Kenapa?
Kenapa Fuuto menciumku?
Dan.. ya ampun! Bagaimana Fuuto tau kalau aku pernah dicium Yuusuke?
Jangan bilang, waktu aku sakit, dia ada di rumah sakit?
Sungguh?
.
Stalker Conflict © AzuraLunatique
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Brothers Conflict © Udajo & Kanase Atsuko
Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.
.
I just own the story and few OCs.
I mean, many OCs. #teehee
Happy reading! XD
.
Chapter 18
The World where Everything Fall to Me
Pintu kamar itu terbuka dan muncullah wajah Natsume-san dari baliknya. "Oh, Aika-san. Sudah pulang?" Ucapan Natsume-san begitu hangat, membuatku tak bisa lagi membendung rasa sakit di dada.
Tes.
Dinding pertahanan itu pun jebol. Aliran air mata mengalir di pipiku, menggelitik saraf-saraf wajahku yang sudah memerah. Aku menggigit bibir bawahku agar tak ada rengekan bodoh nan lemah yang keluar dari mulutku. Aku langsung menyerbu Natsume-san, mengaitkan jari-jemariku pada kaos tidur Natsume-san. Kubenamkan wajahku ke dada bidang pria itu. Dan tanpa kata, pria yang sudah kuanggap kakak itu balas memelukku, mengusap punggungku dan dapat kurasakan kehangatan yang menjalar dari tubuhnya.
"Yuk, masuk. Jangan di pintu."
Aku mengangguk tanpa melepas pelukanku padanya.
Malam ini, aku akan melampiaskan semuanya.
Tentang segala hal yang telah terjadi ketika audisi berakhir tadi sore.
Tentang Fuuto.
Tentang ciuman panas yang kami bagi.
Juga, tentang pengakuan Fuuto.
.
.
.
"Ohayou, Aika-chan," sapa Iori-san ketika aku menginjakkan kaki di halaman belakang mansion. Pemuda tampan itu tersenyum manis bak pangeran dari negeri dongeng. Begitu menawan, membuatku ikut tersenyum melihatnya.
"Ohayou, Iori-san. Kelihatannya lagi bahagia ya." Aku mendekati Iori-san yang sedang menyiram sekumpulan bunga mawar. "Wah, mawar putih!"
"Hmmm… apa aku kelihatan sebahagia itu?" tanya pemuda itu dengan wajah salah tingkah.
"Yep."
Iori-san mematikan keran air lalu merapikan selang yang baru saja digunakannya. "Aika-chan sendiri, kelihatannya lagi bermuram durja."
Aku memonyongkan mulutku. "Nggak usah dibilang juga, aku tahu kok!"
Iori-san terkekeh. "Pasti karena Fuuto kan?"
Aku terdiam sesaat lalu memukul lengan Iori-san. "Kalau tahu, nggak usah disebut juga kali."
Iori-san tiba-tiba mengelus kepalaku dengan lembut, membuatku nyaman. "Lupakan aja cunguk satu itu."
Aku mendengus. "Ngomong sih gampang."
"Hei, Aika-chan."
"Hm?"
"Hari ini mau kencan denganku?" tanya Iori-san, sambil menatapku lurus ke mataku dengan binar mata penuh harap.
"Kemana?"
"Ke kampusku."
Aku mengernyit. "Eeeh? Buat apa?"
"Aku mau nyombong."
"Dih. Nyombong apaan?" tanyaku, diselingi kekehan.
Iori-san mencubit hidungku, lembut. "Mau menunjukkan ke teman-temanku kalau kamu adalah gebetanku."
Kedua mataku membulat, tak menyangka jawaban Iori-san yang tak terduga. Bukannya Iori-san hanya tertarik padaku? Tidak dalam konteks cinta, kan? Bahkan Iori-san mau membantu dalam percintaanku, walau membuatku putus dengan Fuuto.
Eh?
Tunggu.
Putus… putus… Iori-san membuatku putus dengan Fuuto.
Hah? Jangan-jangan…
Aku menatap balik Iori-san dengan tatapan penasaran. "Iori-san."
"Ya, Aika-chan?"
"Jangan-jangan Iori-san…" Aku terdiam, tak berani melanjutkan. Entah kenapa, tenggorokanku kering. Aku menunduk, bingung.
Namun, sebuah tangan yang hangat mengelus kepalaku. Aku mendongak dan menemukan wajah Iori-san sedang tersenyum manis ke arahku. "Jadi, mau kencan bareng? Mumpung di dekat kampus ada kafe yang punya cake yang enak-enak. Aku pengen kamu nyobain."
Aku menatap wajah Iori-san dalam-dalam. Senyuman pemuda itu sedikit membuatku silau, membuat jantungku berdebar. Lalu, tanpa komando, mulutku dengan seenak udelnya berucap.
"Oke. Jam berapa kita berangkat?"
.
.
.
Aku bisa merasakan hawa dingin yang berasal dari pemuda di sampingku. Aku melirik Iori-san dengan takut-takut. Ah, tuh kan. Meskipun wajahnya masih adem ayem, aura dari tubuhnya kerasa banget bete-nya. Berikutnya, mataku bergilir ke seseorang di sisiku yang lain yang keadaannya timbal balik dengan Iori-san. Wajah Kaname-san tampak begitu berbinar dengan senyuman terpampang begitu lebar. Lengan kekar pria itu merangkul pundakku dengan erat, yang tampaknya membuat Iori-san tak mau kalah. Iori-san pun menggengam jari jemariku dengan erat. Aku layaknya daging sapi di sandwich. Terjepit. Ugh.
"Kaname-niisan. Pulang sana."
"Nggak mau."
"Ceh."
"Aku pengen liat kampus Iori juga."
"Pengganggu."
"Ya, aku memang mau ngeganggu."
"Grrr."
Aku sweatdrop. "Udah, udah. Kaname-san, lepasin ih, panas tau!"
"Nggak mauuu~"
Aku menghela nafas panjang. "Kalian ini. Kalau mau flirting, nggak usah ajak-ajak aku."
"Siapa juga yang mau flirting sama dia?" seru Iori-san, tak terima.
"Nggak apa Aika-chan. Biar rame."
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Akhirnya, kami pun sampai di sebuah gedung dengan mahasiswa yang banyak berlalu lalang. Kebanyakan yang melewati kami manatap kami dengan berbagai macam ekspresi. Kagum, heran juga jijik. Kami bertiga menjadi parade yang menarik banyak perhatian. Gimana enggak, Iori-san adalah seorang model yang lagi booming, pun Kaname-san merupakan pria dengan wajah yang begitu tampan dan memesona layaknya host kesasar.
Kanem tiba-tiba mengusap perutnya. "Iori, aku lapar."
"Ya sudah, cari kantin sana."
"Antarin. Kan tadi aku yang nyupir."
Iori-san tersenyum KELEWAT manis ketika mendengar perkataan Kaname-san. Aku hanya bisa cekikikan melihat Iori-san yang meskipun tersenyum tapi aura kekesalannya begitu terpancar. Aku jadi teringat perkataan Kaname-san mengenai dumelan Iori. Kaname-san sangat senang karena sekarang, meskipun Iori belum bisa ramah padanya, tapi Iori tak lagi mengacuhkannya. Kaname-san benar-benar berterima kasih padaku. Sayangnya, aku nggak ngerti kenapa Kaname-san harus berterima kasih padaku.
Kami pun sampai di kantin yang lumayan ramai. Aku, Iori-san dan Kaname-san memilih sebuah tempat duduk di pinggir jendela. Setelah memesan makanan masing-masing, aku pun menanyakan berbagai hal tentang kampus ini pada Iori-san. Kebetulan, kampus ini dulunya kampus pilihanku kalau aku terpaksa kuliah di Jepang.
"Iori!" seseorang memanggil Iori-san.
"Ah, Yamada-san," balas Iori-san pada seorang wanita yang tampak cantik dengan style wanita yang begitu dewasa.
"Siapa mereka? Temanmu?" tanya wanita itu selagi meneliti aku dan Kaname-san. Ketika mata wanita itu sampai ke Kaname-san, aku bisa melihat sinar di kedua matanya.
"Oh, kenalkan ini kakakku, Asahina Kaname," ucap Iori-san, sambil menunjuk Kaname-san.
"Hai," wanita itu mengulurkan tangannya.
Kaname-san dengan gerakan yang terlihat begitu gentlemen meraih jari jemari wanita itu lalu mengecupnya. "Halo juga, lady."
Wanita itu sontak blushing. Iori-san memutar kedua bola matanya. Aku tersenyum simpul, memahami karakter Kaname-san yang memang jago melayani wanita.
"Dan ini Haruno Aika, gebetanku," ucap Iori-san, sontak membuatku membelalak kaget.
"I-Iori-san!" seruku, tak suka, juga malu.
Kedua alis wanita itu mengernyit, tampak heran ketika melihatku. Hei, hei. Apa aku sebegitu jeleknya sehingga ia menampakkan wajah seperti itu? Aku ini cantik loh! Memangnya aku nggak pantes buat jadi gebetannya Iori-san? Tunggu, tunggu. Kenapa sekarang aku malah sebal kalau aku nggak pantas buat Iori-san? Bukan, bukan. Aku hanya merasa harga diriku terinjak. Itu saja.
"Iori."
"Ya?"
"Kamu kok sukanya sama anak SMP sih?"
JLEB!
"A-anak SMP?" ucapku, terbata-bata saking kagetnya.
Hening.
"BUAHAHAHAHAHA~!" Dan berderailah tawa Iori-san dan Kaname-san, membuatku dongkol setengah mati.
Ugh, memangnya aku se-PENDEK itu apa?
Sial.
.
.
.
Kafe yang dipilih Iori-san ternyata luar biasa unik. Semua pelayannya laki-laki dan berwajah tampan. Tak heran, banyak sekali wanita yang mendatangi kafe ini. Aku, Iori-san dan Kaname-san duduk di meja bundar dan di depan kami telah tersaji berbagai cake yang tampak begitu cantik dan enak. Duh, kayaknya ini cake nggak tega deh aku makannya!
"Kenapa malah diplototin, Aika-chan?" tanya Iori-san, lembut, diselingi kekehan kecil.
Aku menggeleng kecil lalu meraih sebuah piring kecil berisi cake red velvet. "Ittadakimasu!" Hap!-
-BUG!
"OHAYOU!" seru seseorang dengan tepukan cukup keras di punggungku, yang sontak membuatku-
"Uhuk! Uhuk!" –sial, aku keselek.
"Minum ini Aika-chan!" seru Kaname-san, dengan panik.
Gluk, gluk, gluk! Aku menghela nafas lega. Dengan tajam, kulirik si biang kerok. "Mayu-neee~" desisku, sebal.
Mayu-nee memeletkan lidahnya. "Halo, Aika."
Aku memutar kedua mataku lalu mendengus sebal. Tapi, aku sontak terkejut ketika mendapati sesosok pria yang ada di belakang Mayu-nee.
"Masa-niisan!" seru Iori-san dan Kaname-san berbarengan.
"Hai," sapa pria itu dengan senyuman selembut bulu domba.
"Kalian berdua lagi kencan ya?" tanyaku, to the point.
Mayu-nee sontak memerah wajahnya dan Masaomi-san tersenyum manis.
"Seperti yang kalian lihat," jawab Masaomi-san, "kalian sendiri lagi kencan bertiga?"
"Kok tahu sih?" ucap Kaname-san dengan seringai lebar yang membuat Iori-san menghela nafas panjang.
Masaomi-san terkekeh kecil. "Kalau begitu kami berdua kesana ya, kalian bersenang-senanglah."
"Oke!" seru Kaname-san.
"Tenang aja, kami nggak bakal ganggu calon pengantin," ucapku, yang sudah kuduga, membuat wajah Mayu-nee makin memerah. Pasti malu berat. Khukhu. Rasain tuh!
Masaomi-san dan Mayu-nee pun berjalan menuju meja yang lain. Dua sosok yang sedang jatuh cinta itu membuatku menyunggingkan senyuman bahagia juga… iri.
Kapan ya, aku bisa kayak mereka?
"Gomennasai, apakah saya boleh bertanya?" Tiba-tiba, seorang gadis sudah berada di sampingku dan menatapku dengan binar mata yang kelewat terang.
"Mau tanya apa?" tanyaku, penasaran.
"APAKAH ANDA UTA-SENSEI?" tanya gadis itu dengan riang. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, membuatku kaget setengah mati.
Aku reflek mengangguk pelan.
Senyuman gadis itu melebar. "KYAAAA! AKU PENGGEMARMU SENSEEEI!"
Dan hari itu, aku tak berhenti dikejar-kejar oleh fans-ku yang entah muncul darimana. Tapi,melihat Iori-san yang terkekeh melihatku dikerubunin layaknya gula sama semut, aku merasa senang. Untunglah, Iori-san tidak merasa terganggu dengan fans-fansku. Iori-san emang gentleman.
.
.
.
Hari ini aku puas berbelanja baju. Aku keliling Shibuya kayak orang gila. Dan setiap ada pakaian ataupun barang yang kusuka, langsung kubeli tanpa pikir panjang. Yah, refreshing yang tidak terlalu bagus, karena menghabiskan uang. Tapi, nggak apalah. Aku jarang belanja juga.
Tiba-tiba, suatu poster yang terpampang di pertokoan Shibuya menarik perhatianku. Poster dengan seorang pria tampan sedang bergaya untuk sebuah produk parfum terkenal. Aku tersenyum geli. Ternyata, Eiichiro-san tampan banget di poster itu. Pasti banyak perempuan dan laki-laki yang mau membeli parfum itu. Ah, sepertinya Eiichiro-san memotong rambutnya.
Apa kabarnya Fuuto ya?
Duh, kok malah keinget Fuuto sih? Stop it. Nanti hatimu sakit lagi, Aika.
"Hei!" Seseorang memanggilku sambil menepuk pundakku, yang sontak membuatku menoleh. "Kamu Aika kan?"
Aku menyipitkan mataku pada seorang pemuda dengan jaket dan topi juga masker. Plis deh, sekarang lagi musim panas! Ini orang nggak berasa di neraka apa, dengan pakaian kayak gitu? Tapi, ketika kuperhatikan sosok itu baik-baik yang ternyata memiliki mata tajam yang begitu memikat, aku langsung menyadari siapa yang ada di hadapanku sekarang. "Oh, Eii-hmph!"
"Shh~" Pria itu berdesis, lalu berbisik. "Kita cari tempat yang cocok buat ngobrol. Ada yang mau kutanyakan."
Aku mengangguk dengan tangan Eiichiro-san yang masih berada di mulutku. Detik berikutnya, pria itu menarikku menjauhi kerumunan.
.
.
.
"Kamu nggak gangguan jiwa, kan?" seloroh Eiichiro-san, tanpa aba-aba, ketika kami sudah duduk manis di sebuah restaurant yang mengutamakan privasi. Jadi, kami sekarnag berada di sebuah ruangan khusus. Hanya berdua.
Mendengar pertanyaan Eiichiro-san, aku hanya bisa memutar kedua bola mataku, kesal.
"Kudengar kamu ikut audisi film Fuuto dan kamu menunjukkan ketertarikanmu padanya. Bukannya kalian udah putus? Kamu pula yang mutusin! Kamu tuh cewek teraneh yang pernah aku temui tau!" ucap Eiichiro-san lagi, sebelum sempat aku menjawab.
Aku menaikkan salah satu alisku, lalu terkekeh. "Tapi, juga cewek paling manis yang pernah kamu temui, kan, Eiichiro-san?" tanyaku dengan nada bercanda.
"Emang sih," jawab Eiichiro-san blak-blakan, membuatku dengan sukses menganga lebar.
"Eiichiro-san, otaknya masih oke kan?" tanyaku, khawatir. Tumben-tumbenan ini pria memujiku. Soalnya kan, dia kayaknya benci banget sama aku.
Eiichiro-san mendengus keras. "Aku hanya sedang jujur. Apa salah?"
Aku menggeleng pelan, masih tak percaya.
Ruangan itu pun hening. Aku baru mau menanyakan maksud Eiichiro-san mengajakku kesini, namun suara ketukan pintu menghentikan niatku.
"Saya mengantarkan pasanan anda," ujar suara di seberang pintu.
"Masuk saja," ucap Eiichiro-san, santai.
Pelayan itu pun masuk dan mengantarkan makanan yang sebelumnya sudah kami pesan. Pria dengan rambut sasak yang menurutku lumayan tampan itu menata makanan juga minuman di atas meja dengan elegan, membuatku tersenyum kagum. Aku meneliti setiap gerakan pria itu, berharap bisa menirunya. Tak berselang lama, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruangan dengan sebelumnya sempat melirik-lirik ke arahku.
Apakah dia juga fansku? Hmm.
"Kamu tertarik sama pelayan tadi?" tanya Eiichiro-san.
"Kenapa bertanya?"
"Nggak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."
Aku terkekeh.
Eiichiro-san mendesah. "Soalnya, kamu merhatiin pelayan itu sampai melotot gitu." Eiichiro-san ujung-ujungnya menjawab juga. Duluan pula.
"Oooh. Aku hanya tertarik dengan gerakannya yang anggun." Terangku, menjawab pertanyaan Eiichiro-san sebelumnya. "Menurutmu, aku bisa nggak ya, meletakkan makanan dengan gaya se-elegan itu?"
Eiichiro-san terdiam sesaat lalu terdengar tawa pelan yang lolos dari pria itu. "Kamu benar-benar aneh."
Aku memonyongkan mulutku. "Aaah, basi! Aneh dan gila? Aku udah sering denger itu! Bosan tau!"
Eiichiro-san berdehem. "Bisa kok, kalau kamunya emang ditakdirkan bisa."
"Jawabannya nggak tulus banget sih."
Eiichiro-san kembali terkekeh.
Setelahnya, kami larut dengan pesanan kami diselingi obrolan ringan yang ujung-ujungnya selalu membuat Eiichiro-san terkekeh maupun tertawa. Ck ck, kayaknya aku bakat deh jadi badut. Sial.
.
.
.
Meskipun sekarang musim panas, udara malam tetaplah cukup dingin hingga membuatku mengusap kedua lenganku. Tak diduga, Eiichiro-san menyampirkan jaketnya pada bahuku sambil mengoceh soal tak berperikemanusiaannya pakaian miniku. Ck.
"Hei, aku boleh memanggilmu Ai-chan?" ucap Eiichiro-san tiba-tiba, ketika kami sedang berjalan-jalan di pinggir sungai.
Aku menoleh ke arah pria yang sedang menangkupkan kedua lengannya. Tampaknya pria ini sedang kedinginan, membuatku sedikit menyukai pria aneh ini yang ternyata baik juga sama cewek aneh macam aku.
"Kenapa 'Ai-chan'?" tanyaku, penasaran juga sedih. Aku teringat bahwa panggilan itu juga pernah digunakan Fuuto, dulu.
"Namamu Aika, kan? Yang artinya Love Song. Jadi, boleh-boleh aja kan aku manggil kamu dengan panggilan Ai-chan? Kesannya lebih bagus."
"Alasannya aneh."
"Oh ya?"
"Yep."
"Hmm, ada nggak yang manggil kamu dengan sebutan itu?" tanya Eiichiro-san, membuatku tertohok.
Dengan reflek aku menggeleng. "Enggak. Nggak ada," bohongku.
Eiichiro-san tersenyum tipis. "Baguslah."
"Ck, bagus apanya?"
"Ya bagus dong. Soalnya kan Ai artinya Cinta. Kalau ada orang yang manggil kamu dengan sebutan Ai-chan, berarti orang itu kemungkinan besar menyukaimu," jelas Eiichiro-san, panjang lebar.
Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar penuturan Eiichiro-san. Fuuto menyukaiku? Mustahil.
Aku hanya bisa berucap, "Oh, begitu."
"Good, good."
"Apaan sih? Bagus? Good? Eiichiro-san kayaknya seneng banget aku nggak pernah dipanggil Ai-chan."
Eiichiro-san berhenti melangkah, membuatku ikutan berhenti melangkah. Pria tampan itu tersenyum manis, membuatku terheran-heran. Ya iyalah heran. Soalnya nih orang, kalau ketemu aku bawaannya jutek dan cemberut. Kayak liatin kutu atau sumber penyakit. Jelek banget kan?
"Ai-chan…"
Deg.
Panggilan itu begitu lembut, membuat bulu kudukku berjoget ria.
"A-apa?" ucapku, gugup.
Eiichiro-san terkekeh. "Ciee, gugup."
"EIICHIRO-SAN! Nggak usah ngegodain deh. Bikin bete aja!"
Eiichiro-san malah ketawa sekarang. Sial.
Aku memonyongkan mulutku, merasa sangat kesal.
"Ai-chan jangan sering-sering monyongin mulut deh."
"Jangan ngelarang. Ck. Kenapa sih emangnya?" Ya ampun, ni orang bikin bete aja kerjaannya.
Tap.
Pria itu mendekatiku, memajukan tubuhnya dengan tak terduga dan…
Cup.
Aku melongo.
Tunggu. Tadi apa yang terjadi?
Tubuhku terasa membeku.
Wajah Eiichiro-san yang cukup dekat dengan wajahku itu begitu tampak jenaka, dengan senyuman manis juga nakal yang terpampang begitu nyata. "Kalau monyong-monyong gitu, aku jadi pengen nyium kamu."
Aku menganga.
"Hei, Ai-chan…"
Aku tak berkata apa pun. Masih syok. Banget.
"Kayaknya.. aku mulai tertarik sama kamu."
Eh?
Eeeeeeeeeeh?
Bohong kaaan? Mana kamera? Mana? Ini pasti Cuma skenario! Nggak mungkin pria yang benci sama aku ini tiba-tiba menunjukkan ketertarikannya! Bohong banget!
Aku pengen pingsan sekarang, boleh kan?
.
.
.
"Ai-chan, wajah marahnya lucu juga," ucap Eiichiro-san, yang sedang mengantarkanku ke Sunrise Recidence dengan mobilnya.
Aku menggerutu di kursi penumpang. Kalau bukan karena kemudahan mencapai rumah, aku nggak mau deh numpang di mobil pria ini. Soalnya, daritadi kerjaannya ngegodain mulu. Cewek mana sih yang nggak deg-degan kalau digodain terus sama pria setampan Eiichiro-san?
Suara di dalam mobil hanya terdengar senandung lembut Eiichiro-san juga suara radio yang sedang berkicau mengenai gosip-gosip selebritis akhir-akhir ini. Aku mendengar dengan seksama radio itu. Soalnya, kalau fokus ngedengerin senandungan si Eiichiro-san, bisa tidur lelap aku. Lembut banget sih.
"Berikutnya, ada berita heboh dari Penyanyi juga Aktor Asakura Fuuto…"
Deg.
Sontak mataku membulat. Jangan-jangan…
"…dan juga Aktris tenar Sashikara Rina memberitakan hubungan romantis mereka ke media."
Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Sial, mulutku terasa kering. Aku bahkan bisa merasakan lirikan prihatin dari Eiichiro-san.
"Nggak usah natap aku kayak gitu. Aku tau kok mereka jadian."
"Kamu tau?" Suara Eiichiro-san terdengar terkejut.
"Yep. Dan itu dari mulut Fuuto sendiri," tambahku, yang sukses juga menyayat hatiku. Perih coy.
Wajah Eiichiro-san sukses menampakkan keprihatinan. Catat itu. Prihatin! Duh. Semenyedihkan itu kah aku?
"Kapan?" suara itu terdengar lebih dalam dari biasanya.
"Waktu habis audisi."
"Oh, audisi yang kamu juga bilang kalau kamu itu Uta-sensei ya?"
"Ping pong."
"Fuuto itu nggak punya perasaan apa?' cecar Eiichiro-san, tampak mulai kesal.
"Nggak apa kali. Kan aku cuma mantan." Oke. Kalimat tadi nge-jleb banget.
"Tapi tetap aja, aaargh," Eiichiro-san mengacak-acak rambutnya, kesal. "Ingin ngehajar sampah itu!"
Aku terkekeh. "Ajak-ajak ya."
Eiichiro-san sontak ikut terkekeh. "Oke, ntar aku email."
Kami pun tertawa bersama, membuatku sedikit merasa lebih baik. Sedikit.
"Oh ya. Mau mampir? Aku ada bikin kue beberapa hari yang lalu. Bahan kuenya terbuat dari coklat swiss dan stroberi kyoto. Juga beberapa permen madu jahe buatan sendiri," tawarku.
"Pastinya mau dong. Terdengar enak." Eiichiro-san tampak senang.
"Sip deh."
Malam itu, sepanjang perjalanan menuju Sunrise Recidence, kami banyak berbincang dan tertawa bersama. Eiichiro-san juga meminta nomor ponsel dan alamat emailku yang menyebabkan pria itu tampaknya akan sangat leluasa untuk menghubungiku. Dan entah kenapa, aku mulai nyaman dengan pria itu.
Kenapa ya?
Biasanya aku tidak nyaman dengan pendekatan yang dilakukan Yuusuke, Tsubaki-san, Iori-san dan juga saudara sebangsaan Asahina. Tapi, kalau Eiichiro-san, hatiku tidak kalang kabut. Tidak merasa risih.
Apakah karena Eiichiro-san bukan seorang Asahina?
Hei, hei, hei.
Aku terdengar seperti trauma dengan yang namanya Asahina.
Ini menggelikan. Uugh.
.
.
.
Suasana ruang tamu di Sunrise Recidence cukup membuatku panas dingin. Aku melangkah dengan perlahan ke arah ruang tamu dari dapur dengan membawa secangkir teh untuk Eiichiro-san. Aku menyesal telah membawa Eiichiro-san ke ruang tamu. Seharusnya aku mengikuti rencana awalku dengan membawa Eiichiro-san ke kamar apertemenku saja, agar tidak menganggu para Asahina. Namun, sayang, di depan Mansion, aku bertemu Ukyo-san, dan dengan cukup memaksa, Ukyo-san memintaku membawa Eiichiro-san ke ruang tamu di lantai 5.
Di tengah sofa merah yang ada di ruang tamu, Eiichiro-san duduk dengan percaya diri dengan sepasang senyuman kelewat karismatik. Pria itu menyuap kue brownies buatanku ke mulutnya dengan lahap namun tetap anggun. Sayangnya, di sisi kiri Eiichiro-san, duduk Tsubaki-san dengan mata menyipit tajam dan mulut manyun kayak bebek. Di sebelah Tsubaki-san, duduk Yuusuke dengan wajah merah menahan amarah.
Di sisi kanan yang agak jauh dari Eiichiro-san, duduk Iori-san, dengan gaya yang tak jauh berbeda dengan Eiichiro-san, memakan kue brownies buatanku dengan kelewat elegan. Di samping Iori-san, ada Kaname-san yang tersenyum lebar, namun anehnya, matanya tak seperti bibirnya. Tajam menatap Eiichiro-san. Dan di samping Kaname-san, ada Masaomi-san, yang duduk santai sambil membaca buku, namun sesekali, pria itu melirikku dan Eiichiro-san bergantian dengan pandangan penuh selidik.
"Eiichiro-san, ini, silahkan diminum tehnya," ucapku, sambil meletakkan secangkir teh di meja depan Eiichiro-san.
"Terima kasih," senyuman Eiichiro-san terkembang penuh, dengan tatapan mata yang begitu memuja.
Aku mendengus dalam hati. Duuh, ini pria apa nggak bisa menghilangkan pesonanya, sebentar aja. Tampan benar jadi laki-laki. Tapi kok, aku merasakan hawa nggak enak di belakangku?
"Aika-chan, aku nggak dibikin teh?" tanya Tsubaki-san dengan nada manja.
Aku mendengus, "Ya udah. Aku bikinin."
"Aku juga ya, Aika-chan," Iori-san mengangkat salah satu tangannya, sambil tersenyum manis, banget.
"Hmm." Aku mengangguk kecil sambil mengira-ngira, apa yang membuat Iori-san tersenyum seperti itu.
"Aku juga ya, Aika-chan," kali ini Kaname yang meminta.
"Aku juga." Yuusuke mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Aku melirik Masaomi-san. "Masaomi-san juga mau?" tanyaku, sambil menaikkan salah satu alisku.
Pria itu mengalihkan tatapannya dari bukunya ke arahku. "Kalau Aika-chan berkenan, mau deh."
Yee, sama aja.
Aku melangkah menuju dapur sambil berpikir, kenapa malam ini para Asahina jadi doyan teh sih.
.
.
.
Perasaanku aja, atau atmosfer di ruang tamu jadi jauh lebih mencekam? Apa yang terjadi selama aku pergi bikin teh? Ya ampuun.
"Nih, tehnya. Diminum sampai habis ya," ucapku, setelah meletakkan cangkir terakhir di atas meja. Tak berselang lama, semua cangkir teh telah habis. Aku terkekeh. "Kalian, kalau lapar jangan minum teh deh. Dasar."
"Kita emang lapar, Aika-chan," ucap Tsubaki-san, sambil mengerling padaku.
"Yes," Kaname-san mengangguk kecil, "kita lapar akan kasih sayangmu, Aika-chan."
Aku mundur perlahan. Mulai merasa jijik. Di sudut sofa, terdengar Masaomi-san tertawa kecil. Di sebelah Tsubaki-san, Yuusuke menatap tajam Tsubaki-san dan Kaname-san bergantian. Rasanya, kepalaku mulai berdenging. Aku pun beranjak dan menghempaskan pantatku di sofa, di antara Eiichirou-san dan Iori-san.
"Ai-chan," panggil Eiichirou-san, sukses membuat beberapa kepala mendelik tajam ke arah Eiichirou-san. Aku mulai kepo. Apa yang sedang terjadi sih? Ah, sial. Radar instingku mati.
"Ya?" akhirnya aku menjawab.
"Kuenya enak. Makasih ya." Senyuman itu kembali terkembang.
Aw, silau man.
"Hehe, baguslah." Aku terkekeh senang, plus malu.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya?" Eiichiro-san meletakkan piring bekas kuenya dan berajak berdiri.
Aku ikut beranjak berdiri, "Aku antar ke depan ya?"
Eiichiro-san mengelus rambutku lembut. "Thanks."
Baru aku mau mulai melangkah, aku terbelalak. "Kalian ngapain pada berdiri?" tanyaku, kepada para Asahina yang sudah beranjak dari sofa.
"Kita juga ikutan." Serempak suara-suara itu menjawab, membuatku sweatdrop.
"Kalian ini dari tadi kenapa sih? Mendadak kompak gini." Aku mendecak, heran. "Nyeremin tau."
"Kita khawatir sama Aika-chan." Tsubaki-san mengembungkan kedua pipinya.
"Iya, Aika-chan. Jangan nolak perhatian dari kami dong." Kali ini, Kaname-san yang bersuara. Wajahnya menatapku penuh harap.
Aku menghela nafas panjang. "Teserah deh."
Malam itu, Eiichiro-san pulang dengan iring-iringan para Asahina yang entah kenapa begitu kompak. Parahnya, setelah Eiichiro-san menghilang dari pandangan kami, aku merasakan suatu firasat yang nggak enak. Well, mungkin ini juga dikarenakan Eiichiro-san dengan seenak jidatnya menciumku di depan para Asahina sebelum masuk mobil. Argh, Rio-san! Aku rasanya mau jedutin ini kepala ke tembok! Habisnya, sejak saat itu, perhatian para Asahina meningkat berkali-kali lipat. Sikap mereka kayak ayah yang bakal kehilangan anak perempuannya!
Ya elah. Aku bukan anak perempuan mereka!
Huhuhu.
.
.
.
Aku meraih tasku yang ada di kursi di sampingku. "Aku berangkat duluan ya?" aku beranjak dari kursi setelah selesai sarapan.
"Aikha-chan mahu kemhanah?" tanya Tsubaki-san, dengan mulut penuh ebifura.
"Sama siapa, Aika-chan?" tanya Iori-san yang sedang memisahkan badan ebifura dengan buntutnya.
"Iori, buntutnya juga dimakan," Ukyo-san memperingatkan. "Ah, Aika-chan. Pulangnya jangan kemalaman ya?"
"Apa perlu kuantar?" tawar Kaname-san.
"Aku boleh ikutan?" tanya Wataru-chan, yang entah karena apa, juga ikut-ikutan, kelewat khawatir.
"Maaf ya, Wataru-chan. aku bukan lagi mau jalan-jalan," balasku.
"Aika-chan nggak sedang janjian dengan cunguk bernama Eiichiro itu kan?" tanya Yuusuke, dengan nada tak suka.
"Kalian ini ada apa sih dengan Eiichiro-san?" tanyaku, heran.
"Kami nggak suka aja," ucapan serentak itu membuatku kesal.
Aku menghela nafas panjang. "Terserah deh. Makasih atas sarapannya! Bye!"
Sebelum aku sempat menaiki tangga, aku mendengar suara Azusa-san.
"Ada mobil parkir di depan rumah. Ada yang tau mobil siapa?" tanya Azusa-san.
"Ah, jangan khawatir. Itu Eiichiro-san." Aku menjelaskan, lalu dengan kecepatan super, aku kabur sebelum ocehan tak berujung para Asahina menghentikanku.
.
.
.
"Eiichiro-san," panggilku, sambil tetap memandang jalanan dari kursi penumpang.
"Hm?" Eiichiro-san tersenyum lembut.
"Eiichiro-san bikin ulah apa sih, sampai-sampai orang-orang rumah pada anti banget?" tanyaku, penasaran.
Eiichiro-san terkekeh. "Mungkin karena aku dekat denganmu?"
Aku mendengus sebal. "Masa cuma karena itu?"
"Aika-chan nggak perlu tahu. Ini urusan laki-laki."
Aku memutar kedua bola mataku. Sebal. Jadi, aku sebagai perempuan nggak perlu tau gitu? Ih, nyebelin banget.
Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di depan department store yang menjadi tujuanku hari ini. Aku melepas seatbelt-ku lalu membuka pintu kursi penumpang.
"Makasih ya, Eiichiro-san. Sudah mau mengantarku. Eiichiro-san baik banget mau jadi supir," ucapku, dengan sedikit sindiran.
Eiichiro-san tertawa kecil. "Aku rela kok kalau jadi supir pribadimu."
"Nggak usah modus deh. Kerja aja yang benar. Sekali lagi, makasih ya. Daaah!"
Eiichiro-san melambaikan tangannya, dan aku balas melambaikan tanganku. Tak berselang lama, mobil Eiichiro-san menghilang dari pandanganku. Aku mengalihkan pandangaku ke arah department store yang menjadi lokasi pertemuan para anti-fans. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Okeh, mari kita mulai peperangan ini.
.
.
.
"Bisa kita bicara berdua saja?" Suara itu lembut namun terdengar gugup.
"Hm. Tentu," jawabku.
"Kamu sudah membaca surat dariku?" suara itu terdengar lebih gugup dari sebelumnya.
"Ya."
Suara itu terdengar gusar. "Bisakah kamu menjawabku dengan jawaban yang lebih panjang?"
Aku mendengus. "Kalau kamu tidak menyukai sifatku yang seperti ini, sebaiknya kamu pertanyakan kembali perasaanmu."
Suara itu tercekat. "Ah… maaf."
Aku kembali mendengus. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan padaku?"
"Emmm… itu… anoo…" Suara itu terus bergumam dengan tidak jelas, membuatku makin kesal.
"Kalau tak ada yang mau kau bicarakan, sebaiknya aku pulang."
"Tunggu!" suara itu terdengar memohon.
"Cepetan! Aku bos-"
"AKU MENYUKAIMU!" teriakan itu menggema, mengalir dengan kecepatan sonik di jalur pendengaranku.
Aku tersenyum. "Lalu?"
Suara itu kembali tercekat. "Itu…"
"Hm?"
"Ja… Pacar.. ku…" bisikan itu cukup jelas terdengar, membuatku tersenyum lebih lebar.
"Akhirnya, kau mengatakannya juga. Aku bosan menunggumu."
"Jadi…" suara itu terdengar ceria.
"Ya, aku mau jadi pacarmu. Ah, atau, gimana kalau kita sekalian nikah aja?" tawarku.
"SERIUS?" suara itu terdengar terkejut tapi juga ada rasa bahagia dia teriakan terkejut itu.
"Ya. Lagipula, bibit yang kau tanam waktu itu tampaknya berbuah," ucapku dengan nada godaan.
"Be, benarkah?" suara itu terdengar bahagia. "Ho-"
"HOREEEEE!" sebuah suara lain terdengar dengan jutaan nada bahagia.
"Eh?" Aku dan si pemilik suara yang tadi menjadi lawan bicaraku menoleh ke sumber suara.
"KYAAAA! Aku bakal punya cucu!" Wanita yang kini berada di undakan terakhir tangga di ruang tamu tampak begitu bahagia.
"Ah." Aku dan lawan bicaraku mulai mengerti situasi kami yang mendadak berubah haluan.
Wanita itu dengan semangat membara kembali menaiki tangga sambil berteriak heboh. "Papaaaa! Kita bakal punya cucu!"
"Tu, tunggu!" Aku beranjak dari sofa dengan tergesa-gesa. "Miwa-san! Anda salah paham!"
Pria yang tadinya menjadi lawan bicaraku berhem panjang lalu tersenyum. "Aku oke aja kok, kalau bikin cucu bareng kamu."
Aku menggeram, menahan rasa maluku. "TSUBAKI-SAN! DIAM DEH!"
Dan derai tawa menjadi balasan dari kekesalanku.
.
.
.
"Jadi," Ukyo-san menatapku penuh selidik. "Kalian berdua hanya berlatih acting?"
Aku mengangguk. "Aaah, aku menyesal sudah membantu Tsubaki-san."
Tsubaki-san terkekeh. "Habisnya, kalau aku bisa latihan dengan perempuan, kenapa enggak. Azusa akhir-akhir ini juga sibuk."
Yuusuke menghela nafas panjang. "Kalian bikin aku jantungan tau!"
"Kamu diem aja deh, Yuusuke." Kaname-san berucap.
"Aku juga mau beradu acting dengan Aika-chan," Louis-san menampilkan wajah penuh harap.
"Memangnya acting apaan sih?" Wataru-chan tampak bingung.
"Aaah, untung saja itu cuma adegan di naskah." Iori-san ikut menghela nafas. "Mama juga! Jangan ngambil kesimpulan segampang itu!"
Miwa-san mengerucutkan bibirnya. "Kalian harusnya sedih, karena itu bohongan."
"Nggak akan!" teriakan itu terdengar serentak. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ruang tamu kini penuh sesak dengan kehadiran beberapa Asahina Bersaudara yang kebetulan sedang bersantai di mansion pada hari minggu ini, juga ditambah Miwa-san dan Rintarou-san. Aku terjepit antara Miwa-san dan Tsubaki-san. Yang bikin susah, Miwa-san tampaknya kesal dengan kenyataan yang tersaji di hadapannya. Natsume-san yang ada di seberang meja menatapku lembut. Mulutnya bergerak tanpa suara tapi aku tau apa yang pria itu ucapkan.
Kamu baik-baik saja?
Aku tersenyum senang dengan perhatian yang diberikan Natsume-san. Ah, senangnya punya seorang kakak yang perhatian dan baik. Aku mengangguk sambil ikut berbisik.
Aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit terguncang.
Natsume-san tertawa kecil.
"Aika-chan!" suara Miwa-san mengagetkanku.
"Ya, Miwa-san?" Aku menatap wanita cantik itu, yang sedang menatapku lurus ke manik mataku, membuatku sedikit risih.
"Aku mau cucu, dan aku menyukaimu." Miwa-san mengucapkan kalimat yang mebuatku bingung. "Jadi, bagaimana kalau Aika-chan pilih salah satu dari anak-anakku? Gimana?"
Aku menganga lebar. "Haaaaaaa?"
"Nggak usah malu-malu. Aku yakin anak-anakku cukup tampan dan menarik. Ya, kan?"
Aku mengerutkan keningku, bingung dengan alur kejadian yang mendadak aneh ini. "Ta, tapi.."
"Nggak usah ragu. Aku yakin setidaknya ada satu aja dari anak-anakku yang kamu sukai kan?"
"A, aku…"
Miwa-san tampak berpikir dalam, lalu… dengan cengiran puas, wanita itu menepukkan kedua tangannya dan berpindah haluan ke barisan anak-anaknya yang ternyata menyaksikan percakapan kami dengan tampang kelewat serius. "Kalau begitu, sebaiknya aku tanya ke kalian aja deh. Ada yang tertarik dengan Aika-chan?"
"AKUUU!" Teriakan itu serempak terdengar, entah dari siapa aja.
"Oke, kalau begitu, berusahalah mendapatkan hati Aika-chan! Mama merestui kalian." Keputusan itu disambut dengan teriakan horray dari para Asahina.
Aku menganga. Kepalaku pening.
Serius deh, perasaanku aja, atau para Asahina ini emang suka seenaknya aja?
.
.
.
Aku tersenyum puas tatkala hamparan bintang-bintang menyapaku malam ini. Udara di atap mansion sedikit lebih dingin dari pada yang kubayangkan. Aku mengeratkan jaketku dan melangkah menuju pagar pembatas. Dari atas sini, aku bisa melihat pemandangan kota berserta kelap-kelip histeria malam bersamanya.
Dan entah kenapa, bayangan wajah pria itu kembali muncul. Wajah sok keren Fuuto berserta memori bersama kami yang kalau dibandingkan dengan memori kehidupanku, memori indah itu hanya segumpal kecil yang seharusnya tak berarti. Tapi, sampai detik ini, aku merindukan suara pria menyebalkan itu. Tawanya. Tingkah semaunya. Dan pelukan juga ciuman yang kami bagi selama kami pacaran.
Aku tersenyum kecut menyadari betapa cinta itu susah sekali untuk dilupakan. Ah, apa aku sudah mulai berencana untuk melupakannya?
"Aika-chan?" suara itu terdengar dari belakangku.
"Oh,Rintarou-san!" aku tersenyum lebar, ketika melihat sosok ayah dari Ema-chan.
"Sudah lama sekali ya, sejak terakhir kita bertemu." Rintarou-san mengambil posisi di sebelahku, dengan tatapan tertuju pada langit malam.
"Yep. Sudah lama sekali. Pas aku dan Ema-san SMP, kami memang sering bareng. Tapi, entah kenapa, ketika masuk SMA, kami jarang bertemu."
"Saya senang bisa berbincang denganmu lagi. Saya masih ingat banget ketika Aika-chan menanyakan hubungan sebenarnya antara saya dengan Ema," ucap Rintarou-san, dengan nada mengenang, yang membuatku ikut mengenang masa lalu.
"Ah, untuk yang waktu itu, saya minta maaf. Kalau dipikir-pikir, saya cukup lancang waktu itu."
Rintarou-san terkekeh. "Benar juga ya."
"Jadi, ada urusan apa, Rintarou-san menginap disini? Apa ada rencana tersembunyi?" tanyaku.
"Hm, Aika-chan tak berubah ya. Tetap tajam seperti dulu."
"Benarkah?"
"Beberapa hari yang lalu, Ema mengabari kalau dalam waktu dekat, ia akan melangsungkan pernikahannya disini. Mungkin ketika musim turnamen Subaru-kun selesai, mereka akan kembali kesini."
Aku terdiam. Sosok menyedihkan Natsume-san mampir dalam pikiranku. "Hmm…"
"Jadi, saya dan Miwa-san sedang menyiapkan beberapa hal disini juga dokumen dan kebutuhan lainnya agar calon pengantin itu tidak kerepotan. Selain itu, bukannya Masaomi-kun juga ada rencana mau menikah dalam waktu dekat?"
Aku mengangguk. "Ya, saya dengar. Mereka akan menggunakan jasa Wedding Organizer."
"Oh. Bagus sekali."
"Ya, saya jadi iri. Hehe."
"Ah, Aika-chan, punya pacar nggak?" Pertanyaan itu sukses membuat jantungku hampir mati mendadak.
"Eh? Ah… untuk saat ini sih enggak."
"Benarkah? Saya dengar dari Ema, kalau Aika-chan sering gonta-ganti pacar. Hati-hati loh, ntar kena karma."
Ah, makasih Rintarou-san. Kayaknya, karmanya udah terjadi deh.
"Kalau begitu, ikuti saran Miwa-san aja. Saya yakin, Asahina Bersaudara merupakan calon suami yang baik."
Aku terkekeh. "Nggak deh. Saya masih kuliah."
Rintarou-san ikut terkekeh. Malam itu, merupakan malam yang menenangkan. Rintarou-san merupakan lawan bicara yang menyenangkan dan bijaksana. Aih, jadi kangen Papa dan Lucy.
.
.
.
"Wahaha, hewan merak itu mirip kamu, Aika-chan!" sindir Hikaru-san, yang hari ini, tampaknya memilih untuk bersantai di mansion dengan kaos oblong juga boxer yang menunjukkan kalau dirinya adalah seorang pria meskipun wajah cantiknya meragukan.
Aku mendengus. Aku menatap merak yang ditayangkan suatu channel televisi. Merak dengan bulu-bulu cantiknya yang sedang sok jual mahal. "Sindiran Hikaru-san nggak oke. Aku nggak sedang jual mahal tahu!"
"Oh ya?" cibir Hikaru-san, sambil mecolek pipiku.
"Nggak usah colak-celek!"
"Haha, ngambek."
Dering ringtone email etrdengar dari ponselku. Aku dengan malas meraih ponselku, namun isi email baru membuatku terjungkal dari sofa. Aku segera bangun dari posisi menyedihkanku dan berteriak kesenangan.
"Ada apa?" tanya Hikaru-san, tak bisa cuek dengan aksi hebohku.
"Aku lolos audisi! Mulai beberapa bulan ke depan, aku bakal sibuk untuk mempersiapkan salah satu drama musim gugur."
"Drama musim gugur? Ah, yang tokoh utamanya diperankan Fuuto?" ucap Hikaru-san, dengan cengiran lebar.
Aku mendengus. "Nggak usah ngeledek deh. Jangan sok tau juga."
"Hmmm. Jadi, sang mantan berusaha merebut kembali nih, ceritanya?" goda Hiakru-san.
"Ck, diam ah!"
Hiakru-san tertawa lebar, mebuatku makin dongkol.
"Aika-chan! Aku lolos loh!" sebuah suara terdengar dari tangga.
"Lolos apa, Iori-san?"
"Oh, aku belum bilang ya?" Senyuman lembut itu tersampir di bibir pria tampan itu. Iori-san duduk di sofa di sebelahku. "Aku juga bakal ambil peran di dramanya Fuuto."
"Eh?" Aku berhenti bergerak. Takut salah dengar. "Apa tadi?"
"Nggak usah pura-pura nggak dengar deh, Aika-chan." Iori-san menatapku jenaka, makin mebuatku membatu.
"Aikaaaa!" Kini terdengar suara Yuusuke dari arah tangga.
Aku menoleh dengan lemah. "Hm?"
"Ada drama musim gugur yang bakal Fuuto perankan, kan? Itu drama yang Aika-chan ikut audisinya kan?"
Aku terdiam sesaat lalu mengangguk.
"Aika-chan lolos loh," ucap Iori-san.
Binar di mata Yuusuke makin terang. "Dengar deh, Aika-chan! Aku diminta salah satu senpai-ku untuk menajdi staf manajemen properti di drama Fuuto loh! Kita bisa sering ketemu nanti!"
Hening.
Aku menjatuhkan badanku ke sofa.
Oh, Tuhan.
Jalan takdir ini terlalu mengerikan untuk kulewati.
Aku boleh minta jalur lain, nggak?
.
5301 words.
October 27th, 2015.
.
[To be continued…]
.
Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)
Ehem. Okay, so, when is the last time I update this fanfiction? /pura-pura lupa
/sembunyi di balik tembok Maaf, untuk keterlambatan update yang mengerikan ini. Sungguh, saya emang kehilangan nafsu entah sejak kapan dan malah lari ke fandom lain. Uhuk. Saya berharap, chapter ini bisa diterima dengan baik oleh para readers.
Anyway, as usual, thank you for everyone who has read, rev, PM, follow and fave! Muach, muach!
Stay tune, and see you. #bow
