Stalker Conflict Chapter 8
Genre : Romance, Family, Humor
Rate : T
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
I just own the story and few OCs.
.
.
My First Love Target
BUAKKK!
Futo langsung terlempar ke kanan tatkala aku melemparkan pukulan telak ke arah wajahnya. Aku mengelap bibirku dengan punggung tangan kananku. Dengan wajah yang kuyakini memerah, aku menggeram kesal.
"Ka-kau!" jeda, "KENAPA?!" teriakku, tak mengerti.
Futo mengelap pipi kirinya, sambil menggerutu pelan. "Aw, sakiii~t…"
Aku mendecih kesal. "Kenapa kamu menci-" aku terdiam. Aku bisa merasakan darah mengalir dengan derasnya ke kepalaku. Aku mengertakkan gigiku, berusaha menguatkan mentalku. "Ke-kenapa kau menciumku, idola-mesum?!"
Futo melirik ke arahku lalu menyeringai. "Senpai jago juga… ciumannya."
"What?" aku menganga. Pipiku makin panas rasanya.
"Senpai~ baru aja kemarin senpai mukul kepalaku, hari ini ganti jadi pipi?" Futo mengembungkan kedua pipinya, sok imut. "Buu~ senpai kejam banget! Aku idola loh~"
"Apa peduliku? Lagian, dari dulu kerjaanmu cuma bikin kesal aku aja tau!" seruku sambil menunjuk-nunjuk muka Futo dengan kesal, yang sebenarnya juga bercampur rasa malu.
Cengiran Futo melebar. Wajahnya yang tadi sok imut berubah kembali jadi mesum, ehem, sombong maksudnya. "Hmmm~ begitu. Jadi, aku sering ada di pikiran senpai donk?"
"Ja-jangan sok tau!" balasku.
"Hmmm~" cengiran Futo makin lebar. Kedua matanya menatapku lekat. Ah, sial! Berhenti melihatku seperti itu!
Sebuah memori tiba-tiba melintas di pikiranku, membuatku terdiam juga menimbulkan gelenyar aneh di dada.
Oh iya, bukannya…
"Hei, Futo!" panggilku. Nada suara menurun, hampir rendah dan terdengar dingin.
Futo menghentikan cengirannya, kemudian menatapku penasaran. "Hm?"
"Bukannya kamu pacaran dengan Ema-chan? Kenapa malah menciumku?"
Kedua mata Futo melebar, lalu…
"WAHAHAHAHA~! AKU? DENGAN NEE-SAN? AHAHAHA~! Kenapa senpai berpikiran seperti itu?" tanyanya, disela-sela tawa membahana yang membuatku menganga. Futo guling-guling di lantai atap gedung sambil memegangi perutnya, tanda kesakitan menahan tawa.
"A-aku melihat kalian tau! Kalian waktu itu ciuman pas hari pertama masuk sekolah kan?" seruku, mengingat kembali ketika aku menangis untuk pertama kalinya gara-gara cowok bodoh yang sekarang ada di hadapanku ini.
"Ha? Oh, yang itu." Futo menghentikan tawanya, lalu beranjak berdiri. Namun, sesekali, cekikikan masih lolos dari mulutnya. Dengan perlahan, Futo mendekatiku. "Wah, senpai suka sama aku ya?"
Aku menganga. "Si-siapa yang suka sama kamu, baka?"
"Lah, jelas kan kalau senpai saking cemburunya, waktu itu senpai nggak ngintip sampai akhir?"
"Siapa yang ngintip?"
"Lah, kalau bukan ngintip, apa donk?"
"Ck."
"Senpai~," Futo menjulurkan tangan kanannya, mengambil beberapa helai rambutku lalu membelainya lembut, "waktu itu aku nggak nyium nee-san. Mau tau alasannya kenapa?"
Aku menggigit bibir bawahku, menahan gejolak yang tiba-tiba membuncah di dadaku. Aku merasakan firasat buruk.
"Ke-kenapa?"
"Waktu itu," Futo terdiam sesaat, matanya menghindar dari tatapanku, lalu mendesah panjang, "waktu itu, jantungku saking berdebarnya, aku jadi nggak bisa mencium Nee-san. Aku yakin, jika aku menciumnya, aku akan benar-benar jatuh."
Deg!
Futo terkekeh, namun kekehannya itu terdengar parau. "Gawat banget kan?"
Deg!
"Nee~, senpai~"
Deg!
"Apa salah…"
Deg!
"kalau aku…"
Deg!
"jatuh cinta dengan kakakku sendiri?" tanya Futo, sambil menatap lurus kedua mataku.
DEG!
Aku bisa merasakannya. Futo benar-benar… Futo benar-benar mencintai Ema-chan. Aku…
DEG!
Sial!
DEG!DEG!DEG!
Jantungku… terasa sangat… perih.
Air mataku rasanya ingin tumpah.
…
…
…
Jangan bilang… aku… pada Futo…
Ini nggak mungkin! Aku… dengan idola-bodoh-mesum itu?
NGGAK MUNGKIN!
Tapi…
"Nggak kok!" jawabku, sambil menatap kedua mata Futo.
Bodoh! Apa yang kau katakan Aika? Seru batinku.
"Kamu nggak salah. Lagian Ema-chan bukan saudara kandungmu kan?" lanjutku. Aku yakin wajahku terlihat tenang, tapi… dadaku… sakit.
"Hmm~ memang sih." Wajah Futo tampak senang,
Aika! Apa kamu yakin? Kamu sudah dua kali menyerah! Apa kali ini kamu akan menyerah lagi? Apa kamu akan lari lagi? Jadi pengecut lagi? Teriak batinku.
Nggak! Sudah cukup! Aku… aku…
"Tapi… aku ada di pasukan Yuusuke loh! Jadi," aku menunjuk Futo dengan jari telunjukku, "bersiaplah untuk kalah!"
Futo melongo, kemudian… "Hahahaha! Begitu ternyata! Hahahaha! Aduduh~ senpai memang selalu menarik. Hmm~ baiklah, kita lihat siapa yang nanti akan menang," ujar Futo sambil cekikikan tidak jelas.
Aku menundukkan wajahku, mengepalkan kedua tanganku, "Dan, selain itu… aku juga akan…" aku menegakkan kepalaku, menatap tajam Futo, lalu menarik baju Futo dengan kedua tanganku hingga jarak tubuhku dengannya hanya tinggal beberapa sentimeter, lalu…
BITE!
Aku, dengan tak terduga, menggigit leher sisi kanan Futo dengan tiba-tiba.
"Aw!" rintih Futo, kesakitan.
Aku menarik diriku, melepaskan genggamanku pada baju Futo lalu berseru dengan lantang, "Aku nggak akan menyerah lagi! Aku nggak akan kabur lagi! Aku nggak akan jadi pengecut lagi! Aku juga akan menyerangmu hingga kamu akan jatuh ke dalam pesonaku! BERSIAPLAH, ASAHINA FUTO!"
Futo menatapku dengan tatapan melongo yang luar biasa lucu, kemudian, "Ha?"
.
.
.
Malam ini, suasana kamar cukup dingin karena aku lupa menyalakan pemanas. Aku beserta Lucy, kini, sedang duduk di atas tempat tidur.
Aku menatap tajam Lucy.
Lucy menatap tajam diriku.
Aku mengembung kedua pipiku, menahan suatu gejolak di dalam diriku.
Lucy mengerutkan kedua alisnya yang imut-imut. Kucing hitamku itu memang makin imut, dari hari ke hari.
Aku menahan nafas, berusaha lebih untuk menahan gejolak yang sedari tadi kutahan.
Lucy mendesah panjang, "Aika, sudahlah. Menyerah saja. Lepaskan saja emosimu itu."
"HUWAAAAA~! LUCY~!" jebol lah pertahananku, yang sudah kutahan sejak pulang dari penutupan festival sekolah tadi. "AKU BEGO BANGEE~T!" air mata mengalir deras dari kedua mataku. Tak hanya itu, hidungku pun sumpek oleh ingus yang keluar karena tangisku. "HUHUHUHU~! LUCY~!"
"Kamu ini," Lucy menghela nafas, "Aku tau kamu itu mulutnya ceroboh, tapi… menembak cowok dengan cara seperti itu?" Lucy menetapku tajam. "Kamu bego ya?"
"Aku nggak tau kenapa, tapi pikiranku spontan mikir kalau aku nggak mau lari lagi. Trus mulutku langsung aja ngomong nggak jelas tanpa sensor. Jadi… jadi… huhuhu~ AKU MALAH NEMBAK FUTO~! HUWAA~!" tangisku makin kencang.
"Hei, kenapa nangis sih? Bukan kayak Aika aja!" seru Lucy sambil melompat turun dari kasur.
Aku berhenti menangis, namun, sesengukkan masih lolos dari mulutku. Pipiku basah dan lengket karena air mata. "Maksudmu, nggak kayak aku?"
Lucy kembali melompat ke kasur, sambil membawa sebuah sapu-tangan. "Ini lap dulu wajah jelekmu itu."
Aku meraih sapu-tangan itu. "Thanks."
"Maksudku, Aika yang biasanya nggak akan nangis tapi langsung menerjang dengan kekuatan penuh. Tak lupa dengan senyuman penuh percaya diri dan kata-kata sombong nan tak masuk akal. Aika akan menyerang mengikuti instingnya. Nggak cengeng kayak gini."
Aku mengembungkan kedua pipiku. "Aku ini juga cewek, Lucy! Aku juga bisa malu dan kacau gara-gara…" aku terdiam, tenggorokanku rasanya seret.
"Gara-gara?" tanya Lucy, padahal jelas ia tahu jawabannya.
"Ugh, kamu tau juga kenapa, kok masih nanya?" cibirku, sedikit sakit hati.
Lucy geleng-geleng kepala. "Oh ya, masing ingat taruhan kita? Sepertinya aku menang ya."
Aku mengerutkan keningku, berusaha mengingat-ingat. "Ha? Yang itu?"
"Iya. Yang itu. Yang kalau aku menang kamu akan masuk universitas. Kamu, Haruno Aika, akan mengenyam bangku kuliah," jelas Lucy, tampak senang.
"Itu beda kali! Itu kan kalau aku menyesal karena jadi anti-fan Futo!"
"Sama aja, Aika."
"Beda."
"Sama."
"Beda."
"Beda."
"Sama," aku terdiam sesaat, "eh?"
"Kena kamu!" Lucy terkekeh geli. "Kamu ini, nggak mempelajari kesalahanmu ya?"
"Grrr~ LUCY~! JAHAT KAMU!"
.
.
.
Mobil yang saat ini kutumpangi berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Santai bisa dibilang. Aku saat ini sedang duduk di bangku samping-supir sambil menatap tajam si supir yang tak lain tak bukan, adalah Asahina Natsume.
Tadi pagi aku beruntung sekali bertemu dengan Natsume-san, jadi aku minta pria satu itu untuk mengantarku ke rumah sakit dimana Azusa-san dirawat. Lucky!
Dan lagi, sebuah ide muncul tatkala menatap Natsume-san.
Natsume-san menghela nafas panjang sambil tetap tak memalingkan tatapannya dari jalanan. "Kenapa anda melihat saya seperti itu, Aika-san?"
Aku tersenyum lebar. "Nee~, Natsume-chan. aku mau minta tolong."
Natsume-san mengangakt sebelah alisnya. Untuk beberapa saat, pria tampan itu terdiam lalu menggeleng, "Ogah."
"Eee~h?! Why?" aku memonyongkan mulutku.
Natsume-san tersenyum. "Jelaslah, saya nggak mau repot."
"Hmm…" aku menatap tajam Natsume-san sambil tersenyum licik. "Kalau Natsume-san ngebantu aku, aku juga mau kok ngebantu Natsume-san."
Natsume-san memberhentikan mobilnya tatkala lampu merah muncul di perempatan, lalu pria itu melirikku dengan heran. "Ngebantu apa?"
Senyumanku melebar. "Ngebantu percintaan Natsume-chan."
Wajah Natsume-san tak berubah, tapi tatapan mata pria itu sedikit melebar. Ceh, sok kalem banget sih. Natsume-san kembali menatap jalanan di depan lalu tersenyum, yang menurutku senyuman itu bisa disebut senyuman-sok-dewasa.
"Aika-san jangan sok tahu deh."
"Hmm… sok tahu? Aku? No way. Natsume-chan nggak usah ngelak gitu deh. Hmm, cewek manis berambut coklat. Natsume-san ada kepikiran siapa gitu?"
Tak ada jawaban.
"Biasanya setiap hari pake baju seragam gitu deh. Ada kepikiran?" ujarku, sok rahasia-rahasiaan.
Tak ada jawaban.
"Ternyata, umurnya masih umur jagung. Muda euy. Ada kepikiran?"
Tak ada jawaban, lagi.
"Hmm, ternyata oh ternyata, keluarga? Ada kepikiran?"
Tak ada jawaban, ehem, lagi.
"Buu~ payah ah," ujarku akhirnya, mulai bosan. "Aku sadar loh, tatapan Natsume-san tuh kalau ngeliat si dia tuh beda. Orang mungkin nggak sadar, tapi aku cukup kenal Natsume-san, jadi… ehem, ya sadar aja."
Selama beberapa detik, suasana mobil hening. Tak ada yang berbicara.
Natsume-san pun memecah keheningan. Ia menghela nafas panjang, mengaku kalah. "Haa~, anda selalu sensitif di bagian yang tidak penting."
Aku terkikik geli. "Penting tau!"
"Sama sekali nggak."
"Jadi, bagaimana? Have we already had the mutual interest, Natsume-chan?" tanyaku, kembali dengan senyuman licikku.
Natsume-san melirikku sekilas, kembali menghela nafas, "Apa yang bisa saya bantu, Aika-oujosama?" Dalam nada suara pria itu, ada nada sindiran. Tapi aku nggak peduli.
"Aku mau Natsume-chan membantuku dalam mendapatkan hati Futo."
CKKIIIIITTTTTT!
Mobil tiba-tiba ngerem mendadak.
Jantungku jelas memacu dengan cepat ketika kejadian itu tiba-tiba terjadi. Aku melirik ke kaca belakang mobil. Untung tak ada kendaraan di belakang, kalau ada… ah, aku tak bisa membayangkannya.
Dengan kesal aku melirik Natsume-san. "Natsume-san! Itu bahaya tau!" teriakku, dengan nafas terengah-engah.
Natsume-san malah menatapku dengan takjub. Aku yang mendapati tatapan aneh itu jadi hilang marahnya.
"Why do you look at me, like that? Is my face that pretty?" tanyaku, heran.
"Futo?" gumam Natsume, tampak tak percaya. Ia akhirnya memalingkan wajahnya lalu terkikik geli. "Aika-san akhirnya mau jujur juga."
Aku memonyongkan mulutku. "Maaf deh, aku juga baru sadar."
Natsume-san melirikku dengan tatapan tak percaya. "Baru sadar? Ck, ck."
Aku mendengus sebal. "Makanya, aku mau minta tolong. Aku nggak tau harus bagaimana biar bisa buat Futo jatuh cinta sama aku."
Natsume-san melongo. "Ha?"
"Iiih, Natsume-san, berhenti bertingkah kayak orang bego gitu deh. Aku emang pernah pacaran, tapi semuanya selalu si cowok yang nembak duluan!" ujarku, mulai gregetan.
"Kita sudah sampai," ucap Natsume-san, sambil menatap gedung rumah sakit tempat Azusa-san dirawat.
"Pokoknya, Natsume-san harus bantu aku!" aku meraih tas ranselku dari kursi belakang lalu membuka pintu mobil. Sebelum menutup pintu, aku kembali menatap Natsume-san dengan senyuman. "Siap-siap aja ya! Thank you for giving me a ride, Natsume-chan!"
Natsume-san terkikik geli. "Oke, Aika-san."
Aku pun menutup pintu mobil lalu melangkah menuju gedung rumah sakit. Namun, sebelum aku memasuki gedung, aku kembali menoleh ke belakang dan terkejut ketika menemukan Ema-chan di dekat mobil Natsume-san.
Bibirku melengkung.
What a lucky and unlucky girl, you are, Ema-chan.
.
.
.
Aku menatap ke sekelilingku. "Aih, bau rumah sakit emang unik ya." Aku mencari-cari nomor kamar Azusa-san dan- "Ketemu!"
Aku mengetuk pintu, hingga sebuah suara menyambut dari dalam. "Masuk."
Aku mengeser pintu ruang rawat inap Azusa-san. "Konnichiwa, Azu- Oh," aku terpaku, tatkala mendapati Azusa-san dan Tsubaki-san sedang berpelukan dengan mesranya. Aku menelan ludah lalu menguatkan diriku. Aku pun tersenyum. "Konnichiwa, Azusa-san! Wah, masih siang tapi udah mesra aja."
Azusa-san tersenyum lembut. "Konnichiwa, Aika-chan."
Tsubaki melepas pelukannya terhadap Azusa lalu menghampiriku, "Yo, Aika-chan!" seru Tsubaki-san sambil menghampiriku lalu, dengan ganasnya, Tsubaki-san mengacak-acak rambutku dengan gemasnya.
"Adu-duh, Tsubaki-san! Berhenti!"
"Tsubaki, kasian Aika-chan."
Tsubaki-san pun berhenti lalu menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala. "Berkunjung kok nggak bawa oleh-oleh?"
Aku memonyongkan mulutku. "Dih, ini yang sakit Azusa-san kok Tsubaki-san yang cerewet?"
"Ya nggak apa donk!" ujar Tsubaki, kali ini mencubit kedua pipiku.
"Tsu-Tsubaki-san!" rintihku.
"Haha, gomen. Aika-chan imut banget sih. Mungil dan ngegemesin gitu deh!" ujar Tsubaki-san, sambil membelai rambutku, kali ini dengan lembut.
Aku memonyongkan mulutku. "Aku nggak mungil tau! Aku standar!"
"Iya deh, standar tapi manis." Tsubaki-san mengambil sebuah kursi lalu menawarkannya padaku. "Duduklah."
Aku pun duduk di kursi pemberian Tsubaki-san lalu membuka tas ranselku. "Azusa-san kata Masa-san suka karyanya UTA-sensei ya?"
Azusa-san mengangguk. "Iya, sejak baca Light Novel UTA-sensei, saya jadi penggemarnya. Saya juga suka game-game karya UTA-sensei dan akhirnya saya juga membaca novel-novel Uta-sensei. Sebenarnya saya nggak terlalu suka baca novel berat tapi entah kenapa kalau karya UTA-sensei, saya suka. "
Aku pun mengeluarkan sebuah buku novel lalu menyodorkannya ke Azusa-san. "Ini, sebenarnya masih belum boleh diberikan pada siapapun karena release date-nya masih empat hari lagi. Tapi aku maksa ke UTA-sensei. Hehe. Moga Azusa-san cepat sembuh ya."
Wajah Azusa-san tampak sangat senang, membuatku turut senang. "Arigatou, Aika-chan! Wah, kok bisa?"
"Aku kenal dekat dengan UTA-sensei," jawabku, seadanya.
"Kenal dekat? Dengan sensei misterius itu?"
Aku mengangguk. "Maaf, tapi aku nggak bisa ngasih tau lebih dari ini. Rahasia soalnya."
Azusa-san masih tak menghilangkan kekagumannya. "Wah, keren. Sayang sekali UTA-sensei nggak menampakkan dirinya ke publik."
"Memangnya menurut Azusa-san UTA-sensei orangnya seperti apa?" tanyaku, penasaran.
Azusa-san mengkerutkan keningnya. "Emm, mungkin seorang pria dengan sifat dewasa tapi berjiwa muda."
Aku terkikik geli. "Ha? Serius?"
"Loh, salah ya?" tanya Azusa-san, tampak kecewa.
Aku mengidikkan bahuku. "Entahlah. Kan rahasia."
.
.
.
Sedang asyik berbincang-bincang dengan Azusa-san dan Tsubaki-san, sebuah dering pesan terdengar dari ponselku.
Aku menghembuskan nafas kecewa tatkala membaca pesan dari Editor-ku. Wanita iblis itu menyuruhku untuk menemuinya di tempat biasa 30 menit lagi. Ah, apalagi sih yang mau dibicarakan wanita itu?
Aku mengenakan tas ranselku lalu berpamitan kepada Azusa-san dan Tsubaki-san. Sebelum keluar dari ruangan aku menatap tajam si kembar lalu tersenyum, "Aku senang kalian tak musuhan karena rebutan seorang gadis. Cinta antar saudara itu indah ya. Bye!"
Setelahnya, aku langsung melenggang pergi, meninggalkan Azusa-san dan Tsubaki-san dengan wajah kaget mereka.
.
.
.
Siang ini, cuaca cukup panas dikarenakan musim panas yang akan hadir beberapa minggu lagi. Yah, walau tidak panas banget tapi cukup membuatku guling-guling nggak jelas di lantai kamar. Selain karena cuaca panas, lembaran kertas berisi formulir beasiswa Universitas Jochi yang sedang tersebar dengan tak rapinya di atas meja belajar, juga cukup membuatku sakit kepala.
Aku tak menyangka aku benar-benar diberi kesempatan oleh sekolah untuk mencoba Beasiswa Full Course ini. Wajar sih, sejak aku selalu menduduki peringkat pertama di angkatan.
Dering Email terdengar, aku segera membuka ponselku dan seperti dugaanku, Yuusuke lah sang pengirim. Dan entah karena apa, sakit kepalaku sedikit berkurang setelah membaca email dari Yuusuke.
[Sial, kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini ada surprise test? Aku jadi kena suplementary test nih.]
Aku tak bisa untuk tak tertawa geli membaca email dari Yuusuke itu.
[Salahmu sendiri, nggak belajar. Lagian, kalau kamu mau satu kampus dengan Ema, kamu harus giat belajar. Harus benar-benar mengubah hidupmu untuk beberapa bulan ke depan. Contoh, nggak liburan dan belajar terus selama musim panas nanti. Tuh, gitu kalau mau meraih mimpimu bersama Ema.]
Tak selang berapa lama, Yuusuke sudah membalas email-ku.
[Serius? Argh, sial.]
Aku terkikik geli. Aku tak langsung membalas email Yuusuke. Pikiranku sedang menimbang-nimbang apa aku harus memberitahu Yuusuke tentang perasaanku terhadap Futo.
Dering email terdengar namun si pengirim bukanlah Yuusuke melainkan produser film Flaminggo Dress. Isi email itu memberitahukan kalau undangan telah dikirim ke rumahku. Aku menggaruk-garuk kepalaku.
Undangan Pesta Penayangan Premier Flaminggo Dress.
Meski identitasku sebagai penulis naskah akan dirahasiakan, aku tak terlalu suka pesta. Apalagi jika tidak ada kenalan. Membosankan.
Tapi…
Kan ada Futo!
Aku bisa menunjukkan sisi cantikku dengan berpakaian cantik dan dewasa. Futo suka cewek yang lebih tua kan?
Yosh! Aku akan pergi ke pesta itu.
Tapi…
Aku nggak tahu selera pakaian yang disukai Futo.
Tiba-tiba, dering Email terdengar. Pengirimnya adalah Natsume-san.
Oh iya, Natsume-san! Aku bisa minta tolong padanya!
Uwah, Natsume-san! Nice timing!
.
.
.
Aku berlari sekuat tenaga menuju Sunrise Residence. Jantungku sedikit berdetak lebih kencang dari biasanya. Baru saja, aku mendapat email dari Yuusuke kalau Ema menghilang.
Ya ampun! Kemana gadis manis satu itu?
Setelah tiba di mansion aku langsung menuju lift dan memencet tombol angka 5. Untung Yuusuke sudah memberitahuku mengenai nomor keamanan mansion, jadi aku bisa langsung masuk ke dalam. Akhirnya aku pun sampai di ruang keluarga Asahina dan-
Wow, suasananya tampak sangat kacau.
Di dekat televisi, Masaomi-san dan Ukyo-san sibuk dengan telepon masing-masing. Keduanya sibuk berteriak ke ponsel masing-masing.
Di sofa, Kaname-san tampak sedang mencari informasi dengan menanyakan berbagai hal ke beberapa wanita. Aku yakin karena di antara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Kaname-san, terselip godaan-godaan. Dan di sisi sofa satunya lagi, ada Subaru-san yang sedang sibuk mengotak-atik sebuah tablet sambil menggerutu keras-keras.
Di dekat jendela, Tsubaki-san yang panik tampak hampir menangis di pelukan Azusa-san. Yang tentu saja, Azusa-san jadi sibuk menenangkan Tsubaki-san.
Di dekat pintu menuju ruang makan, Yuusuke dan Wataru sedang bertengkar. Entah itu mengenai keaadaan Ema atau hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Ema. Suara Yuusuke dan Wataru begitu nyaring dan cempreng hingga membuat beberapa saudara yang lain meneriaki mereka berdua untuk diam. Di tengah kedua saudara yang sedang bertengkar itu, ada Hikaru-san yang sibuk menengahi keduanya.
Dan yang paling aneh, ada Iori-san yang sedang menyirami tanaman kaktus di ujung ruangan sambil bergumam tak jelas. Aura kegelapan tampak jelas berada di skeeliling Iori-san.
Aku hanya bisa menghela nafas setelah melihat kekacauan yang super aneh ini.
Aku pun menghampiri Yuusuke lalu menepuk bahu pria berambut merah itu-
"APA?" teriak Yuusuke dengan nada kesal sambil menoleh ke arahku. Namun, setelah melihat wajahku, wajahnya melembut. "Aika."
"Hai!" sapaku sambil mencubit hidung Yuusuke. Yang dicubit melotot kaget tapi tak menjauh. "Ema belum ketemu ya?"
"AIKA-NEE-CHAN!" seru Wataru tatkala melihatku.
"Konbanwa Wataru!" sapaku.
Karena teriakan Wataru yang cukup keras, saudara-saudara yang lain pun melirikku.
Aku membungkukkan badanku ke arah mereka, "Konbanwa! Maaf saya asal nyelonong masuk. Yuusuke minta tolong kepada saya."
"Aniki! Aika itu kayak detektif. Dia bisa menyadari hal-hal kecil yang penting," seru Yuusuke mengiklankan diriku. "Bahkan, kadang ia mengetahui yang orang normal tak ketahui."
Aku hanya bisa tertawa kecil.
Masaomi-san manggut-manggut. Ukyo-san, Azusa-san dan Hikaru-san tampak tertarik. Kaname-san menatapku dengan tatapan yang sedikit membuatku jengah. Subaru-san menatapku tajam. Tsubaki-san tampak menatapku penuh harap. Wataru dengan tatapan takjubnya. Sedangkan Iori-san masih sibuk dengan kaktusnya.
"Terakhir komunikasi dengan Ema-chan kapan?" tanyaku, memulai interogasi.
"Ema ada menghubungiku kalau ia akan membeli ikan," jawab Ukyo.
"Oh ya," seru Wataru, "Nee-san janji bakal beliin Wataru puding!"
"Seingatku," Masaomi tampak berpikir, "kalau tidak salah hari ini Ema berencana mengambil Kartu Keluarga."
Deg!
Aku langsung bisa merasakan detak jantungku mulai memacu lebih cepat.
"Anu, Masaomi-san," aku menatap Masaomi-san dengan harapan kalau aku salah dengar, "Ema berencana untuk mengambil… Kartu Keluarga?"
Masaomi-san mengangguk. "Iya."
Aku menghela nafas panjang. Muncullah kemungkinan terbesar, alasan mengapa Ema-chan belum pulang.
Well, mungkin inilah saatnya Ema mengetahui kebenarannya.
"Aika-chan menyadari sesuatu?" tanya Hikaru, menyadari perubahan raut mukaku.
Aku tersenyum kecut. "Ye-yeah."
Yuusuke tersenyum lebar. "Benarkah? Wah, untung aku menghubungimu!"
"Jadi," Tsubaki mendekatiku, "kenapa Ema belum pulang?"
Aku memonyongkan mulutku. "Gomennasai, ini bukan hakku untuk memberitahu kalian."
Semua wajah yang ada di ruang langsung berubah. Ada yang kesal dan ada yang bingung.
"Kenapa?" seru Yuusuke sambil menarik tanganku, agak kasar.
"Tenang saja. Ema baik-baik saja. Ia hanya sedang bergelut dengan masa lalunya. Kalian tak perlu khawatir."
"Tapi!" Yuusuke tampak tak terima.
Aku kembali menghela nafas. "Sekarang, lebih baik kita mencari Ema dengan berpencar. Semakin cepat menemukan Ema semakin cepat kalian tahu alasan Ema tidak pulang-pulang. Oke? sekali lagi, aku minta maaf karena tak bisa memberitahukan kalian mengenai alasannnya."
Masaomi ikut menghela nafas panjang, "Baiklah kalau begitu. Futo, Louis dan tupainya Ema sudah mencoba mencari. Semuanya, ayo kita berpencar dan juga mencoba menemukan Ema!"
.
.
.
Hujan turun dengan derasnya seperti ikut menangisi hilangnya Ema-chan. Untung saja aku membawa payung.
Aku menatap sebuah taman yang tak jauh dari Kantor yang mengurus Kartu Keluarga. Dan seperti dugaanku, Ema-chan sedang duduk di salah satu bangku di taman itu. Wajah gadis manis itu begitu pucat dan sedih.
Aku langsung meraih ponselku dan men-dial nomor Natsume-san.
Suara bahwa Natsume-san sudah mengangkat teleponku pun terdengar.
"Halo! Natsume-san?"
"Aika-san? Ada apa? Ngomong-ngomong, Aika-san tahu mengenai Ema?" tanya Natsume-san, di seberang telepon. Pria itu terdengar begitu khawatir.
Aku tersenyum meski aku yakin Natsume-san tak dapat melihat senyumanku. "Nee~ Natsume-san. Aku mau minta tolong dan ini bayaranku langsung di muka."
"Ha?" Natsume-san terdengar bingung.
"Datanglah ke Taman di dekat Toko Es Krim yang pernah kita datangi. Natsume-san bakal menemukan apa yang Natsume-san cari. Cepat! Jangan lambat! Bawa pulang dan rawat ia baik-baik. Oh, dan jangan lupa memberitahu orang rumah. Oke?"
"Tu-tunggu-"
Cklek!
Aku pun memutuskan sambungan telepon. Cengiran tersampir di bibirku.
"Transaksi selesai."
Aku kembali menatap Ema yang masih terpaku di bawah hujan.
Gadis itu… akan baik-baik saja.
Ia tak sendiri.
.
.
.
Dingin.
Aku dapat merasakan ujung-ujung jari tangan dan kakiku yang mulai mati rasa.
Di sekelilingku, kegelapanlah yang menyelimuti hingga aku tak bisa melihat apa-apa. Tapi aku tahu kalau aku sedang di kelilingi oleh batu-batu es yang saling tumpang tindih, menyisakan ruangan yang begitu kecil hingga membuatku dan kedua orang tuaku tak bisa bergerak begitu leluasa.
Kedua orang tuaku pun berusaha memeluk tubuh kecilku seerat mungkin, berusaha membuatku hangat.
"A-Ai-chan ma-masih ku-kuat?" tanya Mommy dengan suara yang tersendat-sendat karena menggigil. Tapi aku bisa merasakan kelembutan dan kekhawatiran dari pertanyaan itu.
Aku tak bisa bersuara. Mulutku serasa terkunci. Aku hanya bisa mengangguk kecil.
"Ai-chan ku-kuat kok!" kali ini Daddy yang berbicara, berusaha membuatku dan Mommy tak panik.
Sudah beberapa jam terlewati. Udara semakin dingin dan aku semakin yakin kalau aku sudah tak bisa lagi menggerakkan beberapa bagian tubuhku. Tak ada lagi uap-uap keluar dari mulutku ataupun dari kedua mulut orang tuaku.
Aku mulai panik.
"Mom…my? Dad…dy?"
Hening.
"Mommy? Daddy?" tanyaku lagi, lebih nyaring. Dadaku terasa mulai sesak.
"Ya… sa… yang?" Mommy membalas.
"A-apa a-ada ya-yang ba-bakal nye-nyela-ma-matin kita?"
"Ten.. tu.. sa.. ja…" kali ini Daddy yang membalas.
"Ki-kita ber-bertiga ba-bakal se-selamat ber-bersama-sa-sama kan?"
"Ten.. tu.. sa… ja…" jawab Mommy dan Daddy berbarengan.
Aku tersenyum lega.
Jika Mommy dan Daddy bilang begitu, maka kami bertiga akan selamat!
Karena, Mommy dan Daddy tak pernah ingkar janji.
Ya, kami pasti selamat.
Aku mulai menutup mataku. Rasa kantuk dan lelah mulai menyerang.
Di tengah kesadaranku yang mulai menipis, aku bisa mendengar suara Mommy dan Daddy yang meneriakiku.
Tapi… aku sudah tak kuat.
Dan semuanya pun menggelap.
.
To be continued…
.
Author's Curhat :
Sebulan lebih! Wow. Kemana saja saya?
Tapi, semoga readers masih terus mengikuti cerita ini.
Saya tunggu pendapat readers tentang chapter ini!
See you bye-bye!
