Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)

.

So, I will survive~

Dozo, Minasan!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, shounen-ai, ambiguity, basket battle scenes, etc.

Italic: Flashback

.

SPECIAL WARNING: Khusus untuk chapter ini, ambiguitas dan hints shounen-ai lebih eksplisit dari sebelumnya. Jika tidak suka, silakan skip quarter 2 sampai setelah pertandingan selesai khusus untuk adegan bertanda yang dimulai dan diakhiri dengan tanda peringatan: (*).

Jika Anda tidak menyukainya, mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Terimaji bercarik-carik mimpi.

Tentang bayang pagi dan ceroboh seseorang dengan mulut dihinggapi sebutir nasi tersenyum terik menggenggam tangannya seraya mengenalkan dirinya hingga pada arti eksistensinya.

Tentang bayang siang tempat derajat terendah dan ia benar-benar nyaris pasrah kendati terulur bantuan memaksanya pantang pasrah.

Tentang petang senja dan roman teman-teman pertama yang menggiring basket beroperan dengannya.

Tentang kejam malam dan perubahan persona menandang perubahan hingga mungkin mereka yang meradang dekat dalam definisi jahanam.

Tentang nyala cahaya di cakrawala dan sapuan tangan-tangan yang membantunya terlepas dari bayang-bayang kemarin serta mengejang karena siluetnya terpercik secarik kunang pesinggah di daun lentik berembun saat subuh.

Tingkap langit laun terdegradasi, kini disaput lazuardi yang jernih dan menghangat. Ini bukan tentang siang karena kelopak-kelopak nyenyak telah koyak, melainkan transisi menjelang tengah hari dan bola solar antik bertengger dikecupi ujung-ujung lekuk kapas uap.

Matahari tidak mendefinisi sapaan pagi lagi—terinding ngeri. Temperatur konversasi serius pucuk-pucuk haparan itu menandingi kawah Chandra di perut bumi. Andai langit melaknat dosa yang mereka canang bersama maka sesungguhnya tak satu pun lagi peduli.

Ini tentang dendam karam sepurnama yang bersemayam di hati—tervisualisasi bukan lagi imaji.

(Kuroko Tetsuya, kali ini mengarungi kapal menerjang badai ombak bersama, membuka mata dan menemukan dirinya tidak lagi sendiri.)

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 14

"The Truth of their Sins"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Minggu pertama bulan Juni. Tepat pukul sembilan pagi.

Ralat, lewat lima menit.

Orang-orang yang berlalu-lalang di lobi Tokyo National Gym dibuat sweatdrop dengan sekumpulan pemuda yang berdiri terpencar di tangga. Terlampau intens hingga bila bergerak sedikit saja tinggi probabilitasnya rangka tulang mereka akan berderak karena terlalu kaku.

Kagetora telah meminta maaf lima menit yang lalu untuk semua yang telah terjadi, dan bocah-bocah di hadapannya, dengan rajukan khas bocah—seharusnya, tapi raut wajah dan aura mereka mengimpresi horrorisme yang meremangkan bulu kuduk—remaja yang tidak dituruti kemauannya.

"A-ano saa … Minna, Kantoku, tidakkah kita bisa masuk ke dalam? Kalian menghalangi jalan."

Cetusan gugup Momoi itu memecah intensitas bersitatap yang membuat Kagetora akhirnya bisa menghela napas sedikit lega. Sesuai dengan perkataan sang manajer timnas junior, satu per satu dari pemuda itu menepi agar tak menghalangi para atlet yang keluar-masuk salah satu dari gimnastik terkemuka di Tokyo tersebut.

"Sebaiknya kita masuk saja." Kagetora memosi ibu jari pada pintu masuk. Tak ada yang berkutik, wajah tertekuk dan ketiadaan keributan—protes kekanak-kanakan—membuatnya mendesah lelah. "Oh, baiklah. Apa pun yang kalian inginkan sebagai kompensasi karena kondisi kalian selama satu bulan kemarin, asal permintaan kalian rasional dan tidak melanggar hukum, akan kukabulkan."

"Kondisi." Cara Akashi merepetisi kata itu terdengar seperti dosa besar yang digaungkan di tepi jurang. Gestur tenang terkendali, mata tajam mengawasi, raut datar membuat kebat-kebit hati. "Anda sengaja mengondisikan kami dalam situasi yang tidak menyenangkan."

Kagetora mengangguk. Bila tidak berhati-hati dengan perkataan, tampaknya bocah-bocah merepotkan ini akan menikung nilai kebenaran pernyataannya. Percuma saja menyatakan bahwa segalanya ia lakukan hanya untuk kebaikan mereka—ditelisik dari ekspresi mereka saja, mungkin bocah-bocah ini tidak akan mengerti.

Setidaknya, berdasarkan penampilan luar, Kagetora mengetahui remaja-remaja kelebihan energi, talenta, dan adrenalin di hadapannya tampak baik-baik saja. Itulah yang terpenting saat ini.

"Aku baik-baik saja. Aku masih bisa bermain basket karena benturan di kepalaku ringan, tidak gegar otak atau apa. Tapi Kagetora Kantoku tidak lihat bagaimana Shin-chan seperti akan menangis karena Kantoku kami tidak mengizinkannya menembak tiga angka selama sebulan ini. Ya Tuhan, baru pertama kali aku melihat Shin-chan frustrasi dan—"

"Diam, Bakao. Coba pikirkan bagaimana rasanya kau bermain basket tanpa eagle-eyes."

Takao sukses berkelit dari Midorima yang hampir mencekiknya. "Mana kutahu!"

"Seperti itulah yang kurasakan." Midorima menarik kerah sweater yang dikenakan Takao, menahannya yang nyaris melesat kabur.

"Su-sumimasen, Kantoku …" Yang tampak seperti ingin menangis adalah Sakurai. "T-tim kami … A-Aomine-san—"

Aomine menyahut tajam, "Ryo, tutup mulutmu."

Momoi menepuk ringan bahu Sakurai yang menggerung lesu. Tidak perlu diungkapkan betapa mengerikannya dampratan Wakamatsu dan amukan Aomine yang tidak diperbolehkan main basket, sepertinya semua juga mengetahuinya.

"Kantoku, aku … waktu aku cidera waktu itu pun dan Masaaki Kantoku melarangku untuk berlatih, tapi tidak pernah selama ini." Amarah, hampir kekanakan, berpendar di netra sewarna topaz yang tercangkang di rongga mata Kise.

"Aku tidak menggunakan kakiku, tapi setiap aku bermain sedikit saja, tapi Riko-Kantoku dan yang lainnya langsung menguber-uberku dengan Nigou!" geram Kagami emosi.

Murasakibara berdiri menjulang di hadapan Kagetora. Auranya gelap dengan kebengisan terimpresi dari bahasa tubuhnya, dramatis ketika suara remuk maiubo menjadi BGM desisnya, "Aku ingin menghancurkan banyak hal. Sangat ingin. Tapi tidak bisa, aku dibelikan banyak camilan, dan aku tidak boleh bermain basket."

Furihata dan Himuro bertukar lirikan samar. Keduanya yang tidak cedera separah yang lain, saling menggangguk sekali. Mereka memahami kemarahan rekan-rekan setim yang nyaris frustrasi karena dikontrol untuk tidak bermain basket. Dan daripada keliru bicara serta merusak pretensi, lebih baik mereka tutup mulut.

Mereka dipisahkan dari basket, tidak bisa memainkannya sepenuh jiwa-raga—terutama raga, ibaratnya seperti kekasih yang dipaksa berpisah dan hanya berinteraksi via komunikasi jarak jauh. Rindu ingin bertemu berbanding lurus dengan keinginan berlari dengan basket dalam genggaman.

"Kagetora Kantoku." Kuroko menatap pelatihnya datar. Keseriusan berselancar dalam suaranya. "Terpisah sedikit saja dari basket itu, sama seperti megap-megap nyaris kehabisan oksigen. Aku berterimakasih untuk semua biaya pengobatan dan check-up rutin yang diberikan, tapi aku tidak bisa bilang aku merasa senang karena tidak diizinkan bermain basket normal seperti biasanya."

Momoi melirik simpatik pelatih mereka yang diam saja, berujar, "Tapi Kantoku melakukan semuanya untuk kebaikan kalian."

"Sebulan penuh padahal seminggu saja aku sudah pulih? Jangan bercanda, Satsuki." Aomine menanggapi dengan suara bariton dalam.

"Ta-tapi, hasil medical check-up kalian—"

"Kita tidak tahu apa hasil itu dibuat-buat atau tidak." Kise mengedikkan bahu kasual. "Yang punya badan kita sendiri. Menurutmu, Momocchi, tidakkah konyol jika kita tidak mengetahui kondisi badan sendiri?"

Momoi mengatup bibirnya. Tidak kuasa menyangkal. Dia melirik khawatir pada pelatih mereka, khawatir beliau akan mengeluarkan senapannya dan membidik otak-otak para pemuda bebal (nakal) di hadapannya. Ditilik dari rahang yang mengeras dan tangan terkepal erat, pria itu sebentar lagi akan muntab.

Deham yang kentara disengaja mengusik tensi yang menyelimuti mereka. Akashi telah tersenyum elegan seperti yang biasanya.

"Semuanya, cukup sampai di sini."

Hening berdesing.

Kagetora yang tegang berakhir terperangah ketika keseriusan dan kemarahan para pemuda itu teretas dalam gelak-tawa yang menyalak langit di minggu muda bulan Juni.

"Maaf, Kantoku." Akashi menundukkan kepala sekilas. Sorot matanya melunak. "Sebelum Kantoku datang, kami sepakat untuk marah sesaat. Bagaimanapun, satu bulan ini benar-benar menyiksa."

Twitch.

Kagetora merogoh saku bajunya, mencari pistol kesayangannya. "Kalian mempermainkanku, hah?!"

"Anda mengekang kami dari yang kami cintai," sanggah Akashi dengan senyum tanpa dosa.

"Astaga." Kagetora mendengus sebal. "Kupikir aku harus panggil Hayate lagi untuk membuat kalian tetap ada di timnas! Oi, Bocah-bocah, jangan main-main denganku!"

Alih-alih ketakutan, mereka menyeringai dan sebagian lagi tertawa kecil karena berhasil membuat sang pelatih mencak-mencak emosi. Tanpa disuruh, mereka berlindung dibalik penyelamat mereka, sang kapten.

"Kami tidak bermain dengan Anda." Akashi menatap pelatihnya. Sulit untuk mengategorikan ekspresinya, entah itu seringai kemenangan atau senyum sopan yang responsif. "Tadi itu kejujuran yang terpendam selama sebulan."

Kagetora berdecak seraya menyisiri rambutnya dengan jemari. "Aku sudah minta maaf dan kalian mendiamkanku bermenit-menit."

"Eh? Kami belum bilang kami memaafkan Kantoku."

Celetukan inosen Takao itu membuat rahang Kagetora nyaris jatuh dalam impresi imajiner menghantam lantai. Kagetora mulai mengisi pistolnya dengan peluru-peluru baru, dan tidak bisa menahan kembangan seringai karena bocah-bocah itu tertawa geli ketimbang takut.

"Oh, iya. Kagetora Kantoku menawarkan kompensasi untuk kekangan yang dia lakukan pada kita," ujar Akashi tenang seraya memandang rekan-rekan setimnya, "ada sesuatu yang kalian inginkan?"

"Traktir aku vanilla milkshake selama—"

"Jangan milkshake, Kuroko(-cchi/kun)/Tetsu(-kun)!"

"Cheeseburger!"

"MA-I-U-BO."

"Uwah, Murasakibara membara!"

"—kitakore."

"Oi, Kuroko, kau rindu Izuki-Senpai, ya?"

"Aku teringat padanya, Kagami-kun. Kau ingin apa?"

"Tadi aku sudah bilang: Cheeseburger, selama sebulan penuh!"

"Aku setuju dengan Bakagami."

"Oh iya, Dai-chan dan Kagamin sama-sama menyukai cheeseburger."

"Jangan junk-food—tte, kenapa hanya makanan, nanodayo?!"

"Hmmh … Shin-chan, kalau maksudmu kau ingin lucky-item sebulan penuh, bilang saja. Sekedar info, tidak ada yang mau lucky item untuk kompensasi selain kau."

"WOOF!"

"Kuroko-kun, apa yang Nigou inginkan?"

"Asupan makanan satu bulan penuh, Sakurai-kun. Bagaimana denganmu?"

"Tunggu, tunggu. Nigou, kan, bukan pemain!"

"Kenapa tidak? Makanan Nigou akan lebih murah dari cheeseburger selama sebulan, Kagami-kun."

"Tapi makanan Nigou lebih mahal dari harga milkshakes satu bulan penuh!"

"Hei, kenapa kalian hanya meminta makanan?"

"Hati mereka ada di perut, Himuro-san."

"Kau benar, Akashi. Ada sesuatu yang kauinginkan di luar makanan?"

"Belikan aku papan shogi baru, atau jadi teman bermain shogiku juga sudah cukup. Kau sendiri, Himuro-san?"

"Ah … mungkin sepatu basket baru. Mungkin selain kita, hanya Midorima yang ingin benda konkrit untuk kompensasi."

"Su-sumimasen … a-aku ingin … uhm, kotak bekal baru."

"SEBENTAR!" Kagetora menembakkan pistolnya. Letusannya membuat para olahragawati yang lewat terpekik kaget dan bocah-bocah di sekitarnya bungkam. "Kompensasi ini harus sesuatu yang benar-benar kalian inginkan, datangnya dari hati, dan jangan murahan begitu."

Sebelum sempat yang lain tanggap pada pernyataan Kagetora, Furihata menyahut inosen, "Kantoku … kalau aku ingin pacar, Kantoku tidak bisa mengabulkannya, 'kan?"

Sunyi.

Cericit burung menggoresi angkasa dengan nada-nada romansa.

Sweatdrop.

Kategora dibuat terperangah tidak percaya menatap Furihata yang tersenyum inosen seperti biasa. Orang biasa ini, pebasket terordinari ini ... jangan-jangan ...

"T-Tetsu-kun …" lirihan malu-malu itu membuat pemuda di sekitarnya melirik sang gadis manajer. Mengabaikan pelatih mereka yang melesat begitu cepat.

Tiba-tiba saja Kagetora bergerak memiting Furihata.

"AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN RIKO-TAN PADAMU!"

"A-AKU TIDAK BILANG AKU INGIN AIDA-KANTOKU JADI PACARKU—ERGGH!"

"JADI KAU MENGINGINKANNYA, HAAAAH?!"

"A-A-UHUK-UHUK-AMPUUUUN. AKU TI-TIDAK ME-MENGINGINKANNYA!"

"KAU TIDAK MENGINGINKANNYA? KAU MENGHINA PUTRIKU? MAKSUDMU PUTRIKU TIDAK CANTIK, TIDAK IMUT, ATAU KURANG SESUATU JADI KAU TIDAK MENGINGINKANNYA, KEPALA COKLAT?!"

"TI-TIDAK. HIEEE. A-AKU BERPIKIR DIA IMUT, TA-TAPI TIDAK PERNAH TERPIKIR OLEHKU UNTUK JADI PACARNYA!"

"APA KATAMU?! KAU INGIN JADI PACARNYA?!"

Pelajaran pertama yang timnas junior catat dalam benak baik-baik: jangan pernah menyinggung apapun tentang putri semata wayang dari Aida Kagetora atau segala hal tentang romansa. Semuanya jadi terpelintir serba salah.

Kagami dan Kuroko penuh bercucuran peluh berhasil menarik lepas Furihata yang kini megap-megap pengap ketakutan dipelototi ganas oleh sang pelatih.

Furihata menggerung parau, "Kepala Kagetora Kantoku juga coklat." yang beruntung tidak dengar oleh yang bersangkutan.

Sementara Kagetora tengah merutuki Furihata, perdebatan kompensasi di antara para pemuda terus berlanjut.

Kagetora sedikit-banyak menghirup segar udara pagi lagi, tidak seperti kemarin-kemarin, rasanya beban berat di pundaknya terdongkrak sedikit usai melihat bocah-bocah menyusahkan ini berseteru dengan keras kepala lagi.

Kagetora baru hendak mendamprat timnas junior yang tidak juga berhenti membuat kerusuhan dan mencuri atensi dari sekelompok atlet olahragawati departemen senam—entah karena kebocahan atau keatraktifan mereka mengingat seperti huru-hara fangirls yang terjadi di Sky Tree, Akashi bernegosiasi dengan yang lain dan seketika disepakati.

"Kantoku."

Angin menggelindingkan kerikil yang tersaruk aspal.

Akashi mewakili yang lain, menyampaikan kehendak mereka semua.

"Kami ingin bertemu dan latih-tanding dengan timnas senior."

Hembusan napas panjang. Seringai instan teruntai di wajah pria paruh baya itu. "Kau mau menepati janjimu dengan Hibiki, eh?"

"Eh, janji apa?" tanya Kise yang mewakili kebingungan satu tim.

"Akashi tidak memberitahu kalian bahwa waktu hari ujian di Sky Tree, dia membuat janji dengan Hibiki setelah tim kalian menyelesaikan Ritual Neraka, dia ingin timnas junior dan senior bertanding?"

Kagetora mulai berpikir remaja-remaja di hadapannya punya bakat sebagai stand-up comedy luar biasa di luar talenta bermain basket, dari cara mereka melongo pada sang kapten yang memulas ekspresi aku-selalu-tahu-karena-aku-selalu-benar khasnya.

"Bagaimana Anda bisa tahu saya membuat janji dengan Hibiki-san?" selidik Akashi tajam pada sang pelatih.

Kagetora memutar otak. Ia tidak boleh melontar bahwa sehari setelah tuntas Ritual Neraka, Kagetora lekas menyelenggarakan pertemuan dengan timnas senior dan para pelatih, serta tidak seharusnya ia memberitahukan bahwa rekaman CCTV pertarungan timnas junior di sana telah dianalisis oleh timnas senior utama.

"Hibiki sendiri yang bilang padaku. Dia dan yang lainnya tahu kalian cidera parah serta banyak yang terluka di Sky Tree, jadi setelah itu aku beritahu bahwa setelah kalian sembuh dan datang kemari lagi—resmi siap bergabung dengan departemen permainan olahraga divisi basket, mereka harus menyambut kalian," jawab Kagetora tanpa membeberkan fakta yang harus dirahasiakan.

"Sambutan?" Takao merepetisi kata yang paling atraktif baginya.

"Ya." Kagetora menyeringai. "Kalian juga perlu rematch revenge dengan seseorang, 'kan?"

Dengan kalimat itu, roman wajah kesepuluh pemuda menggelap suram. Persis seperti seseorang terenigmatis dengan aura paling mistis yang pernah mereka temui. "Hai', Kantoku."

"Ayo masuk." Pria paruh baya itu tersenyum tipis pada muda-mudi yang tak tahu apa yang telah menanti mereka, menggiring timnas junior favoritnya masuk ke lobi.

Beberapa kali Kagetora bertegur sapa dengan orang-orang yang hilir mudik sepanjang perjalanan mereka menuju gim khusus divisi basket.

Bila Kagetora menyapa dengan ramah dan bersahabat, itu berarti sesama sport-trainer terhormat sepertinya. Tokoh-tokoh penting dalam olahraga yang timnas junior itu ketahui terlimit pada televisi ataupun majalah olahraga.

Jika pelatih mereka itu menunjukkan wibawanya pada seseorang yang menyapanya, kebanyakan itu adalah atlet yang mengenal beliau dan respek padanya.

Sama seperti mereka, beberapa pelatih itu juga menggiring timnas junior di bawah legalitas usia dewasa dalam divisi masing-masing. Sepertinya rentang waktu ini adalah periode introduksi Tokyo National Gym pada timnas baru.

Berdasarkan informasi dan pengamatan, tim-tim itu dibentuk untuk mengikuti kejuaraan internasional bergengsi sedunia, Olympics, yang akan diselenggarakan bersamaan dengan periode FIBA World Cup Championship.

Mengetahui ada banyak remaja seusia mereka berseliweran di Tokyo National Gym, tidak hanya atlet-atlet profesional dengan sport-trainers tersohor, membuat mereka merasa lega sedikit.

Menelusuri koridor seperti yang waktu itu mereka ingat sebelum pertarungan Ten on One, sol karet mendecit lapangan basket merintik hingga ke koridor menyundul sudut-sudut bibir masing-masing pendengarnya ke atas.

Kagetora berinhalasi dalam, memegang gagang besar dua pintu berat, menoleh ke belakang pada anak-anak yang terlihat tidak tegang sama sekali. Mereka membarakan eksitasi, merembas dari aura mereka yang terdeteksi oleh sang pelatih.

"Kalian siap?"

"Hai', Kantoku!"

Derit pintu menggempur decit sepatu, impus permainan terinterupsi ketika melihat figur pelatih dan remaja-remaja belia berambut warna-warni anomali, latihan mereka terhenti.

Kagetora mengeluarkan kalung peluit kebanggaannya, meniupnya kilat. Tersenyum bangga karena anggota-anggota timnas senior itu segera membungkuk salut padanya.

"Ohayou."

"Ohayou gozaimasu, Kantoku!"

"Hari ini, mereka—" Kagetora memosi ringan pada timnas junior yang liar, digiling penasaran dan keingintahuan, mengidentifikasi seluk-beluk gim dan figur-figur dewasa asing di hadapan mereka, "—akan bergabung dengan kita. Sambut mereka dengan baik, oke?"

"Hai', Kantoku!"

Kagetora mengode pada kapten timnas junior, non-verbal menginstruksi Akashi untuk memberi contoh pada rekan-rekan setimnya.

Akashi yang lekas mengerti, segera membungkuk sembilan puluh derajat, formal berkata sopan, "Yoroshiku onegaishimasu."

Kagetora nyaris menepuk dahi karena bocah-bocah lainnya hanya memandang kapten mereka. Namun dilihatnya Akashi memberi tanda dengan isyarat tangan di belakang punggung pada rekan-rekan setimnya, mereka lekas mengikuti pergerakan sang kapten, serentak berseru—

"YOROSHIKU ONEGAISHIMASU!"

Orang-orang dewasa yang jelas usianya jauh lebih tua itu sigap merespon dengan ramah. "Kochirakoso."

"Baiklah." Kagetora bertepuk ringan. "Siapkan lapangan. Kita adakan latih-tanding. Masing-masing dari kedua tim, segera pilih lima starters untuk pertandingan basket."

Satu dari empat manajer yang ada bergerak mendekati timnas junior. Gadis manis dengan rambut dikepang dua dan dialek Kansai yang kental menuntun mereka ke satu bench di sisi lapangan sementara timnas senior terbagi dua—antara yang membersihkan lapangan dan berembuk menentukan siapa starters untuk pertandingan.

Kagetora duduk di meja wasit dengan tenang. Diliriknya ke kiri, timnas junior gawangannya tengah berganti baju dengan baju untuk bermain basket. Mereka bercakap-cakap menentukan siapa starters yang siap maju untuk melawan timnas senior. Didengarnya seseorang entah siapa mencetus kagum, melihat timnas senior telah mengenakan seragam putih lapangan berlogo resmi timnas Jepang.

Kagetora melupakan hal teresensial itu. Biarlah, toh tim mereka juga belum memiliki nama resmi di luar timnas Jepang.

"Mereka masih terlihat imut."

"Itu ada yang tingginya lebih dari dua meter dan kaubilang mereka terlihat imut?!"

"Lihat saja muka mereka, masih begitu naïf."

"Sehebat-hebatnya mereka, tetap saja mereka masih bocah."

"Paling tidak, mereka pasti bisa menghibur kita, tidak seperti—"

Kagetora yang menguping percakapan timnas senior unit publik itu refleks menghadap pada bench timnas junior. "OI, BOCAH-BOCAH BERANDALAN, KALIAN DIREMEHKAN!"

Timnas senior yang terdiri dari para pemain veteran itu berseru syok. "KAGETORA KANTOKU!"

Kagetora tergelak puas usai meneriakkan kalimat itu keras-keras. Selagi timnas senior histeris panik karena kelakuan impulsifnya, melihat roman serius yang tertera pada ekspresi mereka dan melihat siapa saja yang turun sebagai starters, Kagetora tahu emosi timnas junior favoritnya bergelegak hebat.

Kagetora memilih sebuah bola dari keranjang beroda. Bola yang tidak kempis dan bulat kukuh—tidak rapuh. Beranjak ke tengah lapangan, tidak memedulikan desas-desus yang membanjir di atmosfer.

Kelima pemuda yang dipilih sebagai starters oleh timnas junior adalah kelima anggota yang dulunya terkenal sebagai Kiseki no Sedai. Tak mengherankan. Dengan kasak-kusuk remeh-temeh yang menyepelekan mereka, tidak mungkin mereka tidak full-power sejak awal.

Kagetora melirik timnas senior dengan jurang perbedaaan usia lima tahun ke atas dari timnas junior. Tak aneh lagi mereka yang senior itu menganggap junior-junior baru mereka masih bocah. Well, tunggu sampai peluit tip-off dibunyikan.

Tanpa diberitahu, Akashi dan kapten perwakilan kelima starters timnas senior yang ini berjabat tangan.

"Kami diminta menyambut kalian dengan baik. Sungguh suatu kehormatan bisa bertarungan dengan Kiseki no Sedai yang sangat populer." Pria botak kekar itu yang jelas satu kepala lebih tinggi dari Akashi memandangnya dari atas ke bawah. "Akan sangat mengecewakan jika kalian tidak bisa menghibur kami."

Twitch.

Akashi melengakkan kepalanya tinggi-tinggi, menunjukkan martabatnya sebagai kapten timnas junior yang merasakan deras reras bunyi gemertak leher dan dentam geram teman-temannya. Tersenyum dingin, balas menjabat agak keras tangan kapten di hadapannya.

"Semoga saja kami tidak mengecewakan kalian, Senpai-tachi."

Setelah membungkuk hormat dan menyerukan "Yoroshiku onegaishimasu!", dan para pemain menghambur ke posisi masing-masing jelang detik-detik tip-off, percakapan bocah-bocah itu mendistraksi atensi.

"Oi, kita dianggap bocah!" Pemilik mata rajawali itu berseru memanas-manasi, provokatif maksimal.

Sang bayangan refleks menyahut non-ekspresi kendati disisip emosi. "Sejujurnya, aku sekarang merasa kesal."

"OI, PASTIKAN KALIAN AJARKAN PADA MEREKA BAHWA BOCAH BISA JADI SANGAT MENGERIKAN KALAU MEREKA MARAH!" Kagami meninjukan kepalan tangannya ke udara.

Himuro mendesah lelah seraya mengusap-usap telinganya. "Taiga, jangan teriak di telingaku."

"Aku teringat pertarungan dengan Otou-san—siapa itu namanya? Papa … Papaya?" Furihata memiringkan kepala.

"Oh, Otou-san." Kuroko yang duduk di antara kedua teman setimnya di Seirin menoleh pada cahayanya. "Kagami-kun klise."

"Klise?" Kagami mengangkat sebelah alis bercabangnya.

"Kau sudah pernah mengatakan hal itu." Kuroko menatap lunak temannya yang hanya mengedikkan bahu kasual.

Momoi melambai penuh semangat. "Fighto, Minna!"

"OKE-SSU!" Kise memasang pose tampan dengan mengacungkan ibu jari. "Serahkan padaku!"

"Kise, kau menghalangi jalan, nanodayo." Midorima mendengus sebal.

Aomine terkekeh, menatap mengejek pada pemuda tsundere yang sedang saling membeliakkan mata dengan si pebasket perfect copy. "Oi, kalian menghalangi jalan."

"Kalian semua berisik. Mau kuhancurkan, hah?" desis Murasakibara kesal.

Akashi mendengus pendek. Roman indignan terpatri pada sosok regal emperor-nya. "Diam. Pertandingan akan segera dimulai."

Bahkan timnas senior merinding dibuatnya mendengar nada perintah absolut yang disuarakan oleh Akashi.

Preparasi terakhir dilakukan. Kagetora mendribble sekali bola basket dalam genggamannya. Dirasakannya ketegangan yang memepat di udara. Tebalnya kabut rivalitas dan gejolak emosional yang tak terkendali.

Seorang dewasa setinggi dua meter berhadapan dengan Murasakibara. Keduanya bersiap untuk saling merebut bola tip-off.

"Dengarkan aku."

Ketegangan yang rasanya berdenyar di relung dan membuat perut mulas tersebut diretakkan oleh Kagetora.

"Pertandingan ini hanya dua quarters. Dua time-out setiap quarters. Seperti biasa, yang kalah mendapat hukuman dariku."

"HAH? HANYA DUA QUARTERS?"

Kagetora refleks mengangkat satu telapak tangannya yang bebas. Keseriusan yang dipaparkan oleh roman wajahnya membungkam semua pemain. "Lakukan saja."

Tak ada yang kuasa menyanggah kemutlakan sang pelatih. Satu per satu pemain mengangguk kaku. Kagetora balas mengangguk mafhum, tentu dia punya alasan tersendiri hanya membatasi permainan dengan dua quarters.

"PRIIIT!"

Decit sepatu memekak telinga.

Sekilat sambaran petir Murasakibara dengan mudah menggapai bola. Mengoperkannya pada sang pointguard yang telah menanti untuk memulai permainan.

Kagetora mundur dari lapangan untuk duduk kembali ke singgasananya. Memantau jalannya pertandingan sembari menganalisis kedua tim yang saling bertarung di lapangan untuk berebutan si primadona oranye yang dicintai oleh mereka.

Pada menit pertama, timnas senior dikejutkan dengan keberingasan permainan anak-anak menakjubkan yang tidak segan-segan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melibas mereka.

Lima menit berikutnya, tanpa merasa tertekan, timnas senior mendominasi pertarungan dengan mudah. Memancang jarak skor belasan dari timnas junior dengan team-play yang mengagumkan. Kagetora melihat kemajuan signifikan para pemain veteran yang telah dilatih sebelum dan olehnya saat ini, dia bergumam puas.

Timnas junior meminta time-out pertama dan substitusi pemain.

Kise duduk di bench, mereka menurunkan Takao Kazunari untuk bermain. Kagetora memprediksi—dan ternyata tepat—kombinasi permainan sepasang ace Shutoku yang membuat seluruh anggota timnas senior mendecih tertekan karena quick-three point yang menjatuhkan mental dan lambungan tembakan tiga poin yang terlalu lama.

Dua menit berikutnya, timnas junior lagi-lagi meminta pergantian pemain. Akashi digantikan oleh Sakurai.

Kagetora bergumam puas. Kombinasi dua kombinasi Too, agility Aomine dipadu quick-shoot Sakurai. Jelas timnas senior goyah digempur dengan konstan quick-three point yang mengerikan.

Terlebih karena Murasakibara dengan bengis menepis hampir semua bola yang ditembak secara natural. Butuh trik dan taktik untuk mengelabui si pemuda jangkung ungu itu untuk menjauhkannya dari bagian inside ke outside, kemudian membobol keranjang skor timnas junior lagi.

Quarter pertama berakhir. Jeda sepuluh menit. Kagetora menganalisis bahwa kerja sama timnas senior yang ini jauh lebih baik daripada permainan individual atau duet pebasket timnas junior. Ah, bocah-bocah itu mengingatkannya pada bocah-bocah yang lain yang telah meremaja.

Di sisi lai, tim nasional senior yang tidak biasanya membuat keributan kini malah berdebat karena skor mereka tertinggal satu kepala.

"Telpon mereka!"

"Kita tangani sendiri. Kita pasti bisa!"

"Tidak, Brengsek. Bocah-bocah itu bakal monster. Butuh monster untuk menghadapi monster."

"Dasar Bodoh. Bocah-bocah takut hantu, kita butuh hantu untuk menakuti mereka!"

"Ya sudah, coba saja telepon dia. Minta siapa saja ke sini, kita tidak bisa menghadapi ini sendiri."

Kagetora melirik bocah-bocah berandalan yang kini jadi favoritnya, mereka berdiskusi sesekali. Mengobservasi kepanikan timnas senior yang diwakilkan oleh kaptennya tengah mencoba menelepon seseorang.

"Halo?"

"…" Sayup samar lawan bicara menjawab telepon.

"Hayate-san, kami butuh bantuan—"

/"Pertandingan, ya? Aku tidak bisa."/

"—tolonglah, sekali ini saja—"

/"Maaf. Aku takut Kantoku datang ke sini dan begitu tahu aku belum menyelesaikan hutang pemanasan, aku akan dihukum!"/

"… Kantoku ada di sini."

Kagami, tidak dihentikan oleh siapapun dari timnas junior, berjalan mendekat pada bench timnas senior membuat orang-orang dewasa gelagapan karena intensitas hunjaman pandang iris krimsonnya dan kebingungan karena alis abnormalnya. "Tolong setting ke loudspeaker."

Penelepon dari timnas senior itu tidak berpikir dua kali untuk mengganti setting handset menjadi loudspeaker.

Seketika semua orang dalam gimnastik basket tersebut membeku mendengar lantunan musik manis dan derai tawa dari seberang sambungan.

/"Tahan Kantoku tetap di sana! Aku mohon pada kaliaaaan—"/ teriak Hayate horror seperti suara korban dicekik hantu yang tidak cocok bersanding dengan lantunan manis melodi ala kotak musik, /"—aku harus menyelesaikan hutang pemanasan sebelum Kantoku datang!"/

/"Makanya, Haya-chan, jangan lelet setiap pemanasan."/ Tawa seseorang menyela perkataannya.

/"Hei, berikan ponsel Hayate padaku." /

Suara gemeresak lalu suara bariton ramah-tamah seseorang menyapa. /"Hei, kalian."/

"HIBIKI-SENCHOOOU!"

Ironis melihat orang-orang dewasa itu terisak seperti mendengar wahyu dari kahyangan—padahal hanya suara ramah sang kapten utama.

/"Pinch?"/ tanyanya ringan.

Tak ada jawaban.

/"Oh, tak kusangka."/ Hibiki tertawa kecil penuh pengertian, di seberang sambungan. /"Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Hayate masih ada hutang pemanasan."/

"Ba-bagaimana kalau menyusul ke sini saja, Senchou?"

/"Huum … sebentar."/ Sedepa jeda dan tanya di seberang telepon ("Berapa kali lagi?" dijawab oleh seseorang dengan tenang, "Sekitar sembilan lagi.").

/"Tidak bisa. Hayate masih punya hutang sembilan ronde umbrella dance lagi."/

"Kalau begitu, Hibiki Senchou saja yang ke sini." Center pemain timnas senior itu menimbrung percakapan, nadanya menyiratkan harapan.

/"Ahahaha. Tidak bisa. Mana mungkin aku melewatkan—WOI, JEPRET ITU POSE TERAKHIRNYA HAYATE!—ehem, maksudku, aku harus mengawasi anggotaku pemanasan."/

"Atau siapa saja, tidak bisakah?" tanya sang power forward lemas.

/"Bisa saja, kalau Kantoku mengizinkan."/

Arwah timnas senior yang veteran mulai menguar dari tepi bibir mereka. Tanpa perlu bertanya pada sang pelatih, mereka tahu pelatih mereka akan menjawab apa. Modus operandi tim Von yang memanfaatkan pelatih mereka terlampau cerdik.

Sebelum seseorang sempat membuka mulut untuk berkata sesuatu, Kagami berseru keras. "Hayate-san! Kami ingin rematch denganmu!"

Kegaduhan di koneksi telepon satunya lagi menyurut. Pertanyaan "siapa" berdengung, ada suara seseorang mengusir yang lainnya untuk menjauh. Hibiki bersuara lagi, sedikit disaput ragu.

/"… tim nasional junior?"/

"Hai'!" seru Kagami.

Ekshalasi, kemudian— /"Tentu, nanti aku sampaikan pada Hayate. Bilang pada Akashi, sesuai janji, aku dan timku menunggu."/

/"KAPTEN, KAPTEN! Coba bilang ini: "Siapapun yang menang di sana, datanglah! Kami tunggu.", pada anak-anak itu!"/ Seseorang berseru kekanakan penuh semangat di sisi sang kapten utama timnas senior.

/"Kalian dengar apa yang Ace kami katakan?"/ Hibiki tertawa kecil lagi. /"Baiklah, kalian bisa rematch dengan Hayate setelah dia kelar melunasi hutangnya. Kami tunggu siapapun pemenangnya dan datanglah ke mari."/

"Arigatou gozaimasu!" Kagami membungkukkan badan meski ia tahu Hibiki dan timnya tidak akan mampu melihat gestur penghormatan yang dilakukannya.

/"Osu. Hei, kalian, berjuanglah. Masa kalian kalah dari anak-anak, hah? Mana harga diri kalian sebagai senior veteran? Jangan merengek minta bantuan kalau kalian belum berjuang dengan bayangan nyawa sebagai taruhan."/

Cekam tajam yang menyebabkan mereka semua bergidik. Terdengar gemerisik berisik, seruan sang kapten, /"Naikkan tempo musiknya!"/ Dan suara itu kembali seperti semula, mengujar keramahan terakhir, /"Oke, sampai nanti lagi. Berjuanglah!"/

Barulah bunyi tombol ditekan dan sambungan diputus duluan.

Kagami menggumamkan terima kasih, berlalu permisi dengan berusaha tidak risih menatapi para pemain timnas senior yang kerasukan sesuatu, khidmat mengangguk-angguk. Pemuda yang besar di Amerika itu tidak akan heran jika mereka mengucap—

"Amitaba." –lalu pasang pose tabah seperti pertapa Budha.

Kagami kembali ke bench timnya. Sama seperti dirinya, yang lain tercenung bingung. Seingat mereka, tim nasional senior itu persis seperti yang mereka hadapi saat ini. Berarti yang absen dari gim itu saat ini hanya sang kapten dan hantu timnas senior.

Suara pria botak kekar yang langkahnya berderap menghadap Kagetora, membungkuk formal, berseru meminta maaf karena telah bersikap arogan—karena pepatah "don't judge a book by its cover" itu tak pernah salah—dan malah merengek meminta bantuan pada orang lain tanpa berjuang terlebih dahulu.

"Boleh kami pilih kalah saja, Kantoku?"

Kagetora mengokang pistol, menatap tajam pose amitaba presensi dewasa yang sebelas-duabelas dengan biksu-biksu di kuil.

"Tsk. Siapapun yang menang di sini, akan berhadapan dengan tim Von."

"Ju-justru karena itu—"

"—setidaknya, pertanggungjawabkan kata-katamu pada bocah-boca berandalan di sana. Kalau kalian menang, kalian boleh tetap tinggal begitupun bocah-bocah itu dan menentukan hukuman mereka."

"Kalau kami yang menang bagaimana, Kantoku?" seru Takao dari bench timnas junior.

"Kalian berhak menentukan hukuman untuk timnas senior unit publik dan memilih untuk tetap tinggal di sini berlatih bersama mereka, atau bertemu dengan Von."

"Von?" Para pebasket muda itu saling bersitatap bingung.

"Kantoku." Akashi menanggalkan handuk dari lehernya, berjalan mendekat ke meja wasit. "Timnas senior yang dijanjikan Hibiki-san itu yang ini, 'kan?"

"Bukan."

Sebelah alis merah terkernyit. "Tapi kata Anda tadi pagi dia akan menepati janjinya padaku."

"Kau tidak dengar perkataannya di telpon? Dia memang menepati janjinya padamu dan juga instruksiku untuk menyambut kalian." Kagetora menggeleng seraya mengibaskan tangan sekilas. "Tapi, kalian tetap anggota baru di divisi basket. Jadi aku tetap meminta seluruh anggota tim nasional basket Jepang untuk menyambut kalian, keluarga baru. "

"Jadi rumor tentang adanya tim rahasia itu benar." Raut tertarik, deraan penasaran, dan sulutan semangat—dari cara bicara Akashi ini Kagetora mengafirmasi bocah kapten satu ini memang sengaja memancing tim andalannya agar bertemu dengan timnas junior, melebur jadi satu dalam lontaran tanya yang Akashi suarakan, "apa perbedaan timnas senior yang ini dengan tim Hibiki-san?"

"Kantoku … mereka tidak tahu?" Pria botak kekar menatap tidak percaya pada Akashi dan bocah-bocah lain yang bergegas berdiri mendekat pada sang pelatih.

"Mereka belum tahu, mungkin kalau rumor saja sudah dengar. Rencananya aku mau mereka bertemu dengan Von dulu. Tapi malah jadi seperti ini."

Kagetora mengelus dagunya dalam apitan ibu jari dan telunjuk. Dia melirik tim nasional junior. Silau dengan kemilau gemerlap semangat dan siratan penasaran dari bocah-bocah menyusahkan tersebut, hal ini mengembangkan senyumnya.

"Singkatnya, timnas senior ini adalah unit publik. Timnas senior tempat Hibiki dan Hayate ada sekarang adalah unit rahasia, tim starter reguler yang disiapkan untuk memenangkan piala Naismith."

"Atau, Von lebih dikenal sebagai Aces Team," papar si pria botak kekar. Sweatdrop deras, tidak mengerti kenapa bocah-bocah berambut warna-warni di hadapannya menggumamkan kata "Ace team" dengan nafsu anomali.

"Aku ingin melawan Aces Team!"

Cetusan Kagami yang tersenyum, tapi dari cara bicara, sorot matanya, bahasa tubuhnya, semua mengindikasikan keseriusan, diikuti kompaknya anggukan setuju oleh yang lain.

"O-oi, ka-kalian akan menyesal!" seru wakil kapten kedua unit—posisinya di bawah Hibiki karena dia ditempatkan di unit publik—cemas.

"Katakan." Aomine menyeringai, laiknya antagonis teryahud di manga sounen. "Antara kalian dan Von, seberapa jauh kemampuannya?"

Wakil kapten tersebut termenung. Kengerian merampas keseriusannya. "Mereka monster, kami manusia."

Timnas senior itu merinding melihat seringai-seringai mekar sempurna. Aura anak-anak ini berkobar mengingatkan pada tim yang tunduk di bawah kepemimpinan Hibiki. Wakil kapten yang botak itu menggemertakkan lehernya.

Percuma saja memberitahu bocah bahwa setapak terjal itu berbahaya, mereka tidak akan percaya. Tapi mereka dalam bahaya, hanya mereka belum mengerti.

"Semuanya, berkumpul!" Sang wakil kapten berbalik kembali pada teman-teman setimnya. "Kita harus memenangkan pertarungan ini agar kita selamat, dan kita juga harus menyelamatkan anak-anak ini untuk tidak bertemu Von!"

"OSU, FUKU-SENCHOU!"

Akashi berputar ringan menghadap rekan-rekan setimnya. Senyum terbit setipis kabut di pagi buta, mengerti cengiran dan senyuman yang terulas padanya. Dia mengerling sang pelatih selagi mengode pada teman-temannya bersiap untuk ronde berikutnya.

"Kantoku, kami akan memenangkan ini untuk bertemu Von."

Kagetora berekshalasi, menyeringai melihat punggung-punggung bocah itu dan celotehan mereka yang kembali ramai terberai pada air salonpas.

Quarter kedua dimulai semenit kemudian. Kali ini yang diturunkan ke pertandingan adalah kartu truf andalan timnas junior, pemain bayangan. Kagami Taiga. Himuro Tatsuya. Aomine Daiki. Kise Ryouta.

Mereka memfungsikan Kise sebagai center. Mengingatkan Kagetora pada si bocah tulalit—Kiyoshi Teppei. Sesuai asumsinya, mereka mulai dengan beringas dengan ujung tombak serangan Kagami, Aomine, dan Himuro sebagai point-guard.

Tiga menit pertama, tidak seperti babak pertama. Timnas senior unit publik lebih ganas dan beringas dari sebelumnya. Kerja sama tim dan taktik mereka luar biasa. Mereka mengerti keimpulsifan dan kenaifan bocah-bocah yang melawan mereka ini. Luar biasa karena mereka mampu menahan duo cahaya idiot yang ganas dalam mode ofensif.

Keseriusan para pemain veteran itu nyaris goyah ketika Kuroko beraksi dengan misdireksi. Mengubah pass-course dengan pace yang luar biasa cepat dan mengoperkannya pada rekan setimnya yang bebas dari marking. Terlebih mereka dibuat terkejut—sekaligus juga kagum—dengan long-pass court yang Kuroko gunakan. Pula dengan vanishing drive, Kuroko menghilang melewati para pemain satu per satu.

Mereka berhasil mengantisipasi Kuroko dengan menggunakan metode menempatkan pemain bervisi luas—kemampuan yang menyaingi eagle-eyes—untuk memprevensi sang bayangan menyelinap dalam bayang-bayang untuk memudahkan pergerakan rekan-rekan setimnya.

Kuroko tidak kehabisan akal, dia memakai metode seperti yang digunakannya untuk melawan Takao. Membutakan visi pemain tersebut dengan menyedot atensi padanya, lalu lolos dari sergapan lawannya.

Pergantian pemain pertama diminta timnas junior.

Kise digantikan dengan Midorima, taktik yang didiskusikan oleh sang kapten dan manajer atas desakan tak sabar dari yang lain untuk segera memenangkan pertandingan. Para pemain veteran mendengus kesal. Three-pointer Midorima itu menyayat hati dan menggerogoti konfidensi karena betapa lama bola tersebut melambung di udara.

Tidak kehabisan akal, mereka menghentikan Midorima dengan melompat untuk menepis jatuh bola maupun memblok tembakan tiga poinnya.

Di pertengahan quarter kedua, timnas senior mensubstitusi dua pemain dalam dua jeda play. Dua pebasket tersebut sepertinya key-players dari tim mereka. Karena kedua orang itu berbeda dari semua pemain yang ada. Satu pemain yang buas dengan insting liar, satu lagi dengan teknik fundamental basket yang sempurna.

Time-out lekas dirikues oleh timnas junior karena mereka tidak mampu membendung duo keterbalikan dari timnas senior. Setelah berdiskusi—mungkin tepatnya instruksi sang kapten, Kuroko digantikan oleh Murasakibara untuk memperkuat wilayah inside.

Kagetora menganalisis. Konklusinya adalah situasi genting justru malah membuat bocah-bocah merepotkannya itu makin fokus.

Kagetora melirik jarum detik yang tetap santai bertapak menghabisi menit kedelapan di quarter terakhir. Khawatir karena tim nasional veteran itu berjuang begitu keras dengan kemampuan seratus persen mereka dan determinatif untuk membuat jurang diferensiasi dari nominal skor.

Terdesak, timnas junior merikues substitusi pemain. Akashi bergegas masuk menggantikan Himuro. Disokong oleh point-guard yang handal, skor tim mereka merangkak naik mengejar skor timnas senior.

Tidak butuh waktu lama untuk melihat baik Aomine, Kagami, maupun Murasakibara memasuki zone dalam waktu berbeda tapi paruh waktu yang sama. Akashi yang dalam mode bokushi itu mengaktivasi emperor eyes-nya untuk melumpuhkan duo pebasket terhebat timnas senior unit publik. Tembakan Midorima yang memakan waktu lama membuat mereka berhasil menyamakan skor.

Setengah menit terakhir benar-benar menegangkan. Kagetora tahu, khusus pertandingan kali ini, dia memupuk ekspetasi tinggi untuk timnas junior menang.

Kagetora bertanya bagaimana bisa zone bocah-bocah itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya—padahal mereka tidak bermain basket sempurna selama satu bulan penuh. Mungkin pengaruh emosi dan gelegak nafsu bermain basket yang terdekam selama sebulan?

"HADANG DIA, BODOH!"

"JANGAN BERIKAN KESEMPATAN PADANYA, KAGAMICCHI! SLAM-DUNK!"

Teriakan-teriakan labil menyalaki air salonpas bersanding dengan decit ekstrim sepatu basket.

"Screen!"

"NICE, AOMINE!"

"PRIIIIIIIIT!"

"HEAAAARGHHH!"

Sraaak.

Pertandingan diakhiri dengan buzzer beater. Skor 26-23 untuk tim nasional junior.

Sebagaimana bocah, para remaja itu berteriak memforsir pita suara. Gaung kemenangan. Kagetora tertawa puas—ekspetasi terpenuhi. Dia meniup peluit agar seluruh pemain berkumpul untuk menyerukan—

"ARIGATOU GOZAIMASU!"

—dan saling bersalam-salaman. Dilihatnya wakil kapten timnas senior unit publik itu dengan benih respek yang baru berkembang, menjabat tangan kapten timnas junior itu dan mengucapkan salutnya.

Momoi bergegas menghambur memberikan handuk dan minum untuk para pemain terakhir yang menyabet kemenangan pertama tim nasional junior.

Kagetora bersyukur karena sekilas pandang bocah-bocah ini tidak terlihat kumat cedera atau bagaimana. Matanya berkilat jahat pada timnas senior yang menatapnya pias.

"Sesuai ketentuan, yang menang berhak menuntukan hukuman bagi yang kalah dan berhadapan dengan Von."

"YEAAAH!" Tentu hanya timnas junior yang bersemangat dengan bayang-bayang "dream-team", sementara untuk masalah ini, timnas senior juga merasa amat lega tidak harus bertemu Von.

"Oi, kalian, walaupun bocah-bocah merepotkanku ini menentukan nasib kalian, tapi nasib lain kalian sesudah ini telah kupikirkan." Kagetora meletakkan satu lengannya di pinggang. Dia melirik pada timnas junior. "Hukuman apa yang kalian inginkan untuk mereka?"

"Cukur rambut jadi botak semua?" Takao bertanya inosen yang ditanggap dengan jeritan distopia timnas senior.

"JANGAAAAN!"

"Woof." –("Oi, bukan anjing itu yang mengalahkan kami!")

"Manajer-san boleh jadi pelayan kami?"

"Dai-chan, kau lihat ke arah mana Manajer-tachi, hah?! Tidak sopan!"

"Erominecchi—ssu, awh! Kenapa aku di—"

"Berisik, Kise."

"Lucky item untuk semua zodiac sign timnas junior demi kemenangan melawan Von—"

"Tidak ada yang ingin itu selain kau, Midorima-kun."

"Bagaimana kalau belikan kami makan siang?"

"Astaga, hati kalian ada di perut, 'kan?"

"Vanilla milkshakes."

"Cheeseburgers untukku kira-kira—"

"—oh, nice, Bakagami. Aku juga."

"Jangan! Kalian hanya membuat mereka bangkrut!"

"Eeeh, kalian semua tidak seru. Ayo coba minta mereka lompat kodok, push-up, minta mereka berpose seperti Miyumiyu favorit Miyaji-san atau Mamiring—"

"Tidak. Pokoknya tidak. Aku tidak mau pria manapun meniru pose seksi Mai-chan-ku!"

"… sumimasen deshita … tte, kenapa meminta hal-hal seperti itu?"

Selagi mereka sibuk menentukan hukuman—daripada hukuman lebih tepat meminta timnas senior mengabulkan hal-hal yang mereka inginkan. Hingga sang asisten yang diam saja mencetus.

"Ini hampir jam makan siang, bukan? Bagaimana kalau minta dibelikan makan siang saja?"

"Ide bagus, Furihata-kun."

"Aku setuju dengan Furi-chindan Kuro-chin."

"…" Drop-dead. Mereka semua menengok robotik pada pemuda paling tinggi di antara mereka tengah mengelus kepala bersurai lazuardi dan coklat sekaligus, terkejut tak kepalang menyadari asisten timnas junior itu telah dibubuhi sufiks akrab oleh Murasakibara.

"A-apa yang terjadi?" pekik Momoi terkejut.

Kuroko menepis tangan Murasakibara, berkata tegas dia tidak suka kepalanya dielus-elus seperti anak kecil, menarik Furihata yang ternganga bodoh dielus kepalanya oleh pemuda terjangkung itu.

Himuro merapat pada yang lainnya, berkata dengan suara rendah. "Mungkin ini karena waktu makan malam di Tokyo Sky Tree, Furihata-kun melihat makan Atsushi yang berantakan. Dia ketakutan setengah mati tapi berusaha memberikan Atsushi sendok."

"… hati Murasakibara-cchi ada di perut juga, 'kan?" Kise terkekeh setelah mendengar apa yang terjadi.

Mendengar makan siang disebut-sebut, usai melipatgandakan regimen latihan timnas senior unit publik, Kagetora menghampiri timnas junior yang terinterupsi debatnya.

"Soal makan siang, tidak usah khawatir. Kalian bisa ke cafeteria dan tinggal ambil makan, nanti aku berikan kupon makannya. Sebaiknya kalian minta hal lain."

"Ma-makan siangnya gratis?" Murasakibara refleks teralih mendengar informasi itu.

Kagetora mengiyakannya, ikut tersenyum melihat kelegaan sebagian besar bocah-bocah di hadapannya yang ternyata mengkhawatirkan harga mahal makanan di kantin.

"Akashi-kun." Panggilan Momoi membuat sang kapten yang dari tadi diam saja jadi pusat perhatian. "Menurutmu, sebaiknya kita memberikan hukuman apa?"

Akashi berpikir baik-baik membuat yang lainnya bungkam, ibu jari dan telunjuknya menyangga dagu. Kepala miring sedikit. Barulah dia tersenyum tipis.

"Apa kalian semua suka es krim?"

Mereka berpandangan bingung, tapi satu per satu mengangguk.

"Jadi, lebih baik kita minta belikan es krim pada mereka. Pastikan minta yang paling enak dan mahal—"

"ASTAGA, NAK! KAMI PUNYA TANGGUNGAN KEHIDUPAN ANAK DAN ISTRI DI RUMAH—!"

"—mengambilkan jatah makan siang kita dan membeberkan informasi tentang Von."

Akashi tersenyum, mengimpresi elegansi yang memesona—dan menyebalkan bagi timnas senior. Bocah ini sangat mirip seseorang di timnas senior divisi rahasia, si tactician yang tidak punya hati.

"Tentu kalian mengerti betapa mahal harga sebuah informasi, 'kan?"

Tidak ada yang tidak menyetujui perkataan sang kapten. Setelah itu mereka merepet menuntut es krim dan jamuan makan siang.

Semua anggota tim nasional senior unit publik mengembuskan napas panjang.

Checkmate.

.

#~**~#

.

Mereka melihat pelatih mereka pamit entah kemana dan menitipkan mereka pada pria-pria dewasa yang telah mereka kalahkan.

Tim nasional senior yang duduk bersama mereka di meja panjang seperti pertama kali mereka dikumpulkan, mengemukakan bahwa pelatih mereka mungkin pergi ke Sektor Terlarang—gedung yang dialokasikan khusus divisi rahasia yang understudy sekian waktu.

Tidak sembarang orang bisa hilir mudik ke sana. Hanya yang memiliki lisensi khusus yang bisa keluar-masuk sektor terlarang, ungkap wakil kapten tim nasional senior basket.

Bocah-bocah itu sukses membuat mereka bangkrut dengan permintaan es krim yang merambat pada cheeseburger, vanilla milkshake, sup kacang merah, maiubo, dan lain-lain.

Namun melihat mereka duduk menyantap makanan dengan lahap, kericuhan mereka yang menyegarkan membuat para pemain veteran itu duduk tanpa keengganan sebagai orang kalah—melainkan bersiap-siap untuk membalas timnas junior untuk kemenangan dengan pertandingan full-quarters suatu saat nanti.

Selagi mereka menyantap berbaskom-baskom es krim di cafeteria yang penuh di jam makan siang, sang kapten timnas junior mendaulat.

"Ceritakan tentang tim divisi rahasia, Von."

Pria botak kekar itu mengekshalasi dalam, ruang penciuman terpolusi wangi-wangi makanan. Hiruk-pikuk kantin itu pemandangan lazim di jam makan siang.

"Sebenarnya, tidak banyak yang bisa kami ceritakan."

Mereka serius, para orang dewasa mengetahui itu, amat serius:

1). Mendengarkan informasi tentang Von.

2). Berebut es krim.

Astaga, bagaimana bisa bermuka serius begitu sementara tangan dan mulut mereka sibuk menjarah es krim untuk kepuasan masing-masing?

Wakil kapten timnas junior itu menarik napas dalam-dalam untuk memulai pemaparan.

"Selama dua—mungkin juga tiga—dekade terakhir ini, tim basket Jepang mengalami keterpurukan yang amat dalam. Jika ada kompetisi basket internasional, baik itu streetbasketball, NBA, ataupun FIBA, tim Jepang termasuk dalam 40 tim terbawah yang kalah lebih dulu di babak eliminasi.

"Mungkin era paling emas itu hanya saat angkatan Kagetora Kantoku dan timnya aktif berlaga di kompetisi internasional. Setelah era beliau, tidak ada lagi prestasi yang Jepang dapatkan. Karena itulah Negara pesimis, mereka mengalokasi subsidi dana untuk departemen olahraga permainan divisi basket pada divisi permainan olahraga lain yang lebih sukses dan punya kesempatan menang. Itu membuat anggota-anggota tim nasional semakin melarat dan akhirnya satu per satu keluar dari tim."

"Dekade? Masa tidak ada pemain-pemain jenius dalam rentang waktu selama itu sampai hanya era Kagetora Kantoku yang bergelimang prestasi?" tanya Momoi tidak percaya, tangannya masih menyekop es krim yang dengan kurang ajar dilahap Aomine. "Tiap generasi pasti ada pemain terbaik, bukan?"

"Ada." Si pebasket streetbasketball yang funky penampilannya dan menyulitkan timnas junior itu menyahut. "Tapi kau tahu, tidak semua generasi bisa menang. Mungkin kita biasa menang kalau hanya kompetisi di kawasan Asia, karena berada dalam kondisi yang sama."

Himuro mengernyitkan alis. Dibiarkannya Murasakibara rakus mendongkrak sebongkah besar es dan menyuap besar-besaran ke mulutnya sehingga di baskom es krim hanya tersisa setengah lagi. "Kondisi apa?"

"Perbedaan kemampuan fisik amat berpengaruh bagi kita, olahragawan. Terutama dalam olahraga permainan seperti basket. Rata-rata pemain kita tidak tinggi dan tidak memiliki kekuatan fisik sekuat ras bangsa Barat. Mereka tinggi, besar, dan punya kekuatan rangka tubuh yang lebih kuat. Belum lagi intelijensi dan teknologi tinggi yang mendukung semua itu. Mereka juga fokus merekrut pemain-pemain basket terbaik dari manapun."

Partner-nya yang memiliki teknik fundamental bermain basket terbaik itu turut bertutur, "Itulah letak masalahnya. Negara-negara superpower yang punya kekuasaan besar itu, melalui mafia olahraga, menggunakan segala cara untuk merekrut pemain-pemain terbaik dari seluruh dunia."

"Maksud Anda …" Akashi menggeser baskom es krimnya sedikit untuk berbagi pada Midorima yang memelototi Takao karena es krimnya dimonopoli oleh pemuda bermata rajawali itu. "Pemain terbaik di seluruh dunia yang direkrut oleh negara-negara superpower itu termasuk dari Jepang?"

"Benar." Si wakil kapten mengangguk. Kepala botaknya berkilau tertimpa sinar matahari siang hari dari jendela bening yang berada di sisi kirinya.

"Tapi, kan, mereka orang Jepang. Bukankah itu berarti negara lain tidak berhak merekrut para pemain Jepang dalam tim mereka?" tanya Kuroko tidak paham.

"Itu dia. Kebanyakan dari para pemain terhebat kita, adalah pemain naturalisasi yang belajar di luar negeri. Karena lama belajar di sana, biasanya kewarganegaraan mereka telah berganti sesuai dengan lokasi negara tim basket tempat mereka bernaung. Situasi jadi berbalik, Jepang-lah yang tidak berhak merekrut para pemain terbaiknya karena kewarganegaraan mereka telah berganti," jawab seorang dewasa berambut cepak yang memainkan es batu dalam gelas colanya.

Takao mengacungkan sendok es krimnya, tertawa setengah hati. "Tunggu. Apa mereka tidak memiliki kebanggaan nasionalisme pada tanah air mereka sendiri? Apalagi dengan kondisi tim nasional basket yang terpuruk seperti saat ini."

"Kan, tadi sudah aku katakan." Pria muda yang patut dicontoh sebagai pebasket paling giat berlatih teknik basket itu mendesah. "Negara-negara superpower menggunakan segala cara untuk merekrut mereka, baik secara sukarela maupun paksa. Baik itu mempersulit paspor dan visa untuk pulang, hingga mengancam membahayakan nyawa keluara mereka hanya agar para pemain basket Jepang terbaik kita tetap bermain dalam tim mereka."

"Mereka licik sekali," geram Kagami yang ditanggapi dengan gumam setuju dari semua orang di meja it.

Manajer utama dari timnas senior unit publik itu menyahut. "Karena itulah, tim basket kita tidak bisa maju-maju. Terlebih karena ternyata ada konflik dalam badan pemerintahan. Diduga menteri olahraga beberapa dekade silam mengorupsi dana yang harusnya dipakai untuk membiayai departemen olahraga merekrut para atlet terbaik, tapi semua berubah sejak menteri diganti."

"Lalu menteri ini membuat perubahan baru?" tanya Midorima retoris.

Anggukan sekilas. "Dia menata ulang departemen olahraga, memfasilitasi setiap atlet, pelatih, dan pekerja di departemen olahraga." Pria kekar itu tersenyum lebar. "Yang terbaik adalah ketika tahun ini, FIBA mengirimkan undangan rapat untuk Jepang, diselenggarakan di Amerika tepat saat Jepang memasuki musim salju. Ah, representator dari Jepang adalah Kagetora Kantoku dan Shirogane Eiji-san."

"Shirogane Kantoku?" Akashi bergumam seorang diri mengingat pelatihnya di Rakuzan. "Rapat apa?"

"Rapat yang membahas FIBA World Cup Championship akan diselenggarakan dengan Jepang sebagai Tuan Rumah pada tahun ini." Pria botak nan kekar seperti Samson—tapi Samson tidak botak tentunya—menjeda sesaat dengan menghirup minumnya. "Kami tidak tahu bagaimana detailnya, yang jelas pemerintah menghendaki sport-trainers basket terbaik dibentuk jadi satu tim untuk mendiskusikan masalah ini."

"Lalu?" gumam Murasakibara pendek.

"Krisis terbesar adalah kita tidak punya pemain basket yang bisa bersaing dengan tim-tim level internasional. Berita ini simpang-siur, entah benar atau tidak, tapi Kagetora Kantoku mengambil keputusan ekstrim. Dia bersama tim para pelatih itu merekrut balik para pebasket Jepang terbaik yang tersebar di tim-tim basket terbaik seluruh dunia termasuk Jepang sendiri." Salah seorang power-forward dengan wajah berbintik mengutarakan antusias.

"Begitulah tim Von terbentuk. Hee … kedengarannya keren, para pebasket terbaik Jepang dari seluruh dunia!" ujar Kise dengan raut wajah cerah.

"Tidakkah itu menimbulkan dampak buruk?" tanya Kuroko, sedikit khawatir. "Bukankah tadi Anda sekalian bilang negara-negara superpower memakai segala cara untuk mempertahankan para pemain terbaik di tim mereka? Berarti—"

"—ya, putusan desisif ektrim Jepang membuat kekacauan dan protes dari tim-tim basket terbaik negara-negara tersebut." Si pria botak kali ini menyeringai tertahan, menghempaskan ketegangan pada remaja-remaja antusias di hadapannya. "Tapi … generasi kali ini luar biasa, mereka mengkhianati tim-tim tersebut dan memakai segala cara untuk pulang ke Jepang, pada tanah air dan keturunan darah Jepang mereka."

"Wah, mereka benar-benar terdengar keren." Momoi memekik kagum.

"Begitulah. Makanya, mereka dianggap oleh publik dunia sebagai "Sinners" atau pendosa. Generasi pendosa—Taizai no Sedai." Si pemain streetbasketball mendesah.

"Bakat mereka sangat luar biasa, terlebih mereka mengenyam edukasi basket di tim-tim terbaik, dilatih pula oleh pelatih-pelatih basket Jepang terhebat saat ini. Tak mengherankan banyak rumor beredar tentang mereka. Banyak komplikasi konflik yang terjadi karena mereka, makanya mereka disembunyikan oleh tim pelatih saat ini. Eksistensi mereka dirahasiakan. Kalian mengerti sekarang? Mereka adalah salah satu Top Secret di Negara kita saat ini."

Keheningan singgah di meja tersebut. Tim nasional veteran itu nyaris yakin ruang pendengaran mereka disusup bunyi debar jantung membentur keras rongga dada. Antusiasme dan kekaguman mewarnai ekspresi remaja-remaja belia di hadapan mereka.

"Seperti … seperti apa mereka? Ada Hibiki-san dan Hayate-san di sana, 'kan?" tanya Kagami, cengiran semangatnya terkembang lebar.

"Kalian pernah lihat Hayate main, bukan? Jadi kalian ada bayangan tentang gaya bermain basketnya." Si pria kekar membalas cengiran kaum berusia belasan itu dengan senyum hangat. "Kalau Hibiki-Senchou, dia three pointer yang sangat hebat. Kalian tidak akan pernah menemukan form shoot-nya dimiliki siapapun selain dirinya sendiri. Well, dia bisa jadi sangat menyebalkan saat dia dalam mode three pointer-nya."

"Hee … ternyata Hibiki-san itu three-pointer, Shin-chan." Takao terkekeh menepuk bahu Midorima yang terkejut mendengar ternyata kapten utama timnas senior adalah seorang three-pointer shooter.

"Siapa lagi?" Furihata memajukan duduknya, menyuap satu sendok es krim lagi. Membiarkan Nigou menjilati tutup baskom es krim yang disodorkan Kuroko di sisinya.

"Hmmh … ah! Ada si Avatar The Last Airbender. Tunggu, dia tidak botak. Kagetora Kantoku sampai menjulukinya Penguasa Udara karena lompatan supernya." Seorang small forward bertubuh ramping menjawab antusias.

"Ada juga pebasket Smooth-Faker. Semua orang pasti tertipu oleh penampilannya."

Seorang gadis manajer ikut bergabung dalam percakapan, tersipu malu. "Center-nya tim Von … sangat tampan! Dia adalah model ternama."

"Hei, hei. Si center yang model itu hanya tampangnya saja tampan, dia pemain yang mengerikan juga. Julukannya saja Crimson Prince, cih."

"Tidak, itu point-guard utama mereka seorang gentleman tampan!"

"Orang itu baik pada semua wanita, dasar playboy. Asal kalian tahu, ya, dia itu sebenarnya orang paling tidak punya hati!"

"Hampir semua anggota tim Von memang tampan dan keren!" Gadis-gadis manajer terkikik girang mengingat rupa fisik para anggota tim divisi rahasia tersebut.

" Ada juga pebasket yang memiliki wide-vision dalam lapangan dengan keahlian broke-pass! Kalau tidak salah ingat, dia ini sampai dijuluki Vampire Knight dari Ratu Victoria—atau Elizabeth entahlah."

"Oi, jangan lupakan si stealer yang gila dalam merampas bola, Shinigami. Uh, mengingat saat dia jadi Shinigami itu—aku tidak mau melawan dia lagi."

"… jangan lupakan si iblis paling mengerikan. Astaga, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain bahwa orang itu benar-benar monster mengerikan padahal tampangnya begitu inosen seperti malaikat!"

Si pria kekar botak itu menatap serius pada benih-benih baru harapan Jepang. "Masih ada beberapa orang lagi, kami tidak tahu semua. Kami hanya pernah latih-tanding dengan mereka tiga kali dan selalu kalah. Karena mereka sepertinya punya kesibukan di luar basket—terlebih mereka juga buronan sebagai Pendosa, paling yang kami tahu hanya Hayate-san, Hibiki-Senchou. Jarang sekali ada anggota tim Von berlatih bersama kami."

Es krim tandas dilahap.

Selingkup meja disekap senyap.

Semua anggota timnas junior mengucapkan terima kasih pada timnas senior untuk makanan dan informasi yang telah diberikan.

"Hanya itu saja yang bisa kami sampaikan. Kami juga tidak bisa mendeskripsikan segala tentang tim Von, lebih baik kalian bertemu langsung dengan mereka." Pria botak kekar itu berjabat tangan dengan Akashi.

"Kami yang berterima kasih atas bantuan Senpai-tachi," kilah Akashi sambil memulas senyum tipis khasnya.

Kedua tim saling berjabat tangan dan bercakap-cakap ringan, kebanyakan tentang pengalaman dan riwayat bermain basket. Tidak lama setelah itu, menyeruak dari keramaian para atlet yang kembali ke distrik divisi masing-masing usai meristok energi, menghampiri kedua tim yang dibimbing olehnya.

"Kalian sudah siap rupanya." Kagetora menyeringai, satisfikasi tersirat dari nada bicaranya saat menatapi timnas junior yang mengangguk mantap padanya. Dia menoleh pada timnas senior unit publik.

"Laksanakan hukuman kalian. Awas kalau tidak dikerjakan, aku akan tahu siapa yang kabur dari hukuman."

"Hai', Kantoku!" hormat anggota timnas senior itu kompak.

Kagetora melenggang lebih dulu. "Oi, Bocah-bocah, ikuti aku."

Mereka mengekori sang pelatih yang berjalan memandu menuju sektor terlarang.

Kuroko berada di paling belakang.

Kagami mengernyitkan alis karena menyadari Kuroko menangkupkan telapak tangan di atas dada.

"Ada apa, Kuroko?"

"Tidak, hanya saja aku tidak bisa menghentikan debar jantung ini."

Kuroko menekan telapak tangan ke dadanya yang didecit sakit, degup semangat yang membuatnya tersenyum hampir terlihat eksplisit.

"Rasanya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada kita."

Kagami nyengir padanya, mengacak rambut lazuardi Kuroko sekilas sembari berkata penuh semangat.

"Bukankah sejak awal kita telah mengalami banyak hal luar biasa?"

.

To be continue

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Update kali ini ... termasuk cepet, 'kan ... ya? /GAK/ *dijepret keras-keras*

Maafkan untuk cepatnya pertandingan timnas senior unit publik/veteran yang begitu cepat lawan timnas junior. OTL –dia enggan mengetik grafik pertandingan basket lagi.

Mengenai tim divisi rahasia yang dilatih oleh Kagetora, itu hints sudah saya sisipkan sejak chapter 4: Ten on One.

Ada yang bertanya pada Kagetora kenapa Hayate yang dipilih untuk bertarung melawan Kisedai dkk dan satu anggota tim Von sudah muncul, yang ahli pertarungan udara a.k.a lompat-lompatan terus (kenapa bukan Ace saja yang melawan Kisedai). Ada pula deskrip keterkejutan timnas senior unit publik begitu melihat Akashi menepis Ghost Ball, karena setahu mereka yang bisa menjatuhkan hanya para Aces. Pula di chapter 6, saya ulas lagi sebelum mereka naik bus ke Tokyo Sky Tree.

Kronologis bagaimana bisa tim Von dan Kisedai dkk terbentuk itu sudah sedikit diulas pada chapter lalu. Sementara di chapter ini menjelaskan kenapa VON/Taizai no Sedai bisa terbentuk.

Sedikit saya ulas. Kisah mengenai perbasketan Jepang itu sebenarnya terpuruk tidak mengada-ada. Tim Basket Jepang itu selama beberapa dekade terakhir hanya masuk 40 besar di dunia, dan 10 besar di Asia.

Fisik memang selalu jadi faktor utama kendala pebasket Jepang terbaik bisa bersaing dengan tim dari negara-negara Barat. Tidak seperti anime-anime, manga, atau dorama, rata-rata tinggi orang di Jepang sebenarnya tidaklah super-super menjulang meski mereka memang gesit dan lincah.

Sekalinya mereka memiliki pebasket-pebasket Jepang dengan bakat terbaik, negara-negara superpower (Barat, terutama) merekrut mereka dengan alasan untuk berlatih dan mengasah bakat di sana karena manajemen dan fasilitas pelatihan departemen olahraga basket di Jepang tidaklah sebaik di sana.

Kemudian mereka memasukkan para pebasket Jepang ke tim-tim terbaik di Negara masing-masing. Karena waktu belajar yang lama, biasanya kewarganegaraan mereka berganti. Ada juga karena faktor keuangan—gaji mereka sebagai pemain jauh lebih besar di luar negeri ketimbang di Jepang, faktor dijebak, atau pun karena merasa terbebani di timnas Jepang yang sulit mendapatkan pemain-pemain terbaik.

Mungkin waktu di anime/manga, waktu Kagami di chapter 1/episode 1 bilang, "Standar bermain basket di Jepang itu rendah sekali." Sebenarnya, pada kenyataannya, ada benarnya. :")

Tapi kalau berdasarkan setting Kurobas, karena ada Kisedai dkk, jadi lain ceritanya. Jadi amazingly awesome. Terlebih Alex, saat melihat tim Yosen melawan tim lain dengan skor seratus sekian-nol, itu juga bilang: "Aku tidak menyangka level tim basket di Jepang setinggi ini." (menandakan bahwa di mata dunia, terutama di negara Amerika yang tersohor dengan basketnya, Jepang memiliki standar perbasketan yang tergolong amat rendah).

Nah, karena meriset hal itu di dunia nyata, sejak awal saya terpikirkan untuk membuat tim Von.

Trims wikipedia lagi untuk informasi ini.

Di sisi lain, karena dalam setting fic ini FIBA menambah kategori "Youth", Jepang membutuhkan timnas under legal age, jadilah dipilih Kisedai dkk. Tapi seperti yang sudah disampaikan Hayate di chapter 2, yang akan mewakili Jepang tahun ini di FIBA untuk memenangkan piala Naismith adalah tim Von.

Untuk pertanyaan yang timbul:

Kenapa tim Von dibentuk lebih dulu sementara tim Kisedai dibuat belakangan?

Kenapa tim Von kesannya overpower sekali sampai Kagetora bilang "Jangan. Hancurkan. Mereka." (mengacu pada timnas junior) dan bahkan sampai timnas senior unit publik ketakutan?

Kalau mereka sehebat itu dan Aida Riko tahu mereka dream-team, kenapa Kagetora ngotot anak kesayangannya gak boleh lihat Von saat ini juga?

Silakan nantikan chapters berikutnya bila berkenan. And see you very sweet latte(r), my dear RnR! ;)

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan