.
Stalker Conflict © AzuraLunatique
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.
.
I just own the story and few OCs.
I mean, many OCs. #teehee
Happy reading! XD
.
Chapter 16
The First Step for a Better Future
Iori-san menatapku tajam. Kedua matanya bersinar. Aku tak bisa membacaapa yang akan pria itu lakukan. Yang lebih penting, aku tak mengerti. Aku tidak mengerti apa yang Iori-san inginkan. Meskipun Iori-san mengatakan bahwa ia menginginkanku, aku merasa itu bukanlah hal pentingnya. Ada hal lain yang lebih menarik di mata Iori, dan aku tak tau apa itu.
Jadi, ketika Iori-san mengatakan bahwa ia akan mendapatkanku malam ini, aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berusaha menahan Fuuto dari mengacaukan pesta yang terlihat super mewah ini. Aku melirik Sota-san yang juga sedang melirikku. Kami pun mengangguk dengan pengertian bahwa kami harus mengakhiri situasi yang menarik banyak perhatian dari para tamu.
Sota-san menghampiri Iori-san. "Konbanwa, Iori. Saya bisa berbicara dengan anda hanya berdua saja?"
Iori-san menggeleng. "Kalaupun saya mau berbicara secara private, saya maunya bicara dengan Aika-chan."
Fuuto mendesis. "Stop it! Usagi is mine! Aku nggak akan membiarkanmu bersamanya barang sedetik pun."
"Baiklah. Let's talk, Iori-san." Aku berjalan menghampiru Iori-san.
"Usagi!" seru Fuuto, terdengar marah juga sakit hati.
Aku menoleh ke arah Fuuto. Aku mengedipkan mataku, berusaha memberikan hint kalau aku akan mencoba untuk menhentikan Iori-san. Namun, Fuuto tampak masih kesal. Hm, sepertinya pesanku tak sampai. Aaah, sudahlah.
Aku pun tak mengubris Fuuto yang terus memanggilku. Aku akhirnya sampai di dekat Iori-san. "Kita bicara di ruangan lain saja, gimana?" tawarku.
Iori-san mengusap rambutku pelan sambil tersenyum manis. "Ayo."
Kami pun meninggalkan ruangan pesta dengan bisikan-bisikan yang sebenarnya cukup menyiksa batin.
.
.
.
Café di lantai paling atas dari hotel ini cukup nyaman. Café dengan properti yang kebanyakan menonjolkan kenyamanan membuatku tersenyum. Café ini cocok untuk pembicaraan kami. Aku dan Iori-san pun duduk di sebuah sofa empuk berwarna beludru. Aku duduk di samping Iori-san. Seorang waitress menghampiri kami berdua. Kami pun memesan minuman dan waitress itu pun pergi setelah beberapa kali melirik kami diam-diam dengan wajah penuh ingin tahu.
"Kita sekarang terkenal ya?" ujar Iori-san sambil menumpukan wajahnya di tanganya yang ia letakkan di meja.
Aku mendengus. "Thanks to that editor. Tapi, Iori-san kan juga lagi naik daun. Apa berita kayak gini nggak mempengaruhi pekerjaan iori-san?"
Iori-san memainkan ujung rambutku. "Cukup berpengaruh."
Aku mengernyit. Sedikit tak merasa enak hati.
"Tenang saja. Pengaruhnya bagus kok. Aku jadi makin terkenal dan tawaran pekerjaan jadi makin banyak."
Aku menghela nafas lega. "Syukurlah."
"Jadi," Iori-san menatapku lembut, "apa yang mau kamu bicarakan denganku Aiak-chan?"
Aku tersenyum.
Iori-san menyenderkan badannya di punggung sofa. "Kamu takkan mengajakku kalau tak ada yang mau tanyakan, bukan?"
"Tentang pernyataan Iori-san tadi," aku menarik nafas, "Iori-san bohong, kan?"
Iori-san tersenyum manis. Hm, aku perlu mengakui kalau senyuman Iori-san itu manis dan layaknya pangeran dari negeri dongeng. Tapi, kalau diperhatikan baik-baik, senyuman Iori-san seperti senyuman yang berusaha menutupi sesuatu.
"Hmmm, Aika-chan memang tajam ya, intuisinya."
"Tolong, katakan Iori-san. Aku tak ingin Fuuto berpikir macam-macam."
"Hei, Aika-chan." Tampak, sedang mengalihkan topik.
"Apa?"
"Dalam pacaran, bukannya seharusnya ada yang namanya rasa percaya antar pasangan?" tanya Iori-san, sambil tersenyum manis.
Kedua mataku melebar. Aku menundukkan kepalaku. "Ituuu…"
"Sejauh yang aku liat, Fuuto tampak tak mempercayaimu."
Aku memonyongkan mulutku. "Well, that's originally my fault, for being such a curious girl."
"No. Kamu bukanlah perempuan yang gampangan. Kamu hanya perempuan yang gigih mencari cinta dan setelah sekian lama, kamu akhirnya melabuhkan cintamu pada pemuda bernama Fuuto. Tapi, sayangnya, Fuuto belum bisa meyakinkan dirinya bahwa kamu benar-benar hanya mencintainya seorang. Fuuto kejam juga."
"Dia nggak kejam! Dia hanya khawatir!" seruku, tak terima.
"Sampai kapan?"
Aku terdiam.
"Hubungan kalian tak akan berlangsung lama jika Fuuto tidak mempercayaimu sepenuhnya."
"Fuuto hanya cemburu! Bukannya cemburu tanda cinta?" seruku, membela diri. Dadaku sakit. Aku tak suka pembicaraan ini.
"Cemburu dan tidak percaya itu berbeda." Iori-san mengelus kepalaku. "Dan aku yakin, Fuuto bukan hanya cemburu, tapi masih tak bisa percaya padamu."
"Itu bukan urusan Iori-san! Lagian, aku tau kalau Iori-san juga tak terlalu menyukai Fuuto, kan?'
"Oh, kau tau ternyata."
"Well, aku melihatnya cukup jelas."
Iori-san mengidikkan bahunya. "Aku hanya mau membuatnya menyadari sesuatu saja."
"Kalau begitu, bicaralah pada Fuuto. Jangan mengganggu hubunganku dan Fuuto!"
"Apa Fuuto pernah mengatakan kalau dia menyukaimu, Aika-chan?"
Deg.
Tanganku terasa dingin. "I-Itu…"
Iori-san mendengus pelan. "Dasar bocah etngik satu itu."
"Kami bukan anak kecil lagi. kami tak perlu-"
"Tapi itu penting! Ya, kan?"
Aku kembali terdiam.
"Aika-chan juga pasti pernah berpikir kenapa Fuuto tiba-tiba menembak Aika-chan, kan? Dan sejujurnya, Aika-chan juga masih tak yakin apa Fuuto mencintai Aika-chan sebesar Aika-chan menicntai Fuuto." Iori-san tersenyum kecut. "Saya benar, kan?"
Aku menggeram. "Apa maumu Iori-san?"
Iori-san tersenyum sangat manis sekali, membuatku terdiam. Tak terduga, senyumannya kali ini adalah senyuman tulus yang membuat perutku mulas. Matanya menatapku lembut. "Aku ada rencana. Tapi, ada syaratnya."
Aku yang tadi sempat terpukau dengan senyuman Iori-san, mencubit tanganku. "Sya-Syarat apa?"
"Kamu harus putus dengan Fuuto."
Aku melotot. "I-ituu…"
"Dan, satu lagi. Karena aku akan membantumu, kamu juga harus membantuku."
Aku tersadar sesuatu. "Aaah, jadi ini inti dari semua tawaranmu, Iori-san? Kamu ingin bantuanku?"
Iori-san tersenyum, lalu mengangguk. "Kamu cepat tanggap, Aika-chan. Bagaimana? Deal?"
Aku menggigit bibir bawahku. Sial. kenapa aku jadi penasaran gini? Tapi, kalau aku melakukan ini, ada kemungkinan aku akan kehilangan Fuuto selamanya.
-"Aku nggak tahu." Yuusuke melirikku. "Ini mungkin akan kejam, tapi… menurutku, kamu nggak akan bisa bersama Fuuto selamanya."-
Sial. kenapa aku malah teringat perkataan Yuusuke.
Tapi.
Aaaargh!
Let's do this, Aika! Jika kamu mau Fuuto, maka dapatkan Fuuto secara utuh. Dapatkan kepercayaan Fuuto! Dan, buktikan kalau Fuuto benar-benar menyukaimu, Aika!
Lagipula… kalau dipikir-pikir, jika aku putus dengan Fuuto, ada sesuatu yang bisa kuraih.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menundukkan badanku sedikit. "Deal. Mohon bantuannya, Iori-san."
"Aika-chan, you are the best!"
.
.
.
Ruangan pesta itu penuh oleh dengungan akan bisikan-bisikan para tamu. Mulut-mulut itu menggumamkan kata-kata yang menghina diriku. Di sudut ruangan, Fuuto menatapku tak percaya.
"Kita putus saja Fuuto. Maaf." Aku menatap Fuuto lembut. Badanku terasa dingin. Jantungku terdengar begitu ribut di telingaku. Aku berusaha menampakkan bahwa aku baik-baik saja. "Semoga kita tetap bisa berteman."
Aku bisa mendengar gemeretak gigi-gigi Fuuto. Wajah pemuda yang kucintai itu memerah karena marah. Dadaku berdenyut. Aku sebenarnya tak ingin melihat wajah Fuuto yang seperti itu. "Apa yang dia bilang ke kamu?"
"Tidak ada. Iori-san hanya mengatakan bahwa aku lebih baik berpisah darimu. Dan dia benar."
"BULLSHIT!" teriak Fuuto. Ia meraih pundakku dengan kedua tangannya. Aku merintih kesakitan tatkala jari-jemari Fuuto menjerat kedua bahuku. "Kan sudah kubilang kalau kau milikku! Aku takkan mendengar kata-katamu! Kau tetap milikku!"
"Kalau begitu, katakan kalau kau mencintaiku," gumamku, sukses membuat Fuuto terdiam. Kedua tangannya melepas bahuku.
"Ka-Kalimat seperti itu tak harus diucapkan, kan?" ujar Fuuto, sambil tersenyum risih. "Lagian, apa perasaan seperti itu penting? Kau menjadi pacarku sudah cukup kan? Kamu senang kan?"
Aku menelan ludah dengan kaku.
Kenapa? Kenapa Fuuto tak bisa bilang kalau dia mencintaiku? Apa karena dia sebenarnya tak benar-benar mencintaiku? Apa salahku? Apa kekuranganku? Kenapa Fuuto menginginkanku?
Sakit.
Rasanya sakit.
Kalau dia tak mencintaiku, lebih baik kami tak bersama.
Iori-san benar.
Kalau kami tak saling mencintai, kenapa kami harus bersama?
Walau aku sangat bahagia ketika aku menjadi pacar Fuuto, tapi aku tak bisa munafik kalau dadaku juga terasa seperti diiris begitu mengetahui kalau Fuuto tak sungguh-sungguh mencintaiku.
Lebih baik kalau kami sementara waktu berpisah.
"Sudah cukup Fuuto." Aku dapat mendengar suara Iori-san dan berikutnya, aku merasakan badanku yang dipeluk dengan lembut oleh Iori-san. Aku pun menyadari butiran air yang mengalir di kedua pipiku. Ah, aku… menangis? Iori-san mempererat pelukannya. "Mulai sekarang, aku yang akan menjaga Aika-chan."
Dan setelah berkata seperti itu, Iori-san membawaku meninggalkan pesta mewah. Aku tahu besok pagi, berita ini bakal sudah tersebar seseantero negeri.
.
.
.
"Sudahlah, Aika-chan. Berhentilah menangis," ucap Iori-san, berusaha menenangkanku.
Saat ini, kami sudah sampai di kamarku. Sesampainya di ruang tidur, aku langsung melompat ke tempat tidurku. Aku membenamkan wajahku di bantal empuk yang kini sudah basah oleh air mata. Aku sesengukan beberapa kali karena hidungku tersumbat. Mataku bengkak dan merah.
Uuugh.
Aku nggak tau kalau putus bisa semenyakitkan ini.
Dulu nggak seperti ini. Apa karena kali ini karena putusnya sama Fuuto?
"Hiks, maaf, Iori-san…"
"Nggak apa-apa kok. Ini salahku juga."
"Iori-san, hiks, emang salah… hiks…"
"Ahaha, iya, iya. Maaf ya…"
"Aku bakal ngutuk Iori-san kalau aku nggak balikan lagi sama Fuuto." Aku beranjak dari kasur lalu melangkah menuju kamar mandi. Aku bisa mendengar kalau Iori-san membuntutiku dari belakang.
"Mau kutemani malam ini?' tawar Iori-san.
"Nggak usah. Terima kasih."
Iori-san menghela nafas panjang. "Besok mau jalan-jalan? Cari udara segar."
"Nggak mau." Aku menyalakan keran wastafel lalu mencuci mukaku.
Iori-san menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau begitu seminggu lagi kita baru mulai rencananya. Kamu tenangkan dirimu dulu. Aku pastikan Aika-chan bakal bisa balik lagi dengan Fuuto, mungkin."
"Kok mungkin sih?" tanyaku, nggak terima. Aku mengelap wajahku dengan handuk ekcil di smaping wastafel.
"Jujur saja, aku lebih senang kalau Aika-chan bersama Yuusuke. Bukan, Fuuto," terang Iori-san, sambil menatapku dengan pandangan yang tak ada kebohongan di dalamnya.
Aku mendecih. "Kenapa Yuusuke, sih?"
"Karena aku sayang Aika-chan," jawab Iori-san sambil memelukku dari belakang. Iori-san mencium kepalaku lembut.
Aku memonyongkan mulutku. "Nggak nyambung."
Iori-san terkekeh. "Pokoknya besok kita jalan-jalan. Ya?"
Aku manyun. Rasanya aku tak bisa tidak menerima ajakan Iori-san. "Baiklah…"
Iori-san mengusap rambutku. "Good girl…"
"Iori-san traktir es krim ya?" pintaku, jadi manja.
"Iya, iya. Siap Tuan Putri."
.
.
.
Sejak malam itu, artikel di majalah-majalah penuh akan caci maki terhadapku. Inbox emailku kini penuh oleh email-email simpati maupun email kutukan. Aku akhir-akhir ini lebih sering bersama Iori-san atau Natsume-san. Kadangkala, aku menemani Iori-san ke tempat kerjanya. Beberapa kali aku bahkan jadi partner Iori-san ketika photoshoot. Beberapa mengira kami pacaran meski yang sebenarnya aku dan Iori-san hanya berteman saja. Aku jadi terkenal. Dalam pandangan positif maupun negatif. Beberapa anti-fan Fuuto mengirimiku email penuh cinta. Beberapa fans-gila Fuuto mengirimiku email kutukan mati. Beberapa produser televisi menghubungiku, memintaku hadir dalam acara mereka. Aku jadi super terkenal. Dan hal itu membuatku seram.
Aku juga dapat email spesial dari Akiboshi Eiichiro. Isinya cuma dua kata.
[Wanita gila.]
Aku tersenyum kecut.
Beberapa kali aku berpapasan dengan Fuuto yang mulai jarang pulang ke rumah dan yang kutahu ia tinggal di Hotel. Ketika kami berpapasan, Fuuto tak pernah sekali pun melirikku. Jujur, dadaku sakit dibuatnya. Tapi, ini semua karena aku. Jadi aku nggak boleh cengeng.
Hampir seminggu terlewati. Berita tentang diriku tidak memudar sama sekali. Tapi agensi Fuuto tak lagi mengejarku. Karena, kini aku tak lagi berhubungan dengan Fuuto. Aku dengar, beberapa wanita disana berpesta akan berita putusnya aku dengan Fuuto. Aku hanya bisa tersenyum sambil melanjutkan keseharianku. Aku juga sudah memulai apa yang ingin kuinvestigasi. Aku juga mengecek beberapa hal yang seharusnya kulakukan dari awal, Cuma karena sibuk oleh Fuuto, aku hampir lupa. Beberapa hal yang kalau aku pacaran dengan Fuuto, aku tak bisa lakukan.
Aku sangat, sangat sibuk, hingga suatu hari, hal itu pun terjadi.
Aku jatuh sakit.
.
.
.
Natsume-san mencubit kedua pipiku, gemas. "Aika-san, berhentilah membuatku khawatir."
Aku terkekeh namun kekehanku terdengar lemah. Ya. Kini aku sedang berbaring di kasur rumah sakit karena pingsan tadi malam. aku tak menyangka aku selemah ini. Lucy bakal tertawa kalau tau aku pingsan. Oh ya, apa kabar kucingku yang manis itu?
Di hadapanku, berdiri Natsume-san, Masaomi-san, Azusa-san, Iori-san dan… Yuusuke. Aku menggerutu dalam hati. Aku melirik Iori-san yang tersenyum ke arahku. Iori-san tampak sedang menyembunyikan sesuatu. Ugh.
"Kamu akhir-akhir ini kemana sih?" tanya Azusa-san. "Kayaknya sibuk banget."
Masaomi-san menghampiri meja di sampingku lalu menaruh sebuah bento yang terlihat manis. "Aika-chan pulangnya malam terus. Ah, ini bento dari Ukyo. Katanya ia akan jenguk nanti malam. Ada klien pagi ini katanya."
Aku mengangguk. "Terima kasih. Aku cuma berkunjung ke rumah temen aja kok."
Natsume-san menatapku tak percaya. Aku mengedipkan mataku ke Natsume-san. Natsume-san mendecih.
Kami pun mengobrol tentang beberapa hal. Aku merasa sedikit baikan atas kehangatan yang diberikan oleh pria-pria baik ini. Tak terasa, cahaya matahari dari jendela sudah jauh lebih terang.
"Saya pergi dulu. Nanti malam kesini lagi," ucap Natsume-san sambil mebgelus kepalaku. "Cepat sembuh."
Aku tersenyum. "Oke, nii-chan."
"Aku juga pergi dulu ya," ujar Azusa-san lalu mencium pipiku. "Jangan melakukan yang aneh-aneh."
"Saya juga," ucap Masaomi-san, sambil mengusap lenganku, lembut. "Dimakan ya, bentonya."
Aku mengangguk.
"Aika-chan, aku ada shooting. Nanti aku bawain kue deh." Iori-san mencium pipiku. Setelahnya, ia menoleh ke arah Yuusuke. "Jaga Aika-chan ya, Yuusuke. Awas kalau dia tambah sakit. Aku nggak akan memaafkanmu."
Yuusuke berjengit. Pemuda merah itu mendesah. "Jangan kahwatir, Iori-nii."
Natsume-san, Azusa-san, Masaomi-san dan Iori-san pun keluar dari ruanganku. Tinggal Yuusuke yang sedari tadi hanya duduk di kursi bulat yang tidak ada senderannya. Sesekali, Yuusuke melirikku. Sikapnya ini sedikit membuatku geli.
"Kalau mau ngomong, nggak usah malu."
"Aku nggak malu. Aku emang nggak lagi mau ngomong aja. Kamu nggak usah sok tau deh."
Yeah. Dasar Tsundere.
"Gimana tubuhmu? Masih terasa lemah?" tanya Yuusuke, sambil menggeser kursinya mendekatiku.
Kedua tanganku kutaruh di pangkuanku. "I feel better."
Yuusuke mangut-mangut. "Syukurlah."
Keheningan pun tercipta. Aku hanya menatap Yuusuke tanpa mengucapkan apa pun. Hal ini membuat Yuusuke salah tingkah. Wajahnya memerah. Matanya berputar-putar mencari pemandangan lain selain diriku. Badannya tampak gelisah.
Setelah sekian lama keheningan bermain, aku pun angkat bicara.
"Kamu senang?"
Yuusuke mengernyit. "Senang?"
"Ya. Senang karena aku putus dengan Fuuto."
Kedua mata Yuusuke membulat. "Ah…"
"Katakan saja."
"Jujur saja, aku merasa senang," jawab Yuusuke, akhirnya. Wajahnya berubah serius. "Jadi, apa aku punya kesempatan sekarang?"
Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng.
"Kenapa?" seru Yuusuke, tampak tak suka. Yuusuke beranjak dari kursinya. Kedua tangannya ia letakkan di antara badanku. Kini, badannya begitu dekat dengan badanku. Wajah kami pun hanya berjarak beberapa belas senti.
"Yu-Yuusuke!" seruku, sambil mendorong Yuusuke menjauh dengan kedua tanganku. "Hentikan ini."
"Nggak mau!" Yuusuke mendekatkan wajahnya.
"Yuusuke!"
"Kenapa kau tak bisa memilihku?" bisik Yuusuke, ketika tepat wajah kami tinggal beberapa senti.
Aku melirik selain ke kedua mata Yuusuke. Aku mengumpat dalam hati ketika malah menatap bibir Yuusuke. "A-Aku… Di dalam hatiku… Cuma ada Fuuto."
Yuusuke menggeram. "Kenapa Fuuto? Kenapa?"
"A-Aku juga nggak tahu- hmph."
Aku terbelalak.
Kini, sepasang bibir milik Yuusuke menyapu bibirku dengan lembut. Aku mendapati Yuusuke telah menangkap kedua bibirku dan memeluk tubuhku ke dalam pelukannya. Aku kaget. Aku hanya bisa membeku dalam keterkejutanku. Tidak lama setelahnya, Yuusuke melepas ciumannya tanpa menjauhkan wajahnya dariku. Kedua matanya menatapku dengan tatapan jernih dan penuh cinta.
"Pilihlah aku. Aku akan membahagiakanmu, Aika." Yuusuke menempelkan dahinya ke dahiku. Kedua matanya manatapku lembut. "Aku mencintaimu."
Deg. Deg. Deg.
Oh, no. My heart is… pounding like crazy.
What's happening?
Jangan bilang… perasaanku dulu yang sudah berhasil kukubur mulai kembali muncul lagi?
Tidak, tidak.
Ini tak mungkin!
Ini nggak boleh terjadi!
Berhenti, Aika!
Berhenti!
.
2429 words.
October 31th 2014.
.
To be continued…
.
Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)
Apa kabar, reader-tachi? Sehat? Hati-hati, karena musim hujan sudah mulai menghampiri.
/nangisdipojokan
Uhuhuhu. Chapter ini nggak menyenangkan sama sekali! /cry
Tapi chapter ini memang harus ada. Demi berlanjutnya cerita yang sudah berlangusng lama ini. Moga-moga reader nggak bosan dengan chapter saya yang abal-abal ini.
Thank you. Iya nih. Yuusuke baru nyatainnya pas Aika udah keburu direbut Fuuto. Tapi, chapter ini Yuusuke jadi ada kesempatan lagi. Hohoho.
Saya senang kalau chara Aika bisa diterima. XD Walau gadis satu itu kadang terlalu frontal.
/sigh problemnya emang makin berat mulai sekarang. Semoga kalian tetap mengikuti terus fic ini. Jadi Aika emang harus kuat. Dia punya hanyak relationship yang memiliki bibit permasalahan yang nggak bakal selesai. Semoga Aika nggak tewas ditengah2 problemnya. :p
Oke. Ini udah lanjut. Xd
Oh, mulai chapter ini, saya mulai mengurangi jumlah words dari chapter sebelum-sebelumnya, berharap bakal bisa update lebih sering. Karena, kalau kepanjangan, dipikir-pikir, agak malas bacanya. Yah, kalau reader lebih suka panjang. Bilang aja di kotak review, oke? Saya tunggu.
Anyway, as usual, thank you for everyone who has read, rev, PM, follow and fave! Muach, muach!
Stay tune, and see you. #bow
