Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)
.
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Waktu itu adalah akhir. Kebersamaan mereka di waktu yang terhitung singkat, pupus seperti toleransi laksana titian tali yang telah terputus.
Waktu pun menjelma sekarang. Tapi masih karena mereka, dia mencari cahaya baru, dan berpikir bahwa tempatnya yang sekarang merupakan sandaran hati yang tidak rela lagi jika harus ia tinggalkan.
Waktu ini adalah kini. Ketika dia harus kembali pada mereka, berbalik dari tempat yang telah memeluk separuh hatinya dan seluruh kerpecayaannya, maka semua memburam dalam airmata di benam pelupuk mata teriring mendung suram.
—dari posisinya sekarang pun terobservasi mereka yang tampak muram.
Kuroko Tetsuya tahu keinginanya saat ini, kendati enggan namun harus beranjak menghadapi masa depan.
("Aku … tidak mau—" –berpisah lagi.)
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 5
"Precious Team Mate"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Senja terlalu kelabu menaungi Tokyo National Gym. Di luar markas para atlet nasional Jepang itu, hujan mengguyur bumi dengan rinai derasnya. Guntur menggelegar garang. Angin berhembus kencang mendayu pepohonan. Tak satu pun bisa keluar dari gedung bahkan jika menggunakan payung. Sungguh, terkadang ramalan cuaca pun bisa menjadi tidak akurat jika berkaitan dengan alam yang berada pada kekuasaan sang Pencipta. Sekarang masih musim semi, namun hujan kencang di luar menepis prediksi. Kontradiksi jika dikomparasi dengan cuaca tadi pagi.
Gerombolan remaja SMA beserta para pelatihnya itu sekarang sudah duduk di kantin utama Tokyo National Gym. Mereka sudah melewatkan siang dengan menerima terlalu banyak kejutan. Maka tak mengherankan mereka hanya duduk di kantin, termenung mencerna banyak informasi yang membuat mereka syok sampai pada tahap tidak merasa lapar—walau mereka melewatkan waktu makan siang.
Sebelum mereka berakhir dalam nuansa sephia seperti itu, Hibiki yang sangat ramah, menuruti instruksi pelatihnya untuk mengeksplanasi semua yang sebenarnya terjadi—berdasarkan sudut pandang sang instruktor.
Beberapa poin penting itu yang pertama adalah bahwa FIBA akan menyelenggarakan turnamen basket, dan tahun ini Jepang menjadi tuan rumah. Kedua, Winter-cup dan Inter-High tahun ini ditiadakan sehubungan dengan digelarnya World Cup Championship oleh FIBA di Jepang. Ketiga, sepuluh pemuda sebaya yang dipanggil itu direkrut ke dalam tim nasional basket Jepang junior yang baru atas rekomendasi para panitia Inter-High dan Winter Cup. Mereka akan berada dalam bimbingan Aida Kagetora yang dimulai bulan Mei nanti. Keempat, mereka yang dipilih menolak mentah-mentah, jadi Kagetora memaksa mereka dengan bertaruh menumbalkan Kazehaya untuk melawan mereka. Kelima, pemenang taruhan itu adalah Kagetora—tepatnya dimenangkan oleh Hayate Kaze, jadi sepuluh (tepatnya, sebelas) orang pemain basket tingkat sekolah menegah atas itu mau tidak mau bergabung dengan tim baru ini. Keenam, mereka sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Kagetora atas persetujuan pelatih SMA mereka masing-masing.
Detil-detil kecil lain yaitu pertama Kagetora berperan sebagai pelatih dan pembimbing mereka hingga musim turnamen FIBA berakhir. Kedua, Akashi dinobatkan menjadi kapten tanpa seorang pun mengajukan keberatan. Ketiga, Momoi menjabat jadi manager sekaligus paparazzi demi kesuksesan tim mereka. Keempat dan paling absurd, eksistensi Furihata Kouki diragukan—entah dia ini sekadar sebagai Chihuahua percobaan Akashi—sebagai pemain, atau asisten Momoi, namun dia turut menandatangani kontrak perjanjian dengan pias dan nelangsa. Kelima, setiap akhir minggu di hari Sabtu, dimulai dari bulan Mei mereka akan difasilitasi sekolah diantar pergi-pulang ke Tokyo National Gym untuk berlatih basket. Keenam, bulan Agustus dan September mereka akan dikarantina di asrama atlet dengan semua biaya hidup hingga musim turnamen berakhir ditanggung Negara, dan OBNJ (Organisasi Basket Nasional Jepang) bertanggung-jawab pada kegiatan sekolah mereka.
Kagetora menghela napas berat. Masih jernih dalam ingatannya seusai Hibiki menjelaskan semua hal, Riko menangis dan menyemburkan amarah padanya. Baru tadi pagi putrinya itu tersenyum ceria, berceloteh tentang ambisi diluapi eksitasi untuk memboyong tim Seirin menggapai kemenangan di Inter-High. Tapi tidak hanya Inter-High dan Winter-Cup ditiadakan, Riko harus merelakan ketiga juniornya bermain untuk tim lain dan bukan di bawah bimbingannya. Meneriakkan kesedihannya bahwa itu adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya bagi tim basket sekolah yang amat dicintainya, sebelum lulus dari SMA Seirin dan masuk universitas pilihannya.
Lebih menyakitkan lagi, ketika Riko memunggunginya dan berlari ke arah bocah-bocah tengik Seirin. Melihat si bocah Mata Empat menepuk ringan kepala putrinya, mengatakan sesuatu untuk menenangkannya, ditimpali si bocah Ditzy—tulalit. Kemudian disusul si Ikemen yang memiliki eagle-eye, si Kumis Kucing dan duonya—yang bisa melakukan segalanya dan tidak bisa melakukan apa pun, serta pemuda yang tidak pernah bersuara itu … teman-teman baik yang menghibur putrinya. Mereka dapat menghentikan isak tangis Riko.
Pula amat mengesalkan, berkat bujukan si bocah Mata Empat, akhirnya Riko mau menghampirinya. Perlahan memeluknya, sebelah tangan putrinya itu melayang mendaratkan pukulan lemah di punggungnya. Merutuki Kagetora yang sebenarnya hanya memikul tugas yang dibebankan padanya.
"Aku titip Kuroko-kun, Kagami-kun, dan Furihata-kun … berjanjilah kau akan mengharumkan nama baik Jepang dengan tim nasional, Papa," lirih Riko yang menyandarkan kepala pada dada bidang sang ayah. Lengannyanya mengeratkan pelukan pada laki-laki yang disayanginya sejak ia mulai bisa mengingat. "Atau aku berhenti jadi anakmu."
Kagetora tertawa kecil. Putri kecil—oh, anak gadisnya itu benar-benar keras kepala dan penantang, persis mendiang istrinya. Didaratkannya sebelah tangan untuk membelai rambut coklat sebahu yang halus dan wangi memahkotai kepala putrinya. "Aku berjanji!"
Di sisi lain, tim-tim sekolah menengah atas itu mengucapkan perpisahan pada pemain-pemain andalan mereka. Memberikan kongratulasi karena telah dipilih atas rekomendasi, mengungkapkan kekecewaan mendalam masing-masing pihak karena ketiadaan kompetisi basket Nasional tahun ini, membatalkan janji yang telah mereka buat tahun lalu untuk saling bertanding melawan musuh mereka.
Tim basket nasional muda Jepang … meski tidak semua menyadari, namun alam bawah sadar memahami.
Siapa sangka kemarin lawan namun hari ini harus menjadi kawan?
.
#~**~#
.
~Tim Kaijo~
"Maafkan aku, Kasamatsu-senpai … padahal tahun ini harusnya aku memenangkan Inter-High dan Winter-Cup untuk Kai—"
Derap langkah dengan kilat oh-hanya-Tuhan-yang-tahu-seberapa-cepat Kasamatsu melompat. Tangkas kedua kakinya menendang punggung juniornya itu.
BUK!
"SENPAAAIII!" isak Kise pedih seraya mengurut punggungnya.
"Pelampiasan kekesalan dan kekecewaan, tahu!" tandas Kasamatsu kejam.
"Hi-hidoi-ssu!"
"Kalau kau tidak ada di gym, Kise, bagaimana bisa cewek-cewek cantik akan berdatangan?!"
"Ku-kupikir kau bakal merasa kehilanganku, Moriyama-senpai," sungut Kise sedih, "ternyata karena cewek…"
"Oh, aku bingung bagaimana kita akan menyampaikan berita ini pada teman-teman setim," sahut Kobori yang bersidekap.
Nakamura membenarkan letak kacamatanya sembari menolong Kise untuk bangun. Bersimpati pada juniornya yang seringkali kena bully Kasamatsu. "Itu tugas Senchou dan Kantoku."
"Tapi-tapi! Kise hebat terpilih masuk tim nasional! Osu, osu—" Hayakawa mendaratkan pukulan-pukulan penuh semangat ke punggung tegap si pemuda pirang yang lebih tinggi itu.
"Astaga, Hayakawa-senpai, punggungku!" keluh Kise yang punggungnya kian terasa sakit. "Senpai tidak lihat punggungku baru saja dianiaya Kasamatsu-senpai?!"
Pria bertubuh gempal itu menghampiri anak-anak didiknya. Ia menjabat tangan Kise secara resmi—membuat yang dijabat melongo tidak mengerti. "Selamat, Kise. Aku tahu kau pasti terpilih masuk anggota timnas dengan kualitasmu itu—hanya tidak menyangka secepat ini. Berikanlah yang terbaik untuk Jepang."
"Kantoku—" Sepasang mata Kise berbinar-binar, surut sudah pretensi kesakitannya barusan.
SRUK!
"—aduh, ya Tuhan, Kasamatsu-senpai!" Kise kali ini mengusap-usap perutnya yang disikut semena-mena oleh Kasamatsu. "Jangan katakan kau sedang PMS—ITTAIII-ssu!" Injakan ganas di kaki menyebabkan Kise berlinang airmata.
Senior-seniornya yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Kasamatsu membuli Kise dengan sadis. Bukan hanya karena tampang tragedi mengenaskan Kise yang menderita komikal itu mengundang sekali untuk disiksa, tapi juga—
"—itu caranya Kasamatsu mengungkapkan ketidakrelaannya kau bergabung dengan timnas. Bagaimanapun, dia paling percaya padamu untuk membawa tim Kaijou menang di kompetisi basket," Kobori menerangkan pada Kise, ketika Kasamatsu melengos pergi lalu berbicara entah apa dengan Genta—pelatih mereka.
Kali ini pemuda yang punya cita-cita alternatif ingin menjadi pilot itu mengangkat sebelah kaki yang naas diinjak, menekan-nekan untuk mengurangi rasa sakitnya, bergumam pilu menanggapi perkataan Kobori, "aku meragukan-ssu."
"Atau murni benar karena kesal dan kecewa, jadi dia butuh pelampiasan." Moriyama yang duduk di sebelah Kise berujar geli.
"Tuh, kan! Sudah kuduga—" keluh satu-satunya junior kelas dua di tim inti Kaijou itu.
"—nanti juga baik sendiri," hibur Nakamura.
Seusai bercakap entah apa dengan Genta, Kasamatsu melangkah mendekati Kise yang lekas pasang pose defensif dan komat-kamit memohon ampun atas kesalahan apa pun yang telah-atau-akan-dia-perbuat. Kise melengkingkan pertolongan saat Kasamatsu yang gemas memiting juniornya, mendaratkan jitakan di kepala bersurai sewarna mentega itu.
"Kise, kalau performa permainanmu di timnas itu sampai memalukan Jepang—" Kasamatsu berkata dengan bersungguh-sungguh, "—kau kupecat dari tim Kaijo."
"HEEEE?!" sontak Kise terkejut. Terlebih ketika Kasamatsu menepuk kepalanya pelan.
"Kau akan melakukan yang terbaik, kan, Kise?" tanya Kasamatsu serius.
Melihat betapa seriusnya Kasamatsu—senior yang meski sering membulinya itu dengan rasa salut selalu terpatri untuknya, serta senyuman pelatih dan senior-seniornya, tiba-tiba saja airmata berderai dari sepasang manik hazelnya.
Jitakan lain oleh Kasamatsu kali ini tidak membuahkan protes dari Kise.
"Astaga, kenapa kau malah menangis, Kise?!" –Hayakawa.
"Jangan teriak di telingaku, Hayakawa! Oi, kau minta kutendang lagi, Kise?!" –Kasamatsu.
"Oh, Kasamatsu, sepertinya kau berlebihan." –Nakamura.
"Mungkin Nakamura benar. Bagaimana kalau kufoto muka cengeng Kise terus kusebarkan pada cewek-cewek? Siapa tahu bakal ada fans-nya beralih padaku." –Moriyama.
"Kau malah mem-blackmail Kise di saat seperti ini?" –Kobori.
Pemuda pirang itu didera haru yang bersemi menyesaki dadanya. Dia merasa dihargai sebagai rekan setim—bukan, teman. Ketidakrelaan melepaskan tim Kaijo terbit di hatinya. Kekhawatiran karena berada setim dengan orang-orang yang telah mengalahkannya hampir musnah. Susah payah Kise menyeka airmatanya yang masih terus bergulir. Tatkala mendongak, di sudut matanya pelatih bertubuh tambun yang dihormatinya itu mengangguk bangga.
"Pasti, Senpai!" janji Kise sepenuh hati dengan suara parau. "Aku pasti melakukannya. Untuk senpai-tachi, dan teman-teman di tim basket Kaijo, oh—untuk Kantoku juga!"
Ketika warga sekolah Kaijo itu mengulas senyum, yakin merelakan kepergian salah satu anggota terbaik tim Kaijo untuk mewakili Jepang, Kise akhirnya meretas tawa—kendati tersedak tangis.
.
#~**~#
.
~Tim Too~
"Jadi, apa gunanya aku diangkat jadi kapten kalau begini caranya?! Tidak ada turnamen nasional, tidak bisa memerintah Aomine dan Sakurai—"
"Hei," Aomine menyeringai. Menggeretakkan jari-jemarinya, siap menyiksa Wakamatsu. "Mentang-mentang sekarang kau jadi kapten, tidak bisa memerintahku seenaknya begitu."
"Aku bisa karena aku yang dijadikan kapten, Ahomine!"
"Kau tidak akan bisa memaksaku, Wakamatsu."
"Sumimasen, Wakamatsu-san!" Sakurai membungkukkan badan.
"Kenapa kau minta maaf, eh, Sakurai?" Wakamatsu menyengatkan tatapan sengit pada Aomine yang memicingkan mata padanya. "Aku ingin membuli dia."
"Kau hanya membuli dirimu sendiri. Datou yo."
"APAAA?! AOMINE TEME!"
Dengung protes Wakamatsu ditanggapi tawa Imayoshi dan semprotan botol air minum agar pemuda itu berhenti menyembur emosinya. "Masih ada kouhai-tachi. Kau bisa membuli mereka," jawab mantan ketua tim Too itu ringan.
"Tapi aku tidak menyangka sampai tiga orang dari tim kita yang mewakili Jepang di ajang sebergengsi World Cup Championship," Susa mengemukakan kekagumannya.
"Maaf kau jadi mengurus tim Too sendirian—satu-satunya dari tim inti, Wakamatsu-san." Momoi yang duduk di samping Aomine tersenyum bersimpati pada kapten tim basket Too sekarang—masih misuh-misuh sambil memandang sebal Aomine, yang dipandang tertawa mengejek melihat Wakamatsu pun masih sibuk mengelap wajahnya dengan tisu.
Katsunori menghampiri murid-muridnya itu. Menghembuskan napas panjang karena tingkah antik mereka. "Maaf aku tidak memberitahu kalian bertiga langsung." Ikemen satu itu menatap Aomine, Momoi, lalu Sakurai bergantian.
"Tidak apa. Pasti karena Aida-san bilang jika memberitahu, kami akan langsung bilang tidak setuju, 'kan?" tanya Momoi, dia tersenyum manis pada pelatihnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Katsunori heran.
Momoi menggulirkan pandangan pada tim Seirin, tepatnya ke sepasang Aida yang sedang berpelukan itu. "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan intuisi wanita." Dia mengedipkan sebelah mata.
"Ya, begitulah." Katsunori memilin ujung rambutnya yang agak bergelombang itu. "Kalian … jaga diri baik-baik. Oke?"
"A-arigatou, Kantoku." Sakurai tersenyum ragu pada pelatih mereka.
Aomine mendengus malas. "Kami bukan akan studi tur atau berwisata." Dia mengaduh ketika sikutan cepat di rusuknya datang dari Momoi, ia hanya bisa memelototi gadis itu sembari bersungut-sungut mengurut bagian yang disikut sadis. "Oke, oke."
"Tentu saja, Kantoku." Momoi tampak paling ceria.
"Selamat bersenang-senang, Aomine." Imayoshi mendaratkan tepukan di bahu junior ganguronya itu. Di balik kacamata, tersirat kesinisan penuh makna. "Mudah-mudahan kau tidak akan cepat bosan."
Aomine menyeringai. "Semoga saja."
Sakurai berpikir lagi. Waktu itu, ia merasa tim mereka meski masing-masing egois dan hanya mendorong kemapuan masing-masing individu pun tetap tidak akan kalah—ternyata benar. Kemudian setelah kalah dari tim Seirin di Winter Cup tahun lalu, mereka mulai dapat memahami kelebihan dan keistimewaan tim Seirin yang merupakan oposisi dari tim Too—merasakan apa yang disebut tim sesungguhnya.
Kali ini ia, Aomine, dan Momoi, akan ditempatkan di tim lain yang jelas berisi orang-orang teristimewa (yeah, mungkin kecuali seorang lagi dari tim Seirin yang dijuluki Chihuahua oleh Aomine). Bersama dengan orang yang telah mereka kalahkan, sekaligus dikalahkan.
Bukan keengganan karena harus bersama tim yang mengalahkan sekaligus dikalahkan oleh tim Too. Melainkan, kenapa harus sekarang? Ketika mereka semua akhirnya melepas ego, membaur jadi satu tim, mereka harus dipisahkan dan tidak bisa bermain dengan bangga sebagai tim Too?
Tatkala memantau lamat-lamat Aomine dan Momoi beberapa saat—menangkap sesekali sorot redup di mata mereka, Sakurai tahu mereka pun berpikiran sama dengannya.
Secercah sesal—karena penyesalan selalu datang terlambat.
.
#~**~#
.
~Tim Shutoku~
"Selamat untuk kalian berdua, Midorima, Takao." Sambutan Nakatani dibalas dengan gumaman terima kasih dan anggukkan sopan dari keduanya.
"Kantoku tidak terkejut." Pemuda berambut hijau itu menatap seksama pelatihnya di tim Shutoku.
"Yah … bukan hal aneh lagi murid dari Shutoku masuk ke tim nasional Jepang," aku Nakatani, "hanya baru kali ini bukan alumni."
Tim Shutoku diterpa hening sesaat.
"Hei, kenapa diam saja?" Tanya mantan kapten tim Shutoku. Baiklah, Midorima memang pendiam. Tapi untuk Takao duduk manis juga—
"—aku masih bisa bermain basket dengan Shin-chan. Tapi tidak dengan Senpai-tachi, atau teman-teman di tim Shutoku lainnya."
Cetusan serius Takao itu kontan membuat para seniornya terbengong-bengong.
"Oi, oi, tahun ini kami sudah lulus. Kau lupa, Takao?" Miyaji mengibas-ibaskan tangannya. "Kami bertiga di sini hanya untuk mengantarkan kalian berdua atas permintaan Kantoku."
Tanpa mengalihkan fokus matanya yang lurus menghunjam lantai, Takao dapat memetakan posisi dan ekspresi orang-orang di sekitarnya. Respon Miyaji pada perkataannya hanya membuat ekspresinya kian ditekuk. Menurutnya, tidak perlu lagi memosi poin menyedihkan yang sudah jelas kenyataannya.
"Hmmm … aku berencana menurunkan jabatanku pada Midorima—"
"KENAPA, KAPTEN?!"
"Hei, aku sudah bukan kapten kalian!" tukas Ootsubo gusar. Dia menghirup napas dalam-dalam. "Aku percaya Midorima bisa memimpin tim Shutoku—"
"Pfft—HAHAHAHA! Kau dengar itu, Shin-chan?! Ahahahaha! Ini terdengar sangat mengharukan tapi konyol, Senpai—aduh!"
Miyaji menjitak Takao yang notabene menertawakan kabar mengejutkan ini. "Ssshh! Diam dulu!"
"—tapi sepertinya tidak memungkinkan. Aku cari orang lain saja." Ootsubo menyelesaikan perkataan dengan tenang, pose melipat kedua tangan di depan dada—amat khidmat.
"GAHAHA! Kau dibatalkan jadi kapten, Shin-chan!"
"Bakao, urusai." Midorima berupaya menahan diri untuk tidak mencopot sepatu dan menimpukkannya pada kepala Takao."Kapten, aku memang pernah setim dengan Kiseki no Sedai, dan aku yakin timnas ini jauh lebih baik daripada tim Shutoku—"
"LEMPAR KEPALA MIDORIMA DENGAN NANAS!" teriak Miyaji kalap seraya menuding dramatis pada Midorima.
"—sudah kuduga firasat buruk ini ternyata benar. Harusnya aku bawa nanas pagi ini untuk menimpuk Midorima," keluh Kimura menyesali keputusannya tidak membawa nanas.
"Bagaimana kalau buang saja lucky item-nya?" Ootsubo turun tangan mengusulkan ide paling cemerlang.
Midorima buru-buru menyakukan kerosuke dalam-dalam ke saku jerseynya. "He-hei, aku belum selesai bicara!" Dia berdeham, berusaha keras berkelit dari tangan-tangan kasar para seniornya yang menggrepe-grepe tubuhnya untuk membuang kerosuke. "—tapi aku tidak yakin bisa seleluasa bermain dengan tim Shutoku, nanodayo."
"Eh?"
"Takao, terjemahkan!" perintah Otsubo.
Takao nyengir geli, situasi serius di luar lapangan itu tidak menyenangkan. "Maksudnya, Shin-chan senang bermain di tim Shutoku, Kapten."
Jatuh lagi konversasi mereka pada kesunyian.
"Dasar tsundere!" Miyaji tertawa, mengambil ancang-ancang untuk menampar bahu si handal tembakan tiga poin itu, tepat ketika yang bersangkutan sigap menghindar. "Oh, kau sedang sakit, Midorima. Mau nanas?"
"Ya, dia sakit. Tidak buruk juga dia sakit jika berpikiran senang bermain di tim Shutoku." Kimura menyetujui. "Tenanglah, Midorima, nanti aku bawakan nanas. Untukmu juga, Takao."
"Aku tidak mau nanas!" tolak Takao. "Bagaimana kalau—"
Kimura mengangkat tangan tepat di depan wajah Takao, menolak dengan tegas, "—nanas, terima saja. Hadiah dariku karena kalian terpilih mewakili Jepang."
"Hadiah apanya?!" keluh si pemilik mata elang.
Otsubo tertawa ringan. "Dan jika kalian sampai mencoreng histori terbaik Shutoku—" Aura suram yang terlihat sangat toksik itu menguar dari tubuh kekarnya, "—kupastikan nanas tumbuh di kepala kalian."
"OKE, HIDUP NANAS!" sorak Miyaji.
"Aku tarik kembali perkataanku barusan, nanodayo." Midorima menghembuskan napas panjang seraya melakukan tapping untuk membenarkan posisi kacamatanya.
"TIDAK BISA BEGITU!" protes ketiga seniornya yang sudah lulus dari sekolah menengah tinggi Shutoku kompak.
"Rasakan! Takao no revenge! Ini karena kau selalu membuatku mengayuh pedal gerobak sialan itu, Shin-chan. HAHAHA!"
"Apa hubungannya dengan nanas dan gerobak, Bakao—oh, Kerosuke!"
Takao tertawa terpingkal-pingkal. Puas sekali, terutama mendapati penderitaan Midorima yang berusaha menghindar, berkelit, menyelamatkan nyawa dan harga diri dan lucky-item dari buruan ketiga senior mereka.
Padahal ketiga senior itu sudah lulus dan sedang sibuk-sibuknya persiapan masuk universitas. Namun mereka lekas meluangkan waktu tatkala mendapat kabar tentang kedua juniornya. Pula sang mantan kapten yang telah lungser dari jabatannya, diikuti dua kawannya, bersedia mencarikan dulu orang yang tepat untuk mengambil alih wewenang kapten dan dapat memimpin tim basket Shutoku.
Geli Nakatani rasakan ketika mengawasi murid-muridnya. Entah benar-benar sekedar bercanda atau benar-benar bergulat, tapi sebagai pelatih tim seveteran Shutoku, dia terbiasa mendidik mereka dengan ketat dan disiplin. Jarang sekali atmosfer aneh—tergolong aneh untuk tim model Shutoku—menyelubungi tim mereka seperti sekarang.
Biarlah aneh, pikir Nakatani. Toh, sesekali seperti ini tidak buruk juga.
.
#~**~#
.
~Tim Yosen~
"Omodetou gozaimasu, Murasakibara-san, Himuro-san." Pemuda yang merupakan pertukaran pelajar dari Cina itu membungkukkan badan takzim.
Araki mengerling Liu geli, sebelum mengulas senyum pada kedua pemainnya yang terpilih menjadi pemain tim nasional. "Idem Liu."
"Terima kasih," respon Himuro disertai senyum tipis. Di sisinya, Murasakibara hanya bergumam teriring anggukkan kepala.
"Hei, manajer kalian di timnas yang berambut pink itu?" Okamura diam-diam menunjuk Momoi yang sedang duduk bersama tim Too.
"Aaah~ ya, itu Sacchin." Murasakibara mengaduk-aduk kantung plastik, mencari sisa-sisa camilan ringan yang bisa dijadikan pengganjal perut. Harusnya ia sekarang duduk manis menikmati makan siang, namun tidak bisa karena pelatihnya di tim Yosen meminta mereka untuk berkumpul terlebih dahulu.
Fukui mendecih sebal. "Beruntungnyaaa~ dia cantik sekali. Coba di tim kita ada yang seperti Momoi Satsuki."
"Kantoku juga cantik."
"Kau sedang merayuku, Liu?" Araki mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, kerutan samar muncul di keningnya pertanda heran.
"Saya memuji," kilahnya.
Okimura menggerung, meski di satu sisi kompak dengan Fukui dan Liu mengagumi Momoi. "Kalau dia di tim kita, pasti bersisian denganku. Bagaimanapun kapten dan manajer selalu berdampingan, kan? Aku pasti bahagia—"
Liu Wei melayangkan tatapan mencela pada mantan pemimpin tim Yosen tersebut. "Oh, berkhayalmu terlalu jauh, Dagu Belah."
"Kau tidak pernah bercermin, ya? Momoi-san seperti tuan putri, dan kau kayak Gorilla—bahkan Gorilla saja tidak berdagu belah—lepas dari kandang. Berdampingan?" Fukui memutar kedua bola matanya, sinis memandang Okimura. "Tidak cocok! Seperti … uhm, aduh … dongeng apa itu tuan putri dan gorilla berdagu belah buruk rupa—"
"Tarzan," sela Murasakibara inosen.
"Dongeng Putri Tidur. Dia naganya." Liu Wei menyahut penuh keyakinan.
"Bukan, bukan—" Fukui menggelengkan kepala kuat-kuat, dia masih berusaha mengingat-ingat sebuah dongeng terkenal yang menjadi landasan analoginya.
"Kurcaci?" Sudut-sudut sepasang mata ungu milik pemuda dengan tinggi dua meter lebih itu mematut Fukui, agak penasaran.
"Kaupikir Gorilla itu kerdil seperti kurcaci, hei?!" sewot Fukui tidak sabaran. "Sebentar, biar aku ingat-ingat dulu—"
Mereka semua larut dalam keheningan memikirkan dongeng yang dimaksud Fukui sementara Okimura melongo tidak percaya memandangi mereka satu per satu.
"Do you mean … Beauty and the Beast?" cetus Himuro dengan lafal bahasa Inggris yang fasih.
Yang lain memandang Himuro, nyaris takjub, seraya mengucap, "That's right."
"THAT'S IT!" Fukui menjentikkan jari. Seringai kemenangan terpampang di wajahnya.
"OI! KALIAN SEMUA KETERLALUAN!" raung Okimura murka. "Lagipula, kan, di akhirnya si Buruk Rupa berubah menjadi pangeran tampan dan menikah dengan tuan putri!"
Sedepa jeda. Semua melayangkan tatapan prihatin mengintensi sinis pada Okimura yang berkacak pinggang di hadapan mereka.
"Anda berbeda nasib dengan si Buruk Rupa dari dongeng itu, Gorilla berdagu belah," tanggap Liu tenang.
"Maksudnya beda nasib? BERHENTI MENGHINA DAGUKU, OI!"
Himuro mengulum senyumnya, meletakkan dagu pada lengan yang bertumpu di kaki. "Tidak akan berakhir dengan bahagia selamanya."
"Dongeng tetaplah dongeng. Realistis saja, Okimura. Bahkan walau di muka bumi ini hanya kau pria terakhir yang tersisa, aku bertaruh Momoi-san tidak akan mau denganmu." Tak tanggung-tanggung Fukui menukas pedas.
Murasakibara menguap lebar. Ia merentangkan lengan teramat panjangnya, melemaskan beberapa persendian yang terasa kaku. "Beritahu padanya, Muro-chin, dia bukan tipe Sacchin."
"Ukh. A-aku kan hanya kagum pada Momoi-san, tahu. Kalian duluan yang memulai. Dan jangan seenaknya kalian berkonspirasi dan memojokkanku begitu!" Objek yang selalu ketiban sial tidak mendapatkan respek dari timnya itu memelototi rekan-rekan setimnya ganas.
Sebelum pemuda-pemuda yang mungkin mengidap gigantisme melanjutkan sesi debat kekanak-kanakkan mereka, Araki telah mengusap-usap sudut matanya karena susah-payah menahan tawa. Oh, bukan karena dia oposisi dari imajinasi Okimura dan lantas memihak pada mayoritas, hanya mereka ternyata masih remaja-remaja muda yang mempunyai sisi lucu. Dia turun tangan menyelamatkan Okimura sebelum penderitaan pemuda malang berdagu belah itu kontinu.
"Sudahlah. Mengapa jadi membahas beauty and the beast?" tanya pelatih mudi itu geli.
"Ah, Kantoku juga ikut menyebutkannya!"
Araki mengulum senyum. "Maaf, Okimura." Dia berdeham sembari menegakkan tubuh. Sepatu pantofel berhak tinggi yang dikenakannya mengetuk lantai menimbulkan suara halus. Sikapnya berubah kembali menjadi seorang pelatih professional nan anggun. "Bagaimanapun, aku senang dan bangga karena dari Yosen terpilih tiga orang mewakili tim nasional, serta akan berlaga di World Championship Cup."
"Tiga? Hanya aku dan Atsushi saja, bukan?"
Wanita bersurai hitam itu menggeleng perlahan. "Liu juga. Untuk negaranya. Aku sudah diberitahu kepala sekolah."
Sekali lagi, mereka dikejutkan dengan kabar baru. Mereka memandang si pemuda keturunan Cina itu yang tenang menganggukkan kepala.
"Tapi, kau tergabung dengan tim Yosen, Liu. Bagaimana tim kita jika Himuro dan Murasakibara tidak ada?" geram Fukui menarik baju di bagian lengan rekan setimnya yang bermata sipit itu. "Aku dan Okimura sudah lulus tahun ini."
"Kalau kau memang terpilih mewakili negerimu, kenapa kau masih ada di sini?" tanya Okimura sambil mengelus-elus dagu belahnya.
Liu menepis cengkeraman Fukui di lengan bajunya. "Maafkan saya. Tapi demi Negara, saya akan kembali dan mewakili Cina untuk berjuang memenangkan kompetisi ini. Saya akan ditransfer sekolah satu minggu lagi." Dilihatnya Himuro berdiri dari posisi duduknya, menghampirinya seraya mengulurkan tangan. Liu dengan formal menjabat tangannya.
"Ayo kita berjuang yang terbaik untuk tanah air masing-masing—meski nanti tidak di satu tim, Liu-san!" Mata kanan yang tidak tertutupi untaian surai hitam itu turut melengkungkan senyum tipis seperti kurva di bibirnya.
Liu Wei turut tersenyum. "Ya. Aku akan menantikan pertarungan dengan tim nasional Jepang, Himuro-san." Dia menatap Araki, serta teman-teman setimnya di Yosen. Sorot mata sipitnya memancarkan hormat mendalam. "Semuanya, terima kasih."
"Oke~" Si remaja bertubuh super jangkung melambaikan tisu yang ia simpan di saku jersey-nya.
"Aku bingung harus mendukung siapa." Fukui menunduk lesu.
"Dukung Jepang, Idiot!" Okimura menampar bahu Fukui—dan yang kena pukul di bahunya melotot sebal. Dia melihat junior-juniornya yang harus menempuh perjalanan secara terpisah, tidak satu pun dapat diwarisi untuk membina tim Yosen. Akhirnya, ia melebarkan cengiran. "Tidak peduli soal Negara, kalian asalnya dari tim Yosen dan kita memainkan bola basket yang sama. Aku tetap dukung kalian!"
"Cih, gorilla plin-plan." Fukui balas meninju bahu kekar mantan kapten tim Yosen itu, menyeringai. "Sok keren kau."
"Daripada kau tidak tegas membuat keputusan akan mendukung siapa, Fukui! Pokoknya, tugas kita sekarang adalah mencari penerus tim Yosen sebelum masuk universitas! Ya, Kantoku?"
Araki menganggukkan kepala. Sorot matanya melembut menerawangi interaksi para anggota tim terbaik yang pernah dibinanya. Hati kecilnya tidak benar-benar dapat merelakan mereka—karena merasa ia belum mengeluarkan potensi setiap individu istimewa ini dengan maksimal. Pelatih ini tahu, suatu saat mereka tetap akan terpisah. Hanya tak menyangka harus terjadi secepat ini.
Kebersamaan mereka tidak bisa selamanya. Tapi mereka dapat mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam kenangan … oh!
"Ah ya, nanti ketika kita pulang ke Yosen di Akita nanti … mari kita buat foto kenang-kenangan untuk tim Yosen yang ini," usul Araki—lekas menyampaikan hal yang baru saja terbersit di benaknya.
"Ide bagus, Kantoku! Supaya bisa dijadikan cindera mata untuk Liu!" seru Okimura semangat.
Fukui menepuk-nepuk bahu Liu. "Kau tidak boleh lupa tim Yosen begitu saja, heh. Kalian juga, Himuro, Murasakibara!"
Murasakibara melambaikan tangan malas. "Osu~"
"Sebenarnya saya akan ditransfer kembali ke Cina masih satu minggu lagi. Tapi tak apa. Terima kasih," Liu tentu mengapresiasi ide pelatih dan semangat teman-temannya.
Kelima pemuda yang tergabung sebagai satu tim dari klub basket SMA Yosen itu tersenyum dengan cara masing-masing. Menantikan foto kenang-kenangan. Tidak peduli Liu masih ditransfer satu minggu lagi, atau pun Himuro dan Murasakibara masih akan sering berada di Yosen.
"Agar momennya tidak terlupakan, kita ambil konsep fotonya seperti Hari Sukarelawan setelah Winter Cup tahun lalu. Kalian berfoto dengan kostum Namahage." Araki tersenyum mengingat waktu anak-anak didiknya itu cosplay menjadi Namahage.
Senyum lenyap. Hawa kebahagian kandas. Mata terbelalak, dan seluruh karakter terlupakan—
"NAMAHAGE LAGI?! ANDA SERIUS, KANTOKU?!"
Wanita anggun itu tertawa kecil—yang juga bukan karakternya, "Ya. Kalian seharusnya senang."
"Begitulah kejamnya Masako-chin."
"Sudah kubilang panggil aku 'KANTOKU'! Dan aku tidak kejam!"
Tim Yosen tercenung syok mencerna perkataan sang pelatih yang protes pada Murasakibara. Kecuali Murasakibara yang tidak mengindahkan Araki, malah mengangkat kedua lengannya seperti zombie dan mengatakan kalimat penyebab satu tim Yosen ditakuti anak-anak. Sampai-sampai makhluk-makhluk mungil nan menggemaskan itu semua lari terbirit-birit ketakutan setiap melihat mereka, pada hari Sukarelawan laknat itu. Lantas bersuara—
"Adakah anak-anak nakal berkeliaran di siniiii?"
"KAU YANG NAKAL!"
Dan koor tangis tim Yosen belum pernah seharmonis saat ini.
.
#~**~#
.
~Tim Rakuzan~
Jika tim basket lain melepaskan para pemain terbaik mereka dengan sarat kebersamaan, kekonyolan, keharuan, tangisan, dan selebrasi, lain halnya dengan tim elit melegenda dari sekolah terbaik di sektor Kyoto.
Ketegangan mengentali atmosfer di lingkup tim Rakuzan.
Shirogane mengucapkan kongratulasi pada Akashi yang menerimanya dengan terlampau tenang. Satu tim pun turut mengungkapkan salut mereka pada kapten belia beraura penguasa itu. Hingga Reo berdiri menggebrak meja perlahan. Tatapan tajam ditujukan pada pemimpin tim Rakuzan tersebut. Sunyi-senyap menegangkan meliputi tim.
Nebuya yang berhasil memulihkan diri menyikut teman setimnya itu. "Oi, kau kenapa, sih? Bagaimana kalau kelakuanmu barusan membuat Akashi marah?!"
"Sei-chan…" parau Reo angkat bicara, "kenapa … kenapa bisa kau—?"
"O-oi, Reo-nee, kau … bersedih?"
"Tentu saja! Jelaskan padaku, Sei-chan!" pinta Reo berduka. Ditatapnya figur sang kapten yang konstan tenang menyesap teh hijau di cangkir putih. "Kenapa kau memilihnya, Sei-chan?"
"He?" Nebuya dan Hayama berpandangan tidak mengerti. "Siapa?"
Akashi meletakkan cangkirnya dengan keeleganan tidak tersanggahkan. Tata kramanya sangat anggun. Tidak terusik ketenangannya meski ini pertama kalinya Reo memprotes tidak terima atas keputusannya. "Kata-kataku absolut dan keputusanku mutlak, Mibuchi."
"Ya, aku tahu. Tapi kenapa kau memilih dia mendampingimu? Apa istimewanya orang membosankan seperti dia? Dia tidak pantas berada di sampingmu!"
Nebuya dapat merasakan dagunya jatuh membentur meja mendapati Reo tampak terluka dengan keputusan Akashi. Dalam ruang pandangnya, semua yang tengah terjadi benar-benar seperti lakon drama.
"Oke, ini mulai seperti sinetron," Hayama meretas cengiran—menahan tawa, meski di satu sisi bersimpati pada Reo yang sedang mengonfrontasi Akashi. "Ambilkan tisu, Nebuya!"
"Jangan seenaknya memerintahku, Hayama!" geram Nebuya sambil melayangkan pelototan maut pada bocah inosen di sampingnya. "Dan untuk apa tisu?"
"Siapa tahu ada pertumpahan darah—eh, atau airmata?" Pemuda ceria itu terkekeh identik dengan oknum psikopat.
"Lagipula, siapa yang sedang dibicarakan, sih?" Sepertinya hanya Nebuya yang tidak paham objek yang menjadi topik pembicaraan.
Pemuda yang mereka semua tahu memiliki hobi menunggang kuda itu membalas tatapan Reo dengan pandangan sulit ditafsirkan. "Aku sudah mengatakan alasannya sebelum aku menunjuknya."
"Kumohon jangan ambigu begitu, Sei-chan. Aku tahu alasannya tidak hanya karena manajer timnas apalagi kau butuh asisten. Aku mengerti kau pasti mampu mengurus semua urusan walau hanya sendirian. Di perjanjian pun, kau bahkan meminta dia untuk ikut menerima porsi latihan sama seperti pemain lainnya, 'kan?" Pria rupawan itu mencengkeram tepian meja yang ditempati oleh tim Rakuzan. Ditatap bagaimanapun, tidak tersirat sama sekali intensi Akashi yang sebenarnya. "Kalau sudah begitu, apa lagi yang bisa disebut sebagai asisten?"
"Heh, siapa, sih?" Nebuya menjawil lengan Hayama.
Hayama menepis tangan Nebuya, membersihkannya seolah debu menempel di sana berasal dari tangan tidak steril Nebuya. "Tsk, dasar otak otot! Yang dimaksud Reo-nee itu si culun Furihata Kouki."
"AH! Si kelinci itu. Bilang saja apa susahnya, Hayama."
"Eh, kupikir Chihuahua?"
Reo tidak habis pikir, tidak menemukan titik terang atau sekadar menarik konklusi tentang keputusan Akashi yang mengejutkan semua orang ini—dan menyebabkan seisi lapangan indoor histeris, serta orang yang dimaksud sampai jatuh pingsan saking syoknya.
Oke, dia tidak bermaksud untuk semakin merendahkan pemain tanpa bakat yang biasa-biasa saja. Furihata Kouki hanyalah pemain basket terlalu biasa, bertendensi pengecut, tidak atraktif, bukan laksana magnet atentif, kasarnya … tidak ada keistimewaannya. Namun Sei-chan yang selalu ia hormati dan menggenggam kepercayaannya justru memilih individu ordinari tersebut untuk mengasisteni tim sekaliber nasional. Dia yakin nihil probabilitas bahwa Akashi asal tunjuk seseorang dan mau begitu saja bertanggung-jawab pada keputusannya. Maka memikirkan hal ini menyebabkannya agak frustasi.
"Mengurus tim yang hampir semua jenius serta luar biasa, merupakan tanggung-jawab dengan beban berat. Terlebih aku berjanji akan memimpin tim nasional memenangkan turnamen FIBA," tutur Akashi ringan. Terlihat jelas dia tidak merasa terbebani dengan tugas dan kewajiban barunya di timnas Jepang.
Masih belum paham, Reo menurunkan sedikit kepalanya, "Terus? Apa hubungannya dengan eksistensi dia?"
Ujung-ujung bibirnya melekukkan segaris seringai. Akashi bertopang dagu. Biner heterokromatiknya menyirat geli. "Aku butuh hiburan."
Mereka terdiam mencerna perkataan Akashi.
Eiji Shirogane mendesah pelan. Benar kata Kagetora, muridnya yang satu itu benar-benar hanya cari budak—atau mungkin mainan—untuk diri sendiri. Kendati ia dapat meraba masih ada motif tersembunyi Akashi memilih pemain dengan nomor punggung dua belas dari Tim Seirin, tapi ia tidak ada bayangan mengenai modus paling sebenarnya pemuda bersurai merah menyala itu.
"Setidaknya kau bisa cari yang lebih baik," Shirogane menanggapi. Oh, dia tidak bermaksud untuk mendukung keputusan Akashi.
Nebuya dan Hayama tergelak puas. Tertawa terpingkal-pingkal sampai perut kram dan tulang pipi serta dagu nyeri dibuatnya, hingga suara serak, diakhiri dengan mata berakhir.
"HAHAHA! Aku mendukung—astaga, ini bakal lucu sekali!" Hayama menepuk-nepuk pipinya yang terasa pegal, dan ia tertawa lagi. Sebelah matanya yang tidak tertutup menatap Akashi, ibu jarinya teracung tinggi. "Itu baru kapten kita!"
Nebuya memijat-mijat perutnya yang kram karena tertawa terlalu kencang. "Ahaha … haaah … kejam. Oke. Aku setuju, Akashi. Memang tidak ada yang lebih cocok jadi hiburan selain orang itu."
Sapuan gelombang lega menerpa Reo. Dia menghembuskan napas panjang. Sebenarnya agak tak meyakini pernyataan Akashi barusan, namun ia menyadari tidak dapat mengorek informasi berelasi dengan intensi sesungguhnya entitas pendukung absolutisme itu. "Kupikir kau benar-benar tertarik padanya, Sei-chan."
Akashi tidak merespon lagi. Tak perlu menggunakan emperor-eye pun, ia dapat merasakan sang pelatih memusatkan perhatian tajam padanya. Jadi dia memandang pelatihnya, menyiratkan tanya non-verbal.
Shirogane berdeham pelan. Pagi tadi, belum ia mengatakan apa pun, Akashi telah mengetahui bahwa ia dipanggil berkaitan dengan pembentukan tim nasional Jepang ini. Pula, ia mengajukan syarat, menyatakan dia akan segera bergabung dengan tim—di luar kehendaknya sendiri—serta bersumpah akan membawa tim nasional Jepang tingkat SMA ini menang di liga FIBA, asal syaratnya terpenuhi. Lantas Shirogane menelepon Kagetora dan menyampaikannya.
Tadi ketika Hibiki menyiarkan informasi secara universal pada semuanya, para pelatih sudah berkumpul—bukan hanya reuni—dan berdiskusi. Kagetora terlihat santai menjelaskan bahwa ia membuat bocah-bocah merepotkan itu menunggu lama dan nyaris saling bunuh di ruang rapat, juga pertengkaran dan perdebatan alot di ruangan yang sebenarnya berfungsi sebagai ruang multimedia.
Dari cerita mantan teman setimnasnya itu, Shirogane terkejut mengetahui fakta bahwa Akashi-lah yang memicu perdebatan tidak setuju tentang mereka disatukan sebagai tim. Dia bahkan menyulut emosi yang lainnya, lalu kemudian menerima tantangan taruhan Kagetora, dan Shirogane melihat dengan mata kepalanya sendiri Akashi tenang-tenang saja menerima kekalahannya—tidak seperti kekalahan pertama di hidup layaknya Winter Cup tahun lalu.
Jadi secara kronologis, pertama di hadapannya Akashi bilang akan bergabung dengan tim apabila syaratnya dipenuhi. Kedua, di rapat dia mengemukakan tidak setuju—karena tidak mau setim dengan orang yang telah dikalahkan dan mengalahkannya. Ketiga, setelah selesai bertanding ten on one, Akashi lantas menerima semuanya. Terakhir, sekarang mengatakan bahwa alasannya adalah timnas membutuhkan asisten yang merangkap ganda sebagai objek hiburannya.
Apa sebenarnya yang dikehendaki Akashi?
Pelatih dan kapten tim Rakuzan saling menyelami lewat pandangan. Bukan sebatas menelisik, tapi juga menyelidik.
'Ada kesalahan yang kuperbuat.'
'Kau akan memperbaikinya?'
'Aku akan menebusnya.'
Klik. Baru kali ini sepasang mata heterokromatik itu menyorot secercah kejujurannya, hingga Shirogane paham membaca sekeping mozaik dari jalinan rantai rencana Akashi.
"Kau pikir untuk hal sepenting ini dia akan terlupakan," tutur Shirogane berhati-hati dan amat perlahan, "jadi, syaratmu adalah untuk memasukkan dia ke dalam tim."
"Ya." Akashi mengangguk kecil membenarkan. "Tapi ternyata tidak begitu."
"Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu lagi mengajukan syarat. Lantas kenapa kau beralih memasukkan dia?"
"Tidak—" Gelengan halus dituai dari pemuda bersurai magenta tersebut, "syaratku sekarang yang telah terpenuhi, akan menjadi kunci."
"Kesuksesan?" tanya Shirogane retoris. Dia mengikuti arah pandang Akashi yang menaruh atensi pada sumber kekonyolan mengharukan di kubu Kuda Hitam Winter Cup tahun lalu.
Sepasang mata dipercik warna rubi dan emas itu melunak. "Tentu."
Sudut-sudut bibir dari wajah yang dikeruti garis-garis usia itu naik. Tidak seperti tadi, kali ini ia menyuarakan juga sepercik kejujurannya. "Lakukanlah yang terbaik, Akashi."
"Hei, hei, apa yang sebenarnya dibicarakan Kantoku dan Akashi?" Hayama menyeruak, penasaran terpancar dari gurat airmuka gembiranya.
"Kau lihat tadi mereka saling berpandangan dan tiba-tiba bicara aneh? Mereka bicara dengan telepati, aku yakin itu." Nebuya manggut-manggut dengan tangan terlipat di depan dada.
Di tengah kantin, Hibiki menggunakan pengeras suara untuk mengumumkan bahwa para pemain basket yang dipilih atas rekomendasi panitia Inter-High dan Winter-Cup untuk berkumpul sesuai kehendak Kagetora. Reo yang satu-satunya di tim Rakuzan mendengarkan, enggan menginterupsi percakapan Akashi dan Shirogane, tetap menyampaikan pengumuman itu.
Salah seorang junior terbaik yang baru masuk sekolah menengah atas Rakuzan angkat bicara. "Akashi-senpai, bagaimana dengan tim kita?"
Akashi menenggak habis tehnya, mengelap bibirnya dengan tisu sebelum menjawab ringan. "Nanti aku serahkan padamu, Shino."
"HEEE?!"
"Tu-tunggu! Ta-tapi aku juga be-berencana masuk dalam organisasi siswa jadi mu-mungkin—"
"—ah, ketuanya juga Sei-chan," sela Reo geli.
Junior malang itu makin terpaku, mulut ternganga, tak tahu harus berkata apa karena terlalu bingung.
Pemuda yang ternyata juga menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah elit Rakuzan itu melirik Kurohara Shino agak geli. Diraihnya jersey berwarna biru muda putih dengan cetakan Rakuzan terborder di bagian punggung. "Nanti. Ketika dikarantina, baru aku serahkan padamu, Shino. Jadi, aku tetap bisa memegang kuasa sebagai ketua organisasi siswa."
'Jadi kapten tim nasional tidak membuatnya mundur ingin memegang kekuasaan sebagai pemimpin satu sekolah?!' batin satu tim Rakuzan serempak, kentara menyadari tremor menjalari tubuh mereka.
"Lagipula, aku tidak akan membebankan kewajiban menjadi kapten pada mereka yang sekarang kelas tiga."
"Oh, Sei-chan!" Reo menatap pemuda yang tingginya dalam batas normal itu buncah kekaguman. Tentu, Reo mengerti bahwa Akashi memikirkan para seniornya yang sudah kelas tiga dan harus bersiap menghadapi ujian masuk universitas.
"Aku pastikan kalian tidak akan malas-malasan—walaupun tidak ada kompetisi nasional." Seringai Akashi menjanjikan siksaan jika mereka mencoba kabur dari latihan tanpa alasan kuat. Terlebih pelatih mereka yang terlihat menyetujui perkataan Akashi.
"HAI'!"
"Aku akan memastikan junior-junior tidak berlaku kurang ajar, Akashi!" Nebuya menunjukkan lekuk otot-otot lengannya yang fantastis, berpose seperti binaragawan, menyeringai sadis.
Hayama menyimpan kedua lengan di belakang kepala, cengar-cengir kendati ada keseriusan samar menggurati wajahnya. "Selamat bersenang-senang, Kapten~"
"Semoga sukses, Akashi-Senpai!" Shino membungkukkan badan penuh hormat.
Reo terpaksa merelakan Sei-chan-nya melangkah menuju tim yang bukan tim Rakuzan. Beruntung Hayama menepuk-nepuk bahunya, tanpa sadar membuatnya bergantung. Mantap menepis hesitansi, ia melambaikan tangan. "Itterashai, Sei-chan…"
Mereka tidak akan lagi terjun dalam kompetisi nasional bersama Akashi, walau dapat dipastikan Akashi pasti bisa mengurus semuanya. Tim basket Rakuzan, sekolah dengan OSIS SMA Rakuzan, bahkan tim nasional Jepang yang baru terbentuk. Belum pula perusahaan keluarga yang sebagian diambilalih kekuasaan oleh Akashi.
Pemuda yang amat menyukai permainan shogi itu menghentikan langkah. Mereka membatu-bisu sesaat, menahan napas. Tremor takut meneror mereka, ngeri andaikata Akashi tidak menyukai mereka yang mengantarkan kepergiannya. Mungkin bukan pergi, tapi kembali. Ya, kembali pada tim dan teman-temannya yang paling pertama.
"Jaa, matta naa." Dia menoleh. Fitur wajahnya tidak terlihat semua. Namun gesturnya merespon penghormatan terakhir mereka pada kapten muda itu.
Terpaku. Ya Tuhan, jangan bilang semua ini mimpi! Barusan dia bukan menyeringai—Akashi tersenyum!
Figur sang emperor melangkah memunggungi mereka, pergi bersama hela angin yang mengibaskan perlahan jersey Rakuzan yang entah kenapa terlihat paling membanggakan.
.
#~**~#
.
"FURIIIII!"
"MINNAAA!"
Seluruh tim Seirin melihat trio yang biasanya selalu bersorak kompak di bench itu tidak selesai juga berangkulan, bertangisan, dan berduka.
"Aku mengerti jika yang dipilih Kagami dan Kuroko…" Clutch shooter itu mendesah, lelah melihat kehiperbolaan trio tersebut. "Tapi Furihata?"
"Mitobe dan aku juga setuju padamu, Kapten!" Remaja yang identik dengan wajah kucing itu mengangkat tangan sepenuh hati.
Center nomor satu tim Seirin justru tertawa-tawa gembira. "Hebat, kan? Siapa menyangka Furihata ikut dalam timnas juga? Hahaha~"
Izuki tak menghiraukan bulir keringat yang mengalir di pelipisnya. "Benar. Kalau aku tidak lihat dengan mata sendiri ketika Akashi menunjuk Furihata, aku tidak akan percaya."
"Keren, ya, bergabung dalam tim nasional mewakili Jepang mengikuti turnamen FIBA. Kalian sungguh beruntung." Tsuchida memuji tulus.
Respon yang didapat sebaliknya. Baik Kagami dengan amat kesal, Kuroko yang tidak biasanya terlihat amat serius, Furihata yang cengeng, serentak berkata, "Ini namanya sial."
"Oh, sudahlah~" Riko mengibas-ibaskan tangan sebelum kembali pada posisi berkacak pinggang, kepalanya dimiringkan. "Sampai kapan kalian mau seperti itu? Kami saja sudah berbesar hati."
Kagami mengerucutkan bibir. "Aku tidak mau dengar itu dari seseorang yang baru saja menangis histeris karena tidak bisa melatih kami lagi."
"KAU BILANG APA, BAKAGAMI?!"
SLAP!
"ADUH!" Kagami mengusap-usap punggungnya yang kena tamparan ganas. "Sakit, tahu!"
"Bersyukurlah karena aku tidak melemparkan Nigou padamu, Bakagami!"
Yang lain meringis melihat Kagami kian menekuk wajah—cemberut sambil menggerutu. Tangan yang handal melakukan dunk itu menyentuh punggung tegapnya, mencoba meredam panas dari sakit yang ditimbulkan oleh tamparan telak tadi.
"Tapi … walau berbesar hati merelakan kalian, aku masih kecewa." Hyuga mengemukakan dengan serius, memicu bangkitnya kesunyian melingkupi tim Seirin. "Tidak ada Inter-High, Winter-Cup, juga kalian bertiga." Ditatapnya juniornya satu per satu.
Kiyoshi menggoyang-goyangkan bungkus permen gula aren yang disukainya. Mengerling teman-temannya, senyumnya tidak menyembunyikan kekecewaannya. "Yah, hanya satu minggu sekali, sih. Di hari biasa, kalian tetap akan bisa membantu kami mengajarkan adik-adik kelas yang baru masuk klub basket kita. Tapi—"
"—entah kenapa, rasanya tidak akan lengkap," Izuki melengkapkan maksud yang ingin disampaikan Kiyoshi.
"Nanti bench kita kekurangan semangat pemandu soraknya." Koganei menggeleng-gelengkan kepala, bahunya turun mengikuti hembusan napas panjangnya.
Tsuchida mengangguk menyetujui. Dia melirik pada salah satu pemain terbaik Seirin yang minim hawa keberadaannya itu. "Aku dan Koganei tidak akan bisa bertaruh menghentikan Kuroko lagi."
"Betul, Tsucchi! Mitobe akan kehilangan adik kelas untuk dikhawatirkan."
Riko mendecih. Tidak lagi berusaha menutupi kesedihannya. Ia berlutut dan meraih Nigou yang dari tadi duduk manis di dekat kaki Kuroko untuk dipeluknya. "Aku juga tidak akan bisa menyiksa—u-uhm, melatih kalian dengan Nigou lagi!"
"HEE?! MENYIKSA?!"
"Tehehe. Melatih, maksudku melatih!"
"Yah … padahal sebelum naik kelas kita sudah berjanji untuk berjuang sepenuhnya bersama Kagami dan Kuroko, bertanding bersama memenangkan Inter-High dan Winter Cup," Fukuda turut mengungkapkan kekecewaan mendalamnya.
Kawahara mendongakkan kepala, menatap langit-langit ruangan. "Juga janjian untuk mencari gadis manis yang bisa jadi manajer klub kita."
"HAH?"
"Eh, maksudku supaya bisa menggantikan Kantoku. Mengingat Kantoku dan yang lainnya sekarang sudah kelas tiga dan tidak bisa aktif kegiatan klub lagi!" Pemuda yang dulunya sering sakit-sakitan itu mengibas-ibaskan tangan.
Kuroko menatapi satu per satu wajah-wajah dan kemuraman yang memendungi timnya. Teman-teman yang berharga baginya. Sesak melesak memenuhi rongga dadanya, hingga sulit baginya menghirup napas. Ia tahu ini bukan pertama kalinya mengetahui tim Seirin membutuhkannya. Tetap saja mereka merasa kecewa. kehilangan karena tidak bisa bermain basket dengannya lagi, juga Kagami dan Furihata. Entitasnya eksis dalam kehidupan mereka, sebagai rekan setim basket … dan tentunya, teman.
Mengingat dulu ia menderita, nelangsa mencari tim yang punya kerjasama tim dengan kebersamaan tiada banding, tidak meremehkan kehadiran satu sama lain tapi justru menghargainya.
Akhirnya, Kuroko menemukan. Namun kali ini, ia harus merelakan.
Tidak bisa. Kepala bersurai biru muda itu menggeleng perlahan pada diri sendiri. Ia tidak sanggup bermain dengan tim—yang meski sebagian besar orangnya dulu adalah mantan teman setimnya—sebahagia bersama tim Seirin.
"Aku tidak tahu kenapa aku dipilih untuk masuk ke tim. Tapi aku merasa sangat tidak pantas."
Pengakuan Furihata itu kontan menyita atensi yang semula direnggut kesunyian.
"Karena di Winter Cup tahun lalu, aku…" Furihata menelan ludah, teringat tangisannya tahun lalu di bench atas ketidakberdayaan dan kelemahannya, "…ingin menjadi kuat dan bermain bersama semuanya tanpa menjadi beban tim Seirin."Dihirupnya napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "tapi tidak bisa. Aku lemah dan—"
—takut—
"—tidak yakin bisa menerima semua ini. Tidak ketika aku yang biasa-biasa saja ini, bahkan setelah keluar dari lapangan dan tidak membantu apa pun, disambut dengan highfive atau mendengar sorakan mendukung dari bench tim Seirin."
Ya … ya, tentu saja! Batinnya bersuara menyetujui. Apa pun itu, meski baru memasuki lapangan atau memasukkan satu skor, tos—menepukkan tangan satu sama lain—bahkan ditubruk hingga ditiban oleh teman-teman di satu lapangan. Atau lari kegirangan melintasi bench mendapat tepukan hangat teriring teriakan gila-gilaan yang suportif itu. Lalu pasca pertandingan akan ada sesi istirahat di sela obrolan ringan dalam ruangan loker, kemudian pulang bersama dan mampir di suatu resto untuk makan sebelum kembali ke rumah masing-masing. Pula di gym Seirin, tempat napas terengah-engah akan mengudara beradu dengan dentum memantulnya bola basket yang membumbung ditingkahi canda-tawa dan semangat meletup-letup.
Kuroko yakin tidak satu pun dari mereka bertiga sanggup kehilangan momen-momen sepele seperti itu.
"O-oi, Furihata, jangan suram begitu!" tukas Kagami sweatdrop. "Aku yakin tidak bakal betah setim dengan orang-orang macam Kuso Niji no Sedai. Memikirkannya saja sudah bikin aku kesal. Tapi … masih ada aku dan Kuroko. Ya, 'kan, Kuroko?" Kuroko mendongakkan kepala, memandang pada partner-nya yang sedang menggaruk kepala bagian belakang.
Kagami memicingkan mata merahnya melihat temannya itu melongo seperti orang bodoh memandangnya. "OI, KUROKO! Jangan katakan kau muram seperti Furihata juga—"
"—memang iya."
"KENAPA?!" Semua tercengang dengan jawaban jujur Kuroko.
"Lagipula, kau pernah setim dengan Kiseki no Sedai. Tidak akan sulit membaur dengan mereka lagi, 'kan?" tanya Hyuga heran.
Kuroko merenung sejenak, lalu menjawab, "Itu dulu. Banyak hal terjadi setelahnya. Dan lagi masing-masing dari anggota Kiseki no Sedai sudah berubah. Semua tidak akan sama lagi." Dilihatnya Nigou mendengking, membuat tangannya terangkat untuk membelai kepala anjing kesayangannya itu. "Sejujurnya, aku tidak mau meninggalkan tim Seirin … tim yang kucari selama ini, tim dengan teman-teman yang membuatku selalu bersemangat dan senang bermain basket."
Jeda sejenak. Kuroko mengalihkan tatapannya pada Furihata. Membungkukkan badannya sekilas dengan sopan. "Maafkan aku, Furihata-kun."
"E-eh, kenapa kau minta maaf, Kuroko?" Furihata tampak tidak enak hati.
"Kau merasa tertekan bergabung dengan timnas, aku malah merasa senang."
"EEEEEH?!"
"OI, TADI KAU BILANG KAU SAMA SURAMNYA DENGAN FURIHATA!" damprat Kagami sebal, merasa dikhianati. "Kau tadi juga bilang bakal susah membaur dengan Kiseki no Sedai seperti dulu, Kuroko!"
"Ka-kau senang di a-atas penderitaanku. Aku tidak percaya ini, Kuroko—" ratap Furihata pilu, turut merasa terkhianati.
Kuroko tersenyum tipis. "Karena aku tidak akan sendirian. Tidak hanya ada Kagami-kun, tapi juga Furihata-kun. Entah kenapa, aku jadi yakin tidak akan merasa terlalu asing atau kesepian."
Terhenyak sesaat.
Furihata membelalakkan mata lebar-lebar, terkejut mendengar bahwa ada seseorang yang senang dengan kehadirannya yang tidak berguna.
Dilihatnya Kagami yang semula wajahnya terlihat bengis, kini tampak tenang bahkan menetaslah cengiran lebar. Si pemuda jangkung berambut merah gelap itu menarik kepala bersurai coklat dan lazuardi, kedua tangannya mengacak-acak rambut milik kedua temannya. "Kita masih bersama. Jadi, jangan berpikir hal-hal rumit dan lakukan saja!"
"Ini tidak seperti kita berpisah selamanya, tahu," sahut Riko geli. "Kalian terlalu berlebihan."
"Iya. Kalian hanya ada di timnas seminggu sekali, bukan? Juga dikarantina hanya dua bulan," Kiyoshi mencoba menyemangati.
"Ditambah tiga bulan lagi selama musim turnamen, kan, ya? Tidak lama … tidak terlalu lama dibanding waktu kebersamaan kita." Tsuchida mengembangkan senyum, ikut turun tangan menenangkan ketiga juniornya.
Koganei menjentikkan jari dengan cengiran kucingnya itu. "Di hari ekskul selain akhir minggu, kalian juga tetap ada di Seirin."
Fukuda dan Kawahara yang saling berpandangan mengangguk sepakat. Keduanya bersorak, "Kita akan latih-tanding basket mengalahkan senpai-tachi atau kouhai-tachi!"
"Menarik," Izuki merenggangkan jari-jemarinya, "ingat tahun lalu … tahun ini, kami akan melibas kalian, kowai-kawai-kouhai~ oke, ini bisa kujadikan pilihan." Lekas dia membuka buku catatan sakralnya.
"Hei, Kouhai-tachi tidak tahu diri!" sentak Hyuga dalam clutch mode yang menyebabkan adik-adik kelasnya terbirit-birit berjajar rapi. "Jangan pikir kalian bisa mengalahkan kami!" Dia mendengus marah-marah. "Seseorang harus mengajari kalian dan anak-anak kelas satu hormat pada senior."
"Itu tugasmu, kan, Hyuga-kun?"
"Tentu saja! Dengar, bocah-bocah kelas dua, kita akan melatih adik-adik kelas kita agar dapat meneruskan jejak basket tim Seirin!"
"HAI', SENCHOU!"
"Kalian bertiga!" Hyuga dengan sorot mata sadis di balik kacamata beningnya menuding ketiga adik kelasnya yang direkrut oleh tim nasional. "Jangan mentang-mentang kalian mewakili Jepang, jadi melupakan latihan di Seirin!"
Riko mengelus-elus kepalan tinjunya, mata coklat bundarnya menyiratkan seribu satu janji penyiksaan latihan. "Aku tidak peduli dengan urusan tim nasional, tapi kalian sampai melupakan tim Seirin—"
"HAI', SENCHOU, Kantoku!" –bahkan Fukuda dan Kawahara turut serta menjawab.
"A-ano—" Furihata mengangkat tangan kanannya, "—boleh aku minta sesuatu … eh, aku tahu ini konyol, tapi aku ingin—"
"CEPAT KATAKAN!"
"Hiiii! Ampun, Kapten!" Furihata menjadikan lengannnya sebagai tameng untuk melindungi ruang pandangnya menemukan pelototan sang clutch kapten tertuju padanya. "Ma-maksudku, bisakah kita melakukan, err … highfive? Seperti ketika pembukaan Winter-Cup…"
Satu tim Seirin melongo memandang Furihata yang gugup dan harap-harap cemas, khawatir permintaannya dianggap konyol—mereka saja sudah menatapnya dengan mata membulat begitu!
Kiyoshi yang pertama memecah kesenyapan dengan tawa renyahnya. "Oke, teman-teman, ayo kita berbaris dan tos-tosan dengan Furihata, Kuroko, dan Kagami!"
"Osu, aku jadi komentator!" Koganei berseru penuh semangat.
"Astaga, kau tidak punya permintaan yang lebih kreatif, Furihata?" Hyuga sudah tidak lagi dalam mode clutch, menggretekkan tulang lehernya.
"Ma-maaf—"
"—ah, semuanya, berkumpul!"
"Hai', Senchou!"
Anggota-anggota tim Seirin berjajar rapi membentuk garis lurus seraya mengangkat dan membuka telapak tangan lebar-lebar. Dimulai dari Kawahara, Fukuda, Tsuchida, Koganei, Mitobe, Izuki, Kiyoshi, Hyuga, Riko dan Nigou dalam gendongannya. Anjing itu menggonggong riang, inosen ikut-ikutan mengulurkan paw-paw-nya.
"Ini konyol." Kagami memutar kedua bola matanya. Tangannya lari untuk mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
Kuroko menyikut rekan setimnya itu tajam di rusuk. "Tapi kau menantikannya, bukan, Kagami-kun?"
"SAKIT, TAHU!" Kagami balas menusuk pinggang Kuroko. Dia membuang muka, menyembunyikan betapa tersentuhnya dia dengan tingkah teman-teman setimnya.
"Sudahlah, Kuroko, Kagami!" panik Furihata. Celingak-celinguk kepalanya hingga ia memutuskan bersembunyi di belakang tubuh jangkung besar Kagami. "A-aduh, tidakkah kita jadi pusat perhatian?"
"Duh, Furihata, ini, kan, kau yang minta."
"Maaf, Kagami. Aku tidak tahu bakal jadi seperti ini."
"Furihata-kun, Kagami-kun, mereka sudah siap." Kuroko menjawil kedua lengan temannya. Memosi posisi teman-teman mereka yang sudah siap-siaga dengan senyum lebar terkembang.
"Kalian!" Riko berseru ceria dari paling ujung yang berseberangan dari ketiga pemuda itu. "Koganei akan memanggil kalian satu per satu! Berlarilah dan tos dengan kami, oke?!"
"HAI', KANTOKU!"
Hyuga terlihat mengatakan sesuatu entah pada tim Seirin, direspon dengan anggukkan kuat. Kemudian Koganei memulai acara pelepasan kecil-kecilan mereka dengan bertindak ala komentator pertandingan basket.
"Yosh~ ini dia mereka dari tim Seirin yang bergabung dengan tim nasional mewakili Jepang di liga FIBA! Pertama, ada Furihata Kouki~ dia bisa melakukan apa pun, dan tidak bisa melakukan apa pun!"
"ITU KAU, KOGANEI(-Senpai/-kun)!"
Ketiga pemuda yang disebutkan terkejut tatkala teman-teman mereka mulai bersorak heboh dan menggila seperti ketika pertandingan basket akan dimulai.
"YEAAAAH~ FURIIIII!"
Furihata, Kagami, Kuroko, ketiganya berpandangan sejenak. Senyum lebar teretas. Furihata memacu langkahnya dalam jejakan ragu, lalu menambah kecepatan dengan berlari-lari kecil menyambut tangan teman-temannya bertukar tepukan kencang dan tawa lega meluncur dari bibirnya. Perlahan lenyap kegelisahan dan ketidaknyamanan perasaan yang menggelayuti dirinya, tergantikan sedikit kepercayaan diri dari kehangatan yang disalurkan teman-temannya.
"Kemudian sambutlah diaaaa~ Ace tim Seirin paling membanggakan dan emosian dengan lompatan melampaui trampolin, Kagami Taiga!"
"HUUUU! BAKAGAMIIII!"
"HEH, kenapa 'BAKA'?!" Kagami berdecak. Kuroko melihatnya salah tingkah dan malu karena disoraki begitu kencang. Baru kali inikah partner-nya itu menyadari bahwa dia selalu didukung segila itu?
Pemuda dengan alis bercabang itu lantas berlari kencang, bertukar highfive dengan semua teman-temannya—yang protes karena Kagami menepukkan tangannya keras-keras karena eksitasi meluap-luap, dia mengerem habis ketika setelah bertukar highfive dengan Riko, ada Nigou yang menyalakinya. "Aku tidak mau tos denganmu, Nigou!"
"ARF!"
"Sudahlah, Kagami, Nigou kan mascot kita~"
Seujung jari telunjuk Kagami high-five dengan Nigou, merinding sekujur tubuh bergegas menjauh dari Nigou dan akhirnya tos dengan Furihata seraya bertukar tawa lebar.
Sedepa jeda. Kuroko tinggal seorang diri.
"Terakhir, pemilik maskot kita, Nigou, ini dia si bayangan yang selalu tidak pernah gagal memandu tim Seirin meraih kemenangan! Hawa keberadaannya yang minim itu selalu sukses membuat kita jantungan! Kuroko Tetsuyaaaa~"
"YEAAAAAH! KUROKOOO!"
Kuroko terpaku sejenak. Dilihatnya teman-temannya melonjak gila-gilaan mengelu-elukan namanya. Perasaan gelisah dan gamangnya tersapu habis, tergantikan oleh debur eksitasi dan kebahagiaan. Satu langkah ia ambil, diobservasinya sejenak lingkungan sekitarnya.
Oh. Publik memerhatikan timnya dengan pelbagai macam ekspresi dan apresiasi. Entah itu positif atau negatif, Kuroko tidak mencoba peduli atau ambil pusing. Pokoknya, apa pun yang terjadi setelah ini, Kuroko tahu ke mana tempatnya untuk pulang.
Kuroko berlari menyambut highfive teman-temannya, highfive sesepele ini seakan menginjeksikan energi baru yang memompa adrenalin dan kepercayadiriannya. Tiba di ujung satunya, Nigou melompat ke pelukannya, dan ia tos dengan Furihata, terakhir highfive dengan cahayanya yang nyengir lebar. Melihat Kagami yang nyengir kepadanya dengan tangan menepuk ringan puncak kepalanya, dan seluruh teman mereka di tim Seirin turut meretas senyum. Hati Kuroko sekarang benar-benar menghangat.
Berikutnya, sang ahli misdireksi itu ditabrak, rambutnya diacak-acak, tubuhnya ditepuk-tepuk dan dirangkul dari mana-mana.
Gelak tawa mengangkasa.
Kuroko tidak tahu lagi makna bening yangmemburamkan ruang pandangnya.
.
#~**~#
.
Beberapa saat kemudian.
"SEIRIN, FIGHT, FIGHT, FIGHT!"
"SINGKIRKAN NIGOU DARIKU! TASUKETE … —dasai!"
"FIGHT, KAGAMI!"
"Kagami-kun, kau berat."
"FIGHT, KUROKO!"
"Kuroko benar! Kau berat sekali, Kagami. Dan kenapa kau jadi ikut menibanku dan Kuroko, eh?!"
"FIGHT, FURIHATA!"
"Bukan salahku, Kuroko, Furihata. PERGI NIGOU, HUSH!"
"ARF~"
"FIGHT, NIGOU!"
Tim Seirin masih tergelak menertawakan sekaligus menyoraki anggota-anggota mereka yang bergulat satu sama lain seperti itu. Tidak ada satu pun yang mendengar himbauan Hibiki agar anggota timnas junior segera berkumpul di meja yang telah disediakan.
Hingga Kiyoshi menoleh. Tersenyum lebih cerah. "Oh—"
"DOR."
"WOOAAAAH!"
"—Kaze-san."
De javu.
Kontan seluruh kepala di gerombolan itu menoleh pada interuptor laknat yang dengan tidak tahu diri dan tidak elit menginterupsi momen mengharukan mereka, muncul di tengah mereka seperti hantu dengan payung putih terkembang. Tak tanggung-tanggung para muda-mudi itu kocar-kacir histeris karena dikagetkan begitu. Hayate muncul lagi dengan telunjuk tangan kanan menunjuk tajam meniru pistol seraya tangan kiri memutar-mutar payung kesayangannya.
"TIDAK BISAKAH ANDA MUNCUL LEBIH MANUSIAWI LAGI, HAYATE-SAN?!"
"Kiyoshi-kun, di mana teman-teman setim Seirin-mu? Tolong panggilkan mereka. Diminta berkumpul oleh Hidoi no Kantoku~"
"KAMI DI SINI!"
Kelereng oniks solid itu membulat. Mengerjap-kerjap, baru menyadari keberadaan gerombolan remaja-remaja itu. Dia terkekeh aneh khasnya. "Kehkehkeh. Kenapa tidak bilang kalau kalian ada? Kan aku tidak perlu repot-repot mencari kalian. Oh, halo, Kuroko-kun."
Kuroko—dan Furihata—yang tertindih Kagami berusaha mendongak, lalu menganggukkan kepala sopan. "Domo, Hayate-san." Agak merasa tidak nyaman karena hanya presensinya yang disadari oleh Hayate.
Hayate yang mengerti ketidakpahaman Kuroko memutuskan untuk tak menghiraukannya, dia menggulirkan manik pekat malamnya menelisik satu per satu junior timnas di hadapannya. Mengerti apa yang tadi diinterupsi, Hayate tersenyum tipis—tidak mengerti ini membuat tim Seirin berkasak-kusuk ngeri karena senyumnya terlihat makin mistis.
"Kalian akan baik-baik saja."
"HAH?"
Senandung enka teramat halus yang meremangkan bulu kuduk pendengarnya. "Karena tidak satu pun dari mereka juga rela berpisah—"
"HAYATE!"
Satu jitakan kilat mampir ke kepala sang albisian yang terlindung di balik payung putih. Kapten timnas basket Jepang yang berambut hitam legam itu muncul, dan mendelik pada rekan setimnya. "Aku sudah capek-capek pakai pengeras suara mengumpulkan adik-adik kita supaya duduk semeja. Kau diminta memanggil yang dari tim Seirin saja lama sekali," omelnya. "Bisa-bisa aku lagi yang kena damprat Kantoku, tahu!"
Senandung itu menjelma jadi gerungan lirih. "Maaf, aku bertemu Kiyoshi-kun dan Kuroko-kun." Mata bulat hitam seperti biji leci itu mengerling pada kedua orang yang disebutkannya. "Ah. Maaf aku lupa soal tim Seirin, Hibiki."
"KAMI INI TIM SEIRIN!" '–DAN APA-APAAN DE JAVU MENGERIKAN INI?!' batin semua anggota tim Seirin sehati.
Hibiki terkejut sekali lagi. Sebelum meraih kepala Hayate agar ikut melakukan membungkukkan badan secara formal bersamanya. "Sekali lagi, aku minta maaf soal Hayate. Kadang dia lupa daratan."
"Kau tidak baru saja menyamakan aku dengan ikan, 'kan, Hibiki?" Inosen pemain basket dengan julukan hantu itu bertanya.
"Oh, ternyata kau pintar, Hayate," sindir Hibiki yang mendengus geli menahan tawa.
Riko yang kentara kagum dengan kapten timnas—ya Tuhan proporsi tubuhnya akan membuat setiap gadis sesak napas namun sosoknya sungguh boyish dan brotherly sekali—buru-buru maju selangkah ke depan. "Oh, oke. Kami mengerti. Apa Papa memanggil anggota-anggota timnas terbaru untuk dikumpulkan?"
"Benar." Hibiki yang sudah menegakkan lagi badannya menatap Riko dan mengulaskan senyum boyish khasnya—yang tadi dia ingat menangis di pelukan pelatih sadisnya, diam-diam ia berterima kasih pada gadis itu yang telah memberikannya kesempatan melihat sendiri figur ayah dalam persona pelatih kejam dan tegas. Ibu jarinya dimosi melampaui bahu kanan pada sebuah meja di sentral ruangan. "Kalau tidak salah … Kagami, Kuroko, dan … Furihata? Kalian sudah ditunggu," ramahnya.
Kagami dan Kuroko saja sudah terkejut karena ternyata Hibiki mengetahui nama mereka. Terlebih lagi Furihata yang notabene bukan siapa-siapa. Bergegas ketiganya meraih tas dan mengenakan jersey masing-masing. Kali ini Nigou dimasukkan ke tas Kuroko, ketiganya berpamitan sekali lagi pada teman-teman setim Seirin. Dan memantapkan tekad, balik kanan dari tim yang selama ini menaungi mereka … menuju tim baru yang asing.
"Fight … fight … fight."
"Kau boleh menyemangati mereka bertiga, tapi jangan putar-putar payungmu, Hayate. Bagaimana kalau nanti ada yang tertusuk ujung runcingnya?" Hibiki meraih tangan Hayate agar bisa merapikan payung putih itu, lalu menyerahkannya kembali pada Hayate. Menyentil gemas kening yang diseraki poni albisian ketika empunya payung di hadapannya menggerung tidak suka karena payung putihnya tidak terkembang apik.
'Itu menyemangati atau menakut-nakuti?!' jerit batin anggota-anggota tim Seirin ketika mendengar suara mistis Hayate. 'Dan bagaimana bisa Hibiki-san tahu itu menyemangati?!'
Tim Seirin memutuskan untuk memerhatikan ketiga teman mereka yang bergabung di meja super angker. Hanya Kiyoshi yang masih mengingat hal menggantung tadi, pula karena melihat betapa kesuraman menyelebungi sekitar meja tersebut. Pemain basket dengan julukan Iron Heart itu memilih untuk bertanya—ditaruhnya benang tipis atensi pada Hayate. Hibiki yang ada di sana berpretensi tidak mendengar percakapan sepasang mantan senior-junior itu. Namun Hibiki mengerti benar tentang satu hal—
"Kaze-san … apa kelanjutan dari yang tadi ingin kaukatakan sebelum Hibiki-san datang?"
"Oh, itu—" Hayate mengangsurkan senyum lugu pada remaja yang telah dianggapnya seperti adik sendiri, menepuk-nepuk bahu Kiyoshi pelan, menenangkan.
—Hayate adalah orang yang perhatian.
Kalian akan baik-baik saja. Karena tidak seorang pun rela berpisah—
"—kau tidak usah mengkhawatirkan mereka, Kiyoshi-kun. Mereka akan baik-baik saja."
—dengan teman-teman setim basket masing-masing yang penting dan berharga.
.
#~**~#
.
Di tengah kantin terdapat sebuah meja dengan dua belas buah kursi. Delapan di antaranya telah ditempati. Meneguhkan hati, ketiga pemain basket asal tim Seirin tersebut bergabung ke meja tersebut.
Hampir seisi kantin kini diliputi kesunyian, sebelum berkomentar heboh betapa konyolnya meja tersebut yang ditempati oleh pemain-pemain basket terbaik tingkat SMA dengan aura-aura menyeramkan menguar ke seluruh penjuru ruangan.
Furihata tidak berkutik di tempatnya. Ia memutuskan untuk khusyuk menatapi permukaan meja kayu berpelitur mengilat, berusaha tak mengindahkan keringat dingin dan tremor merayapi sekujur tubuhnya. Pemuda yang memiliki nomor punggung dua belas di tim Seirin itu juga menyugesti diri agar tidak membalas pandangan merendahkan dari orang-orang lain di meja tersebut—sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Kuroko memerhatikan satu per satu orang yang ada di meja.
Aomine terlihat malas seperti biasa, Momoi menyapanya dengan manis lalu mengomeli Aomine agar tidak menaikkan kaki ke atas meja seperti di ruang rapat tadi, Sakurai melakukan hal yang cukup identik dengan Furihata, Takao terlihat gembira walau terlihat dia pun diam-diam memerhatikan yang lain, Midorima wajahnya kusut dan cemberut, Murasakibara sedang menyantap hidangan camilan dengan raut wajah tak terbaca, Himuro tampak murung dan depresi, sementara Kise kentara terlihat habis menangis, Kagami sudah berubah roman mukanya menjadi amat serius, dan terakhir, Akashi terlihat sangat tenang.
Hibiki pun beranjak dari tim Seirin, datang membagikan selembar kertas dan pulpen untuk masing-masing orang. Kertas itu merupakan formulir biodata serta nomor ponsel dan akun situs jejaring sosial aktif yang katanya akan diarsipkan untuk data personal pelatih baru mereka, Aida Kagetora.
Beberapa saat mereka mengisi formulir yang dibagikan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berminat bicara. Aida Kagetora pun datang dan duduk di kursi yang tersisa. Ditatapnya wajah-wajah baru yang mulai pada bulan Mei akan familiar dalam memorinya, akan menjadi tanggung-jawabnya untuk membina dan mengasah talenta masing-masing.
"Kalian—" ucapnya ketika semua telah meletakkan pulpen di meja dengan kertas formulir terisi penuh. Ia memberikan isyarat dengan gestur tubuh pada Hibiki untuk mengumpulkan kertas-kertas dan pulpen kembali. Ditatapnya calon-calon muridnya satu per satu. "—tanggal enam Mei hari Sabtu, akhir minggu pertama di bulan Mei, kalian akan difasilitasi oleh pihak sekolah masing-masing untuk diantar-jemput. Bawa saja perlengkapan untuk berlatih basket seperti biasa. Bajunya terserah—asal nyaman untuk berlatih basket. Berkumpul di sini tepat jam sembilan pagi, dan kalian berlatih dibimbing olehku hingga pukul lima sore."
Jeda, satu tarikan napas, dan Kagetora melayangkan tanya, "Ada yang mau ditanyakan?"
Gelengan perlahan dari kepala-kepala yang hampir semua tertunduk lesu. Entah terlalu letih, tidak mau berada dekat satu sama lain, ingin kembali ke tim masing-masing, atau memang sudah lelah dengan semua hal mengejutkan yang terjadi hari ini.
Dan hanya Akashi yang dengan tenang berdeham untuk mengajukan pertanyaan. "Apa ada peraturan tertentu selama Anda membimbing kami?"
Semua yang memusatkan atensi kini beralih pada Kagetora. Pria paruh baya itu menyeringai tipis. Sepertinya sama sekali tidak mengindikasikan hal baik. Pelbagai prasangka terbit di benak masing-masing. "Ada."
"Apa?" sahut calon-calon muridnya, nyaris kompak.
"Nanti akan kuberitahu."
"Geez—" Beberapa dari para pemuda itu mengumpat, mendesah kecewa, dan sisanya bahkan tetap diam non-ekspresi seperti sedia kala.
Satsuki mengangkat tangan kanan perlahan. Ketika Kagetora mengangukkan kepala sebagai tanda memperbolehkannya bicara, ia turut bertanya, "Kami harus memanggil Anda—"
"—oh," sela Kagetora, "Panggil saja aku Kagetora-san, atau pelatih. Terserah kalian. Dan jangan coba-coba bersikap kurang ajar pada orang tua!" ancamnya dengan mata coklat terpicing tajam menelisik orang-orang di hadapannya.
Satsuki tersenyum maklum. Sebenarnya, tanpa perlu diberitahu pun dia cukup yakin, pemain-pemain basket terbaik setaraf sekolah menengah atas itu tidak akan berani bersikap kurang ajar lagi pada Kagetora. Mata dengan lensa merah muda miliknya digulir memandang sang kapten. "Bagaimana kalau kapten yang memutuskan?"
Akashi memejamkan mata untuk sesaat. Lalu mata dwi warnanya terbuka, menatap lunak pada gadis yang ia tahu selalu setia mendampingi Kiseki no Sedai. "Mulai sekarang Kagetora-san adalah pelatih kita. Jadi kita akan memanggilnya 'Kantoku'." Diedarkannya pandangan pada calon rekan-rekan setim yang lain. "Ada yang keberatan?"
"Kagetora … Kantoku." Satu per satu dari mereka menggeleng seraya bergumam menyetujui keputusan Akashi.
Kagetora mengangguk puas pada Akashi yang cukup bisa memandu bocah-bocah merepotkan itu. Setidaknya, mereka agak jinak. Oh, atau mungkin masih merasa amat tertekan karena harus terpisah dari tim masing-masing. Entahlah, namun Kagetora cukup yakin sesungguhnya ada bom waktu yang menunggu untuk disetel dan waktu hitung mundur bergulir.
Pokoknya, ia harus mengantisipasi hal tersebut sebelum eksplos sempat terjadi.
Beruntung tim nasional yang selama ini sudah dipoles olehnya dapat berlatih secara mandiri dan intensif. Ia dapat menitipkan tim pada Shirogane atau Katsunori, pula Hibiki adalah pemimpin yang bertanggung-jawab. Kagetora yakin lebih sulit membimbing bocah-bocah menyusahkan di masa pubertas yang sulit diatur dan bersaing keras satu sama lain ketimbang timnas dewasa. Waktu mereka tidak bisa disia-siakan.
Sekali lagi, untuk terakhir kali pada hari itu, Kagetora menatap setiap sosok dari timnas muda ini. Selayaknya guru memandang murid. Ada pengertian yang disisipkannya, namun tidak dipahami oleh insan muda-mudi di hadapannya. Tidak apa. Di waktu berikutnya, ia tahu mereka nanti akan paham.
"Pertemuan resmi pertama, aku ingin kita berkenalan. Dan aku akan membawa kalian menuju puncak tertinggi dengan seribu seratus satu basket. Bersiaplah!"
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
10k? *tepar* oke. Ini rekor seumur-umur saya nulis fic, baru kali ini satu chapter sampe 10k words. Lagi sakit pula—justru karena lagi sakit saya nggak ada kerjaan. Anggaplah season 1 selesai. /hey *sesap vanilla latte dengan tenang*
Setelah ini, saya TIDAK akan update dalam waktu singkat. Sampai masa 'ujian' dan kelulusan saya selesai. Jadi, tolong jangan berharap dan jangan ditunggu, Minna-sama. Orz
Manakah memorable moment precious teammate yang paling kamu suka? Atau ada adegan yang kurang puas dan kurang greget? Silakan sampaikan di kotak review!
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
