AUTHOR'S NOTE:
Masih ada kaitannya dengan One Fine Day, tapi dari sudut pandang Kagura dan Shinpachi.
Enjoy Reading~
***GINTAMA milik Sorachi***
"Sudah paham yang aku maksud bukan?" tanya Katsura kepada teman-temannya setelah asik menjelaskan misi rahasia yang ia lakukan.
Kagura dan Shinpachi hanya melongo beberapa saat, sementara Katsura masih tetap menatap mereka bersama Elizabeth di sebelahnya. Sadaharu memiringkan kepalanya menandakan bahwa ia tidak memahami apa yang sedang dilakukan majikannya dan dua makhluk ajaib itu.
"Jadi misi yang akan kita lakukan ada kaitannya dengan isi amplop ini," kata Katsura sambil memainkan amplop dengan tangan kanannya sambil menutup mata, ala-ala prodigy. Elizabeth yang ada di sebelahnya pun mengipas-ngipas ala dayang.
"Foto seperti apa yang kita butuhkan?" tanya Kagura masih tidak memahaminya.
Katsura pun mengeluarkan isi amplop itu setelah ia memastikan tidak ada orang di sekitarnya yang lalu lalang atau mengintip. "Simpel aja seperti ini," kata Katsura tiba-tiba serius.
Kagura cepat-cepat mendorong tangan Katsura agar memasukkan foto itu kembali ke asalnya. Shinpachi yang melihat foto itu menjadi gugup dan wajahnya memerah hingga ke telinga. Saking gugupnya ia membetulkan kacamatanya berkali-kali.
"Kita hanya perlu memoto Gin-san yang sedang berkegiatan seperti biasanya bukan?"
"Ya kira-kira seperti itu," kata Katsura bangga. Ia sudah merasa senang hanya dengan kedua bocah di depannya ini mau membantu pekerjaan yang menurutnya merepotkan. Walau pun begitu, ia tetap ingin melakukannya.
"Berapa banyak? Lalu, kemana kami harus mengirimnya?" tanya Kagura lagi.
"Secukupnya saja," Katsura tersenyum. "Setelah itu langsung kirim ke alamat ini, oke?" kata Katsura lagi sambil menunjukkan alamat pengirim yang tertera di amplop.
Shinpachi pun dengan sigap mencatat alamat itu (entah kertas dan pulpen ia dapat dari mana). Selagi Shinpachi mencatat alamatnya, Katsura meminta Elizabeth untuk membeli 1 box es potong yang dijual oleh Mamang Es yang duduk di sisi taman dikelilingi oleh anak-anak yang ingin membelinya.
"Ini kamera yang bisa kalian gunakan, dan ini alat pencetaknya," Katsura menyerahkan perangkat tempurnya.
"Oke! Kalau begitu, ganbatte!" teriak Kagura seperti memberi aba-aba dengan mengangkat kedua tangannya ke langit. Katsura langsung mengikuti Leader-nya itu dan Elizabeth yang sudah membawa sekotak es potong dan bergabung kembali dengan mereka hanya menoleh ke langit.
Shinpachi pun menghela nafas sambil dengan malas mengikuti gerakan kedua orang itu. Sementara Sadaharu yang sedari tadi ada di sana tetap duduk manis memperhatikan tingkah makhluk-makhluk aneh di hadapannya.
Kagura, Shinpachi dan Sadaharu sudah berada di depan pintu rumah sekarang. Mereka berdiri diam tanpa bicara sepatah kata pun untuk beberapa saat. Bukan karena memikirkan bagaimana harus menyelesaikan tugas tersebut, melainkan karena mereka ingin menghabiskan es potong yang mereka makan selama di perjalanan.
"Kagura-chan, begitu masuk nanti pura-pura lah menaruh kotak es potong itu di kulkas. Selagi begitu, perhatikan di mana Gin-san berada. Aku tunggu di sini sampai kamu memberi aba-aba," kata Shinpachi kemudian setelah menghabiskan es potongnya dan membuang katiknya di tempat sampah di samping pintu.
Kagura yang juga sudah menghabiskan es potongnya itu tetap mengemut katik esnya ala-ala pendekar. "Baiklah aku masuk," dalam satu langkah ia membuka pintu dan diikuti dengan Sadaharu yang berjalan pelan di belakangnya.
Saat melewati ruang tamu, Kagura mendapati Gintoki sedang berbaring di sofa. Kagura langsung berbalik dan memberi aba-aba pada Shinpachi bahwa orang yang bersangkutan ada di sana.
Kagura melanjutkan langkahnya dengan perlahan menuju ke dapur dan segera meletakkan sekotak es potongnya ke dalam kulkas. Sementara itu, Shinpachi sudah melangkah pelan memasuki ruang tamu dengan kamera yang sudah siap di genggamannya.
Shinpachi menyentuh Jump yang ada di wajah Gintoki secara perlahan, agar ia tidak sampai terbangun. Setelah berhasil meraihnya dan melihat wajah tertidur pulasnya Gintoki, Shinpachi bergumam, "ahh maafkan aku Gin-san, aku menjualmu demi es potong."
Setelah memindahkan majalah Jump dengan hati-hati ke tangan Gintoki, Shinpachi mulai bersiap untuk memotret wajahnya. Awalnya tangannya gemetar karena takut kalau Gintoki akan terbangun. Namun kemudian, karena saking gugupnya ia tidak sengaja memencet tombol...
Cekrek!
Shinpachi panik karena ia tidak tahu kalau kameranya akan menimbulkan suara yang gawat begitu. Kagura yang menyadari kepanikan Shinpachi langsung menarik bagian belakang bajunya dan membawanya kabur keluar rumah.
Sementara itu, di dalam ruangan yang sunyi, Gintoki terbangun dengan wajahnya yang terpapar cahaya matahari sore.
"Cepat sekali..." batinnya.
"Tadi itu hampir saja, aru," kata Kagura sambil mengatur nafas karena harus berlari agar tidak ketahuan Gintoki.
"Maaf, aku kira suaranya tidak akan sekeras itu," kata Shinpachi sambil mengecek hasil jepret-annya tadi. Kagura pun ikut melirik ke arah foto yang sudah tercetak dengan alat pencetak foto portable itu.
"Hoaaa... itu bagus!" kata Kagura sambil terus melihat fotonya.
"Sip jadi satu, selanjutnya... Hmm, akhir-akhir ini aku sering lihat Gin-san pergi ke suatu kedai sendirian," kata Shinpachi sambil menyentuh dagunya, berpikir.
"Eeeh? Kedai apa? Kenapa tidak ngajak kita?!"
"Tenang dulu, mungkin dia biasa membuat janji dengan seseorang?" tebak Shinpachi asal.
"Kalau begitu ayo kita ke sana!"
Karena Shinpachi tidak begitu ingat lokasi kedai itu, mereka sempat nyasar beberapa kali. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang paruh baya yang sedang membuang sampah di depan rumahnya.
"Paman, apakah anda pernah melihat sosok pria berambut perak ikal dan selalu membawa pedang kayu di sekitar sini?" tanya Shinpachi sopan. Kagura hanya berdiri di belakangnya memperhatikan.
"Ah pria itu. Aku belakangan ini sering melihatnya pergi ke kedai itu tiap hari sekitaran jam ini," pria itu menunjuk suatu kedai di ujung sana, tepatnya di dekat jembatan.
Kagura dan Shinpachi pun pamit pada pak tua itu dan segera menuju ke kedai.
Sesampainya di depan kedai itu, mereka sembunyi di balik pintu masuk. Menoleh sedikit untuk memastikan sosok yang bersangkutan, Kagura langsung menarik bahu Shinpachi.
"Itu Gin-san duduk di sana!" Kagura menunjuk ke sudut ruangan yang terisolir dari keramaian kedai. Ia terlihat sedang melahap suatu makanan yang aneh.
"Kagura-chan, kemari," bisik Shinpachi sambil melambaikan tangannya ke arah Kagura yang masih berdiri di pintu untuk duduk di salah satu tempat yang kosong. Tempat yang strategis untuk mengambil foto Gintoki karena berada tidak begitu dekat maupun jauh darinya.
Cekrek! Cekrek!
Shinpachi mengambil beberapa gambar. Kagura yang bosan langsung merampas paksa kamera itu, "aku juga ingin coba," katanya sambil memfokuskan sasaran.
Tepat saat itu tiba-tiba Katsura datang mengejutkan Gintoki sambil menyentuh punggungnya.
Cekrek!
"Oiii... chotto Kagura-chan! Itu Katsura-san sedang apa?" tanya Shinpachi.
"Mana aku tahu. Pokoknya kita harus mengambil momen-momen Gin-chan secara jelas bukan? Itu misi kita," katanya sambil beberapa kali mengambil foto mereka berdua dan Elizabeth yang nyempil.
"Tapi bukannya seharusnya cukup Gin-san saja?"
"Sudah diam, aru!"
Tak lama kemudian Katsura pergi meninggalkan kedai. Sementara itu Gintoki tetap duduk di sana sambil lanjut minum sake yang ia pesan.
"Aku rasa sudah cukup, aru. Ayo kita pergi," katanya sambil mengibas-ngibas foto yang ia ambil dan melangkah keluar kedai. Shinpachi mengikutinya.
"Biar aku saja yang simpan fotonya, sekalian aku kirim besok pagi. Bisa gawat kalau Gin-san tau apa yang kita lakukan,"
"Ngomong-ngomong, kali ini gadis mana yang menginginkan foto-foto Gin-chan ini ya?" tanya Kagura penasaran sambil menyerahkan foto-foto itu kepada Shinpachi.
"Entah lah, lagipula alamat pengirimannya kelihatan asing juga. Yang penting kita sudah menyelesaikan misi kita," kata Shinpachi senang dan memasukkan foto itu ke amplop.
"Hahh... semoga suatu hari nanti wanita ini bisa langsung bertemu dengan Gin-chan dan mengutarakan perasaannya ya."
"Mm, aku yakin hari itu akan tiba."
FIN
