Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)
.
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Biner fuschia terbeliak lebar. Bibir merah mudanya ternganga, keterkejutan tergalang bukan kepalang. Bukan hanya karena tugas yang dibebankan padanya—dan membuatnya bergeming takjub menontoni koleksi video yang disantroni calon musuh tim barunya. Tapi juga supir dan beberapa kurir datang menggotong dua ring basket dengan wajah setengah mati kelelahan, sisanya membawa magic-marker hitam non-permanen, mengikuti instruksi Kagetora menggambar lapangan basket sebagaimana aslinya.
Di tengah kegiatan itu, seorang pria paruh baya diiringi bodyguards berseragam dan berkacamata hitam muncul dari balik pintu. Pria yang Momoi tahu sebagai orang yang sempat berbicara dengan kapten timnas junior. Ia memerintah bodyguards-nya membantu para pekerja Dinas Departemen Olahraga Nasional, berjabat tangan saling bertegur sapa formalitas dengan Kagetora.
"Terima kasih atas bantuannya." Kagetora tersenyum profesional. "Tak kusangka Anda akan turun tangan langsung membantu kami."
Pria itu menggeleng, balas tersenyum seraya tertawa—di sela batuk khas sesepuh. "Tidak masalah. Sudah biasa, bukan?"
Keduanya bertukar tawa lagi, laiknya kawan lama. Sweatdrop—tak mengerti apa yang tengah terjadi, Momoi mengerling kegilaan pertarungan Akashi dan Kagami yang berkompetisi sengit mendekati check-point tempat Midorima serta Sakurai menunggu. Lalu menggulir pandang pada file rahasia Negara—dan berani bertaruh yang men-scouting ini adalah kolektor paparazzi timnas profesional—menampilkan dua timnas negeri Paman Sam, tim oposisi sekaligus calon musuh Kiseki no Sedai.
"Harusnya kaubilang Akashi-sama menjadi muridmu, kami pasti akan membantu dari awal." Pria yang rambutnya disisir klimis dengan dominasi warna putih itu mengulas raut sesal.
"Anda sampai memanggilnya Akashi-sama?" Kagetora mendengus geli. "Pengaruh keluarganya sungguh luar biasa."
"Begitulah." Orang terhormat tersebut terkekeh pelan, menatapi lapangan basket imitatif. Ia menotis presensi seorang gadis manis. "Konichiwa, Ojou-chan."
Momoi buru-buru bangkit dari posisinya, membungkuk sembilan puluh derajat. "Ko-konichiwa." Menegapkan tubuh, tersenyum gugup.
"Kenalkan, dia ini manajer berbakat timnas junior, Momoi Satsuki." Kagegora memosi Momoi dengan ibujari.
"Dozo yoroshiku onegaishimasu." Momoi mengangguk sopan penuh etika. "A-apa tidak apa-apa mengotori rooftop Tokyo Sky Tree?" tanya sang gadis skeptic.
Pria tua itu tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Bisa dibersihkan kembali, Ojou-chan, dan ini bukan pertama kali." Ia melirik kawakan muda yang diforsir Negara untuk jadi pelatih olahragawan lagi. "Perasaanku saja, atau kedua tim bimbinganmu selalu mendapatkan manajer yang manis? Para pemainmu juga terlihat seperti model."
Kagetora tergelak puas. "Itu tidak sengaja. Bocah-bocah menyusahkan itu diserahkan padaku karena mereka terlalu bebal, dan yang lain tidak bisa menaklukan mereka untuk dilatih."
"Latar belakang para pemainmu di timnas divisi rahasiamu juga kebanyakan seperti Akashi-sama, bukan?" Pria ini mengulas senyum kebapakan pada Momoi yang tersipu malu—tak tahu harus berkata apa.
Sang pelatih timnas itu mengedikkan bahu kasual. "Selain Akashi, pemain-pemain di timnas junior cenderung memiliki kehidupan normal di luar basket—sepertinya. Syukurlah." Seringai puas tersamar di wajahnya karena mata tajam itu menatap kalkulatif laptop yang dipinjamkan Momoi memapar kedahsyatan pertarungan di check-point terakhir. "Tapi mereka seperti berlian mentah belum diasah."
"Semoga kau bisa menyulap mereka jadi permata berkilauan seperti timmu yang sebelumnya." Ekspresi seriusmempolusi mimik ramah orangtua itu tatkala ikut menonton pertarungan basket atraktif dan super brutal di check-point terakhir. "Berhati-hatilah menempa mereka, atau mereka bisa hancur."
"Aku tahu." Sebelah alis Kagetora terangkat, heran tergurat di wajahnya. "Dari tadi Anda memanggil Akashi dengan sufiks 'sama', apakah keluarganya seinfluensif itu?"
"Percaya atau tidak, bukan hanya influensi keluarganya. Justru dia sendiri yang berjasa. Anak jenius itu."
"Oh." Kagetora menaikkan sebelah alis, tampak tertarik. "Jasa macam apa?"
"Kau akan melihatnya ketika malam tiba." Sesepuh baya itu memandang sayang Tokyo Sky Tree, menara manifestasi pasti mimpi-mimpi. "Indah sekali."
Sebelum Kagetora menanyakan lebih jauh maksud perkataannya, Momoi memanggilnya. Atensinya teralih. Ia melihat gadis ini lagi-lagi nyaris menangis melihat akhir pertandingan di check-point. Tak bisa disalahkan, bukan karena Momoi adalah perempuan karena itu perasaannya lebih halus, melainkan ada begitu deras hempas gelombang emosional yang bergelegak sepanjang pertarungan di antara bocah-bocah merepotkan tersebut.
Terlebih, mereka tampak lebih dari kekalahan dengan psikis kian fauna buas penakluk strata tertinggi ekosistem yang digulingkan dari posisi puncak. Ringkasnya, mereka menguak seluruh berkas luka—seperti nyala api membakar kulit menyisakan kobaran mencabik-cabik kulit. Tersakiti. Terserpih, merekonstruksi serpihan itu, bangkit kendati tertatih-tatih.
Begitu kuatnya talenta yang diemban mereka menjajak klimaks demi menyabet kemenangan, sekuat itu pula dampak lain yang tampak mengeropos tonggos jiwa-raga mereka.
"Dasar bocah-bocah." Kagetora mengusap rambut coklat yang terkibas angin. "Momoi, sudah memantau Generation of Miracles?"
Gadis bersurai sewarna sakura musim semi itu mengusap matanya yang berkaca-kaca. Mengangguk tegas. Ia menghela napas. "Baru sebagian."
"Pendapatmu?" pancing Kagetora.
Momoi bergeming sesaat. Manik fuschia meredup. "Mengerikan." Ia mengerling halus pelatihnya. "Inilah alasan Kantoku tidak mau menjawab pertanyaan Akashi-kun di bus tadi, 'kan?"
Kagetora menghembuskan napas panjang. "Benar," akunya. "Apa sekarang kau mengerti jurang diferensiasi signifikan Kiseki no Sedai dan Generation of Miracles?"
"Mengerti," lirih Momoi pahit.
"Pintar." Kagetora menepuk halus puncak kepala bersurai merah muda yang telah digelung ke puncak kepala. "Jangan beritahu mereka sampai saatnya tiba."
"Kagetora-san!" Seorang pegawai dinas departemen olahraga nasional Jepang menginterupsi konversasi, "sudah selesai. Apa lagi yang harus kami lakukan?"
"Terima kasih." Kagetora melambai ringan. "Kalian bisa pergi." Ia membiarkan para pekerja itu berlalu begitu saja, memfokuskan atensi pada pria nomor satu di Tokyo Sky Tree tersebut. "Terima kasih juga pada Anda."
"Terima kasih kembali. Segera kabari aku bila butuh sesuatu lagi." Diekori dayang-dayang berseragam hitam-legam, pria paruh baya itu melenggang pergi.
Kagetora berkacak pinggang, sudut-sudut bibirnya terangkat makin mengoposisi poros gravitasi. "Momoi, lakukan sesuai yang kukatakan."
Berikutnya, Momoi patuh mengikuti instruksi Kagetora sementara matahari sunyi memangkas jarak ke horizon—arakan awan mengantar rindunya ke ufuk Barat.
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 10
"Very Heated Battle"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Tepat saat itu, suara pekik histeria orang-orang menyambut dua entitas yang berseteru di pintu masuk. Lekas sepasang pemain estafet terakhir itu memusatkan atensi pada apa yang terjadi di ujung lorong temaram.
Kagami dengan napas tersengal-sengal menghalangi pintu masuk—memunggungi massa. Satu tangan men-dribble bola hitam-birunya, satu lengan direntangkan, dan dua kaki jenjang mengangkang agak ditekuk. Tubuhnya yang besar dijadikannya sebagai blokade untuk memblokir pintu masuk. Dari kegelapan, tersiluet sosok bermanik heterokromik bergelimang dalam kegelapan dengan dua tangan mendribble dua bola sekaligus.
Dari dua pasang mata sepasang pemain kloter keempat, diketahui pasti mereka sudah menerobos zone level satu.
Midorima menarik napas dalam. Ia sudah menduga Akashi pasti entah bagaimana caranya akan menyerobot bola dari tangan Kagami. Berarti tinggal mengikuti instruksi Himuro—bekerjasama dengan Kagami untuk menumpas kapten tim A tersebut lantas mematenkan kemenangan mereka dengan check-point ini.
Sepertinya cukup mudah, mengingat Kagami sukses mencegat langkah Akashi. Dan baru saja Midorima melangkah hendak menyambangi Kagami demi merealisasikan aksi merempuk Akashi, seseorang berlari cepat sembari mendribble bola putih-merah mendahului langkahnya.
Meski merinding karena bertatapan dengan mata dwi warna yang menyala di keremangan koridor tersebut, Sakurai paham kode yang disampaikan mata terpicing tersebut—seolah merepetisi instruksi sang kapten yang sudah memprediksi semua ini akan terjadi hanya berdasarkan menerka pola pikiran naïf Kagami, ia bergegas menghampiri keduanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu lewat, Akashi!" seru Kagami setelah menarik napas dalam-dalam.
"Aku tidak perlu lewat—cukup bolanya saja." Akashi menyeringai angkuh—beruntung koridor tersebut remang karena itulah Kagami tidak perlu melihat paparan ekspresinya dan makin bertambah kesal.
Sepersekian sekon Akashi mempreparasi taktik. Detik berikutnya ia merealisasikan. Bola putih-merah di tangan kirinya ia dribble lebih depan di banding tangan kanan yang men-dribble bola istimewa. Bola putih-merah di-dribble agak condong ke depan, Kagami menyangka Akashi hendak meloloskan bola istimewa—ia tidak bisa melihat karena kondisi ruangan yang gelap—melalui celah besar di antara kedua kakinya. Lekas ia merapatkan kakinya dan lengannya terayun hendak menepis bola apapun itu yang bergerak mendekatinya. Tapi ternyata bola personal tim A itu kembali diraih Akashi.
Sepasang mata krimson tersebut menangkap pergerakan Akashi yang memasang kuda-kuda melompat dengan satu tangan menyangga sebuah bola.
Kagami mendecih, ternyata aksi tadi hanya trik semata. Ternyata ini yang dimaksud Akashi dengan perkataannya barusan, ia tidak perlu melewati Kagami—cukup bolanya saja. Ia merangsek maju—ini bukan tentang kemenangan mengingat jika bola lolos pun Sakurai takkan mampu menghadapi Midorima, one on one dengan Akashi adalah pertarungan pribadi keduanya.
Akashi melompat dengan satu tangan terangkat mengangkat bola bagai piala—Kagami yang reaksinya lebih lambat sekian sekon lekas meloncat. Sepasang tungkai yang biasa diforsir untuk meloncat lebih tinggi melampaui ketinggian lompatan kapten tim A tersebut—Kagami menyeringai karena tangannya hendak merampas bola itu.
Sampai Kagami menyadari bola yang hendak dilambungkan Akashi dari atas kepalanya adalah bola personal—putih-merah. Mata krimson elekstrisnya terbelalak kaget. Akashi memanuver tubuhnya berputar di udara yang turun terlebih dahulu—dan telah mengalkulasi bahwa Kagami masih melayang ke atas sementara dirinya lebih dulu ditarik gravitasi—memunggungi lawannya.
"Akashi, kau—!" Kagami menggeram.
Akashi menyeringai. Tangan kirinya meloloskan bola istimewa dari kolong yang tercipta antara kakinya dan kaki Kagami yang melayang di udara, dipantulkan pada lantai dan terangkat lurus pada rekan setimnya yang siap-siaga menanti operannya. Tangan kanannya melintang di atas lengan kiri, memantulkan bola personal dari bingkai pintu melintang garis sudut lancip secara imajiner.
Sebelum Kagami mendarat, Akashi berkelit lincah menghindarinya lalu meraih kembali bola personalnya agar tak menggelinding terlalu jauh. Sakurai menangkap bola istimewa yang dioper Akashi dengan efek pantul barusan, tepat baru beberapa langkah men-dribble gaya rendah ketika membalik Midorima telah menghadangnya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian merebut check-point, nanodayo."
Kagami yang geram lekas berbalik mengejar Akashi. Midorima mencegat langkah Sakurai. Sepasang pemain tim B mengepung depan-belakang sepasang pemain tim A uang melangkah mundur teratur hingga punggung mereka hampir bersentuhan. Sakurai melirik ke belakang dan mengoper kembali bola istimewa pada Akashi.
Suara dribble berderap-derap menyentak atensi penghuni ruangan megah yang tergemap. Intensitas fokus mereka merasuki hati dan mencuri atraksi publik.
"Ryo, kita mulai." Ritmis ketukan dribble Akashi berubah polanya.
Sakurai mengangguk cepat-cepat. "O-oke."
Akashi maju men-dribble kedua bolanya, Kagami otomatis maju berintensi mengagresi. Tangan si pemuda dengan alis bercabang itu kilat hendak menjangkau bola istimewa dengan tubuh condong ke depan. Akashi refleks melengkungkan sedikit tubuhnya ke belakang, lengannya di bawah lengan Kagami, tangannya yang melampaui bahu Kagami itu menjadi titik lemah bagi ace tim Seirin tersebut untuk bergerak. Namun dalam mode zone ia lekas menekuk lengannya untuk menghentikan apapun yang coba dilakukan Akashi.
Ternyata tangan itu melempar bola istimewa ke udara, Kagami menebas udara kosong—gagal menjatuhkan bola yang melambung mencapai titik limitasi. Ia hendak melompat, namun Akashi ketat me-marking man to man dengannya.
Tak buang waktu, Midorima mengejar bola bundar oranye itu dengan turut meloncat tinggi demi menggapainya—keahlian lainnya sebagai spesialis penembak tiga poin. Hingga dilihatnya Sakurai mengambil ancang-ancang untuk merebut bola personalnya. Tersenyum meremehkan—bagaimanapun trik licik murahan itu tak berguna menghadapi Kiseki no Sedai, Midorima mengangkat bola personalnya dari jangkauan Sakurai.
DAK!
"Ba-bagaimana bisa—!" Midorima terkejut tatkala Sakurai dengan kilat mengubah form-nya menjadi penembak tiga poin, melambungkan bola personal warna putih-merah hingga menabrak bola istimewa—menyebabkan bola istimewa terpental jauh ke depan.
Sakurai lekas memungut bola personalnya. Dilihatnya Akashi melesat cepat hendak menggapai bola istimewa. Matanya terbelalak saat melihat Akashi dan Kagami saling menghalangi satu sama lain—dan bola istimewa terpantul-pantul tinggi menjauh dari keduanya. Ini tidak akan berjalan sesuai prediksi dan kalkulasi Akashi—yang saat cuddle mengungkapkan perkiraan bahwa dalam hitungan sekian detik Kagami dan Midorima terlambat bereaksi sehingga dia bisa mematri check-point terlebih dahulu. Karena itulah ia memacu langkahnya untuk menangkap bola oranye tersebut.
"MIDORIMAAA—!" Kagami yang dikelabui ankle break super kilat Akashi jatuh terduduk—sangat sulit menahan emperor muda dalam mode zone-nya.
Midorima mendecih saat menapak kembali ke lantai. "Aku tahu, nanodayo!" Bergegas mengejar Sakurai. Langkahnya nyaris dicegat Akashi, namun Kagami ketat me-marking.
"Su-sumimaseeen!" Sakurai berlari sekuat yang kakinya mampu usai mendapatkan bola istimewa. Ketakutan yang semula hanya bercokol di benaknya kini merongrong hatinya. Tak sempat lagi mengasihani dirinya harus terjebak di pertarungan sengit antara tiga anggota Kiseki no Sedai sekaligus.
Midorima tahu dengan jarak yang terbentang terlalu jauh—berdasarkan perhitungan waktu—dan ia takkan mampu mengejar Sakurai, ia masih ingat hukuman yang dikecam bila bola personal lepas dari tangan. Namun ia tak menemukan cara lain selain melompat sekuat tenaga dan dengan akurasi terlampau akurat membidik bola istimewa dari Sakurai dengan bola personal di tangannya—prioritas utama adalah membuat bola istimewa tak berada di tangan musuh.
Sakurai yang memunggungi semuanya tak melihat bola istimewa melenting dengan kurva imajiner dengan dirinya sebagai target, berusaha untuk memangkas jarak dengan check-point. Tak dinyana tiba-tiba bola hitam-biru menukik di hadapannya bagai bintang jatuh—sukses mendistraksi perhatiannya dan membuat dribble dua bolanya sekaligus tergelincir dari tangannya.
"Oh, ti-tidak—!" Sepasang mata coklat itu membulat ngeri karena bola istimewa terpental jauh darinya.
"KAGAMIIII!" Midorima berseru keras.
Kagami mengunci matanya pada bola oranye yang dicintainya sepenuh hati. Apapun yang terjadi, ia harus mendapatkannya! Jangan sakit sekarang! Ia tahu bahwa ketika mengejar Akashi karena ketertinggalannya barusan, ia memaksakan kakinya untuk membalap lawannya itu. Namun jangan sakit sekarang. Ada atau tidak Kuroko—seperti yang dibilang Akashi sebelumnya—tidak akan memfluensi dirinya untuk menyabet kemenangan. JANGAN SEKARANG!
Akashi mengelabui Kagami dengan double cross-over. Melihat kernyitan dalam di dahi Kagami serta ekspresi menahan sakit, dan merasakan keningnya sendiri berkerut, ia tahu mereka dalam posisi impas.
Sama-sama merasakan dampak dari memforsir kaki mereka sendiri. Tapi tak seorang pun akan mengalah—mereka sama-sama membenci kekalahan setengah mati. Terlebih Akashi tak mau kalah untuk kesekiankali. Ini semua berlebihan. Menakutkan. Perasaan menyakitkan yang menggerogoti dirinya. Karena kemenangan adalah napas baginya—bagian terkrusial dari komponen-komponen esensial dalam hidupnya.
"Aku tidak akan kalah lagi. TIDAK. Aku harus selalu menang—ABSOLUT. "
"Aku tidak perlu siapapun untuk harus menang darimu! Aku tidak mau kalah lagi darimu, Akashiii!"
Kedua tangan terjulur bersamaan untuk menangkap bola yang memantul menyirat sinisme, mengejek mereka karena bak primadona bersolek diperebutkan oleh keduanya.
Sepasang manik heterokromik terbeliak panik. Lengan Kagami yang memang lebih panjang darinya melampauinya dengan tangan menyentuh bola istimewa, lalu mencengkeramnya. Perasaan mengerikan familiar menghunus hatinya, melingkupi dirinya dalam desperasi. Kagami mendapatkan bola. Akashi Seijuurou kalah. Kalah. Kalah dari seorang Kagami Taiga—tanpa adanya bantuan Kuroko Tetsuya.
Tak cukup telak sampai di sana, denyut sekeras hantaman palu godam itu melunglaikan kakinya. Langkah kaki kirinya tersaruk. Akashi terjatuh lebih dulu sebelum sempat memacu langkahnya. Kagami berteriak absurd melepaskan stressor pedih yang mencabik-cabik kakinya dengan berlari tunggang-langgang ke check-point.
Sakurai melewati Akashi yang berlutut dengan kaki kiri—sekilas terlihat ruam merah legam di lututnya, tangan kiri kaptennya itu terkepal meninju lantai yang begitu tabah dihunjam peluhnya—sarat desperasi berusaha bangkit. Tak menghiraukan kebingungan di hatinya bagaimana bisa dirinya membalap Kagami yang dalam mode zone—sampai disadarinya aktivasi zone Kagami sudah asat dan kecepatannya drastis melambat. Ia juga benci kekalahan, merealisasi steal face-to-face yang tentu Kagami mengantisipasi presensinya dengan mengoper bola istimewa pada Midorima—waspada berada di spot terbaik.
"Ukhh—" Sakurai yang berniat menjegal Midorima menghadapi back-court Kagami. Dan Kagami yang lebih tinggi darinya itu sukses menghalangi jangkaun pandangnya. Panik menguasai dirinya. Ditariknya kaus hitam itu dan melengakkan kepala—tindakan sia-sia karena visinya masih terblokir. Dirasakannya high-pressure mengecam dirinya karena terintimidasi aura ala predator natural Kagami, "—gghhh!"
"LAKUKAN, MIDORIMAAA!"
Sudut-sudut bibirnya terangkat. Ia mengangkat tangan, akan melompat. Bola istimewa ini akan dilambungkannya cukup dengan lay-up sederhana. Menggelontor asa tim rivalnya tentang kemenangan absolut. Ini balas dendamnya untuk kekalahan pada dari Akashi dulu. Pergelangan tangannya yang fleksibel telah tertekuk ke belakang, siap melambungkan si pusat atensi di seluruh pertandingan basket itu.
"Kaupikir aku akan membiarkan kalian menang begitu saja?" Midorima merinding tatkala merasakan aura sadistik yang merangsang bangkitnya kenangan menakutkan yang lama dipendam olehnya dalam-dalam. "Sleep well, Veteran King."
SLAP!
Akashi yang semula tertinggal karena terjatuh, bangkit ala pelari estafet memulai langkah dengan start jongkok. Peduli iblis dengan jahanamnya rasa sakit di kakinya yang membuatnya marah. Takkan semudah ini lagi bagi dirinya untuk kalah. Sakurai dan Kagami terkejut tatkala sekelebat merah surainya melampaui sepasang pemain tersebut. Ia berlari—entah terinjeksi energi darimana—mengejar timing lay-up Midorima, terlambat karena pemuda berambut hijau itu lebih cepat. Tapi hal seperti itu tak mematahkan determinasinya, desperasi karena ekshalasi akan kemenangannya seakan hanya tertera di angan, Akashi melompat dengan tangannya sekuat tenaga menampar bola istimewa dengan tangan kanan ke samping kiri.
Seakan Akashi tahu, Sakurai cepat menanggapi aksinya. Berada tepat di direksi Akashi menepis bola dari tangan Midorima. Menangkapnya. Memekik kaget ketika Kagami sudah di depannya, Sakurai mundur beberapa langkah.
"Kau bukan Midorima—!" Kagami menggeram.
Sakurai tahu defensinya tidak seimbang sehingga Kagami yang bahkan sudah kelelehan dua kali lipat dibanding dirinya masih bisa menjangkaunya, namun tangannya refleks melempar bola istimewa ke papan check-point. Quick-shoot. Ia mengelak ke samping dengan meneriakkan maafnya, membiarkan Kagami terbanting ke lantai karena kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya.
Check-point—bola menghantam papan imitasi sasaran bidik. Satu lagi kemenangan untuk tim B.
"SU-SU-MI-MA-SEEEEN!" Sakurai menaklukkkan si bola istimewa yang bercumbu dengan papan imitasi panahan itu, lari tunggang-langgang menuju tangga exit terlebih dahulu.
"Kalau kau membawa bolanya, tidak usah meminta maaf!" Midorima kesal. Mengerling dua pemain yang bernapas kepayahan menggelepar di lantai, berupaya menampik barier harga diri yang lagi-lagi dilebur Akashi hingga seluruh perjuangannya babak-belur, gagal total. Ia berlari mengejar Sakurai.
Para penonton bersorak untuk Midorima yang mengejar Sakurai. Wanita berkebangsaan asing itu memberikan kiss-bye demi kedua pemuda yang dikecupnya—tapi karena mereka tengah fokus dengan kompetisi maka tak ada yang menanggapinya.
Lain halnya dengan pendamping prianya yang kini menatapi lensa kameranya yang menerkam momen-momen intensitas terbalut tensi rivalitas itu menjadi foto-foto, gurat wajahnya takjub kendati amat serius.
Selepas kepergian kedua rekan setim masing-masing. Baik kedua pemuda yang sama-sama bersurai merah lepek oleh peluh tersepuh itu menepikan diri ke dinding di bawah check-point, menghindari atensi publik yang tertuju pada mereka.
Kagami menanamkan dahinya pada dinding yang dialiri sepoi dingin Air Conditioner. Headbangs frustasi—melampiaskan ngilu di tulang sepasang kaki jenjangnya yang dijalar getar. Tangan kanannya terkepal meninju dinding. Tangan kiri mencakar tembok berharap pedih yang menggugut hatinya lekas rontok. Nihil hasil.
Akashi tak jauh darinya. Punggung bersandar pada dinding. Membiarkan angin membelai tengkuk dan ubun-ubunnya yang mendidih meresapkan sensasi dingin. Tangannya terkulai di masing-masing sisi tubuh. Sakit yang menggigit-gigit kedua tungkainya tak sepadan dengan personanya yang tersiksa mengalami konflik batin hingga lidah mengelu seakan menyesap empedu terlalu pahit.
"Kau menang."
Keduanya mengucapkan bersamaan. Sepasang biner merah berbeda spektrum cerah mengalahkan redupan matahari di bersitatap.
Kagami memenangkan pertarungan one on one mereka.
Akashi memenangkan pertandingan mencetak skor check-point.
Sekaligus kalah memberangus ekspetasi diri yang berbesar hati hingga kandas tak bersisa.
Kagami menemukan mata Akashi menjadi merah dan merah, sewarna derai keping-keping hemoglobin yang terpolusi mengikat karbondioksida dan bukannya oksigen. Ceruk rongga matanya, lengkungannya, bahkan pendarnya menyebabkan Kagami mendengus keras—sekali ini non-ekspresi kendati kedutan alis bercabangnyamenyalahi mimik wajahnya.
Sorot mata mereka, ekspresi saat ini, hampir identikal.
Akashi memutuskan tautan pandang mereka. Pandangan biner merahnya hampa tak tertara, menembus kaca bening jendela yang megah, menerawang awan-awam gembul tersembul di langit, terhisap pusara horizon yang menyaput jangkauan pandang terujung.
"Pertarungan belum berakhir." Kagami yang pertama angkat bicara.
"Benar." Akashi tenang menanggapi—dan Kagami menyipitkan mata tak suka karena tak menemukan seringai antagonis yang seperti biasa. "Semua pion akan berkumpul di bidang catur yang diposisikan untuk mereka."
"Tsk. Kuso Niji no Sedai—" Kagami mengubah posisinya menjadi terlentang, menatap datar langit-langit ruangan yang mengatapi mereka, "—kalian semua tidak berhenti membuatku kesal. Khh."
Akashi mendengus geli. "Kau sudah menyandang titel yang sama."
"Ck. Dalam mode siapapun, kau sama menyebalkannya, Akashi."
"Kau lebih mengesalkan, Kagami."
"Kau lebih menyebalkan lagi. Cih."
"…"
"Kau … tidak membunuh Kuroko setelah yang dia lakukan barusan, 'kan?"
"Tergantung."
"Akashi, brengsek—!"
"Kalau nanti di pertarungan yang sebenarnya dia sukses menuntun tim A pada kemenangan, aku tidak punya alasan mengeksekusinya. Tapi prediksi atau kalkulasi tidak berlaku baginya, terlebih dengan situasi yang tidak mendukung."
"Aku benci mengatakani ini, tapi bicaralah dengan bahasa manusia yang kumengerti!"
"Idiot."
"GRRHH! Kau benar-benar—aarghh!"
Akashi bangkit seraya men-dribble lagi bola personalnya—berpretensi tiada pedih merayapi kakinya yang hampir mati rasa. Mata merah dan merahnya tak diombaki riak emosi. Mengintensi ia takkan lagi menaruh ekspetasi. Bola hitam-biru digelindingkan seorang sekuriti ke arahnya, Akashi mengoperkan pada pemegang bola tersebut.
"Di tim B, ada kedua cahayanya."
Kagami terkesiap. Ditangkapnya bola hitam-biru yang menjadi tanggung-jawabnya.
"Setelah semua misprediksi ini, aku takkan gegabah. Namun satu kupastikan. Meski harus terjun ke jurang neraka, aku tidak sudi jika lagi-lagi kalah."
Dan seharusnya sorot mata para pemilik iris warna lapis-lapis tertinggi pelangi itu, tidak segelap malam disekap pengap udara hingga sistem respirasi tergemap.
Dari segelintir getir kekalahan di masa lalu, Kagami tertatih belajar ia butuh waktu untuk pulih—kekalahan menandangkan sedih.
Tapi waktu berjalan maju, kini Kagami mendapati realisasi kakofoni suara yang sungguh tak tersulih.
Seseorang. Mungkinbukan hanya dirinya, tapi juga semuanya.
Atas kekalahan teramat pedih, masih merintih tak letih-letih.
.
#~**~#
.
Sesuai dengan instruksi sang pelatih, pasangan keempat estafet itu beranjak setelah beristirahat sebentar untuk memulihkan napas. Keduanya menuju ke lantai 400 meter atau lantai 80 menggunakan lift dengan kapabilitas kecepatan 600 meter per menit, menyusul para pemain basket lain yang telah terlebih dahulu tiba di sana.
Masih sama seperti lantai-lantai sebelumnya, koridor berlangit-langit tinggi itu di tepiannya dibetot dengan kaca-kaca mencembung ke arah luar yang bening menampakkan elok panorama dari ketinggian. Berhubung matahari makin tergelincir ke Barat, maka putih awan dipolusi oleh warna lain, cahaya garang matahari yang memanggang metropolitan membangkitkan impresi fatamorgana dari dalam Tokyo Sky Tower lantai 400 meter.
Interior lantai 400 ini bisa dibilang paling artistik dari seluruh koridor yang dijelajahi oleh para pebasket muda itu. Begitu berbeda dengan permainan cahaya, warna, dan laser dari spotlight yang bertengger apik di atap ruangan. Tak begitu banyak perabotan selain penyangga kamera untuk para pecinta selfie. Desain neo-futuristik yang memberi kesan dimensi ke dimensi itu membuat siapapun yang menginjak ruangan tersebut seakan berekspedisi merambah ruang dan waktu.
Di tengah perpanjangan koridor dengan lorong yang membentang tak kehilangan ujungnya, Kagami dan Akashi menelusuri koridor yang menyala menggradasi warna pelangi. Kemudian memasuki sebuah spasi luas dengan atap yang berbentuk seperti kubah.
Terdapat diferensiasi mencolok dari keseluruhan lantai 400 meter ini. Atapnya amat berbeda dari lantai lainnya, linier kurva pada bagian dalam atap serupa kubah itu dilukis dengan reras kelopak-kelopak Sakura tujuh warna. Di sentrisnya, terdapat sebuah lampu sorot putih terang-benderang yang menghunjam cahaya dari sebuah lampu ala diskotik Light Emitting Diode (LED,) crystal magic ball light.
Ruangannya luas berbentuk persegi simetris. Di tiap sentral dinding bercat sewarna almond pucat, terdapat ceruk kubus yang menyimpan sebingkai foto para kaisar Jepang berbagai kuil terkenal se-Jepang dari masa ke masa, dan dilapisi kaca tebal serta bening, disorot dengan sebuah lampu emas dari alas berbahan stainless-steel.
Berbeda dari lantai-lantai sebelumnya pula, lantainya berupa berpetak-petak layar lebar Liquid Crystal Display (LCD) teramat bening dengan sistem komputerisasi yang menayangkan sponsor penyokong eksistensi Tokyo Sky Tree dan sesekali berganti dengan iklan wahana atau objek wisata di distrik tempat menara itu berdiri. Terlihat sangat rapuh untuk diinjak semena-mena namun pada kenyataannya amat kokoh.
Di atas lantai merapat dengan dinding, semua pebasket yang telah saling bertanding sebelumnya duduk dengan kaki terselonjor—mendongak ketika menyadari sepasang rekan setim mereka datang sembari men-dribble bola basket masing-masing.
Kagami mengerjapkan mata. Atmosfer berat dengan kebisuan anomali mengerikan yang melingkupi mereka. Biasanya, mereka akan saling bertengkar dan mencerca begitu berada pada jarak di luar batas aman. Pandangannya bergulir melihat para pemuda lain yang hanya menatapnya dengan siratan mata hampa. Ia cukup yakin melihat berkas tangis di wajah beberapa orang dan Kagami tidak sebodoh itu tak menyadari cidera atau luka baru yang tertoreh pada mereka.
Furihata yang duduk di sebelah Kuroko mengode Kagami untuk duduk dekat dengan mereka. Menyiratkan tatapan bertanya kenapa kawan mereka itu lebih diam dari biasanya. Sang asisten timnas junior melirik khawatir pada pemain basket bayangan. Tak sanggup bertanya, ia terlalu pengecut untuk bersuara di tengah lingkup aura regal para pebasket muda top negeri ini.
Pemuda bersurai krimson itu melirik sekilas pada Akashi yang melengos mendudukkan diri di dekat Murasakibara serta Kise dan pandangan Kuroko mengekori sang emperor. Berdecak, ia melangkah untuk turut duduk di sebelah Kuroko—bersama Furihata mengapitnya. Ia bukan penghibur handal, dan tak ada satu pun bersitan inspirasi untuk mengatakan sesuatu yang mungkin terdengar keren demi mengenyahkan gulana kawannya. Jadi, ia menepuk puncak kepala bertahta surai lazuardi.
Kuroko perlahan mengangkat kepalanya. Mengerling cahayanya. Tepukan ringan di lengan dirasakannya, dikerlingnya Furihata yang cemas menatapnya. Pandangannya meredup. "Terima kasih," lirihnya.
Momen itu diinterupsi dengan dengkur laknat yang menggema di ruangan tersebut. Refleks semua kepala tertoleh pada sumber suara dan menemukan si pemecah keheningan itu terlelap cukup pulas. Takao terkekeh. Kagami mendengus jijik. Himuro mendesah lelah.
"Aomine kelelahan melawanmu," ujar Akashi konklusif pada Kise yang duduk di sebelahnya.
Kise berjengit. Ia menatap horror pada Akashi—matanya terbeliak menemukan biner magenta mengisi ceruk rongga mata kaptennya. Akhirnya senyum tipis terukir di wajah tampannya. "Kelelahan?" Dengusan pelan. "Dia mungkin bosan."
Hanya dari tiga silabel itu ekspresi semua individu mendatar. Ini indikasi nyata bahwa Kise kalah melawan Aomine, kendati ironinya mungkin benar seperti yang dikatakan Akashi.
"Aku yang bosan." Murasakibara menguap malas.
Ekspresi horror mengental di wajah Kagami yang lekas menatap lekat figur kakaknya. Rahangnya mengeras menemukan Himuro tenang mengulas senyum lumrah yang tak mencapai matanya.
Akashi bergumam samar, melirik seseorang yang berada di kloter setelah Murasakibara. Furihata bergetar ketakutan dan beringsut duduk mendekati Kuroko. Sekilas lirikannya bertemu dengan Kuroko—ada siratan tajam sarat perhitungan yang membuat Kagami menimbang-nimbang untuk melemparkan sepatunya ke wajah intimidatif sang emperor. Siapa terima kedua temannya yang berharga diintimidasi hanya dengan tatapan mata?
"Bagaimana dengan pertarungan kalian berdua, Taiga, Akashi?"
Pertanyaan Himuro itu menjentik atensi semuanya. Aomine bahkan berhenti mendengkur, tirai kelopak mata tersibak pelan, berintensi mendengarkan.
Berani bersumpah demi pistol jahanam sang pelatih yang illegal, intensitas tukar pandangan antara dua pemain yang disebutkan namanya itu terlampau mencekam membuat semua nyaris tergemap.
Akashi tenang menjawab. "Tidak membosankan."
Aomine melemparkan dirinya untuk duduk. Menguap lebar sesaat, lalu berkata dengan suara rendah. "Bakagami, kau tidak bisa menang lawan Akashi, eh?"
Kagami tak menutupi ketersinggungannya dengan kefrontalan ganguro satu itu. "Pertarungannya sangat sengit, Ahomine. Untung aku yang melawannya, kalian tidak tahu saja dia punya jurus rahasia!" serunya emosional.
"Jurus rahasia?" Takao meledak terbahak. "Kau pikir siapa bakal percaya kalau kau mau bilang Akashi pakai teknik ala ninja lalu merayap di dinding?"
"TAPI DIA MELAKUKANNYA!" Kagami menuding dramatis pada Akashi yang ignoran terhadapnya.
"Kaga-chin mungkin kebanyakan nonton Teenage Mutant Ninja Turtles waktu kecil," cetusan Murasakibara malas-malasan mengundang cengiran geli terbit di wajah yang lain.
Pemuda dengan alis bercabang itu mengacak rambutnya frustasi. "Tanya saja pada Akashi! Bagaimana bisa aku mendahuluinya tapi tahu-tahu dia menyusul jika tanpa ninja-ninjaannya itu?!"
"Mungkin Akashicchi teleportasi." Kise terkikik, turut menertawakan Kagami.
"Itu lebih tidak waras lagi." Takao berkata susah-payah di sela tawanya.
Akashi menatap Kagami yang mencak-mencak ditertawakan beberapa orang. Pandangannya geli menghina membuat Kagami menggeram sebal kepadanya. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud, Kagami."
Furihata bertukar pandangan dengan Kuroko. Sudut-sudut bibir keduanya terangkat memulas senyuman walau belum mencapai mata. Serahkan pada Kagami untuk mencerahkan atmosfer segelap lubang hitam angkasa dengan cahayanya kendati tak seberapa.
"Hei, lihat ke bawah! Lantainya berubah!" pekik Kise penuh eksitasimenginterupsi konversasi.
Di layar yang mereka pijak mendadak semua berubah menjadi putih-bersih. Kemudian muncul tulisan bertipe calibry kepslok warna hitam yang mereka bergumam hampir serentak membacanya.
.
.
.
Pebasket kloter terakhir sudah mencapai lantai 400 meter atau lantai 80.
Diharapkan untuk semua pemain basket bersiap di ruangan tempat berada sekarang.
Bola personal tidak boleh lepas di-dribble masing-masing. Push-up sepuluh kali bila terlepas sekali, kelipatan berlaku.
Bola khusus bernilai 5 poin bila ditembakkan ke basket dari jarak jauh, 4 poin bila dekat.
Bola personal ditembakkan dari jarak jauh bernilai 3 poin, dan 2 poin bila dekat.
Semuanya, tetap semangat, ya!
.
.
.
Aomine mendecih. "Ini pasti pesan dari Satsuki."
Furihata tertawa miris mengasihani diri. "Se-semangat dari mananya…" gerungnya pilu.
"Woy, ada P.S-nya." Takao menunjuk lagi ketika layar kembali putih lalu satu persatu huruf bermunculan di bawah pesan sebelumnya.
.
.
P.S: Kata Kantoku, akan ada hukuman mengerikan untuk tim yang kalah. :'(
.
.
Sekerjap mereka disekap senyap. Beberapa sekon mengilustrasikan siksa hukuman kekalahan yang tak ubahnya bagai neraka dunia. Mereka tak sebodoh itu untuk tak menyadari bahwa hukuman sang pelatih pasti amat mengerikan. Dari sejak awal datang terlambat masuk ke ruangan meeting, menjebak mereka untuk bertarung melawan pebasket enigmatis timnas senior supaya memaksa mereka jadi satu tim, terlebih dengan aksi ekstrim pria paruh baya itu di hari ini yang membuat mereka stress baik jiwa maupun raga, anak-anak muda itu menyadari bahwa pelatih mereka cenderung seorang sadistik.
"Hu-hukuman?!" Furihata yang pertama memekik ngeri.
"Kira-kira apa hukumannya?" tanya Kise sembari memiringkan kepala.
Aomine menegapkan tubuhnya, meregangkan persendiannya yang terasa kaku dan mengernyitkan alis tatkala nyeri merayapi dari sikut ke perpanjangan lengan hingga bahu. "Mungkin dia akan menyuruh yang kalah untuk telanjang bulat di tempat umum."
"Tadi saja kita buka baju sudah dikerubuti karnivora betina!" Kagami mengibas-ibaskan tangan tak setuju. Dia menggeser pandangan sebal pada Kise. "Woy, tidak bisakah kau mengontrol penggemarmu, heh? Mereka menyuruhku membuka baju dan histeris melihat Akashi."
Hanya Murasakibara menotis diferensiasi ekspresi Akashi dan sorot mata yang mendingin karena duduk di sisinya. Manik topaz menatap kagum campur heran pada sang kapten.
"Benarkah? Kalau Akashicchi, aku percaya. Tapi kalau Kagamicchi—"
"APA MAKSUDMU, HAH?"! Kagami lekas memotong perkataan Kise. Yang disela tidak marah, justru terkekeh nista. "Kau tidak ingat tadi pagi kita terjebak bersama gara-gara penggemar gilamu itu, eh?"
Kise menjentikkan jarinya seolah teringat memori mengerikan tadi pagi. "Kita saling memunggungi dan bersandar satu sama lain."
"Perkataanmu itu ambigu, Kise. Bagiku terkesan kalian sangat manis," tukas Takao inosen yang membuat Kagami memelototinya sepenuh hati—antara sebal sekaligus terkejut melihat benjolan absurd hasil perbuatannya yang melembungkan kepala si pemilik mata rajawali. Mengilas balik kenangan tadi pagi, ia berkata, "Tapi, tadi pagi kita memang sangat manis."
Sunyi yang mencekam. Gemeretak tulang leher bergeser, menoleh terpatah-patah robotik pada hamba sahaya Midorima Shintarou itu yang nyengir dengan wajah tanpa dosa. Matanya yang tajam menatap kalkulatif, menyirat.
'Tentunya kalian ingat kejadian tadi pagi, 'kan?'
Tentu saja. Siapa bisa lupa? Tapi melabelinya dengan kata "sangat manis" itu entah kenapa terdengar keterlaluan.
Akashi berdeham memecah keheningan mencekam yang mencekik semuanya. "Lebih baik kita bersiap, detik-detik terakhir menuju pertandingan sebenarnya."
Kendati ingin sekali menggilas wajah datar sarat arogansi khas Akashi dengan sikat cuci baju serta karena nada suara dinginnya itu, tapi tak ada yang membantah. Otomatis mereka menuruti perkataannya, bangkit untuk mempreparasi pertarungan terakhir yang genderang peperangan telah ditabuh tatkala mereka mulai men-dribble bola basket personal. Tak seorangpun sudi mengekspos kelemahan mereka—harga diri tinggi sebagai lelaki—menahan nyeri cidera yang menggerogoti fisik. Refleks mereka tergerak berkumpul dengan rekan setim masing-masing.
"Kita harus mengamankan bola istimewa dan secepat mungkin tiba di rooftop—!" Adalah kalimat pembuka yang sama-sama diutarakan perlahan bernada tajam dari kapten kedua tim masing-masing saat mereka cuddle.
Kedua kapten bernegosiasi dengan anggota tim masing-masing menentukan posisi dan merancang strategi di detik-detik terakhir menjelang kedatangan pemain estafet kloter kelima. Beberapa saat kemudian, mereka menegakkan tubuh dan menyerukan "Osu!" seraya menyengatkan tatapan mematikan pada tim musuh. Mereka berpindah posisi mengikuti instruksi formasi dari kapten.
Lantainya menggilas warna putih bersih dengan kedap-kedip tujuh warna pelangi pada empat rupa kanvas langit dan koridor yang mengelilingi ruangan itu. Mengimpresi mereka seakan menembus ruang dan waktu, melampaui berbagai dimensi secara imajiner.
DUK!
DUK!
DUK!
Seketika mereka mulai men-dribble bola personal masing-masing dan memasang kuda-kuda sempurna. Melirik satu sama lain, mencerna sirkumstansi, menahan hentakan dalam diri yang mengobar hasrat haus akan kemenangan dan benci kekalahan. Mengesampingkan masalah pribadi, masih ada satu yang diprioritaskan untuk selesai bagaimanapun caranya: pertandingan.
Yang menang jadi pemenang; yang kalah jadi pecundang.
Suara tiga bola di-dribble selain ketukan sembilan bola pada lantai LCD yang mereka pijak memosi para pebasket itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Shooter mereka telah datang, menahan napas, dan seseorang menyeruak men-dribble dua bola basket sekaligus dari koridor pelangi.
Tim B sumringah. Tim A sedikit banyak pias.
"Cyclone pass—"
CTAAAS!
Posisi berbalik. Tim A di atas angin. Tim B memucat. Dari penghujung terdalam ruangan, formasi kedua tim terbelah sekaligus dikejutkan dengan pass berkecepatan dan akurasi tinggi menyepak bola istimewa dari tangan Midorima—sampai mengacaukan dribble bola personalnya.
Detik berikutnya sebuah bola lain yang diluncurkan Akashi dengan ketepatan akselerasi menyepak bola personal Midorima—makin mengacaukan konsentrasinya, Kise melesat kilat begitu agresif menjangkau bola istimewa.
Himuro tak perlu meneriakkan instruksi apapun, Aomine lebih dulu bergerak dengan beringas hendak menjegal aksi Kise yang dititah Akashi untuk merebut bola. Tapi alangkah terkejutnya, Murasakibara menyeringai malas menjadi screen—dan Aomine menyumpah-serapah karena tubuh besar si jangkung ungu itu sukses menghentikan pergerakannya.
GUBRAK!
"Aduh, apa yang kaulakukan, sih?!" cerca Takao kesal. Ia bermaksud untuk mengejar Kise, tapi apa daya ia menabrak Furihata—yang sebenarnya dimosi untuk me-marking Takao—dan keduanya jatuh bergelimpangan.
Furihata meringis kesakitan tapi ia berhasil mempertahankan bola personalnya. Ia memekik ngeri tatkala melengakkan kepala, melihat Kagami yang maju agresif tapi dicegat langkahnya oleh Akashi. Himuro menggocek semua bentrokan pemain dan hampir mengejar Kise, namun suara "gubrak!" berikutnya terdengar. Kuroko menahan Himuro—dan karena minimnya hawa presensinya sampai tidak dinotis sang faker itu, maka Himuro sukses menabrak pemain bayangan sampai terjatuh.
Gotcha. Kise mendapatkan bola. Ia menyeringai penuh kemenangan. Manik topaz-nya terpicing tajam dengan kepala terangkat tegak, bibir menguntai seringai seksi. Meneliti sesaat kondisi kekacauan yang terjadi, sebelum kakinya yang sebenarnya digigit nyeri memanuver putaran tajam baginya untuk berlari sekuat tenaga meninggalkan yang lain, saling oper-mengoper dengan Sakurai menuju tangga exit.
"Cih." Aomine mendecih sebal. Ini resmi pertama kalinya ia menghadapi Murasakibara. Seorang pebasket tipikal penyerang terbaik melawan pemain bertahan terbaik. Tak ada cara lain. Ia merendahkan tubuhnya, tenang menghirup napas dalam-dalam, fokus dengan irama ritmis dribble yang dinaikkan temponya.
Murasakibara tak lengah. Ia tak terkecoh dengan pergerakan Aomine yang random bagai panther di alam buas. Menyelipkan satu kaki pada si pemuda dim yang mengocehnya triple crossover dengan terlalu mengerikan. Pemain biasa pasti sudah akan terjatuh dan Murasakibara tak ayal bakal terkena sangsi foul.
Tapi ini sang jenius pencetak skor, ia berkelit dengan mundur dua langkah—sepersekian detik biner azura bersiborok dengan manik ungu saling mengecam—lalu banting setir berlari ke arah berlainan karena menyadari bahwa mengofensi mantan center Kiseki no Sedai itu sama dengan jalan buntu.
Ganti Murasakibara berdecak kesal. Aomine memanfaatkan celah luas ruangan yang ada untuk lolos. Kedua pebasket itu saling menghalangi laju maju satu sama lain sembari menyusul Kise dan Sakurai.
Takao berhasil bangun, menemukan Midorima yang tampak jengkel tak tertahankan. "Kejar mereka, Shin-chan!"
"Tidak perlu kau beritahu juga aku pasti melakukannya, nanodayo!" desis shooter itu geram.
"Rampas bola dari mereka!" seru Himuro usai menggumam maaf pada Kuroko. Ia berlari sekuat tenaga dengan high-dribble tak melebihi bahu mengejar pebasket lain yang telah mendahului.
Kali ini ganti Furihata bangun terlebih dahulu, memungutkan bola Kuroko, membantu kawannya untuk bangun. Pemuda bersurai lazuardi itu di sela napas yang terengah dan ringis kesakitan, mengucapkan terima kasih. Mereka bertukar senyum sekilas. Keduanya menyingkir dari perseteruan beringas antara Akashi dan Kagami untuk menyusul rekan-rekan serta musuh mereka.
"Kau pasti sengaja." Kagami mendelik sengit pada Akashi yang bersikeras tak membiarkannya lewat.
Akashi menyengatkan tatapan dingin pada rivalnya. "Mati pun, aku tidak sudi kalah lagi dari kau."
Kendati berupaya menjatuhkan bola personal masing-masing dan menjegal langkah satu sama lain, mereka tetap melangkah maju mengejar yang lainnya—sudah terlebih dahulu keluar dari lantai utama memuarai destinasi terkini; rooftop melalui jalur tangga gawat darurat.
Ini adalah pemandangan yang takkan pernah dijumpai untuk kedua kali, kendati ada milyaran reinkarnasi dalam hidup.
Para pemuda yang merupakan pemain basket terbaik negeri Sakura itu berlarian dengan harmoni ritmik dribble bola basket, seruan lantang pola pertahanan atau penyerangan, peluh luruh tersepuh, berlatar panorama senja dan kilau siraman cahaya matahari senja di riak sungai Sumida, sepatu legit mendecit lantai LCD yang memberikan efek dramatis hitam-pelangi, putih-pelangi, senja-pelangi, lazuardi-pelangi, dan konstan repetitif.
Mereka merambah dimensi yang tak terdefinisi terimpresi seolah semua ini akan berlangsung abadi.
Kise tahu dirinya takkan kuat memforsir diri menaiki sepuluh lantai sampai atas. Maka dari itu ketika dengan terapan ilmu spionase—mengecek situasi ke belakang dan menemukan kawan maupun lawan tim mengejarnya, ia sigap mengoper pada Sakurai lalu menurunkan kecepatan mem-backcourt Midorima yang nyaris menggapai rekan setimnya itu.
"Lawan aku dulu, Midorimacchi~" katanya dengan nada didayukan. Tahu benar nada bicaranya itu makin menyulut emosi pemuda tsundere tersebut.
Pemuda bersurai diperciki klorofil itu mendengus keras. "Kau akan menyesal, Kise!"
Kise terkesiap tatkala Midorima membalik posisi mereka—ganti ia yang kena backcourt. Barulah ia paham maksud Midorima ketika kelibatan sosok si pemilik mata rajawali disusul si pemalsu handal melesat cepat menaiki tangga demi mengejar shooter timnya. Sepersekian sekon saat ia bertahan dengan posisi absurdnya dengan Midorima, mengerling ke belakang, sebulir besar keringat mengalir di pelipisnya.
Kagami menghadapi Murasakibara, Aomine versus Akashi. Pertarungan mengerikan karena aura predator zone mereka terhembus sampai ke lantai-lantai berikutnya. Bahkan Kise dan Midorima dapat mendengar derak mengerikan pintu zone yang didobrak oleh mereka—semua tanpa kecuali.
Visi kasat mata takkan kuasa mengikuti pergerakan mereka-mereka yang dianugerahi talenta teristimewa. Bagaimana pergerakan kilat mereka lincah, tangkas, kuat yang terarah, agresi ataupun defense tersistematis, fokus luar biasa, dan pressure mental dari aura eksitasi mereka yang berkobar. Seolah pantulan bola basket pada permukaan bidang apapun adalah persembahan sebuah orkestra yang mengumandangkan simfoni dari manifestasi tarian pertarungan berintensi menggapai kemenangan.
"Minggir, Himuro!" teriak Takao. Ia merapat ke pegangan tangga, mendorong keras Himuro merapat ke dinding.
Himuro yang merasakan benturan dengan lengannya, sakit merongrong kulit yang membalut lapisan otot di atas tulang tapisnya yang menubruk dinding. Tak sempat memaki Takao atas ulahnya. Didengarnya derap langkah mengerikan, sinar-sinar dari pendar mata elektris, aura yang menguras energi dan membuat nyeri hingga ke sendi-sendi. Para pebasket generasi keajaiban itu itu susul-menyusul di tangga. Ia tercengang bukan kepalang—merasakan tekanan mental dan atmosfer berat melingkupi jalur exit.
Takao tahu Himuro juga mengerti. Keduanya hanya bisa melihat kelibatan sosok bersurai warna-warni dan bola putih-merah bersaing dengan hitam-biru membelah udara dipantulkan ke sana kemari bagai taburan konfeti atau operan selugas cahaya laser. Mendongakkan kepala, sekerjap mata Sakurai disusul oleh seseorang.
"Aaakh! Sumimasen!" Sakurai merinding ngeri saat Aomine begitu bengis menepis bola istimewa dari tangannya.
"Siapapun, tangkap itu!" teriak Aomine garang.
Bola istimewa bergulir jatuh dari lantai peralihan enam ke lima. Murasakibara refleks merentangkan lengannya yang panjang untuk mendapatkan bola. Apa daya, Kagami melompat setinggi-tingginya menyerobot titan ungu itu, menjarah bola bundar oranye lalu mengoperkan bola pada Midorima.
"Kise-chin, jangan lengah!"
"Tch. Serahkan Kagamicchi padaku, kau kejar Midorimacchi, Murasakibaracchi!"
Kise mengumpat ketika langkahnya agak oleng karena telapak kakinya makin nyeri dan Midorima lolos menaiki dua sampai tiga anak tangga sekaligus. Ia mengorbankan diri untuk tak menghalangi Midorima, melainkan menjadi screen pada Kagami yang mendarat dan hendak menyusul shooter terbaik itu.
Begitu mudahnya Midorima menggocek Sakurai yang sia-sia menghadangnya. Aomine menahan langkah Sakurai yang stress gemetaran karena terjebak di tengah-tengah brutalnya pertarungan Kiseki no sedai.
"Mau kemana kau, Ryo?!"
"Sumimaseeeeen!" Sakurai terisak ketakutan.
Sikon berbalik; tim B menguasai alur permainan.
Takao dan Himuro yang akhirnya pulih, menyadari dua sisa pemain tim A berjuang mengejar semuanya kendati tertatih. Sepertinya akan two on two. Tapi sekelibat merah melewati keempatnya. Melewati Kagami yang bertanding dengan Kise saling dahulu-mendahului menaiki tangga. Di lantai berikutnya, Aomine memepet Sakurai ke tembok sembari menghalangi Murasakibara agar tak bisa lewat. Midorima bebas dari penjagaan ketat dan ia leluasa men-dribble dua bola sekaligus menaiki tangga ke lantai delapan. Hampir mencapai rooftop.
Jeritan histerisTakao dan Furihata kompak menyeruak ke langit-langit udara yang kadar oksigennya mulai menipis. Himuro terbelalak, Kuroko terbeliak. Sisa para pebasket penuh talenta itu melihat dari bawah ke atas kelibat siluet merah magenta lincah mendaki lantai dengan cara memijaki dinding, menginjak pegangan tangga, memantulkan bola, hingga—
"MIDORIMA, AWAS AKASHI!" raung Kagami frustasi. "DIA MERILIS TEKNIK NINJANYA!"
ZRASH!
—Midorima tak berkutik dan lagi-lagi tak menyangka Akashi akan memutar balik sirkumstansi. Steal brilian bola istimewa dengan bola personal di lempar ke udara, meroda, memijak dinding, melompat ke pegangan tangga, menangkap balik bola personal, menaiki lantai berikutnya. Berdiri angkuh di pegangan tangga dan menatap rendah dengan sorot mata indignan meremehkan semuanya.
"Akashicchi berteleportasi!" pekik Kise histeris yang mendongakkan kepala melihat pada kapten timnya.
Kagami berdecak. "Itu bukan teleportasi, Bodoh—!"
"Jurus rahasia ninja!" sela Takao takjub sekaligus ngeri.
Aomine memutar kedua bola mata. "Dia sama seperti kita, pemain basket!"erangnya sebal.
"Kaga-chin ternyata tidak berbohong," tanggap Murasakibara dengan suara perlahan yang tajam.
"Hei, jangan diam saja!" sentak Himuro yang sesungguhnya juga terjangkit sulit untuk tak terkesima dengan aksi Akashi. Ia bergegas memacu langkah—dilihatnya Sakurai menyelinap dari marking Aomine, begitu pula dengan duo Seirin yang perlahan tapi pasti mengejar.
"Awas, Sakurai-kun!" seru Kuroko memperingatkan.
Sakurai refleks menuruti seruan Kuroko. Ia merapatkan diri ke dinding tatkala langkah-langkah lain berdentam ganas belingsatan mengejar sang emperor. Mendapati kaki-kakinya selunak jeli karena getar derap langkah para pemuda lain beresonansi pada dirinya, mendegradasi nyalinya.
Midorima adalah pemain garda terdepan dari tim A yang kalap mengejar Akashi. Mata seteduh hutannya kini rimbun akan gejolak emosi dan gemeresak eksitasi. Balas dendam yang takkan dipendam. Akashi harus dikalahkan oleh dirinya sendiri.
Akashi menyeringai antagonis. Melompat turun dari pegangan tangga, menaiki dua anak tangga sekaligus mengabaikan nyeri di kaki untuk melahap satu lantai berikutnya mendekati muara akhir pertarungan sembilan puluh lantai sekaligus pertarungan sebenarnya. Jika Midorima atau siapapun mencoba merenggut bola darinya, Akashi takkan tanggung-tanggung menguras energinya untuk merealisasikan teknik—yang oleh Kagami disebut—ninjanya repetitif. Ini demi merampas kemenangan mutlak dan tak mau lagi harga diri serta ego terkoyak.
Akashi hampir menertawai ketika Midorima suicidal—melambungkan bola personalnya, tentu saja Akashi lincah berkelit. Tapi yang tak terbersit kendati sebatas praduga, nol koma sekian sekon—belum mencapai satu detik, bola personalnya tertebas dari tangan akibat tembakan gaya bebas dari Aomine yang memang ahli menembak dari segala posisi dengan presisi mengerikan. Tak sampai di situ, detik berikutnya bola personal hitam-biru milik Midorima mendapat gaya pantul keras, melecutkan bola istimewa lepas dari tangan kapten tim A.
Detik berikutnya Himuro muncul di sisi Midorima, sigap menangkap si bola bundar oranye yang jadi primadona pertandingan mereka.
Tak dinyana, Kise telah mengaktivasi kemampuan perfect-copy; meniru tembakan Aomine untuk melejitkan bola dari tangan Himuro. Bola melenting cantik ke udara, Kagami tentunya meloncat untuk meraih bola istimewa. Tapi pemuda dengan alis bercabang itu tergemap kaku di udara tatkala sebuah tangan besar menjarah bola persis cara seorang seniornya di Seirin—Vice Claw. Murasakibara menjatuhkan bola ke arah Sakurai yang lekas menangkap bola. Dan ternyata Takao tanggap begitu sigap, melakukan intercept pass sehingga bola makin terjatuh ke bawah.
Seseorang mendapatkan bola istimewa.
Semua menurunkan pandangan, menemukan sang pemain bayangan dari semua pelita yang menyala terang-benderang, berputar di tangga dengan efek angin tornado terporos padanya. Mendorong bola keras-keras dengan permukaan telapak tangannya yang kapalan.
Bola tersebut yang atentif bagi seluruh pebasket timnas junior membelah kasar udara, meluncur tinggi-tinggi dan memosi semuanya berlari belingsatan untuk menaiki tangga demi menggapainya—seraya mendribble bola di tangan masing-masing. Tensi tingkat tinggi membuat mereka tak menghiraukan rasa sakit yang mencabik-cabik pula lelah yang mencambuki sekujur tubuh.
TANGKAP! —hanya itu yang mereka pikirkan.
Sebuah pintu telah terbuka. Bola itu menutupi pijar solar surya yang bersemu, menjadikannya bercahaya yang disongsong para pemuda itu untuk mendapatkannya—karena sesungguhnya benda mati berbentuk bundar itulah yang memulaskan beragam warna pengalaman pada kronologi kehidupan mereka kendati amat ironis.
Dua presensi yang berada di rooftop terbuka itu melihat berbagai spektrum pelangi yang menyala menjulurkan tangan masing-masing untuk merebut penentu kekalahan dan kemenangan mereka, terbelalak kaget dan napas mereka tercekat karena teriakan frustasi mereka membubungi langit keemasan.
.
.
"AAAARGHHH!"
.
.
GRAB!
.
.
"AAAKKH! ITTTAIIII!"
.
.
Jika saja mereka berada dalam lakon komedi, mungkin penonton meletus tawa terbahak-bahak. Sepersekian sekon lalu mereka melepaskan stressor untuk menyabet sang primadona yang didorong ignite pass. Namun apa daya, para pemuda bertubuh jangkung dan besar itu terjepit bagai roti berlapis-lapis sesak-mendesak di sebuah pintu berukuran normal khas jalur akhir yang bermuara ke rooftop.
"AAARGHHH! SAKIT! JANGAN DORONG-DORONG, AKU DEKAT ENGSEL PINTU." Kise refleks terisak pilu karena terpepet hingga ke engsel pintu. Dia merinding tatkala merasakan hela napas terengah-engah menerpa tengkuknya, tubuh solid seseorang menempel di punggungnya. "BA-BAGAIMANA KALAU AKU MATI TERJEPIT?
Aomine yang tubuh bagian depannya menempel pas dengan tubuh Kise berteriak frustasi merasakan punggungnya plus tubuh bagian belakang saling melekat dengan rekan setimnya yang tak sengaja bergerak mendorongnya. "JANGAN BERGERAK, KISE. SAKIT TAHU! DAN TIDAK BISAKAH KAU DIAM, KAGAMI!" Apalagi ia merasakan pergerakan Kagami yang tak karuan.
"GRRHH, KAGAMI! KAU HARUSNYA MEREBUT BOLA DARI MURASAKIBARA." Midorima stress maksimal karena tergencet dengan posisi berhadapan dengan Kagami. Posisi mereka absurd sekali. Mengertilah, pinggang adalah area rawan geli baginya, sementara lengan kanan pemuda dengan alis bercabang itu terselip melalui pinggang Midorima buncah desperasi berusaha menggapai bola Murasakibara yang terjepit paling ujung kiri.
Kagami mendecih karena wajahnya terlalu dekat dengan si pemuda tsundere. "AKU MENCOBA. KALIAN JANGAN MEMPERSULITKU! DAN TIDAK ADAKAH YANG BISA MENGALAH DULU? KITA BISA MATI SESAK—GGUUH—NA-NAPASSH!"
"KALIAN SAJA MUNDUR. AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN BOLA INI APAPUN YANG TERJADI!" Murasakibara yang beberapa saat lalu memang sudah dititah Akashi—bersikeras tak mau kalah, jika mendapatkan bola ia tak boleh melepaskannya. Dan ia balas mendesak teman-temannya, berusaha meloloskan tubuh besarnya yang ikut berjejalan dengan tubuh-tubuh malang di pintu.
Keempat pemuda lain itu makin sesak napas karena dorongan tubuh besar Murasakibara yang ternyata mendapatkan bola kian menghimpit semuanya. Tangan-tangan terjulur berupaya menggapai lengan terpanjang yang terjuntai menjauhkan bola dari semuanya.
Baik Takao maupun Sakurai yang kini saling me-marking hanya bisa tercengang.
"Oi, oi, mereka bisa jadi sandwich!" Takao terbelalak ngeri melihat pertempuran mengerikan yang terjadi.
"Su-sumimasen—" Sakurai melihat serpihan kecil yang mengguguri ubun-ubun surai aneka warna, menyadari keretakan kecil menjalar di dinding atas pintu. "—tidak bisakah salah satu dari kalian mengalah dulu untuk membiarkan kita semua masuk satu per satu?!" Ia mengkhawatirkan pintu akan jebol, atau siapapun dari mereka yang terjepit akan pingsan karena sesak napas.
"Siapa mau mengalah? Siapapun yang sekarang memegang bola, membiarkannya masuk ke rooftop duluan lalu melakukan shoot dengan bola istimewa … otomatis akan menjadi pemenang!" terang Himuro. Otaknya buntu mencari solusi dari permasalahan yang berlangsung. Namun ia memacu langkah berupaya untuk membantu suportif teman-temannya meraih bola istimewa.
Kuroko tak bisa berkata-kata karena ia yang berada di posisi terbelakang. Sempat dilihatnya Akashi yang tadi kecolongan bola istimewa turun beberapa anak tangga untuk memungut bola personalnya lalu naik lagi. Ia baru menyadari rekan setimnya tiada, mungkin sudah menyelinap maju sesuai instruksi yang sang kapten beberapa waktu lalu.
"KAU—" Himuro kaget tatkala melihat seorang pemain tim A lolos dari marking siapapun, ia baru saja mau menjegal pemain keenam tim A, tatkala merasakan langkahnya dijegal seseorang. Kuroko sigap mencegatnya. Ia terkesiap. "—SCREEN." Ia mendecih.
Sakurai yang menangkap sosok rekan setimnya merangsek maju, refleks bergerak turun untuk me-marking Takao yang masih ternganga memandangi para pemuda lain berjubelan di pintu.
Murasakibara bisa merasakan sebulir besar keringat mengalir di pelipisnya. Tangan kirinya sekuat tenaga menahan tubuhnya untuk tidak tergencet dengan cara mencengkeram bingkai pintu rooftop yang ternyata sudah ringsek, kendati itu berarti memberikan tekanan berlebih pada pebasket lainnya yang berada di situasi absurd ini. Tangan kanannya berusaha terjulur ke arah kiri, menjauhkan bola dari tangan-tangan liar yang hendak menjarah bola istimewa. Hingga suara tarikan napas berantakan presensi lain yang datang dinotis olehnya. Keduanya bertukar pandang.
"BUKA JALAN! SESEORANG HARUS MUNDUR DULU, NANODAYO."
"KITA TIDAK BISA SELAMANYA SEPERTI INI—SSU!"
"Mundur kau, Kagami!"
"Kau yang harusnya melakukannya, Midorima! Posisiku memudahkan untuk merebut bola dari Murasakibara!"
Beberapa milisekon Midorima mencerna perkataan Kagami dan sirkumstansi genting. Bila dianalisis, posisinya yang membelakangi Murasakibara akan menyulitkannya untuk meraih bola dari tangan si pemuda bertubuh paling besar itu—apalagi dengan tangan kirinya. Tapi Kagami bisa melakukannya karena posisinya menghadap langsung ke Murasakibara. Jarak yang tersisa dan pecahnya keseimbangan posisi terjepit itu mungkin juga akan menguntungkan Aomine dengan akselerasi kecepatannya—dan makhluk ganguro itu lebih dari cukup untuk memblokade usaha apapun yang sekiranya coba dilancarkan Kise.
Bertukar anggukkan kepala dengan Kagami—yang menyikut rusuk Aomine sebagai tanda untuk mengeksekusi taktik serta pertaruhan mereka, Midorima menarik paksa tubuhnya keluar dari berjubel-jubel badan yang menyesaki pintu.
Keseimbangan terpecah. Ada spasi, ruang terbuka.
Midorima dengan sisa gaya di tubuhnya terhempas ke dinding pembatas tangga. Kise menarik napas dalam—mengetahui apa yang terjadi di ujung pintu satunya lagi—seraya berupaya meloloskan tubuhnya sebisa mungkin. Aomine bisa melepaskan badannya yang semula menghimpit sang perfect copy, mencoba untuk membalikkan badan. Kagami ganas merangsek maju, agresif berintensi merebut kembali bola istimewa.
Press.
"UAARGGHHH!" Teriakan ketiga pemuda malang itu menggema dramatis ke seluk-beluk jalur exit. Ketiganya terjepit ke pintu sebelah kanan yang berdekatan dengan engsel pintu, Kise yang tersisa separuh badan lebih tersiksa lagi.
Ternyata Murasakibara memundurkan tubuhnya untuk membuka celah, memberikan peluang emas untuk mengamankan bola istimewa pada rekan setimnya—yang entah bisa dipercaya atau tidak. Tangannya yang berkeringat dingin, mulai licin dan bola tergelincir dari genggaman.
"GYAAAAA!" Itu jerit ketakutan yang rasanya hampir memutuskan pita suara sendiri. Furihata menginjak segala rasionalitasnya, menerobos maju dari celah yang diciptakan Murasakibara. Telapak tangan kirinya terbuka lebar untuk meraih bola yang masih melayang di udara—bola yang sama yang baru saja tergelincir dari tangan si pemuda bersurai ungu.
"MURASAKIBARA-(CCHI) NO YAROOOOU!" Trio malang yang terjepit itu secara depresif menyatukan kekuatan untuk melawan dorongan center kebanggaan tim Yosen tersebut.
Murasakibara merasakan hentakan dan tubuhnya tak siap dihantam keras-keras dari belakang hingga terdorong ke depan. "GRRHH!"
Para pebasket lain yang tidak ikut dalam aksi penggencetan atau terjepit itu terbelalak ngeri. Furihata bisa tewas seketika—Murasakibara diberi gaya raksasa dari trio pebasket lain yang sesak napas karena tubuh mereka terdesak depan-belakang.
"BAHAYA, FURIHATA!" Midorima berseru memperingatkan, ia bisa melihat ada bingkai besi pintu yang berderak karena rusak, besinya mencuat dapat instan merobek baju bahkan lapisan kulit punggung asisten timnas junior itu.
Furihata menjerit histeris, terlebih ketika tubuh besar Murasakibara membentur tubuhnya yang dua kali lipat lebih kecil. Bagaimanapun usaha Murasakibara atas ketidaksiapannya merasakan dorongan dari ketiga pemuda lain dengan menahan gaya dorong tersebut, Furihata terhantam mundur.
Midorima tahu harusnya ia memejamkan mata karena tak kuasa melihat Furihata—meski ia tidak kenal akrab—terluka jadi korban kebrutalan pertandingan mereka. Namun matanya terbuka lebar, terbeliak entah untuk kesekiankalinya hari ini mendapati tangan seseorang menyelinap sepersekian detik yang tersisa antara punggung Furihata dengan cuatan tajam besi bingkai pintu.
Murasakibara yang melihat kehadirannya lekas balas memundurkan tubuhnya—dan semuanya seketika terhenti.
Hanya ada satu bola basket yang terpantul-pantul melibas keheningan. Di rooftop. Bola personal lain di tangan para pemiliknya. Hening berdesing. Semua disekap senyap dan merasakan napas pengap tapi tak seorang pun megap-megap.
Kucur likuid krimson mendenting lantai.
Furihata merasakan nyeri menyemuti tulang tapis sebelah kanan miliknya yang menghantam bingkai pintu, namun tubuhnya melengkung ke depan saling berhadapan dengan Murasakibara. Sunyi ini membuatnya serasa tercekik. Ada ganjalan di punggungnya. Barulah ia membuka mata, tak sempat mengerang kesakitan karena yang dilihatnya adalah sorot ganjil mata magenta dan kerutan dalam di dahi terjuntai surai merah.
"A-Aka-chin!" Ini pertama kalinya dalam hari ini kelopak mata ungu itu tak terpicing dingin, marah, ataupun malas. Melainkan panik.
"Akashi, ta-tanganmu—" Midorima menatap horror kapten timnas junior.
"A-apa yang terjadi?!" seruan tak mengerti serentak dari dua pemuda cahaya setipikal.
"AKASHICCHI TERLUKA!" Kise berteriak mengkonfirmasi apa yang terjadi.
Terutama para pemuda yang me-marking satu sama lain berserakan di anak tangga melihat ketika Akashi berhasil men-dribble lagi bola personalnya, menaiki tangga, lalu terjadi dorong-mendorong di antara para pemuda yang tergencet di pintu.
Sesuai prediksi Akashi berjam-jam yang lalu—Kuroko masih ingat dengan jelas. Mereka akan berdesakan di pintu untuk mendapatkan bola. Bila itu terjadi, para pemain lain harus di-marking agar tak bisa mengasisteni ace tim masing-masing. Sementara satu pemain tersisa, yaitu pemain kesebelas maju untuk merebut bola istimewa.
Tapi yang tak sesuai asumsi adalah ada kerusakan di bingkai pintu berbahan besi itu. Dan Furihata nyaris terluka karenanya. Meski Akashi sendiri yang memprediksi semua akan berjalan baik-baik saja, pada kenyataannya imaji futuristik yang kini terealisasi pun hanya berhasil diterkanya sepersekian detik lebih awal. Punggung tangan kiri sang kapten timnas junior itu disayat oleh kerak besi runcing, luka terbuka menghunjamkan bertetes-tetes darah pada lantai.
Namun tangan yang sama menekan punggung yang diselamatkannya. Biner magenta itu terpicing janggal—antara menahan sakit dan bergelimang akan ancaman.
"Rebut bolanya—" Akashi mendorong Furihata keras-keras menyeruak dari chaos di pintu rooftop. Tangannya yang berdarah-darah menodai kaus putih kusam di bagian punggung kurus itu.
"—KITA HARUS MENANG!"
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Light: Happy birthday Akashi~ happy birthday emperor, happy birthday Seijuurou~
Akashi: "Hari ini aku berulang tahun, kau menyiksaku di chapter ini?" (mengangkat punggung tangan berdarah-darah dengan gunting di tangan)
Light: (kissbyeke Akashi + sprint out no jutsu dari gunting-gunting yang melayang tersosor padanya)
.
.
*menggelepar* pertama, saya sungguh-sungguh mohon maaf karena update-nya lama banget. Waktu chapter 8 saya menjanjikan untuk update dengan words lebih banyak. Well chapter 8 isinya 7k, chapter sembilan 6k, chapter sepuluh 10k. Chapter berikutnya 5k—inprogress. Total jambleh arc 2 ini makan lagi-lagi hamper 100 pages ms words, gak beda jauh dari arc 1. Chapter akhir arc 2 akan update dengan setahunan fic Kiseki no Nakama. X"D
Saya jadiin satu, ntar super panjang dan saya khawatir juga RnR pusing mau review apaan saking panjangnya. Karena direvisi bagian battle-nya—saya sempet bikin suatu kesalahan fatal, lagi-lagi jadinya kepanjangan. Orz
Sejak saya ngeriset isi Tokyo Sky Tree, pas melihat tempat bertarung Kisedai di chapter ini, lorong berbentuk silinder yang menyala gonta-ganti warna (kayak warna pelangi) dibatasi jendela-jendela besar bening dengan pemandangan Tokyo, saya ngebet banget pengen bikin mereka bertarung di tempat ini. Akhirnya kesampean juga. #nangisterharu
Untuk lebih jelas bayangannya, berhubung saya stupidly stupid melihat tempat indah itu tapi gak nge-download pic-nya dan lupa link pula, mungkin RnR sekalian bisa buka MV Galaxy Supernova – SNSD atau MV EXO –Overdose sebagai referensi imajinasi.
Soal diksi, saya memenuhi rikues RnR sekalian. Mengingat saya ingin RnR sekalian paham battle scenes Kisedai dkk, dan juga makna pertarungan mereka, maka saya menyederhanakan diksinya. Kecuali di bagian tertentu saja seperti opening fic ini. Entah ini pada sadar atau nggak, opening fic ini sebelum judul itu adalah cut-scenes dari anime/manga yang bagi saya paling heartful, atau hints scene dalam fic ini yang penting untuk ke depannya.
Mengenai pairing, saya mohon maaf—tapi jangan berharap banyak. Memang saya cantumkan light-shounen-ai dan buddy-buddy complex karena saya sempet ragu takutnya ada banyak scenes di sini yang condong ke sana dan straight readers nggak suka—seperti di chapter 6, karena itu saya beri warning untuk berjaga-jaga. Makanya, nggak usah khawatirkan pairing, saya berharap RnR fokus aja sama apa adanya fic ini. Karena fic ini mainly focus ter-setting mengenai persahabatan (?), keanehan, (?), kegilaan seru-seruan (?), basket baka, terus—ups nanti spoiler. X")
Terima kasih sekali pada dear Readers and Reviewers yang mensubmit fanfiksi ini sebagai nominasi di IFA 2014. Terima kasih—dan saya nggak tahu lagi gimana mesti mengungkapkan rasa terima kasih bahagia serta apresiasi saya pada teman-teman. *peluk cium satu-satu* 8"D
Plus, ternyata bikin battle scenes basket syusyah banget. Saya yang mantengin anime/manga aja tetep ngerasa ini para chara mulai OOC dan pertarungannya absurd to the max, beda antara ngeriset setting canon Kurobas dengan mengaplikasikannya ke fic. Mungkin saya bisa mengerti sedikit pas baca Kurobas extra Fujimaki-sensei ngomel-ngomel banyak plotholes ini itu dalam manga-nya … pasti beliau juga ter-high-pressure untuk membuat very heated battle scenes yang lebih-lebih "wah"/"WOW" dari sebelumnya.
We should say thank him for making a wonderful piece like Kuroko no Basket, and welcome his new project: Kuroko's comeback; 29 December 2014! 8"D
.
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
