.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

I just own the story and few OCs.

I mean, many OCs. #teehee

Happy reading! XD

.

Chapter 13

The Echo of Love

Mimpiku dimana Fuuto menerimaku adalah mimpi yang paling kuinginkan semenjak aku menyadari perasaanku pada idola itu. Meski aku tahu kalau Fuuto mencintai Ema-chan, tapi aku nggak bisa berhenti untuk berharap. Aku tahu aku jahat karena selalu berdoa semoga Ema-chan menolak Fuuto, tapi aku tak bisa munafik terhadap perasaanku sendiri.

Jadi, ketika Fuuto menciumku dan mengatakan-

"Dengar ya, mulai sekarang kamu milikku. Awas kalau ngegodain cowok lain. Ingat itu!"

-aku hanya bisa cengo, menatap Fuuto, merasa ragu, apakah ini mimpi atau kenyataan.

"Usagi! Ngapain kamu diam gitu? Kamu dengar aku kan?"

Aku mengangguk.

"Oke, kalau begitu ayo ikut aku," ucap Fuuto sambil menyodorkan tangan kanannya.

Aku memiringkan kepalaku, bingung. "Mau kemana?"

"Ke kamarku. Ini udah malam. Aku ngantuk. Kamu tidur bareng aku," jelas Fuuto, dengan cengiran di wajahnya.

Aku melotot. Ti-Tidur dengan Fuuto? Eeeeeh?

"FUUTO!" teriak seseorang dengan tiba-tiba, mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Yuusuke yang sedang berjalan mendekatiku dan Fuuto.

"Ah, Yuusuke-niisan. Nii-san ada disini ya?" gumam Fuuto, dengan wajah datar.

Tiba-tiba, Yuusuke meraih kerah baju Fuuto lalu mencengkramnya kuat-kuat. "Kamuuu," desis Yuusuke, dengan wajah merah menahan marah. "Jangan main ci-cium Aika seenaknya aja!" Wajah Yuusuke seketika memerah ketika ia mengucapkan kata 'cium'.

Alis Fuuto naik sebelah. "Memangnya kenapa?"

"Kamu nggak bisa gitu aja menci-ci-cium Aika!" seru Yuusuke sambil menghempas badan Fuuto. "Dan Aika bukan barang! Nggak bisa seenaknya kamu miliki begitu aja!"

Fuuto memperbaiki kerah bajunya yang kusut. "Tentu saja aku bisa. Siapa yang kucium, bukan urusan Yuusuke-niisan."

"Ci-Cium?" Sebuah suara terdengar dari beranda atas. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati wajah Tsubaki-san yang pucat pasi. Di belakang Tsubaki-san, aku melihat Natsume-san. Aku menyipitkan mataku. Ah, kenapa Natsume-san nyengir-nyengir nggak jelas begitu?

"Siapa cium siapaaaaa?" teriak Tsubaki-san histeris.

"Tsubaki! Tenang sedikit!" tegur Natsume-san sambil menepuk pundak Tsubaki-san.

Fuuto mendengus. "Aaaah, kenapa pengganggunya tambah banyak sih?"

"Siapa yang pengganggu, teme~?!" seru Yuusuke sambil menggertakkan giginya.

Tsubaki-san berlari menuruni tangga lalu memegang kedua pundak Fuuto. "Fuuto! Kamu jangan-jangan nyium Aika-chan ya?" Tsubaki-san menatap Fuuto tajam. "Jawab!"

Fuuto memasang wajah bukan-urusan-niisan. Kedua bola matanya berputar dengan malas.

"Benar sekali Tsubaki. Fuuto tadi mencium Aika-chan loh," jawab sebuah suara dari arah dapur.

"Hikaru-niisan," gumam Natsume-san yang kini juga sudah menuruni tangga.

"Ciumannya panas lagi," tambah Hikaru-san sambil nyengir layaknya iblis.

"APAAAAA?!" Tsubaki-san makin histeris.

"Nambah lagi pengganggunya. Lagian, ciuman singkat gitu apa panasnya?" gumam Fuuto, tampak tak peduli.

"Pa-Panas nggak panas, ci-ciuman tetap ciuman bodoh!" seru Yuusuke dengan wajah merah yang entah itu marah atau malu.

"Betul sekali!" seru Tsubaki-san sambil mengguncang pundak Fuuto. "Kenapa kamu nyium Aika-chan, hah?"

Fuuto memukul kedua tangan Tsubaki-san. Kedua pundaknya pun lepas dari genggaman tangan Tsubaki-san. "Kenapa aku harus memberitahu kalian? Itu bukan urusan kalian kan?"

"Aika itu sahabatku!" seru Yuusuke.

"Urusanku juga Fuuto-kun!" desis Tsubaki-san dengan mata berkilat. "Aku menyukai Aika-chan!"

Aku melotot. A-Apa-apaan itu? Ini beneran lagi mimpi ya aku?

Seseorang, cubit aku! Please

"HAAAAH?!" seru Yuusuke kaget bukan main sambil menoleh ke arah Tsubaki-san dengan tampang horor.

Fuuto memasang tampang kaget lalu mendecih. "Sial."

Aku melirik Natsume-san juga Hikaru-san. Kedua pria itu juga cengo kaya ikan. Ugh. Tsubaki-san serius ini?

Tsubaki-san tiba-tiba menoleh ke arahku lalu mendekatiku. Kedua tangannya tiba-tiba memelukku. Wajahku mersentuhan dengan sweater yang dikenakan Tsubaki-san. Aku sampai bisa mencium wangi maskulin yang aku yakini wangi tubuh Tsubaki-san. "Aika-chan no Suki desu," gumam Tsubaki-san tepat di telingaku.

Aku membelalak kaget. Nggak menyangka situasi akan jadi begini. "Tu-Tunggu se-"

"Aw!" Tiba-tiba, Tsubaki-san merintih, sontak melepaskan pelukannya kepadaku. Ia mengusap lengannya sambil merintih kesakitan. Sepertinya, seseorang baru saja mencubit lengan Tsubaki-san.

"Jangan asal peluk, Tsubaki-niiisan," gumam Iori-san sambil menatap Tsubaki-san dengan tampang yang membuat perutku melilit. Aku tak menemukan senyuman favoritku di wajah Iori-san.

Ke-Kenapa wajah Iori-san menyeramkan begitu?

"Aku juga suka Aika-chan," lanjut Iori-san sambil menarikku ke pelukannya. Punggungku bertubrukan dengan dada Iori-san yang bidang.

Mataku kembali melotot.

"HAAAAH?!" Yuusuke kembali teriak kesetanan. Wajahnya terlihat horor sekali.

"Kenapa kamu juga ikut-ikutan Iori?" seru Tsubaki-san.

"Aku nggak ikut-ikutan," jawab Iori-san.

"KALIAN JANGAN BILANG SUKA SEENAKNYAAAA!" teriak Yuusuke, kalut.

"YUUSUKE BERISIK!" seru Tsubaki-san, tak kalah keras.

"Yuusuke diam. Kalau nggak kupotong mulutmu," desis Iori-san, dengan wajah kayak mau melepas nyawa orang.

Yuusuke menelan ludahnya dengan gugup. "Ye-Yes, sir!"

Aku menatap ke sekelilingku. Hikaru-san bersiul heran. Natsume-san masih cengo kayak ikan. Aku melirik Fuuto. Jantungku langsung berdegup kencang ketika menyadari kalau Fuuto juga sedang menatapku.

Teriakan-teriakan, umpatan dan tarik urat nadi terjadi begitu heboh. Di sudut kesadaranku aku masih menyadari teriakan Yuusuke dan Tsubaki-san juga kata-kata pedas Iori-san. Tapi, aku terus menatap Fuuto tanpa berkedip. Fuuto juga balas menatapku tanpa berkata apa-apa.

Ah. Entah kenapa aku mulai mengantuk.

Tiba-tiba sepasang tangan menarikku dari pelukan Iori-san. Aku mendongak dan mendapati wajah Natsume-san yang tersenyum.

"Aika-san tak apa?" tanyanya lembut.

Aku menyipitkan mataku. Kedua pelupuk mataku terasa sangat berat. Aku membuka mulutku, ingin mengatakan sesuatu. Tapi…

Ugh. Aku… ngantuk…

Dan semuanya pun menggelap.

.

.

.

Aku membuka mataku perlahan. Sinar matahari masuk ke retinaku, membuatku silau. Aku menggeram. Tak berapa lama, muncul rasa sakit yang mengerikan, menusuk-nusuk kepalaku dengan begitu hebatnya. Aku memegang kepalaku dengan erat.

"Aaaaargh. Kepalaku…" Aku memejamkan mataku, berusaha menghilangkan rasa sakit yang cukup membuatku ingin membanting kepalaku ke dinding.

"Aika-san udah bangun?"

Aku membuka mataku perlahan.

"Onii-chan?" gumamku ketika melihat Natsume-san sedang duduk di kursi sambil memegang sebuah majalah.

"Ini dimana?"

"Di kamarmu."

"Oh."

Natsume-san meletakkan tangannya di depan mulut, berusaha menyembunyikan tawanya.

Aku memonyongkan mulutku sambil masih menahan sakit kepala yang amat sangat. "Apa? Ada yang lucu?"

Tiba-tiba Natsume-san mengeluarkan ponselnya lalu terdengar bunyi cekrek.

"Onii-chan ngapain?" tanyaku sambil bangkit dari posisi berbaring. Aku menyilakan kedua kaki. Salah satu tanganku masih memegang kepalaku yang nyut-nyutan.

"Memotret wajah hangover Aika-san yang jelek banget," jawab Natsume-san, cengiran geli tersampir di bibirnya.

Ah iya. Kemarin kan aku mabuk berat. Uuugh.

"Onii-chan. Daripada motret-motret, tolong carikan aku air putih!" pintaku.

Natsume-san mengambil gelas di atas meja belajarku lalu memberikannya kepadaku. "Ini, udah disiapin."

Aku langsung meraih gelas pemberian Natsume-san dan tak berselang lama, gelas itu sudah kosong melompong.

"Makasih, Onii-chan."

Natsume-san mengambil kembali gelasnya.

"Onii-chan kok ada disini?" tanyaku, bingung. Aku menghela nafas panjang. Syukurlah kepalaku sedikit enakan.

"Jagain Aika-san," jawab Natsume-san sambil meletakkan gelas kosong itu di meja.

"Jagain aku?"

"Iya. Kalau enggak dijagain, takutnya ada setan yang nyelonong kesini lalu nyulik Aika-san," jawab Natsume-san. Kini cengiran itu semakin melebar.

Aku mengerutkan keningku. "Setan?"

"Setan," ulang Natsume-san. "Cowok-cowok yang menembakmu tadi malam."

"Ah." Aku ingat.

Kalau tidak salah, aku ketemu Yuusuke dan Fuuto. Terus Fuuto…

Tiba-tiba wajahku memanas dengan cepat. Aku memegang kedua pipiku yang menghangat. Uuuuh.

"Selamat ya. Fuuto tampaknya membalas perasaanmu," ucap Natsume-san, sambil mendudukkan badanya di kasur di sampingku.

Aku melirik Natsume-san malu-malu.

"Fuuto… Fuuto nggak bilang kalau di suka aku. Dia Cuma bilang kalau aku jadi miliknya," ujarku, sedikit malu tapi juga sedikit sedih menyadari kalau Fuuto belum mengatakan apa-apa tentang perasaannya.

"Sama aja. Fuuto itu tipe yang nggak bisa jujur sama cewek yang dia suka. Jelas banget kalau dia suka sama kamu, Aika-san," ujar Natsume-san, tampak gemas.

"Masa?"

"Iya!"

"Honto desu ka?"

"Honto desu!" Natsume-san memelotkan matanya.

Aku memonyongkan mulutku, masih ragu. "Aku juga dulu menerima banyak cowok jadi pacarku meski aku nggak cinta. Mungkin aja ini juga sama. Fuuto mungkin aja Cuma pengen nyoba pacaran denganku."

Grep! –tiba-tiba, hidungku dicubit.

"Onyi-chuaan," gumamku dengan suara bengek yang aneh. "Lephashiin."

Natsume-san pun melepaskan cubitannya. "Aika-san jangan pesimis. Tahu nggak, Fuuto sebenarnya masih seminggu lagi pulang ke Jepangnya."

"Seminggu lagi?"

"Iya."

"Tapi kok dia udah ada disini?"

"Nah, saya tadi malam sempat dengar pembicaraan antara Masaomi-niisan dan Fuuto. Katanya, ia langsung pulang ketika melihat cover majalah Iori dan Aika-san."

"Ha?"

"Terus dia punya firasat buruk. Makanya, dia langsung buru-buru pulang dan memintamu untuk menjadi miliknya sebelum terlambat," jelas Natsume-san.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"Onii-chan nggak bohong kan?"

"Memangnya, muka kayak gini keliatan lagi bohong?"

Aku termangu. Semuanya masih terasa aneh. Kemarin aku masih merasakan yang namanya sakit hati karena cinta yang nggak berbalas. Tapi… pagi ini, rasanya sangat aneh jika aku dan Fuuto…

Aaargh! Jantungku! Dadaku! Sesak! Pipiku juga sakit. Kenapa aku senyum-senyum gini sih?

"Oh iya. Aika-san, ini tadi si Iori ngirim bunga. Buat kamu katanya," ujar Natsume-san sambil menunjuk sebuah vas yang berisi bunga chrysantheum.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali. "Bunga? Iori-san?"

"Terus ini ada game terbaru dari Tsubaki," lanjut Natsume-san, sambil menunjukkan sebuah box game.

"Game?" Aku makin bingung.

"Dan ini ada… entahlah ini apa." Natsume-san menunjukkan sebuah kertas ukuran A3.

Aku langsung terkikik geli ketika melihat kanji bertuliskan 'Gomen' dengan ukuran besar di kertas putih polos itu. Ini pasti dari Yuusuke.

"Aku hari ini nggak ulang tahun tapi kok banyak kado gini?"

"Mau mencuri hatimu kali," jawab Natsume-san.

"Hmmm."

"TOMOYOOOO-SAAAAN!" Sebuah teriakan mengerikan terdengar dari kamar sebelah.

Aku melirik Natsume-san. "Itu… suara Ukyo-san, bukan?"

Natsume-san menggaruk-garuk pipinya sambil terkekeh. "Aaah, itu…"

"TOMOYO-SAN! BANGUUUUN!" Kembali, suara menggelegar Ukyo-san terdengar dari kamar sebelah.

Eh, tunggu dulu. Kamar sebelah kan kamar gadis berambut pirang yang sedang melukis… yang kulihat dua hari yang lalu.

"Kata Masaomi-niisan, memang setiap pagi Ukyo-niisan membangunkan perempuan yang tinggal di kamar sebelah," jelas Natsume-san.

"Tapi, aku nggak mendengarnya kemarin. Kenapa?"

"Oh. Mungkin kemarin bukan hari masuk kuliah," ucap Natsume-san sambil beranjak dari kasur.

"Kuliah?"

"Iya. Setiap pagi, kalau hari masuk kuliah untuk, uh, em, Tomoyo-san, Ukyo-niisan selalu membangunkannya dengan cara seperti itu. Kalau enggak, katanya nggak bakal bangun."

"Eh?" Aku mengernyit heran. Aku jadi penasaran seperti apa Tomoyo-san itu.

"Aika-san. Ayo cuci muka terus ke ruang makan. Sekarang, sarapan pasti sudah siap."

"Oke. Onii-chan duluan aja."

"Nggak apa? Bisa jalan?"

"Bisa kok. Kepalaku udah mendingan."

"Yakin? Wajah Aika-san masih jelek loh."

Aku memonyongkan mulutku. "Aku nggak apa. Onii-chan duluan aja."

Natsume-san menghela nafas lalu tersenyum mengiyakan. "Jangan lama-lama ya."

"Iyaaa."

Natsume-san pun meninggalkan kamarku. Aku langsung loncat turun dari kasur, sempat terhuyung sebentar karena sakit kepala, lalu setelah bisa berdiri dengan seimbang, aku langsung berlari ke kamar mandi. Selesai mandi, aku langsung membuka koperku. Baju-bajuku belum kurapikan ke lemari. Aku langsung mengambil onepiece lalu menyisir rambutku yang berantakan. Aku menatap cermin lama-lama. Apa aku sudah keliatan cantik? Pas sarapan nanti pasti aku ketemu Fuuto. Ugh. Mengingatnya saja sudah membuat jantungku berdebar.

Aku langsung melangkah keluar kamar dan mengunci pintu kamar. Aku menoleh ke pintu kamar sebelah. Samar-samar, aku masih bisa mendengar teriakan-teriakan Ukyo-san meski tak sekencang tadi. Tanpa bisa kutahan, aku mendekati pintu kamar sebelah.

Ah, pintunya terbuka sedikit. Aku mengintip di antara celah pintu. Mataku membulat mendapati Ukyo-san sedang memakaikan baju ke gadis pirang itu. Mulut Ukyo-san masih terlihat ngomel-ngomel. Sedang si gadis tampak sudah terbiasa dengan segala yang terjadi dengannya. Aku menjauhkan kepalaku dari celah pintu itu lalu dengan perlahan melangkah menuju elevator.

Oke! Rencana hari ini : Mengenal lebih jauh gadis menarik itu!

Bibirku, tanpa bisa ditahan, terkembang. Aaah, aku penasaran! Penasaraaan!

Dan kekehan bahagia pun lepas dari celah bibirku.

.

.

.

Aku bukan esper. Tapi, entah kenapa, pagi ini, aku bisa yakin kalau suasana ruang makan sangatlah dingin. Suara dentingan sumpit yang lebih keras daripada biasanya menjadi satu-satunya suara di ruang makan. Aku menelusuri meja makan dan mendapati Tsubaki-san, Azusa-san, Hikaru-san, Natsume-san, Kaname-san, Iori-san, dan Yuusuke duduk dengan rapi di kursi masing-masing.

Sekarang aku lagi bersembunyi di balik dinding. Jadi para Asahina yang sedang makan tidak melihatku dan memang tampaknya mereka nggak menyadari keberadaanku. Aku menoleh ke kanan dan kiri, lalu sedikit kecewa karena tidak menemukan Fuuto. Apa dia masih di kamar?

"Kamu ngapain berdiri disitu, Usagi?" tanya seseorang di belakangku.

Spontan aku memutar tubuhku. Badanku langsung tegang ketika bertatap muka dengan Fuuto. Pagi ini, Fuuto terlihat tampan sekali. Aku baru sadar kalau sekarang aku benar-benar harus mendongak jika mau berbicara dengan Fuuto. Fuuto selama tiga tahun ini tambah berapa sentimeter ya? Pasti nggak kayak aku yang Cuma 0.8 sentimeter. Uugh.

Mata Fuuto menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala lalu tersenyum. "Usagi. Kamu tambah pendek ya?"

Jleb!

Aku memonyongkan mulutku.

Kenapa?

Kenapa respon mereka pada gitu semua?

Dasar Asahina Bersaudara! Kalian emang pada bersekongkol ya? Kenapa semuanya pada bilang kalau aku tambah pendek sih? Bahkan Fuuto juga.

"Ah, aku juga berpikiran begitu," sebuah suara menginterupsi.

"Diam deh, Hikaru-san," gumamku ketika melihat siapa yang berkomentar.

"Aku juga." Azusa-san menambahi.

"Aku jugaaa." Tsubaki-san beranjak dari kursinya lalu menghampiriku.

"Sebenarnya, aku juga," ucap Yuusuke, ikut-ikutan.

"Intinya, semua berpikiran kalau Aika-chan tambah pendek," ujar Kaname-san mengambil keputusan.

"Aika-chan," panggil Iori-san. "Kamu yakin kalau kamu tambah tinggi, meski itu 0.8 sentimeter?"

"0.8 sentimeter?" seru Yuusuke. "Hahaha! Apa-apaan tuh? Lewat satu sentimeter aja enggak!" Dan Yuusuke pun tertawa terbahak-bahak.

"Iya ya. Beneran tuh tambah tinggi?" tanya Hikaru-san.

Tsubaki-san dengan santainya langsung memelukku dengan erat. "Mau tambah tinggi atau tambah pendek, Aika-chan tetep manis! Oh iya! Ohayou, darling!"

"Eh, ah…" aku gelagapan. Aku baru saja mau menoleh ke arah Fuuto, minta pertolongan, tapi, seseorang sudah menarikku dari pelukan Tsubaki-san.

"Tsubaki-niisan. Jangan asal peluk cewekku!" seru Fuuto, sambil menyembunyikanku di balik tubuhnya.

Ce-Cewekku, katanya.

Wajahku langsung memanas ketika mendengar kata itu.

Tiba-tiba, Fuuto menarik tanganku menuju tangga.

"Eh, ah, kita mau kemana?" tanyaku gelagapan. Aku memandang bergantian antara punggung seksi Fuuto dan sosok Asahina Bersaudara yang lain.

"Kita sarapan di luar," jawab Fuuto tanpa menolehkan wajahnya. "We need to talk, privately."

.

.

.

Aku memandang café yang kudatangi bersama Fuuto pagi ini. Tidak terlalu ramai. Kami mengambil meja di pojok ruangan. Fuuto memesan nasi goreng dan aku memesan steak. Setelahnya, hanya kesunyian yang mengalun. Kami berdua sama-sama terdiam, sampai…

"Usagi," panggil Fuuto.

Aku manyun. "Hei! Apa itu panggilanmu terhadap cewekmu?" sungutku. "Nggak romantis!"

Akhirnya, wajah Fuuto yang sedari tak menampakkan ekspresi apapun, kini tersenyum geli. "Well, Usagi is my beloved nickname for you." Fuuto meletakkan kedua tangannya di meja, lalu mendesah dengan sangat seksi, membuatku merinding disko. "Oh. Kalau aku memanggilmu 'Ai', bagaimana?"

Deg.

Ai.

Panggilan itu adalah panggilan yang digunakan Fuuto ketika kami pertama kali bertemu. Musim dingin, boneka salju dan undangan untuk menjadi keluarga. Aku tersenyum mengingat memori indahku itu.

"Fuuto. Kau ingat?" tanyaku, ragu-ragu. "Kita pernah bertemu sebelumnya. Jauuuuh ketika kita masih kecil."

"Ya. Aku ingat."

Aku menggigit bibir bawahku. "Kapan kau ingat?"

Wajah Fuuto berubah kesal. "Pas hari keberangkatanmu ke London."

Mulutku menganga. "Aaaah. Ketika kamu mengirim email itu? Email yang isinya bakal kangen aku?"

"Ck. Tentu saja aku bakal kangen kamu. Kangen kebodohan dan ke-tsundere-anmu itu."

"Aku nggak tsundere!" seruku, sebal.

"Semua orang tsundere juga bilang begitu."

"Tsundere itu perhiasan khas Yuusuke!"

Fuuto terkikik. "Perhiasan, hmm."

"Dan lagi, ada hal yang lebih penting."

"Usagi. Sekarang umurmu berapa?" tanya Fuuto, nggak nyambung.

Aku memonyongkan mulutku. Enggan untuk mengubah topik, tapi tak bisa untuk tak menjawab. "Dua puluh satu. Kamu?"

"Sembilan belas."

"Kenapa kamu tanya umurku?"

"Kamu di Jepang sampai kapan?" tanya Fuuto, mengindahkan pertanyaanku.

Aku manyun. "until summer over. Gimana Amerika? Nyaman disana?"

"Lumayan. Banyak cewek seksi disana."

"Huh. Dasar cowok."

"Kamu masih nulis?"

"Nggak. Aku berhenti dulu selama kuliah. Kamu kenapa sih tiba-tiba nanya beginian?"

"Setelah kuliah di London, kamu bakal balik ke Jepang?" tanya Fuuto, lagi, mengkacangkan perkataanku.

Aku menggeram, tapi akhirnya aku menghela nafas panjang. "Iya. Aku bakal balik ke Jepang. Karena, di Jepang ada kamu, mungkin."

Kedua mata Fuuto melebar. Aku bisa melihat rona merah di kedua pipinya, meskipun samar. Tapi, wajah Fuuto berubah kecut. "Jawaban seorang playgirl emang hebat."

"Playgirl?" Aku menyentak meja di depanku. "Apa maksudmu?"

"Iya kan? Kudengar kamu pernah pacaran dengan banyak cowok."

"Itu ada alasannya!"

"Ya, ya. Pastinya. Tapi tetap saja itu berarti kamu playgirl."

"Kamu sendiri bukannya playboy juga?" seruku, mulai muak dengan percakapan yang tiba-tiba menjadi menyebalkan.

Fuuto menaikkan alisnya. "Aku?"

"Ya! Aku yakin kamu banyak main cewek juga kan?"

Fuuto nyengir. "Tentu saja. Aku kan cowok."

"Ya sudah. Kamu berarti juga ngerti alasanku kan?"

"Cewek nggak seharusnya main cowok," balas Fuuto, skeptis.

"Cowok yang baik seharusnya juga nggak main cewek. Bodoh!" makiku.

"Cewek yang main cowok kalau nggak playgirl, ya pelacur!" balas Fuuto. Wajahnya tampak menahan amarah.

"Cowok yang main cewek kalau nggak playboy, ya brengsek!"

"Usagiiii…" geram Fuuto. Tubuhnya maju setengah meja.

"Fuutooooo…" geramku. Tubuhku juga maju setangah meja, membuat wajahku dan wajah Fuuto hanya sisa sekitar lima sentimeter.

Kami saling menghujamkan tatapan membunuh sampai sebuah pikiran terbersit di kepalaku.

"Ah! Kamu cemburu?" tanyaku. Wajahku berubah sumringah.

Lain dengan Fuuto, kini wajahnya memerah. "Ha-Haaah? Jangan ngawur!"

Aku terkikik geli. "Aiiih, nggak usah bohong deh! Wajahmu udah kayak flaminggo tau!"

"Wajahmu juga udah kayak pantat babun!"

Aku memonyongkan mulutku. Memang sih, rasanya wajahku sedikit memanas ketika menyadari kalau Fuuto cemburu. Cemburu kan tanda…

Aku kembali menghempaskan pantatku di kursi. "Kayaknya kamu juga ada bakat jadi tsundere."

Fuuto kembali duduk di kursinya juga, sambil memalingkan wajahnya. "Aku nggak butuh disebut tsundere sama tsundere kayak kamu!"

"Whatever…"

"Kamu benar-benar cewek menyebalkan!" sungut Fuuto.

"Kamu juga menyebalkan."

"Kamu lebih menyebalkan."

"Semua orang tahu kalau seorang Fuuto itu sangat menyebalkan."

"Semua orang tahu kalau seorang Usagi itu suka mainin cowok."

Aku melipat tanganku di dada. "Hei! Kenapa sih kamu daritadi ngebahas itu terus?"

"Kenyataan kan?"

"Iya, itu emang masa lalu aku. Tapi semenjak aku menyadari perasaanku, aku berhenti untuk menerima pengakuan cinta cowok-cowok itu."

"Perasaan kepada siapa?" tanya Fuuto, tampak sangat penasaran. Ia memang sedang berusaha untuk terlihat tenang tapi aku bisa melihat badannya yang tampak tak nyaman.

Aku menggeram kesal. "Kamu lagi ngebodohin aku ya?"

"Siapa yang lagi ngebodohin kamu? Aku cuma nanya."

"Atau kamu lagi pura-pura nggak tahu?"

"Apaan sih?" Fuuto tampak bingung.

"Aku kan pernah bilang."

"Haaah? Kapan?" Kini Fuuto mengernyitkan dahinya, makin bingung.

Duh, dia beneran nggak tahu? Dia pernah geger otak apa?

"Waktu kita di atap sekolah pas festival! Aku kan bilang kalau aku suka kamu!" seruku, malu berat.

Aaaargh! Malu akuuuu! Mau disimpen dimana ini muka!?

Wajah Fuuto cengo.

"Kok kamu malah bengong gitu?" tanyaku, heran.

"Kamu nggak ada ngomong gitu!" seru Fuuto setelah sadar dari ke-cengo-annya.

"HAAAA? Aku bilang kok!"

"Kamu cuma bilang kalau kamu bakal bikin aku jatuh ke pesonamu," tambah Fuuto. "Itu sangat kedengaran kayak cewek playgirl yang berusaha untuk dapetin targetnya!"

"HAAA? Aku bilang- eh?" aku terdiam. "Tunggu dulu…" Aku menggaruk kepalaku yang nggak gatal, berusaha mengingat kembali malam pembulatan tekadku itu.

Fuuto melengos. "Kamu kan punya ingatan yang kuat. Masa kamu lupa?"

Kalau tidak salah, waktu itu aku mengatakan…

"Aku nggak akan menyerah lagi! Aku nggak akan kabur lagi! Aku nggak akan jadi pengecut lagi! Aku juga akan menyerangmu hingga kamu akan jatuh ke dalam pesonaku! BERSIAPLAH, ASAHINA FUTO!"

Oke. Jadi, aku belum bilang kalau aku suka Fuuto?

OOOO EEEMMMM JIIII! Demi Papa Rio yang menyebalkan! Hal sepenting itu kenapa malah kelewat?

Bego! Bego! Begooo!

Aku memejamkan mataku erat-erat dan memukul-mukul kepalaku, kesal bukan main sama kebodohanku ini.

Argh. Kalau tentang Fuuto, kenapa aku jadi lelet gini sih?

"Usagi," suara Fuuto terdengar dan sebuah tangan menahan tanganku, menyebabkan aku tak bisa memukul-mukul kepalaku.

Aku menoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati Fuuto sudah duduk di sampingku.

"Fuuto…" gumamku. Perutku mulai melilit ria dan wajahku memanas.

Oke. Ada yang punya tabung oksigen? Aku sesak.

"Jadi kamu menyukaiku?" bisik Fuuto, dengan suara desahan seksi yang membuatku keringat dingin.

Bibirku kelu, jadi aku hanya bisa mengangguk.

Aku melihat senyuman yang sangat manis kini terpampang di wajah Fuuto. Dan detik berikutnya, aku bisa merasakan bibir Fuuto menyapu lembut bibirku.

.

.

.

Hari ini, Fuuto mengajakku kencan. Dia juga memang nggak ada kerjaan karena kerjaan dia baru mulai minggu depan. Aku memandang takjub score yang diraih Fuuto ketika ia selesai bermain tako. Itu loh, mainan tebuk drum di arcade.

"Wow. Nice score!" seruku sambil bertepuk tangan.

"Wanna try it?" tanya Fuuto sambil memberikan tongkat drumnya padaku.

"Jangan iri ya kalau score-ku lebih tinggi dari kamu," ujarku, sok hebat meski sebenarnya ini pertama kalinya aku mencoba game ini.

Fuuto tertawa. Gigi-gigi putihnya terlihat. "Kalau score kamu lebih tinggi, aku bakal ngelakuin apa pun!"

"Janji?" tantangku, senang bukan main.

"Aku janji. Dan kalau score-mu lebih rendah dariku, itu berarti kamu yang harus nurutin apa pun mauku. Lagian, cewek buta nada kayak kamu kalau bisa main drum akan menjadi keajaiban dunia yang kedelapan," sindir Fuuto.

Aku memonyongkan mulutku. "Aku nggak buta nada. Cuma…"

"Cuma?"

"Pokoknya liat aja nanti! Hush hush! Jaga jarak." Aku menggesek kartu yang membuat game machine ini memulai permainannya.

Yosh! Aku bakal mengalahkan game ini! Aku akan membuat Fuuto menggendongku seharian! Aaah, aku nggak sabar!

Game start!

.

.

.

Aku menggeram kesal. Aku melirik ke sekelilingku. Banyak orang berlalu-lalang. Ya iyalah banyak orang. Aku kan sedang berada di pusat shibuya! Aku menatap tajam Fuuto yang sedang asik duduk dengan pongahnya di pagar pembatas jalan. Pemuda itu tersenyum licik.

Argh.

Seharusnya aku nggak menerima tawaran Fuuto.

Yap. Aku kalah. Aku seharusnya mengakui kelemahan buta nadaku.

Bodoh, bodoh, bodoooh!

Dan apa kalian tahu apa yang diminta Fuuto?

Dia memintaku untuk berakting jadi orang gila! Yang benar saja!

Aku harus membuat orang yang kupilih yakin bahwa aku orang gila dan membuat orang itu memanggil polisi.

Sial banget aku!

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Aku harus berpikir dengan tenang. Aku harus memlih orang yang tepat agar aku bisa menyelesaikan permintaan bodoh ini.

Aku akhirnya memilih seorang pemuda yang tampak kaku. Pemuda itu berambut hitam keriting, memakai sun-glasses juga topi hitam dan bertingkah kayak orang yang berusaha untuk tidak terlihat. Hm, daripada aku hanya kena sial, mending aku juga menyenangkan diriku dengan mempermainkan orang lain. Dan pemuda aneh itu adalah korban yang cocok.

Aku mengacak rambutku, memejamkan mata, menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan cepat.

Oke! Aku siap!

Aku melangkah dengan gontai ke arah pemuda itu lalu ketika aku sudah di hadapan pemuda itu aku menghadangnya.

"KAMU!" teriakku. "KAMUUU!"

Pemuda itu kaget. Kepalanya melirik kanan kiri lalu akhirnya yakin kalau yang kutunjuk adalah dirinya.

"TEGA KAMU YA! TEGA! TEGA! TEGAAAA!" seruku sambil memukul dada pemuda itu.

Pemuda itu menjauhkan badannya dariku. Orang-orang di sekitarku mulai berkerumun. Aku bisa mendengar kalau pemuda di hadapanku mengumpat.

Aku nggak ambil pusing sembari melanjutkan aktingku.

"KAMU KATANYA CINTA SAMA AKU! KAMU TEGAAA!" teriakku sambil meneteskan airmata.

Pemuda itu mendecih. "Kamu gila ya?"

"AKU NGGAK GILA! JAHAT! AKU HAMIL TAHUU!" aku memukul badan pemuda itu. "KAMMUU HARUS TANGGUNG JAWAB!"

"Apaan sih? Kamu salah orang!" seru pemuda itu tampak kesal.

"HUWAAAAA! KAMU TEGA NGELUPAIN KEKASIHMU INIIII!" teriakku sambil menangis histeris.

Orang-orang mulai berkerumun. Pemuda itu makin panik.

"HUWAAA!"

"Po-Polisi! Tolong panggilkan polisi! Ada orang gila disini!" teriak pemuda itu akhirnya.

Aku berhenti menangis lalu terkekeh senang. "Akhirnyaaaa… thank you!" seruku sambil menjabat pemuda itu. "Thanks a lot! Aku benar-benar menolongku!"

Pemuda itu mangap. Kelihatannya dia bingung dengan perubahan sikapku.

Aku tanpa berkata-kata lagi langsung meninggalkan pemuda itu dan berlari menuju Fuuto.

Seperti dugaanku, Fuuto sedang memegang perutnya dengan satu tangan dan tangan yang lain menutup mulutnya.

"Kalau mau ketawa nggak usah ditahan gitu. Ntar jadi penyakit," ujarku sambil memonyongkan mulutku dan berkacak pinggang.

"WAHAHAHAA!" Fuuto akhirnya tertawa sampai merosot ke jalan.

Aku meraih pergelangan tangan Fuuto lalu menarik pacarku itu menjauhi TKP. Aku sudah malu berat karena daritadi banyak yang memperhatikanku. Aku masih punya urat malu tau!

Aku bersumpah untuk membalas perlakuan Fuuto ini. Awas kau Fuuto. Lain kali, aku yang akan menang.

.

.

.

Aku tak tahu kalau Fuuto itu suka shopping. Aku nggak benci shopping sih, tapi aku lebih suka main di arcade sampai gelap. Kayak waktu aku bareng Yuusuke ataupun bareng Natsume-san. Tapi, yah, Fuuto ingin membelikanku baju jadi disinilah kami.

"Usagi," panggil Fuuto. "Coba kamu pakai baju ini."

Aku memonyongkan mulutku. "Kamu yang bener dong kalau manggil aku. Jangan pake 'Usagi'!"

Fuuto terkekeh. "Kan udah kubilang Usagi itu panggilan kesayangku buat kamu."

"Panggil 'Ai' aja."

Fuuto tak mengubris. Ia malah makin asik melihat-lihat barisan baju musim panas keluaran terbaru di boutique ini. Aku meraih tumpukan baju, rok dan celana yang tadi sudah dipilih oleh Fuuto. Oke. Aku mengakui kalau pilihan dia oke semua tapi nggak perlu sebanyak ini kan?

"Kenapa diam aja? Cobain dulu. Atau kamu suka semuanya? Kalau suka, kita langsung beli aja," ujar Fuuto sambil mendekat ke arahku.

"Langsung beli aja. Aku suka kok. pilihanmu oke," jawabku sambil menghela nafas panjang. "Habis ini masih mau shopping?"

Fuuto mengangguk. "Setelah ini yang terakhir."

"Good."

Fuuto membawa semua pakaian yang dipilihnya ke kasir lalu membayarnya dengan kartu. Aku tak bisa menahan kebahagian yang kini membuncah di dadaku. Aku selalu beranggapan kalau aku takkan pernah bisa jalan bareng bahkan shopping bareng Fuuto. Jadi, saat ini aku benar-benar senang.

Setelah membayar, Fuuto pun meraih jari-jemariku lalu menggenggamnya dengan lembut. Aku suka rasa menggelitik ini ketika Fuuto menggenggam tanganku. Rasanya begitu sangat menyenangkan.

Tapi, rasa itu langsung buyar ketika Fuuto membawaku ke toko pakaian dalam.

"Nga-Ngapain kita kesini?" tanyaku, sambil menatap Fuuto heran juga panik.

"Beli panties lah. Hmm, kalau bisa lingerie juga. Terus-"

"NO!" seruku sambil mengeratkan genggamanku pada tangan Fuuto.

"Nggak usah malu. Aku kan pacarmu," ujar Fuuto dengan watados.

Aku memonyongkan mulutku. "Pokoknya aku nggak mau."

Fuuto emantapku lama namun akhirnya ia menghela nafas panjang. "Fine. Tapi, toko berikutnya kamu nggak boleh nolak."

Aku mengerutkna keningku. "Toko apa?"

Fuuto nyengir dengan sinisnya. Uh oh. Kayaknya aku salah step nih.

"Ikut aja." Fuuto menarikku dengan lembut.

Aku hanya bisa pasrah. Yang penting bukan pakaian dalam. Aku bisa milih sendiri dan Fuuto nggak perlu tahu!

Fuuto mendorong pintu toko dan terpampang lah berbagai jenis baju renang. Aku menganga.

"Kamu nggak boleh nolak," ujar Fuuto sambil sembari menarikku untuk melihat baju renang yang ada di toko itu.

Aku mendesah. Kayaknya dia mengajakku ke toko pakaian dalam tadi cuma agar aku menurutinya untuk membeli baju renang.

Argh.

Aku nggak tahu Fuuto bisa selicik ini.

Damn it.

Fuuto tampak berdiskusi dengan salah satu penjual toko yang merupakan perempuan yang juga sedari tadi mencari-cari perhatian ke Fuuto. Huh. Dasar wanita gatel.

"Usagi, coba bikini ini," ujar Fuuto sambil memperlihatkan sebuah bikini berenda berwarna putih.

Aku menggeleng. "NO!"

Fuuto manyun. Ia tampak berpikir. "Hmm. Kayaknya kurang cocok deh. Kamu nggak tinggi dan seksi sih."

What? Apa tadi yang dia bilang? Aku nggak seksi? Tinggi? Maaf deh ya karena aku pendek. Huh.

Fuuto kembali menunjukkan sebuah baju renang dengan bagian dada yang memiliki renda bertumpuk yang tampak sangat imut juga bawahan yang tampak seperti rok.

Fuuto mangut-mangut. "Kalau ini baru cocok. Kamu akan tampak imut dengan ini."

Aku memonyongkan mulutku. "Oy! Lupa apa kalau aku lebih tua darimu?"

Fuuto tak mengubris teriakanku. Ia malah menarikku ke ruang ganti. "Cepat dicoba."

Aku menggeram kesal. Perempuan yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke Fuuto tertawa kecil. Apaan sih perempuan itu? Nyindir aku ya karena aku nggak seksi?

Aku mengambil baju renang yang dipilih Fuuto dengan kasar lalu masuk ke kamar ganti. Lima menit berikutnya aku keluar dari ruang ganti dengan malu-malu. Aku nggak pernah beli baju renang dengan seorang cowok!

Kedua mata Fuuto membulat.

"Aku aneh nggak?" tanyaku, sambil mendekati Fuuto malu-malu.

Fuuto masih terdiam. Kini, aku bisa melihat rona merah di kedua pipinya dan telinganya.

Ah, dia juga malu.

Aku langsung senang ketika menyadari itu. Aku melirik perempuan penjual toko itu dan langsung terkekeh mendapati perempuan itu tampak terpukau dengan penampilanku.

Sip. Aku ternyata nggak jelek-jelek amat.

"Kita beli ini," ujar Fuuto, dengan suara yang sedikit berat. Aku bisa melihat kedua mata Fuuto yang lebih gelap dari biasanya. "Cepat pakai baju kamu lagi!"

"Iya, iya."

Sepuluh menit berikutnya, aku dan Fuuto sudah di kasir. Tapi, ada yang aneh dengan Fuuto. Pemuda itu daritadi hanya diam saja. Aku jadi takut. Apa aku ada melakukan sesuatu yang salah ya?

Aku dan Fuuto pun keluar dari toko. "Belanjanya sudah kan? Kita pulang nih?"

Fuuto tiba-tiba menarikku dan membawaku sebuah gang.

"Fuuto! Apa yang- hummph!"

Fuuto tiba-tiba menciumku. Ciumannya tidak lembut sepeti tadi pagi, kali ini lebih memburu. Aku lemas seketika karena ciuman tiba-tiba itu. Fuuto dengan lembut meraih pinggangku, menarik pinggangku untuk lebih menempel pada tubuhnya dan sebelah tangannya yang lain bergerak ke belakang leherku, membuat wajahku makin mendongak dan dekat dengan wajah Fuuto.

Aku memukul pelan dada Fuuto karena nafasku mulai habis. Tapi tubuh Fuuto tak bergerak dan bibirnya terus menerus mengulum bibirku dengan ganas.

Argh.

This kiss is so damn hot. This is so melting.

Tit tiririt. –sebuah dering penerima email terdengar.

Fuuto melepas pautan bibirnya denganku lalu mendecak kesal.

"Siapa sih?" Fuuto merogoh ponsel yang ada di saku celananya.

Aku terengah-engah sambil berusaha menarik nafas dalam-dalam. Aku kembali mendongakkan wajahku untuk melihat ekspresi Fuuto. Kedua matanya berputar dan wajahnya berubah kesal.

"Ada apa Fuuto?"

"Nggak ada apa-apa. Cuma pengganggu." Fuuto memasukkan ponselnya kembali ke saku celana tapi tak sampai tiga detik, ponsel itu kembali berbunyi. Fuuto dengan gusar kembali meraih ponselnya. Dan detik-detik berikutnya, ponsel itu terus berdering.

"Ck. Kamu banyak banget sih penggemarnya."

Aku mengernyit. "Maksud kamu?"

Fuuto menon-aktifkan ponselnya lalu meraih jari-jemariku. "Kita lanjutkan di rumah."

Kalimat Fuuto sukses membuat wajahku memerah. "Nggak akan."

Fuuto menaikkan kedua alisnya. "Yakin?"

"YAKIN!" jawabku, dengan suara yang sedikit serak.

"Well, we will found out later," gumam Fuuto. Cengiran yang begitu membius terpampang di wajahnya yang kini sudah jauh lebih tampan dari tiga tahun lalu. Kalau dulu wajahnya masih imut-imut, sekarang keimutan itu sudah berubah jadi keseksian. Oh, sial, aku mulai melantur.

Oh God, I hope I can be with him forever. Because… I love him so much.

.

4855 words.

September 2nd 2014.

.

To be continued…

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

HALOO!

Wooohoooooo. Akhirnya mereka jadian juga.

Emang cepet banget mereka jadian habisnya ntar kalau kelamaan jadi bisa jadian sama yang lain. Teehee.

Thanks a lot for people who follow, fave, rev and read this fic. Thank you so much!

Welcome, new reviewer. I'm so happy for your review.

And, do not to worry. NatsuAi emang ada tapi sebatas kakak-adik. XP

Moga nggak ada gangguan untuk chapter selanjutnya.

Dan tentu saja, fic ini belum mendekati akhir. Percintaan FuuAi masih baru saja dimulai.

So stay tune and see you! #bow