Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. Sungguh terima kasih banyak! Dan saya mohon maaf untuk seluruh kesalahan di chapter sebelumnya. *sungkem*
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Zankyou no Terror by MAPPA. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Saya sudah memperingatkan. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Dalam bisu di posisi terbelakang, diam-diam ditaruhnya secercah perhatian.
Tak ada satu pun yang mencoba menoleh ke belakang. Tidak ada satu persona pun mencuri selintas pandang. Sekerling lirikan tiada terlayang. Langkah mereka tegas mengikuti entitas baru yang tiba-tiba saja mengafirmasi bahwa mereka disatukan dalam satu tim.
Entitas itu yang telah mencapai pintu lain, mendorongnya terbuka pada benderang cahaya. Terbit tanya di hatinya. Ekspetasi macam apa yang diharapkan dari mereka oleh Negara?
—dari mereka, yang bahkan tidak mengasurkan senyum melainkan menyalakan bara kokoh rivalitas?
(Kuroko Tetsuya melangkah mantap mengiringi, perspektifnya membayang hening di antara mereka)
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 4
"Ten on One"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
"Kyaaaa~ mereka keren sekali!"
"Kantoku, bisakah kau berhenti menjerit?"
"Kau cemburu melihat Riko menyemangati pemain lain, Hyuga?"
"Diam, Kiyoshi, atau aku akan mengebirimu."
Hyuga Junpei membenarkan letak kacamatanya. Kapten tim Seirin itu mengedarkan pandangan ke sekitar lapangan indoor tersebut. Pasti ada sesuatu yang akan atau sedang terjadi. Bukan hanya tim Seirin saja yang sedang menonton latih tanding timnas basket Jepang, tapi juga tim Kaijo, Shutoku, Too, Yosen, bahkan Rakuzan.
Mereka pun sama seperti tim Seirin, fokus terbagi antara mengagumi timnas basket Jepang yang luar biasa serta mengawasi tim saingan mereka. Bertanya-tanya dalam suara rendah mengapa mereka dikumpulkan di satu tempat yang sama.
PRIIIIT!
Suara peluit melengking memenuhi ruangan. Tidak mungkin peluit wasit karena waktu latih-tanding masih di pertengahan quarter ketiga. Pula nihil tanda-tanda pemain akan diganti atau terjadi pelanggaran. Barulah semua yang ada di lapangan indoor menoleh pada sumber suara peluit, dan kehadiran orang-orang yang mereka tunggu.
Belum sempat mereka mengungkapkan ekspresi keterkejutan, mereka dikagetkan oleh timnas yang kocar-kacir berkumpul secepat kilat berbaris rapi dengan badan ditegapkan. Kompak mereka berseru, "Konichiwa, Kantoku!"
"Hm, konichiwa."
Kagetora melenggang masuk dengan santai dibuntuti oleh bocah-bocah merepotkan yang kini tampak syok melihat lapangan indoor basket nasional ini dipenuhi oleh tim-tim musuh satu sama lain. Pria itu menemukan sosok putrinya di antara para pemuda tengik Seirin, tanpa ragu melesat ingin memberikan pelukan hangat pada anaknya.
"Riko-taaaaaaan!"
Horror.
BUK!
"Aaaah! Papa!" Riko menyambut pelukan dengan pukulan telak penuh emosi ke perut ayahnya.
Double horror.
Timnas bergetar sekujur tubuh. Entah karena syok mengetahui bahwa gadis manis yang ternyata pelatih tim Seirin itu, pula ternyata anak dari pelatih mereka, atau karena si gadis justru menonjok perut terlatih ayahnya sendiri.
Kagetora berpretensi mengerang kesakitan, merajuk karena sambutan Riko yang sangat tidak manis padanya. "Hei, hei, begitukah caramu menyambut papamu yang keren dan—"
"PAPA!" Riko memelototinya dan menekan telunjuk dalam-dalam ke dada sang ayah. "Aku sudah curiga sejak kau tadi pagi menitipkan surat pada Kagami-kun dan Kuroko-kun! Tapi bahkan melihat semua yang ada di sini pun, aku masih tidak mengerti apa maumu!"
"Oh, Seirin, lama tidak jumpa." Alih-alih menanggapi protes putrinya, Kagetora justru menyapa tim asuhan anaknya.
"Konichiwa, Kagetora-san!" Tim Seirin membalas sapaan serempak.
"Papa—!"
"—aku pasti akan menjelaskan pada kalian semua, nanti." Kagetora menepuk lembut puncak kepala bermahkotakan surai coklat itu. "Masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Tunggulah, Riko!"
Pelatih tim nasional basket Jepang itu mengedarkan pandangan karena merasakan tatapan intens dari berbagai penjuru, ia menemukan sosok teman-teman lamanya bersama para murid asuh masing-masing. Mereka saling bertukar pandang samar. Para pelatih tim basket SMA ternama itu sudah diberitahukan perihal FIBA dan anak-anak mereka yang akan direkrut olehnya.
Kagetora lantas menatap pemuda-pemuda yang jelas dibimbing olehnya dalam timnas basket. "Maaf aku menginterupsi latihan kalian. Sediakan keranjang bola basket sekarang juga!"
"HAI'!"
"Ah, bersihkan lapangan juga. Mau dipakai."
"SIAP, KANTOKU!"
Timnas basket dengan patuh menuruti perintah pelatih mereka. Tidak bertanya-tanya apalagi membantah. Mereka bergegas menyediakan sekeranjang besar berisi puluhan bola basket aneka warna yang tampak baru, dan sebagian lagi membersihkan lapangan.
Kagetora memerhatikan bocah-bocah menyusahkan itu menghampiri tim masing-masing, disambut dengan berondong pertanyaan. Senyum geli terbit di wajahnya saat ia melihat mereka tidak menjawab banyak—menyimpan penjelasan untuk nanti. Bersiap-siap dengan melepas jersey masing-masing, berganti kostum menjadi seragam lapangan mereka. Tanpa disuruh pun mereka melakukan pemanasan. Oh, mereka siap turun ke medan perang.
Di sisi lain, Kagetora melirik salah satu pemain teruniknya yang sedang melakukan ritual bodohnya sebelum bertanding—menaruh payung putih di atas bangku panjang sembari mengangkat kedua tangan dengan mata terpejam, pose orang berdoa. Apa dia sedang menjampi-jampi payung putih agar mengeluarkan hantu dan membuatnya kerasukan? Entahlah, Kagetora tidak percaya pada hal mistis, semistis apa pun seorang Hayate Kaze.
Timnas menghampiri kawan mereka yang paling eksentrik itu. Hibiki datang membawakan sepatu olahraga untuk Kaze. Makhluk albisian tampan tapi kurang waras itu melepas jaket, kaus, serta celana training panjang yang semula dikenakannya. Hampir mengejutkan para tamu asing di Tokyo National Gym itu, ia muncul dengan seragam lapangan berlogo tim nasional basket Jepang.
"DIA PEMAIN BASKET?!"
Keterkejutan ini tak urung menetaskan cengiran maklum dari tim nasional basket Jepang. Mereka sudah terbiasa mendengar orang-orang tidak percaya bahwa partner berpayung putih mereka adalah pemain basket, bukan paranormal apalagi pedagang payung. Tunggu sampai mereka lihat permainan 'hantu' timnas Jepang.
Hayate sudah selesai mengukir tali sepatu dengan pita yang manis, maka lamban ia melakukan pemanasan. Akan terus begitu andai saja sambitan ganas papan berjalan dari sang pelatih tidak telak mendarat di punggungnya. Pemandangan di mana Hayate dengan mata berkaca-kaca mempercepat sesi pemanasannya membuahkan tawa dari teman-teman setimnas.
"Hayate, kau keluar saja dari timnas kalau kau kalah dari bocah-bocah. Mengerti?" ancam Kagetora sadis. "Ten on one, kau harus sanggup."
"Manusiawilah, Kantoku. Ten on one? Kata Anda tadi one on one dengan mereka bersepuluh satu per satu? Anda tidak konsisten."
"Aku tidak mau dengar itu dari manusia berhawa hantu sepertimu. Lakukan saja!" Kagetora menimpukkan papan berjalannya lagi pada lengan kuyu individu yang ditumbalkannya.
Hayate melirik berduka pada teman-temannya yang susah payah menahan tawa. Oh, Tuhan … mengapa bukan mereka saja yang ditumbalkan Kantoku, sih? Tuh, kan … pelatihnya benar-benar sadis. Ten on One? Ada yang lebih tidak waras dibanding dirinya!
"Haya-chan, jangan bilang kau takut dengan bocah-bocah SMA!"
"Kan, bukan kau yang disuruh melawan Kiseki no Sedai, Twelve-kun." Hayate menatap memelas pada seorang pemuda bersurai coklat kusam yang menertawakannya sambil menampar main-main punggungnya. "Harusnya yang melawan Kiseki no Sedai bukan aku."
"Iya, ya. Kenapa tidak Hibiki atau aku saja? Ah, sayang yang lain tidak ada di sini hari ini." Twelve mengangguk-angguk menyetujui.
Kagetora melayangkan lagi papan berjalannya untuk menyodok perut salah satu atlet kebanggaannya. "Manusiawi sedikit, Twelve. Aku ingin membuat mereka menyerah dengan kekeraskepalaan mereka itu, tapi bukan menghancurkan mental mereka. Setidaknya, tidak sekarang."
'Kata orang yang paling tidak manusiawi di lapangan basket,' pikir satu tim nasional basket Jepang sehati.
Anggota timnas inti Jepang yang hari itu berjumlah tiga orang saling berpandangan, bertukar anggukan setuju.'Saa suga Hidoi no Kantoku.'
Kiseki no Sedai sudah beruntung tidak melawan para Ace timnas atau pelatih mereka. Lagipula mental mereka pasti akan terguncang dahsyat pasca bertanding melawan Hayate.
"Hayate! Kalau kau kalah dari anak-anak SMA, kami dengan senang hati akan membuang payungmu—"
"SETUJU, HIBIKI SENCHOU!"
"—apa pun asal jangan payungku, Hibiki Senchou, Minna."
Hibiki menyeringai. Serahkan pada dirinya untuk menggeser tuas emosi Hayate menjadi mode serius. Diserahkannya sebuah bola basket dengan logo khas timnas pada salah satu anak buahnya itu, lalu didorongnya Hayate yang tampak suram namun kini mengintensi determinasi, masuk ke lapangan basket.
Ketika sepuluh pemuda yang didaulat menjadi timnas baru itu turun ke arena pertandingan, tidak bisa dielakkan mereka sekerjap mata telah sibuk melawan satu sama lain meski baru saja pemanasan. Dihujani sorakan dari teman-teman setim masing-masing.
Dirasa cukup pemanasan dan permainan bocah-bocah merepotkan itu, Kagetora meniupkan lagi peluit panjang untuk membuat ruangan menjadi sunyi. Otomatis menyebabkan perhatian terpusat padanya. Santai ia menghampiri Hayate yang masih memegang satu bola, membisikkan sesuatu. Dan semua orang asing di Tokyo National Gym itu merinding disko tatkala ekspresi Hayate mendadak berubah total lalu terkekeh aneh—sungguh terdengar eksentrik dan menyeramkan.
Setelah itu, Kagetora menghadap pada sepuluh pemuda yang telah berjajar di hadapannya tak jauh dari mereka.
"Baiklah. Permainannya sederhana. Kalian cukup menjatuhkan bola yang dilemparkan Hayate, serta mendapatkan skor sebelum Hayate mencetak skor mendahului kalian. Hanya satu bola ke ring basket. Tidak ada batasan waktu."
Dilihatnya orang-orang, kecuali timnas, berkasak-kusuk. Jelas merendahkan Hayate, atau merasa direndahkan karena pemain andalan mereka adalah pemain-pemain basket terbaik.
Kise mengangkat tangan, meminta kesempatan untuk berbicara. Kagetora menganggukkan kepala sebagai tanda mengizinkan pemuda itu untuk angkat suara. "Siapa yang one on one duluan dengan Hayate-san?"
"Tidak usah buang-buang waktu. Ten on one," jawab Kagetora ringan.
Sunyi.
Berpasang-pasang bola mata nyaris mencelat dari rongganya.
"HEEEEEE?! TEN ON ONE?!"
Teriakan itu bukan hanya histeria terkejut dari para pemuda di lapangan, tapi juga di luar lapangan. Bahkan putri tunggal pria bermarga Aida itu syok bukan kepalang dibuatnya. Tercetus di benak Riko bahwa papanya perlu dibawa ke psikiater, atau kalau perlu paranormal pun boleh.
Kagetora tidak merespon pada syok orang-orang. "Kalian ada sepuluh, berarti … ambil sepuluh bola, Hayate!"
"Aye, aye, Sir~" patuh Hayate meraih bola satu per satu dari keranjang sembari bersenandung dengan lagu enka.
Takao merentangkan kedua lengan, mata elangnya terbelalak. "Tu-tunggu! Ten on one?"
"Ya." Kagetora meliriknya sekilas.
"Ten on one … dengan sepuluh bola?!" kata Himuro tidak percaya. "Mustahil."
"Bagaimana mungkin satu orang menghadapi sepuluh orang dengan sepuluh bola?!" seru Kagami seraya berkacak pinggang. "Ini tidak masuk akal!"
Sakurai menggelengkan kepala kuat-kuat. "Ti-tidak mu-mungkin, su-sumimasen!"
"A-aku kasihan pada Hayate-san—ssu," gumam Kise bersimpati.
"Tsk. Mengapa tidak buat kami saling melawan satu sama lain?" gerung Aomine marah. Dia menunjuk Hayate yang sedang berlari-lari kecil mengejar bola kesembilan yang menggelinding. "Ten on one dengan pemain sepertinya? Apa Anda sudah gila?"
"Tidak peduli berapa lawan berapa—" Murasakibara akhirnya berada dalam zona serius. Menyengatkan tatapan yang intens pada Hayate. "—aku semakin ingin menghancurkannya. Orang macam dia…"
Kuroko mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Menatap tidak suka pada Kagetora yang sedang memandang mereka seolah sedang menghadapi bocah taman kanak-kanak rewel karena tidak diberi apa yang mereka mau. "Anda keterlaluan sekali meremehkan kami."
Akashi menyeringai. Dia melemaskan persendian jari-jemarinya. "Jangan menyesal atas apa yang Anda lakukan dan apa yang akan terjadi pada Hayate-san, Kagetora-san."
"Katakan itu lagi setelah pertandingan ini selesai." Kagetora menatap lekat bocah-bocah ingusan yang masih saja keras kepala. Dalam hati menyayangkan mengapa mereka tidak mencoba sedikit saja bersyukur.
Ya, bersyukur karena yang harus ten on one dengan mereka, bukanlah dirinya atau kelompok regular yang berisi para Ace tim nasional melainkan Hayate. Jika itu dirinya, ia pastikan mereka akan menelan pedih telak kekalahan dan memaksa mereka untuk paham arti pepatah "bagai pagar makan tanaman".
"Aku serahkan nasib Negara padamu." Kagetora melambai sekilas pada anak didiknya yang dijuluki "The Ghost Player" itu sebelum melangkah keluar dari lapangan. "Tidak perlu tip-off. Bola mulai darimu saja, Hayate."
"Nasib Negara apanya …" gumam Hayate lesu.
Baru Hayate meraih satu bola, didengarnya dari ujung lapangan derak tulang-tulang kembali ke posisi semula—calon-calon junior tim nasional tersebut melakukan peregangan. Hawa emosional berintensitas tinggi tidak mengenakkan ekstrim menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Dikerlingnya junior-juniornya dalam dunia olahraga basket itu.
Sejak pertama kali bertatapan dengan mereka secara langsung, Hayate tahu remaja-remaja kelebihan adrenalin di hadapannya sama sekali tidak bisa diremehkan. Kelereng oniksnya berpendar menemukan talenta-talenta luar biasa itu siap menggilasnya karena berada di puncak kekesalan.
Menarik. Sangat menarik. Akhirnya Hayate melengkungkan senyum lugu, dan terkekeh aneh seperti kehabisan napas. Matanya terpicing perlahan, mengamati sosok-sosok sepuluh musuhnya di lapangan saat ini. Mengobservasi profil dan sejauh mana talenta mereka akan menyulut eksitasi permainan basketnya. Tidak sadar aura mistisnya berbenturan dengan aura emosi meluap-luap yang dikuarkan anak-anak SMA tersebut.
Mereka berbaris di sentral lapangan tempat biasa tip-off dilakukan. Hayate dan sepuluh orang rekomendasi panitia Winter-Cup dan Inter-High itu saling berhadapan. "Yoroshiku onegaishimasu!"
Seruan itu menjadi pertanda bagi orang-prang di luar lapangan menyoraki pemain basket yang ingin didukung gila-gilaan.
Sepuluh pemuda itu masih berdiri mengawasi Hayate seperti predator memantau mangsa. Hayate menuju ke sisi lapangan yang merupakan wilayah pertahanannya dan meraih satu bola basket dari dalam keranjang. Mendribblenya perlahan.
Hening melingkupi lapangan indoor tersebut. Semua atensi terfokus pada orang eksentrik itu yang meraih satu bola. Dia terkekeh aneh—terdengar serak dan parau, benar-benar menandangkan ketegangan. Ada gerakan cepat tak terlihat yang dilakukan sang hantu itu, sebelum ia melambungkan bola ke udara. Begitu pula bola kedua, bola ketiga, dan seterusnya. Hingga akhirnya bola-bola melayang berputar-putar di langit-langit ruangan.
"MU-MUSTAHIL!" kontan hampir semua yang tidak mengetahui Hayate Kaze syok dan memucat.
"FENOMENA ALAM?!" —Kise.
"SULAP?!" –Kagami.
"O-oi, jangan bercanda!" –Aomine.
"I-ini ti-tidak lucu, nanodayo!" –Midorima.
"Astaga … HANTU!" –Takao.
"SUMIMASEN! Ba-bagaimana dengan gra-gravitasi?!" –Sakurai.
"Bagaimana bisa?! Bolanya tidak jatuh-jatuh!" –Himuro.
"Ti- … tidak mungkin." Kuroko yang ternganga, otaknya macet melihat kejadian aneh di hadapannya.
Apakah mendiang Isaac Newton tidak lagi menyukai penemuannya tentang gaya gravitasi dan memutuskan merasuki Hayate Kaze untuk menghapus hal tersebut?! Roda-roda logikanya mandat, terlalu syok mendapati kejadian irasional di hadapannya.
"The Ghost…" Suara Akashi tenang menggema di lapangan indoor tersebut. Emperor eye-nya telah diaktivasi untuk mengawasi Hayate Kaze yang berdiri inosen di tengah lapangan dengan senyum lugu mengiritasi matanya. "Tidak kusangka, benar-benar ada."
"Majulah!" Hayate menjulurkan telapak tangan terbuka, gestur menyambut serangan lawan-lawannya di lapangan.
Murasakibara tidak berpikir dua kali apalagi bertanya-tanya trik macam apa yang digunakan Hayate untuk melayangkan bola tanpa jatuh. Pemuda super jangkung itu hanya ingin semua segera berakhir dan dia bisa lekas menyantap makan siang. Dia melesat cepat lalu melompat tinggi. Tangan besarnya menyentuh bola basket yang berputar dinamis dan statis di tempat. Sekian detik kemudian ia terbawa oleh putaran bola itu, dan terbanting keras menghantam permukaan lapangan.
"Atsushi!" Himuro menghampiri Murasakibara dan berlutut di sampingnya. "Kau baik-baik saja?"
Murasakibara mendecih. Ia mengusap-usap lengan dan lututnya yang terasa sakit karena menjadi tumpuan mendarat untuk menahan beban tubuhnya.
"Jangan-jangan Hayate-san memblokade Atsushi—"
"—ti-tidak," potong Takao ngeri, "Melalu eagle-eyes ini, aku yakin dia tidak bergerak sedikit pun."
"Tsk. Padahal kalau sudah memegang bola, aku yakin akulah yang akan mengakhiri pertandingan ini dengan three-point, nanodayo." Di balik kacamatanya, Midorima memandangi bola-bola di atas, terpengarah.
"Memegang bola? Bagaimana bisa kalau bolanya di atas sana?" tanya Kise dengan suara layaknya orang tercekik.
Kagami dan Aomine saling berpandangan sesaat. Sebelum impuls mendorong mereka untuk merepetisi aksi Murasakibara barusan. Kagami dengan kekuatan lompatan terlampau tingginya bahkan menggapai bola yang berada paling atas. Tak pelak, saat kedua pemain basket yang setipe itu menyentuh bola basket berputar-putar, mereka terbawa arus putarannya. Terlempar ke dua arah berbeda.
BRUK!
BRUK!
Sakurai menyambangi Aomine yang mendarat dengan punggung menghantam lantai terlebih dahulu. Kuroko membantu Kagami yang jatuh terjungkal, mendarat dengan perut sebagai tumpuan.
"Pantas saja. Tadi Kagetora-san bilang untuk menjatuhkan bola yang dilempar Hayate-san—" kata Kuroko tegang, ia meraih tangan kawannya itu, membantunya untuk duduk.
"—dan mencuri skor jika bisa. Kita bersepuluh dengan sepuluh bola, tidak bisa mencetak skor satu pun? Gila!" Kagami frustasi, lalu mendecih.
Himuro yang masih di sisi Murasakibara mengawasi Hayate secara seksama, bahkan dari balik poni raven yang berserakan di kening dan memblokir sebelah matanya. "Aku sudah dengar dari Alex tentang suatu teknik—jurus—yang melegenda di antara para pelatih NBA … Bola Hantu."
"Oh, suatu kehormatan bisa menyaksikan jurus mengerikan ini dengan mata kepala sendiri," sarkastik Midorima. Ia nyaris percaya bahwa bukan hanya dirinya yang merinding ngeri karena kemistisan yang tengah terjadi, juga bukan hanya dirinya yang sekujur tubuh bergetar tanpa sebab dialiri keringat dingin menderas.
"Bolanya ti-tidak jatuh juga … a-apa be-benar dipegang hantu?" tanya Sakurai ketakutan.
"Konyol!" Aomine tertatih berdiri, menepis kasar uluran tangan Sakurai. "Semua ini konyol!"
Di ujung lapangan sana, Hayate bersidekap. Konstan tersenyum lugu dengan tampang inosen. Kentara menanti sesuatu.
Akashi diam-diam mengakui kemampuan sang Hantu di tim nasional basket Jepang itu. Sama seperti Himuro, Akashi mengetahui tentang betapa legendarisnya bola hantu. Setahunya itu hanya takhayul orang Barat, NBA, untuk menakut-nakuti dunia. Jika ditilik ulang, tidak pernah disebutkan bahwa hanya pelatih NBA yang bisa melakukannya. Dan lagi … oh, bahasa tubuh yang menginvitasi untuk dikalahkan itu!
Kapten tim Rakuzan melangkah maju dengan tenang. Didapatinya salah satu pemain timnas tersebut mengubah posisinya menjadi siaga. Intensinya jelas; dari tadi menunggu seseorang datang mengofensi dirinya.
Semua seakan menahan napas menanti apa yang akan terjadi.
Sepasang mata sewarna rubi dan emas itu mengeborkan intimidasi pada kelereng oniks yang bulat inosen, tiada takut terpancar. Hawa mengerikan dirilis dari eksistensi pemuda berambut magenta itu, bertabrakan dengan aura mistis si hantu eksentrik.
Mereka yang sudah pernah one on one melawan Akashi tentunya familiar dengan aura mengerikan dan menguras energi itu. Kendati berada di luar lapangan, tetap saja berefek pada mereka. Seperti Fukuda dan Izuki yang mundur teratur, serta Furihata yang limbung berkeringat dingin.
"Sangat menarik." Akashi memasang kuda-kuda sempurna. "Bola yang melayang hanya ada sembilan. Anda memakai sembilan bola hantu untuk mengalihkan perhatian kami, sementara satu bola lagi akan Anda gunakan untuk mencuri skor."
Setiap persona yang benar-benar hanyut dalam ketegangan pertandingan tidak imbang ini tercengang. Ternyata penonton awam tak ada yang menyadari bahwa bola yang melayang hanya ada sembilan.
Hayate terkekeh—yang jelas terdengar aneh. "Sangat tajam," pujinya. Dia turut memasang kuda-kuda untuk menghadapi monster yang bangkit dalam persona Akashi yang satu lagi.
"Dan aku tidak akan licik mencuri skor seperti itu. Kehkehkeh." Hayate terkekeh seraya melempar satu bola lagi layaknya tip-off. Bola terakhir itu menyusul bola lainnya, melayang sambil berputar-putar konstan, dinamis, tapi statis di satu titik.
Akashi yang sudah mendapatkan sesuatu dari emperor-eye-nya, berlari secepatnya lalu dengan satu tolakan kuat melompat. Sekian sekon, emperor-eye mengobservasi ke bola hantu, sebelum Akashi menikam bola basket dengan tepisan tajam di suatu poros yang tertangkap emperor-eye. Bola itu terpental jatuh, Akashi mendarat mulus lagi di lapangan. Dirasakannya tepian tangan kanannya sepanjang jari kelingking hingga pergelangan tangan, berdenyut pedih pasca menepis jatuh bola hantu.
"Wow~" senandung Hayate yang memungut bola ke sepuluh itu, matanya berbinar kagum. "Kau pintar."
Lagi-lagi semua tergemap megap-megap dibuatnya. Kali ini tim nasional turut terpesona, bahkan bertepuk riuh untuk Akashi. Di antara mereka tidak ada yang bisa menghentikan bola hantu sialan teman mereka itu kecuali pelatih dan para Ace tim reguler. Tak urung, yang lain pun tertular dan bersorak untuk Akashi.
Kagetora pun tak luput takjub karena kesuksesan Akashi. Sekali lagi, ini masih dalam asumsinya. Malah ia menduga paling tidak tiga dari sepuluh bocah-bocah berandalan merepotkan itu seharusnya mampu menjatuhkan bola hantu Hayate. Ah, ya sudahlah. Menjatuhkan satu bola, berarti hanya satu orang yang bisa menghentikan Hayate, tidak membuat mereka akan terlepas dari takdir yang menunggu mereka.
Hayate mendribble bola. Terlewat tenang untuk ukuran seseorang yang berada di sisi ofensif. One on one, Hayate versus Akashi.
Tiada hesitansi ketika Akashi mencegat Hayate. Pemilik emperor-eye itu cukup terkejut tidak menemukan titik buta dari musuhnya. Dia melihat Hayate di hadapannya—tersenyum lugu dengan kelereng oniks besar yang memandangnya buncah keeksentrikan dan antusiasme. Tapi dua sekon kemudian dia sadar, Hayate telah di belakangnya.
Akashi melakukan ankle-break dengan kecepatan luar biasa. Sepatunya menggemakan decit melengking ketika ia memanuver gerakan berputar sekaligus mengerem tajam. Selama itu otaknya menganalisis probabilitas bagaimana bisa Hayate menipunya begitu dan cara menghentikan si hantu.
Ini jelas berbeda dari vanishing drive atau Misdirection Overflow milik Kuroko. Drive yang dilakukan Hayate itu bahwa dia masih ada di hadapan lawannya, tanpa lawannya menyadari dia telah menyelinap dari guard atau mark. Baru terlihat sosoknya transparan—tidak lenyap, dan sadarlah musuhnya Hayate lolos melewatinya.
Entah yang lain sadar atau tidak, Akashi yakin ia tidak mendengar suara decit sepatu beradu dengan lantai, atau bahkan langkah-langkah kaki Hayate. Oh, jadilah ini sebabnya kenapa Hayate Kaze dijuluki Hantu. Langkahnya ekstrim ringan seolah tak menapak di samping drive transparan. Saat berbalik, Akashi melihat satu-satunya orang yang bangkit memblok Hayate adalah Kuroko.
Kuroko tahu—saat ia berpandangan dengan Hayate—orang ini paham desperasinya yang tidak mau bersama beberapa pemuda lain dalam satu tim, bukan hanya karena tidak bisa meninggalkan timnya yang saat ini, tapi juga dasar traumatik. Dan dia tahu saja, dari pandangan melunak Hayate yang tidak menyetujui keputusannya.
'Kau tidak seharusnya lari.'
'Aku tidak percaya lagi.'
Berbeda dari teknik misdireksi, Hayate benar-benar ada dengan kelereng oniks bulat besar terlalu ramah untuk ukuran pemain basket—tidak menghilang tiba-tiba. Sampai tiga detik berikut Kuroko tertegun, baru sadar Hayate yang di hadapannya tidak membawa bola. Kuroko pun tidak mendengar suara apa pun hingga—
—Kise yang sudah pulih sigap menjegal sang hantu yang sebenarnya dengan lihai melakukan crossover sangat halus menipu Kuroko. Emperor-eye aktif berpendar di mata madu itu. Hayate melakukan fade-away—atau begitulah perkiraan Kise yang mencoba mengaktifkan kekuatan ala Murasakibara dan merebut bola. Dua hingga tiga kerjapan mata berikutnya ia masih bertatapan dengan mata hitam pekat laksana lubang hitam di angkasa—menyedot seluruh atensi dengan cara paling mistis dan misterius.
Kise dan Kuroko, keduanya tidak menyadari telah memberikan peluang bagi Akashi untuk berlari balik mengejar pemuda yang lebih tua tiga tahun dari mereka itu—hampir tiba di ring basket. Mereka berdua menyediakan kesempatan untuk Akashi yang agresif mengincar bola, membatalkan niat Hayate untuk santai melakukan hook-shoot.
Hayate tidak lantas memunggungi Akashi untuk melindungi bola. Kaki kirinya sebagai pivot memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk berhadapan langsung dengan Akashi. Saat kedua tangan Akashi tajam hendak menepis bola, lengan kanan Hayate sigap memblokir Akashi. Lalu muncul Kuroko yang akan melakukan back-tip, di sisi satu lagi Kise siaga menangkap bola ke mana pun akan menggelinding setelah nanti dicekal.
Di ujung lapangan sudah ada Murasakibara, siap menerima operan dari Kise. Tiba-tiba saja yang lain sudah bangkit, nyaris turut serta mengeroyoknya.
Tidakkah para pebasket muda sadar mereka tidak punya pilihan selain bekerja sama untuk melawan Hayate? Ah, sayang semua sudah terlambat.
'Oh, sudah saatnya.' Hayate menertawakan dalam hati. Dan satu lapangan kontan merasakan dingin menyelubungi mereka karena melihat cengiran inosen sarat modus itu.
DUK! DUK! DUK!
Sembilan bola basket jatuh seperti meteor menghujani lapangan. Terpantul kemana-mana membuat perhatian teralih. Hayate memanfaatkan satu detik ketidakfokusan itu untuk menolakkan kuat kaki kanannya dan melakukan fade-away membelakangi ring basket.
Disadarinya Kuroko menjulurkan tangan dan hampir menyentuh bola basket yang ada di tangannya. Tekad tidak luntur meski seharusnya si pemuda bersurai identikal langit itu tidak dapat menggapai sang hantu.
Namun Hayate yang kini melayang terlentang, kepalanya mendongak dengan segala konsentrasi tertuju pada ring basket. Tangan kirinya mendorong bola basket dengan melakukan lay-up terbalik. Bola melambung dari balik tiang lalu berputar sempurna membuat kurva imajiner mengimitasi pelangi, masuk mulus menembus ring basket, mengubah papan skor bertuliskan angka dua—dan kekeh anehnya lenyap di balik hantaman indah si bola basket pada dahinya dilengkapi tubuh yang membanting lantai.
Ah, tunggu. Bukan hanya Akashi, Kise, dan Kuroko yang memosi gerakan untuk mengonter ofensi Hayate. Lagipula yang lainnya tidak hanya berpangku tangan.
Padahal beberapa detik sebelumnya—tepat setelah bola-bola jatuh, Sakurai dapat operan bola dari Tatsuya lalu melakukan quick-release shoot andalannya, bersamaan dengan Takao melakukan chest-pass mengoper bola pada Midorima dan melakukan teknik kerja sama mereka. Sayangnya, kedua bola itu berbenturan—tidak satu pun masuk ke ring basket.
Kagami dan Aomine sudah menangkap bola mereka, tidak buang waktu mendribble bola di tangan masing-masing. Kagami melakukan meteor-jump, nekat menge-shoot bola—tidak punya pilihan lain karena jarak antara dirinya sekarang dengan ring basket jauh. Aomine melancarkan formless shoot.
Nasib tidak berpihak pada mereka. Tragedi terulang lagi. Bola yang ditembak Aomine nyaris saja masuk, andaikata bola Kagami yang tidak membentur tanda kotak di ring basket pun menyepak bola Aomine.
"PRIIIT!"
BRUK!
Papan skor Hayate Kaze kini berubah angka dari nol-nol menjadi nol-dua. Pemain albisian itu merasakan kepalanya berkunang-kunang karena dahinya ditimpa keras bola basket. Tapi alih-alih meringis kesakitan, dia terkekeh senang.
Hayate Kaze menang.
Kesunyian melanda lapangan basket indoor paling terkenal se-Jepang itu.
Satu helaan napas panjang dari sang pemenang. Lega melingkupi diri karena itu berarti ia batal didepak dari tim nasional maupun payung tercintanya dibuang.
"Yah, kita tidak jadi membuang payung sialan itu, Kapten?" cetus Twelve, diikuti desahan kecewa anggota-anggota timnas lainnya.
"Sial. Sayang sekali." Hibiki tertawa lebar. Dia berlari-lari kecil menghampiri rekan setimnya, membantunya bangun seraya mengecek jidat yang diseraki anak-anak rambut identik dengan salju itu. Ada ruam merah mewarnai kulit pucat di kening Hayate.
"Padahal aku berharap bisa melihatmu tanpa payung, Hayate," ucapnya santai—nadanya halus.
Hayate menyipitkan matanya. Ia berdiri bertopang pada kaptennya sembari membersihkan debu yang melekat di baju seragamnya. Dengusan rendah. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Remaja-remaja lelaki di hadapannya tercenung tidak percaya. Ketika mereka menyeret langkah untuk berhadapan dengan Hayate yang ditopang oleh Hibiki, ekspresi syok mengentali airmuka mereka.
"Kalian hebat," puji pemain basket hantu itu dengan senandung riang. Ia mengusap-usap dahinya yang tampak memar. "Aku kewalahan. Nice game."
Kelereng oniksnya berbinar-binar memandangi ke sepuluh pemuda yang terpaku kaku di tempat masing-masing. Sebelum meleleh sudah kekakuan, selintas terpercik kekaguman dari mata-mata mereka yang dikalahkan oleh pebasket serupa hantu tersebut. Tidak satu pun dari mereka tidak menaruh respek pada pemain nyentrik yang bertarung tidak adil dengan mereka itu.
"PRIT!"
"Arigatou gozaimasu!"
Aida Kagetora memecahkan momen itu dengan gelak tawa pongah. Sukacita menerima jabatan tangan kawan-kawan lamanya yang menitipkan sepuluh bocah itu dalam naungan didikannya dengan enggan. Sedikit yang mengetahui, para pelatih basket itu mengasihani murid-murid mereka yang sekarang harus pasrah dilatih oleh salah satu pemain basket nasional Jepang terbaik pada masanya itu.
Congkak, Kagetora kini bisa membusungkan dada di hadapan bocah-bocah merepotkan yang akan diasuh olehnya. Bangga, ia menepuk-nepuk kepala salah satu pemain terbaik sekaligus teranehnya.
Hayate meringis kesakitan. "Astaga, Kantoku … ke-kepalaku—!" Pusing di kepalanya justru berlipat ganda. Dia merengut.
"Jadi, inikah yang disebut pagar makan tanaman." Kagetora menatap satu demi satu wajah-wajah yang tampak enggan memandangnya. Seperti murid sekolah dasar yang malu karena dihukum guru berdiri dengan satu kaki terangkat dan dua tangan menjewer telinga.
"Tidak ada lagi jalan mundur bagi kalian. Nasib Negara ini yang sebagai tuan rumah untuk FIBA juga ada di tangan kalian—dan sudah sepatutnya kalian ikut bertanggung jawab."
Lamat-lamat, kendati enggan, mereka mengangguk patuh.
Kagetora menjatuhkan tatapannya pada Akashi. "Kau bilang pada Shiro-chan—uhuk, maksudku Eji Shirogane—"
Eiji Shirogane berdecak mendengar nama panggilan laknat itu, lalu mendengus dalam ketika Masaaki, Genta, dan Katsunori jmenertawakannya tanpa sungkan.
"—kau punya syarat untuk bergabung di tim ini yang jika dipenuhi, kau bersumpah akan memimpin tim ini menang di FIBA World Cup Championship: Youth, serta kagetori lainnya. Apa syaratnya?"
Mungkin hanya sembilan pemain basket tingkat SMA yang ada di lapangan berpikiran sama. Jika Akashi punya syarat—apapun itu—untuk bergabung dalam tim, mengapa repot mengemukakan alasan kejam di rapat tadi dan turun bertanding melawan Hayate?
Dan yang terpenting, bagaimana bisa emperor muda satu itu diberikan hak veeto untuk sebuah syarat?!
Akashi memicingkan mata. Sesuai yang dijanjikan pelatihnya di tim Rakuzan, Aida Kagetora akan bernegosiasi syarat yang diajukannya. Dia sudah memikirkan syaratnya yang nyaris gugur karena terjadi hal tak terduga di ruang rapat barusan. Pandangannya sepintas melunak ketika mengerling pada Kuroko—dan sembilan remaja lain yang sebaya dengannya itu menyadari lirikan sudut sepasang mata dwi warna tersebut. Sejak memasuki lapangan indoor megah ini, menemukan seseorang yang masih tertinggal di memorinya walau hampir berdebu. Itulah syaratnya sekarang.
"Saya minta satu saja pemain basket tambahan yang dapat mengasisteni tim ini. Jadi, paling tidak bisa membantu meringankan pekerjaan saya dan Satsuki," terangnya beralasan.
"Asisten?" Kagetora memiringkan kepala. "Ada-ada saja. Oke, siapa orangnya?"
"Mungkin Haizaki Shougo, ta—"
"TIDAK!"
Perkataan Akashi dipotong cepat oleh raung protes pemuda-pemuda lainnya. Terlihat jelas mereka menolak gagasan mula pemuda yang menyukai Shogi tersebut.
"—Akashi, aku hengkang sekarang juga kalau kau masukkan dia ke dalam tim!" ancam Aomine emosional. "Entah apa lagi yang akan coba dia lakukan pada Kise kalau kaumasukkan dia ke dalam tim—"
Kise terlihat sangat terkejut. Telunjuk tangannya memosi dirinya sendiri. "Memang apa yang bisa dilakukan Haizaki-kun padaku? Eh, tunggu … apa maksudmu, Aominecchi?" tanyanya dengan tampang bodoh.
"Berisik, Kise!" desis ganguro satu itu sebal. Dia membuang muka, tampak salah tingkah. Hanya Momoi yang menangkap gelagat Aomine itu dan tersenyum pengertian karenanya.
"Aku, kan, hanya bertanya. Kenapa jadi kena marah … Aominecchi kejam-ssu!" kesal pemuda yang berprofesi sampingan sebagai model itu.
"Kalau tidak salah, Haizaki yang melakukan sekuhara pada Alex? Aku tidak terima," tukas Tatsuya. Urat bersilang di dahinya, berkedut keras.
Kagami memicingkan mata, entah kenapa tertular marah yang lainnya. "Kali ini, aku setuju dengan yang lainnya." Teringat dalam benaknya sosok yang ambisius meraih titel Kiseki no Sedai itu.
Alih-alih marah, Akashi malah tampak geli di balik seringai dinginnya. "Tapi Shougo lebih baik daripada dia—" Ringan tangannya memosi Sakurai yang ketika ditunjuk membungkuk berkali-kali meminta maaf, "—atau dia." –lalu pada Takao.
"HELL NO! Aku lebih pilih Ryo daripada orang sialan itu!"
"Keluarkan saja Takao." Midorima balik kanan penuh kemantapan. "Aku keluar dari tim ini."
Takao tertawa terbahak-bahak. "Oh, Tuhan, Shin-chan~ kau tidak tahan di tim yang tidak ada aku, ya?"
"Tutup mulutmu, Bakao! Aku hanya merasa tidak sopan sekali kau dikeluarkan dan digantikan dengan Haizaki, sementara yang direkomendasikan panitia Winter-Cup dan Inter-High jelas-jelas kau dan bukan dia." Si pemuda pemuja Oha-Asa itu beralasan.
"Tsundere! Akui saja kau tidak yakin bisa bekerjasama dengan mereka sebaik denganku," goda Takao seraya merangkul Midorima yang notabene lebih tinggi darinya itu.
Midorima mendengus sebal. Kasar menepis lengan Takao dari pundaknya—yang ditepis tertawa tidak tahu diri pula. Ia membenarkan letak kacamata, berusaha mempertahankan martabatnya tatkala pandangannya bersinggungan dengan Kuroko yang mengulaskan senyum tipis pengertian. Hal ini membuatnya tidak berkutik.
Sementara Kuroko, perlahan mengobservasi Akashi, tidak yakin pemuda yang tidak menyukai rumput laut itu akan mendengarkan protes mereka. Sejujurnya, ia pun tidak menyukai Haizaki. Pemuda itu memang kemampuannya hanya segaris di bawah Kiseki no Sedai, sangat diperlukan untuk kekuatan tim. Tapi mengesampingkan fakta penting itu, Kuroko turut berada dalam oposisi.
"Apa kau yakin Haizaki-kun mau membantu pekerjaan Momoi-san, Akashi-kun?" tanya Kuroko tenang. Tersisip keraguan dalam suaranya membuat Akashi tahu bahkan Kuroko juga menentang ide mulanya itu.
"—tambah lagi alasanku untuk hengkang. Kalau sampai Haizaiki mengganggu Satsuki—"
"Oh, Aomine-kun, kau baik sekali hari ini!" celetuk Momoi gembira dari pinggir lapangan.
"DIAM!" Aomine menggerutu.
"A-ano … apa Aomine-san sa-sama seperti Midorima-san?"
Pemuda berkulit tan itu menengok pada Sakurai. "Apa maksudmu, Ryo?"
"Tsu- … tsundere."
"RYO!"
"SUMIMASEEEN!" Habis sudah nasib Sakurai ketika Aomine dengan kecepatan luar biasa memiting lehernya.
Murasakibara mengedikkan bahu. "Aku terserah Aka-chin saja. Jika dia bergabung, ya masuk saja."
Delapan pasang mata mendelik kejam pada Murasakibara yang balas memandang mereka tidak mengerti. Baginya perkataan Akashi itu adalah mutlak, dan apa pun yang diinginkan Akashi, Murasakibara akan menurutinya. Jadi dia tidak paham bahwa dia menginjak ranjau emosi yang lain.
Akashi mengangkat tangannya—tanda agar semua diam mendengarkan apa pun yang hendak dikatakannya. "Maka dari itu, aku batal merekrutnya."
Seringai terkurva lagi di bibirnya. "Sebagai gantinya, aku pilih yang lain." Biner krimson dan emas itu kembali menatap lurus dengan luapan keseriusan pada Kagetora.
"Siapa pun itu, masukkan dia. Aku tidak sedang menawar."
Kagetora memandang geli pemuda di hadapannya. Bocah ini benar-benar sombong dan percaya diri sekali. Tak apalah. Kagetora sendiri tidak menyangka seorang Akashi Seijuurou akan mendengarkan protes dan rajukan yang lain dengan seksama. Untuk saat ini, itu sudah kemajuan. Lagipula, nasib kedua tim ini akan menjadi tanggung-jawab Akashi.
"Oke. Asal kau bertanggung-jawab dengan pilihanmu." Pria paruh baya itu menganggukkan kepala.
Sekali lagi, ketegangan didampingi kesunyian menerpa ruangan yang seketika sayup dari suara.
Akashi berjalan beberapa langkah. Berhenti tepat di satu tim yang gentar tatkala sang emperor berdiri menjulang di hadapan mereka, mengangkat tangan, menunjuk lurus seseorang. Seringai sadis menoreh wajahnya.
Sepi.
Kagetora benar-benar tergelak. Oh, Tuhan! Bocah arogan sialan itu hanya cari budak untuk diri sendiri!
Aomine adalah orang pertama yang berteriak.
.
.
.
.
.
"KENAPA CHIHUAHUA?!"
.
.
.
.
.
Detik berikutnya, Furihata Kouki pingsan di tempat.
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Adakah yang pernah menonton film drama Taiwan Basketball fire? Saya sangat terinspirasi dari sana. Ten on one, memang tidak manusiawi. Tapi kayaknya lebih waras fic saya. /GAK, NAK/ Yuan Da Ying malah satu kampung on One, lebih nggak manusiawi. Hihihi.
Nah, teknik bola hantu itu saya adopsi dari film tersebut dan para pelatih NBA. Kalau Ghost Drive-nya Hayate Kaze itu karena saya terinspirasi Eyeshield 21. Di chapters mendatang, akan ada penjelasannya. Atau mungkin akan ada yang mewariskan. *nyengir modus*
Oh ya~ pasti di scene terakhir itu asli bikin speechless kenapa yang dipilih Furihata Kouki. Untuk kadar timnas dan international pressure battle, dia nggak layak. *pats Furi* silakan baca chapter berikutnya untuk menemukan alasan kenapa Furi yang dipilih. *wink* Anw lagi, saya juga menyisipkan hints di sini. Adakah yang tahu apa saja hints dan keganjilan itu? XD
Edited version: Saya memutuskan hanya dua OC (Hibiki dan Hayate Kaze) yang dimasukkan dalam fic ini. Sora diganti jadi seorang character dari The Best Anime Summer 2014: Zankyou no Terror, Twelve.
.
And please expect some memorable scene between them and their teammate in the next chapter. ;D
See you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_~
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
Memiliki teman adalah keajaiban, tak peduli temanmu adalah orang yang ajaib. Chapter 4: "HEEE? TEN ON ONE?" Pertandingan paling absurd. Satu pemain menghadapi sepuluh pemain muda terbaik. Tidak manusiawi, seperti bola basket yang dilemparnya ke langit tanpa dipikat gravitasi, bola hantu. Dan sambutlah satu anggota baru tersial. "KENAPA CHIHUAHUA?!" Warn: light shounen-ai, OOC, etc.
