.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

I just own the story and few OCs.

I mean, many OCs. #teehee

Happy reading! XD

.

Chapter 12

Cover

Hari ini aku ditinggal kerja lagi oleh Natsume-san. Aku menghela nafas panjang. Rasanya, aku seperti dikacangin. Setelah aku protes, Natsume-san janji untuk mengajakku jalan. Dan, yang lebih menyenangkannya lagi, Natsume-san mengatakan padaku bahwa hanya dengan keberadaanku di dekatnya, itu sudah membuatnya lebih bahagia.

Aiiih. Onii-chan manis banget.

Sejak Natsume-san tak bisa untuk diajak hangout, aku pun mendatangi beberapa teman SMA-ku dan beberapa kenalan beberapa hari ini. Dan salah satunya adalah Sagara Mayumi, kakak pantiku dulu.

"Konnichiwa, Mayunee!" teriakku ketika memasuki pintu toko yang sekarang lebih rapi daripada tiga tahun lalu.

"Aika!" seru seorang wanita dari meja kasir.

Aku mendapati seorang wanita yang tampak jauh lebih dewasa dari terakhir kali aku lihat. Wanita itu jauh terlihat lebih dewasa dan matang. Tidak seperti dulu, tampak sok dewasa dan keliatan matre.

"Mayunee?" aku mengedipkan mata beberapa kali. "…Wow," desisku.

Mayunee beranjak dari kursinya dan menghampiriku, wajahnya tampak berseri, sangat. Seperti, wanita yang hidupnya penuh dengan cinta.

Aku tersenyum menggoda. "Wah, Mayunee makin cantik aja. Pasti gara-gara…"

Mayunee cemberut. "Biasa aja kok."

"Ck, ketauan banget kali. Tuh muka berseri-seri banget tau! Nggak kayak dulu!"

Pipi Mayunee bersemu merah dan itu membuat mulutku langsung menganga lebar. Helow, jarang pake banget ngeliat Mayunee bersemu gini. Langka!

Oke, sebagai pemberitahuan, Mayunee sudah dalam tahap menuju pernikahan dengan Masaomi-san! Yeeeey!

"Mayunee, aku benar-benar harus berterima kasih nih sama Masaomi-san karena sudah bisa membuatmu seperti kucing mau kawin," ucapku sambil nyengir lebar.

Wajah Mayunee makin memerah. "Kucing mau kawin? Hush! Memangnya aku hewan?"

Aku celangak-celinguk. "Ayumi-chan mana?"

"Masih sekolah."

"Oh iya, Ayumi-chan sudah kelas satu ya? Wah, waktu benar-benar sudah berjalan begitu jauh. Nggak berasa."

Mayunee berjalan ke sudut tokonya dan mengambil sebuah kursi. "Duduklah. Mau minum?"

"Es krim aja deh," jawabku sambil menerima kursi dari Mayunee.

"Oke. Tunggu bentar."

Mayunee balik dengan membawa es krim. Aku langsung menyantapnya hingga tandas.

"Kamu sendiri gimana? Udah pacaran berapa kali sejak pergi dari Jepang?" tanya Mayunee sambil duduk kembali ke kursinya.

"Nggak sekali pun," jawabku sekenanya.

Kening Mayunee berkerut. "Beneran?"

"Iyalah. Emang aku se-playgirl apa sih?"

"Aika yang aku kenal itu nggak pernah jomblo!"

"Hei! Kejam banget. Aku nggak segila itu ah."

"Aku serius. Aaah! Jangan-jangan… kamu serius sama idola itu ya?"

Aku mengangguk ragu-ragu.

"Itu kan sudah lama banget!"

"Iya, emang udah lama. Kenapa sih memangnya?"

Mayunee tampak berpikir keras. "Kalau tak salah, idola yang dulunya kamu benci itu yang ternyata kamu suka adalah cinta pertamamu kan?"

Aku terkekeh ketika mengingat kembali siapa First Love-ku. "Kalau dipikir-pikir… iya juga ya."

"Namanya itu.. Furo? Tufo?"

Aku menggeram kesal. "Iiih! Mayunee. Lupa mulu. Fuuto! Asakura Fuuto!"

"Ah, ya itu itu."

"Mayunee sendiri kayaknya bahagia-bahagia aja ya bareng Masaomi-san?"

"Siapa bilang?" ujar Mayunee dengan wajah tertekuk.

"Memangnya apa yang terjadi?"

"Kamu nggak tahu aja kalau aku harus berhadapan dengan banyak orang. Ya itu dari bocah ingusan, anak-anak nakal, cewek-cewek SMA yang genit, wanita-wanita yang ngincar Masaomi-san juga nenek-nenek cerewet pecinta Masaomi-san. Belum lagi, Wataru-kun yang nempel banget sama Masaomi-san."

Aku mengedipkan mataku beberapa kali, tak menyangka begitu banyak yang harus dihadapi oleh Mayunee. Jadi, aku hanya bisa bilang,"…wah."

"Kamu jangan cuma bilang 'wah' dong. Ini serius!"

"Hahaha. Iya iya. Aku tahu kok."

Eh? Tunggu dulu.

Aku melirik Mayunee lalu menatap wanita itu tajam-tajam.

"Apa?" tanya Mayunee, risih.

"Sejak kapan Mayunee jadi cerewet gini?" tanyaku, heran. "Mayunee yang kukenal kan judes dan irit-kata."

Mayunee mendengus. "Aku nggak tahu. Memangnya aku berubah banget ya?"

Aku terdiam untuk beberapa saat lalu tersenyum geli.

"Wah, aku nggak tahu kalau efek Masaomi-san bisa sekuat ini."

Pipi Mayunee dengan seketika memerah.

Aih, wanita jatuh cinta itu memang manis ya?

Jadi ingat Fuuto.

Idola-tampan satu itu sedang apa ya di Amerika?

.

.

.

Sore ini, aku mengunjungi taman yang tak jauh dari apertemen Natsume-san. Taman ini baru didirikan beberapa waktu lalu dan terkenal dengan danau dan hewan-hewan yang tinggal di taman yang cukup besar ini.

Aku berjalan di jalan setapak pinggir danau, menatap perahu bebek yang berkeliaran di permukaan danau. Aku jadi ingin mengajak seseorang untuk menaiki perahu itu. Ah, aku pengen banget. Coba saja ada yang kukenal di dekat sini.

"Kyaaa! Lihat kesini dong, Iori-san!"

"Iori-san! Keren deh!"

"Iori-san!"

"Iori!"

Teriakan-teriakan itu menarik perhatianku.

Iori-san ada disini?

Aku pun mendatangi kerumunan yang berada di dekat danau itu dan benar saja, aku dapat menemukan Iori-san sedang berbicara dengan beberapa orang.

"Maaf. Ini sedang ada apa ya?" tanyaku pada salah satu wanita yang posisisnya paling dekat denganku.

Wanita itu menoleh ke arahku, wajahnya tampak kesal. "Ini lagi pemotretan untuk iklan. Jangan ganggu!"

Aku mundur selangkah, sedikit terkejut dengan respon sinis itu. Beberapa wanita yang berada di dekatku juga menatapku dengan tatapan tak suka setelah melihatku. Kenapa sih dengan wanita-wanita ini? Aneh.

Aku pun menghela nafas panjang. Iori-san sedang kerja ternyata. Aku tak bisa mengajaknya untuk naik perahu bebek dong? Uuuh. Sayang sekali.

Aku mencari sisi dimana aku bisa menonton sesi pemotretan tanpa harus menganggu orang lain atau terhalang siapa pun. Aku tersenyum ketika melihat Iori sedang berpose. Wajah tampan Iori-san tampak bersinar dan sangat menarik.

Beberapa kali, sempat ada beberapa wanita yang merangsek melewati batas yang diharuskan dan itu membuat beberapa staf kerepotan. Aku geleng-geleng kepala. Wanita-wanita itu merepotkan saja.

Aku jadi ingat saat-saat aku mengagumi Fuuto, sebelum membencinya dan menyadari perasaanku yang sebenarnya. Aku benar-benar tergila-gila dengan Fuuto sehingga mendatangi setiap konser Fuuto.

Aku menghela nafas panjang. Sedikit malu dengan tingkahku dulu. Aku sedikit mengerti perasaan wanita-wanita yang menyebalkan tadi, sedikit.

"Aika-chan?" seru seseorang, menyadarkanku dari lamunan.

Aku mendongak dan mendapati Iori-san sedang melambai padaku dengan senyuman yang begitu menawan. Kedua mata Iori-san menyipit membentuk bulan sabit dan senyumannya begitu menggoda. Cahaya matahari bersinar dengan silaunya, membuat Iori-san begitu berkilau.

Aku sempat terpaku dengan pemandangan aduhai yang ada dihadapanku.

"Aika-chan!" seru Iori-san, lagi. Kini, pemuda itu menghampiriku dengan sedikit berlari.

"Hei!" sapanya.

"Hai," ucapku, sedikit kelu. Tentu saja aku kaget. Karena, terakhir yang kusadari dari Iori-san adalah auranya yang sedikit membuatku merinding, tapi sekarang berbeda. Pemuda yang ada di hadapanku kini penuh dengan aura percaya diri. Meski aku sempat merasakan denyut aura gelap itu lagi tapi aura itu tipis.

"Aku dengar, kamu beberapa hari yang lalu ke Mansion ya?"

Aku mengangguk. "Iori-san kerja sih. Jadi, nggak ketemu."

Iori-san tersenyum manis. "Aika-chan makin imut saja. Ah, Aika-chan kok makin pendek?"

Ugh.

Lagi?

Serius ini?

Aku menggeram frustasi. "Aku nggak tambah pendek. Aku bahkan tambah tinggi!"

"Oh ya? Berapa senti?"

Aku memonyongakan mulutku. "Emmm, 0.8 sentimeter."

Dan Iori-san pun tertawa terbahak-bahak.

Ah, sudah kuduga.

Kayaknya aku punya bakat buat jadi pelawak untuk keluarga Asahina. Ugh. Menyedihkan. Apalagi yang berhubungan dengan tinggi badanku.

"Hahaha, gomen." Iori-san menutup mulutnya, berusaha meredakan tawanya.

"Nggak apa. Aku sudah nggak kaget lagi. Kalian benar-benar menyebalkan."

"Gomennasai. Tapi Aika-chan masih semenarik dulu ya. Bagus deh." Iori-san mengusap-usap kepalaku dengan lembut.

Aku jadi menyadari satu hal lagi. Kayaknya, Asahina Bersaudara fans berat rambut atau kepalaku deh. Suka banget ngelus-ngelus atau ngacak-acak rambutku. Ceh.

"Asahina! Siapa cewek manis ini?" tanya seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di dekatku dan Iori-san. Wajah pria itu tampak berbinar ketika menatapku. Kedua matanya menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala. Tunggu dulu, pria ini…

Ugh. Rasanya, firasatku sedikit nggak enak.

"Yamashita-san! Ini Haruno Aika-chan. Teman saya," jawab Iori-san.

"Halo," sapaku sambil sedikit membungkukkan badan.

"Halo, manis," sapa pria itu, membuat bulu kudukku berdiri. "AAAH! Kamu yang manager Fuuto waktu itu kan?"

Aku mengangguk.

"Syukurlah saya bisa bertemu denganmu lagi! Sejak hari itu saya mencarimu loh!" seru pria itu sambil menatapku dengan binaran mata yang tak biasa.

"Anda membuatku jengah," ucapku sambil memonyongkan mulutku.

Pria itu membelalakkan matanya, dan aku yakin dia akan marah tapi pria itu malah tertawa terbahak-bahak. Aku mengerutkan keningku. Biasanya orang sedikit kesal dengan mulut emberku tapi…

"Kamu jujur juga! Menarik! Saya suka! Hahaha!" seru pria itu yang aslinya bernama Yamashita Hyuuga, sutradara iklan waktu aku jadi manager pengganti untuk Fuuto.

"Aika-chan memang menarik," tambah Iori-san.

"Iori-san nggak perlu nambahin!" seruku, kesal.

"Timing kamu pas sekali Aika-chan!" seru Yamashita-san, tampak bahagia. "Kami sedang kesusahan."

"Apa yang terjadi?"

"Perempuan yang jadi pasangan Iori-kun kabur, karena sakit hati ditolak Iori-kun," jelas Yamashita-san, misuh-misuh.

"Gomennasai. Seharusnya saya menolaknya sesudah pemotretan selesai," ucap Iori-san. Wajahnya terlihat mendung juga kesal. "Perempuan itu nggak profesional."

"Yah, mau gimana lagi. Jarang ada perempuan yang bisa tahan dengan godaanmu kan Iori-kun." Yamashita-san menoleh padaku dengan wajah berbinar. "Oleh karena itu, Aika-chan, mau kah kamu jadi model dengan Iori-kun? Onegai! Kami memang sedang butuh model perempuan yang imut."

"Ah, saya setuju," ucap Iori-san.

"Memangnya bisa seenak jidat mengganti model begitu saja?" tanyaku, heran. "Dan lagi, imut? Aku udah 21 tahun tau!"

"Saya yang in-charge. Kalau wajah mendukung, umur nggak masalah kok. Nggak masalah!" pinta Yamashita-san.

Aku menatap Iori-san dan Yamashita-san bergantian. Wajah kedua pria itu tampak sangat menyedihkan. Tapi, entah kenapa aku teringat kembali dengan senyuman Iori-san tadi dan entah kenapa aku pengen melihat senyuman itu lagi. Dan tanpa pikir panjang lagi demi melihat senyuman manis itu, aku pun…

"Oke. Aku mau," jawabku.

"Bagus!" seru Yamashita-san, sambil berhula-hura.

"Arigatou, Aika-chan. Kalau sama Aika-chan, aku yakin semuanya bakal baik-baik saja," ujar Iori-san, kembali mengelus-elus kepalaku. Senyumannya terkembang dengan indahnya. Iori-san tampak seperti pangeran dari negeri dongeng.

Ah, kerennya.

Aku tersenyum. "Sama-sama. Tapi ada syaratnya loh."

"Syarat apa?" tanya Yamashita-san.

"Habis pemotretan, Iori-san temenin aku naik perahu bebek ya?" tanyaku, penuh harap.

Iori-san terkekeh lalu mencolek hidungku. "Oke."

"Asik!"

Dan setelahnya, aku langsung diseret menuju van dan dipermak habis-habisan. Ketika aku turun dari van, Iori-san langsung tersenyum seperti yang kuharapkan. Senyuman yang indah. Ah, sepertinya aku sudah jadi fans-nya senyuman Iori-san deh.

"Aika-chan manis sekali," ujar Iori-san.

"Mataku memang tak pernah salah!" seru Yamashita-san. "Ayo, kita mulai!"

Iori-san meraih jari-jemari tanganku lalu membimbingku ke set. Tangan Iori-san sedikit dingin. Hm, apa karena cuaca?

Aku melihat ke sekelilingku dan terkejut ketika mendapati tatapan tajam dari para wanita yang tadi menonton Iori-san. Aku menarik nafas dalam-dalam, berharap tatapan itu tak mengganggu pikiranku. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah remasan di bahuku dan aku menyadari Iori-san sedang menatapku. Pria dengan rambut abu-abu itu tersenyum manis.

"Tenang saja. Ikuti saja lead aku. Oke?"

Wajahku memanas. Mataku memanas. Ah, pria ini sudah berubah. Pria ini sudah tak lagi berada di dunia kegelapan itu lagi. Pasti berkat Ema-chan. Kurasa, kedatangan Ema-chan tak hanya membawa dilema sakit hati tapi juga pembaharuan. Hihi, pembaharuan? Kayak negara aja.

Aku meraih genggaman tangan Iori-san yang ada di bahuku. Aku meremas lembut tangan Iori-san. "Oke."

.

.

.

Angin malam berhembus dari jendela yang terbuka di apertemen Natsume-san. aku memejamkan mata, berusaha menyesapi udara dingin yang berhembus.

"Aika-san!" sebuah suara mengusik ketenanganku.

Aku membuka mataku lalu menoleh. Aku mendapati Natsume-san sedang memegang sebuah pamflet. "Ya?"

"Apa tempat ini yang ingin Aika-san kunjungi?" tanya Natsume-san, mengambil posisis duduk di sampingku.

Oh iya. Aku tadi bilang kalau aku ingin Natsume-san menemaniku ke tempat hiburan yang ada di pamflet.

Aku melirik pamflet itu dan mendapati gambar rumah hantu di kertas itu. Aku mengangguk. "Iya. Onii-chan mau kan nemenin aku?"

Natsume-san menggaruk-garuk kepalanya. "Yakin? Bukannya Aika-san takut hantu?"

"Aku cuma takut hantu yang ada di film aja! Kalau rumah hantu kan bikinan manusia! Beda tau!" ucapku, yakin.

"Kalau kuburan?"

"Ah…" aku menggigit bibir bawahku, lalu terkekeh malu. "Emmm, itu sih seram."

Sebuah kekehan lepas dari mulut Natsume-san. "Oh, begitu. Besok malam saya temenin deh."

"Wah, makasih Onii-chan!"

"Oh, lusa jadi bakal mulai tinggal di Sunrise Recidence?" tanya Natsume-san sambil menyenderkan badannya di punggung sofa.

"Iya. Onii-chan juga nginep disana aja!"

Natsume-san menggumam bingung. "Gimana ya…"

"Katanya Ema-chan dan Subaru-san masih lama pulangnya loh!" tambahku.

Kedua mata Natsume-san langsung melirikku, tatapan kedua matanya sedikit berubah. "Oh, gitu."

Aku mengguncang lengan Natsume-san, gemas. "Ayolah! Disini sepi tahu! Dan aku pengen Onii-chan nginep di mansion! Ayolah! Onegai-!" rengekku. "Dan lagi, sampai kapan Onii-chan mau melarikan diri dari Ema-chan?"

Badan Natsume-san terguncang dengan hebatnya tapi wajahnya masih datar-datar saja. Ugh, bikin kesal saja. Aku menghentikan guncanganku. Aku beranjak dari sofa lalu menghampiri jendela yang terbuka, mencari udara sejuk. Pemandangan kota terhampar di hadapanku, begitu indah dan penuh dengan kelap-kelip yang menentramkan.

Tiba-tiba saja, sepasang tangan merengkuh badanku dari belakang. Aku bisa merasakan belakang kepalaku bersentuhan dengan dada bidang yang hangat. Aku langsung menengadahkan kepalaku dan mendapati wajah Natsume-san dan tatapan sendu di kedua matanya. Sebuah aliran kehangatan mengalir dari tubuh Natsume-san ke tubuhku, dan aku pun menyadari keraguan dalam diri pria yang sedang patah hati ini.

Dengan perlahan, aku menurunkan pandanganku, kembali memandang pemandangan kota. Untuk sesaat, hanya keheningan yang tercipta. Natsume-san hanya diam sambil memelukku erat dari belakang, dan aku hanya diam sambil dengan tenang menyelami kehangatan yang berasal dari tubuh Natsume-san.

"Kalau saya…" suara Natsume-san terdengar.

"Ya?"

"Kalau saya nginap di mansion, dan suatu hari Ema kembali, Aika-san harus bersama saya selama yang saya butuhkan. Bisa?"

Aku menghela nafas dengan perlahan. "Tentu saja. Untuk apa aku kembali kalau bukan untuk Onii-chan?"

Badan Natsume-san sedikit merileks. "Saya harap rasa sakit ini cepat padam."

Aku tersenyum. "Aku juga berharap, Onii-chan dapat menemukan bintang yang baru!"

Pelukan Natsume-san menguat, membuatku sedikit sesak.

"Jangan asal ngomong deh, Aika-chan!" cibir Natsume-san sambil terus mengeratkan pelukannya.

"A-Aduduh, Onii-chan! Itta!" seruku, kesakitan. Tapi, dadaku sedikit berbunga menyadari panggilan yang digunakan Natsume-san.

"Pikirin dulu tuh gimana dapetin Fuuto!" goda Natsume-san, kali ini pria itu akhirnya mengakhiri penderitaanku.

Aku mendengus kesal. "Iya iya. Aku nggak lupa kok. Tapi pemuda satu itu lagi di Amerika kan? Sedikit repot tau! Apalagi aku sedang mengejar dua gelar sekaligus."

Wajah Natsume-san cengo. "Eh? Dua gelar?"

"Iya. Business Management and Human Psychology."

Kedua mata Natsume-san membulat. "Ha?"

"Aku mampu kok dan itu nggak berat, cuma aku jadi sibuk aja. Tenang saja. Aku nggak bakal stress atau gila kok."

"Aika-san memang hebat. Aku sedikit meremehkan kemampuanmu nih."

"Hei, apa maksudnya itu?"

"Aika-san tutup jendelanya dan tidur ya? Udah malam. Nanti masuk angin."

Aku menggeram. "Don't change the topic, Onii-chan!"

Natsume-san hanya tertawa lalu menutup jendela dan menarikku ke ruang tidur.

Aaah. Padahal aku pengen dipeluk lebih lama lagi.

Sayang sekali.

.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, cuaca panas membara membuatku gerah setengah mati. Aku melirik baju kaosku yang basah oleh keringat. Euh, aku ingin cepat-cepat mandi.

Ting! –pintu lift terbuka.

Aku melangkahkan kakiku di lantai 5 mansion lalu celangak-celinguk, mencari siapa pun yang kukenal. Aku menggeret koperku melewati lorong menuju beranda yang berhubungan dengan ruang keluarga. Aku meletakkan koperku di dekat pagar lalu melangkah menuruni tangga. Aku menoleh ke kanan, ke ruang dapur, dan mendapati Hikaru-san yang sedang tertidur dengan wajah bersender di meja makan. Sebuah cangkir beruap tegeletak tak jauh dari kepala Hikaru-san. Hari ini, pria itu mengenakan setelan jas berwana hitam. Daripada cantik, pria ini terlihat tampan.

Dengan perlahan aku berjingkat mendekati Hikaru-san. Setelah cukup dekat, aku meneliti wajah tertidur Hikaru-san. Bulu mata lentik, alis panjang, bibir tipis yang lebar, wajah lonjong yang cantik serta rambut panjang coklat yang bergelombang dengan indahnya. Tanganku yang gatal meraih beberapa helai rambut Hikaru-san. Wah, nggak seperti rambut pria pada umumnya, rambut Hikaru-san lembut.

"Aika-chan suka rambutku?" sebuah suara mengagetkanku.

Aku menoleh dan mendapati kedua mata Hikaru-san yang sudah terbuka sedikit. Bibirnya melengkung membentuk cengiran yang membuatku gemas.

"Iya. Rambutnya bagus," ucapku sambil tetap membelai rambut Hikaru-san.

"Aika-chan makin manis ya," ucap Hikaru-san sambil menegakkan punggungnya. "Long time no see, Aika-chan."

"Hikaru-san masih cantik seperti dulu."

"Oh, itu harus."

"Yang lainnya dimana?" tanyaku sambil meneliti sekelilingku.

"Masih belum pulang. Aku saja baru sampai tadi. Mau kopi?"

Aku menggeleng. "Aku nggak minum kopi. Ada teh? Atau susu?"

Hikaru-san terkekeh. "Ada." Hikaru-san beranjak ke dapur.

Aku mengikuti Hikaru-san sambil meneliti barang-barang yang ada di dapur. Aku sempat terkejut mendapati rice-cooker besar. Wah, aku jadi teringat masa-masa aku tinggal di panti asuhan.

"Aika-chan berhenti menulis ya?" tanya Hikaru-san sambil mengambil sebuah cangkir.

"Iya. Aku ingin fokus kuliah dulu." Aku berdiri di samping Hikaru-san, menatap cangkir yang sedang diisi dengan seduhan teh. "Oh ya. Aku tahu loh pen-name Hikaru-san."

"Oh. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hmm, aku nanya ke editor-ku. Dia awalnya nggak mau kasih tau, tapi aku paksa."

"Namaku sih memang tak begitu dirahasiakan, tidak seperti UTA-sensei," goda Hikaru-san sambil menekankan nama penaku. "Aika-chan tahu nggak ketika dipublikasikan kalau UTA-sensei hiatus, banyak yang kecewa?"

Aku garuk-garuk kepala. "Tahu. Tapi, aku sudah memutuskan. Lagipula, aku bakal kembali kok. Omong-omong, Hikaru-san tahu Yuusuke kemana? Semingguan ini aku berusaha menghubungi dia, tapi nggak pernah dibales atau ditanggapi. Dipikir-pikir juga, beberapa bulan terakhir, aku sudah jarang berkomunikasi dengan Yuusuke."

Hikaru-san memijat dagunya. "Wah, nggak tahu. Maaf ya. Tapi, kamu yakin kamu nggak ngapa-ngapain Yuusuke?"

"Ha?" aku mengerutkan dahiku. "Aku suka sih menggoda Yuusuke, habisnya dia tsundere. Tapi, aku yakin dia nggak marah kok."

"Kalau begitu tanya saja nanti kalau ketemu."

Aku memonyongkan mulutku. "Iya, kalau ketemu. Kalau enggak…"

"Bakal ketemu kok. Kenapa Aika-chan nggak datangi saja kampus Yuusuke?"

"Malas ah. Panas. Aku juga nggak tahu jadwal Yuusuke," gerutuku.

Hikaru-san mengacak-acak rambutku. "Bilang aja, Aika-chan maunya Yuusuke yang datang ke Aika-chan. Ya kan?"

Aku memalingkan wajahku, tak ingin menjawab.

"Adeuh. Manis banget sih Aika-chan. Tapi nanti kalau Yuusuke nggak datang-datang, jangan ngamuk ya?"

"Nggak bakal! Buat apa? Huh!"

"Ini tehnya. Diminum, biar lebih tenang."

Aku memonyongkan mulutku, sedikit sebal dengan sindiran Hikaru-san. "Hikaru-san diam deh."

Aku menyesap tehku sambil melirik Hikaru-san yang balas nyengir ke arahku. Ah, cengiran pria satu ini cukup menyebalkan. Huh.

.

.

.

Masaomi-san datang pada sore harinya dan mengantarkanku ke kamar kosong di lantai dua. Ketika masuk ke kamar baruku, aku tersenyum mendapati apa yang biasanya kubutuhkan sudah ada di dalam kamar itu. Kamar tidur, kamar mandi juga dapur. Ada kulkas kecil di dapur dan televisi di kamar tidur. Tidak lupa air conditioner. Aku langsung menyalakan air conditioner dengan suhu paling rendah.

Aku berjalan menuju balkon lalu merentangkan kedua tanganku sambil menghirup udara panas. Aku mengernyit dengan teriknya matahari dan lembabnya udara. Aku melihat sekelilingku namun pandanganku langsung terhenti di balkon kamar sebelah.

Seorang gadis dengan rambut pirang, wajah cantik yang beraura kalem sedang melukis di sebuah kanvas. Matanya menatap tajam kanvasnya sambil jari-jemarinya meluncur di muka kanvas. Teriknya matahari ataupun panasnya udara tampaknya tak mengganggu gadis itu.

Aku membuka mulutku, ingin memanggil gadis itu tapi tak jadi. Aku yakin gadis itu takkan mendengar teriakanku. Karena, gadis itu terlihat sangat konsentrasi hanya pada kanvasnya saja.

Aku tersenyum sambil mengingatkan diriku untuk berkenalan dengan gadis itu nanti.

.

.

.

Malam ini aku diajak main kartu oleh Wataru. Masaomi-san, Kaname-san juga Tsubaki-san beserta Azusa-san juga ikut. Kami melingkar di ruang televisi dengan makanan ringan di letak di tengah-tengah lingkaran. Beberapa kali Tsubaki-san yang kalah, beberapa kali aku yang kalah. Ugh. Aku lagi nggak beruntung. Tiba-tiba, Iori-san muncul dengan menenteng sebuah majalah.

"Iori-san!" sapaku. "Yang kemarin makasih ya! Sudah mau nemenin naik perahu bebek!"

Iori-san memamerkan senyuman yang akhir-akhir ini menjadi pemandangan favoritku. "Sama-sama. Ini…" Iori-san menyodorkan majalah yang dibawanya tadi padaku. "Foto kita sudah cetak."

"Wah, cepat ya." Aku mengambil majalah itu lalu melihat cover majalah khusus remaja yang cukup terkenal. Aku melotot ketika melihat foto aku dan Iori-san.

Beberapa Asahina mengerubungiku, penasaran dengan majalah yang kupegang.

Salah satu tanganku merangkul pinggang Iori-san dengan tangan yang lain menahan hembusan angin pada rokku. Badanku sepenuhnya menyender pada tubuh Iori-san. Iori-san sendiri merangkulkan tangannya pada pundakku dan tangannya yang lain memegang sebuah tas peempuan yang ceritanya merupakan tasku. Kami berdua memasang wajah tertawa sambil mata masing-masing menatap satu sama lain. Intinya, di foto cover itu, kami terlihat sangat mesra. Aku terkikik ketika menyadari itu.

"Iori-san! Kita disini terlihat serasi ya!"

"Yamashita-san juga bilang begitu. Kamu suka?" tanya Iori-san sambil duduk di dekatku.

"Uwah! Apa-apaan ini?" seru Tsubaki-san ketik melihat cover majalah yang kupegang. "Ini kamu Aika-chan?"

"Iori! Kok Aika-chan jadi model bareng kamu?" tanya Azusa-san penasaran.

"Panjang ceritanya," ucap Iori-san, tampak malas bercerita.

"Nggak bisa begitu! Cerita! Pokoknya cerita!" seru Tsubaki-san sambil menyambit leher Iori-san dengan kedua tangannya.

"Aw! Tsubaki-niisan! Sakit!" rintih Iori-san, sambil meronta.

"Cerita dulu!" paksa Tsubaki-san.

"Wah, kamu manis banget Aika-chan," puji Kaname-san sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku memonyongkan mulutku. "Ma-ka-sih."

"Kalian keliatan kayak orang pacaran," komen Masaomi-san.

"Uwah! Aika-neechan manis banget!" puji Wataru dengan mata berkilau.

"Aika-chan. Kamu diundang makan malam sama Yamashita-san," ucap Iori-san setelah akhirnya dilepas oleh Tsubaki-san. "Aku juga diundang."

"Oh, kapan?"

"Besok. Katanya cover kali ini banyak yang suka. Editor majalah pun suka banget katanya. Bahkan, versi iklan yang hanya ada akunya saja mau dibuat versi baru yang ada kamunya juga."

"Eeeh?" aku menghempaskan badanku ke Iori-san. "Males ah."

"Coba aja. Mungkin aja ada yang menarik nanti," saran Azusa-san.

"Menarik?" Wah, perlu dicoba nih. "Iori-san, nanti kalau ada informasi lebih lanjutnya, kasih tahu aku ya?"

"Iya," jawab Iori-san sambil mengelus kepalaku. Aku kembali teringat kebiasaan ini. Hmm, hari ini, sudah berapa kali aku diusap kepalanya sama Asahina bersaudara?

"Hei, kalian nggak pacaran kan?" tanya Tsubaki-san tanpa memalingkan wajahnya dari cover majalah.

"Kalau iya, Tsubaki-san mau apa emangnya?" tanyaku, penasaran.

Tsubaki-san tak langsung menjawab. Wajah pria itu menegang. "Pacaran beneran?"

"Ya enggaklah," lanjutku. "Jangan tegang gitu dong. Aku sama Iori-san cuma temen. Ya kan, Iori-san?"

Iori-san mengangguk sambil tersenyum.

Deg.

Eh? Kok senyuman Iori-san sedikit berbeda?

.

.

.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Kepalaku sedikit pusing dan pandanganku sedikit berkunang-kunang. Sepertinya aku minum bir terlalu banyak tadi. Yamashita-san ternyata hebat juga dalam merayuku untuk minum lebih banyak. Aku sedikit meremehkannya ternyata.

"Aika-chan kepalanya pusing ya?" tanya Iori-san yang duduk di sampingku. Pria itu juga naik taksi yang sama denganku karena tujuan kami memang sama. Yamashita-san sempat curiga tadi ketika melihatku dan Iori-san yang begitu dekat.

"Iya. Sedikit," jawabku sambil menyenderkan kepaalku ke bahu Iori-san. "Pinjam bahunya bentar ya?"

"Iya. Lama-lama juga nggak apa kok." Iori-san membelai kepalaku lembut.

Ah, bahu Iori-san lumayan nyaman. Aku jadi ngantuk. Pandanganku memburam, tarikan ke alam tidur semakin menguat, namun…

"Ini sudah sampai," seru supir taksi, membuatku kembali tersadar penuh.

Iori-san memberikan beberapa lembar uang lalu membuka pintu. Aku menatap Iori-san sambil berusaha menarik badanku yang ebrasa bertambah beberapa puluh kilo. Aish, kenapa aku jadi susah gerak gini? Aku semabuk apa sih?

"Aika-chan naik ke punggungku aja. Biar kugendong. Daripada lama," tawar Iori-san sambil menyodorkan punggungnya.

Aku yang sudah malas berpikir dan memang susah untuk berpikir dengan jernih meraih leher Iori-san dan mengalungkan kedua lenganku. Iori-san menggendongku di punggungnya dengan gampang. Fyuh, syukurlah aku nggak berat. Iori-san menutup pintutaksi lalu berjalan menuju mansion dengan aku yang ada di punggungnya.

"Kita ke dapur dulu ya? Kamu minum air putih dulu. Biar efek birnya sedikit berkurang," ucap Iori-san.

Aku mendehem pelan. "Terserah."

Angin berhembus dengan sepoi-sepoi. Aku mengerutkan tubuhku karena dinginnya udara malam. Kami pun masuk ke lift dan aku menekan tombol lima karena kedua tangan iori-san menopang badanku. Kami pun sampai di lantai 5 lalu turun ke dapur. Tapi, ketika melewati ruang tengah, samar-samar aku melihat sosok yang sepertinya kukenal.

"Aika!" seru sosok itu, membuatku membelalakkan mataku lebar-lebar.

"Yuusuke?" gumamku kaget luar biasa. Aku mengertakan pelukanku ke Iori-san. Takut badanku jatuh dari gendongannya.

Tak jauh dariku dan Iori-san, Yuusuke beranjak dari sofa lalu mendekati kami. Wajahnya terlihat marah. Ia dengan cepat menyodorkan sebuah majalah.

"Ini apa-apaan?" serunya, terlihat gusar.

Aku mengerutkan keningku. "Apa-apaan gimana? Itu majalah remaja kan?"

"Jangan bodoh! Cover-nya! Kenapa kamu bisa jadi model cover dan lagi kenapa bisa bareng Iori-nii?" serinya lagi.

Aku menggeram kesal. "Yuusuke! Kenapa kamu marah? Lagipula, kamu nggak berhak komen kayak gitu!" Aku melepaskan salah satu tanganku dari leher Iori-san lalu menunjuk Yuusuke dengan kesal. "Kamu sendiri kenapa nggak membalas email-ku, hah?! Aku ada salah apa? Jelas banget kalau kamu akhir-akhir ini meghindariku!"

Wajah Yuusuke memucat. Mulutnya tergagap. Kedua matanya meleng kesana-sini. "I… Itu…"

Aku menggertakkan gigiku kesal. Apa-apaan sih si Yuusuke? Datang tiba-tiba setelah menghilang lama lalu marah dengan seenak jidat. Aku nggak suka kalau orang yang kusayang tiba-tiba menghindar nggak jelas. Kayak aku hama aja. Memangnya aku-

"Usagi!" sebuah suara menghentikan alur pikirku.

Badanku menegang ketika menyadari suara siapa itu. Panggilan spesial itu.

Dengan perlahan aku menolehkan kepalaku dan seperti dugaanku, orang itu berdiri di dasar tangga.

"Fuuto!" pekikku. Mulutku melengkung tanpa bisa kutahan. "I-Iori-san. Tolong turunkan aku," pintaku.

Iori-san menurunkanku dari gendongannya. Aku dengan gontai melangkah menuju Fuuto. Entah karena apa, mungkin karena rasa senang yang membludak, kakiku melemas dan tanpa bisa kutahan, badanku limbung ke depan. "A-"

Grep! –Fuuto menangkap tubuhku.

Aku mendongakkan wajahku dan terkejut mendapati jarak wajahku dengan wajahnya begitu dekat. Aku bisa mencium aroma nafasnya yang harum dan tatapan matanya yang terpusat padaku.

"Long time no see, Fuuto," gumamku, sambil membenarkan posisi tubuhku.

Fuuto tak membalas sapaanku, ia malah menyodorkan sebuah majalah. Ah, itu majalah yang ada cover aku dan Iori-san.

"Wah, Fuuto juga udah liat ya? Gimana? Cover-nya bagus kan? Aku cantik kan disitu?" tanyaku, penuh harap.

"Kali ini kumaafkan. Tapi tidak ada lain kali," gumam Fuuto, membuatku mengernyit heran.

"Ha?"

"Jangan terima offer kayak gini lagi, kalau nggak aku bakal hukum kamu, Usagi!" gumam Fuuto lagi, membuatku sakit kepala.

"Haa?"

Fuuto mendecih. "Kamu nggak ngerti?"

Aku mengangguk cepat. "Iya. Nggak ngerti. Kamu ngomong yang jelas dikit kek."

"Kamu bodoh banget sih."

"Haaa? Bodoh? Aku nggak- umph!"

Sebuah ciuman mendarat dengan cepat di bibirku. Aku membelalak kaget mendapati ciuman cepat itu. Aku melotot ke arah Fuuto. Pemuda itu menatapku tajam.

"Dengar ya, mulai sekarang kamu milikku. Awas kalau ngegodain cowok lain. Ingat itu!" seru Fuuto sambil membelai pipiku lembut.

Aku terpaku sesaat. Otakku sedikit konslet kayaknya.

Tunggu dulu! Apa yang tadi dikatakan Fuuto?

Aku miliknya? Maksudnya?

Ha?

Haaa?

Aku menatap balik ke arah Fuuto dan mendapati wajah serius Fuuto.

"Eh?"

Aku meneguk ludahku.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali.

Aku… milik Fuuto?

Aku… milik Fuuto.

Fuuto… menginginkanku?

"EEEEEEHHHHHHHHH?!"

.

4256 words.

August 17rd 2014.

.

To be continued…

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

Haloha!

Wah, maaf banget ya baru upload. Habisnya, operator yang bisa konek ke ffdotnet yang saya punya Cuma X*. Pas mau upload, eh udah habis masanya. Duh.

Anyway, seperti biasanya, saya kembali ngalir-ngidul lagi. Plot dasar entah kenapa jadi melebar. Awalnya Cuma satu chapter, eh malah kepanjangan. Yah, moga chapter kali ini nggak membosankan.

Bagi yang pada tahu apa yang disembunyiin Asahina Bersaudara, saya yakin tebakan kalian pada benar. Jelas banget apa yang disembunyiin. ;d

Saya nggak baca light novel-nya sampai selesai berhubung memang nggak ada yang me-translate season 2. Hanya membaca beberapa komen para blogger atau tumblr tentang Brocon. Dan sejauh yang saya tahu, Ema memang memilih Subaru. Kandidat pilihan terakhir Ema itu antara Natsume atau Subaru. Sayang sekali yang terpilih Subaru. Saya sih inginnya Natsume yang dapetin Ema.

Dan akhirnya, Yuusuke dan Fuuto muncul juga. Aika harus berterima kasih sama Iori nih. Dua bocah itu kan muncul gara-gara ngeliat cover majalah Aika dan Iori. Hihihihi.

Anyhow, thank you for everyone who follow, fave and rev! Love you!

See you around! Bye bye! #bow