Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya.

.

So, I will survive~

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, shounen-ai, ambigu, basket battle scenes, NO PAIRING—JUST buddy complex, etc.

Italic: Flashback

.

SPECIAL WARNING: Khusus untuk chapter ini, ambiguitas dan hints shounen-ai lebih eksplisit dari sebelumnya. Jika tidak suka, silakan skip quarter 2 sampai setelah pertandingan selesai khusus untuk adegan bertanda yang dimulai dan diakhiri dengan tanda peringatan: (*).

Jika ada yang tidak Anda disukai dari segala warning yang telah saya cantumkan, mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Ketuk palu.

Ruang megah mengimpresi mewah menyerbak gemuruh tepuk tangan hingga mengetuk-ngetuk seantero ruangan.

Hakim desisif dengan keputusan absolut itu bagi kedua representator dari negara perlambang Sakura tidak lebih dari meteor yang melenceng dari orbital dan menghunjam padang mayapada.

Maka ketika cekikan tekanan, himpitan suspense, dan kegentingan sirkumstansi mendesak nurani yang menguar insting ketika makhluk hidup sekarat serta disokong kebutuhan memproteksi diri—mereka harus bangkit melawan karena tak ada cara lain lagi, satu keputusan ekstrim tercipta.

Layaknya domino berdiri vertikal lalu disentuh—tap selembut kepak burung mungil yang rapuh, debris kronologis berjatuhan tak ubahnya tetris yang runtuh.

Para pengemban ekspetasi yang kemudian diperjuangkan oleh orangtua-orangtua itu seakan nyawa mereka bukan taruhan—tak berharga—itu meresonansikan terror ke sendi-sendi setiap negeri.

Terciptalah mereka: Pemikul harapan yang berlumur dosa.

(Suatu waktu, ketika pendosa-pendosa itu tergugu di hari bersalju, seseorang yang pertama kali menggenggam dan membimbing para orangtua yang terpuruk karena asa mulai tertekuk, menatap mereka karena pada sorot matanya kejujuran tersepuh, tegas meminta mereka untuk rela—melepas gelimang dunia sebrillian pendar kejora—penuh kesungguhan hingga membuat mereka luluh.

Uluran tangannya yang hangat dan senyum tulus tak terperi miliknya melelehkan kebekuan hati mereka untuk lepas dari belenggu, berjuang menerjang aral melintang.

Berbisik sayang.

"You raise me up to more than I can be." )

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 13

"The Prelude"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

12 jam kemudian. Pukul 08.00. Minggu, 7 Mei.

Semua orang dewasa yang dipandu oleh si hantu terkejut mendapati separuh dari ruangan pertemuan telah diisi oleh figur-figur familiar yang membungkuk atau menggangguk penuh respek sekilas pada mereka.

"Lama sekali kalian."

"Kau tidak bilang menunggu kami di mana. Jadi kami ke Sektor Terlarang bersama-sama, Informan memberitahu kami ternyata kau dan yang lainnya ada di sini."

Beberapa saat suara-suara vakum, tak satu pun dari orang dewasa yang mengintervasi spasi penuh privasi itu mengindahkan protes dari seseorang yang memanggil mereka untuk menyita waktu berharga—hari libur—mereka.

Lebih atraktif melihat figur-figur muda yang telah ranum duduk tenang, tampak distan mengobservasi apa yang didisplay layar laptop masing-masing. Berkeping-keping CD berserakan di antara mereka. Sesekali satu atau dua orang berkomentar singkat. Frekuentif perhatian mereka terbagi setimpal antara layar laptop, proyektor, infocus, bahkan hingga televisi 42 inch yang mewah di ruang pertemuan, semuanya memapar ritual tersebut.

"Kau sudah punya konklusi, Kagetora."

Pria yang disebut namanya mendengus pongah. Mengode pada pemain berjulukan hantu untuk kembali menekuni data yang telah dikompilasi oleh manajer timnas senior khusus binaannya, dan mempersilakan tamu-tamu terhormatnya untuk duduk.

"Begitulah, Shiro-chan." Kagetora memberikan berkas pada presensi yang seusia dengannya. Tanpa dititah, refeks mereka saling mengoperkan berkas pada seluruh tamu yang diminta Kagetora untuk hadir. "Beruntung aku tidak tidur semalaman, aku bisa memaksa Riko-tan untuk tidur. Kurang tidur mengurangi kualitas kesehatan kulit—"

"Kau yang terlihat tidak sehat." Katsunori menyelanya, tidak sadar tindakannya itu diam-diam diapresiasi oleh kawan-kawan lainnya. Mereka ada di sini tidak untuk mendengar celoteh obsesif Kagetora pada putri semata wayangnya.

Genta mendengus sebal karena menyadari ketiadaan kudapan untuk mereka. Meski ia memang menginap di salah satu hotel ternama di Tokyo daripada diburu-buru mengarungi perjalanan dari Akita, tapi ia berangkat pagi sesuai instruksi rekan setimnasnya dulu kala tanpa sarapan terlebih dahulu untuk menghindari kepadatan di ruas-ruas jalan distrik elit Tokyo.

Araki melirik Kagetora yang menguap lebar-lebar tanpa tahu malu. "Kau benar-benar tidak tidur."

"Kalau kalian ada di posisiku kemarin, aku yakin kalian juga tidak akan bisa tidur." Kagetora menerawang sekilas televisi di ruang pertemuan yang menampilkan brutalnya pertarungan timnas junior di rooftop Sky Tree.

"Otsukaresama deshita." Nakatani kilat mengedarkan pandangan pada yang lainnya. Mengetahui yang lain pasti tengah membaca serius data kolektif yang dituliskan Kagetora semalaman.

Kagetora tertawa rendah. "Pekerjaanku baru dimulai, Mabo."

"Hm. Aku tahu. Bukan hanya kau saja, kami juga."

"Maksudmu?"

"Kuberitahukan nanti setelah ulasan timnas junior."

Mereka tahu Kagetora mengantarkan anak-anak itu ke rumah sakit, kemudian menghubungi pihak sekolah masing-masing, memastikan mereka diantar pulang sampai ke rumah.

Berjanji di suatu tempat dengan salah satu pria terinfuensif di Tokyo Sky Tree untuk mendapatkan segala rekaman pertandingan dari CCTV, menyerahkannya pada manajer timnas senior yang cekatan mengompilasi semuanya—mem-burning dalam CD dan DVD, baru menuliskan data dan laporan hasil "Ritual Neraka" timnas junior di Sky Tree.

Paginya, ia telah datang lagi ke Tokyo National Gym untuk mengumpulkan timnas senior dan (pasti) menjarah waktu mereka dengan instruksi memelajari timnas junior yang perlu diayomi para seniornya.

Laporan dimulai dengan cover bertajuk Tokyo Sky Tree's Ceremony. Terkesan satir. Waktu, tempat, dan penulisnya. Profil dan biodata diri seluruh anggota baru timnas junior sesuai kertas yang Hibiki berikan padanya. Histori dan kronologis permainan basket mereka dari awal sampai sekarang.

Ringkasan permainan basket mereka sampai pada pertarungan Ten on One melawan Hayate Kaze. Kemudian testimoni dan eksplanasi aksi yang terjadi di Tokyo Sky Tree. Dilanjutkan dengan kalkulasi lima abiliti setiap pemain, antara lain: Fisik, Teknik, Stamina, Kekuatan Mental, dan Talenta Istimewa.

Terakhir, ditutup dengan riwayat cidera atau penyakit yang pernah diderita sampai cidera baru kemarin dan anggaran biaya ritual tersebut ditulis terperinci.

Sesekali ekspresi para pelatih berubah tatkala membaca laporan tentang pebasket, anak didik mereka sendiri. Roman mereka mengeruh terutama membaca fakta bahwa tidak ada satu pun anak-anak tersebut yang tidak cidera, semakin indignan usai mengetahui laporan medical check-up dan pengobatan mereka.

"Jelaskan!" Genta membanting laporannya, terengah-engah menatap marah Kagetora. "Apa yang kaulakukan pada anak-anak itu?!"

"Sudah kuduga, ini terlalu mendadak. Keputusanmu untuk menguji mereka di Sky Tree terlalu gegabah." Araki menatap tajam pada Kagetora yang kini menegapkan tubuhnya.

"Semua kecuali Momoi-san cedera parah." Katsunori mengetuk lembar yang mengulas hasil medical check-up timnas junior.

Kagetora mengangkat tangan untuk menghentikan protes dari rekan-rekan setimnya dulu. "Mereka berhasil menyelesaikan ujian ini."

"Kita semua tahu mereka mampu, namun ada yang aku tidak mengerti. Mimisan, cidera kaki atau lengan bisa dipahami, amat lazim. Tapi benjol di kepala, memar di perut, dan luka serta bengkak di punggung tangan … bagaimana bisa?" Nakatani menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.

Pria bermarga Aida itu memutar kedua bola matanya. "Asal kalian tahu, bocah-bocah kalian itu bertarung lebih barbar dari kaum kanibal yang menderita busung lapar. Sudah kusiapkan hard-copy dari kompilasi pertarungan mereka di Sky Tree, coba lihatlah!"

Shirogane meneliti dengan seksama pada halaman yang berisi statistik abiliti setiap pebasket yang ada. Dia menjentiknya pelan dengan jemari, menyedot perhatian padanya.

"Data-data ini otentik?" tanya pelatih Rakuzan tersebut tenang.

"Kalkulatif." Kagetora sigap tanggap.

Shirogane menaruh dokumen di atas meja. "Kita semua tahu bakat mereka luar biasa, dan kau menyaksikan limit tertinggi sekaligus kelemahan terbesar mereka kini lebih dari apa yang semua lihat saat Winter Cup silam."

"Benar." Kagetora menarik napas dalam. Menghelanya perlahan. Raut wajahnya serius. "Pertama, aku mengucapkan terima kasih atas kepercayaan kalian padaku untuk melepaskan kekangan pada anak-anak itu."

Anggukan nyaris serentak.

"Kedua, aku meminta maaf karena mereka berakhir dengan cedera parah seperti ini. Aku tidak bermaksud menyakiti mereka."

Suara klik pada tombol mouse. Rupanya sekelompok kecil timnas senior mem-pause video pertandingan junior-junior mereka, turut mendengar konversasi orangtua yang duduk melingkari meja di sentral ruangan pertemuan.

Kagetora mengamburkan napas berat. Ia menarik napas dalam, baru memulai eksplanasi.

"Secara keseluruhan, untuk ukuran anak-anak sekolah menengah atas, mereka punya potensi fundamental yang mumpuni—kecuali Kuroko Tetsuya namun itu akan aku bahas nanti karena dia ini golongan anomali. Mereka telah dilatih basic-training dengan baik. Tapi tentu kalian mengerti, untuk skala internasional, baik saja tidak cukup.

"Masalah yang pertama adalah stamina mereka. Ini karena usia dan pertumbuhan mereka, usia mereka rata-rata baru enam belas tahun, kita tidak bisa mengharapkan stamina dan energi mereka dapat bertumbuh-kembang instan—tapi bisa kita akselarasi dengan regimen latihan. Ada sesuatu yang membuat stamina mereka buruk."

"Stamina?" Manajer dari timnas senior menginterupsi, ketidakmengertian terpancar dari ekspresinya. "Stamina mereka luar biasa, Kagetora Kantoku. Buktinya, tidak satu pun dari mereka pingsan di tengah pertandingan Ritual Neraka Tokyo Sky Tree."

"Mungkin kalau hanya stamina saja, sepuluh dari sebelas pemain yang ada mempunyai stamina yang baik dan bahkan luar biasa."

Hibiki menautkan jemarinya, menatap manajer timnya, mewakili para pelatih kredibel yang telah mengetahui faktor stamina memegang peranan paling penting dalam permainan menjawab ketidakpahaman.

"Kita tahu betapa mengerikannya bertarung di Tokyo Sky Tree. Kita juga tahu bahwa energi kita tidak seharusnya habis pada saat pertandingan resmi daripada di Tokyo Sky Tree, tapi kenapa kita lebih lelah di pertandingan asli ketimbang pertarungan di Sky Tree?"

"Karena kurang stamina?" Manajer muda itu berpikir sejenak, menganalisis salah satu televisi yang ditatapi oleh seluruh anggota timnas lain. Klimaks Ritual Neraka di rooftop.

"Tidak, bukan kurang berstamina. Tapi faktor. Faktor apa yang mengurangi drastis stamina?" Sang kapten memandang sabar pada manajer mereka.

"Mental pressure." Semua orang dalam ruangan itu menoleh pada salah satu dari tactician timnas senior sekaligus kakak lelaki dari gadis yang didaulat sebagai manajer. "Karena dalam pertandingan resmi, kita mendapatkan tekanan mental yang luar biasa. Adrenalin dan hormon yang bergejolak, pengaruh dari perubahan emosi yang terjadi sepanjang jalannya pertandingan, hal itulah yang menyebabkan pemain lebih sering merasa lelah setelah pertandingan daripada saat latihan—walau pada kenyataannya latihan jelas jauh lebih berat."

"Lihatlah mereka." Satu lagi tactician timnas senior memosi pada deretan laptop yang menampilkan pertandingan ganas di tiap check-point. "Kekuatan mental dari sebagian besar anak-anak ini luar biasa, seharusnya. Tapi kita bisa lihat, mereka masih sangat terpengaruh pada perasaan mereka. Perasaan itulah yang jadi beban tekanan mental mereka."

"Jadi mental pressure itu berpengaruh besar pada stamina, huh." Seseorang yang dianggap paling bungsu dalam timnas tersebut berhenti menelisik layar laptop, mendengus pelan. "Mereka masih bocah."

"Kau juga bocah." Pemuda albisian berjulukan hantu itu mengelus puncak kepala pemuda yang paling belia di antara mereka. Pemuda tersebut menepis tangannya, jadi dia terkekeh aneh. "Bagaimana pendapatmu? Kau yang paling mengenal mereka, Otouto yo."

Atensi refleks teralih pada seseorang yang kini berpikir masak-masak untuk menganalisis. Dia berdeham pelan lalu menjawab dengan pandangan mata terpancang pada layar yang merepetisi rekaman pertandingan lagi.

"Mereka sangat hebat. Lebih daripada aku."

"Astaga dia merendahkan diri!" Pemuda yang merupakan pebasket ahli aerial battle itu refleks berseru syok.

"Diam, Senpai. Kita tahu bahwa mereka bisa menyaingi bakat kalian semua." Urat di dahinya berkedut keras. Dia menghela napas untuk menangkan diri, sejenak sorot pandangnya melunak.

"Mereka dulu adalah tim impian semua tim basket di dunia ini. Tapi sesuatu terjadi antara mereka, aku tidak tahu kronologis pastinya karena aku tidak ada di sini saat semua itu terjadi. Yang jelas, aku bisa melihat stamina mereka jauh lebih baik dan perkembangan pesat mereka bahkan jauh melebihi bayanganku."

"Tim impian … well, melihat mereka tidak pernah lelah membuat keributan, kurasa stamina mereka memang luar biasa," timpal pemuda yang menjabat sebagai timnas center geli. Cetusannya menimbulkan tawa kecil dari yang lain.

"Aku mengerti sekarang." Kagetora mengangguk, gestur berterimakasih pada tim yang telah dilatihnya selama beberapa waktu. "Jika apa yang terjadi di antara mereka itu begitu emosional, dan perasan itu menjadi tekanan mental sehingga stamina mereka jadi buruk karena pengaruhnya, kurasa hal ini yang perlu aku ubah. Aku tahu perasaan dan motivasi yang paling berpengaruh pada moral pemain serta tim."

"Kau harus mengubah perasaan mereka itu pada perspektif yang positif." Katsunori mengetukkan jemarinya pada dokumen yang diberikan pada para pelatih seraya melirik Kagetora.

Shirogane menghela napas pendek. "Walaupun pada kenyataannya, perasaan, emosi, dan motivasi saja tidak cukup untuk mendapatkan kemenangan."

"Mereka masih remaja dan hasrat mereka untuk menang luar biasa. Sayangnya, tindak-tanduk dan perilaku mereka bertendensi tidak hanya pada insting atau intuisi. Mereka terlihat punya aura pemberontak," ujar Genta yang membenarkan posisi duduknya karena kursinya terlalu sempit untuk dirinya.

"Aura pemberontak?" Araki mendengus geli. "Bagiku, mereka terlihat seperti punya ikatan kuat satu sama lain. Atau paling tidak, beberapa di antara mereka."

"Ikatan, hmm …" Nakatani bertopang dagu. "Pengaruh teman setim di sekolah yang sama atau pernah jadi teman setim basket sebelumnya. Jika saja mereka bisa mengesampingkan perasaan mereka itu agar tidak menekan mental sehingga mengurangi stamina mereka, atau mengubah perasaan mereka jadi kekuatan. Tekad untuk berjuang sampai menang."

"Mereka belum sedewasa itu dalam sisi emosional, dan aku memaklumi—dulu kita semua pun begitu." Kagetora menuliskan EQ, kekuatan mental, di halaman yang mengulas data kalkulasi stamina anggota timnas junior. "Tapi aku akan berjuang untuk merealisasikan yang terakhir, Mabo."

Araki menoleh pada Kagetora yang menambahkan beberapa catatan pada dokumennya sendiri. "Lalu bagaimana dengan Kiseki no Sedai sendiri?"

"Tentu konklusi masalahnya kalian sudah tahu." Mendengar pertanyaan itu, Kagetora berhenti menulis untuk menegakkan tubuhnya. Menghela napas panjang. "Khusus Kiseki no Sedai, kelemahan mereka adalah bakat mereka yang terlalu berlebihan. Mereka memiliki talenta dan kekuatan yang terlalu jauh melampaui anak-anak sekolah menengah atas sebaya mereka.

"Namun, mereka masih di usia pubertas, masih dalam masa pertumbuhan. Karena badan mereka masih riskan dan rentan di masa ini, belum bisa mengemban bakat mereka, tubuh mereka tidak kuat—berbanding terbalik dengan perkembangan kilat bakat mereka."

Genta mengangguk, pemahaman tersirat dalam ucapannya, "Makanya, mereka harus dilarang memakai kekuatan penuh mereka atau bisa berakibat fatal sepert ini."

"Tidak hanya itu." Katsunori memilin poninya yang menjuntai elok. "Mereka perlu dikendalikan untuk tidak menghabisi pemain-pemain lain yang lebih lemah dari mereka."

"Kenapa begitu? Bukan salah mereka kalau mereka terlalu kuat." Genta menyanggah. Pria gempal itu memicingkan matanya yang terapit tembamnya tulang pipi pada pelatih Too itu.

Bukan rahasia umum lagi bahwa Genta selalu menyeteru apapun yang Katsunori lakukan atau katakan. Intensinya bertindak demikian pun bukanlah hal yang abnormal.

"Aku setuju dengan Kat-chan." Kagetora mengelus-elus dagunya yang dirambati jambang halus, menekan keinginannya untuk menyeringai dengan kesengitan Genta pada Katsunori yang membuatnya tersenyum bernostalgia.

Nakatani menyahut, "Bukan hanya mereka menghancurkan para pemain lain yang bisa berkembang, tapi mereka juga menyakiti diri sendiri. Terlalu kuat membuat mereka terisolasi dan mungkin merasa tersepi karena tidak ada saingan yang bisa memuaskan nafsu rival mereka."

Katsunori tersenyum tipis. "Anak didikku ada yang seperti itu."

"Aku tidak setuju. Dengan membuat Kiseki no Sedai jadi pengalah pada yang lemah, itu menghalangi mereka untuk bertumbuh-kembang. Lagipula, itu tindak ofensif pada mereka yang telah berjuang habis-habisan, tapi Kiseki no Sedai mengalah karena tidak mau mereka jadi membenci basket dan berhenti memainkannya." Kerutan dalam menoreh dahi sang pelatih tim Rakuzan.

"Pada kenyataannya—" Kagetora memutar sedikit kursi rodanya menghadap rekan sejawatnya yang punya IQ paling brillian. "—di generasi mereka, selain begitu banyak pemain basket potensial, banyak juga yang berhenti dan jadi membenci basket karena monster-like bakat yang mereka punya menghancurkan golongan tersebut, Shiro-chan."

Sebelum Shirogane membantah, Nakatani menyela, "Bisa saja kita buat mereka jadi pemain monster seperti yang disebutkan orang-orang. Tapi kalau kita main mengasah saja bakat mereka, itu berarti kita hanya mengeksploitasi mereka tanpa memedulikan perasaan mereka."

"Bakat mereka tidak bisa digeneralisasikan dan perasaan mereka juga tidak bisa kita abaikan," tanggap Araki serius. "Bagaimanapun bukan mereka sendiri yang menginginkan beban seberat ini di pundak mereka. Konteks yang kita bicarakan ini sudah bukan dalam skala publik nasional atau daerah, ini skala internasional dan bakat mereka memadai—bahkan lebih. Justru saat ini dengan kendala kondisi fisik mereka belum terbentuk sempurna, kita terbentur oleh hal itu."

"Dan sebaliknya, kita harus mengimprov kemampuan mereka hingga ke titik kulminasi. Untuk saat ini, mengenai dampak setelah kita melatih mereka, juga masalah mereka harus mengendalikan diri bertarung dengan pemain yang tidak sepantaran mereka, tidak perlu kita pikirkan." Shirogane menopang dagunya di atas tautan jari-jarinya. "Toh ini tidak seperti mereka tidak akan berhadapan satu sama lain lagi. Skala prioritas kita tersekat pada satu tujuan, yaitu menjadikan mereka tim yang kapabel untuk menggapai kemenangan dan mengangkat lagi harkat-martabat Jepang serta, mengharumkan nama Negara lagi di kancah basket."

Sejenak mereka semua terdiam untuk mencerna baik-baik konversasi dibelenggu atmosfer berat yang mencekam.

Kagetora mengacak rambut coklatnya sekilas, mendesah panjang."Oke, jadi konklusi akhir adalah mereka bermasalah dengan stamina, mental, perasaan, dan bakat."

"Kau tahu apa yang harus kaulakukan, Kagetora?" Nakatani melirik tajam pada ayah dari Aida Riko tersebut.

"Lihat pada siapa kaubicara, Mabo." Kagetora menyeringai malas khasnya membuat para pelatih lainnya mempertimbangkan untuk menamparkan dokumen ini ke kepala coklatnya. Dia refleks berdeham untuk menetralisir ekspresinya, kemudian mengedarkan pandangan. "Hanya itu saja yang saat ini bisa kulaporkan."

Para pelatih saling mengangguk dan membenarkan lagi posisi duduk mereka. Itu adalah tanda babak kedua diskusi dengan topik berikutnya dimulai.

"Baiklah, giliranku." Shirogane menegakkan duduknya. Wajahnya serius, jeda yang diberikannya merembaskan suspense ke seantero ruangan. "Sejak berita acara FIBA disebarkan pada akhir Winter Cup tahun lalu, bukan hanya tiap Negara mulai memfiltrasi para pemain terbaik di negerinya masing-masing."

"Maksudmu … mereka sudah mulai stalking and scouting?" tanya Genta bingung.

"Benar." Shirogane mengangguk. "Cina dan Korea yang berbagi informasi."

"Negara mana?" tanya Araki retoris.

"Amerika." Shirogane mengerjapkan mata sekilas.

"Tsk. Mereka selalu mempreparasi segalanya seribu langkah bahkan jauh sebelum tip-off." Kagetora mendecih tak suka.

"Bukan hanya itu. Ini karena setelah kekalahan telak Jepang di FIBA tahun lalu, ketetapan dewan tertinggi FIBA bahwa kita sebagai tuan rumah, keputusan ekstrim yang kita—dan bersikeras kau minta, Kagetora—lakukanlah membuat mereka jadi waspada pada Jepang, terutama tahun ini," tutur pelatih tim basket paling veteran di antara yang lain.

Orang-orang dewasa tersebut mengedarkan pandangan pada divisi muda rahasia rekrutan Kagetora yang dibentuk tahun lalu.

Timnas senior memang memiliki banyak anggota tim berjumlah puluhan atlet pilihan terbaik dari seluruh prefektur Jepang. Tapi di antara puluhan atlet tersebut—yang tidak hanya berasal dari seantero Jepang, ada divisi muda rahasia yang mengenyam pelatihan understudy, dibentuk Jepang khusus untuk menyabet Naismith Trophy agar tidak memalukan Jepang sebagai tuan rumah—kompensasi dari keterpurukan dan kejayaan Negara lain.

Ada rahasia yang mengintai tim ini. Ada noda yang menoreh nama mereka. Ada dosa yang menyayat persona mereka.

Kagetora menyeringai. "Tahun ini akan jadi tahun kebangkitan Jepang. Bukankah begitu, Anak-anak?" Pria tersebut melirik timnas senior terbaik yang jadi alasannya kembali pada dunia olahraga, pada pengabdiannya sebagai pelatih basket.

"Hai', Kagetora Kantoku!"

"Jangan besar kepala dulu," tegur Araki sembari mendengus, "Kau sendiri yang sempat frustrasi setelah sidang FIBA tahun lalu."

Kagetora nyaris terjungkal dari kursinya mendengar teguran dingin itu. Ia mengempas ekshalasi singkat. Bertukar kerlingan dengan Shirogane—menyadari mereka sama-sama bernostalgia.

Setahun sebelumnya, pasca FIBA tahun lalu, diadakan sidang penentuan lokasi tuan rumah FIBA tahun berikutnya oleh dewan-dewan petinggi. Setiap Negara didaulat untuk mengirimkan representator masing-masing.

Asosiasi Basket Jepang meminta Kagetora dan Shirogane untuk pergi ke Amerika dan menghadiri sidang tersebut. Mereka datang ke sana, mengikuti rapat akbar tersebut, tidak bisa mengelak selain menerima putusan dewan petinggi FIBA bahwa FIBA berikutnya diselenggarakan di Jepang, dan membuat keputusan ekstrim.

"Tsk. Aku tidak suka mengingat tentang mereka." Kagetora menutup sebelah matanya dengan telapak tangan kanannya. "Mengerikan."

"AAAAARGH!"

"Jangan berteriak, Masaaki!" hardik Nakatani seperti zaman dulu kala apabila Genta terlambat mengambil loose-ball.

"A-aku baru ingat!" Genta menoleh horror pada Shirogane. "Kenapa kau tidak menyampaikan berita itu?!"

"Yang mana—" Shirogane mengerjapkan mata, tercenung sesaat. Roman wajahnya berubah, rahangnya mengeras. "—ah, maaf. Berita berikutnya … musim panas nanti, Jabberwock akan berkunjung ke mari."

Hening menggerus suara-suara yang bertaburan di udara.

"APA?!"

Serentak semua yang berada di ruangan itu didera syok menyakitkan.

Kagetora membanting dokumen ke meja. "Ah, mereka itu! Sudah mengirimkan stalkers, sekarang mendatangkan Jabberwock. Sebenarnya apa yang mereka mau?!" sergahnya emosional.

"Bukankah itu gara-gara kau dan Shirogane sendiri, eh?" Katsunori balik bertanya, retoris tersisip sinis di setiap katanya.

"Aku tidak melakukan apa pun dan Jabberwock jadi ke mari bukan salahku." Shirogane mendelik dingin pada Katsunori.

"Hanya Jabberwock ini." Genta bergumam geram. "Oke, kita cukup beruntung."

"Cukup beruntung? Itu sial namanya! Begini, ibaratnya seperti timnas senior Jepang yang punya Von dengan Taizai no Sedai. Dan anak-anak timnas junior yang memiliki Kiseki no Sedai serta tim mereka—aku belum memberikan nama pada tim mereka." Kagetora memijat kepalanya yang makin terasa pening. "Bagaimanapun juga, mereka tidak bisa diremehkan. Karena Jabberwock adalah tim inti dari Generation of Miracles."

"Mereka ingin disambut oleh kita, sebagai tuan rumah, sebagai pembukaan," terang Shirogane lagi.

"Official match?" tanya Nakatani cemas.

Shirogane menggeleng sekilas. "Untungnya tidak, paling hanya streetbasketball."

Kapten timnas senior inti ini meminta kesempatan untuk bicara dengan gestur formal, dipersilakan oleh Kagetora. "Itu kesempatan bagus untuk kami. Bagaimana kalau kami yang menghadapi mereka—"

"Tidak." Kagetora lekas memotong. Pria itu menggeleng keras. "Kalian tidak disiapkan untuk melawan tim selevel Jabberwock—"

"Kantoku, ini kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang sangat berharga—"

"—aku tahu. Tapi kalau menunjukkan kalian pada non-official match begitu saja, itu sama dengan kerja keras kami merahasiakan kalian sia-sia belaka."

"Tapi dunia juga tahu bahwa kami ada di sini—"

"—itu setahun lalu, Hibiki. Apa yang dulu mereka tahu dan sekarang, semuanya berbeda."

"Kagetora Kantoku, selama musim turnamen nanti pun, meski kami telah berbeda, tetap akan ada mata-mata tim lain yang memata-matai tim ini dan mencari track-record karir bermain kami maupun perkembangan selagi FIBA berlangsung—"

"—tidak. Membiarkan kalian bermain melawan Jabberwock yang notabene bukan yang sepantasnya kalian lawan, sama dengan menelanjangi diri pada musuh. Kau tidak dengar tadi bahwa Amerika sudah mulai stalking and scouting?"

"… atau sebenarnya Kantoku takut kami kalah pada Jabberwock?!" Salah satu dari ace tim menggebrak meja, mata hijaunya memijar emosi. Dia menggeram perlahan ketika kaptennya membungkam mulutnya dengan telapak tangan.

"Tidak. Justru aku yang takutkan adalah kalian kelewatan mengeluarkan kemampuan dan mereka tahu siapa serta kondisi kalian saat ini, Negara lain pun akan mengantisipasi kita sejak awal."

"Mereka itu sangat kasar, brutal, ganas, arogan—" Pemuda yang paling muda menyuarakan apa yang diketahuinya seraya melirik senior yang duduk di sisinya, "—dan sialnya berbakat."

Seseorang berdeham. Satu dari tactician utama mereka menegakkan tubuhnya. "Sebaiknya kita ikuti Kagetora Kantoku. Beliau benar, kita tidak bisa hanya menyambut berandalan seperti mereka dan kehilangan segala ha yang kita pertaruhkan untuk mendapatkannya selama ini."

"Tapi ini kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang bagus, Onii—"

"Aku setuju dengan kakakmu." Partner tactician yang satu lagi berkata serius pada sang manajer. "Kalau kita hilang fokus saat ini—untuk memenangkan FIBA, hanya menang dari Jabberwock dalam pertandingan street basketball dan tidak ingat kita harus menang berkali-kali ke depannya, bisa sia-sia apa yang sudah kita semua lakukan untuk kita. Dan satu hal yang paling penting, kita tidak boleh salah langkah sedikit pun."

"Jabberwock tidak mungkin tidak memberitahukan informasi tentang kita pada timnas Negara mereka kalau kita turun menghadapi mereka," timpal seseorang yang sebelah matanya lagi tertutup untaian poni. "Kalaupun tidak, liputan berita yang akan memberitahukan Negara lain tentang kita."

"Aku tidak senang dengan kenyataan kita tidak seharusnya melawan Jabberwock—" Pemuda yang ahli aerial battle itu menghela napas panjang, "—tapi benar, kita tidak boleh membuka celah sedikit pun untuk kemungkinan kalah. Tujuan kita adalah jadi Tuan Rumah untuk FIBA dan memenangkan piala Naismith!"

"Tunggu."Pemuda yang paling muda mengangkat tangannya. Tercenung bingung. "Kalau bukan kita yang melawan, lantas siapa lagi yang bisa?"

Sedepa jeda.

Kekeh aneh membuat seluruh presensi di ruangan bergidik sepintas karenanya.

"Kantoku, ada mereka, 'kan?"

Semuanya mengikuti telunjuk kurus nan panjang Hayate yang menunjuk lurus pada layar televisi.

Puluhan bola mata terbeliak.

"Tidak, Hantu." Kagetora refleks menggeleng-gelengkan kepala. "Aku juga tidak akan mengorbankan mereka untuk melawan tim inti Generation of Miracles."

"Kagetora, kenapa kau keras kepala sekali tidak ingin kedua timnas turun melawan Jabberwock?" Volume suara Genta meninggi. "Karena tidak mau menelanjangi diri pada musuh, huh? Ubah paradigmamu! Jadikan ini kesempatan untuk mengobservasi lawan! Sekarang ataupun nanti, anak-anak itu akan bertarung melawan Generation of Miracles dengan Jabberwock!"

"Karena mereka harapan kita!" seru Kagetora seraya membantingkan telapak tangannya keras-keras ke meja. "Walaupun anak-anak ini tidak mengerti seberapa besar beban negara di punggung mereka, tapi kita memaksa mereka untuk menerimanya dan melakukannya demi mengubah masa depan perbasketan yang suram di Jepang. Ini pertaruhan yang kita tidak boleh kalah ataupun salah langkah!"

"Jadi, kau ingin melindungi mereka sampai taring mereka benar-benar terasah baru kau ingin mereka mencabik-cabik musuh, huh?" Shirogane tersenyum tipis menyadari perkataan Kagetora menyentak Genta dan beberapa orang lainnya di ruangan itu seperti sambaran petir imajiner.

"Paling tidak, untuk seorang pelatih yang didaulat harus egois untuk menuntaskan misi ini, inilah yang bisa kulakukan." Kagetora mengangguk tegas.

Anggota-anggota timnas senior saling menghela napas. Saling berpandangan, satu per satu dari mereka mengangguk. Pelatih mereka memang kejam, tidak berperikemanusiaan, sadis, bengis, obsesif—terutama pada putrinya sendiri, tegas, dan metode pelatihannya ekstrim.

Namun dia selalu jadi sandaran mereka. Seseorang yang mendorong punggung mereka di belakang agar mereka berlari sekuat tenaga, seseorang yang tidak akan mengusap cucuran airmata mereka tapi mengajari mereka untuk menyekanya sendiri dan bangkit lagi, serta seseorang yang akan berdiri tegak dan gagah di depan untuk melindungi mereka.

"Kagetora Kantoku memang keren." Hayate yang pertama mengemukakannya disambut dengan anggukan dari anggota timnas senior yang lain, juga— "—dan … kejam." Dia tersenyum lugu khasnya dan menuai anggukan setuju nan salut dari teman-temannya.

Kagetora mendengus pelan. "Aku tidak tahu harus tersanjung atau marah, tapi terima kasih." Pelatih olahraga ternama itu menyeringai kemudian. "Jika saja bocah-bocah itu juga bisa berpikir seperti kalian."

Sampai pada tahap ini, Kagetora belum tahu bahwa murid-muridnya di timnas junior telah berpikir demikian.

"Suatu saat nanti, mereka pasti juga akan berpikir sama, Kantoku." Sang manajer tersenyum manis pada pelatih mereka.

Katsunori menghembuskan napas panjang. "Oh, baiklah. Kembali ke fokus utama kita. Apa yang harus kita lakukan?"

Sesaat tik-tok jam dinding mengetuk-ngetuk keheningan berdampingan dengan derum air conditioner.

Seseorang yang dari tadi bungkam meneguk lamat-lamat kaleng terisi kopi pahit, akhirnya meletakkan kopi pahitnya. Dia menggemeretakkan leher sekilas. Tindakannya memagnet atensi yang lainnya.

"Kita harus membuat sirkumstansi di mana kita semua bisa mengobservasi mereka, terutama timnas junior, tapi Jabberwock tidak sadar bahwa mereka diawasi oleh kita."

Satu per satu orang-orang di ruangan mengangguk menyetujui perkataan pebasket tersebut.

"Bagaimana cara kita membuat situasi seperti itu?" tanya partner akrab pemain tersebut yang mengibaskan poni panjangnya yang menghalangi pandangan. "Jadi kita buat timnas junior memata-matai mereka?"

"Kedatangan Jabberwock pasti diliput media. Kalau pertandingan mereka disiarkan—atau pihak Asosiasi Basket Jepang bisa mengoordinasi media massa agar pertandingan Jabberwock disiarkan, timnas junior tidak perlu memata-matai mereka ke lapangan." Satu-satunya blonde di timnas senior yang dari tadi bertopang dagu dan diam saja akhirnya menegakkan duduknya.

"Ide bagus. Tapi, timnas Jepang tidak boleh menghadapi mereka. Kembali ke pokok permasalahan semula, siapa yang bisa?" tanya pemuda yang dari hitungan usia terbilang muda daripada yang lainnya.

Sunyi lagi. Semua berpikir keras untuk mencari figur para pemain yang bisa menghadapi para pemain dari Generation of Miracles tersebut.

Sang kapten timnas senior tiba-tiba tertawa kecil, menyedot atensi padanya. Berbanding terbalik dari tawa ramahnya, semua bergidik melihat sorot matanya.

"Siapa pun bisa." Hibiki berekshalasi, konfidensi tersemat dalam usulannya. "Saat ini, para pemain basket kira-kira angkatan timnas junior itu kuat-kuat. Bentuk tim beranggotakan pebasket-pebasket tersebut untuk menyambut Jabberwock."

Kerjapan mata.

"Kalian ini—" Keseriusan teretas, Kagetora tertawa lepas. Usai tawanya mereda, dia menepukkan tangannya. "—oke, Kat-chan, Araki-chan, kalian ikuti kata-kata Hibiki."

Pria itu menoleh pada Genta yang menggerundel sebal karena Araki dipasangkannya dengan Katsunori.

"Gen-chan, kau dan Shiro-chan mengoordinasi media massa untuk menyiarkan pertandingan Jabberwock untuk musim panas nanti."

Terakhir dia melabuhkan pandangan pada Nakatani. "Mabo, aku percayakan padamu untuk melatih tim yang akan bertarung melawan Jabberwock. Mau kau melatihnya, mengawasi mereka atau apapun, terserah."

Orang-orang dewasa itu mengangguk.

Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang mereka memang lebih tua dan berpengalaman, tidak seharusnya para pemuda-pemudi timnas senior itu yang menginisiasi mereka untuk melakukan hal ini.

Bukan hanya intelijensi tinggi dan fisik lebih dari memadai yang mereka punya—para pelatih mengetahui hal tersebut, namun kharismatika yang terefleksi dalam aura mereka impuls membuat mereka dihambur respek dan begitu disegani.

Sungguh beruntung mereka berada dalam naungan asuhan Kagetora, dan mantan pemain timnas Jepang itu juga beruntung karena mendapatkan pemuda-pemudi ini sebagai muridnya.

Mereka mulai berbagi tugas untuk melaksanakan instruksi Kagetora tersebut sementara yang bersangkutan tengah berterimakasih pada tim asuhannya.

"Dasar bossy." Genta menyipit pada Kagetora. "Apa yang kaulakukan, huh? Kau memberikan kami banyak pekerjaan. Tidak adil."

"Heh, pekerjaanku banyak."

Kagetora menyeringai mengesalkan—membuat Genta berpikir seribu kali untuk mencopot sepatu dan menimpuk kepala coklat itu dengan sepatunya.

"Mengurus timnas itu sudah pekerjaan terbanyak untukku."

.

#~**~#

.

Sesi rehat itu diselingi dengan coffee break yang ternyata telah disiapkan oleh Kagetora melalui timnas senior divisi rahasianya.

Para pemuda dan pemudi itu membawakan water-heater, berbungkus-bungkus teh, kopi, dan susu, serta menyajikan camilan sederhana berupa dango dengan sirup dan serpihan lembut kacang, mochi, dorayaki, serta roti panggang dengan selai-selai coklat, kacang, maupun stroberi. Semua sajian itu diletakkan di meja lain yang merapat pada dinding ruang meeting.

Selagi mantan rekan-rekan setimnya berdiskusi mengenai pekerjaan mereka sembari menikmati coffee break, Kagetora beranjak dari kursinya untuk mengitari timnas senior. Mengucapkan terima kasih seraya menepuk bahu-bahu bidang pemuda-pemuda dewasa itu satu persatu atas bantuan dan kesediaan mereka hadir di rapat ini, juga pada sang manajer dan kakaknya yang bersedia tidak tidur semalaman untuk mencetakkan rekaman CCTV pada keping kaset.

"Kantoku, Anda melukai mereka." Hayate mencetus. Jeda. Mengekshalasi karbondioksida secara dramatis. "Parah."

"Apa-apaan jeda lalu kaubilang "parah", eh?" Kagetora menjitak kepala si albisian itu. "Mereka terluka sendiri."

"Setidaknya kondisi kita lebih baik daripada mereka setelah ujian di Tokyo Sky Tree." Center mereka melirik pelatih yang berdiri di antara sang kapten dan pebasket hantu. "Bagaimana kondisi mereka, Kantoku?"

"Buruk." Kagetora menjawab tanpa dosa.

'Sudah kami duga.'—terpampang di wajah seluruh anggota timnas senior inti.

"Mereka tidak mungkin latihan dalam waktu dekat," lanjut sang pelatih seraya mengamati layar laptop milik sang kapten yang kembali memutar ulang pertarungan di check-point berinterior khas zaman Edo. "Aku akan memastikan mereka sembuh dan pulih dulu, baru waktu latihan pun dimulai."

"Hah?" Hibiki melongo dibuatnya. "Kantoku, lalu bagaimana dengan janjiku?"

Kagetora menatap pemuda yang menatapnya, tidak mengerti dengan kebingungannya. "Janji apa?"

"Maaf aku baru memberitahumu. Kemarin, saat Akashi datang pertama ke gim karena Anda memberitahukan tentang Ritual Neraka di Tokyo Sky Tree—"

"—oh, iya. Ada apa dengan Akashi?"

"—dia bilang padaku, setelah mereka semua lulus ujian nanti, dia ingin timnas junior dipertemukan dengan timnas senior. Dia ingin pertandingan lagi."

Jeda.

"Timnas junior sudah bertemu dengan timnas senior."

"Kantoku, Anda mengerti maksud Akashi dan saya."

"Pasti hasil pertandingan Ten on One sangat mengecewakan dan mengejutkan baginya, serta teman-temannya." Kagetora tertawa pongah. Dia mengacak rambut si pemuda pecinta payung yang berjengit tidak suka disentuh-sentuh sembarangan. "Bagaimana bisa dia tahu ada timnas senior inti?"

"Dia tidak tahu, kurasa." Hibiki menyingkirkan dengan sopan tangan Kagetora dari rambut partner-nya. "Kukira dia pasti berpikiran bahwa timnas senior adalah yang waktu itu dilihat saat destiny-match Ten on One."

"Hmmm ... baiklah, setelah mereka sembuh nanti, kalian harus menyambut mereka." Kilat tajam di mata Kagetora membalurkan nuansa suspense pada para pemuda di sekitarnya. "Jangan hancurkan mereka. Mengerti?"

"Hai', Kantoku!"

"… ukh, aku tidak ingin melawan mereka lagi." Hayate limbung, menghamparkan tubuh bagian atasnya ke meja dengan kepala berbantalkan punggung lengannya. "Mereka mengerikan."

Teman-temannya tergelak, terpingkal-pingkal mendengar pernyataan itu.

"Kau bilang mereka mengerikan, kau yang menang dari mereka bersepuluh sekaligus, Senpai!" seru pemuda yang paling muda di sana gemas.

Hayate mengibaskan tangannya kuyu. "Itu keberuntungan." Mendadak fitur wajahnya kaku, horror. "Tidak, itu pemaksaan dengan ancaman. The power of kepepet."

Tawa ramai menyiangi atmosfer karena Hayate refleks tergerak untuk melindungi payungnya dari Hibiki. Mereka sudah diberitahu oleh pebasket ahli aerial battle itu bahwa Hibiki menggeser tuas emosi Hayate dengan mengancam akan membuang payungnya serta mengeluarkannya dari tim jika tidak mampu menang dari timnas junior.

"Untuk seseorang yang memakai teknik mengerikan hampir anti-gravitasinya supaya mendegradasi kekuatan mental dan membingungkan mereka, melewati mereka semua dengan ghost-drive, mengetahui timing jatuhnya bola pasti mendistraksi perhatian, lalu mencuri skor …" analisis sang tactician utama geli—dan tidak berhati, "kau akan menyakiti hati anak-anak itu juga kau bilang kemenangan hanya keberuntungan, Hayate-san."

Hayate terkekeh-kekeh. "Sekedar informasi, seseorang berhasil menjatuhkan bola hantuku. Otaknya tidak dijadikan otot."

"Akashi, ya?" Tactician itu tersenyum lumrah. "Aku tahu dia bisa melakukannya."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hayate heran.

Pemuda itu melunakkan pandangannya saat mengerling adik semata wayangnya. "Aku dan adikku mengenalnya."

Hayate mengangguk-angguk tenang, kendati kentara merasa senang. "Padahal kukira akan ada orang lain selain dia yang bisa menjatuhkan bola hantuku."

"Omong-omong soal kenal, yang aku kenal Kise-kun," sahut sang center antusias.

Tactician yang semula berbicara dengan Hayate itu tersenyum tipis pada sang center. "Karena kau seniornya dalam dunia model. Ya, 'kan?" Dan pernyataannya itu disambut anggukan oleh center tim mereka.

"Apa kau mau bilang kau kenal Midorima Shintarou?" Penguasa udara, julukan dari Kagetora pada pebasket itu, terkikik bertanya pada rekannya.

Sang rekan menekan kacamatanya ke pucuk hidung. "Tidak."

"Aku! Aku tidak tahu siapa-siapa di antara mereka!" seru ace, si tensai scorer itu ngotot.

Rekannya yang blonde tertawa perlahan. "Kenapa jadi kompetisi siapa paling tahu siapa, eh?" Dia mengerling seseorang yang paling muda, serius menontoni lagi rekaman CCTV. "Kita tahu siapa pemenangnya kalau ada kontes seperti itu."

Pemuda yang paling muda itu sadar tengah disenyumi oleh senior-seniornya, seringai tipis bermain di bibirnya. "Tentu saja. Aku bisa membayangkan reaksi mereka melihatku lagi."

"Apakah ada dari mereka yang kalian kenal atau tahu bahwa kalian anggota timnas senior inti?" Kagetora mengedarkan pandangan pada para pebasket didikannya tersebut.

Gelengan inosen membuat bulir keringat bergulir tipis di pelipis sang pelatih. "Tidak," jawab satu tim kompak.

"Baiklah. Itu yang terbaik." Kagetora tertawa puas. "Mereka akan segera bergabung dengan kita setelah nanti bocah-bocah itu sembuh. Aku mau kalian menyambut mereka dengan sangat baik."

"Osu, Kantoku!"

"Sekali lagi aku tegaskan. Jangan.Hancurkan.Mereka." Pelototan ganas. "Mengerti?"

Gidikan keras. "Hai', Kantoku."

Salah seorang pemuda mendecih ketika cairan kopinya telah tak bersisa setetes pun. Dia baru sadar lengannya dijawil oleh partner-nya yang memosi pada layar laptopya, dia menoleh tanpa minat. Dilihatnya shooter dari Kiseki no Sedai melompat. Form saat menembakkan tiga poin itu sempurna. Penuh dengan estetika.

"Dia hebat," tanggap pemuda yang menunda gerutuannya karena kopinya habis.

"Bukan itu. Kelewatan." Partner-nya menggeleng. Lengannya menyelinap di bawah lengan partner-nya yang menatap datar ke layar, menggeser mouse, mengarahkan pointer untuk memutar sekian menit belakang.

Pemuda jangkung berambut hijau dengan seorang pemuda yang tampak pemalu memasuki area check-point berinterior zaman Edo. Sesekali mereka mendribble basket. Pengumuman berdendang samar di speaker laptop, menggaungkan permohonan untuk pengunjung menepi tertib.

Mata kedua pemuda itu membulat melihat sepasang turis tidak menepi. Mulanya terpikir karena mereka tidak mengerti bahasa Jepang.

Konversasi.

"Oi, maksudmu—"

"—itulah yang kutakutkan."

Ketika Tokyo Sky Tree mengumandangkan lagi pengumuman untuk mengosongkan check-point di babak terakhir itu, respons dari si wanita pirang dan pria bule tersebut mengafirmasi asumsi mereka.

"Kagetora Kantoku."

Sang pelatih yang dipanggil teralih atensinya dari percakapan murid-muridnya yang lain pada kedua pemuda tersebut. "Ada apa?"

Pemuda itu mengibaskan poninya, menggeser laptop kawannya untuk memutar ulang rekaman CCTV. "Coba lihat ini."

Kagetora, diikuti anggota-anggota timnas senior inti yang lainnya, mendekat untuk menontoni rekaman CCTV di check-point terakhir tersebut.

"Sekilas mata, mereka terlihat seperti turis mancanegara biasa," sahut pemuda yang menemukan kejanggalan tersebut.

"Sebagai seorang turis, sudah jadi common-sense untuk beradaptasi pada adat-istiadat atau kultur di negara yang dikunjunginya. Bisa saja kita berasumsi mereka sebagai turis mancanegara, tidak mengerti apa yang diumumkan dengan bahasa Jepang oleh Sky Tree tentang pertandingan yang akan berlangsung."

Rekaman CCTV diulang sekali lagi.

"Tapi coba lihat kumpulan turis yang menepi ke kaca-kaca jendela! Semua turis mancanegara impuls mengikuti turis domestik untuk menepi, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi."

"Ma-maksud kalian—" syok pemuda yang menutupi sebelah matanya, mewakili keterkejutan yang lainnya.

"Kami tidak akan berpikir begitu, jika pria asing ini tidak menanyakan posisi mereka di lapangan dan berkata pada Midorima Shintarou, "You must be really good.", padahal belum pernah melihatnya bermain sebagai three-pointer." Salah satu ace dari Taizai no Sedai itu mengepalkan tangannya. "—ya. Mungkin informasi yang didapatkan Shirogane-san memang benar, mereka adalah—"

Kagetora membanting telapak tangan ke atas dokumen tentang timnas junior yang ditumpuk rapi hingga berserak berantakan. Menggeram marah dan menyebabkan para pelatih terbeliak mendengar hantaman gema dalam ruangan.

"—American Spies!"

.

#~**~#

.

Satu bulan kemudian.

Riko berekshalasi, bergumam yang menggerungkan pemahaman, melihat orangtuanya itu bertopang dagu sembari mengetuk-ngetukkan jari pada dokumen yang tergelar di hadapannya. Beberapa saat sebelumnya, ia mendengar papanya bercakap-cakap entah dengan siapa lewat telepon.

Berlalu ke konter dapur, Riko menjerang air untuk membuatkan teh untuk papanya. Mengherankan papanya tidak menotis kehadirannya. Atau mungkin kedatanganya disadari, tapi tidak ditanggapi. Ia diabaikan. Menelisik dari keruh airmuka papanya dan selintas percakapan mereka, Riko tahu pasti papanya menghadapi masalah lagi.

Selama sebulan belakangan, papanya mendapatkan banyak kecaman.

Setelah semua anggota timnas junior dipulangkan dalam kondisi babak belur, tidak butuh waktu lama hingga orangtua mereka menyampaikan komplen dan protes keras pada pihak sekolah. Mereka sempat mengira bahwa pelatihan tim basket sekolah kini amat berbahaya karena anak mereka pulang dengan cedera dan berbaret luka.

Sekolah menyampaikan komplen tersebut pada Kagetora yang bertanggung-jawab atas anak-anak tersebut. Kagetora meminta nomor orangtua ataupun wali murid semua anggota timnas junior, dihubunginya satu per satu seluruh orangtua dan wali murid untuk meminta maaf karena anak-anak mereka terluka.

Kagetora meminta seluruh orangtua ataupun wali murid untuk berkumpul di tempat yang diminta. Satu minggu kemudian, orangtua dan wali murid berkumpul untuk bertemu dengannya.

Kagetora menjelaskan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Dia juga memberitahukan bahwa seluruh biaya pengobatan sampai pulih, tunjangan transportasi dan konsumsi semasa pelatihan, semua ditanggung oleh negara.

Pria penyandang marga Aida itu pun terkejut. Kebanyakan orangtua dan wali bocah-bocah itu kaget bukan kepalang mengetahui anak-anak mereka terpilih mewakili negara untuk menyukseskan FIBA karena Jepang terpilih sebagai tuan rumah.

Jika sebelumnya mereka marah-marah, berganti jadi meminta maaf dan berterimakasih pada Kagetora karena telah memberikan anak mereka kehormatan seluarbiasa ini.

Tipikal orang Jepang.

Yang membuatnya Kagetora terkejut, ada juga yang ternyata tidak terkejut. Seperti orangtua Midorima dan wali dari Akashi. Menyelidik respons mereka, tampaknya kedua bocah itu sudah biasa mewakili atau membawa nama sekolah maupun daerah dalam kompetisi apapun sampai ke tingkat nasional. Alih-alih terkejut, mereka malah merasa lega.

Kedua pihak yang terlihat seperti orang berada itu menyampaikan bahwa mereka—akhirnya—memberikan izin dan dukungan sepenuhnya pada kedua anak mereka untuk tergabung dalam timnas junior.

Tidak sampai di situ, pihak sekolah pun mengajukan protes serupa karena siswa-siswa mereka cedera. Hanya para pelatih basket yang mengetahui kronologis cidera timnas junior, tidak sepenuhnya menyalahkan Kagetora karena tahu benar anak-anak tersebut cedera akibat tindakan mereka sendiri.

Kagetora meminta pihak keluarga dan sekolah tetap merahasiakan alasan kenapa para remaja itu cedera dan terluka. Berita ini tidak boleh diekspos ke publik, tidak sebait pun. Secuil saja tersingkap, berita ini akan diendus oleh para paparazzi tim musuh.

Protes terakhir adalah dari anak-anak itu sendiri. Momoi Satsuki yang memiliki nomor kontaknya, memberikan pada teman-temannya. Mereka protes terang-terangan pada Kagetora karena tidak menepati perkataannya sendiri.

Waktu pertama kali bertemu, kesepakatannya adalah mereka akan dilatih seminggu sekali setiap hari Sabtu di Tokyo National Gym. Tapi kemudian mereka menerima berita bahwa latihan mereka diundur ke bulan Juni.

Entah anak-anak itu tidak sabaran, kelebihan energi, masih terinfluensi emosi atau bagaimana, Kagetora tetap bersikukuh dengan keputusannya.

Ini bukan keputusan yang mudah karena sejak tahun ajaran baru dimulai, Kagetora sendiri telah menyiapkan regimen latihan mereka setiap minggu jadi terpaksa ia revisi dan memadatkan latihan timnas junior karena keterbatasan waktu.

Namun mengingat hasil check-up dan rekomendasi dari pihak rumah sakit, jika anak-anak ini tidak benar-benar sembuh dan langsung ditempa dengan latihan yang berat, yang ada karir mereka sebagai olahragawan bisa berakhir selamanya.

Sebagai orangtua, Kagetora tentu tidak menginginkan anaknya sendiri cedera dan cacat selamanya—terpisahkan dari basket yang sangat dicinta. Itu terror paling menakutkan.

Demi kebaikan anak-anak itu pula, Kagetora meminta para pelatih tim basket untuk menghentikan kegiatan berat latihan di tim basket sekolah masing-masing. Juga meminta perwakilan para pelatih olahraga itu untuk bicara pada guru olahraga sekolah masing-masing agar tidak memberikan olahraga berat bagi pebasket yang menderita cidera parah.

Para pelatih tim basket itu pun mengarahkan teman-teman satu klub mereka untuk mengawasi anggota-anggota timnas junior yang didera cedera parah untuk tidak sembunyi-sembunyi bermain basket.

Dalam empat minggu berturut-turut, hari Sabtu digunakan oleh wali murid atau orangtua untuk mengantar anak-anak mereka ke rumah sakit. Mereka berhak mengetahui anak mereka akan sembuh sepenuhnya dan baik-baik saja. Tentunya tidak ada celah bagi bocah-bocah itu untuk mengelak dari perhatian yang ditumpahkan dari orang-orang terdekat.

Dengan koneksi koperatif dari semua pihak yang bekerjasama untuk kebaikan dan kondisi prima anak-anak tersebut, Kagetora bisa bernapas lega karena kondisi mereka benar-benar dijaga baik oleh lingkungan di sekitarnya. Ia tinggal berharap mereka bisa segera sembuh dan benar-benar pulih.

Tanpa melihat langsung pun, Kagetora menerima informasi dari orang-orang di sekitarnya—seperti putrinya, bahwa beberapa bocah seketika berang merasa terkekang dan murka karena ingin bermain basket.

Perasaan-perasaan negatif itu terakumulasi selama sebulan penuh, terdistraksi hanya oleh atensi berintensi afeksi yang dicurahkan orang-orang di sekeliling mereka.

Sayangnya, satu bulan telah terlewati. Besok adalah akhir minggu pertama di bula Juni, sesuai janji Kagetora karena berdasarkan pemeriksaaan terakhir medical check-up dari rumah sakit setempat—mereka semua sudah baik-baik saja, maka mereka akan diantar oleh sekolah lagi untuk berkumpul lagi di Tokyo National Gym.

Di luar masalah itu, ia masih punya kendala dengan perekrutan tim penyambut Jabberwock—yang direkrut secara rahasia pula, kesulitan panitia penyelenggara streetbasketball untuk mencari sponsor, kesusahan memohon kerja sama media massa untuk meliput pertandingan Jabberwock musim panas nanti, menganalisis hasil stalking-scouting timnas negara-negara lain—mencari tahu saingan-saingan berat mereka, dan—

"—pasti terpikir tentang besok, ya, Papa?"

Kagetora menguap lebar sekali, menghirup wangi teh hijau yang disiapkan putrinya khusus untuknya. Matanya seketika berbinar-binar. "Ooooh! Teh cinta buatan Riko-tan—awh!"

Riko menginjak kaki papanya yang dibalut sandal rumah. Menarik kursi untuk duduk di sisi papanya dan memerhatikan lembaran-lembaran kertas yang berserakan tersebar memenuhi permukaan meja.

Kagetora menyesap sesaat teh hijaunya, mendesah senang karena teh hijau hangat ini memiliki efek penenang mujarab baginya.

"Apa yang akan Papa lakukan besok?"

Riko merasakan papanya mengerling dirinya sekilas, mata itu memicing tajam, bergulir pada kertas di hadapannya. Agenda hari esok untuk timnas Jepang baik senior maupun junior.

"Sudah memberitahukan semua yang terjadi pada mereka?" Riko meraih kertas tersebut. Di balik kacamata, menelusuri baris jadwal yang ditulis dengan tulisan anggun yang elegan—entah tulisan tangan siapa yang pasti bukan milik papanya.

Kagetora menaruh gelas tehnya. "Tidak semuanya akan kuberitahu. Yang penting untuk mereka ketahui saja."

Riko mengangguk paham. Ia tertegun membaca dua baris jadwal yang bertumpuk. "Timnas junior dua kali melawan timnas senior?"

Sedepa jeda.

Gadis berperawakan mungil itu bergidik ketika papanya tertawa antusias. "Pa, kau membuat mereka melawan timnas senior starters?!"

"Iya. Itu perjanjian antara kapten timnas senior dan timnas junior. Antara Hibiki dan Akashi."

Kagetora menghirup lagi teh buatan putrinya. Dia merasakan bintang-gemintang berkilauan dari putrinya yang berbinar-binar matanya. Dia mengeri arti tatapan yang menyayat hati itu, refleks tangannya terangkat dan ia berkata sebelum menyesap teh hijau lagi.

"Tidak. Kau tidak usah ikut besok. Terutama besok."

"Tapi aku mau melihat dan bertemu dengan mereka, Pa! Tim yang Papa latih dengan sungguh-sungguh—"

"Riko, kaupikir Papa tidak tahu bagaimana caramu menatap si kapten Abnormal, hah?!"

"Kapten Abnor—Hibiki-san?! Dia tampan dan normal dan ramah dan aku tahu dia sangat hebat, PA!"

"Kau tidak tahu saja dia adala hyena, tidak … mungkin dia serigala berwujud kucing!"

"H-hyena? Serigala berwujud kucing?" Riko memiringkan kepalanya bingung. Otak-otaknya menalar baik-baik, barulah ia menamparkan telapak tangannya ke meja. "Tapi aku ingin mengobservasi timnas senior dari divisi rahasia!"

"Jangan!" sentak Kagetora lugas.

"Kenapa?" tanya Riko geram. "Apa yang Papa rahasiakan dariku lagi?!"

Kagetora mengembuskan napas panjang seraya merapikan lembaran-lembaran yang berserakan di meja. Dia mendesah, akhirnya memutuskan menjawab sesuai ciri khas paling impresif di timnas senior reguler asuhannya.

"Karena mereka pendosa."

Gemerisik kertas merinai kesunyian.

Riko ternganga kaget. "Pe- … pendosa?"

"Begitulah." Kagetora memasukkan kertas-kertas yang telah dikelompokkannya ke dalam map bertajuk tertentu sesuai dengan kontennya. "Lebih baik kaupikirkan melatih tim basketmu besok. Papa juga harus memikirkan hukuman untuk timnas junior yang pantas untuk mereka."

"Tunggu, Papa!" Riko baru mau mencegat papanya yang beranjak sambil menguap lebar-lebar. Dia mengurung intensi untuk menarik sadis baju tidur yang dikenakan papanya.

"Lain kali, aku akan memperkenalkanmu pada mereka, tapi tidak besok." Kagetora menoleh sekilas pada putrinya. Senyum asimetris terkurva di bibirnya. "Karena kalau besok kau tetap bersikeras untuk datang, aku berani bertaruh: kau tidak akan melihat timnas senior seperti dream-team yang kaubayangkan."

Riko memandang papanya tidak mengerti, barulah ia menyadari yang diingatkan papanya memang benar. Dia punya tim basket yang perlu diurus. Merutuk perlahan karena kemauannya kali ini tidak turuti—jarang sekali papanya menolak permintaannya, gadis berambut coklat pendek itu mencuci gelas teh dan memikirkan perkataan papanya.

Lantas dirinya berkelana menyingkap tingkap-tingkap memori. Mengingat histori para pemain timnas senior yang hanya dikisahkan secara lisan oleh papanya. Tentang mereka yang dulu lawan namun sekarang menjadi lawan-kawan.

Tidakkah pemain-pemain sehebat mereka yang tersohor di masa keemasannya itu akan jadi tim impian terbaik seseantero negeri—jika bukan di kolong dunia?

Dari kilasbalik memori itu, terpusara pikirannya pada sebait nama yang tercipta usai tim itu dibentuk. Keran air yang diputar tertutup, bulir air terakhir yang mendenting kitchen sink, hingga ketidakmengertian Riko itu tergumam dalam sebait nama.

"Taizai no Sedai."

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Cieee, kali ini apdet cepet. YES. XD /segini cepat/ #iya *digampar*

Saya mohon maaf karena Kiseki no Sedai tidak ada di chapter ini. Di Arc ini, porsi timnas junior kesayangan kita akan terbagi—dan saya usahakan untuk tetap sebagai main-charas—ketimbang timnas senior serta tim pelatih.

Karena chapter ini adalah chapter pembuka dari arc 3, Taizai no Sedai/VON, memperjelas hints dari chapters sebelum-sebelumnya aja plus uraian hints lain sedikit-sedikit. Sudah saya bilang sebelumnya, tidak ada yang kebetulan di fic ini. *kedip*

Saya khawatir penjelasan di atas memusingkan karena banyak banget yang diperdebatkan/didiskusikan, ini mengenai Jabberwock. Waktu saya pertama kali nulis fic Kiseki no Nakama, berhubung waktu itu belum ada Extra Game, jadi saya nulis nama tim mereka Generation of Miracles.

Sebenernya, saya memang bermaksud untuk memakai namanya memang GoM juga, tapi tim intinya ada lagi. Seperti misalkan, timnas junior namanya tim Vorpal Sword, tapi mereka memiliki Kisedai (pemain-pemain terhebat). Seperti itu pulalah Generation of Miracles, tim inti/ace-ace mereka adalah Jabberwock.

Kalau di Extra Game, itu tim spesial Jepang yang nyambut Jabberwock kan nggak dijelaskan bagaimana bisa dibentuk, kebetulan banget (GYAHAHAHAHAHA) ngepas sama plot saya yang pengen Kagetora dkk merahasiakan timnas untuk FIBA nanti jadi mereka nyiapin tim yang terbuat dari para pebasket sepantaran Kisedai dkk. XDDD *peyuk djintah Fujimaki-Sensei*

Bedanya, tebakan saya untuk representasi pebasket di tim Jepang spesial melawan Jabberwock itu meleset total untuk perwakilan dari Rakuzan. Saya pikir Mayuzumi atau Mibuchi yang bakal mewakilkan, eh ternyata yang sama sekali tak disangka-sangka ... *speechless*

Kalau soal kapan Hibiki sama Akashi janjian seperti itu, itu sudah ada ya di chapter 6. Sengaja saya paparkan tanpa diuraikan dengan adegan. Kalau soal American Spies, itu udah saya masukin dari pas Mido sama Saku dicium dan foto-foto sama bule. XD

Fanfiksi saya ini memang canon divergence mulai dari chapter 274th (bukan 275th, karena di setting tamatnya manga, itu Kiyoshi kan pergi ke Amerika untuk mendapatkan perawatan medis terbaik sementara di fanfiksi ini tidak). Tapi ada hal-hal yang sebelumnya saya pikirkan dan match-well sama Extra Game, tetap saya masukkan di sini—karena Fujimaki-Sensei mengisi plots yang semula holes dalam rancangan plots saya.

Namun maaf jika RnR mengharapkan replika atau imitasi dari Extra Game, saya nggak bisa memberikannya. *ojigi* Ini fanfiksi versi imajinasi saya sendiri, yang mulanya juga sesederhana "Kisedai bersatu jadi tim nasional melawan musuh yang hebat". Tapi, karena nggak sesederhana Extra Game atau malah bikin ribet nasib persatuan Kisedai yang harusnya simple, saya bener-bener mohon maaf.

Satu lagi. Saya memang sudah memasukkan dua OC (sebelumnya tiga, tapi saya ganti). Dan untuk timnas senior, nanti akan ada OC tidak bernama dan mohon abaikan saja. Serta nanti ada karakter-karakter lintas fandom, crossover.

Mulai chapter berikutnya dan di chapters mendatang ketika karakter-karakter crossover itu muncul, saya akan mencantumkan disclaimer setiap fandom dari karakter tersebut.

Kalaupun RnR tidak mengetahui fandom ataupun karakternya, maka bisa dianggap OC. Tapi bisa search nama-nama mereka di google. Setting-nya selama Arc 3 (dan arc Summer Training nanti) jadi fusion.

Hints humu akan mengental. TIDAK untuk timnas junior, melainkan untuk timnas senior. Sekali lagi, saya mohon maaf juga untuk RnR yang netral. Sebenarnya masih dalam batas ambigu, tapi untuk yang tidak suka apapun berbau humu sama sekali, silakan skip chapters Arc Taizai no Sedai/VON. *sungkem dalem-dalem*

Satu lagi, mengenai kelemahan timnas junior. Itu sudah saya masukkan hints ini sejak chapter 6 (di bagian mereka nonton siaran Slam Dunk, lalu Akashi bertanya perbedaan kemampuan GoM dengan Kisedai).

Khusus untuk kelemahan Kiseki no Sedai, saya ambil analisis kelemahan mereka berasal dari manga—lupa chapter berapa—dan anime Kurobas season 2 episode 2, yang diuraikan oleh Kuroko. Kelemahan mereka adalah bakat yang luar biasa tidak diimbangi dengan laju perkembangan fisik mereka. Sisanya, hasil analisis dari manga, anime, dan tentunya yang terjadi dalam fanfiksi ini.

Anw saa, saya juga sudah memasukkan hints tentang chara yang cuma dijadikan figuran sama Fujimaki-Sensei. *diinjek* nanti ada juga di timnas senior para pendosa. Yes. XD

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan