.

Stalker Conflict Chapter 9

Genre : Romance, Family, Humor

Rate : T

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

I just own the story and few OCs.

Note : From now on, I will use Fuuto instead of Futo. #teehee


Down Fall

Aku tak bisa untuk tidak ngiler ketika melihat sarapan yang tersaji pagi ini. Yah, biasanya sih aku cuma makan yang simple aja di rumah, tapi di Sunrise Residence ternyata makanannya enak-enak. Aku bisa merasakan senyuman geli Ukyo-san yang sedang melihatku, yang jelas banget, aku keliatan bahagia dengan barisan makanan di atas meja.

"Ngapain Usagi ada disini?" tanya Fuuto yang sedang duduk dengan angkuh di seberang meja. Meski pemuda nyebelin satu itu ngomongnya nyelekit, aku dapat merasakan gelenyar aneh yang ada di dada.

Tapi. Ya ampun, lagaknya nyebelin banget!

Aku suka dengan Fuuto, tapi kalau nyebelin kayak gitu ya tetap nyebelin lah!

Tapi karena mood-ku lagi bagus, aku tak ambil pusing.

Aku menampilkan senyum ceria. "Tentu saja untuk bertemu kamu, Fuuto-kun!" godaku.

Wajah Fuuto yang tadinya tampak angkuh kini melongo jijik menatapku. "Kepalamu nggak apa-apa kan Usagi?"

Aku terkikik geli dengan respon Fuuto. "Aku nggak pernah merasa sesehat ini."

Fuuto menatapku heran, tapi ia tak berkomentar apa-apa.

Tsubaki-san tiba-tiba mengambil kursi di sebelahku. "Aika-chan suka makanan apa?"

Aku menatap satu-satu makanan yang ada di hadapanku. "Emm, semuanya?"

Tsubaki-san yang mendengar jawabanku langsung tertawa. "Jawaban yang bagus sekali Aika-chan! Hahaha!"

Semua Asahina Bersaudara ada di ruang makan dan beberapa di ruang tengah, kecuali Natsume-san, Louis-san dan Azusa-san, yang ternyata harus balik ke rumah sakit. Hingga pagi ini, mereka masih khawatir dengan Ema yang kebetulan memang belum kembali. Louis-san lah yang terpilih untuk menjemput Ema-chan. Jadi, sisanya hanya bisa menunggu dengan cemas.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menyadari betapa mereka sangat over-protective terhadap Ema-chan.

"Wah, semuanya ada disini?" ucap sebuah suara yang terdengar agak kaget, dari arah tangga.

"Natsume-chan!" panggilku, sambil melambaikan tangan.

Natsume-san menangkap lambaianku lalu membalas dengan senyuman yang manis. Wah, aku yakin banget kalau Natsume-san sedang baik mood-nya.

Setelahnya, aku pun hanya bisa menonton bagaimana Natsume-san menjelaskan ke semuanya tentang 'Mengapa Ema menghilang kemarin?'. Setelah Natsume-san menjelaskan panjang lebar, suasana menjadi hening untuk beberapa saat.

Suara yang pertama terdengar adalah dari Hikaru-san, dan itu tertuju padaku. "Hei, Aika-chan."

"Ya?"

"Bagaimana Aika-chan lebih duluan tahu tentang hubungan anak angkat ini daripada Ema?"

Aku garuk-garuk kepala. "Emm, insting?"

"Ha?" Beberapa Asahina's tampak heran.

"Dulu waku SMP, aku sering ke rumah Ema-chan. Nah, suatu hari aku ketemu Rintarou-san dan pas aku melihat ayah-anak itu, instingku mengatakan kalau mereka bukan keluarga kandung. Pas aku nanyain ke Rintarou-san, ternyata emang benar. Gitu aja sih."

"Insting?" gumam Masa-san tampak tak percaya.

Aku menganggukkan kepala. "Iya. Aneh ya?"

"Aneh," jawab Fuuto, "banget."

"Diam Fuuto!" seru Yuusuke, tampak tak suka aku dicemooh.

"Loh, emang aneh kan punya kemampuan kayak gitu?" balas Fuuto.

"Tapi berkat dia kita jadi menemukan Ema tadi malam!" ujar Yuusuke tak mau kalah.

"Haa? Natsu-nii yang menemukan Nee-san. Bukan Usagi!" balas Fuuto lagi.

"Aku yakin Aika duluan yang nemuin!" teriak Yuusuke, keras kepala.

"Yuusuke-niisan budek apa?" seru Fuuto tak kalah nyaring.

"KAMU NGGAK PERCAYAAN AMAT SIH!" seru Yuusuke, jengkel.

"YUUSUKE-NIISAN YANG NGACO!" balas Fuuto, tak kalah jengkel.

"FUUTO! YUUSUKE!" teriak Masa-san, terdengar cukup menakutkan.

Kedua pemuda itu pun terdiam. Tak berani melawan Asahina Sulung tersebut.

Aku terkikik geli melihat pertengkaran keduanya dan bagaimana Masa-san begitu hebatnya mendiamkan mereka.

"Sebenarnya," Natsume-san angkat bicara, "tadi ma-"

BUAGH!

"-ADAW!" seru Natsume-san kesakitan tatkala sebuah bantal sofa menimpuk wajahya dengan sangat tidak elit. "Siapa ini yang ngelempar bantal?"

Aku bersiul-siul, sok tak bersalah.

Natsume-san menatapku tajam. "Aika-san?"

"Ehehe. Wajah Natsume-san tampaknya pas banget sih buat jadi sasaran tembak," ucapku, sambil tersenyum lebar juga mengedipkan mata beberapa kali, berusaha membuat Natsume-san menangkap pesanku. Aku tak ingin Asahina Bersaudara tau kalau aku yang menemukan Ema duluan.

Natsume-san sempat terdiam namun akhirnya ia hanya menghela nafas panjang. "Terserah deh."

Aku menghela nafas lega. Aku melirik Yuusuke yang ternyata juga balas menatapku. Duh, Yuusuke tau dari mana sih kalau aku yang nemuin Ema-chan?

Tiba-tiba, Tsubaki-san menghampiriku lalu mengusap kepalaku dengan gemas. "Insting kamu hebat banget! Kayak manusia super!"

Wataru juga menghampiriku. "Aika-neechan hebat!"

"Oh, pantas saja," gumam Hikaru-san sambil mengangguk-angguk, "waktu pertama kali kita ketemu, Aika-chan bisa tahu kalau aku itu laki-laki."

Aku mengerutkan keningku. "Aku jadi penasaran nih. Kenapa Hikaru-san kadang-kadang berpakaian layaknya wanita?"

"Ah, itu rahasia," jawab Hikaru-san sambil tersenyum penuh arti. Namun, pria itu tiba-tiba mendekatiku lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu berbisik, "alasannya sama seperti Aika-chan menyembunyikan jati diri sebagai UTA."

"Eh?" Kedua mataku membulat, kaget. "Hikaru-san seorang penulis?"

Hikaru-san tersenyum manis. "Ping pong!"

"Waah!" Aku menatap Hikaru-san kagum. "Pen-name-nya apa?" bisikku.

"Apa ya?" tanya Hikaru-san balik.

"Dih, kasih tau!" seruku, maksa.

"Mau tahu banget ya?"

"Ck."

"Ahahaha, ntar kukasih tau deh," ucap Hikaru-san sambil mencubit pipi kananku, dengan gemasnya.

"Aww~ sakit Hikaru-san."

Hikaru-san hanya tertawa. Iiih, bikin kesel aja.

"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Tsubaki-san, yang tangannya masih dengan asiknya nemplok di kepalaku.

"Hm, ada deh." Aku menepis lembut tangan Tsubaki, lalu melirik Natsume-san. "Ema-chan dan Louis-san lagi dimana sekarang?"

Natsume-san menggedikkan bahunya. "Tidak tahu. Louis katanya ingin berbicara empat mata dengan Ema tentang suatu hal."

"Ooo~h."

"Sial, pagi banget datangnya!" desis Fuuto tiba-tiba, sambil menatap layar ponselnya. Ia pun menyobekkan sebuah kertas dari buku agendanya lalu menulis sesuatu. Setelahnya ia memberikan kertas itu ke Wataru. "Nih, ntar kasih ke Nee-san ya?"

"Oke, Fuutan!" Wataru menerima dengan senang hati.

"Mau kemana Fuuto?" tanya Ukyo-san.

"Kerja."

Fuuto pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku menatap sobekan kertas yang ditujukan untuk Ema-chan. Aku pun mulai merasakan denyut tak nyaman di dadaku.

Ah.

Jangan bilang, aku… cemburu?

.

.

.

Sore ini, aku sedang berada di sebuah boutique yang menjual banyak dress cantik bersama Natsume-san. Setelah pulang sekolah, Natsume-san langsung menjemputku di gerbang sekolah.

Aku beruntung sekali karena tidak bertemu Yuusuke ketika pulang sekolah tadi. Bahaya banget kalau Yuusuke tahu aku sedang mencari dress untuk ngebuat Fuuto jatuh cinta. Berabe urusannya. Soalnya, Yuusuke kan bawaannya panas kalau aku dekat dengan Fuuto. Cih, perdebatan saudara sampai dibawa-bawa ke aku. Payah.

Aku mematut-matut diriku di depan sebuah cermin full-body. Aku tersenyum tatkala melihat diriku yang berbalut dress merah yang cukup sexy, menurutku.

Aku berbalik badan lalu menghampiri Natsume-san yang sedang duduk di sebuah sofa. "Do I look good?"

Natsume-san menatapku lalu terkekeh, "Bagus sih, tapi…"

Aku mengerutkan keningku, bingung. "Tapi?"

"Saya rasa kalau Aika-san memakai yang seksi begitu, saya seperti melihat remaja yang kelewat dewasa," lanjut Natsume-san, masih dengan kekehan gelinya.

Aku memonyongkan mulutku. "Jadi, maksud Natsume-san, aku nggak cocok pake yang sexy-sexy gituh? Grrr~"

"Aika-san daritadi nyari yang sexy terus. Kenapa sih?" tanya Natsume-san sambil beranjak dari duduknya lalu menghampiriku. Kedua mata Natsume-san memandangku lembut. "Kalau pakai yang seperti begituan, menurut saya, kecantikan Aika-san jadi berkurang."

Aika mengedipkan mataku beberapa kali lalu nyengir lebar. "Wah. Makasih. Aku memang cantik sih." Aku terkikik senang. "Aku milih yang sexy soalnya seingat dan setahu aku, Fuuto sukanya wanita yang lebih dewasa."

"Loh, Aika-san kan memang lebih tua dari Fuuto."

"Iii~h, tapi aku nggak tampak dewasa kan? Ya kan?" paksaku, sedikit merasa kesal dengan pengakuan bodoh itu.

"Memang sih," jawab Natsume-san, tampak tak ada keraguan ketika menjawab.

"Ugh, tega."

"Habisnya, Aika-san lebih ke tipe yang manis dan imut sih," lanjut Natsume-san.

"Tapi tinggiku standar loh," ucapku sedikit membela diri.

"Tapi dengan wajah, gaya rambut serta, emm, aura manis nan imut seperti itu," Natsume-san menunjuk diriku dengan tatapan yakin, "Yap! Tak salah lagi!"

"Au ah! Gelap! Kalau gitu, Natsume-san yang pilih dress-nya. Tapi jangan lupa, pilih yang bakal menarik perhatian Fuuto. Oke?" ujarku, akhirnya mengakhiri perdebatan bodoh ini.

"Oke."

Aku dan Natsume-san pun berpencar, tapi karena aku sudah malas, aku seringnya hanya menatap Natsume-san yang dengan seriusnya melihat satu-satu dress yang ada di boutique ini.

Natsume-san melirik ke sekeliling kemudian ia tampak menemukan sesuatu. "Hei, Aika-san. Kalau dress ini kayaknya bagus deh." Wajah Natsume-san tampak bersinar-sinar ketika menunjuk sebuah dress.

Aku tersenyum tatkala melihat dress berwarna biru tua yang ditunjukkan Natsume-san. "Wah, kok aku nggak liat ini ya tadi." Aku menghampiri Natsume-san. "Natsume-san hebat deh! Untung aku ngajak Natsume-san!" Aku langsung melompat dan memeluk tubuh tegap Natsume-san. Natsume-san membalas dengan mengelus lembut rambut panjangku. Aku melepas pelukanku lalu meraih dress yang dipilih Natsume-san."Aku coba dulu ya!"

"You will look good," ucap Natsume-san sambil mengacungkan jempolnya.

Aku terkekeh senang. "Of course I will."

Dan aku pun masuk ke ruang ganti.

.

.

.

Malam sudah larut, tapi aku masih sibuk dengan laptopku. Lucy terbangun karena suara teriakan fangirling-ku.

"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Lucy, terdengar sedikit kesal. Kucing hitam manis itu pun meloncat ke pangkuanku lalu mengintip layar laptopku.

Di layar laptopku terpampang internet browser yang semua tab-nya berhubungan dengan Fuuto.

Lucy geleng-geleng kepala. "Serius deh, kamu tuh lagi ngapain Aika?"

"Mencari tahu tentang Fuuto?" tanyaku balik, lalu terkekeh pelan.

"Tadi sore ada kiriman beberapa paket. Isinya apa sih?" tanya Lucy sambil melirik tumpukan kardus yang ada di sudut kamarku.

"Rahasia," jawabku.

"Apa ada hubungannya dengan Fuuto?"

"Tuh tahu. Isinya berbagai macam merchandise kayak photobook, gelas, handuk, dan banyak lagi. Dan itu bukan sembarang merchandise, tapi Premium-limited!"

"Ha? Buat apa?" tanya Lucy heran.

"Hemmm, untuk apa ya? Aku pengen aja punya barang-barang itu."

Lucy menatapku dengan tajam, menyadari ada sesuatu yang lebih dari yang kuucapkan. Namun Lucy tak lama menatapku lalu turun dari pangkuanku. "Cepat tidur. Nggak baik anak gadis begadang."

"Iya, iya."

.

.

.

"Aika-san," panggil Natsume-san yang berjalan di sampingku. Saat ini kami sedang berada di pintu masuk menuju bioskop di Roppongi Hills yang menjadi tempat Premiere Film Flaminggo Dress.

Aku melirik Natsume-san yang mengenakan jas hitam dengan aksen biru tua, yang terlihat couple dengan dress-ku yang berwarna biru tua. Malam ini, Natsume-san yang memang tampan makin terlihat gagah. Yap, just imagine it! He looks so awesome! Aku memang mencari dan membelikan jas yang akan membuat Natsume-san tampak luar biasa.

"Natsume-san, di undangannya, ditulis kalau aku diperbolehkan membawa pasangan," ujarku, sedikit lebih semangat dari biasanya. "Natsume-san tega, meninggalkan aku yang sedang ketakutan ini?" Aku berusaha menampilkan teknik puppy eyes terbaikku.

"Ketakutan? Darimananya?" ucap Natsume-san sambil menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.

"Udah deh! Percuma ngomel sekarang. Kita udah disini." Aku menggaet tangan Natsume-san lalu menarik pria itu memasuki ruang bioskop yang luas. Aku melirik ke sekelilingku, mencari seluet seseorang.

"Mencari Fuuto?" tanya Natsume-san sambil nyengir.

Aku memonyongkan mulutku. "Kalau udah tahu mending bantu aku!"

"Hai, hai, oujosama."

Namun, aku maupun Natsume-san tak dapat menemukan Fuuto hingga acara pun dimulai dan para undangan diminta untuk duduk di kursi bioskop. Argh, where is that damn idol?

Aku dan Natsume-san pun duduk di kursi yang berada di baris ketiga dari atas. Aku merasakan tatapan Natsume-san yang membuatku sedikit tak nyaman.

"Ada apa melirikku seperti itu, Natsume-san?" tanyaku, tanpa memalingkan wajah dari layar bioskop yang mulai menyala lalu menyangkan beberapa iklan sponsor film.

Aku dapat Natsume-san menghelanafas. "Tidak, hanya…"

Aku mengerutkan keningku, lalu akhirnya melirik Natsume-san. "Hanya?"

Natsume-san menjulurkan tangannya ke hidungku lalu mencubit dengan lembut. Sambil sedikit tertawa dan menatapku lembut, ia berbisik, "Aika-san malam ini terlihat cantik sekali."

Aku terpana.

Bagaimana tidak? Tatapan Natsume-san begitu menghanyutkan dan membuatku hanya bisa menganga.

"Hihihi. Ih, Aika-san ilernya hampir netes tuh," ucap Natsume-san sambil berusaha menahan tawa.

"Ha?" aku langsung reflek menutup mulutku lalu memonyongkan mulutku dengan kesal. "Natsume-san! Jangan becanda ih! Ngeselin!"

"Hahaha, gomen. Tapi, saya nggak becanda kok. Aika-san terlihat cantik malam ini. Daritadi aja, banyak yang ngelirik Aika-san loh."

"Oh ya?" tanyaku senang juga tak percaya.

"Iya. Itu pria, yang tiga kursi dari Aika-san aja daritadi ngelirik Aika-san mulu."

Aku langsung menoleh ke arah yang dituju Natsume-san dan benar saja, pria yang ketangkap pandanganku itu langsung tersenyum dan melambai ke arahku. Aku hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangan.

"Natsume-san tapinya jago juga ya," ucapku sambil menyubit lembut punggung tangan Natsume-san.

"Aw. Jago apa?"

"Jago ngombal."

"Pfft! Oh ya? Mungkin karena deket-deket Aika-san terus sih."

"Kok hubungannya ke aku sih? Aneh deh."

Natsume-san hanya tertawa membalas ucapanku.

Tiba-tiba ruangan menggelap dan acara pun dimulai. Tak lama kemudian, pemutaran film pun berjalan. Aku masih kesal karena belum bisa menemukan Fuuto tapi aku pun pasrah. Setelahnya, selama film diputar, aku menonton dengan serius sesekali tersenyum tatkala Fuuto tampak di layar.

Sesekali aku dapat merasakan tatapan juga mendengar cekikikan geli dari Natsume-san, tapi aku nggak ambil peduli. Terserah dia mau senyum kek, cekikikan kek, yang penting, moga aja nggak jadi gila.

Dasar Natsume-san.

.

.

.

Film pun berakhir dengan tepuk tangan yang menggelegar di ruang bioskop. Tidak hanya tepuk tangan biasa tapi juga ada yang sampai standing-applause. Aku tersenyum senang karena film ini tampaknya berhasil mengambil hati penonton.

Setelah, sutradara dan beberapa pemain inti pun tampak hadir di atas panggung rendah yang berada di bawah layar.

Ah, itu Fuuto! Akhirnya muncul juga tuh idola!

Setelah cuap-cuap panjang lebar mengenai film oleh sang sutradara, dan kedua pemain utama, Fuuto pun mulai berbicara.

Beberapa kali terdengar teriakan dari beberapa fans Fuuto yang membuatku mendengus kesal. Dan kembali lagi, aku mendengar Natsume-san tertawa cekikikan nggak jelas.

Argh, kenapa sih? Apa yang lucu?

"Natsume-san kenapa sih? Daritadi cekikikan mulu."

"Wajah, hihi, wajah Aika-san lucu sih."

Aku memonyongkan mulutku. "Lucu?"

"Iya, apalagi pas ngeliat Fuuto atau cewek-cewek fans Fuuto."

"Ha? Jadi, pas aku liat wajah Fuuto, wajah aku jadi ngelawak gitu?"

"Hahaha, nggak gitu juga."

"Lah, jadi lucunya darimana? Huh, orang lagi sebel, situ malah asik ketawaan."

"Awh, jangan ngambek dong Aika-san," ujar Natsume-san sambil, lagi-lagi, mencubit hidungku, dengan gemasnya.

"Iiih, Natsume-san kenapa sih hari ini? Doyan banget sama hidungku!" seruku sambil menangkis tangan Natsume-san. "Daritadi juga usil banget. Masih waras kan?"

Natsume-san tersenyum lebar. "Waras kok. Tenang aja."

Aku mengerutkan keningku.

Natsume-san kenapa sih? Nggak biasanya kayak gini.

What's wrong with him?

.

.

.

Kilauan cahaya menari-nari di sekelilingku. Aku benar-benar takjub dengan dekorasi serta suasana pesta kali ini. Bertempatan di aula utama Roppongi Hills, pesta Flaminggo Dress Premiere berlangsung dengan megah. Setiap kali mata memandang, aku selalu dapat menemukan orang-orang terkenal.

"Pestanya luar biasa," gumam Natsume-san sambil sesekali menyeruput wine yang diambilnya tadi.

"Minumannya enak?" tanyaku, penasaran.

"Enak," seulas senyum tersampir di bibir Natsume-san, "tapi Aika-san masih belum boleh minum."

Aku memonyongkan mulutku. "Ugh, iya aku tahu."

Di sisi aula yang cukup jauh dari tempatku berdiri, aku dapat melihat Fuuto yang dikelilingi oleh orang-orang yang kutebak orang kalangan atas atau orang terkenal. Fuuto tampak senang dan aku bisa melihat tawa dan senyumnya, yang sayangnya bukan ditujukan untukku.

Aku melirik dress yang kukenakan. Dress cantik selutut dan tanpa lengan itu tersampir dengan nyamannya ditubuhku. Aku menghela nafas. Mulai merasa percuma datang kesini jika tidak bisa mendekati Fuuto.

"Aika-san jangan terlihat sedih gitu, kan sayang dress-nya," ucap Natsume-san sambil memeluk bahuku dengan lembut.

Aku menyenderkan kepalaku ke dada Natsume-san. "Aku pusing."

"Eh? Butuh udara segar?" tanya Natsume-san, tampak khawatir. "Kita ke balkon saja yuk."

Aku mengangguk.

Aku dan Natsume-san pun berjalan menuju balkon yang juga terdapat taman hijau beserta kolam ikan yang cantik.

Aku menghirup udara dalam-dalam, berusaha menetralkan pikiranku yang mendung.

"Kenapa tadi tidak menghampiri Fuuto?" tanya Natsume-san tiba-tiba.

Aku tercekat. Entah kenapa kepalaku memanas. "Itu…"

"Aika-san malu?" tanya Natsume-san, tampak kaget. Dari suara aku bisa mendengar nada geli yang membuatku ingin mencubit Natsume-san.

Aku memonyongkan mulutku. "Kalau iya memangnya kenapa? Lagian dia juga lagi dikerumunin banyak orang. Aneh nggak sih tiba-tiba aku menghampiri dia?"

Natsume-san menutup mulutnya, tampak berusaha menahan tawa. "Nggak aneh kok, Aika-san. Tadi aja, awalnya nyari-nyari, eh, pas ketemu kok malah malu-malu kucing?"

"Habisnyaaa…"

"Aika-san cantik kok," ucap Natsume-san tiba-tiba, dan dengan nada yang begitu menghipnotis.

Aku bisa merasakan pipiku memanas. Aku memalingkan wajah. "Iya. Aku tahu. Jadi, berhenti ngomong kayak gitu ih."

"Hahaha. Jadi nggak usah malu. Percaya diri aja."

Aku menghampiri Natsume-san lalu mencubit pipi Natsume-san dengan gemas. "Enak banget ih ngomong doang. Hahaha."

"Adu-duh! Aika-san! Kukunya! Kuku! Tajam!" rintih Natsume-san, kesakitan.

Tapi aku nggak mau lepas gitu aja. Aku makin keras mencubit kedua pipi Natsume-san sampai-

"Kalian mesra banget," ucap sebuah suara, membekukan tubuhku dengan seketika.

"Oh, hai Fuuto!" sapa Natsume-san sambil melambaikan tangan.

Fuuto yang tadi berdiri sambil bersedekap, mulai berjalan menghampiri kami berdua.

Aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya menatap Fuuto yang dengan angkuhnya berjalan, mengurangi jarak antara aku dan dia.

"Ah, Fuuto, toilet dimana?" tanya Natsume-san tiba-tiba, memecah konsentrasiku.

"Toilet?" gumamku, heran.

"Itu ada di sebelah patung es angsa," jawab Fuuto, menunjuk dengan wajahnya.

"Oh, oke. Aku ke toilet dulu ya. Fuuto, jaga Aika dulu ya."

Dan Natsume-san pun ngacir entah kemana. Sial.

Aku pun sadar apa yang baru saja Natsume-san lakukan.

Pria itu memberiku kesempatan untuk berduaan dengan Fuuto.

Duh, aku sih senang bisa bareng Fuuto. Tapi kalau berduaan doang, ini jantung bisa ko-it sebelum waktunya! Argh!

"Aku tak nyangka kamu akan datang," ucap Fuuto tiba-tiba.

"Iya sih. Aku memang kurang suka pesta meski suka banget sama makanan di pesta. Enak-enak sih." Aku terdiam sesaat lalu berdehem. "Aku… juga datang karena ingin melihatmu," ucapku ragu-ragu.

Aduh, jantung, tenang dikit dong.

Fuuto menaikkan sebelah alisnya. "Melihatku?"

Aku memonyongkan mulutku. "Iya."

Fuuto tak menjawab, pemuda itu malah menghampiri salah satu bangku taman dan menghempaskan badannya. Ia tampak tak berbinar seperti biasanya.

"Kamu capek ya? Mau kuambilin makanan?" tawarku, sambil ikut duduk di sebelah Fuuto.

"Aku tak lapar."

"Oh."

Hening.

Aku maupun Fuuto tak ada yang membuka suara. Aku menatap ke dalam aula yang ramai oleh orang-orang dengan dress yang cantik-cantik dan setelan jas yang memukau. Ah, dress!

"Hei! Fuuto!"

Mata fuuto melirikku dengan enggan.

Aku beranjak berdiri lalu berputar, menampilkan dress yang kukenakan. "Cantik, kan?" ucapku sambil tersenyum bangga.

Fuuto sempat terdiam lalu, "Yeah, dress-nya lumayan."

Aku memonyongkan mulutku. "Dress-nya doang?"

Fuuto tiba-tiba beranjak berdiri dan menarikku ke dalam pelukannya.

Aku melotot, kaget.

Seseorang! Tolong! Jantungkuuu~! Teriak batinku miris.

Fuuto melingkarkan tangan kirinya di pinggangku dan tangan kanannya menangkup daguku, membuat wajahku menatap wajahnya sedekat mungkin.

Cengiran lolos di bibir Fuuto, menambah pesona idola-pembuat-jantung-tewas itu.

"Usagi," jari-jemari Fuuto membelai lembut pipiku, "cantik kok malam ini."

Deg!

Oh, demi apa, jantungkuuu~

Tiba-tiba, wajah Fuuto menggelap. Sinar kedua matanya meredup dan aku bisa melihat kesinisan dibalik suaranya yang membuatku gemetar. "Tapi Aika-san, hentikan kebohongan ini. Jangan membuatku jadi membencimu."

"Eh?" Apa maksud Fuuto? Kebohongan?

Fuuto melepaskan pelukannya lalu berjalan menjauh.

"Tunggu!" aku berlari menghampiri Fuuto lalu menarikt angan pemuda itu. "Apa maksud-"

Aku tercekat tatkala tatapan tajam yang begitu menusuk diperlihatkan oleh Fuuto. Tatapan yang begitu penuh kebencian, juga… kesedihan?

Dan tanpa bersuara lagi, Fuuto kembali berjalan menjauh.

Aku hanya bisa memandang hingga Fuuto masuk kembali ke dalam Aula, meninggalkanku sendiri. Aku dapat merasakan kedua kakiku melemas dan aku pun jatuh terduduk dengan kaki dan tangan yang gemetar.

Aku… aku salah apa?

Apa yang sudah kulakukan hingga membuatnya membenciku?

Apa?

APA?

Dan tanpa terbendung, air mata pun meluruh di kedua pipiku. Aku menangis untuk yang kedua kalinya karena Fuuto. Tangisan yang sama. Tangisan sakit hati.

"AIKA!" seru sebuah suara, dan langkah kaki yang berlari pun terdengar. "Aika-san! Aika-san kenapa?"

Aku menundukkan wajahku, tak ingin Natsume-san melihat wajahku yang kuyakini hancur banget.

Disela-sela tangis, aku kembali teringat kisah cintaku yang selalu gagal. Aku tersenyum kecut. Padahal aku belum lama menyadari perasaan ini tapi dengan cepatnya hancur? Oh, bagus banget. Beruntung sekali kamu Aika.

Aku meringis sendiri dengan komentar sarkastik tadi.

Apa aku tak akan pernah mendapat kebahagiaan yang namanya 'cinta yang berbalas'?

Argh. Sial.

Sial.

SIAL.

FUUTO SIALAN!

.

.

.

Aku menyentuh beberapa helai dedaunan yang ada di halaman depan rumahku. Angin berhembus dengan lembut, menambah kesejukan yang membuatku mengantuk. Aku menatap pekarangan dan rumahku. Rumah sudah bersih. Pekarangan juga. Deadline novel juga lagi nggak ada.

Ah, aku bosan.

aku jadi sadar kalau aku kembali menjadi gampang bosan seperti waktu sebelum menemukan rumah Fuuto.

Ck, aku butuh mainan baru.

Ckrek.

Suara gerbang rumah dibuka terdengar.

Aku menoleh dan mendapati Yuusuke yang sedang tersenyum lebar.

"Hai," sapanya sambil menghampiriku.

"Hai," balasku, sedikit heran dengan kehadiran Yuusuke yang tiba-tiba. Yuusuke akhir-akhir ini memang makin sering ke rumah, entah itu untuk main atau belajar. Tapi… "Ngapain kamu kesini? Perasaan, keluargamu mau berlibur kan? Ke.. apa tuh? Yatsu… Yatsu…"

"Yatsugatake."

"Iya, itu! Kamu nggak ikut?"

Yuusuke menggeleng. "Nggak, sayangnya."

"Loh, kenapa?"

"Seperti yang kamu bilang, sepertinya aku butuh waktu ekstra buat mengejar ketinggalanku."

Aku mangut-mangut. "I see. Jadi?"

Yuusuke garuk-garuk belakang lehernya sambil terkekeh aneh. "Ehehe, boleh minta ajarin?"

Aku tertawa geli melihat kecanggungan Yuusuke. "Tentu saja! Idih, nggak usah malu-malu gitu deh! Ayo masuk!"

Yuusuke tersenyum sambil mengusap rambutku. "Arigatou."

"Your welcome, Yuusuke."

.

.

.

Aku menatap layar televisi yang menayangkan sebuah berita malam di ruang tengah yang berhubungan dengan ruang makan dan juga dapur. Sesekali aku melirik Yuusuke yang lagi serius mengerjakan soal-soal yang kuberikan. Aku tersenyum melihat betapa kerja kerasnya Yuusuke demi bisa satu universitas dengan Ema-chan.

Ah, cinta itu hebat ya.

Kecuali kisah cintaku.

Argh. Kan, keingat lagi. Ugh.

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa sambil menelungkupkan seluruh wajahku ke bantal sofa.

Aika! Lupain Fuuto! Lupain! Just forget that damn-stupid-idol!

"Aika," panggil Yuusuke.

"Hm?" jawabku dari balik bantal.

"Buku kumpulan soal yang ketiga dimana?"

"Hmmm… di atas meja belajarku," jawabku, masih dari balik bantal.

"Meja belajar?"

"Iya. Di kamarku. Ambil aja."

Yuusuke terdiam sebentar, sepertinya ragu masuk kamar cewek, tapi akhirnya iya berseru, "Oke, di atas meja belajar kan?"

"Hm." Aku mengiyakan, masih dari balik bantal.

Yuusuke pun terdengar melangkah menuju kamarku.

Cukup lama Yuusuke di dalam kamar dan belum juga kembali, membuatku heran. Jangan-jangan dia melihat yang enggak-enggak lagi. Waduh.

Aku mengangkat wajahku dari bantal, "Fuwah!", lalu menarik nafas dalam-dalam karena kurangnya kadar oksigen lalu beranjak menuju kamarku.

Ketika memasuki kamarku, aku dapat melihat Yuusuke yang berada di depan meja belajarku, sedang memegang suatu kertas. Kertas apaan tuh?

"Yuusuke!" panggilku.

"WAAA!" teriaknya kayak ngeliat hantu.

"Kamu ngeliat apaan sih?" tanyaku, sambil mencoba melirik isi kertas yang dipegang Yuusuke.

Tunggu, kertas itu…

"Aika, kamu... mau kuliah di luar negri?" tanya Yuusuke sambil menatapku dengan tatapan yang entah harus kuartikan seperti apa.

Aku menggigit bibirku, tak ingin menjawab.

"Aika!" seru Yuusuke, kali ini terdengar marah.

Aku mengangguk pelan.

"Yep. Aku bakal kuliah di Oxford. Jadi, mungkin kita nggak akan ketemu lagi untuk sementara waktu Yuusuke," jawabku dengan suara yang begitu pelan. Aku melirik wajah Yuusuke yang tampak memucat. Kedua matanya membulat.

Ada denyut tak enak di dadaku. Entah itu rasa sedih ataupun bersalah.

"Gomen ne, Yuusuke."

Tapi, aku ingin pergi. Pergi sejauh mungkin. Dari seorang pemuda.

Pemuda yang bernama Asahina Fuuto.

.

.

.

Dinginnya udara yang kuhirup membuatku sesak dan lemah.

Sedikit-sedikit aku masih dapat merasakan kehangatan yang berasal dari pelukan kedua orang tuaku.

Aku dengan perlahan membuka kedua mataku. Meski dengan susah payah, tapi aku ingin melihat kedua orang tuaku.

Kegelapan perlahan mulai berubah menjadi tayangan rabun dan aku mulai bisa melihat apa yang ada dihadapanku.

Masih sama. Gelap namun ada sedikit cahaya temaram yang menembus tumpukan es yang mengisolasiku dan kedua orang tuaku.

Aku melirik wajah Daddy dan Mommy yang ternyata juga sedang menatapku.

Aku tahu. Kami tak lagi bisa bersuara. Kenikmatan itu telah menghilang ditelan dinginnya udara yang mulai menumpulkan akal.

Yang bisa kami lakukan hanya saling menatap, berusaha saling memberi kekuatan dan kehangatan.

Aku rasanya ingin menangis. Namun tak ada tetesan air mata yang mengalir.

Daddy.

Mommy.

Will we survive?


To be continued…


3923 words

Juny 2nd 2014.


Cuap cuap Author :

Maafkan saya karena telat pake banget update-nya.

Layar laptop saya retak jadi saya baru dapat kesempatan untuk melanjutkan akhir-akhir ini disela-sela kesibukan yang entah datang dari mana.

Waduh, ini bisa-bisa saya sebulan sekali update-nya.

Honto ni, gomennasai~ #bow

DoDoLJeNaNG, BlackLapiz, bAKASHITetsuya, MysteriousGirl thank you for the reviews.

Ini saya udah update! YEEEY! I'm back!

Hihi, iya nih, saya juga jadi iri sendiri sama Aika. #loh?

Aduh, makasih ya! Saya seneng banget kalau skill saya ternyata udah power up. Moga makin tinggi levelnya kedepannya.

Makasih juga yang udah mau nge-follow dan nge-fave.

You guys has made my day! XD

Moga saya makin berkurang mood WB-nya. Jadi update-nya makin cepet. Teehee

Moga juga readers masih terus stay tune dengan cerita saya. Saya tipe meski lelet tapi bakal nyelesaikan sampai the end kok.

So…

See you bye bye! #bow