Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)

.

So, I will survive~

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.

.

Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)

Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Suatu hari, di bawah langit temaram yang menaungi, mereka berjalan bersama laksana pelangi terbentang, dibayang canda-tawa sembari tangan menyangga sebatang es krim yang melumer manis tatkala dikecap lidah.

Tidak seberapa lama, di bawah langit kelabu yang memberangus butir-butir salju, mereka menjejaki jalur terpisah, meniti hati-hati setapak hidup seorang diri karena ego memutus sebuah opsi, menghiraukan sudut-sudut mata yang basah.

Di kemudian hari, di bawah langit bersemburat jingga, bersama teman-teman dengan segelas minuman di tangan, tertawa bersama seraya melangkah beriringan dengan ingatan bahwa mereka baru saja memasung ancaman pada langit tentang destruktif diri—bilamana tidak memenangkan kompetisi mereka harus bertelanjang diri dan rahasia cinta haruslah dideklarasi.

Hari ini. Langit musim semi. Sungguh lazuardi. Orang-orang yang lalu dan sekarang. Entitas-entitas pengemban bakat misteri yang ada di sisi lantas melangkah pergi, presensi yang kini selalu menemani, eksistensi yang bahkan asing di hati.

Sebersit tanya terbit dalam hati.

Gurat seperti apakah yang di penghujung hari ini akan menjilat tepian horizon?

Langit senantiasa mengatapi mereka, menanti makna-makna sejati dibumbungkan kepadanya.

("Semoga hari ini segera berakhir." –karena bila terlalu lama, entah dengan cara bagaimana waktu habis tergulir tanpa perlu seorang pun merasa tersingkir.)

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 7

"The Sky that Full of Meanings"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

"WOW!"

Siapa yang tidak tercengang berdiri di menara dengan ketinggian 634 meter dari permukaan laut, menghayati pemandangan ibukota Negara yang terhampar maha luas memanjakan ruang pengelihatan. Dibelai sepoi angin pagi yang memanjakan, sinar matahari yang hangat, riuh-rendah metropolitan di pagi hari.

Kagetora membiarkan saja para bocah yang dibawanya berjajar berdiri di tepi palang besi membatasi dari jatuh ditarik gravitasi menjumpai bumi. Terpesona dengan pemandangan menakjubkan yang terbentang sejauh mata memandang, menikmati panorama yang tidak setiap hari akan mereka pandang. Toh di balkon ini sebenarnya tidak diperkenankan sembarang orang untuk kemari—karena memang bukan tempat wisata, balkon terbuka ini dipakai untuk menaruh satelit pemancar gelombang elektromagnetik lokal. Jadi kali ini tidak akan ada agresi militer dari karnivora-karnivora berupa wanita.

Sampai akhirnya seluruh atensi tertuju padanya. Atau tepatnya, pada dua keranjang besar berisi bola-bola basket.

Pria paruh baya itu mengangkat sebelah sudut bibirnya dalam sinisme. Merogoh keluar rantai jimatnya sebagai seorang pelatih, nyaring meniup peluit yang berdendang nyaring. Dilihatnya para pemuda itu berbaris rapi satu banjar berjajar. Dilihatnya Momoi menyingkir dari barisan, menepi di dekat barang-barang para pemuda.

"Ohayou."

"Ohayou, Kantoku!"

"Jadi, ini pertemuan resmi pertama kita." Kagetora melesakkan kedua telapak tangannya pada saku celana. "Pertama, perkenalan. Ya, tentu saja, mulai dariku—" Dia mengambil sebuah benda kramat yang semula terbenam dalam saku. "Namaku, Aida Kagetora. Silakan panggil aku Kagetora-san, atau pelatih. Terserah. Kalian harus sopan padaku. Umurku—tidak penting. Statusku—yeah kalian tahu sendiri. Kesukaanku, Putriku. Yang tidak kusuka—" Pria ini mengokang pistol yang tadi telah ia isi ulang pelurunya, "—pria jahanam yang menggoda putriku!"

Sunyi. Kagetora menelisik satu per satu orang di hadapannya, mencari tahu adakah yang naksir pada putri tercintanya. Semua bergeming, ia menghembuskan napas puas. Tak ada yang berani-berani naksir pada gadis semata wayangya.

"Ah. Pekerjaanku yang sekarang adalah sport trainer di Tokyo National Gym. Khususnya, basket. Yah, dulu aku pemain timnas basket—sekedar info, para pelatih kalian dulu adalah teman-teman setimnasku."

Terdengar gumaman tidak percaya menyambutnya.

"—kalian boleh saja masih muda, lebih enerjik, stamina oke, bakat luar biasa, egois … tapi kalian tidak akan bisa mengalahkan orangtua sepertiku."

Kali ini dengusan rendah merespon perkataannya.

Mata solid coklatnya menatap satu per satu orang di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan. Bersungguh-sungguh tatkala berkata, "Pengalaman—itulah yang dipunyai orangtua. Jadi jangan berani-berani bersikap kurang ajar padaku.

"Hal pertama yang harus kalian camkan baik-baik dalam otak bebal kalian itu adalah satu : Pelatih tidak pernah salah. Dan jika aku bersalah—"

"—ingat lagi poin yang pertama!" koor bocah-bocahnya kompak. Beberapa bahkan melengkapi dengan putaran mata pertanda bosan.

Kagetora mengangguk puas. Diangkatnya tangan kanan, menaikkan jari telunjuk dan jari tengah sekaligus. "Kedua : jika ada satu saja yang bersalah dari kalian, kalian semua kuhukum."

"HAH?!"

"Tunggu, Kantoku! Jadi, kalau misalnya Shin-chan salah—"

"Hei, Bakao!"

"—dan kami tidak bersalah, kami akan tetap kena hukum?!" tanya Takao—mengabaikan pelototan dari Midorima.

"Tentu saja." Kagetora menganggukkan kepala. Dia mengerling kapten timnas junior. "Untuk kapten, dua kali lipat. Anggota tim yang bermasalah dan salah tentu adalah tanggung-jawab kapten."

Akashi mengerjapkan mata sekali. Dia berpikir bahwa Kagetora benar-benar tidak main-main mengangkatnya jadi kapten. Sudut-sudut bibirnya terangkat, membalas dengan senyum dingin. Ini tidak masalah. Toh jika ada yang bersalah, Akashi bisa menggunakan wewenangnya sebagai kapten untuk menghukum para anggotanya. Hukuman dua kali lipat. Pikiran ini menyenangkan.

Dan semua yang ada di situ membuat catatan mental dalam hati untuk tidak memicu keributan, atau masalah! Karena lebih bermasalah membuat masalah dengan Akashi ketimbang cari masalah dengan Kagetora.

"Berikutnya—" Kagetora berjalan hilir-mudik mengelilingi mereka lalu menujuk palang besi yang membatasi balkon terbuka tempat mereka berada. "—aku ingin satu per satu dari kalian berpegangan ke rail besi itu, meneriakkan nama lengkap, asal tim sekolah. Sertakan dengan hal apa saja yang ingin kalian serukan. Entah itu ambisi bermain basket, ataupun hal-hal trivial seputar basket yang menginspirasi kalian selama ini. Terserah."

"Wah, itu mudah," cetus Aomine yang menguap sekali.

Furihata tercenung. "Oh! Aku merasa de javu—"

"Tentu saja—" Kagami memutar kedua bola matanya, "—ini seperti ketika Kantoku menyuruh kita teriak lima menit sebelum upacara dimulai."

"Untuk apa berteriak, toh tidak ada yang bisa mendengar, nanodayo," sahut Midorima logis. Tentu saja, Tokyo Sky Tree setinggi ratusan meter dari permukaan tanah utama, takkan ada yang mendengar mereka menyiarkan kisah-kasih seputar basket.

"Merepotkan. Buang-buang tenaga." Murasakibara tertular kuapan mengantuk dari Aomine.

"Diam!" Kagetora menghentakkan langkah sekali, menginterupsi percakapan kecil mereka. "Kusebutkan nama, dan orang itulah yang maju!" Dia memandang tajam presensi setiap orang di hadapannya. "Aku tidak bisa mengharuskan kalian memberikan alasan tentang ambisi dan antusiasme bergabung dengan timnas—karena bagi kalian ini paksaan dan bukan tugas yang diemban, tapi aku ingin dengar kesungguhan dan kejujuran yang kalian ucapkan. ME NGERTI?"

"HAI'!"

Mereka bergegas menepi, menunggu Kagetora meminta data absensi dari Momoi yang entah sejak kapan telah menyandang sebuah papan jalan berisikan absensi mereka.

"MURASAKIBARA ATSUSHI!"

Murasakibara menyeret langkahnya menuju spot yang diberikan. Dia menoleh sekali ke belakang, melihat orang-orang menanti apa yang akan diucapkannya. Dihelanya napas sekali.

"Namaku Murasakibara Atsushi—"

"SUARAMU MANA, HEI?" Nyaris semua terlonjak kaget mendengar gelegar suara Kagetora yang gemas karena nada malas-malasan milik Murasakibara.

Murasakibara menggerutu sebal. "NAMAKU MURASAKIBARA ATSUSHI DARI YOSEN. Aku bermain basket karena menyebalkan melihat orang-orang yang tidak berbakat tetap saja dengan bodoh memainkan basket. Idiot. Aku akan menghancurkan orang-orang imajinatif seperti itu." Suaranya menggeram, mengalahkan kencang deru angin. Lalu dia menatap malas sang pelatih, memberi tanda bahwa ia telah selesai bicara.

Pemuda gigantisme itu tidak menyadari ucapannya tajam menohok ulu hati beberapa orang yang merasa tidak dikaruniai bakat namun tetap bermain basket.

Kagetora berdecak pelan. Dia membaca seuntai nama di papan. "TAKAO KAZUNARI!"

"TAKAO KAZUNARI DARI SHUTOKU—" Takao melompat maju, ia merentangkan tangan tatkala angin berhembus lebih kencang—laksana terbang seperti elang, "—aku bermain basket karena ini olahraga rasional yang paling menyenangkan! Aku punya dendam pada Midorima Shintaro—"

"MASA?!" refleks orang-orang menukas syok, termasuk Midorima yang kacamatanya melorot ke pucuk hidungnya.

"Kau punya dendam padaku dan meneriakkannya? Apa urat malumu sudah putus, Bakao?"

"—karena aku pernah dikalahkan olehnya! Tapi entah sial atau untung, aku malah satu sekolah dengannya. Terus aku bertemu orang-orang antik di sekitar dia. Entah sial atau untung, dulu lawan sekarang TERPAKSA jadi kawan! Aku gagal mengerti semua takdir ini. Pokoknya, AKU AKAN TETAP SELALU BERMAIN BASKET!"

Kagetora tertawa rendah mendengar ocehan Takao. Dia menuliskan catatan kecil tentang pemilik mata elang tersebut, diliriknya Takao yang melipat kedua lengan di belakang kepala dan terkekeh inosen kembali ke tempat berdirinya.

"Berikutnya—"

"MIDORIMAAAA!"

Midorima mengerjap-ngerjapkan mata tatkala sorakan orang-orang di sekitarnya kompak menyuruhnya maju, pasti sengaja—karena untuk merespon perkataan Takao.

"Oke. MIDORIMA SHINTARO."

Midorima melangkah tenang menuju mimbar terbuka mereka. "MIDORIMA SHINTARO DARI SHUTOKU." Midorima menarik napas dalam-dalam. "Aku bermain basket bukan untuk bermain-main, serius aku melakukannya. Aku percaya bahwa manusia berencana dan Tuhan yang berkehendak … hanya itu." Tenang pemuda berambut seteduh pepohonan itu beranjak mundur, mengabaikan tatapan heran dari yang lain karena tak mengerti apa yang dikatakannya.

"SAKURAI RYO."

Sakurai terlonjak tatkala namanya dipanggil. Buru-buru ia menuju tepian rail dan mencengkeram pagar besi pembatas. Hampir semua presensi di situ berani bertaruh bahwa yang akan dia ucapkan adalah—

"Na-na-namaku Sakurai—"

'—eh? Dia tidak bilang 'sumimasen'?

"SUARAMU MANA?" gelegar Kagetora tiba-tiba.

"HIIIIEE! SUMIMASEN!" –ah, ini dia. Sakurai mengatupkan mata erat-erat, "SAKURAI RYO DARI TOO. SUMIMASEN—SOAL THREE-POINTS SHOOT, AKU BENCI KALAH DARI SIAPA PUN. MIDORIMA-SAN, AKU TAK AKAN KALAH DARIMU—SUMIMASEEEEEEN!"

Sunyi sesaat. Sakurai menahan napas. Tak seberapa lama, gelak tawa meledak. Sakurai lekas menoleh ke belakang, beberapa orang tertentu terpingkal-pingkal—seperti Takao, Kise, Aomine dan Kagami. Sisanya menanggapi dengan ekspresi khas masing-masing.

"Yare-yare … sepertinya hari ini benar-benar bukan lucky day—benar kata Oha Asa." Midorima menyeringai tipis. Menatap Sakurai tajam dari balik lensa beningnya. "Buktikan perkataanmu padaku nanti."

Takao terkekeh melihat gurat ketidakpercayaan mengentali airmuka pemuda yang memiliki keahlian samping memasak itu. "Senang bisa dinotis Shin-chan?"

"Terima kasih, Midorima-san." Sakurai mengulas senyum ragu lalu kembali ke posisinya semula.

Kagetora menekan keinginannya untuk menaikkan sudut-sudut bibir melawan poros gravitasi. Ia memanggil eksistensi berikutnya, "AOMINE DAIKI."

Aomine berjalan malas-malasan menuju ke pagar pembatas. Sejenak ia terdiam memejamkan mata, khidmat memutuskan apa yang akan ia katakan. Sekilas menggeleng. Tatkala membuka mata, kata-kata meluncur darinya. "AOMINE DAIKI DARI TOO—" tarikan napas untuk teriakan lebih kencang, "—AKU MAU HIDUP DI DUNIA YANG TIDAK SEORANG PUN MERUSUHIKU SELAIN BERMAIN BASKET—SEUMUR HIDUP MAIN BASKET. DAN SEMOGA HORIKITA MAI BISA MELIHAT AKSIKU DAN TERPERSONA KARENA PERMAINAN BASKETKU LALU MEMBERIKANKU MAJALAH EDISI TERBATASNYA."

"Duh, memalukan!" Momoi memblokir pandangannyanya dengan menangkupkan telapak tangan ke mata.

Ada yang mencibir, geleng-geleng kepala, mengedikkan bahu tidak peduli, terkikik, atau konstan non-ekspresi.

Angin berhembus riuh menghambur fabrik-fabrik pakaian rusuh. "Aku—" Aomine menatap langit biru. Yeah, biru sekali melatari sinar benderang matahari. Seperti bayangan dan cahaya. Senyum sinisme gagal terbit di wajahnya, "—ingin selalu bertanding yang aku harus berjuang sekuat tenaga dan tetap tidak tahu hasil pertandingan basketnya."

Terima kasih pada gemuruh angin di menara tertinggi Jepang itu, kebanyakan yang tidak dapat mendengarkan harapan Aomine terakhir—tepatnya terkecuali orang-orang tertentu. Aomine menjejalkan kepalan tangannya ke dalam saku celana, berlagak menguap seolah kebosanan dan merebahkan diri di lantai.

"Aku juga ingin sepertimu. Bertanding semaksimal perjuanganku, tanpa harus jelas hasilnya. Itu lebih menyenangkan."

Aomine mengerling ke samping pada gumaman seseorang yang duduk tak jauh darinya. Kagami meliriknya berpretensi malas. Kuroko menyadari keduanya bertukar pandangan intens sesaat, lalu membuang muka. Sang bayangan di antara dua cahaya, tersenyum tipis. Sebagaimana berkesinambungan pemahaman cahaya, bayangan akan menyertai dengan secarik pengertian.

Sang pelatih mengangkat sebelah alisnya. Ia yakin Aomine mengatakan hal lain tepat ketika angin berhembus. Tapi apa? Dia cukup yakin Aomine pasti menolak siaran ulang hal-hal yang diserukannya pada deru angin. Mengedikkan bahu, pria bersurai kolong langit itu menjatuhkan pandangan pada sebuah nama lalu menyebut, "HIMURO TATSUYA!"

Himuro beranjak bangun dari posisi duduknya, tenang menuju hotspot—tempat beberapa remaja lelaki sebelumnya meneriakkan kata-kata mereka. Desir angin mengayunkan rantai yang tergantung di lehernya, bergemericing ketika bandul berupa cincin menggesek helai pakaian yang dikenakannya.

"HIMURO TATSUYA DARI YOSEN—" Beberapa orang cukup terkejut karena tak menyangka Himuro yang biasa bersuara lembut itu kini berkata tegas, "AKU SANGAT MENYUKAI BASKET. Aku BENCI orang-orang yang berpandangan negatif tentang basket tanpa mencoba menggali sisi positifnya. Aku BENCI pada mereka yang mempunyai bakat keajaiban dalam olahraga yang sangat kusukai ini tapi justru menyia-nyiakan segalanya!"

"Aaahh~ Muro-chin, aku tersindir."

Midorima mendengus. "Tentu saja dia bicara tentangmu. Huh. Ironi. Kau temannya, tapi juga orang yang dibencinya, Murasakibara."

Murasakibara menguap lebar, tidak mengacuhkan perkataan Midorima. Himuro membalikkan badan dan duduk lagi di tempatnya semula, tepat di sebelah Murasakibara. Pemuda bertahi lalat di bawah mata kanannya itu merasakan seseorang mengerlingnya, ia balas melirik—terkejut menemukan Aomine menatapnya datar. Himuro tersenyum tipis.

"Heh … aku mengerti kenapa sekarang kau munafik," cetus Aomine frontal.

Kagami membelalakkan mata, mulutnya ternganga—hendak mendamprat rival dimnya itu, namun Himuro tenang merespon, "Terima kasih. Tapi kurasa perspektif dan perasaanku tidak sederhana itu."

"KISE RYOUTA." Kagetora mengusik perhatian mereka yang berdebat kecil soal hipokrit.

Kise bangun dari duduknya. Berlari kecil lalu mencengkeram rail besi yang dingin di telapak tangannya. "KISE RYOTA DARI KAIJO." Meski tidak ada yang bisa melihat ekspresinya, semua cukup yakin pemuda itu tengah nyengir cerah-ceria. "AKU MODEL POPULER DAN PEMAIN BASKET PALING NEWBIE TAPI PALING PERFECT DI ANTARA PARA PEMAIN BASKET DI TIM INI. KALIAN BOLEH MENGHUBUNGI DAN MENGIKUTI SITUS JEJARING SOSIALKU—YANG MANA SAJA BOLEH. AKU TIDAK AKAN HERAN BILA KALIAN TAK BISA MENOLAK PESONAKU—APALAGI KETIKA AKU BERMAIN BASKET. OH, AKU TIDAK SUKA CA—ADUUUUH!" Kise menggosok-gosok punggungnya yang kena tendangan laknat, ia menoleh ke belakang dengan mata berkaca-kaca, merasa dejavu. "Kasamatsu-Senpai?!"

"Kasamatsu-Senpai kepalamu!" hardik Kagetora emosi. Dia menimpuk kepala pirang Kise dengan gulungan kertas dalam genggamannya. "Bicara yang benar! Aku memang bilang semua boleh bicara random, tapi yang serius."

"Aku serius, Kantoku! Duh—kenapa aku ditimpuk lagi?!"

Penonton tanpa malu-malu tertawa melihat Kise disiksa lagi oleh tendangan ala sang kapten Kaijo—pawang ace tim Kaijo itu.

Kagetora menghunjamkan tatapan penuh selidik pada mata berkaca-kaca yang pretentif. Berdecak tidak suka. Intuisinya mengatakan masih ada hal lain yang ingin Kise teriakan—tapi diliputi hesitansi maka itulah makhluk pirang titisan matahari itu meracau kacau-balau.

"Katakanlah! Jujurlah, apapun itu."

Sepasang manik topaz membulat menemukan pengertian dari orangtua di hadapannya. Ia menundukkan kepala, lantas mengangguk. Ketika ia mendongakkan kepala menatap cahaya matahari yang membutakan, Kagetora memutuskan untuk mundur—kentara terlihat puas karena menemukan keseriusan tergurat dari ekspresi si model muda ternama.

"Aku … tidak tahu harus senang atau sedih karena tergabung dalam tim ini—"

Ada suara tusukan imajiner menikam hati dan hampir semua mendesah atau mengerang, tanda menyetujui perkataan Kise.

"—AKU TIDAK SEDEWASA ITU UNTUK BERANI BILANG AKU AKAN MENGEMBAN TUGAS NEGARA DAN MEMENANGKAN KEJUARAAN BASKET INTERNASIONAL! AKU TIDAK SEHEROIK ITU! AKU HANYA INGIN—"

Tegukan saliva dan tarikan napas dalam.

"—BENAR-BENAR INGIN MENGALAHKAN AOMINECCHIII! SEKALIIIII SAJA! AKU BENCI KALAH BERMAIN BASKET DARI SIAPAPUN!"

Sunyi. Serentak belasan pasang mata memandang objek yang namanya diserukan lantang oleh pemuda yang berteriak kalap emosional. Aomine mengerjap-ngerjapkan mata, memulihkan diri lalu menguap berlagak tidak peduli—toh ini bukan hal pertama baginya mendengar Kise bicara seperti itu. Lagu lama baginya.

Kise berputar dengan satu kaki sebagai pivot. Orang-orang berbalik menatapnya. Ditatap dengan aneka ragam ekspresi, pemuda itu entah sejak kapan airmukanya secerah langit musim semi dan sinar matahari, berjalan kembali sembari menyisiri helaian pirangnya yang diterpa angin.

"Tidak usah tebar pesona begitu, Kicchan," celetuk Momoi geli.

Kise mengedipkan sebelah mata, nakal. "Aku memang memesona—ssu!"

"Cih." Kagami membuang muka. "Kise, tenggelam saja kau ke dalam lumpur, pesonamu bakal luntur"

"—kitakore."

"Kenapa kau jadi bersuara seperti itu, Kuroko?"

"Aku teringat Izuki-senpai. Oh ya, Kise-kun, aku tidak akan menyentuh situs jejaring sosialmu."

"Kise-san cukup blak-blakan. Su-sumimasen, tapi yang tadi benar-benar heroikisme ala protagonis manga."

"Kise-chin terlalu narsis."

"Dia tidak narsis, Atsushi. Hanya terlalu berlebihan percaya diri."

"Kantong muntah mana, Takao?"

"Maaf, Shin-chan. Aku juga mual mendengar deklarasi pamer diri tadi."

"Kau banyak bicara hal tidak penting, Ryota."

"KALIAN SEMUA KEJAAAAM!" protes Kise kesal. Ia mendelik pada Furihata yang berjengit ketakutan karena ditatap oleh mata berkaca-kaca si pemuda menawan ini. "Kau tidak berpikir seperti itu, 'kan?"

"A-ano—" Furihata beringsut mundur, merapatkan duduknya dengan Kagami dan Kuroko, "e-eh, iya. Me-menurutku kau jujur dan be-berani. Apalagi kata-katamu setelah ditendang Kagetora-san." Terlalu pengecut untuk membalas Kise yang menatapnya dengan mata berbinar-binar.

Suara kuapan yang sengaja dikeraskan menginterupsi Kise yang hendak menanyakan maksud perkataan Furihata.

"Yeah, dan kukatakan padamu sekali lagi, Kise, seribu tahun pun tak akan cukup bagimu untuk mengalahkanku."

Kise mencibir, tersenyum sinis pada pemuda yang meliriknya. "Kata-kata 'yang bisa mengalahkan aku hanyalah aku' itu sudah tidak lagi berlaku. Aku yakin akan datang suatu hari aku bisa mengalahkanmu, Aominecchi!" Kepalan tangan kuat meninju udara penuh determinasi.

Aomine hanya memutar kedua bola mata.

"Yeah, simpan dulu proposal tantangan untuk bertarung satu sama lain itu." Kagetora mengetukkan ujung pulpennya pada papan jalan, telah menunjuk sebuah nama lalu memanggil, "KAGAMI TAIGA."

"Kagamin, hati-hati awas jatuh!"

Kagami berjalan terlampau tenang untuk personanya, memanjat pagar besi pembatas dan berdiri tegar layaknya dahulu kala—lima menit sebelum upacara dimulai. Terdengar Momoi memekik ketakutan bila ia akan terjatuh—yang bila pemuda memiliki intensitas tatapan setajam Harimau itu jatuh dari ketinggian melebihi 600 meter tentu akan tewas seketika.

"Jatuh saja kau. Baru tahu rasa."

Celetukan dingin itu otomatis memicu respon tolehan kepala orang-orang pada sumber suara. Terbelalak horror menemukan kapten mereka yang bicara barusan, seolah sarat dendam kesumat kendati ekspresinya tetap sedatar semula.

Kagami mendecih, mengetahui siapa yang mencetus barusan. Dia mendengus. Mengontrol emosinya dengan mengepalkan kedua tangan. Menarik napas dalam-dalam—dan lantang suaranya menggelegar, "KAGAMI TAIGA DARI SEIRIN. AKU MENCINTAI BASKET SEPENUH HATI. AKU INGIN SELALU BISA BERMAIN BASKET TANPA HAMBATAN BERARTI DARI HIDUPKU."

"Basket baka," sahut Aomine yang menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan kepala.

"Kalian semua tidak ada bedanya, Dai-chan," tanggap Momoi di sela kikiknya.

Himuro yang duduk tak jauh darin Kuroko, tak sengaja mengerling bayangan dari cahaya seseorang yang sempat dianggapnya adik. Mata oniksnya melebar dalam keterkejutan, tak menyangka si bayangan yang biasanya minim ekspresi dan interaksi, tersenyum memandang punggung tegap MVP Winter Cup basket tahun lalu. Mata secerah langit musim semi itu ekspresif. Dalam hati terbit rasa penasaran, seberapa besarkah kepercayaan sang bayangan pada cahayanya—yang notabene dulu adalah adiknya?

"Meskipun aku benar-benar tidak yakin akan bisa betah setim dengan Kiseki no Sedai—"

"KISEKI NO SEDAI—SSU, eh?" Kise mengerjap-ngerjapkan mata. Dia menoleh pada Sakurai yang duduk dekat dengannya. "Tadi Kagamicchi benar bilangnya, ya?"

"Be-benar. Kagami-san tidak bilang Kuso Niji no Sedai," jawab Sakurai.

"—tapi aku rasa aku tetap ingin JADI NOMOR SATU! HELL YEAH!" Kagami mengacungkan kepalan tinjunya pada udara, nyengir lebar, "JADI NOMOR SATU SEDUNIAAAA!"

Andai saja semua atensi tidak sedang terfokus pada Kagami, niscaya mereka semua akan mendapati bahwa sudut-sudut bibir masing-masing terangkat melawan poros gravitasi, diam-diam menyetujui perkataan si pemuda penyuka hamburger itu.

Kagami melompat turun, dilihatnya partnernya telah mengangkat tangan diikuti Furihata yang nyengir—cengiran pertama si asisten timnas junior hari ini—menginisiasi high-five yang disambut hangat oleh Kagami. Ketiga trio Seirin itu saling menepukkan tangan khas pergantian pemain.

Kagetora tidak membuang waktu dari momen itu, tepat setelah Kagami dan bertukar high-five dengan Kuroko—dan tengah tertawa bersama Furihata, ia menyebut sebuah nama, "KUROKO TETSUYA."

"KYAAAA! AKHIRNYA, TETSU-KUUUUN!"

"Jangan teriak, Satsuki! Suara cempreng, jelek, menyakitkan telingaku—WOY! KAU MENENDANGKU, HAH?"

"DIAM, DAI-CHAN! INI GILIRAN TETSU-KUN!"

Kagami bersiul pelan. "Kebetulan sekali." Dia menatap geli partner-nya. "Bawa pengeras suara?"

"Tidak." Kuroko memandang lunak pada pemuda yang bercahaya terkena pancaran radiasi matahari. "Kuusahaka bersuara keras." Pemuda itu beranjak dari posisinya untuk mendekati palang besi.

"Hari Senin akan kuberikan kapur untukmu, Kuroko!" seruan Kagami itu sukses meretaskan senyuman Kuroko.

"Kapur … AH!" Furihata menjentikkan jari. "Oh, jadi yang di lapangan itu—"

Kagami nyengir lebar. "Duh, Furihata, kau kemana saja, heh?"

"SYUUUUT! DIAM KALIAN! NANTI SUARA TETSU-KUN TIDAK TERDENGAR!"

"Kalau kau teriak-teriak, justru suara Kuroko tidak akan terdengar," tukas Kagami sweatdrop.

"Iya, soalnya kau berisik, Satsuki," ejek Aomine, menyeringai yang bagi Momoi amat menyebalkan. Menghindar tepat ketika kaki jenjang si gadis nyaris menyepak tubuhnya lagi.

"Sssh. Kurokocchi tidak bicara juga, nih. Kalian jangan ribut," Kise memperingatkan.

Semua bungkam, menanti apa yang akan Kuroko katakan.

Kuroko memegang silinder besi mengilat yang dingin menyentuh telapak tangannya. Memejamkan mata, mengatupkan bibir, memikirkan baik-baik apa yang akan dikatakannya. Ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan—tapi tidak yakin apakah ia akan sanggup mengatakannya. Mustahil baginya untuk menguak kejujuran terdalam yang lama dipendam.

Hirupan napas dalam pelan-pelan. "KUROKO TETSUYA DARI SEIRIN." Ada siulan dan tepukan heboh dari balik punggungnya yang Kuroko tak hiraukan. "Aku cinta basket. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk tim ini. Tapi aku akan memperjuangkan yang terbaik semaksimal kemampuan terbatasku … asalkan—"

aku harap kita selalu bersama.

aku ingin menepati janji sekali saja untuk bahagia bermain basket walau berseberangan bench.

aku mau selalu bersama timku yang sekarang bermain basket melawan kalian.

aku tidak menghendaki permusuhan dan rivalitas selalu membayangi tim ini di antara kita.

aku tidak mau berpisah lagi—

"—semua ini dapat segera berakhir."

Belum dimulai, mengapa telah kau tuntut suatu akhir?

Kendati kalimat terakhir tak lebih dari lirih pedih hati yang merintih, di atas gumpalan hesitansi teriring ketidakpercayaan namun masih, orang-orang berharap bahwa orang inilah orang pertama yang takkan meminta akhir ketika segalanya baru saja dimulai dan semoga ikatan mereka dapat kembali pulih.

Kuroko tak membalas tatapan siapapun tatkala duduk lagi di sebelah Kagami. Ia membiarkan pandangannya kosong, sehingga tak satu entitas pun mampu menelisik isi benak melalui jendela ruang pandangnya. Dia menundukkan kepala lebih dalam, ketika tangan partner-nya mengacak ringan rambut birunya, dan Furihata menepuk bahunya. Dukungan moril.

Kagetora berpretensi tidak peduli. Ia mencatat sesuatu, menimbulkan sedepa jeda yang sebenarnya bagi bocah-bocah merepokannya itu menelusupkan keheningan yang menyiksa batin—entah kenapa. Mengafirmasi dalam sunyi bahwa mereka tak menginginkan semua ini ataupun kebersamaan dengan satu sama lain—seluruhnya hanyalah keterpaksaan dan mereka tak punya opsi untuk memilih. Dia mendongak, menyeringai ketika secara tak langsung satu timnas senior menaruh selarik atensi pada kapten mereka yang acuh tak acuh.

"FURIHATA KOUKI."

Jeda. Tulang-tulang leher menggemeretak dramatis. "HAH?!"

Furihata merasakan ulu hatinya ngilu. "E-e-eeeh, Kantoku, a-aku bahkan bukan pemain. Aku hanya a-a-asisten!" desisnya, nyaris histeris.

Tepatnya, asisten timnas junior ini mengeret ngeri—takutnya si kapten sudah siap beranjak maju dan memulai koar ala calon legislatif, tapi diserobot olehnya yang notabene bukan siapa-siapa dan hanya presensi kesebelas tanpa arti.

"Kau sudah lupa bahwa kau itu pemain basket tambahan yang seharusnya membantu meringankan pekerjaan Akashi, Momoi, dan aku?"

"TU-TU-TUNGGU!" Furihata mengangkat telapak tangan, menggelengkan kepala kuat-kuat dengan kecepatan mengagumkan. "A-aku seharusnya hanya membantu Akashi-san dan Momoi-san saja!"

"Kau memprotes pelatihmu, eh? Kau wajib membantuku karena aku adalah pelatih."

"Bu-bukan maksudku memprotes Kantoku! Ta-tapi, aku tidak tahu apa arti kehadiranku di sini…" jawab Furihata putus asa. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan…"

"OOOH~" Mulut-mulut mengerucut, takjub.

"Mana kutahu." Kagetora mengangkat bahu, sama tak pedulinya dengan ekspresi acuh tak acuh si kapten. "Harusnya kau tanya Akashi—dia kan yang dikira semua orang sinting karena memasukkanmu ke timnas ini. Tapi—" Pria paruh baya ini menanamkan pandangan pengertian khas orangtua yang berefek menenangkan Furihata, "apapun itu arti sebenarnya kehadiranmu, aku menerimamu masuk ke tim ini—setidak berguna apapun kau dalam permainan basket. Dan itu berarti kau tergabung dalam tim ini, maka aku ingin mengenalmu dan tahu tentangmu karena sekarang aku adalah pelatihmu. Mungkin kau pengecut, tapi selemahnya kau sebagai pemain, tidak berguna dalam pertandingan pun, kurasa akan ada suatu saat di mana kau bisa melakukan sesuatu dan hanya kau yang mampu melakukannya."

Furihata terpekur. Dia memikirkan seksama, meresapi kebijakan orangtua di hadapannya sedalam sanubari. Meski tak seluruhnya mengerti, tapi ada kedamaian tak bernama melingkupi relung hatinya yang sempat gundah-gulana. Sebelum tersadar, mendesah lelah. "Kagetora Kantoku, kau bilang aku 'tidak berguna' dua kali."

"Kau salah fokus, Nak. Karena itulah, angkat bokongmu dari situ dan cepat teriakkan hal apapun yang mengganjalmu!"

Tiba-tiba saja gemuruh tepuk tangan menyambut Furihata yang berdiri tertatih. Hampir terjungkal saking malunya karena mendadak remaja-remaja lain menepukkan tangan.

"Kagetora Kantoku kereeeen-ssu!" seru Kise heboh.

"Oke, oke, aku menerima Kantoku sebagai pelatihku! Kurasa mendengar perkataan Kantoku barusan membuatku tidak terlalu minder lagi." Takao bertepuk tangan keras dan terkekeh.

"Terima kasih, Kantoku." Sakurai membungkukkan badan beberapa kali.

"Kau tidak berpikir tepuk tangan itu untukmu, 'kan?" tanya Aomine yang menegakkan badan, menatap Furihata yang sempoyongan lesu.

"Tapi aku tepuk tangan untuk Furihata-kun." Kuroko mengangsurkan senyum tipis untuk kawannya yang sepertinya mispersepsi.

Kagami mendorong punggung Furihata, menepuknya sekilas menransfer sedikit semangat pada temannya. "Aku bertepuk tangan untukmu dan Kantoku." Ketika Furihata menatapnya tidak percaya, pemuda dengan alis bercabang itu nyengir lebar. "Kau bilang ingin pacar lagi juga tidak apa."

"Ganbatte, Furihata-kun." Kuroko turut memberikan dukungan moril pada kawannya yang satu itu.

Furihata berjalan lambat-lambat menuju palang besi. Setiap langkah yang memangkas jarak antara dirinya dan palang besi, digunakannya untuk berpikir masak-masak apa yang ingin dikatakannya. Berusaha fokus dan tidak memedulikan dengung komentar agak negatif di belakangnya.

"Apa hubungannya pacar dengan basket, Kagamicchi?"

"Berhubungan—kalau menyangkut Furihata."

"Memang basket itu kayak kesebelasan tim sepakbola, apa? Huh. Konyol."

"Bilang seperti itu pada Akashi-kun langsung, Midorima-kun."

"Ya Tuhan, kuganti julukannya : bukan Chihuahua. Tepatnya, siput. Oh, jalannya ke sana lama kan bukan tuan putri. AWW! Satsukiii!"

"Tidak sopan! Kau itu kalau sudah malas, lebih lelet dari Furin, tahu!"

"Ma-maaf, jangan bertengkar, Aomine-kun, Momoi-san."

"Aku lapar."

"Kapan sih kau tidak lapar, Murasakibara?"

"Heee … bukankah Murasakibara mengemil sepanjang perjalanan kemari, ya?"

"Mengemil saja tidak cukup untuk Atsushi, Takao-kun."

Kagetora mengode pada Akashi. Menyiratkan ia tidak menyukai anggota-anggota tim terus berkonversasi sesuka mereka padahal salah seorang anggota hendak meneriakkkan dengan lantang apapun isi hatinya. Akashi menganggukkan kepala sekali, berdeham tajam.

Hening. Seseorang yang sedang memegang rail besi menciut takut.

"Diam. Dia tidak akan bicara sampai kalian semua diam."

Sunyi seketika.

Akashi melirikpada pusat atensi, sudut-sudut bibirnya terangkat dalam sarkasme. "Silakan. Ingat durasi. Kami tidak akan selamanya duduk di sini hanya untuk mendengarkanmu."

Kise tentunya menotis raut ketidaksukaan yang mengental dari mimik Kagami dan Kuroko—dapat dimengerti karena bagaimanapun Furihata adalah rekan setim Seirin mereka.

GUBRAK!

Dan kenapa di saat seperti ini Furihata tiba-tiba malah terjatuh karena tersandung langkahnya sendiri?!

"E-eh, kau baik-baik saja?" Himuro bertanya agak khawatir pada Furihata yang face-landing tak jauh darinya.

"Bwahahahahaha! Tidak ada angin, tidak ada hujan, dia jatuh!" Takao tertawa berguling-guling di lantai gedung.

Midorima membenarkan letak kacamatanya dengan tenang. Menyepak kaki Takao agar berhenti tertawa, mengisyaratkan untuk menghentikan tawanya itu. Kendati urat-urat di dahinya berkedut melihat peristiwa yang menimpa Furihata.

Murasakibara yang melihat Furihata susah-payah beringsut bangun, gatal menendang pantatnya sampai terjatuh lagi. "Cepatlah bangun." Dan ia menarik lengan Furihata untuk bangun, tapi ketika dilepaskan, Furihata lungser lagi ke lantai.

"Apa gunanya kau menendang pantas teposnya, eh, Murasakibara?"

"Betapa hinanya kau menghina pantat orang, Aominecchi! Murasakicchi, apa yang kaulakukan?!"

"OI, MURASAKIBARA—" Kagami hendak berdiri dan menerjang pemuda paling jangkung di antara mereka.

"Kagami-kun, sudahlah—" Kuroko yang sebenarnya juga emosi masih berusaha mengontrol diri, menahan Kagami—yang tidak akan ia lakukan apabila Akashi tidak memberikan peringatan melalui lirikan tajam mata emperor.

"Hee … kenapa marah padaku? Aku kan mencoba membantunya bangun."

Furihata melata, berguling ke samping, ke dekat Sakurai yang berbaik hati—karena ingat kebaikan kecil Furihata tadi berusaha menyelamatkannya dari terkaman gadis-gadis karnivora—menolongnya untuk bangun. "Sumimasen … bertahanlah," gumamnya prihatin.

Pemuda pengecut itu mengais lantai semen gedung. Hatinya histeris ingin lari dari tempat ini. Dari orang-orang di belakangnya yang mungkin memandangnya rendah atau bahkan menertawakannya. Tapi dengan Kagami dan Kuroko yang sudah berbuat begitu banyak untuk mendukungnya, mengingat tempo hari lalu keduanya mengatakan senang karena ia berada di tim laknat ini, pula karena kebanggaan kedua sahabat dan para seniornya sebab ia tergabung dalam timnas, tak lupa kebaikan segelintir orang dalam tim ini, sekali saja Furihata memaksakan diri untuk bangkit lagi. Memantapkan langkahnya yang bergetar seakan menginjak guncangan gempa berskala ritcher tinggi.

"FURIHATA KOUKI DARI SEIRIN." Furihata memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. "Aku bergabung di tim basket karena ingin gebetanku bilang dia akan kencan denganku kalau aku jadi yang terbaik dalam satu bidang. Timku sudah jadi nomor satu di Jepang—"

"Tch." Nyaris semua yang dikalahkan tim Seirin mendecih tidak suka mendengarnya. Kagami melotot sepenuh hati.

"—dan aku senang sekali walaupun aku tidak berguna apa-apa di timku. Aku lupa gebetanku dan janji kencan kami!"

GUBRAK! Kali ini orang-orang yang terjatuh imajiner karena mendengar kejujuran Furihata. Kagetora tergelak mendengarnya.

"Tapi, kalau aku bisa membujuknya lagi dan memintanya jadi pacarku kalau bisa jadi nomor satu sedunia, akan kulakukan! Akan kulakukan semampuku—walau aku tidak berguna. Paling tidak, aku bisa mendukung teman-temanku—"

Kagami dan Kuroko—

"—lebih dekat, mewakili yang lain dari tim Seirin!"

"Well said, Furihata!" sorak Kagami.

Furihata menghembuskan napas panjang. Berbalik menatap yang lain, berjengit dan nyaris lompat dari puncak tertinggi jika tidak ingat ini adalah Tokyo Sky Tower karena tatapan toksik yang lain. Dia buru-buru berlari—menjaga langkah agar tidak tersaruk lagi, nyaris menyeruduk kedua temannya. Kagami meninju punggungnya sambil tertawa senang, Furihata tersenyum sedikit dan melakukan bump-fist bersama Kuroko, lantas berkata lirih.

"Aku tidak mau menyesal lagi seperti tahun lalu, Kuroko."

Kuroko tersenyum, lantas menganggukkan kepala. "Aku yakin kau tidak akan mengalaminya lagi. Paling tidak, aku akan memastikan kau tidak akan menyesal lagi, Furihata-kun."

"Yoshaaa! Jadi nomor satu seduniaaa~" seru Kagami seraya mengacungkan tinju pada udara.

"OSU!" Furihata dan Kuroko mengikuti jejak ace tim Seirin, meninju udara dengan kapalan tangan mereka dengan senyum terukir di wajah.

dan kenapa suatu individu ordinari seperti Furihata bisa menerbitkan senyum sang bayangan? Kenapa bukan orang yang paling pertama bersama dengannya?—pertanyaan yang takkan disuarakan.

Kagetora menyembunyikan senyumnya di balik papan jalan. Tiba-tiba dia merindukan untuk melatih—menyiksa jiwa-raga—tim bimbingan putrinya itu. Tipikal tim yang sangat disukainya. Mungkin memasukkan Furihata ke timnas junior tidak sekeliru perspektif orang-orang atas keputuusan ini. Yah, meskipun tidak menampik yang lain tidak menyukai kedekatan mereka bertiga.

"MOMOI SATSUKI."

"Eeeeh? Kenapa aku?" Momoi menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa bukan Akashi-kun? Aku kan bukan pemain."

"Tapi kau manajer. Furihata saja kusuruh maju. Masa kau tidak?" Kagetora menatap ringan pada satu-satunya gadis di antara para pemuda.

"Oh, jadi Akashi tidak maju?" tanya Aomine yang sedang mengorek telinga dengan kelingking.

"Nanti juga kupanggil," jawab Kagetora acuh tak acuh.

Himuro tersenyum palsu. Mengingat sebuah pepatah. "Save the best for the last, eh?"

"Kenapa ungkapannya cocok untuk sikon kapten kita, eh…" Takao menyahut, secara tak langsung mereka mengerling sang kapten yang mempersilakan manajer mereka untuk maju terlebih dahulu.

Momoi mengangguk, menuruti perintah kaptennya. Dia berjalan menuju palang besi. Menatap hamparan alam. Gadis bersurai seidentik sakura di musim semi itu menarik napas dalam-dalam—

"Jangan teriak hal-hal sekonyol ingin jadi pacar Tetsu—"

ZRASH!

Semua terkejut dan kocar-kacir ketika dengan kilat Momoi mem-pass akurat laksana ignite pass kai pada makhluk dim sialan yang ringan menangkap sepatunya.

"—atau bilang kau ikut ke tim ini karena kau harus jadi baby-sitter-ku, Satsuki." Aomine menyelesaikan perkataannya dengan terlampau tenang.

ZRASH!

Aomine menangkis roket imitasi berupa flat-shoes merah khas perempuan. "Astaga, berhenti melempar sepatu baumu, Satsu—"

Pletak!

Sebuah pulpen menikam tajam dahi tan, menewaskan Aomine Daiki telak.

Kise menaruh saputangan putihnya menutupi wajah dengan mata azura terbelalak lebar dan dahi tan tertancap pulpen. Mengatupkan tangan, pose orang berdoa.

"Ripposa in pace, Aominecchi~"

Momoi mendengus sebal, bibir merah mudanya mengerucut imut merutuki sahabat tersayangnya. Dihentakkannya langkah menuju rail besi. Mencengkeram palang dan memejamkan mata, mencoba memulihkan konsentrasi diri serta kata-kata yang hendak ia ucapkan.

Harapan tulusnya, semoga langit mendengar, bahkan mengabulkan.

"MOMOI SATSUKI DARI TOO." Suaranya tetap lembut meski sudah berteriak falsetto khas kaum hawa. "Aku berharap mulai hari ini, semua orang di sini yang menyukai basket dapat berjuang sekaligus bersenang-senang bersama. Dan … semoga, setelah semua ini, kita akan selalu, selamanya, bersama-sama!"

Refleks Kagetora mencentang nama Momoi Satsuki di daftar nama yang dipegangnya. Inilah yang ingin ia dengar. Hati dan ketulusan dari apa yang diserukan.

Gadis bersurai merah muda itu tersenyum pada para pemuda yang menatapnya dengan mata membulat. Tidak menyangka ada yang mengharapkan hal (sekonyol) itu untuk mereka. Tapi tidak ada yang berani menyinggung hati seorang perempuan, karena mereka tidak sampai hati melunturkan senyum manis yang terukir di bibir gadis itu.

"AKASHI SEIJURO."

Momoi mengangkat tangannya, laksana pergantian pemain ketika Akashi sudah berdiri karena lirikan Kagetora mengisyaratkannya untuk maju. Akashi menyambut tangan gadis itu dengan tepukan ringan, menimbulkan sorakan absurd di belakang mereka, dan Momoi tersenyum lebih lebar—mendorong kencang bahu Aomine yang merutuki kedatangannya.

Mungkin di antara seluruh orang yang tergabung di tim, hanya Momoi yang dengan inosennya masih percaya bahwa sesadis apapun Akashi, pemuda itu tidak akan menyalahi wewenang sebagai kapten atau tanggung-jawabnya untuk mencapai tujuan tim.

Akashi berhenti di depan rail. Terlalu sunyi. Dia menyeringai dingin, menoleh ke belakang, menemukan wajah-wajah digurati serius menantinya bicara. Dan seringainya makin lebar, tahu benar pion-pionnya gemas menanti apa yang akan ia ucapkan sembari mengumpatinya. Tapi ia membalikkan badan, membelakangi segala panorama, memindai sekeliling yang ada di tempat itu. kemudian mengarahkan pandangan pada terik matahari dan langit yang menaungi mereka.

"AKASHI SEIJURO, RAKUZAN." Dia memandang lurus pada Kagetora yang memandangnya dengan tatapan ekspetatif. "Aku menerima tanggung-jawab sebagai kapten untuk memimpin timnas junior Jepang dan meraih kemenangan menjadi juara dunia dalam segala kagetori basket." Pandangannya ringan bergulir satu per satu pada bidak-bidak catur kehidupannya, tidak menekan seringai dinginnya yang selalu menikamkan hawa dingin pada semuanya. "Bila aku gagal melaksanakan tugasku, aku bersedia bertanggung-jawab penuh dan menerima kompensasi. Akan kuletakkan jabatan dan kucungkil mataku—" Jeda dramatis, "—kuhadiahkan sebagai simbolisasi bila aku gagal memimpin tim untuk mencapai tujuan kita bersama."

Tujuan kita bersama, eh?

Semua menahan napas mendengar orasi tenang sang kapten yang berbalik memunggungi mereka. "…aku selalu menang, aku selalu benar, karena itulah aku absolut. Tidak ada yang bisa menghalangiku mencapai tujuanku, bahkan orangtuaku sendiri. Dan aku ingin—" Terdengar gumaman samar entah apa yang dihalau desau angin.

Kagetora berdecak kesal. Dia cukup yakin Akashi mengatakan sesuatu—tapi angin sialan merahasiakan dari mereka semua. Ia tidak mungkin meminta siaran ulang—seperti ketika Aomine maju tadi. Dia menatap Akashi yang masih berdiri—kini kembali menghadap mereka semua. "Akashi."

"Ya, Kantoku?"

"Kalau kau gagal melaksanakan tugas sebagai kapten—" Kagetora menahan hasrat untuk tertawa puas melihat ekspresi tak suka mengeruhkan ketenangan kapten tim kecilnya, "—dan tim ini kalah, kompensasinya adalah nyawamu. Jika kau tidak berani melakukannya, mundurlah dari jabatanmu sekarang daripada menyesal belakangan."

Hening berdesing.

"HEEEE?! KAU SUDAH GILA, KANTOKU?!" jeritan histeris.

Akashi membalas tatapan tajam Kagetora yang menghunjamnya dengan intensitas serupa. Pelatihnya ini tidak main-main. Siratan dari bola mata coklat terpicing itu menyuratkan keseriusan, mempertanyakan determinasinya sebagai seorang pemimpin, menantangnya sebagai seorang pemain basket bermartabat. Mengingat bahwa membawa timnas ini berlaga dalam kompetisi dunia bukanlah permainan—walaupun sejujurnya Akashi masih berpikir bahwa ini tidak lebih dari suatu langkah influesif tak ubahnya bagai bermain catur.

Ketika Akashi sedang kontes death-glare dengan Kagetora, dengung komentar bahwa hal yang dicetuskan Kagetora adalah hal irasional meriuh-rusuh.

"Sumimasen, aku berpikir pelatih kita gila," Sakurai meratap pelan.

Aomine mendecih. "Aku setuju. Kalau dia bilang habis ini kita suruh terjun bebas dari atas sini ke bawah sana, aku tidak akan kaget."

"Ya Tuhan, semoga Akashi tidak menolak—" Takao pasang pose orang berdoa khusyuk.

"Memang kenapa kalau ditolak? Ini berbahaya, dan sepertinya Kantoku tidak main-main," tanggap Himuro khawatir.

"Justru itu masalahnya!" Kise menyela—tadi dia lagi-lagi ikut mengamini doa khidmat Takao. "Kalau bukan Akashicchi yang melakukannya, siapa lagi yang mau, pantas, dan bisa melakukannya?!" desisnya panik.

"Mido-chin bisa," Murasakibara ikut menyahut, "soalnya dulu dia wakil kapten."

Midorima menahan diri untuk tidak melemparkan lucky-item-nya hari ini mementung kepala si kyojin bersurai ungu. "Tidak. Aku tidak akan menyia-nyiakan karunia terindah Tuhan: nyawa."

"Aku tidak mau," Kagami mengedikkan bahu, "jadi kapten merepotkan sekali sepertinya."

"Eto saa … kan jadi kapten punya hak veto untuk menghukum anggotanya," cetus Furihata mengingatkan.

Para pemuda lain berdecak sebal. Terbayang bila mereka melakukan kesalahan dan Akashi menyiksa mereka jiwa-raga.

Kuroko menghela napas pendek. Dikerlingnya kapten mereka yang tersenyum dingin. "Akashi-kun tidak akan mundur begitu saja apalagi menolak. Kalian tahu itu."

"Benar." Desahan setuju mengudara.

Akashi mengangguk tenang. "Aku terima, Kantoku."

Kagetora melambai pada Akashi untuk menghampirinya, formal keduanya berjabat tangan. Seakan menyegel kontrak dengan perjanjian darah imajiner ala mereka yang membuat semuanya bergidik ngeri.

"Oke." Pria paruh baya itu mengelus jambang tipis di dagunya. Mata coklatnya menelusuri daftar dan data-data statistic di kertas. "Pengecekan, cek. Pemberitahuan peraturan, cek. Perkenalan, cek. Ah—" Senyumnya yang terkembang membuat anak-anak didiknya itu merasakan perut mereka dililit sesuatu.

"Pe-pelatihan?" tanya Momoi, entah kenapa ia ikut merasa gugup.

Tiba-tiba saja suspense mengentali atmosfer. Suara tegukan saliva dan debaran jantung dipacu adrenalin menggema.

"—pengetesan." Kagetora menatap ringan mereka. "Cepatlah ganti baju kalian dengan pakaian berlatih basket yang biasa. Kutunggu di sini dalam waktu—" Ia melirik arloji, "—sepuluh menit dari sekarang."

"HAH?!"

"Satu menit sudah tersia-sia, Nak." Pria itu menikmati kepanikan anak-anak muda yang berhamburan mengobrak-abrik masing-masing tas atau berpencar menuju pintu keluar. "Furihata, kau juga."

"HEEEE?!" Furihata terlonjak, refleks bergegas mengejar yang lain.

"KANTOKU, TOILET DI MANAAA?"

"Pakai otak, carilah." Pelatih olahraga professional satu itu meraih satu tas besar yang terpisah dari yang lain. "Mau telanjang lalu ganti baju di sini pun tidak masalah. Tidak ada siapa-siapa."

"KYAAA! AKU ADA DI SINIIII!" Momoi histeris menutup sepasang matanya. Sayang sekali, ia menutupi matanya yang polos dan suci dari tubuh-tubuh pemikat dosa karena dapat menggoda kaum hawa.

Para pemuda itu berlarian menenteng tas mencari toilet entah di mana. Momoi sepi ditinggalkan sendiri, dia merosot ke lantai sembari menghembuskan napas panjang karena tidak perlu melihat aksi seronok pornografi dari orang-orang yang dikenalnya. Sungguh, hati sucinya tidak kuat.

Sepeninggal para remaja lelaki kelebihan energi, Kagetora mengerling satu-satunya gadis dalam timnas junior.

"Momoi, kemari sebentar. Aku punya tugas khusus untukmu—karena hanya kau yang bisa melakukannya."

"Eh?"

Momoi Satsuki lantas menyimak penuturan sang pelatih. Bukan tugas personalnya yang harus ia kerjakan membuatnya kaget, melainkan tes macam apa yang diujikan pada kawan-kawanya.

Setelah itu, sang gadis memandang langit yang telah dihelakan beragam makna. Memanjatkan doa terakhir agar semuanya tetap baik-baik saja.

.

To be continue

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Jadi isi chapter ini cuma ngebacot dan ribut aja? –SEKAI DESU! *gelundung ke pojokan* saya kok seneng banget bikin mereka ribut meaningless begitu. Kufufu~ *jitaked*

Lagi-lagi chapter ini hanya sisipan hints aja. Anw, sebelum chapter berikutnya saya update (dan sejauh ini chapter berikutnya itu asli paling menguras energi dari riset sampe nulis), saya mewanti dari sekarang bersiaplah. Bersiap untuk segala kemungkinan. *nyengir misterius*#diinjek

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan