Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)

.

So, I will survive~

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.

.

Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)

Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Ada saatnya ketika matahari bersinar terlalu cerah, tapi tak satu pun memayungi pandangan akan silaunya. Mereka bermandikan pijar hangat bersinar, hingga eksitasi di mata pun turut berpendar. Di sela suara decit sepatu dan derit ring yang diperawani oleh tembakan sebuah bola, keseriusan berlatih berlabuh dengan tawa yang merebak dari sepuh peluh.

Kesendirian mereka sempat berakhir, dipinang satu sama lain, menjelma kebersamaan.

Sekeping kenangan yang di memori telah terlapuk, jika dikenang menyulut perasaan hingga direngkuh buruk. Mungkin blur dibutakan ambisius kemenangan. Bisa jadi kabur berbayang disaput pahit kekalahan. Pula mungkin karena getir tragedi yang terjadi mengakibatkan rantai momentum tercerai-berai bagai relasi mereka yang diderai distopia.

Bahkan jika mereka meniti takdir yang tentang keberuntungan teramat kikir—menentang ironi dengan teguh hati dilabel naïf—memaksa menyongsong hidup sendiri-sendiri tanpa mengakui setiap pribadi dihujat sepi, mungkin harapan bisa dikais dari kolong awan.

Sesungguhnya, biarpun mereka berseteru karena tiada lagi satu pun entitas mampu memuaskan dahaga akan rival yang setimpal, mereka tidak terpisah. Terkait oleh kompleksitas problema hidup tak ubahnya benang kusut.

Jalinan rapuh memikat masalah persis benang kusut membelit mereka. Sulur-sulur kusut egoisme tak berpengujung. Takkan diurai sampai terburai, singkatnya waktu hari ini terlalu tanggung. Bulir pasir detik di jam pasir tiada berhenti bergulir. Menunggu hingga butir-butir problema dan sakit hati yang berserakan terkuras habis, barulah dunia bisa diputar balik.

(Mungkin seperti inilah destinasi menjelang kebersamaan mereka.)

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 9

"In the Middle of the Battle"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

"Pemain kloter ketiga sudah sampai lantai 54. Pemain kloter keempat diharap segera bersiap di check-point lantai 270 meter!"

Kagami mendecih sebal. Kalkulasi chest-pass pada dinding tinggal sedikit lagi membalap musuhnya yang tidak mengalihkan sedikit pun atensi dari spot melakukan kegiatan serupa dengannya. Tanpa ada aksara mengudara, mereka keluar dari exit. Menelusuri koridor temaram yang diseliweri orang-orang, mereka menyelinap ke tempat check-point.

Tatkala mereka masuk ke lorong check-point, Kagami terpana dengan interior Tokyo Sky Tree di koridor lantai 270 meter ini. Di satu sisi mereka menemukan jendela-jendela bening raksasa bersekat-sekat, membatasi mereka dari pemandangan impresif areal Tokyo Sky Tree yang dikerubuti oleh para pengunjung—sibuk mengabadikan momen berharga mereka di menara tertinggi sedunia ini.

Di satu sisi lagi, dinding tinggi menjulang yang Kagami berkilau metalik. Tergantung peta-peta berbagai tempat di muka bumi. Peta dunia, peta Negara Jepang, peta wilayah-wilayah Jepang. Di antara papan-papan itulah, tepat di tengah lorong itu, tergantung papan mirip panahan—check-point seperti yang diberitahukan Kagetora ketika mereka di lift.

Belum ada tanda-tanda kedatangan pemain estafet kloter ketiga. Kagami terpukau lagi melihat publik yang begitu rusuh untuk berebut memfoto panorama indah dari ketinggian Tokyo Sky Tree, luput menyadari bahwa dirinya dan lawannyalah yang kini jadi pusat atensi.

"Wow. THIS IS JAPANESE HOLIDAY TIME RUSH!" seru pemuda yang besar di Amerika itu takjub.

"Hei, kau cowok dengan alis bercabang yang tadi di taman, ya?"

Damn.

Kagami menoleh pada orang—perempuan—yang menyapanya. Dia langsung bergidik ngeri ketika menemukan sekelompok gadis bermata blinky yang menatapnya kegirangan.

"Bukan. Kau salah orang." Pemuda bertubuh kekar itu membuang muka.

"BOHONG!"

"Kalian itu bisanya merusuh saja!" tandas Kagami pedas.

"Boleh angkat kaosmu sedikiiit saja? Lihat lagi sixpack-mu—"

"ENAK SAJA," sengit Kagami sambil mengibaskan tangan dengan tangan yang tidak men-dribble bola basket.

"Abaikan mereka." Kagami menoleh pada musuh yang berbicara padanya. "Jangan ditanggapi."

Gadis-gadis itu menotis presensi beraura regal mengintimidasi yang membuat mereka ternganga. Astaga, posenya memang klise tapi tidak mengurangi impresi keren menguar darinya. Punggung bersandar pada dinding baja metalik, tangan kiri men-dribble bola basket, tangan kanan terletak di atas paha kanan yang ditekuk sedikit sementara kaki kiri lurus menjadi tumpuan. Surai magentanya yang menyala tertiup pelan belai Air Conditioner. Parasnya keterlaluan memikat akibat tertimpa radiasi perpaduan kilau bening kaca-kaca jendela yang membias sinar matahari kepadanya. Manik heterokromik, pembawaannya tenang mengintensi ketidaksukaan pada publik yang berisik, walau ekspresinya konstan stoik.

"KYAAA!"

Bloody-scream.

Kagami berjengit, nyaris saja bola jatuh dari genggamannya. Pengunjung yang lain tampaknya agak terganggu dengan kerusuhan gerombolan gadis yang megap-megap terpesona karena eksistensi penggiring bola basket putih-merah.

"KENAPA AKU BARU LIHAT DIA, YA?!"

"MATANYA INDAAAAH!"

"HEI, TADI KAU ADA DI TAMAN, TIDAK?"

"BE-BERARTI BUKA BAJU JUGA?!"

"TA-TAMPAN. YA TUHAN, NAPASKU. INHALER MANA, TOLOOONG—!"

"KEREEEEN!"

Kagami menggeser indera pengelihatannya antara histeria makhluk-makhluk jelita dengan objek kekaguman mereka. Sejujurnya, dia asli gagal mengerti apa yang mereka kagumi dari jelmaan entitas kegelapan dengan arogansi absolut menggoda untuk dilempar sepatu bernama Akashi Seijuurou.

Akashi yang jadi objek fangirling, hanya melayangkan lirikan. Tajam dan dingin.

"KYAAAA! MAJI, MAJI, KAKKOIII!"

"DIA MELIHATKU! MUNGKINKAH DIA NAKSIR PADAKU—"

"JANGAN BESAR RASA. DIA MELIHATKU, TAHU!"

Mereka bertengkar. Publik menertawakan gadis-gadis lucu yang inosen histeria karena seorang pemuda.

"Dia melihat kalian semua, woy," tukas Kagami sweatdrop.

"Hei, hei, di antara kalian … siapa seme dan siapa uke?!"

Dan muncullah sekelompok gadis yang disinyalir adalah fujoshi. Lagi-lagi petaka ini terepetisi.

Kagami memiringkan kepala tidak mengerti. "Hah?"

"Yang alisnya bercabang itu seme!"

"Bukan! Dia terlalu lucu—pasti yang lebih pendek itu seme-nya!"

"Yang lebih pendek dan kecil itu uke!"

"Bukannya si alis bercabang itu tadi dengan Kise Ouji-sama?"

Tolong. Jangan. Bawa-bawa. Tinggi. Badan.

"Astaga fans Kise—" syok Kagami—kendati ia benar-benar tidak mengerti topik macam apa yang sebenarnya diributkan mereka.

Percayalah, untuk hal nista ini, hati Kagami maji-maji pure.

Akashi yang mengetahui masa depan bahwa cepat atau lambat pemain estafet kloter ketiga akan datang, menegapkan tubuhnya. Ia jelas membenci komparasi soal tinggi badan—terlebih dengan si harimau loncat Kagami Taiga, orang yang membuatnya mengecap kekalahan. Dan ia tidak menyukai histeria yang mendistorsi momen khidmatnya memandang dari ketinggian pada kerendahan daratan Tokyo.

Akashi memegang bolanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya terangkat mengimitasi bentuk pistol, diarahkannya pada publik yang seketika terdiam melihat gesturnya. Dikurvakannya seringai psikopat yang menyebabkan seluruh penjuru bergidik ketakutan, berkeringat dingin melebihi dingin yang dihembus Air Conditioner.

"Diam. Jangan coba-coba menentangku." Pandangan mata heterokromatiknya merendahkan semua orang. "Atau aku tidak bisa menjamin kepala kalian aman tanpa dilubangi peluru. Perkataanku absolut."

Flashback.

Beraut-raut airmuka mengeruh takut. Akhirnya mereka mengingat sosok mengerikan yang berada di sentral atensi, mengacungkan pistol pada angkasa dan memekakkan dentingan selongsong kosong peluru pada aspal taman. Mereka merekognisi sang emperor dalam bait-bait memori.

Tanpa perlu disuruh pun, mereka mundur teratur. Kendati sesekali masih saja mengagumi sosok regal sang emperor.

"A- … Akashi-sama?"

Serentak atensi teralih pada seorang pria paruh baya yang berseragam tuksedo rapi—tampaknya petinggi di Tokyo Sky Tree, dikelilingi oleh bodyguards dan sekuriti yang berjaga di tiap pelosok menara pemancar gelombang elektromagnetik tertinggi sedunia tersebut.

Akashi sebenarnya tidak mengetahui siapapun orang yang sepertinya mengetahui dirinya. Tapi orang tersebut lebih tua. Sudah menjadi tata-krama etika dan formalitas wajib baginya untuk respek terhadap manusia yang usianya melebihi dirinya. Jadi ia mengangguk sekilas sebagai respon panggilan orang itu.

"…jadi, instruksi dengan izin resmi Negara itu berarti—" Salutisme tersirat dari mata yang kelopaknya dilekati kerut-kerut usia, "—saya mengerti." Diperintahnya sekuriti dan bodyguards-nya untuk menertibkan massa yang tak mengerti apa-apa, membuat ruang terbuka di koridor berkatalis revitalisasi kota itu.

Konversasi riuh-rendah mempertanyakan kenapa mereka dipojokkan ke satu sudut hanya karena seorang pemuda yang mendribble basket belaka. Mereka pengunjung, dan ini adalah akhir minggu, waktu bagi mereka untuk memuaskan hati berpelesir di Tokyo Sky Tree. Namun pria paruh baya itu menekankan pada sekuriti dan bawahannya untuk mengecam para wisatawan agar tidak mengganggu aktifitas apapun yang sedang berlangsung—tepatnya apapun yang berkaitan dengan Akashi Seijuurou.

"Terima kasih untuk bantuan Anda." Akashi berkata tenang pada pria yang rambutnya hampir sepenuhnya berwarna putih.

"Oh, tidak, tidak." Pria itu menggelengkan kepala. "Kami yang harusnya berterimakasih padamu dan keluargamu, Akashi-sama." Dia mengangsurkan senyum, merogoh saku kemeja putih licinnya mengulurkan sebuah kartu nama. "Bila butuh bantuan apapun, jangan sungkan menghubungi saya."

Akashi mengangguk sekilas, meneliti seksama kartu nama yang ada di tangannya. Ah, memorinya membersitkan ingatan ketika melihat nama yang tertera di atas kertas tebal dengan wangi khas itu. Ia berhasil menjaga mimik wajahnya untuk tidak memulas antusiasme dalam bentuk seringai sinisme apapun.

"Tentu." Akashi secara profesional menjabat tangan yang menua itu.

Peristiwa tersebut diinterupsi oleh gerabak-gerubuk langkah di penghujung koridor. Takao menyeruak ala protagonis shounen-manga dengan gaya super heroik—tidak disengaja, napasnya memburu hebat—hasil melahap delapan belas lantai sendirian, datang dengan men-dribble dua bola basket.

Pria paruh baya itu cepat-cepat undur diri.

Kagami meringis, senang karena genderang imajiner pertarungan telah ditabuh. Terlebih rekan setimnyalah yang datang menggiring bola istimewa. Ia tidak tahu siapa yang berhadapan estafet dengan Takao, tapi siapapun itu Kagami cukup berterimakasih karena tidak tampak kehadirannya—berarti eksistensi tersebut tertinggal cukup jauh.

Akashi otomatis siap-siaga. Dia sudah memprediksi skenario terburuk—seperti yang sekarang terjadi. Berarti hal yang harus dilakukannya sekarang adalah mencegat Takao, mencuri bola istimewa dari pemilik mata elang tersebut. Bukan masalah besar. Pula wajib dihindari adalah tim musuh melakukan check-point lagi. Berdasarkan kalkulasi asumtifnya, skor check-point kedua tim sekarang adalah satu sama. Berarti tugasnya adalah untuk menggandakan skor check-point tim A.

"HIII!" Takao berdesis ngeri ketika Akashi secepat kilat tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya. Penuh kekuatan ia mengerem langkahnya. Perasaannya was-was tak karuan, jelas menyadari bahwa ia benar-benar tidak sanggup dihadang oleh kapten muda tim Rakuzan. Memaki mata elangnya yang lagi-lagi perih kelilipan keringat sendiri.

Kagami tangkas turun tangan menolong Takao yang diblok oleh Akashi. Tangan kirinya terlayang untuk mengacaukan irama dribble bola personal di tangan Akashi, berintensi untuk mendistraksi konsentrasi sang emperor.

Akashi yang telah menerawang masa depan aksi Kagami itu terlebih dahulu menangkis tangan kiri Kagami dengan lengan kanannya. Tangan kirinya melempar bola personalnya pada udara, kemudian lihai menyerang titik buta Takao yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata, menepis bola personal hitam-biru.

Pemuda yang mewakili tim B untuk kloter estafet keempat itu melompat tinggi hendak merebut bola personal Akashi agar dapat ditepis jauh-jauh—supaya kapten tim A itu menuai ganjaran berupa push-up. Alangkah jengkel dirinya karena telah gegabah, harusnya bisa menerka Akashi pasti sudah tahu, karena itu pengagung absolutisme tersebut menikam bola personal di tangan kanan Kagami. Bola hitam-biru tersebut menggelinding pergi.

"AARRGHH!" Kagami sekuat tenaga menepis jatuh bola Akashi yang telah mencapai limitasi lenting tertinggi.

Bola putih-merah yang diberi gaya kuat itu memantul pada dinding baja metalik, menggaungkan bunyi pantulan yang memalu-malu gendang telinga.

BANG!

BRUK!

Bola putih-merah Akashi itu terpantul dengan kecepatan luar biasa, tak dinyana, menghantam kepala Takao keras-keras. Menyebabkan pandangan pemuda bermata elang itu blur, dan tiba-tiba saja sebuah tangan lihai mencuri bola istimewa memanfaatkan kesempatan tersebut. Berkunang-kunang di pelupuk mata melihat bintang-bintang, Takao ambruk mengenaskan ke depan—pada Akashi yang ada di hadapannya.

"Oh, Kuroko!" Kagami refleks melebarkan cengiran melihat partnernya itu muncul antah-berantah, mengambil alih bola istimewa. Perasaan lega meluap dalam dada, mengetahui di saat krusial begitu penyelamat sebenarnya selalu datang tepat waktu.

"Kagami-kun!" Kuroko refleks mengangkat bola. Dengan pusara angin tornado imajiner terporos padanya mengangkat bola istimewa, kaki-kakinya tertancap pada tapak mereka, kepalan tangannya mendorong penuh kekuatan bola bundar oranye, mengalamatkan pass pada Kagami. "IGNITE PASS: KAI!"

Masih melayang selama yang ia bisa, Kagami menerima pass tersebut, berseru kencang merealisasikan gairah permainan basketnya ketika menabrakkan bola tersebut pada check-point. "YEAAAH!" Ketika ia mendarat lagi di lantai, ditangkapnya bola istimewa dan nyengir lebar pada partner-nya. "Nice timing, Kuroko!"

Seketika Kuroko yang sudah kepayahan memanjat sekian lantai dan puluhan anak tangga, tanggap membalas cengiran cahayanya itu dengan senyum tipis, menganggukkan kepala. Tugasnya sudah selesai. Menjadi bayangan pendukung cahaya apapun yang terjadi adalah tugasnya.

"Jaa, Kuroko!" Kagami tidak membuang waktu, menyongsong bola hitam-biru miliknya, lalu lekas mendribble dua bola dengan dua tangan ke penghujung koridor diiringi gemuruh tepuk-tangan para penonton.

Sosok cahaya itu tetap bercahaya kendati siluetnya dilebur kegelapan ketika lenyap menuju tangga gawat-darurat.

Usai sudah—

"Lagi-lagi kau melebihi ekspetasiku,Tetsuya."

seharusnya.

Kuroko tersentak kaget. Lekas ditolehkannya pandangan pada orang yang memanggilnya. Akashi masih statis menyangga Takao yang pingsan. Sepasang mata birunya membulat, meregistrasi dalam otak sirkumstansi yang tengah terjadi.

Ekspresi kapten tim B itu tidak terlihat karena terblokir serakan anak-anak surai magenta, tenang membaringkan Takao terlentang. Kemudian meletakkan bola hitam-biru dekat lengan si point-guard Shutoku tersebut. Usai begitu, Akashi berdiri memungut bola putih-merahnya.

Kuroko dijalar tremor luar biasa ketika Akashi menatapnya. Sekujur tubuhnya menggigil tidak percaya pada dirinya sendiri. Tatapan yang tidak pernah dikiranya akan diulaskan Akashi padanya. Tatapan yang dulu bersemayam di matanya dan pernah ia tujukan pada Akashi.

Terkhianati.

"Jaga Kazunari sampai dia siuman."

Tangan yang ahli melakukan misdireksi itu serasa tersendat aliran darahnya, menghambatnya untuk lanjut mendribble bola personal serupa dengan milik Akashi.

Dua pemuda itu bertatapan. Detik sejenak terhenti.

Akashi berujar datar, "Hari ini … kita rekan setim, Tetsuya."

Siratan mata emas dan merah, luapan emosi meletup-letup bergelimang pada mata heterokromik, tapi tak satu pun dilisankan. Banyak sekali kelibat emosional yang dicerna mata lazuardi sang bayangan, tapi lebih banyak lagi yang tidak ia mengerti. Hanya satu yang ia pahami, Akashi jelas merasa dikhianati—tipikal sorot mata yang dulu Kuroko miliki dalam rongga matanya.

Pemain basket bayangan keenam menatap punggung Akashi yang memanuver putaran tajam secepat kilat mengejar Kagami.

Mungkin perkataan Takao sebelumnya ada benarnya. Kuroko gagal mengerti laju gigir roda takdir. Selama ini kawan yang selalu di sisi, kepadanya Kuroko akan mendukung penuh determinasi, kini menjadi lawan yang refleks diri menuntun untuk membantunya mencapai kemenangan. Sementara orang yang berubah total personanya, sempat menghancurkan hatinya, hari ini sekali lagi menjadi rekan.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa sesungguhnya yang Kuroko lakukan?

Kekeliruan besar?

Kesalahan fatal?

Senyuman Kagami yang lega melihat kehadirannya terbayang di pelupuk mata.

Pandangan terkhianati, dan kata-kata Akashi turut terngiang-ngiang menginvasi ruang pendengarannya.

.

"Lagi-lagi kau melebihi ekspetasiku."

.

Kuroko tergugu.

Bola putih-merah sang bayangan jatuh luluh. Memantul-mantul menggaung pilu. Dan padanya, kisi difraksi matahari tersepuh.

.

"Hari ini … kita rekan setim, Tetsuya."

.

#~**~#

.

Akashi tahu bahwa sang bayangan melakukan hal seperti tadi bukan murni intensi diri sendiri, melainkan ketidaksengajaan karena terlalu terbiasa dengan siapa yang ada di sisi dan oposisi. Namun tidak terpungkiri, mengingat dulu mereka pernah satu tim juga, dilupakan seperti itu siapa rekan siapa lawan sungguh mengerikan. Perasaan negatif ini tetap saja menyayat harga diri dan kepercayaannya.

Dia tahu mana yang harus diprioritaskan saat ini. Akashi tidak membiarkan pengkhianatan Kuroko tadi mendistraksi dirinya. Peristiwa seperti ini seharusnya tidak menginfluensi kemenangan yang harus diraihnya.

Ia tiba di tangga gawat darurat. Tidak tampak presensi musuhnya. Pemuda bersurai magenta menajamkan pendengarannya baik dengan memelankan laju dribble personalnya. Selain riuh-rusuh guruh konversasi di kejauhan, dengung lift berkecepatan tinggi, sayup-sayup ia mendengar suara dribble dua bola basket dan grasa-grusu langkah menaiki tangga tak begitu jauh. Mungkin hanya berbeda sekitar dua, tiga, atau paling jauh empat lantai.

Kapten tim A tersebut menahan decakan. Bila kejadian tadi tidak terjadi, absolut dirinya bisa mematri kemenangan di check-point berikutnya dengan persentase hingga 50:50. Jika seperti ini jadinya dan ia ada dalam posisi merugikan, otaknya berpikir keras mencari solusi agar ia bisa menyusul ketertinggalannya dari Kagami dalam waktu singkat.

Ada satu cara.

Sebelah alis terangkat elegan. Ia hendak menangkis cara jitu yang menerangi pikirannya bagai benderang bohlam imajiner. Cara tersebut berpotensi menguras habis energinya bahkan mungkin dia harus mengaktivasi zone level satunya. Padahal Akashi berniat menghemat tenaganya untuk konfrontasi dengan Kagami nanti, di check-point untuk menjegal Midorima agar Sakurai bisa terlebih dahulu membawa bola, belum lagi pertandingan sebenarnya di rooftop.

Suara langkah dan pantulan bola kian menjauh.

Baiklah, tak ada cara lain—karena Akashi jelas menolak mentah-mentah harus berlaku licik dalam olahraga basket yang dicintainya.

Di sisi lain, Kagami sedang terkekeh gembira. Siapa sangka ia bisa mendahului Akashi tanpa ada gontok-gontokan berarti terlebih dahulu? Lantas mata krimsonnya melunak. Bila bukan karena Kuroko, ia tidak akan mendapatkan jalan semudah ini. Penyelamatnya itu, memang selalu menyelamatkan tim.

Tapi tunggu.

Proses—input sirkumstansi.

"HAH?!"

Output—teriakan kaget.

"Bukannya Kuroko setim dengan Akashi?" gumam Kagami pada dirinya sendiri. Mata krimson membulat. "HEEE?!"

Kebingungan sendiri, Kagami dengan daya pikir lambannya untuk hal di luar basket berusaha mencerna peristiwa yang terjadi di check-point. Kalau Kuroko setim dengan Akashi, kenapa malah mengoper padanya dan bukan rekan setimnya? Kenapa Kagami pun sama tidak ingatnya dengan Kuroko bahwa dia seharusnya menerima operan dari Takao dan bukan pemain estafet tim B? Bagaimana nasib Kuroko menghadapi Akashi yang dikhianati begitu? Kenapa Akashi belum mengejarnya juga?

"Astaga—" Kagami tidak sanggup memikirkan berbagai probabilitas nasib Kuroko yang mungkin dipasung Akashi duluan sebelum ia digorok kapten tim A tersebut. Dalam hati ia mendoakan nasib Kuroko—meskipun hari ini mereka berbeda tim, semoga partner bayangannya itu senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha—

Srak.

Sret.

Srak.

—tunggu, suara apa itu? Pemuda dengan alis bercabang itu menghentikan sejenak langkahnya mendengar suara gema absurd dari lantai bawah. Penasaran, takutnya itu hantu atau cleaning service malang yang hendak menyapu tangga gawat darurat, ia melongokkan kepala melalui palang tangga.

"OH MY GOD!" Kagami kaget bukan kepalang melihat apa yang membuatnya terkejut. "DIA NINJA ATAU PEMAIN BASKET?!"

Akashi melakukan gerakan tangkas super ekstrim mengimitasi ninja—hanya menurut Kagami—untuk mengejar dirinya.

Kaki kiri terangkat mengangkangi lantai seiring tangan kirinya memantulkan bola ke dinding di tangga peralihan lantai, masih kaki kanan menapak ke dinding di sebelah kanan memberikan dorongan kuat untuk melompat. Kaki kirinya menjadi tapakan untuk mendarat di pegangan datar tangga, lalu ujung kaki kirinya memanuver ankle break dengan putaran tajam menimbulkan decitan mengerikan sesuai arah tikungan tangga sementara tangan kanannya menangkap pantulan bola dengan tangan kanan.

Kagami tergemap melihat Akashi terus merealisasi aksi yang sama, gerakan serupa ninja memantulkan bola basket itu dari dinding ke dinding, tersihir dengan kelincahan dan kekuatan Akashi yang tidak repot-repot menaiki tangga melainkan melompat dari dinding ke pegangan tangga ke dinding lagi sembari memantulkan bola ke dinding. Pola repetitif tersebut menghemat waktu Akashi untuk sukses memangkas retasan jarak dengan Kagami kendati menguras besar stok energinya.

ZRASH!

"Maaf membuatmu menunggu, Taiga."

Beruntung Kagami dengan refleks yang dituntun insting harimaunya sempat melempar mundur tubuhnya ke belakang ketika Akashi melompat mencegat langkahnya, melentingkan tubuh dengan salto sempurna kemudian mendarat di puncak tangga.

"Heh…" Kagami tidak bisa menahan seringainya. Akashi berdiri dari posisi berlututnya di puncak tangga peralihan berikutnya, memandangnya dari ketinggian dengan sorotan mata heterokromik kalkulatif, tangan kirinya mendribble bola basket putih-merah di tangan kiri.

Kagami memasang kuda-kuda siap siaga dengan menekuk sedikit kedua lututnya. Pola ritmis dribble-nya kian memantul-mantul dinamis pada lantai tangga gawat darurat mengikuti kendali tangan dimosi oleh buncah adrenalin yang mengetuk-ngetuk rongga dada. Diberikannya Akashi kesempatan untuk menarik napas hingga sistem respirasinya kembali normal—dan ia gatal menimpukkan bola basket ke wajah konstan yang didekap arogansi itu.

"Belajar darimana kau gerakan ninja seperti itu, eh?"

"Haruskah kau menanyakan itu di saat seperti ini?"

"Oke, kuganti pertanyaannya. Kau ninja atau pemain basket?"

"Apa aku sedang mendribble kunai di tanganku, hm?"

"Siapa tahu habis ini kau tiba-tiba melempar shuriken ke bokongku, huh?"

"Bagaimana kalau kutancapkan gunting saja?"

"Kau tidak akan bisa melakukannya."

"Do not mind if I do."

"BRING IT ON!"

Setelah sesi beretorika yang menabrakkan bara hawa persaingan, mereka saling menyengatkan tatapan mematikan pada lawan masing-masing. Akashi menyeringai di puncak tangga peralihan, Kagami membalasnya dengan cengiran dingin setimpal.

Akashi bergegas memasang kuda-kuda sempurna tatkala mata emperor-nya memprediksi gerakan Kagami yang fokus maksimal untuk melampui zona defense man to man-nya. Cukup sulit memprediksi pergerakan Kagami yang buas dan liar karena insting naturalnya seperti fauna predator di alam bebas. Akashi tentu bisa menerka apa saja yang akan Kagami lakukan, tindak-tanduknya, kebiasaan tubuhnya bergerak dengan tumitnya mendorong kuat-kuat kaki beralaskan sepatu merah darah untuk menghentak langkah menerjang musuh. Kemampuan ace tim Seirin tersebut mengalami peningkatan pesat yang spesifik sejak terakhir kali mereka bertarung di final Winter Cup. Ini pertanda bahwa meski bisa memprediksi, Akashi belum tentu bisa benar-benar menahan konfrontasi Kagami.

Kagami men-dribble bola basket menyongsong Akashi di puncak tangga. Untuk lolos dari zona defense Akashi yang mengerikan itu hanyalah dengan mengonfrontasinya—karena jelas Akashi mempertahankan satu lantai sekaligus untuk merebut bola istimewa dari tangannya. Kagami mempertaruhkan resikonya kecurian bola istimewa asal terbuka jalan untuk menerobos area yang diblokir Akashi.

Setibanya Kagami di hadapan Akashi, ia memalsukan gerakan kanan, kiri ke kenan lagi. Tercengang karena Akashi tetap bergeming di tempat tak menanggapi agresinya—barulah ia ingat bahwa Akashi pasti sudah memprediksi pergerakannya. Mendecak sebal, Akashi mulai bergerak untuk mengambil alih bola bundar oranye, Kagami berputar balik memunggungi Akashi demi melindungi bola istimewa dalam dribble-nya. Tubuhnya yang lebih besar ia gunakan untuk menghalangi kapten tim A tersebut untuk mencuri bola istimewa, sembari mendorong Akashi untuk mundur dari tangga.

Kagami terkejut ketika tadi ia mendorong dengan badan bagian belakang dan Akashi menahannya, tiba-tiba semua itu hilang—Akashi bergerak kilat ke samping sehingga Kagami kehilangan keseimbangan. Bokongnya terhempas ke lantai dan bola istimewa mencelat dari tangannya hingga jatuh ke bawah tangga. Ia hendak berdiri ketika Akashi melompat ke pegangan tangga, laludengan kedua kaki meluncur di pegangan tangga lalu melompat menangkap bola oranye.

Akashi membalikkan badan dengan ujung jari telunjuk kanan menjadi poros bagi putaran dinamis bola basket. Manik heterokromik memindai puncak tangga. Sekarang posisi berbalik. Kagami berada di atas tangga memblokir langkahnya menuju destinasi check-point. Pemuda yang tingginya lebih rendah menyiratkan iritasi di matanya karena tak menyukai Kagami menatapnya intens, dari atas ke bawah, seolah menegaskan diferensiasi tinggi badan mereka.

Kagami sama sekali tak mengerjapkan mata mengawasi pergerakan lawan. Dilihatnya Akashi men-dribble kedua bola dan menaiki tangga perlahan-lahan. Mendecih kesal—karena ia tahu gelimang merah dan emas itu intimidatif menguras energi karena mental-pressure, diterjangnya Akashi terlebih dahulu.

Untuk sesaat keduanya begitu sengit dengan melindungi bola personal sekaligus merebut bola istimewa, saling menggocek, berkelit dari agresi, memproteksi bola oranye yang harus diproteksi. Melakukan gerakan palsu, melewati man-to-man, secepat kilat mencegat langkah, berupaya menjegal bola apapun untuk dijatuhkan dan mengurangi konsentrasi lawannya. Tak satu pun mengalah membuka jalan untuk yang lain. Dua aura merah berkobar membenturkan aura rivalitas sengit yang merebak ke seluruh penjuru.

KRIIEET.

Hanya orang-orang terpilih dengan talenta luar biasa yang dapat mendengarnya. Suara derak mengerikan pintu imajiner Zone yang didobrak terbuka dengan rasionalitas diri nyaris terkoyak.

Di satu peluang nyata, Kagami dalam mode Zone nekat membuang bola personalnya ke belakang, berseru semampu vibrasi pita suara, dan bola itu memantul ke dinding lantas menyundul bola putih-merah sang emperor. Sepersekian detik, Akashi menahan decakan, mengakui dalam hati atensinya teralih ketika bola putih-merah dan hitam-biru bergesekan meriah satu sama lain menuruni undakan tangga dan di waktu yang sama Kagami menyudutkannya ke pegangan tangga untuk menjangkau bola istimewa.

Akashi melengkungkan tubuhnya ke pegangan tangga. Kagami menarik kaus yang dikenakan pemuda bersurai magenta itu—sempat-sempatnya mencemaskan musuhnya bakal terjatuh. Namun pada kenyataannya, Akashi menggerakkan tangan membelakangi kepala, melempar bola istimewa itu sepenuh kekuatan membelah udara di lantai baru.

"Cih!" Kagami yang tertipu mundur selangkah, dia menekan kakinya kuat-kuat memijak tangga. "HEAAAH—" Tangannya terangkat tinggi dengan jari-jari hendak merangkul bola yang telah sampai lambungan titik tertinggi dan mulai ditarik gravitasi, "YEAAAH!" Cengirannya kontan melebar karena jarinya berhasil menggapai si bola.

GRAB!

"Tidak semudah itu, Taiga."

Akashi tahu dia takkan bisa melampui kekuatan Kagami dengan kekuatan lompatan tingginya tersebut. Ia sebenarnya berjudi dengan nasib, melempar bola tersebut ke udara. Mengetahui Kagami jelas akan melompat untuk meraihnya. Maka terbuka ruang bagi Akashi untuk memungut bola putih merah, lantas merepetisi aksi serupa ninja dengan melakukan panjatan dari dinding, ke pegangan tangga, ke dinding seperti yang dilakukannya. Sebelum sempat Kagami meraih bola dengan dua tangan, Akashi yang lompat ke lantai berikutnya merampas bola istimewa dari tangan Kagami.

"Jaa naa, Taiga."

Kagami mengumpati Akashi yang melanjutkan aksi tidak manusiawi namun nyata adanya itu ke lantai berikutnya, meninggalkan seringai antagonis menyebalkan yang menyebabkannya gemas setengah mati. Dia hendak brutal mengejar, namun teringat bola personalnya. Bola hitam-biru itu menggelinding ke lantai bawah.

"CHIKUSOU!" Pemuda berambut merah itu menuruni tiga anak tangga sekilas, meraih bola yang hampir menuruni tangga lantai berikutnya, kemudian menaiki sejumlah anak tangga sekaligus demi mengejar ketertinggalannya dari Akashi.

Ini bukan kekalahan. Kagami akan membalasnya, mengejar lawannya itu dan merebut bola istimewa, mematri kemenangan one on one di check-point berikutnya.

.

#~**~#

.

"Pemain kloter keempat sudah sampai lantai 74. Pemain basket estafet terakhir diharap segera bersiap di check-point terakhir lantai 370 meter!"

Sakurai bisa merasakan sesuatu makin kentara menggeliat di dasar perutnya. Dipeluknya bola dengan tangan kiri, sementara lengan kanannya yang kebas karena konstan berada dalam posisi shooting terangkat menyeka peluh yang bercucuran. Ia melompat-lompat kecil untuk melemaskan kakinya yang kaku karena pada lantai terus terpaku. Takut-takut melirik pada lawannya yang tampak begitu tenang tengah menyeka aliran keringat dengan kaus yang dikenakan.

Lirikan mereka bertemu. Sakurai berjengit dan lekas membungkukkan badan. "Su-sumimasen!"

"Tak usah meminta maaf. Kau pemenangnya di pertandingan bounce chest-pass kita." Midorima membuang pandang, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas sedikit. Tetap dengan gerak-gerik elegan membenarkan posisi kacamatanya. "Jika jarak bounce chest-pass bisa lebih jauh daripada yang sudah ditentukan Kagetora Kantoku, aku pasti menang darimu."

Sakura membuntuti Midorima yang keluar dari lantai tempat mereka berlatih bounce-chest-pass menuju check-point. Menyusuri koridor yang sengaja didesain bersistem penerangan minim agar terkesan remang-remang enigmatis sembari men-dribble bola basket personal masing-masing. Dalam kegelapan, diliputi ragu ia bertanya pelan.

"A-apa Midorima-san punya kesulitan dengan short-range?"

Midorima mendengus—ternyata budak malangnya Aomine itu cukup atentif padahal ia yakin telah menutupinya dengan baik.

Teringat selarik kenangan hampir lapuk di sudut memori. Saat masa bersekolah di Teikou Chuugakou, ketika gairahnya bermain basket semakin membuncah, ia sempat tak bisa menembak bola ke ring dalam jarak pendek. Sempat kehilangan kemampuan melakukan shoot dari area free throw line—garis lemparan bebas. Bahkan dari zona low-post, high-post, hingga three-point line, semua tembakan yang dulu dilakukannya seringkali miss atau masuk mencetak skor namun tidak flawless—mengalami benturan mengelilingi tepian ring baru masuk menembus basket.

Sekali ia melakukan uji coba terhadap kemampuan shooting-nya, Midorima mencoba melakukannya dari half-court—dan betapa mengejutkannya ia bisa menembak dengan sempurna. Terlebih saat masuk ke Shutoku, kemampuannya makin tidak terbendung dan ia mampu melakukan shoot seluas full-court dengan persentasi akurasi seratus persen.

Namun sejak masuk ke Shutoku dan banyak sekali hal yang terjadi, Midorima berupaya mengantisipasi kendala tersebut dengan berlatih shooting short-range sampai full-court setiap hari. Namun ia menyadari bahwa bakat yang dianugerahkan padanya adalah untuk menjadi three-pointer—membuatnya menjadi terbiasa mengembangkan kemampuannya itu.

Terlebih dengan perspektifnya dari dulu bahwa shoot dalam zona short-range itu hanya menghasilkan dua poin dan tak melupakan kenyataan banyak orang mengalami mental break-down pasca menghadapi shoot three-point seluas full-court, tak membantunya mengatasi problema kecil tersebut.

"Untuk shooting, hanya sedikit. Tidak kusangka berpengaruh pada form chest-pass yang kulakukan," jawab pemuda berambut seteduh rimbun hutan itu. "

Sakurai terdiam mengingat-ingat ia tadi memerhatikan bagaimana gerak-gerik Midorima untuk mencari tahu kelemahannya—sesuai yang diperintahkan Akashi. Saat melakukan bounce-chest pass pertama-tama kontrolnya tidak begitu stabil, namun setelah Midorima mundur sedikit dari throw lines yang digariskan Kagetora dengan ujung sepatu masih menginjak garis lemparan, ia menemukan celah sesuai yang diprediksi Akashi.

Jarak lemparan yang agak jauh ini mungkin menjadi salah satu faktor penyebab Sakurai menyabet kemenangan bounce chest-pass di antara mereka—karena lemparan dengan jarak sedikit lebih jauh membutuhkan waktu sepersekian sekon lebih banyak ketimbang lemparan dari throw lines yang sudah digariskan.

Pemuda yang hari ini membawa lucky-item penyumpal telinga itu turut mengawasi lawan di hadapannya. Walaupun bukan seorang dari Kiseki no Sedai, ia tak menurunkan kewaspadaannya. Pasti ada alasan tertentu yang menyebabkan pemuda berhobi meminta maaf ini masuk ke tim Too—salah satu tim basket ofensif terbaik di Jepang—bahkan sampai dimasukkan ke timnas junior.

Lantas setelah meninjau beberapa saat, Midorima kilat menarik konklusi. Sakurai memang seorang three-pointer, insting three-pointer yang utama adalah mempunyai sense terhadap akurasi sasaran tembak. Kelebihannya adalah kecepatannya. Quick-shooter itu cukup langka—karena tembakan tiga poin itu butuh waktu namun orang ini bisa melakukannya dengan cepat. Kelemahannya adalah keseimbangan tubuh dan form-shoot tidak stabil miliknya—jadi saat ia memeragakan gerakan shooting maka defensinya akan sangat lemah.

Kedua three-pointer penentu nasib kedua tim sejauh ini dalam sisi yang sama. Sama-sama telah menemukan kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Jurang spesifik diferensiasi kemampuan mereka hanyalah yang satu adalah seorang Kiseki no Sedai—dianugerahi bakat, sementara yang satu lagi hanya bakat alami biasa.

Dua pemuda tersebut keluar dari koridor remang mencari area check-point di lantai 74 ketinggian 370 meter. Ruangan setinggi lima meter ini berbentuk seperti setengah silinder dirapatkan dengan persegi setinggi lima meter dan cukup luas.

Di sebelah kanan tempat bagian setengah silinder sama seperti pada lantai-lantai sebelumnya; disekat kaca-kaca bening berbentuk cenderung cembung—cekung bagian dalam—tempat yang dikerubuti oleh para wisatawan, entah itu domestik ataupun mancanegara.

Dinding di ruangan persegi simetris itu tampak apik dengan interior tradisional khas zaman Edo. Banyak properti antik dalam tabung kaca beralaskan sanggaan mewah terbuat dari kayu eboni ditata apik sehingga terkesan layaknya museum mini.

Di sebuah dinding berseberangan dengan ruang setengah silinder bersekat kaca-kaca bening berpandangan indah—pemandangan Tokyo di ketinggian, dihias oleh bingkai-bingkai foto berupa tokoh-tokoh kaisar di setiap era, dan di sentris dinding berspasi dari bingkai-bingkai tersebut tergantung papan check-point.

Sakurai salah tingkah karena pengunjung yang tertib menepi ke kaca-kaca jendela itu kini teralih atensinya pada mereka. Dan ia sweatdrop saat melihat Midorima dihampiri sepasang turis asing yang sepertinya berkebangsaan Amerika.

"Good afternoon," sapa pria berabut coklat kemerahan itu.

Midorima berhenti mendribble bolanya dan membungkuk singkat—ojigi khas orang Jepang. "Good afternoon. Can I help you?"

"Are you a basketball player?" tanya wanita yang bersurai pirang.

Pemuda berambut hijau itu mengangguk tenang. "I am."

Sang pria memosi ibu telunjuknya pada Sakurai yang buru-buru turut melakukan ojigi. "Is he a basketball player too?"

"Yes." Sakurai mengafirmasi dengan gugup—mengingat kemampuan pronunciation dan fluensi bahasa Inggrisnya tidak begitu baik.

"What is your position in the field?" tanya wanita bermata biru tersebut.

"Both of us are three-pointer." Midorima menjawab sopan.

"You must be really good," puji pria bule itu kagum.

Midorima menahan senyumnya terkembang. "Thank you."

"Oh, can we take a selfie-picture with you two, please?" Wanita cantik itu mengingatkan Midorima dan Sakurai pada guru Kagami serta Himuro, hanya matanya sebiru iris safir orang Rusia. Dia mengulas senyum hangat sembari mengetuk kamera yang terkalung di lehernya. "If you don't mind, of course."

Sakurai menatap Midorima dengan pandangan khawatir, mengingat Akashi dan Kagami bisa datang kapan saja. Kendati Midorima sendiri terlihat keberatan berfoto dengan turis asing, ia tak punya cara untuk menolak permohonan sepasang wisatawan mancanegara tersebut. Meminta tolong pada seorang petugas sekuriti untuk memfoto mereka berlatarkan pemandangan para pengunjung yang berjejalan di tepian jendela serta distrik Asakusa dan lika-liku sungai Sumida berkilau disepuh matahari menjelang senja.

Wanita pirang itu terkikik geli melihat Sakurai tampak serba salah. Dia tidak mungkin salah mengartikan gesture tersebut. "You're so adorable," katanya seraya mencubit pelan pipi pemuda dengan mata coklat berkaca-kaca itu.

Sakurai tercengang. Tak tahu harus merespon apa.

"Selamat siang. Pengunjung yang terhormat, dipersilakan untuk menepi, tertib dan tidak mengganggu keberlangsungan kompetisi. Sekali lagi, bagi para pengunjung setia Tokyo Sky Tree, kami mohon untuk merapat pada kaca-kaca jendela serta mengosongkan koridor lantai 370 meter. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, dan terima kasih."

Suara dari pengeras suara itu diulang dalam bahasa internasional sekali lagi.

"I guess that announcement explained why the two of you here with basketball." Pria asing itu tersenyum geli.

"Please step back. We've got tough competition here." Midorima menanggapi sekaligus meminta dengan tenang.

"Oops! Then we shouldn't get in the way. Thank you for your short companions. " Wanita itu merangkul kedua pemuda di hadapannya, berjinjit untuk mengecup pipi Midorima lalu pipi Sakurai yang instan memerah. "For a good luck charm." Mata biru safir itu mengedip nakal. Lalu dia menggandeng pria yang tertawa karena mendapati reaksi natural salah tingkah dan terbengong dua pemuda di hadapannya, keduanya turut menepi bersama wisatawan lainnya. "Let's go, Darl!"

Midorima dan Sakurai dengan gerakan patah-patah robotik saling berpadangan, mengerjap-ngerjapkan mata sembari memegangi pipi masing-masing yang masih terasa hangat pasca dikecup oleh wanita berkebangsaan Amerika itu.

Ini masih di pertengahan pertandingan, namun beragam macam momentum telah mengukir pondasi pasti menuju destinasi yang tak pernah dinanti.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

(#) Teknik ninja (?) Akashi itu tidak mengada-ada. Kalau yang suka nonton kungfu Cina ngamuk (?), Kera Sakti (NOOO), atau film modelnya Karate Kids, atau Three Ninja Kicks Back –kurang jadul apa ini-, teknik panjang dinding itu diadopsi (?) dari adegan-adegan film tersebut. Sumbernya sempet saya cari di gugel, tapi belum ketemu. Intinya kemampuan panjat-panjat dinding seperti itu hanya bagian kecil dari Ninjutsu. Tolong jangan kepikiran Akashi berguru dengan Ninja Turtles, ya. #disambitgunting

(#) Entah sudah ada yang notis atau belum. Mengenai tiap lantai dan koridor tempat Kisedai bertarung. Hasil riset yang benar dicampur imajinasi saya. Bagian risetnya adalah setting tempat bertanding mereka di check-point. Saya cariin di gugel bagian dalem Tokyo Sky Tree seperti apa, saya temukan berbagai macam tempat yang umumnya setelah lantai puluhan meter, didominasi dengan jendela-jendela bening berkaca besar untuk menikmati panorama Jepang. Tapi ada juga beberapa tempat yang punya spesifikasi interior berbeda dan khas di setiap lantainya.

Seperti di dua scene chapter ini, Kagami versus Akashi di tempat yang banyak pajangan petanya. Terus Midorima dan Sakurai yang berada di ruangan terkesan tradisional zaman edo. Itu benar. Bagian "ngarang"-nya saya adalah: saya nggak tahu itu setting persisnya lantai berapa, jadi jangan dipercaya deskrip penjelasan soal lantai di fic saya. Nanti juga di chapter depan, pas "climax battle" itu tempatnya memang ada—tapi persisnya lantai berapa saya juga tidak tahu. *sungkem*

Bila ada RnR sekalian punya informasi lebih valid dan setting arc 2 di fic saya ini benar-benar keliru, tolong beritahu saya agar bisa diperbaiki. ;)

(#) Mengenai istilah-istilah aneh seputar basket yang mungkin asing, maaf saya belum bisa kasih glosariumnya. Orz nanti di Arc 3 fic ini—mulai chapter 11, baru masuk ke sana. Sekalian dengan training-session Kisedai di Tokyo National Gym. /hushspoiler/ tapi jika berkenan, silakan search duluan di google. *dipites*

(#) Dari awal, tidak ada yang kebetulan di fic ini.

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan