Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. Sungguh terima kasih banyak! *sungkem* saya tidak menyangka akan ada yang mengapresiasi fic aneh ini. *sobs* saya … terharu sekali. T_T
.
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Dahulu mereka tidak mengerti. Tidak paham alasan sang bayangan yang sebelumnya di belakang mereka selalu membayang, kemudian tanpa cetusan aksara verbal menghilang.
Sang bayangan pun tidak mengerti. Ini ironi. Tidakkah mereka mengerti perasaan macam apa yang dirasakannya tatkala satu per satu memunggunginya dan berjalan pergi?
Penyebab mereka berteman menjadi satu tim adalah basket. Tercerai-berai semua rantai relasi di atas lapangan basket. Hingga kini yang mempertemukan dan mengikat mereka kembali tak lain dan tak bukan adalah basket.
Ya, basket.
Usai rantai peristiwa terangkai, semua berakhir dengan kekalahan dan kemenangan sportif diinisiasi determinasi naif. Sekarang mereka memiliki sirkumstansi dan posisi di tim masing—masing. Dia berjanji untuk bermain basket dengan mereka lagi.
Kuroko Tetsuya pasti menepati janjinya. Bermain basket berhadapan melawan mereka.
Namun, bukan bersisian.
("Aku … Kuroko Tetsuya. Pemain basket tim Seirin.")
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 3
"The Reason"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Aida Kagetora sudah mengawasi mereka yang satu per satu masuk ke ruangan rapat karena menerima invitasinya, melalui monitor yang menampilkan kamera tersembunyi di ruangan tersebut. Ia sudah mengasumsikan situasi yang tidak terkendali, mengingat kondisi para pemain tersebut yang punya rasa rivalitas dan gengsi tinggi karena bermusuhan satu sama lain di lapangan basket. Padahal hal inilah yang paling ingin ia antisipasi.
Terlebih ketika anak-anak tersebut mulai bertengkar, berteriak, memaki, sindiran dingin dan sorot mata sinis. Kagetora yang sedang menguji emosi mereka hampir menyerah dan masuk ke ruangan, tepat saat Akashi mendiamkan semuanya. Sport trainer itu yakin Akashi akan benar-benar memberikan pelajaran pada mereka—terlebih Kagami yang notabene paling atentif baginya, jika bertingkah kekanak-kanakkan lagi.
Mantan ace tim basket nasional Jepang itu tersenyum tipis. Tidak peduli mereka menyandang titel sebagai pemain-pemain basket terbaik, Kiseki no Sedai, atau apalah. Dalam sudut pandangnya yang telah mencecap asam garam kehidupan, mereka tidak lebih dari anak-anak berandalan yang dibebani oleh bakat.
"Kantoku, kapan Anda mau menemui mereka?" Suara halus itu mengejutkannya, "ruang meeting bisa hancur karena saya rasa perang dunia akan meletus di sana."
Kagetora berdecak. Mengerling pada salah seorang muridnya. "Tidak bisakah kau muncul dengan normal, Hantu?"
"Aku sudah muncul dengan cara paling manusiawi." Hawa mistis menyelubungi sekeliling. "Anda tidak memberikan izin untuk saya bermain. Padahal ada teman saya datang," keluhnya.
"Kiyoshi? Si bocah tulalit?"
"Ah, Kantoku mengenalnya?"
"Aku pernah melatihnya di Winter Cup tahun lalu." Pria paruh baya itu bangkit dari kursinya. Agak kasihan melihat ruang rapat itu benar-benar sunyi senyap setelah semua kena damprat hanya satu orang saja. Ia meraih tumpukan map dan menyuruh pemuda berjulukan hantu itu membawakan untuknya. "Kau sudah menyelesaikan pemanasan?"
"Baru selesai. Diawasi oleh Hibiki." Dia membuntuti sang pelatih yang berjalan keluar ruangan sembari menggunakan jas formal, sembari bersusah payah membawa map-map. "Jadi, saya boleh ikut main?"
"Tidak," tegas Kagetora. "Aku butuh kau mengasisteniku hari ini."
Desahan kecewa. "Mengapa tidak minta Manajer-san?"
"Biarkan dia mengurus tamu anak-anak SMA yang datang kemari bersama tim sekolah mereka. Tidak ada salahnya menghibur mereka dengan melihat timnas latih-tanding. Kau tahu, sebagai sedikit hiburan dan kompensasi untuk mereka karena harus tahu kabar ini."
"Oh." Pemahaman menyapu benaknya. "Jadi, kenapa harus saya? Kan, Hibiki dan yang lainnya masih ada."
"Aku butuh kau untuk menghadapi para bocah itu."
Seulas senyum lugu yang mengintensi pengertian terbit. "Anda menumbalkan saya."
"Betul." Kagetora tidak menangkis pernyataan kartu truf timnas Jepang. "Untuk meyakinkan mereka, jika yang terburuk terjadi."
'Yappari naa … hidoi no Kantoku.' Kelereng oniks itu berputar inosen. Dalam hati mengasihani bocah-bocah malang itu pada kenyataan yang harus dihadapi.
Mereka keluar dari ruang pengawas menyusuri lorong luas. Berhenti di depan pintu tepat tadi sang hantu mengantar tim Seirin mengirim dua pemain terbaiknya. Kagetora mengedikkan kepala sebagai perintah non-verbal untuk anak didiknya itu membukakan pintu.
Seluruh atensi intens lekas menghunjam presensi yang dinanti-nanti kehadirannya.
BLAM!
"Maaf aku terlambat. Ada hal yang harus kuurus." Tenang tanpa memedulikan pelototan orang-orang di dalam ruang rapat yang seolah hendak melahapnya hidup-hidup. "Tentang kalian, tentunya." Pria yang merupakan pelatih timnas Jepang itu mendudukkan diri di salah satu kursi yang masih kosong di ujung meja. Tak sengaja bertemu pandang dengan raut wajah yang sudah familiar baginya.
"Oh, Kagami, Kuroko," sapanya santai. "Apa Riko datang?"
"Tentu," jawab Kuroko datar.
"Di mana dia sekarang?"
"Bersama tim kami menonton latih-tanding timnas basket." Kali ini Kagami yang menjawab.
"Baguslah. Kuharap dia bersenang-senang," tanggap Kagetora. "Bagikan map-map itu pada mereka, Hayate!"
"Eh?"
"HIIIII!"
Hawa mistis yang familiar bagi Kuroko dan Kagami tiba-tiba saja muncul, melingkupi ruangan, menelusupkan suspense yang menyebabkan bulu kuduk meremang. Momoi memekik kaget ketika seorang pemuda albisian rupawan yang menyandang payung putih menyerahkan map berwarna merah muda ke hadapannya. Sakurai berkali-kali menggumamkan 'sumimasen' pada dewa entah mana saja yang sekiranya dapat mendengar doanya. Takao mendesiskan keterkejutannya seakan melihat 'hantu'.
Hayate Kaze membagikan map warna-warni itu. Terkekeh aneh yang entah kenapa menyebabkan hampir dari semua yang ada dalam ruangan merasa mulas. "Ada pelangi, Kantoku." Sepasang mata yang diperciki warna hamparan langit malam berbinar kekanakan. "Merah, kuning, hijau, di langit yang biru~" dendangnya seraya memosi Kuroko. Mengerjapkan mata ketika mengerti pemuda-pemuda dengan aura bukan sembarangan waspada mengawasinya.
"Simpan payungmu, Hayate!" perintah Kagetora, sudah terbiasa dengan kelakuan antik anak didiknya itu. Dia tidak berkomentar mengenai pelangi yang dicetuskan oleh pemain hantu itu.
Hayate menuruti perkataan Kagetora. Ia merapikan payungnya, memangkunya lalu duduk di sebelah Kagetora. Tidak jauh dari Kuroko. Tatkala mereka bertatapan, pemuda yang menginspirasi Kiyoshi untuk bermain basket itu mengulaskan senyum lugu, memandang Kuroko dengan pengertian yang tidak dipahami Kuroko sendiri. Namun pemilik Nigou itu mengangguk sopan.
'Serahkan pada Hayate untuk mengendus tipikal pemain yang langka,' batin Kagetora. Kemudian pelatih olahraga itu mengedarkan pandangan pada mereka yang menerima surat invitasi darinya.
"Sekali lagi, aku minta maaf atas keterlambatanku. Terima kasih karena kalian sudah berkenan datang kemari. Silakan baca dokumen yang sekarang ada di hadapan kalian," tuturnya tenang.
Semua membuka dokumen yang diberikan dan membacanya dengan seksama. Ruangan sunyi-senyap selama beberapa saat, hanya terisi suara halus gesekan lembaran kertas dibolak-balik.
Kagetora berdeham sekali, kemudian membuka rapat dengan penuturan. "Tahun ini Fédération Internationale de Basket-ball, atau disingkat FIBA, kembali menyelenggarakan FIBA Basketball World Cup Championship yang biasa diadakan empat tahun sekali. Kali ini, Jepang menjadi tuan rumah. Kompetisi dunia ini akan diselenggarakan di Tokyo."
Beberapa dari mereka menyimak penjelasan Kagetora, yang lain masih lanjut membaca. Hayate fokus menghitung sudah berapa banyak detik bergulir dalam keheningan. Tidak seperti saat pertama kali masuk, aura peperangan dan rivalitas kandas begitu saja.
"Ada beberapa turnamen yang digelar, dan semua tentang basket. Beberapa turnamen dari FIBA world cup yang sudah Jepang ikuti, tidak meraih kemenangan. Tahun ini—" Kagetora melirik pemuda yang melongo menghitung satuan waktu. "—sebagai tuan rumah, kita tidak boleh memalukan bangsa. Beban sebagai tuan rumah itu berat karena Negara memiliki ekspetasi tinggi untuk kemenangan."
"Apa hubungannya dengan kami dipanggil ke sini?" tanya Kagami. Otomatis kepala-kepala menengok kaku, melayangkan tatapan oh-seberapa-bodoh-dirimu-Bakagami atas ketidak-koneksiannya pada topik yang berelasi dengan invitasi mereka.
"Bakagami."
"Ahomine!"
"Tentu kalian dipilih untuk mewakili Jepang dalam beberapa kategori turnamen FIBA Basketball World Cup Championship." Kagetora menjawab pertanyaan Kagami.
Kagetora entah kenapa merasa geli mendapati petir imajiner seakan menyambar seisi ruangan. Ditilik dari ekspresi syok, terkejut, kaget, horror, muda-mudi di hadapannya.
"Siapa yang memilih kami?" Midorima lekas melontar tanya.
"Organisasi Basket Nasional Jepang, atas rekomendasi dari panitia Inter-High dan Winter-Cup. Kami mencari pemain-pemain basket muda terbaik, kelas dua SMA, berusia sekitar enam-belas atau tujuh-belas tahun—persyaratan utama FIBA World Cup."
Kerutan samar muncul di dahi yang diseraki poni pirang. "Mengapa harus kelas dua SMA?"
"Karena anak-anak kelas tiga harus bersiap menghadapi ujian nasional dan ujian masuk universitas."
"Anak-anak kelas satu SMA sekarang juga banyak yang hebat," ujar satu-satunya pemilik mata elang dalam ruangan.
"Namun mereka masih harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Maka itu dipilih kelas dua SMA."
"Tunggu sebentar." Kagami mengerjap-ngerjapkan mata. Sebelah alis bercabangnya terangkat, ia memandang figur kakak baginya itu. "Tapi Tatsuya sudah kelas tiga, dan dia di sini!"
Himuro mengalihkan tatapan pada Kagami. "Kelas dua, Taiga. Aku ditransfer sekolah dari Amerika—yang laju sistem pendidikannya berbeda dan jauh lebih lambat dari Jepang. Jadi, aku mengulang dua semester, dan sekarang kelas dua. Tahun lalu aku pindah ke kelas satu, sekelas dengan Atsushi. Terlebih karena lama tinggal di Amerika, aku juga jadi lupa menulis kanji." Dia tersenyum tipis melihat tatapan simpati banyak terlayang padanya. "Tidak apa. Ini menandakan sistem pendidikan Jepang lebih maju dari liberalisme Amerika."
Sakurai mengangkat tangan, sedikit ragu. "Su-sumimasen. Kalau kami ikut, apa kami akan berkompetisi mendapatkan Naismith Trophy?"
Kagetora menggeleng. Desah kecewa terdengar, tidak seorang pun tak tahu tentang popularitas dan martabat Naismith Trophy. Hayate terkekeh dan melambai-lambaikan tangan. "Itu tim nasional basket Jepang yang akan berjuang mendapatkannya."
Momoi melepaskan gandengannya dari Kuroko. Gadis bersurai merah muda itu kini terlihat sangat serius. "Naismith Trophy itu khusus pria dewasa. Legalnya usia dewasa di atas delapan belas tahun." Dia menatap lurus pria bermarga Aida. "Tapi aku tidak pernah tahu soal FIBA World Cup Championship: Youth."
"Itu kategori turnamen baru yang berelasi dengan olympics, dimulai empat tahun lalu. Berbeda dengan kategori Under-17 atau Under-18 yang diadakan setahun sekali. Seperti syarat-syarat yang sudah kusebutkan. Tim yang berisikan pemuda-pemuda usia di bawah delapan belas tahun, berkompetisi di ajang ini memperebutkan Trophy Hall of Fame."
"Hell of flame?" celetuk Murasakibara, kurang jelas mendengar paparan Kagetora.
Gelak tawa memecah ruangan rapat yang sebelumnya sunyi senyap serta mencairkan atmosfer serius nan kaku. Bahkan Akashi dan Kuroko terlihat geli dibuatnya.
"Bukan, Atsushi." Himuro berusaha keras menahan tawa agar tidak menyinggung rekan setimnya yang terlihat jengkel karena ditertawakan. "Hall of Fame. Setahuku itu penghormatan yang didedikasikan pada pemain basket, pelatih, atau administrator yang terlibat di kompetisi internasional Basket naungan FIBA."
"Oh, begitu." Pemuda bernuansa ungu itu menguap lebar. "Silakan lanjutkan." Dia mengibaskan tangan dengan ekspresi tidak menaruh minat.
"Mendengar penjelasan tadi, kalian sekarang pasti mengerti seberapa bergengsi dan terhormatnya Trophy Hall of Fame." Kagetora menghenyakkan tubuh pada sandaran kursi rodanya seraya melayangkan tatapan tajam pada setiap orang yang ada di ruangan.
"Tunggu. Satu tim basket berisi lima orang—"
"Tentu saja, Bakao. Kau pikir bermain basket menggunakan berapa orang?"
"Jangan potong perkataanku, Shin-chan! Jadi, maksudku … kenapa di sini ada sepuluh orang pemain basket?"
"Jepang mengirim dua tim. Hal begitu saja kau tidak mengerti." Pemuda tsundere itu membenarkan letak kacamatanya.
Takao baru akan merespon perkataan Midorima ketika tawa merendahkan yang lain membuatnya bersungut kesal di kursi.
"Dua tim itu sudah diminimalisir. Negara-negara lain mengirim empat hingga lima tim," tanggap Kagetora ringan.
"Ada berapa Negara yang akan mengikuti FIBA World Cup?" tanya Aomine. Ia mulai merasa tertarik dengan World Cup Championship yang diselenggarakan FIBA.
Hayate yang sudah bosan menghitung satuan detik, memutar kursinya menghadap pemuda berkulit tan itu. Aomine berjengit ketika dipandang olehnya. "Negara-negara yang organisasi basketnya bernaung di FIBA. Ada sekitar dua ratus Negara."
"Dua ratus tiga belas Negara," ralat pria bermarga Aida itu.
Decak kagum menggaung perlahan di ruang pertemuan tersebut.
"Berarti kalau dari Jepang mengirimkan dua tim untuk berkompetisi di FIBA World Cup Championship—"
"—ya, Kagami, di setiap kategori hanya dua tim," sela ayahanda dari pelatih tim Seirin itu.
"—a-akan be-berhadapan dengan ratusan tim dari seluruh dunia!" seru Kagami.
"Kurang lebih seribu-tim, jika banyak Negara yang mengirimkan tiga sampai lima tim hanya untuk satu kategori," Kagetora membenarkan, "belum kategori lainnya."
"Su-sumimasen … mengapa Negara la-lain mengirim banyak tim?"
Kagetora memandang pemuda yang ia pikir selama hidup tidak akan lepas dari meminta maaf. "Batas maksimal mengirim tim untuk satu kategori adalah lima. Negara lain mengirim banyak tim agar punya lebih banyak peluang kemenangan. Tetap saja, lima tim berbanding seribu tim lainnya."
"Kalau babak penyisihannya dimulai bulan Oktober, turnamen resmi dimulai sekitar bulan Desember, mengapa mereka dikumpulkan dari sekarang? Sekarang masih bulan April," heran satu-satunya gadis dalam ruangan rapat itu.
"Teknis dan serba-serbi FIBA World Cup diberitahukan dari sekarang agar kalian tidak bingung. Kalian akan berlatih mulai dari bulan Mei, setiap akhir minggu. Pada bulan Agustus dan September kalian dikarantina di asrama atletik tim nasional Jepang."
"Bagaimana dengan urusan sekolah?" ganti Himuro bertanya.
"Selama lima bulan terhitung dari bulan Agustus hingga Desember, kalian diberi dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah, kecuali jika ada ujian atau kegiatan penting lainnya."
Gumaman kebahagiaan nyaris memenuhi seantero ruangan.
Sunyi kali ini berbeda dari sunyi canggung sebelum-sebelumnya. Kagetora bisa merasakan remaja-remaja di hadapannya masih berusaha mencerna hal yang disampaikannya, tensi dan adrenalin dari aura mereka, dan eksitasi dari pendar mata mereka.
Saat semua hanyut dalam pemikiran masing-masing, hanya Kuroko yang tidak menaruh perhatian pada FIBA World Cup atau apalah itu. Firasat buruknya terbukti benar. Pikirannya stuck pada satu kenyataan yang bertalian dengan traumatiknya. Diam-diam mata lazuardinya bergulir mengobservasi mereka yang sudah lama ia kenal. Tidak terpungkiri ada ketertarikan mendalam yang tersirat dari ekspresi wajah masing-masing, menimbulkan denyar tak nyaman di dasar perutnya.
Untuk pertama kali sejak disebutkan bahwa mereka disatukan dalam tim yang sama, Kuroko angkat bicara, "Bagaimana dengan Inter-High dan Winter-Cup? Ini tahun terakhir kami memiliki kesempatan untuk mengikutinya."
Sahutan setuju mengudara. Kuroko masih mengingat janjinya akan bertanding lagi dengan mereka di sisi lapangan yang berbeda agar mereka sisa bertarung lagi, demi menggapai kemenangan dalam permainan basket yang menyenangkan. Berhadapan, bukan bersisian. Sejujurnya, Kuroko hanya ingat janji Kagami dan tim Seirin menyatakan bahwa mereka akan jadi nomor satu di Jepang—dan mereka berhasil menggapainya. Lagipula, jika mereka ikut FIBA World Cup Championship ini, bagaimana dengan tim basket sekolah masing-masing?
Kagetora menghela napas panjang. 'Ini dia,' pikirnya. "Karena tahun ini Jepang menjadi tuan rumah tidak hanya untuk FIBA World Cup tapi juga Olympics, maka khusus tahun ini Inter-High dan Winter-cup ditiadakan."
Ah, banyak sekali kejutan hari ini.
Jeda.
"HAAAAH?!"
"Terus bagaimana nasib teman-teman setim basket kami di sekolah kalau tidak ada Inter-High dan Winter-Cup?" Kise menyuarakan pertanyaan yang terlintas di benak semua pemain basket yang menerima invitasi rapat ini.
Kagetora memajukan kursi rodanya, menumpukan dagu pada kedua tangan dengan siku sebagai tumpuan. "Mereka masih bisa ikut kompetisi lain seperti street basketball. Untuk hal ini, aku mohon maaf karena tidak berdaya. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk meyakinkan Organisasi Basket Nasional Jepang agar tetap menyelenggarakan dua kompetisi tersebut, keputusan sudah sampai mufakat."
Kekecewaan mendera mereka. Batal sudah untuk bertanding satu sama lain lagi dalam liga kejuaraan nasional Jepang itu. Kagetora menghembuskan napas berat mendapati hawa ruangan mendadak jadi sangat suram.
Akashi menegakkan duduknya. Dia sudah selesai membaca dokumen secara menyeluruh sembari menyimak diskusi pertemuan ini. Seringainya samar terlihat. Semua benar sesuai dengan pengelihatan masa depannya, kalkulasi taktikalnya, dan tinggal menjalankan rencananya. Dia berdeham pelan supaya atensi terpusat padanya.
"Aku tidak bilang setuju untuk bergabung dengan tim ini."
Kagetora mengangkat sebelah alisnya. Mata sewarna buminya menelisik Akashi penuh selidik.
"Sejujurnya, tawaran untuk berada setim dengan rival yang sudah membuatku kalah atau sudah kukalahkan sama sekali tidak menyenangkan," tandas Akashi frontal.
Semua terbelalak menatapnya. Tidak menyangka hal itu ia ungkapkan blak-blakan. Cetusan pemuda pewaris Akashi Corporation itu mau tak mau membuat semua yang ada di sini berpikir ulang.
Kagami dan Kuroko saling berpandangan, mereka sadar eksitasi yang tadi ada lenyap. Tergantikan dengan nuansa desperasi hampir absolut. Tidak perlu diberi tahu, mereka mengerti semua yang ada dalam ruangan ini adalah orang-orang dengan harga diri tinggi. Dan perlahan tapi pasti lirikan tertuju pada mereka.
Kagami menatap Akashi geram. Jadi inilah yang dimaksud dengan Akashi saat mendiamkan mereka semua sebelum Kagetora masuk ruangan. Tapi ia tidak mengalahkan Kiseki no Sedai, ada Kuroko—seseorang yang kepadanyalah Kagami bisa bergantung dan menyandarkan kepercayaan. Jika ada yang benar-benar dia kalahkan murni karena keteguhan hatinya itu ... Himuro Tatsuya.
'Tatsuya!' Barulah Kagami menoleh pada pemuda yang setahun lebih tua darinya itu. Tak ayal merasa sesuatu tak kasat mata menusuk ulu hatinya ketika mendapati Himuro Tatsuya memandangnya dengan poker face, tapi tak dapat mengelabui saat pemain handal gerakan faker itu mencengkeram erat cincin serupa yang menjadi bandul kalung tergantung di lehernya.
Di sisi lain, semua larut dalam pikiran dan konflik batin masing-masing.
Takao memerhatikan Midorima yang sedang memejamkan mata dan bertopang dagu. Ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan Midorima—mungkin mengingat kepedihan tentang kekalahan, tapi yang dipikirkannya adalah kekalahan pahit melawan Seirin serta Rakuzan. Mengingat dua pertandingan itu pun, Takao menundukkan kepala. Tiba-tiba perutnya terasa sangat tidak nyaman.
Sakurai membenamkan wajah pada lengan, entah mengapa mendadak kepalanya pening mengingat banyak hal. Berupaya tidak mengingat lagi hari menyakitkan saat untuk pertama kalinya, ia kalah. Pula, dari tim Seirin—tim yang berbeda jauh dari tipikal timnya.
Kise bersandar sepenuhnya pada kursi roda. Jari-jemarinya mencengkeram tepian kursi roda. Matanya tertutup, bibirnya terkatup. Bayang-bayang kekalahan dua kali saat melawan tim Seirin—melawan Kuroko yang notabene orang pertama Kise menaruh respek, seolah luka lama disibak kembali dan dicucur cairan asam yang mengembalikan seberkas pedih itu. Namun tidak ada yang lebih menyesakkan daripada mengingat bahwa Kise Ryouta absolut tidak pernah menang dari mantan ace, unstoppable scorer, Kiseki no Sedai.
Lain halnya dari Aomine yang menerawangi dokumen dengan sorot mata hampa. Ia mengakui yang dikatakan Akashi benar. Pertama kali dalam seumur hidup, Aomine Daiki kalah dalam pertandingan basket. Tidak bisa tidur sekian hari berikutnya karena perih amat menyulitkan untuk kembali pulih. Jika ia adalah dirinya yang dulu waktu masih bersekolah di Teiko Chuugakou, ceria dengan teman-teman di sampingnya (Kiseki no Sedai), diberitahu harus mengikuti FIBA World Cup … ia tidak akan keberatan. Andai saja dia dulu tidak arogan. Kuroko masih akan jadi bayangannya, tidak akan mereka terpecah seperti ini. Mungkin pula dia akan berteman baik dengan Kagami. Sayangnya, ia hanya mengingat tentang kekalahan—satu dari dua alasan yang disebutkan Akashi.
Kuroko bersitatap dengan Murasakibara. Jelas sekali sebal karena kalah, membuat Murasakibara membuang muka dari orang yang merupakan oposisi total darinya itu. Satu per satu, mantan rekan setim di Kiseki no Sedai memandangnya.
Pandangan mereka … persis seperti yang dimimpikan Kuroko. Membuat orang keenam bayangan Kiseki ko Sedai itu terhenyak. Tatapan menyalahkan.
Mengejutkan adalah ketika Hayate terkekeh aneh khasnya, diikuti seringai Kagetora yang kentara merendahkan Akashi.
"Tawaran? Kau salah, Nak. Kalianlah yang dipilih untuk mewakili Negara kita berlaga di liga FIBA World Cup Championship, sementara kalian jelas tidak punya pilihan selain melakukannya."
"Itu pemaksaan-ssu!" protes Kise keras. "Anda tidak bisa memaksa begitu saja, terlebih belum satu pun dari kami setuju untuk bergabung di tim ini dan mewakili Jepang."
"Menarik, sepertinya," komentar Aomine, salah satu telunjuknya mengorek telinganya yang terasa gatal dengan tampang bosan, "hanya saja … akan membosankan menghadapi seribu tim. Cuma menyia-nyiakan waktu."
"Belum pula beban turnamen internasional yang pasti high pressure," timpal Himuro.
Murasakibara mengerling pemuda di sampingnya. "Aku setuju dengan Aka-chin." Pemuda jangkung violet ini bertukar tatapan sengit dengan ace tim Seirin.
Sakurai terlihat semakin ketakutan. "Ti-tidak mu-mungkin. A-aku tidak a-akan bisa. Sumimasen!" Dia berulang kali mengangkat-turunkan kepala, gestur meminta maaf. "Masih banyak yang jauh lebih pantas daripada aku."
"Aku juga setuju dengan Akashi." Perkataan Midorima menuai anggukkan setuju dari Takao.
Kagami mengerang kesal. "Aku tidak akan betah setim dengan orang-orang macam Kuso Niji no Sedai."
"Kiseki no Sedai!" Kise membenarkan.
"Cih, kau pikir aku mau setim denganmu, Kagami?" dengus Aomine.
"Aku juga tidak mau, nanodayo."
"Siapa juga yang mau setim dengan kalian, eh?!" Kagami merasakan darahnya mendidik lagi, bergejolak setiap sel hemoglobinnya.
"Aku…" Suara rendah di nada serius itu membuat debat di antara para pemuda lain terhenti, menumpukan tatapan pada sumber suara. Kuroko menghirup napas dalam-dalam, meneguhkan determinasinya hanya untuk berkata, "…aku tidak mau."
Semua yang mengenal Kuroko secara personal, syok seketika mendengar pernyataan pemuda yang minim eksistensinya itu. Orang terakhir yang seharusnya tidak mau mereka disatukan menjadi satu tim. Orang yang seharusnya bisa menyatukan mereka. Sama dengan orang yang kali ini menolak semua yang tersuguh di hadapannya.
"Mohon maafkan aku. Aku menolak karena tidak bisa begitu saja meninggalkan timku yang sekarang." Kuroko tahu ini bukan alasannya yang sebenarnya, tapi ia tidak bisa mengungkapkan intensi utama menolak kenyataan yang terhampar di hadapannya.
"Semuanya…" lirih Momoi tidak percaya.
Akashi menatap pria yang dulunya pemain basket timnas Jepang. "Anda lihat? Anda tidak bisa meyakinkan kami." Sepasang mata dwi warnanya membalas tatapan merendahkan Kagetora dengan sikap yang menjunjung arogansi dan harga diri tinggi.
Di kesunyian yang mencekam, Kagetora yakin orang-orang di hadapannya menyetujui perkataan Kuroko dan konklusi yang ditandaskan Akashi. Peristiwa ini masih masuk dalam dugaannya, jadi ia tidak terkejut. Masalahnya adalah ia yakin orang-orang di hadapannya masuk kagetori persisten. Tidak ada cara selain pemaksaaan—padahal ia tidak bernegosiasi dengan mereka. Pemikiran ini menyenangkan dirinya sendiri. Sudah saatnya mengeluarkan kartu truf.
Kagetora tertawa kecil. Ia menggulirkan pandangan, memandang geli semua hingga terhenti pada seorang gadis yang matanya berkaca-kaca—sekali pandang saja orang pasti tahu dia sangat kecewa. Disadarinya gadis itu adalah orang yang sering diceritakan putri sematawayangnya. Oh, gadis dengan D-cup. Kesampingkanlah hal ini. Baiklah, masih ada satu orang berpikiran berbeda saja sudah cukup.
"Aku tidak bernegosiasi, Bocah-bocah," lugas pria bersurai coklat itu sembari mengelus dagunya yang ditumbuhi jambang halus. "Kalian harus melakukannya."
"Tapi—"
Kagetora mengangkat tangannya, menghentikan usaha siapa pun itu yang mencoba menyela. "Dasar bocah-bocah keras kepala. Sudah kubilang aku tidak bernegosiasi dengan kalian." Protes "Kami bukan bocah!" serta "Siapa yang keras kepala?!" tidak dihiraukannya. "Kita bertaruh saja."
Tiba-tiba saja Hayate mendapatkan firasat buruk. Ia tidak sempat melarikan diri tatkala lirikan tajam pelatih sadisnya itu membuatnya tidak berkutik.
"Bertaruh?" gumam berdengung bagai lebah.
"Ya. Jika kalian bisa menang one on one melawan dia—" Kagetora menujuk tumbal yang telah disiapkannya, "—kalian boleh pergi. Aku akan bertanggung-jawab dan mencari pemain-pemain basket lain—meski itu menyusahkan. Jika kalian kalah, tetap di sini dan patuhi semua perkataanku."
"Tumbal" yang dimaksud menjadi pusat atensi. Tentu hal ini membuat urat di dahi para pemuda yang darahnya bergolak telah mendidih sampai ke ubun-ubun melayangkan pandangan mengintimidasi pada Hayate Kaze. Di sisi lain, si pemain dengan julukan hantu itu justru merasa gentar ketika tatapan sadis pelatihnya menyiratkan 'menang atau nyawa melayang' dihunjam padanya. Oh, Tuhan … mengapa harus dirinya yang berada di posisi ini?!
"Baiklah. Aku terima."
Akashi yang pertama menerima tantangan itu, memicu yang lainnya untuk melakukan hal serupa.
Kagetora tahu ia berjudi dengan nasib Negara dan kemenangan dibebankan pada salah satu pemain teranehnya, Hayate Kaze. Ia tersenyum puas. Semua tanpa kecuali masuk ke perangkapnya hanya karena ego masa labil remaja. Benar-benar mereka ini … dasar bocah-bocah merepotkan!
"Kalau begitu, ayo kita ke lapangan basket sekarang juga!"
.
#~**~#
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Catatan tambahan:
FIBA adalah organisasi internasional basket di dunia. Menaungi bahkan NBA dan sejumlah organisasi nasional basket di setiap Negara. Berdiri sejak 18 Juni 1932, dan piala kehormatannya dinamakan Naismith Trophy—diambil dari nama pencipta permainan bola basket yaitu James Naismith.
Mengenai FIBA World Cup Championship ini memang benar adanya. Turnamen, kompetisi terbesar basket bergengsi sedunia yang memperebutkan Naismith Trophy ini diselenggarakan 4 tahun sekali—dan hanya individu yang legal usia dewasa di tiap Negara baru berhak ikut berlaga di ajang ini. Makanya, Kiseki no Sedai, yang belum masuk usia dewasa tidak bisa ikut. Jadi, soal FIBA World Cup Championship: Youth … itu saya ngarang banget. /keperluan cerita/
Soal Hall of Fame (Hell of Flame, kata Mukkun. Hihihi) … seperti yang sudah dijelaskan oleh Himuro Tatsuya. Dimulai pada tahun 1991, ini adalah bentuk penghormatan yang didedikasikan pada pemain basket, pelatih, atau administrator paling dedikatif yang terlibat di kompetisi internasional Basket naungan FIBA. Dan merupakan nama dari museum basket terbesar sedunia yang terletak di Alcobendas, Madrid, Spanyol, diciptakan oleh Pedro Ferrándiz. Nah, tapi di fic saya ini, Hall of Fame dijadikan nama piala dunia bergengsi yang (ceritanya) akan diperjuangkan oleh tim nasional basket Jepang Kiseki no Sedai dkk Under-18 years old. /keperluan cerita/
Saya sudah menuliskan tentang kategori U(nderage)-18 atau U(nderage)-17. Pula saya menyisipkan hints bahwa Kiseki no Sedai dkk akan diikutsertakan tidak hanya untuk "Youth" berjuang memenangkan piala Hall of Fame, tapi kategori lain juga. Ah, itu dibahasnya nanti saja. Sebenarnya ada di Wikipedia dsb, tapi kan semuanya saya manipulasi demi keperluan cerita. *smirk*#digentayanginNaismith# tenang saja, saya usahakan tetap masuk akal.
Sumber : Wikipedia dan website resmi FIBA.
.
Haaiiih. Saya suka sekali research untuk keperluan fanfiksi. Hihihi. /demen modifikasi, gini jadinya/
Nah, sekarang sudah jelas, kan, kenapa sepuluh pemain basket di atas terpilih mewakili Jepang? Yupz, karena syarat mereka terpenuhi (legal usia) serta kelas dua SMA (setting fic ini).
Saya minta maaf untuk fans Himuro Tatsuya juga huweeee aku terpaksa menurunkan kelasnya. Tapi sudah berusaha saya sesuaikan. Maaaaaaf~ *peyuk Tatsuya*/dimirageshoot/
Ah, pasti ada dari RnR sekalian terpikirkan beberapa karakter yang lebih layak selain Kiseki no Sedai + Kagami untuk mewakili Jepang di timnas Youth ini—dari segi profesionalisme/skill/talenta. Itu akan terjawab di chapter depan. Jadi, tolong jangan berpikiran bahwa saya mengada-ada tiba-tiba. Sebenarnya bisa ditebak saya kira, mengingat hints sudah saya sisipkan di sana-sini.
Okeee?! See you latte~ ;D
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
