.
Stalker Conflict © AzuraLunatique
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.
.
I just own the story and few OCs.
I mean, many OCs. #teehee
Happy reading! XD
.
Chapter 17
It's Just an Act
Aku menghela nafas panjang tatkala menyadari kebanyakan email dari teman-temanku adalah email berisi protes. Entah itu protes aku yang mendualah, ataupun protes karena aku menghancurkan rencana mereka untuk membantuku. Menurut mereka, kalau aku tak putus dengan Fuuto, mereka bakal bisa membuat berita ini menghilang. Tapi, semenjak haluan berita berubah, rencana pun berubah.
Aku meletakkan ponselku di atas meja belajar lalu melangkah ke beranda. Angin menerbangkan beberapa helai rambut pendek ikalku. Aku menatap langit yang gelap dengan hanya segelintir bintang menemani. Ah. Aku kembali teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika di rumah sakit. Yuusuke. Ya, pemuda tanggung satu itu menembakku, dan itu membuatku mulai membenci diriku.
Rasa itu seperti merambat untuk muncul kembali.
Ya. Rasa itu pernah ada. Dulu.
Tapi, saat itu, aku berusaha menghilangkannya karena aku yakin pasangan Yuusuke bukanlah diriku, melainkan gadis manis dengan senyuman indah dan baik hati, Hinata Ema. Sayangnya, takdir berkata lain. Pasangan Ema bukan Yuusuke, tapi Subaru-san.
Aku mengerutkan keningku. Sedikit pusing.
Apa rasa itu kembali karena Ema sudah ada yang punya?
Lalu…
Bagaimana dengan Fuuto?
Aku yakin aku masih mencintai Fuuto dengan sepenuh hatiku.
Lalu…
Disebut apa perasaan ini yang berujung pada pemuda bernama Yuusuke?
Cinta?
Atau hanya sekadar pelarian karena aku berpisah dengan Fuuto?
Aku menghela nafas panjang, untuk kesekian kalinya. Aku pun menatap pemandangan dihadapanku tanpa berkedip. Melamun, bisa dibilang.
Namun, sebuah suara membuatku tersadar. Sebuah dering panggilan masuk terdengar dari ponselku. Aku kembali melangkah masuk ke dalam kamarku dan meraih ponselku.
Asahina Hikaru.
Aku menekan tombol terima. "Halo?"
"Hello, Aika-chan," jawab Hikaru-san di seberang telepon.
"Udah ketemu info tempat dealingnya?" tanyaku, dengan bibir membentuk senyuman.
"Udah. Yakin Aika-chan nggak butuh bantuanku?" tanya Hikaru-san, dengan nada khawatir.
"Nggak usah. Tenang aja, Hikaru-san. Aku nggak sendiri kok."
Ya. Aku nggak boleh membawa Hikaru-san ke dalam urusanku. Lagipula, urusan ini tak begitu penting.
.
.
.
Suara sirine mobil polisi meraung-raung dalam kesunyian malam. Aku menumpukan badanku pada kaca jendela raksasa yang ada dihadapanku. Dibalik kaca, pemandangan kota tampak begitu memikat mata.
"Haruno-san?" panggil sebuah suara.
Aku membalikkan badanku dan menemukan seorang petugas kepolisian. Ya. Aku memang saat ini sedang ada di kantor polisi. "Bagaimana? Apa saya boleh pulang sekarang?"
Polisi itu tersenyum. "Ya. Terima kasih atas bantuannya. Kami sungguh tertolong."
Aku menggeleng. "Tidak perlu berterima kasih. Saya juga ada untung jika pria itu ditangkap."
"Oh iya. Presdir itu saingan perusahaan anda ya?" ujar si pak polisi, tampak tertarik.
Aku tersenyum. "Bukan perusahaan saya kok. Saya hanya pemegang saham saja. Kalau begitu, saya permisi. Sudah malam."
Polisi yang masih tampak muda itu terlihat sedikit kikuk. "Emm, mau saya antar pulang? Bahaya kalau sendirian."
Kedua alisku terangkat. Polisi ini sedang pedekate sama aku ya? Aku menggeleng pelan. "Nggak perlu. Saya sudah dijemput."
Wajah polisi itu tampak kecewa. "Oh."
"Selamat malam, Sir." Aku pun melangkah keluar ruangan dan berjalan menuju lantai bawah melewati tangga. Sesampainya di luar gedung kantor polisi yang masih tampak ramai meskipun jam telah menunjukkan jam 11, aku menelengkan kepalaku ke kanan ke kiri, mencari sosok seseorang. Aku menghela nafas lega ketika menemukan orang itu.
"Onii-chan!" teriakku, sambil berlari menghampiri Natsume-san lalu memeluk pria tampan itu erat.
"Ayo pulang."
"Onii-chan, kita mampir ke suatu tempat dulu ya?" pintaku.
"Kemana?"
Aku meraih ponselku yang ada di saku celana hotpantsku lalu membuka inbox email akun keduaku yang jarang kupakai. Lalu aku membuka sebuah email dan menunjukkannya pada Natsume-san. "Aku mau kesini."
Kedua mata Natsume-san membulat. "Ini…"
Aku mengangguk yakin. "Rencana mereka sudah lama dipersiapkan. Rencana yang dipersiapkan matang-matang."
"Kenapa Aika-san bisa dapat undangan ini?" tanya Natsume-san, tampak shock dengan email yang kuperlihatkan.
Aku mengidikkan bahuku. "Mungkin karena aku putus dengan Fuuto dan dulunya aku anti-fansnya? Entahlah. Ketika aku kembali ke Jepang, aku teringat website anti-fans Fuuto. Aku iseng-iseng buka dan ada kejanggalan disitu. Aku hack aja, terus menemukan rencana busuk ini. Lalu, kupikir, jika aku putus dengan Fuuto, aku bisa masuk circle mereka, dan ternyata dugaanku benar. Jadi, ayo Onii-chan! Kita udah hampir telat."
Natsume-san tiba-tiba menahan lenganku. "Aika-san… tentang putus dengan Fuuto, itu karena ini?"
Aku tersenyum lalu menarik Natsume-san mendekati mobil milik Natsume-san. "Jujur saja, ketika pacaran dengan Fuuto, aku enggak sama sekali ingin putus dengan Fuuto. Tapi, setelah dikata-katain sama Iori-san, aku mikir ulang lagi. Aku pikir, aku harus membuat Fuuto meyakinkan dirinya apa Fuuto benar-benar menyukaiku atau hanya sekedar bermain saja. Kalau Fuuto tidak serius, maka, lebih baik aku mencari orang lain yang serius denganku. Aku tak ingin jika suatu saat nanti Fuuto tiba-tiba jatuh cinta dengan seorang gadis, dan aku akan menjadi penghalangnya. Makanya, aku mutusin Fuuto. Sekalian, aku ingin mengecek rencana busuk ini."
"Aika-san nggak ada niat ngebuat Fuuto jatuh cinta dengan Aika-san?" tanya Natsume-san, sambil membuka pintu mobil untukku.
"Arigatou, Onii-chan." Aku pun masuk ke dalam mobil. Natsume-san pun masuk mobil dari sisi yang lain. Setelah mobil berjalan keluar lingkungan kantor polisi, aku melanjutkan, "Aku berhenti untuk membuat Fuuto menyukaiku."
"Kenapa?"
"Selama aku pacaran dengan Fuuto, aku menyadari Fuuto itu orangnya cukup punya banyak ego. Dia tipe yang lebih suka mengejar dibanding dikejar. Jadi, menurutku, akan lebih baik jika aku berhenti mengejarnya."
"Pfft." Aku mendengar tawa yang ditahan dari Natsume-san. "Kalian ini… merepotkan sekali."
"Repot apanya?" tanyaku, sewot.
Natsume-san menggeleng pelan. "Lupakan saja. Jadi, kembali ke masalah email tadi. Apa Fuuto benar-benar dalam bahaya?"
Aku mengangguk. "Nggak hanya Fuuto. Beberapa idola lain yang anti-fansbasenya besar juga dalam bahaya. Ada kerja sama antar anti-fans disini. Ini penyerangan besar-besaran."
Wajah Natsume-san berubah kesal. "Anti-fans itu menyeramkan ya?"
"Ya. Anti-fans itu mengerikan, karena aku pernah jadi mereka."
.
.
.
Aku keringat dingin. Ini pertama kalinya aku ikutan audisi seperti ini. Aku melihat sekelilingku. Ruangan yang cukup besar dengan 3 baris para anggota audisi dan beberapa kursi di sisi seberangnya yang sepertinya untuk para juri. Gadis-gadis cantik nan imut tampak dalam jarak pandangan. Beberapa sibuk dandan, beberapa sibuk dengan hal lain, dan beberapa yang lain ada yang diam-diam melirikku. Sepertinya aku cukup terkenal sampai bisa dikenali gadis-gadis manis ini. Tapi, yang lolos untuk audisi ronde dua ini cukup banyak juga.
Yah, kelolosanku sampai ronde dua ini cukup membuatku kaget juga. Aku kan nggak punya rekam jejak yang banyak dalam dunia hiburan. Dan aku bahkan merupakan mantan Fuuto.
Aku mengambil cermin kecil dari tas selempangku, lalu menatap pantulan wajahku di cermin itu. Aku tersenyum puas mendapati wajah penuh percaya diri pada pantulan itu. Ya. Poin pentingnya, aku harus percaya diri tanpa harus melupakan diriku yang sebenarnya.
Cklek! –pintu ruang audisi terbuka dengan lebar.
Beberapa pria pun terlihat memasuki ruangan. Kedua mataku membulat, menyadari seorang pria yang kukenal. Yamashita Hyuuga. Sutradara iklan Fuuto yang waktu aku jadi manager pengganti untuk Fuuto. Wah, sepertinya sutradara sekuelnya berbeda dengan yang sebelumnya ya. Aku melirik barisan pria di belakangnya dan badanku tiba-tiba terasa kaku ketika melihat Fuuto di barisan juri itu. Dan seperti yang kuduga, gadis yang menjadi lawan main Fuuto pun ada di sebelah Fuuto, Sashikara Rina.
Aku sweatdrop. Kebetulan apa ini? Sutradara, Fuuto dan lawan main Fuuto, sama seperti ketika waktu iklan itu. Yang menjadi pasangan Fuuto waktu itu juga si Sashikara Rina itu. Wah, aktris satu itu benar-benar cantik.
Tak diduga, tiba-tiba kedua mata Sashikara-san menatap tajam diriku. Aku membalas tatapan itu dengan senyuman, berusaha untuk tidak menambah kelut yang ada. Eh, kok dianya malah memalingkan muka?
Semua juri pun telah duduk di kursi mereka masing-masing dan audisi pun dimulai. Audisi kali ini ada dua ronde lagi, jadi jengan jumlah tiga ronde. Ronde pertama adalah eliminasi peserta dengan data informasi diri, ronde kedua adalah wawancara dan ronde ketiga adalah akting dengan dua pemain utama. Fyuh, semoga semuanya berjalan lancar.
Aku sesekali melirik ke arah Fuuto dan menyadari bahwa idola itu tetap terlihat begitu memikat mata. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Rambutnya yang tampak halus. Bibirnya yang sesekali menyeringai. Dan tentu saja, bola matanya yang begitu membius. Aku pun sadar, bukan hanya aku saja yang melirik Fuuto, tapi seluruh wanita yang ada di ruangan ini, termasuk Sashikara Rina. Ceh.
Ronde kedua pun dimulai. Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk fokus dan tidak terus menerus mencuri pandang ke arah Fuuto.
Calm down, Aika. You have to get this role no matter what. Have to!
.
.
.
"Berikutnya. Nomor 17, Haruno Aika-san."
Aku menarik nafas tertahan.
"Silahkan maju," lanjut sang moderator.
Aku pun beranjak dari kursiku lalu melangkah menuju kursi yang telah disediakan di depan para juri. Yah, wawancara kali ini cukup membuat stress karena tidak hanya juri yang melihat akan tetapi juga dilihat oleh peserta audisi yang lain. Aku menyumpah dalam hati, berharap mereka tidak menanyakan hal yang aneh-aneh.
Oke, fighting, Aika!
Aku duduk dengan anggun di kursi yang telah disediakan. Setelahnya, aku memperbaiki posisi dudukku dan mengankat kepalaku dengan perlahan sambil menampakkan senyuman manis. Aku menundukkan kepalaku sekilas.
"Perkenalkan nama saya Haruno Aika. Mohon bantuannya."
Beberapa juri menunjukkan berbagai ekspresi. Ada yang tampak tertarik, kesal juga masa bodoh. Aku melirik Fuuto dan hatiku langsung berbunga, ketika mendapati idola itu juga sedang menatapku.
"Seperti yang sebelumnya, kami perlu tahu, alasan kamu mengikuti audisi ini," ujar Yamashita-san, sang sutradara.
Aku tersenyum lebar. "Karena saya ingin dekat kembali dengan Fuuto!" jawabku, lantang.
Bisik-bisik pun terdengar memeriahkan ruangan. Beberapa juri tampak tak suka.
Namun, Yamashita-san tampak tertarik. "Kenapa kamu mengikuti audisi ini untuk alasan seperti itu?"
"Karena saya yakin, jika saya dapat peran ini, saya bisa kembali dekat dengan Fuuto."
"Audisi ini susah loh. Kamu yakin kamu punya kemampuan yang pantas untuk peran ini?" sindir Yamashita-san, halus.
"Tentu saja saya yakin! Saya takkan mengecewakan tanggung jawab yang sudah diberikan."
"Hmmm. Hanya itu alasan kamu? Saya yakin kamu bukan cewek yang sesimpel orang kira."
Aku menutup mulutku ketika aku terkikik geli. "Yah, Yamashita-san benar. Ada hal lain juga yang saya cari."
"Oh. Apa itu kalau boleh tahu?" tanya Yamashita-san tampak antusias.
Aku mengedipkan mata. "Well, it's a secret, Yamashita-san."
Yamashita-san mendesah kecewa.
Aku tersenyum lebar. "Please, don't be dissapointed. After all, secret makes woman prettier, I believe."
Beberapa juri tersenyum ketika mendengar penuturanku. Suasana ruangan sedikit menghangat, namun, sebuah suara tiba-tiba membuyarkan kehangatan yang baru saja hadir.
"Huh! Jangan bercanda! Syuting film itu bukan tempat bermain. Kamu harus profesional!" teriak Sashikara-san, sambil bersidekap dan kedua matanya menatapku tajam. "Kalau kamu Cuma mau nyoba-nyoba, jangan ikut audisi ini!"
Aku balas menatap Sashikara-san dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Siapa bilang saya main-main?"
Ruangan tiba-tiba menjadi hening. Aku bahkan bisa mendengar nafas tercekat beberapa orang.
Aku menarik nafas dalam-dalam sambil tetap menatap Sashikara-san yang kini terlihat pucat. "Saya ulangi lagi. Apa saya terlihat bermain-main, Sashikara-san?"
Sashikara-san beranjak dari kursinya hingga kursinya sediit berderit. "Kamu jangan bertingkah nggak sopan begitu! Dasar nggak punya sopan santun!"
Aku memincingkan mataku. "Saya? Tidak sopan?"
"Iya! Kamu! Kamu mantan Fuuto tapi kamu mau mendekati Fuuto lagi? Kamu nggak punya malu? Udah mutusin Fuuto, tapi kamu masih mau memilikinya? Jangan bercanda!" teriak Sashikara-san lantang. Nafasnya kini naik-turun.
Hening.
Semua orang kini bergantian menatapku dan Sashikara-san.
Tanpa bisa kutahan, derai tawa pun keluar dari mulutku tanpa bisa ditahan. Aku memegang perutku yang seperti dililit kawat. "Hahahahaha! Adududuh! Hahahaha!" aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku. Aku kembali memposisikan tubuhku dengan anggun. "Jadi… ini masalah pribadi, Sashikara-san?"
Kedua mata Sashikara-san membulat.
Aku menggeleng pelan. "Jadi, anda cuma kesal karena saya mantan Fuuto? Anda marah-marah dan meneriaki saya tidak profesional karena itu?" aku mengerutkan keningku, bertingkah heran. "Hmmm, kalau begitu, bukannya anda yang tidak profesional?"
Tubuh gadis itu tampak menegang.
Aku menghela nafas pelan-pelan. Aku menundukkan kepalaku. "Maaf. Tadi saya hanya bersandiwara. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati." Aku mengangkat kepalaku dan mendapati para juri tampak terkejut dengan pengakuanku. "Sekali lagi maaf. Saya cuma ingin tahu alasan Sashikara-san tiba-tiba meneriaki saya seperti itu. Saya rasa, itu tidak adil. Menghakimi orang seperti itu bukanlah sikap seorang profesional. Saya Cuma mau membuat Sashikara-san menyadari itu."
Gadis cantik itu gemetar. "Ja-jadi, tadi itu…"
Aku menundukkan kepalaku sekali lagi. "Hontou ni, gomennasai, Sashikara-san."
"Kamu benar-benar nggak sopan!" teriak Sashikara-san, dengan suara yang bergetar.
Aku tersenyum maklum. "Maafkan saya."
"Kamu!" Sashikara-san terdengar seperti sudah mau meledak.
"Cukup, Sashikara-san!" sebuah suara menginterupsi.
Aku menoleh dan terkejut mendapati Fuuto yang sedang duduk santai di kursinya.
Fuuto melirik Sashikara-san. "Kamu sudah jelas bertindak tidak profesional tadi. Jangan menambah malu para juri."
Wajah Sashikara-san langsung berubah pucat pasi. "Ta-tapi…"
"Aku saja tahu kalau tadi dia sedang acting. Kenapa kamu malah mengambil serius? Lagipula, meskipun dia mantanku, kalau dia memang punya kemampuan, aku tidak peduli. Kita harus profesional. Jangan mencampuri pekerjaan dengan urusan pribadi. Sekarang, diamlah!" ucap Fuuto, lalu memalingkan tatapannya dari Sashikara-san.
Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup.
Fuuto membelaku?
Tidak, tidak. Ia tidak membelaku.
Idola-songong satu itu cuma menghentikan Sashikara-san dari bertingkah konyol di depan orang lain, karena mereka sesama aktor. Hanya itu. Ya. Hanya itu.
Aku menghela nafas kecewa.
Setelah percecokanku dengan Sashikara-san, wawancaraku pun berakhir setelah beberapa pertanyaan dari juri lain dan aku puas dengan jawabanku yang kujawab dengan percaya diri. Namun, aku tak menyangka ada seorang juri yang mengungkapkan identitasku sebagai Uta, sang penulis. Ruangan langsung riuh oleh decakan tak percaya.
Aku menautkan alisku. Heran.
Mereka kenapa sih?
Ada masalah kalau aku ini Uta?
.
.
.
Ruang toilet khusus perempuan itu penuh dengan bisik-bisik yang seratus persen aku yakin, mereka sedang ngegosip tentang diriku. Aku sedikit menyesal mendatangi toilet ini di sela-sela istirahat setelah sesi wawancara. Well, this is really suck. Helloooow! I can see it girls! I can hear it! Kalian nggak perlu bisik-bisik cuma buat ngomongin aku. Bicara langsung aja sama aku, nggak perlu takut! Geez.
Aku memejamkan mataku erat-erat. Setelah mengelap tanganku dengan tisu, aku melangkah menuju tempat sampah dan membuang tisu yang sudah selesai kugunakan. Baru saja aku mau menarik pintu toilet, seseorang memanggil namaku.
"U-Uta-sensei."
Aku membalikkan badanku dan memiringkan kepalaku, penasaran. "Ya?"
Gadis dengan rambut pirang itu memekik girang. Wajahnya seratus persen gembira luar biasa. Aku menaikkan sebelah alisku, makin heran. "Emm…?"
Gadis itu berlari ke arahku lalu menarik tanganku dan menggenggamnya erat-erat. "AKU FANS BERATMU, SENSEEEEEEI! KYAAAAAAA!"
Aku cengo. "Eh?"
.
.
.
Aku kaget, beneran. Sejak tadi, di sekelilingku, orang-orang tak henti-hentinya mengerubungiku. Aku meletakkan bento yang tadi diberikan sebagai makan siang. Aku kembali menjawab beberapa pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan gadis-gadis audisi dan wanita maupun laki-laki dari staff perfilman. Semuanya sama.
Menunjukkan betapa mereka adalah fans beratku.
Aku tertawa dalam hati. Aku tak pernah menyangka betapa besar antusiasme mereka untuk karyaku.
"Wah! Ku nggak nyangka Uta-sensei itu cantik banget!"
"Imut!"
"Aku suka semua karyamu, sensei!"
"Aku nggak pernah bosen dengan game yang kisahnya buatan sensei!"
"Sensei! Tanda tangan dong!"
"Fotoooo!"
"Kyaaaa! Senseeei!"
Aku hanya bisa tersenyum geli sambil menanggapi euforia yang sedang terjadi di hadapanku. Aku nggak menyangka identitasku sebagai Uta dapat membuat mereka menerima eksistensiku dengan baik. Yang pada awalnya mereka menganggapku rendah dan jijik, kini bahagia atas kehadiranku di audisi ini.
This is good. All is good, now.
Ketika asyik berbincang, tiba-tiba, suara-suara itu berhenti dan kini fokus mereka berpindah ke arah sosok gadis yang sedang mengambil air minum bersama Fuuto. Sashikara Rina. Bisik-bisik pun terjadi. Aku kembali menghela nafas panjang. Wah, wah. Sepertinya, korban bisik-bisik kini berpindah ke Sashikara-san.
Sashikara-san memberikan gelas yang telah terisi air ke Fuuto dengan gerak tubuh manja, seperti berusaha menunjukkan kalau Fuuto kini miliknya. Ia mengambil gelas lain untuk diisi. Sebuah suara terdengar dengan keras, seperti disengaja.
"Aku nggak nyangka Sashikara nggak profesional cuma gara-gara cemburu."
"Iya, iya. Merasa kalah kali ya, dengan Haruno-san. Haruno-san kan cantik dan keren banget."
"Betul tuh! Nggak pede kali dia!"
Dan rentetan tawa mengejek pun terdengar.
Yah, inilah akibatnya kalau bertindak jika tidak dipikirkan terlebih dahulu. Kalau saja Sashikara-san tidak memojokkanku tadi, mungkin dia akan baik-baik saja. Aku melihat gelas yang dipegang gadis itu bergetar. Hatiku tiba-tiba terasa sakit. Aku pun beranjak dari kursiku dan menghampiri Sashikara-san.
Badan gadis itu tegang ketika merasakan kehadiranku. Aku langsung membungkukkan badanku. Sedetik kemudian, aku menegakkan badanku lagi dan menjulurkan tangan kananku, memperlihatkan postur ingin bersalaman. "Saya salah tadi. Saya harap mulai sekarang kita bisa memiliki hubungan yang baik."
Sashikara-san terdiam. Wajahnya berubah suram. "Jadi, sekarang kamu berakting sok baik layaknya gadis manis?"
Aku menurunkan tanganku lalu menghela nafas panjang untuk yang, ugh, kesekian kalinya. "Aku nggak berakting sok baik."
"Kalau begitu, jauhi aku. Kamu itu menyebalkan tahu!"
Kedua alisku naik. "Oooh. Begitu."
Sashikara-san menggeram. "Tuh! Sikapmu itu, yang tidak peduli tanggapan orang lain yang bikin aku muak. Kamu sombong banget! Belagu!"
Aku mengusap lenganku sambil memiringkan kepalaku. "Hmmm. Aku memang tidak peduli jika kamu membenciku. Aku juga nggak ada niat untuk sok baik. Aku hanya ingin mencoba kesempatan dimana jika aku bisa berteman denganmu. Kalau kamu nggak mau ya sudah. Tidak apa-apa. Kamu bukan siapa-siapa aku. Jadi, buat apa aku peduli dengan apa yang kau pikirkan tentang aku?"
Kedua mata Sashikara-san melotot.
Aku mengedikkan bahuku. "Aku sudah bahagia jika ada orang-orang yang menganggapku spesial dan menyayangiku apa adanya. Ngapain susah-susah membuat orang lain yang membencimu mengakui dirimu. Buang-buang waktu. Bagiku, jika ada orang yang bahagia atas berdegupnya jantungku ini, maka aku tak perlu takut akan dunia. Karena aku tidak sendirian."
Wajah sashikara-san mengeras. "Terserah deh! Ayo kita pergi, Fuuto." Dan tak berapa lama, mereka pun menghilang dari area penglihatanku. Baru saja aku mau kembali ke kursiku, badanku dihantam oleh pergerakan yang tidak kuduga. Beberapa tangan meraihku, berusaha memelukku.
"SENSEEEI! MAKIN NGEFAAAANS! KYAAA!"
Aku hanya bisa sweatdrop mendengarnya.
.
.
.
Saat ini, beberapa puluh pasang mata menatapku dan Fuuto. Sesi pengujian kemampuan akting telah dimulai beberapa puluh menit yang lalu dan kini adalah giliranku. Di hadapanku, berdiri Fuuto dengan wajah super seriusnya, membuat jantungku kembang kempis dibuatnya. Aku sempat kecewa mendapati sikap Fuuto yang berkesan tidak peduli padaku. Dadaku jadi perih. Aaah. Aku bisa merasakan keringat dingin yang berkumpul di kedua tanganku. Sumpah! Aku nervous!
Tidak, tidak! Fokus Aika! Fokus!
Aku memejamkan mataku, berusaha mengingat kembali naskah yang tadi diberikan ditengah-tengah sesi istirahat. Fokus. Fokus. Fokus…
…
Aku membuka mataku perlahan, dan aku langsung berlari ke arah Fuuto dan memeluk tubuh atletis itu dengan posesif. Aku bisa merasakan badan itu menegang. "Tatsuya! Kumohon…" Aku sedikit melepas pelukanku, lalu mengadahkan kepala ke wajah Fuuto. Kini wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter saja. "Aku mohon… jangan tinggalkan aku."
Wajah Fuuto berarak, alisnya terlihat berdenyut. "Lepaskan aku…" lirihnya, sambil kedua tangannya berusaha melepaskan pelukanku.
"NGGAK! AKU NGGAK MAU!" teriakku histeris, makin mempererat pelukanku. "Kenapa? Kenapa kamu pilih cewek itu?" tanyaku lirih. Aku kembali mendongakkan kepalaku, dan menatap kedua bola mata Fuuto sedih. "Ke... kenapa bukan aku?" Tanpa kusadari air mataku meluruh. "Tatsuya…" aku menggigit bibir bawahku, tanpa bisa kutahan, jantungku berdegup kencang, "aishiteru yo…"
Kedua mata Fuuto melebar. Ada kilat di kedua bola matanya. Wajahnya sukses membuatku tertegun.
Hening.
Aku bertanya-tanya dalam hati sambil tetap menampakkan wajah sedih. Kenapa si Fuuto malah terdiam begitu? Dia harusnya menolakku dengan kasar. Tapi… kenapa dia malah terdiam?
Beberapa saat aku hanya bisa menunggu. Suasana begitu hening. Wajah Fuuto tak berubah sedikit pun, kaku. Aku terus bertanya-tanya sampai, wajah itu berubah jijik dan seringai geli muncul di wajahnya.
"Pfft," Fuuto terkikik geli, "kamu? Mencintaiku?" wajahnya tiba-tiba berubah gelap. "Apa aku bisa percaya begitu saja?" kedua tangan Fuuto melepaskan genggaman tanganku di badannya dengan kasar. "JANGAN BERCANDA!" Fuuto melangkah mundur. Wajahnya mendingin. "Good bye."
Dan tanpa bisa kutahan, air mataku meluruh. Tapi tidak ada isakan maupun tangisan. Hanya ada air mata yang terus mengalir, menunjukkan betapa hatiku begitu patah.
"CUT! OKE! Terima kasih Fuuto-kun." Sang moderator tersenyum ke arah Fuuto. "Berikutnya lawan akting dengan Rina-chan."
Fuuto mendengus pelan setelah terdiam untuk beberapa detik, tanpa kata-kata ia meninggalkanku yang sedang mengusap air mataku. Aku manyun. Kejam banget sih dia. Sama peserta audisi yang sebelumnya, dia menyempatkan untuk ngobrol, kok sama aku dia diam gitu?
Pikiranku penuh oleh sikap Fuuto, tapi tak berlangsung lama. Sosok Sashikara-san membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum lebar. "Mohon kerjasamanya, Sashikara-san."
Sashikara-san mengangguk sedikit. Aku sempat kaget ketika melihat binar matanya yang redup. Untungnya, itu tak berlangsung lama. Pembawaan dirinya kembali penuh tak lama. Aku menghela nafas lega.
"Silahkan dimulai." Moderator pun mempersilahkan. "Action!"
Seperti yang aku duga, Sashikara-san menundukkan kepalanya. Badannya gemetar ketakutan. Aku terpukau dengan kemampuan aktingnya. Aku pun mulai memainkan peranku, peran seorang gadis yang sebenarnya baik tapi nafsu akan cinta telah membutakannya. Tangan-tanganku tergenggam erat di samping tubuhku. Aku memandang Sashikara-san dengan tatapan benci tapi juga tidak bisa membentak begitu saja. Bibir bawahku sakit karena gigitanku. Aku mendesah sedih.
"Kenapa?" aku bertanya dengan anda yang begitu parau. "Kenapa kamu berani mengambilnya dariku?" aku melangkah mendekati Sashikara-san. Dengan sedikit hentakan, aku menggenggam erat kedua bahu Sashikara-san. Kedua tanganku tenggelam dalam kain baju Sashikara-san. Aku hampir menghempaskan tubuh tinggi semampai itu dengan seluruh tenagaku, tapi badanku kaku. Aku menghela nafas panjang. Aku melepas tautan tanganku dari bahu Sashikara-san. Kedua mataku mencari mata Sashikara-san dan ketika kumenemukannya, aku mantapnya tajam. "Aku… takkan… memaafkanmu."
Kedua mata Sashikara-san membulat. Ada ketakutan di sana. Dalam hati, aku makin terpukau dengan kemampuan aktingnya.
"CUT!" Teriakan moderator membuat tubuhku merileks. Aku tersenyum malu-malu ke arah Sashiakra-san. Aku membungkukkan badan lalu berbalik dan kembali menuju kursiku. Hatiku berbunga-bunga. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku ingin menulis. Passion ini. Rasa ini. Aaah. Tanganku gatal! Tumpahan ide-ide di kepalaku membuatku hampir gila!
Meskipun jikalau aku tidak lolos audisi ini, aku takkan merasa kalau aku membuang-buang waktu. Pengalaman yang berbeda-beda itu sangat menguntungkan. Apalagi pengalaman baru! Aku terkekeh puas.
Semoga semuanya berakhir dengan baik.
.
.
.
Aku mencari-cari dan mengecek setiap nama ruangan yang ada di koridor yang kulewati ini. Ruangan 304 dimana ya? Beberapa saat yang lalu, seorang staff mengatakan kalau aku diminta ke ruangan 304 entah untuk apa. Dia tak memberitahuku. Aku terus menapaki koridor hingga, tanpa bisa kupahami apa yang sedang terjadi, seseorang menarik lenganku dan menarikku ke dalam sebuah ruangan. Tidak berhenti disitu, seseorang mengunci kedua tanganku di samping tubuhku yang ditubrukan ke dinding. Aku meringis kesakitan. Mataku sedikit berkunang-kunang karenanya. Aku menyumpah dalam hati. Benar-benar deh. Siapa sih yang-
"Fuuto?" bisikku, tak percaya. Tenggorokanku tercekat. Mataku sukses terbelalak ketika kedua mata Fuuto yang tajam hanya berjarak sekitar lima senti dari wajahku.
Ekspresi Fuuto begitu membuatku merinding. Kilatan matanya begitu membius hingga lututku lemas seperti jel. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Fuuto, tapi, menurutku dia sedang marah juga… sedih?
"Apa maumu?" desis Fuuto, tak mengubah posisi kami yang begitu dekat satu sama lain.
"Eh? Mauku?"
"Jangan bertele-tele! Kamu bukan tipe yang mencari ketenaran dengan menjadi aktor. Kamu penulis! Katakan dengan jelas! Kenapa kamu mengikuti audisi ini?"
Aku tersenyum kecut. "Kamu nggak dengar?"
Alis Fuuto bertaut, tampak tak mengerti maksudku.
"Aku ingin mendekatimu… Fuuto," bisikku, perlahan. Mataku mengerling jenaka, sedikit senang karena Fuuto ternyata cukup peduli dengan keberadaanku di audisi ini. Namun…
Tanpa bisa kuhindari, Fuuto memajukan wajahnya ke wajahku dan bibir kami pun bertemu. Aku kaget. Aku tak menyangka Fuuto akan menciumku. Bibir Fuuto mengusap lembut bibirku, membuat dadaku berdesir hangat. Lamat-lamat, bibirnya mulai mengulum bibirku lembut membuat kepalaku pening. Sungguh, aku tak kuasa menolak ciuman Fuuto. Karena… aku sendiri memang menginginkannya. Aku merindukan bibirnya yang eksotis itu. Aku…
Fuuto pun melepas tautan ciuman kami. Mataku yang merem-melek mulai berusaha kembali memfokuskan penglihatanku. Kini, aku bisa melihat senyuman dingin di wajah Fuuto.
"Bagaimana? Apa ciuman ini lebih baik dari ciuman Yuusuke-niisan?" ujar Fuuto, dengan tatapan menusuk yang membuatku terkesiap.
Belum satu kata pun aku ucapkan, Fuuto menarikku dan melemparkan tubuhku ke sebuah sofa panjang yang ada diruangan itu. Aku merintih ketika badanku kebas oleh tabrakan yang terduga. Belum pulih kosentrasiku, aku mendapati tubuh Fuuto menghimpitku di antara tubuh tegapnya dan sofa. Aku tak bisa berkutik. Cengiran puas terlampir di bibir Fuuto.
"Ini hukuman karena kamu berani bermain-main denganku, cewek jalang."
"Tu-hmmph!"
Bibirku tanpa ampun diserbu oleh bibir Fuuto. Lidahnya tanpa bisa kutahan, berhasil memasuki area mulutku, membuat perutku mulas. Kedua tanganku menggenggam erat baju Fuuto. Aku juga dapat merasakan tangan kanan Fuuto menelusup ke belakang leherku, mendorong wajahku untuk lebih mendekat ke wajahnya, sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggangku. Sungguh, jantungku seperti mau meledak. Sakit rasanya. Tapi, ciuman ini begitu panas dan membara, membuatku tak bisa berpaling.
Oh. No.
Kenapa?
Kenapa Fuuto menciumku?
Dan.. ya ampun! Bagaimana Fuuto tau kalau aku pernah dicium Yuusuke?
Jangan bilang, waktu aku sakit, dia ada di rumah sakit?
Sungguh?
.
4059 words.
December 1, 2014, 2014
.
To be continued…
.
Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)
Aaaaah! Maaf kalau updatenya lama. Saya sekarang jarang membuka fanfiction dikarenakan kurangnya pasokan kuota. :p dan tentu saja kurangnya pasokan waktu luang.
Hmmm. End pair-nya tentu FuuAi, mungkin. :D
Anyway, as usual, thank you for everyone who has read, rev, PM, follow and fave! Muach, muach!
Stay tune, and see you. #bow
