Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)
.
So, I will survive~
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Hari-hari yang dipakai gadis identikal musim semi itu untuk memundi serpih-serpih determinasi demi mengirim selenting invitasi bertajuk reuni ,selama salju tahun lalu meleleh ke lekuk drainase di setiap tempat.
Hari-hari yang dinanti gadis dengan mahkota terspektrum sewarna rona senja di angkasa itu memuai perasaan eksitasi sebanyak ranggasan sakura yang telah letih terombang-ambing di tangkainya, ketika terhanyut angin yang menghipnotis—merah muda ke udara dan bermimpi sebelum mati.
Kendati tak dapat diuraikan perasaan enggan bertemu lagi dengan panji-panji memori segala yang telah terjadi konstan menghantui, tapi toh di atas lapangan basket jalanan yang dihujani badai guguran sakura itu, mereka menatap gadis itu seakan dia manusia paling anomali di tubuh bumi.
Gadis itu melesat pergi meninggalkan mereka dengan konversasi canggung setengah mati.
Diamnya dirinya mematri persona-persona dalam lanskap atensi. Mereka—meski terpisah sekat ruang dan uluran waktu—sama-sama menjajak dewasa. Mereka bukan lagi kanak-kanak yang murni tanpa noda dan suci tanpa dosa.
Mereka bukan lagi anak-anak yang akan berjalan berlandaskan dingin aspal maupun dinaungi hamparan hitam legam berkerling gemintang dengan canda-tawa kasual seakan hari esok takkan pernah terpisah.
Mereka sudah bukan remaja labil yang mengerat regalitas kemenangan dan terseok menyongsong terjangan aral hidup di atas dua kaki sendiri.
Mereka sudah mengerti kini ada yang menjunjung loyalitas setulus hati dan akan setia menemani untuk meneguhkan hati, ketika satu sama lain dari setiap persona keajaiban itu harus berhadapan lagi suatu waktu nanti.
Kendati harus berhadapan dan tidak akan bersisian agar bermain bersama menunaskan perasaan menyenangkan—seperti sekarang ini gadis itu berhasil menggaet seseorang dan menyerahkan tustel dan memosisikan mereka dalam satu bingkai protet kebersamaan, mereka melapang hati dan dengan khas ekspresif masing-masing individu secarik momentum diabadikan.
Suatu saat nanti, bukan di lapangan basket jalanan warna-warni dengan hamburan sakura di sana sini, mereka akan bertemu lagi.
Suatu hari nanti, mereka pasti bertemu lagi di lapangan basket dengan formasi tim kebanggaan tempat hati mereka berpulang kini.
"Semuanya, ayo kita main basket bersama-sama lagi suatu saat nanti! Bersama semuanya lagi!"
(Lagi-lagi ketika surya menyercah sephia sehingga sakura tampak begitu lembut berseluncur di jalinan helai merah mudanya , gadis itu tertawa menyeka luruhan linang melankolia dengan bibir digelayuti kurva pelangi setulus hati—tak sadar diri membuat para pemuda lainnya setengah hati meresponnya karena tak memiliki konfidensi untuk mengimaji tentang kebersamaan sedemikian tinggi.
Tapi, meski saat itu ia sendiri beropini bahwa yang dikatakan gadis itu main basket bersama lagi bukan tentang bersama di sisi melainkan ekuivalen oposisi untuk membarakan rivalitas secara sportif—tanpa arogansi yang menyebabkan mereka begitu naif, Kuroko Tetsuya selalu jadi yang pertama memandangnya lembut dan menjawab:
"Ya, Momoi-san. Dan bukankah saat ini kita sedang bersama lagi?")
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 12
"First Ever Together"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Yang diteriaki tersentak kaget. Dihujani teriakan dari sekelilingnya—karena ia berada di sentral bagai langit yang menaungi pelangi.
Kagetora berdeham memulihkan diri. Rasanya pertarungan bocah-bocah ini lebih memikat, bahkan seluruh gugusan atom yang tersusun dalam tubuhnya ketimbang pertarungan manapun yang pernah ia saksikan. Sungguh adiktif dan memukau, ia lebih dari sekadar terkesima dengan aksi menakjubkan mereka yang menamparkan keajaiban padanya mutlak nan telak.
"Ah." Kuroko mengerjapkan mata sekali. Tangan kanannya masih dalam pose meng-ignite-pass kai bola basket malang tersebut. "Maaf, bolanya jatuh jauh sekali."
Sedepa jeda.
"KUROKOOO!"
Teriakan lagi berbalur nada frustrasi menyembur pada sang pemuda yang dikerubungi oleh para pemuda yang jauh lebih tinggi darinya. Bahkan roman wajah sang bayangan mengemukakan syok tak terkira karena aksinya barusan.
"BOLA BASKETNYAAAA!"
Semua pemain yang tadi berlaga di lapangan berlarian ke tepi palang dan pagar pembatas di rooftop, berusaha melongok ke bawah mencari tahu nasib bola bundar oranye nan malang yanghilang diraup bumi atau bisa saja ditenggak riak sungai Sumida.
Tentu saja nihil tanda-tanda kehidupan si benda mati, tiada pula jejak kehidupannya yang terpantul belingsatan.
"PRIIIIIIIT!"
Tidak ada keajaiban seperti bola basket itu memantul ke bumi, lalu menyeruak ke angkasa untuk digapai oleh pemuda-pemuda yang mencintainya setulus hati.
Serentak seluruh kepala tertoleh pada sang pelatih yang usai melepas peluit, tergelak tak karuan.
"Oke. Fix: pertandingan selesai dengan hasil seri."
Burung-burung dalam formasi V di langit berciap-ciap riang.
Temperatur merayap turun ke titik beku.
"APAAAA?! TIDAK BISA!"
Semburan kompak itu malah menyulut tawa sang pelatih yang sibuk memegangi perut yang nyeri karena eksplosi tawa terlalu kencang.
"Aku menolak hasil macam ini!" bantah Aomine keras-keras.
"TIDAK. POKOKNYA TIDAK! Kita pakai bola lain saja dan melanjutkan pertandingan sampai ada pemenangnya!" Kagami mendukung seruan Aomine dengan usulan keras kepala.
"Aku tidak mau mendapatkan hasil pertandingan seri lagi. Sekali saja sudah cukup, nanodayo!" sengit Midorima sama tidak terimanya.
Murasakibara melengos marah. "Tinggal sedikit lagi untuk menghancurkan semuanya. Berikan bola, pertarungan ini belum selesai!"
"HAH?! AKU TIDAK MAU SEMUA INI BERAKHIR." Kise menjeritkan protesnya. "Paling tidak, aku harus mengalahkan Kagamicchi dan Aominecchi dulu!"
Himuro menarik napas dalam, lebih tenang dan sopan daripada rajukan pemuda-pemuda yang hanya setahun lebih muda darinya. "Kalian tenanglah dulu." Ia tetap berkepala dingin namun hatinya membara dikobar api ketidapuasan. "Kantoku, tolong pertimbangkan lagi keputusanmu baik-baik."
"Bola istimewanya sudah jatuh keluar." Kagetora mengedikkan bahu kasual. Ia menatap bocah-bocah bermandikan keringat itu satu per satu. "Aku sudah bilang berkali-kali dan Momoi sudah menginformaskan pada kalian, bukan? Bola itu disebut istimewa karena skornya berbeda."
"O-oh!" Sakurai merangsek maju. "Ba-bagaiman dengan bola personal yang tadi kami tembakkan? Hasil hi-hitungannya?"
Momoi menggeleng lamat-lamat. "Seri juga."
"Kalau begitu," Takao menyahut di sela napas yang tersengal-sengal dan dirinya menaruh kedua telapak tangan di lutut karena kakinya dijalar tremor, "bagaimana dengan hasil bounce-chest-pass?"
Sepi.
Momoi menghela napas panjang. "Tidak valid."
"HEEE?!"
Kagetora mendengus geli. "Saat estafet bersamaan dengan bounce-chest-pass, ada sebelas orang. Tim A ada enam orang, sementara tim B ada lima orang. Hasilnya cukup signifikan. Tapi apa kalian mau hasil tidak adil seperti itu menjadi penentu pemenang? Kalau mau, maka pemenangnya adalah—"
"TIDAAAK!"
Rijeksi bahkan dari tim yang diperkirakan menang. Siapa sudi mengakui kemenangan setengah-setengah dari permainan individual dengan tembok begitu?
"Kalau begini jadinya, kenapa Kantoku membuat kami melakukan bounce-chest-pass?" tanya Furihata dengan nada letih sekaligus sweatdrop deras.
"Hmmm. Agar kalian tidak malas-malasan saja dan tubuh konstan melakukan pemanasan." Kagetora mengusap rambut coklatnya yang dibelai sepoi angin.
"PEMANASAN BERLEBIHAN!" damprat hampir semua para pemain yang berada di kloter estafet selain pasangan nomor urut satu yang memang tidak melakukan bounce-chest-pass.
Pada akhirnya semua memandangi sang kapten, memohon pertolongan non-verbal untuk mereparasi rasio sang pelatih yang menatap mereka dengan wajah tanpa dosa.
"Kagetora Kantoku." Akashi menyusun kata-katanya dengan cukup pertimbangan selama sekian detik jeda. Tenang sekaligus berhati-hati merepresentasikan perasaan teman-temannya dan dirinya sendiri.
"Kami sudah sampai sejauh ini. Melakukan bounce-chest-pass, menunggu, berestafet, dan semua pertandingan sangat berat baik fisik maupun mental, juga pengorbanan dari cidera sampai airmata. Jika berakhir hanya dengan seri, tidakkah perjuangan kami merangkak dari kaki sampai kepala Tokyo Sky Tree itu sia-sia belaka?"
SAA SUGA SENCHOU! –begitulah kira-kira raut wajah remaja-remaja yang menaruh ekspetasi supaya pertarungan dituntaskan.
Kagetora menelisik persona-persona yang ada di rooftop itu, begitu belia, bagai permata murni yang perlu diasah agar berkilauan. Pandangannya melunak.
"Apa kalian tahu arti dari pertandingan seri?"
Sunyi.
"Kalah."
"Tak memuaskan, nanodayo."
Semua menoleh pada Kagami yang bergumam, bertukar lirikan dengan Midorima.
"Benar." Kagetora mengangguk membenarkan. Ia bersidekap, bertutur dengan nada orangtua khasnya. "Aku tahu pahitnya pertandingan seri yang jika tidak diselesaikan sampai akhir, bisa diinterpretasikan sebagai kekalahan. Tapi kalian yang ada di sini, bukankah kalian yang paling mengerti pahitnya kekalahan? Kekalahan itu tidak memuaskan, bukan?"
Mereka terdiam meresapi kata-kata sang pelatih. Rapatnya bibir dan liukan di alis, kerutan di dahi, menandakan mereka berpikir keras mencerna apa yang sedang coba disampaikan oleh pria paruh baya tersebut—kendati mereka merasakan perasaan nostalgia mengerikan dan amat menyakitkan yang terapung ke permukaan ketika silabel kekalahan dikumandangkan.
"Ingat lagi baik-baik. Apa kekalahan kalian saat itu berarti sia-sia?"
Iya.
Mereka jadi buang-buang tenaga dan menyia-nyiakan energi karena tersulut emosi.
Mungkin.
Mungkin juga tidak.
Tidak.
Tentu saja tidak.
Kekalahan itu mengerikan. Menyakitkan. Perih tak terperi. Membuat mereka yang biasa menahta agung kemenangan terguling karena tak memaknai kemenangan itu sendiri dengan sebaik-baiknya—bukan gelap mata karena buta berpikir bahwa kemenangan adalah apa yang mereka dapatkan seorang diri.
Kekalahan itu bukan kegagalan yang tertunda. Melainkan ketidakmampuan untuk merengkuh kemenangan dan mendekapnya erat-erat.
Kekalahan mengajarkan betapa esensialnya suatu kemenangan dan eksistensi perasaan menyenangkan yang ditimbulkan karena telah menggapainya dengan penuh perjuangan.
Kekalahan membuat kita menyadari penting dan berharganya arti kemenangan itu sendiri untuk disyukuri.
Terutama kemenangan dalam tim basket, adalah sepaket perjuangan latihan, perahan keringat, kerja sama tim, displin, rajin, tumpah-ruah emosi, bumbungan ambisi, dan mimpi-mimpi serta determinasi untuk merealisasi.
Satu per satu kepala menggeleng.
Roman pria dewasa itu teduh namun menyiratkan kesungguhan.
"Aku ingin kalian paham jalan yang terbentang setelah ini, jauh lebih menyulitkan berliku, terjal, dihadang aral merlintang, penuh suka-duka, dan emosional daripada estafet sehari di Tokyo Sky Tree.
"Aku ingin kalian mengerti, bahwa setelah berjuang mati-matian sampai tetes darah penghabisan tapi kalian masih kalah, itu tidak memuaskan. Semua ini sangat menyakitkan.
"Aku ingin kalian mengingat perasaan dari pengalaman hari ini baik-baik. Tanamkan dalam ingatan kalian dan jangan lupakan! Saatnya kalian nanti berpartisipasi dalam kompetisi dalam FIBA dan melawan siapapun, jika kalian bisa sampai di puncak tertinggi, ingatlah hari ini, perasaan kalian sekarang, pengalaman yang kalian dapatkan, dan jadikan motivasi bagi kalian untuk tidak kalah lagi! Ingatlah bahwa saat itu nanti tidak akan lebih buruk dari kekalahan terakhir kalian di hari ini!"
Hening berdenting.
Merinding.
Rona berontak terkoyak. Meleleh dalam tremor karena suatu sudut nurani, atau intuisi mereka terketuk mendengar penuturan realistis namun tetap afektif menyentuh hati mereka.
Sistem respirasi yang lambat-laun kembali normal.
Kagetora tersenyum tipis mendapati perubahan raut wajah anak-anak muda di hadapannya. Dilihatnya masih ada yang menggerundel tidak terima—tapi tidak sekeraskepala tadi, maka ia berjalan mendekat. Mendepak satu per satu tulang kering atau betis kaki bocah-bocah menyusahkannya.
"KANTOKU!"
Sentakan marah kesakitan. Beberapa jatuh terduduk, mengerang seperti fauna terluka dan masih berupaya menunjukkan daya.
"Lanjutkan pertarungan dan kalian bisa cidera permanen." Kagetora mendengar gumam setuju dari sang manajer—satu-satunya selain dirinya yang bisa mengalkulasi tubuh mereka semua dengan wujud angka-angka imajiner. "Bisa-bisa kalau aku tetap membiarkan kalian memaksakan diri untuk tetap bertanding, aku bakal jadi buron terwahid untuk segera dieksekusi."
Meneliti pebasket-pebasket remaja tersebut dan konklusi eksak dari hasil pertandingan di Tokyo Sky Tree, Kagetora membuat catatan mental dalam hati untuk membahas ini dalam diskusi saat rapat direksi nanti. Ia memeriksa kondisi anak-anak muridnya satu demi satu.
Aomine cedera di bagian pungggung lengan depan dan siku (lagi).
Takao mendapat benjol yang membola di sisi pelipisnya (entah bagaimana bisa ia mendapatkan, Kagetora tidak bertanya), sementara Furihata juga mendapat benjol karena tadi jatuh terguling dengan kepala bagian belakang membentur dinding. Dua pebasket ini sama-sama sempat pingsan.
Himuro di bagian perutnya terdapat memar. Mungkin benturan karena terjatuh, pikir sang pelatih.
Kagami, Kise, dan Murasakibara sama-sama cedera kaki.
Setelah pertandingan selesai, baru ketahuan ternyata Sakurai mimisan saking kelelahan.
Midorima keseleo di bagian gelang bahu sebelah kiri—karena ia paling banyak menggunakan tangan dan lengan kirinya untuk menembak meski digagalkan berulangkali.
Kuroko sama tidak baik-baiknya, telapak tangannya penuh dengan ruam-ruam merah membiru, bertremor karena hari ini memforsir diri memakai pass melampaui limitasi dengan tenaga amat ekstrim.
Terakhir, Akashi yang terluka di punggung tangan kiri dan cedera kaki juga.
"Ini pasti sangat sakit." Kagetora meraih tangan kiri Akashi, darah telah berhenti, namun permukaan kulit di sekitarnya membiru lebam.
Akashi tak mengelak. Kening berkerut dalam dan ceruk dari rongga matanya tertekuk ke dalam ketika Kagetora menekan lukanya.
Kagetora tak mengemukakan keheranannya kenapa Akashi tidak mengaduh kesakitan—padahal jelas-jelas lukanya terlihat sangat menyakitkan, ia menoleh menemukan Momoi yang sigap membagikan handuk dan minuman pensuplai energi pada teman-temannya.
Ah, manajer sudah sibuk.
Ia berpaling pada seseorang yang dinobatkan jadi asisten tengah membongkar tas-tas yang tadi pagi dijinjingnya sekaligus tas lain dibawakan oleh kru penggambar lapangan basket di rooftop Tokyo Sky Tree.
"Furihata! Ambilkan es dan bawakan kotak P3K ke mari!"
"Hai', Kantoku!"
Furihata mengobrak-abrik setiap tas. Ia memang sangat kelelahan dan kepalanya sedikit dikeriyapi pusing, tapi ia cukup sadar dan tahu diri, bagaimanapun lelah dirinya, tidak akan selelah yang lainnya. Karena itulah ia akan berfungsi sebagaimanamestinya dengan apa saja yang bisa dilakukannya.
Menemukan kotak berbentuk balok seperti tas berbahan tebal itu, membukanya, ditemukannya ada berkantung-kantung es telah disiapkan—dan Furihata tidak membawa kotak itu saat di bus pula tidak melihatnya ada saat pertama kali menjejakkan kaki di rooftop, berarti memang ada yang membawanya ke mari—bisa berarti pihak yang menggambar rooftop jadi lapangan basket.
Kotak P3K, sebotol air, handuk kecil, dan sekantung es dibawakannya untuk sang pelatih yang menyuruh kapten timnas junior untuk duduk saja menyelonjorkan kaki.
Kagetora melirik tungkai yang diluruskan. "Kakimu sakit juga?"
"Hmm." Akashi mengangguk sekilas.
"Kantoku, ini." Furihata meletakkan barang-barang yang dibutuhkan di dekat pelatihnya. Ia memucat menatap punggung tangan kiri yang bengkak ditoreh luka horizontal, memanjang dan tampaknya agak dalam tengah dipegang oleh Kagetora.
"Ambilkan dua kantung es lagi." Pria itu melirik Furihata, sesaat terlihat mengingat-ingat. "Kau bisa tapping, 'kan?"
"Se-sedikit." Furihata mulas maksimum ketika menyadari Akashi meliriknya. Perasaan bersalah menggelontor nyalinya untuk mengatakan sesuatu, ia merasa pengecut bukan main. Pandangannya berkunang, tanpa sadar mundur selangkah.
"Bagus. Tolong tapping yang lain setelah memberikanku dua kantung es untuk mengompres kaki Akashi. Semuanya cidera." Kagetora luput menyadari apa yang terjadi karena ia tengah membasuh luka pemuda bersurai magenta itu dengan alkohol, lalu membalurkan desinfektan dan obat antiseptik.
"Ha-hai'!" Furihata lari secepatnya, mengambilkan dua kantung es dan menaruhnya lagi dekat Kagetora, kemudian berlalu untuk mengambilkan kantung es lagi bagi rekan-rekan setimnya yang membutuhkan.
Midorima yang terlihat cukup baik-baik saja usai menyuruh Takao mengompres benjol di kepala, menghampiri Akashi yang tengah diobati Kagetora. Dia menawarkan bantuan pada Kagetora untuk melanjutkan mengurus Akashi—karena Midorima jelas tidak buta mengenai medis sederhana seperti ini—sementara pelatihnya bisa melakukan sesuatu terhadap pebasket malang lainnya yang cedera lebih parah.
Akashi memerhatikan Midorima yang cekatan menggunting perban sebagai pengganti kasa. Menyemirkan betadine pada kassa secukupnya, memakainya untuk menutupi luka di punggung tangan kiri itu. Kemudian memotong plester untuk merekatkan kassa agar tidak terbuka—mencegah supaya tidak terjadi infeksi.
"Jadi prediksi masa depanmu meleset."
Tawa geli bersuara rendah. "Sarkasme, Midorima?"
"Akuilah." Midorima kini menggunting perban lagi sebagai pengganti kassa, membilas dengan alkohol lagi, lalu menyeka sisa-sisa darah di tangan Akashi.
"Tidak ada yang perlu kuakui." Pemuda yang rongga matanya dihuni oleh magenta monokrom itu berujar tenang. "Aku hanya berasumsi bahwa kalian memang akan terjepit di pintu seperti tadi. Murasakibara sudah kuperintahkan untuk membuka jalan bagi pemain kesebelas untuk merebut bola."
"Masa kau tidak menduga bahwa Aomine, Kise, dan Kagami akan balas mendorong ke arah Murasakibara?"
"Tentu aku menduganya. Tapi, ternyata dia datang lebih lamban dari yang kuperhitungkan karena posisinya agak jauh—tak sesuai perkiraanku."
"Tetap saja prediksimu meleset, nanodayo." Midorima mendengus sebal. Ia menyerahkan satu kantung es pada Akashi yang menggunakannya untuk mengompres kakinya, sementara ia sendiri memakai kantung es untuk mengompres bahunya yang pegal bukan main—dampak shooting-form-nya yang tidak main-main. "Butuh tapping?"
"Aku bisa sendiri." Akashi melepas sepatunya untuk mengurut kakinya yang jelas cedera karena diforsir berlebihan—terlebih menggunakan kemampuan yang harusnya tidak dipakai olehnya.
Midorima memalingkan atensi pada sekitar mereka.
Takao tengah bergelimpangan tak jauh darinya dan Akashi dengan dahi terkompres es—sembari meringis kedinginan karena es di kepala membuatnya pusing. Murasakibara berada di sisinya, terlentang dengan mata terpejam.
Sakurai meminta maaf seraya menutupi hidung dengan handuk, panik bergegas mengambilkan es untuk Himuro mengompres perutnya yang ternyata memar.
Furihata sedang men-tapping Kagami yang meringis pilu kesakitan. Aomine berkomentar entah apa seraya menunjuk bahunya, Kagami sewot tidak terima sementara Furihata berjengit ngerti tapi mengangguk manut.
Kagetora men-tapping kaki Kise yang tampak paling menderita di antara yang lainnya. Kuroko berkomentar sesuatu, Kise seketika ceria lalu memekik kesakitan ketika gumpalan otot di betisnya ditekan oleh pembimbing mereka selama masa kompetisi FIBA. Pebasket dengan jurus andalan perfect-copy itu menatap orang yang tengah men-tapping kaki Kagami, berkata sesuatu padanya.
Murasakibara yang mendengar percakapan itu menyahut. "Kalau sudah selesai dengan Kaga-chin, tapping aku juga."
"Tidak bisa, dia harus men-tappping bahuku dulu!" tukas Aomine tak mau mengalah.
"Ahahahaha~ kau jadi rebutan, Furihata-kun!" Kise tertawa riang. Geli memandangi Furihata yang terlihat telaten men-tapping Kagami. "Siapa sangka pemain yang kukira senjata rahasia lain Seirin, yang membuat Kasamatsu-Senpai gemas bukan kepalang, yang biasa-biasa saja dan kikuk bukan main, ternyata cukup ahli mengurusi teman-teman setim dan men-tapping."
Aomine dan Murasakibara lekas merespon si pirang. "Siapa memperebutkannya, Kise(-chin)?!"
"AKH! SAKIT, FURI!" geram Kagami ketika kakinya yang sakit ditekan dengan tenaga berlebih.
"Ma-maaf, Kagami!" panik Furihata. Ibujarinya tak sengaja tergelincir ketika mendengar perkataan Kise. Momen debutnya itu terbayang-bayang di pelupuk mata, ia menggigil pelan dan kembali men-tapping Kagami. "A-aku terbiasa mengurus teman-temanku karena aku selalu ada di bench. Jadi, ya, beginilah…"
"Oooh. Kalaupun aku didudukkan di bench, aku juga tidak pernah mengurusi teman-temanku atau senpai-tachi yang lain. Soalnya aku fokus untuk diturunkan lagi ke pertandingan." Kise menanggapi inosen.
"Kise-kun," tegur Kuroko melihat Furihata meringis tanda paham, "makanya cobalah untuk mengerti sedikit perasaan mereka yang hanya duduk di bench namun tetap mendukung pemain regular dengan cara mereka sendiri." Ia mengerling Murasakibara dan Aomine yang saling menyengatkan tatapan tajam. "Kalian berdua juga, Aomine-kun, Murasakibara-kun."
"Kau juga cobalah mengerti, Kuroko." Kagami mendengus rendah.
Kuroko mengernyitkan alis, matanya terpicing pada cahayanya yang tengah memijat gelang bahu kirinya. "Aku mengerti posisi bench-warmer, Kagami-kun."
"Tapi kau biasa turun ke lapangan."
"Periodik. Kagami-kun sangat tahu limit kapasitasku."
"Kau di bench juga kau tidak melakukan hal-hal seperti yang dilakukan Furi."
"Aku melakukannya sekaligus mengobservasi pertandingan yang tengah berlangsung." Kuroko menahan kedutan pembuluh darahnya yang bersilang di dahi.
Kagami mengangkat sebelah alisnya yang becabang. "Oh, kapan?"
"Aku memberikanmu minum dan handuk di bench saat interval dua menit pertandingan."
"Kapan? Aku tidak ingat."
"Cobalah mengingatnya. Aku sering melakukannya untukmu."
Kise mendamprat pemuda yang baginya begitu kurang ajar telah menyia-nyiakan kebaikan si pemuda bersurai lazuardi. "KAGAMICCHI! KUROKOCCHI SAJA DULU TIDAK PERNAH MELAKUKAN ITU PADAKU! COBA INGATLAAAAH!"
"KENAPA KAU JADI MARAH PADAKU?!" sentak Kagami balik. "Berarti ada sesuatu yang salah darimu karena Kuroko tak melakukannya untukmu!"
"APA YANG SALAH DARIKU? APA?!"
"Kalian berisik." Aomine mengorek telinga. "Itu salahmu, Kise."
Kagami dan Kise membelalakkan mata pada sang pemuda dim itu. "Aominecchi/Ahomine diam saja, sana!"
"Jangan bergerak, Kagami!" Furihata kesulitan men-tapping Kagami yang beradu pelototan maut dengan Kise.
"Sudah belum? Kalau mereka masih sibuk, lebih baik kau tapping aku duluan." Murasakibara memiringkan kepala untuk menatap Furihata yang sibuk mengurut kaki Kagami.
"Aku dulu." Aomine garang mendelik.
"Aku duluan."
"Astaga." Himuro datang bergabung dengan mereka, tersenyum geli. "Kalian masih punya tenaga untuk berdebat?"
Aomine mendongak, melihat rekan setimnya di Too datang bersama figur kakak Kagami. Ia menyeringai. "Ryo, ambilkan aku minum lagi!"
"Su-sumimasen, aku ambilkan, Aomine-san!" Sakurai yang awalnya hendak duduk, buru-buru mengambilkan pemuda dim itu sebotol air mineral lagi.
Momoi berkacak pinggang sebal. "DAI-CHAN! Sakurai-kun masih pusing karena mimisan!"
"Tapi aku cedera."
"Bukan cedera kaki, Ganguro!"
Mendengar percakapan rusuh itu Takao membuka mata, tertawa pelan karena sebegitu kelelahannya mereka, masih saja punya tenaga untuk berdebat. Rasanya hidup dan ramai. Dilihatnya Kuroko duduk tak jauh darinya.
"Oi, Kuroko."
Yang dipanggil menoleh. "Ada apa, Takao-kun?"
Cengiran tipis. "Terima kasih."
"Hah?" –dan ini bukan hanya gumam bingung Kuroko, tapi termasuk Midorima dan Kagami yang berada di dekat dua pemuda tersebut.
"Kau menjagaku sampai siuman tadi." Takao memenuhi visinya dengan senja yang menua.
Sepasang biner biru menghangat memandang pemuda bermata rajawali itu. "Tidak masalah."
Barulah ia teringat sesuatu—penyebabnya ia menjaga Takao hingga pemuda itu merengkuh kesadarannya kembali, senyumnya memudar. Tepukan di ubun-ubunnya membuat atensinya teralih.
"Pergilah minta maaf." Kagami tersenyum tipis, menyemangatinya.
Kuroko mengangguk. Ia menjadikan lengan Kagami sanggaannya untuk bangun, lantas tertatih menghampiri dua pemuda yang duduk tak jauh dari sisi kiri Takao.
"Akashi-kun."
Baik Akashi maupun Midorima mendongak. Mereka menotis kehadiran Kuroko.
Kuroko mendudukkan diri di sisi lain Akashi—menyadari Takao tengah bertanya maksud Kagami apa berkata seperti itu padanya. Midorima cukup mengert ini pembicaraan privasi, karena itu ia menyingkir dengan sendirinya dan bergabung dengan Takao serta Kagami yang terlibat percakapakan.
Akashi menghela napas pendek. Ia mengerling selintas pada lirikan tajam di sisi kanan yang tertuju padanya, Kagami tengah mengawasinya—juga dengan para pebasket yang lain.
"Maaf."
Suara rendah, tersepuh penyesalan sungguh-sungguh.
"Pertama." Akashi menegakkan duduknya, memandang Kuroko dengan tatapan menjustifikasi. "Kau salah oper bola, mengurangi presentasi kemenangan absolut."
Kepala dipercik warna langit musim panas itu perlahan tertunduk.
"Kedua, dan yang paling fatal, kau menggagalkan kemenangan semuanya dengan membuang istimewa keluar rooftop." Hunjaman pandangan tajam netra merah monokrom, nada monotonis. "Apa yang kaupikirkan sebenarnya?"
Kuroko mengerjapkan mata mengamati petak-petak beton dilapis semen yang membetot lantai rooftop. Mengilas balik dua peristiwa tadi. Menghirup napas dalam-dalam, menjawab perlahan.
"Untuk yang pertama, aku benar-benar mohon maaf. Refleks yang terjadi ketika Kagami-kun memanggilku. Aku tidak sengaja melakukan semua itu padamu, Akashi-kun."
Sedepa jeda.
"Yang kedua … aku sungguh tidak sengaja. Entahlah, kurasa benar kata Kise-kun, saat itu aku tidak ingin pertandingan ini berakhir begitu saja."
Kuroko membuka kedua telapak tangannya yang masih bertremor, memandangi lekat getaran yang menjalar dari sana beresonansi ke lubuk hati.
"Rasanya … meski pertarungan kita sangat emosional dan terlalu berat, rasanya menyenangkan. Sangat membahagiakan. Saat terakhir tadi aku menyentuh bola, aku tidak ingin berakhir, tapi aku justru mengakhirinya. Aku … aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku dengan tepat."
Kepalanya terangkat, tergeser melengak pada salah satu ring basket yang entah sejak kapan ada di sana. Derit halus ring tak bernyanyi, tapi melodis di ruang pendengaran para pecinta basket itu.
"Entahlah." Kuroko tersenyum tipis menatap ring basket, secarik pilu mereras di sorot matanya.
"Aku merasa bahwa hari ini membuatku makin cinta pada basket. Dan aku tidak ingin semua ini berakhir."
Sunyi.
Ternyata semua mendengarkan penuturan Kuroko.
Terenyuh, turut merasakan apa yang dirasakan oleh sang pemain bayangan.
"Bodoh."
Suara itu memagnet seluruh atensi.
Kagami nyengir lebar. "Kita baru saja mulai! Kita akan bersama dan memainkan basket yang kita suka!"
Sweatdrop.
Jawdrop.
"O-oi. Kenapa kalian diam saja?" Kagami menelengkan kepala, bingung.
"Aneh mendengar kau bicara begitu, Kagami." Midorima lugas mengungkapkan apa yang berjejalan di benak setiap orang di rooftop Tokyo Sky Tree.
"PFFTTH—BWAHAHAHAHA!"
Takao dan Kise bahkan tak sungkan-sungkan meletuskan tawa. Membuat Kagami mencak-mencak emosi. Aomine bertanya sinis dengan nada ejekan main-main apa perlu ia mengambilkan es untuk mengompres kepala pemuda berambut krimson itu—cemas dia gegar otak atau semacamnya. Kagami tersinggung dan mengomel untuk menutupi salah tingkahnya.
Furihata tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala, ia beralih men-tapping Murasakibara—kali ini tak lagi tegang seperti pertama kali. Sakurai membantunya dengan mengambilkan es lagi untuk ditaruh di lutut sang pemuda bermata violet yang biru legam—pasti karena benturan.
Himuro menanyai Furihata bagaimana bisa ia begitu terampil men-tapping pebasket. Furihata menjawabnya seperti jawaban yang diberikannya pada Kise.
Sakurai terperangah. "Itu dia."
"Ah?" Furihata mengerling sekilas pada Sakurai, tangan tetap sibuk membalurkan balsam untuk pergelangan kaki kiri Murasakibara.
Himuro tertawa kecil. "Itu arti kehadiranmu di sini."
"Eh?" Furihata mengerjapkan mata tak mengerti. Lututnya ia jadikan bantalan untuk kaki Murasakibara selagi ia men-tapping.
Himuro dan Sakurai bersitatap, lalu melirik pada sang kapten yang masih terdiam di hadapan Kuroko. Kapten mereka itu, ternyata intensinya memasukkan seorang pebasket super ordinari tidak sedangkal cari budak belaka.
Yang ditatap masih memandang Kuroko, pandangannya melunak. Sudut-sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kau memang selalu melebihi ekspetasi dan asumsiku, Kuroko."
Biner merah kembar itu menghamburkan pemandangan senja yang menakjubkan di Tokyo Sky Tree dalam visinya, mengedarkan pandangan pada teman-teman barunya yang tengah berkonversasi ringan. Tensi dan bara rivalintas kandas seutuhnya.
"Asal dalam pertandingan resmi nanti kau tidak mengoper pada musuh dan bukannya teman setimmu."
Kuroko refleks menatap Akashi yang tengah menerawang jauh pada horizon yang bergradasi indah saat senja. Ia mengangguk dalam-dalam, menggumamkan terima kasih pada kaptennya (sekali lagi, jadi kapten timnya) kemudian beranjak untuk bergabung dengan teman-teman yang lain sampai ia teringat sesuatu.
"Mulai hari ini, kita teman setim lagi."
Perkataan terakhir Kuroko sebelum yang bersangkutan menghampiri Momoi itu membuat Akashi menghembuskan napas pendek lagi, dan ia menimbang bahwa keputusannya untuk menoleransi sedikit kesalahan Kuroko itu sama sekali bukan keputusan keliru.
Di sisi lain, entah sejak kapan hanya Momoi yang menyingkir berdiri membelakangi para pemuda. Roknya menari dikepul angin senja. Ketika ia menyadari kehadiran Kuroko, buru-buru tangannya menyeka guguran airmata dari kelereng fuschia-nya.
"Momoi-san … kenapa menangis?" nadanya halus melontar tanya.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, ada seguk terselip keluar, juga tawa pelan. Absurd. "Tidak … a-aku hanya sedang melihat senja hari ini. Entah kenapa, indah sekali."
Pemuda itu melihat anjing kecilnya ternyata setia di sisi Momoi. Mendengking pelan, seakan mengerti bulir air yang terjatuh di puncak kepalanya adalah tangis si gadis.
"Apa … apa kita akan berpisah dengan begitu cepat lagi, Tetsu-kun?"
Momoi mendongak, matanya berkaca-kaca merasakan belaian lembut dan santun di puncak kepalanya.
Kuroko menatapnya bersungguh-sungguh, kali ini baru paham interpretasi yang saat itu Momoi sampaikan padanya. Mereka bermain basket agar bersama-sama lagi. Bukan oposisi. Semua benar terjadi. Ia tak perlu lagi mengumbar janji agar Momoi tidak menangis. Ia hanya perlu meyakinkan Momoi seperti ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini bukan ilusi.
"Kita akan main basket bersama lagi seperti hari ini." Kuroko lantas mengerling teman-teman mereka. Bibirnya melengkungkan senyum. "Bukankah hari ini kita sudah mulai bersama lagi?"
Alih-alih tiupan angin mengeringkan airmatanya, malah menganaksungai.
"TETSU-KUN!"
BRUK!
"WOOOOY!"
Jeritan protes dari yang lain melihat Momoi menubruk Kuroko dan menangis di dadanya.
Mengertilah, mereka pemuda-pemuda lajang yang seumur hidup kenal basket—tidak tertarik dengan romantisme lawan jenis, atau mungkin ada sisi traumatik mengingat mereka dikerubuti gadis-gadis tadi pagi.
Beberapa mengumpat karena—oh, Tuhan, kenapa mesti Kuroko yang dipeluk gadis seseksi Momoi?!
Kise terjentik memorinya, begitu pula dengan Akashi.
Aomine menyambar bola, dengan presisi saktinya melempar botol pada Kuroko—tangkas menangkis lemparannya.
"Hei, Satsuki, daripada kau menangis dengan wajah jelek begitu, belikan aku makanan. Aku lapaaar."
"Ukh … i-ini senja yang sangat indah dan tidak terlupakan, Dai-chan, d-dan momen kebersamaannya—"
"Semua itu tidak akan membuat perutku kenyang." Aomine menyeringai, tak merasa berlumpur dosa.
"Uuh." Airmata berderai deras dari kelereng fuschia, membuat para pemuda lainnya terbengong melihatnya. Kuroko menepuk bahu gadis itu yang terisak keras di pelukannya.
'Orang ini—!' Pemuda-pemuda lainnya membelalakkan mata pada Aomine yang inosen seperti semula. Entah cemburu, bentuk kepedulian anomali, tidak peka, atau cuma kurang-ajar merusak momen saja.
"AHOMINE(-KUN/CCHI/SAN)!"
Aomine menerima lemparan botol dari mana-mana, ia berkelit lincah dan balas melempar.
Momoi yang tersedak antara tawa dan tangis—terharu karena yang lain mau membelanya dari si ganguro menyebalkan itu, melempar botol yang ada di tangan Kuroko. Salah sasaran, mendepak kepala pirang Kise.
Hanya Akashi dan Himuro yang tidak kekanakan untuk menangkapi botol, berupaya menengahi teman-teman mereka.
Kagetora yang baru selesai men-tapping kaki Kise, beralih mengecek Murasakibara. Dilihatnya hasil tapping dan pekerjaan Furihata cukup rapi. Ia tersenyum puas, mengabaikan kerusuhan dan caci-maki di berdengung di sekitarnya.
Ia berdeham untuk menyita atensi bocah-bocah yang meretas perang kekanakan untuk kesekiankali. Ironi sekali, senja seindah ini bukan ditonton dengan khidmatan sendu yang melankolis. Teringat anime shounen yang suka putrinya tonton, mengingat suatu adegan setelah perseteruan perjuangan mencapai klimaks, para tokoh biasa menonton matahari membenam diri dalam batas relief bumi dan langit.
Perhatian terpusat padanya.
"Sebaiknya kalian ganti baju, tidak baik memakai baju basah kuyup oleh keringat begitu—suhu mulai mendingin, segera pakai jaket untuk menghangatkan tubuh. Jika kemalaman, tidak akan sempat ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kalian." Kagetora melambaikan tangan pada Momoi, mosi minta dihampiri. "Siapkan konsumsi untuk kita."
Hening.
Wajah-wajah horror.
"JANGAN!" Aomine yang pertama berseru dramatis.
Kagetora baru membuka dompet, mengeluarkan beberapa lembar kupon. "Kenapa?"
"BENCANA. MASAKAN SATSUKI ADALAH—"
Momoi yang tengah berjalan menghampiri Kagetora memungut satu botol lagi, melemparnya telak kena dahi dim target tembaknya. Melengos sebal melewati Aomine yang terkapar lagi, mengumpat serapahan padanya.
"Masak? Tidak sempat. Konsumsi kalian sudah disiapkan." Kagetora menyodorkan berlembar-lembar kupon pada Momoi serta secarik kertas. "Ikuti alamat yang tertera di situ dan berikan saja kupon-kupon ini. Minta pada manajer restonya memberikan bantuan seorang pelayan di sana untuk membantumu membawakan semuanya, ya."
Momoi tersenyum seraya mengangguk, menghapus sisa-sisa airmatanya sembari memerhatikan secarik kertas yang tertera stempel resmi kenegaraan Jepang—atas nama departemen olahraga. "Aku mengerti."
Instruksi itu menghantarkan langkah ringan dan senandung ceria Momoi menghilang di balik pintu, gema derap langkahnya menjauh. Sunyi yang aneh membuat Kagami mengernyitkan alis, heran kenapa para pemuda itu mematung dan tak menuntaskan perdebatan mereka.
"Heh, kita mau melakukannya di sini?"
Cetusan Aomine itu dimengerti oleh semuanya. Dalam diam melirik Aomine, ekspresif masing-masing menyadari pemuda itu memedulikan sahabatnya sejak kecil dengan caranya sendiri.
Akashi tertatih bangkit. Mata magentanya bergelimang kendati senja dipaut maut. Menyeringai sembari berjalan pelan menuju tasnya, mengambil ponselnya untuk diaktifkan, mengeluarkan kartu nama yang sedari tadi dikantunginya.
"Aku punya rencana."
Sang kapten memimpin timnya mengeksekusi rencana yang telah diafirmasi sejak pagi.
.
#~**~#
.
Momoi naik lift ke dek Tembo di ketinggian 345 meter dari tanah. Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya ia sampai di resto yang dimaksud oleh instruktornya. Ia ternganga tak percaya. Ini jelas bukan resto biasa, terlebih pakaian yang dikenakannya benar-benar tidak cocok dengan nuansa restoran tersebut yan gilang-gemilang dengan glamoritas.
Restauran Langit. 634 Musashi. Restoran yang menguasai ranah popularitas dari tempat-tempat kuliner lainnya di menara pencakar langit tertinggi sedunia.
"Selamat malam dan selamat datang."
Wanita penyambut tamu memulas senyum profesional membungkuk sopan padanya.
Momoi makin gelagapan, gugup bukan main. "Selamat malam. Permisi. I-ini—" Dia mengulurkan selembar kertas dan berhelai-helai kupon yang diberikan Kagetora.
Wanita ini menerima kertas yang diberikan, membacanya sekilas—matannya terbeliak sedikit melihat stempel yang tertera di sana. Kupon tersebut persis seperti yang beberapa waktu lalu diberikan sebagai dispensasi, ini pernah terjadi. Mengerti siapa gadis manis yang jadi tamunya itu, ia tetap tersenyum tenang.
"Silakan ikuti saya, Ojou-san."
Momoi menuruti wanita tersebut, menelusuri koridor dengan sentuhan modernisasi dalam setiap inci rekonstruksi restoran tersebut.
Impresionis yang melankolis, bisa disebut romantis tapi tidak hiperbolis meski tidak memiliki kesan realistis.
Ia diantarkan untuk duduk ke sebuah meja dengan empat kursi coklat, bantalan empuk untuk diduduki dan jadi sandaran, kursi santai di bagian belakang terbebat pita cantik. Diminta untuk duduk di meja yang persis berdekatan dengan jendela menakjubkan, gelas-gelas tinggi, sumpit edo dan peralatan makan terpreparasi di meja.
Di tiap meja disoroti oleh satu lampu sementara spasi antara meja yang terbagi dua sisi itu dibiarkan menggelap. Di tepian atap ruangan, di sudut langit-langit terdapat light-blue yang mengingatkan Momoi pada Kuroko, dan gradasi pada warna dark-blue mengingatkannya pada Aomine.
Tidak sampai di situ, ia pun dibuat terpukau dengan posisi meja dekat jendela bening yang mendisplay penampilan menakjubkan kota metropolitan. Kendati malam meraja, cahaya-cahaya perkotaan terang-benderang bahkan menyaingi kerlap-kerlip bintang-bintang.
Selama pagi hingga sore tadi ia bisa melihat dari rooftop Tokyo Sky Tree. Di puncak tertinggi segalanya terlihat lebih kecil dari hempasan debu. Hamparan malam tak berbintang, disaingi pelita-pelita elektris yang konstan menderu malam. Sungai Sumida meliak-liuk, riaknya dipercik cahaya, permukaannya merefleksi spektrum biasan cahaya yang menghunjamnya.
Momoi menikmati semua pemandangan itu. Sedikit tersepi sendiri, menyayangkan kenapa ia pergi seorang diri dan tak mengajak yang lain.
"Terima kasih sudah menunggu."
Seorang pria dalam seragam koki menjinjing sebuah paperbag menghampiri gadis itu bersama dengan seorang pelayan berpakaian tuksedo formil. Membawakan troli yang penuh terisi berkotak-kotak Obentou, sumpit, sekotak tisu, dan empat termos besar serta cup-cup gelas.
"Te-terima kasih juga. Maaf merepotkan." Momoi buru-buru berdiri dan membungkukkan badan sembilan puluh derajat.
Pria itu punya struktur wajah khas orang Jepang. Tangan yang terulur, Momoi mengamati dari lekuk urat yang menonjol dan berkas-berkas luka, tangan seorang chef ternama—bukti kerja kerasnya dalam menyajikan kudapan berkualitas tinggi dari segi cita rasa dan estetika performa.
"Dia akan mengantarkan Anda membawa makanan ini ke tempat yang diminta Kagetora-san." Chef itu tersenyum ringan dan mengulurkan tangan untuk dijabat olehnya. "Tolong sampaikan padanya, jika ada acara seperti ini lagi, jangan sungkan-sungkan untuk memesan lunch atau dinner sets ke sini lagi."
Momoi mengangguk tak kentara, tak mengerti kenapa orang-orang penting tampaknya mengenal pelatihnya itu. "Akan saya sampaikan."
"Ah, ini bonus untuk kalian." Pria itu menyerahkan paperbag berbungkus hitam. Dia tersenyum kebapakan ketika Momoi menerima barang yang ia berikan, mata berlensa serupa fuschia-nya berbinar-binar mengetahui isi paperbag berlabel restoran langit tersebut. "Selamat berjuang untuk tim nasional junior basket Jepang."
"Te-terima kasih!" Momoi membungkuk lagi, menegapkan tubuh dan memulas senyum manis.
Pelayan bertuksedo formil itu beramah-tamah padanya, membantunya dengan membawakan troli, mengantar gadis itu keluar dari restoran yang mengambang di ketinggian sekian ratus meter dari wajah bumi.
Sekeluarnya dari resto, Momoi meringis riang, mengintip lagi paperbag yang ia jinjing. Ia tak sabar menanti reaksi teman-temannya mengetahui konsumsi yang mereka dapatkan, pula ia tak sabar berkisah tentang salah satu restoran terindah yang pernah dijejakinya.
Menaiki lift kembali ke rooftop. Begitu keluar dari lift, mereka harus naik tangga lagi untuk sampai ke rooftop. Momoi meminta pelayan dari Musashi 634 itu untuk menunggu sebentar sampai nanti ada yang membantu untuk membawakan makanan ke rooftop.
Tanpa prasangka, Momoi menaiki tangga. Bibirnya meliuk searah langit, tergesa langkahnya ke rooftop. Sesampainya di sana, hanya ada Kagetora yang duduk bersila tak jauh dari pintu tengah sibuk bercakap-cakap dengan seseorang menggunakan ponselnya sembari mengutak-atik laptop.
/"... aku tidak mau tahu, kau harus mengumpulkan semuanya besok pagi."/
/"...?" /
/"... semua. Kalian dan tim pelatih."/
"..."
/"... pakai apapun cara. Berkas files sedang kusiapkan. Kau yang bertanggungjawab atas mereka semua, 'kan?"/
/"..."/
/"... hm. Aku mengandalkanmu. Nanti aku hubungi lagi."/
Pik.
Momoi ingin bertanya dengan siapa Kagetora berbicara, tapi ia belenggu niatnya. Ada hal urgensi lain yang lebih mendesak.
"Kantoku, yang lain mana?" Momoi mengedarkan pandangan. Tak menemukan tanda-tanda eksistensi seorang pemuda pun.
Hamparan malam menggelar lapaknya membuat senja gulung tikar. Rooftop itu hanya diterangi kedap-kedip lampu satelit yang mendeburkan gelombang elektromagnetik.
"Belum kembali." Kagetora fokus mengetikkan sesuatu pada ponselnya, tak menoleh pada gadis muda yang raut kekecewaannya tersembunyi dalam lingkup kegelapan. "Mungkin ketiduran di kamar mandi karena kelelahan."
"Oh, begitu." Gadis refleksi musim semi itu menghembuskan napas panjang. Mengaitkan kedua tangan dalam genggaman di balik punggung. "Chef yang tadi ada di Musashi 634 titip pesan padaku untuk Kantoku, kalau ada acara seperti ini lagi, jangan ragu pesan lunch atau dinner sets ke sana lagi."
"Hmm. Dia selalu bilang begitu." Kagetora mendengus geli.
"Kenapa dia bisa tahu soal timnas basket Jepang?" tanya Momoi yang menggigil pelan ketika angin dingin menggigit-gigit kulit terbukanya.
Kagetora menyakukan lagi ponselnya usai membaca pesan balasan, afirmatif. "Itu karena ini bukan pertama kali—"
BRAAAK!
"HAAH."
" HAAAH."
Baik sang pelatih maupun manajer timnas junior Jepang itu terperanjat kaget mendengar pintu rooftop digebrak keras-keras. Mereka melihat Kise yang dipapah Takao, wajah keduanya merupakan persilangan riak airmuka antara horror, ketakutan, dan kekhawatiran yang bergejolak.
"A-ada apa?" gumam Momoi kaget, masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Mo-Momocchi—" Mata topaz yang biasa digelimangi keseksian dan keseriusan, serta pesona laksana Casanova, kini ditoreh pedih tak terperi. "—Ku-Kurokocchi … ta-tadi dia kelelahan setelah ganti baju dari kamar mandi, naik tangga, terpeleset—"
Mencelos.
Momoi merasakan hantaman menyakitkan, seakan seisi dunia jungkir balik tak karuan.
"—jatuh." Takao menyelesaikan kalimat Kise yang menggantung—terlalu sedih untuk dilanjutkan. Bahkan ini pertama kalinya sang pemuda pemilik mata rajawali itu meredup pilu. "Ke-kepalanya terbentur, tiba-tiba darah di mana-mana, Kuroko jatuh dari tangga, dan—"
"—di-dimana?"
"—Shin-chan dan yang lain bersamanya, berusaha untuk—"
"—kita harus ke sana, Momocchi, Kantoku!"
Kise menyambar lengan sang gadis yang linglung, ditariknya untuk mengikutinya menuruni tangga. Takao memastikan sepasang muda-mudi di depannya tidak jatuh terguling lagi seperti Kuroko—satu korban jiwa saja sudah cukup.
Saat mereka menuruni anak tangga satu per satu, berhati-hati meniti pijakan karena dikungkung keremangan jalur exit, Momoi tak sadar airmatanya meluruh merambati pipi. Terjatuh di setiap anak tangga. Setiap undakan yang mungkin persis dikucuri likuid krimson milik pemuda bersurai sebiru pulasan kanvas langit musim panas.
Takao mengumpat sesuatu, Kise tergesa merespon entah apa, Kagetora berseru keras menanyakan kondisi Kuroko, semuanya melangkah tergesa-gesa. Momoi terseret karena bahkan melangkah tak gontai saja hampir mustahil baginya saat ini. Ia didorong masuk ke lift.
Baru tadi ketika senja menjelang ajal, Kuroko tersenyum lembut padanya, menepuk halus kepalanya—membelainya sekilas.
Baru tadi Momoi menangis di dadanya karena penuh haru.
Seperti baru saja ia tertawa karena Kuroko melindunginya dan membelanya dari Aomine.
Baru tadi Kuroko mengafirmasi bahwa mereka akan bersama lagi.
.
.
.
"Apa … apa kita akan berpisah dengan begitu cepat lagi, Tetsu-kun?"
.
.
.
"Kita akan main basket bersama lagi seperti hari ini."
Kuroko lantas mengerling teman-teman mereka. Bibirnya melengkungkan senyum.
"Bukankah hari ini kita sudah mulai bersama lagi?"
.
.
.
Baru tadi—baru saja!
Intuisinya—yang tadi adalah intuisinya … berpikir gigir takdir takkan sebaik hati itu menaikkan tirai untuk membuat mereka memulai kisah sedamai padang ilalang musim panas yang bergoyang disepoi angin lembut.
Seharusnya ia tidak lekas saja percaya pada apa yang Kuroko katakan.
Jika dulu Momoi kehilangan Kuroko karena ketidakpekaannya, tak sadar Kuroko sedemikian hancur bersama retakan setiap kenangan yang mereka pahat bersama, maka mungkin saja—bukannya tidak mungkin ia akan kehilangan entitas terkasihnya lagi karena retakan itu yang mendestruksi fisiknya—
"—Tetsu-kun … TETSU-KUN DI MANA?!"
"Sebentar lagi, dia ada di depan sana— MOMOCCHI!"
Momoi membiarkan tangis berderai sementara ia berlari merambah kegelapan usai keluar dari lift. Menelusuri lorong hitam-legam yang mencambuk diri dengan ketakutan akan prasangka, asumsi buas yang memangsa keberaniannya, ia hanya berharap … satu-satunya harapannya selama ini untuk menyatukan lagi semuanya.
Kuroko baik-baik saja.
Keluar dari koridor segelap jelaga, Momoi tersengal, isakan meluncur dari bibirnya, cekatan tangis berceceran dihisap udara. Ia takut gelap. Tapi kegelapan tak lebih menakutkan daripada kehilangan.
"TETSU-KUN!"
Momoi menjerit. Gelap. Diringkus distopia. Ia buta melihat dalam kegelapan. Langkahnya liar berlari, dunianya kakofoni dari bising pesawat lepas-landas melintas di balik sekatan jendela raksasa bening—memblokir eksotisme kota metropolitan dari ketinggian di malam hari, intuisinya menumpul—hanya mendengar tapak sumbang langkah larinya dan sengal eratik napasnya.
"TETSU—"
Pelita-pelita mungil menerangi secarik wajah yang tersenyum.
Momoi berhenti berlari.
Sekerjap mata, ruangan hitam legam hanya terpercik nyala mungil cahaya-cahaya bintang darat yang elektris dari dinamika sistem listrik di perkotaan, dari ujung satu ke ujung tempat Momoi menyeruak berlari tadi, tersimbah cahaya indah bergradasi pelangi melekati dinding-dinding ruangan. Lantai LCD itu mendisplay lazuardi yang selembut warna surai pemuda itu.
Pemuda yang berdiri di sentral ruangan. Satu sisi dinding sepekat bayang-bayang malam—seperti sosok bayangannya, tapi pencahayaan lampu-lampu kota berkerlap-kerlip persis taburan kunang-kunang.
Dinding sisi oposisinya serta atap berbentuk silinder adalah kedap-kedip gradasi pelangi yang memukau.
Lantai yang mereka tapaki kini di-setting seolah presensi apapun berjalan menitip setiap jengkal langit biru.
"Selamat ulang tahun, Momoi-san. "
"…"
Hening berdesing.
"Maaf terlambat dua hari."
"…"
Sunyi.
"Ano … Momoi-san?"
Jika ditelisik baik-baik, ada derik cekatan napas di mana-mana.
Bibir merah muda terbuka. Skleranya nyaris dipenuhi pupil yang membesar. Tubuhnya statis persis prasasti. Airmatanya mandat sesaat.
"Tetsu … -kun?"
Kuroko Tetsuya, sama sekali tak terluka, memegangi sebuah kue ulangtahun berbentuk persegi. Terlihat jelas dari stroberi bulat merah segar yang menahtahi pucuk krim, itu adalah strawberry cheese cakes, berhiaskan lilin warna-warni di sana-sini yang api mungilnya bergoyang-goyang inosen dikepul Air Conditioner.
Senyum Kuroko menyurut sedikit. "Eto … Momoi-san?"
"Bu-bukannya … Tetsu-kun … te-terluka …" Momoi tercenung bingung, "ja-jatuh … dari … tangga?"
"OTANJOUBI OMODETOU!"
Seruan itu berhamburan dari mana-mana.
Para pemuda yang lain bermunculan dari kedua ujung koridor, dan sebuah ruangan tempat mereka menunggu untuk pertarungan terakhir. Roman wajah mereka menyiratkan pulasan berbeda makna, tapi tulus hanya untuk manajer baru mereka.
Gadis itu tergugu tak paham.
"Ini kejutan untuk ulangtahunmu, Satsuki Bodoh." Aomine mendekatinya. Menjitak pelan kepala bermahkota merah muda.
"…hah?" Momoi mematung kaku.
Akashi bertepuk tangan sekali. Geli menorehi ekspresinya. "Tadi pagi ketika kami berganti baju di toilet, Kise mengingatkan bahwa dua hari lalu kau berulangtahun."
"Aku memang sudah mengirimkan pesan selamat ulangtahun padamu," sambung Kuroko perlahan agar Momoi yang syok bukan kepalang dapat mencerna eksplanasi mereka, "tapi Kise-kun sudah menyiapkan kue ulang tahun yang disimpannya di tas dari tadi untuk kita merayakan ulangtahun Momoi-san hari ini."
"Untung kuenya tidak hancur," gumam Murasakibara—matanya terlempar ke zona terdalam fokus mengikuti lekuk bodi seksi strawberry cheese cakes tersebut.
"Ka-kalau ini tentang ulangtahunku … ke-kenapa Tetsu-kun—" Momoi mengedar pandangan satu per satu, matanya bergenang linang air lagi, "—kenapa aku diberitahu Tetsu-kun—"
"Oh, itu rencana untuk mengejutkanmu juga, Momoi." Midorima menukas, menunggu Momoi menyelesaikan pertanyaan koherensifnya sia-sia saja.
"Siapa yang merencanakan memberitahukan hal sekejam itu?" lirih Momoi. Ia mengerling Kise yang dipapah Takao.
Kise menggeleng-gelengkan kepala, begitu pula semua pemuda lain, kecuali sang dalang sesungguhnya. Mereka menoleh kepala pada sang maestro penyempurna rencana mereka.
"Kukira kau akan suka bila Kuroko jadi yang pertama mengejutkanmu." Akashi tersenyum ringan. Raut wajahnya tak mengulas dosa sama sekali.
"Tapi, tapi…" Momoi terseguk. Aksara verbal mengepul dari benaknya. Ia jatuh terduduk membuat para pemuda tersebut terkejut, lantas menangis, di sela serakan isakannya, terselip tawa di sana.
"Ah, kau membuatnya menangis." Semua memandang Akashi datar, sementara yang dijatuhi tatapan menjustifikasi itu tetap tenang seperti sedia kala—beranggapan eksekusi rencananya sukses absolut karena merasa kebohongan yang mereka lakukan itu berdampak manis bagi sang gadis yang paling tulus mengharapkan kebersamaan mereka.
Furihata yang cukup peka menjawil Kuroko, memberi kode dengan tanda untuk menyerahkan kue padanya sementara Kuroko harusnya mengatakan sesuatu pada Momoi.
Kuroko memahami bahasa non-verbal kawannya, diberikannya kue itu untuk Furihata pegang. Sementara ia berlutut lagi di hadapan Momoi yang limbung menyeka airmata.
"Ka-kalian masih sangat kelelahan, kesakitan … kelaparan … ke-kenapa malah menyiapkan kejutan seperti ini?"
Momoi menatap satu per satu pemuda yang ada di sana, matanya yang berkaca-kaca membuat beberapa pemuda terkesiap dan mundur teratur—tak biasa melihat gadis menangis dan mereka tidak mengerti bagaimana cara menanganinya.
"Ba-bagaimana aku bisa membalas—
"—sssh." Kuroko mengulurkan sapu tangan yang berada dalam saku jaketnya pada Momoi. Tersenyum tipis untuk sang manajer yang berwajah sembab diurai airmata. "Kami tidak ingin melihatmu menangis."
"Harusnya kau merasa senang." Kagami mengedikkan bahu. Merasa disenyumi, ia menoleh ke samping—Himuro memandangnya geli. Ia salah tingkah. "Ma-maksudku, wajar saja merasa senang karena diberi kejutan, bukan?" tukasnya membela diri.
Himuro mengangguk. Mengulum senyum. "Yah, meski disayangkan karena ulangtahunmu sudah lewat dua hari, Momoi-san."
"Mungkin kau bisa memuji aktingku dan Kise." Takao menimpali sambil terkekeh-kekeh. "Untung bukan Shin-chan yang membantuku untuk mengelabuimu, Momoi-san. Kalau iya, bisa gagal total rencana kami."
"Midorimacchi tidak bisa akting." Kise ikut tertawa kecil, ia bertukar high-five dengan Takao.
"AKU DENGAR OMONGAN KALIAN, BAKAO, BAKA-KISE!" seru Midorima geram.
Sakurai menotis sesuatu yang tidak disadari orang lain. "Su-sumimasen, itu lilinnya meleleh menjatuhi kue. A-ah! Keping coklat bertuliskan Otan-ome Momoi-san kena lelehan lilin!"
"He-heeee!" Furihata ikut panik. "Ha-harusnya segera tiup lilin."
"Boleh keping coklatnya aku yang makan?" Murasakibara menunjuk dirinya sendiri, tergiur dengan topping keping coklat berukirkan nama manajer tim mereka.
"Ta-tapi sudah ada lelehan lilin." Sakurai berjengit kaget karena pemuda super jangkung bersurai violet itu tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya dan Furihata.
Momoi yang lugu menatapi sekelilingnya. Teman-teman baru. Yang akan sering-sering berada di sisi. Betapa kawanan mereka kini bukan hanya warna-warni pelangi, tapi lebih banyak dari itu. Hidupnya tak lagi monoton. Tepat ketika itu, dirasakannya tepukan di puncak kepala.
"Kau harusnya bersyukur." Aomine mendengus pelan, matanya melunak balas memandang sahabatnya sejak kecil itu.
"Cepat bangun dan tiup lilin, ucapkan permohonanmu—seperti kau tidak akan menginjak barang-barangku lagi dengan sepatu busukmu atau menuruti permintaan Wakamatsu dengan membuang majalahku, setelah itu berikan aku makan. Bukan hanya aku yang kelelahan, kesakitan, dan kelaparan, tahu."
Kuroko berdiri. Beradu pandangan dengan Aomine sesaat, saling mengangguk. Keduanya mengulurkan tangan pada Momoi.
Sekali lagi Momoi mengobservasi semuanya, ia menyeka airmata cepat-cepat dengan punggung lengan, membiarkan jaket hijau mudanya basah, lalu menyambut uluran tangan teman-temannya. Berdiri, tersenyum riang.
"Ayo tiup lilinnya!" sorak Furihata gembira. Ia menyerahkan lagi kue pada Kuroko, tahu bahwa Momoi pasti lebih senang Kuroko yang memegangi kue sementara gadis itu meniup mati lilin yang tersisa setengah batang lagi.
"Yosh, mari kita nyanyikan—" Takao telah berlagak menjadi dirigen pengiring orkestra.
"JANGAN! ITU TERLALU KEKANAK—" Midorima horror maksimal. Telapak tangannya terbuka menjamah udara kosong, Takao tak tergapai karena sedang bertukar high-five lagi dengan pebasket perfect-copy.
"—HAPPY BIRTHDAY TO YOU, SPECIAL FOR MOMOCCHI!" Kise seakan telah re-charge energi, berseru riang bersama Furihata dan seruan malas namun antusias Murasakibara, mereka penuh semangat menyanyikan lagu kekanak-kanakan itu.
Momoi terkikik geli mendengar lantunan sumbang, tidak niat, terlalu heboh, bermacam-macam, tepukan tangan antusias sampai tidak niat, mengiringinya menghadap lilin-lilin bercahaya lebih redup dari cahaya lampu kota di kejauhan. Matanya terpejam seiring ia membumbungkan doa setulus dalam hati, mensyukuri segala hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Membuka mata, meniup mati pelita-pelita tersebut, menyisakan kepul asap tipis ternetralisir AC.
Gadis refleksi musim semi itu tertawa kecil tatkala menemukan teman-temannya—yang telah diperbaharui, bertepuk untuknya setelah cahaya lilin padam.
"Semuanya, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas kebaikan kalian. Aku … aku tidak tahu aku bisa mengucapkan apa pada kalian."
Momoi buru-buru mengusap bulir air yang tersisih dari pelupuk matanya. Tersenyum semampunya, haru menyesaki dirinya. Membanjirinya. Mendesaknya hingga ia sulit menormalkan sistem respirasi dengan tangis yang mengganjal tenggorokannya.
"Aku ... benar-benar terharu dan berterimakasih." Ia membungkukkan badan dalam-dalam.
Sebelum ada yang merespons momentum sentimentil itu, seruan labil menghancurkan segalanya.
"POTONG KUE!" Sepertinya bukan hanya Murasakibara yang kalap meminta kue segera dibagikan, Aomine juga.
Dan lagi, sebelum dampratan terlayang diiringi tawa mengudara, sahutan suara sang pelatih membuat mereka semua menoleh. Mata-mata mereka memendar eksitasi, melihat seorang pelayan bertuksedo mendorong troli berisi makanan dan minuman untuk mereka.
"Selamat ulang tahun, Momoi." Kagetora resmi menjabat tangan manajer muda potensial itu. Ia memberi kode pada anak-anak didiknya untuk duduk berjajar rapi. "Ayo kita potong kue dan makan malam bersama!"
"YEEAAAH!"
Mereka duduk membentuk garis sejajar menghadap ke jendela bening yang memapar pandangan menakjubkan malam di distrik region sekitar Tokyo Sky Tree. Dilayani oleh seorang pelayan tuksedo yang membagi-bagikan berkotak-kotak obentou, mengisi setiap cup gelas dengan teh hijau.
Kagetora datang membagian satu cup dessert untuk mereka—paperbag yang tadi dibawa Momoi.
Begitu kotak obentou dibuka, teriakan bahagia menggema di ruangan berbentuk silinder tersebut. Isinya mewah luar biasa, nasi, lauk-pauk, salad dengan tiga dressing sauce, tumis yakiniku atau teriyaki, chicken katsu dan ebi furaido. Masih ada stok untuk menambah pula. Ada desserts bonus yang terlihat terlalu mewah bagi para pelajar sekolah menengah atas seperti mereka.
"ITADAKIMASU!"
Bersuka cita mereka menyantap konsumsi yang menguras sedikit kas Negara untuk memanjakan mereka.
Kagetora mengawasi seksama bocah-bocah yang menyuap besar jatah makan mereka. Baru satu suap, kunyahan mereka terhenti. Mata-mata itu berbinar dan seruan dari mulut yang teredam berhamburan. Kagetora tergelak begitu detik berikutnya anak-anak asuhnya kalap melahap makan malam mereka.
"ENAK SEKALI!" Takao berteriak heboh, mengangkat ebi furai-nya tinggi-tinggi dengan sumpit, menyorongkannya ke bawah lampu sehingga udang gorengnya bercahaya . "Shin-chan saja sampai menangis bahagia karena bisa memakan ini!"
Midorima nyaris menusukkan sumpitnya pada mata Takao yang berkilauan penuh haru."Aku tidak menangis, nanodayo!"
"TERIMA KASIH, TUHAN, AKU TAHU INI BUKAN MASAKAN SATSUKI."
"Ca-catering ini enak sekali. Su-sumimasen, Aomine-san, i-itu—"
"AKU DENGAR ITU, DAI-CHAN! JANGAN AMBIL CHICKET-KATSU PUNYA SAKURAI!"
"Woy, Kuroko! Bernapas! AKU TAHU KAU BAHAGIA, TAPI BERNAPASLAH!"
"Kagami-kun ini … ini apa? Roti spesial di Seirin … tidak ada apa-apanya."
"Hahahaha~ aku rindu melihat muka bahagia Kurokocchi begitu."
Mata yang tertutupi uraian rambut legam melengkun selaras lekuk bibirnya. Atmosfer seringan awan yang mungkin dulu hanya tertera di angan kini melingkupi mereka. Ia mengedarkan pandangan, ditemukannya Akashi yang repetitif mengecek ponsel dan turut menggulirkan pandangan hingga tatapan mereka bersinggungan. Sekilas bertukar senyum. Dilihatnya Akashi mengangkat tangan, mengodenya dengan menunjuk sisinya.
Himuro menoleh. Sweatdrop, berekshalasi pendek. Masalah ini lagi. Cara memegang sumpit Murasakibara yang tidak benar. Nasi bertumpahan mengotori lipatan kakinya. Ia baru hendak menegur partner-nya itu, ketika ada pemuda lain yang duduk tak jauh darinya mengulik takut-takut bahu Murasakibara.
Pemuda paling jangkung itu awalnya tidak menghiraukan. Konstan sibuk makan. Jawilan makin keras, kausnya ditarik. Murasakibara mendelik marah, menemukan seseorang berjengit ketakutan tak berani menatapnya.
"A-ano saa …" Furihata telah memintakan sendok pada pelayan. Sendoknya dijalar getar, ia ulurkan pada Murasakibara. "Ka-kau bisa pakai ini."
Himuro ternganga tak percaya melihat Murasakibara mengambil sendok dari Furihata, lalu menaruh sepotong fish-fillet miliknya pada kotak bentou pemuda yang tampaknya mengerahkan segala keberaniannya untuk memberikan sendok padanya.
Furihata merasakan perutnya mulas dan ia meringkuk ketakutan mendekap kotak B-set miliknya tatkala tangan besar Murasakibara menangkup kepalanya. Ia membuka mata, tercengang karena Murasakibara ternyata tidak akan menghancurkan tengkoraknya. Napas tersangkut di liang tenggorokan, pita suara tercekat, dirasakannya elusandi kepalanya.
"U-uhm …" Furihata tercenung canggung, ia tidak nyaman diperlakukan seperti anak kecil. Menggaruk tengkuk. "A-ano—"
Himuro tertawa ringan. "Furihata-kun, Atsushi berterimakasih padamu."
Furihata melengakkan kepala, indera pengelihatannya menyekat lekat Himuro dalam pandangan. "Be-benarkah?
"Tentu. Lihat saja." Himuro memberi tanda dengan tangannya yang diikuti Furihata. Keduanya melihat Murasakibara yang bernafsu makan menyaingi titan penyantap manusia, menandas tundas jatah pertama makan malanya.
Murasakibara yang diperhatikan keduanya, posesif membekap bentou kedua yang diberikan oleh pelayan dari Restoran Langit. Sorot membunuh membara di mata violetnya. "Kuhancurkan kalian kalau merebut milikku, Muro-chin, Furi-chin!"
Furihata merepet ngeri. "Fu-Furi-chin?!Ti-tidak, aku cukup dengan punyaku sa-saja!"
"Itu tandanya dia menerimamu, Furihata-kun." Himuro tertawa mendengar protes Furihata yang tengah berusaha untuk merapikan rambut yang berantakan oleh elusan di kepala Murasakibara tadi.
Tak jauh dari ketiga pemuda itu, Kagetora memburai tenunan senyum hangatnya melihat interaksi mereka bertiga karena menotis Akashi yang tidak sebuas pemuda-pemuda lain menggerogoti habis isi bentou mereka. "Tidak enak?"
Pertanyaan itu membuat Akashi menoleh. Pemuda tersebut menggeleng sekilas. Tersenyum tenang. "Sangat enak. Aku tahu ini bukan catering seperti yang tadi Sakurai-kun tebak."
Kagetora hendak melontar tanya kenapa Akashi tidak semenikmati jamuan seperti teman-temannya yang lain—karena tampaknya pemuda ini satu-satunya orang (mungkin selain Midorima Shintarou) yang mengerti makanan bercita rasa dan berestetika setinggi ini tidak mungkin dibuat oleh catering biasa, ketika keriyap pengeras suara mendendangi seantero pelosok Tokyo Sky Tree.
DING. DONG.
Sontak mereka bergumam terkejut ketika seluruh lampu meredup, padam menyeluruh. Gelap-gulita membuat Momoi menjerit panik dan menyambar lengan seseorang—yang ternyata Kagami —karena ketakutan.
"Good night, Our Visitors. We're really sorry for this sudden inconvenience, but this is the special feature of Tokyo Sky Tree at night. The most beautiful and romantic form of Tokyo Sky Tree: MIYABI. Please enjoy it with your beloved ones and thank you very much for visiting to Tokyo Sky Tree."
Lantai LCD yang mereka duduki menyala kembali dengan background musim semi. Hanami. Badai bunga sakura.
Tergemap.
Tak ada satu pun (ralat, ada orang-orang tertentu) yang tidak terpukau ketika sistem pencahayaan di Tokyo Sky Tree yang semula terang-benderang dengan cahaya putih untuk mengontra jelaga malam, kini menyepuh warna-warna merah muda lembut bergradasi ke gelap. Lampu-lampu sorot mendongak ke angkasa dan menghunjamkan cahaya mereka ke titik tertentu.
Pada satu lantai istimewa yang menjadi jantung bagi wujud terindah Tokyo Sky Tree, Miyabi.
Lorong tempat para pecinta basket itu bermuara kini menghantar dimensi yang tidak terealisasi kendati di mimpi. Pulasan warna-warni pelangi lembut, degradasi seperti peralihan siang yang memekat hingga bertransformasi jadi malam, berbanding terbalik dari tempat yang sebelumnya jadi medan peran tempat pebasket-pebasket muda tersebut bertarung.
"Tiba-tiba lampu mati, gelap seketika. Lalu mendadak ruang ini tidak ada bedanya dengan tempat biasa piknik keluarga saat Hanami. Apa yang terjadi sebenarnya?" Himuro melisankan pertanyaan serupa yang bersembulan di benak teman-temannya.
"Coba lihat keluar!" Furihata berseru antusias. Sumpitnya menunjuk keluar jendela bening megah yang membiaskan cahaya dari arah bawah. Efek fisika ini mengakibatkan ruangan tempat mereka berada seakan bersemu, tersipu.
Takao telah lebih dulu beranjak bersama Kise untuk mengintip dengan merapat ke jendela. Keduanya bergumam bodoh nan takjub melihat pinggang sungai Sumida tersiram cahaya merah muda serupa. Berkerlap-kerlip, berkilauan menyaingi cahaya-cahaya kota yang menyebabkan bintang natural kalah redup karena cahayanya.
Hening berdesing. Laun berevolusi menjelma denting-denting indah mengalun menciumi seluruh lekuk dari konstruksi sanggaan yang terbenam di bawah sampai ke puncak penyiar gelombang-gelombang elektromagnetik di Tokyo Sky Tree.
Sakurai memejamkan mata, terhanyut dengan musik alih-alih menikmati kolaborasi warna-warni musim semi yang memukau orang lain. "Musik ini indah sekali."
Midorima men-tapping kacamatanya. "Spring Waltz." Ia tampak bangga karena Sakurai terlihat terkejut, kentara mengaguminya karena mengetahui lagu tersebut.
Nada dimulai dengan tekanan bertempo lamban pada tuts piano satu per satu, beruntun menyenandungkan sebait harmonisasi. Ketukan melodis crescendo yang terlantun merdu tanpa sisipan bahasa verbal.
Aomine tetap tergugah selera makannya. Bersendawa sesaat usai menegak teh hijau, kemudian meminta kotak bentou kedua pada pelayan restoran yang mengulum senyum mengawasi anak-anak muda bernafsu makan tinggi. ""Lagu macam apa ini? Membuatku mengantuk."
"Lagu ini indah. Seperti musim semi yang baru lahir dan menaburkan begitu banyak harapan—"
"—bersamaan dengan guguran bunga Sakura."
"—kau tidak sensitif sama sekali mengenal hal ini, Aomine-kun. Tidakkah lagu ini membuat orang yang mendengarkannya merasa nostalgia?"
"Tetsu, ini membosankan … hmmh, nostalgia … tahun lalu ketika keluargaku pergi hanami, aku mendapat kesempatan luar biasa untuk mendapatkan Spring Limited Edition Mai-chan—"
"Makanlah, Aomine-kun. Selesaikan makanmu. "
Aomine mendengus geli. Mengacak rambut Kuroko sekilas yang tenang menepis tangannya, bertukar senyum melalui lirikan mata, dan menuntaskan kotak pertamanya selagi mengomentari bagaimana bisa Kuroko begitu lamban menghabiskan makan malamnya.
Sementara Kagami masih memerhatikan tangan Momoi yang mencengkeram lengannya—sebenarnya tidak perlu lagi lantaran ruangan bernuansa melankolis ini tidaklah sekelam jelaga. Ia ingin makan. Biner krimsonnya menyelidik kelibatan ekspresi Momoi yang terkesima.
"Aku pikir, semua yang terjadi saat ini, bahkan musiknya juga, seluruhnya cocok denganmu."
Pernyataan itu membantingsetirkan atensi Momoi pada Kagami yang menumpukan lengan di lekukan lutut—lengan yang sama dengan yang masih dicengkeram Momoi.
"Apa maksudmu, Kagami-kun?"
"Maksudnya, kau kebetulan seperti Miyabi-sama yang asli, Satsuki," sahut Aomine di sela kesibukannya mengunyah udang goreng.
Momoi mengangkat satu tangannya lagi untuk mencubit gemas punggung lengan sahabat sejak kecilnya, mengabaikan pelototan Aomine yan meringis kesakitan.
"Kebetulan?" Gumam seseorang mengalihkan perhatian mereka. Furihata menatap ke luar jendela dengan antusias, tatapannya menerawang jauh pada hiruk-pikuk perkotaan menembus jendela bening besar. "Ini seperti pertemuan kita semua …" Dia menggaruk cangguk punggung lengannya, meringis menyadari hal yang telah pasti. "Uhm, pertemuan kita juga bukan kebetulan."
"Pertemuan kita direncanakan oleh panitia penyelenggara Inter High dan Winter Cup." Himuro tersenyum tipis. Dan melalui lekuk matanya saja, semua yang melihatnya tahu ini bukanlah senyum yang biasa pemuda ini paparkan pada mereka.
"Lagipula," Sakurai memajukan sedikit tubuhnya untuk melihat gadis yang juga menjabat sebagai manajer tim Too, "nuansa merah muda dari fitur Miyabi di Tokyo Sky Tree ini benar-benar sepertimu, Momoi-san."
"Ruangan musim semi Hanami ini jadi mengingatkan aku saat kau menyerahkan hasil foto bersama kita. Kau yang tersenyum ceria dan mau repot-repot mengirimkannya pada kami semua." Kise tertawa riang mengingat hal itu.
"Suaramu juga persis lagu yang sedang diputar ini, Momoi."
Sunyi.
Gemertak leher memilukan terdengar ketika Midorima yang berpretensi angkuh melontarkan kata-kata demikian.
"ASTAGA, SHIN-CHAN, KAU KENAPA?!" Takao terpingkal keras memegangi perutnya, membiarkan Midorima kasar menepis tudinan telunjuknya. Dia mendudukkan diri kembali di sisi cahayanya itu dan nyengir pada Momoi. "Tokyo Sky Tree ini yang bercahaya di tengah kegelapan, sama seperti kau juga yang satu-satunya perempuan di antara kami."
Kuroko berhenti mengudap. Airmukanya selaras senyum yang meliuki bibirnya. "Aku sependapat dengan semuanya. Seperti semua ini adalah hadiah istimewa hanya untukmu, Momoi-san."
Satu-satunya gadis di antara mereka semua termenung mendengarkan perkataan mereka. Tenggorokan tersendat seakan oksigen asat dari ruang yang dihirupnya. Kerongkongannya tercekat penuh haru. netra fuschia-nya yang berkaca-kaca lagi membuat para pemuda di sekitarnya berseru panik.
"Selamat ulang tahun, Momoi."
Setiap entitas yang ada di ruangan itu termagnet perhatiannya pada kapten timnas junior yang beranjak maju sedikit untuk mengulurkan sapu tangan pada Momoi.
Gadis berambut sewarna rona senja itu menerima uluran sapu tangan Akashi, memakainya untuk menutupi wajahnya yang berurai airmata. Dirasakannya tangan besar kapalan menepuk puncak kepalanya, ia tahu itu tangan Aomine.
"Ketika aku mendengar apa yang kauteriakkan tadi pagi di rooftop, kurasa bukan aku saja yang terkejut dan tidak menyangka ada seseorang yang mengharapkan hal itu." Roman wajah sang kapten menyiratkan pengertian dan serba tahu—yang jika dalam atmosfer biasa pasti membuat mata mereka iritatif karena Akashi memang selalu benar.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau lagi yang terpilih jadi manajer tim kami."
Momoi mengangkat wajahnya, bersitatap dengan mata merah brillian yang merefleksikan kumparan cahaya dari seluruh penjuru. Ia tidak mengerti, dan mungkin memang tidak lagi yang mengerti selain Akashi sendiri.
"Semoga harapanmu dan kita semua dapat tercapai." Kurva terbuka di bibir Akashi dan mata merahnya yang hangat, berbanding terbalik dengan cara bicaranya seolah ia mengatakan hal itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Omong-omong, apa ada sesuatu selain hal itu yang kauinginkan? Hadiah apa yang kauinginkan, Momoi?"
Momoi menggeleng-gelengkan kepala. Susah-payah ia tersenyum seraya menyeka airmatanya. "Ini sudah lebih dari cukup—"
"AAARGH!"
Sakurai berjengit kaget dengan seruan emosional bernada penolakan itu. "A-ada apa?"
"Jangan tolak tawaran Aka-chin, Momocchi! Dia bisa memberikanmu apapun! Momo-chin bisa minta stok maiubo satu tahun penuh dengan sehari sepuluh maiubo, Aka-chin mampu membelikannya!"
Momoi mengerjapkan mata kaget. "Ta-tapi, i-ini sudah jauh lebih dari yang aku inginkan—"
"—Baka Satsuki, kalau kau tidak mau, aku wakilkan kau. Oi, Akashi, belikan majalah—"
"AOMINE, Akashi menawarkan pada Momoi, nanodayo!"
"Akashi-kun tidak menawarkan hadiah padamu, Aomine-kun. Jangan minta hal-hal tidak senonoh begitu."
"Akashicchi, kalau yang lain ulang tahun, apa kau mau menawarkan hadiah yang sama? Aku juga akan ditawari hadiah kalau aku ulang tahun?"
"Akan kupertimbangkan, Kise. Bila permintaanmu seperti yang Aomine minta tadi, penawaranku otomatis aku batalkan."
"Momoi yang harusnya dapat hadiah, kenapa kalian yang repot?" sela Kagami selagi sibuk mengudap lagi makanan yang tersaji. Semua yang melihat pipinya tergembung elastis bergerak-gerak aktif, ini menyisakan impresi pemuda dengan alis bercabang itu terlihat seperti tupai sedang mengunyah kenari.
Sebelum Kagami sempat kena damprat karena keawamannya mengenai kapabilitas Akashi Seijuurou dalam memenuhi penawaran yang diajukannya, Himuro yang paling tua dengan tenang menengahi.
"Kalau kau belum tahu, pikirkan saja dulu, Momoi-san." Satu mata yang tertutupi untaian raven melirik Akashi. "Bagaimana, Akashi?"
"Itu solusi yang terbaik." Akashi mengangguk menyetujui. Ia melirik Momoi yang merajut ekspresi tidak setuju tapi gelengannya memaksa gadis itu untuk menurut. Tersenyum tipis, diulurkannya telapak tangannya yang terbuka pada sang manajer. "Deal?"
Ekshalasi letih melihat ekspresi jangan-bantah-aku-karena-perkataanku-absolut, Momoi menerbitkan senyum tipisnya seraya menepukkan tangannya pada tangan Akashi.
"Deal, Kapten."
Gelak tawa orangtua memecahkan atmosfer ringan dan menyenangkan yang melingkupi mereka. Kagetora menelisik satu per satu bocah-bocah belia yang akan berada dalam naungan tanggung-jawabnya.
"Kalau di masa depan nanti kalian tidak jadi pemain basket, jadilah Casanova!" Pria paruh baya itu kesulitan meredakan tawanya. "Meski kadar bahasa gula-gula kalian itu tidak dapat menandingi timnas senior Jepang."
"Timnas senior itu … tim yang dipimpin oleh Hibiki-san dan ada Hayate-san?" Ada ketertarikan mendalam berpendar di balik lensa bening yang melapisi biner klorofil.
Seketika wajah Aomine dan Kagami memucat mendengar nama sang pemain berjulukan The Ghost itu disebut. Tak banyak yang menyadari, kecuali yang cukup jeli seperti Akashi dan Kuroko karena keduanya bertukar kerlingan geli.
Tawanya tersesap senyap, barulah Kagetora mengangguk tenang. Ia mengangkat ponsel layar sentuhnya yang mendisplay chat-group. "Selagi kalian sibuk mengobrol tadi, aku sudah mengabarkan pada mereka, tim mereka, dan pelatih-pelatih basket kalian bahwa kalian lolos ujian ritual neraka di Tokyo Sy Tree."
Pebasket terveteran di antara semuanya itu menarik napas dalam dan menegakkan postur tubuhnya. Dia tersenyum tipis. Tangannya menyimpan kembali ponselnya, kemudian mengapresiasi hasil pertandingan hari ini dengan tepukan.
Dikibaskannya tangan pada pemuda-pemuda dan pemudi tunggal yang lekat menatapinya untuk bertanya-tanya tentang hal yang tidak bisa Kagetora jawab saat ini. "Habiskan dulu makanan kalian. Akan kuantar kalian ke rumah sakit."
Pertanyaan bersembulan ke permukaan. Kagetora tahu timnas belia yang jadi asuhannya ini hendak memuaskan rasa penasaran yang menggumpal jadi ganjalan di benak dan juga hati mereka. Tapi ia bisa menerka apa saja yang akan ditanyakan, namun sesungguhnya tidak ada lagi yang ingin ia ketahui selain kondisi anak-anak muda ini.
Memang ceruk matanya telah digurat kerut usia, tapi masih begitu awas untuk meneliti degradasi ke titik bifurkasi limit dari fisik-fisik remaja di hadapannya.
Tarikan di ujung bibirnya kemudian, dan Kagetora menyimpul konklusi bahwa keputusannya tepat. Apapun yang harus diinformasikannya pada para pengemban harapan generasi termuda saat ini, akan ia beritahukan nanti.
.
#~**~#
.
Ruang yang mereka jadikan tempat makan tadi dibersihkan oleh para pelayan dan orang-orang berseragam sehitam malam—sesuai instruksi dari Kagetora.
Mereka membungkukkan badan sembilan puluh derajat, menunjukkan respek pada pemuda-pemuda itu dengan mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka menuntaskan ritual dari Kagetora dan mengungkapkan ekspetasi mereka agar gerombolan muda-mudi itu sudi bertandang kembali untuk berwisata ke Tokyo Sky Tree.
Para pemuda itu saling memapah karena cedera fisik yang mendera mereka semua. Melihat derita anak-anak muda itu, seorang pria yang memimpin rombongan orang-orang berpakaian layaknya eksekutif terhormat itu menawarkan untuk mengekslusifkan lift dan membukakan jalan dari khalayak publik hanya untuk mereka.
Kagetora dengan senang hati menerima tawaran itu kemudian menelepon supir bus untuk memanaskan mesin dan menunggu kehadiran mereka di pintu masuk.
Mengingat tidak mungkin pemuda-pemuda yang memiliki raga berukuran masif itu dipaksa muat dalam satu lift. Mereka terbagi dua. Tak ada yang bicara selama lift dengan kecepatan tinggi itu menjorokkan mereka kembali menapaki bumi di lantai paling dasar.
Tepat ketika mereka tiba di lantai dasar dan lift berdenting manis menguak sosok anak-anak muda yang kebanyakan terluka, seruan antusias mengudara menyambut kemeriahan di ground floor.
Berbeda dari lantai-lantai di atas yang berinterior superior dengan beragam-macam rupa, ground floor ini adalah lobi tempat keluar-masuk dan pembelian tiket selama berkunjung ke Tokyo Sky Tree.
Alih-alih terlihat mewah dan mengimpresikan kemegahan, tempat ini paling terlihat biasa saja. Seperti percampuran yang melebur jadi satu antara departemen store dengan distrik belanja masyarakat.
Jika ruang-ruang yang sebelumnya mereka jejaki itu membuat mereka berdecak kagum karena segala hal yang mengisi ruangan umunya adalah anomali dari yang lazim mereka temui, maka shopping distrik ini membuat pengunjung kerasan untuk berada di sana.
Begitu banyak toko berjajar mulai dari aksesori kultur khas Sumida sampai toko cindera mata yang mengusung etnik dari sekujur penjuru Jepang. Toko-toko tersebut berseberangan dengan pelbagai toko oleh-oleh kudapan yang lama masa kadaluarsanya—biasanya dibeli borongan oleh turis-turis mancanegara atau domestik berasal dari luar Tokyo untuk dibawa pulang.
Yang paling atraktif dan padat dikunjungi hingga larut malam dan membuat kalap anak-anak muda itu adalah koridor tempat stan-stan makanan Jepang open-kitchen yang menguarkan aroma-aroma lezat pepat memikat.
"Shin-chan!" Takao melesat mengejar Midorima yang menghampiri toko antik. Berani bertaruh itu semacam toko langganan sang shooter yang menjual lucky-item yang berpedoman pada ramalan Oha-Asa.
"Atsushi, bukankah tadi kau sudah makan begitu banyak?" Himuro tergesa mengikuti Murasakibara yang mendengarkan perkataannya. Rekan setimnya di Yosen itu menyerbu stan-stan open-kitchen, jajanan murah-meriah dengan harga terjangkau bersahabat pada anak-anak muda seperti mereka.
"Eeeh, Muro-chin sendiri yang waktu itu bilang ingin ke Sky Tree. Mumpung kita di sini, jangan sia-siakan kesempatan ini." Murasakibara membiarkan Himuro mendesah lelah di belakangnya, ia mengantri di stan yang menjual Okonomiyaki.
Sakurai berdiri di etalase department store yang memajang sepatu olahraga. Ia meringis miris. "Harganya mahal sekali—are, Aomine-san?"
Momoi sekuat tenaga berusaha menarik Aomine yang pasti akan keluar-masuk sesuka hati, bermuka setebal pilar Tokyo Sky Tree dengan hanya melihat-lihat dan menarget sepatu yang hendak dibeli. "Dai-chan, sepatumu masih sangat banyak!"
Furihata menemani Kuroko untuk memasuki toko hewan. Mengingat Nigou bersarang manis kembali di dalam tas majikannya, maka Kuroko ingin menghadiahkannya kalung sederhana dan makanan anjing karena peliharaannya itu tidak mendapatkan jatah makan seperti manusia-manusia di sekitarnya yang dijamu makanan restoran papan atas.
Tersisa Kagami dan Akashi yang saling melirik. Keduanya jelas tidak menyadari Kagetora di belakang mereka yang sibuk membekap kekehan tua-tua keladi licik.
"Kenapa kau tidak ikut ke toko hewan?" Akashi berbaik hati memulai konversasi.
Kagami mendengus. "Aku tidak suka anjing." Dirasakannya tatapan Akashi utuh tertuju padanya. "Apa? Ada yang salah dengan kenyataan aku tidak menyukai anjing?"
Akashi tertegun sesaat. Rivalnya yang satu ini, ternyata … gelengan berserta senyuman tipis diangsurkannya. "Aku juga punya banyak hal yang tidak kusukai."
"Benarkah?" Kagami balas menatap Akashi, ketidakpercayaan mengentali airmukanya.
"Hm. Salah satunya, aku juga tidak suka anjing."
"Hah? Benarkah?!"
"Bukan anjing secara keseluruhan. Aku tidak suka anjing yang tidak penurut."
"Oh … begitu. Aku tidak suka anjing bukan karena mereka tidak penurut."
"Ada trauma? Seperti pernah digigit anjing?"
"Tsk."
"Aku selalu benar."
"Diam kau, Akashi! Jangan tersenyum aneh apalagi berpikir menertawaiku!"
"Tidak, aku tidak akan menertawakan kelemahan atau apapun yang orang lain tidak sukai. Siapa sangka kita punya satu hal yang sama?"
"Kaubilang kau tidak suka anjing yang tidak penurut … tapi itu tidak berlaku untuk Tetsuya Nigou."
"Tetsuya Nigou? Ah, matanya persis sekali dengan mata Kuroko."
"Dia cukup penurut. TIDAK, DIA TIDAK PENURUT. Anjing sialan itu pasti ada dendam pribadi padaku."
"Anjing tidak dianugerahi perasaan berdasarkan kodratnya."
"Kau mengerikan. Jangan tiru cara bicara Midorima. Tapi, ya, aku setuju denganmu. Bagaimana bisa teman-teman setim basketku di Seirin selalu bilang Nigou lebih peka dariku? Tch."
"Hmph. Sungguh menyedihkan dibandingkan dengan anjing."
"A-APA?! Jangan kemana-mana kau, Akashi! Aku harus beli kunai dan shuriken untuk membunuhmu, Ninja Jejadian!"
"Baiklah, aku permisi beli gunting untuk menancapkannya ke bokongmu dan mencungkil matamu."
Kagetora menyadari nyeri yang menyemuti tulang pipinya karena ia dibuat tergelak lagi, merasa melihat stand-up comedy yang dilakoni oleh dua pemuda berambut merah tersebut. Masa muda benar-benar menyegarkan. Mendadak ia jadi ingin lekas bertemu dengan teman-teman setimnya di timnas Jepang dulu.
Sebelum terlambat, ditariknya baju di bagian punggung sepasang pemuda yang berinisiasi untuk membeli shuriken, kunai dan gunting.
"Panggilkan yang lainnya! Aku harus membawa kalian ke rumah sakit."
Dengan pelototan sengit ("Awas kau nanti, Akashi!") serta tanggapan yang menguntai seringai ("Aku tidak akan lari, Kagami."), kedua pemuda itu menuruti perintah Kagetora untuk memanggil rekan-rekan setim mereka berkumpul dan keluar dari Tokyo Sky Tree.
Waktu pertama kali mereka masuk ke menara tertinggi di dunia ini, mereka masuk melalui lift yang sebenarnya dikhususkan untuk pegawai yang bekerja di bangunan perwujudan mimpi-mimpi tertinggi para pemrakarsanya.
Jadi ini pertama kalinya bagi anak-anak muda itu menapaki daerah teramai dalam bangunan tersebut, tentu mereka enggan untuk bergegas pulang.
Kagetora tegas mengingatkan bahwa cidera mereka tidak boleh ditelantarkan. Digiringnya bocah-bocah menyusahkan itu untuk keluar sebelum salah satu dari para remaja itu menyelinap untuk berwisata lagi di salah satu daya tarik turis Jepang yang berkunjung ke Tokyo.
Sekeluarnya dari daerah lobi, pinggang sungai Sumida terlihat lebih dekat dalam jangkauan pandang mereka. Kendati matahari telah mendengkur, membiarkan malam sepi dari taburan gemintang yang dengan kemilau sistem pencahayaan kota, areal wisata itu malah lebih padat ditandangi pengunjungi.
Kuil di sisi objek wisata terpopuler di Tokyo itu riuh disambangi. Wisatawan memang datang untuk sekadar memfoto kegiatan masyarakat Jepang yang melempar uang dan menggoyang lonceng seraya memanjatkan doa, namun tidak hanya itu.
Kagetora tersenyum tipis, ia paham raut terpesona dan decak kagum yang terpendar dari sosok-sosok muda di hadapannya.
Menara manifestasi mimpi-mimpi yang terealisasi menebas jelaga malam. Tokyo Sky Tree yang dipeluk kegelapan tengah merona merah muda bergelimang cahaya.
"Indah sekali." Himuro mendongakkan kepala seperti yang lainnya, tak berkedip melanskapkan atensi pada Tokyo Sky Tree.
"Astaga. Tokyo Sky Tree lebih indah ketika malam hari." Takao merentangkan lengan, seakan ia dapat merengkuh menara yang menjerat setiap orang yang melihatnya dengan segala pesona elegansi dan regalitasnya.
"Hei, hei, cahayanya masih merah muda seperti Momocchi!"
"Mungkin Tokyo Sky Tree ikut merayakan ulangtahunku, Kicchan. Hihihi."
"Membuat menara ini tidak main-main rumitnya. Konstruksi bangunannya anti bencana—gempa terutama—desain interior dan eksterior, tunggu, terutama desain eksteriornya di malam hari benar-benar istimewa," analisis Midorima secara kalkulatif.
"Yang mengonstruksi bangunan, mendesain interior dan eksterior, mendesain sistem lighting dan spotlight di Tokyo Sky Tree itu semuanya berbeda-beda." Akashi turut mematut menara yang menyita atensi publik dalam kekaguman.
"Padahal kukira kelebihan Tokyo Sky Tree itu kalau ada dalam menaranya dan melihat keluar." Murasakibara mengilas balik lantai tempat check-point-nya.
"Itu memang daya tarik utamanya. Tapi kalau kita melihat Tokyo Tower yang jauh lebih sederhana daripada Tokyo Sky Tree, kemudian kita melihat menara seperti Eiffel yang luar biasa indah saat malam hari, ini jadi inspirasi untuk mendesain Tokyo Sky Tree untuk tetap memikat juga seperti itu."
Akashi tenang menjelaskan. Matanya melunak menelusuri tubuh gedung layaknya pohon yang mencapai kaki langit Tokyo.
"Terlebih, distrk Sumida ini menjadi kawasat elit setelah jembatan gantung dibangun. Turis yang datang ke Tokyo tentu akan bersukacita melihat Tokyo Sky Tree dari kamar hotelnya. Memenuhi kepuasan kustomer dengan menyediakan kamar hotel atau membuat restoran yang berhadapan dengan pemandangan Tokyo Sky Tree dan sungai Sumida itu mendatangkan profit tinggi bagi investor."
"Jadi Tokyo Sky Tree dibuat seindah ini di malam hari karena orientasi uang? Komersil?" tanya Momoi yang menoleh pada pemuda berambut magenta itu.
Tawa rendah merembas tipis dari bibir Akashi yang kemudian menjawab pertanyaan gadis tersebut.
"Tokyo Sky Tree adalah menara harapan perwujudan mimpi-mimpi. Yang terimaji oleh para pemimpi yang menggarap desain eksterior Tokyo Sky Tree di malam hari adalah tentang mimpi yang direalisasi, dan mewujudkannya itu penuh perjuangan—seperti perjuangan hidup yang penuh warna.
"Meski awalnya terasa mustahil—begitu gelap tanpa harapan, tapi semangat untuk mewujudkannya itulah yang menjadi cahaya harapan para pembuatnya hingga menara ini bisa berdiri tegak dan bercahaya di kegelapan malam."
Eksplanasi Akashi membungkam setiap individu yang terhenyak untuk ikut terlengak mematri Tokyo Sky Tree dan makna konstruksinya dalam memori. Sunyi melingkupi mereka. Sedikit rerasan sakura diembus angin yang membumbungkannya ke angkasa bersanding dengan cantiknya merah muda Miyabi pohon langit yang menjulang di tanah Tokyo tersebut.
"Tokyo Sky Tree seperti punya dua pesona paling menonjol di antara sekian banyak pesonanya, ya. Baik ketika hari terang maupun gelap."
Cetusan inosen itu menyebabkan pencetusnya dilimpahi atensi. Yang ditatap masih melongo bodoh, terpesona memandangi Tokyo Sky Tree.
Satu entitas yang geli sekaligus merasa konfesi itu demikian satir melayangkan tanya. "Bagaimana menurutmu? Lebih baik Tokyo Sky Tree waktu siang atau malam?"
Furihata tersendat napasnya. Ia menyingkir selangkah ke belakang Kagami yang hanya melirik tidak mengerti kenapa Furihata bersembunyi di belakangnya. "Ka-kapanpun … terlihat indah. Ma-maksudku—"
—'Kasihan,' pikir seisi tim dan sang pelatih, prihatin pada Furihata—
"—kedua pesonanya itu be-berbeda-beda. A-aku rasa pe-perbedaannya yang me-membuat Tokyo Sky Tree i-indah setiap waktu."
Sakurai dan Himuro bertukar tatapan hesitantif. Apa benar mereka saja yang berhalusinasi sorot distan Akashi melunak mendengar jawaban Furihata seraya menggumamkan "perbedaan"?
"Semua maknanya sangat indah, Akashi-kun." Kuroko turut mengedarkan pandangan pada menara yang beberapa jam lalu seperti neraka bagi mereka semua.
"Rasanya baru beberapa waktu lalu kita datang ke sini. Pertarungan paling mengerikan yang pernah aku alami." Sang bayangan tersenyum, mengingat kelibatan suatu mimpi terpanjang yang menyebabkannya bangun terseduh peluh di seluruh tubuh. "Seperti mimpi."
"Ini nyata," tanggap Aomine singkat. "Apalagi penderitaan, kekalahan, dan rasa sakitnya."
"Kupikir neraka yang tadi tidak akan berakhir, aku nyaris mati." Takao terkekeh geli.
Murasakibara mendengus sebal. "Aku tidak mau mengulangnya untuk dua kali."
"Su-sumimasen … tidak ada juga yang mau mengulangnya." Sakurai memucat pias memikirkan jika mereka harus bertarung lagi di Toky Sky Tree dengan konsep pertarungan yang sama.
"Sayang sekali, kita pulang dengan kekalahan, perut kenyang, dan sakit begini. Coba sebelumnya kita diberitahu akan tes di sini," ucap Kise dengan nada sarat kekecewaan.
Midorima satu-satunya yang tampak puas, mengangkat jinjingannya agak terlalu tinggi. "Aku tidak pulang dengan tangan kosong, nanodayo."
"Oi, Shin-chan, hanya kau yang dapat lucky-item." Takao mencibir singkat pada rekan setimnya.
"Nigou dapat makanan." Kuroko tersenyum ketika kepala berbulu putih-hitam menyembul dari tasnya dan menggongong riang.
"Bisa ke Sky Tree saja aku sudah senang. Ini tempat yang paling ingin aku datangi." Sepasang mata menghangat tersorot pada menara yang menjulang tinggi. Himuro melirik sang pelatih dan membungkuk sekilas. "Terima kasih sudah membawa kami semua ke mari, Kantoku."
"Terima kasih untuk makanannya, Kantoku! Sangat enak." Kagami mengikuti Himuro untuk membungkuk sekilas. Agaknya tindakan keduanya cukup mengejutkan, mengingat kedua pemuda tersebut ditimang untuk bertubuh-kembang dengan kultur liberalisme yang sekental darah.
"Aku tidak ingin berterima kasih untuk semua sakit yang kudapatkan hari ini." Murasakibara melengos malas.
Midorima mendesis sebal padanya, tak suka dengan tingkah kekanakan ace Yosen tersebut. "Kau harus mengapresiasinya, Murasakibara. Bukan hanya sakit yang kaudapatkan."
"Murasakibara-san dapat potongan kue paling besar, juga kotak makan dan desserts paling banyak di antara yang lain, 'kan?" Sakurai melirik di antara kedua pemuda paling tinggi yang saling melotot ganas. Dia tersenyum canggung. "Paling tidak, itu bisa membuatmu merasa berterima kasih. Ah, sumimasen, aku terlalu banyak bicara."
"Hoaaahm." Takao menguap lebar-lebar. Dia mengusap-usap matanya, lalu menggemeretakkan leher. "Berhenti kekanakan, Shin-chan. Apa kau tidak lelah seharian ini bertengkar terus-menerus dengan ujian ritual neraka tadi, hah?"
Selagi Midorima menyentak pada bayangannya, kuapan kantuk Takao menular kilat pada Aomine yang sudah oleng. Akashi menegurnya untuk tetap berdiri tegak dan tidak merepotkan Momoi yang susah-payah menopang tubuh tinggi besarnya. Pemuda yang lain pun mulai menampakkan tanda-tanda kelelahan lebih eksplisit dari sebelumnya.
Suara klakson bus teriring lantunan nama pelatih mereka mengalihkan perhatian semuanya.
Kagetora memandu mereka untuk berjalan segera masuk ke bus seraya menginstruksikan sang supir untuk menaikkan temperature AC dalam bus, sementara bocah-bocah menyusahkannya gontai nan lunglai beranjak masuk ke bus.
Tepat sebelum mereka masuk ke bus, seruan Aomine senada hentakan langkahnya yang gusar menginterupsi atensi semuanya.
"Oi, Satsuki! Kenapa kau diam saja di sana? Kau mau bertapa di situ, hah?"
Momoi perlahan-lahan menelusuri satu per satu pemuda yang menatapinya heran. Diringkus hesitansi sejenak, ia menjawab lamat-lamat."Aku … mungkin ini egois karena kalian sudah kelelahan dan sakit …"
Hening.
"Kau sudah tahu ingin minta hadiah ulang tahun apa." Akashi menyatakan yang tak sanggup Momoi ungkapkan selain merespons dengan anggukan. "Apa yang kauinginkan, Momoi?"
Ketika Momoi mengutarakan apa yang dia inginkan, tak ada yang terkejut dengan permintaan yang gadis itu lontarkan. Karena apa yang ia ujarkan dengan frontal, selurus harapan yang ia panjatkan, diserukan ke langit-langit berbintang helaian sakura dan semu sendu matahari tadi pagi.
Kendati dua-tiga orang mengeluh, tatkala sang kapten menandas, "Aku tidak bertanya kalian mau melakukannya atau tidak. Ini perintah mutlak Kapten."
Dan tidak perlu provokasi Kagami, semua orang lekas terpikirkan mencari senjata terlarang untuk membunuh si kapten serta keabsolutannya. Tapi ketika melihat Momoi dan ekspetasi yang menorehi ekspresi gadis ini, para pemuda itu menyerah—bukan semata karena lelah.
Tapi toh tak satu pun membantah, mereka bekerja sama merealisasi permintaan satu-satunya bunga; gadis yang senyumnya bersemi penuh haru tak terperi, di antara mereka.
Kuroko mengerjapkan mata. Tak satu pun presensi membaur pada lalu-lalang, lenyap melayang. Ini bukan proyeksi, kenyataan mengemukakan eksistensi mereka kini hakiki.
Hari ini tinggal sebentar lagi mati. Langit musim semi. Gelap yang mengontra makna gulita. Yang dulu selalu di sisi dan sempat menghancurkan hati, serta yang sekarang berada di sisi hingga nanti.
Sebersit jawaban menjawab lembut tanya yang tadi pagi menyeruaki hati.
Yang mengukiri cakrawala untuk membisikkan selamat tidur, jangan berangan untuk menciumi pagi—karena kodrat senja hanyalah untuk berserah diri pada malam hari, adalah semburat warna-warni mimpi. Bukan layaknya sembulan kerlap-kerlip mungil klise di langit, tapi seperti kerjapan pijar cahaya-cahaya muda yang menjejaki bumi.
Sang bayangan tidak mengerti apakah ada yang bercahaya di antara teman-temannya, mungkin senyum yang mencapai mata, atau denting tawa, ataukah itu hipokritisasi menyangkal sepi di hati. Tidak satu pun terlihat merasa tersingkir atau hendak menyingkirkan siapapun, jika tidak demikian, berarti untuk tidak saat ini—tidak untuk selamanya itu yang diharapkannya.
"Kuroko?"
Kagami menatapi bagaimana angin membelai helai-helai lazuardi, ekspresi yang tidak terdefinisi, dan sorot matanya pada menara tertinggi yang mengantarkan mereka mendaki puncak dengan seribu satu basket yang mengguncang mereka di antara hidup dan mati.
"Kita baru mulai, Bodoh."
Kuroko melengak pada Kagami yang tak terbias cahaya apapun selain remang penerangan lampu bus. Bercahaya. Romannya serius dan nada bicaranya setenang aliran dinamis sungai Sumida.
"Kau yang pertama bilang, ingin semua ini bisa segera berakhir. Tapi setelah akhir pertandingan, kau juga berkata kau tidak ingin semuanya berakhir," tandas Kagami tegas.
Tangannya bergetar, ia kepal. Keras. Kuroko tertunduk, merasa begitu buruk.
"Benar. Kata-kataku kontradiktif, aku bahkan mungkin menyakiti yang lainnya atau membuat mereka merasa makin tidak ingin berada di sini. Ini salahku."
Kagami berdecak. Dia mengangkat tangan kanannya dan menjitak kepala yang mengurai biru muda.
PLAK.
"Ouch."
"Tsk. Kau selalu saja begini."
"Sa-sakit ... maafkan aku."
"Pertandingan ini adalah pertandingan terberat seumur hidup yang kita rasakan. Benar?"
"Benar, Kagami-kun."
"Tapi meski kita sendiri punya keyakinan seperti yang telah dikatakan Kagetora Kantoku, bahwa setelah hari ini, tidak ada lagi kekalahan lebih pedih dari hari ini, kau jadi lebih mencintai basket?"
"…iya."
"Kau merasa bersalah mengucapkan ingin segalanya cepat berakhir saat di rooftop tadi dan juga ingin segalanya tidak berakhir?"
"…"
"Astaga, Kuroko. Sebenarnya, apa yang kauinginkan? Kau lagi-lagi merasa "kau orang yang seperti ini" dan bertanya-tanya apakah yang lain bersedia menerimamu lagi karena kau meragukan dirimu sendiri serta tidak bisa lepas dari tim Seirin kita? Atau kau takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi seperti masa lalumu?"
Telak.
"Bagaimana perasaanmu? Kau yang merasa tidak bisa memaafkan mereka, atau kau tidak ingin dimaafkan atas apa yang kaulakukan pada mereka?"
Biner lazuardi monokrom melebar terkejut. Bagaimana cahayanya ini bisa mengetahuinya?
"Kau sudah memberi mereka pelajaran sesuai yang kau perjuangkan bersamaku dan yang lainnya—tim Seirin, itu bukan kesalahan yang membuatmu mesti kembali merasa bersalah pada mereka. Semua sudah berubah. Tidak akan sama lagi. Kita tidak bisa mengharapkan segala sesuatu kembali seperti semula."
"Aku tahu," tanggap Kuroko serak.
Hunjaman tajam iris krimson Kagami menikam Kuroko yang tersayat hatinya dengan pernyataan mengumbar kebenaran.
"Tapi kalau kau membohongi dirimu sendiri, kau menginginkan sesuatu dan kau bahkan tidak memperjuangkannya, aku benar-benar akan menghajarmu."
Kuroko tersentak menatap diferensiasi tatapan Kagami kemudian. Pengertian, menembus seluk-beluk memorandumnya. Tangan yang biasa membenturkan kepalan dengan tangannya, yang biasa menerima operan pass, terangkat untuk mengacak sekilas puncak kepalanya.
Protes Kagetora dan sang kondektur terdengar dari dalam, Kagami menyentak balasan galak.
Pemuda imitasi cahaya itu berekshalasi lebih ringan, memvibrasikan pertanyaan yang menggetarkannya, dan menarik bayangannya masuk ke dalam bus untuk menerima marak omelan sekaligus sambutan dari tim mereka, menghempaskan Kuroko untuk duduk di kursi sentral di barisan paling belakang.
Kagetora menginformasikan tatkala roda-roda bus menggelinding meninggalkan pelataran parkir Tokyo Sky Tree bahwa mereka tetap harus mampir ke rumah sakit sebelum pulang ke rumah.
Kuroko yang duduk tersudut di bus, sayup dengan bibir terkatup mendengar derum bus mereka melebur dengan derai dengkur halus, terngiang pertanyaan terakhir Kagami yang mencercahkan secarik cahaya.
.
.
.
"Kuroko, tidakkah kau pernah berpikir—"
.
.
.
"Semoga hari ini segera berakhir." –karena bila terlalu lama, entah dengan cara bagaimana waktu habis tergulir tanpa perlu seorang pun merasa tersingkir
.
.
.
—aku ingin menepati janji sekali saja untuk bahagia bermain basket walau berseberangan bench.
—aku mau selalu bersama timku yang sekarang bermain basket melawan kalian.
—aku tidak menghendaki permusuhan dan rivalitas selalu membayangi tim ini di antara kita.
"—semua ini dapat segera berakhir."
.
.
.
"Rasanya … meski pertarungan kita sangat emosional dan terlalu berat, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Saat terakhir tadi aku menyentuh bola, aku tidak ingin berakhir, tapi aku justru mengakhirinya. Aku ….
.
" –aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku dengan tepat."
.
"Aku merasa bahwa hari ini membuatku makin cinta pada basket. Dan aku tidak ingin semua ini berakhir."
.
.
.
—aku tidak mau berpisah lagi—
—aku harap kita selalu bersama.
.
.
.
"—mungkin saja ada yang menginginkan hal-ha seperti yang kauinginkan?"
(Kali ini, Kuroko mengerti arti makna bening yangmemburamkan ruang pandangnya.
Mungkin bukan hanya dirinya saja yang saat ini merasa telah mencapai destinasi pertama; bersama, merasa pulang. )
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Saya nggak bisa bilang apa-apa lagi selain mohon maaf karena update-nya lama banget. Maaf juga karena kalkulasi chapter-nya kelewatan, harusnya sampe chapter 11 aja, tapi words melebar lagi jadi plus satu chapter. Tapi nggak, saya nggak ada rencana mendiskontinu fic ini. Fic yang saya menghabiskan banyak waktu untuk riset dan nulisnya.
Dengan ini, saya menyatakan bahwa Arc 2 Kiseki no Nakama:TOKYO SKY TREE, resmi berakhir. *pukul gong* XD
Ah, sebenernya saya udah ngebet nulis scene birthday-surprise dari Momoi sejak chapter 5—makanya saya sengaja masukin tanggal ultahnya. Dan kenapa saya pilih yang ngomong di kamar mandi antara timnas junior itu Kise, soalnya Kise paling cocok untuk peran surprise semacam ini. Tapi setelah ngetik chapter ini, saya gak bisa gak jealous sama Momoi. /dilema yang dibuat sendiri/
Untuk yang bingung dengan karakterisasi Kuroko ... sebenernya, saya juga bingung. Waktu di chapter 11, pas kekalahan pertama Kaijou pada Seirin, Kise nanya kenapa Kuroko keluar dari tim. Tapi jawaban Kuroko itu nggak tahu. Setelah ratusan chapters, baru dijelaskan flashback Kuroko di Teikou. Jadi kenapa di chapter awal-awal itu Kuroko mesti jawab nggak tahu?
Itu sampe chapter 227 pun, Kuroko ngerasa sakit banget karena perlakuan Kisedai—mostly pemicu puncak emosinya karena Ogiwara. Jadi, karena sakit hatinya saking cintanya dia sama basket (atau saat itu diuraikannya dia benci basket dan ingin berhenti bermain) dan sayangnya dia sama temen-temennya yang udah berubah, dia pergi dari timnya.
Sebenernya, mungkin Kuroko punya semacam ... blame-himself-personality. Soalnya di chapter 228, dia nyalahin dirinya sendiri karena Ogiwara jadi tersakiti. Di situ juga Kagami yang sadar bahwa Kuroko memang nggak ingin dimaafkan untuk kesalahan yang bukan dia yang melakukan.
Sama seperti di Kiseki no Nakama sejak chapter 2. Kagami juga sadar (sebenernya sih bukan Kagami aja), bahwa Kuroko bersama tim Seirin itu bukan semata pengen mengajarkan kekalahan sama Kisedai. Dia ingin bersama lagi, tapi dia takut kalau mereka sama-sama, nanti malah peristiwa di Teikou (karena semua terlalu kuat) akan terulang lagi. Dia khawatir pemain-pemain tertentu (yang bukan Kisedai), akan merasa tersingkir karena nggak selevel kemampuannya. Dia udah janji bahwa kalau mereka ketemu lagi, akan dalam pertarungan untuk memperebutkan kemenangan. Dilematisnya itu membuatnya ngerasa bersalah juga, makanya Kagami ngomong seperti itu. (karena Kagami lebih simple dan Kagami nggak pernah tergabung dalam Kisedai; dia netral; tapi berhubungan dengan Kisedai juga)
Huum ... di manga Kurobas itu jauh lebih simple, maaf saya buat jadi agak kompleks. *sungkem dalem-dalem*
selain sadar bahwa nulis battle scene basket itu syusyah banget, saya juga sadar di tengah riset bahwa yang ada di riil dan di fandom itu berbenturan. Kalau di Kurobas, semua yang terjadi itu terkesan "magical", tapi Fujimaki-Sensei menggambarkannya berusaha dengan rasional (e.x: ignite pass kai Kuroko) pake jurus dsb. Memadukan keduanya (fantasi dan riil) makin sulit—karena kefantasian basketnya harus dirasio.
In the end, saya heran plus terbengong-bengong sendiri setelah membaca ulang semua chapters fic ini, gimana bisa saya nulis fic Kiseki no Nakaman selama ini, ya? Orz
Sekali lagi, pada Readers and Reviewers setia Kiseki no Nakama, terima kasih sekali karena telah membaca, memberikan reviews/faves/follow untuk fanfiksi ini. Saya mohon dukungan, bantuan, dan doanya supaya fic ini tetap lanjut terus sampai tamat. :"D
NEXT ARC (3): Taizai no Sedai / The Sinners Generation (VON)
.
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
