Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)

.

So, I will survive~

Dozo, Minasan!

.

Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Mahōka Kōkō no Rettōsei belongs to Tsutomu no Terror is directed by Shinichiro Watanabe. Owari no Seraph belongs to Kagaya Takami, Yamamoto Yamato, and Furuya Kitan: Game of Laplace produced by Lerche and directed by Seiji Kishi. Charlotte produced by P. and Aniplex and directed by Yoshiyuki Asai. I don't own them. I do not take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, shounen-ai, ambiguity, basket battle scenes, etc.

Italic: Flashback

.

SPECIAL WARNING: Khusus untuk chapter ini, ambiguitas dan hints shounen-ai lebih eksplisit dari sebelumnya. Jika tidak suka, silakan skip quarter 2 sampai setelah pertandingan selesai atau satu arc ini.

Jika Anda tidak menyukainya, mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih untuk pengertian Anda. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Payung yang berputar. Berputar. Kecepatan terakselarasi hingga yang mengawasi memilih berpaling daripada didesing pening tujuh keliling. Denting nada-nada meninggi, tuts di gagang ditekan, sekejap mata layar berlindung dari tangis langit—payung itu terkembang cantik.

"Oke,selesai!"

Atas seruan itu, alun musik layaknya lulabi pengantar mimpi terhenti, bertepatan dengan pebasket hantu terkapar dengan payung menaunginya. Terengah-engah lelah.

"Otsukaresamadeshita, Senpai."

Senyumnya yang merupakan perwujudan nyata lengkung mengerikan di wajah pengedar terror layaknya dalam film horror, itu tak lagi merontokkan mental dan melantak nyali semua anggota tim tersebut.

Kini mengerti kurva lugu itu biasanya adalah manifestasi eksitasi, atensi, ataupun afeksi, maka yang diuntai senyum tersebut mengganjar dengan liukan bibir setimpal disertai uluran sebotol minuman.

"Uhm." Bola mata di antara rongga yang kurus, membeliak. Terlihat layaknya mayat yang membelalak, wafat karena sistem respirasi tersendat. Padahal itu pendar antusias yang anomali. "Terima kasih, Otouto yo."

Manajer mereka tertawa lembut, menyebabkan para pemuda yang ada di sana menoleh padanya. Mendapati satu-satunya dewi di antara mereka menatap lembut seluruh anggota tim. "Maaf. Entah kenapa aku merasa senang karena kali ini kalian semua bermain sebagai satu tim, tidak dibagi dua dan saling lawan seperti biasa."

Seseorang yang tengah melompat-lompat ringan di trampolin itu balas tersenyum, lalu melontar tanya, "Berarti sekarang semua dari kita punya kesempatan sama untuk jadi starters melawan tim baru Kagetora-Kantoku, ya?"

"Harusnya begitu." Satu dari dua taktis utama men-tapping kacamatanya seraya menekuni dokumen bertuliskan serangkaian kalkulasi aksi-reaksi yang berserakan di hadapannya.

"Maksudmu apa, Senpai?" tanya pemuda yang memberikan minuman pada sang hantu, menatap rekan taktis lain yang berada di sisinya. Sweatdrop karena seorang taktis tim mereka menekuri laptop dengan grafik statistik rumit terpapar di layar.

Mereka yang terbiasa di bench melongo melihat anggota trio taktis tim Von serentak menghela napas pendek dan menggeser perhatian mereka (dari kesibukan masing-masing yang dikorbankan demi memenuhi permintaan pelatih mereka untuk menyambut timnas junior) pada kepompong belingsatan di tribun penonton.

Kepompong itu baru ada ketika pelatih mereka datang, bertengkar dengan ace di antara para aces, dan—

"—ah." –yang kompak dari tim pengemban harapan. Seketika semua merasa paham.

Pemuda yang tengah mengutak-atik komplikasi aritmatika dan teori kalkulus itu tersenyum tiada maksud bulus, lantas mengujar halus, "Mungkinkah dia tidak akan bermain?"

"Mungkinkah ada yang bisa menghalangi ace kita untuk tidak bermain?" ralat pemuda lain yang menyerakkan foto-foto menampilkan ceceran potongan tubuh dalam genangan darah di atas lapangan bersebelahan dengan kaleng kopinya. "Kantoku saja tidak bisa."

Pernyataan itu kompak memosi seisi tim memandangi kapten mereka yang berpretensi tidak disirami atensi, berupaya—yang sebenarnya tak berguna—mendistraksi perhatian mereka dengan menyambut hantu mereka yang terseok-seok dari matras naik ke sofa dan merebahkan diri.

Kapten mereka itu membiarkan sang hantu menjadikan pangkuannya sebagai bantalan. Tertawa seringan biasanya karena pebasket hantu mengutuk hitungan curang putaran pemanasannya, merutuk karena sang kapten malah berhasil memerintah center mereka mengabadikan momen terjeleknya untuk jadi cetak hitam memalukan, menggunakan payungnya tercinta menusuk pinggul seseorang yang hanya menanggapi dengan tawa.

"Ya, tentu saja. Semua punya kesempatan yang sama untuk bermain melawan timnas junior." Pemuda yang memonopoli sofa sebagai kavling kekuasaannya itu memandang satu per satu anggota timnya—termasuk yang digantung terbalik.

Blonde tunggal di antara mereka mendesah. "Senchou, jangan membahayakan dirimu lagi. Kau tidak ingat pesan Kantoku?"

Sejenak perkataan salah satu point-guard mereka itu menyebabkan keheningan meringkus seisi gim.

Senyuman dingin sang kapten yang terliuk kemudian membuat seisi tim merinding.

"Kupikir kalian tahu bahwa yang Kagetora Kantoku pesan—atau lebih tepatnya, ancamkan itu, melanggar etika paling tabu dalam pertarungan."

Di saat seperti ini, hanya ketua taktis tim mereka yang berani menyahut, "Tentu kami tahu."

"Ya sudah." Sekejap mata ekspresi meremangkan bulu kuduk itu melumer entah kemana. Kapten mereka kembali seramah yang biasa. "All clear then."

Gadis serupa kembang di antara para kumbang itu melirih khawatir, "Hibiki-san, bagaimana dengan starters untuk melawan timnas junior?"

Tim Von bermuka stoik memahami kapten mereka hanya tersenyum inosen menanggapi perkataan seseorang yang mewakili yang lain mengemukakan kekhawatiran mereka.

"Sebenarnya, justru selain Hayate, yang lain berhak untuk jadi starter. Adik-adik itu butuh balas dendam dan terobsesi pada satu dari keluarga kita—hanya pada Hayate."

Kapten mereka itu menggapai gitarnya, tangannya terbagi antara memetik senar gitar dan bergerak dari satu kunci ke kunci lainnya dengan presisi melodi yang impresif. Musik ringan—isyarat akan hiburan dan meringankan hati, seperti senyum boyish ringannya yang menaklukkan anggota-anggotanya yang berego tinggi. Mengabaikan gerung sebal Hayate yang tidak begitu menyukai lagu pop—sang Hantu adalah pecinta enka garis keras.

"Satu bulan waktu yang lama juga. Mereka membuat kita menunggu. Berdoalah semoga dalam sebulan mereka telah benar-benar pulih dan bisa merasa senang saat bermain basket dengan kita," ujar ketua umum timnas junior se-Jepang itu halus dan terdengar tulus.

"Kau memikirkan senang tidaknya mereka bermain basket, Senchou?"

Alih-alih tersentuh, pemuda yang paling muda dan keras kepala seperti biasa, terlanjur bertanya hal tabu—menyergah kaptennya. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Dia menatap lurus dan tegas kapten yang dihormatinya, mengabaikan tatapan anggota mereka yang terbagi antara mereka berdua.

"Bagaimana caranya pemain sepertiku bisa senang melawan pemain basket seperti mereka?"

Sesak berkepak dalam ruangan, tapi tetap tak sanggup mengoyak nada-nada ringan yang teralun dari jari-jari berkalausa akan gesekan senar dan padatnya material bola basket.

"Bersyukurlah." Kapten mereka mengangguk-anggukkan kepala menikmati alunan melodi, cengirannya menyiratkan canda. "Walaupun kau tidak tahu seluar biasa apa perkembangan adik-adik itu sekarang, setidaknya kau tidak melawan kami dalam mode paling serius seperti latih-tanding tim kita."

"Jangan bahas itu." Dia menggerutu pelan. Membuang kasar karbondioksida dan menghirup dalam-dalam. Ia tidak ingin mengingat rupa sesungguhnya setiap anggota timnya ketika berlaga di lapangan berkilauan dengan bola basket di tangan.

"Setidaknya kau punya kami di sisimu saat ini." Kaptennya tersenyum tipis. Pandangannya melunak pada seseorang yang dianggap adik paling bungsu oleh semua anggota timnya." Apa kau tidak senang bermain basket dan bersama kami, hm?"

Sesaat pertanyaan halus itu menghunjam kekukuhannya, meruntuhkan lagi kesah resah yang menerpanya. Kepalanya sekilas terunduk pada persona seperti padi-padi kuning berisi yang begitu merunduk, merendah, membumi, padahal eksistensi kekuatan mereka jelas-jelas bukanlah yang memijaki bumi.

Jika saja mereka melenting arogansi tinggi, ia bisa saja merasa itu hal yang wajar—para jenius pekerja keras adalah golongan yang terlampau langka. Namun selama setengah tahun bersama mereka dengan pengalaman yang mengirik tempat untuk selamanya tersimpan di hati, pada saat-saat seperti inilah rasa segan itu meluap-luap ke permukaan.

"Pertanyaan bodoh macam apa itu?" Dengusannya menyemai tawa penuh pengertian dari yang lain. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, karena jawabannya sudah terlalu jelas—perasaannya lebih dari sekadar kesenangan—dan anggota timnya memahami hal itu. "Bagaimana dengan kalian? Bagaimana bisa merasa senang sementara kalian harus menahan diri?"

Mungkin wajah seorang anggota yang gelisah tersebut tidak menunjukkan dirinya tercenung ataupun tersentuh akan perkataan sang kapten barusan—dengan senyuman boyish tulus yang menaklukkan seluruh pebasket-pebasket berego dan arogansi tinggi, tapi pemain termuda itu menyeringai—merasa lega sekaligus menantang.

"Kalau soal merasa senang—" Kapten itu menghela napas penuh pemahaman akan siratan menantang si bungsu, "—kau ini seperti tidak mengerti saja, bermain basket sebebas sekarang ini adalah anugerah yang sangat membahagiakan."

Satu per satu anggota yang lain bergumam setuju dengan jawaban kapten mereka. Bermain basket bebas tanpa beban adalah harga yang mahal yang mereka perjuangkan dengan menjadi pengkhianat. Tak seorang pun menyesal menyia-nyiakan kejayaan mereka untuk mendapatkan kebahagiaan bermain basket tanpa siksa derita dan tekanan mental yang berat.

"Hibiki-Senchou."

Panggilan parau itu mengalihkan sang kapten pada pemuda dalam pangkuannya. Tangannya berkhianat dari senar gitar pada dawai salju yang terurai di pangkuannya.

"Hmm?" gumamnya lembut.

"Aku capek. Kau tega mengerjaiku." Wajah merengut itu menginvitasi siapa pun untuk menggantungnya selayaknya teru-teru bozu bermuka mengerikan karena tintanya luntur di hari berhujan. "Dan aku tidak mau melawan mereka la—payungku!"

Si albisian meratap nelangsa ketika pemuda dengan mata lazuardi itu berkilat-kilat jenaka, merampas separuh hidupnya (baca: payung) dan merilis gestur hendak membuang benda tercintanya jauh-jauh.

Hayate berusaha mencekik kaptennya dengan jari-jari kurus panjangnya, tapi jemarinya malah dipelintir dan ia memekik getir—kalah kuat. Berniat membanting orang nomor satu yang selalu berintensi melenyapkan payung putihnya dari muka bumi, tapi hanya bisa memicingkan mata tajam pada pemuda yang melepaskan tangannya dan berpindah menyangga dagunya.

Tak ada yang mengindahkan pergulatan dua pemuda itu, terbiasa kendati musnah sudah kapten easy-going mereka menjelma pria dengan vibrasi bariton seksi layaknya penggoda malam paling jahanam.

"Ini bukan negosiasi, tapi instruksi, Hayate."

Kelereng oniks balas membelalak ganas. Tidak gentar kendati kekuatannya terlampau mudah dilibas, Hayate menandas tegas. "Aku juga tidak berbasa-basi, tapi aku tidak ingin bertarung dengan mereka setengah hati apalagi dengan kondisi fisik seperti ini."

Hibiki tampak konsideratif sesaat, barulah menegakkan tubuhnya, membelai sekilas dagu partner-nya sebelum menjetik dahi diuntai helai-helai seputih awan. Mengabaikan gerungan mistis dan cemberut yang ditujukan padanya, ia melirik pada point-guard utama tim mereka.

Otomatis perhatian terinai padanya. Pemuda tersebut hanya membalas hanya tatapan kaptennya, mengerti arti tatapan yang disiratkan padanya, ia berujar tenang, "Biarkan Hayate istirahat dulu. Kita tidak mungkin mengecewakan anak-anak itu dengan membiarkan Hayate duduk di bench."

Ketua taktis tim itu melepaskan laptop yang sedari tadi ditekuninya, menumpangkan kaki kanan di atas kaki kiri, bertopang dagu dengan siku sebagai titik tumpu di meja. "Mungkin pola pikir kita yang perlu diubah untuk pertandingan ini. Kita tidak perlu menahan diri dan malah jadi terbebani. Sebelum mereka datang, sebaiknya kita cari cara bermain basket yang menyenangkan serta tidak setengah hati bagi kita dan mereka sekaligus—dan tidak melanggar janji pada Kategora Kantoku."

"Memang ada cara semacam itu?" tukas pemain yang hanya membuka satu matanya itu heran—karena satu matanya lagi dibaret bekas luka.

"Makanya tadi dia bilang kita harus cari bersama cara itu, Otouto." Pebasket hantu menanggapi sambil mengelus dahinya yang dikemuti nyeri.

"Oh, baiklah, baiklah. Kakak-kakakku yang jenius—" Nada sinisme ditujukan pada senior-seniornya, "—silakan cari cara untuk membuat kalian bisa bergembira bermain basket dengan timnas junior itu tanpa perlu tersiksa menahan diri." Pemuda yang difigurkan sebagai adik terbungsu itu mendengus lebih keras, kemudian melengos pergi.

"Hei, kau mau kemana?" tanya pemuda berjulukan avatar itu yang kini melompat-lompat ringan di atas trampolin.

"Menghubungi sekuriti," jawab junior termuda itu, "lampu di lorong gim kita mati dan penerangan koridor minim sekali. Bohlam lampunya perlu segera diganti."

"Nanti juga cleaning service datang sendiri melaporkan ke sekuriti." Center timnas senior unit reguler itu menyernyitkan alis, merasa heran.

Dia menghela napas pendek. Agak geli ketika berkata, "Lebih baik sekarang. Aku tidak mau salah satu pemain yang pasti menarik perhatian kalian sampai jatuh pingsan karena melewati lorong sialan gim kita."

Manajer mereka turut menyematkan tatapan heran pada pemuda yang melengang menuju pintu gim. "Eh, kenapa bisa sampai pingsan? Phobia gelap?"

"Bukan." Tawa rendah. Pandangannya melunak. "Takut hantu, dan tempat gelap itu selalu memberikan kesan berhantu, 'kan?"

Sejenak hening.

"Aaah." Wajah si pemain termuda mendadak memucat mendengar nada familiar menyebalkan itu. Apalagi senyum-senyum di wajah-wajah yang mengerlingkan godaan padanya. Apalagi kapten sialannya itu. "Ternyata kau sangat perhatian, ya—"

Jeda.

Tim yang dipredikati sebagai tim terbaik antar ketiga unit timnas Jepang saat ini, masing-masing dari mereka memutar kepala pada sang kapten yang terpenggal untaian kalimat verbalnya. Sedetik kemudian menyeringai. Detik berikutnya tawa dingin yang menyebabkan mereka bergidik. Detik selanjutnya jari-jarinya menari di atas gitar mengumandang nada-nada kemenangan.

"—ah."

Cetusan tak bermakna dengan pijar jenaka di mata langit itu, cengiran boyish nakalnya yang melunturkan gurat kedewasaan dan keramahan yang biasa. Apa pun yang akan dilakukannya, pasti berujung mala petaka.

Kapten mereka adalah orang nomor satu yang tak pernah jera nyawanya dalam bahaya dan selalu punya cara untuk menginisiasi suatu perkara berbuah bencana.

"Sinners, dengarkan rencana brillian ini!"

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Kiseki no Nakama

.

Chapter 15

"Von and the Weight of being a National Team Captain"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Gedung kompleks divisi basket memang jadi satu dan berada di lokasi strategis berdekatan dengan lobi utama. Namun divisi rahasia setiap departemen olahraga dibekuk dalam satu tempat yang disebut Sektor Terlarang, berjarak dua gedung setelah gedung utama tempat timnas senior unit publik berlatih.

Tempatnya lebih grandish, stylish, dan sukses membuat seluruh anggota timnas junior sweatdrop dengan desain eksterior mencolok dan memikat perhatian itu. Ada begitu banyak sekuriti yang berjaga di sekitar sana.

Pelatih mereka tak berkata apa-apa lagi sepanjang perjalanan. Mengeluarkan dompet untuk menunjukkan sebuah kartu—mungkin tanda pengenal atau semacamnya, dan timnas junior dicegat masuk. Kagetora memberitahukan beberapa hal lagi yang tidak bisa didengar oleh mereka, barulah mereka diperbolehkan untuk lewat.

Begitu menjejaki lobi, ada mesin detektor barang bawaan jadi mereka harus terhenti di situ dan membiarkan petugas di pintu lobi utama untuk mengecek barang bawaan mereka.

Setelah itu Kagetora beranjak menuju ke resepsionis, tidak memedulikan seloroh dan decak kagum bocah-bocah yang digiringnya itu karena lobi utama ini terlihat lebih seperti lobi hotel bintang lima daripada gimnastik elit.

Mereka berbisik-bisik, memerhatikan Kagetora berkonversasi sekilas pada wanita petugas resepsionis yang tampaknya mengenal baik dirinya. Para pemuda dan satu pemudi itu dibuat terkejut ketika Kagetora mengangkat kedua tangannya dan ada infra merah sekilas bersinar di bawah sepuluh jemarinya, lalu wanita itu membimbingnya mendekatkan mata ke salah satu eye fish lens.

Wanita itu kemudian mengangkat sebuah camera dan Kagetora mendekatkan matanya ke sana. Setelah itu entah apa yang diproses, Kagetora berbincang dan sesekali memosi anak-anak di belakangnya pada wanita tersebut.

"Kita ini mau masuk ke bank atau apa?" tanya Furihata bingung.

Sakurai merapat pada rekan-rekan setimnya. Kedua alisnya bertaut. "U-uhm … kita seperti masuk penjara."

"Tadi itu … apa yang Kagetora Kantoku lakukan?" tanya Takao yang tidak lepas menatapi pelatih mereka.

"Sepertinya cek sidik jari dan retina. Untuk kepentingan keamanan." Akashi di sisi Takao turut mengamati apa saja yang dilakukan pelatih mereka.

"Berlebihan sekali." Aomine menguar lebar, mengantuk karena bosan.

"Kenapa pakai keamanan seketat ini?" Kali ini Momoi yang bertanya bingung.

Midorima membenarkan belitan perban di tangan kirinya. "Mungkin untuk mencegah mata-mata atau pembobolan sistem data divisi rahasia dari sini."

"Sistem data itu pasti ada sistem keamanan data dan jaringan sendiri, Midorima." Akashi mengulas senyum, berupaya tidak terlihat terlalu geli pada Midorima yang mendengus kesal padanya dalam gumam ("Aku tahu itu, nanodayo.") kemudian mengedarkan pandangan. "Tempat ini sekretif. Hanya display luar saja."

Aomine mengerling ke samping—pada kaptennya. "Apa maksudmu, Akashi?"

"Eksterior tempat ini terlihat seperti TKP kriminal. Interior ruangan tempat ini lebih mirip tempat yang mewah," analisis Akashi ringan, "sengaja dikonstruksi seperti ini untuk mengecoh penyusup—bila ada yang menginfiltrasi tempat ini."

Kise terkekeh riang. "Rasanya tempat ini keren sekali dan cocok untuk orang-orang keren juga."

"Kise-kun tidak cocok di tempat seperti ini." Kuroko mengulum senyumnya setelah mengatakan hal tersebut, wajahnya sedatar biasanya.

"Kurokocchi kejam—ssu!" Kise menangis komikal karena perkataan Kuroko.

Di sisi lain, Himuro dan Kagami bersitatap bingung, menatapi Murasakibara yang mendongak ke langit-langit.

"Ada apa, Atsushi?"

"Langit-langit ruangan ini sangat tinggi." Murasakibara menjulurkan lengan pada kerlap-kerlip lampu gantung mewah yang menerangi lobi utama, seakan hendak meraihnya. "Itu seperti maiubo."

Kagami mendengus pendek. "Pikiranmu hanya makanan saja, seperti bocah."

Twitch. Murasakibara mendelik sengit pada Kagami. "Untuk orang yang dari tadi pagi minta cheese burger, kau lebih bocah."

"Apa?!"

"Kau mau kuhancurkan, hah?!"

Himuro sweatdrop, ia berusaha melerai keduanya yang memelototi satu sama lain. "Ini bukan waktunya untuk bertengkar."

Kebetulan Kagetora berseru memanggil timnas junior untuk mengikutinya menghilang ke dalam suatu koridor lagi.

Mereka berjalan tidak terlalu jauh, tapi koridornya berkelok dengan banyak lorong lain dan papan penunjuk arah setiap divisi. Begitu suatu koridor remang dengan penghujung gelap yang tidak kelihatan di mana ujungnya, Kagetora melangkah santai menelusuri koridor tersebut.

Bunyi langkah mereka merintiki seisi koridor, bergema menyeramkan karena suasana di sekitar terlalu sunyi. Suara tegukan saliva pun terdengar keras dan desah napas tertahan karena ngeri.

"A-apa-apaan tempat ini?" repet Kagami, sebal yang terdengar gagal total. "Tadi se-seperti penjara, b-bank, hotel … se-sekarang?"

Kuroko menyahut datar di sisinya. "Seperti bangsal rumah sakit jiwa."

"Tempat isolasi," ujar Takao dengan tawa berdebar penuh semangat.

"Bagiku ini seperti tempat eksekusi mati." Akashi ikut menyuarakan pikiran.

"Atau kamar mayat," sahut Kise inosen.

"JANGAN BICARA SEPERTI ITU!"

Serentak satu tim memutar kepala untuk menatap kedua pemuda yang kompak berseru galak. Ya, wajah mereka menampilkan ekspresi garang, tapi tubuh mereka berlindung di balik pilar ungu tim mereka.

"Kaga-chin, Mine-chin, aku sesak."

"… kalian berdua … sama-sama takut hantu?" Pertanyaan ragu Furihata itu yang ditanggapi terbata itu merembaskan tawa tertahan dari pemuda-pemuda lain di sekitarnya.

"S-S-S-SIAPA Y-YANG TA-TAKUT?"

"Hum. Dai-chan dan Kagamin, mereka berdua punya gaya bermain basket yang sama, sama-sama suka cheeseburger, punya nomor sepatu yang sama, dan takut—"

"TIDAK. SI-SI-SIAPA Y-YANG TA-TAKUT HANTU?!"

"Lepaskan aku, Kaga-chin, Mine-chin!" Murasakibara mendengus jengkel karena digelayuti dua pebasket tersebut.

"Oke, tempat ini gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Sebaiknya kita berhati-hati." Himuro memperingatkan sembari meraba dinding dalam gelap.

"Benarkah? Aku masih bisa melihat," tanggap Akashi terlampau tenang.

Takao terkekeh. "Aku juga."

"Kau lihat di sana ada pintu?" Akashi tersenyum tipis mengerling Takao yang disadarinya tengah meliriknya.

"Hum. Pintu besar, mungkin untuk masuk gim." Takao mengangguk, dia nyengir ringan—lega karena Akashi yang ini tampak lebih ramah dari sebelumnya waktu pertama kali mereka bertemu. "Kau lihat di situ yang enam langkah lagi Shin-chan injak ada genangan air? Dia akan terpeleset sebentar lagi."

"Midorima, kau dengar kata Takao-kun? Jangan berjalan di sebelah kanan sana. Melangkahlah ke kiri lima kali."

"Oke, berjalan di belakang kami saja Shin-chan! Pasti aman!"

Midorima menahan kedutan di pelipis seraya berujar sinis, "Untuk kalian berdua yang punya kemampuan semacam indera pengelihatan abnormal, lebih baik kalian diam, nanodayo."

Sret.

Gubrak.

"Siapa itu yang terpeleset?" tanya Sakurai kaget.

Akashi dan Takao refleks menjawab, "Mungkin Shin-chan/Midorima."

Midorima yang tidak terpeleset berseru sebal, "Untuk kalian yang punya semacam indera pengelihatan abnormal, jangan mendadak merasa punya indera pengelihatan normal, nanodayo!"

Three-pointer itu tahu benar dua point-guard di hadapannya pasti tahu dia tidak terpeleset, dan bahkan ia yang tidak punya abiliti visi abnormal saja rasanya mendadak bisa melihat senyum menyebalkan (aslinya, senyum kasual penuh canda yang sama sekali tidak lucu) terentang di bibir keduanya.

Yang lain sibuk mengabsen diri, selain Kagami dan Aomine masih menjadikan Murasakibara sebagai protektor, satu per satu dari mereka menyahut—baik-baik saja.

Furihata yang merasakan lengannya ditarik, dalam gelap berbalik menarik tangan Kuroko untuk berdiri susah-payah—dan ketika ia ditanya langsung menjawab dirinya baik-baik saja. Beruntung Kuroko tetap menjawab setenang yang ia biasa. Dia tersenyum merasakan tepukan apresiatif di lengannya—tanda terima kasih non-verbal dari kawannya.

Well, lelaki memiliki gengsi. Di mana harga diri jika ketahuan terpeleset?

Beruntung Kagami sedang ketakutan, jika tidak, pemuda yang dulu pernah di hidup di Amerika itu pasti akan mengetahui Kuroko yang sebenarnya terpeleset.

Tik.

Tik.

Tes.

"Hiiirrgh ... bunyi apa itu?!"

"Aduh, Kagamicchi, itu hanya bunyi tetes air."

"A-aku mendengar suara-suara—"

"Suaraku terdengar, tidak, Aomine-kun?"

"GRAGH—TETSU, JANGAN MUNCUL TIBA-TIBA BEGITU!"

"Dari tadi juga Kuroko-san ada di sini, Aomine-san."

"Aaargh! Kalian ini berisik sekali." Kagetora mengacak rambutnya sekilas. Dia berhenti melangkah, menyadari pintu besar menghalanginya dari koridor dan gim yang ditempati tim binaannya. Dipijitnya interkom. "Berhenti teriak-teriak begitu! Tidak akan ada apapun menakutkan—"

"Ta-tapi kalau ada—"

"—diam! Tidak ada hantu—"

Krieeet.

Pintu besar berderit berat terbuka. Secarik cahaya melayang. Seraut wajah sepucat mayat hidup. Seakan jasad itu telah lama bergentayang dengan memegang benda tajam berlumur liquid merah menetes, menggema, lalu menggerung sendu—

.

.

.

"Kantoku?"

.

.

.

Arwah mereka melayang.

.

.

.

"AAAARRGHHH! HANTUUUU!"

.

.

.

Jerit histeris ultrasonic nyaris memecahkan gendang telinga.

Tawa laknat berderai bergaung kemana-mana dari balik pintu gim.

Urat di dahi sang pelatih berkedut keras. "Kenapa kau yang membukakan pintu dan kenapa lampu dalam gim mati, Hantu?"

"Karena disuruh Hibiki-Senchou," jawabnya lugu. Melihat siapa saja yang datang, ekspresinya mencerah, senyum mistisnya merekah. "Kuroko-kun dan teman-teman berambut pelanginya, akhirnya kalian datang juga!"

"Maaf membuat Anda dan yang tim Anda lama menunggu, Hayate-san," sapa Akashi tenang.

Hayate terkekeh aneh. "Kehkehkeh. Kalian bisa datang saja kami sudah senang."

Baik itu yang takut hantu ataupun tidak, semua anggota timnas junior refleks merapat ke belakang kapten mereka. Tawa hantu jejadian di hadapan mereka menggema mistis dan mengerikan terpantul-pantul sepanjang lorong gelap ditingkahi gemercik tetes air, sadar tidak sadar membuat mereka menggigil ketakutan.

(Kenapa bersembunyi di belakang Akashi? Siapa tahu, mungkin saja emperor eyes bisa menakuti hantu.)

Kagetora mendesah sebal. Timnas senior rahasia ini acapkali melampaui batas usia mereka, berkelakuan kekanakan sesekali. Dia mendengus marah, mendorong pintu untuk terbuka. Gelap, tidak terlihat apa-apa. Hanya desing tawa tertahan dan bunyi-bunyi misterius yang terdengar telinganya.

" .AN! Apa yang kalian lakukan menakut-nakuti timnas junior seperti ini, hah?" Kagetora menerobos masuk, melewati Hayate yang membawa lilin beralaskan tatakan gelas. Gelap gulita dalam gim. "Oi, nyalakan lampu!"

Ada suara petikan jari. Tawa renyah sang kapten timnas senior.

"Light on."

Bunyi beberapa saklar ditekan sekaligus.

Begitu cahaya menghujani seisi gimnastik teramat luas itu, dua lapangan basket berkilauan menghantam ruang pandang para pendatang. Tribun penonton yang berada lebih tinggi melingkupi seisi lapangan. Dua buah bangku panjang. Meja wasit yang tidak diisi kursi biasa melainkan tergantikan sofa kulit yang berantakan dipenuhi pelbagai macam benda.

Stand-camera di dekat meja wasit. Speaker di kaki meja wasit. Ranjang bola basket di sudut-sudut ruangan. Peralatan seperti handuk dan botol minum ditaruh rapi di belakang kaki bangku panjang.

Di antara dua ring basket terdapat trampolin, matras, dan galah.

"Giliranmu, Twelve!"

Seruan itu membuat seseorang yang tengah menyeringai, melesat sprint menghempaskan angin pada mereka, melompati trampoline, lompatannya begitu tinggi.

"POSE!"

Seseorang yang tengah melayang di udara itu bersalto indah, kedua lengan direntangkan dengan kaki dinaikkan. Seintens elang predator yang sigap hendak menyergap mangsa. Seseorang yang berada di ujung tumpukan matras menekan shutter kamera berkali-kali dalam posisi berlututnya.

Bruk.

Melewati galah, mendarat dengan mulus—posisi mendarat sempurna. Perfeksi akan terimpresi pada performanya barusan bila saja si pelompat itu tidak mengangkat kepala dan memperlihatkan topeng konyol kekanakan yang dikenakannya.

Timnas junior yang baru masuk gimnastik bisa merasakan garis-garis imajiner suram melihat topeng yang menutupi wajah salah satu pebasket terbaik itu.

Hibiki berdiri dari singgasananya—sofa, tersenyum ramah dan membungkuk hormat.

"Selamat datang. Sudah lama sekali kami menunggu untuk bertemu dengan kalian."

Bocah-bocah itu dibuat terkesima di pintu masuk, tapi Kagetora melengos masuk untuk mencecar timnas senior itu dengan etika dan tata krama penyambutan yang baik.

"Silakan masuk."

Seorang gadis dewasa menyambut mereka dengan senyuman memesona. Rambut indigonya yang terurai anggun, tertimpa cahaya, menyebabkan setiap helainya begitu berkilau. Beberapa pemuda menatapnya tanpa berkedip, gadis yang dari bahasa tubuhnya tampak bermartabat dan sangat elegan.

Akashi yang tampak paling terkejut ketika gadis berambut indigo dan poni serata sadako itu tersenyum lembut padanya. Sejenak keduanya bersitatap lekat, lalu bertukar senyum.

Di sisi lain, timnas junior dibuat mengeret ngeri karena pelatih mereka melesat kilat pada pemuda yang mereka kenali sebagai kapten tim Von, mengacungkan pistolnya pada pemuda yang tidak gentar sedikitpun ketika pelipisnya disosor logam dingin berbau mesiu.

"JELASKAN PADAKU KENAPA KAU MEMBUAT KEGEGERAN SEPERTI TADI!" Kagetora muntab tak terkira. "CEPAT! SEBELUM KAU MATI."

Hibiki mengejapkan mata inosen. Ibujari tertunjuk pada anggota termuda timnya. "Dia bilang, katanya ada yang takut hantu. Jadi, ya, berdasarkan informasi darinya, kami sedang menguji hawa hantu Hayate apakah masih efektif atau tidak, Kantoku. Ini demi kepentingan performa tim Von melawan timnas junior."

"Senchou, jangan melimpahkan kesalahanmu padaku! Ini idemu!"

Suara familiar yang memedih hati itu membuat beberapa anggota timnas junior syok tak percaya melihat sosok yang berdiri di sisi sang kapten timnas senior dan tengah mengomel.

Figur seseorang yang jadi panutan mereka sejak baru masuk tim di sekolah menengah pertama. Senior tegas yang kekaguman padanya selalu tercurahkan. Pemain senior yang saat itu adalah power foward dengan drive terkuat. Seseorang yang mereka tahu dan kenal baik—

.

.

.

"—NIJIMURA-SAN?!"

.

.

.

"Oh." Hibiki bersiul pelan. "Otouto, mereka benar-benar mengenalmu."

Nijimura mendengus kesal. "Tentu saja. Sudah kubilang, aku mengenal mereka sejak mereka masuk tim basket Teikou."

"Nijimura-san …"

Pemuda tertinggi di tim Von itu mendelik pada junior-juniornya karena memanggilnya terlampau syahdu—syok. Rambut mereka masih sama warna-warni konyol pelangi. Wajah mereka tidak imut-imut seperti dulu lagi. Bahkan jauh lebih dewasa dari waktu itu yang Nijimura lihat melalui rekaman CCTV di Sky Tree.

"Lama tidak bertemu, Nijimura-san."

"Nijimura-san, bukankah kau ke Amerika?!"

"Kapan kau pulang kembali ke sini?!"

"Kenapa tidak ikut Inter-High dan Winter-Cup?!"

"Uwaah! Nijimura-Senpai kau terlihat tidak berbeda sejak hari kelulusan—ssu!"

"Bagaimana bisa Senpai ada di tim nasional?!"

"Berarti selama ini Senpai tahu kami juga tergabung dalam timnas junior, nanodayo?"

Tawa-tawa orang dewasa berguguran menanggapi serbuan pertanyaan yang ditujukan pada mantan kapten tim basket Teikou tersebut.

"Pertanyaan kalian terlalu banyak." Nijimura mendengus geli pada eks-adik-adik kelasnya semasa di Teikou. "Aku memang sempat ke Amerika karena Ayahku yang sakit berobat di sana, aku pulang ke Jepang baru tahun lalu untuk FIBA World Cup Championship—dan demi ayahku, makanya aku tidak ikut Inter-High ataupun Winter Cup."

Nijimura tersenyum, antara geli dan ingin mengomeli satu per satu bocah-bocah—tepatnya sekarang remaja—yang menatapnya antara percaya dan tidak. Siapa sangka para eks juniornya itu masih mengingatnya, seorang pemain basket yang tidak sekaliber mereka.

"Shuzou-san."

Ah, suara itu. Tidak seasing junior-juniornya ataupun gerombolan pemuda lain di timnas junior yang menatapnya asing.

Nijimura melunak menatap seorang temannya dulu, pemandunya yang baru pertama kali datang ke Amerika. Pemuda yang dikiranya cantik dan terlalu lembut, padahal begitu kuat menghajar preman-preman berbadan kekar dua kali lipat darinya. "Lama tidak jumpa, Tatsuya."

Sunyi.

Serasa ruangan gimnastik megah ini mendadak bernuansa sakura imajiner berhamburan dramatis diajak angin berdansa.

"Cie."

Cetusan pendek nan inosen dan super mistis Hayate itu meretaskan ekspresi distan seisi anggota timnas senior menjadi tawa kecil, terlebih ketika Nijimura melotot ganas padanya.

"Niji-chan malu!"

"Dia bertemu mantan—"

"Pertemuan kembali yang sangaaat mengharukan."

"Mungkin akan ada yang bersemi kembali."

"DIAM, SENPAI-TACHI!" Nijimura menyentak galak. Alih-alih ketakutan karena bentakannya, volume tawa mereka makin mengeras. "Dia—"

"—dia, dia, dia, yang kutunggu-tunggu—"

"—Hibiki-Senchou, kubanting gitarmu sekarang."

"—jangan main kasar begitu. Yang lembut saja, Otouto yo."

"Oh, Hayate, jangan bicara ambigu pada Nijimura. Dia tidak mengerti."

"Kubuang sekarang juga payungmu, Hayate-Senpai!"

Nijimura mengambur gusar karbondioksida ketika duo pebasket itu terkekeh-kekeh jahanam. Khatam paham bahwa senior-senior jahatnya itu tidak akan berhenti menggodanya. "Namanya Himuro Tatsuya. Dia dulu temanku waktu aku baru datang ke Amerika."

"HEEE?!" Belasan pasang mata membeliak, terbagi antara Himuro Tatsuya dan Nijimura Shuzou.

"Iya, ya. Kalian berdua seumuran." Kagetora merepetisi kebiasaannya, mengelus jambang halus yang merambati rahangnya. "Tapi tidak kusangka kalian pernah bertemu."

Pemuda yang paling muda itu membelalak galak pada kepala-kepala pemuda dewasa yang merapat dan (sok) berkasak-kusuk melankolis sembari terang-terangan melayangkan lirikan penuh godaan kendati ekspresi mereka begitu dingin.

"Takdir memisahkan mereka. Yang satu di timnas senior, yang satu di timnas junior."

"Takdir mempertemukan mereka di Tanah Paman Sam, kemudian mempersatukan mereka lagi di Tanah Air."

"Berhenti bergosip, Senpai-tachi! Kalian membuat kesalahpahaman!" seru Nijimura frustrasi.

"Kami tidak bergosip." Hibiki memimpin konfrontasi tim Von pada anggota termuda mereka yang paling menyenangkan untuk digoda. Dia mengangguk-angguk dengan wajah amat sangat serius (yang pretentif), bahkan kedipan nakalnya tidak selaras dengan roman serius yang terulas di wajahnya. "Kami berdiskusi."

"Diskusi apanya?!" Nijimura mendecih sebal dengan bait hiperbolis senior-seniornya.

Bagaimanapun, usia yang lain lebih tua darinya, dan waktu bergabungnya dalam tim lebih dulu mereka ketimbang dirinya. Mantan kaptem tim basket Teikou yang biasa jadi pemimpin bagi yang lain, kini dijadikan adik terbungsu oleh semua orang dalam tim Von.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu Nijimura-san lagi." Belum habis keterkejutan sampai di situ, Akashi menotis presensi yang membuatnya terkejut bukan kepalang. "Tapi, ternyata tidak hanya Nijimura-san dan Miyuki-san, Tatsuya-san juga ada di sini."

Sepasang kakak-beradik itu menatapi Akashi, tak menghiraukan perhatian teruah pada mereka. Senyum identikal.

Shiba Tatsuya yang duduk di meja wasit dengan peralatan bongkar pasang perangkat keras dan piranti lunak, melayangkan senyum tipis pada seseorang yang telah dikenalnya sejak lama. "Selamat siang, Akashi. Lama tidak bertemu."

"HEEE?! Tatsuya, Miyuki, kalian kenal pada kapten timnas junior ini?" tanya seseorang yang melompat penuh teknik mengagumkan.

"Keluarga kami saling kenal." Tatsuya menjawab ringan. "Lagipula kami pernah terlibat pekerjaan proyek bersama."

"Proyek." Timnas junior bergumam serentak, refleks membanting atensi pada sang kapten yang tanpa raut bersalah balas melirik mereka.

Kapten timnas junior itu memandang agak lama pada taktis utama dari tim Von tersebut. Ia tahu Tatsuya paham dengan pandangannya—tidak ingin topik tentang proyek mereka mengenai keterlibatan dalam Tokyo Sky Tree itu diperbincangkan.

"Itu sudah lama." Akashi balas tersenyum tipis pada seseorang yang dalam pandangannya paling dekat sebagai figur kakak lelaki untuknya. Dia mengerling pada gadis yang berdiri di sisinya, pandangannya melembut. "Kau makin cantik, Miyuki-san."

Gelegar petir imajiner menyambar gimnastik indoor basket di Sektor Terlarang.

Shiba Miyuki tersipu sepintas. "Kau selalu bilang begitu, Akashi-kun." Dia tertawa kecil. "Terima kasih, kau juga terlihat lebih tampan dan dewasa sekarang."

Ada suara remuk dan retak-retak parah.

Kagetora menyadari bahwa timnas junior bisa merasakan aura kegelapan dan tatapan dendam kesumat secara kompulsif ditujukan pada kapten mereka, terutama dari seseorang yang lantas membuang muka dan mengerling si perfect copy.

"Soal lama tidak berjumpa … hei, Kise-kun."

Kise menoleh dari Akashi pada sumber suara. Dia ternganga tidak percaya, berseru terkejut. "Ichijou-san! Bu-bukankah harusnya kau ada di Paris?"

Serentak semua mengalihkan perhatian pada seseorang yang tengah memegang kamera—yang tadi memfoto si pelompat tinggi. Tersenyum menawan pada mereka semua.

"Aku diminta kembali ke sini." Ichijou tertawa kecil.

"Ichijou … ah! Ichijou Masaki!" Momoi menjentikkan jemarinya. "Be-berarti … skandal dengan Horikita Mai—"

"—iya, Ichijou-kun yang berskandal panas dengan Horikita Mai." Hayate tertawa parau.

Kuroko dan Sakurai bersitatap. Lantas dengan harmoni tangan mereka terangkat menyentuh punggung Aomine yang tengah membeku, mata azura terbeliak pada Ichijou. Bila ditiup, mungkin si pemuda dim akan tersepuh luruh tak ubahnya seutas debu.

"Ah, itu tidak benar." Ichijou tertawa sungkan, menggaruk belakang kepalanya. Melirik beberapa kali—hampir kentara—pada gadis dewasa yang berdiri di sisi Akashi. "Kebetulan saja waktu itu kami ada pemotetran iklan komersil bersama, sejak itu tahu-tahu selalu banyak berita skandal tentang kami."

"Dia … tahu … Mai-chan."

"Iya, Dai-chan."

"Dia … kenal … Mai-chan."

"Betul, Aomine-san."

"Mereka … berdua … bersama."

"Hanya foto bersama, Aomine-kun."

"Ma-Mai-chan-ku ..."

Selagi meratap sembari ruh Aomine bagai layang-layang yang terbang membelah angkasa, ditarik ulur sang Maha Pencipta, Kagetora menyaksikan bagaimana masing-masing anggota timnas saling menelisik profil satu sama lain. Dia melirik kapten utama timnas senior yang ternyata tengah menatapnya, dia mengedikkan kepala, dan muridnya itu lekas mengerti maksudnya.

Tepukan tangan. Hibiki menyedot seluruh perhatian padanya. Senyumnya terkembang seramah yang biasa. "Bagaimana kalau kita saling berkenalan dulu?"

Akashi sigap menanggapi, balas tersenyum ramah. "Tentu. Mulai dari siapa dulu?"

"Baiklah, mulai dari kalian dulu. Cukup sebutkan nama dan sekolah saat ini." Hibiki mengedarkan pandangan pada anggota timnya sendiri. "Kita sebutkan nama dan apapun yang ingin kalian beritahukan. Mika, tolong bawa Yuu-chan kemari!"

"Oke." Yang disebut Mika refleks beranjak dari sofa, berjalan menuju ke tribun penonton.

Timnas junior baru sadar ada seseorang yang diikat seperti kepompong—tapi juga tidak. Mana ada kepompong bergerak menggila begitu. Digantung terbalik dari palang tribun penonton terendah dengan mulut terbekap lakban hitam.

Mereka pun bisa merasakan garis-garis imajiner kemuraman menggarisi latar di belakang mereka tatkala pelatih mereka menjitak dengan ekspresi bengis kepompong yang ribut belingsatan.

Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?

Satu per satu anggota timnas junior memperkenalkan diri dengan singkat sesuai gaya masing-masing. Mulai dari kapten, manajer, anggota, hingga asisten. Sang pelatih seorang yang sadar bahwa sebenarnya introduksi hanyalah basa-basi. Bagaimanapun, seluruh anggota timnas senior telah mengenal profil dari para anggota timnas junior.

Setelah perkenalan timnas junior berakhir—yang terinterupsi lama di bagian Kise karena lagi-lagi perkenalannya dibubuhi hal-hal tidak penting seperti biasa, Hibiki memberikan instruksi satu-satu pada anggotanya yang disuruhnya merapat ke tengah dan duduk membentuk lingkaran di lapangan—yang diikuti oleh timnas junior dengan manis—sementara Kagetora beralih menyabet singgasana sofa para aces.

Hibiki tersenyum melihat remaja-remaja di hadapannya duduk sembari memangku tas masing-masing—dan geli melihat seekor anjing mencuat dari tas yang dipangku pemuda bersurai lazuardi. Dia mengedarkan pandangan dan semua sudah duduk dalam posisi hampir melingkar. Puas dengan posisi mereka, ia memberi tanda pada pemain paling muda dalam timnas senior divisi rahasia untuk memulai introduksi.

Nijimura mengangkat tangannya. "Nijimura Shuzou, nomor dua belas. Aku pernah ke Amerika dan bermain basket di sana, akulah yang terakhir bergabung di tim ini." Dia melirik Hayate yang tersenyum mistis padanya, menggeleng ketika si pemuda dijuluk Hantu itu menggumamkan "Otouto yo".

"Ah, apa kalian tahu dosanya Nijimura?" tanya Kagetora yang mengangkat isu sensitif dan impuls menerbitkan pelbagai respons dari tim Von.

"Dosa?" sontak semua anggota timnas junior tercenung bingung.

"Are? Kalian tidak tahu kami ini dijuluki Pendosa?" Hibiki balik bertanya. Dia melirik Shiba Tatsuya yang duduk persis di sisinya, kedua pemuda dewasa ini bertukar senyuman. "Kukira kalian sudah mencari informasi tentang kami atau semacamnya."

DEG.

Gulped.

Keringat dingin mengintip dari pori-pori kulit.

Kagetora menyeringai melihat pemuda-pemuda yang lebih dewasa tampak lumrah memahami reaksi kaget para remaja di hadapan mereka, mengafirmasi jawaban dari pertanyaan sekaligus menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh Hibiki.

Takao yang lebih dulu pulih lantas berujar, "Eto saa ... kami sudah tahu kalian Pendosa. Tapi karena kalian jadi pengkhianat negara-negara dan tim-tim basket asal kalian, 'kan?"

"Aaah." –dari seluruh anggota timnas senior yang penuh pemahaman. Mereka mengangkat tangan, kompak mengibaskan telapak ringan. "Bukan, bukan itu."

Hayate terkekeh-kekeh. "The Sinners Generation, atau Taizai no Sedai. Setiap anggota Von memang adalah pendosa," ucapnya parau.

"Jadi, ini semacam tujuh dosa mematikan?" tanya Momoi yang disambut siulan dari para pemuda dewasa—baru menotis gadis timnas junior ternyata tidak hanya sangat cantik dengan tubuh proporsional, sepertinya gadis yang cerdas.

"Tidak." Sang kapten tertawa gembira. Seketika senyumnya hilang membuat timnas junior dilanda tegang. "Lebih daripada itu."

Selaput ketegangan menyelebungi timnas junior.

Senyum sang kapten tim rahasia itu terbit lagi. "Aku bercanda."

—timnas junior jawdrop. Mendadak merasa lelah di-twist kapten tersebut.

Hibiki mengerling jenaka si bungsu dalam tim mereka. "Nijimura ... dia adalah pendosa yang selalu memakai kekerasan. Destruktif."

Sedepa jeda.

Pemuda-pemudi alumni Teikou berpandangan. Saling mengerjapkan mata, mengangguk bersamaan. Teringat seorang eks-member mereka yang sering jadi korban kekerasan dan ketegasan Nijimura. Apa kabar si perampas kemampuan orang itu, huh?

Nijimura menghela napas lelah. "Aku pikir lebih muda menangani Kiseki no Sedai daripada Taizai no Sedai." Dia mendelik sengit pada senior-seniornya. "Kalian yang selalu berbuat ulah," tukasnya dengan nada menuduh.

"Soalnya dulu kau adalah senior mereka. Di tim Von, kau adik kami." Hayate mengangkat kepalanya untuk membelai kepala berambut hitam itu ringan. Dia malah tersenyum—yang berhamorni hingga ke matanya ketika Nijimura menepis tangannya—lalu terkekeh karena respon si bungsu.

Kuroko mengangkat sebelah alisnya. Menelisik jeli perlakuan afektif Hayate pada Nijimura, si pebasket hantu yang tidak tersinggung ketika tangannya ditepis oleh anggota termuda tim Von. Dan dari sejak awal mereka masuk, eks-seniornya di Teikou itu disebut ... adik?

"Berikutnya, yang lebih tua setahun dari Nijimura, Oto-Yuu." Hibiki mempersilakan member mereka yang timnas junior kira terlihat paling mencurigakan.

Mereka terkesiap ketika melihat seorang pemain basket dengan satu mata tertutup. Mata yang sebelah kanan ditoreh luka vertikal dan menggoreskan impresi mengerikan. Pemuda itu tersenyum tipis pada bocah-bocah timnas junior yang memandangnya dengan kening berkerut maupun alis terkernyit.

"Namaku Otosaka Yuu." Dia memegang matanya yang pernah terluka. "Tidak apa-apa, ini hanya bekas luka, sudah lama sembuh. Kalau bertanding, baru mata ini kupakai. Dulu aku selalu pindah-pindah tim, jadi menimbulkan banyak masalah. Sekarang, aku akan tetap ada di tim Von."

Kise memajukan wajahnya untuk melihat bekas luka yang menggores di mata kanan Yuu. "Berarti dosanya Otosaka-san adalah karena selalu berpindah-pindah tim? Semacam pengkhianat?"

"Mungkin." Yuu tersenyum kasual. Mengabaikan tatapan anggota setimnya, 'Hei, yang dikatakan si pirang itu benar!'

Satu timnas senior lantas berekspresi seperti menahan tawa, ada juga yang terkekeh, dan tertawa lepas. Sang kapten menanggapi pertanyaan Kise dengan gelengan seraya tertawa kecil.

"Dia pendosa karena telah menjadi seorang sister-complex."

Yuu mendengus pada sang kapten. "Aku tidak peduli dibilang mau Sis-Com atau apa, bagaimanapun—"

Seseorang yang memiliki luka silang di pipinya telah beranjak sebentar untuk mengacungkan satu ponsel yang diletakkan di meja. "Hei, ini ada telepon dari—"

"Ayumi!" Yuu merampas ponsel dari tangan seniornya dalam gerakan kilat. Memijit layar sentuhnya dan membelalak syok. Dia melirik sebal pada duo Hayate-Hibiki, seniornya tersebut yang bertukar highfive sembari terkekeh antagonis padanya.

"—dia adalah sis-com kelas kakap." Kagetora turut mengimbuh. Dia menyeringai kejam pada pemainnya itu yang menggerung murung dan memojok di sisi Nijimura yang satu lagi.

"Nama lainnya adalah Oto-pet." Seseorang yang timnas junior ingat menyambut mereka dengan lompatan luar biasa menampilkan kemahiran tingkat tinggi, ikut menyambung. "Soalnya dia juga penyontek dan pencopet."

"Pe-penyontek?" Furihata memiringkan kepalanya, tidak mengerti.

Sakurai membelalak kaget. "Pencopet?"

"Kenapa kalian selalu menyebutkan pencopet? Jelek sekali." Yuu misuh-misuh tidak terima, melotot pada pemuda-pemuda yang lebih tua darinya tengah tersenyum tanpa dosa padanya.

"Well, kalian akan mengerti kalau bermain dengannya." Nijimura menepuk bahu partner-nya.

'Jangan-jangan mirip Haizaiki Shugou(-kun),' pikir para alumnus Teikou sebatin.

Seseorang yang duduk di sebelah Otosaka Yuu mengerti kerlingan sang kapten yang mengedikkan kepala padanya dan partner-nya.

Remaja-remaja berusia belasan itu tak bisa berkata-kata melihat ada sepasang pemuda yang mengenakan topeng dan beranjak memasang pose.

"Sphinx nomor satu," kata yang berambut hitam monoton di balik topengnya.

"Aku suka gadis manis dan Kari! Sphinx nomor dua!" Mereka lihat buraian kecoklatan dan mengidentifikasi orang berperawakan ramping ini yang memiliki kekuatan lompatan abnormal.

Hibiki tersenyum geli melihat reaksi dari remaja-remaja yang duduk berhadapan dengan mereka. "Hei, lepaskan topeng kalian!"

Kedua pemuda itu melepaskan topeng yang mereka kenakan. Timnas junior berseru dramatis melihat wajah di balik topeng dan menyerukan nama kawan mereka.

"Astaga, Shin-chan! Dia mirip sekali denganmu!" Takao bersorak di sela tawa terbahaknya seraya menepuk-nepuk bahu temannya.

Pemuda yang berambut coklat ikut tertawa riang. "Tunggu, tunggu. Orang yang berambut hijau itu yang mirip dengan Nine, astaga kalau dilihat dari dekat, mereka berdua benar-benar mirip. Tapi pasti usia Nine lebih tua darinya."

"Nine ... sembilan?" Himuro yang fasih berbahasa Inggris tidak salah menangkap artikulasi pemuda dewasa berambut coklat itu.

"Benar." Pemuda yang mirip Midorima hanya berambut gelap itu berujar datar, "Saat ini, namaku Arata Kokonoe."

"Saat ini?" gumam Momoi tidak paham.

"Ah, ya, kenalkan! Namaku di Jepang untuk saat ini adalah Toji Hisami, tapi silakan panggil aku Twelve." Pemuda itu menjawab dengan senyum yang menyenangkan untuk dipandang. Matanya menghindari tatapan investigatif dari bocah-bocah observan di depannya. "Kami dibesarkan di panti asuhan dan tidak tahu siapa orangtua kami. Terlebih di sana semua anak dipanggil sesuai dengan nomor urut kedatangannya ."

Pertanyaan Midorima yang tenang menandang keheningan. "Kenapa kalian menyetujui saja dipanggil seperti itu? Tidakkah kalian berhak atas sebuah nama yang layak?"

Nine menatap replika dirinya yang berambut dipercik spektrum klorofil. Memerhatikan bulu yang panjang di balik lensa kacamata. Jari-jemari yang panjang diperban. Proporsi tubuhnya. Aura yang melingkupi pemuda itu. Bibirnya meliuk tipis—ah, seorang three-pointer yang luar biasa dari timnas junior.

"Karena kami tidak punya pilihan dan tidak ada orangtua yang menamai kami dengan layak. Sudah kodrat kami bernasib begini."

Sunyi membalurkan atmosfer simpati.

Tak lama, terdengar bunyi tawa tertahan yang menjelma eksplosi tawa mengerupsi atmosfer gimnastik tersebut.

"Ya Tuhan, mereka mirip sekali! Sangat mirip!" Takao dan Kise memutar tubuh ke belakang, terpingkal tidak tahu malu dan mengabaikan pelototan serta hardikan kesal Midorima pada mereka.

"Sebentar." Aomine dengan terlampau tegang mengangkat tangan. "Katakan padaku, kau—err, Anda ... bukan seseorang pemuja Oha-Asa—"

"—yang suka membawa lucky-item kemana-mana—pffth—" Kise kesulitan menahan tawa.

Kuroko menyambung, "—dengan memerban jari-jarinya serta punya pikiran bahwa Manusia hanya bisa berencana sementara Tuhan yang berkehendak—"

"—yang suka makan sup kacang merah—" lanjut Momoi sembari terkikik.

"—yang memiliki karakter cold-tsundere—" Akashi mengulum senyumnya.

Murasakibara menyahut dengan ekspresi bosan, "—yang bicara dengan akhiran nanodayo—"

"—dan ahli main jankenpon demi membuat seseorang menarikkan gerobak untuknya, Arata-san?!" Takao menyelesaikan keterangan umum tentang seorang Midorima Shintarou itu penuh semangat.

Nine menatap datar, seketika menggeleng tegas. "Tidak."

Seruan kecewa menanggapi satu kata yang dilontarkan Nine sementara beberapa anggota timnas senior tergelak mendengar penuturan bocah-bocah itu disoroti pelototan sebal Midorima.

"Huh. Satu Midorima saja sudah cukup, kita tidak butuh dua." Kagami memutar kedua bola mata.

"Apa maksudmu, nanodayo?!" Midorima menggeram marah pada pemuda dengan alis bercabang itu. Karena latah khasnya itulah yang mengembangkan senyum orang-orang dewasa di hadapannya.

"Hei, hei. Sudahlah, jangan bertengkar." Beruntung Himuro ada di sana untuk melerai keduanya dan meredam emosi Midorima.

"Mereka hampir seperti kembar identik secara genetik, tapi bahkan kembar identik pun punya personaliti yang berbeda-beda." Hibiki menelisik seksama penampakan fisik kedua pebasket tersebut. Ekspresinya mencerah.

Kagetora menopang dagu di atas siku. "Omong-omong, Midorima dan Takao memang mirip dengan Nine dan Twelve." Dia mengangkat tangan sebelum Takao membuka mulut. "Tidak, tidak. Cara main kalian berbeda. Nine memang seorang three-pointer juga, tapi Twelve itu Avatar The Last Airbender, Penguasa udara."

Twelve menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa canggung. "Sudahlah, Kantoku. Jangan sebut aku dengan nama memalukan itu."

"Aku hanya menyebutkan julukan yang orang-orang berikan padamu." Kagetora mengulurkan telapak tangannya untuk menepuk punggung pemuda tersebut. "Kau cocok menyandang nama itu."

"Lompatan Anda sangat luar biasa, Toji-san!" seru Kise antusias.

Kuroko mengerling cahayanya yang menyekat Twelve dalam atensi. "Di tim kami juga ada seseorang seperti Anda."

"Kagami ... ya, 'kan?" Hibiki menyorot Kagami dengan tatapan lunaknya.

"Osu." Kagami menyeringai.

"Bagaimana menurut Kantoku tentang kemampuan melompat mereka?" tanya Akashi tenang pada sang pelatih yang lekas berekshalasi letih.

"Tsk. Kau selalu saja menanyakan pertanyaan seperti ini, Akashi." Kagetora mengusap rambut coklatnya ke belakang. Entah timnas junior menotis atau tidak, tapi ia bisa melihat timnas senior berbalur tensi sesaat. "Akan lebih baik mereka berhadapan, jadi pertanyaanmu itu bisa terjawab."

"Apa mereka juga pendosa?" tanya Furihata yang sedari tadi diam saja bertanya sebelum ada anggota timnya lagi ngotot menanyakan perbedaan kemampuan Kagami danTwelve.

"Tentu." Hibiki menyeringai lagi. "Nine, dia adalah pendosa karena berhati dingin. Twelve, karena dia terlalu mudah bersimpati." Dia melambaikan tangan pada dua pemuda berikutnya yang duduk manis tanpa berkata apapun.

"Astaga. Ada berapa orang yang mirip di kedua tim ini?" komentar Furihata tak percaya.

Si pemuda yang pipinya digores luka silang—mirip samurai X bila saja rambutnya lebih panjang lagi dan dikuncir longgar ke belakang—tersenyum lembut pada mereka. Gaya rambut dan caranya tersenyum itu mengingatkan timnas junior langsung pada seseorang. Terimpresi serapuh maple kering di musim gugur, kendati sebenarnya setegar kokoh pohon diterpa badai musim dingin.

Kagami ternganga, benar-benar terpana. "Mirip Tatsuya."

Himuro tersenyum tipis merasakan orang-orang mulai membagi perhatian antara dirinya dan anggota tim Von tersebut.

"Panggil saja aku Namikoshi. Dan dosaku ... hmm ... sebagai seorang penipu?"

Semua anggota timnas senior divisi rahasia itu mengangguk-angguk menyetujui.

"Setidaknya, senyum tulusmu bukan tipuan."

Sahutan datar itu membuat setiap orang mengalihkan perhatian pada pemuda dengan mata dipercik spektrum ametis yang tenang menghirup sekaleng kopi. Ditatapi seperti ini membuatnya risih, ia mendengus pelan.

"Akechi Kogoro," ucapnya pendek, "Dulu aku tinggal di London."

"Dan kalian bisa lihat wajahnya adalah wajah pendosa," kata Hibiki serius pretentif.

"Dia menyebalkan." Nine menyahut lugas.

Twelve menjulurkan lidah sekilas. "Judes."

"Resek," frontal Nijimura.

"Berantakan," imbuh Otosaka Yuu.

"Penderita insomnia akut." Sang hantu menuntaskan dengan senyum lugu dan wajah tanpa dosa. "Dan sering encok."

Akechi menggulung lengan bajunya. Mendelik kesal. "Kalian—!"

"Akechi-kun, tenanglah! Kau tahu mereka hanya bercanda." Namikoshi menahan sahabatnya sejak kecil itu untuk menyemburkan seluruh isi kaleng kopinya pada rekan-rekan setim mereka.

Akechi menggerung tidak suka karena Namikoshi tersenyum geli sembari melakukannya—seakan-akan menyetujui opini para pendosa kejam lainnya itu. Namun ketika sahabatnya itu tersenyum seraya menggeleng, dia mengurungkan aksinya untuk membuang kopi kesukaannya hanya demi menghitamkan pendosa-pendosa yang lain yang memang sudah hitam karena dosa mereka masing-masing.

"Oh, baiklah. Kita lanjutkan." Hibiki menatap hangat dua pemain itu. Pada sepasang pemuda lainnya yang duduk bersebelahan.

"Namaku Masaki Ichijou." Pemuda itu tersenyum tipikal casanova, senyum yang biasa melelehkan hati para wanita yang lemah terhadap lelaki tampan. "Dulu aku satu agensi model dengan Kise Ryouta—" Bertukar ulasan senyum ramah dengan yang bersangkutan. "—lalu aku sempat menetap di Paris. Sekarang aku di Jepang lagi dan fokus bermain basket."

"Dosanya karena telah berskandal panas dengan gadis-gadis seksi, salah satunya Horikita Mai—"

"Astaga. Hayate-kun, perlu berapa kali aku jelaskan aku hanya iklan komersil dengannya?"

"Hei, Crimson Prince, iklan komersil menayangkan adegan menjilat es krim batangan satu berdua itu mananya yang tidak sugestif?" goda Twelve berpura-pura serius.

Ichijou mengibaskan tangan sekilas. "Itu karena kalian berpikiran dengan perspektif negatif. Lagipula itu sudah beberapa tahun yang lalu sebelum aku pergi ke Paris."

Beberapa orang mengobservasi jeli kegelisahan Ichijou yang berulangkali melirik gadis di sisi Shiba Tatsuya.

"Setidaknya, kau dan artis perempuan itu jadi terdulang popularitasnya karena publik berpikiran apa yang kalian lakukan itu amat sugestif," ujar Akechi tanpa minat.

Namikoshi menepuk sekilas lutut pemuda berambut coklat stylish itu. "Don't mind. Dunia hiburan memang penuh skandal."

"Apa skandal itu melibatkan perasaan yang mendalam?!"

Berkat pertanyaan itu, otomatis berpuluh pasang mata memandang si pemuda berkulit remang.

Ichijou memijat kening yang seketika dilanda pening. Terlebih ketika Aomine mendadak pulih dan membombardirnya dengan pertanyaan mengenai rumor skandal panasnya bersama Horikita Mai. Konversasi alot mereka mengundang gelak-tawa yang lain.

"... berarti dosa Ichijou-san itu ... terlalu tampan?" terka Furihata. Berusaha tidak miris dengan fakta bahwa tim Von bertabur ikemen menyaingi timnas junior.

Ibaratnya, jika timnas junior beranggotakan pemuda-pemuda layaknya buah-buah yang segar dibasahi embun pagi, maka tim Von diisi personil serupa buah yang telah ranum dan tinggal petik di bawah terik matahari.

"BENAR! Tampan adalah dosa!" seru Yuu berapi-api yang disambut anggukan persetujuan dari asisten timnas junior tersebut.

Kuroko menyahut pada pemuda di sampingnya yang sedang salah tingkah. "Bukan kau, Kise-kun."

Jleb. "Kurokocchiii!" isak Kise komikal.

"Kau hanya tidak suka karena Ayumi juga mengidolakan Ichijou, 'kan?" Nijimura menyeringai pada Yuu yang merutuki ketampanan adalah dosa.

Yuu terjungkal. Dia tidak bisa mengelak karena apa yang Nijimura kemukakan memang benar.

"Mengenai pendosa, sebenarnya—"

Furihata adalah satu-satunya yang menyadari Nijimura akan mengatakan sesuatu dengan menunjuk Ichijou, sang kapten menghentikannya dengan memalang mulutnya dengan lengan. Nijimura seketika itu mengatup bibir, mengangguk perlahan dengan raut menyesal.

Ia mengernyitkan kening. Apa yang hendak Nijimura katakan tapi justru ditahan? Dia menatap raut wajah Ichijou dan sang kapten yang serius menggeleng pada Nijimura.

Mengenai pendosa ... Ichijou ... apa maksudnya? Apa ada dosa yang sesungguhnya disembunyikan? Furihata tanpa sadar memicingkan mata, hanya dia yang saat itu memfokuskan atensinya penuh pada setiap anggota timnas senior rahasia ini yang dililit selubung rahasia. Apakah ada hubungan dengan panggilannya: Crimson Prince?

Saking terlihat begitu normal, Furihata merasa ada sesuatu yang abnormal dari mereka—dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Keanehan itu pun tidak lolos dari yang memiliki indera pengelihatan abnormal. Akashi menotis hal itu dan memilih bungkam—ia menyadari ekspresi Momoi berubah untuk bertanya, refleks ia menyentuh lengan gadis itu. Begitu Momoi melayangkan pandangan tanya padanya, Akashi lantas menggeleng.

Momoi turut merapatkan bibir. Pasti ada alasannya kenapa Akashi tidak ingin bertanya saat ini juga.

Ada perasaan aneh yang berdesir di hati asisten timnas junior tersebut. Tingkah anggota tim Von normal. Terlalu normal. Tidak seperti tim-tim hebat yang biasanya ia lihat—dalam kompetisi basket. Mereka tidak mengempas aura intimidatif atau mengusung ego dengan berlaku arogan.

Sebelum ketahuan reaksi aneh ketua, manajer, dan asistem timnas junior itu, Momoi buru-buru mengembangkan senyum seraya melontar kenyataan ringan.

"Tapi kurasa tidak hanya Ichijou-san, Anda juga tampan ... ShibaTatsuya-san. Hibiki-san juga."

Konfesi diiringi senyum manis itu menghempaskan gelombang keterkejutan pada semua orang yang ada di gimnastik tersebut.

"Tuhan, terima kasih. Akhirnya ada yang mengakui ketampananku!" Hibiki tergelak bahagia—mengabaikan reaksi geleng-geleng kepala dari anggota timnya yang telah lumrah dengan kelakuannya. "Ada gadis cantik bilang aku tam—ouch, Nijimura!" Dia mengaduh tatkala Nijimura menusuk pinggangnya saat sedang mengipasi diri.

Hanya Miyuki kehilangan senyumnya. "... ka-kau menyukai Onii-sama?"

"Ah? Ti-tidak." Momoi menggeleng.

"Tapi, adakah kemungkinan kau akan menyukainya?"

"Uhm ... Shiba Tatsuya-san tampak seperti seorang gentleman menyenangkan."

"Kau menyukai Onii-sama?!"

"E-eh—"

Drop-dead.

"Ma-manajer-san," Hayate berusaha menenangkan bunga di antara kumbang-kumbang pendosa lainnya, "tenanglah."

"Siapa yang tidak bisa menyukainya?" tanya Momoi tidak mengerti.

Beberapa anggota timnas senior menepuk dahi, sisanya berekshalasi letih. Jawaban Momoi itu melindas ekspetasi Miyuki.

"Ma-maksudku, kau ... kau a-akan naksir pada Onii-sama?" Gadis itu menggembungkan pipinya, bersungut kecewa.

Senyap kali ini menyebabkan pemuda-pemuda di sana merasa pengap. Tersekap pesona manajer timnas senior tersebut.

'Dia manis sekali!'

Kagetora mendengus. Dasar bocah-bocah lelaki, melihat anugerah terindah Tuhan, hawa yang penuh perfeksi dan elegansi mereka langsung terpaku.

"Terima kasih sudah menyukaiku." Tatsuya mengangguk sopan pada Momoi yang gelagapan karenanya.

"Onii-sama!" rajuk Miyuki yang menarik lengan kokoh kakaknya dalam pelukannya.

"Ma-maksudku, sebagai individu yang baru pertama kali bertemu, a-aku memang menyukai Shiba Tatsuya-san, ta-tapi—" Momoi menggelengkan kepala berkali-kali, cemas melirik Kuroko, "—se-sebagai lelaki, eh ..."

Shiba Tatsuya tersenyum penuh pengertian. "Tidak, aku tahu kau menyukai siapa."

"Ba-bagaimana Anda bisa ta-tahu, kita baru bertemu—KYAAAA!" Momoi menyembunyikan dirinya di belakang punggung Aomine. "JANGAN KATAKAN!"

"Jangan teriak dengan suara cemprengmu itu di telingaku, Satsuki!" sentak sahabat sejak kecilnya sewot.

Kali ini giliran seisi timnas junior yang berekshalasi mafhum. Kecuali objek yang dikonversasikan.

"Namanya Shiba Tatsuya, dan seperti yang kalian lihat sendiri, dosanya adalah gagal peka dan tidak punya emosi." Hibiki menggelengkan kepala sekilas karena Tatsuya membuat seorang gadis meringkuk malu hanya karena satu kalimat.

"O-oh, maafkan aku, Momoi Satsuki-san," sesal Miyuki pada gadis yang bersembunyi di balik punggung pemuda dim. "Ku-kukira kau akan menyukai Onii-sama ..."

Momoi menenangkan diri, masih tertunduk malu karena menjerit seperti tadi. "Ma-maafkan aku juga."

Nijimura menatap heran pada mantan manajer tim basketnya dulu. "Momoi, jadi sejak dulu sampai sekarang, kau masih tidak memberitahukan perasaanmu pada—"

"SSSSST, NIJIMURA-SENPAI. SSSSSH." Kise berdesis heboh sembari menaruh telunjuknya di bibir.

"Are, bukankah sudah jadi rahasia umum Momo-chin suka siapa?" tanya Murasakibara, mode gagal peka total.

"Memang Momoi suka pada siapa?" Midorima yang bertanya tidak paham.

Aomine menatap Midorima seakan pemuda itu adalah alien yang turun dari UFO tepat di depan mukanya. "Kau hidup di mana sebenarnya, Midorima?"

Kagami memosikan ibu jarinya pada bayangannya. "Bukankah dia pacar Kuroko?"

Satu per satu orang menggemertakkan leher untuk menoleh pada seseorang yang disebutkan Kagami.

Kuroko menggeleng. Tenang menyanggah, "Bukan. Momoi-san adalah manajerku waktu aku sekolah di Teikou Chuugakou."

Temperatur ruangan mendadak tergelincir ke titik bifurkasi. Semua melayangkan tatapan simpatik pada manajer mudi yang anomalinya malah menghela napas lega. Hampir semua menatapi Kuroko dengan wajah "The Heartbreaker" inosennya.

"Baiklah." Hibiki menelan tawanya bulat-bulat seraya mengambil kendali konversasi kembali. "Kita lanjutkan lagi. Miyuki-san, silakan."

Gadis yang duduk di antara kakaknya dan Ichijou Masaki itu mengangguk hormat pada mereka. "Shiba Miyuki. Silakan panggil aku Miyuki saja, agar tidak tertukar dengan Onii-sama. Jabatanku sebagai manajer tim Von. Mohon kerja sama dan bantuan kalian."

"Dosa Miyuki-san adalah ..." Akashi menjeda perkataannya, mengembangkan senyum menawan, "terlalu indah dan brother-complex." Dia melirik antara Yuu dan Miyuki.

Serentak semua pemuda di tim Von—kecuali Shiba Tatsuya dan seorang pemuda yang diikat laiknya kepompong—mengangguk khidmat sembari melirik kejam pemuda yang mengenyam pendidikan di Rakuzan.

"Berikutnya—" Hibiki tersentak karena pinggulnya disundul kepala seseorang. Terpaksa dia rangkul kepala pemuda yang dari tadi konstan bergulat ingin lepas dari jerat ikat, "—err, Hayate? Kalian sudah tahu dia, 'kan?"

"BELUUUUM!"

Seruan protes para remaja yang menatapnya sengit dipolusi kekaguman itu membuat Hayate terkekeh.

Sang Hantu menegapkan tubuhnya yang cenderung bungkuk seperti pungguk bukit. Dia tersenyum—dan sebagian besar orang justru berpikiran lebih baik orang ini tidak tersenyum karena senyumnya itu sumpah mengesankan kemistisan tiada tara.

"Namaku Hayate Kaze. Payung adalah temanku."

Kalimat itu nyaris menjatuhkan rahang anggota-anggota timnas junior itu pada lapangan basket yang mereka duduki. Kalau ini semacam manga shounen, mungkin kalimat "bola basket adalah temanku" bisa mereka pahami.

Namun ... payung?

Apa-apaan senyuman mistis bahagia meremangkan bulu kuduk dan kekehan eksentrik itu serta pandangan memuja dengan latar bunga-bunga, kilau-kilau, dan taburan cinta pada sebuah payung?

"Kiyoshi Teppei adalah teman bermain basket dan sudah kuanggap adikku sendiri. Pernah kuliah di Amerika dan masuk salah satu tim di sana. Keh ... apa lagi? Oh. Aku tidak suka siapapun menyentuh payungku, atau membuatnya tidak berkembang, atau merusaknya, atau—"

BANG.

Hayate meratap seperti orang sekarat, sukses membuat Kagami dan Aomine mundur tiga jengkal dari tempat mereka semula. Mata jelaga hipnotiknya itu berkaca-kaca penuh duka. "Sa-sakit, Senchou."

"Hayate," Hibiki menjitaknya dengan keagresifan yang mengerikan. "hentikan khotbah payungmu—!"

"—a-aku bahkan belum sampai di bagian betapa pentingnya sedia payung sebelum hujan—!"

"—kubuang payungmu kalau kau menatapku dengan tatapan payung terbuang itu!"

"—JANGAAAAN!" Seruan Hayate yang mengimpresi horror maksimum membuat Aomine dan Kagami serentak bergegas mundur ke belakang Murasakibara.

"... tatapan payung terbuang?" Furihata bertukar pandangan lagi dengan Himuro yang menggeleng tidak mengerti padanya.

"Kalau begitu, hargai adik-adik kita ini yang ingin rematch denganmu. Bicaralah tentang basket dan bukan payung." Hibiki memberi kode pada pelatih mereka untuk menyandera payung kesayangan si pemuda yang ditahannya dengan kedua lengan.

"Uuuh." Hayate menggerung murung. Dia melihat pelatihnya menyeringai keji menepuk-nepuk payungnya. Oh Tuhan, kenapa mesti dia lagi yang disiksa sekejam ini? Terpaksa ia mengalihkan pandangan pada bocah-bocah sewarna lapis pelangi. "A-aku ... bukan pemain terkenal seperti yang lain."

Hibiki tertawa hambar mendengar pernyataan—kelewat rendah hati atau memang tidak tahu diri—Hayate. "Lalu?"

"Aku termasuk yang terlemah di tim Aces ini, tapi aku masih lebih kuat daripada Otouto-tachi—Nijimura-kun dan Yuu-kun." Hayate menggeliat berusaha lepas dari kungkungan mengerikan kaptennya, ia didera desperasi untuk mengambil balik separuh hidupnya (baca: payung) dari diktator (baca: Kagetora).

"KAMI TIDAK MAU DENGAR ITU DARI HANTU YANG SELALU BERHUTANG PEMANASAN MENGATAKAN KAMI LEMAH!" damprat dua orang terwaras di tim Von yang disebut oleh Hayate.

Hibiki yang menyangkutkan jemarinya pada jari-jari kurus panjang si pemuda albisian itu yang berupaya menggapai-gapai payung kesayangannya, menoleh pada timnas junior seraya mengurvakan senyum ramah khasnya.

"Hayate memang tinggal di Jepang, tidak seperti yang lain, tapi dia pernah belajar di NBA hingga dijuluki Hantu karena keberadaannya membuat orang ketakutan sementara Hayate sendiri malah telat menyadari keberadaan orang lain kecuali orang-orang istimewa tertentu. Dosanya adalah dia pemuja berat payung—aku khawatir dengan tendensi aseksual ini, jangan-jangan suatu hari nanti dia memilh jadi jomblo dan—"

"Jomblo?" sahut Murasakibara, asing mendengar aksara itu bergema di telinganya.

"Jomblo punya makna harafiah sebagai seseorang yang hampir seumur hidup tidak menikah dengan sesama manusia, baik itu heteroseksual ataupun homo seksual, dan akhirnya dinikahkan dengan benda mati," terang Tatsuya tenang, "biasanya karena dia tidak menemukan pasangan hidup, memiliki masalah kejiwaan ataupun pandangan terhadap pasangan, atau memang punya kelainan kepribadian."

"Eeeh ... aku tidak mau hidup sendiri dan menikah dengan benda mati." Takao bergidik ngeri.

Hibiki menghela napas dramatis. "Begitulah. Aku khawatir jika suatu saat nanti Hayate akan jadi umbrella-sexual."

"KAPTEN, JAGA BAHASAMU!" tegur Nijimura tegas.

"Oh." Hibiki mengedipkan sebelah mata sekilas, memiting leher Hayate yang megap-megap tak berdaya dalam dekapannya. "Maaf. Well, dosa lain Hayate adalah ... dia terlalu ignoran."

"Kami mengerti."

Tanggapan kompak Kagami, Kuroko, dan Furihata—berdasarkan pengalaman tim Seirin yang disambut oleh Hayate sejak pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo National Gym—menyebabkan Hibiki tertawa.

Bagaimana bisa seseorang tidak menotis segerombolan mencolok tim basket remaja yang begitu banyak dan hanya melihat orang-orang tertentu saja? Bagaimana pula dia bisa melupakan orang-orang yang ditemuinya begitu saja hanya dalam waktu hitungan jam?

Kapten timnas senior itu melepaskan Hayate yang tergolek megap-megap tak berdaya dengan menepuk sekilas puncak kepala diuntai helai-helai seputih salju.

Hayate lantas bersandar pada Nijimura yang duduk di sisi lainnya, juniornya itu mengomel sekilas agar ia menurut pada instruksi mutlak sang kapten.

"Berikutnya." Hibiki menjentikkan jari pada seorang pemuda blonde yang duduk agak di belakang lingkaran tim Von.

Timnas junior sejenak terkesima. Blonde bermata biru. Ketika dia membuka mulut, mereka dibuat tercengang dengan taring yang tajam seperti vampir.

"Namaku Mikaela Hyakuya, berdarah Jepang campuran."

Dibantu oleh sang kapten, ia menarik pemuda yang menggeliat heboh dibelenggu ikatan kuat. Dibukanya lakban hitam pelan-pelan agar tidak menyakiti pemuda berambut hitam tersebut. Sorot pandangnya melembut.

"Namanya Yuuichiro Hyakuya. Ah, kami hampir sama seperti Nine-Twelve. Dari panti asuhan juga. Jadi kami bukan saudara kandung, tapi karena nama panti asuhan kami Hyakuya, maka kami memakai nama tersebut sebagai marga kami."

Lakban terbuka sepenuhnya. Sayangnya, timnas junior luput menyadari ketegangan yang melingkupi gestur tubuh tim Von.

"PFFUAAAH. Akhirnya ... KALIAN SEMUA MEMANG BRENG—HMMPH! EMRRGHH!" –mulut Yuuichiro disegel lagi kali ini dengan telapak tangan Mika sendiri.

Mika berdecak pelan. "Sssh, jangan berisik, Yuu-chan."

"Kenapa dia diikat begitu?" tanya Kise heran.

Jawaban yang terlalu cepat dan berasal dari Kagetora membuat dahi beberapa anggota timnas junior yang jeli berkerut dalam, "Karena dia sulit diatur."

Sang kapten tim Von menepuk-nepuk kepala bermahkotakan helai-helai hitam menjurus biru gelap. Dia nyengir boyish yang berbeda-beda dari sebelumnya.

"Dia lucu, 'kan? Dosanya adalah karena dia terlalu inosen. Dan ... dia adalah ace kami. Ace di antara para Ace."

Deklarasi itu membuat semua anggota timnas junior terdiam menatapi Yuuichiro.

Pemuda yang merupakan ace tim Von itu memiliki mata hijau besar yang brilian dengan kilatan ambisius berkobar-kobar. Sejak mereka mulai bicara sampai sekarang, dia tidak henti berguling dan berjuang ke sana kemari untuk lepas dari ikatan serta lakban.

Satu konklusi: staminanya pasti luar biasa.

"Ace? Ace di antara para ace?" tanya Kagami yang menyeringai, semangatnya bangkit merangkak ke titik kulminas.

Akashi menggulir tatapannya pada sang kapten. "Kukira Hibiki-san adalah ace tim Von."

"Aku memang kapten, tapi aku bukan ace, bukan pula pemain terbaik di Nanatsu no Taizai atau Von. Yuu-chan adalah Tensai Scorer kami, Ace di antara para Ace, yang terbaik di tim Von."

Hibiki tertawa rendah. Dia menegakkan tubuhnya. Wibawanya merefleksikan aura kharismatik dan perubahan perilakunya itu mengesankan martabatnya sebagai seorang kapten.

"Terakhir adalah aku. Perkenalkan, namaku Hibiki Sora. Aku kapten dari semua tim nasional Jepang saat ini, termasuk kalian. Tapi untuk sub-tim, aku juga kapten dari tim nasional divisi rahasia, timnas basket starters dan Taizai no Sedai, Von. Selain basket, aku juga suka musik. Itu saja."

"ITU SAJA? BOOOO! Sebutkan dosamu, Kapten!" Twelve membentuk corong dengan kedua tangannya dan berseru ala demonstran buruh menuntut kenaikan upah.

"Dia tampan, dan dia sadar itu, dan itu adalah dosa," gumam Ichijou dingin.

Namikoshi berdeham menetralisir nada gelinya. "Hibiki-Senchou sangat jahil."

"Dia sadis." Nijimura bergumam dengan wajah bengis. "Tapi dia tidak pernah sadar akan hal ini."

Yuu memutar kedua bola matanya, menyingkirkan tangan Mika dari mulutnya dan berkata, "Dia sangat narsis."

"Mulutnya kotor. Sangat-amat kotor. Dia adalah pendosa sebagai trash-talker." Akechi tersenyum asimetris.

"Musikalitasnya tinggi, pakar terburuk semotika yang pernah ada; Dirty Talker." Tatsuya melirik kaptennya, nada geli tersemat dalam suaranya.

Miyuki memiringkan kepalanya, terkikik geli. "Tapi Hibiki-Senchou adalah pakar semoktika—kesemokan otot manusia yang profesional."

Mikaela mengerling Hayate yang lugu mengamati kepala warna-warni timnas junior di hadapan mereka. "Hibiki-Senchou juga orangnya posesif."

Hibiki berpura-pura tampak amat terluka memandang teman-temannya. "Astaga ... itu, kan, kalian sendiri."

"DIAM, SENCHOU! ITU KAU!" Kompak tim Von seiya-seikata, dan alih-alih marah, sang kapten malah tertawa seperti biasa.

"Kalian tidak usah dengarkan mereka, ya." Hibiki menatapi satu per satu anggota timnas junior, sembari mengangsurkan senyum memesona yang menampilkan lesung pipitnya.

Hayate tersenyum halus mengerling sang kapten yang tertawa-tawa dihujat oleh teman-teman setim Von—bahkan pelatih mereka turut berpartisipasi memprovokasi tentang kapten abnormal itu, kemudian menggulirkan pandangan pada timnas junior yang terdiam memandangi pemandangan heboh tim Von sedang merempuk kapten mereka sendiri sementara sang kapten meminta mereka diam dengan lembut layaknya kesabaran seorang kakak menghadapi kerewelan adik-adik kecilnya.

"Percayalah, Hibiki Senchou adalah lelaki paling jantan dan bertanggung jawab di antara kami semua, makanya dia menjadi kapten."

Kali ini pemuda hantu itu menatapi Akashi dengan pandangan hangat, tatapan manusiawi memendar afeksi yang merasuki hati.

"Entah Kagetora Kantoku telah membuat kapten kalian bersumpah untuk mempertaruhkan nyawanya demi memenangkan FIBA kategori yang kalian ikuti nanti atau belum. Sebenarnya, itu hanya kompensasi terkecil."

Mereka saling berpandangan, merinding karena ekspresi mistis Hayate dan kata-katanya yang misterius.

"Maksud Anda kompensasi terkecil?" tanya Kuroko mewakili ketegangan yang lain.

Sang bayangan melirik teman-teman setimnya yang seketika raut wajahnya beriak dengan ekspresi kecemasan.

Mereka memang lega karena Akashi yang jadi kapten, tapi bila Hayate dan tim Von sampai mengetahui hal tersebut, dan apabila benar bahkan Hibiki juga melakukan hal yang sama—mempertaruhkan nyawa demi memenangkan pertarungan ini, berarti perkara kapten harus mempertaruhkan nyawa itu adalah hal yang amat serius.

"Karena sepanjang tanggung-jawab sebagai kapten timnas diembankan padanya, nyawa kapten tim nasional selalu dalam bahaya setiap waktu. "

Seluruh anggota timnas junior tercengang tak percaya. Lamat-lamat tatapan mereka berlabuh pada sang kapten mereka sendiri yang anomali malah terlihat tenang.

Hayate berbisik enigmatis pada timnas junior tersebut.

"Dan percayalah, yang terpilih menjadi kapten melakukan untuk kalian. Meski nanti dia akan menghukum kalian pun, sesadis apa pun hukumannya, semuanya dia lakukan hanya demi kalian. Walaupun saat ini kalian tidak akan percaya dan tidak mengerti, tapi ketika hukuman dan problema datang, maka kalian akan melihat betapa berat beban seorang kapten."

Sang hantu lekat menatapi kapten timnas junior itu, lugu menjustifikasi kapabilitas Akashi Seijuurou sebagai kapten timnas junior.

Dalam detik-detik menegangkan hingga mereka menahan napas, seluruh pasang mata anggota timnas junior, tertuju pada Akashi yang terhenyak ketika pertanyaan pebasket hantu terlayang padanya dalam nada paling enigmatis.

.

.

.

"Apa kau mampu, Akashi Seijuurou-kun?"

.

.

.

'Seseorang yang telah dengan brilian menjatuhkan bola hantu termisterius, intelijensi tinggi dengan tekad yang serius, mampukah ia berkomitmen konsisten dan determinatif bertanggungjawab sepenuhnya dengan nyawa sebagai taruhannya untuk teman-teman dan beban kehormatan dari ekspetasi publik?'

.

.

Seseorang menyahut tenang dengan sangat percaya diri. Bayang-bayang yang menyeruak di antara para representasi cahaya.

"Aku percaya Akashi-kun pasti bisa."

.

#~**~#

.

Setelah sesi introduksi berakhir, Kagetora menawarkan—dengan modus terselubung yang tidak bisa ditebak oleh kedua tim asuhannya—untuk diadakan rematch full-course. Empat quarters penuh antara timnas junior dengan timnas senior divisi rahasia. Dimintanya kedua tim tersebut menyiapkan starters untuk pertandingan ini.

Saat ini kedua anggota tim sedang berganti pakaian. Timnas junior diantar oleh Hibiki ke toilet di sisi utara gim dan berkata mereka bisa memakai toilet tersebut karena tim Von akan memakai ruang loker mereka sendiri yang berada entah di mana untuk berganti baju.

Tentu saja sebagian besar dari para pemuda itu terkejut bukan kepalang dengan interior kamar mandi. Ini kamar mandi gimnastik atau hotel? Mereka tidak keberatan dengan fasilitasnya, kendati konstan dibuat terkejut dengan kemewahan yang menyokong timnas senior divisi rahasia tersebut.

Mungkin jika dianalisis baik-baik, bukan hanya timnas basket reguler yang mendapat keistimewaan seperti ini. Tapi juga semua timnas istimewa di divisi manapun departemen olahraga Jepang karena semua ditempatkan dalam satu Sektor Terlarang.

Mereka berkonversasi menentukan siapa yang harus memulai sebagai starters di babak pertama. Para pebasket muda itu sepakat bahwa kelima Kiseki no Sedai yang memulai dengan tip-off. Percakapan mereka dibalur suspense lantaran terbebani dengan apa yang Hayate katakan terakhir kali sebelum Kagetora menginstruksikan pertandingan antar timnas.

"Jangan pikirkan perkataan Hayate-san."

Perkataan Akashi membaur dengan kucur air keran di wastafel dan gemerisik baju serta tas yang diaduk-aduk, tidak berdampak menenangkan.

"Dia tidak terlihat bercanda, Akashi," ujar Midorima yang tengah berbagi hand-dryer dengan Himuro.

Aomine menjejalkan jaket dan kaus yang dikenakannya asal-asalan ke tas ranselnya. "Syukurlah Akashi yang jadi kapten."

"Aominecchi, bagaimana kalau yang Hayate-san katakan itu benar?" tanya Kise cemas.

Murasakibara melengos di depan cermin wastafel karena sedang menunggu Sakurai mengambil sabun cuci tangan. "Memang kalau benar, kenapa?"

"Berarti Akashi dalam bahaya, Atsushi," desah Himuro yang menggeser tubuhnya untuk mempersilakan Midorima benar-benar mengeringkan tangan-tangan berharganya. "Ah, sudah kuduga ini hal yang sangat serius."

Aomine menguap malas. "Kadang aku merasa yang bahaya sebenarnya itu Akashi sendiri." –dan perkataannya diam-diam disetujui oleh anggota timnas junior yang lain.

"Ano saa ..." Sakurai membilas tangannya yang telah disabuni. "Masih ingat kata Kagetora Kantoku? Tentang hukuman untuk kapten?"

"Kapten akan dihukum dua kali lipat jika ada hukuman ataupun anggota tim berbuat salah?" tanya Furihata perlahan yang tengah mengeringkan wajah basahnya dengan handuk.

"Hukuman ... itu berarti bila kita salah ataupun kalah, kita akan dihukum." Kuroko yang sedang menangkupkan tangannya untuk mewadahi air agar bisa diminum Nigou, mendongak pada rekan-rekan setimnya.

Takao memasukkan kaus yang dikenakannya ke dalam celana training. "Itu berarti Akashi akan kena dua kali lipat. Dan sampai sekarang, kita belum tahu akan dihukum seperti apa yang akan diberikan Kagetora Kantoku karena kekalahan—pertandingan seri—di Sky Tree."

"Asumsiku, Kantoku akan menghukum kita di waktu kita tidak menyangka akan dihukum." Himuro tersenyum pahit mengingat kekalahan di Tokyo Sky Tree.

"Salah siapa, hah?" Murasakibara mendelik sengit pada pelaku yang menghilangkan bola dari rooftop Sky Tree.

"Maaf, aku tidak sengaja." Kuroko mengelapkan tangannya pada celana dengan panjang tiga perempat yang dikenakannya ke pahanya. Lalu membelai kepala hitam-putih anjing kecilnya. Ditatapnya Murasakibara lekat. "Aku sudah bilang, sebenarnya aku juga tidak ingin pertarungan di Sky Tree berakhir."

Untuk mengalihkan suspense yang kian memekat, Himuro memandang Akashi yang tak menghiraukan dirinya dijadikan objek konversasi karena sedang melipat pakaian yang sebelumnya dikenakannya.

"Bagaimana menurutmu, Akashi?"

Akashi tetap tenang, menjawab,"Tadi aku sudah bilang, jangan pikirkan perkataan Hayate-san."

Kagami yang selesai meresletingkan tasnya melirik Akashi tajam. "Kalaupun benar yang dikatakan Hayate-san serius dan memang benar, bagaimana dengan kau, Akashi?"

Pertanyaan serius Kagami itu membuat seluruh anggota timnas junior menyekat Akashi dalam atensi mereka. Kapten mereka itu menghela napas pendek dan turut menutup resleting tasnya.

"Aku sudah bilang, kalau aku gagal menjadi kapten kalian dan membawa tim ini menang untuk mendapatkan Hall of Fame,mataku pun akan kucungkil sebagai ganti kekalahan."

Akashi menegapkan tubuhnya. Kalkulatif membalas seluruh tatapan dan lirikan yang ditujukan padanya.

"Aku sudah bersumpah pada Kagetora Kantoku untuk menjadikan nyawaku sebagai kompensasi jika timnas kita kalah." Dia berpaling dari raut wajah-wajah khawatir untuk memasukkan bajunya yang telah dilipat rapi kembali ke dalam tas.

"Akashicchi ... kalaupun kita kalah, aku tidak akan membiarkan kau dibunuh Kagetora Kantoku."

Pernyataan sangat serius dan terdengar amat tulus yang diungkapkan Kise itu membuat sepasang mata magenta melebar. Akashi perlahan menoleh pada pemuda pirang yang rambut pirangnya diterpa terangnya lampu toilet. Pandangannya melunak pada pemuda imitasi matahari itu yang tersenyum hangat padanya.

"Terima kasih, Kise," tanggap Akashi ringan, senyumnya terkembang perlahan, "tapi aku tetap akan memegang janjiku pada Kagetora Kantoku."

"Aka-chin, kau bisa menjadikan ini pilihan: bila kita kalah, sebelum kau dibunuh, lebih baik kau bunuh Kagetora Kantoku duluan." Murasakibara mendelik sadis ketika Midorima menegurnya keras.

"Jaga bicaramu, Murasakibara."

"Tapi lebih baik menghancurkan daripada dihancurkan."

Kuroko yang terlihat tenggelam antara kedua pemuda itu melerai keduanya. "Sudahlah. Kalian terlihat bodoh bertengkar seperti anak kecil begini."

"Aku tidak mau dengar itu dari seseorang yang mirip seperti anak kecil."

"Apa maksudmu, Murasakibara-kun?"

Suara handuk dikibaskan lebih kencang membuat dua pemuda yang kontra-persona satu sama lain itu mendelik pada Midorima. Pemuda itu memberi tanda dengan sorot mata bahwa perdebatan mereka tidak akan memberikan solusi untuk segala perkara.

"Ah, repot sekali. Tidak bisakah kalian diam dan pikirkan tentang pertandingan yang akan kita hadapi?" Kagami mengacak rambutnya sekilas. Dia nyengir seraya melirik kaptennya. "Kita hanya harus menang. Bukankah begitu?"

"Tentu." Akashi menatap Kagami tiga detik lebih lama. Sudut-sudut bibirnya mengurvakan lengkung menyenangkan.

"Aku mengerti kau bersedia sampai sejauh itu untuk mengompensasikan nyawamu demi kemenangan timnas, Akashi. Tapi itu nanti, bagaimana dengan hukuman seperti sekarang? Apa kau bersedia bertanggungjawab untuk kesalahan yang akan kami perbuat nanti?"

Akashi menggulir pandangannya pada Himuro. "Aku tidak berkomitmen sebagai kapten hanya untuk menggapai kemenangan saja." Seringai antagonis terkurva di bibirnya. "Lagipula, kalau kalian membuat kesalahan, aku berhak menghukum kalian secara rasional."

Sweatdrop.

"Kau ... tidak jadi kapten hanya untuk menghukum kami, 'kan?" tanya Kuroko dengan nada geli halus seraya menyelempangkan tasnya di sisi tubuh.

Jeda yang lama membuat garis-garis vertikal kesuraman melatari background toilet tempat mereka berada.

Jangan-jangan—

Sudut-sudut bibirnya kian melawan poros gravitasi. "Itu terdengar seperti wewenang absolut ada padaku sebagai kapten tim dan aku berhak melakukan apa pun pada kalian." Akashi mengangguk puas pada diri sendiri, hampir geli. "Akan kuingat itu."

"WOY!" Semua refleks melotot pada kapten yang tertawa rendah karena reaksi mereka. "BERCANDAMU TIDAK LUCU!"

Akashi memandangi mereka semua satu per satu, melunak tatapannya menyadari ternyata timnya menyadari dirinya hanya bercanda. "Sudah selesai semua? Sebaiknya kita segera ke lapangan. Mungkin Momoi telah mendapatkan informasi tentang tim Von. Kita juga harus pemanasan."

Dengan perkataan bernada final dari Akashi itu, rekan-rekan setim yang lain menyelesaikan urusan mereka semua dan menyandang tas masing-masing untuk keluar satu persatu dari kamar mandi.

Akashi menyadari tatapan disematkan pada dirinya. Lantas ia menoleh ke belakang, menemukan asisten timnas junior tengah menatapnya dengan mata terbeliak tidak percaya dan ekspresi yang sesaat membuat napasnya tertahan.

Itu bukan ekspresi seseorang yang ingin meminta maaf atas kesalahan karena melukai tangannya, tapi—

"Apalagi yang kautunggu?"

"E-eh, iya. Ma-maaf."

—simpati.

Asisten timnas junior itu memerhatikan Akashi menyusul rekan-rekan setim yang lain, berada tepat di belakang yang lainnya dengan sesekali mengatakan atau menimpali perkataan para pemuda lainnya.

Entah ada yang menyadari ini atau tidak. Ketika mendengar Akashi menjawab pertanyaan terakhir tadi dengan bibir menguntai seringai sebelum mendistraksi atensi satu tim, tensi yang samar melingkupi tubuh, dari cara sang menyembunyikan mata di balik hamburan helai magentanya itu serta mengalihkan topik konversasi—

"Tapi apa kalian percaya yang mereka katakan tentang Hibiki-san? Dia kelihatan seperti orang yang baik dan normal."

"Dia kapten dari tim hebat dan seluruh timnas basket Jepang. Mananya yang normal?"

"Jangan-jangan dia punya dua kepribadian?"

"Ya Tuhan, kenapa ada begitu banyak kapten dengan dua kepribadian?"

"Hanya dua, su-sumimasen."

"Justru karena orang sehebat dirinya itu hanya terlihat baik, ramah, tampan, dan normal, itu baru mencurigakan."

"Di lihat dari segi tersebut, Akashi memang mirip Hibiki-san."

"Kalau ada mereka berdua dicalonkan jadi kapten, kalian pilih siapa jadi kapten kalian, Minna?"

"Aka-chin."

"Kau membias sekali, eh, Murasakibara."

"Yang membelikanku maiubo itu hanya Aka-chin."

"Hatimu ada di perut, sih. Bagaimana kalau Hibiki-san memberikanmu maiubo yang banyak juga?"

"... akan kupikirkan."

"OI!"

"Sudahlah. Yang jelas saat ini, kita harus fokus untuk pertandingan melawan tim Von."

"Osu, Senchou!"

.

.

.

—Furihata termenung ragu, entah kenapa baginya saat itu Akashi Seijuurou terlihat lebih seperti orang yang sedang menghukum dirinya sendiri.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

... saya update lama lagi, ya? Maafkan saya. Semoga 10k cukup menghibur RnR setia KnN sekalian. *ojigi* se-sepertinya ... mulai ke depan, update-nya juga makin sporadik.

Saya bilang beberapa kali di A/N chapters kemaren-kemaren, saya nggak mau bikin grafik battle scenes lagi. Tapi, demi kebutuhan cerita, saya harus membuatnya lagi. *kejang*

Data Anggota tim Von:

(Nama karakter – asal fandom)

Hibiki Sora , Hayate Kaze – OC

Shiba Tatsuya, Shiba Miyuki, Ichijou Masaki – Mahouka Koukou no Rettousei (lightnovel/anime/manga)

Yuuichiro Hyakuya, Mikaela Hyakuya – Owari no Seraph (manga/light-novel/anime)

Akechi Kogoro, Namikoshi – Rampo Kitan: The Game of Laplace (anime/novel)

Nine/Arata Kokonoe, Twelve/Toji Hisami – Zankyou no Terror (Anime)

Otosaka Yuu – Charlotte (Anime)

Nijimura Shuzou - Kuroko no Basket (manga/anime)

Untuk bayangan karakter. Pertama, Hibiki Sora. Tampangnya ... well, silakan bayangkan Hibari Kyouya versi TYL dari Katekyou Hitman Reborn dicampur dengan keceriaan plus keramahan plus keposesifan Kazehaya Shota dari Kimi ni Todoke, kecuali satu hal: matanya biru langit dan keburukannya yang asdfghjkl—*disensor* (di beberapa chapters ke depan akan terungkap jati dirinya kekeke). Semua yang disampaikan tim Von itu benar, kok. Tipikal all-over-handsome and humble di awal itu karena Kisedai dkk belum tahu aslinya si kapten ini. *pukpuk Hibiki* XD

Untuk Hayate Kaze, ... dia ini albisian. Jadi kulitnya putih pucat. Rambutnya juga putih. Tampangnya dan proporsi tubuhnya mirip Miyagi Kodama dari Rutta to Kodama, kecuali matanya itu besar dan beriris hitam, berkantung mata hitam, pecinta payung (ada alasannya tapi dijelaskan nanti di summer camp Arc) : payungnya tercinta mesti terkembang apik ala Shiro dari fandom K Project. Hawa mistis dan nyentriknya itu kurang-lebih seperti L Lawliet dari fandom Death Note. Kalau karakternya ... maaf, saya juga nggak bisa menjelaskan secara tepat karena dia memang nyentrik begitu. X"D (YANG JELAS SUMPAH KODAMA GANTENG TAPI KYUT BANGET HAHAHAHA. Yang suka manga shounen-ai/yaoi, fluff, y-a-o-i, dan design chara yang cukup bagus, silakan baca Rutta to Kodama.)

Kenapa saya pilih karakter dari beberapa fandom itu untuk jadi tim Von? Saya cari pemuda sepasang, coretikemencoret otaknya brilian (kecuali Yuuichiro Hyakuya, dan memang khusus Ace di antara para Ace saya sengaja cari yang seperti dia) serta ada ... uhm, sesuatu. Nah, di akhir pertandingan Timnas Junior vs. Von ini baru akan terjawab.

Uwoh, ternyata banyak yang berhasil menebak di chapter 13, ada kapten pelangi kece kita, Nijimura! Selamat, ya. Tebakannya bener bangeeet. *kasih buket bunga* XD

AKHIRNYA KESAMPEAN JUGA MASUKIN NIJIMURA! *peyuk erat Nijimura* Dan saya seneng banget lihat Nijimura ada lagiiii, dan nangis ... dan jalan sampe Extra Game tamat—tanggal tiga Maret kemaren saya sampe nangis baca tamatnya. Dua chapters terakhir bikin saya kejang jiwa-raga. Saya nggak bisa ngasih spoilers, yang jelas saya nggak bisa mengucap apa pun selain terima kasih untuk Fujimaki-Sensei sudah membuat fandom seperti Kuroko no Basket. Uh, nggak bakal diketahui memang, tapi saya harap apresiasi ini tetap tersirat dalam fanfiksi saya.

Saya ulang lagi warning dari chapter 13: Hints shounen-ai akan mengental. TIDAK untuk timnas junior (karena sedekat-dekat dan ambigu apa pun saya buat mereka dalam fic ini, tetap tidak akan ada apa-apa, kecuali kalau love-conflict straight dan baper akan dimulai saat Training Arc /yeah spoiler/), tapi untuk timnas senior. Saya benar-benar mohon maaf untuk Readers yang benar-benar anti shounen-ai, jika tidak berkenan, silakan skip Arc Von ini. *sungkem dalem-dalem*

Sekali lagi, untuk seluruh Readers and Reviewers fanfiksi Kiseki no Nakama, terima kasih sudah me-review. Maaf yang bisa saya balas hanya yang login (karena rasanya amat-sangat tidak etis membalas reviews di A/N. Karena kalian datang ke fic saya untuk membaca fanfiksi saya, bukan untuk membaca balasan reviews saya pada reviewers yang lain).

Tapi saya benar-benar berterimakasih pada Anon Reviewers yang telah memberanikan diri untuk tetap memberikan saya apresiasi dan perhatian. *ojigii*

And see you very sweet latte(r), my dear RnR! ;D

.

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan