.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.

.

I just own the story and few OCs.

I mean, many OCs. #teehee

Happy reading! XD

.

Chapter 14

Those Man Positions

Langit sudah mulai berubah jingga ketika kami sampai di Sunrise Recidence. Selama perjalanan menuju rumah, Fuuto selalu menggenggam tanganku dengan posesifnya. Aku sampai malu karena selalu dilirik sama orang di sekitar. Bahkan, aku sampai dipelototi atau lebih parahnya disumpahi sama perempuan-perempuan yang tampaknya tak suka karena aku bersama dengan Fuuto.

Aku jadi ingat waktu aku photoshoot bareng Iori-san. Hal yang sama juga terjadi. Apa aku ditakdirkan untuk punya banyak gadis sebagai musuh? Man, that's suck. Biasanya gadis-gadis nggak sebenci itu sama aku.

Sesampainya kami di Lantai 5, aku terkejut menemukan Yuusuke sedang memelototiku. Wah, apa Yuusuke kejangkit virus pelotot-pelototan juga? Kayak perempuan-perempuan itu. Padahal, Yuusuke kan laki-laki.

"Kalian kemana aja? Kenapa baru pulang?" tuding Yuusuke sambil berjalan menghampiriku. Matanya makin berkilat ketika melihat pautan tanganku dengan Fuuto.

Fuuto tanpa aba-aba langsung menarik tanganku melewati Yuusuke.

"Aika!" seru Yuusuke, sambil menahan tanganku yang lain.

Fuuto menarik tangan kananku, membuatku meringis karena nyeri. Pacar baruku itu menatap Yuusuke kesal. "Mau kemana kami, itu bukan urusan Yuusuke-niisan kan?"

"Aku khawatir sama Aika! Aku juga perlu tau!" balas Yuusuke, menarik tangan kiriku, membuat badanku sedikit oleng.

Sial, sakit, bodoh!

"Lepasin Usagi!" seru Fuuto, wajahnya memerah karena kesal. Pegangannya di tanganku mengerat, membuatku kembali merintih kesakitan.

"Fuu-Fuuto," bisikku, berusaha lepas dari genggamannya.

"Nggak akan! Kamu yang lepasin Aika!" balas Yuusuke, nggak kalah keras dan nggak kalah eratnya menggenggam lengan tanganku.

"Yuusuke-niisan yang lepas!" seru Fuuto sambil kembali menarikku ke arahnya.

"Lepasin!"

"Lepasiiin!"

"Kamu yang lepasin!"

"Dia cewekku!""

"CUKUP!" teriakku, kesal. Tanganku sudah sangat nyeri dan kepalaku pusing mendengar teriakan-teriakan bodoh ini.

Fuuto dan Yuusuke tampak kaget dengan teriakanku. Dari arah tangga, muncul Masaomi-san dan Hikaru-san dengan wajah bingung.

"Ada apa ini, kok ribut-ribut?" tanya Masaomi-san, suaranya terdengar khawatir.

"Kalian kenapa teriak-teriak sih?" tanya Hikaru-san, heran.

"Yuusuke-niisan bikin masalah nih!" sungut Fuuto, sambil menuding Yuusuke.

"Bukannya kamu yang cari masalah?" balas Yuusuke.

"KUBILANG CUKUP!" teriakku lagi, muak dengan segala teriakan bodoh ini. "TANGANKU SAKIT TAU! KEPALAKU PUSING DENGAR TERIAKAN KALIAN!"

Yuusuke tampak terkejut lalu dengan ragu melepas pegangan tangannya. Sedangkan Fuuto, wajahnya mengernyit, tampak menyesal dengan apa yang dilakukannya. Ia dengan perlahan melepas tanganku. Namun, detik berikutnya, ia mendekat padaku lalu menarikku ke dalam pelukannya yang entah kenapa begitu nyaman.

"Maaf," bisiknya, tepat di daun telingaku. Sebuah getaran halus menjalar dari daun telingaku ke badanku. Hangat.

Aku menghela nafas lalu memonyongkan mulutku. "I won't mad if you have a fight with Yuusuke. I think it's cute. But, today's fight is kind of different and somehow I hate it. So, sorry for yelling like that."

Fuuto menggeleng perlahan. "No. I'm sorry, too. I just…"

Aku mendongak untuk menatap wajah Fuuto. "Hm?"

Fuuto memalingkan wajahnya. "Nothin'."

"Huh. Finish your sentece, stupid-idol."

Fuuto kembali menatapku dengan wajah mengejek. "Don't be a busy-buddy, Rabbit."

"What did you say?" geramku.

"Did your ears broken, Rabbit?" cibir Fuuto.

"I'm not a rabbit!"

"And I'm not stupid!"

"You are stupid, and annoying."

"You are a rabbit, and annoying, too."

"Shut up, stupid!"

"You shut up, Rabbit!"

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dan juga menepuk pundak Fuuto. Aku menoleh dan mendapati Hikaru-san yang lagi geleng-geleng kepala. "Kalian ini… tadi mesra-mesraan sambil pelukan. Sekarang bacot-bacotan sambil pelukan. Kalian lepasin pelukannya dulu, baru bacot-bacotan."

"Hikaru. Biarkan saja mereka," tegur Masaomi-san, yang juga sedang terkikik geli, ternyata.

Aku memandang sekelilingku dan bingung karena tidak menemukan Yuusuke dimana pun.

"Nggak apa kali," ujar Fuuto, sambil mengeratkan pelukannya. "Ini pertengkaran antar kekasih. Harus tetap romantis."

Dengan tanganku yang bebas, aku memukul pinggang Fuuto dengan gemas.

Buk!

"Adaw!" rintih Fuuto.

"Jangan ngomong yang aneh-aneh, Fuuto," ucapku sambil menahan malu. Dih, apanya yang romantis coba? Dan lagi, ini di depan Masaomi-san dan Hikaru-san! Tuh, tuh! Lihat tuh wajah Hikaru-san! Udah kayak pengacara dapat skandal hitam lawan. Gaswat kan? Aku bisa digodanya selama beberapa hari ke depan! Damn it.

Fuuto tak membalas perkataanku, ia malah menatapku, tampak tertarik dengan sesuatu yang lain.

Aku mengernyitkan keningku. "Apa?"

"Aku baru sadar…" Tatapan mata Fuuto kali ini dengan senyuman yang menurutku sedikit mesum. Ih, ini idola-mesum sedang mikirin apa?

"Apaan sih?"

"Good, good," puji Fuuto sambil mengusap kepalaku. Membuatku makin bingung. "Walau kamu pendek, dadamu gede juga ya?" lanjut Fuuto, sambil nyengir puas.

Kalimat Fuuto sukses membuatku melotot.

Fuutoooo… Dasar mesum!

Aku pun mencubit pinggang Fuuto dengan gemas.

"ADAWWW!" teriak Fuuto kesakitan. Ia melepas salah satu tangannya dari punggungku, berganti mengelus-elus pinggangnya. "Sakit, Usagiii."

"Huh." Aku memonyongkan mulutku.

"Jangan dicubit dong. Sakit tau!"

"Au ah. Gelap."

"Usagiiii…"

.

.

.

"What are we doing here?" tanya Fuuto ketika kami sampai di depan pintu kamar Tomoyo-san.

Aku terkikik. "Udah kebiasaan ngomong bahasa inggris nih ye," godaku.

Fuuto mendecih. "Aneh?"

"Nggak. Bagus deh kalau Amerika bisa bikin kamu fasih bahasa inggris." Aku menunjuk pintu kamar yang ada di hadapanku. "Kamu tau wanita yang sekarang lagi deket dengan Ukyo-san?"

Fuuto mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Jadi, wanita itu tinggal disini?"

Aku mengangguk. "Tadi aku email Onii-chan, katanya Tomoyo-san udah balik dari kampus. Jadi, sambil nunggu makan malam siap, aku pengen kenalan sama Tomoyo-san."

"Onii-chan?" tanya Fuuto, sambil menatapku tajam.

"Natsume-oniichan," ulangku. "Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku."

Fuuto mengangkat bahunya. "Yakin? Aku melihat kalian kayaknya lebih dari itu."

Aku mencubit lengan Fuuto.

"Aw!" rintih Fuuto sambil mengelus lengannya. "Sakit tau! Cubitanmu itu dewa! Nyadar nggak sih?"

"Kamu nggak usah cemburu gitu," ucapku sambil mengetuk pintu kamar Tomoyo-san.

Tok tok tok.

"Aku nggak cemburu!" seru Fuuto sambil memalingkan wajahnya.

Aku melirik Fuuto dan mendapati telinga Fuuto yang memerah.

Aih, pacarku satu ini manis banget sih.

Cklek. – pintu terbuka, dan tampaklah sesosok wanita kisaran dua puluh tahunan yang sangat cantik dengan rambut pirang dan mata biru langit yang indah. Wajahnya begitu ayu dan auranya begitu menenangkan. Tapi, yang aku tangkap adalah wanita ini bukan tipe wanita anggun tapi wanita yang punya dunia sendiri. Wanita jenius. Wanita yang lebih suka menyindiri dan tidak bisa melakukan hal lain selain yang ia tekuni.

Terbukti dengan bagaimana Ukyo-san begitu memanjakan wanita ini seperti tadi pagi.

Fuuto bersiul.

Aku menyikut pinggang Fuuto.

"Aw!" Fuuto mengerang kesakitan.

Dasar, cowok! Ngeliat cewek cantik langsung semangat gitu.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu.

"Hai! Aku Haruno Aika. Aku tinggal di kamar sebelah," ujarku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku. "Dan yang disebelahku, yang sedang merintih kesakitan ini, adalah Asahina Fuuto, pacarku."

Wanita pirang itu menjabat tanganku lalu tersenyum dengan manisnya. "Saya Kashiwagi Tomoyo. Senang bisa berkenalan denganmu."

"Aku boleh mengenalmu lebih dalam?" tanyaku, langsung to the point.

Wanita itu sempat terdiam lalu mengangguk. "Tentu saja."

Aku tersenyum bahagia. Aku menunggu untuk dipersilahkan masuk tapi wanita itu hanya diam di kusen pintu sambil menatapku dengan tatapan yang sayangnya aku tak mengerti. Oke, aku bohong. Aku mengerti tatapan itu. Tatapan penuh ketertarikan yang dalam, dan itu membuatku menyadari betapa jeniusnya wanita yang ada di hadapanku.

"Anoo, saya boleh masuk?" tanyaku akhirnya. Wanita ini sedikit aneh. Well, tentu saja. Kalau dia nggak aneh, aku nggak mungkin tertarik.

Wanita itu mengangguk. "Silahkan masuk."

Aku pun masuk ke kamar Tomoyo-san dan langsung mangap mendapati… oh my God! Ini kamar atau medan perang? Berantakan banget!

"Duduk aja dulu," tawar Tomoyo-san sambil duduk di kursi meja belajarnya.

Aku memandang sekelilingku. Dapurnya penuh dengan alat makan yang belum dicuci. Kasurnya penuh dengan pakaian bersih yang belum dilipat, lantainya penuh dengan kertas dan kanvas. Aku duduknya dimana coba?

"Kamarmu kayak kapal pecah," ucapku sambil geleng-geleng kepala.

Tomoyo-san memandangku tampak tak tertarik dengan perkataanku. "Oh, iya. Ukyo-san juga bilang begitu."

Aku melirik ke belakangku dan mendapati Fuuto yang sedang mengerutkan kening. Tampaknya ia mulai ill-feel dengan Tomoyo-san karena kamarnya yang berantakan. Tanpa bisa ditahan aku tersenyum kecil.

"Aika-san kan namamu?"

"Panggil Aika saja. Dua hari yang lalu aku baru pindah ke kamar sebelah. Untuk musim panas ini, aku bakal tinggal disini," jelasku sambil menggeser pakaian Tomoyo-san ke sisi kasur yang lain lalu duduk di sisi kasur lain yang sudah kubersihkan. Fuuto ikut duduk di sampingku.

"Kamu pelukis ya?" tanya Fuuto sambil menatap sebuah kanvas bergambar burung parkit.

Tomoyo-san mengangguk. Tapi setelahnya, ia kembali diam menatapku. Duh, ini canggung banget.

"Kalaun boleh tahu, Tomoyo-san umurnya berapa sih?" tanyaku, mulai mengintrogasi.

"24 tahun," jawabnya, singkat.

"Oooh. Tomoyo-san kenal Ukyo-san sudah lama?"

"Iya. Sejak beberapa tahun yang lalu. Ukyo-san adalah pengacara keluargaku," jawab Tomoyo-san. Ia kembali melirikku dengan tajam. Aku jadi risih dibuatnya.

"Ada yang aneh dengan diriku?" tanyaku, akhirnya.

Tomoyo-san bangkit dari kursinya dan menghampiriku. Kedua tangannya yang putih dan tampak rapuh meraih kedua pipiku, lalu membelainya dengan lembut. "Kamu cantik sekali," gumamnya, dengan nada yang begitu penuh dengan kekaguman.

Aku tersenyum geli. "Tomoyo-san juga cantik sekali."

Tomoyo-san menggeleng. "Bukan itu. Kamu memang cantik di luarnya, tapi di dalamnya juga cantik, unik. Dari dirimu, aku bisa merasakan kepercayaan diri yang kuat. Aku suka."

Aku tertegun.

Jarang sekali ada orang yang bisa mengenaliku dengan begitu anehnya seperti Tomoyo-san. Dan, dia suka aku? Karena kecantikanku?

Oke, aku speechless.

"Aku boleh melukismu?" pinta Tomoyo-san dengan binar mata yang membuatku pusing.

"Mmm… boleh."

Tomoyo-san langsung tersenyum lebar. "Asiiik!"

"Kalau bisa yang ada akunya juga," ujar Fuuto sambil nyengir.

Tomoyo-san menggeleng. "Kamu jelek. Aku nggak mau."

Mulut Fuuto menganga. Aku hampir tertawa terbahak-bahak kalau nggak ingat aku bakal membuat Fuuto makin down.

"Kamu kalau mau ketawa, ya ketawa aja," sungut Fuuto sambil beranjak dari kasur.

Aku menggigit bibir bawahku, menahan geli. "Sorry, sorry. Eh, kamu mau kemana?"

"Mau keluar pokoknya. Aku ogah jadi kambing congek."

"Yah, jangan dong. Temenin aku," ujarku sambil meraih lengan Fuuto dan menahan pemuda itu.

Tok tok tok. –terdengar suara pintu diketuk. Tak berapa lama, Ukyo-san muncul dengan membawa piring berisi makanan.

"Loh, Fuuto? Aika-chan?" Ukyo-san tampak heran.

"Hai, Ukyo-san. Aku lagi kenalan nih sama Tomoyo-san," ucapku sambil melambai ke pria berkaca mata itu.

"Oh. Tomoyo nggak merepotkanmu kan?" tanya Ukyo-san, harap-harap cemas.

Aku terkekeh. "Yes, she is fine."

"Baguslah kalau begitu. Oh ya, makan malam udah siap, kalian ke ruang makan sana!" perintah Ukyo-san.

Aku mengangguk. "Oke! Ayo Fuuto! Tomoyo-san, nanti kita ngobrol lagi ya?"

"Kamu mau jadi modelku kan?" tanya Tomoyo-san, tampak khawatir kalau aku lupa janjiku.

"Tentu saja. Daaah."

Sebelum aku pergi dari kamar Tomoyo-san, aku masih bisa mendengar Ukyo-san membujuk Tomoyo-san untuk makan. Deuh, mereka terlihat mesra banget sih.

"Aku nggak suka wanita itu," ucap Fuuto ketika kami sampai di lift.

Aku menekan tombol lima. Lift pun mulai berjalan. "Karena kamu dibilang jelek?"

Fuuto manyun.

"Nggak usah dipikirin," nasehatku, sambil mengelus-elus lengan Fuuto.

"Ck." Fuuto masih tampak tak senang.

"Oh ya, kamu sekarang nggak sendirian kan?" tanyaku, mencoba mengubah topik.

Cengiran pun tersampir di bibir Fuuto dan kedua matanya menatapku jenaka. "Aku emang nggak sendirian lagi kan? Ada kamu."

Pipiku memanas seketika. "Iiiih, bukan itu. Itu tuh. Aku dengar kamu sekarang gabung sama idol group bernama Fortte."

"Oh, itu. Iya. Tapi aku bosan. Jadi, aku meninggalkan mereka ke Amerika."

"Eh, emang nggak apa? Mereka nggak marah sama kamu?"

"Mereka nggak berhak untuk marah. Mereka bukan siapa-siapaku," jawab Fuuto, tampak cuek.

Ting! –lift pun sampai di lantai lima. Aku dan Fuuto keluar dari lift dan berjalan ke tangga untuk sampai di ruang makan.

"Mereka anggota setim kamu kan? Jangan manja gitu deh!"

"Tapi kami emang nggak kompak. Cuma di luar. Di dalam sih, udah kayak kucing dan anjing. Berantem mulu. Bosen aku."

"Oh." Aku mangut-mangut.

"Kenapa kamu nanya-nanya tentang mereka? Kamu fans mereka?" tanya Fuuto sambil kedua matanya menyipit ke arahku.

Aku hampir tertawa karena level kecemburuan Fuuto yang tinggi banget.

"Nggak. Cuma penasaran sama orang-orang yang kerja sama kamu. Aku kan di London dan sibuk sama kuliah, jadi jarang bisa ngikutin berita tentang kamu."

Fuuto hanya diam sambil salah satu tangannya melingkar di pinggangku. "Lupakan tentang mereka. Aku nggak mau ngomongin mereka lagi."

"Oke, oke. Siap boss."

.

.

.

"Fuuto! Menyingkir dari Aika-chan!" seru Tsubaki-san sambil menarik Fuuto yang duduk di sampingku di meja makan.

"Ha? Aku pacarnya! Itu Hikaru-niisan yang seharusnya pindah tempat duduk!" tunjuk Fuuto ke Hikaru-san yang sedang duduk di sisiku yang lain.

"Eeeeh? Aku kan mau duduk deket Aika-chan," gumam Hikaru-san sambil memegang kursi yang didudukinya.

"Hikaru-niisan. Pindah!" perintah Iori-san yang berdiri di samping Hikaru-san.

"Nggak mau! Aku kan duluan!" seru Hikaru-san, keras kepala.

"Tsubaki-niisan jangan maksa dong!" seru Fuuto ketika badannya didorong-dorong oleh Tsubaki-san.

Aku sampai geleng-geleng kepala. Mereka ini nggak bisa nggak ribut apa kalau ketemu?

Tap! –sebuah tepukan di pahaku membuatku melongo ke kolong meja. Aku langsung melotot ketika mendapati Wataru-kun sedang berada di kolong meja dekat kakiku.

"Wa-Wataru-kun! Ngapain kamu disitu!" seruku, sambil menarik Wataru-kun dari kolong meja.

"Aku juga mau makan dekat Aika-neechan," ujarnya sambil menggeser badanku. Aku jadi duduk bareng Wataru-kun di satu kursi yang nggak cukup gede buat dua orang. Jadi sempit.

"Wataru! Kamu jangan duduk disitu!" seru Tsubaki-san.

Azusa mengangguk. "Iya. Kasian Aika-chan."

"Wataru, duduk di sampingku saja ya?" bujuk Masaomi-san, sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.

"Nggak mau!" seru Wataru-kun, kedua tangannya memelukku erat. Mendengar jawaban Wataru, wajah Masaomi-san berubah muram.

"Oy! Wataru! Lepasin tanganmu dari cewekku!" seru Fuuto.

"Nggak apa, Fuuto." Aku tersenyum lembut, berusaha membuat Fuuto tenang. "Wataru, ayo kita makan bareng."

"Asik! Onee-chan suapin dong!"

"Woy!" Fuuto dan Iori-san menjerit kesal.

"Wataru, kamu ini…" Tsubaki-san geleng-geleng kepala. "Gila. Sejak kapan adek aku bisa jadi woman-killer gini?"

"Kamu sebagai kakak harus tanggung jawab Tsubaki," ucap Azusa, menatap Tsubaki-san dengan tatapan menyalahkan.

"Kok salah aku? Kaname-niisan dong!" seru Tsubaki.

"Oy, oy. Kok aku jadi diikut-ikutkan?" tanya Kaname-san yang sedang asik makan. "Fuuto dong yang paling banyak andil."

"Kita semua juga tau Kaname-niisan yang penyebab utamanya," ucap Natsume-san, ikut ngobrol akhirnya setelah daritadi diam saja.

Yang lainnya pada ngangguk. Kaname-san sukses dibuat cemberut. Pria itu akhirnya hanya mendesah pasrah. Aku terkekeh geli mendengar pembicaraan absurd keluarga ini.

"Wataru, ini dimakan. Buka mulutnya. Aaaa~!" ucapku.

Wataru membuka mulutnya lalu memakan makanan yang kuberikan.

"Curang," ucap Hikaru-san. "Aku juga mau dong."

"Ini," ucapku, sambil menyodorkan sesumpit telur goreng.

Hap! –sebuah mulut yang bukan mulut Hikaru-san sudah terlebih dahulu mengambil makanan yang ada di sumpitku.

"Iori-san," gumamku, heran.

"Kamu nggak usah nyuapin pria melambay ini. Suapin aku aja," ujar Iori-san, setelah menelan makanannya.

"Siapa yang melambay, depresi-boy!" seru Hikaru-san menoel Iori-san, genit.

"Jangan toel-toel!" seru Iori-san, mundur.

Hikaru-san langsung tertawa melihat ketakutan Iori-san. Aku ikutan ketawa melihat reaksi Iori-san. Duh, mereka lucu banget.

"Usagi," panggil Fuuto.

Aku menoleh ke Fuuto dan langsung mengernyit mendapati wajah cemberut Fuuto.

"Kenapa Fuuto?"

"Kamu jangan main asal suap-suapan gitu! Aku nggak suka!" serunya, sambil mendengus sebal.

"Suka-suka aku dong. Aku suka kok nyuapin orang." Aku mengambil sesumpit telur lalu menyodorkannya ke Fuuto. "Nih, aaa~!"

Fuuto dengan ogah-ogahan memakan makanan yang kuberikan. Setelahnya, ia memalingkan mukanya. Tapi, aku sempat melihat rona merah di pipinya. Sontak aku bisa merasakan perutku penuh oleh kupu-kupu. Rasanya… kok beda ya, nyuapin bocah-bocah ini sama Fuuto?

Hmmm, apa karena Fuuto spesial?

Aih, jadi malu.

.

.

.

Angin malam berhembus dengan begitu lembut meski tak bisa dipungkiri betapa dinginnya udara malam ini. Aku menyenderkan badanku ke pagar atap sambil menatap pemandangan kota dari atap Sunrise Recidence. Aku tak menyangka, bersantai-santai di atap akan semenyenangkan ini.

Jadi ingat Fuuto ketika sehabis makan malam, ia memintaku untuk menemaninya tidur di kamarnya, tapi aku menolak. Aku masih belum kuat untuk tidur bareng pemuda satu itu. Meski dulu kami pernah tidur bareng, tapi sekarang kan beda. Jantungku bisa-bisa over-working. Untungnya, Fuuto mau menerima alasanku meski ia pergi dengan muka manyun yang tampak sedikit lucu bagiku.

Ingat Fuuto, jadi ingat Yuusuke. Sejak kejadian pertengkaran dia dengan Fuuto, aku belum pernah bertemu lagi dengan Yuusuke. Kata Masaomi-san, Yuusuke sedang menginap di rumah temannya, tapi kok aku merasa dia sedang menghindariku ya? Apa aku ada salah? Kenapa dia semarah itu ketika aku jadian dengan Fuuto? Aku tau Fuuto bukan pemuda baik-baik di mata Yuusuke, tapi setidaknya Yuusuke seharusnya ikut berbahagia atas hubunganku dengan Fuuto, bukan malah ngambek gini. Huh, nyebelin.

Aku mendengus kesal, ketika menyadari kalau Yuusuke benar-benar seperti menjauh dariku. Argh, sebel, sebel, sebeeel.

"Aika-chan, kamu ngapain disini sendirian?"

"Ah, Tsubaki-san."

Tsubaki-san ikut menyenderkan tubuhnya di pagar atap di sampingku. "Kamu lagi mikirin siapa hayo?"

"Menurut Tsubaki-san?"

Tsubaki-san tampak berpikir. "Hmmm, Fuuto?"

"Yah, setengahnya sih," jawabku, jujur.

"Ah, Yuusuke ya? Atau Iori?" Tsubaki-san mendekatkan wajahnya padaku. "Atau aku?"

Aku melengos mendengar pertanyaan Tsubaki-san. "Tsubaki-san," panggilku, sambil tetap menatap pemandangan kelap-kelip lampu di kota.

"Ya?"

"Tsubaki-san sebenarnya nggak benar-benar suka sama aku kan?" tebakku.

Hening.

Karena penasaran, aku menoleh ke arah Tsubaki-san dan aku pun mendapati senyuman geli di wajah pria tampan berambut putih itu.

"Aku suka Aika-chan beneran loh!" seru Tsubaki-san.

"Tapi, tidak dalam konteks cinta kan?" lanjutku.

"Hmmm, iya sih. Aku lebih menganggapmu sebagai adik."

"Adik ya…"

"Kok Aika-chan bisa tahu? Biasanya cewek-cewek yang kukejar kayak gitu langsung klepek-klepek." Tsubaki-san nyengir.

"Aku nyadar aja. Tsubaki-san habisnya kayak lagi asik main ketika menggodaku."

"Oh, insting kamu ya?"

Aku mengidikkan bahuku. "Entahlah."

"Hmmm, kalau Iori gimana?" tanya Tsubaki-san, sambil melepas sweater berwarna krem yang dikenakannya.

"Iori-san? Menurutku, dia cukup tertarik padaku tapi belum sampai cinta. Iori-san melihatku seperti melihat sesuatu yang bisa membuat dia bahagia. Menurutku sih begitu."

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat diletakkan di pundakku. Aku pun menyadari kalau Tsubaki-san baru saja memberikan sweaternya padaku.

"Malam musim panas cukup dingin loh. Nanti kamu bisa masuk angin," ucap Tsubaki-san sambil tersenyum manis.

"Arigatou, Tsubaki-san."

"Wah, wah. Kalian romantis sekaliii…" seru sebuah suara, yang membuatku mendesah malas.

"Hikaru-san? Ngapain disini?" tanyaku, ogah. Aku lagi tak ingin bertemu pria ini. Dia pasti mau menggodaku.

"Aku ingin ketemu Aika-chan," jawab Hikaru-san sambil ikut menyenderkan tubuhnya di pagar di sisiku yang lain, yang berlawanan dengan Tsubaki-san.

"Oh. Mau interogasi nih ceritanya?" sindirku.

"Aika-chan memang tajam. Aku tadi sempat dengar pembicaraanmu dengan Tsubaki."

"Itu namanya nguping tau!"

Hikaru-san terkekeh. "Iya deh. Tadi aku nguping dan sekarang aku ingin melanjutkan pembicaraan itu."

Aku mengerutkan keningku. "Melanjutkan?"

"Tadi kan sudah tentang Tsubaki dan Iori. Bagaimana dengan Yuusuke?"

"Yuusuke? Dia sahabatku. Tak lebih dan tak kurang," jawabku, yakin.

Hikaru-san menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya tampak seperti kurang setuju dengan jawabanku.

Aku memonyongkan mulutku. "Kalau Hikaru-san mau bilang sesuatu, bilang aja."

Hikaru-san menggeleng. "Tidak. Aku baru saja menyadari betapa Aika-chan begitu punya banyak laki-laki yang dekat dengan Aika-chan. Dan hebatnya, Aika-chan tau bagaimana menempatkan mereka di sisi Aika-chan."

"Oh, maksud Hikaru-san, aku playgirl gitu?"

"Hampir tepat, tapi nggak tepat juga."

"Hm?"

Tsubaki-san tiba-tiba mengacak rambutku.

"Tsu-Tsubaki-san!" seruku.

"Hahaha! Coba Aika-chan bisa tinggal disini lebih lamaaa…" gumam Tsubaki-san, yang kini berganti mengelus-elus rambutku.

"Aku nggak bisa."

"Iya, iya. Aku tahu. Aika-chan masih kuliah kan?"

Aku tersenyum. "Tapi, aku nggak tahu kalau Tsubaki-san segitu pengennya aku tinggal disini."

"Tentu saja! Asal Aika-chan tahu! Sebelum Aika-chan datang, kami sebenarnya jarang berkumpul sesering dulu. Sejak… ehem, Ema memilih Subaru dan lebih sering ke tempat Subaru, yang lainnya jarang pulang. Si Fuuto ke Amerika, Iori jarang di rumah karena sibuk modeling, Natsume juga lebih suka menyendiri di apertemennya, dan Aniki melambay satu ini," Tsubaki-san menunjuk Hikaru-san sambil nyengir. Yang ditunjuk juga cuma ikut nyengir, "Hikaru-niisan makin sering ke luar negri. Yuusuke juga lebih sering di rumah temannya. Apalagi Masaomi-niisan juga sekarang sibuk sama pacarnya. Ukyo-niisan juga sibuk sama Tuan Putrinya. Wataru sekarang lagi gencar ngejar guru kesayangannya. Kaname-niisan sibuk kabur dari wanita menyeramkan yang mengejarnya. Azusa juga sibuk dengan kerjaannya. Huh. Aku kesepian loh…" jelas Tsubaki-san panjang lebar. Pria satu itu mengabsen satu-satu saudaranya.

Perkataan Tusbaki-san membuatku heran. Jadi, keramaian dan keceriaan yang kurasakan di Mansion ini sebenarnya tidak ada sebelum aku datang gitu? Masa sih?

"Aika-chan…" Hikaru-san merangkul pundakku. "Menurut Aika-chan, Iori gimana sekarang?"

"Sekarang, emmm, Iori-san nggak semenakutkan dulu. Kalau tiga tahun yang lalu, aku bisa merasakan aura gelap di sekeliling pemuda itu. Tapi sekarang, aura itu sudah jauh lebih berkurang," jawabku, sambil tersenyum senang. "Aku yakin ini berkat Ema-chan."

"Yah, memang benar salah satunya berkat Ema. Tapi, Aika-chan sadar nggak kalau Iori sekarang lebih cerewet? Ia benar-benar jadi cerewet ketika kamu datang loh."

"Cerewet?"

"Iya!" seru Hikaru-san. "Mulutnya itu tuh…"

"Oh. Aku tahu! Hihi. Iya sih. Aura gelapnya memang berkurang, tapi itu aura gelap kayaknya pindah ke mulut Iori-san. Mulut Iori-san sekarang pedas ngalahin wasabi!"

Tsubaki-san mengangguk setuju. "Iya tuh! Kamu apain sih, Aika-chan? Kaname-niisan sampai menangis haru diam-diam ketika menyadari perubahan default mulut Iori."

"Oh ya?"

"Beneran!" seru Tsubaki-san kelewat semangat.

"Wah, wah. Emmm, aku… Aku nggak ngapa-ngapain. Cuma, seperti yang kubilang tadi, aku hanya bisa merasakan kalau Iori-san hanya tampak nyaman jika di dekatku. Itu saja."

Tsubaki-san manggut-manggut.

"Nee, Aika-chan," panggil Hikaru-san.

"Apa?"

"Kamu beneran hanya menganggap Yuusuke sebagai sahabat?" tanya Hikaru-san dengan mimik yang begitu serius, membuatku mengerutkan kening.

"I-Iya. Memangnya kenapa?" tanyaku, pensaran. Kenapa Hikaru-san begitu terpaku dengan hubunganku dan Yuusuke?

Hikaru-san mengedikkan bahunya. "Aku hanya kurang yakin saja."

Aku menyipitkan mataku. "Kurang yakin? Dari sisi mananya? Jelas-jelas aku menganggap Yuusuke sebagai sahabatku dan Yuusuke juga pastinya menganggapku sebagai sahabatnya. Walau aku sedikit ragu sekarang, karena cunguk satu itu menghindariku terus."

"Aika-chan tau alasan Yuusuke menghindari Aika-chan?" tanya Hikaru-san.

Aku menggeleng. "Tidak. Hikaru-san tau?"

"Aku akan ngasih tau kalau Aika-chan mau ngasih tau aku sampai sejauh mana Aika-chan sama Fuuto."

"Maksudnya?"

"Ya. Misalnya, udah ciuman atau belum? Atau… lebih dari itu?"

Aku memonyongkan mulutku. "Aku bisa saja memberitahu Hikaru-san tapi aku nggak mau! Aku ogah minta bantuan sama orang kayak Hikaru-san."

Hikaru-san tertawa. "Loh? Memangnya kenapa?"

"Nggak mau aja."

"Yee. Nggak asik ah."

"Biarin."

"Yah, terserah Aika-chan deh. Tapi… Poor Yuusuke," gumam Hikaru-san.

'Kena-" aku menghentikan ucapanku. Aku nggak mau lagi bertanya mengenai Yuusuke ke Hikaru-san. Tapi, aku penasaran.

Hikaru-san terkekeh. "Aika-chan penasaran?"

Aku memonyongkan bibirku. "Nggak!"

"Yakin?"

"Yakin!"

"Beneran?"

"Iiih, Hikaru-san nyebelin!" seruku, sambil melipat tanganku di dada.

Hikaru-san dan Tsubaki-san menertawakan tingkahku. Ugh, dasar Asahina. Mereka emang bersaudara. Kalau udah nyebelin, bisa banget deh!

.

.

.

Aku terbangun oleh gedoran di pintu. Aku melirik jam di meja belajarku. Jam setengah dua belas malam. Yang benar saja. Aku baru tidur sekitar sejam nih. Siapa sih? Udah malam juga.

Aku turun dari kasur, masih setengah sadar, lalu berjalan dengan sedikit gontai ke arah pintu. Aku membuka kuncinya lalu menarik pintu kamarku. Mataku yang awalnya merem-melek langsung melotot mendapati seorang pemuda di depanku. Pemuda itu hanya mengenakan boxer, memperlihatkan badannya yang atletis dan membuatku hampir ngiler. Wajah pemuda itu tampak marah tapi juga lelah. Kayak orang stress.

"Fuuto?" seruku. "Ngapain kamu malem-malem datang kesini? Kamu nggak tidur?"

Tiba-tiba, Fuuto menarikku lalu menutup pintu kamarku. Tanpa berkata-kata, ia menarikku ke lift.

"Kamu kenapa sih?" seruku, nggak terima ditarik-tarik tanpa kejelesan.

Fuuto mengurutkan keningnya. "Aku nggak bisa tidur."

"Ha?"

Ting! –lift sampai di lantai tiga.

Setelah pintu terbuka, Fuuto kembali menarikku dan aku hanya bisa bengong sampai Fuuto membuka pintu kamarnya.

"Tu-Tunggu dulu! Kok kamu bawa aku ke kamarmu?" tanyaku, panik.

Fuuto tak menjawab. Ia kemudian malah melemparku ke kasurnya, lalu Fuuto sendiri membaringkan tubuhnya di sampingku.

"Fuu-Fuuto!" seruku, makin panik.

Tiba-tiba, Fuuto melingkarkan kedua tangannya ke tubuhku lalu menarikku ke dalam pelukannya. Kaki kami saling bertautan dan kedua tanganku dapat merasakan betapa bidangnya dada Fuuto.

"Fuuto?" gumamku, sambil berusaha menetralkan detak jantungku yang berpacu.

"Berisik. Aku mau tidur," jawab Fuuto, pedas. Setelahnya, aku dapat mendengar hembusan nafas Fuuto yang mulai melembut dan makin teratur. Dan aku pun yakin, Fuuto sudah jatuh tertidur.

Dia… tidur?

Aku menepuk-nepuk dada Fuuto yang bidang.

Fuuto? Panggilku dalam hati.

Yang ditepuk-tepuk malah makin mempererat pelukannya.

Duh, apaan sih ini?

Kenapa dia tiba-tiba membawaku ke kamarnya?

Dan kenapa dia langsung tidur gitu aja?

Ah. Bu-bukan maksudku kalau aku tidak ingin dia tidur dulu! Tapi…

Ya ampun!

Aku nggak bisa tidur iniii!

Jantungku! Jantungku nyaring banget ini!

Lepasin aku!

Ooooy!

Oooooooooy!

.

.

.

"Kok kamu ngambek sih?" tanya Fuuto ketika kami sedang berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi.

Aku tak menjawab dan hanya diam sampai kami akhirnya sampai di ruang makan.

"Wah, wah. Kalian berantem lagi?" tanya Masaomi-san. Pria itu sedang meletakkan piring-piring di atas meja makan.

Aku tersenyum lalu menyapa Masaomi-san. "Pagi, Masaomi-san!"

"Pagi, Aika-chan," balas Masaomi-san.

"Oy! Kok kamu mau ngomong sama Masaomi-niisan?" tanya Fuuto, tidak terima.

Aku memalingkan wajahku dari Fuuto.

"Kalian berantem apa lagi sih?" tanya Kaname-san sambil menarik salah satu kursi lalu duduk di kursi tersebut.

"Aika-chan…" Ukyo-san menatapku prihatin. "Kamu kok kayak capek gitu? Kurang tidur?"

"Ukyo-saaan!" teriakku lalu berlari memeluk Ukyo-san.

Ukyo-san langsung salah tingkah ketika kupeluk. "Ai-Aika-chan?"

"Ukyo-niisan. Jangan lupa sama Tuan Putri. Jangan main peluk cewek lain," goda Hikaru-san, yang baru sampai di ruang makan.

"Hi-Hikaru! Jangan asal bicara!" seru Ukyo-san, makin salah tingkah.

"Aika-chan kenapa?" tanya Masaomi-san, yang kini berdiri di samping Ukyo-san sambil mengelus-elus rambutku.

"Masaomi-san juga. Jangan lupa sama tunangannya," goda Hikaru-san.

"Hikaru cerewet deh! Jangan sirik. Nggak punya cewek sih," gumam Kaname-san, sambil tertawa meremehkan.

"Kaname-niisan juga sama kan?" ujar Hikaru-san sambil mengambil kursi di samping Kaname-san.

"Sst. Kalian ini. Kasian Aika-chan," tegur Masaomi-san.

"Nah, sekarang, katakan ada apa dengan kamu, Aika-chan?" tanya Ukyo-san.

Aku melonggarkan pelukanku di badan Ukyo-san sambil menguap.

"Aika-chan ngantuk?" tanya Masaomi-san.

"Iya. Gara-gara Fuuto, aku jadi nggak bisa tidur," jawabku, kesal. "Aku cuma bisa tidur empat jam aja tadi."

"Ka-Kamu diapain sama Fuuto?" tanya Ukyo-san, tampak salah tingkah, lagi.

"Tau tuh," jawabku, sekenanya.

Fuuto mendengus. "Kan aku udah bilang kalau aku nggak bisa tidur."

"Tapi, kenapa bawa-bawa aku? Aku bukan obat tidur."

"Memang bukan. Kamu guling."

"Ugh. Itu lebih parah dari obat tidur," desisku, kesal.

"Kalian cuman tidur, kan?" tanya Kaname-san, sedikit ambigu, membuat keningku berkerut.

"Iyalah. Memang apa lagi?" tanyaku.

"Nggak. Lupakan saja."

"Kaname-niisan jangan mesum deh," ujar Fuuto, dengan wajah kesal. "Dan jangan mikir aneh-aneh tentang Aika. Dia milikku. Hanya boleh aku yang mikir aneh-aneh."

Kaname-san terkikik geli. "Gomennasai, Fuuto. Dasar, cemburuan."

"Ck. Shut up."

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan absurd mereka.

"AIKA-CHAAAAN!" sebuah teriakan tiba-tiba menggema di ruang tengah dan ruang makan.

Aku spontan menoleh ke tangga dan mendapati Tsubaki-san sedang berlari menuruni tangga dengan wajah horor.

"Tsubaki-san. Awas ja-"

BUKKK! –tanpa bisa dicegah, Tsubaki-san jatuh dari tangga karena kepelset di anak tangga terakhir.

Aku langsung lari ke Tsubaki-san yang sedang merintih kesakitan di lantai dekat tangga.

"Aduh, Tsubaki-san. Jangan kayak anak kecil deh," ujarku sambil membantu Tsubaki-san berdiri.

Tsubaki-san mengerang kesakitan sambil memegang pantatnya.

"Ngapain kamu lari-lari gitu, Tsubaki?" tanya Ukyo-san, sambil ikut membantu Tsubaki-san berdiri.

"Li-Lihat majalah ini," pinta Tsubaki-san, diselingi rintih kesakitan.

Ukyo-san mengambil majalah yang dibawa Tsubaki-san dan detik berikutnya, pria berkacamata itu memekik kaget. Kaname-san yang juga melihat langsung mengurut jidatnya. Kedua pria itu kini melirikku dengan tatapan yang membuatku gerah.

"Apaan sih?" tanyaku, sambil menyodorkan tanganku, meminta majalah itu.

Ukyo-san memberikan majalahnya padaku. Fuuto juga ikut membaca di sampingku.

-IORI DAN FUUTO DIDUAKAN OLEH GADIS MISTERIUS

Aku mangap ketika membaca judul headline news yang ada di girl weekly magazine itu. Dengan cepat, aku membuka halaman berita utama di majalah itu dan langsung membaca cepat artikel yang membuat kerongkonganku gatal.

Ada berita aku jadi partner modelling bareng Iori-san karena back-up orang penting. Juga, ada berita aku yang mantan manager Fuuto. Di artikel tersebut, juga dicantumkan pula foto-foto aku dengan iori-san yang lagi masuk ke taksi juga foto-foto aku dengan Fuuto yang lagi kencan bahkan ada pula foto ciuman. Ya ampun!

Setelah membaca, aku langsung menghela nafas panjang.

"Belum sebulan aku di Jepang, aku udah jadi headline news? Yang benar saja. Papa bisa jumpalitan kalau baca ini."

"Apa-apaan ini artikel. Siapa yang-" Fuuto terdiam seketika.

"Kamu kenal siapa yang menulis artikel ini?" tanyaku.

Fuuto mengangguk. "Matsunaga Akizane. Pria menyebalkan yang sekarang lagi hobi nyari skandal Fortte."

"Ini kurang ajar. Berita kayak gini seharusnya izin dulu dengan Agensi. Kalau agensi nggak merespon baik, baru artikel kayak gini keluar," ujarku, sambil geleng-geleng kepala. "Kamu nggak dapat kabar apa pun?"

Fuuto menggaruk-garuk kepalanya. "Tunggu sebentar. Sejak kemarin, aku belum menyalakan ponselku."

Aku menepuk jidatku. "Ya ampun. Cepat nyalain sana!"

"Iya, iya. Sabar."

Matsunaga Akizane. Pria ini tidak kenal aku, sepertinya. Kasihan sekali pria ini. Kalau dia tidak cepat-cepat memperbaiki namaku, aku nggak tahu apa yang bakal teman-temanku lakukan padanya.

Poor him.

Well, everything will be fine.

And, I don't even have to dirt my hands.

Nice.

.

.

.

Udara dingin dari air conditioner di lobby James Entertainment dimana Fuuto bekerja langsung membuatku menggigil. Aku menoleh ke pemuda di sampingku. Fuuto tampak terlihat tidak bersemangat. Wajahnya kecut melebihi jeruk nipis dan aku tahu kenapa.

Dia nggak mau ketemu anggota Fortte.

Aku menghela nafas panjang.

Ada apa sih dengan boy group satu itu?

Aku dan Fuuto diminta untuk datang ke agensi. Mereka panik dengan berita dadakan ini. Matsunaga Akizane memang terkenal dengan beritanya yang spektakuler dan pria itu sendiri bahkan udah kayak artis. Banyak penggemarnya juga kenalan disana-sini. Bahkan, yang kudengar, CEO James Entertainment sendiri yang memperbolehkan berita ini bocor.

Duh. Ada apa sih dengan agensi ini?

Kami naik lift dan berjalan beberapa menit, dan selama itu pula, semua orang, garis bawahi itu, semua orang memperhatikan kami. Aku dan Fuuto pun akhirnya sampai di Meeting Room.

Aku bisa mendengar beberapa orang menahan nafas ketika kami datang.

"Ooh! Ini dia pasangan emas kita sudah datang!" seru seorang wanita yang tampak begitu anggun dan percaya diri. Rambutnya berwarna perah dan digelungkan ke sebelah kanannya. Wajahnya tersenyum penuh arti.

Aku yakini, dialah CEO James Entertainment.

Aku membungkukkan badanku sekilas. "Salam kenal. Nama saya Haruno Aika, pacar Fuuto. Maaf atas keributan yang telah kami timbulkan."

Wanita perak itu tersenyum lebar. "Gadis yang sopan sekali. Beda sekali dengan Fuuto."

"Memang beda," seru Fuuto, masih memalingkan mukanya dari orang-orang yang menatapnya.

Wanita itu menepukkan tangannya, sambil beseru. "Ayo kita mulai rapatnya. Silahkan-"

"AAAAAHH!" Tiba-tiba, sebuah teriakan menggema di ruangan.

Aku mencari sumber teriakan dan langsung terkejut mendapati seorang pemuda berambut ikal hitam.

Uh oh. Jangan-jangan…

Pemuda itu menunjukku dengan wajah kaget luar biasa. "KAMU KAN CEWEK GILA WAKTU ITU!"

Argh. Mati aku.

.

4959 words.

September 21th 2014.

.

To be continued…

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

Konbanwa!

Maaf ya, kalau ceritanya makin aneh gini. Saya syok pas nemu kalau ada spin-off Brother Conflict, yaitu Fortissimo. Plot yang awalnya saya udah rancang, eh, ada pengetahuan baru, sayanya jadi bimbang. /nangisdipojokan

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengikuti plot Fortissimo dan, yah, hanya mengambil tokoh-tokohnya saja. Saya memang dari awal mau ada kemunculan dari salah satu grup Fortte karena di BroCon season dua, ada hint-nya. Eh, ga nyangka bakal dibuat ceritanya sendiri. Shocking.

Ceritanya memang makin panas, tapi ga nyampe rate-M sih. Nah, disini udah jelas kan, ngerebutin Aika-nya gimana. Saya rada gimana gitu, kalau banyak banget yang suka Aika. Kasian Aikanya. Hehe. Lagian, dia udah punya Fuuto.

Untuk Tomoyo, wow, you can see my head, don't you, BlackLapiz-san?

Well, it's true. Saya mengambil desain characternya dari Shiina Mashiro. I love her so much. But, Tomoyo is... emm, we will see that later.

Btw, thank you so much for everyone who has PM, follow, fave and review! Muach!

And welcome for new reviewer!

This fic is still goes on, so stay tune! #bow