.
Stalker Conflict © AzuraLunatique
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
I just own the story and few OCs.
This is the last chapter for the First Phase. Yeay! XD
Sorry, because this chapter will be a long one. Hope you won't get bored.
.
Chapter 10
The Loves that I Will Leave Behind
Aku menyusuri sebuah koridor untuk mencari ruangan yang tadi dikasih tahu oleh mba-mba resepsionis di Lobby Stasiun Televisi yang saat ini sedang kudatangi.
Kuatkan dirimu Aika! Editor Aneh itu memang tega meninggalkanmu sendirian. Padahal ini pertama kalinya aku akan menunjukkan naskahku pada seorang produser. Seharusnya editor mendampingi kan? Ck.
Dan ketika megingat itu lagi. Perutku kembali mules dengan elitnya.
Selama berjalan, pikiranku berlarian kemana-mana. Memikirkan rumah baru yang harus segera kucari, mengingat aku harus meninggalkan apertemenku. Memikirkan Rio yang sampai hari ini masih tidak memiliki Istri. Mau sampai kapan pria bodoh itu single sih? Juga memikirkan masa depanku setelah SMA, karena sebentar lagi aku kelas tiga dan itu sudah harus ditentukan.
Argh. Rasanya aku tidak memiliki waktu yang cukup, saking sibuknya.
Ruangan 315. Ah, itu dia!
Aku mendorong ganggang pintu dan tampak sebuah ruang bercat putih dengan sebuah meja panjang dan banyak kursi. Aku yakin ruangan ini adalah salah satu ruang meeting.
Di ujung ruangan, ada seorang pria yang aku sadari adalah Produser yang kucari, tapi… siapa pemuda yang bersama Produser itu? Badannya memunggungiku sehingga aku tak bisa melihat wajahnya.
"Maaf," ucapku, mengagetkan mereka berdua yang sedang asik berbincang. Keduanya menoleh padaku dan perutku yang mules kini kejang-kejang, ketika aku melihat Fuuto ada di depanku.
Oh, dia ada disini! Itu Fuuto! Aaaaargh! Aku nge-fans banget sama diaaaaa!
Ah.
Tenang Aika! Kalau kamu menggila, itu akan sangat memalukan dan dia akan takut sama kamu.
Aku pun tersenyum dengan manis sambil berkata, "Selamat Siang! Saya Haruno Aika."
Sang Produser tersenyum lebar. "Oh, silahkan duduk!" ujarnya sambil berdiri dan menunjukkan sebuah kursi terdekat kepadaku.
Aku pun duduk dan mengeluarkan sebuah Map coklat yang salah satu sisinya bertuliskan 'Lie, Life and Love'. "Ini yang sudah saya janjikan. Silahkan dibaca dulu, Pak." Pak produser menerima map-ku lalu membukanya, namun ketika ia mulai membaca, ponselnya berdering dan ia pamit keluar sebentar. Tinggallah aku bersama Fuuto, idola yang kusuka dari dulu.
Ya, dulu. Bahkan sebelum Fuuto menjadi idola tenar.
Oh, someone, help me! Jantungku! Perutku! Kepalaku! Rasanya mau meledaaaak!
Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mataku, berusaha untuk menenangkan seluruh sel di tubuhku yang berpesta ria.
Tenang… tenang… tenang…
Dan akhirnya aku mulai bisa merasakan tubuhku yang tidak menggila.
Aku melirik sekilas ke arah Fuuto yang sedang mengambil tumpukan naskahku lalu tampaknya ia mulai membaca. Melihat itu, jantungku langsung kembali berdebar tak karuan.
Ya ampun! Fuuto membaca naskahku! Aaaa!
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, saking senangnya.
"Lame." Sebuah suara mengejek menghentikan kesenanganku.
Eh?
Aku spontan menatap wajah Fuuto yang terlihat tak suka dengan naskahku. Tiba-tiba saja, perutku seperti habis ditonjok dengan begitu kuat hingga sakit tak terkira. Aku berusaha untuk tidak gemetar. "A-Apa maksudmu, Fuuto?"
Fuuto yang sedari tadi menatap naskah kini melirikku dengan tatapan mencemooh. "Kalau naskah ini difilmkan, nggak bakal ada yang mau nonton."
"Ja-Jangan menghinaku! Kamu tau apa?" seruku, mulai kesal. Perasaan suka padanya membuatku lebih sakit daripada yang seharusnya.
Fuuto nyengir. "Oh, tentu saja aku tahu." Ia melempar naskahku ke atas meja dengan kasar. Lalu ia melangkah mendekatiku, mencondongkan wajahnya mendekati wajahku lalu tersenyum sinis. "Naskah itu sangat buruk hingga aku ingin muntah."
Aku melongo. Tak menyangka Fuuto akan berkata begitu kepadaku.
Kepalaku kosong. Aku tak bisa berpikir apa-apa. Untuk sesaat, aku hanya terdiam.
Ketika ku tersadar, Fuuto sudah tidak ada dalam ruangan. Aku mendekati meja yang terdapat lembaran-lembaran naskahku lalu mengumpulkannya satu persatu.
Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan luapan emosi yang ingin meledak.
Tahan Aika! Tahan… ucapku, menjadikan itu sebagai mantra untuk tetap bertahan. Tapi, itu tetap tak dapat menghentikan seluruh tubuhku untuk tak bergetar akan perihnya dada yang entah kenapa begitu sakit.
Dan semuanya bertambah buruk ketika seminggu kemudian naskahku ditolak oleh Produser tersebut.
Aku benci.
Ya Aika, kamu benci Fuuto.
Dia malapetaka.
Kamu benci Fuuto, Aika.
Benci.
Jangan lupakan itu.
.
.
.
Aku melemparkan badanku ke kasur, setelah tadi baru saja pulang dari pesta perpisahan yang dibuat oleh editor anehku itu. Aku benar-benar kaget tatkala editor kejamku itu menangis. Sedih akan kepergianku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan bahwa aku akan kembali suatu saat nanti.
Aku melirik ke sekeliling kamarku. Aku mendengus kesal. Ya ampun, Lucy! Dimana sih kucing satu itu? Akhir-akhir ini dia sering menghilang entah kemana dan aku tak tahu kenapa. Kucing itu seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
Ketika kutanya, ia takkan mau jawab dan bilang kalau itu bukan urusanku.
Ih, kok seekor kucing bisa sok banget sih? Lagian, bukannya dia sahabat? Seharusnya saling cerita donk.
"Lucy… I miss you," bisikku, pada diri sendiri.
Aku menyembunyikan wajahku ke balik bantal sambil meluruskan badanku di atas kasur. Berusaha untuk merilekskan badan yang terasa kaku dan berat.
"Kamu sudah pulang?" Tanya sebuah suara, mengagetkanku. Aku langsung menegakkan tubuhku dan mendapati Lucy di kusen jendela kamar.
"Lucy!" seruku, senang juga lega. "Kamu darimana saja?"
Lucy meloncat turun dari jendela menuju lantai kamarku lalu menghampiri kasurku. "Aku bosan," desisnya. "Kau lama." Kucing hitam yang sudah tumbuh menjadi sedikit dewasa itu meloncat ke atas kasurku lalu mendekatiku. "Tak apa kan, jika aku berjalan-jalan mencari udara?"
Aku kembali merebahkan badanku. Lucy meringkuk di samping kepalaku, seperti mencari kehangatan.
Hening sejenak.
Aku berdehem. "Lucy. Apa yang kau sembunyikan?"
Lucy tak menjawab. Hanya terdengar dengkuran halus.
Ah, sudah tidur rupanya.
"Oyasuminasai, Lucy."
Dan aku pun menyusul Lucy menuju alam mimpi.
.
.
.
"Ai-chan yakin mau tinggal bersama Papa?" tanya seorang pria dengan suara bass yang begitu seksi di seberang telepon.
Aku tersenyum menyadari suara ayah angkatku yang tak berubah itu. Masih seksi. Aku nyengir menyadari pikiran gilaku.
"Aku yakin, Rio! Kenapa nggak percaya gitu sih?" tanyaku, benar-benar heran. "Rio nggak bisa hidup dengan benar kan, kalau nggak ada yang ngurus? Lagian, salah siapa kaki bisa patah gitu?"
"Ini cuma beberapa bulan kok. Tapi kalau Ai-chan ambil kuliah disini, Ai-chan bakal stay beberapa tahun di London. Ai-chan yakin?"
"Aku memang ingin kembali ke London, Rio! Kangen," ucapku, sambil membayangkan kembali wajah ayah angkat yang sudah lama tak kutemui itu. "Aku ingin sekali hidup bareng kamu Rio."
Hening sesaat. "Ai-chan nggak ada cowok yang disuka? Cewek manapun pasti lebih memilih berada di satu negara dengan cowok yang disuka kan?" jelas Rio, dengan suara bagai Ayah yang lagi bersedih.
Aku terkikik geli sambil menggeleng tak percaya. "I choose you over that guy."
"Eh? EEEEH? A-Ai-Ai-chan serius punya cowok yang disuka?"
"Ha?"
"Huhuhuw. Tadi Papa cuma bercanda loh," lanjut Rio dengan suara yang terdengar lebih menyedihkan dibanding sebelumnya.
Aku kembali menggeleng tak percaya. "Rio! Please! Don't joke like that!"
Terdengar suara tangis yang ditahan di seberang telepon. "Maaf, maaf, My Princess! Habisnya, Ai-chan kebiasaan sih, menyerah akan cinta begitu aja kalau cowok yang disuka ternyata udah suka sama yang lain. Kan Papa jadi khawatir."
Aku memonyongkan mulutku, kesal. "Nggak usah mengkhawatirkan yang begituan deh!"
"Papa kan khawatir kalau kamu nanti lama nikahnya," jelas Rio, lagi.
Aku mendengus kesal. "Dih, Rio sendiri belum nikah kan? Nikah dulu sana! Jangan mencampuri urusanku!"
"Tapi Papa khawatir."
"Udah ah! Pokoknya aku bakal ke London. Ada jurusan yang menurutku menarik disana dan aku memang pengen tinggal bareng Rio lagi! Nggak ada nego lagi. Aika yakin seratus persen."
Hening kembali, namun Rio memecah keheningan itu dengan suara tawa yang begitu lembut di telingaku.
"Iya, papa ngerti. Papa akan selalu nerima Ai-chan disini. Ai-chan bisa hidup bersama papa disini, jika…"
Aku mengerutkan kening. Kenapa Rio berhenti?
"Jika memang kamu ingin menenangkan diri disini. Papa akan ada selalu bersama Ai-chan. Apapun pilihan Ai-chan. Oke?"
Aku terdiam. Tak menyangka ayah nyentrikku itu dapat menyadari apa yang sedang kubutuhkan.
Aku menghela nafas lega juga senang. "Thank you, Papa!"
"WAAAA! AI-CHAN MANGGIL AKU PAPA!" seru Rio dari seberang telepon, dengan hebohnya.
Aku memutar bola mataku. Aku memang jarang banget memanggil Rio dengan sebutan papa karena, Rio MEMANG PERNAH menjadi seseorang yang LEBIH dari seorang papa bagiku, dulu. Tapi, tentu saja Rio tak tahu.
"Udah deh! Jangan norak gitu, Pa!" ucapku akhirnya, karena Rio tak berhenti teriak-teriak.
"AIIIHHH! PAPA LAGI SENENG NIH!" seru Rio, yang aku yakini sedang jingkrak-jingkrak nggak jelas di seberang sana.
"Teserah deh."
"HAHAHA! I LOVE YOU, MY PRINCESS!"
Aku tersenyum mendengar kalimat spesial itu. "Love you too, Pa."
.
.
.
"Jadi, kapan kamu akan ke London?" tanya Tsubaki-san, masih terlihat kesal akan pemberitahuan yang baru saja aku sampaikan. Saat ini, aku sedang makan malam bersama keluarga Asahina.
Memang, akhir-akhir ini, aku sering banget makan di rumah ini. Ramai dan menyenangkan sih. Walau, kadang aku harus bertemu Fuuto dengan wajah kesalnya. Yang pada akhirnya, jika aku datang, Fuuto selalu tidak akan ikut makan di meja makan bersama. Alasan-alasannya selalu aneh dan itu menyebalkan. Cih, sial. Kenapa sih idola-sialan itu?
"Rencana sih, seminggu habis perpisahan sekolah," jawabku sambil tersenyum ke arah Tsubaki-san. Yang disenyumi malah cemberut. Ih, kayak anak kecil aja.
"Kamu harus ya, pergi ke London?" tanya Yuusuke, untuk yang kesekian kalinya sejak aku memberitahu dirinya, dua minggu yang lalu.
Aku menghela nafas. "Iya, Yuusuke. Harus. Aku nggak bisa ninggalin Rio begitu aja. Dan emang aku pengen banget kuliah disana. Awalnya aku rencana untuk kuliah di Univ yang sama seperti Iori-san. Disana ada jurusan yang cukup menarik. Tapi, kalau ada tempat yang lebih menarik daripada disini, kenapa enggak?"
Yuusuke yang mendengar jawabanku beranjak dari kursinya dengan wajah sebal. "Aku mau ngambil minum dulu."
Beberapa saudara Asahina, seperti Tsubaki, Azusa, Hikaru, Subaru dan Iori memandang Yuusuke dengan wajah yang entah harus kuartikan seperti apa.
Dadaku sesak.
Aku tak ingin meninggalkan Yuusuke. Sungguh.
Tapi, aku ingin menenangkan diri. Aku tak lari. Memang awalnya aku ingin lari dari Fuuto karena penolakannya yang begitu tak beralasan. Hingga kini, pemuda idola itu ogah untuk menjelaskan ataupun bahkan berbicara denganku.
Sejak film Flaminggo Dress rampung, kami memang makin jarang bertemu. Bahkan hampir tak pernah.
Namun, kali ini aku tak mau lari. Aku hanya ingin menenangkan hati untuk beberapa tahun. Setelah lulus, aku akan kembali. Karena aku nggak mau menyerah begitu saja. Aku akan kembali, lalu kembali mencoba menaklukan idola sombong yang nggak jelas itu sekali lagi.
Aku melirik Yuusuke yang masih berkutat dengan kulkas.
Aku teringat dengan perasaanku pada Yuusuke dua tahun lalu.
Ya, kasus menyebalkan yang terjadi dua tahun lalu itu membuka mataku dan membuatku menyadari perasaanku pada Yuusuke. Namun, karena aku tahu Yuusuke cinta mati dengan Ema, aku pun menyerah. Aku tak berani dan tak yakin dapat mendapatkan hati Yuusuke. Makanya, aku menyerah dan dalam setahun, untungnya, thanks God, aku berhasil menganggap Yuusuke hanya sebagai sahabat.
Ck, dasar masa lalu.
Ah, Yuusuke. Kini, bagiku, pemuda merah itu adalah sahabat cowok terbaikku.
Aku beranjak dari kursi lalu menghampiri Yuusuke yang sedang mengambil sesuatu di kulkas. Yuusuke sempat terkejut tatkala menyadari aku berada di belakangnya.
"Hai," ujarku. Bingung mau ngomong apa.
Yuusuke mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
Aku menggerak-gerakkan tubuhku, gugup. "Emm, do you still wanna stay contact with me? Even if I'm not here, in Japan?"
Sudut bibir Yuusuke sedikit tertarik, membentuk sebuat siluet senyuman yang agak samar. Tapi, Yuusuke tak mengatakan apa pun.
"Hei," aku menarik lengan Yuusuke kesal. "Kok malah diam?"
Yuusuke tiba-tiba menoel kepalaku. "Ih, pede banget kamu! Mana mau aku berteman dengan cewek sombong kayak kamu!"
"Ha?" aku menganga, nggak percaya. "Kamu tega banget!"
"Aku nggak akan mau menerima telepon darimu," lanjut Yuusuke, membuat badanku lemas seketika.
Tiba-tiba, Yuusuke mencubit kedua pipiku sambil terkekeh geli. "Bohong, bohong. Kamu nggak perlu menghubungiku, karena aku pasti akan selalu menghubungimu."
Deg.
Jantungku berdegup dengan nada yang sedikit tidak normal.
Aku terpana.
Ya ampun! Apa besok bakal ada topan? Yuusuke kok manis dan gombal gini?
Perkataan Yuusuke membuat bibirku tidak bisa untuk tidak nyengir lebar. "Oke!" Tanpa berpikir lagi, aku langsung memeluk Yuusuke. Memeluk erat tubuh sahabatku itu. "Kutunggu loh!"
Badan Yuusuke sempat menegang, wajahnya terlihat panik, tapi akhirnya ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengelus rambut panjangku dengan lembut. "Ya, tunggu aja."
Dadaku melega diiringi dengan pelukan hangat Yuusuke yang semakin mengerat.
"Suit, suiiit! Mesra banget!" goda Tsubaki-san sambil bersiul-siul nggak jelas.
"Kalian beneran cuma sahabat?" kali ini Hikaru-san yang berbicara.
Yuusuke langsung melepas pelukan kami, yang entah kenapa, membuatku sedikit kecewa.
"Sahabat kok!" seru Yuusuke dengan pipi yang sedikit memerah.
"Nggak dapat dipercaya," tambah Masa-san.
"Sahabat tapi mesra ya?" goda Ukyo-san.
Yuusuke cemberut bukan main. "Sahabat! Nggak percayaan amat sih!"
"Emang engaaaak!" koor hampir semua Asahina bersaudara.
Yuusuke pun misuh-misuh. Aku hanya terkekeh geli mendengar godaan-godaan Asahina Bersaudara.
Ah. Aku akan merindukan ini.
.
.
.
Besok adalah hari ujian masuk universitas dan itu membuat Yuusuke kejang-kejang. Sorry, salah. Maksud saya, pemuda merah itu nervous berat. Dan itu membuatku khawatir. Jadi, saat ini berdirilah aku dengan menjijing sebuah plastik berisi berbagai macam snack juga minuman di tangan kanan dan sedangkan tangan kiriku menekan tombol angka 4 yang ada di lift di Sunrise Mansion ini.
Ting!
Lift pun sampai di lantai 3. Sepertinya ada yang mau masuk.
Sedetik berikutnya, pintu lift pun terbuka dan jantungku langsung berdegup dengan kencangnya ketika mendapati Fuuto berada di depan lift.
Fuuto yang sedang sibuk dengan ponselnya sepertinya tidak sadar kalau aku berada di dalam lift. Fuuto melangkah masuk ke dalam lift sambil tetap mata tertunduk ke ponselnya. Pemuda itu sibuk mengetik sesuatu sampai ia menyadari bahwa ia tak sendiri.
Pintu lift tertutup diiringi kepala Fuuto yang mendongak, mencari tahu orang yang bersamanya. Dan ketika matanya menangkap gambaran diriku, ia terbelalak.
Untuk beberapa detik ia hanya terdiam dan menatapku tanpa berkedip. Suasana lift begitu hening dan… canggung? Entahlah.
Aku berusaha tersenyum. "Hai, lama tak melihatmu."
Fuuto mengedipkan matanya, tampak tersadar lalu ia mengangguk pelan.
Hening lagi.
Ah, perutku mules! Apa-apaan dengan suasana hening nan mencekam ini. Dan lagi, rasanya lambat sekali pergerakan lift ini dari lantai 3 ke lantai 4. Mesinnya rusak ya? Duh, geregetan aku! Waktu terasa begitu lama.
Sial, perutku…
"Kau…" Fuuto angkat bicara.
Aku spontan menoleh ke arah Fuuto. Tak menyangka ia akan mengajakku berbicara.
"Ya?"
"Kau mau apa datang kesini?" tanyanya, dengan nada yang begitu rendah.
Aku berusaha terlihat ceria, berusaha membuat Fuuto yakin kalau aku baik-baik saja. "Aku mau ketemu Yuusuke. Aku khawatir sama dia."
Hening lagi, dan entah kenapa, kali ini suasananya lebih mencekam.
Riooo, tolong aku. Siapapun…
Ting!
Lift pun sampai di lantai 4 dan pintu lift terbuka dengan perlahan.
Berusaha untuk tetap terlihat tidak terburu-buru, aku melangkah keluar lift. Tanpa melihat ke belakang, aku melangkah dengan cepat menuju kamar Yuusuke.
.
.
.
"Yuusuke," panggilku, sambil tetap fokus bermain playstation.
"Apa?" desis Yuusuke dari arah meja belajar.
Tuh kan, bener dugaanku. Si bodoh satu ini malah nempel di kursi belajarnya dan tampak tegang begitu. Bisa tewas dia besok.
"Kamu bakal tewas sebelum berperang kalau kamu tegang gitu," ucapku, masih sambil fokus memenangkan balapan mobil. Dan…
"WINNER." Terdengar suara dari televisi di hadapanku. Aku tersenyum puas.
"Aika! Pulang sana!" seru Yuusuke, yang kulihat kini sedang sibuk membaca suatu buku pelajaran. "Kamu ganggu tahu!"
Aku geleng-geleng kepala. "Kamu kayak perempuan lagi PMS aja."
"Ha?" Wajah Yuusuke terlihat tak suka.
Aku beranjak berdiri, mematikan televisi dan playstation lalu menghampiri Yuusuke. Aku memeluk pemuda itu dari belakang, melingkarkan kedua tanganku di sekeliling leher Yuusuke yang posisinya memang lebih rendah dariku karena duduk di kursi.
"Aika! Ngapain peluk-peluk?"
"Jalan yuk."
"Ha?"
"Jalan."
"Ha?"
"Ck. Jalan-jalan, budek! Daritadi ha-ha-ha mulu." Aku menguatkan pelukanku terhadap Yuusuke. Kedua tanganku melingkar dengan nyaman di sekeliling leher Yuusuke. Yuusuke berusaha untuk lepas, tampak tak nyaman.
"Aku besok ujian, Aika!"
"Iya aku tahu, bodoh! Makanya ku ajak jalan!" teriakku, ikut-ikutan kesal.
"Ngapain jalan-jalan? Buang-buang waktu!" teriak Yuusuke balik. "Aku nggak boleh gagal besok!"
"Makanya-kubilang-jalan-jalan-bodoh!" desisku, jengkel. "Nggak baik stress pas mau ujian. Besok kamu bisa K.O duluan! Believe me!"
Yuusuke terdiam. Ia lalu menghela nafas. "Oke. Aku percaya." Yuusuke menengadahkan kepalanya, berusaha menatapku yang berada diatasnya. "Kemana?"
Aku tersenyum. "Untuk bersenang-senang. Siap-siap sana! Aku tunggu di bawah."
"Kemana sih?" tanya Yuusuke penasaran.
"Bersenang-senang!" jawabku, sambil beranjak menuju pintu.
"Aika! Jawabanmu sama pertanyaanku nggak nyambung tau!" seru Yuusuke, dari meja belajar.
"Kutunggu di bawah ya! Cepetan! Jangan lelet kayak perempuan!"
"Oy! Jawab dulu! Ooooy!"
.
.
.
Aku melangkah menuju sebuah pohon besar yang berada di halaman Sunrise Mansion. Aku terus menatap pohon yang menurutku amat megah itu hingga sebuah percakapan tertangkap dalam pendengaranku.
Aku melangkah perlahan, menuju sumber suara yang salah satu pembicaranya, suaranya sangat aku kenali.
Tak jauh dari tempatku jongkok, tepatnya dibalik semak-semak, aku, ehem, mengintip ke sebuah bangku taman. Duh, nggak elit banget aku, ngintipin orang, eh, bukan, tepatnya dua ekor hewan.
Aku dapat melihat seekor tupai yang kukenali sebagai tupainya Ema-chan, July dan kucing sahabatku, Lucy. Mereka tampak sedang berbicara dengan serius.
Aku tak bisa begitu mendengar dengan jelas akan tetapi… Lucy tampak bahagia.
Aku nggak bohong! Lucy tampak bahagia. Tampak bersinar. Ah, tampak… berbunga-bunga? Aku makin yakin dengan gerakan tubuh Lucy juga senyum kucingnya yang entah kenapa siang ini begitu manis. Aku menatap tajam ke kedua mata Lucy dan aku langsung menahan nafas saking kagetnya.
Lucy… suka.. July.
Ya, Lucy menyukai tupai Ema-chan itu! Ya ampun!
Aku langsung berderap perlahan menjauhi semak-semak yang kujadikan sebagai tempat mengintip kemudian berjalan kembali ke arah pohon besar.
Lucy… jatuh cinta? Dengan seekor tupai? Tupai? Tupaaai?
Dan tanpa bisa dicegah, aku pun nyengir lebar. Merasa senang, geli, juga heran.
"Hei," panggil sebuah suara.
Aku menoleh dan mendapati Yuusuke dengan tatapan herannya. pemuda merah itu kini sudah tampak keren dengan pakaian jalannya. Nggak kayak tadi, baju dan celana training dengan gaya rambut bangun tidur. Duh.
"Kamu ngapain cengar-cengir kayak orang bodoh gitu?"
Aku meraih lengan Yuusuke lalu memeluknya. "Rahasia! Yuk, jalan!"
Yuusuke sempat berjengit ketika lengannya kupeluk tapi akhirnya ia membiarkanku memeluk lengannya.
"Kamu yang traktir kan?"
Aku tertawa. "Hahaha! Iya iya! Apa pun deh, demi sahabatku yang satu ini!"
Yuusuke balas tersenyum. "Asik."
"Dasar cowok kere!"
Yuusuke cemberut. "Kamu yang maksa juga!"
"Iya iya." Aku tersenyum geli. "Yuk!"
.
.
.
Aku melirik ke sekeliling ruangan dan menyadari betapa nyamannya tempat ini. Apertemennya cukup bagus dan nyaman. Dan, ya ampun! Disini ada kucing juga!
"Meaw! Meaw!"
Aku tertawa senang tatkala dua kucing yang sangat lucu bermain-main di pangkuan dan lenganku.
"Mereka namanya siapa?" tanyaku pada Natsume-san yang sedang menyiapkan sesuatu di dapur.
"Tsubaki dan Azusa!" teriak Natsume-san dari dapur.
"Ha? Tsubaki dan Azusa dari Tsubaki-san dan Azusa-san?" teriakku senang.
Natsume-san keluar dari dapur dan meletakkan sebuah piring berisi kue-kue kering juga segelas teh di meja yang ada di hadapanku. "Iya."
Aku tekekeh geli yang membuat Natsume-san berjingit heran. "Apa? Aika-san mikir apa kali ini, hm?" tanya Natsume-san penasaran.
"Natsume-san ternyata kesepian ya? Iih, manisnya. Terus kucingnya namanya Tsubaki dan Azusa lagi. Aw! Love sibling emang mantep!" seruku sambil masih terkekeh kesenangan.
Natsume-san memutar kedua bola matanya, tampak pasrah dengan godaanku.
"Kalau kesepian panggil aja aku! Aku pasti langsung datang."
"Oh ya?" ujar Natsume-san sambil menaikkan alisnya.
"Iya lah! Meski aku ada di ujung dunia sekalipun, kalau Natsume-san butuh seseorang untuk menemani, aku bakal langsung terbang kesini," jawabku dengan menatap kedua mata Natsume-san, menunjukkan betapa aku menyayangi pria yang telah banyak membantuku.
Natsume-san tersenyum senang. Oh no! Senyumannya manis banget!
"Promise?" tantang Natsume-san sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
Aku menautkan jari kelingking Natsume-san dengan jari kelingkingku. "Promise."
"Makasih, Aika-chan!"
Aih, dia memanggilku dengan Aika-chan! Asiiik!
"Ah, aku boleh minta tolong lagi?" tanyaku, dengan memasang wajah memelasku.
Natsume-san terdiam sesaat, tampak berpikir. "Tentang Fuuto?"
Aku mengangguk malu-malu. "I-Iya. Kok tau?"
"Kamu masih menyukainya?" tanya Natsume-san dengan nada yang sedikit membuatku terkejut. Ia tampak tak suka.
Aku mengangguk. "I-Iya."
"Padahal dia sudah berbuat hal yang buruk ke kamu?"
Aku mengangguk lagi. "I-Iya."
Hening.
Aku melirik Natsume-san yang tampak sedang berpikir. Dadaku menghangat ketika menyadari betapa Natsume-san begitu mengkhawatirkanku. Aku menggeser tempat dudukku ke samping Natsume-san.
"I love him. Meski aku berusaha untuk membencinya, tapi aku nggak bisa," ucapku, berusaha untuk tidak terlalu emosional.
Natsume-san menolehkan wajahnya ke arahku.
"Aku boleh minta peluk?" pintaku, sambil merentangkan kedua tanganku dan tersenyum lebar.
Natsume-san langsung memelukku dengan erat. "Tentu saja Aika-san!"
"Natsume-san bisa tolong beritahu aku tentang Fuuto? Kayak mata-mataku gitu. Kalau aku di luar negri, susah nyari info Fuuto sih," pintaku sambil membalas pelukan Natsume-san dan memposisikan badanku ke posisi yang lebih nyaman dalam pelukan Natsume-san yang ternyata begitu menentramkan.
"Sebenarnya sih saya malas, tapi… baiklah. Kalau itu membuatmu senang."
"Thank you. Natsume-san baik deh. Kayaknya seperti ini rasanya ya kalau punya kakak?" tanyaku lebih pada diri sendiri.
"Kakak? Hmm… boleh juga. aku nggak punya adik perempuan."
"Oh iyaya. Kan adik perempuan satu-satunya nggak dianggap adik," godaku.
Natsume-san memalingkan tatapannya, tak membalas godaanku.
"Ah! Aku boleh memanggil Natsume-san dengan panggilan Aniki?" tanyaku antusias, memeluk Natsume-san lebih erat.
"Aniki? Nggak bisa yang lebih normal?"
Aku yengir namun tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh! Oh! Kalau Onii-chan gimana? Ya? Ya? Yaaaa?" Aku sedikit melonggarkan pelukanku agar dapat menatap wajah Natsume-san. "Please~?"
Natsume-san terdiam, sepertinya dia agak nggak suka dengan panggilan 'Onii-chan'.
"Onii-san aja."
"Nggak mau!"
"Onii-san aja ya?"
"Nggak mauuuu!" seruku, maksa.
Natsume-san menghela nafas panjang. "Terserah Aika-san deh."
"Asiiik!"
Natsume-san menghela nafas panjang. "Aika-san ini benar-benar merepotkan ya?"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Natsume-san. "Tapi Onii-chan sayang kan?"
Natsume-san sempat terdiam lalu kembali menghela nafas. "Terserah deh."
Aku cekikikan. "Onii-chan malu! Lucunyaaa!"
Natsume-san tak membalas kata-kataku. Pria itu hanya diam sambil memelukku dengan hangat.
Aku sekarang punya seorang kakak!
Lucky~!
Love you, Onii-chan! Hihihi.
.
.
.
Pagi ini cuaca tampak tak begitu bersahabat. Aku mengikat batang bunga yang bibitnya kudapat dari Iori-san. Aku menatap ke sekelilingku, berharap hujan tak akan merusak kebunku.
Klang!
Pintu pagar terbuka dan menampakkan Yuusuke dengan wajah yang sama dengan cuaca pagi ini.
"Yuusuke! Ada apa?" tanyaku sambil berlari menghampiri Yuusuke.
"Gagal…" bisik Yuusuke.
Aku mengerutkan keningku. "Gagal?"
Yuusuke mengangguk. "Aku tidak di terima di universitas itu."
Gagal? Kenapa? Ini nggak adil! Padahal ia sudah berusaha mati-matian.
Aku menatap lekat-lekat wajah Yuusuke yang penuh kekecewaan itu. Yuusuke pasti begitu sedih. Aku mengulurkan kedua tanganku ke kedua pipi Yuusuke. "Yuusuke. Aku yakin kamu pasti akan mendapat apa yang kamu inginkan. Jadi jangan bersedih."
Yuusuke menatapku heran. "Tapi aku gagal! Aku nggak mendapatkan apa yang kuinginkan!"
Aku menggeleng. "Aku yakin kok! Tunggu saja!"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Insting?" ucapku, sambil sedikit terkekeh.
Yuusuke sempat terdiam tapi akhirnya ia tersenyum. "Oke. Tapi kalau aku nggak dapat-dapat apa yang aku inginkan, kamu harus tanggung jawab!"
"Oke-oke. Kita liat saja."
Yuusuke mencibir tapi ia tersenyum dengan manis. Tampaknya ia sudah tak begitu sedih lagi. Aku sempat terenyuh dengan betapa Yuusuke begitu gampangnya percaya padaku. Pada instingku, bahkan. Yang mungkin menurut orang kebanyakan, insting itu susah untuk dipercaya.
Yuusuke memang benar-benar sahabatku.
.
.
.
Keberuntunganku hari ini sungguh buruk! Ya! Buruk! Buruk banget!
Mengapa tidak?
Di hadapanku, berdiri Fuuto dengan tatapan yang begitu serius namun mengucapkan kalimat yang menurutku aneh luar biasa.
"Aku ingin kamu menjadi manager-ku, Usagi!"
Aku melongo sesaat, berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Fuuto.
"Kamu memintaku untuk menjadi manager-mu?" tanyaku, memastikan.
Fuuto mengangguk. "Manager dan seluruh staff di agensiku kena serangan influenza. Untuk setidaknya hari ini, aku ingin kamu jadi manager-ku!"
"Kenapa aku?"
"Kamu kan manager-ku di sekolah. Aku malas cari orang lagi. Dan aku nggak nerima penolakan."
Aku cengo.
Oke! Ini gila!
Sebelumnya ia mengataiku pembohong! Menjauhiku! Sekarang dia malah mintaku untuk menjadi manager-nya? Otak Fuuto nggak konslet kan?
"Otakmu baik-baik saja kan?" ucapku, khawatir.
Fuuto mendecih. Tanpa meminta izin, ia langsung melewatiku dan masuk ke dalam rumah lalu duduk di salah satu sofa. "Ganti baju sana! Piyama nggak bisa dipakai buat kerja."
Aku menggemeretakkan gigiku. Iiih, idola-cunguk satu ini nyebelin banget sih!
Dengan malas aku melangkah menuju kamarku.
"Ingat ya! Ini nggak gratis!" seruku lalu membanting pintu kamar.
.
.
.
Aku memandang jalanan yang ada di hadapanku. Mobil yang sedang kukendarai melaju di jalan tol dengan kecepatan yang cukup cepat. Aku berusaha fokus walau keheningan di antara aku dan Fuuto, yang duduk di kursi belakang cukup menggangguku. Ya ampun. Nggak ada apa yang bisa kami bicarakan? Dan lagi, Fuuto yang biasanya cerewet dan selalu mengeluarkan hinaan-hinaan, sejak mengambil mobil dan berangkat dari kantor agensi tadi jadi pendiam.
Aaaaargh! Bisa gila aku kalau gini terus!
Aku menghela nafas panjang. Akhirnya, aku memilih untuk bersenandung, daripada hening begini. Ah, lagu Character Song yang dinyanyikan Tsubaki-san bagus. Aku pun menyayikan lagu yang menurutku memiliki nada yang merdu itu.
Aku jadi yakin kalau Tsubaki-san juga bisa jadi penyanyi. Mana wajahnya keren pula! Personalitinya juga bagus, nggak kayak idola-aneh di belakangku ini.
Sambil bersenandung, sesekali aku mengetuk-ngetuk jariku di kemudi mobil. Baru saja aku menyelesaikan bagian reff, hingga…
"Pfft!" Suara seseorang yang menahan tawa terdengar.
Aku melirik kaca dan menemukan Fuuto sedang membungkuk, tangannya memegang perutnya dan satu tangan yang lain menutup mulutnya. Aku mengerutkan keningku. Heran. Tapi, apa peduliku. Aku pun kembali fokus pada setir dan kembali melanjutkan senandunganku.
"BUAHAHAHAHAHAHA!" Ledakan tawa tiba-tiba terdengar. "GILA! NGGAK NAHAN! HAHAHAHAHA!"
Aku menghentikan senandunganku, melirik ke kursi belakang dan mendapati Fuuto sedang kejang-kejang. Oke, bukan kejang-kejang tepatnya, tapi kesakitan, karena tertawa terlalu keras.
Aku menyipitkan mataku, "Kamu nggak gila kan?"
"HAHAHAHA! NYANYIAN APAAN TUH? KACAU BANGET! HAHAHAHAHA!" Fuuto tampak masih larut dalam gelak tawanya, tak menyadari tatapanku yang menatapnya jengkel.
"HAHAHAHAHA! TSUBAKI-NII BISA NANGIS KALO DENGER LAGU ITU! HAHAAHAHA!"
Aku mendecih. Dih, emang senandunganku seburuk dan sekonyol itu apa? Sampai dia ketawa kayak orang gila gitu? Lagian, Tsubaki-san nggak bakal sekejam itu kok sama aku. Dia kan baik, nggak kayak Fuuto. Huh.
Akhirnya kami pun sampai di tempat interview dengan salah satu majalah yang merupakan sebuah hotel. Aku memarkir mobil di basement lalu memutar tubuhku ke belakang, ke sosok pemudayang masih kecapekan karena, you know lah, ketawa-kesetanan.
Beneran deh! Aku nggak ngerti! Apa lucunya coba senandunganku?
"Kita sudah sampai," ucapku sambil masih menatap lekat-lekat Fuuto yang sedang merapikan dirinya.
"Ya, aku tahu. Bawaain tasku sana!" perintahnya sambil menyapukan tangannya ke rambutnya lalu membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Setelahnya ia melangkah menuju lift yang berada tak jauh dari mobil.
Aku cengo sesaat.
Gila! Songong banget nih anak!
Dengan segera, aku turun dari mobil, mengambil tas dari kursi belakang lalu berlari menuju Fuuto yang hampir sampai di depan lift.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku dan Fuuto pun masuk ke dalam lift. Aku menekan tombol L yang menuju Lobby. Selama lift bergerak, aku membuka kembali buku kecil yang berisi catatan yang tadi diberikan oleh Fuuto. Titipan dari manager aslinya, katanya. Di dalam buku kecil ini, terdapat detail lengkap apa saja aktivitas Fuuto hari ini. Aku membuka lembaran yang belum sempat kubaca tadi.
Setelah membaca sampai halaman terakhir, aku pun memasukkan buku kecil itu ke dalam tas. Aku menghela nafas panjang.
Hari ini sibuk banget. Jadwalnya banyak. Memang sih, akhir-akhir ini Fuuto sering banget muncul di berbagai media dan itu membuatnya jadi benar-benar terkenal, lebih dari sebelum-sebelumnya.
Ting!
Aku dan Fuuto pun keluar dari lift. Aku mengikuti Fuuto dari belakang. Sepertinya ia tahu dimana letak dimana ketemuannya. Aku menatap sosok Fuuto dari belakang dan segelintir rasa mengalir di dada. Aku menarik nafas dalam-dalam.
Aku… ternyata benar-benar masih mencintai pemuda menyebalkan ini.
Tiba-tiba Fuuto berhenti berjalan dan membuatku hampir menabraknya dari belakang. Ia membalikkan badannya, aku cukup bingung ketika wajahnya tampak kesal.
"Apa?" tanyaku heran.
"Dimana tempat meeting-nya?" tanya Fuuto, innocent.
"Ha? Kukira kamu tahu," jawabku, kaget.
Fuuto menampakkan wajah sebal. "Ya mana kutahu! Kamu kan manager-ku hari ini! Kerja yang bener dong!"
"Ck. Di lounge selatan. Aku tanya dulu deh! Kamu disini aja."
"Nggak. Aku ikut kamu."
"Ha?" Aku memandang Fuuto yang tampak tak ingin menunggu. Aku mengibaskan tanganku. "Fine."
Aku pun mencari staff hotel dan ketika melihat seorang bellboy, aku pun langsung mendekati bellboy itu.
Duh, kalau nggak tahu bilang kek dari awal. Payah.
.
.
.
Aku menggerutu. Gimana nggak kesal? Tiba-tiba, ada perubahan jadwal dimana Fuuto dan aku harus menginap di sebuah cottage dekat sebuah pantai yang indah. Aku sih senang aja, karena sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke pantai. Tapi, aku nggak pengen nginap. Apalagi, ada Fuuto. Bisa tewas jantungku karena deg-degan.
Aku duduk di kursi yang disediakan di sebuah pondok kecil di pinggir pantai. Angin sore yang menyejukkan memainkan helaian rambutku. Fuuto sendiri sedari tadi sibuk menghafal naskah bersama aktris pasangannya. Iklan kali ini adalah iklan sebuah merek minuman. Aku melirik kulit gadis lawan main Fuuto. Uwah, putih banget. Kayak boneka. Aku melirik kulitku. Nggak putih amat sih, tapi nggak jauh beda amat kok. Mungkin.
Ih, kok malah ngebandingin aku sama gadis manis itu sih. Ugh.
Namun, tiba-tiba, gadis manis yang sedari tadi sibuk memperhatikan Fuuto kini melirikku, dengan pandangan tajam. Aku kaget, tak menyangka dapat pandangan mata yang kayak mau membunuhku itu.
Aku balas memandang, tak ingin dikira pengecut.
Karena tampaknya aku tak ingin kalah, gadis manis itu yang bernama Sashikara Rina itu memalingkan wajahnya. Aku menghela nafas panjang. Gadis itu kenapa sih?
Cemburu?
Aku kan cuma manager, bukan siapa-siapa.
Aneh deh.
.
.
.
Aku membuka mataku perlahan.
Ah, sepertinya aku tertidur. Aku memandang sekelilingku. Aku terbangun karena mendengar keributan. Dan aku pun kaget tatkala melihat Fuuto sedang ngamuk.
Aku beranjak dari kursiku lalu berlari menuju kerumunan dengan tergesa-gesa.
"KAMU NGGAK PUNYA MATA APA?" teriak Fuuto pada salah satu staff yang tampak hampir menangis. "KAMU BISA MELUKAIKU TAHU! DASAR NGGAK BECUS!"
Aku melihat keadaan yang ada disekitar Fuuto. Aku mendapati beberapa tumpuk kayu yang ada di samping Fuuto, dan aku pun mengerti dengan apa yang terjadi. Nampaknya, staff yang tidak berhati-hati hampir menjatuhkan tumpukkan kayu itu ke arah Fuuto.
"KENAPA KAMU DIAM AJA? NYADAR KALAU KAMU NGGAK BECUS? HEI! JAWAB DONK!" seru Fuuto lagi, tampak amarahnya makin berkobar.
Aku melihat beberapa staff sedang berusaha menenangkan Fuuto tapi gagal. Aku memutar kedua bola mataku.
Ck, idola-bodoh satu ini merepotkan banget sih.
Dengan tenang aku menghampiri Fuuto dan…
BUAKKK!
"Adaw!" jerit Fuuto kesakitan. Dengan cepat ia mencari tahu siapa yang baru saja memukul kepalanya. "Usagi!"
"Tenang dikit Fuuto," ucapku sambil kali ini mengelus-elus kepalanya.
"Ini sudah yang kedua kalinya kamu memukul kepalaku!" seru Fuuto tapi tak menangkis tanganku yang mengelus kepalanya.
Aku terkekeh. "Maaf deh. Kamu sih, doyan banget teriak-teriak. Sakit tau kuping aku!"
Fuuto mendecih. "Itu bukan urusanku."
Aku tersenyum. Aku memindahkan tanganku ke pipi Fuuto lalu menatap Fuuto lembut, berusaha menenangkan pemuda itu. "Syukurlah kamu nggak apa-apa. Staff yang disitu memang bersalah tapi kamu jangan teriak-teriak gitu. Kayak orang gila tau."
Fuuto tak berbicara apa-apa. Tampaknya ia terlalu syok karena tingkahku.
"Mau teh cammomile? Kamu duduk dulu deh. Kamu capek kan? Daripada teriak-teriak frustasi, mending minum teh bareng aku. Oke?"
Fuuto terdiam sesaat namun ia pun mengangguk ragu-ragu.
Aku mendesah panjang. Aku bersyukur karena keliatannya aku berhasil menenangkan idoal-gila satu ini. Aku mengerti bagaimana hal kecil yang menyebalkan dapat membuatmu kesal bukan main karena kelelahan.
Aku melepaskan genggamanku pada kedua pipi Fuuto lalu menggengam tangan Fuuto. "Yuk."
.
.
.
Waktu makan malam pun tiba. Aku duduk di salah satu meja panjang. Aku menatap piring yang berisi makan malamku dengan nanar, merasa kesepian. Ah, aku nggak ada temen bicara sama sekali. Fuuto menghilang entah kemana. Gadis manis itu juga tak terlihat dimana pun.
Jangan-jangan… mereka sedang bersama?
Nyut!
Ugh, dadaku.
"Hai!" seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh dan mendapati seorang pria yang merupakan Sutradara iklan kali ini. Pria itu tampak tak seperti sutradara pada umumnya. Pria yang bernama Yamashita Hyuuga itu berpakaian cukup gaya dengan kacamata bermerk juga gaya gentleman yang aku yakini dapat melelehkan hati banyak gadis.
"Hai," balasku, ragu. Kenapa Yamashita-san menyapaku?
Yamashita-san duduk di sampingku sambil meletakkan piringnya di samping piringku. "Saya boleh duduk disini kan?"
Aku mengangguk. "Silahkan."
Yamashita-san pun makan dengan lahap. Aku yang dicueki pun akhirnya menghabiskan makananku. Selagi aku meneguk minumanku, Yamashita-san akhirnya berbicara padaku.
"Kamu manager baru Fuuto-kun ya?" tanyanya, dengan tampang penasaran.
Aku meletakkan gelas yang sudah kosong. "Sebenarnya bukan. Saya hanya senpai-nya di sekolah yang kebetulan juga manager-nya di sekolah," curhatku.
Mulut Yamashita-san membentuk huruf O. "Wow. Tak disangka."
Aku mengerutkan keningku. "Maksud anda?"
"Saya dengar-dengar manager-nya saja butuh waktu lama untuk bisa diterima Fuuto. Tapi, ketika saya melihat kamu tadi sore, saya cukup kaget. Manager-nya saja saya yakin tak dapat menenangkan Fuuto seperti yang kamu lakukan."
"Saya…" aku speechless. Sungguh, apa sebegitu anehnya diriku yang dapat menenangkan Fuuto?
"Oh, sampai lupa. Kita belum kenalan kan?" Matanya melengkung mengikuti senyumnya yang melebar. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Saya Yamashita Hyuuga."
Aku menyambut jabat tangan Yamashita-san. "Saya Haruno Aika. Nggak usah terlalu formal, Yamashita-san. Saya masih SMA, walau bentar lagi lulus sih."
"Bagus lah kalau begitu," Tiba-tiba, Yamashita-san mendekatkan wajahnya padaku. Matanya menatap tajam, menelusuri setiap lekuk wajahku. "Hmmm, kualitas wajah dan aura yang bagus. Ah, mau nggak ka-"
Grep!
Seseorang menarik wajah Yamashita-san menjauh dari wajahku. Aku dan Yamashita-san menoleh, mencari tahu siapa.
"Apa yang sedang anda lakukan, Hyuuga-san?" ucap Fuuto, tiba-tiba muncul di sebelah Yamashita-san.
"Oh, hai, Fuuto!" sapa Yamashita-san, ceria.
"Kamu dari mana aja sih? Kamu sudah makan, Fuuto-kun?" tanyaku.
Fuuto sempat terdiam sesaat lalu mendecih, kesal. "Aku udah makan." Fuuto melepas genggamannya pada kerah bagian belakang baju Yamashita-san. "Huh, dasar cewek playgirl," bisiknya, tapi aku masih bisa mendengar.
"Apa maksudmu?" tanyaku, heran. Playgirl? Aku? Haaa?
Fuuto melangkah pergi meninggalkanku tanpa berbicara apa pun. Wajahnya menekuk dan bibirnya manyun layaknya orang ngambek. Aku mengerutkan keningku. Sumpah! Dia kenapa sih?
.
.
.
Angin malam berhembus. Aku menatap kegiatan yang masih berlanjut di bawah sana. Saat ini aku sedang berada di balkon kamar Fuuto. Karena dikira manager Fuuto, seorang laki-laki, yang datang, maka hanya disediakan satu kamar.
Aaaaaargh! Gila! Mana bisa aku sekamar sama dia!
Kakiku lemas. Jantungku sedari tadi berdebar dengan gila-gilaan. Untungnya aku masih bisa mempertahankan default wajahku menjadi datar dan tenang. Tapi… tetap saja… Rioooo.. Yuusukeeee… Natsume-nii-chaaaan… Help me~!
"Usagi!" panggil Fuuto tiba-tiba dari dalam kamar.
Aku menoleh. "Hm?"
"Besok syuting sampai jam berapa?" tanya Fuuto sambil menepuk bantalnya.
"Emmm, sekitar jam 11 siang."
"Oh. Usagi, bisa nggak kamu di dalam aja? Dingin tahu!" seru Fuuto sambil membaringkan badannya di kasurnya.
Aku terdiam. Duh, masuk nggak ya?
Menyadari aku yang belum masuk, Fuuto memiringkan badannya, menatap ke arahku.
"Kenapa? Nggak mau sekamar sama aku?"
"Ha? Eng-Enggak."
"Ya udah! Masuk! Tidur! Bikin aku nggak bisa tidur aja! Lagian, kita kan dulu pernah tidur bareng."
Deg!
"I-Itu kan kamu yang seenaknya nyekap aku! Nggak ngebolehin aku pulang!"
"Kamu kali yang waktu itu nggak bisa jujur."
Aku melangkah masuk, menutup pintu menuju balkon lalu melempar tubuhku ke kasur yang ada di sebelah kasur Fuuto. Ugh. Rasanya aku pengen cepat-cepat tidur saja! Biar nggak perlu ngomong sama idoal-kepala-batu ini.
"Awas kalau kamu pindah kasur!" ucapku sambil menarik selimut menutupi tubuhku.
"Heh. Nggak akan. Aku nggak tertarik sama cewek jelek kayak kamu," balas Fuuto.
Aku memiringkan tubuhku, menatap Fuuto yang ternyata juga memiringkan tubuhnya, menatap balik.
"Asal kamu tahu! Aku ini banyak penggemarnya!" ucapku.
"Heh. Penggemarmu berarti seleranya rendah. Buta kali mereka."
"Penggemarmu kali yang buta! Nggak nyadar apa kalau idola mereka brengsek kayak gini?" balasku.
"Aku hanya berusaha ntuk memuaskan mereka saja," ucap Fuuto sambil mengidikkan bahunya.
"Huh. Kasian banget kamu. Kalau kamu begitu terus, karirmu nggak akan kemana-mana tahu!"
Mata Fuuto menyipit. "Apa maksudmu? Jangan sok tahu deh!"
"Aku hanya mengatakan apa yang instingku rasakan. Blee~!" Aku memeletkan lidahku.
"Kamu…!" Fuuto menggeram. "Jadi instingmu bilang kalau karirku akan jatuh?"
"Aku nggak bilang jatuh. Hanya stagnan doank!"
"Sama aja, Usagi!"
"Beda!"
"Sama!"
"Beda!"
"Sama!"
"Sama!"
"Beda! … Eh?" Fuuto mengernyitkan keningnya. "Loh?"
"Hahahaha! Kena kamu! Hahaha!" Aku memegang perutku, kesakitan karena tawa yang mendadak.
"Kamuuuu…" Fuuto tampak geram. Ia tiba-tiba beranjak dari kasurnya.
Aku yang siaga juga beranjak dari posisi berbaringku. "A-Apa?"
"Kamu tuh ya, cewek paling nyebelin yang pernah aku temui tauuuu!" seru Fuuto sambil mencubit kedua pipiku dengan keras.
"Aw-Aw! Ka-Kamu juga cowok paling nyebelin yang pernah aku temui tauuu!" balasku, sambil juga mencubit kedua pipi Fuuto.
"Aw! Sakit!" rintih Fuuto. "Rasakan ini!" Fuuto kali ini mencubit hidungku.
"Nggak bisa nafas Fuutooooo!" teriakku sambil megap-megap.
"Haha! Rasain!"
"Lepaaass!" teriakku sambil mendorong dada Fuuto.
"Rasain, rasaiiin!"
"Lepaaasss!"
Tanpa sengaja, aku terpeleset selimut yang tergeletak di lantai dan menyebabkan aku jatuh ke belakang. Dalam proses jatuh, aku menjerat baju Fuuto dan menyebabkan Fuuto juga ikut jatuh bersamaku.
Brukkk!
Kami berdua pun jatuh ke kasurku dengan Fuuto menindih badanku.
"A-Aduduh…" rintihku.
"Aww.." rintih Fuuto, tepat di sebelah telingaku.
Deg!
Fuuto mengangkat badannya dan… pandangan mata kami pun bertemu.
Tak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya deru nafasku dan nafas milik Fuuto yang saling berhembus satu sama lain. Untukku, deru jantungku sudah memenuhi setiap sisi pendengaranku. Mataku mengerjap beberapa kali. Milik fuuto juga sama. Kami hanya saling menatap satu sama lain.
Deg!
Deg!
Deg!
Lama.
Aku sudah tak tau berapa lama kami hanya saling menatap satu sama lain. Saat ini, aku baru menyadari binar mata Fuuto yang terlihat jenaka. Hidungnya yang mancung. Bulu matanya yang lentik. Dan… bibirnya yang penuh.
Ugh. Perutku mules seketika.
No! No! No~! Ini terlalu menggoda!
Namun, seperti merasakan hasratku untuk menciumnya, Fuuto mendekatkan wajahnya. Matanya mengunci pandangan mataku, jadi hanya bisa terpaku padanya.
Dan bibir kami pun bersentuhan.
Awalnya hanya sapuan lembut. Detik berikutnya, bibir Fuuto mulai menekan bibirku dengan ragu-ragu. Aku yang dari awal sudah tertarik dengan bibir Fuuto pun membalas sentuhan bibir Fuuto.
Dari sapuan lembut menjadi saling mengulum. Nafasku jadi tidak teratur. Sekujur tubuhku terasa panas. Fuuto menggigit bibir bawahku, membuatku mendesah. Di saat itu, lidah Fuuto masuk dan menjelajah mulutku, menyapu barisan gigiku dan menyerang lidahku. Aku yang tak mau kalah balas bermain lidah dengan Fuuto. Aku berhasil mendorong lidah Fuuto dan balas menjelajah mulut Fuuto.
Suara decakan lidah, juga nafas yang menderu memenuhi ruangan, membuat dadaku panas. Aku merengkuhkan kedua tanganku ke leher Fuuto, memastikan bahwa Fuuto lah yang menciumku saat ini. Bahwa ini bukan khayalanku ataupun mimpi.
Fuuto.
Fuuto.
Fuuto!
I love you…
.
.
.
Aku melenguh ketika menyadari bahwa aku tertidur. Namun, begitu mengingat kejadian semalam, aku langsung membuka mata dan kaget mendapati wajah Fuuto yang sedang tertidur pulas di depan mata. Jarak antara wajahku dengan wajahnya yang memang sangat tampan hanya sepanjang siku dan itu membuat dadaku berisik oleh debaran jantung yang tiba-tiba memacu.
Aku tersenyum mengingat ciuman panas yang terjadi antara aku dan Fuuto. Tapi, seperti yang aku duga, bagi Fuuto, itu hanya ciuman karena terbawa suasana. Sakit tentu saja. Padahal Fuuto tahu kalau aku mencintainya, tapi kenapa ia menganggap pengakuanku tak ada.
Tadi malam, setelah puas berciuman, Fuuto langsung memelukku dan menjadikanku gulingnya. Tak lama setelahnya, Fuuto langsung tertidur nyenyak, meninggalkanku dengan tampang cengo.
Argh! Dasar, bocah!
Aku memandang jam di meja di samping tempat tidur. Jam 4 pagi. Sejam lagi syuting akan dimulai dengan pengambilan gambar sunrise. Mengingat jadwal padat yang menanti hari ini, aku langsung menepuk pundak Fuuto, berusaha membangunkan pemuda itu.
"Fuuto-kun! Wake up!"
Fuuto makin memejamkan matanya.
Aku mendengus kesal.
"Hei idola-kebo! Bangun!"
"Ngg… nggak mau…" lirihnya lalu membalikkan badannya membelakangiku.
"Fuuto! Iiih! Bangun! Profesional donk! Sejam lagi sudah mulai syuting loh!"
"Nggak mauuuu…" rengek Fuuto, kembali membalikkan badannya. Tapi, kali ini kembali mengahadapku. Namun, ia tak berhenti disitu. Ia memajukkan tubuhnya dan merangkulkan kedua lengannya di pinggangku. Memelukku erat layaknya guling.
"Idiih! Fuuto! Bangun! Kebo kamu!"
"Ngg…" Fuuto mengeratkan pelukannya.
Aku memutar kedua bola mataku.
"Fuuto! Kalau kamu nggak bangun kucubit kamu!"
Fuuto tak berkutik. Pemuda itu sepertinya sudah kembali ke alam mimpi.
Aku menggeretakkan jari-jari tanganku. "Here we go…"
Beberapa detik kemudian, teriak Fuuto pun terdengar.
"SAKIIIIITTT!"
.
.
.
Fuuto cemberut. Tampaknya cubitanku membekas di pinggangnya. Aku memang dikenal dengan cubitan yang sadis tapi baru kali ini aku benar-benar percaya dengan kemampuanku itu.
Syuting hari ini pun berakhir dua jam yang lalu dan sekarang kami berdua dalam perjalan kembali ke Tokyo. Di mobil, suasana hening seperti kemarin namun kali ini fuuto duduk di kursi samping supir. Sesekali ia melirik ke arahku dan walaupun aku terlihat fokus menyetir aku menyadari itu.
Tentu saja aku menyadarinya. Seluruh tubuhku seperti punya antena terhadap setiap gerakan yang dibuat Fuuto.
"Hei, Usagi!"
"Ya?"
Fuuto menarik kenop untuk menurunkan senderan kursinya, ia merebahkan badannya, berusaha untuk lebih rileks. "Kapan kamu meninggalkan Jepang?"
"… Eng…" aku emnggaruk-garuk daguku. "Lusa siang. Kamu tahu kalau aku mau pergi?"
Fuuto mendengus. "Apa aku nggak boleh tahu?"
"Eh? Boleh sih…"
Suasana kembali hening. Fuuto memalingkan wajahnya untuk melihat pemandangan yang ada di luar.
"Fuuto," panggilku, dengan volume suara yang seperti berbisik.
"Hm?"
"Kamu…" aku menggigit bibir bawahku, "bakal kangen aku nggak?"
Fuuto tak langsung menjawab dan itu membuat perutku memelintir dengan hebatnya. Bebrapa detik telah berlalu tapi fuuto tetap diam dan itu meyakinkanku bahwa Fuuto tak ingin menjawab.
Sesampainya kami di gedung agensi, aku memarkinkan mobil di barisan mobil agensi dan mematikan mesin. Aku mendahului Fuuto keluar dari mobil dan mengambil tas di kursi belakang.
Setelahnya, aku mengembalikan barang-barang ke manager Fuuto. Sebelum pergi, aku melirik sekilas ke Fuuto yang tampak mencatat sesuatu. Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum pergi tapi… entah kenapa aku tak melakukannya.
Dan aku pun pergi tanpa berbicara apa pun lagi pada Fuuto.
.
.
.
Aku memandang ruang makan yang ada di lantai bawah. Ema dan sebagian besar Asahina Bersaudara sedang asik makan. Hari ini aku diundang untuk merayakan kelulusan SMA.
"Hai!" sapaku, pada Asahina bersaudara ketika aku selesai menuruni tangga. "Konbanwa, minna-san!"
"Konbanwa!" balas mereka serempak.
"Aika!" seru Yuusuke, terlihat sangat ceria. Ia menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya, meintaku duudk di sampingnya.
"Hai, Yuusuke! Kamu terlihat… sangat bahagia. Ada apa?" tanyaku sambil duduk di samping Yuusuke.
"Yuutan lulus!" seru Wataru yang ada di sisi Yuusuke yang lain.
"Lulus? Oh! Ke Meiji? Wow! Congratulation!" seruku sambil memeluk Yuusuke erat-erat. "Kamu berhasil Yuusuke!"
"Aw! Jangan meluk kencang-kencang!" rintih Yuusuke dalam pelukanku.
Aku meregangkan pelukanku. "Omedettou!"
"Yeah. Arigatou, Aika. Seperti yang kamu bilang, aku nggak gagal."
"See? I told you!" Aku terkekeh senang tatkala instingku terbukti.
"Iya, iya." Yuusuke mengusap kepalaku dengan gemas. "Pasti juga berkat kamu ngajak jalan sehari sebelumnya. Jadi aku nggak nerous banget!"
"Bagus deh."
"Aika-san!" panggil Natsume-san, dari seberang meja.
"Ya, Onii-chan?" jawabku. Responku tampaknya membuat beberapa Asahina Bersaudara menoleh. Mereka sepertinya penasaran mengapa aku memanggil Natsume-san dengan panggilan Onii-chan.
"Kapan berangkat ke London?"
"Emm… besok."
"Iya, saya tahu besok. Tapi jam berapa?" tanya Natsume-san sambil meraih gelas minumannya.
"Eh? Kenapa Onii-chan pengen tahu? Pengen nganterin aku ke bandara?" godaku.
Natsume-san menegak minumannya sampai habis lalu mengangguk. "Tentu saja! Kenapa? Nggak boleh? Aku merasa kalau aku tak mengantarmu, aku akan sangat merindukanmu."
Aku terdiam. Sungguh kaget dengan kalimat yang dilontarkan Natsume-san. Aku tahu Natsume-san menyayangiku tapi aku tak tahu kalau rasa sayangnya sedalam ini.
Aku terkekeh senang. "Oke deh! Kalau begitu besok Onii-chan datang ke rumah jam 9 ya?"
Natsume-san tersenyum dengan lembut. "Oke."
"Eeeeh?" pekikan Wataru tiba-tiba memecah suasana antara aku dan Natsume-san. "Wataru juga pengen nganter Aikanee-chaaan!"
"Aku juga mau!" seru Tsubaki-san, tampak menggebu-gebu.
"Aku juga." Kali ini Hikaru-san yang berbicara.
Azusa-san juga mengangguk ketika pandanganku bertubrukan dengannya.
Aku tak bisa menahan luapan rasa bahagia atas kehangatan yang diberikan oleh mereka. Aku tertawa dengan sedikit suara serak gara-gara menahan air mata. "Hehe, oke kalau begitu! Besok kita rombongan ke Bandara! Kalian jangan pada telat ya!"
"Okeee!" koor para Asahina Bersaudara. Aku geleng-geleng kepala menyadari bahwa betapa beruntungnya aku.
"Ayo, makan dulu aja Aika!" sahut Ukyo-san sambil menaruh mangkok penuh berisi nasi.
Aku langsung nyengir kuda mendapati susunan makanan super menarik di hadapanku.
"Itadakimasu!"
.
.
.
Bandara siang ini, seperti yang kuduga penuh oleh penumpang ataupun yang mengantar dan menjemput. Aku melirik gerbang departure. Aku menghela nafas dan memindahkan tatapanku ke sampingku dimana Masa-san, Ukyo-san, Hikaru-san, Tsubaki-san, Azusa-san, Natsume-san, Yuusuke dan Wataru berdiri menangtarkan kepergianku.
"Kalian ini. Nggak punya kerjaan banget ya? Bukannya kalian orang sibuk? Sempet banget ngater aku," ucapku sambil cengengesan, yang bisa diartikan bahwa sebenarnya aku sangat senang dengan kehadiran mereka.
"Bukannya karena aku mau, tapi karena yang lain ngantar, makanya aku juga ngantar," seru Yuusuke sambil memanyunkan mulutnya.
"Iya deh. Maaf ya karena aku bakal pergi. Kamu nggak usah ngambek gitu deh."
"Aku nggak ngambek!"
"Iya iya. Kamu cuman sedih."
"Aku juga enggak se-" Yuusuke berhenti teriak dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Awas kalau kamu nggak balik ke Jepang."
Aku meraih tangan Yuusuke dan menggenggamnya hangat. "Iya. Tenang aja. Stay contact okay?"
Yuusuke mengangguk. "Oke."
Aku berpindah memandang Natsume-san.
"Ingat janji kamu kan?" tanya Natsume-san tiba-tiba.
"Hm? Janji?"
"Itu tuh, yang terbang-terbang…" jelas Natsume-san sedikit rancu.
Terbang? Oh, yang aku bakal datang kapan pun ketika Natsume-san butuh?
"Oke! Tenang aja! Aku bakal teleportasi ke sini kalau bisa."
Natsume-san tersenyum puas.
Setelahnya aku pamit ke semuanya dan aku pun melangkah menuju gerbang departure dan menunjukkan tiketku. Sebelum masuk, aku kembali menoleh ke belakang dan melambai ke Asahina Bersaudara.
Setelah puas melambai, aku pun masuk ke ruang check in. Aku bisa merasakan rasa kecewa yang amat besar dan itu dikarenakan Fuuto yang tidak mengantar kepergianku. Aku pun check in dan masuk ke ruang tunggu. Suara pemberitahuan bahwa pesawat yang menuju London telah dibuka, aku langsung menuju pesawat.
Namun, sesaat sebelum aku mematikan ponselku, sebuah email masuk.
From : afuuto7 ...
Content : I will miss you, Usagi.
Tes!
Tanpa bisa kubendung, air mataku meluruh dan menetes di kedua pipiku. Email itu menggetarkan hatiku. Email itu benar-benar membuat bibirku tak bisa untuk tidak tersenyum. Email itu… dari Fuuto.
Fuuto akan merindukanku?
Kenapa?
Ah, ini sungguh rumit.
Aku tahu Fuuto mencintai Ema-chan, tapi…
Bolehkah aku berharap?
.
.
.
Putih. Dimana-mana putih. Segala yang ada di hadapanku tertutupi oleh salju yang turun perlahan.
Aku berdiri kaku memandang dua batu nisan yang berada di hadapanku.
Tertulis Haruno Jun dan Haruno Leggard Sasha pada dua nisan yang hampir tertutupi salju itu.
Musim dingin kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya tapi hatiku panas.
Mommy. Daddy. Kenapa kalian meninggalkanku? Aku takut. Aku takut. Aku kesepian. Aku sendirian.
Mommy.
Daddy.
Kalian ingkar janji.
Kalian bilang kita akan selamat. Kita semua. Bukan hanya aku.
KALIAN PEMBOHONG!
KALIAN PEMBOHONG!
MOMMY! DADDY! JANGAN TINGGALKAN AKU!
Aku takut.
Aku kesepian.
Aku sendirian.
Mommy.
Daddy.
Aku… aku… bolehkah aku ikut bersama kalian?
.
7685 words.
July 3rd 2014.
.
To be continued…
END of First Phase
.
Author's Note, ehem, nama lainnya : Curhat Author
Demi apa ya, masa Fase Perkenalan dan Tumbuhnya Cinta si Aika nyampe 10 chapter?
Duh, saya emang nggak jago kalau langsung to the point sih. Suka banget bikin plot yang ngalor-ngidul dan macam genre Slice of Life. You know what I mean, right? Mudahan readers masih setia membaca cerita saya ini.
And thanks a lot for purpleYumi, , DoDoLJeNaNG, MysteriousGirl, and BlackLapiz, review kalian bikin saya tetap semangat untuk melanjutkan.
purpleYumi, hope you satisfied with this updated! Sorry for the long waiting.
Wah, , adegan apa nih? Kalau adegan yang ehem-ehem ada kok, tapi nggak nyampe rate M. Will stay in rate T, forever. Cuz, I'm not an expert, yet. Kita lihat saja sampai mana saya bisa membawa fic ini. XP Oh, I also like Lucy, she is cool.
Wow, BlackLapiz, sehari sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan scene Aika yang meminta Natsume untuk jadi Onii-chan, dan saya terkejut ketika membaca review-mu. Saya juga entah kenapa kalau menulis scene antara Aika dan Natsume, rasanya nyaman banget. Ngalir. XD
Well, DoDoLJeNaNG. Disini saya memang membuat Fuuto rada aneh. Kedepannya akan jelas kok kenapa dia aneh gini, mungkin. ;p
And, thanks for your appreciation, MysteriousGirl. Sorry for the late update. I'm such an unfortune girl for having such a busy life.
As for your information, curhat sedikit boleh dong, this week until next week, I have UAS. So.. this is kinda a lil bit crazy for updating in such a situation. But, I can't stop myself for doing so. XP
So, stay tune guys!
See you later! #bow
