Stalker Conflict Chapter 7

Genre : Romance, Family, Humor

Rate : T

Disclaimer : Ehem, I don't own Brothers Conflict, I just own the story and few OCs.

.

.

Jacket and Suprise

"Maukah senpai bermain dalam drama kami?" ujar sang ketua Drama Club dengan wajah anjing kecil yang sedang memohon.

Ugh! Wajah ituu~

Aku menggaruk-garukkan kepalaku, walau nggak gatal. "Kenapa tiba-tiba?" tanyaku heran.

Aih, sekarang gadis-gadis yang tadi ngantri untuk berjabat tangan dengan Futo juga kru kamera-nya Futo beserta pengunjung yang cukup dekat dengan tempatku berdiri jadi menontonku dengan antusias! Ya ampun! Berhentilah menatapku dengan mata penasaran itu! Aku bukan tontonan!

Futo terkekeh. "Senpai main drama? Emang bisa?"

Si ketua tampak sedih. "Pemain asli, Celina-chan nggak bisa main karena jatuh dari tangga. Nah, Haruno-senpai pernah melihat geladi resik kami dan kami butuhnya pemain yang cantik."

Aku menggeram tak suka. "Anggota club-mu tidak ada yang bisa?"

Si ketua menggeleng. "Pemain yang tersisa kebanyakan laki-laki dan perempuannya tidak ada yang hafal naskah. Juga mereka sudah dapat tugas yang berat. Kami mohon senpai! Senpai jago menghafal kan?"

Aku melirik Futo, yang dilirik balas melirik. Jadi main lirik-lirikan deh.

"Ada apa?" Tanya Futo sambil memasang senyum manisnya.

Aku menggeleng lalu berpaling dari tatapan Futo.

Kalau aku main drama ini, Futo bakal berpikiran apa ya? Argh! Aku mengacak-acak rambutku. Daripada pusing-pusing mending terima aja! Lagian kasian club drama, mereka kan sudah berbaik hati padaku selama ini.

Aku mendesah pasrah. "Oke. Kapan mulai mainnya?"

Wajah si ketua drama berbinar diiringi tangis bahagia. "Senpai~!" pemuda itu menyerahkan sebuah buku yang sepertinya naskah drama kali ini. "Drama akan dimulai setengah jam lagi. Kostum sudah siap. Saya yakin kostumnya pas kok dengan senpai, walau agak kepanjangan dikit. Ini naskahnya buat dihafal."

Aku melirik buku naskah itu lalu tersenyum. "Apa gladi resik kemarin sudah final?"

Si ketua sedikit tersentak lalu mengangguk. "I-iya."

Aku nyengir lebar. "Kalau gitu, aku nggak butuh buku itu. Sudah hapal kok."

Mata si ketua membulat. "HEEEE?!"

.

.

.

Aku menatap pantulanku di cermin di ruang rias. Sebuah gaun Eropa abad 19 tampak elegan di tubuhku. Rambutku pun di-style dengan gaya zaman dulu. Seperti dipelintir trus diputar-putar. Heboh deh. Meski aku tahu kalau tinggi badanku sedikit lebih pendek dari yang lain, aku yakin banget aku tampak dewasa dengan gaun ini. Wah, aku tampak dewasa ya-

"Wah, senpai manis banget!" seru sang penata rias, yang merupakan adik kelasku. Gadis dengan wajah berbinar itu menatapku dengan iler yang hampir tumpah.

"Manis?" ucapku kecewa. Aku memonyongkan mulutku. Cih, ternyata di mata orang lain, penampilanku tidak terlihat dewasa sama sekali.

Ckrek!

Seseorang memasuki ruangan, aku tidak begitu peduli hingga si penata rias teriak.

"Kyaaa~! Futo-kun!"

Eh?

Aku menoleh dan mendapati Futo masih dengan baju vampire-nya. Seorang kameramen mengikutinya di belakang.

"Hai."

Aku menganga. Ngapain dia disini?

"Ngapain Futo-kun kesini?" Tanya sang penata rias dengan wajah gembira.

Futo menampakkan senyum andalannya. "Aku ingin liat Haruno-senpai dengan kostumnya." Ia melirikku. "Sebelum orang lain melihatnya."

Sang penata rias tampak terkejut. "Eh? Eee~h? Jangan-jangan Futo-kun ngincar senpai ya?"

Futo terkekeh. "Aku fans-nya."

Deg.

Deru jantungku berdetak dengan cepat ketika mendengar pengakuan itu. Ada rasa senang juga sedih dan bingung. Apa maksudnya dengan 'fans' itu?

Futo menghampiriku.

"Hai, Usagi! Usagi tampak manis dengan gaya rambut seperti itu."

Aku mengembungkan kedua pipiku ketika mendengar Futo memanggilkan dengan panggilan 'Usagi'. "Jangan panggil aku Usagi! Dan tentu saja aku manis. Aku tampak dewasa kan?" seruku asal. Berusaha menutupi kegugupanku.

Futo terkikik geli. "Dewasa? Hahaha! Usagi malah terlihat kayak anak kecil!"

Aku memonyongkan mulutku. "Ck, terserah deh."

Suasana menjadi hening untuk beberapa waktu, menyadarkanku betapa Futo terlihat aneh dengan tatapan tajam yang meneliti penampilanku saat ini.

Tiba-tiba, Futo mendekatiku lalu menyentuh helaian rambut di sisi kanan wajahku dan mendorongnya ke belakang kemudian mendekatkan wajahnya ke leherku. Aku berusaha menjauh tatkala kedua tangan Futo menggenggam bahuku namun…

Bite!

"Hn!' aku kaget ketika merasakan gigitan di area leherku. Aku menggigit bibir bawahku. "Fu-Futo… Le-lepas…"

Tapi Futo tak berkutik, udara di sekitar mulai berasa panas dan aku terus berusaha mendorong badan Futo menjauh sampai…

"FUTO! TEMEE~!" sebuah teriakan marah terdengar dari arah pintu.

Di pintu masuk, aku bisa melihat Yuusuke dengan wajah merah menahan amarah. Yuusuke langsung berlari menghampiriku dan Futo. Ketika Futo sudah berada di area jangkauan Yuusuke, Yuusuke langsung menarik kerah kemeja Futo.

"Apa-apan kau! Menjauh dari Aika!" geram Yuusuke.

Futo mendecih. Ia menghardik lengan Yuusuke hingga terlepas dari kerahnya. "Teserah aku. Itu bukan urusan Yuusuke-niisan kan?"

Aku tak tau kenapa Yuusuke tiba-tiba murka begini tapi, "Kalian berhen-"

"Kau berurusan dengan Aika juga berarti berurusan denganku!"

"Emang Yuusuke-niisan siapanya senpai?" Tanya Futo dengan wajah yang masih terlihat tak bersalah. Sebuah cengiran juga tampak di wajah sok tampannya itu.

Aku menelan ludah. "Kalian berhen-"

Yuusuke menggeretakkan giginya. "Dia sahabatku! Menjauh darinya! Cowok sialan sepertimu nggak cocok bersamanya!"

Entah kenapa, mungkin karena perkataan Yuusuke yang pedas tadi, Futo mulai terlihat kesal dan nada suaranya terdengar menyeramkan. "Cowok sialan? Jangan asal ngomong!"

Aku mendesah. "Kalian berhen-"

Yuusuke mendecih. "Bukannya kamu ngincar Ema? Jangan main dua mata gitu donk!"

Futo tersenyum jengah. "Dua mata? Aku emang punya dua mata kali!"

Aku mulai kesal karena dari tadi dicueki. "Kalia~n, berhen-"

"Kalo Ema ya jangan dekati Aika!"

"Itu bukan urusan Yuusuke-niisan!"

"Kalian ber-"

"Kamu bebal banget sih!"

"Yuusuke-niisan jangan kayak orang cemburu gitu deh!"

"Kalian-"

Wajah Yuusuke tiba-tiba memerah. "CEMBURU? AKU CUMA MAU KAMU MENJAUH DARI AIKA!"

Futo nyengir lebar. "Sudah kubilang itu bukan urusanmu!"

"Kali-"

"TEMEEE~!"

"Bilang aja cemburu, Yuusuke-niisan."

"Ka-"

"AKU NGGAK CEMBURU! DIAM KAMU!"

"YUUSUKE-NIISAN YANG RIBUT!"

BUAGH!

BUAGH!

Aku pun dengan ganasnya memukul kedua kepala pemuda ribut itu dengan kedua tanganku.

"DIAAA~M!" teriakku kesal. Gimana nggak kesal? Dicuekin gitu! "Kalian berdua keluar! Hush! Sana! Aku mau kosentrasi!"

Yuusuke dan Futo masih menatapku dengan tatapan tak percaya sambil memegang belakang kepala mereka. Aku bisa merasakan tatapan kasihan dari si penata rias dan kameramen Futo.

Futo yang pertama kali sadar dari keterkejutannya. Sambil meringis, dia menatapku geram. "Usagi! Aku ini idola! Jangan main asal pukul gitu!"

Aku memutar bola mataku. "Diam deh! Sekarang keluar! Aku mau fokus!"

Yuusuke mengusap belakang kepalanya. "Aduh, Aika! Aku sudah bodoh jangan dipukul di kepala donk. Ntar makin konslet nih."

Aku menghela nafas panjang. "Maka dari itu, karena kamu bodoh aku kasih elemen kejut buat otak kamu biar makin aktif."

Yuusuke mengedip-ngedipkan matanya. "O~h."

Futo melangkah mendekatiku lalu meraih beberapa helai rambutku lalu menciumnya. "Aku tunggu peranmu."

Deg.

Aduh, jantungku! Bisa nggak sih nggak berdebar gini? Dasar pengkhianat!

"Futo! Menjauh dari Aika!"

Futo pun pergi keluar ruang rias, tapi sebelum melewati pintu, idola-playboy itu berbalik badan lalu nyengir layaknya kambing. "Yuusuke-niisan, jangan rakus gitu. Tipe kayak Nii-san kalau ngejar lebih dari satu nggak bakal dapat siapapun."

Yuusuke menggeram. "DIAM!"

Futo terkekeh. Ia pun akhirnya menghilang di balik pintu diikuti oleh kameramennya.

Aku geleng-geleng kepala. "Kalian ini kayak kucing dan anjing."

Yuusuke menatapku kesal. "Aku anjingnya kan?"

Aku terkikik geli. "Iya, kamu anjingnya. Tapi lebih kayak anjing yang dipermainkan oleh si kucing."

"Jangan ngawur."

Aku meraih jemari Yuusuke lalu menatap Yuusuke lekat-lekat. "Iya, iya. Gomen ne?"

Kedua pipi Yuusuke bersemu merah. "Hm. Nggak apa kok. Kalau gitu aku pergi ya? Tadinya aku kesini cuma mau nanya apa kamu serius mau main. Tapi kayaknya aku nggak perlu nanya."

Kaitan jemariku dengan Yuusuke pun terlepas. "Kamu bakal nonton?"

"Tentu saja! Tadi Cewek yang sering bareng kamu teriak-teriak ke penjuru sekolah kalau kamu bakal main di pementasan drama kali ini da-"

Kedua mataku membulat. "Jangan bilang-"

Yuusuke mengangguk. "Yeah, hampir semuanya langsung lari ke aula sekolah."

Aku menganga. "Ka-kamu nggak bohong kan?"

Yuusuke mengusap-ngusap rambutku dengan gemas. "Ngapain aku bohong Aika? Kamu tuh terkenal tau!"

Aku menghela nafas panjang. Aku yakin helaan nafasku berasa helaan nafas yang seukuran ribuan tahun.

Yuusuke menyentuh pundakku. "Tenang saja. Kamu nggak usah khawatir kalau-kalau kamu bakal mengecawakan mereka. Aku yakin kamu bisa!"

Aku akhirnya tersenyum. Perkataan Yuusuke tadi membuatku benar-benar tenang. "Thanks."

Yuusuke melangkah menuju pintu. "Ganbatte! Oh iya, kamu emm~" wajah Yuusuke sedikit memerah. "Kamu~"

"Apa sih? Ngomong aja deh."

Yuusuke memalingkan tatapannya dariku. "Kamu sih biasa aja tapi baju itu membuatmu terlihat bagus." Setelah berkata begitu, Yuusuke langsung cabut dari ruang rias. "Daa~h!"

Aku bengong. Tak percaya Yuusuke berkata seperti itu padaku. Senyuman pun merekah di bibirku. "Dasar, Tsundere!"

"Cieee~ senpai! Saya jadi iri!" celetuk si penata rias sambil goyang-goyangin badannya heboh.

Aku mencubit hidung si penata rias. "Sudah deh. Kerja sana!"

Si penata rias terkikik geli. "Oke."

Si penata rias mulai mengacak-ngacak isi tasnya. Secara perlahan, aku menyentuh sisi leher yang tadi digigit Futo. Aku dapat merasakan badanku memanas. Dasar idola-mesum itu! Awas ya! Bakal kugigit juga kamu!

.

.

.

Peranku kali ini adalah seorang gadis bangsawan yang licik. Gadis bernama Lilian ini bakal berusaha merebut kekasih siapa pun hingga ia bosan lalu berganti mencari kekasih gadis yang lain. Ia hanya mencari pemuda-pemuda yang sudah memiliki kekasih. Baginya, mencuri kekasih orang itu begitu menyenangkan.

Tapi tentu saja Lilian akan kalah oleh si tokoh utama si gadis murah hati dan jenius. Meskipun, ternyata si Lilian benar-benar jatuh cinta dengan kekasih si tokoh utama. Pada akhirnya, Lilian hanya bisa menangis menyesali nasibnya.

Aku cukup suka dengan tokoh ini karena kebebasan, ketangguhan dan kelicikan yang ia miliki. Aku melirik dari balik layar panggung. Owh! Kursi penonton sudah penuh bahkan aku dapat melihat banyak juga yang berdiri. Intinya, Aula penuh oleh manusia!

"Haruno-senpai!" panggil si gadis sutradara. "Drama akan dimulai! Ayo bersiap!"

Aku menggangguk lalu mendekati si sutradara. "Oke."

Mudahan aku berperan dengan baik. Kalau tidak, akan sangat memalukan dan menyedihkan. Habisnya, akan banyak sekali penonton yang kukecawakan kalau peranku jelek. Apalagi kalau Futo juga nonton.

Futo?

Aku geleng-geleng kepala.

Aika! Fokus! Jangan malah mikirin idola-mesum itu!

Aku berusaha untuk mengingat perkataan Yuusuke dan untungnya itu berhasil menenangkan pikiranku.

Yosh! Ayo kita mulai!

.

.

.

Penampilan drama sore ini begitu menyenang juga melelahkan. Keringat dingin benar-benar membuatku sadar betapa groginya aku. Apalagi di bagian akhir dimana aku berargumen dengan tokoh utama, sempat-sempatnya aku menemukan Futo di barisan depan tempat duduk penonton! Ya ampun! Aku sempat terpaku sesaat. Untungnya cepat-cepat sadar.

Saat itu, yang kutangkap dari wajah Futo adalah senyumnya! Ya ampun! Ya ampun! Itu senyuman, manis banget! Beda dari biasanya! Bukan cengiran merendahkan atau senyuman palsu seperi biasanya tapi, lebih , emm, gimana ya, pokoknya manis deh! Gimana aku nggak terpaku coba? Uuu~gh, hatiku meleleh.

Di akhir, ada bagian Lilian menangis pilu akan sakit hatinya. Aku…

Argh! Lupakan! Lupakan! Aku tidak ingin mengingat memori gelapku itu lagi! Nggak ingin! Ugh, dadaku sakit.

Pokoknya, drama berakhir dengan sukses diiringi tepuk tangan yang meriah dari seluruh penonton. Tapi, kenapa ada yang teriak-teriak sih? Mana makin lama makin aneh-aneh lagi.

"Haruno-senpaa~i! Keren banget deh!"

"Haruno! Jadi pacarku!"

"Aika-chuan! Marry me~!"

Sungguh, aku jadi cekikikan dibuatnya.

Aku melirik bangku yang tadinya Futo duduki, namun aku tak dapat menemukan Futo malah menemukan Yuusuke yang tertawa terbahak-bahak. Sial. Aku diketawain.

Dasar Yuusuke! Minta elemen kejut lagi ya?

"Yuusuke! Awas kau!" teriakku dari atas panggung.

Yuusuke makin kencang tertawanya. Aku memonyongkan mulutku. Urgh, awas kau!

.

.

.

Aku mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi, berusaha meregangkan otot-ototku. Layar laptop menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamarku saat ini. Sudah 4 jam non-stop, aku mengerjakan naskah film yang rencananya akan kuajukan ke seorang producer. Aku melirik hapeku, jam 12 malam. Ah, ada email yang belum kubuka.

From : yuu_asa313

Message : Azu-nii masuk rumah sakit.

"Wah, Azusa-san?"

Lucy tiba-tiba meloncat ke pangkuanku. "Ada apa?"

Aku menatap sahabat kucingku itu. "Azusa-san masuk rumah sakit."

"Kenapa dia?"

"Entahlah. Kuharap tidak parah. Dan Lucy, kamu darimana saja? Aku khawatir," ujarku sambil mengusap ubun-ubun kepala Lucy yang berbulu halus.

Lucy mendengkur. "Ehm, hanya ke suatu tempat. Tak menarik."

Aku menatap Lucy dengan tak percaya. "Hee, pulang tengah malam dari tempat tak menarik? Aku meragukan itu."

Lucy tak menjawab. Ia malah menggulung badannya dan tak berselang lama, sebuah dengkuran halus pun terdengar.

"Ck, culas."

Aku pun membalas email Yuusuke, berharap semuanya baik-baik saja.

To : yuu_asa313

Message : Why does he has to be hospitalize? Besok kamu ke sekolah ga? Bagaimana dengan Ema? Kuharap kamu datang besok. Jika tidak, aku akan kesepian.

Aku mematikan handphone-ku, meletakkannya di atas meja lalu beranjak dari kursi sambil menguap.

"Lucy, let's go to bed," bisikku, berusaha untuk tak membangunkan Lucy.

Kuharap besok, hari terakhir festival sekolah, akan sama menyenangkannya dengan hari ini. Aku menutup layar laptopku kemudian beranjak ke kasur. Berusaha mengabaikan kegundahanku akan mimpi yang bakal muncul nanti.

.

.

.

Hari ini aku berkostum kucing. Banyak pengunjung yang ingin berfoto denganku. Wah, aku benar-benar jadi selebritis hari ini. Dan aku juga bersyukur banget atas pilihanku dalam memilih kostum ini. Karena dengan kostum ini, orang-orang tidak tahu kalau si kucing ini adalah aku. Aku dapat kabur dari para fans yang tiba-tiba, entah kenapa, membludak sejak drama kemarin. Banyak sekali kouhai yang minta foto bareng atau memberikan makanan atau minuman. Aku suka sih barang gratisan, tapi, kalau dikejar-kejar kayak maling aku pastinya kabur donk.

Aku menghela nafas panjang, merasa pilihan untuk membantu klub drama adalah pilihan yang tidak terlalu tepat. Tapi, mengingat bagaimana bahagianya klub drama kemarin, yah, tak apalah.

Aku menyodorkan brosur kepada orang-orang yang lewat. Hari ini aku dapat shift pagi dan lokasi di dekat stand Futo Fans Club. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Antrian panjang untuk jabat tangan dengan Futo begitu panjang dan memang berkat event ini, festival sekolah kali ini begitu ramai oleh pengunjung wanita. Entah aku harus berterima-kasih atau tidak tentang hal ini.

Aku terus membagikan brosur diselingi dengan foto bareng dengan Mr. Cat hingga sebuah tangan menepuk pundakku.

Aku menoleh dan- ya ampun! Betapa terkejutnya aku ketika mendapati Futo dengan cengiran khasnya sudah berada di sampingku.

"Hai!"

Aku tak menjawab sapaannya, hanya melambaikan tanganku. Berharap banget Futo tak menyadari kalau si kucing adalah diriku. Kan kemarin aku memakai kostum kelinci.

Futo terkikik geli, tak tahu karena apa.

Aku memiringkan kepalaku, bertanya-tanya.

Futo tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke kepala kucingku lalu berbisik, "nanti ketika kumpul api unggun, datanglah ke atap gedung C, oke? Awas nggak datang, kukutuk kamu, Usagi!"

U-Usagi? Ba-bagaimana Futo tau kalau si kucing adalah aku?

Setelah itu, Futo meninggalkanku, kembali ke stand yang penuh dengan aksesoris dan merchandise Futo.

Aku menundukkan kepalaku. Sial. Kok dia bisa tahu?

.

.

.

Matahari telah tenggelam beberapa menit yang lalu, dan murid-murid Hinode Gakuen pun mulai menjalankan acara terakhir dari festival sekolah, yaitu Api Unggun. Acara ini juga merupakan acara penutupan yang akan dipimpin oleh OSIS.

Aku meletakkan tumpukan kayu bakar yang kubawa di tumpukan kayu yang sudah disusun untuk Api Unggun.

"Arigatou, Haruno-senpai!" ujar salah satu anggota OSIS.

Aku tersenyum. "It's okay."

Sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahuku lalu muncullah kepala si pemilik tangan.

"Rumi?"

Si gadis nyengir-nyengir tidak jelas.

"Kamu ngapain sih? Nyengir kayak sadako gitu?"

"Sadako nggak nyengir kali!" balas Rumi. "Kamu tau nggak ada acara tambahan di Api Unggun kali ini setelah penutupan?"

Aku menggeleng kepalaku. "Apaan?"

"Dansa! Nanti kamu naik ke panggung terus sebutkan pasangan kamu. Bisa diterima atau ditolak. Seru kan?"

"Iya seru. Dengan ini kamu mungkin bisa nemu pacar baru," ujarku sambil menekankan kata 'baru'.

Rumi kembali nyengir-nyengir tidak je;las. "Ih, tau aja. Aku sudah dua minggu nggak punya pacar. Kesepian nih."

Aku mendesah kesal. "Dasar! Aku benar-benar akan mengasihani siapa pun yang bakal jadi pacarmu."

Rumi mencubit lenganku.

"Sakit, Rumi!" seruku sedikit kesal.

"Kamu sendiri gimana?"

"Apanya yang gimana?"

"Itu, si Futo."

Aku mengernyitkan keningku, tak mengerti. "Kenapa dengan Futo."

Wajah Rumi berubah masam. "Kamu tuh, mumpung Futo belum punya pacar, sambit aja."

"Sambit? Mati donk?"

Rumi mencubit lenganku lagi.

"Rumi!" teriakku kesakitan.

"Maksudku, tembak dia! Kamu suka kan sama dia"

Aku memonyongkan mulutku. "Memori kamu limited ya? Kan sudah kubilang, aku udah nggak nge-fans dia lagi. Benci malah."

"Benci? Maksudnya, BENar-benar CInta?" Rumi cekikikan nggak jelas.

Aku balas mencubit lengan Rumi.

"Aw! Cakit!" serunya, sok imut.

"Kalau kamu mau, sana pacari aja dia. Sambit sekalian."

Rumi cemberut. "Yee~ aku sama dia kan nggak deket. Lagian, aku yakin banget ntar banyak banget cewek yang mau nembak dia. Nah, kalau kamu kan deket sama dia. Kemungkinan dia nerima kamu besar loh."

"Sudah deh. Aku mau ke kamar mandi dulu. Kebelet nih. Udara malam ini cukup dingin."

Tangan Rumi mengibas-ngibas, tampak seperti mengusir. "Dasar, bayi!"

Aku mendecih. "Semoga beruntung!"

Wajah Rumi kembali ceria. "Thank you, Aika!"

.

.

.

Aku melap tanganku dengan sapu tanganku setelah keluar dari kamar mandi siswi. Beberapa murid masih tampak berkeliaran di gedung sekolah. Tak disangka, aku menemukan sosok Yuusuke sedang tersenyum ke arahku.

"Yuusuke?"

"Udara malam ini dingin ya," ujarnya sambil menghampiriku.

"Benar banget. Bawaanya kebelet nih."

Sebuah jaket tiba-tiba disodorkan oleh Yuusuke. "Ini, pake aja."

"Eh, nggak apa nih? Aku nggak bakal nolak loh!" seruku sambil menerima jaket itu lalu mengenakannya. Setelah mengenakan jaket itu, aku dapat mencium bau khas Yuusuke. "Jaketmu?"

Yuusuke mengangguk. "Aku tadi ngeliat kamu ke kamar mandi. Bukannya aku peduli loh! Cuma ya, air kamar mandi bakal habis kalau kamu datangi mulu gara-gara kebelet."

Aku tak bisa untuk tidak tertawa. "Hahaha! Iya deh, iya! Dasar, Yuusuke! Kamu imut banget sih!" seruku sambil meraih kedua pipi Yuusuke lalu mencubit dengan gemasnya.

Yuusuke balas memencet hidungku, alhasil aku megap-megap kayak ikan. Dengan terpaksa, aku mengehntikan aksi mencubit pipi Yuusuke.

"Sakit tau! Level cubitanmu itu mengerikan!" seru Yuusuke sambil mengusap-usap kedua pipinya yang sedikit memerah.

Aku menghirup udara lama-lama. "Aaa~h! udara itu emang penting!"

Yuusuke melirik jamnya. "Aku harus balik nih! Kamu juga kan?"

Aku terdiam sesaat lalu menggeleng. "Nggak deh. Aku ada urusan sebentar."

Yuusuke mengangguk mengerti. "Oke! Aku duluan ya!"

Aku melambaikan tanganku disusul dengan menghilanya sosok Yuusuke di ujung koridor.

Aku menghela nafas panjang-panjang. "Atap ya? Hmmm… ck, apa boleh buat."

.

.

.

Aku dengan perlahan membuka pintu menuju atap gedung C yang memang jarang dibuka. Aku melangkah keluar dan akhirnya aku berhasil menangkap sosok Futo yang sedang membelakangiku. Sebuah gitar terlihat bersender di pagar atap.

Aku mendekatinya, mengambil tempat di sampingnya-walau agak menjaga jarak-, menyadari Futo sedang asik menatap sesuatu di bawah, aku pun ikut melihat apa yang ada di bawah sana. Ternyata, dari sini kita dapat melihat acara Api Unggu. Di bawah sana, acara penutupan sedang berlangsung. Aku dapat melihat Benri-san, sang ketua OSIS, sedang memberikan kata-kata.

"Kamu telat." Tiba-tiba, Futo membuka suara.

Aku melirik si idola-playboy itu. "Kamu nggak bilang waktu pastinya kan? Nggak usah ngawur deh."

Futo terkikik kecil. "Kamu beda sekali dengan Ema-neesan. Nee-san hanya akan terdiam, ia takkan berani untuk melawan perkataanku."

Aku terdiam. Rasanya, jauh di lubuk hatiku, ada segelintir rasa nyeri tumbuh dengan cepatnya. "Aku Aika! Haruno Aika! Tentu saja beda dengan Ema-chan. Dan jangan berani-berani lagi kamu membandingkan aku dengan Ema."

Cengiran Futo melebar setelah mendengar perkataanku. "Hee~"

"Kamu ada urusan apa? Cepetlah. Aku ingin bergabung dengan yang lain di bawah." Bersamamu membuatku mual, batinku.

Futo mengambil gitar yang ada di sampingnya lalu duduk dan bersender di pagar pembatas. "Duduk di depanku."

Aku mengerutkan keningku. "Ha?"

"Ck. Cepetan, Usagi!"

Aku memutar kedua bola mataku. "Iya, iya."

Aku pun duduk di depan Futo. Kedua kakiku kusampingkan.

Beberapa saat, heninglah yang mengisi di antara aku dan Futo. Aku dapat mendengar suara-suara gaduh di bawah sana. Tampaknya, acara tambahan, yaitu Dansa, telah dimulai. Aku hampir menggerutu tapi tak jadi ketika mendengar alunan musik gitar yang dimainkan oleh Futo.

Aku kaget tentu saja, tak menyangka Futo akan memainkan gitarnya. Dan, Futo pun mulai bernyanyi. Suaranya melantun dengan indahnya di telingaku. Semua kekesalanku tadi sudah menghilang dan tergantikan dengan rasa bahagia yang, sungguh susah untuk diungkapkan. Aku hanya bisa terdiam, menyaksikan pertunjukan live yang sungguh membuat perutku penuh oleh kupu-kupu.

Futo bernyanyi dengan sangat nyamannya. Lirik-lirik penuh cinta menari-menari dan membuatku berbunga-bunga. Di tengah nyanyian itu aku sadar, lagu ini adalah OST untuk Film Flaminggo Dress. Ya ampun! Seingatku, sejauh ini belum ada yang bilang kalau OST-nya sudah kelar. Jangan bilang-

Aku kembali memperhatikan Futo yang sedang bernyanyi. Sesekali, idola itu melirikku, memberikan efek meleleh di hatiku.

Lagu itu pun berakhir dengan dentingan lembut nan mendayu. Futo meletakkan gitar di sampingnya lalu menghadapku, kembali memamerkan seringaian sombongnya. "Gimana?"

Aku memonyongkan mulutku. Memalingkan wajahku sesaat lalu kembali menatap kedua mata Futo. "Ba-bagus."

Cengiran Futo melebar.

"Lagunya yang bagus! Kamu nggak perlu senang gitu!" seruku, cepat-cepat.

Futo cekikikan. "Yang buat lagu itu kan aku. Lagunya cakep gitu, pembuatnya juga cakep donk!"

"Buu~! Narsis kamu!"

"Kamu sendiri harusnya bersyukur dan bangga."

"Ha? Why should I?"

Futo menyentil dahiku. "Karena kamu orang pertama yang mendengar lagu ini. Be proud, Usagi."

Aku menganga. "Se-serius?"

"Iyalah."

"SERIUS?" teriakku tak percaya. Bibirku merekah dengan lebarnya.

Futo kembali cekikikan. "Mulut kamu lebar juga buat tubuh mungil gitu."

Aku tak mengubris perkataan sialan Futo. Kebahagiaan benar-benar membuat pikiranku over-limit.

"Usagi!" Futo menunjuk jaket yang kukenakan. "Jaket itu rasanya pernah liat."

Aku ikut melirik jaket yang kupakai. "Iyalah. Kan ini jaket Yuusuke. Dia ngasih ke aku karena tau aku kedinginan. Yuusuke baik deh! Nggak kayak orang yang di depanku ini. Waktu drama, perkataan Yuusuke juga membuatku tenang. Nggak kayak orang di depanku ini. Pokoknya, Yuusuke-"

Syuut! Brak!

"Aw!" teriakku kesakitan ketika secara tak terduga kepalaku beserta tubuhku jatuh ke belakang dan menabrak lantai atap dengan tidak elitnya. Aku memejamkan mataku, berusaha menahan sakit yang sedikit membuatku pusing. "Apa-apaan sih- FU-FUTO? NGAPAIN KAMU?"

Di depanku- tidak, di atasku, wajah Futo berjarak hanya sekitar 5 sentimeter. Badannya yang lebih panjang dan besar dariku menindihku, membuatku tak berkutik.

Aku terpaku, tak percaya dengan posisi yang sedikit agak- aarrgh! Apa-apan ini? Teriak batinku.

"Fu-Futo-hmph!"

Sebuah bibir lembut mampir di bibirku yang akhirnya kusadari sebagai ciuman. Apa-apan ini? Aku menutup rapat bibirku. Tapi, sepertinya Futo tak cukup puas, ia menggigit bibir bawahku, membuatku terkejut dan membuka bibirku. Dengan celah itu, lidah Futo pun merangsek masuk. Menjelajahi mulutku. Aku yang tak senang langsung melawan lidah Futo dengan lidahku. Adu lidah pun terjadi. Aku dapat mendengar decakan lidah yang entah punya siapa dan desahan-oh my god-.

Aku rasanya ingin menangis.

Ada apa dengan Futo?

Why he kiss me?

.

.

To be continued…

3823 words.

March 6th, 2014.


YA AMPYUN! SEGILA APA SAYA? INI TERLALU CEPAT! TERLALU CEPAT!

Fyuh~ #menghelanafas untung rate-nya T… #ngakak

Ehem, maafkan atas kegilaan saya.

Jeng! Jeng! Akhirnya saya pun bertekad untuk melangkahkan fic ini ke jenjang berikutnya. #eh?

Nah, mulai chapter depan, saya akan mulai menambah keseriusan akan kisah cinta Aika sedikit-sedikit. Moga-moga nggak makin aneh. Fyuh.

Ngomong-ngomong, nama 'Aika' saya pilih karena memiliki arti 'Love Song'... tapi, apa itu benar ya? #ragu

Ow, and don't forget, saran, kritik dan masukan akan saya tunggu!

BlackLapiz, thank you for the review! #hug

See you, bye bye! #bow