.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.

.

I just own the story and few OCs.

I mean, many OCs. #teehee

Happy reading! XD

.

Chapter 15

Bad Moves

Waktu itu hanyalah permainan biasa. Waktu itu hanyalah keisengan aku dan Fuuto belaka. Waktu itu, aku yakin aku takkan bertemu dengan pemuda berambut hitam ikal ini. Jadi, ketika sore ini aku bertemu dengan pemuda itu, aku hanya bisa mengumpat dalam hati betapa tidak beruntungnya diriku.

Habisnya, pemuda itu pasti mengira aku gila!

Oh God.

Well, Fuuto juga awalnya memanggil aku cewek gila, tapi, rasanya beda.

Tiba-tiba, aku merasakan dekapan tangan Fuuto di lingkar pinggangku.

"Eiichiro! Kenapa bisa kamu kenal dengan cewekku?" seru Fuuto, tentunya, dengan wajah yang sudah penuh akan cemburu. Duuuh.

Pemuda yang ternyata bernama Akaboshi Eiichiro itu mengerutkan keningnya. "Ha? Ini cewek kamu, Fuuto? Cewek gila ini?" seru Eiichiro, tampak seperti sedang melihat hewan langka.

"Dia emang gila! Tapi hanya aku yang boleh manggil dia gila!" balas Fuuto.

Wajah Eiichiro makin kusut. Aku yakin otak dia lagi koslet gara-gara jawaban absurd Fuuto.

"Wah! Eiichiro-kun kenal cewek Fuuto?" seru wanita perak, yang merupakan Direktur James Entertainment.

Eiichiro mengangguk, ragu-ragu.

Aku menghela nafas panjang. "Aku nggak gila. Itu ada alasannya," ucapku, membela diri.

Sontak semua orang yang tadi memperhatikan Eiichiro dan Fuuto, kini menoleh ke arahku.

"Alasan? Cewek gila yang menuduhku menghamilinya nggak butuh alasan untuk jadi gila," ujar Eiichiro, kesal. Wah, pemuda ini sepertinya masih kesal karena kejadian waktu itu.

Aku terkekeh. "Untuk yang waktu itu, aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau kamu orang terkenal. Aku hanya melakukan hukumanku karena kalah taruhan."

"Kalah taruhan? Ya ampun! Jangan bilang sama Fuuto!" seru Eiichiro, sambil menepuk jidatnya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kalian ini pacaran kan?" tanya Eiichiro, bergantian memandangku dan Fuuto.

Fuuto tak mengubris. Sepertinya ia mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Pacarku itu hanya melirikku lalu tersenyum geli.

"Sepertinya aktingmu hebat banget sampai Eiichiro percaya begitu saja kalau kamu gila," bisik Fuuto, sambil nyengir kuda. Iih, wajah Fuuto nyebelin.

"Sudah, sudah. Ayo kita mulai meeting-nya. Ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan," seru wanita perak yang ternyata ber-name tag Lily Natsukise.

Hampir semua orang duduk di kursi dengan meja yang melingkar. Aku duduk di samping Fuuto. Tapi, aku kaget ketika mendapati Eiichiro mengambil kursi di sampingku. Mata kami sempat bertemu, tapi sedetik kemudian, Eiichiro langsung memalingkan muka.

Dih, aneh.

Rapat pun dimulai dengan penjelasan mengenai artikel dimana aku dan Fuuto juga Iori-san jadi aktor utama. Setelahnya, Natsukise-san juga menjelaskan mengapa wanita cantik itu memperbolehkan artikel itu keluar. Alasannya simpel. Ia ingin Fuuto dan Fortte menjadi main topic lagi. Ia ingin Fuuto dan Fortte untuk jadi lebih terkenal lagi. Meski caranya sedikit unik, katanya.

Aku geleng-geleng kepala. Wanita perak itu sepertinya wanita yang punya sifat berkuasa dan aneh.

Setelahnya, suasana semakin memanas. Ada yang menyalahkan Fuuto, ada yang menyalahkan aku, pokoknya, heboh. Fuuto langsung naik pitam ketika aku dijelek-jelekkan. Aku terenyuh. Aku sempat melirik Eiichiro sesekali, heran kenapa anggota Fortte hanya dia yang datang, selain Fuuto.

Aku sebenarnya bisa kasih solusi, tapi masalahnya solusi ini akan menunjukkan seberapa besar jaringan yang kupunya dan aku nggak pengen orang-orang di agensi ini tau. Aku yakin ada cara lain.

Ditengah-tengah kericuhan yang memang aku sengaja tidak menghentikannya, tiba-tiba, ketika aku melirik Eiichiro lagi, yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba ia bersuara.

"Kenapa liat-liat? Kamu mau buat aku jadi lelaki ketiga kamu?" serunya, pedas.

Pfft.

Aku langsung menutup mulutku. "Hihihi, jangan kepedean gitu! Aku cuma sayang Fuuto doank. Ih, geer."

Wajah Eiichiro mengecut. "Huh. Aku nggak percaya. Cewek gila kayak kamu pasti punya banyak simpanan kan?"

Aku mendengus. "Kamu jangan sok tau deh. Lagian, kalau kamu cuma bisa bicara nggak penting gitu, mending nggak usah ngomong dan nggak usah peduli sama aku."

"Kamu itu sudah bikin aku malu tau! Kamu harus tanggung jawab!"

"Ha? Tanggung jawab apa? Kalau mau minta kayak gituan, tuh, sama Fuuto aja. Kan dia yang nyuruh."

"Yang menunjuk orang yang jadi korban siapa?"

"Ugh. Aku?"

"Tuh kan."

"Yeee, kamu cuma nggak beruntung aja. Nggak usah diambil hati deh."

"Nggak bisa!"

Aku menghela nafas. "Terserah deh."

"Hei!" desis Eiichiro, nggak terima.

"Kalian ngobrolin apa sih?" seru Fuuto, tiba-tiba, sambil menatap aku dan Eiichiro.

"Dia minta aku tanggung jawab. Aneh deh."

"Aku cuma-"

"-aku yang menyuruh Usagi. Kamu nggak usah sok penting," potong Fuuto.

"Fuuto~," geram Eiichiro.

"Hei, hei, kalian yang disana! Jangan bikin forum dalam forum!" seru Natsukise-san.

"Maaf, Natsukise-san," ucapku, sambil menundukkan kepala.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dengan suara yang cukup membuat beberapa orang menolehkan kepala, aku salah satunya. Aku pun melihat seorang pria dengan setelan kemaja yang rapi dengan wajah yang nggak kalah tampan dengan aktor-aktor papan atas. Wajahnya teduh dan tegas. Bibirku sontak melebar dan aku pun melambaikan tanganku.

"Sota-san!" sapaku, yang bodohnya, membuat beberapa orang mengernyit antara heran atau jijik. Wah, kayaknya mereka mulai percaya kalau aku gadis gatel. Padahal, aku kenal Sota-san karena aku sempat jadi manager pengganti untuk Fuuto.

Sota-san langsung tersenyum sambil membalas lambaianku. Setelahnya, pria tampan dengan rambut abu-abu itu menundukkan badannya. "Maaf, saya terlambat."

"Tidak apa-apa. Silahkan duduk." Natsukise-san tersenyum maklum.

Sota-san pun duduk tak jauh dariku.

Rapat pun kembali dilanjutkan, diisi dengan apa hubunganku yang sebenarnya dengan model bernama Iori ini. Aku mulai sadar kalau banyak yang tidak tau kalau Fuuto dan Iori-san itu bersaudara.

Aku menggeram gemas. Situasinya cukup bikin aku pengen mukul ini meja kuat-kuat.

Natsukise-san tiba-tiba menoleh ke arahku. "Bagaimana kalau kita tanya saja sama pacarnya Fuuto. Kamu bahkan belum memperkenalkan diri, Usagi-san."

"Baiklah. Tapi, nama saya bukan Usagi."

"Eh? Tapi, tadi Fuuto…"

"Nggak tau tuh, si Fuuto aneh."

Fuuto yang duduk disampingku hanya memalingkan mukanya. Aih, ini anak nggak semangat banget buat rapat.

Aku berdehem. "Nama saya Haruno Aika. Saya baru-baru ini pacar Asakura Fuuto. Dan untuk Iori-san, kami hanya teman saja."

"Bohooong!" seru seseorang. "Kok kalian bisa pulang bareng? Di foto, ada yang kalian masuk ke taksi yang sama."

"Ah, itu. Rumah kami searah," jawabku.

"Kamu tau nggak sih, gara-gara artikel ini, nama Fuuto jadi tercemar? Nama Fortte juga bakal dikait-kaitkan!" seru seseorang yang lain, lagi. Anehnya, keduanya adalah seorang wanita dengan wajah menor yang sedikit membuat aku bergidik.

"Saya tahu, dan saya mohon maaf atas keteledoran saya."

"Alah, emang maaf bisa menyelesaikan ini semua?" seru seorang wanita yang lain.

"DIAM!" teriak Fuuto, tiba-tiba. "Usagi nggak pantas untuk disalahkan. Ini semua salahku karena membiarkan pria lain mendekati dia yang kebetulan juga sorang model. Cewek ini emang playgirl tapi dia nggak serendah itu!"

"Oy, siapa yang playgirl?" desisku, nggak terima.

"Itu kenalan kamu yang hampir delapan puluh persen laki-laki apaan?"

"Yee, mana kutahu. Dan mereka cuma teman tau."

"Teman, teman dekat, sahabat juga mantan pacar. Apanya yang cuma teman. Kamu sih, tebar pesona!"

"Ha? Siapa yang tebar pesona?"

"Memangnya aku nggak sadar kalau sekarang bahkan di keluargaku sendiri, aku punya saingan?"

"Ya ampun! Siapa? Mereka cuma main-main! Mereka lagi menggoda kamu!"

"Dan juga menggodamu."

Aku mendecak kesal. "Ya ampun!"

"Ehem!"

Aku langsung menoleh ke sumber suara. "Ah, Sota-san."

"Kalian kalau mau bertengkar jangan disini. Banyak penontonnya," jelas Sota-san sambil tersenyum geli. "Dan kamu Fuuto, kamu jangan cemburuan gitu. Haruno-san kan memang terkenal karena kebaikan dan kecantikannya. Mau diapakan lagi?"

"Ck." Fuuto menyenderkan badannya di punggung kursi. "Aku nggak peduli dengan nama baikku. Aku yakin perlahan-lahan orang juga tahu seperti apa Usagi itu. Lagian, kalian jangan merendahkan kemampuan Usagi dalam hal seperti ini kalau kalian nggak mau mampus."

Setelah berkata seperti itu, ruangan menjadi hening, tak ada yang berani bicara. Aku sedikit kagum dengan kemampuan Fuuto menguasai ruangan. Keadaan terus hening sampai Sota-san angkat bicara.

"Saya bisa menjadi saksi kalau Haruno-san hanya berteman dengan Iori."

"Tolong bisa diperjelas?" seru salah satu wanita yang tadi menjelek-jelekkan aku. "Saya bisa liat kalau cewek ini cewek nggak baik-baik."

Entah kenapa, aku bisa merasakan perubahan aura di diri Sota-san.

"Sebaiknya anda jangan berbicara asal," seru Sota-san dengan nada dingin yang aku nggak nyangka itu bisa dilakukan oleh Sota-san yang keibuan. "Haruno-san adalah perempuan terpandang yang merupakan lulusan terbaik se-Jepang dua tahun lalu dan sekarang lagi kuliah di Inggris. Saya yakin dia gadis baik-baik."

Beberapa orang sempat menganga ketika mendengar biodataku.

"Huh. Cewek berpendidikan seperti itu pasti menggunakan kemampuannya itu buat dapetin banyak cowok. Nggak bisa dipercaya!" seru wanita lain.

"Betul, betul. Cewek ini harus tanggung jawab atas artikel ini! Bahkan, kalau perlu, putus dari Fuuto-kun!" seru wanita yang lain.

Seruan-seruan persetujuan dan caci-maki mulai bermunculan setelahnya. Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan. Aku mulai memikirkan apa yang terjadi dan- ting!, oh, aku mengerti situasi apa yang sedang terjadi disini.

Dan tanpa bisa kutahan, aku sontak tertawa tanpa sempat menutup mulutku. Ruangan langsung hening karena ledakan tawaku yang tak terduga. Aku terus tertawa. Aku bisa melihat tampang cengo orang-orang yang ada di dalam ruangan.

"Kamu beneran gila!" seru Eiichiro, sambil menatapku, heran.

Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan. Aku melirik Fuuto yang juga ternyata sedang menatapku dengan tatapan bertanya dan ingin tahu. Aih, kayak puppy deh! Imutnya!

Aika! Fokus!

Ehem.

"Maaf, saya tiba-tiba tertawa seperti itu," ucapku, sambil menenangkan diriku.

"Haruno-chan, tolong jelaskan, kenapa kamu tertawa seperti itu," pinta Natsukise-san.

"Oke! Pertama-tama, saya mau mangatakan kalau saya memang dulunya pernah pacaran dengan banyak laki-laki dan semuanya berakhir dengan cara baik-baik karena mereka tahu saya tidak mencintai mereka."

Beberapa orang terkejut.

"Kamu pacaran tanpa cinta?" seru seorang wanita, tampak senang karena menemukan kejelekanku. "Tuh kan, kamu benar-benar cewek brengsek."

Fuuto tiba-tiba berdiri, tapi aku cepat-cepat menahan Fuuto.

"Tunggu Fuuto! Biar aku yang menyelesaikan ini."

Fuuto dengan ogah-ogahan kembali duduk di kursinya.

"Saya memang tidak mencintai mereka karena memang sejak awal saya menerima mereka dengan peringatan kalau saya tidak mencintai mereka. Mereka setuju saja karena mereka yakin saya bakal jatuh cinta dengan mereka. Saya sendiri berharap saya bisa mencintai salah satu dari mereka. Namun, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Kejadian itu terus berulang hingga saya bertemu dengan Fuuto, lagi. Dan saya kembali merasakan getar itu. Getaran yang sama seperti waktu saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun yang lalu.

Awalnya, saya hanya menganggap kalau perasaan saya hanya sebatas suka. Saya hanya seorang penggemar gila yang menyukai idola kesayangannya. Tapi, semuanya berubah. Suatu hari, saya dikejutkan oleh kepribadian Fuuto dan kata-kata kejam Fuuto atas karya saya. Sejak itu, saya membenci Fuuto. Saya mengutuk Fuuto. Saya bahkan menjadi anti-fan, dengan tujuan agar Fuuto merasakan sakit sebesar rasa sakit yang saya dapat karena pemuda sialan itu. Tapi, cinta memang tidak bisa dimunafikkan. Saya sadar, saya tidak membenci Fuuto. Saya mencintainya. Rasa benci itu hanyalah pelarian atau obat atas sakit hati yang saya rasakan. Saya sakit hati, karena Fuuto tak bisa menerima karya yang merupakan bagian dari diri saya.

Dan ketika saya menyadari perasaan saya, saya tak mau munafik lagi. Saya yakin, saya takkan lagi bisa bertemu rasa cinta yang seperti ini pada kehidupan yang sama. Oleh karena itu, saya mulai mengejar Fuuto. Awalnya Fuuto menolak saya tapi saya tidak bisa melupakan perasaan saya. Saya terus berharap dan suatu hari, keajaiban itu datang. Saya bahagia. Saya… sungguh… bahagia."

Tanpa diduga, air mata menetes. Aduduh. Suasana ini bikin pengen nangis aja. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Aku menyapu tetesan air mataku.

"Jadi, saya memang perempuan dengan rekor pacaran yang sedikit mengerikan, tapi saya bisa bilang kalau satu-satunya laki-laki yang saya cintai hanyalah Fuuto seorang. Hanya Fuuto, dan saya berharap, seterusnya, selamanya, hanya Fuuto yang ada di hati saya dan di sisi saya sampai saya meninggalkan kehidupan ini."

Aku melirik Fuuto. Pemuda itu ternyata juga sedang menatapku dengan tatapan yang begitu lembut, menyihir seluruh sel-sel di tubuhku. Untuk sesaat, rasanya, aku hanya bisa melihat Fuuto. Tapi, aku kembali teringat kalau aku tidak hanya sedang berdua dengan Fuuto. Aku kembali menyapukan tatapanku ke penjuru ruangan.

"Saya sungguh mohon maaf atas kekacauan ini. Saya tak tau kalau hal ini bisa merusak kinerja anda semua. Saya awalnya menganggap kejadian ini hanya sekedar permainan seorang wartawan yang terlalu percaya hanya kepada matanya saja, bukan kepada kenyataan. Dan saya yakin, kekacauan ini takkan berlangsung lama."

"Tidak berlangsung lama, kamu bilang?" ucap wanita yang sedari tadi memojokkanku. "Berita kayak gini bisa berminggu-minggu. Menurutmu, kami akan baik-baik saja dan bisa tahan dengan tekanan itu?"

"Saya bisa memastikan kalau tidak sampai seminggu, artikel itu akan diperbaiki oleh editor itu sendiri," balasku, tenang.

Wanita itu mendecih. "Kamu nggak usah sok kuat! Cewek kuliahan kayak kamu emang bisa apa? Ini dunia entertainment! Kamu nggak bisa seenaknya memainkan lajur berita di dunia ini!"

"Saya tidak bisa apa-apa, tapi saya yakin semuanya akan baik-baik saja."

"Sudah saya bilang, kamu jangan ngibul!" bentak wanita itu, terlihat makin naik pitam.

Tiba-tiba, suara bisikan tawa terdengar. Aku menemukan Sota-san sedang menahan tawa.

"Maaf. Saya hanya merasa lucu saja," ucap Sota-san, sambil berusaha menahan tawanya.

"Apanya yang lucu?" seru wanita itu, geram. "Ini bukan sesuatu yang bisa ditertawakan!"

"Sayangnya, Haruno-san bukan perempuan biasa." Sota-san tersenyum penuh arti.

"Memangnya cewek ini siapa?!" seru wanita itu.

"Anda bisa berhenti nggak sih?" Sebuah nada yang terdengar dingin, terucap dari mulut Eiichiro.

Aku melirik pemuda ikal yang ada di sampingku. Pemuda itu menatap wanita yang sedari tadi memojokkanku dengan tatapan jijik.

"Ka-Kamu kenapa bicara seperti itu Eiichiro-kun? Kamu sendiri bilang kalau cewek ini gila, kan?" bela wanita itu, kepada dirinya sendiri. Wajah wanita itu memucat.

"Menurut saya, lebih baik cewek gila daripada wanita ular seperti anda," jelas Eiichiro, tanpa sensor.

Aku menganga.

Wajah wanita itu panik. "Ke-Kenapa kamu membela cewek gatel itu?"

"Anda- bukan, kalian yang tadi memojokkan cewek gila ini cuma cemburu kan? Cewek gila ini adalah pacar Fuuto dan kalian tidak bisa menerima itu. Benar, bukan?"

Sontak, wanita-wanita yang tadi menjelek-jelekkan aku wajah-wajahnya benar-benar hampir bikin aku ketawa gila. Dugaanku benar ternyata.

Mereka iri sama aku.

Ya ampun.

"Nggak kok! Saya cuma nggak terima kalau Fuuto dan Fortte dijelek-jelekkan karena cewek ini!"

Eiichiro geleng-geleng kepala. "Kalian baca judul artikelnya nggak sih? Judulnya jelas-jelas lebih menjelek-jelekkan cewek gila ini dibanding Fuuto atau Iori. Malah Fuuto dan Iori terlihat seperti korban cinta."

Pfft. Korban cinta? Fuuto?

Oh, no! Ini lucu banget!

Aku mendengar geraman kesal dari arah Fuuto. Wah, tampaknya Fuuto tidak terima dibilang korban cinta. Hihi.

"Hah? Apanya-"

Suara wanita itu terpotong oleh seruan Natsukise-san.

"Sudah cukup! Saya sengaja tadi membiarkan kalian berbicara seenaknya. Tapi, kamu!" tunjuk Natsukise-san pada wanita itu, sambil melirik wanita-wanita yang lain. "Saya nggak butuh pekerja yang egois seperti kalian. Kalau kalian nggak berubah, saya nggak akan menolerir kejadian seperti ini lagi."

"Tapi-"

"Nggak ada tapi-tapian! Titik! Kalau Haruno-san yakin berita ini akan membaik dalam seminggu, kita tunggu saja. Saya yakin Haruno-san akan bertanggung jawab. Iya kan, Haruno-san?" tanya Natsukise-san, dengan senyuman yang aku sadari kalau senyuman itu adalah senyuman senang karena aku yang akan bertanggung jawab penuh. Argh. Dasar.

"Maaf, saya tidak bisa bertanggung jawab," ucapku, kalem.

Wajah Natsukise-san berubah. "Maksudmu?"

"Yang akan mengubah situasi bukanlah saya. Jadi, biar kita serahkan tanggung jawab kasus ini pada editor dan orang-orang yang akan merubah berita ini," jelasku, sedikit ambigu, dengan sengaja.

"Siapa orang-orang itu?" tanya Natsukise-san, tampak penasaran juga tertarik. Ada kilau ketertarikan di kedua matanya.

Baru aku mau jawab, Sota-san sudah menjawabkan untukku.

"Orang-orang yang tidak menerima kalau Haruno-san dijelek-jelekkan."

"Huh. Paling cuma sekumpulan korban-korban cinta cewek ini," ucap wanita itu, masih tak mau kalah.

Aku terkekeh geli. Ada-ada aja sih wanita-wanita pencemburu ini.

Aku melirik Fuuto dan langsung rasanya pengen nabok itu idola gara-gara ternyata… Fuuto sudah jatuh tertidur. Damn it.

"Fuuto!" seruku, tak habis pikir, sambil mengguncang tubuh pacarku itu.

Fuuto menggeram kesal. Kedua matanya terbuka perlahan, yang menurutku, terlihat sangatlah seksi. "Aku ngantuk. Kalian udah selesai?"

Aku menepuk jidatku.

Dasar Fuuto.

.

.

.

Malam yang sepi. Fuuto tidak pulang bersamaku setelah rapat tadi. Ada urusan katanya. Aku hanya bisa mangut-mangut dan pulang diantar Sota-san. Namun, aku tak menyangka akan ada kejutan lagi hari ini.

Aku menatap layar ponselku, merasa sedikit tak nyaman dengan email dari seseorang yang menghilang akhir-akhir ini. Aku menjatuhkan badanku ke sofa merah yang ada di ruang keluarga di lantai 5. Aku terus menatap email yang berisi sebuah acara dengan waktu dan tempat dimana aku harus hadir atas permintaan Yuusuke. Aku sih senang karena akhirnya aku bisa bertemu Yuusuke lagi dan tentu saja karena akhirnya Yuusuke menghubungiku setelah sekian lama jadi alien di dunia entah dimana. Tapi!

Kenapa Yuusuke ingin aku hadir sebagai pasangan dia?

Dan ini adalah acara pernikahan temannya yang notabenenya seharusnya Yuusuke datang sama kekasihnya, bukan sahabatnya. Bagaimana kalau nanti ada kesalah pahaman dan itu sampai terdengar oleh Fuuto? Mereka kan kayak kucing dan anjing. Bisa berabe.

"Muka Aika-chan kok kusut gitu?" tanya sebuah suara yang juga menghempaskan badannya di sofa merah tak jauh dariku.

Aku menoleh dan tersenyum mendapati Kaname-san yang terlihat tampan meski wajahnya juga terlihat lelah setelah bekerja.

"Mau aku bikinin minuman?" tawarku.

Kaname-san tersenyum senang. "Thank you!"

Aku langsung menaruh ponselku di saku celana hotpantsku lalu menuju dapur. Tanpa diduga, ketika aku sampai di dapur, seseorang juga turun dari lantai atas.

"Aika-chan! Gimana tadi sore? Kamu baik-baik saja?" tanya Hikaru-san. Pria itu kini terlihat begitu cantik dengan dress merah dan wig merah yang entah kenapa, menurutku begitu cocok dikenakan Hikaru-san. "Kok bengong? Terpesona sama aku ya?"

Aku memonyongkan mulutku. Aku melanjutkan aktifitas membuat es teh a La Aika. "Darimana? Atau, mau kemana?"

"Mau ada urusan penting. Nggak lama, kok. Jadi kamu nggak usah ngangenin aku."

Aku memeletkan lidahku. "Siapa yang bakal kangen? Huh."

Hikaru-san tertawa senang. "Terus?"

Aku mengernyit. "Terus apa?"

"Itu, rapat di agensi Fuuto gimana? Kamu nggak di-bully kan?" tanya Hikaru-san sambil membantuku menyiapkan beberapa gelas untuk diisi teh yang baru saja kubuat.

Aku tersenyum ketika kembali mengingat kehebohan tadi sore.

"Aku baik-baik saja," jawabku, kalem.

Aku bisa mendengar kekehan Hikaru-san. "Sudah kuduga," gumam Hikaru-san.

"Hikaru-san tolong bawain gelas-gelas itu ke ruang keluarga ya? Aku mau ambil puding di kulkas."

"Oke! Aku juga mau pudingnya ya?"

"Iya, iya."

"Asik!" seru Hikaru-san, tampak seperti anak-anak dapat mainan.

Aku tertawa geli. Hikaru-san bisa manis juga ternyata.

.

.

.

Aku melap mukaku dengan handuk setelah selesai mencuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. setelah yakin wajahku sudah kering, aku meletakkan handukku dan meraih ponselku. Aku geleng-geleng kepala ketika menemukan sekitar lima ribu email di inbox-ku. Aku menghela nafas panjang. Malas sekali aku kalau harus membalas satu-satu email ini.

Tok tok tok! – suara pintu diketuk terdengar.

Aku langsung melangkah menuju pintu dan membukanya.

"Fuuto? Kamu sudah pulang?" Aku melirik jam di ponselku. Jam satu malam. "Larut sekali. Darimana?"

Fuuto tidak menjawab. Ia malah mendorongku kembali masuk ke kamarku.

"Eh? Fuu-Fuuto?" Aku panik.

Blam! –Fuuto menutup pintu kamarku.

"Fuuto? –Hmph!"

Tiba-tiba Fuuto mencium bibirku. Awalnya sedikit kasar tapi lama-kelamaan menjadi lembut, membuat dadaku bergetar oleh rasa yang begitu memabukkan. Fuuto merengkuh tubuhku dalam pelukan kedua tangannya yang kini jauh lebih kekar dibanding tiga tahun yang lalu. Aku bisa merasakan panasnya tubuh Fuuto, yang membuat badanku terasa ikut panas oleh suasana yang begitu membuat kakiku lemas. Aku langsung memeluk leher Fuuto. Memelintirkan jari-jemariku di rambut coklat Fuuto. Berusaha mempertahankan kesadaranku yang hampir hilang oleh nafsu.

Aku begitu menikmatinya sampai Fuuto tiba-tiba melepas ciuman kami dengan lembut.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menyapu bibirku yang basah. "Dasar idola mesum!"

Fuuto nyengir. "Kamu juga mesum."

Aku memonyongkan mulutku. "Huh."

"Usagi," panggil Fuuto dengan lembut.

"Hm?"

"Besok kita kencan, oke?"

Badanku sontak menegang. Aku teringat jika besok aku harus bertemu Yuusuke.

Aku menggeleng pelan. "Maaf. Besok aku nggak bisa. Ada janji."

Wajah Fuuto yang awalnya terlihat ceria kini sedikit mendung. "Kalau malamnya?"

Aku terdiam sesaat lalu mengangguk. "Oke."

Fuuto memalingkan tatapan matanya dengan malu-malu. "Besok pakai baju yang bagus ya. Kalau perlu pakai dress. Kita akan ke acara yang penting."

"Kencan atau menghadiri acara sih?" seruku, heran.

"Dua-duanya," jawab Fuuto kalem.

"Hmmmm. Begitu," gumamku, sedikit kecewa.

"Besok ya? Awas lupa."

"Iya, iya."

Fuuto tiba-tiba mencium keningku dengan lembut. "Oyasumi, Ai."

Deg,

He said 'Ai', right?

Mataku membulat. Mulutku mangap. Wajahku kupastikan sudah melongo.

Fuuto terkekeh lalu dengan santai membuka pintu kamarku. Sebelum menutup pintu, Fuuto mengerling, membuat tubuhku merinding.

Blam! –pintu pun tertutup diiringi tubuhku yang jatuh ke lantai.

Aku memegang keningku yang tadi dicium Fuuto. Tanganku bergetar. Wajahku panas. Dadaku dipenuhi oleh detakan yang berpacu.

Aku biasa berciuman di bibir, tapi… ciuman di kening tadi begitu terasa romantis hingga badanku lemas seketika.

Ya Tuhan, Fuuto kenapa tiba-tiba jadi romantis gitu sih?

Aku nggak mimpi, kan?

.

.

.

Taman depan stasiun tampak ramai oleh berbagai macam pejalan kaki. Aku berdiri di depan sebuah toko di dekat taman sambil mengetukkan kakiku.

"Iiih, seharusnya yang minta tolong itu yang nggak boleh telat," desisku sambil, untuk yang kesekian kalinya, menatap jam tangan perakku. Lalu, aku melirik ke sekelilingku. Tetap sama.

Yuusuke belum datang. Darn it.

Aku membalikkan badanku dan mendapati jendela kaca yang memantulkan seluruh bayangan tubuhku. Aku tersenyum puas. Rambutku yang pendek sebahu dikeriting di ujungnya dan sebagian rambut di sebelah kiri diikat dengan sebuah pita coklat tua. Ditubuhku, tersampir sebuah dress coklat muda yang terasa begitu ringan bagiku. Aku membawa sebuah tas selendang kecil yang juga berwarna coklat dan mengenakan sebuah flat shoes berpita berwarna coklat.

Hm, semoga pakaianku pas untuk di pakai ke acara pernikahan teman Yuusuke.

"Aika!" panggil seseorang.

"Yuusuke!" sapaku, setelah melihat seorang pemuda memakai kemeja coklat sedang menatapku begitu lekat. "Wow. Warna baju kita samaan."

Yuusuke garuk-garuk kepala malu dengan pipi yang memerah. "Se-Sebuah kebetulan yang bagus ya."

Aku mengangguk. "Hm. So? Where are we going?"

Yuusuke meraih tanganku lalu menarikku lembut. "Nggak jauh dari sini kok. Yuk."

"Let's go."

.

.

.

Acara pernikahan teman Yuusuke berjalan lancar dan meriah. Beberapa orang, oke, salah. Hampir semua orang memperhatikanku maupun Yuusuke. Beberapa menghampiriku dan menyapaku. Bahkan beberapa mengenalku sebgai perempuan yang menduakan Iori-san dan Fuuto. Aku hanya tertawa dan mengatakan kalau aku cuma berhubungan dengan Fuuto saja dan orang-orang itu hanya mengangguk. Huh. Aku yakin sekali, dalam hati mereka, mereka masih menuduhku. Aku yakin itu.

Selama acara, Yuusuke tak pernah meninggalkanku. Selalu menggenggam tanganku kemana saja. Kami tak terpisahkan. Beberapa teman Yuusuke hampir saja mengira kalau aku adalah kekasih Yuusuke. Duh, bikin malu saja.

Lagian, kalau Fuuto sampai mengetahui hal ini, bisa-bisa Yuusuke digiling sama Fuuto.

Acara pun berakhir dengan khidmat. Aku beranjak dari kursi, berniat untuk pamitan.

"Kau mau pulang sekarang?" tanya Yuusuke.

"Yap. Aku mau kencan sama Fuuto," jawabku, riang.

Mata Yuusuke berkilat. "Kencan sama Fuuto?"

Aku mengangguk senang. "Aku nggak tau kemana. Well, aku sih kemana aja juga mau."

"Hmmm. Kalau begitu, temani aku dulu ke suatu tempat dulu," ucap Yuusuke sambil beranjak dari kursinya.

"Eeeh? Lama nggak?"

"Enggak."

Aku manyun. "Fine. Tapi jangan lama-lama ya?"

Yuusuke mengangguk kaku. "Kita lihat saja nanti."

.

.

.

Aku dan Yuusuke berjalan di sepanjang pinggir jalan. Matahari hampir menghilang di ujung langit. Lampu-lampu dari lampu jalan juga barisan toko yang gemerlapan terlihat indah. Aku melirik pemuda berambut merah disisiku. Aku memelintir ujung dress-ku.

"Hei, Yuusuke. Kamu akhir-akhir ini kok sering menghilang?" tanyaku, akhirnya.

Yuusuke tak menjawab. Ia hanya terus menggenggam tanganku dan berjalan dengan begitu lambat, sengaja menyaingi langkahku.

Aku mendengus. "Jawab donk. Budek ya?"

Yuusuke masih diam.

Aku memonyongkan mulutku. "Yuusuke. Jangan-jangan kamu udah dapat pacar ya? Wah, kalau kayak gitu, bilang-bilang dong! Kenalin!"

Yuusuke tiba-tiba berhenti melangkah. Ia melirikku, akhirnya, setelah cukup lama mengacuhkanku. Tapi, yang aku heranin, kenapa wajahnya merah kayak orang kepedesan gitu? Dia demam? Tapi wajahnya kecut gitu. Kayaknya bukan demam deh.

"Diamlah. Sebentar lagi kita sampai." Yuusuke kembali berjalan.

Aku mendecih. "Oke, oke. Huh. Sial, aku kayak jalan bareng manekin."

.

.

.

Suasana taman tampak begitu sunyi tapi aku suka. Aroma angin musim panas begitu menyenangkan di hidungku. Sebenarnya aku lebih suka bau musim semi tapi musim panas oke juga. Aku duduk di samping Yuusuke di sebuahbangku yang berada di dekat danau kecil di taman ini.

"Jadi? Ngapain kita kesini? Ada sesuatu disini?" tanyaku, pensaran.

"Taman ini dekat dengan kampusku," ucap Yuusuke.

"Oh, iya. Taman ini dekat sama Meiji ya. Terus?" tanyaku, lagi, masih nggak ngerti untuk apa kami berdua kesini.

"Aku suka taman ini. Serasa seperti segala kepenatan menghilang begitu saja." Yuusuke tersenyum malu-malu. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang kuyakini tidak gatal sama sekali.

Aku memandang danau yang ada di hadapanku. Matahari hampir menghilang di ujung sana. Ah. Sebentar lagi aku harus bertemu Fuuto. Aku belum ganti baju dan dandan.

"Yuusuke, aku harus pulang sekarang, aku-"

"Tunggu!" potong Yuusuke sambil menahan pergelangan tanganku.

Aku mengdeipkan mataku beberapa kali. "Ya?"

"Aika."

"Hm?"

"Kamu benar-benar suka cowok berengsek itu?' tanya Yuusuke sambil menatap langsung ke mataku. Wah. Jarang sekali Yuusuke menatapku seperti ini.

"Ya. Aku suka dia dari dulu."

"Kenapa?" tanya Yuusuke, dengan nada yang sedikit membuatku terhentak.

"Kenapa ya? Nggak tahu. Suka aja. Mau benci juga pada akhirnya nggak bisa."

Alis Yuusuke berkerut. "Nggak ada alasan apa pun?"

Aku menggeleng. "Aku suka Fuuto. Laki-laki selain Fuuto tampak tak menarik di mataku. Aneh ya?"

Yuusuke melepas pergelangan tanganku. Ia menundukkan wajahnya.

"Yuusuke?" panggilku, khawatir.

"…Suka…" bisiknya, sedikit tak terdengar.

Aku mengerutkan keningku. "Ha? Suka? Suka sama siapa? Ah! Kamu suka Fuuto?" teriakku, kaget bukan main.

"BUKAN BODOH!" teriak Yuusuke sambil mencubit hidungku. Ia mendengus pelan lalu memalingkan wajahnya yang sempat kulihat sekilas, berwarna merah hampir ngalahin warna rambutnya.

"Lalu?" tanyaku, masih nggak ngerti.

Yuusuke mengacak-acak rambutnya. Ia melirikku lalu kembali memalingkan wajahnya. Aku mulai gemas. Apa yang mau diomongin sih? Cepetan! Aku mau ketemu Fuuto!

"Aku suka kamu." Yuusuke akhirnya bersuara.

Deg.

Aku melongo. Tubuhku serasa membeku.

Yuusuke menghela nafas panjang. "Kamu ini kenapa peka terhadap orang lain tapi nggak peka terhadap perhatian yang tertuju padamu sih?"

Aku hanya mengedipkan mata. Masih tak ada tenaga untuk berbicara.

Oh my God.

Yuusuke suka aku? Dalam konteks cinta?

Yang benar sajaaaa!

Lalu…

"Lalu bagaimana dengan persahabatan kita?" tanyaku, menunduk lesu.

"A-Aku menganggapmu sahabat, tapi… ketika aku sadar… aku sudah menyukaimu melebihi sebagai sahabat."

Aku memijat keningku. "Lalu, kenapa kau mengutarakan perasaanmu? Aku sudah pacaran sama Fuuto!"

"Aku nggak tahu." Yuusuke melirikku. "Ini mungkin akan kejam, tapi… menurutku, kamu nggak akan bisa bersama Fuuto selamanya."

"Apa maksudmu?" seruku, tak terima.

"Jadi, aku berharap ketika kamu pisah dengan Fuuto, kamu akan kembali bersamaku."

Kembali ke Yuusuke? Apanya? Kenapa harus Yuusuke? Aku dan dia hanya SA-HA-BAT!

Aku beranjak dari bangku taman dengan kasar.

"Aku benci Yuusuke!"

Setelah berteriak seperti itu, aku langsung berlari meninggalkan Yuusuke.

Sial.

Dadaku sakit.

.

.

.

Kamarku terasa dingin. Aku benci suasana dingin seperti ini. Yang terdengar hanya detak jarum jam. Aku melirik bayanganku pada kaca full-body yang ada di kamar. Aku tersenyum miris. Walau aku tampak terlihat cantik dengan gaun dan dandanan yang begitu manis, wajahku suram. Aku mendengus geli melihat ekspresi wajahku yang kusut.

Aaah. Kalau Fuuto melihat wajahku yang seperti ini, dia pasti bakal nanya.

Tri-ri-rit. –ringtone inbox baru terdengar.

Aku membuka ponselku dan mengecek email yang baru saja sampai. Aku melotot. Aku membaca ulang email dari Natsume-san itu. Ya ampun! Ya ampun! Akhirnya ada juga kesempatan seperti ini!

Yosh!

Aika! Kamu harus lolos audisi ini! Kalau lolos, kamu akan bisa bersama Fuuto selama akhir musim panas! Wooohoooo!

Dengan riang, aku meloncat-loncat di atas kasur. Hatiku terasa begitu membuncah oleh rasa bahagia. Aku melirik kembali email yang memberitakan akan adanya audisi khusus untuk pemeran rival wanita di film sekuel yang akan dibintangi Fuuto. Aku terkekeh gila.

Fuuto! Aku akan membuatmu mati terkejut! Lihat saja nanti!

Wahahahahahaha!

.

.

.

Aku turun dari mobil van milik agensi Fuuto. Malam terasa cukup dingin. Aku merapatkan pelukan tanganku di lengan kiri Fuuto. Aku menggigil ketika sebuah hembusan angin menerpaku. Fuuto yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya, melirikku.

"Kamu kedinginan?" tanyanya, lembut.

Aku mengangguk. "Aku meremehkan sih tadi. Kukira nggak bakal sedingin ini."

Fuuto tersenyum geli. "Aku nggak bakal minjamin coat-ku loh."

Aku memonyongkan mulutku. "Jahat. Kalau Yuusuke pasti sudah meminjamkan miliknya untukku."

Tatapan mata Fuuto berubah.

Uh-oh. Aku salah ngomong.

"Jadi menurutmu Yuusuke lebih baik dari aku? Gitu?" tanya Fuuto, sambil menatapku tajam.

"Kalian berdua!" seru Sota-san sambil berkacak pinggang. "Bisa nggak bertengkarnya nanti saja, setelah acara ini selesai?"

Aku makin merapatkan pelukan tanganku di lengan Fuuto. "Baik Sota-san!"

"Lepasin!" seru Fuuto, terlihat sedang ngambek.

"Nggak mau! Dengar ya! Sifatmu yang kayak gini aku juga suka tau! Jadi, Yuusuke nggak lebih baik dari kamu! Oke? Jadi jangan ngambek."

Pipi Fuuto memerah. "Aku nggak ngambek!"

Aku mendengus geli. "Iya, iya. Kamu nggak ngambek. Cuma cemburu."

"Aku juga nggak cemburu!"

"Whatever. Omong-omong, ini acara apa?" tanyaku, sambil menatap gedung hotel yang terlihat begitu megah.

Pasti acara mewah nih.

"Ulang tahun presdir agensi sebelah."

"Agensi sebelah?"

"Kamu jangan malu-maluin ya?" pinta Fuuto, tak mengubris pertanyaanku.

Aku mendecih sebal. "Tenang aja. Yang ada juga, mereka bakal terpukau sama aku."

"Bah, pede banget!"

"Iya donk!" ucapku, sambil nyengir.

Fuuto terkekeh. "Awas aja kalau kebalikannya, Usagi."

"We will see."

.

.

.

Seperti yang kuduga, ruangan aula itu begitu tampak berkilau di mataku. Banyak meja yang berisi makanan juga banyak sekali orang-orang dengan pakaian mewah yang pastinya mahal. Ketika aku memasuki aula itu, hampir semua pasang mata menoleh ke arahku dan Fuuto.

Aku meneliti setiap orang yang ada di ruangan. Aku menangkap beberapa sosok yang kukenal. Ada Natsukise Lily-san, Akaboshi Eiichiro-san yang menatapku tajam, beberapa kenalan yang kukenal ketika aku menjadi penulis, juga… Iori-san?

Iori-san yang juga melihatku melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Aku menelan ludah, lalu melirik Fuuto yang… aaaaah… mukanya sudah dalam mode cemburu. Aduuuh.

Iori-san menghampiriku lalu mencium pipiku dengan tiba-tiba.

Aku melotot. "I-Iori-san! Apa-"

"Jangan sentuh Usagi!" seru Fuuto sambil menyembunyikanku di balik tubuhnya.

Iori-san tersenyum manis, tapi menurutku, senyuman itu sedikit gelap dan mengerikan. Wah, aku dapat bad feeling nih.

"Halo, Fuuto! Malam ini, kupastikan Aika-chan akan menjadi milikku."

Haaaa?

Apa maksudnya itu?

Sial. Semua orang yang ada di aula menatap kami seperti tontonan gratis!

Iori-san! Berhenti mengacaukan suasana!

Ini nggak lucu!

Sama sekali enggak!

Uuugh.

Someone… help me~.

.

.

.

Aku suka api.

Ketika hanya rasa dingin yang kurasakan dan sedikit kehangatan dari orangtuaku, aku selalu berharap adanya api yang dapat menghangatkan kedua orang tuaku.

Aku suka api.

Bukan.

Aku butuh api.

Karena, jika waktu itu aku punya api, orang tuaku…

Orang tuaku akan tetap hidup.

"Ai-chan, api itu panas. Kalau Ai-chan lama-lama didekat api, Ai-chan bisa kebakar. Jadi, hati-hati ya?"

Aku mengangguk ketika suatu hari Rio menjelaskan apa itu api bagi dirinya.

Tapi… bagi diriku… api itu…

Adalah kehidupan.

.

4959 words.

October 17th 2014.

.

To be continued…

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

Moshi mosh~!

Apa kabar?

Chapter kali ini penuh dengan masalah ya? Wkkk. Saya sampai pusing sendiri ngetiknya. Semoga para readers nggak ikutan pusing baca chapter ini, yang kebetulan juga, ada beberapa karakter baru yang sebenarnya berasal dari novel Fortissimo.

Yak! Yuusuke kembali dan akhirnya mengejar Aika! Wow! Tentu saja, pair-nya tetap FuuAi. Mungkin. :p

Yep. I think my fic has become longer than I expected. Entah kenapa, saya masih belum puas.

Iya. Makasih. Ini sudah update! Hehe. Aku emang keren. /oyyangkerenbukankamu!

Aku juga suka perkembangan Iori! Khukhu. Cowok yandere itu bikin bulu kuduk bergoyang. Dan… ehem, disini Yuusuke emang kasian banget. Jadi sedih saya. Btw, Author-san dan Azura-chan sama aja deh. (-_-)a

Oh, and what's your thought about this chapter? Is it good?

Anyway, thank you for everyone who has read, rev, PM, follow and fave this fic! Muach!

Stay tune and see you! #bow