Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)

.

So, I will survive~

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.

.

Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)

Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Mereka saling memunggungi saat berganti baju di toilet. Beberapa langsung menenggelamkan diri ke bilik kamar mandi—memisahkan diri dari yang lain. Belum apa-apa aura rivalitas telah berkobar di antara mereka. Tuas tensi bergeser menuju hiper.

Ironi. Tadi mereka begitu berisik, alangkah lucunya kini mereka berdiam diri tanpa melontar kendati hanya sebisik. Kesunyian konstan berderik.

Sampai ketika seseorang membuka pintu untuk keluar mendahului mereka, entitas lain mengumpulkan segenap keberaniannya untuk memecah keheningan mengerikan yang melingkupi mereka.

"Hei."

Orang-orang yang tadi di bilik toilet menyembul keluar. Mereka mau tak mau membaur nyaris melingkari seisi toilet yang dipenuhi oleh mereka saja. Semuanya menolehkan kepala, menatap asing orang yang mengusik fokus mereka. Presensi anomali itu meraih tas selempang yang dibawanya, menguak isinya. Tergesa-gesa menjelaskan motivasi atas preparasi yang ia harap semua ini akan menuai perfeksi.

"—karena itu, tidak tahu bagaimana hari ini akan berakhir dan apapun yang akan terjadi … paling tidak, saat itu tiba, jangan ada yang mengacau."

Suara itu tenang. Matanya tajam menelusuri satu per satu sosok di sana dalam gelimang cahaya lampu toilet.

Pemimpin mengafirmasi proposal yang diajukan dengan anggukan. Tak ada lagi yang kuasa menggugat.

Keran air pelan menggulir butir, berdenting mengisi mirisnya hening.

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 8

"Show Me Your Love for Basketball"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Sekembalinya para pemain basket dengan talenta luar biasa ke rooftop, mereka menemukan sang manajer sedang menghadap tiga buah laptop dengan speaker dan satu netbook dilengkapi berlembar-lembar dokumen, berkeping-keping Compact Disk serta flashdisk, mikrofon yang tersambung dengan mini antenna UHF dan head-set di netbook, gadis ini menekuni entah apa.

"Apa yang kaulakukan, Momocchi?" Kise yang pertama menghampirinya. "Wow!"

Dua buah laptop dengan layar datar kini terbagi masing-masing menjadi sembilan kolom. Jadi ada delapan belas kolom, menunjukkan pemandangan serupa dan statis—tikungan tangga darurat dan kenampakan dinding yang tergantung sebuah papan layaknya acuan panah . Satu laptop yang digunakan sebagai DVD atau CD Player, netbook untuk insert data dalam flashdisk, memampang grafik statistik dengan data-data dimulai dari MS Excel menampilkan tabel berlabel World Cup Championship: Youth.

"Stalking and Scouting," jawab Momoi ceria.

"Stalking siapa?" gumam Himuro, mewakili ketidakmengertian yang lain.

"Stalking kalian. Nanti kalian akan tahu." Momoi terkikik geli, sok misterius. Tentu dia telah mengetahui tes gila macam apa yang akan diberikan Kagetora pada teman-temannya. "Well, kalau scouting, tentu memelajari musuh kalian dan segala probabilitas futuristik dengan posibilitas tertinggi. Nanti kalian juga akan belajar, tapi tidak sekarang. Saat ini, cukup percayakan saja padaku!"

"Aku tidak mengerti." Kagami mengerjap-ngerjapkan mata.

Aomine melihat semua hal-hal memusingkan itu lantas menguap. "Aku tidak peduli."

"Mohon bantuannya, ya, Momoi-san."

"Te-tentu, Tetsu-kun! Kuusahakan yang terbaik untuk kalian!"

SREK!

Suara terbakar dan bau hangus korek api membuat mereka semua menoleh pada sang pelatih. Sweatdrop besar menggantung di pelipis melihat batang-batang korek dibakar hingga ujungnya hangus. Beberapa bahkan memucat, takut pelatih mereka melakukan hal ekstrim lagi.

"Hei, kalian kemarilah!" Kagetora melambaikan tangan pada para pemuda untuk mendekatinya. "Cepat ambil satu batang ini!"

Mereka mengantri dengan baik—terima kasih pada pandangan dingin manik heterokromik yang menyebabkan mereka bungkam, mengambil batang korek api seorang satu. Ada yang mendapatkan batang korek polos, ada yang mendapatkan ujungnya telah menghitam atau hangus.

"Hei, Furihata, cepat ambil!" Kagetora menarik pemuda itu yang memucat karena tersisa dua batang, dua pilihan yang tak diketahui.

Furihata menarik ragu sebuah batang. Ternyata tepiannya tidak ada bekas hangus. Ia mengedarkan pandangan melihat siapa saja yang mendapatkan batang serupa dengannya.

"Oke. Tim A. Akashi, Murasakibara, Kise, Sakurai, Kuroko, dan Furihata." Kagetora mengumumkan tim pertama yang mendapatkan batang korek polos. "Tim B. Aomine, Midorima, Himuro, Takao, dan Kagami. Silakan tentukan kapten terlebih dahulu, baru aku beritahu apa yang harus kalian lakukan."

"Ta-tapi, jumlah timnya jadi tidak seimbang karena ada aku," sahut Furihata pada pelatih mereka.

"Memang ada atau tidaknya kau akan memengaruhi jalannya tes?" Takao balas menyahut dari sisi tim seberang, inosen.

Tanggapan pemilik mata elang itu mengiris sembilu ulu hati sang asisten timnas. Sakurai berbaik hati menghiburnya dengan menepuk sekilas bahunya, mengulas senyum ragu yang membuat Furihata menghembuskan napas panjang—lelah.

Kise bersorak bahagia. "YES! SETIM DENGAN KUROKOCCHI~"

"Aku tidak sesenang itu, Kise-kun," tanggap Kuroko datar.

Sang perfect-copy itu mengucurkan airmata palsu. "Ja-jadi Kurokocchi tidak senang setim denganku? Kejam—ssu!" serunya dramatis.

Pemuda yang paling tinggi di antara mereka semua melirik kapten timnas junior. "Aka-chin jadi kapten?"

"Ada yang lebih pantas dariku, Atsushi?" tanya Akashi retorik.

Seluruh tim A menoleh pada seorang pemain yang sedang berbicara dengan pemuda paling tinggi di antara mereka. Serempak mereka menggeleng. Akashi tetap tenang seperti sedia kala walau sorot matanya menyiratkan puas karena tidak seorang pun mengoposisi dirinya menjadi kapten.

Tidak perlu berdiskusi pun, tim A telah menentukan bahwa kapten mereka adalah Akashi Seijuurou—dan tampaknya sang kapten yang bersangkutan langsung tahu dirinya otomatis jadi kapten. Lain halnya dengan tim B yang memecahkan perang dunia dengan perdebatan part sekian.

"Kataku juga Shin-chan saja yang jadi kapten. Dia dulu wakil kapten, dan pernah akan diangkat jadi kapten oleh kapten tim Shutoku. Tapi batal, sih."

"Tidak, tidak. Dia terlalu suram. Lebih baik aku yang jadi kapten, hanya aku yang bisa. "

"Orang sepertimu, Ahomine? Huh. Aku tidak terima kau atau Midorima memerintahku seenaknya!"

"Terus kau mau jadi kapten, Bakagami? Aku tidak terima tim kita dipimpin oleh orang macam kau atau Aomine, nanodayo!"

Himuro menghembuskan napas panjang. Mereka akan mulai baku-hantam bila tidak ada seseorang yang menengahi situasi memanas. Tenang, dia mengangkat tangan. "Sudahlah. Pertengkaran begini tidak ada gunanya. Coba kalian lihat! Tim A sudah menunggu begitu juga Kantoku. Kita harus cepat memutuskan."

"Kalau begitu, berikan solusi—selain kau bilang bahwa kau yang layak jadi kapten," tandas Aomine dingin.

Himuro tidak terpengaruh dengan sarkasme Aomine. "Minta pendapat orang di luar tim kita. Siapapun yang disebutkannya, bila alasannya logis dan masuk akal—bahwa orang tersebut pantas jadi kapten, maka dialah yang jadi kapten," paparnya.

Sunyi singgah sesaat, sebelum satu per satu dari mereka menurunkan sedikit ego dan mengangguk menyetujui saran yang ditawarkan Himuro.

"Tanya siapa?" Takao melirik tim A dengan pandangan kalkulatif.

"Selain semua yang tergabung dalam tim B. Akan lucu jadinya jika kita minta pendapat tim lawan," jawab Himuro dengan mata kanan tak tertutupi helai surai mengawasi tim B.

"Kalau begitu, tinggal sisa Kagetora Kantoku dan Momoi." Midorima membenarkan letak kacamatanya. Pandangannya bertemu dengan sepasang manik merah yang mengkhawatirkan tim B. "Kita tanya Momoi saja dulu."

Aomine, berdasarkan titah melalui kerlingan mata dari pemuja Oha-Asa itu, bergerak malas-malasan menghampiri sahabat sejak kecilnya. "Katakan, di antara anggota tim B, siapa yang pantas jadi kapten?"

Momoi terkejut. Namun cepat pulih. Dia tahu estimasinya dinanti demi nasib tim B. Dia berpikir dan mengonsiderasi sejenak, menilik satu per satu individu yang tergabung dalam tim B.

"Kumohon, jangan sebut aku yang harus jadi kapten—"

"Jangan besar rasa begitu, Takao."

"Kepalamu besar, Midorima."

"Mulutmu besar, Kagami!"

"***ku besar."

"AHOMINEEE!"

Momoi menendang tulang kering pemuda dim yang mengatakan hal patut disensor. Dia berdeham, lalu menjatuhkan pandangan sembari menunjuk pada pemuda yang dari tadi diam saja. "Himuro Tatsuya-kun." Dia mengingat pemuda ini sebagai orang yang secara tak langsung menyelamatkannya—karena memberitahukan Aomine posisinya saat akan diterkam makhluk-makhluk jelita ganas. Diulasnya senyum pada pemuda yang namanya ia sebutkan.

Sedepa jeda.

"KENAPAAAAA?!" protes bergaung.

Momoi menghembuskan napas panjang, bersimpati. "Karena dari tadi kalian ribut saja. Ketika kalian berdebat dan mementingkan ego masing-masing, yang memberikan solusi adalah Himuro-kun dan dia tidak kekanak-kanakan dibanding kalian. Bayangkan saja kapten dalam sebuah tim tapi tim tersebut tidak menerima seseorang sebagai kapten, atau kaptennya terlalu egois dan kekanak-kanakan. Apa akan benar timnya? Tentu tidak."

"Aku setuju dengan Momoi," sahut Kagetora, "alasannya pun logis."

Mereka saling berpandangan, tentu meragu. Himuro tetap diam—dia sendiri tidak yakin dirinya mampu menjadi kapten untuk tim beranggotakan orang-orang terbaik. Pula pandangan mata yang lain menjustifikasinya, mempertanyakan kapabilitasnya sebagai kapten.

Kagami yang pertama berdeham memecahkan kesenyapan. "Setuju." Dia nyengir lebar. "Kalau Tatsuya, aku terima dia jadi kapten daripada kalian. Aku percaya dia bisa memimpin kita."

Aomine awalnya hendak menyanggah, namun berkat cubitan menyakitkan Momoi di punggung lengannya—isyarat agar ia tidak meninggikan ego, terpaksa ia mendengus lalu membuang wajah. "Oke."

"Baiklah." Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Tapi bila dia tidak benar mengatur kami sebagai kapten, aku tidak akan menuruti apapun perintahnya."

"Aku ikut yang lain saja." Takao tidak mau menyusahkan.

Himuro tertegun. Kepalanya tertunduk. Sesuatu menggelitik hatinya ketika menemukan orang yang dulu ia anggap adik kecilnya itu tengah nyengir lebar—terlihat konyol seperti biasa. Lagi-lagi dengan mata krimson yang berbinar-binar. Dia menghela napas pendek. Jika sudah begini, Himuro tahu ia tidak kuasa menolak—tidak dengan menghilangkan pendar bercahaya di mata krimson itu dan mengecewakannya.

Dia mengerling sang gadis yang terkejut ketika mereka bertemu pandang. Disunggingkannya seutas senyum tipis—Momoi mengangguk ringan kepadanya. Kemudian dia menatap setiap anggota timnya. "Mohon kerjasamanya. Terima kasih sudah memercayakanku menjadi kapten."

Tim B hanya mengangguk dengan ekspresi mereka masing-masing. Sportif, tim A mengangsurkan tepuk tangan seikhlasnya.

Kagetora bertepuk tangan dua kali. "Bagus. Sekarang, kalian duduk manis dan dengarkan aku baik-baik." Setelah memastikan sebelas pemain basket itu duduk ala anak Taman Kanak-kanak dengan atensi terfokus padanya, dia memulai penuturan.

"Kalian akan bertanding basket di Tokyo Sky Tree."

Hening.

Sunyi.

Sepi.

Mengerikan.

Menakutkan.

Menegangkan …

"HAH?! BAGAIMANA CARANYA?!"

… mengejutkan, eh?

"TSK. Diam dan simak penjelasanku, Bocah-bocah! Kalian lihat ada sekeranjang bola basket di situ, 'kan? Masing-masing orang wajib memegang satu bola basket. Nanti ada satu bola yang diperebutkan, dimulai oleh pemain starter—melakukan tip-off untuk merebut bola. Kemudian kedua pemain starter akan berebut bola istimewa itu sementara mereka harus mendribble bola sendiri. Apapun yang terjadi, bola masing-masing ibaratnya nyawa sendiri dan tidak boleh berhenti di-dribble. Bila sampai terlepas dari tangan kalian karena dijegal lawan, kalian akan berhutang sepuluh push-up padaku setiap kali bola terlepas dari tangan. Bola istimewa itu harus dioperkan pada pemain berikutnya yang sudah menunggu di pos kedua. Setelah sampai di pos kedua, pemain starter mengoper bola tersebut pada kawannya, dan rekan setimnya itu harus meneruskan ke pos pada pemain berikutnya, tapi harus mempertahankan dari serangan musuh, serta harus secepat mungkin sampai ke garis finish."

"Seperti estafet?" sela Akashi tenang.

"Benar." Kagetora menganggukkan kepala. "Tapi, ketika sepasang pemain sedang memperebutkan bola istimewa, para pemain lain tidak tinggal diam. Mereka harus melakukan bounce-chest-pass pada dinding apapun tempat mereka menunggu nanti, saling berlomba siapa yang paling banyak melakukan pass setinggi dada dipantulkan pada dinding—kalian harus menghitung sendiri. Tidak akan ada kecurangan penghitungan—karena aku dan Momoi mengawasi kalian melalui kamera pengawas di sini."

Ah, jadi itu gunanya dua laptop tersebut.

"Setelah semua pemain berestafet, mereka diperkenankan menunggu di lantai ketinggian 400 meter untuk bergabung dengan kloter pemain yang berada di estafet terakhir, tentu akan bertarung menuju garis finish yaitu di rooftop ini. Three-pointer harus melakukan shoot—three points lebih baik—dibantu oleh rekan setim masing-masing.

"Bola khusus itu bernilai 5 points jika ditembakkan dari kejauhan. Di sisi lain, pemain lain yang sudah selesai mengoperkan bola istimewa, kalian harus menyusul kemari untuk memasukkan bola yang masing-masing ada di tangan kalian ke keranjang basket oleh three-pointer. Jika dimasukkan seperti dunk, poinnya adalah dua. Jika dimasukkan dari dari jauh, tentu bernilai 3 poin."

Jeda sesaat. Mereka masih tercengang dan berusaha mencerna tes gila yang akan diujikan oleh Kagetora untuk para pemain basket sederajat sekolah menengah atas terbaik.

"Tempat bertandingnya, Kantoku?" tanya Kise yang berhasil pulih dari keterkejutan.

Kagetora tersenyum tipis—bagai iblis bagi yang melihatnya. Dia meraih sebuah gulungan besar dekat kakinya. Dibentangkannya gulungan tersebut. Peta kawasan Tokyo Sky Tree. Tangan kanannya menunjuk bangunan paling dasar di Tokyo Sky Tree. "Ini adalah lantai 0 meter. Kalian harus berlomba menuju puncak Tokyo Sky Tree, sampai sini sini, di lantai 450 meter. Satu lantai setinggi lima meter, jadi ada 90 lantai. Jadi kalian harus bertanding dengan menaklukkan 90 lantai tersebut. Silakan bagi-bagi penaklukan 90 lantai tersebut dengan tim masing-masing."

Mata-mata nyaris mencelat dari rongga. "90 LANTAAAI?!"

"Oh, tidak usah khawatir. Kalian tidak harus melewati setiap lorong. Tentunya di hari wisata seperti ini, akan sangat ramai dan padat. Jadi, kalian akan saling membalap 90 lantai dengan menaiki tangga exit. Tapi, khusus di setiap beberapa lantai tertentu akan ada pos di mana kalian harus melewati koridor tersebut dan menemukan tanda untuk melakukan pass khusus dengan bola istimewa tersebut pada teman setim—check-point. Peraturan selebihnya adalah peraturan normatif ala basket yang kalian ketahui—no foul."

"Bu-bukan hanya itu, Kantoku!" Takao angkat bicara, "Tapi, bagaimana bisa kami menembus keramaian di setiap lorong puluhan bila banyak pengunjung ramai di sana?"

"Kalian akan diberi jalan untuk melakukan check-point. Tidak usah pedulikan publik."

"Ja-jadi di tiap lantai puluhan akan ada penonton?" tanya Furihata gugup.

"Bisa dibilang begitu. Tapi aku jamin mereka tidak akan menghalangi kalian." Kagetora tersenyum bangga. Teringat dia sudah melakukan hal ini seperti tradisi bagi setiap murid yang dilatihnya. Dia merogoh saku celana training hitamnya di kantung satu lagi, menunjukkan sebuah surat berstempel resmi lengkap dengan simbol khas Negara Jepang. "Ini izin resmi dari Negara untuk kalian."

Gumaman takjub berkumandang perlahan.

"Bagaimana kami tahu kalau pengetesan sudah mulai sementara kami berada di lantai yang terpisah-pisah?" tanya Himuro logis.

Kagetora menunjuk peralatan yang berserakan di dekat sang manajer timnas junior. "Ada mikrofon dengan antenna UHF. Ini tersambung dengan speaker blue-tooth wide area connection diakses terkoneksi dengan speaker di tiap lantai atau lorong yang kalian lalui. Momoi akan menginformasikan segalanya. Kalian cukup konsentrasi mendengar suaranya dari speaker, sambil menghitung bounce-chest-pass."

"Apa kau tidak kerepotan, Momoi-san?" tanya Kuroko sembari mengerling gadis tersebut yang tersipu karenanya. "Kau harus melakukan scouting, tapi kau juga stalking kami."

Momoi tersenyum ceria. "Tidak masalah. Serahkan saja padaku!"

"Tidakkah Anda berpikir kami bisa saja tewas melaksanakan tes ini, Kantoku?" Murasakibara berkata dengan nada ditarik malas-malasan.

Kagetora mengedikkan bahu. "Mungkin. Hanya mereka yang lemah, bermental ciut, yang tidak mampu menaklukkan tes ini. Tapi timnas senior berhasil melakukannya."

Hening yang amat asing melengkapi mereka. Kengerian harus melalui 90 lantai dengan bertanding basket, di beberapa lantai tertentu bahkan harus menerobos publik, berlomba-lomba menuju puncak kemudian memasukkan bola ke keranjangnya.

Suara tawa rendah mengalihkan atensi. Kapten mereka mungkin yang pertama memicu tuas hororisme tes gila ini.

Akashi memandang Kagetora, lebih respek dari sebelumnya. "Jadi, inilah yang Anda maksud sebenarnya. Menuju puncak dengan seribu satu basket. Anda membuat kami harus mendribble bola sendiri, tapi juga memperebutkan bola istimewa, sambil menuju puncak—kemenangan—di rooftop ini. Ibaratnya kita memulai dari nol hingga puncak. Mengingat Tokyo Sky Tree adalah menara harapan. Perwujudan mimpi-mimpi. Makanya tadi Anda meminta kami meneriakkan hal-hal yang ingin kami ungkapkan."

Semuanya memandang Akashi seksama. Tidak akan mereka paham analogi perjuangan mereka ini dengan tes di Tokyo Sky Tree bila Akashi tidak menjelaskan.

Ternyata, tes ini memiliki makna yang mendalam—bukan sekedar terlampau sulit saja.

"Pintar," gumam Kagetora. Dia menyeringai kecil, menantang. "Tunjukkan padaku seberapa besar kalian haus akan kemenangan dan benci kekalahan. Tunjukkan kekuatan keajaiban kalian. Tunjukkan keberanian hati kalian." Pria paruh baya itu berjalan menghampiri keranjang berisi bola basket, meraih bola istimewa di tangannya. Tersenyum tipis."Tunjukkan padaku seberapa besar kecintaan kalian terhadap basket menggiring kalian sampai ke puncak!"

Momoi terperangah melihat yang apa yang terjadi berikutnya.

Tanpa perlu instruksi berikutnya, kedua tim telah berdiri. Sorot mata mereka meruncingkan determinasi dan pendaran nyali. Didera adrenalin dan letup-letup tensi. Mereka akan melakukannya—menunjukkan kecintaan dan dedikasi terhadap basket—meski harus mati di sini.

Kagetora memuji dalam hati kesigapan kedua kapten tim yang lekas meminjam peta pada Momoi untuk mengatur pembagian eksekutor berapa lantai, posisi siapa lawan siapa—dan berusaha menerka-nerka tim lawan akan memasang siapa di garis starter, finish, dan sebagainya. Perdebatan satu-dua kali yang tidak berarti. Tanpa disuruh pun, mereka pemanasan dengan sebaik-baiknya dipimpin oleh kapten tim. Kemudian melakukan cuddle terakhir.

Usai semua itu, Akashi dan Himuro saling menghampiri. Keduanya berjabat tangan sementara tim mereka satu per satu saling berhadapan. Persis seperti ketika pertandingan basket akan dimulai.

"Meskipun aku tidak memiliki pengalaman menjadi kapten sepertimu, Akashi, tapi aku dan timku tidak akan mengalah dari tim A."

"Bertarung dengan mereka yang memiliki niat setengah-setengah tidak akan menarik, Tatsuya. Tunjukkan kejutan apa yang disiapkan tim B melawan timku."

Para pemain basket lain masih menyempatkan diri untuk geleng-geleng kepala melihat kedua kapten itu bertukar seringai walau aura toksik mereka begitu kuat bertubrukan. Hal ini tentu memicu aura rivalitas dua tim menyembur ke seluruh penjuru rooftop lantai 450 meter.

Kagetora meniup peluit untuk menyudahi sesi death-glare kedua tim.

PRIIIT!

"YOROSHIKU ONEGASHIMASU!"

"Minna, ganbatte kudasai." Momoi dengan Nigou di pangkuannya melambai, menyemangati mereka.

Kagetora lantas membawa mereka turun dengan bola di tangan masing-masing menggunakan salah satu dari 13 lift di Tokyo Sky Tree yang hari khusus digunakan oleh timnas junior. Mengedrop satu per satu pemain di lantai masing-masing. Tidak cukup lama mengingat lift di Tokyo Sky Tree berkapabilitas 600m/menit.

Setiap sepasang pemain yang turun di lantai tertentu, Kagetora akan memberikan nasihat sebagai guru. Sebagai orangtua. Bijak.

"Apapun yang terjadi, percayalah pada hatimu."

.

#~**~#

.

"Oh, jadi kau pemain starter tim A, Kise?"

"Tadi Kurokocchi menguping diskusi tim B yang menempatkanmu jadi starter. Jadi aku merayu Akashicchi agar dijadikan starter juga karena aku ingin sekali mengalahkanmu, Aominecchi~"

"Tetsu sialan. Kalau melawan kau, butuh waktu bagimu seribu tahun untuk membalapku, heh."

"Seribu tahun, huh. Lihat saja nanti, Aominecchi."

Kagetora melihat aura samar menyelebungi kedua pemain yang saling menyengatkan pandangan mematikan. Mereka sudah men-dribble bola basket masing-masing. Tim A dengan bola basket berwarna putih-merah sementara tim B dengan bola berwarna hitam-biru. Bola khusus merupakan bola basket dengan warna oranye seperti biasa yang ada dalam genggamannya.

Ketiga orang tersebut berada di lantai 0 meter. Ada sebuah pintu terbuka, jalur exit—gawat darurat—garis start perlombaan. Jarang sekali digunakan karena fasilitas Tokyo Sky Tree yang sangat baik. Tip-off dilakukan lima meter dari garis start.

"Kalian sudah siap?" tanya Kagetora retorik.

Aomine dan Kise melirik padanya. Sama-sama mengangguk singkat.

"Bersiaplah, tip-off!" Kagetora mengambil ponselnya dan men-dial nomor ponsel manajer timnas junior. "Momoi, starters sudah siap. Beritahu yang lain tes akan segera dimulai!"

"Oke!" sahut Momoi dari seberang telepon.

Kagetora meletakkan ponselnya yang masih tersambung telepon, tak jauh dari mereka di tanah, lalu mengambil peluit sakti yang selalu tergantung di lehernya. Dia berdiri di antara kedua pemuda yang saling berhadapan dengan kewaspadaan meningkat melebihi seratus persen. Menyeringai, dia melempar bola oranye bundar tinggi-tinggi. Mencapai titik tertinggi, ia meniup peluit. Merasakan hempasan dahsyat angin dari kedua pemuda yang melompat cepat setinggi mungkin demi meraih bola istimewa.

Tip-off.

Aomine tidak menyangka belum apa-apa Kise telah mengaktifkan perfect copy-nya meniru loncatan super tinggi Kagami. Hanya sepersekian sekon, Kise sukses mendapatkan bola mendahului orang yang paling dikaguminya. Menyeringai penuh kemenangan, Kise men-dribble kedua bola di tangannya dengan lihai lalu berlari mendahului starter tim B.

Aomine mendecih. Dipacunya langkah secepat panther, menghadang Kise yang hendak melewati garis start. Dia memperkirakan Kise akan melakukan fake. Kanan. Kiri. Kanan. Tidak, mungkin kiri. Tapi ternyata Kise merealisasikan turnaround dan fadeaway, menunjukkan fleksibilitas tubuh semampainya, bola istimewa tipis lolos melewati sisi kanan ketiak Aomine yang refleks mengangkat lengan untuk menghalau lemparannya. Kemudian Kise berkelit, men-dribble bola personalnya untuk meraih bola istimewa dan melewati garis start.

"Tidak buruk, Kise." Aomine menggeram namun tidak kehabisan akal. Seringai dinginnya terbit. Dia mengejar Kise dengan dribble bola di tangan kanan. Dengan gerakan seperti akan merengkuh, ia mencegat Kise—yang sigap hendak melakukan fake, tapi Aomine lebih cepat melakukan back-tip pada bola personal si perfect-copy.

Bola personal Kise menggelinding. Fokus si model ternama terpecah—teringat bahwa jika bola personal terlepas dari tangan maka ia akan berhutang push-up pada sang pelatih. Kesempatan itu tidak disia-siakan Aomine untuk tangkas steal bola istimewa lalu men-dribble cepat-cepat dua bola dengan dua tangan, menaiki tangga exit meninggalkan Kise yang gemas dibuatnya—mengejarnya gila-gilaan seperti yang selama ini selalu ia lakukan.

Ketika dua sosok itu menghilang dari pandangan, Kagetora bersiul perlahan.

Ini baru permulaan.

Benar-benar Kiseki no Sedai.

.

#~**~#

.

"TIP-OFF! Mulai bounce-chest-pass! Starters sedang bertanding. Semangat, semuanya!"

Suara tenor khas perempuan yang menggema dari speaker itu menjadi pertanda bagi para pemain basket lainnya melakukan bounce-pass di sebuah dinding yang ada di tiap lantai tangga gawat-darurat.

"Satu. Dua. Tiga—"

DUK. DUK. DUK—

Suara-suara serius menghitung bola basket yang menimbulkan gema ritmikal ketika dipantulkan sejajar dada pada dinding statis sejarak satu meter.

DAG. DIG. DUG.

Mungkin ada gaung lain. Detak jantung bertalu-talu diinisiasi semangat yang meluap-luap dalam rongga dada.

.

#~**~#

.

Ketika Aomine dan Kise sudah mencapai lantai ke 90 meter atau tepatnya lantai 18, speaker kembali menggaungkan suara Momoi tepat ketika hitungan Himuro memasuki 1300 pantulan dan Murasakibara baru 900.

"Starters sudah sampai lantai 18 menuju check-point. Pemain pos kedua bersiap-siap di koridor lantai tersebut."

Sepasang siswa Yosen itu lantas men-dribble bola basket personal dan memasuki koridor publik. Suara speaker dari menara pusat berkumandang.

"Selamat siang. Pengunjung yang terhormat, dipersilakan untuk menepi, tertib dan tidak mengganggu keberlangsungan kompetisi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, dan terima kasih."

Para pengunjung yang sedang menyemuti tepian jendela-jendela bening besar berbentuk persegi, mengagumi pemandangan kota metropolitan dari atas, mendengar suara tersebut tanpa basa-basi menepi. Gumaman riuh-rendah terdengar ketika dua pemain basket muncul—keluar dari jalur gawat-darurat. Keduanya menemukan sebuah dinding besar yang digantungi kotak besar berlapiskan karet minim fleksibilitas dengan pola gambar ala papan panahan.

Check-point.

"Lamanyaaaa." Murasakibara menguap malas.

"Benar. Pasti yang di lantai atas lelah duluan melakukan bounce-chest-pass dan kakinya kaku," tanggap Himuro tenang.

Tidak lama terdengar kerusuhan dari ujung koridor satu lagi. Muncul sosok Aomine berlari kesetanan dengan mata azura berkilat-kilat mengejar Kise yang tunggang-langgang dengan sekuat tenaga melindungi bola istimewa dan bola personalnya supaya tidak terjadi steal lagi.

Para pengunjung Tokyo Sky Tree di lantai delapan belas bersorak meriah.

Aomine dalam zone tingkatan yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Sementara Kise menerobos kapabilitas perfect-copy tujuh menit, tidak peduli dihabiskannya dan dipertaruhkan segalanya untuk memenangkan pertarungan one on one mereka. Keduanya bersimbah parah peluh, tapi tidak sedikit pun mengeluh.

"KISEEEE!" Tapal kuat kaki tan menekan kuat pijakan, mendorong kuat langkahnya dengan kecepatan yang lebih daripada zone sebelumnya. Aomine bermaksud menjegal Kise. Yang coba dihentikan langkahnya itu lincah meniru sempurna gerakannya menghindar kesana kemari, mengaktifkan emperor-eyes untuk balik menjegal tapaknya. Tapi tidak berhasil. Tangannya tajam bagai tombak repetitif hendak meraih bola.

"Aku tidak akan kalah, AOMINECCHIIII!" Kise dan kepersistenannya yang benci kalah. Sejenak ia berhenti melangkah, ragu menyelinap dalam hatinya. Bukan karena kekagumannya terhadap orang ini. Melainkan pandangan mata biru berkilat elektrik dinamis. Benar-benar buas. Regalitasnya dengan aura seintens predator natural menghembus ke seluruh penjuru koridor terang-benderang. Mengerikan. Kise menyeringai—orang ini benar-benar seperti dinding yang akan ia hancurkan untuk meraih kemenangan.

"Kise-chin, check-point!"

"Aomine, apa yang kaulakukan?!"

Sang pemuda pirang berlari menyongsong check-point hendak merealisasikan ide brilian dengan mem-bounce-pass bola istimewa yang memantul dari check-point langsung pada Murasakibara. Tepat ketika ia akan melompat, tungkai-tungkainya berdenyut menyakitkan. Kise menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak memedulikan rasa sakit yang menggerogoti kakinya hingga terasa ngilu teramat-sangat. Teriakan emosional meluncur dari bibirnya ketika ia hendak melempar bola pada check-point. Bola itu terlempar, Kise menarik napas dalam. Dengan ini check-point pertama adalah penanda kemenangan—

"Kaupikir semudah itu mengalahkanku, eh?"

Sepasang mata topaz melebar dalam keterkejutan tatkala merasakan hembusan napas berat di telinganya. Lengan tan panjang melewati bawah lengan Kise yang terangkat, melakukan intercept sempurna karena telah membaca rute-pass Kise pada Murasakibara. Kise terdorong jatuh pada lantai baja menara ketika tubuh Aomine menabraknya. Dalam posisi begitu Aomine tetap jitu melakukan check-point lalu menangkap bolanya lagi dan kilat mengoper pada Himuro.

Foul untuk Aomine, tapi ia berhasil melempar dirinya ke samping sebelum menghantam tubuh lawannya. Kedua punggung lengan dan dadanya menjadi tumpuan mendarat. Betapa nyeri ketika bergesekan dengan lantai dingin.

Kise menghantam permukaan lantai. Matanya masih seperti hampir mencelat dari rongga. Nanar ia memandang sosok Himuro yang berlari menjauh menuju destinasi exit untuk menelusuri puluhan anak tangga, memalsukan gerakan terlalu sempurna untuk mengelabui Murasakibara yang ganas ingin merebut bola.

"Tch." Murasakibara tidak suka hal-hal yang membuatnya malas. Tapi ia lebih tidak menyukai kekalahan. Tuas emosinya bergeser setingkat naik. Langkahnya berdentum mengejar Himuro, menghilang dari pandangan.

Penonton bertepuk-tangan riuh.

Pemuda yang merupakan ace tim Too itu menggelepar kelelahan, mengerang pelan karena lengannya nyeri teramat sangat. Tapi ia mengangkat kepala, menemukan ace tim Kaijo tersungkur dengan kaki-kaki dilanda tremor hebat.

Aomine merebahkan diri lagi, menahan gemeretak giginya, mata terpejam dan bibirnya terkatup rapat. Didengarnya Kise merintih lirih di sela isak tangisnya, jari-jemari itu mengais lantai baja lalu meninjunya, menyalurkan frustasi kekalahan untuk kesekiankali.

Untuk sesaat, biarkan mereka beristirahat sebelum menyusul teman-teman agar kemenangan mutlak terpahat.

(Karena pemenang tidak berhak mengatakan apapun pada orang yang kalah.)

.

#~**~#

.

"Pemain kloter dua telah sampai di lantai 36—180 meter. Pemain ketiga segera bersiap di koridor check-point lantai tersebut!"

Serentak pasangan ketiga berhenti melakukan bounce-chest-pass. Mereka bergegas menuju check-point sembari konstan men-dribble bola. Takao bersiul takjub melihat interior ruangan yang beratapkan dan dinding luaran di satu sisi adalah kaca bening, bermandikan cahaya matahari. Benar-benar koridor ini terkesan seperti langit tempat elang akan mengepak sayap, melayang bebas ke angkasa.

"Haaah~ belum mulai apa-apa saja, aku sudah capek melakukan bounce-chest-pass." Takao menguap lebar.

Furihata enggan berkomentar. Dia sangat gugup dan tangannya berkeringat dingin untuk tetap mempertahankan kestabilan dribble bola. Dia berusaha berpikir jernih tentang hal apa yang bisa dilakukannya untuk menang dari Takao.

Jika diingat-ingat, timnya memang memiliki keuntungan karena mempunyai satu pemain tambahan seperti dirinya. Awalnya, Furihata menyetujui pemikiran yang lain bahwa ada atau tidak dirinya takkan memberi pengaruh demi kemenangan tim. Sampai Akashi berkata—

.

"Tidak. Masukkan dia dan pasangkan dengan Tetsuya untuk melawan Kazunari. Kita harus menyimpan energi Tetsuya dengan memanfaatkan Kouki—mengingat nanti di rooftop lantai 450 meter akan ada pertandingan yang sesungguhnya."

"Pertandingan sesungguhnya?" gumam Kise, sama tidak mengertinya dengan ambiguitas Akashi.

"Aku bisa melihat masa depan—" Akashi menyembunyikan gelimang heterokromiknya di balik serakan surai magenta, "—karena itu aku selalu benar." Ekspresi dingin puas, sungguh antagonis seperti biasa.

Tim A tidak ada yang menanggapi arogansi sang kapten.

.

Kembali pada saat ini. Takao terlihat tidak peduli dengan antusiasme publik karena kehadiran mereka di dekat papan check-point, berbanding terbalik dengan Furihata yang malu setengah mati.

Orang-orang datang berkunjung ke Tokyo Sky Tree umumnya untuk berpelesir. Bagaimana mereka bisa bermain basket tanpa disepak sekuriti bahkan jadi tontonan seperti ini? Benar-benar mengerikan.

"Oh, mereka datang!" seru Takao semangat.

Derap langkah menggema dramatis. Murasakibara menggiring dua bola basket sekaligus dalam zone menyeruak dari kegelapan membawa bola. Kentara terlihat emosional. Himuro mengejar di belakangnya, susah-payah dengan tarikan napas tidak teratur dan tampang sepucat mayat.

Furihata tersenyum sedikit, merasa agak lega karena Murasakibara yang membawa bola. Tapi kelegaannya berhenti sampai di situ ketika Takao dengan masokisnya terjun menghadang Murasakibara dalam mode zone.

"Himuro!"

Murasakibara mengerem langkahnya sedikit agar tidak melindas Takao yang kini terlihat serius. Berani-beraninya orang kerdil ini menghalanginya! Terlebih ketika partnernya di sekolah Yosen turut memblok dirinya. Namun itu bukan masalah, Murasakibara dengan kecepatan mengagumkan untuk orang bertubuh sebesar dirinya memanuver turn-around menghempaskan Himuro hingga jatuh terduduk dengan perut keras menghantam bola personalnya, tapi pemuda yang kini kedua matanya terbuka tanpa ditutupi poni hitam itu sukses menepis bola personal Murasakibara. Dalam waktu sepersekian detik itu Takao mengincar bola istimewa untuk direbut, dan hembusan putaran luar biasa anggota tim A itu turut menjatuhkannya.

Dalam waktu hampir bersamaan, dua bola sekaligus lepas dari tangan Murasakibara. Tentu hutang push-up akan menanti pemuda jangkung itu. Tapi bola istimewa itu yang penting justru malah menggelinding.

Murasakibara hendak bangun, namun Himuro—tidak menghiraukan sakit yang mendera perutnya—nekat dengan tekad membara,mengumpankan diri untuk melakukan back court. Pemuda jangkung ini mendecih marah.

"Muro-chin, kau benar-benar—!"

"Maaf, Atsushi. Meskipun lawanku adalah kau, aku tidak akan mengalah! TAKAO, AMBIL BOLA DAN CHECK-POINT!"

Takao belingsatan buru-buru bangun. Dilihatnya Furihata telah mendahului berlari menyongsong bola istimewa. Salah seorang pengunjung menangkap bola bundar oranye, mengoperkannya kembali pada Furihata. Takao menyeringai saat melihat Furihata berjengit ketakutan diblok olehnya.

"OPER, BODOH!" Murasakibara meraung pada Furihata. "CHECK-POINT!"

Mau oper bagaimana kalau diblok oleh pemain bermata elang?! Furihata histeris ketakutan dalam hati. Ketika tangan Takao meluncur jelas mengintensi untuk steal bola istimewa, Furihata berteriak dramatis dan melempar bola ke langit-langit koridor.

BANG!

Orang-orang menjerit kaget. Takao melompat, sigap menghindar bola yang menerima gaya pantul hebat dari langit-langit ruangan dan nyaris menggilas kakinya, telinganya berdengung karena gema dramatis pantulan bola istimewa. Furihata sudah terlalu bingung dengan apa yang dia lakukan, ketika bola istimewa melambung di hadapannya lagi karena efek pantulan, pemuda bertendensi pengecut itu malah melemparkannya asal dengan kekuatan berlebih.

Himuro pulih, melepaskan diri dari Murasakibara, melakukan fast break. Agresif menangkap bola istimewa dan hendak merealisasikan mirage shoot andalannya. Ketika ia sudah keburu melompat, baru teringat ia tidak bisa melakukan shoot kebanggaannya dengan dua tangan membawa dua bola basket. Di saat itulah Murasakibara ganas menghabisinya dengan mencengkeram bola istimewa menggunakan vice claw. Tidak sampai di situ, merilis putaran 180 derajat dari Thor's Hammer dan bola ditujukannya pada check-point.

Skor antara tim A dan tim B satu sama.

Akibat putaran tersebut, lagi-lagi Himuro terpelanting hingga membentur dinding. Murasakibara yang kehabisan energi terjatuh begitu saja lutut terlebih dahulu membentur lantai.

Furihata melompati tubuh besar Murasakibara yang menggelepar, berhasil menangkap bola istimewa. Lalu berlari pada koridor lain sembari susah-payah men-dribble dua bola basket sekaligus. Dia memekik ketakutan ketika Takao garang mengejarnya untuk mendapatkan bola istimewa.

"Kau menyebalkan, Muro-chin," tukas Murasakibara. Masih dengan sisa-sisa kesesalan mengentali hati.

Himuro di sela napasnya yang berusaha diatur normal, tertawa kecil nan sinis. "Karena membuatmu lelah?" Dia berbaring menyamping, matanya menemukan panorama indah Tokyo dari lantai 180 meter atau lantai 36 dengan sudut pandang horizontal karena posisi tubuhnya miring.

"Kau buat aku capek sekalipun dengan semua gerakan palsu tadi, tetap saja kau tidak bisa mengalahkanku." Murasakibara bernapas memburu. Memandang langit-langit ruangan yang satu bohlamnya pecah akibat lemparan bodoh Furihata. "Tidak akan pernah bisa."

Himuro memejamkan mata. Menikmati secercah siraman hangat mentari dari kisi-kisi jendela bening yang menghangatkannya. Atau matanya yang menghangat.

"Aku tahu, Atsushi," bisiknya getir, tanpa kepalsuan.

.

#~**~#

.

Bukan masalah bagi Takao untuk merebut bola dari tangan Furihata yang masih terlalu inosen. Cukup menentukan timing yang tepat dan bola istimewa dicuri berkat kemampuan mata elangnya—dan keberuntungan karena bola tergelincir dari tangan si pemuda ordinari. Masalah berikutnya adalah menstabilkan dribble dua bola dengan dua tangan. Tidak semudah yang terlihat. Tapi ia bisa mengatasinya.

Sebenarnya Takao ingin memaki sang kapten yang naas memberikan banyak lantai baginya. Tapi mengingat dirinya seorang yang mendapatkan lawan termudah, maka Takao sukarela menerima jatah melahap delapan belas lantai sendirian. Furihata mungkin sudah tertinggal sekitar dua hingga tiga lantai di belakang.

Napasnya kini memburu, peluh mulai bercucuran dari tubuhnya. Ketika menjejaki lantai dua belas, Takao berhenti sesaat untuk menarik napas dalam-dalam. Beristirahat sebentar tidak akan merugikan siapapun—toh Furihata belum kelihatan batang hidungnya.

"Furihata-kun?"

Pemuda bersurai hitam itu mendongakkan kepala pada gema suara yang menyebabkan bulu kuduk meremang. Dia menyeringai menemukan Kuroko di persimpangan lantai dua belas dan tiga belas. Akhirnya, musuh bebuyutannya.

"Yo, Kuroko." Takao men-dribble tenang dua basket dengan dua tangan. "Sayang sekali, bukan Furihata-kun-mu itu yang datang."

Kuroko menghentikan dribble bola personalnya. Diperhatikannya Takao yang napasnya mulai normal seperti sedia kala. Matanya terpicing—jelas tidak menduga bahwa Takao-lah yang harus dihadapinya.

"Halo, Takao-kun," sapa Kuroko dengan nada monoton khasnya.

Suara derap langkah diiringi tarikan napas berat menyalakan alarm kewaspadaan secara imajiner bagi Takao. Dia menjulurkan lidah, usil. "Oh, Furihata-kun-mu menyusul sepertinya."

Tidak berbasa-basi lagi Takao berlari melompati tiga anak tangga sekaligus untuk melampui Kuroko. Tapi Kuroko melakukan blocking dengan baik. Dia menunggu waktu tepat ketika Takao yakin sudah akan melewatinya dan hendak mempercepat langkah, tepat ketika itu Kuroko melayangkan tangan untuk mem-back-tip bola istimewa.

Takao dengan dua bola berkelit lincah. Melempar bola istimewa ke udara sementara bola personal dibawanya berputar seperti putaran ballerina agar menyulitkan Kuroko untuk menepis bola manapun di tangan. Pemuda ini bersiul, memuji aksi kerennya—anggunnya—yang memanuver gerakan orisinil perpaduan ballerina dan basket. Guiness Book of The Record harus mematri aksi luar biasanya ini dalam histori dunia—hanya menurut perspektif personalnya.

Kuroko akan menepis bola personal—berganti taktik dalam hitungan sekian milisekon, tapi Takao keburu melompat meraih bola istimewa lalu berlari melompati dua anak tangga sekaligus sembari men-dribble basket. Pemain Seirin bernomor punggung sebelas itu membuang napas cepat, bertekad tidak akan membiarkan Takao lewat—terlebih ketika ia mendengar Furihata berhasil menyusul mereka.

Tidak peduli akan hukuman, penuh desperasi Kuroko mengangkat bola personalnya—

"IGNITE PASS: KAI!"

"HOAAAAH!"

Takao jumpalitan ketika ada bola ketiga menyeruak menghancurkan stabilitas drabble dua tangan dengan dua bola. Hal yang sempat dipikirkannya hanyalah menyelamatkan bola istimewa dan itulah yang dia lakukan, mencengkeram bola bundar oranye tersebut erat-erat seolah nyawanya bergantung pada bola itu.

"Tsk. Kuroko!" geram Takao. Dia baru mau meraih bola personalnya lagi, ketika satu lemparan ignite pass buas membelah konsentrasi dan menghalangi menuju destinasi.

"Tidak akan kubiarkan kau membawa bola, Takao-kun," kata Kuroko tenang. Dia meraih tangan Furihata yang sudah kepayahan menaiki sepuluh tangga. "Ayo, Furihata-kun!"

"Hm!" Furihata berinhalasi dalam-dalam, menerima uluran tangan Kuroko sebagai isyarat untuk pantang menyerah. "Se-serang dia!"

Kedua pemain tim A itu menyerang Takao yang kelimpungan karena bola-bola berserakan di sekitarnya. Hanya ada satu bola di tangan satu-satunya pemain tim B itu. Bola istimewa. Terlebih dia dikepung plus dipojokkan ke sudut tangga, Furihata dan Kuroko mempersempit jarak di antara mereka untuk merebut bola dari Takao.

"Oi, oi, HEI! Ini tidak adil!" protes Takao sebal, "kalian berdua, aku sendiri. Aku dikeroyok!"

"Tapi ini tidak melanggar peraturan," sahut Kuroko. Tangannya sesekali berusaha mencapai bola istimewa, namun Takao mempertahankan bola dengan baik. Terlihat dari ancang-ancang defense-nya.

Furihata yang sempat terpuruk karena Takao tadi merenggut bola istimewa dengan sadis kini bangkit semangatnya. Katakanlah dirinya pengecut, harus berkomplot dengan Kuroko seperti ini mengikuti rencana Akashi untuk merempuk Takao. Tapi mengingat kepedihannya tadi saat celetukan inosen Takao menyinggungnya—kendati Furihata sendiri membenarkan kenyataan tersebut—dan tertawa menghina meninggalkan dirinya usai merebut bola istimewa itu, sungguh menyakitkan. Furihata ingin membalasnya.

"Ouch!" Takao merasakan punggungnya menabrak dinding. "Err, charging berlaku?"

"Tidak." Kuroko menyabarkan diri ketika ia gagal menyabet bola dari Takao lagi.

"Foul?"

"Tidak." Furihata menggeleng sekilas.

Takao dapat merasakan matanya perih karena terbuka lebar tanpa kedip, terkena butiran keringatnya yang mengucur, berusaha mencari celah agar lolos dari kepungan dua pemain tim A tersebut. Saat Furihata dan Kuroko maju serentak untuk merebut bola istimewa, Takao berputar tajam—menghadapkan punggung pada kedua musuhnya. Dia membungkuk untuk memblokir kedua musuhnya dari bola istimewa di tangannya. Terbuka celah, Furihata terdorong mundur. Takao menggunakan kesempatan itu untuk melesat kabur.

Pemuda bersurai hitam itu memutar tubuhnya dari kanan ke kiri dengan bola di tangan kiri, lengan kanan refleks terangkat memproteksi dari agresi Kuroko yang tanggap mencoba mencuri bola. Sekuat tenaga ia bergegas memungut bola basket hitam-biru miliknya, men-dribble keduanya sejauh mungkin dari Kuroko. Dilompatinya dua anak tangga sekaligus—terpaksa menguras seluruh energi ketimbang bola istimewa harus jalan ke tangan musuh lagi.

Kuroko membiarkan Takao kabur terlebih dahulu. Menarik napas dalam untuk memulihkan diri, ia membantu Furihata yang kelimpungan payah bersandar pada dinding. "Kau baik-baik saja, Furihata-kun?"

"Tidak." Furihata menggeleng jujur. "Ini lebih mengerikan dari tes Kantoku Seirin. Apalagi di check-point. Brutal sekali," lirihnya letih. Kemudian dia menatap Kuroko khawatir, "kau tidak mengejar Takao? Nanti bolanya jatuh di check-point tim B."

"Aku sengaja." Kuroko tersenyum tipis. Dipungutnya dua bola personal mereka. "Aku tidak begitu mahir men-dribble bola terus-menerus. Terlebih harus men-dribble dua bola sekaligus. Maka itu, biar dia bawa bolanya sementara aku menyusulnya. Aku menyiapkan strategi untuk melawan Takao-kun."

Asisten timnas junior itu tersenyum lega mendengar perkataan Kuroko. Sudah diduganya Kuroko pasti menyiapkan sesuatu untuk mengalahkan musuh mereka.

"Lebih baik kau mengejar Takao sekarang sebelum jarak kalian terlalu jauh—atau kau tidak mampu mengejarnya, Kuroko," saran Furihata yang tarikan napasnya mulai teratur.

Kuroko mengangguk sekilas, diserahkannya bola putih-merah pada Furihata, lalu men-dribble bolanya sendiri. "Sampai bertemu di rooftop—pertandingan yang sesungguhnya, Furihata-kun."

Sosok sang bayangan menghilang di tikungan tangga. Furihata berekshalasi lelah. Dibayangkannya yang lain—mereka yang mendapat jatah lantai seorang diri 18 hingga 20 lantai. Apa mereka masih bisa bergerak untuk naik ke lift menuju lantai 400 meter kemudian naik tangga lagi ke rooftop 450 meter?

Memikirkannya saja membuat Furihata kian mulas. Masih ada satu pertarungan lagi—mengingat hal ini Furihata men-dribble pelan bolanya dan keluar dari exit untuk mencari lift.

Seluruh pemain estafet bola istimewa ini dari starter sampai sebelum pemain terakhir, akan berkumpul di lantai 400 meter untuk menanjak puncak bersama ke lantai 450 meter. Semua pemain akan berkumpul untuk men-support pemain estafet keempat, shooter mereka, dan mengalahkan lawan.

Pertandingan ini masih jauh dari klimaksnya.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Sungguh saya mohon maaf karena update-nya lamaaa banget. *ojigi* Selain nihil fasilitas OL, ini Arc yang sulit bagi saya karena harus riset dan mantengin anime/manga lagi dan berimajinasi gimana-gimananya~ auh, saya harap semoga pada suka dan ini gak terlalu nista. Orz

Anw, sinting ya main basket di tempat wisata?

Memang. *digebuk Kisedai* salahkan Running Man kok mereka ngoplak abis di menara kembar 63 lantai ngemaso main estafet. Hihihi.

Tapi, mengenai tes estafet mendribble dua bola dengan dua tangan itu … saya nggak ngarang. Itu memang beneran ada—tim basket sekolah saya begitu. Waktu saya masih sekolah, temen sekelas saya kan pada anak basket. Saya suka ngeliatin mereka dites bolak-balik naik turun-tangga dribble basket. Terus estafet keliling sesekolahan, sementara rekan setim mereka melakukan bounce-chest-pass, yaitu pass yang dipantulkan ke dinding sejajar dada.

Selebihnya dari riil itu, saya ngarang super demi mendramatisir tes Kisedai. HAHAHA-#dicekek

Kalau di RL, anak-anak SMA kan dribble bola naik turun-tangga itu cukup kesusahan. Tapi saya pikir namanya juga Kisedai dan mereka pebasket pro, naik turun-tangga sambil dribble basket pasti nggak susah untuk mereka. Yang susah itu ya sambil dribble dua bola basket naik belasan lantai. Kurang tewas apa coba—saya ngeliat tes temen-temen sekelas yang di tim basket aja capek duluan.

Oh iya, mengenai lantai di Tokyo Sky Tree. Berdasarkan riset saya, sekitar lima meter per lantai itu … kalau saya gak salah baca artikel bahasa Inggris, nih. Soalnya, di Jepang sana, mereka gak menyebut spesifikasi lantai secara langsung melainkan dengan parameter ketinggian. Makanya, lebih valid saya tulis dengan "lantai 0 meter, 300 meter, 450 meter" dsb daripada prakiraan nyerempet ngarang lagi bahwa lantai 20 sama dengan lantai ketinggian 100 meter. xD

Dan maafkan saya baru sebagian Kisedai yang ditampilkan. Mau dimasukkan semua satu chapter, aduh itu words kebanyakan banget sampai hari mereka selesai. Jadi terpaksa saya cut nanggung begini.

Angst-nya … lanjutkah? Ataukah akan ada kejutan manis lain? Nantikan chapter depan, ya. ;D

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan