau bilang kalau aku pernah bekerja di perusahaan game tempat Natsume-san bekerja. Mereka bisa tahu kalau aku penulis. Nggak pasti ketahuan sih, tapi…
Natsume-san tampak berpikir. "Kita ketemu pas-"
"Main game di arcade!" potongku, terlihat terlalu semangat hingga aku yakin mereka bakal tahu kalau aku berbohong.
Ema-chan ber-oh ria, Tsubaki-san mengangguk-anggukkan kepala, dan Azusa-san masih menatapku lekat-lekat. Eng-ing-eng, sepertinya Azusa-san meragukan perkataanku. Dadaku sedikit sakit. Aku tak terlalu suka berbohong, tapi… aku masih tak ingin pekerjaanku diketahui orang lain dulu.
Natsume-san melirikku sekilas, menyadari niatku lalu menghela nafas. "Aika-chan hebat loh. Mungkin kemampuannya setara dengan Ema?"
Ema melirikku sekilas lalu terkikik geli. "Haha, Aika-chan emang rival paling hebat yang pernah aku temui, dalam bermain game sih."
Aku nyengir lebar. "Ema-chan kalau main game ngeri. Bisa tahan semalaman. Nggak tidur pula. Kalau aku masih lebih milih tidur daripada main game. Ema-chan itu benar-benar penggila game!"
Bibir Ema mengerucut. "Nggak apa-apa donk, suka game."
Aku terkikik geli lalu mengusap rambut Ema lembut. "Hahaha, it's okay. Don't worry. You are cool, y'know!"
Pipi Ema memerah diikuti selapis senyum di bibir mungilnya. "Arigatou."
Pusaran kupu-kupu bermain-main di perutku. Aaaa~hhh… Ema-chan emang maniii~ss…
"Oh ya, Natsume-san!" panggilku, teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatku berusaha mati-matian untuk mengejar Natsume-san tadi.
"Ya?"
"Habis ini ke rumahku ya? Ada yang mau kubicarakan."
Natsume-san menghela nafas panjang. "Sudah saya duga. Makanya saya tadi berencana kabur."
.
.
.
Pesona hamparan lautan tak berunjung membuatku tak dapat berpaling. Angin yang berhembus membelai lembut rambut Futo yang sedang berdiri membelakangiku. Suara burung-burung penghuni pesisir pantai terdengar sayup-sayup sebagai backsound pemandangan indah ini. Aku meneguk ludahku.
Futo membalikkan badannya lalu tersenyum lembut.
"Tak pernah terbayangkan dapat bersamamu saat matahari terbenam seperti saat ini." Mata Futo melembut. "I love you. Selalu mencintaimu, hingga akhir hayatku."
"Buatlah memori indah dengan seorang yang special di… Panpacific Travel Service."
Televisi yang berada di ruang tengah rumahku itu pun menayangkan iklan lain setelah iklan Panpasific Travel Service selesai.
Aaaarrgghh! SIAL! So sweet banget! Iklan ini benar-benar nggak nahan!
Aku guling-guling di lantai dengan hebohnya.
"Aika-chan," panggil sebuah suara, menyadarkanku akan kenyataan. Aku, yang masih nemplok di lantai, menoleh ke sumber suara, mendapati Natsume-san sedang menatapku dengan tatapan, geli?
"Ada apa?"
"Emm, anda mimisan," ucap Natsume-san, ragu-ragu sambil berusaha menahan tawa.
Aku meraba area di sekitar hidung yang kemudian kudapati cairan berwarna merah.
"Aha-ha-ha…" aku tertawa kikuk. Dapat kurasakan wajahku memanas. Segera kuraih kotak tisu di meja belajar dan membersihkan mimisanku. Aku garuk-garuk kepala. "Ehem! Maaf, aku sempat berpindah konsentrasi. Ehem."
Natsume-san tersenyum geli. Sorot matanya menampakkan kehangatan yang sedari dulu kusukai. "Aika-chan masih fans berat Futo ya?"
Aku cemberut. "Nggak! Sudah enggak lagi! Cuma kebetulan saja iklan tadi bagus. Futonya sih, hemmm, biasa saja tuh!"
Kali ini aku bisa mendengar cekikikan geli Natsume-san. "Oke deh. Saya tidak tau apa yang terjadi, tapi, ternyata Aika-chan masih seimut dulu. Saya jadi lega."
"What's that mean? Itu pujian atau sindiran, Natsume-san?"
"Pujian kok! Pujian!"
Aku menatap lekat-lekat wajah Natsume-san yang masih terlihat menahan tawa. "Terserah deh."
Aku meraih laptopku, mencari sebuah file yang ingin kutunjukkan ke Natsume-san.
"Natsume-san masih ingat project game-ku yang ditolak setahun lalu?"
"Ah, project tentang penggunaan respon penonton sebagai energy untuk menyerang tokoh jahat, bukan? Kalau tidak salah, project itu akan membutuhkan banyak orang sebagai pemain dan juga biaya yang sangat besar sekali."
Aku mengangguk. "Waktu itu aku ditolak karena proposalku melebihi standar biaya yang ada. Nah, tapi karena aku masih pengen project ini jalan, aku masih sempetin, ditengah tumpukan kerjaan yang lain, untuk mengedit proposal game ini. Walau proposal ini belum selesai seratus persen, tapi…" Aku meraih pundak Natsume-san lalu mendekatkan wajahku ke wajah pria yang selalu kusukai karena senyumannya itu. "Natsume-san," aku mengeratkan peganganku pada pundak Natsume-san, "maukah Natsume-san membantuku untuk membuat game berdasarkan proposal game-ku kali ini?"
Mata natsume-san membelalak untuk sesaat lalu melembut. "Proposal yang Aika-chan buat selalu merepotkan ya?"
Aku memonyongkan mulutku. "Oh, karena itu Natsume-san mau kabur?"
Natsume terkikik geli. "Awalnya sih."
"Lalu?"
Natsume-san mencubit hidungku. "Oke, aku bantu."
Aku mengangkat kedua tanganku, berpose banzai. "Asii~k! Makasih Natsume-san!"
Tanpa sadar, aku sudah memeluk Natsume-san. Natsume-san yang kupeluk awalnya sempat menegang, namun akhirnya membalas pelukanku.
"Sama-sama, Aika-chan."
.
.
.
Hari ini, kelasku tampak ramai oleh celotehan anak-anak kelas mengenai festival sekolah tapi, entah kenapa, aku yang tadinya asik duduk di bangkuku, malah sedang berhadapan dengan seorang gadis manis berkacamata dari kelas satu.
"Te-terima kasih, senpai!" seru adik kelas yang baru saja bertanya padaku mengenai perizinan untuk membuat stand Futo Fans Club.
"Sama-sama, Yamamoto-san," ujarku sambil menunjukkan senyum terbaikku. Dalam hati, aku tak habis pikir. Stand untuk Futo? Memangnya bakal ada yang datang?
Gadis manis yang ada di hadapanku menampakkan wajah kaget. "Haruno-senpai tahu nama saya?"
"Tentu saja. Adik manis sepertimu tentu saja saya ingat," jawabku, manis.
Pipi gadis itu memerah. Ia tampak senang. Matanya terlihat berbinar. "Se-sebenarnya saya juga fans senpai loh!"
Ahaha, fans-ku? Wah, masih ada ya? Sejak kejadian setahun lalu, aku masih agak trauma dengan yang namanya fans.
Aku menaikkan alisku. "Oh ya?"
Ia mengangguk. "Kecantikan dan kecerdasan senpai adalah harta karun SMA Hakone!"
"Makasih," balasku, ragu.
"Kalau begitu saya permisi, senpai!"
"Hati-hati."
"Baik." Gadis itu pun membungkuk sedikit lalu meninggalkanku.
Aku ganti melirik ke gadis yang duduk di bangku sebelahku. Gadis satu ini sedang asik cengar-cengir.
"Berhenti bertingkah seperti itu, Rumi. Kau membuatku merinding."
"Ck," Rumi mendekatkan kursinya ke kursiku, "kalau adik kelas tadi tau kalau kamu sebenarnya hafal seluruh nama dan wajah murid di sekolah ini. Dia pasti shock."
"Memangnya salah menghafal seluruh nama dan wajah murid?"
"Nggak sih."
"Ya udah. Nggak perlu dipermasalahkan, kan?"
Rumi menatapku lekat-lekat. Tatapannya tampak lelah. "Tapi… bisa nggak sih kamu nggak bersikap gombal? Bikin salah paham tau."
"Gombal?" aku terkikik geli. "Gombal darimana? Aku cuma mau menyenangkan hati gadis manis tadi kok. Dan lagi, salah paham? Salah paham gimana?"
Rumi memutar bola matanya. "Lupakan saja."
"Oh ya, kalau dipikir-pikir, kenapa anak kelas satu tadi izin bikin stand Futo ke aku?" tanyaku, baru sadar.
"Karena kamu itu layaknya manager Futo di sekolah ini. Semua murid tau tentang itu."
"Hmmm…"
Aku meraih spidol papan tulis dari atas mejaku lalu beranjak dari kursiku.
"Mau kemana?" Tanya Rumi.
Aku tersenyum jahil. "Ke kelas sebelah. Mau main bentar."
Rumi ber-oh panjang.
Aku melangkahkan kakiku ke luar kelas, namun sebelum memasuki kelas tetangga, samar-samar aku dapat mendengar suara Yuusuke dan Ema. Wah, tampaknya mereka lagi kepayahan menenteng beberapa kardus. Tiba-tiba, aku mendapat sebuah ide.
Aku meletakkan spidol yang kubawa di lantai lalu bersembunyi di balik pintu kelas sebelah yang terpisah koridor dengan kelasku. Seperti yang kurencanakan, Yuusuke menginjak spidol itu lalu kehilangan keseimbangan. Tapi, sebelum Yuusuke jatuh, Ema sudah menahan kardus-kardus yang dibawa Yuusuke sehingga Yuusuke tidak jadi jatuh beserta kardus-kardusnya. Ck, nggak asik ah. Tapi…
Aku bisa melihat Yuusuke dan Ema tertawa bareng. Wah, atmosfernya bagus banget.
Setelah puas melihat mantan korban gagalku, aku berencana untuk kembali ke kelasku. Namun, di tengah jalan, aku mendapati Futo bersembunyi di belokan koridor sambil menatap Ema dan Yuusuke.
Deg.
Dadaku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, ada kehangatan juga rasa perih yang muncul di dada.
Tanpa berpikir panjang aku mendekati Futo.
"Hai, Futo-kun!" sapaku.
Futo menolehkan wajahnya ke arahku. Ia pun tersenyum. "Halo, Haruno-senpai."
Aku mengerutkan alisku. Aaah, sekarang kita lagi di koridor sekolah sih. Ugh, entah kenapa aku masih belum terbiasa dengan percakapan penuh sopan-santun seperti ini.
"Festival nanti kelasmu mau bikin apa?" tanyaku penasaran.
"Rumah Horor. Dan saya bakal jadi Vampire," jawabnya sopan.
Aduh, rasanya aneh ketika ia bertingkah sopan kepadaku.
"Wah, vampireya? Oh iya, kudengar kamu bakal ada pemotretan untuk photo collection yang berisi keseharianmu ya? Wah, cukup merepotkan ya?"
"Tidak juga. Kalau senpai ada waktu luang, datang saja ke tempat shooting. Nanti juga ada event tanda tangan. Akan saya tunggu," ujar Futo dengan sebuah senyuman yang entah harus kuartikan seperti apa.
Aku pun membalas senyumannya. "Tentu saja."
"Kalau kelas senpai bakal bikin apa?" Tanya Futo sambil mengulurkan tangan kanannya lalu membelai lembut pipi kiriku.
Deg.
Aliran listrik seperti menyengat tubuhku membuatku berusaha untuk tidak menjambak rambut pemuda di hadapanku ini. Sabar Aika. Tahan.
Aku menggenggam punggung tangan Futo lalu menariknya dari pipiku kemudian tersenyum manis, "Rumah hantu juga. Tapi hantunya hantu tradisional jepang. Serem banget loh. Aku juga bakal berkostum imut. Datang ya."
Futo memiringkan kepalanya. "Imut? Di rumah hantu?"
Aku nyengir kuda. "Yup."
.
.
.
Aku bersiul senang. Besok festival sekolah akan dimulai dan akan berlangsung selama dua hari. Aku melangkah masuk ke dalam aula sekolah yang saat ini sedang digunakan oleh Klub Drama.
"Haruno-senpai!" panggil seorang gadis yang merupakan sutradara dalam drama yang akan ditampilkan besok.
"Hai! Aku pengen liat gladi resiknya, boleh kan?" Tanyaku dengan nada memohon.
Gadis manis berkuncir kuda itu mengangguk semangat. "Tentu saja! Senpai nggak usah sok nggak kenal gitu deh! Ini baru akan dimulai kok. Lagian, Haruno-senpai kan pernah jadi salah satu penulis naskah drama kami!"
Aku tersenyum. "Hihi, oke oke."
Aku pun duduk di salah satu kursi penonton yang sudah disusun rapi di depan panggung. Aku pun mengeluarkan susu segar yang tadi kudapat dengan gratis dari adik kelas. Beberapa anggota klub menyapaku dan aku balas tersenyum. Gladi resik pun dimulai. Aku tersenyum lebar. Sejak aku pernah membuatkan salah satu naskah drama untuk klub ini, aku jadi cukup dekat dengan klub menarik ini. Well, mau novel kek, drama film atau teater sekolah, kalau tulisanku bisa dihargai seperti ini dan menjadi hidup, sungguh membuatku bahagia.
.
.
.
Aku memandang puas ke arah pintu masuk kelasku. Hari ini adalah hari pertama festival sekolah dan kelasku sudah berubah menjadi rumah hantu. Tentu saja, aku merupakan salah satu perancang rumah hantu ini. Aku terkekeh licik. Ini sangat menyenangkan!
Aku melirik pintu masuk kelas. Beberapa murid sedang berhom-pim-pa bareng. Wah, sepertinya pengecekan terakhir akan dimulai sebelum gerbang sekolah dibuka setengah jam lagi. Tampak empat murid dari kelas lain sudah terpilih sebagai pelanggan pengetes. Keempat murid itu pun masuk ke dalam. Tak berapa lama kemudian…
"KYAAAAAAAAAA~~~!" Sebuah teriakan terdengar dari dalam. Diikuti lolongan, "AAAA~~! MAMAAA~~!" dan tangisan, "HUWAAA~~!" yang membuat bulu kudukku berdiri kesenangan.
Ah, teriakan-teriakan itu sungguh merdu di telingaku.
"Haruno-san!" teriak salah satu teman sekelasku. Pemuda itu terlihat kehabisan nafas, mungkin karena habis mendorong kardus besar yang sekarang ada di hadapanku ini.
Aku menoleh. "Ada apa?"
Ia menyodorkan kardus besar yang tadi didorongnya. "Ini… haah… kostumnya… haah…"
Aku tersenyum. "Arigatou."
"Sama-sama. Shift Haruno-san mulai dari jam 12 siang. Jangan lupa ya?" Pemuda itu pun melangkah menuju kasir di pintu masuk.
Aku menatap kardus yang ada di hadapanku. "Hmm… ini bakal mengasyikkan." Aku mengecek jam-tanganku. Hm, masih satu jam lagi. Sebuah ide terlintas dan aku tak bisa untuk tidak tersenyum.
Kelas Yuusuke sedang apa ya? Kesana ah.
.
.
.
Aku terbelalak. Di hadapanku, berdiri seorang pemuda berambut merah panjang diikat kesamping dengan pakaian butler yang melekat elegan di badan pemuda itu.
Aku mengucek-ngucek kedua mataku. "Kamu beneran Yuusuke?" ujarku tak percaya. "Operasi plastik dimana, bung?"
Yuusuke mencubit pipiku. "Aku nggak operasi plastik Aika! Memangnya penampilanku bikin shock banget apa?"
Aku mengangguk cepat. "Cakep banget!"
Dengan seketika, wajah Yuusuke memerah. "Ng- nggak usah bohong deh!"
Eh?
"Yuusuke! Apaan sih kamu, grogi gitu? Perasaan aku sering muji kamu kok! Idih. Malu-malu gituh!" seruku, merasa aneh juga geli.
Yuusuke memalingkan tatapannya dari tatapan mataku. "Nggak ada apa-apa kok!"
Aku mendengus kesal. Kenapa sih dia? Akhir-akhir ini seperti menjaga jarak.
"Oh ya," aku melirik ke sekeliling kelas yang sudah berubah menjadi café butler and maid, "dimana Ema?"
"Tadi sedang ngebagiin flayer ke kelas lain."
"Oh. Ya sudah aku pergi ya."
"Sudah mau pergi?" Wajah Yuusuke tampak sedikit kecewa.
Aku mengikik geli. "Oke deh, sejak kamu pengen banget deket-deket aku, aku bakal disini lebih lama."
Yuusuke tampak sedikit kaget lalu wajahnya kembali memerah. "Apaan sih! Ya sudah! Pergi aja sana!"
Aku menoel pipi Yuusuke. "Aih, nggak usah malu gitu deh!"
Wajah Yuusuke semakin memerah. Aih, kedua telinganya pun ikut memerah.
Manisnya.
.
.
.
Panas.
Rasanya aku ingin nangis.
Awal memakai kostum ini, aku sungguh senang. Siapa yang tidak senang jadi pusat perhatian orang tanpa orang lain tahu kalau itu diriku! Aku tidak tertarik menjadi hantu di rumah hantu. Aku lebih memilih menjadi pembagi brosur.
Nah! Uniknya, karena kita yakin banget seratus persen rumah hantunya menakutkan, ada kostum khusus buat para pembagi brosur. Buat penarik perhatian pengunjung.
Dan aku sangat tertarik untuk mencoba kostum ini. Tebak, kostum apa yo?
KELINCI! Keren kan?
Awalnya sih asik, tapi lama-lama aku merasa bosan.
Gila! Cepet amat bosannya!
Aku terus membagi kan brosur sambil sempet-sempetin foto bareng anak kecil atau pengunjung yang datang. Waw, aku terkenal! Walau aku sudah mulai bosan, pekerjaan ini cukup menyenangkan.
Hingga aku melihat kerumunan, yang mayoritas gadis-gadis, sambil meneriakkan nama yang langsung membuatku tertarik. Aku pun menghampiri kerumunan tersebut.
"Kyaaa! Futo-kun! Liat aku!"
"Futooooo!"
"Aku mau pingsan! Gimana dong?"
Aku terdiam sebentar. Ya elah, pingsan aja ngomong.
Aku melirik papan besar yang bertuliskan, FREE HANDSHAKE WITH FUTO. Pantes.
Aku pun menemukan Futo yang sedang sibuk berjabat tangan. Pemuda itu sedang mengenakan kostum vampire. Kalau boleh dikomen, idola satu itu tampak keren. Wajah manisnya tampak sedikit buas hari ini dan dia juga memakai taring palsu. Wah.
… ah.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Aika! Jangan! Jangan! Kamu nggak boleh jatuh ke pesona idola itu Aika! Nggak boleh!
Aku kembali menatap kerumunan itu, tidak jauh dari Futo terlihat beberapa kameramen. Wah, iri. Jadi orang sibuk itu asik ya. Tapi kalo membosankan sih, nggak asik.
Aku terus menatap Futo yang masih asik menebar pesona sampai sebuah ide terlintas di otakku. Hmm… gimana ekspresi Futo ya ketika melihat kostum ini. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun menghampiri Futo sambil berjalan dengan pede-nya. Futo kan nggak tau kalau kelinci manis ini adalah aku. Wohohoho.
Futo yang awalnya sibuk dengan para fans-nya menoleh ketika menyadari kehadiranku. Awalnya ia bengong, lalu mengerutkan kedua alisnya, tak lupa tampang begonya-wahaha, aku pengen foto tuh wajah-tapi, setelah sekitar tiga detik, ia kembali dengan muka manisnya.
"Halo Mr. Rabbit! Ada perlu denganku?" tanya Futo sopan.
Aku tak menjawab, malah mencubit hidung Futo. Kyaaa, bahagianya! Aku tak berhenti begitu saja. Aku juga mencubit kedua pipi Futo. Kenyalnya~!
Futo kaget tentu saja. Ia sempat terpaku. Aku menghentikan kegiatan 'sekuhara'ku lalu menyodorkan kembali brosurku.
Futo menerima brosur yang kuberikan. "Rumah Hantu Kelas 3-1?"
Aku mengangguk.
Futo beralih menatapku. Ia tampak berpikir. Cukup lama ia berpikir. Lalu, sebuah seringaian terpampang di wajahnya.
Uh oh. Jangan-jangan dia…
Aku dengan buru-buru langsung beranjak menjauh dari Futo, tapi tiba-tiba Futo menangkap tangan kananku. Mati aku! Aku nggak bisa kabur!
"Mr. Rabbit mau kemana? Oh, salah. Ms. Rabbit?"
Aku menelan ludah. Aku pun menyetel suaraku dengan gaya serak-serak basah. Khas pria.
"Ohoho, saya pria loh," jawabku dengan suara pria-ku.
Futo nyengir lebar. "Hee~ kalau begitu, buka kostum kepala anda," ujarnya sambil menjulurkan kedua tangannya, berusaha meraih kepala kelinci imutku.
Grep! Aku spontan mempertahankan kepalaku.
"Lepa~s!" geram Futo sambil menarik kepalaku.
"Janga~n!" cicitku sambil mempertahankan kepalaku.
Untuk beberapa saat, kami berdua sibuk dengan kegiatan tarik-tahan kepala kelinciku. Hingga…
PLOP!
"Ah-"
Kepala kelinciku pun terlepas dan udara segar langsung menerpa wajahku. Futo pun menampakkan senyuman kemenangan.
"Yo, senpai!"
"A… a... ehehe… halo Futo-kun!" sapaku kaku, sambil melambaikan tanganku. Ugh, mati aku.
Futo memberikan kepala kelinciku yang ditariknya tadi ke gadis yang paling dekat dengannya lalu menjulurkan kedua tangannya ke wajahku.
Aku mengambil langkah mundur tanpa sadar. Tiba-tiba, kedua pipiku sudah ditarik dengan kejamnya oleh Futo.
"Alala… senpai genit banget nyentuh-nyentuh hidung dan pipi saya. Nggak apa kan kalau saya nyentuh pipi senpai juga~!" ujarnya dengan wajah super manis.
Gyaaa! Itu wajah nggak manis sama sekali! Aku bisa merasakan aura gelap di sekitar wajah Futo! Gelap dan mengerikan! Seseorang, toloooo~ng!
"Haruno-senpai!" panggil seseorang.
Aku dan Futo serentak menoleh ke arah sumber suara.
"Senpa~i!" teriak seorang pemuda yang kukenal sebagai ketua Drama Club.
A~h, aku tertolong.
"Hai! Ada apa?" tanyaku ceria, dengan linangan air mata bahagia.
"Senpai!" Pemuda itu meraih kedua tanganku lalu menggenggam dengan sangat erat. "Senpai, maukah anda menolong kami?"
Aku memiringkan kepalaku. "Kami? Siapa? Tolong apa?"
Pemuda itu mengangguk. "Maukah senpai bermain dalam drama kami?"
Aku menganga. "HAAAAAA~?!"
To be continued…
3127 words.
February 26, 2014.
Wahahaha! Lama sekali... lama sekali... lamaaaa... uhuhu... #nangis_di_pojokan
Okey. Sebenarnya ini sudah dari zaman kapan tau selesai 80% tapi baru jadi sekarang.
Padahal liburan loh. Heran saya sama diri sendiri. #nyengir
Okeh, buat MysteriousGirl dan BlackLapiz terima kasih sudah mau me-review. #hug
Aduh, MysteriousGirl, makasih. Amin. Saya juga sudah bersemedi agar bisa lebih memperdalam skill sudut pandang pertama saya. Saya biasanya memakai sudut pandang ketiga loh-jangan curhat deh-. Dan, saya juga nggak mau Futo dipasangin sama Aika-masa sih?-, tapi gimana ya? Sebenarnya saya lagi galau, ini cewek dipasangin sama Futo atau Yuusuke. Galau men. Tapi, karena fic ini semi-canon-bener nggak nih?- Intinya, saya setengah mengikuti alur anime dan light novelnya, maka yang sudah baca light novel season 2 pasti pada tau bakal sama siapa saya jodohin anak saya ini. Ohohoho...
Nah, readers yang imut-imut dan cakep-cakep... Mohon masukannya untuk fic ini agar lebih baik lagi. #puppy_eyes
See you later and thank you for reading this fic, minna! #bow
