Well, pertama, ada Fuuto, aktor yang merupakan mantan pacarku. Kedua, ada Iori-san, sang pemutus hubungan antara aku dan Fuuto. Dan ketiga, ada Yuusuke, sahabat yang ingin mengubah hubungan kami menjadi lebih dari itu. Cobalah mari kita letakkan ketiga orang itu dalam satu tempat, apa yang akan terjadi?

Bukan perang dunia Asahina ketiga, kan?

.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Brothers Conflict © Udajo & Kanase Atsuko

Fortissimo © Udajo & Kanase Atsuko

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

This fic, fully, follow Brother Conflict Anime's plot, but, doesn't fully follow Brother Conflict Novel's and Fortissimo Novel's plots.

.

I just own the story and few OCs.

I mean, many OCs. #teehee

Happy reading! XD

.

Chapter 19

Me and The Jokeful Fate

Aku meraih tas ranselku dan menatap pantulanku di cermin. Aku tersenyum. Tak buruk. Persiapan perang lengkap. Pagi ini, ada perkenalan antar staff dan para pemain dilanjutkan sesi pembacaan naskah. Aku akan berhadapan dengan Fuuto dan mungkin saja, akan ada kejadian yang tak terduga dikarenakan para pemain dan staf yang, juga ternyata, sungguh tak terduga. Aku bahkan tak memikirkan, apa yang bakal terjadi jikalau Fuuto, Iori-san dan Yuusuke bertemu. Semoga saja mereka cukup dewasa untuk tidak melempar kebun binatang mereka jika terjadi tatap muka di antara mereka.

Aku segera keluar dari kamarku dan mengunci pintu kamar, yang pada saat bersamaan, pemilik kamar sebelah keluar. Gadis manis dengan wajah teplon itu menangkap sosokku lalu tersenyum.

"Ohayou!" sapaku.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Aku duluan ya," ucapku, lalu melambaikan tanganku pada gadis itu, setelahnya melangkah dengan cepat menuju elevator. Aku segera memencet tombol angka 5. Sebelum perang, sebaiknya aku sarapan dulu, kan?

Sesampainya aku di ruang makan, sudah ada beberapa Asahina dengan masing-masing kesibukan mereka. Yang tidak kuduga, ada Natsume-san! Pria itu tampak sedang asik menguyah sarapannya di meja makan. Tanpa basa-basi, aku langsung berlari ke arah kakakku itu lalu melompat ke punggungnya, dan melakukan aksi mencekek leher yang cukup parah. Buktinya, pria tampan itu sekarang sedang terbatuk-batuk.

"Waa, minum ini, nii-chan!" tawarku, setelah mencuri air minum Tsubaki-san, lalu memberikannya ke Natsume-san.

Natsume-san langsung meneguk habis minuman yang kuberikan sambil, entah bagaimana, menatapku dari balik gelas, dengan tatapan kubunuh-kau-nanti. Oke, sebaiknya aku cepat-cepat menyelesaikan sarapanku.

"Ohayou, Aika-chan!" sapa Masaomi-san, yang tepat duduk di hadapan Natsume-san.

"Ohayou, Masaomi-san! Ohayou, minna!" sapaku, pada seluruh Asahina yang ada di ruang makan.

"Ohayou-!" balas mereka, serempak.

Aku segera memulai sarapanku dan mengambil tempat duduk di samping Natsume-san. Selagi makan, aku menatap ke sekelilingku. Aku tidak menemukan Iori-san. Aku mengernyit bingung. Apa Iori-san sudah terlebih dulu ke tempat meeting ya? Ukyo-san yang biasanya mengurus sarapan juga tidak ada. Ah, kalau Ukyo-san kayaknya akhir-akhir ini memang lagi sibuk. Sibuk menjadi pengacara korban kasus percobaan pembunuhan. Ada kasus percobaan pembunuhan yang anehnya lagi banyak terjadi di daerah Kanto. Bukan kasus pembunuhan, hanya percobaan. Tidak ada korban jiwa tapi korban kasus percobaan ini mengalami cacat pada salah satu tubuhnya. Aku sampai bosan melihat liputan kasus itu, yang hampir setiap channel televisi tidak bosan-bosannya memperingatkan masyarakat untuk berhati-hati.

Aku menyelesaikan sarapanku dengan cukup cepat hingga sempat tersedak. Natsume-san menatapku dengan tatapan rasakan-tuh yang kubalas dengan leletan lidah nan lihai. Uniknya, pria tampan satu itu malah menawarkan diri untuk mengantarku. Ish, kakakku satu itu baik banget sih. Udah dikerjain, tetap aja baik. Wahahaa…

.

.

.

Aku menatap pria yang kini sedang tersenyum ke arahku. Pria bernama Yamashita yang merupakan produser sekaligus sutradara film yang kali ini kuikuti menatapku penuh minat. Pria itu mengoceh panjang lebar, mengatakan betapa proyek film ini akan menjadi sangat menyenangkan dikarenakan para pemain yang memiliki intrik tersendiri dalam kehidupan pribadi masing-masing, yang tentu saja, membuatku mual.

Gimana tidak? Ada Fuuto, ada Iori-san dan ada Yuusuke. Oh, man! Kalau sampai Eiichiro-san juga muncul, siapa pun, bunuh aku!

"Aika-chan!" panggil Yamashita-san, sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.

Aku tersadar dari lamunanku, lalu terkekeh pelan. "Ah, maaf. Saya tadi teringat Fuuto."

Yamashita-san menampakkan cengiran lebarnya dan tatapan menyelidiknya. "Hee, masih suka ya?"

Aku mengusap tangan kiriku, lelah. "Tentu saja."

Yamashita-san memiringkan kepalanya seraya menyipitkan kedua matanya. "Aika-chan kenapa waktu itu memutuskan Fuuto?"

"Anggap saja waktu itu saya kesal dengan Fuuto yang ternyata masih belum menyukai saya meskipun ia mencap saya sebagai miliknya."

"Hmm, hanya karena itu?" Yamashita-san tampak tak percaya sepenuhnya.

"Memangnya Yamashita-san inginnya seperti apa?" tanyaku, menyelidik.

Pria itu tersenyum kelewat manis. "Yaaa… aku hanya menebak kalau ada suatu yang lebih dalam dan menegangkan juga… tampaknya menyenangkan."

Aku mendecih. "Menyenangkan, hah…" aku menghela nafas panjang. Bagi Yamashita-san, misiku kali ini mungkin saja terdengar menyenangkan.

"Aika-chan!" sapa sebuah suara, membuatku tersentak.

Ah, pelaku pertama telah hadir. Di pintu ruang meeting, tampak Iori-san dengan wajah bersinar. Pria itu menghampiriku dan Yamashita-san. Tangan kanannya mengusap rambutku sesaat sebelum meraih kursi dan menggesernya ke samping kanan kursiku.

"Aku tidak terlambat kan?" tanya Iori-san, matanya menatap puja diriku.

Aku menggeleng. "Nope." Tiba-tiba, aku merasakan banyak tatapan yang menuju padaku, ah, bukan, melainkan ke Iori-san. Aku sweatdrop. Nasib aku nih, menjadi gosip hangat hari ini, tampaknya.

Beberapa menit berikutnya, aku sibuk berkenalan dengan pemain lain yang juga bermain acting di film ini. Mereka menerimaku dengan baik, meski aku yakin, mereka masih meragukan kemampuanku. Namun, tiba-tiba, pekikan di ruangan terdengar dan aku menyadari sang pasangan tokoh utama yang sedang booming pun hadir di ruangan. Fuuto dan Rina memasuki ruangan dengan Rina bergelayut manja di lengan Fuuto. Aku menelan ludahku. Perih.

Beberapa orang menghampiri keduanya, dan aku maupun Iori-san pun terlupakan. Orang-orang mungkin masih heboh dengan pemberitaan Fuuto yang berpacaran dengan Rina. Hmph! Sejauh yang aku tau, Eiichiro-san juga sama terkenalnya dengan Fuuto. Kalau pria tampan satu itu mengumumkan kisah percintaannya, apa akan seheboh Fuuto ya?

Eh, eh, kok aku jadi mikirin Eiichiro-san?

Set! Sebuah tatapan tajam terarah padaku dari sepasang mata milik Fuuto. Aku membelalak kaget. Jantungku berdetak cepat tak terkendali. Aku dapat merasakan kedua tanganku mendingin. Namun, tak berselang lama, aku bisa merasakan seseorang memegang kedua tanganku dan bersamaan dengan tatapan Fuuto berpindah ke pria yang ada di sebelahku. Aku menoleh dan mendapati Iori-san menatap tajam Fuuto. Aku melirik Fuuto dan mendapati pemuda itu juga membalas tajam Iori-san. Aku menghela nafas panjang, berpikir, kapan kedua bersaudara ini dapat akur.

Tak berselang lama, rapat pun dimulai.

.

.

.

Aku menarik nafas dalam-dalam.

Fyuh. Akhirnya rapat pun selesai. Gila aja! Tegang banget tadi! Apalagi ketika perkenalan aku kepada forum. Rina menatapku tajam dan beberapa orang menahan nafas melihat interaksi kami selama rapat tadi, dimana Rina selalu berusaha mencari masalah denganku. Aku berdecak. Wanta itu nggak bisa profesional apa? Aku aja tidak mengubris Fuuto yang notabene mantanku selama rapat tadi. Hm, nggak tau deh kalau di luar rapat. Hohoho.

Aku beranjak dari kursiku dan berpamitan pada Yamashita-san. Pria itu tersenyum padaku lalu menggodaku tentang Fuuto. Aku hanya tersenyum menanggapi. Lelah.

"Aika-chan habis ini mau kemana?" tanya Iori-san juga ikut beranjak dari kursinya.

Aku melirik pria yang akhir-akhir ini tampaknya makin gencar mendekatiku. Tapi, entah kenapa, aku masih yakin, Iori-san tak sepenuhnya menganggapku sebagai Love Target baginya. Entah kenapa. Aku juga nggak tau. Instingku yang bilang.

"Aku ada janji sama seseorang," ucapku, sambil melangkah menuju pintu.

"Fuuto?" tebak Iori-san.

Aku menggeleng.

"Jangan bilang… si sombong itu?"

Aku menaikkan salah satu alisku, tertarik. "Siapa?" tanyaku setengah tertawa.

"Si… siapa itu namanya? Aku lupa…" Iori-san tampak ogah-ogahan.

"Siapa?" tanyaku mengejar.

"Ah, si akaboshi."

"Oh, Eiichiro-san?" Aku tertawa geli.

"Kamu janjian sama dia?" ulang Iori-san, tampak kesal. Kau makin penasaran dengan tingkah para Asahina terhadap Eiichiro-san. Ya ampun, Eiichiro-san menyalakan api apa sih di hati para Asahina? Penasaraaan.

"Bukan. Sama cewek kok." Aku menggeleng, lagi.

"Oh, baguslah."

"Iori-san," panggilku.

"Hm?"

"Kenapa sih Iori-san sama yang lain pada anti banget sama Eiichiro-san?" tanyaku, sambil memegang tangan kiri Iori-san, berharap pria itu menjawab dengan sejelas-jelasnya.

Iori-san memalingkan wajahnya. "Nggak suka aja."

Huh. Jawabannya retoris banget. Sebel.

"Ya udah kalau nggak mau kasih tau." Aku melepas genggamanku. "Aku mau ke tempat temanku dulu ya."

"Oke. Hati-hati ya."

Aku mengangguk. "Bye-bye!"

Aku pun berjalan menjauhi Iori-san. Aku meraih ponselku dan menggigit bibirku. Sebuah notifikasi email terlihat di layar. Notifikasi yang memintaku untuk segera berkumpul. Ya. Email dari grup anti fans. Aku menghela nafas panjang, merasa berat. Aku tak ingin berkumpul dengan para manusia yang penuh dengan aura negatif itu. Mereka hanya membicarakan bagaimana mereka membenci para artis. Bagaimana mereka mengungkapkan bahwa diri mereka jauh lebih baik dibanding dengan artis yang mereka benci, tanpa menyadari bahwa diri merka begitu busuk.

Ah, boleh ga aku kabur aja?

.

.

.

Aku melangkahkan kakiku dengan berat menuju salah satu club malam. Aku mau menemui salah satu temanku, yang kuharap bisa membantuku. Hingar bingar club menyapaku ketika aku melangkahkan kakiku. Aku menatap panggung tempat seorang DJ yang sedang asik berkarya. Aku tersenyum. DJ itu cakep juga. Musiknya juga asik. Aku menatap ke arah lantai dua, dimana banyak manusia hilir mudik dengan keasikan mereka yang kebanyakan sedang bermesra ria. Aku tertawa kecil. Ingat kalau dulu aku pernah di tembak oleh seorang pria di club waktu di London. Pria london itu begitu romantis, hampir saja aku menerimanya kalau aku tak ingat bagaimana akhir kisahku dengan Fuuto waktu itu. The point is, at that time, I am still in the broken heart phase. Aku tertawa miris.

Aku mencari sosok temanku namun sebuah tangan tiba-tiba merangkul leherku dan menarikku. Aku tersedak dan susah bernafas dikarenakan leherku terjepit oleh lengan kokoh yang menarikku. Aku memukul lengan kokoh itu dengan segala kekuatanku hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku telah dibawa menuju salah satu sudut club. Aku menelan ludahku. Aku mulai merasa takut.

"Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara yang beberapa hari ini menghantuiku terdengar seksi di telingaku. Aku membeku. Sumpah. Kayaknya ada setan di belakangku.

Aku menoleh secara perlahan menuju wajah pelaku yang menjerat leherku, sambil membalikkan badanku. Aku sontak terkejut dengan wajah yang sedang menatap tajam diriku.

Ya. Dia memang setan. Dia… Fuuto.

"Fuuto." Gumamanku begitu lemah, namun membuat jantungku kini berpacu dengan angin. Aku menggigit bibir bawahku.

"Kamu tak ada niat menjawab pertanyaanku?" tanyanya kini, masih tetap menatap tajam ke arahku. Tangan kanannya memeluk bahuku sehingga kini wajahku dengan Fuuto tak jauh dari sepuluh sentimeter dimana aku yakin, pemuda itu dapat mendengar degup jantungku yang berpesta ria.

Aku menelan ludahku dengan gugup. Kedua tanganku yang terhimpit antara tubuhku dan tubuh Fuuto dapat merasakan otot perut Fuuto yang tercetak abs dengan sempurna. Sekali lagi, aku menelan ludah dengan susah payah. Eugh. "Hah?" gumamku, mulai bego.

Dia berdecak. "Aku bertanya, apa yang sedang kau lakukan disini."

"Ah, tumben kamu nanya baik-baik." Aku berujar. Ups, wajah Fuuto tampak kesal.

"Kamu nggak mau menjawab pertanyaanku ya?" tanyanya, dengan nada kesal.

Aku menganga, bingung mau berkata apa. Aku hanya bisa menaikkan salah satu tanganku lalu mengibas-ibaskannya.

"Kamu jadi bodoh ya? Jawab aja susah." Fuuto mendecakkan lidahnya. Terdengar begitu seksi. Oke, aku mulai melantur.

"Oh, itu… aku mau ketemu teman," jawabku, seadanya.

Alis Fuuto mengkerut. "Teman? Yakin bukan mantan pacar? Atau calon pacar?"

Aku mengkeret. "Iya sih, mantan. Tapi sekarang cuma teman doang kok."

Fuuto menghela nafas panjang. "Ada nggak sih cowok yang bukan mantan pacarmu yang bisa aku temui? Kayaknya di kota ini, di setiap sudutnya ada aja mantanmu."

Aku mengkerucutkan bibirku. Sebal. Dih, mantanku kan nggak sebanyak itu. Aku bukan peternak mantan!

Cup! Sebuah bibir mengecup bibirku sesaat.

Aku membelalakkan mataku. Terkejut.

Fuuto menyeringai. "Bibirmu bisa nggak sih berhenti minta dicium?"

Aku menganga. Siapa juga yang minta cium?

"Hei, temani aku minum!" perintah Fuuto, tiba-tiba, membuat keningku makin berkerut dan bibirku makin mengerucut.

Cup! Sekali lagi, bibir Fuuto mengecup bibirku.

"Kuanggap kau menyetujuinya. Ayo!"

Dan setelahnya, aku hanya bengong sambil memerhatikan Fuuto yang sedang menarikku menuju salah satu bar dan memesan minuman untuk kami berdua.

Oke, fix! Aku nggak sedang mimpi kan?

Aku sedang berbincang dengan Fuuto! Ya ampun! Ya ampun! Aku nggak pengen bangun dari mimpi ini! Please!

.

.

.

"Jadi, kamu sekarang pacaran dengan Rina?" tanyaku, berusaha tampak tegar.

Fuuto menyesap gin miliknya sambil kedua mata tajamnya menyipit dan melirik ke arahku. Aw man! Pemandangan yang kulihat saat ini begitu memabukkan. Seksi banget sih ini cowok!

"Hmmm." Ia berdehem.

"Iya atau enggak?" Aku menggeram.

"Kan aku waktu itu sudah bilang." Fuuto meletakkan gelasnya dan mengangkat tangannya ke arah bartender. "Saya minta yang lebih kuat ya?"

Bartender itu tersenyum dan mengangguk.

Aku mengerucutkan bibirku. "Kamu jangan banyak minum deh! Kalau mabuk gimana?"

Cup! Kembali ia mengecup bibirku.

"Berhentilah minta dicium," ucap Fuuto dengan seringaian yang begitu seksi bikin meleleh.

"Aku nggak minta cium! Ih!" Aku meraih gelas berisi margarita milikku dan menyisipnya. "Kamu bahagia sama dia?"

"Kenapa memangnya?" Fuuto menggeser tubuhnya mendekati diriku.

Aku meletakkan gelasku dan ikut menatap Fuuto. Aku meraih helai rambut Fuuto yang berantakan lalu merapikannya. "Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia."

Tangan Fuuto ikut memainkan rambutku. "Kamu sendiri, bahagia jadi playgirl?"

Aku mengerucutkan bibirku. Dan sekali lagi, ia menciumku. Aku mulai pasrah. "Kamu kayaknya sensi banget deh ya sama aku. Sering banget nyebut aku playgirl."

"Memang kenyataanya begitu kan?" Fuuto menjauh lalu meraih gelas yang baru saja diletakkan oleh bertender. Sebuah sparkling wine bersinar di gelas milik Fuuto. Aku geleng-geleng kepala.

"Itu minum terakhirmu malam ini! Kamu bisa mabuk tau!" tegurku.

Fuuto menyeringai. "Aku peminum kuat. Jangan meremehkanku."

Aku mendengus. "We will see."

Dan sejam berikutnya, aku pun mengaduh ketika berat tubuh Fuuto yang kuseret begitu berat. Tuh kan, mabuk! Sebel deh!

.

.

.

Aku pun sampai di komplek apertemen yang dibilang Fuuto. Aku membayar argo taksi yang kugunakan. Aku menepuk bahu Fuuto, berusaha membangunkan si tukang tidur yang sedang nyenyak meletakkan kepalanya di bahuku.

"Fuuto. Kita sudah sampai." Aku menatap wajah Fuuto yang mulai terbangun.

Tanpa berkata-kata, pemuda mabuk itu keluar dari taksi. Aku pun mengikutinya dari belakang. Fuuto menekan beberapa tombol dan pintu lobby apertemen itu pun terbuka. Dengan sempoyongan, Fuuto berjalan menuju lift.

"Lantai berapa?" tanyaku sambil menekan tombol lift untuk menutup pintu lift.

Fuuto melirikku lama, lalu menyeringai. Aku menghela nafas. "Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku hanya mengantarmu sampai kasurmu. Memastikanmu nggak tidur di lantai."

"Hmmm." Seringaian itu melebar. Aku mengerucutkan bibirku. Kembali, dengan tiba-tiba, ia menciumku.

Aku mendecak. "Berhenti menciumku!"

Fuuto memalingkan mukanya, tak merespon protesku. Sebal.

Akhirnya kami sampai di depan pintu apertemen Fuuto. Dengan sempoyongan, ia memencet password pintu apertemennya. Aku langsung menangkap tubuh Fuuto yang tiba-tiba terhuyung ke belakang.

"Gila! Kamu berat!" Aku menyeret tubuh Fuuto masuk ke dalam apertemen.

Suasana minimalis menyapa mataku ketika memasuki apertemen Fuuto dan… gila, berantakan banget! Aku bisa melihat kotak bekas makanan yang membusuk di samping sofa dan pakaian kotor di atas meja makan. Aku mengernyitkan keningku. Itu ngapain ada menara yang terbuat dari tumpukan buku di atas meja makan?

Aku geleng-geleng kepala. "Ck, ck. Pacarmu nggak bantuin kamu beresin ini apertemen apa?"

Fuuto mengucek-ngucek matanya. Ia mulai membawa badannya menuju salah satu ruangan yang mungkin merupakan kamar tidurnya. "Kamu satu-satunya cewek yang pernah kubawa kesini."

Deg!

Sungguh?

Aku menggigit bibir bawahku. Menyadari jantungku yang kembali berpacu dan kehangatan yang melingkupi dadaku. Oh, oh, Aika! Jangan ge-er deh!

Aku mengikuti Fuuto ke dalam kamarnya. Dengan sekali hentakan, Fuuto terjatuh ke tempat tidur besarnya. Aku geleng-geleng kepala. Dengan sedikit memaksa, aku melepas sepatu dan jaket yang dikenakan Fuuto. Menarik tubuhnya agar lebih nyaman dan menyelimuti Fuuto. Aku beranjak menuju dapur dan mengecek kulkas. Tak ada makanan. Satu pun. Aku mulai meragukan kemampuan Fuuto mengurus dirinya. Dengan sedikit terburu-buru, aku keluar apertemen Fuuto menuju lantai tiga dimana terdapat supermarket komplek apertemen.

Aku membeli beberapa bahan makanan dan minuman herbal. Sesampainya di apertemen Fuuto, aku membuat bubur ayam dan meletakkan cangkir dan satu sachet minuman herbal di meja dapur. Tak lupa menyalakan pemanas air di dispenser. Aku menaruh bubur buatanku di container dan meletakkannya di sebelah cangkir. Aku meraih tasku dan mengambil buku kecilku dan merobek selembar kertas. Setelah puas menulis apa yang kuinginkan, aku meletakkannya tak jauh dari cangkir. Aku pun membereskan apertermen Fuuto sebisaku. Setelah semuanya selesai, aku kembali memakai jaketku dan memanggil taksi lewat ponsel.

Aku mengenakan sepatuku, dan tiba-tiba aku berhenti. Aku menggigir bibir bawahku. Aku memejamkan mataku sesaat lalu melepas kembali sepatu yang kukenakan. Aku melangkah menuju kamar Fuuto. Tampak Fuuto sudah tertidur dengan lelap. Aku mendekatinya dan membelai rambut coklatnya. Setetes air mata mengalir di pipiku. Aku tertawa miris. Aku mendekatkan wajahku dan mengecup kening Fuuto dengan perasaan campur aduk.

"Good night, Fuuto," bisikku.

Dan aku pun beranjak meninggalkan apertemen Fuuto.

.

.

.

Dug! Suara kepala yang bertubrukan dengan dinding lift terdengar.

Aku menyesal. Sial.

Dug! Aku kembali membenturkan kepalaku ke dinding lift. Berusaha mewaraskan diriku kembali.

"Gila," desisku.

Dug!

"Bangun Aika!"

Dug!

"Kamu sudah putus dengannya."

Dug!

"Dia tak mencintaimu."

Dug!

"Lupakan dia."

Dug!

Aku terdiam. "Aku mencintainya." Aku menghela nafas panjang. "Kapan aku bisa melupakannya?"

.

.

.

Besoknya, aku tidak terlalu terkejut ketika beberapa foto diriku dan Fuuto yang sedang berciuman di bar terpampang jelas di sebuah majalah harian. Aku berdecak ketika melihat siapa penulis artikel tersebut. Jadi, ketika aku sampai di studio untuk pengukuran baju, aku disambut oleh beberapa wartawan yang dengan kelewat semangat mewawancarai diriku.

"Apa anda kembali bersama dengan Fuuto?"

"Kabarnya anda selingkuh dengan Fuuto? Bagaimana tanggapannya?"

"Apa anda benar-benar ikut main film ini untuk kembali bersama Fuuto?"

"Rina dikabarkan akan memasung anda. Apa itu benar?"

Hah? Masung aku? Aku tertawa dalam hati.

Aku menunggu sampai wartawan itu puas mengeluarkan uneg-uneg mereka. "Sudah?" tanyaku pada mereka yang kini sedang menarik nafas dalam-dalam. Aku tersenyum. "Memang benar aku berciuman dengan Fuuto tadi malam. Tapi itu tidak sengaja. Kami hanya bercanda. Aku dan Fuuto tidak memiliki hubungan apa pun."

"Tapi kok kalian bersama kembali ke apertemen Fuuto?"

"Ngomong yang jujur dong! Tau kok anda memang mau ngambil Fuuto lagi! Selingkuh ya selingkuh!"

Aku menghela nafas panjang. "Anda wartawan bukan sih? Pertanyaan nggak mutu banget," cecarku, menatap heran wartawan yang tadi menuduhku. "Saya ini nggak peduli anda mau menuduh saya, saya Cuma merasa anda tak pantas menjadi wartawan jika sikap dan pertanyaan yang anda ajukan seperti itu." Aku berdecak. "Dengar ya. Saya itu nggak mungkin ninggalin Fuuto di club dengan keadaan dia yang mabuk seperti itu. Jelas karena saya mantannya, jadi saya nggak ingin hal buruk terjadi padanya. Saya malah heran, ini penulis artikel tau aja saya sama Fuuto ada di club itu. Stalker ya? Dari awal gosip antara saya, Iori-san, dan Fuuto, penulis ini tampaknya kelewat semangat. Cewek apa cowok sih?"

"Cowok kalau nggak salah, Haruno-san," jawab salah satu wartawan.

"Wah, dia nggak homo kan? Ngejar-ngejar berita Fuuto sampai seperti itu. Bahkan ia asal menyimpulkan dan tidak mencari fakta."

Beberapa wartawan terkekeh.

"Serius loh! Sekarang ini, saya malah merasa bersalah sama Sashikara-san. Dia pacar Fuuto dan saya malah ada skandal dengan Fuuto."

"Apa yang akan anda lakukan?"

"Apa anda akan meminta maaf?"

Aku memiringkan kepalaku, mengingat email yang kukirimkan tadi pagi ke Rina dan dibalas dengan cacian luar biasa yang aku baru tahu ternyata ada di kamus. Wow. Aku berdehem. "Sudah kok. Dan kalian nggak perlu tahu kelanjutannya. Bye-bye!"

Aku pun meninggalkan sekumpulan wartawan itu dan masuk ke dalam gedung. Aku melirik ponsel dan menatap tajam email yang baru masuk, dari admin website anti-fan. Bulu kudukku berdiri. Email itu berisi permintaan penjelasan mengenai skandal tadi malam. Aku mengetik beberapa kalimat, dan mengirimnya. Aku berharap, email-ku dapat diterima oleh para anti-fans. Jika tidak, bisa gawat.

.

.

.

Aku membalas email-email para Asahina bersaudara dengan cepat. Beberapa dari mereka ada yang ngambek, dan aku jadi bingung karenanya. Heran deh. Tapi apa peduliku. Sekarang, yang harus diperhatikan dan dipedulikan adalah jadwal lengkap pelaksanaan penyerangan artis besar-besaran yang tinggal hitung minggu! Sial! Aku pusing! Sepulangnya dari apertemen Fuuto tadi malam, aku langsung menuju tempat temanku yang tidak jadi bertemu dikarenakan Fuuto. Kami berbincang lama, sehingga aku kurang tidur. Semoga hari ini aku bisa curi-curi waktu untuk tidur.

"Pagi!" sapaku pada segelintir staf film yang sedang sibuk. Mereka menjawab sapaanku dan langsung ribut menanyakan kegiatanku dengan Fuuto tadi malam. Aku jujur saja kalau aku tak sengaja bertemu dengannya dan kami mengobrol. Sindiran tak tertampiskan mengenai ciuman aku dan Fuuto.

"Oh, jadi dia yang nyium kamu, Aika-san!"

"Wah, berarti itu artinya dia masih suka sama kamu, Haruno-san!"

"Iya, iya. Kamu emang lebih pantas kok dibanding si Rina-rina itu!"

"Bener bener!"

"Apa bagusnya sih, si sombong itu?"

"Belagu!"

Oke, cukup! Aku nggak butuh energi negatif lagi untuk hari ini. Aku ngantuk!

"Aku tidur dulu nggak apa? Kalau set baju aku sudah datang, bangunin aja. Oke?" pintaku, benar-benar sudah ngantuk berat.

Beberapa staf mengiyakan dan dengan cepat aku sudah berbaring di salah satu sofa di ruangan itu. Aaaah, semoga aku mimpi indah…

.

.

.

Aku menggeram kesal. Seseorang dengan begitu semangat menggoncang-goncang tubuhku. Sial! Aku masih ngantuk! Aku membuka mataku perlahan dan tersedak, ketika menemukan wajah Iori-san yang begitu dekat dengan wajahku. Nafas hangatnya menerpa wajahku, membuatku terpaku. Duh, ini kok bisa di posisi aneh gini? Batinku menjerit.

"Iori-san?" gumamku, menekan kepalaku ke sofa, berusaha menjauh. "Ngapain disini?"

Iori-san menampakkan senyuman khas pangeran berkuda putihnya. Oww, silau man! "Baju-baju kamu udah ada tuh! Aku menawarkan diri untuk membangunkanmu, princess."

Aku mendengus. "Oh."

Iori-san terdiam sesaat lalu senyuman sedih tersampir di bibirnya. "Hmm, sepertinya kamu lagi nggak mau ketemu aku ya?"

Aku memutar kedua bola mataku. "I'm just sleepy. Syush! Go away! I wanna get ready. And, get out from my room. You shouldn't be here, dude!"

Iori-san tertawa kecil. "Oke, oke. Sampai nanti, Aika-chan!"

"Hm."

Aku menghela nafas panjang. Keningku berkerut, bingung. Sejauh ini, sikap pria satu itu begitu ambigu. Dulu bilangnya Cuma iseng-iseng, sekarang kalau cuma disebut iseng-iseng, rasanya nggak pas. Seperti ada behind the scene dari sikap Iori-san.

Aku mendengus. Pria tampan satu itu sepertinya lagi asik mengganggu kehidupanku. Aku mengacak-acak rambutku, sebal. Aku hanya berharap pria itu tak mengganggu rencana penyelamatan para idol yang sedang aku jalankan.

"Haruno-san!" seorang staf memanggilku.

"Iya, aku kesana!"

.

.

.

Aku mendengar ketukan di pintu lalu terdengar suara Yuusuke, membuatku menghela nafas. "Aika! Aku boleh masuk?"

"Ya! Masuk aja." Aku melipat pakaian yang baru saja kucoba. Aku bersyukur semua pakaian pas dan cocok dengan badanku. Staf yang tadi bersamaku kini sedang ke kamar mandi.

"Ai-WAAAAA!" teriakan Yuusuke menggelegar di seluruh ruangan.

Aku menggeram. "Apa sih, Yuusuke!"

Yuusuke menutup kedua matanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk menutup pintu. "Ka-kamu kok nggak pake baju sih? Gila! Aku tuh cowok tau!"

Aku melirik badanku yang hanya mengenakan bra dan celana dalam.

Ups.

Aku segera meraih bajuku dan mengenakannya. Beberapa menit kemudian aku memberitahu Yuusuke kalau aku sudah selesai. Yuusuke menurunkan kedua tangan yang menutup wajahnya sambil menggerutu.

"Kamu tuh punya kesadaran diri nggak sih?"

Aku tertawa kecil. "Anggap aja keberuntungan ngeliat body bohay aku, Yuusuke."

Wajah Yuusuke sontak memerah. "Aika! Kamu jangan kebiasaan memamerkan tubuh gitu! Hargai dong, tubuh kamu."

Aku tersenyum kecil. "Oke. Makasih Yuusuke, udah peduli sama tubuh aku."

Wajah Yuusuke yang sudah memerah kini makin memerah. "Ng-nggak usah berterima kasih se-segala."

"Lalu, ada urusan apa kesini Yuusuke?" Aku meletakkan tubuhku di sofa, kemudian meregangkan tubuhku.

Yuusuke mengambil tempat di sampingku sambil menatapku tajam. "Ada yang mau kutanyain."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Hm?"

Yuusuke menghela nafas lalu menatapku tajam. "Apa tujuanmu ikut syuting film ini?"

Aku terdiam. Pikiranku berkecamuk. Kenapa Yuusuke menanyakan hal tersebut?

Yuusuke berdeham. "Aku sempat bingung, heran juga, kamu tumben mau meng-ekspos jati diri kamu ke khalayak ramai. Kamu saja menyembunyikan identitas ketika jadi penulis, kenapa sekarang malah ikut syuting? Kalau alasannya cuma mau balikan sama Fuuto-sialan itu, aku kurang yakin. Karena, aku tahu, kamu bukan tipe cewek yang seperti itu."

Hatiku menghangat. Kini, aku kembali teringat, mengapa dulu aku menjauhi Yuusuke. Pemuda ini begitu hangat, begitu peduli dan… penuh cinta. Aku takut aku akan begitu bergantung hingga membuat Yuusuke terjerat olehku untuk selamanya. Aku menatap wajah Yuusuke dalam-dalam, memerhatikan sinar matanya yang penuh kepedulian dan kekhawatiran. Yuusuke selalu seperti ini. Membuatku merasa lemah dan bergantung padanya.

Aku tersenyum kecil. Hm, tambahan personel selain Natsume-san dari Asahina bersaudara kayaknya tak masalah. Aku yakin Yuusuke bisa membantuku, bahkan bantuan dalam hal mental.

"Sebenarnya…" aku pun mulai menceritakan sejarahku yang pernah menjadi anti-fan dan penemuanku atas rencana besar para anti-fan dalam menjatuhkan para idol. Yuusuke mendengarkan tanpa memotong, wajahnya berubah kaku. Aku juga menjelaskan rencanaku demi menyelamatkan para idol yang entah kebetulan atau apa, sebagian besar berkumpul di penggaraban film ini.

"Gila," itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Yuusuke setelah mendangar penjelasanku.

"Ya, kebencian, dengki dan cemburu itu bisa menghasilkan hal yang gila. Aku pernah jadi anti-fan, jadi aku mengerti, rasa keterpurukan, kesedihan, rasa ingin menjatuhkan. Itu benar-benar mengerikan." Aku beranjak dari sofa dan meraih naskahku. "Aku hanya berharap, sebagian dari para anti-fan itu tersadar betapa mengerikan rencana mereka."

Yuusuke menghela nafas panjang. "Kalau begitu, aku akan melindungimu."

Aku sontak memalingkan wajahku ke arah Yuusuke, keningku berkerut. "Melindungiku?"

Yuusuke mengangguk. "Rencanamu berbahaya, jadi pastinya bakal ada yang berusaha untuk menghentikanmu. Jadi, aku akan melindungimu. Lagipula, aku tak mungkin membiarkan gadis yang kusuka berada dalam bahaya sendirian. Dan akau juga nggak mungkin minta kamu untuk berhenti, karena aku tahu kamu nggak akan mau."

Sudut bibirku berkedut, rasanya ingin tersenyum begitu lebarnya. Yuusuke selalu tahu bagaimana mengobrak-abrik hatiku. Namun, di sudut hatiku, ada rasa sakit karena aku tahu, sebesar apa pun aku menyukai Yuusuke, itu bukan cinta seperti yang kurasakan ada Fuuto. Seberapa keras aku ingin melupakan Fuuto, hatiku tak membiarkan hal itu terjadi.

Aku mendengus. Logic is stubborn, but heart is more stubborn than logic.

Aku melangkah mendekati Yuusuke kemudian dengan cepat memeluk tubuh oemuda itu. "Thanks, Yuusuke."

Yuusuke awalnya terdiam kaku, namun beberapa saat kemudian ia membalas pelukanku. "Ng-nggak usah berterima kasih, kubilang."

Aku tertawa kecil, merasa bahagia. Namun, aku sontak terdiam ketika bisikan Yuusuke tertangkap indera pendengaranku.

"Aku suka kamu dalam pelukanku, Aika."

Dan hatiku kembali teriris karenanya.

.

.

.

Beberapa staf terlihat kocar-kacir, sibuk dengan tugas masing-masing. Aku melangkah menuju ruangan sutradara karena ingin menanyakan beberapa hal sebelum sesi pemotretan untuk film dimulai. Aku membuka pintu dengan perlahan, masih terfokus pada naskah yang kupegang tidak menyadari ada beberapa orang selain sutradara yang ada di ruangan.

"Ojamashimasu. Maaf, saya ingin menanyakan-" aku terdiam.

Di hadapanku, berdiri Eiichiro-san beserta Pak Produser dan wanita sang penulis naskah di samping Pak Sutradara. Aku membelalakan mataku.

Eiichiro-san tersenyum bahagia ketika melihatku. "Hei, Ai-chan!"

"He-hei?" Aku mulai kebingungan. "Ada urusan apa disini? Kukira Eiichiro-san ada interview dengan majalah hari ini."

Eiichiro-san mengahampiriku lalu menoel pipiku. "Itu sudah selesai. Sekarang lagi mengurus lagu soundtrack yang bakal aku buat untuk film ini. Aku senang, ternyata aku ditunjuk sebagai penyanyinya. Solo loh!"

"Oh ya?" Aku tersenyum kecil.

"Yep! Aku bakal bisa sering ketemu kamu." Eiichiro-san tampak senang.

Aku hanya tersenyum sambil mengerutkan keningku. Aku merasa aku melupakan sesuatu, tapi tak bisa mengingatnya. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan masuklah Fuuto dan Rina. Sontak atmosfer ruangan mendingin.

Fuuto mendesis. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?"

Eiichiro-san membalas tatapan Fuuto dengan seringaian sambil merangkul bahuku. "Halo Fuuto. Lama tak jumpa."

Wajah Fuuto memerah menahan amarah.

Aku menelan ludah susah payah, sambil berusaha kabur dari rangkulan Eiichiro-san.

Oh tidak! Jangan bilang perang dunia ketiga bakal dimulai?

Please, aku nggak mau ikutan!

.

4477 words.

December 17th, 2016.

.

[To be continued…]

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

Lalala… Muahahaha… ini cerita makin aneh aja ya… /nguburdiri

Bagi yang penasaran dengan penampakan Eiichiro, tuh ada di cover bertiga sama Fuuto dan Aika. Hope you like it, guys! This cover is uploaded just for a short time, then it will be back to the old one. I still prefer the old one but I want to show you this version, so… yeah, there it is!

Well, I'm so sorry it has been such a long time to update, but, seriously, guys, final exam is truly a scary thing. Saya turun dua kilo(saya ini udah kurus) dan saya meringis kalau liat cermin. Duh, saya udah kayak tulang belulang aja. Oke, lebay. Tapi, akhirnya, setelah melewati berbagai rintangan dan uraian air mata, saya lulus sidang juga. Wew. Give me applause please! X'3

Saya sudah lama tidak menulis, dan saya yakin gaya penulisan saya berubah. Semoga reader menerima perubahan gaya penulisan saya. Anyway, as usual, thank you for everyone who has read, rev, PM, follow and fave! Muach, muach!

Stay tune, and see you. #bow