Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. Sungguh terima kasih banyak! *sungkem*
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, sisipan bahasa asing, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Pada kronologi memori, ketika satu per satu dari mereka menatapnya. Hanya segenggam dari bongkahan kekalahan teramat menyesakkan yang sekilas berpendar di sorot mata mereka, tiada lagi tingkah pongah—tergantikan keyakinan. Mencecap pahit kekalahan dengan kemantapan—berkata, "Pertandingan berikutnya, kita jadi musuh lagi—aku tidak akan kalah darimu!"
Tentu saja, bukankah yang sangat menyenangkan bermain basket tatkala kita berjuang keras untuk menggapai kemenangan?
Jika bermain basket lebih menyenangkan saat mereka saling berhadapan ketimbang kebersamaan, maka tanpa keberatan ia memilih opsi pertama.
Senyum yang mencapai mata. Kuroko Tetsuya mengangguk ringan. "Ya, tentu saja."
(Kuroko Tetsuya tidak menaruh atensi pada probabilitas terealisasi opsi kedua.)
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 2
"Unexpected Reunion"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Dua jam kemudian. Tim basket Seirin tiba di gimnastiok nasional terbesar di ibukota Jepang, Tokyo National Gym.
Selama perjalanan, mereka tidak henti mendiskusikan mengenai surat yang diberikan oleh ayah dari pelatih tim Seirin.
Mungkinkah ada latih-tanding basket melawan timnas basket Jepang yang hebat di taraf internasional?
Ataukah ayahnya Kantoku merekrut mereka jadi timnas basket Jepang? Oh, tidak mungkin.
Mengapa hanya Kuroko dan Kagami yang mendapat surat berbeda?
Kalau rapat ini begitu penting, mengapa satu tim basket perlu ikut?
Apakah Kagetora Aida seorang daughter-complex? Ah, ini benar.
Semua topik dari motif modus surat, hingga ke-daughter-complex-an seorang Kagetora Aida bahkan suara misterius Mitobe diperbincangkan. Menggoda Kiyoshi tentang Shizuka yang tidak ditanggap serius oleh yang bersangkutan. Kehebohan menertawakan Kagami yang lari berputar-putar di bus sekolah, ketakutan karena dikejar Nigou—anjing itu berpikir Kagami mengajaknya bermain atau semacamnya. Tertawa lagi karena lawakan lucu karena kata-kata random berima yang dicetuskan Izuki. Celetukan inosen Koganei dan Tsuchida, ditimbrungi omelan Hyuga dalam clutch mode.
Kecuali Kuroko yang diam. Sejak mimpi semalam, ia merasakan firasat aneh mengganjal hatinya. Mungkin ada hubungannya dengan apa yang akan mereka hadapi sekarang.
Kembali pada tim basket Seirin yang masih melongo dengan tampang bodoh terpesona ketika memasuki Tokyo National Gym. Olahragawan dan olahragawati berlalu-lalang atau berkonversasi, beserta properti dan atribut masing-masing, baru begitu saja sudah sangat mengagumkan di mata mereka. Tidak hanya itu, mereka kian terkagum-kagum tatkala menemukan beberapa pemain tim basket nasional Jepang berseliweran keluar-masuk lobi.
"Konichiwa. Kau benar dari Seirin?"
"Ah, ya—" Riko cepat memulihkan diri, baru yang lainnya turut mengikuti. Mereka tertegun tatkala menoleh kemana-mana tidak menemukan eksistensi yang menyuarakan selontar tanya.
Kecuali Kiyoshi yang sangat mengenali suara itu. "Oh, Kaze-san!"
"…Kiyoshi-kun, kaukah itu?"
Kuroko yang berdiri di paling belakang teman-temannya, berbalik lalu memerhatikan seseorang yang menyapanya, memayungi diri dengan payung warna putih dan sekian detik mereka berpandangan. Kuroko mengobservasi pemuda yang tingginya tidak beda jauh darinya, albisian dengan kelereng oniks solid pada matanya. Wajahnya rupawan kendati terimpresi kepolosan sekaligus kemisteriusan tak terjamah—atau eksentrik. Hei, orang apa yang tidak dianggap aneh berpayung di dalam ruangan? Di luar juga terang benderang tanpa setitik pun air menetes dari langit!
Dia yang dipanggil Kaze mengembangkan senyum lugu, matanya menyorotkan suatu pemahaman ketika memandangi Kuroko, sesuatu yang tidak Kuroko mengerti.
Kiyoshi yang satu-satunya menyadari kehadiran pemandu mereka. Ia berputar ke belakang, melihat payung putih yang sangat akrab di indera pengelihatannya—seperti yang selalu diingatnya. "Kaze-san!" Kuroko memerhatikan Kiyoshi menghampiri Kaze dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar. "Sudah lama kita tidak bertemu!"
Kaze mendongakkan kepala untuk menatap Kiyoshi. Barulah saat itu tim Seirin menyadari eksistensi satu lagi. Kaget melihat Kaze yang notabene lebih pendek dari Kiyoshi, mengangkat tangan dengan jari-jemari kurus nan panjang untuk menepuk ringan kepala Kiyoshi. Yang ditepuk kepalanya tidak marah, justru terlihat sangat senang.
"Terakhir saat tahun lalu saat kau cedera, ya?" kata Kaze dengan suara halus yang entah kenapa membuat sekujur tubuh bergidik. "Keadaanmu sekarang … sangat baik."
Kiyoshi mengangguk antusias. "Tentu saja!"
"Syukurlah," ucap Kaze lega. Mata oniks itu mengerling Kuroko, di bibirnya tersenyum simpul pengertian. "Pemain basket juga?"
Kiyoshi mematut sudut-sudut mata oniks yang tampak pucat seperti orang sakit itu. Dia tahu Kaze bisa sangat observan pada seseorang atau memahami sesuatu secara cepat meski terkadang tak kasat mata. Ada sesuatu dalam diri sang adik kelas yang memagnetisme atensi Kaze. "Iya. Dia adik kelasku di Seirin."
Kuroko membungkukkan badan sekilas. "Domo. Hajimemashite. Kuroko Tetsuya desu."
Kaze kini menatapnya lekat. Manik langit siang hari yang cerah beradu dengan pekat kelereng laksana malam hari. Ia balas membungkuk sopan. "Hayate Kaze desu. Yoroshiku~" senandungnya dengan nada enka. "Kau pemain basket yang sangat unik."
"Eh?" Kuroko memiringkan kepala, tidak mengerti.
"Kiyoshi-kun, Kuroko-kun, ayo kita ke ruang rapat!" Tanpa menjawab kebingungan Kuroko, Kaze berputar perlahan dengan langkah terlalu ringan. Lalu langkahnya terhenti, seolah teringat sesuatu. "Oh, teman-teman kalian dari Seirin mana?"
"HEI, KAMI DI SINI, TAHU!"
"Astaga … tidakkah dia melihat jersey Seirin yang kita pakai?" Hyuga syok.
Kaze mengerjap-ngerjapkan mata, lalu terperangah dituruti seulas senyum ramah. "Wah, ternyata kalian sudah ada. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau sudah datang?"
"DARI TADI JUGA KAMI ADA!"
Kaze terkekeh, nadanya aneh. Sebelah tangannya yang tidak memegang payung melambai perlahan, gestur pada tim Seirin untuk mengikutinya. Bersungut-sungut diikuti kasak-kusuk satu sama lain mereka mengekori Kaze. Sepintas, terkesan memang Kaze mempunyai hawa eksistensi teramat minim persis Kuroko. Tapi berhadapan langsung dengannya lain perkara. Berada di dekatnya, berbicara langsung dengannya, mata oniks bundar laksana kelereng dilengkapi tingkah inosen … ah, jangan lupakan suara yang halus itu, satu kata …
'Mistis!' batin tim Seirin kecuali Kiyoshi.
"Senpai, siapa dia?" bisik Kagami pada Kiyoshi yang kentara sekali mengagumi Kaze.
Kiyoshi menggulirkan pandangan, menemukan beberapa pasang mata terpancang padanya—penasaran dengan entitas mistis yang sedang memandu mereka. Pemuda yang dulu sempat menderita cedera parah itu melebarkan cengiran. "Hayate Kaze …dia tetangggaku sejak aku masih di sekolah dasar. Dia yang menginspirasiku dan mengajariku untuk bermain basket."
"DIA PEMAIN BASKET?!" syok tim Seirin mendengarnya.
"Dan mengajari Senpai bermain basket?!" Kagami merepetisi, tidak tahu mengapa tangannya merambat untuk mencengkeram cincin yang menjadi bandul bagi kalungnya.
Kiyoshi mengangguk. "Dia lebih tua tiga tahun dariku. Sejak aku masuk SMA, dia pindah tinggal di Tokyo, menyewa apartemen karena direkrut ke tim nasional basket Jepang."
"Anggota tim nasional?!"
"Ya. Memang dia agak unik (disela dengan "DIA SANGAT ANEH!" dari yang lain), maksudku tingkahnya. Tapi basketnya … ah, dia punya gaya bermain basket yang tidak bisa ditiru orang lain."Kiyoshi menggeser pandangannya pada Kuroko, tersenyum ringan. "Seperti Kuroko. Tipikal unik dan langka."
Mendengar perkataan seniornya, Kuroko tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Seperti apa gaya permainannya?"
Sedepa jeda, sebelum senior yang sudah Kuroko anggap sebagai figur kakaknya itu tertawa kecil. "Aku tidak bisa menjelaskannya. Lebih baik lihat saja sendiri permainannya. Ah, dan julukannya itu—"
"Dor."
"HOWAAAAH!" Semua kocar-kacir karena terlonjak kaget. Tiba-tiba saja Kaze sudah berada di hadapan mereka, dengan sebelah tangan yang tidak memegang payung menunjuk seperti pistol. Raut geli menggores ekspresi mistisnya.
"—The Ghost." Kiyoshi yang sudah biasa dengan kemunculan mendadak Kaze menyelesaikan perkataannya.
Hyuga mengurut dada. "Tuhan … kupikir benar-benar hantu!"
"Astaga, aku hampir yakin aku bisa melihat roh-roh seperti api melayang mengelilingi Hayate-san," ucap Izuki. Eagle eye-nya menerawangi Hayate Kaze, masih tidak bisa dapat mengukur sejauh mana kemampuan pemuda tampan eksentrik berpayung putih itu.
"Se-seperti Kuroko yang pa-pakai misdireksi!" tergagap Furihata.
"Beda," gumam Kuroko. Mereka memfokuskan atensi pada Kuroko, "misdireksi membuatku mampu mengalihkan perhatian agar tidak terpusat padaku. Tapi Hayate-san…" Biner lazuardi itu bersitatap dengan hamparan identikal malam, "…ada, tapi lenyap."
Kali ini, tim Seirin berani bersumpah hawa mistis kian mengental menguar dari aura aneh Kaze berpadu dengan Kuroko. Bulu kuduk meremang ketika kekeh aneh itu meluncur halus dari Kaze.
"SUDAH, SUDAH! Kita datang ke sini bukan mau ikut uji nyali, tahu!" gusar Kagami, dilarikannya tangan untuk mengusap tengkuk yang mendadak terasa dingin.
Kuroko melirik partner cahayanya itu. "Kau takut, Kagami-kun?"
"KUROKO TEME! Siapa yang takut, eh?!"
"Seirin, kita sudah sampai." Kaze berputar ringan dengan payung putihnya. Menginterupsi tepat sebelum Kagami sempat cari ribut dengan Kuroko atau tim Seirin menimbulkan kerusuhan lainnya. "Untuk mereka yang terima surat dari Hidoi no Kantoku, masuk saja. Tadi juga sudah ada beberapa dari mereka masuk ke ruang rapat."
Barulah para siswa asal sekolah menengah Seirin itu sadar mereka sudah sampai pada tujuan sebenarnya. Mengantarkan Kagami dan Kuroko yang dikirim surat oleh ayah dari Riko, rapat penting yang seharusnya akan segera dimulai lima menit lagi.
"Hidoi no Kantoku?" ulang Riko tak mengerti.
Kaze mengerjapkan mata. "Pelatih timku yang sekarang." Semua anggota tim Seirin berpikir tim yang dimaksud tentunya tim nasional basket Jepang. "Sebenarnya Kantoku seorang sport trainer yang hebat, tapi dia sadis. Aku—dan teman-temanku—selalu menderita saat berlatih dengannya," tuturnya. Wajah tampan nan lugu itu kini airmukanya tampak ngeri, memicu ketegangan tim Seirin untuk kesekian kalinya.
Bohlam imajiner seolah mendadak menyala terang di benak Hyuga. "Aida Kagetora-san, 'kan?"
Kaze mengangguk inosen dengan wajah horror.
Para pemuda nyaris meletuskan tawa jika tidak ingat bahwa putri semata wayang Aida Kagetora di depan mereka dan tak urung terkejut mendengar konfirmasi Kaze atas cetusan Hyuga.
'Like father like daughter!'
KLIK!
Pintu berkayu mahoni itu terbuka, seseorang bertubuh jangkung menjulang menyelinap keluar dari ruangan. Dia menutup pintu, menghampiri gerombolan anak-anak muda serta rekan setimnya. Ia menjitak temannya. "Hayate! Semua sudah pada berkumpul kecuali yang dari Seirin. Aku jadi kena omel Kantoku, tahu!" damprat pria khas oriental itu. "Mana mereka?"
Kaze mengusap-usap ubun-ubunnya yang kena jitak. "Maaf, aku bertemu temanku jadi lupa, Hibiki." Pemain dengan julukan hantu itu menatap Hibiki dengan mata berkaca-kaca. "Oh, aku lupa soal tim Seirin."
"HEI, KAMI INI TIM SEIRIN!"
Hibiki terkejut mendengar protes kesal dari tim Seirin, sebelum tangannya menundukkan kepala Kaze sekaligus dirinya membungkuk sopan. "Mohon maaf kelemotan Hayate. Dia memang selalu seperti ini—terlambat menyadari keberadaan orang lain, kecuali orang tertentu—dan itu sangat jarang."
'Padahal keberadaannya Hayate-san sendiri yang terlambat disadari orang,' batin satu tim Seirin sehati.
Kuroko tersadar. Orang pertama yang disadari presensinya oleh Hayate adalah dirinya. Berarti ia termasuk golongan tertentu? Golongan apa?
"Oh ya, tidak apa-apa," respon Riko cepat. Mengejutkan pemain-pemain basket yang dilatihnya, gadis itu tersenyum dengan mata blinky menatapi Hibiki. Ah, pelatih mereka terpesona. "Apa Pa—uhm, Aida Kagetora-san, ada di dalam?"
Hibiki menggeleng. "Beliau masih menyiapkan sesuatu. Ah, di mana pelatih kalian?"
Riko tersenyum manis. "Saya pelatih tim Seirin."
"Heee?!" Hibiki bergumam terkejut. Tak menyangka gadis muda seperti Riko-lah yang membimbing Seirin menjadi tim basket nomor satu nasional di tingkat SMA. Sebelum tersenyum ramah. "Hebat sekali," pujinya. Dia mengerling pada rekan setimnya, Hayate turut mengangguk menyetujui. "Ah. Siapakah yang menerima surat dari Aida Kagetora-san?"
Kagami dan Kuroko saling berpandangan. Kemudian pemuda berambut semerah kental darah itu maju selangkah. "Itu aku … dan dia." Ibu jarinya diarahkan ke samping, memosi Kuroko.
"Oh, cepatlah masuk! Kalian sudah ditunggu. Rapat akan segera dimulai!" ramah Hibiki, dia menatap gerombolan muda-mudi itu seolah menatap adik sendiri, "bisakah kalian menunggu bersama yang lainnya? Ikut saja melihat latih-tanding tim inti kami."
"Latih-tanding? Aku boleh turun bermain?" sela Kaze penuh harap. Kelereng oniksnya berpendar.
"Kau, kan, belum menyelesaikan hutang pemanasan," sindir Hibiki membuat Kaze mendesah kecewa. "Ayo kalian ikut denganku!" repetisinya lagi pada tim Seirin.
Tim Seirin memberikan dukungan moril penuh untuk Kagami dan Kuroko. Trio junior kelas dua sukarela membawakan tas kedua kawan mereka plus Nigou. Riko berpesan kepada kedua adik kelasnya itu untuk lekas menghubunginya andai sesuatu yang buruk terjadi. Setelah itu, Kaze dan Hibiki turut berpamitan, sebelum berlalu ke direksi berlawanan dari ruang rapat mengantarkan tim Seirin bergabung dengan tim yang lainnya yang telah menunggu di gym khusus tim nasional basket Jepang berlatih.
Tinggal Kagami dan Kuroko di depan pintu. Keduanya sama-sama menggenggam gagang pintu. Biru bertemu merah dalam intensitas kepercayaan mendalam kendati tegang melingkupi.
Dan mereka mendorong pintu menjeblak terbuka, menantang destinasi yang menunggu mereka di balik bingkai ironi pintu mahoni.
.
#~**~#
.
Sunyi yang amat canggung.
Biner rubi dan emas yang semula tenang dalam pejam, terbuka, memercik secercah eksitasi.
"Mereka datang."
Pintu terbuka. Sepasang cahaya dan bayangannya masuk ke dalam ruangan. Pintu mahoni berat berderit menutup di belakang mereka. Seluruh atensi menghunjam kehadiran presensi yang guliran puluhan detik berikutnya, konstan bergeming di tempat semula.
"Selamat datang, Tetsuya dan …. Taiga."
"Kalian terlambat, nanodayo."
"Entah kenapa, aku tidak terkejut melihat kedatangan mereka. Ya, kan, Shin-chan?"
"Lama sekali. Muro-chin … aku lapar."
"Makanya jangan semua kau habiskan, Atsushi. Ah, long time no see, Taiga, Kuroko."
"Kurokocchi~~ hanya Tuhan yang tahu betapa aku rindu padamuuuu-ssu! Ah, halo, Kagamicchi!"
"Yo, Tetsu, Bakagami."
"Su-sumimasen … i-iirashai, Kagami-san, Kuroko-san."
Hening.
Sunyi.
Sepi.
Mengerikan.
Menakutkan.
Menegangkan …
"KUSO NIJI NO SEDAI!" histeris Kagami. "Tatsuya juga?!"
… mengejutkan, eh?
"Kiseki no sedai-ssu!" ralat Kise.
"Maaf kami terlambat." Kuroko lebih cepat memulihkan diri, mengesampingkan keterkejutannya dengan memasang poker face andalannya. "Lama tidak berjumpa."
"TETSU-KUUUUUN~~~" Seseorang menerjang Kuroko, memeluk erat-erat hingga pemuda itu sesak napas. Barulah menyapa orang di sebelahnya. "Hai, Kagamin."
Twitch. "Kagami, jangan tambahkan N!" sewot Kagami. "Dan lepaskan Kuroko! Kasihan dia tidak bisa bernapas, tahu!"
"Kau kasar sekali, Kagamin." Bibir merah muda itu mengerucut imut. Melonggarkan sedikit pelukan ketatnya pada Kuroko. "Oh, Ki-chan mencuri kalimatku! Tapi dia benar. Hanya Tuhan yang tahu betapa aku merindukan Tetsu-kun," kata Momoi, bersungguh-sungguh.
Kuroko menghirup napas dalam-dalam. "Jangan teriak, Momoi-san. Suaramu terdengar buruk menggema di ruangan ini," tanggapnya tenang.
"Tapi—"
"Satsuki, duduk!" tegur pemuda berkulit tan yang duduk malas di kursi roda dengan kaki saling melintang di atas meja. Untung posisi duduknya yang kurang ajar itu jauh dari pemuda lain berambut merah dengan mata heterokromatik. "Mana tatakramamu, heh?"
"Dai-chan no Baka! Jangan bicara soal tatakrama seolah adabmu lebih baik. Turunkan kakimu dari meja! Tidak sopan." omel gadis bersurai merah muda itu. Riang, ia menggandeng Kuroko untuk mengajaknya duduk di salah satu kursi roda yang masih tersedia, lalu ia duduk di sebelah pemuda refleksi lazuardi itu—tak melepaskan gandengan lengannya. Momoi menoleh ke sebelah kanannya, melayangkan pukulan keras pada tulang kering kaki di balik celana seragam khas Too Gakuen.
Aomine mengumpat, mendelik sebal pada Momoi yang hanya memeletkan lidah ke arahnya.
Kagami sudah dapat mengendalikan diri. Mulutnya masih terngaga dengan mata merah terbelalak tak percaya, menghenyakkan diri di sebelah Kuroko. Memerhatikan seisi ruangan.
Interior ruangan khas seperti ruang meeting pada umumnya. Meja panjang melingkar seperti miniatur stadium sepak bola, eboni berpelitur mengilat dilapis kaca bening. Di atasnya terdapat mikrofon di lima belas tempat berbeda—pengeras suara untuk berbicara. Tersedia lima belas kursi berikut hidangan berupa air mineral di gelas bening. Sebuah infocus dan proyektor layar lebar, televisi LCD yang tampak mewah, tanaman-tanaman hias di sudut-sudut ruangan, poster-poster tim nasional basket jepang tiap generasi. Nuansa ruang meeting perpaduan warna krem dan coklat ini mewah dengan sentuhan modernisasi di tiap seanteronya.
Dan ada Kiseki no Sedai, Himuro Tatsuya, plus Takao Kazunari dan Sakurai Ryo.
'Reuni,' pikir Kagami sarkastik, 'perasaanku sekarang benar-benar tidak nyaman.'
Kesunyian yang entah kenapa menyisipkan ketegangan meningkatkan tensi rivalitas di antara mereka. Tak ada yang tak menyadari atmosfer kental ketegangan dalam ruangan. Bohong jika mereka tidak saling melirik waspada satu sama lain. Tidak bisa disalahkan, sampai tahun lalu Winter Cup berakhir, mereka masih bermusuhan. Terlebih dengan satu memorial … bahwa juara Winter Cup, yang mengenalkan sekaligus menikamkan Kiseki no Sedai pada pedihnya kekalahan, kini seruangan dengan mereka.
Kiseki no Sedai … Kagami melirik partner bayangannya. Sumpah demi matahari dan bulan di langit, Kagami tidak akan mengaku ia mengkhawatirkan Kuroko yang kendati tak kasat mata, memasang defensif diri sempurna.
Sudah satu semester berlalu, Kuroko berhasil menggapai tujuannya. Namun entah mengapa Kagami yakin, meski senang karena berhasil menang, ada hesitansi dalam diri Kuroko tentang kegembiraan yang sebenarnya dia rasakan. Kagami mengerti, Kuroko bukan mencari kepuasan untuk menghantamkan pedihnya kekalahan pada Kiseki no Sedai—intensi determinasinya tidak sedangkal itu. Pemuda yang merasa tidak cocok—dalam segala aspek terutama Nigou kecuali basket—dengan Kuroko tersebut berdecak kesal. Kiseki no Sedai tidak pernah gagal membuat urat bersilang di dahinya berkedut.
Sementara Momoi menyandarkan kepalanya pada bahu Kuroko. Diam—diam merasa sedih merasakan tubuh yang disentuhnya ini tegang, bahasa tubuh yang biasanya sulit ditebak itu kali ini tampak waspada. Padahal setelah semua yang telah terjadi, tidak bisakah dia melihat teman-temannya—Kiseki no Sedai—berkumpul seperti dulu dan melihat mereka tersenyum karena kebersamaan? Sudut-sudut bibir merah mudanya terangkat dalam ironi ketika satu konklusi terbersit dalam benak: muskil.
"Hei…" Kise yang tidak betah dengan kesuraman di ruangan memutuskan untuk memulai konversasi, berlagak seolah tidak ada apa-apa, "ada yang tahu alasan kenapa kita diundang Aida Kagetora-san untuk mengikuti rapat ini?"
"Siapa peduli, nanodayo?" Midorima mendengus sambil mengelap lensa kacamatanya dengan cairan pembersih serta saputangan khusus.
Takao jelas-jelas menertawakan rekan setimnya itu. "Kalau begitu kenapa kau ada di sini, Shin-chan? Bilang saja kau juga penasaran~" godanya dengan nada menyebalkan yang membuat Midorima mempertimbangkan untuk melemparkan Kerosuke—boneka katak berwarna hijau—pada pemilik mata setajam elang itu.
"Jangan membual, Bakao."
"Akuilah saja, Tsundere." Takao menatap lucky item, Kerosuke, penuh makna. Midorima tidak akan melemparkan lucky item yang berharga hanya untuk membuatnya bungkam.
"Aku lapar."
Baik Himuro dan Akashi yang duduk di antara pemuda paling jangkung dalam ruangan tersebut meliriknya, terlebih ketika suara persis mengerut menggema di ruangan. Sukses membuat hampir semua orang di ruangan sweatdrop mendengarnya.
"Ya, kau lapar," gumam mereka semua hampir serentak.
"Sabarlah, Atsushi. Setelah ini kita akan cari makan," hibur Himuro menenangkan.
Sudut-sudut mata violet itu mematut rekan setimnya di tim Yosen. "Aku mau yang banyak."
Himuro mengangguk, membiarkan Murasakibara meraih sisa-sisa snack di kantong plastik yang dibawanya sebagai camilan. Dirasakannya seseorang memandangnya, orang yang tidak bisa lagi dianggapnya sebagai adik. "Ada apa, Taiga?"
Kagami membuang muka. Berusaha tidak menjawab, 'Mengapa kau mau jadi baby-sitter anak kecil yang terjebak dalam tubuh jangkung itu?!' namun ia hanya menggelengkan kepala. Himuro pun tidak menanyakannya lebih lanjut.
Sunyi yang canggung lagi.
"Hoaahhhm~~" Aomine menguap lebar-lebar memecahkan keheningan. Aksinya itu membuahkan cubitan gemas di lengannya. Kesal ia menatap pencubitnya dengan sebelah mata terangkat. "Jangan salahkan aku, Satsuki. Menunggu itu menyebalkan."
"Ya Tuhan, Dai-chan, kau sungguh tidak peka!" desis Momoi.
"Ini jam tidurku, tahu. Ya, kan, Ryo?"
"Sumimasen! Tapi Aomine-san benar, Momoi-san. Biasanya jam segini dia tidur di rooftop sekolah. Eh, sumimasen! Aku tidak seharusnya mengatakannya. Sumimasen." Sakurai berdiri seraya membungkukkan badan berkali-kali.
Seketika terngiang di indera pendengaran Kagami dan Kuroko suara sang kapten tim Seirin. 'Cih, ayamari no kinoko.'
"AAAH!" Momoi melayangkan cubitan ganas lagi pada sahabatnya. "Sudah kubilang, jangan membolos, Dai-chan!"
"Tsk. Kau lihat, Ryo? Satsuki bawel. Berhenti mencubitku!"
"Ini gara-gara aku, sumimasen! Sumimasen, Aomine-san!"
Mereka memerhatikan Sakurai yang masih membungkukkan badan berulang kali. Menghitung berapa banyak lagi pemuda itu akan meminta maaf. Kuroko yang pertama kali menyadari Akashi mengeluarkan gunting dari saku jersey Rakuzan-nya.
"Akashi-kun," panggil Kuroko, datar tapi tersisip peringatan dalam nadanya.
Atensi teralih pada pemuda beraura penguasa itu. Syok melihat emperor dengan mata dwiwarna itu berkilat menimbulkan kesan sadis—mengingat fakta bahwa gunting merah terlihat seribu kali lebih tajam di tangan Akashi. Seisi ruangan melebarkan mata terkejut, takut.
Momoi bisa merasakan Kuroko benar-benar tegang ketika bertatapan dengan mantan kapten Kiseki no Sedai. Ada aliran listrik imajiner yang mengalir tanpa hambatan antara sepasang mata heterokromatik dengan manik lazuardi Kuroko. Perasaan sesak tak bernama kian menyesaki hatinya.
Akashi menyeringai, tidak tahu itu berefek dentuman ngeri dalam setiap jantung lain yang berdetak di ruangan meeting tersebut. Dia meraih bungkusan snack yang tidak bisa dibuka Murasakibara, mengguntingnya, lalu menyakukan kembali gunting warna merah darah itu. "Dia membuatku teringat seseorang." Biner heterokromatik tersebut mengerling sekilas pada Sakurai yang kaku di tempatnya, lalu bersandar kembali di kursinya dengan tata krama ala bangsawan. "Berterimakasihlah pada Tetsuya."
Dia ... mengacu pada Sakurai Ryo? Lantas siapa seseorang mengesalkan yang dimaksud Akashi?
"Tuhan … semoga Aida Kagetora-san cepat datang," resah Kise yang kini khusyuk berdoa di tempat duduknya.
Kagami dan Takao yang mendengarkan doa si perfect copy diam-diam mengamini dalam gumaman.
Hanya sedepa jeda, entah mengapa terasa lebih dari satu jam.
"Kau tahu sesuatu, Akashi," ucap Midorima tajam mengisi keheningan ruangan, "kau tahu mengapa kita semua dikumpulkan di sini, nanodayo."
Semua atensi terfokus pada Akashi yang sedang mengoperasikan ponselnya. Hanya Murasakibara yang berada di sampingnya yang bisa melihat bahwa Akashi sedang bermain game catur di telepon genggamnya. Kapten tim Rakuzan tersebut tak terusik fokusnya untuk mengatur langkah mengalahkan musuhnya (komputerisasi) dalam catur.
"Tentu saja," jawabnya tanpa menoleh, "aku bisa melihat masa depan." Seringai itu lagi menyebabkan sebagian besar dari mereka di ruangan makin merasa gelisah.
Kagami adalah orang yang tidak peka, dan jangan tanyakan apa dia merasa gelisah melihat seorang Akashi menyeringai—tidak mengindikasikan kebaikan dari sisi baik mana pun, mata krimsonnya iritasi. "Masa depan apanya. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang berkehendak." Ace Seirin ini mendengus.
Jeda sesaat.
"Plagiat!" Midorima menunjuk Kagami, pandangannya mencela Kagami seolah orang yang telah dianggapnya rival itu adalah entitas paling nista yang pernah eksis di muka bumi.
"Aaaah!" Kise menepukkan tangan, teringat sebuah memori saat dulu di masa lampau ia pertama kali kalah, Midorima datang sambil mengatakan hal serupa. "Itu kan yang suka Midorimacchi bilang. Kukira hanya orang bodoh yang akan mengatakan kalimat itu."
Takao nyengir melihat Midorima siap mendamprat Kise, "Hei, berarti kau juga menghina orang yang memprakarsai kalimat itu, kan, Kise?"
"Oh, masa?" tantang Kise. Bibirnya mengulaskan senyum sinis.
"Midorima-kun memang pintar, tapi terkadang bisa bodoh juga."
"Tuh, kan~ Kurokocchi sependapat denganku~" sorak model tersebut ceria.
"Kalian pasti berkonspirasi, nanodayo! Jangan pikir aku takut," tukas Midorima.
"Kau bisa berkonspirasi denganku, Shin-chan."
Himuro tampak geli. Secuil sinis sepintas berkilat dari sorot matanya. "Kupikir kau sudah bukan anak kecil lagi, Taiga. Ternyata hanya meniru."
Murasakibara tertawa dengan suara rendah, pandangan matanya mengejek seperti anak kecil. "Heh, bocah."
Aomine tertawa. Jika orang biasa mendengarnya akan lekas balik kanan dan lari asal tidak berhadapan dengan ganguro satu ini. "Bakagami! Hari ini matahari pasti bersinar cerah karena kau mendadak jadi bijak begitu," hinanya.
"Diam, Ahomine!" tukas Kagami, sebelum memandang sebal pada Midorima, "aku tidak plagiat! Kapan kau pernah bilang itu padaku?" Dia menggeser pandangan ke makhluk pirang di sebelahnya, "maksudmu aku bodoh, Kise? Dan kalau kalimat itu Midorima yang bilang, ya itu benar konyol, Ikemen-kun." Tatapan tajam mendarat pada master faker yang satu itu. "Aku bukan anak kecil dan tidak meniru! Itu tercetus begitu saja di otakku, Tatsuya!" Dan terakhir berlabuh sengit ke Murasakibara, "Bocah?! Kau cari ribut denganku, hah?!"
"Apa keluarga Kagamin punya riwayat mengidap hipertensi, Tetsu-kun?" tanya Momoi penasaran.
Kuroko berpikir sejenak, sebelum menggeleng lugas. "Mungkin itu bawaannya sendiri sejak lahir."
Kagami mendelik pada Momoi yang masih menggelayuti Kuroko. "Dan apa hubungannya dengan darah tinggi, heh?!"
"Ja-jangan me-membentak Momoi-san!" bela Sakurai. "Ka-Kagami-san sa-saja yang sa-salah!"
"Bagus, Ryo!" Aomine menepuk kencang bahu teman yang pada tahun ini sekelas dengannya lagi.
"Tapi—" Kuroko mengerling pada partner cahayanya, "kau memang salah, Kagami-kun. Terutama karena tidak sepantasnya bersikap begitu pada perempuan."
"AKU TAHU AKU TIDAK SALAH MENYUKAIMUUUU, TETSU-KUN!" Momoi menerjang Kuroko lagi dalam pelukan erat yang menghabiskan napas.
Alis bercabang itu kian berkedut. "Jadi, kau menyalahkanku juga, Kuroko?" Dilihatnya tangan-tangan yang ahli misdireksi bola basket itu menggapai-gapai mencari pertolongan. "Rasakan!"
"Hoo … ramai, Muro-chin. Lihat, alisnya Kaga-chin yang bercabang bergerak-gerak."
"Apa pentingnya kau memerhatikan alis Taiga, Atsushi?"
"Dan aku yakin alis Kagami-kun itu sudah bawaan dari lahir."
"HEI!"
Kesimpulannya: mereka semua sekumpulan orang tidak peka tanpa kecuali. Saling berteriak menyudutkan satu sama lain, ada yang tertawa, meminta maaf, berkomentar, emosional. Akhirnya, tuas tensi Akashi bergeser setingkat menuju limitasi.
CKRIS!
Ribut.
CKRIS!
Rusuh.
ZRASH!
Tiada hesitansi semilisekon pun, gunting meluncur menyeruakkan para pemuda yang saling menyerukan makian. Refleks tidak manusiawi mereka membantu menghindari lemparan gunting dari meja paling ujung, Akashi berdiri dengan mata heterokromatik menjanjikan siksaan serta penderitaan, jelas terganggu dengan kericuhan yang terjadi.
"Heh, kau mencoba membunuhku lagi, Akashi?!" tuding Kagami marah.
"Huweeee! Rambutku kena … teganya Akashicchi!" tangis komikal Kise yang melihat beberapa helai rambut pirangnya berguguran. "Padahal aku tidak melakukan apa-apa!"
Aomine bersiul, ganguro anomali ini sukses berkelit dari lemparan gunting. "Nyaris saja. Datou yo~"
"Bukan aku yang memulainya, Akashi." Midorima mendelik pada orang yang dihormatinya tersebut.
"Mungkin Aka-chin juga lapar."
"Bukan, Atsushi … bukan."
"Kau tidak perlu melempar gunting, Akashi-kun," tegas Kuroko, "tidak akan menyelesaikan keributan."
Takao dan Sakurai bertukar pandang horror. Momoi berjengit melihat para pemain basket itu mengonfrontasi Akashi dan pemuda penyuka Shogi itu menguarkan hawa menyeramkan.
Bibir itu tak lagi mengukir seringai. Aura penguasanya menguar mengintimidasi semua lawan bicaranya. "Diam!" Meski berdiri tak gentar, mereka berjengit. Tidak terkecuali merasakan sensasi dingin ngeri menyelubungi sekujur tubuh. "Aku sudah memberikan peringatan—" menggerak-gerakkan gunting dengan sugestif hendak menakut-nakuti, "—tapi kalian tidak tahu diri. Diam, dan tunggu Aida Kagetora-san." Terakhir, dia melayangkan deathglare pada orang yang telah mengubah Kuroko dan turut mengalahkannya. "Dan aku sudah tahu ini akan terjadi karena kehadiranmu, Taiga. Jangan mentang-mentang karena kau berhasil mengalahkan Kiseki no Sedai, kau bisa bertingkah sesukamu. Diam, atau aku tidak bisa menjamin nyawamu."
Kagami hendak menandaskan balasan karena rasanya darah di tubuhnya sudah mendidih hingga ke ubun-ubun, tepat saat telapak tangan Kuroko mendekap mulutnya. Diam, itulah yang dimaksudkan partner-nya. Sepasang cahaya dan bayangan bertatapan, sebelum akhirnya di balik telapak tangan yang berkeringat dingin itu—Kagami menyadarinya—dia bersungut-sungut merutuk.
Tiada satu individu pun punya nyali lagi untuk berkutik di bawah gelimang ancaman manik heterokromatik.
Sekali lagi, ruangan rapat itu jatuh tertarik gravitasi keheningan yang mencekam.
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Omg, saya tahu yang di atas gaje mampus. OOC sangat. Ya ampun aku nulis apa sebenernya … *kais tembok* Sejujurnya, saya kesulitan mengilustrasikan interaksi antara banyak orang yang nggak ngerambling kayak di atas. *pundung* adakah yang bisa menolong saya memberikan masukan untuk memperbaiki yang di atas?
Sebisa mungkin saya nyempilin hints dari awal untuk ke depannya. Jadi, nggak ujug-ujug ada. ;)
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. *dogeza* ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
