Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)
.
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Dari perspektifmu sebagai presensi bayangan, melihat sesuatu yang tertidur perlahan bangun dan merenggut persona-persona yang selama ini selalu mengulurkan tangan untuk membantumu menggapai mimpi, sungguh asing lantaran amat mengerikan. Seperti mereka bukanlah mereka, tapi tak terpungkiri adalah mereka. Sulur-sulur kengerian merayap setiap eksistensi yang harus menghadapi mereka.
Tapi siapakah mereka yang sebenarnya? Kau tak lagi kenal. Di atas semua yang peristiwa yang terjadi saat itu, kau tahu ada seulur takut mengendap dalam hatimu. Kau takut kehilangan mereka.
Sebuah tarikan kecil di lengan kemeja sekolah membuatmu mengalihkan pandangan. Sepasang mata sewarna angin merah muda rekahan musim semi yang berkaca-kaca, menatapmu sedih—seakan kau harapan terakhirnya untuk tidak memutus asa.
"Momoi-san?"
"Kita semua … akan terus bersama-sama, 'kan? Semua orang menyukai basket dan setelah semua ini … kita masih akan bisa bersenang-senang bersama, 'kan?!"
Kau tertegun. Roda-roda logikamu tak bergerak konstan, lebih kepada tercengang. Bahwa ternyata masih ada gadis ini yang mengharapkan mereka untuk terus bersama—jujur mengakui dan mengharapkannya lebih daripada dirimu. Maka kau tersenyum tipis dan tanpa berpikir panjang kau merespon—
"Ya … kita akan selalu bersama."
—karena saat itulah yang sesungguhnya juga kau harapkan.
Jika saat itu kau bisa menerawang masa depan dan mengetahui bahwa kesanggupanmu menjawab pertanyaan gadis itu adalah menyalahi kenyataan, kau takkan menjawab. Kau takkan berharap. Kau takkan ada.
Mungkin memang kalian tak sepantasnya bersatu karena persatuan keajaiban kalian, hanya menyakiti eksistensi lain yang infeorior terhadap superioritas kalian. Begitulah yang kaupikirkan setelah kalian terpisah, masih tertatih menghirup napas yang dihembuskan sedemikian perih seakan hatinya bagai selongsong kosong belaka, pilu teriris sembilu memandangi hamburan rapuh angin merah muda.
"Aku berbohong dan membuat seorang gadis menangis…"
Sekarang ketika dengan ironi dan kuasa gigir takdir menghendaki kalian untuk bersama, kengerian diiring ketakutan bangkit dalam hati tanpa dapat kau cegah. Padahal ia telah mensyukuri bergabung dengan timnya yang sekarang.
Kenapa kita harus dipertemukan lantas kejam dipisahkan?
Kenapa setelah tercerai-berai lantas dirantai untuk dipersatukan?
Tidak lagi terbersit imaji seperti kenangan yang telah terpatri mati di lubuk memori, kebersamaan didendangi decit sepatu dan gema pantulan bola basket tanpa peduli jadi sentris atensi, penerimaan presensi dengan ragam persona yang meski memiliki banyak diferensiasi, dan tak terpungkiri menghangatkan hati.
Musim semi kali ini dengan semilir familiar sakura seperti gadis yang kepadanya ia meretakkan janji. Kau tak tahu apa-apa lagi.
("Kita akan selalu bersama 'kan, Momoi-san? Ya, kita bersama lagi … mungkin saja."
–namun hati dan determinasi Kuroko Tetsuya takkan pernah sama lagi.)
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 6
"Intermezzo"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Tanggal 6 Mei, akhir minggu pertama di bulan Mei. Pagi tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
Meski ini adalah akhir minggu, sekolah menengah atas yang masih tergolong baru dan usianya belum mencapai satu dekade itu tetap diramaikan siswa-siswinya. Hari Sabtu memang tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Tapi hari ini dijadikan sebagai hari utama untuk kegiatan ekstrakuliler dari pagi hingga sore. Maka tak mengherankan sepagi ini sekolah sudah aktif dan tampak hidup.
Begitu pula dengan anggota tim basket Seirin. Aida Riko, pelatih sekaligus manajer tim Seirin, mengumpulkan para pemain basketnya dari seluruh angkatan sejak jam tujuh pagi. Menu latihan hari Sabtu lebih ketat dan penuh daripada ekskul basket di hari biasa. Ini terbukti dari siswa-siswa yang tergabung dalam tim basket telah bermandikan peluh seusai menuntaskan jogging dan sprint pagi.
Sekarang mereka sedang melakukan pemanasan dan mengobrol ringan. Senior-senior turun tangan membantu juniornya menuruti instruksi si pelatih. Berhubung pelatih mereka mengemukakan bahwa latihan basket akan dimulai tepat jam delapan.
Mendengar hal ini, ace tim Seirin uring-uringan.
"Kenapa tidak latihan sekarang saja, Kantoku?" protes pemuda dengan mata dan surai krimson. "Keburu kami nanti berangkat."
Riko memutar kedua bola matanya malas. "Heh, Bakagami, Kouhai-tachi masih beradaptasi dengan menu latihan yang baru. Mereka harus pemanasan dengan benar."
Hyuga yang puas melihat jajaran adik kelas saling berpasangan untuk melakukan sit-up, menoleh untuk menimpali, "Simpan tenagamu, Kagami. Kau belum tahu latihan dengan Kagetora-san seperti apa, kan?"
"Seperti Kantoku, ya, 'kan?" balas Kagami, agak ragu.
"Tidak ada yang memberitahu Kagami?" Kiyoshi menghampiri ketiga adik kelas sebelasnya yang sedang bersiap-siap. Ditatapnya bergantian Furihata dan Kuroko. Keduanya menggeleng.
"Ouuuh, bersiaplah, Kagami! Mengingatnya saja aku—ukh." Koganei mencengkeram perutnya yang tiba-tiba terasa kram, teringat latihan mereka dengan Kagetora tahun lalu sebulan sebagai preparasi untuk Winter Cup. Mitobe bergegas menepuk-nepuk bahunya.
"Memang separah itu, ya?" tanya Kagami, perasaan ngeri muncul. Tidak mengherankan sebenarnya, putrinya saja sudah seperti itu apalagi ayahnya.
Semua yang sudah pernah dilatih oleh Kagetora mengangguk mantap dengan wajah prihatin.
Izuki turut bergabung dalam percakapan. "Mungkin latihan kalian akan berbeda level dibandingkan dengan saat tim Seirin dilatih."
"Apa maksudmu, Senpai?" Kuroko menerima pass kecil dari Izuki dan melakukan misdireksi pada Tsuchida.
"Kalian tergabung di tim nasional. Tim yang isinya orang-orang terbaik. Pasti sesi latihannya jauh lebih berat lagi," terang pemilik mata elang tersebut.
Furihata menundukkan kepala dengan tampang yang mengulas jelas depresi. "Kecuali aku." Diikatnya tali sepatu, tidak menyadari aura suramnya malah memicu retasnya tawa dari yang lain. "Aku bakal mati hari ini." Dirasakannya tangan dengan telapak lebar menepuk-nepuk hangat kepalanya. "Kiyoshi-senpai…"
"Dibawa senang saja, Furihata~" hibur Kiyoshi yang sama sekali tidak menghibur Furihata.
"Aku tidak merasa senang. Terima kasih." Sinisme Furihata yang tidak bersinkronisasi dengan roman pucat wajahnya itu membuat senior-seniornya saling bersitatap, lalu tertawa kecil.
"Aku juga tidak senang." Kagami mengedikkan bahu. Melirik tajam Kuroko yang dari sejak masuk gym pagi ini, tidak terlihat seperti biasanya. "Dia juga."
"Iya." Kuroko balas mengerling Kagami. "Kau tidak bisa tidur lagi, Kagami-kun?"
"TIDAK! Aku tidur nyenyak semalam—"
"—kau seperti anak kecil."
"Aku tidak mau dengar itu terutama dari kau, Kuroko!"
—dan Kuroko memahami bahwa selain Kagami mengetahuinya, ia pun mengerti bahwa Kagami juga gelisah dengan hari ini. Tidak perlu lagi mengobservasi Furihata. Temannya yang satu itu setiap ada topik tentang tim nasional dibahas, seketika ekspresinya suram.
"Sebenarnya aku ingin ikut melihat latihan macam apa yang akan diberikan Papaku pada kalian. Tapi harus ada yang mengawasi mereka latihan." Riko mendesah panjang. Ia meniup peluitnya sekilas sebagai tanda sesi sit-up diganti menjadi push-up. "Maafkan aku."
"Tidak usah minta maaf, Kantoku." Kuroko menatap pelatih mereka yang terlihat amat menyesal serta kesal.
"Ah, kami juga ingin lihat latihan tim nasional seperti apa!" Fukuda yang duduk di sisi Furihata merangkul kawan akrabnya itu. "Namun harus ada yang membantu adik-adik kelas kita."
"Baiklah. Nanti aku pasti menceritakan penderitaanku. Tenang saja," kata Furihata yang menabahkan diri. Dia mendelik lagi karena orang-orang di sekitarnya tertawa lagi.
Tiba-tiba saja ada suara lembut "Ohayou." Menggema dalam gym. Para senior tim basket itu langsung merasa de javu. Benar saja, saat mereka menengok pada sumber suara, ditemukanlah sosok primadona di angkatan kelas tiga itu berdiri di pintu besar gym, tersipu malu.
"Oh, masuklah, Shizuka-chan!" Riko melambaikan tangan sebagai tanda agar temannya itu tidak perlu sungkan untuk masuk ke dalam gym.
'MAJI TENSHI!' Hampir sebagian besar para pemain basket sekolah menengah atas itu terpesona pada presensi laksana dewi turun dari kahyangan ke sarang penyamun.
Shizuka menapak masuk dengan langkah-langkah ragu. Tersenyum seraya mengangguk sopan pada para pemuda yang memandangnya seolah dia ini alien—dalam perspektifnya. Dia menghampiri Riko, kemudian menyadari Kiyoshi yang tersenyum ramah memandangnya. Wajahnya kian merona.
"O-ohayou, Kiyoshi-kun," sapanya perlahan.
Kiyoshi yang tidak menyadari pelototan maut teman-temannya mengangguk. Melebarkan senyuman ramah khasnya itu. "Ohayou, Shizuka. Kau ada kegiatan ekskul juga hari ini?"
Shizuka menggeleng sekilas. "Ra-rapat organisasi siswa untuk u-upacara serah-terima jabatan ke generasi baru."
"Oh, begitu. Ganbatte naa, Shizuka."
"A-arigatou, Kiyoshi-kun."
Semua kecuali sepasang insan muda-mudi itu nyaris berani bersumpah mereka serasa terdampar di padang bunga bersimbah sinar mentari dengan kilau-kilau cemerlang mengimpresi silau.
'KIYOSHI-(SENPAI), KAU MATI PUN TAK MASALAH!'
'Cih, Kiyoshi-(senpai) beruntung sekali.'
'Ya Tuhan, kenapa kau tidak peka sekali, Kiyoshi?!'
Dan dosa-dosa atas umpatan dalam hati terhadap Kiyoshi kian membludak.
Riko sebetulnya merasa gemas dengan Shizuka yang terlalu kikuk dan Kiyoshi yang entah kenapa menjadi tidak peka. Berempati dengan sikon canggung ala shoujo sekali ini, geli ia bertanya, "Ada apa, Shizuka-chan?"
"Seto-Kaichou memintaku menyampaikan pesan dari kepala sekolah. Mobil sekolah sudah siap untuk mengantar mereka yang harus pergi ke Tokyo National Gym," tutur Shizuka.
Furihata adalah orang pertama yang refleks mendesah kecewa. Kagami mengerang keras-keras—batal sudah untuk bermain basket dengan tim Seirin kendati sebentar saja. Kuroko tetap datar seperti biasa—meski sebenarnya pemain basket seperti bayangan itu merasakan denyar tak nyaman menggeliat lagi di hatinya.
"Terima kasih, Shizuka-chan," ucap Riko ringan pada temannya itu. Dialihkannya pandangan pada ketiga adik kelasnya yang tidak buang waktu bergegas bersiap untuk berangkat. "Shizuka-chan akan mengantar kalian sampai mobil—" Dikerlingnya temannya itu yang mengangguk merespon perkataannya, "—karena kami tidak bisa mengantar."
"Semoga hari pertama kalian menyenangkan," kata Hyuga dengan senyum yang tidak disadari menjadi penenang bagi ketiga juniornya itu.
"Kudoakan semoga kalian balik tetap sehat dan utuh tidak kurang sesuatu pun!" Koganei berkata mantap. Ia—dan ia yakin bukan hanya dirinya—akan mendoakan pula mendukung ketiga anggota tim Seirin itu agar sehat, prima, segar-bugar hingga kembali ke tim Seirin. Walau sebenarnya ia sedikit meragukan doanya. "Mitobe bilang dia juga akan mendoakan kalian."
Izuki memutar bola basket di telunjuk tangan kanannya, memutarnya dengan tangan kirinya. "Selamat berjuang!"
"Hubungi saja kami jika terjadi sesuatu pada kalian," kata Tsuchida tenang. Senyumnya menyebabkan matanya menyipit.
"Kurasa jika sesuatu terjadi pun, mereka tidak akan bisa menghubungi kita, Tsucchi."
"Aku pikir juga begitu, Koga."
Kiyoshi tertawa. Ditepuknya satu-satu kepala adik kelasnya dengan gestur seperti seorang kakak penyayang. "Kalian harus bersenang-senang, ya."
Fukuda dan Kawahara kompak berangkulan, cengiran lebar terpeta di wajah mereka, serentak berkata, "Ganbatte kudasaaaiii!"
Riko yang terakhir menyampaikan dukungannya dengan seulas senyum dan berkata, "Hati-hati di jalan, ya! Kalian harus bercerita pada kami sepulangnya dari sana. Oke?"
Junior-junior kelas satu yang notabene tidak tahu-menahu tentang tim nasional, menyampaikan respek mereka dengan mengantarkan kepergian ketiga senior mereka menyertakan ojigi dan ucapan dukungan semangat. Setelah berpamitan, ketiga pemuda itu dibimbing oleh Shizuka ke tepi lapangan upacara yang dekat dengan gerbang utama sekolah. Sebuah mobil mini-bus dengan border khas sekolah menengah atas Seirin terpajang telah menanti mereka. Ketiganya mengucapkan terima kasih pada senior mereka yang jelita itu, dan sang primadona mengantar kepergian mereka dengan kalimat suportif serta senyum lembut memesona.
Dalam mobil, hanya ada supir dan satu guru pembimbing. Usai ketiganya duduk manis di bangku penumpang, roda-roda mobil menggelinding, menggiring mereka menuju Tokyo National Gym. Tidak satu pun dari mereka memulai konversasi, masing-masing terlarut dalam lamunan masing-masing, terhanyut pada deru halus mesin mobil diiring gemuruh eksitasi.
.
#~**~#
.
Jam sembilan kurang lima belas menit, ketiga pemain basket asal tim Seirin itu tiba di Tokyo National Gym. Setelah mengucapkan terima kasih pada supir dan guru pembimbing, trio tersebut turun dari mobil tepat di lobi gimnastik paling terkemuka di ibukota Jepang.
Hampir semua anggota timnas junior sudah berkumpul. Entah yang lain mengingatnya atau tidak, tiba-tiba saja terbersit dalam ingatan Furihata kilas balik pembukaan Winter Cup dan reuni pertama Kiseki no Sedai. Posisinya persis seperti itu. Mereka di antara undakan anak-anak tangga berlantai keramik tanah liat warna gelap, posisi duduk tidak teratur. Ditambah Momoi Satsuki yang duduk di samping Aomine melambai ceria menyapa Kuroko, Sakurai Ryo yang membungkuk formal sekilas dan tersenyum ragu pada mereka, Takao Kazunari di sisi Midorima yang memicingkan mata tajam namun sejurus kemudian cengar-cengir, serta Himuro Tatsuya tidak jauh dari Murasakibara—tersenyum tipis nan palsu.
"TETSU-KUN, OHAYOU! Hai, Kagamin dan … Furin."
"Ohayou gozaimasu, Momoi-san. " Kuroko mengangguk sekilas.
"Kagami, jangan tambahkan N!" ketus Kagami, tidak bersuara kencang agar tidak kena sindir Kuroko lagi.
Furihata melongo bingung. "Fu- … Furin?"
PING!
"Berisik! Siapa yang ponselnya berbunyi terus dari tadi?" Aomine berdecak kesal.
Kise terkikik tanpa dosa. "Itu punyaku, Aominecchi."
"Pasti dari pacar." Pemuda berkulit tan itu memutar kedua bola matanya bosan.
"Bukan—" Kise membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya, kemudian dia berseru penuh semangat, "—dari penggemarku."
PING! PING! PING!
"KISE!" sentak Aomine emosi.
"Dai-chan, tidak usah teriak di telingaku!" Satsuki memukul gemas lengan sahabatnya sejak kecil itu. Yang didaratkan pukulan fokusnya terarah pada satu-satunya blonde di grup timnas junior tersebut.
Kise berjengit. Mata beriris sewarna madu miliknya terpicing. "Kali ini bukan ponselku. Jangan seenaknya menuduh orang, Aominecchi!" tukasnya.
"Mine-chin, itu bunyi ponsel Muro-chin." Suara renyah maiubo dikunyah tidak menghalangi Murasakibara menjawab pertanyaan Aomine.
Serentak perhatian terpusat pada Himuro yang lekas membuka ponselnya agar tidak kena protes akibat bunyi berisik ponselnya. Murasakibara melirik display ponsel kawan dekatnya itu, tidak heran menemukan nama tiga gadis sekaligus sebagai pengirim pesan singkat tadi.
"Dari siapa?" Kagami tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Himuro menjawab seraya membaca pesan singkatnya satu per satu. "Dari teman-teman. Bertanya kenapa hari ini aku tidak latihan di Gym Yosen."
"Wah, teman-temanmu perhatian, ya," tanggap Kise takjub. Mengingat bahkan senior-seniornya saja tidak ada yang mengirimkan pesan singkat seperti itu padanya.
Murasakibara tersenyum sinis malas-malasan. "Dari fans cewek Muro-chin yang suka berisik di luar gym setiap Muro-chin main."
"CEWEK LAGI?!" Hampir semua para pemuda single yang lain syok menatapi Himuro.
Kise tertawa senang. "Oh, ternyata bukan hanya aku yang popular dengan cewek~"
"Aku tidak sepopuler kau, Kise-kun," sanggah Himuro merendah. Dia ikut tertawa kecil.
Kagami menyakukan kedua tangan pada saku celana yang dikenakannya. "Dari dulu kau tidak berubah, ya, Tatsuya."
"Dari dulu?" Kuroko yang berdiri di samping Kagami memiringkan kepala untuk menatap partner-nya itu lebih jelas.
Pemuda dengan alis bercabang itu mengangguk. "Sejak di Amerika juga dia populer. Tidak hanya di kalangan cewek."
Himuro memandang orang yang dulu di Amerika selalu dijaga olehnya. Tersenyum enggan. "Tidak juga, Taiga."
"Aaargghh~ aku iri! Kenapa aku tidak dapat fans cewek yang banyak seperti kalian juga?" gerutu Takao menginterupsi sebelum Kagami sempat merespon sangkalan Himuro terhadapnya, iri karena kepopuleran Kise dan Himuro di kalangan kaum hawa. "Ya, kan?!" Mata elangnya melotot pada objek naas terdekat yaitu Furihata.
Objek yang dipelototi berjengit kaget, lalu buru-buru mengangguk menyetujui. "I-i-iya!" Tentu saja Furihata juga berpikiran sama seperti Takao. Pemuda yang memiliki mata menyerupai mata kucing ini bergidik. Perasaan seperti waktu silam tersebut kembali melingkupinya. Bagaimana bisa mereka mengobrol dengan kasual dan tidak menghiraukan atmosfer kental absurd yang menyelubungi sekitar?
Sudah tampan, keren, berbakat pada satu bidang, popular, terasa distan, terkesan agak ignoran, digilai cewek-cewek yang head over heels pada mereka … sungguh tidak adil—pikir Furihata merana.
PING!
"OI—" Aomine yang sudah kesal dengan kenyataan soal popularitas, dan siapapun ponsel yang berisik berbunyi itu benar-benar mengganggu ketenangan.
"Dai-chan!" Momoi memperingatkan.
"Su-su-sumimasen!" Sakurai mengeret ketakutan. Mata coklatnya membulat, berkaca-kaca dengan pelupuk digenangi airmata, "I-i-ini SMS dari Imayoshi-Senpai. Di-dia berpesan supaya me-merhatikan perkembangan Aomine-san dan membagi bekal yang kubawa—"
"—oh, oke."
"OKE?!" Spontan yang lain membelalakkan mata tidak percaya pada ganguro anomali yang mendengus malas dan memilih membaca majalah Horikita Mai edisi terbarunya.
"Selama Sakurai membagi bekalnya padaku, oke saja."
Momoi menatap tidak percaya pada ace timm Too tersebut. "Tapi aku sudah susah payah membuat bekal untukmu—"
"—cih, Nigou saja tahu apapun masakanmu tidak layak dimakan, Satsuki. "
"JAHAT! Dai-chan no baka!" Momoi menampar lengan tan yang terbalut jaket warna biru indigo itu. Segera dia menoleh pada Nigou yang inosen menjulurkan lidah di dalam tas selempang Kuroko. "Tidak begitu, kan. Nigou?"
"Auuuh~" Nigou jaga image, dia membuang muka.
"Nigou~!" panggil Momoi lagi. "Duh, ini gara-gara kau, Dai-chan!"
Aomine dan yang lain yang masih berkenan menyumbangkan tawa atau sekedar tersenyum. Membuat gadis satu-satunya di antara mereka itu merajuk.
Midorima yang dari tadi diam saja berdeham. "Ini sudah jam sembilan. Akashi dan Kagetora Kantoku mana, ya?"
Seketika tawa ditelan sepoi angin, senyum surut seperti matahari yang kian tinggi menapak hingga tahtanya di puncak langit.
Takao menghela napas pendek. "Shin-chan, kau memang ahli membunuh mood."
"Apa maksudmu, hah?!" Sepasang mata hijau itu menyipit di balik kacamata yang dikenakannya. "Aku hanya bertanya hal yang sebenarnya."
Kise tertawa pelan. Sebelah tangan dilarikan untuk menyisiri helai-helai berkilau rambut pirangnya. "Sudah biasa, bukan? Sepertinya Akashicchi suka dirinya ditunggu kita."
Murasakibara meraih bungkus camilan yang kelima. "Aka-chin tidak suka menunggu."
"Akashi itu benar-benar…" geram Aomine, berikutnya mendesah kesal.
Kuroko sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa Akashi itu sebenarnya yang selalu menunggu mereka. Hanya mengawasi saja dari kejauhan, setelah mereka berkumpul baru dia muncul. Belum ia menyuarakan sepatah kata pun tentang hal ini, Midorima kembali berkata.
"Oh, dia datang."
Pintu lobi utama terbuka secara otomatis . Keluarlah sosok yang mereka tunggu-tunggu. Kagetora diiringi kedua kapten tinas yang dibimbingnya. Sang pelatih mengatakan sesuatu entah apa pada sang kapten dewasa. Kapten timnas senior itu mengangguk beberapa kali, merespon beberapa kata, lalu membungkuk sekilas. Kagetora melenggang. Tinggal kapten timnas junior, kedua orang yang disematkan jabatan kapten itu berkonversasi beberapa saat, berjabat tangan secara formal. Hibiki sempat melambai sekilas dengan senyum ramah khasnya pada adik-adik di timnas junior, sebelum berlalu masuk kembali ke lobi. Sementara Akashi menyusul Kagetora menghampiri timnas junior yang baru terbentuk.
Akashi berhenti melangkah, di puncak undak tangga tertinggi. Sudut-sudut bibirnya terangkat menguntai senyum tipis yang terlihat dingin. "Maaf membuat kalian menunggu."
Semua mata tertuju pada sang emperor yang berdiri memandang ke bawah—rendah—pada semuanya. Menelusuri satu per satu bidak-bidak di papan catur kehidupannya dalam fase yang baru. Merasa puas karena semuanya lengkap, mata dwi warna-nya berpendar sesaat. Hingga bertumpuk pandang dengan satu makhluk yang menggigil karena kehadirannya.
Akashi langsung teringat momen reuni pertama Kiseki no Sedai setelah kelulusan dari Teikou-chuugakou. Bedanya adalah waktu itu dia mengusir secara halus persona polos dan naïf ini dari reuni mereka, serta melesakkan gunting pada partner—cahaya—Kuroko. Kalau sekarang, mengingat bahkan tidak hanya mereka berdua tergabung dalam tim ini, Akashi berbaik hati menampilkan seutas seringai.
Kuroko yang merasakan tatapan Akashi beredar satu per satu pada setiap personil timnas junior, berlabuh pada Kagami lalu Furihata—karena dia paling gemetar ketakutan, remaja bersurai langit ini pun menepuk lengan bahu Furihata. Kagami bahkan tidak ragu merangkul pemuda yang menggigil karena presensi emperor tersebut.
Sementara Furihata … hatinya komat-kamit memanjatkan doa pada dewa mana pun yang sekiranya akan mendengar doanya, siapa saja asal jangan kedua mata beda warna itu menatapnya. Dia seperti tersihir, meski di sisi lain hatinya menyadari bahwa ia takut diusir—hingga lidahnya kelu mencecap getir. Merasakan Kuroko dan Kagami ada di sisinya, tidak akan membiarkannya diintimidasi, ada sedikit lega sekaligus terbit kesan pada dirinya sendiri bahwa ia pengecut—karena ia tidak mampu berdiri sendiri di sini bersama orang-orang pilihan di tim terbaik.
"Semua sudah berkumpul?" tanya Kagetora.
"Sudah!"
"Ayo kita berangkat!"
"HAH?! KENAPA?"
Tidak mengherankan Kagetora mengajak mereka pergi. Penampilannya saja seperti turis hendak melancong. Lengkap dengan kacamata hitam bertengger menyelubungi sepasang mata coklat yang tajam di baliknya. Kecuali Akashi—yang entah kenapa selalu sudah tahu dan Kagetora biarkan saja, semua tidak ada yang berprasangka mereka tidak akan beraktifitasTokyo National Gym.
"Tunggu, kita tidak latihan di dalam gym?"
"Yah, tidak bisa latih-tanding dengan timnas Hibiki-san."
"Ish, aku merinding setiap ada Hayate-san."
"Terus kita mau kemana?"
"Padahal kata Kantoku performa timnas senior sangat luar biasa."
—dan seterusnya.
Ada harapan yang sama di hati mereka masing-masing. Ingin melihat kekuatan tim nasional Jepang yang sesungguhnya. Divisi muda rahasia yang dipimpin Kagetora, understudy, dan belum pernah diekspos pada dunia. Sengaja disiapkan khusus untuk berlaga di liga FIBA World Cup Championship kali ini. Oh, itu tim elit yang dipimpin oleh Hibiki dan ada si eksentrik mistis Hayate, serta ahli aerial battle yang cheerful, Sora.
"Masuklah ke bus yang itu!" Kagetora menunjuk sebuah bus kecil berantena parabola yang terparkir tak jauh dari mereka. Baru saja anak-anak muda di hadapannya hendak melayangkan protes, telapak kanannya membuka dan terangkat. Gestur tegas menolak menjawab semburan pertanyaan. Lalu mengibas-ibaskan tangan sebagai tanda agar mereka bergegas masuk ke dalam bus. Dilihatnya bocah-bocah merepotkan itu riuh-rendah protes dan mempertanyakan latihan mereka, Kagetora berdecak seraya melirik Akashi.
Akashi mengangguk kecil. Dia berdeham dan menuruni tangga perlahan. "Semua tidak akan terjawab jika kalian diam saja. Cepat masuk ke bus."
Sunyi.
"Hai'`~" Berat hati mereka menyeret langkah ke bus kecil berwarna putih bersih. Kaca-kaca jendelanya tampak bersih dengan intensitas gelap sekitar empat puluh persen. Tidak begitu terlihat apa yang ada di dalam.
Kagetora mendengus. Bisa-bisanya bocah-bocah merepotkan itu lebih menurut pada kapten daripada pelatih. Pria paruh baya itu yang terakhir masuk ke dalam bus. Dilihatnya tampak dalam bus yang sebenarnya sudah familiar baginya.
Bus dengan dua kursi penumpang di sisi kanan dan kiri, memanjang hingga enam baris ke belakang, dan khusus di baris paling belakang terdapat lima kursi penumpang berjajar. Gorden-gorden di sisi jendela berwarna krem dikaitkan ke tepi jendela. Air Conditioner yang dipasangi pengharum ruangan aqua itu menyerbakkan harum seseantero bus. Di antara dua pasang kursi penumpang pertama, sebuah televisi LCD lengkap dengan DVD player.
Kagetora meneliti posisi duduk murid-murid yang akan diasuh olehnya mulai hari ini. Wah, mereka duduk dengan posisi saling berjauhan satu sama lain.
Akashi duduk tenang di kursi paling depan sebelah kiri—blok Barat. Maka Kagetora memutuskan untuk duduk di bangku kosong belakang supir bus blok Timur. Di belakang Akashi ada Midorima, di belakang Kagetora ada Takao.
Di belakang Midorima ada Murasakibara yang sudah duduk nyaman dan membuka perbekalan camilan seraya mengunyah maiubo. Di sisi seberang pemuda terlampau jangkung itu, tepat di belakang Takao ada Himuro. Kemudian berturut-turut di belakang Himuro ada Sakurai lalu gadis satu-satunya yang merupakan manager timnas junior tersebut. Berturut-turut di belakang Murasakibara ada Aomine lalu Kise. Di deret terakhir, di pojok paling kiri ada Kagami—persis di belakang Aomine. Posisi duduk ini benar-benar mengkhawatirkan. Satu spasi di sebelah Kagami, ada budaknya Akashi—Furihata, satu spasi lagi orang terakhir yang tersudut di kanan belakang, Kuroko.
Dan kenapa mereka semua duduk dekat jendela? Berjauh-jauhan? Oh, bagus.
Semoga mereka tidak berperang dalam bus. Semoga.
Kagetora memerintahkan supir untuk menuju ke tempat tujuan. Roda-roda bus menggelinding, melaju meninggalkan kawasan vital olahraga di Jepang tersebut. Tidak peduli dengan keheningan yang mencekam, ia meraih remote yang disodorkan oleh supir bus, menyalakan televisi. Channel olahraga internasional yang rajin ditonton oleh Riko dan dirinya setiap sarapan pagi tengah menayangkan acara berjudul "Slam Dunk".
Ini terdengar seperti nama manga dan anime tertentu. Namun bukan. Ternyata acara tersebut kali ini mengulas tentang FIBA World Cup Championship. Kagetora melayangkan pandangan. Diam-diam tersenyum geli menyadari remaja-remaja itu yang semula berdiam-diaman kini terfokus perhatiannya menonton televisi. Oke, memberikan bocoran dan sedikit pandangan masa depan tidak akan terlalu menyakitkan.
Tak ada yang memerhatikan perjalanan atau bus membawa mereka kemana. Benar-benar serius menonton tayangan tersebut. Hingga ada kilas potongan-potongan adegan luar biasa ketika tayangan tersebut masuk ke kategori "Youth" dengan pajangan piala emas putih "Hall of Fame". Adegan-adegan itu yang membuat mereka terkagum-kagum. Entah mendesah, berdecak, bersiul, mulut ternganga, atau pun berbinar matanya karena terpesona.
Sepuluh orang pemuda berkebangsaaan asing, tampan, proporsi tubuh proporsional, kekar, tampak kuat dan terlatih. Ada dua tim yang bertarung sama imbang luar biasa. Sekali pandang saja, bahkan mata awam pun pasti tahu kualitas setiap pemain tersebut lebih dari pemain basket professional semata.
"AND HERE THEY ARE! The most favourite team and possible winner of FIBA World Cup Championship: Youth. Prodigy, genius, young … Generation of Miracles!
"—cih." Kagetora mengangkat remot televisi.
"—they will beat every opponent over with their waves of miraculous. They will become number 1 in the world soon!"
KLIK!
Sunyi.
"KENAPA TEVE-NYA DIMATIKAN?!" raung protes menggema dalam bus.
Lantas Kagetora berdiri dengan sebelah lengan kirinya bertumpu pada sandaran kursi tempatnya duduk. Mantan anggota timnas basket Jepang itu menghadap bocah-bocah merepotkan yang memasang ekspresi sebal—entah itu kentara atau tidak—kepadanya. Benar-benar kekanak-kanakkan. Mereka merajuk.
"Karena aku tidak suka menonton mereka," lugas Kagetora menjawab.
Sedepa jeda.
"Generation of Miracles … Kiseki no Sedai?! Apa-apaan itu?" Takao menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Mereka meniru kita, nanodayo. Picik." Midorima mendengus rendah sembari membenarkan letak kacamatanya.
Sakurai terhenyak di bangkunya. "Mereka terlihat sangat hebat, ya."
Murasakibara melanjutkan kunyahan yang tadi sempat tertunda, menelannya lalu berkata, "Mereka tidak pelangi seperti kita."
"HAHAHA~ kalian itu KUSO NIJI NO SEDAI—"
Twitch.
"KISEKI NO SEDAI-SSU! Berapa kali aku harus memberitahumu, Kagamicchi?!"
Furihata memosi poin penting dengan celetukan inosen, "Ta-tapi kau sekarang juga tergabung dengan Kiseki no Sedai, Kagami … eh, jadi kau 'kuso' juga?"
"KUSO FURIHATA!" Kagami refleks melayangkan tangan untuk menjambak rambut Furihata dan mengacak-acaknya sebal.
"Hiiii! Kan kau duluan yang bicara soal Kiseki no Sedai!" Furihata meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Kagami. "Kuroko, tolong akuuuu!"
"Kagami-kun, sudahlah. Kasihan Furihata-kun tidak bisa bernapas." Kuroko menarik Furihata semampunya.
Aomine menaiki kursinya lalu berbalik dan menubruk sandaran kursi tempatnya duduk, sanggup membuat Kise berjengit dan merapat ke tepian jendelanya—karena Aomine seakan menaunginya. "Pikir dulu sebelum kau bicara, Kusogami!"
Kagami melepaskan Furihata—menyebabkan pemuda itu jatuh terjungkal akibat tarikan Kuroko, ia balas melotot sengit pada Aomine. "Aku tidak mau dengar itu dari orang sepertimu, Ahomine!"
"Aduh, aduh, jangan berdebat di antaraku begini—" Kise panik karena Aomine dan Kagami yang menjadikan bangkunya sebagai pembatas sebelum mereka benar-benar saling cekik satu sama lain.
"Ya Tuhan, Tetsu-kun, Furin … kalian baik-baik saja?" tanya Momoi khawatir dari balik kursinya. Sepasang lensa merah muda dengan bulu mata lentik itu memandang cemas pada Furihata yang jatuh terjungkal dan kini terperosok ke lantai, serta Kuroko yang terjerembab ke kursinya sendiri.
Kuroko mengulurkan tangan untuk membantu Furihata bangun. "Tentu saja. Bagaimana dengan kau, Furihata-kun?"
Menggumam entah apa, Furihata mengangguk lesu. Dia membersihkan debu yang sekiranya melekat pada bajunya, lalu kembali duduk di kursinya. Tepat ketika ia mendongak, ditemukannya Himuro memandang geli kepadanya, Momoi masih menatapnya campuran antara cemas dan kasihan. Jadilah ia kembali menundukkan kepala, menghela desah, mengepalkan tangan yang dijejalkan pada saku jaketnya.
Di sisi lain, Takao menertawakan keributan antara Kagami, Aomine, dan Kise—yang mencoba melerai tapi jelas gagal total. Barulah disadarinya Midorima menerawang tenang ke luar jendela dan tampak tidak terpengaruh. Padahal setahunya Midorima paling anti pada segala sesuatu yang berisik. Sekerjap mata elangnya menangkap sesuatu di telinga yang tertutupi surai-surai klorofil. Takao yang penasaran bergegas menghampiri partner-nya itu, menelisik setajam elang. Oh, ternyata ada sesuatu yang menyumpal telinga kawan tsundere-nya. Tanpa tedeng aling-aling Takao menariknya lepas.
Suara-suara riuh menginterupsi ketentaraman Midorima. Oh, bukan. Ada yang menggelitik telinganya—
"Biar kutebak. Penyumbat telinga untuk lucky item hari ini, 'kan, Shin-chan?"
Takao nyengir nista.
"BAKAO! Kembalikan!"
Namun pemuda yang lebih rendah tingginya dari Midorima itu hanya memutar kedua bola mata bosan. Tidak terpengaruh dengan murkanya Midorima, bahkan ketika tangan sang shooter Kiseki no Sedai itu berupaya merebut balik lucky item-nya, Takao menyingkirkannya. Matanya berpendar, jahil. Dia melemparkan penyumpal telinga itu pada Sakurai. "Hei, tangkap!"
Sakurai gelagapan. "Su-sumimasen!" Beruntung ia berhasil menangkap sumpalan telinga yang dioper Takao. "Ma-ma-maafkan aku, Midorima-san!"
Midorima mendesis. Takao sigap menghindar lari dari Midorima yang kentara hendak meringkusnya. Tertawa laknat. Pemuda bersurai hijau itu memburu Sakurai. Shooter dari Too itu komat-kamit ketakutan. Refleksnya yang cepat membantu pemuda itu untuk melempar ke Takao di sentral bus, makhluk usil itu mengopernya lagi ke Himuro yang paling dekat.
Himuro terkejut. Dia sempat memerhatikan benda aneh yang dilempar Takao padanya. Dilihatnya Takao membelakangi temannya sendiri, memblokingnya, seraya berseru, "OPER PADA SIAPA SAJA SELAIN SHIN-CHAN!"
Pemuda yang lama di tinggal Amerika itu mengerjapkan mata sekali. Sejujurnya tidak mengerti. Takao dijegal Midorima, barulah ia paham apa yang harus dilakukannya. Ketika ia terpojok di bangku, Himuro menjadikan kaki kirinya sebagai tumpuan pada bangku dan kaki kanan sebagai poros berdiri. Midorima yang marah berusaha merebut kembali lucky item-nya. Himuro melakukan gerakan tipu muslihat. Tak disangkanya itu berhasil. Teroper sempurna pada Murasakibara.
"Apa ini, Muro-chin? Snack?" Murasakibara meneliti benda yang berada dalam genggaman tangan besarnya.
"Jangan dimakan, Atsushi! LEMPAR!"
"BUANG SAJA!"
"BERIKAN PADAKU, MURASAKIBARA! JANGAN DENGARKAN TAKAO ATAU HIMURO!"
Murasakibara melihat Midorima kian garang siap menerjangnya. Santai dan tanpa rasa bersalah melemparnya asal sejauh mungkin, sebelum merogoh isi bungkusan keripik kentangnya.
PLETAK!
"ADUH!" Kagami kena lemparan inosen Murasakibara. Diperhatikannya sejenak benda apa yang dibuang Murasakibara. Tak tahu benda apa itu, dijejalkannya pada Furihata. Pemuda itu tensinya kian bergejolak. "Oh, jadi kau mengajakku ribut juga, Murasakibara?!"
"Kau marah?" Murasakibara tersenyum tipis, malas nan menghina. "Tak ada maaf."
"GRRRH … KAU!" Kagami menudingkan jari telunjuknya pada pemuda yang diduga mengidap gigantisme itu.
"KAU BODOH, KAGAMI!" Midorima mendampratnya seraya bergegas menghampirinya. "Kau hilangkan kemana lucky item-ku?!"
Meraung frustasi, Kagami melotot pada Midoriima. "INI LAGI! Siapa peduli dengan lucky item sialan, heh?!"
Furihata yang dari tadi memerhatikan seisi bus menyadari bahwa benda—seaneh apa pun itu—yang diberikan Kagami barusan padanya adalah lucky item pemuja Oha-Asa itu, buru-buru menyerahkannya pada Kuroko.
Kuroko yang cukup observan dengan situasi menyahut. "Midorima-kun, tenanglah. sudah aku oper kembali barangmu pada Takao-kun."
"MANA?!" Midorima mengedarkan pandangan dengan penuh kalkulasi. Dia cukup yakin Kuroko memakai misdireksi untuk mengopernya kembali pada Takao. Ditolehkannya kembali pada entitas pengganggu ketentraman hidupnya itu.
Takao membelalakkan mata. "Sumpah, kau tidak bisa percaya padanya, Shin-chan! Kuroko tidak—"
"BAKAO!"
"Bukan aku, Kuroko menipumu!"
PLETAK!
"Apa ini?!" Aomine menangkap benda nista yang tersasar—sebenarnya dengan misdireksi Kuroko—menimpuk dahi dimnya. Diraihnya benda berbentuk oval mungil warna oranye itu. Sebal karena sesi ributnya dengan Kagami terganggu, dihempaskannya benda itu sesukanya.
"Aduh!" Kise meringis karena lucky item Cancer hari ini itu menabrak dahinya, lalu menangkap penyumpal telinga itu. "Kau tidak perlu melemparkannya padaku, Aominecchi!" serunya seraya mengusap-usap dahi. Turut tertular kesal karena situasi dan kondisi seperti medan perang, dilemparkannya benda malang tiada dosa itu ke seberang kursinya.
"Ya Tuhaaaaaaan!" Takao disandera oleh lengan panjang Midorima, dipiting lehernya hingga sesak napas. "Siapapun itu, kumohon kembalikan lucky item Shin-chan—uhuk!"
Momoi menemukan objek yang sedari tadi jadi kontroversi dan berpindah-pindah tangan, suci namun dinodai, akhirnya memungut benda tersebut. "Midorin, tenanglah! Ini lucky item-mu, 'kan?"
Midorima menatap Momoi. Sebelum mendengus dan melepaskan Takao lalu menerima ulurann lucky item-nya, tidak menyembunyikan ekspresi leganya. "Terima kasih."
"Terima kasih kembali," tanggap Momoi ringan.
"Aku nyaris mati … huhuhuhu … apa lucky item lebih berharga dari nyawaku, Shin-chan?!" protes Takao yang menghempaskan diri di sisi Sakurai.
Midorima melakukan tapping untuk membenarkan letak kacamatanya. "Tentu saja." Ditatapnya Takao geram. "Kau akan kusiksa."
Takao hanya memutar kedua bola mata.
"Lucky item? Dasar maniak." Dengusan rendah serta cetusan Aomine itu sukses membuat urat-urat di dahi yang tertutupi surai hijau itu berkedut mendengarnya.
"Su-sumimasen, Midorima-san … aku tidak bermaksud membuatmu kesal."
"Heee~ tidak usah minta maaf pada Shin-chan. Dia memang selalu kesal."
"Oooh … lucky item-nya kelihatan kayak makanan."
"Tapi itu bukan snack, Atsushi."
"Heh, siapa peduli pada benda keberuntungan?"
"Kagamiiiii! Jangan makin memperburuk suasana!"
"Memang sudah buruk dari awal, Furi—ADUH! KUROKO TEME!"
"—sssh. Diamlah, Kagami-kun. Midorima-kun, otakmu pintar tapi terkadang bodoh juga."
"Hahahaha~ aku setuju dengan Kurokocchi!"
"—Sudahlah! Jangan ganggu Midorin terus—"
"Kalian benar-benar cari ribut, NANODAYO!"
"—HM."
Deham.
CKRIS.
Ya Tuhan.
Semua mendadak kaku. Gerakan patah-patah robotik menoleh pada suara gunting yang dibuka-dikatup dengan deham rendah memperingatkan. Beberapa pasang mata menoleh pada sumber suara, entitas yang absolut membungkam semua keributan. Berdiri tepat di belakang Midorima. Menatap mereka penuh perhitungan. Mata dwiwarnanya mengeborkan tatapan tajam yang dibalas tak kalah sengit dari rekan-rekan setimnya sekarang.
"Berhenti bertingkah kekanak-kanakkan." Akashi berkata tenang, namun nada datarnya menyisipkan dingin yang seakan merayapi tengkuk para pendengarnya. Semua kesengitan mengepul tatkala gunting merah dipermainkan sang emperor di tangannya. "Kalian tahu harusnya kita punya sesuatu yang lebih penting untuk diperhatikan, daripada apa yang kalian ributkan barusan."
Mereka semua yang kini berada di pertengahan bus hingga ke belakang, mengikuti arah pandang Akashi yang menoleh ke belakang. Pada Kagetora yang bertopang dagu pada sebuah sandaran kursi, memantau mereka dengan tatapan menilai. Ditatap oleh insan-insan muda dengan intensitas yang jika ia adalah orang biasa telah berlari terbirit-birit. Pelatih basket ternama itu mengesampingkan perasaan tak nyaman atas asumsi yang telah dikhawatirkannya belum apa-apa sudah terjadi.
"Generation of Miracles … siapa mereka?" tanya Satsuki, mewakili pertanyaan karena penasaran yang serupa bercokol di benak masing-masing.
Kagetora menghembuskan napas panjang. "Kalian semua duduk baru aku jelaskan."
Akashi berjalan perlahan, duduk di sisi Momoi yang mengangsurkan senyum manis padanya. Aomine pindah duduk di sebelah Kise—menyerobot tempat yang akan diduduki Midorima, kesal Midorima memutuskan duduk di pojok kursi barisan terbelakang di sebelah Kagami—dan ace tim Seirin tersebut tanpa ragu menggeser Furihata agar terbentang jarak aman dari shooter terbaik itu. Murasakibara malas-malasan beranjak ke sisi Himuro.
Melihat semuanya merapat dan sudah duduk manis di kursi masing-masing, Kagetora berjalan mendekat seraya menyisiri rambut dengan sebelah tangan. Ditatapnya satu per satu setiap muridnya yang perhatian terfokus padanya.
"Jangan bilang tidak satu pun dari kalian mengetahui Generation of Miracles," Kagetora memulai percakapan dengan sindiran.
"Generation of Miracles … bintangnya tim bola basket sedunia yang seangkatan dengan kita, sangat populer," cetus Akashi yang menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
Himuro memiringkan posisi duduknya untuk menatap Kagetora lebih jelas. "Tim dari Amerika yang dibina secara khusus oleh NBA karena talenta mereka. Para pemainnya dijuluki jenius dan jadi perebutan tim-tim di seluruh dunia untuk direkrut."
"Aku baru tahu," sahutan inosen Kagami disetujui dengan dengung gumam dari yang lainnya, "dan kenapa selalu kalian berdua tahu banyak hal, Akashi, Tatsuya?"
Sepasang mata heterokromatik itu berputar bosan. Menyeringai merendahkan. " Kalian hanya terlalu egois dan naif untuk sekedar up to date informasi sesepele itu."
Dengusan mengudara. '—kata seseorang yang paling egois,' batin kompak timnas junior mengumpati kapten mereka. Namun tiada seorang pun berminat menanggapi perkataan Akashi.
"Aku diberitahu teman-teman di Amerika," jawab Himuro tenang.
"Kantoku, apa mereka bersekolah di satu sekolah menengah pertama yang sama?" tanya Takao. Cengirannya terbit mengerling mantan personil Kiseki no Sedai yang mendelik padanya.
Kagetora mengangukkan kepala. Menimbulkan pekikan "USOOO!" atas jawabannya itu. "Setahuku begitu. Namun mereka tidak pernah bermain basket pada masa itu, barulah setelah masuk sekolah menengah atas mereka baru bergabung di tim basket. Kemenangan sensasional mereka menyita perhatian publik dan membuat NBA merekrut mereka secara sukarela. Kelanjutannya kalian tahu sendiri hingga sampai seekstrim ini popularitas mereka. Dari cuplikan tayangan barusan, kalian bisa langsung mengerti kemampuan mereka tidak main-main—karena itulah nama mereka Generation of Miracles."
Sedepa jeda.
"Mereka bukan satu-satunya tim hebat skala internasional—" sela Sakurai.
Beberapa dari mereka mengangguk samar menyetujui si pemuda yang suka meminta maaf itu.
"Betul. Tidak hanya tim Generation of Miracles, masih ada puluhan tim terbaik lain yang nyaris membandingi mereka. Bagaimana pun ini kelas internasional." Kagetora bersidekap. Gurat serius mengental di airmukanya.
"—memang Generation of Miracles sepertinya sangat luar biasa. Namun apa keistimewaan mereka yang membuat mereka dielu-elukan sampai seperti itu?" Satsuki melontar pertanyaan. Matanya yang jeli bersinkronisasi dengan otak cemerlangnya menganalisis aksi GoM di cuplikan acara Slam Dunk tadi.
Salah satu sudut bibir Kagetora naik, mengulas senyum yang bermakna ironi. Sedih seakan menertawakan diri. "Karena mereka baru pertama kali bermain basket saat di sekolah menengah atas. Mereka masih amat pemula memulai debut di sebuah SMA biasa-biasa saja yang tak punya reputasi apa pun tentang basket. Namun tak lama mereka melejit bagai bintang jatuh yang berubah jadi matahari.
"Pikirkan oleh kalian. Mereka baru bermain basket saat SMA dan langsung menjadi top star team dalam waktu singkat—tak bisa dipungkiri benar-benar terlahir sebagai jenius." Kagetora memutar keedua bola matanya. "Atau begitulah yang diberitakan. Bisa saja mereka under-study yang dirahasiakan kejeniusan dalam bermain basketnya." Sesaat pria ini membuang pandang ke luar jendela bus.
"Kedengaran seperti aku. Baru bermain basket langsung jadi pemain hebat—" Kise tertawa inosen. Ketika tak ada yang menanggapinya, sang model ternama mengedarkan pandangan. Mengerjap-ngerjapkan mata ketika menyadari seluruh mata tertuju padanya. "—ada yang salah?"
"Tsk—" Aomine menjitak kepala Kise yang direspon dengan rajukan pemuda bersurai pirang itu, "—jangan bilang begitu kalau kau masih dikalahkan oleh yang lain."
"AKU TIDAK MAU DENGAR ITU DARIMU, AOMINECCHI!"
Aomine mendorong kepala Kise yang menyemburkan rajukan, menjauh darinya. "Berarti jika benar begitu, mereka sama saja seperti Kise. Bukan masalah besar."
"Lagipula sejenius apa pun mereka, tidak berarti kita bisa terintimidasi oleh para pemain yang masih hijau dan bukan veteran." Midorima secara tak langsung menyetujui perkataan Aomine.
"Baguslah. Akan membosankan kalau mereka hanya pemain biasa saja. Tidak memuaskan untuk dihancurkan," sahut Murasakibara dingin yang membuka bungkus maiubo ke sepuluh sejak mereka masuk ke dalam bus.
"Semoga semua yang dielu-elukan tentang mereka memang benar." Akashi melirik pada anggota-anggota timnya satu per satu. "Akan amat mengecewakan jika benar ternyata mereka hanya jenius pemula." Seringai sadisnya terkembang.
Kuroko merasakan napasnya tertahan. Sesak dalam dada melesak. Kata-kata mantan rekan-rekan setimnya di Teiko Chuugakou dulu terdengar amat familiar. Arogansi yang diliputi kepercayaan diri. Harusnya selama berhari-hari sebelum hari ini, ia tidak usah menaruh harapan. Tidak perlu menggantungkan harapan akan adanya perubahan signifikan mengenai polah mereka. Kebiasaan, watak dan tingkah laku amat sulit diubah—tidak akan semudah membalikkan telapak tangan kendati telah ditampar kenyataan.
Baru ketika pemain dengan nomor punggung sebelas di tim Seirin itu hendak menukas perkataan yang lainnya—
"Tsk. Kalian benar-benar KUSO NIJI NO SEDAI. Berani bertaruh kalau sombong bisa menggelembung di kepala, kalian sudah kena hypothalamus. "
—Kagami sudah keburu berujar dengan mata krimson terpicing tajam, menyiratkan ketidaksukaan mendalam atas sikap Kiseki no Sedai.
Sunyi.
"Ya Tuhan, Kagamicchi, kau tidak usah hypocrite begitu—kau juga sama seperti kami—kalau mengingat gelar 'Kiseki no Sedai' saja tidak bisa—ssu!" omel Kise gemas.
"Bakagami, tidak perlu pakai istilah sok keren begitu kalau hypothetanus saja kau tidak tahu!" ejek Aomine dengan tatapan menghina.
"Berani taruhan Kaga-chin tidak tahu apa itu hypothermia." Murasakibara turut serta memojokkan Kagami, menyeringai malas seraya memandangi alis bercabang yang lucu berkedut-kedut itu.
"ASTAGA, KALIAN INI BENAR-BENAR—" Kagami merasakan urat-urat di dahinya berkedut memanas.
Perdebatan part sekian terjadi lagi.
Midorima yang teringat ramalan Oha-Asa bahwa cancer akan sial hari ini lagi-lagi memuji—memuja—kebenaran ramalan bintang setiap hari itu. Oha-Asa tidak pernah salah. Seharusnya ia tetap memakai penyumbat telinga dan mengungsikan diri demi mencari secercah saja ketenangan tanpa diusik sama sekali. Dia berdiri, mata hijaunya berkilat sebal di balik lensa kacamata bening. "BAKA, NANODAYO! Kepala menggelembung itu HYDROCHEPALUS! Pikir dulu kalau mau bicara!" tandasnya pedas.
"Oh, sasuga Shin-chan! Aku saja tidak tahu." Takao tertawa lagi.
"EEEH?" Para pemuda yang bertengkar melongo.
"Hypocrite itu artinya munafik," Himuro mengoreksi dengan senyum palsu—karena matanya menyiratkan geli merendahkan mereka yang berdebat tiada arti.
Beberapa malah langsung beranggapan bahwa pemuda ini munafik—membuat semua yang melihatnya langsung tahu bahwa pemuda dengan tahi lalat tepat di bawah mata itu pun ahli memalsukan ekspresinya sendiri.
"Sumimasen … hypothetanus itu apa?" Sakurai bertanya takut-takut. Dia tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya. Yang lain pun mengangguk menyetujui.
"Ka-kalau tidak salah, hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan untuk mengatasi tekanan suhu digin. Jadi suhu tubuh yang turun drastis dari suhu normal pada umumnya," Furihata ragu-ragu ikut menimpali membuat yang lainnya terkejut. Orang yang ceritanya dijadikan asisten timnas junior ini menyadari makna pandangan mereka—tak menyangka dia akan mengetahui soal hipotermia. Sejujurnya, ia tahu hal-hal yang disebutkan secara random oleh Kiseki no Sedai—meski kemampuan akademisnya biasa-biasa saja namun pengetahuan umumnya tidak sesempit itu mengingat dia punya hobi membaca.
Kuroko menatap datar pada para pemuda kekanak-kanakkan yang masih memandangi Furihata. Sejujurnya tidak semua "hypo-hypo" yang disebutkan ia ketahui seluruh artinya. Namun airmukanya tetap setenang permukaan air dalam danau. Tak ada riak, kendati hati bergejolak. "Jangan bicara dengan kata-kata yang kalian tidak tahu artinya."
"Hei, kau—"
Momoi yang duduk di sebelah Akashi mengetahui kapten tim mereka itu bisa saja menghabiskan persediaan guntingnya untuk ditancapkan pada mata para pemain lainnya. Mencegah hal tersebut karena aura mengerikan yang menguar dari tubuh Akashi, buru-buru gadis ini menyelamatkan nyawa teman-temannya dengan berkata, "Sudahlah! Kalian bisa tidak berhenti bertengkar sebentar saja? Topik kita tentang calon musuh kalian: Generation of Miracles."
Mendengar Momoi mengatakan hal yang benar membuat mereka bungkam. Dalam hati beberapa berterimakasih karena yang mengatakan hal tersebut adalah Momoi—seorang gadis. Jika tidak, bisa dipastikan akan terjadi keributan lagi—entah bagaimana caranya tapi tiba-tiba saja terjadi.
Keheningan yang sempat singgah dipecahkan oleh Akashi yang satu-satunya masih memfokuskan perhatian pada Kagetora. Satu pertanyaan yang sedari tahun lalu mengendap dalam benaknya dilontarkan pada pelatih baru mereka.
"Kagetora Kantoku, bagaimana perbandingan kemampuan antara Generation of Miracles dengan Kiseki no Sedai?"
Kagetora mendengus geli. Mata menyipit, sorotnya bersimpati dalam—dipulas seulas sedih. Sekelibat memori jernih dalam hulu ingatannya, bermuara pada hilir kenangan yang memicu kilas balik. Dia teringat rapatnya dengan teman-teman mantan setimnya dulu yang sekarang merupakan para pelatih bocah-bocah di hadapannya—terjadi tepat sebelum perekrutan timnas junior.
Dia masih ingat. Jelas. Kuat.
Pria paruh baya bermarga itu tidak lantas menjawab. Tidak tahu tindakannya tersebut menandang tegang dan penasaran. Ia menjawab pertanyaan Akashi dengan kibasan tangan. Segaris senyum, miring di wajahnya.
"Aku tidak tahu perkembangan kemampuan kalian yang sekarang—" Dilihatnya ada yang akan menyela, namun ia keburu mengangkat tangan. Tidak ingin perkataannya dipotong. "—jadi kurasa aku tidak bisa menjawab dengan pasti. Tapi, kalian akan mengerti—"
"Kagetora-san, kita sudah sampai!" seruan supir bus menginterupsi perkataan ayahanda dari pelatih tim basket Seirin tersebut.
"—ah, ayo kita turun." Kagetora membalikkan badan, berjalan menuju bangkunya untuk mengambil barang-barangnya.
"KANTOKUUUU!" gemas murid-murid barunya dengan beragam ekspresi. Merasa dipermainkan dan diberi harapan palsu untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan Akashi.
Sesulit itukah menjawab pertanyaan sederhana kapten mereka?
"Akashi, bawa turun mereka dari bus dengan tertib dan tidak ribut!" perintah Kagetora seraya melenggang membawa tas jinjing berat karena terisi penuh. Tepat sebelum turun bus dia teringat seseorang. Senyumnya melebar sedikit. Dia menoleh pada objek yang diingat olehnya. "Furihata, kemari! Bawa ini!"
'—YA AMPUN PELATIH BOSSY!' Maka pemikiran ini terbit begitu saja dalam benak masing-masing.
Furihata meraih ranselnya dan bergegas menghampiri Kagetora. Berjengit ketika di saat yang sama Akashi berdiri dan pandangan mereka bertemu. Buru-buru dia memacu langkah, mengambil tas yang berat membuntuti Kagetora keluar dari bus sembari mengusap-usap tengkuknya.
"Kurasa aku tidak perlu mengulang perkataan Kantoku," kata Akashi tenang. Dia berjalan ke bangku yang sebelumnya diduduki olehnya untuk mengambil ransel. Dilihatnya anggota-anggota timnas junior sedikit heboh dalam pergerakan namun tak ada yang bersuara—mengetahui mereka tidak akan lolos dari intaian maut emperor-eyes.
Tepat saat semua telah turun dari bus dan supir berpamitan—bilang dia akan menjemput mereka lagi nanti, tak ada yang tak mendongakkan kepala pada dan berseru kaget. Kagetora berdecak. Percuma saja memberitahu tim bocah-bocah berandalan ini agar tidak ribut.
"TOKYO SKY TREE?!"
Hanya terpaut sekian jarak dari pintu masuk menara baru Tokyo tersebut. Berdiri menjulang kokoh setinggi 634 meter dari bumi di jantung Negara Jepang, simbolisasi segala asa dan mimpi. Yang dulu para pemrakarasa dan penciptanya hanya menera menara ini pada angan hingga mencapai pucuk awan. Tampak menakjubkan mengundang decak kagum ketika dilihat dari dekat. Terlebih dari mereka yang baru pertama kali melihatnya.
Tokyo Sky Tree adalah salah satu kawasan pariwisata yang tak pernah sepi pengunjung. Objek wisata yang selalu dikunjungi turis domestik maupun mancanegara. Terlebih di akhir pekan seperti hari ini. Orang-orang tampak berlalu-lalang memadati wilayah di sekitar Tokyo Sky Tree. Adalah hal yang lazim mendengar suara flash atau shooter kamera ditekan—tidak menyia-nyiakan momen berharga menyinggahi menara yang juga memiliki fungsi sebagai menara komunikasi serta sebagai satelit pemancar gelombang elektronik.
…jadi, apa hubungannya dengan basket?
Sekagum apapun mereka pada Tokyo Sky Tower, tak seorang pun melupakan basket. Baru saja hendak melancarkan protes—seperti biasa, Kagetora tenang berjalan mendahului mereka. Memberikan gestur murid-muridnya untuk mengikutinya. Tahu Kagetora tak akan menjawab secara verbal, patuh mereka mengekori sang pelatih.
Kagetora sudah berulang kali ke Tokyo Sky Tower. Entah itu berkaitan dengan pekerjaan, ritual dengan pelatihan divisi basket rahasianya, atau sekedar hiburan mengajak putri tercintanya berpelesir bersama. Tapi ini pertama kalinya ia menyadari presensi gerombolan yang dibawanya merengut hampir seluruh atensi.
Mantan pemain basket terbaik pada masanya itu memandu timnas junior Jepang ke samping bangunan Tokyo Sky Tower yang bersisian dengan taman rindang diriuhi burung-burung gereja serta anak-anak kecil berlarian hendak menangkap makhluk-makhluk aves itu. Disuruhnya mereka menaruh barang di sebuah bangku kayu dan meja bebatuan panjang, lalu berbaris rapi tiga berbanjar—termasuk Furihata yang awalnya hendak duduk bersama Momoi untuk menjaga barang-barang mereka.
Kagetora sedang merogoh saku celana training berwarna krem yang ia kenakan, —dengan mata mengawasi para bocah labil yang berbaris rapi tiga berbanjar. Didengarnya mereka saling berdebat satu sama lain perihal tujuan ke Tokyo Sky Tower serta kaitannya dengan basket. Setelah memastikan benda itu aman untuk digunakan nanti, ia meraih ponsel dan memutuskan untuk menghubungi seseorang.
"—menurutku—" Suara si bocah ahli penembak tiga angka itu terdengar, "—Akashi pasti tahu sesuatu."
"—oh, benar." Lirikan mata kini terarah jelas pada Akashi yang berdiri tenang dengan Kise berbaris di belakangnya.
Akashi menyeringai. "Tentu saja. Aku datang pertama—karena Kagetora Kantoku menelepon memintaku untuk datang lebih awal ke Tokyo National Gym. Dia memberitahu kita akan ke Tokyo Sky Tree."
Ah, ternyata bukan Akashi yang datang paling akhir saat berkumpul tadi. Benar dia datang paling pertama. Namun itu saja tetap tak memuaskan rasa penasaran mereka—
"Untuk apa kita datang ke sini? Bukankah kita harusnya berlatih basket, Akashicchi?" tanya Kise tepat di belakang sang kapten yang jadi pusat perhatian.
Sepasang mata bermanik merah dan emas itu menggulirkan pandangan, menelusuri satu per satu setiap anggota timnas junior. Tidak ada yang mengalihkan perhatian darinya. Puas, Akashi menjawab, "Tiga minggu yang lalu, Kagetora Kantoku tidak mengatakan kita akan berlatih. Kalian tidak ingat apa yang dikatakannya?"
"Kalau tidak salah, dia bilang tanggal enam Mei hari Sabtu kita akan difasilitasi antar-jemput sekolah untuk ke Tokyo National Gym," jawab Kise yang jelas memorinya masih cukup baik.
"Benarkah? Aku ingat dia bilang kita harus mengenakan baju yang nyaman untuk bermain basket." Takao menanggapi perkataan Akashi.
"Kagetora Kantoku juga menyuruh kita membawa perlengkapan biasa untuk bermain basket." Sakurai tidak menyadari perhatian berpindah sekilas dari Akashi padanya—mereka bertanya-tanya mengapa Sakurai tidak lagi mengawali perkataannya dengan 'sumimasen' dulu.
Himuro pun mengingat apa yang masih diingat olehnya waktu pertemuan terakhir mereka. "Dia bilang ini pertemuan resmi pertama kita, dan dia ingin berkenalan."
"Dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore nanti. Tsk. Lama." Murasakibara memutar kedua bola matanya bosan.
Midorima membenarkan letak kacamatanya, berkata serius, "Kagetora Kantoku bilang dia punya peraturan selama kita berlatih dengannya yang akan diberitahukan hari ini."
Terdengar decakan dan desahan yang tidak diketahui artinya. Mereka mulai mengkhawatirkan hal tersebut—terlebih mengingat seringai sadis yang terpampang di wajah sang pelatih.
"Oi, Seirin pernah berlatih dengan dia, 'kan? Apa peraturannya?" Aomine melayangkan pandangan pada satu baris tim Seirin.
Kagami mengedikkan bahu. "Aku tidak pernah berlatih dengannya."
"Tidak ada yang khusus," sahut Kuroko tenang, "displin, rajin, kerja keras … hal-hal yang umum. Tapi, aku ingat Kagetora Kantoku bilang dia akan membawa kita menuju puncak tertinggi dengan seribu satu basket."
"AH!" Mereka kembali menatap Akashi yang mengangguk sekilas.
"Aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan di sini. Tapi tentu puncak tertinggi selaras dengan Tokyo Sky Tower—bangunan tertinggi di Jepang. Mengenai tujuan dan hubungan dengan basket … aku punya dugaan namun belum pasti," tutur sang kapten. Tidak ada yang seratus persen memercayai penuturan Akashi—tentu saja, mengingat pemilik emperor satu itu selalu berkata dengan ambigu, dingin, dan minim kosakata.
Furihata yang menyadari Kagetora telah selesai menelepon seseorang berkata entah apa pada Momoi. Kemudian berbalik untuk menghampiri mereka. Melihat sebelah tangan yang tersimpan di saku celana dan siluet menggembung di dalamnya, ia langsung menyadari apa benda tersebut. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dengan suara direndahkan, ia menjawil Kuroko dan berkata, "Sepertinya Kagetora Kantoku akan melakukan hal yang waktu itu—"
"APA?" Ternyata suara pelan Furihata mengusik perhatian yang lain.
DOR!
"WOAAAH—!"
Hampir semua remaja-remaja lelaki itu kocar-kacir, refleks berteriak terkejut tatkala pelatih mereka telah berdiri di hadapan mereka. Sebelah tangan dibenamkan dalam saku celana, sebelah lagi memegang senapan hitam berkilau dan terarah ke atas—pada langit. Kagetora meniup santai moncong pistol yang mengepul aroma mesiu.
"Astaga jantungku—TUNGGU! Itu pistol sungguhan?!" syok Kise mewakili yang lainnya. Bukan hanya Bukan hanya mereka yang terkejut, seisi taman juga. Bahkan burung-burung pipit berterbangan meriah karena terkejut mendengar suara senapan pria itu.
"Menurutmu?" Pelatih timnas basket itu menanggapi keterkejutan mereka dengan senyum malas. Ini baru permulaan. Semua akan bertambah menarik—berjalan sesuai rencananya.
"Itu tindak kriminal!" seru Aomine keras.
"Aku tidak menyebabkan adanya korban jiwa." Kagetora menatap Akashi yang selintas terlihat terkejut sebelum kembali non-ekspresi seperti sedia kala. "Benar, 'kan?"
"Betul." Akashi menganggukkan kepala.
"Tapi, kan—"
Kagetora menaruh ujung pistol tepat di depan bibirnya, tanda supaya mereka berhenti bicara dan meredam apa pun yang hendak diucapkan. Dilayangkannya tatapan waspada penuh perhitungan pada bocah-bocah merepotkan di hadapannya. Melihat mereka sadar atau tidak sudah menegakkan tubuh dan merapikan barisan masing-masing, cukup membuatnya merasa puas.
"Buka baju kalian!"
Sunyi.
"HAAAH?!"
"Kalian mendengarku, 'kan?"
"Buka baju di tempat seperti ini?!"
Putaran bola mata, bosan, dan ketukan sepatu pantofel pada permukaan tanah yang tidak sabaran membuat mereka saling berpandangan.
"Aku teringat Kantoku dan pertemuan pertama ekskul basket di Seirin," desis Kagami. Matanya terbelalak ketika Kuroko dan Furihata tidak merespon perkataannya, justru mengangkat baju yang masing-masing mereka kenakan. "Like father like his daughter." Berdecak sebal, Kagami meraih pinggiran kaus yang ia kenakan dan mengangkat tepiannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriakan yang lain tidak menghalau ketiga trio Seirin itu untuk mengenyahkan baju yang melekati tubuh masing-masing.
"Lakukan saja," kata Kuroko kalem.
Furihata menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataan Kuroko. "Nanti kalian akan mengerti maksudnya Kagetora Kantoku," ucapnya pelan tanpa berani balas memandang yang lainnya.
Kagami tertawa mengejek. "Jangan bilang kalian takut hanya membuka baju saja! Payah! Tidak ada bedanya dengan cewek."
Furihata yang sweatdrop jelas membatin, 'Ejekanmu itu murahan dan pancinganmu berlevel rendah sekali, Kagami.'
"APA KATAMU?! SIAPA TAKUT!"
'MEREKA TERPANCING?!' syok si asisten timnas junior tersebut.
Bayangkan!
Para pemuda tampan yang sudah mengeluarkan menguar aura oh-godai-aku itu dengan ekspresi garang, serius, mulai mengangkat baju yang mereka kenakan. Perlahan-lahan menampakkan tubuh yang sanggup mencuri seluruh napas kaum hawa. Sixpack yang menggiurkan, kulit mulus tanpa cacat cela—beberapa ada yang digarisi luka namun justru mengesankan sensualitas, diikuti dada bidang yang terpampang, leher yang jenjang dan lekukan khas kaum adam menandai suara bariton mereka, bahu lebar yang selaras dengan otot-otot terlatih pada lengan, punggung tegap, harum maskulin membumbung ke angkasa, paras yang menawan, sorot mata meruncingkan determinasi, aura regal menunjukkan bahwa mereka bukan orang sembarangan.
Oh iya. Ini tempat umum.
Para bidadara—bukan iblis penggoda—jatuh di taman samping Tokyo Sky Tower. Feromon mereka berhembus ke seluruh penjuru dan—
"KYAAA!"
"YA TUHAN!"
"MIMPI APA AKU SEMALAM?!"
KLIK!
FLASH!
Tiba-tiba saja semak-semak di sekitar taman ternoda oleh percikan darah. Burung-burung kloter kedua semua berterbangan karena dikejutkan frekuensi lenging alto kaum hawa.
Kapan lagi dapat tontonan semenakjubkan ini secara gratis? LIVE pula!
Sampai—
"ITU KISE RYOUTA!"
"GYAAA KISE-SAMA!"
"KISE-KUN … LIVE TOPLESS! BANZAI!"
"HEI, ADA PEMOTRETAN YAOI SMUT LIVE!"
"CEPAT KE SINI! ASTAGAY, PARA MODELNYA SEKSI DAN KEREN BANGET!
"TAMPAAAAAAAN! ADUH PANDANGAN MATANYA BIKIN HATIKU BERDEBAR! SEMENYA KECEEEEE~ TOLONG!"
"WOY, ITU BANYAK YANG IMUT-IMUT! TARUHAN MEREKA PASTI UKENYA!"
"TUH, KAN! CEPAT KEMARI! KEBURU MULAI PEMOTRETAN BOYS-LOVE SMUT LIVE INI! KITA HARUS MENGABADIKAN INI!"
"KAMERA MANA? YA TUHAN, KAMERAKU MANAAA?!"
Chaos.
Mereka jelas saja terkejut ketika tiba-tiba taman dibanjiri oleh gadis-gadis yang histeris. Awalnya karena sebagian besar fans Kise, otomatis melihat idola dan top model terkini itu mereka heboh tidak terkendali. Tapi hati kaum hawa mana yang dapat menguatkan iman berpaling dari para permuda yang sedap dipandang itu?!
Pula ada yang salah kaprah berasumsi bahwa timnas junior basket tersebut adalah sekelompok model yang akan menjalani photo-shoot yaoi. Ada-ada saja. Wanita dan imajinasinya. Liar.
Hanya Kise yang terbiasa dengan kericuhan semacam ini. Alih-alih mundur teratur merapat satu sama lain seperti yang dilakukan teman-teman setimnya, dia justru melambai ceria menyapa barisan barikade penggemar-penggemar gadisnya.
"Haaaiii!"
"KISE-KUN MENYAPAKU!"
'Dia menyapa mereka semua. Kenapa cewek-cewek itu percaya diri sekali?' pikir pemain-pemain basket itu sweatdrop kecuali Kise.
"Syuuut! Bisakah kalian tenang? Kami sedang ada urusan di sini," kata Kise santai. Tidak perlu diinstruksikan oleh Kagetora pun dia tahu apa yang harus dilakukannya.
"PHOTO-SHOOT, YA?"
Kise tertawa ringan. Teman-temannya lekas menutup telinga ketika pekikan histeris fans Kise membuat mereka seakan tuli. "Bukan. Latihan basket. Kalian boleh foto-foto. Tapi tolong jangan mengganggu kami, ya?" Gaya professional ala seorang entertainer, Kise mengedipkan sebelah mata.
"KYAAAAA! APA PUN UNTUK KISE OUJI-SAMA!"
"Idiot, kenapa kau bilang mereka bisa foto-foto seenaknya, heh?" Aomine menempeleng kepala pirang itu.
Kise yang sudah terbiasa namun tetap tidak suka diperlakukan seperti itu cemberut. Ia mengusap-usap kepalanya. "Kau tidak perlu kasar begitu padaku, Aominecchi! Diam! Aku lebih mengerti tentang hal ini daripada kalian semua—"
"—dasar sombong, mentang-mentang kau artis. Kau tidak lihat apa mereka ganas seperti karnivora—"
"—tentu saja! Lagipula aku tahu apa yang aku lakukan. Percayalah padaku, Aominecchi—"
"—KYAAA! SHOUNEN-AI LIVE ACTION!"
Tiba-tiba mata-mata berbulu mata lentik itu berubah jadi bentuk cinta. Para gadis disinyalir fujoshi, jingkrak-jingkrak.
Oke. Semua makin menjadi ribut.
Beberapa gadis yang kebetulan hanya sekedar ikut-ikutan mencuri-curi pandang pada Himuro. Pemuda itu mulanya terkejut, namun refleks bibirnya melengkungkan seutas senyum palsu yang biasa ditampilkannya.
"—SPOT ANOTHER IKEMEN!" –diiringi nyaring jeritan dan tangan-tangan yang menunjuk Himuro.
"Yooo!" Di antara yang lain, Takao terlihat paling menikmati chaos ini. Ketika dia melambai pada para gadis, dia mendapatkan balasan lambaian dan antusiasme mereka. Diliriknya sang partner yang menundukkan kepala dengan telunjuk menekan sanggaan kacamata. Terima kasih pada mata elangnya, ia menemukan rona terpulas di tulang pipi Midorima.
"Hei, Shin-chan! Perlihatkan wajahmu pada mereka!"
"TIDAK! Aku harus memakai lucky-item lagi—"
Gotcha.
"SUMIMASEEEEEN!"
Kuroko yang berada paling dekat dengan sumber suara mendengar teriakan itu lekas menoleh. Terkejut menemukan segerombolan gadis mencubit gemas dan menyeret shooter Too itu pergi. "Sakurai-kun!" Dia berhasil menangkap tangan yang menggapai-gapai udara mencari pertolongan.
Niat hati ingin menolong. Apa daya Kuroko dinotis oleh karnivora-karnivora berbalut sosok bidadari.
"HEI, DIA JUGA!"
Kuroko membelalakkan mata. Dia sudah berusaha menggunakan misdireksi. Sayangnya tidak berhasil karena tangannya masih bertautan dengan tangan Sakurai. "Tu-tunggu—"
"KUROKOOO!" Furihata menjerit horror. Beberapa gadis yang gemas sekali dengan Kuroko—ini misteri mengapa mereka bisa mengetahui presensi sang bayangan—tanpa ragu terjun menolong kawannya. Dia menahan lengan Kuroko, pula tangan Kuroko menggenggam lengan Furihata. Tapi semua itu tidak seimbang, Furihata versus para gadis ganas memperebutkan Kuroko serta Sakurai.
"Ma-ma-maafkan aku te-telah hidup … tapi MAAF, LEPASKAN AKU!" Sakurai merasakan Kuroko tidak mengurangi genggaman tangan mereka. Tidak mengumpankan dirinya pada homo sapiens betina itu. Jadi dia menaruh kepercayaannya dalam bentuk membiarkan tangannya balas menggenggam tangan sang bayangan.
"Le-le-lepaskan … sa-sakit!" Kuroko menderita karena lengannya ditarik-tarik seperti ia adalah mainan boneka. Sebelah matanya yang masih terbuka memandang ke belakang pada Sakurai. "Ber … -tahanlah!"
"Kuroko, Sakurai!" Furihata tak mampu menggapai Sakurai, namun ia bersikukuh mempertahankan bahkan menarik balik teman setimnya itu.
"YANG ITU TARIK JUGA SEKALIAN!"
"AAAAARRGHH—" Naas, Furihata malah ikut diseret oleh sekelompok ganas para gadis. "—TOLOOOONG!"
Masalahnya, bukan hanya mereka saja yang mengalami masalah. Kawan-kawan mereka yang lain tidak ada yang sadar karena kaum hawa segala kalangan dan seluruh usia merangsek maju. Senyuman dari bibir-bibir terpoles lipstick merah menggoda para pemuda itu—ya Tuhan percayalah mereka masih inosen!
Untungnya—
"YA AMPUN!" Takao dengan mata elangnya menyadari chaos yang terjadi di belakangnya dan Midorima. Barikade remaja putri itu menyergap beberapa pemuda yang sudah seperti rantai dipermainkan gelombang antusiasme gadis-gadis. Ia menampar bahu Midorima dengan semena-mena.
"TAKAO!" Midorima meraung murka.
"Shin-chan, kita harus menyelamatkan mereka!"
"Selamatkan diri sendiri daripada orang la—oh!" Midorima yang kepalanya ditolehkan oleh Takao terkejut bukan kepalang melihat Kuroko, Sakurai, dan Furihata berjuang hidup-mati hanya untuk tetap bernapas di antara lautan perempuan.
Pemuda tsundere satu itu batal meneriaki Takao lagi. Ia menyadari bukan saatnya untuk mengomeli rekan terpercayanya itu sementara yang lain nyawanya dipertaruhkan. Bergegas ia meraih tangan terjulur yang paling mudah digapai yaitu Sakurai. Baru saja mereka bergandengan, jeritan lain terdengar.
"WOAAAAH! SHIN-CHAAAAN!"
Midorima lekas menoleh. Horror tatkala melihat Takao dikerubuti persis seperti yang lainnya. Ia tidak akan bisa menolong Takao—mempertahankan Sakurai saja sudah susah. Lekas ia mengedarkan pandangan untuk mengetahui posisi yang lainnya. Mata diperciki seidentikal klorofil itu terbelalak ketika melihat Kuroko megap-megap tidak bisa bernapas dan di luar barikade yang mengepungnya ada Momoi, terjatuh didorong ganas tatkala berusaha menyelamatkan pemuda berambut langit itu.
Di mana Kagami saat bayangannya sedang kesulitan?! Pikir Midorima—dia tidak bisa menyuarakannya, selain karena tidak akan terdengar, ini bertentangan dengan nuraninya karena Takao juga jadi terumpankan pada gerombolan gadis yang menerima lambaiannya. Siapa suruh tebar pesona?!
"To-to-tolong—" Kuroko tergemap.
Di sisi lain, para pemuda lain mulai saling merapat mundur karena para gadis merangsek maju. Himuro menyembunyikan diri di balik tubuh terlampau jangkung Murasakibara karena beberapa gadis mulai agresif dan senyum modus mereka tak terlihat menyenangkan. Saat itulah ia melihat apa yang terjadi selagi perhatian kubunya terpaku pada mudi-mudi tersebut—chaos terjadi dan teman-teman mereka dikerubuti seperti gula dikerubungi semut.
"Oh!" Himuro menspot Kuroko yang dicubiti gemas dan Momoi yang—entah untuk keberapa kalinya—terpelanting jatuh. Bingung harus menolong yang mana, Himuro memutuskan yang posisinya lebih genting. Ia berusaha menyeruak dalam gerombolan tersebut. "KUROKO!"
Dengan sisa kekuatannya, Kuroko menjulurkan tangan pada Himuro yang tangkas menariknya. Dilihatnya makhluk-makhluk bersuara alto itu menotis kehadiran Himuro dan kian rusuh karena terpesona—bahkan menduga-duga dia seme Kuroko. Tidak mengertii apa yang dikicaukan, dilihatnya dari sela dan celah yang ada, rambut merah muda yang mencolok. Gadis yang merupakan manager Too itu—aduh siapa namanya—Sacchin? Oh, bukan! Itu hanya panggilan yang diberikan Murasakibara padanya! Tunggu. Tim too?
"AOMINE!" Himuro berteriak—berusaha mengalahkan suara-suara bising yang terlalus semarak, "MANAJER TIM TOO! TOLONG DIA!"
Aomine yang mendengar teriakan Himuro berhenti berdebat dengan Kise. Pikirannya jelas tertuju pada Momoi yang sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Nyalang seperti ketika terdampar di Zone, berkonsentrasi penuh mencari sahabatnya itu. Untung saja surai merah muda itu sungguh non-mainstream, tidak sulit baginya menemukan gadis tersebut tersungkur di tanah. Tertatih bangkit, kemudian berupaya keras menolong pemuda-pemuda yang digendoli para gadis.
"LEPASKAN MEREKAAA!" jeritan Satsuki teredam oleh suara-suara lain yang nyaris setipe dengannya. Ia melihat Himuro turun tangan menolong Kuroko, maka ia beralih mencoba menyelamatkan Takao.
"IH, APA SIH KAU!"
Aomine membelalakkan mata. "MINGGIR!" murkanya. "SATSUKI!"
"Kyaaa!"
Momoi naas lagi, kembali didorong kencang-kencang. Ia tidak mampu melawan karena kuantitas yang tidak berbanding dengan dirinya seorang diri. Hampir saja dia terjatuh lagi andaikata Aomine tidak lekas menahan laju tarikan gaya gravitasi dengan menekan bahu sahabatnya itu.
"Ha-hampir saja—" Momoi mendesah lega, "terima kasih, Dai-chan—" Sekerjap manik merah mudanya menyadari gurat geram dan emosional pada wajah Aomine yang meneliti tubuhnya dari ujung rambut hingga kaki.
"HEEEEH! KAU KENAPA BERKHIANAT DARI KISE-SAMA?!"
Aomine merasakan urat di dahinya berkedut. Dilihatnya jajaran fans Kise memandangnya marah, dan menghunjamkan tatapan bengis pada Momoi. Refleks ia pasang badan untuk memproteksi gadis yang telah berkawan dengannya sejak mereka belia. "DIAAAAM!" raungnya. Penggemar-penggemar fanatik Kise dalam jalur menyimpang itu terlonjak, ketakutan ketika Aomine galak menyentak mereka."KISEEEE! LAKUKAN SESUATU, BODOH!"
"AKU MENCOBAAA-!" teriakan frustasi Kise terdengar entah dari ujung mana. Dia berada dalam posisi terjepit bahu-membahu dengan Kagami yang sibuk berteriak kesal secara random karena digrepe-grepe kaum hawa.
"KYAA! OTOT LENGANNYA, AUH!"
"KENAPA ALISMU BISA BERCABANG BEGINI? LUCUNYAAA!"
"SIXPACK-NYA, HATIKU TIDAK KUAAAAT!"
Kagami histeris. "MENJAUH DARIKU! KALIAN LEBIH MEMUAKKAN DARIPADA NIGOU!"
Semua benar-benar chaos.
Akashi berada dalam posisi teraman—di sentral timnas junior, terlindung sempurna di balik Murasakibara. Tanpa emperor-eye pun ia tahu pemandangan yang tersaji dalam ruang pandangnya adalah distopia absolute dalam perspektif timnas Junior. Sesuai kalkulasinya, semua saling menyelamatkan dan bergantung satu sama lain—paling tidak untuk situasi dan kondisi genting seperti ini. Berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan—
"TOLONG AKUUUU!"
—atau ada.
Ah. Si Chihuahua.
Biarkan saja—
"AAARGH! JANGAN PEGANG—AWH!"
—tapi kalau dibiarkan nanti Akashi akan kehilangan budaknya.
"Atsushi—" Akashi melirik pelindungnya itu dari agresi maut gadis-gadis, "tolong dia." Ia menunjuk pada Furihata merah padam wajahnya karena digrepe-grepe tubuhnya. Soal perlindungan, Akashi lebih dari mampu untuk melindungi diri sendiri.
"Oke." Tanpa protes karena malas, Murasakibara menyelamatkan Furihata dengan menarik lengannya, lalu mengangkat tubuhnya semudah membalikkan telapak tangan.
"Mu-Murasakibara—" Furihata membelalakkan mata, ia melayang di udara berpandangan sekilas dengan penyelamatnya.
Murasakibara menurunkan Furihata di sentral timnas junior. Dilihatnya Furihata bergegas membenarkan letak celana yang dikenakannya, menatapnya taku-takut sekaligus terkejut. Kelu untuk berbicara mengungkapkan terima kasih—terlebih ketika menyadari Akashi sedang menatap budaknya juga.
"HOI, AKASHI!"
Sebuah benda melayang membentuk kurva imajiner mengimitasi lengkung pelangi dengan akurasi tepat. Akashi lekas melompat, tangkas menangkap benda tersebut. Menyeringai penuh kemenangan melihat benda yang diberikan padanya. Ia tahu ia selalu benar, prediksinya terbukti mengetahui sang pelatih memercayakan kejadian yang telah diduga ini padanya, dan dirinya absolut tidak pernah kalah—tidak dari karnivora berbalut jelita wanita.
Akashi mengarahkan benda tersebut pada angkasa. Dari sudut-sudut mata dilihatnya si budak mengeret ngeri dan menutup telinga. Murasakibara berdiri bosan melindunginya dan asisten timnas junior.
Apa yang dilakukan Akashi berikutnya menyebabkan chaos terdistorsi kakofoni.
DOR!
Suara letusan senapan diiringi vibrasi alto menjajaki falsetto yang bahkan mencapai high-pitch saking kagetnya. Refleks orang-orang melindungi diri dengan berlutut sembari memeluk kepala atau menutup telinga, menyisakan timnas junior di sentris taman. Tak menyia-nyiakan kesempatan, mereka bergegas meraih, menyelamatkan satu sama lain, merapat mendekati Akashi yang berdiri angkuh dengan tangan mengacungkan pistol pada angkasa
Peluru besi yang sudah habis mesiunya jatuh berkelontang mengisi keheningan mengerikan. Akashi menurunkan senapan yang dilemparkan oleh Kagetora. Manik heterokromatiknya bergulir perlahan, tak tahu tajam nan dingin pandangannya itu menyebabkan bulu kuduk meremang. Dihitungnya para bawahannya—anggota-anggota timnas junior. Lengkap. Sudut-sudut bibirnya memulas seringai.
Di kesunyian yang mencekam—bahkan burung pun enggan berkicau, "Bubar," perintah Akashi.
Sedepa jeda.
"Apa lagi yang kalian tunggu?" tanya Akashi yang mengangkat pistolnya dengan tenang. Mengelus moncongnya perlahan. Ia tahu masih ada sisa tiga peluru lagi. Tak masalah jika ada orang bebal, satu peluru cukup melubangi tempurung kepala dan otak idiot mereka.
Hampir semua orang kecuali timnas junior dan Kagetora lari tunggang langgang, terbirit-terbirit, jatuh-bangun, seperti kawanan aves yang mengungsi bertengger di pucuk pohon-pohon Sakura, asal sejauh mungkin dari jangkauan tembak pistol yang mengilat tertimpa radiasi mentari. Distopia.
Tak lama hingga taman kosong-melompong. Akashi menurunkan pistolnya. Mata dwiwarnanya menelusuri kondisi rekan-rekan setimnya—yang tengah melongo atau bergidik karena dipandang olehnya, mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja. Entah itu gores-gores—mungkin karena cakaran, belepotan lipstick dengan cap bibir, lecet-lecet, rambut kusut, penampilan berantakan.
Kagami dan Kise kompak mengerang lalu merosot terduduk ke aspal dengan punggung saling bersandar. Midorima membantu Sakurai untuk berdiri karena quick-shooter tersebut sempat jatuh terseret arus balik orang-orang yang ketakutan gara-gara Akashi. Aomine mengomel soal Momoi yang nekat membantu mereka sampai terluka karenanya. Furihata yang melihat Takao bangkit dari keterjembabannya refleks menanyakan apakah pemilik mata elang tersebut baik-baik saja karena banyak telapak-telapak sepatu high-heels imajiner tercetak di tubuhnya. Himuro memapah Kuroko yang lunglai dan berusaha memasok ulang stok oksigen dalam sistem pernapasannya—seolah baru pertama kalinya menghirup udara segar.
Hanya Murasakibara yang berdiri di sisi Akashi, melihat segaris samar di bibir yang sama sekali berbeda dari senyum yang ditampakkan ketika tadi orang yang paling dihormatinya itu mengacungkan pistol. Berani bertaruh dengan satu kardus maiubo, kapten mereka itu tak menyadari ekspresi macam apa yang tertera di wajahnya sekarang.
"Wah, ini pertama kalinya terjadi…" cetusan Kagetora yang menghampiri mereka menyebabkan atensi terpusat padanya. "Apa kalian baik-baik saja?"
"TIDAK!"
"Kalian benar-benar bocah-bocah merepotkan." Kagetora mendengus geli. Menyusahkan melihat kisruh terjadi. Mengurus dua belas orang saja sudah membuat kepalanya pening, terlebih orang-orang di sekitar mereka seperti tadi. Mengerikan. Ia tertawa kecil ketika mereka mulai protes seperti biasa dan marah-marah, terutama pada Kise karena lima puluh persen penyerang mereka itu adalah penggemar si perfect copy.
"Salahkan Kantoku! Jangan aku! Aku memang idola, tapi bukan berarti bisa mengontrol fans sesukaku. Lagipula ini tidak akan terjadi kalau kalian mengikuti perkataanku," sanggah Kise yang diomeli hampir semua orang. "Kantoku yang membawa kita kemari, membuat kita buka baju di musim semi padahal udara masih sedingin ini, dan dia tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan kita!"
Kagetora berdecak. "Yah, aku tidak tahu akan jadi seperti ini. Sebelumnya tidak pernah terjadi." Dia menusukkan pandangan tajam pada Kise yang menggerutu di bawah pelototannya. "Aku menyelamatkan kalian—tanpa pistolku sudah tamat riwayat kalian."
"Tapi yang pakai pistol dan mengusir mereka itu Aka-chin," sahut Murasakibara.
Serentak seluruh atensi terfokus pada Akashi yang memang ternyata masih menggenggam pistol di tangan. Bukan gunting. Tapi apapun itu, semua akan menjadi berkali-kali lipat lebih mengerikan jika berada di tangan yang handal menguasai basket tersebut.
Akashi berujar ringan dengan ekspresi antagonis khasnya, "Aku tidak akan membiarkan orang-orang mengusik pion-pionku seenaknya."
Sweatdrop. Pion? Kaupikir hidup semua entitas timnas junior ini hanyalah pion dalam papan catur kehidupanmu, duhai Kapten?
Tak ada yang berniat mengutarakan pikiran sehati masing-masing. Mereka terlalu lelah untuk menanggapi perkataan menyebalkan Akashi.
Dalam kesunyian itu Kagetora mengobservasi tubuh-tubuh anak-anak didiknya. Jeli matanya mengalkulasi hingga angka-angka imajiner bermunculan dari beberapa titik vital di tubuh-tubuh masa pertumbuhan tersebut. Sungguh brilian, pujinya hanya dalam hati. Tapi ia menotis sesuatu hal fatal. Pria yang merupakan pelatih timnas basket itu memutuskan untuk membuktikannya—maka dari itulah alasan utama ia membawa mereka kemari, Tokyo Sky Tower.
Ini keputusan beresiko. Kagetora bisa merusak segalanya. Namun, jika tujuan bisa dicapai dengan pengorbanan setimpal, maka Kagetora akan berjudi demi Negara dengan mempertaruhkan generasi keajaiban di garis nasib.
"Pakai kembali baju kalian!" perintah Kagetora. Untungnya baju para pemuda tersebut masih ada dan utuh kendati tercecer di jalanan taman yang berdebu. Mereka memunguti baju masing-masing lalu memakainya tanpa banyak berkomentar.
"Bereskan barang kalian!" suruhnya lagi sembari menerima Akashi yang mengembalikan pistolnya tanpa bahasa verbal terucap.
Kagetora tersenyum, dingin. "Kalian ingat yang aku katakan di pertemuan kita tempo hari lalu?"
"Pertemuan resmi pertama, Anda ingin berkenalan dengan kami—atau kita saling berkenalan," jawab Akashi mewakili yang lainnya. Balas menyeringai—menangkap maksud yang disiratkan mata coklat tajam terlatih itu. "Dan memberitahukan peraturan berlatih dengan Anda, Kagetora Kantoku."
Kagetora mengulang perkataannya, dan angin musim semi didesir helai-helai sakura riuh menanggapinya.
"Bersiaplah, aku akan membawa kalian menuju puncak tertinggi dengan seribu satu basket! Ikuti aku!"
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
AKHIRNYA FIC INI UPDATE JUGAAA~ *joget* yosh, terima kasih untuk RnR yang setia menunggu update-nya fic ini. *ojigi penuh haru* sesuai judul chapter kali ini, sumpah ini chapter hanya intermezzo dan hints aja. Ohohoho.
Ngetik chapter ini cukup lancar dan bikin enjoy. Apalagi bagian berantemnya Kisedai dkk dan kehebohan "aksi seksi" mereka itu. KYAH sumpah saya pas ngetik bagian deskripsi badan mereka itu sibuk mantengin anime+manga+doujin+pic supaya gak salah dan gak asal mengimajinasikan. Plus backsound-nya : "I got a boy, handsome boy, awesome boy~" *pelukin timnas junior satu-satu*
Saya akan update fic ini, kemungkinan setelah urusan tes tertulis masuk universitas selesai. Sekitar bulan Juni atau Juli. Hontou ni gomenasai! *dogeza* Tapi saya janjikan chapter yang lebih panjang dari chapter ini—soalnya kan ini chapter sampe 11k. *gelepar*
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
