Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;)
.
So, I will survive~
Dozo, Minasan!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Mahōka Kōkō no Rettōsei belongs to Tsutomu no Terror is directed by Shinichiro Watanabe. Owari no Seraph belongs to Kagaya Takami, Yamamoto Yamato, and Furuya Kitan: Game of Laplace produced by Lerche and directed by Seiji Kishi. Charlotte produced by P. and Aniplex and directed by Yoshiyuki Asai. I don't own them nor I taking any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, shounen-ai, ambiguity, basket battle scenes, etc.
Italic: Flashback
.
SPECIAL WARNING: Khusus untuk chapter ini, ambiguitas dan hints shounen-ai lebih eksplisit dari sebelumnya. Jika tidak suka, silakan skip quarter 2 sampai setelah pertandingan selesai atau satu arc ini.
Jika Anda tidak menyukainya, mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih untuk pengertian Anda. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Pintu besar gimnastik terbuka dengan derit memekak telinga, menguak cerita yang tak dikisah pada mereka yang telah menanti sejak pagi dijejali antusiasme.
Seluruh kepala lekas tertoleh pada seseorang yang menginvasi wilayah privasi mereka. Begitu mereka mengidentifikasi siapa yang datang dengan senyum yang tidak mengidentifikasikan hal baik dari segi manapun, mereka menghentikan aktivitas masing-masing dan lekas menyapa.
"Konichiwa, Kantoku!"
Kagetora mengangguk pada timnas yang telah dibimbingnya selama setengah tahun terakhir. Dia menyeringai, sadar benar seringainya itu berefek membuat pemuda yang tergelepar di sofa bergegas mendudukkan diri dan wajahnya berkeriut ngeri melihat kehadirannya.
"Sudah lunas hutang pemanasanmu, Hantu?"
Yang berjuluk The Ghost itu mengangguk-angguk manut. Dia beringsut ke dekat kapten timnya, mencari perlindungan dari raut sadistik sang pelatih. "Sudah, Kantoku."
"Bagaimana hasil pertarungan tim veteran dan timnas junior?" tanya kapten tim yang diembankan harapan agar menjadi pahlawan bagi bangsa mereka, mewakili timnya, tetap dengan senyuman tenang.
"Timnas junior menang."
Semua menoleh pada pemuda yang baru masuk. Seseorang yang paling terakhir direkrut ke dalam tim dengan usia paling muda di antara mereka, baru kembali setelah meminta sekuriti membenarkan sistem penerangan di koridor menuju gim basket mereka.
"Benar, bocah-bocah menyusahkan itu menang." Kagetora menyeringai sekaligus mengangguk puas. Seringainya terkepul seiring helaan napas panjangnya terhela. "Aku tidak akan menanyakan ini pada mereka di depan timnas junior. Tim veteran sudah berjuang keras untuk melawan bocah-bocah itu, tapi sesungguhnya ..."
"Alasan kalah tim veteran, sebenarny, adalah karena tidak mau bertemu dan harus melawan kami lagi."
Kagetora berdecak mendengar cetusan tenang kapten tim asuhannya ini teriring tawa geli perlahan. Tawa para anggota yang dingin, sama sekali tak bernada humoris.
"Eksperimentasi kalian itu yang memasukkan si bocah keras kepala sialan selama dua quarter penuh membuat tim veteran cukup trauma, sampai sekarang—rupanya." Kagetora mendengus mengamati kepompong yang belingsatan di tribun.
Ace di antara para ace itu sengaja Kagetora blokade mulut ributnya dengan lakban agar tidak mengumbar bahasa prokem warna-warni yang jahanam dan diikat dengan tambang sejak pagi tadi, digantung terbalik di tribun penonton sebagai hukuman karena berani menentangnya untuk menyambut timnas junior pagi tadi langsung dengan tantangan bertanding.
Dasar merepotkan. Pebasket-pebasket semacam ini yang membuat Kagetora kembali ingin vakum—bahkan kalau bisa pensiun—dari profesinya sebagai sport-trainer.
Pria paruh baya itu mengedarkan pandangan untuk mengabsen para pemuda dewasa dan seorang gadis dewasa yang juga turut memerhatikan sang ace—rusuh seorang diri meronta-ronta dan berontak yang sia-sia belaka.
"Kurang satu orang."
Cetusan tajam sang pelatih menyambit keheningan gim. Mantan pemain timnas itu menyadari tensi dan suspense yang meninggi di atmosfer yang merembas dalam ruang tersebut, menyadari bagaimana setiap anggota yang ada saling berpandangan dan mempertimbangkan jawaban.
"Aku tidak menanyakannya sebulan lalu karena kalian tidak bisa menghubunginya, tap, ini sudah sebulan."
Hanya sepasang pebasket termuda yang mulai meneguk ludah mendengar nada kecaman yang tersirat jelas dan picingan mata tajam mengelupas, pria berambut coklat yang entah sejak kapan telah menjadi figur guru menelisik interogatif mereka satu per satu.
Pada akhirnya, di saat seperti ini, semua kompak mengarahkan tatapan pada tumpuan mereka. Pemuda yang didaulat sebagai kapten itu menarik napas dalam untuk menyempurnakan ketenangan dalam komposurnya—tahu benar dalam keadaan seperti ini dia selalu jadi bidak untuk disantap raja pihak lawan.
Tak ada satu pun yang tidak mengerti siapa yang ditanyakan Kagetora.
Pengkhianat yang paling berkhianat di antara para pengkhianat.
Pendosa yang paling berdosa di antara para pendosa.
"Mana si Makhluk Sok Tahu, Hibiki?" tanya Kagetora, seperti menjatuhkan granat pada hati murid-muridnya.
Ketegangan itu mencekik mereka.
Bertukar pandangan dengan semuanya, termasuk ace yang diperlakukan secara tidak bermartabat, Hibiki tanpa suara meminta izin mereka untuk menjawab rahasia yang tak seharusnya saat ini mereka ungkapkan. Pasca menerima anggukan persetujuan dari yang lain, Hibiki beralih membalas tatapan serius Kagetora.
"Sudah kusampaikan agar semua datang bagaimanapun caranya, tapi mungkin dia tidak bisa datang sekarang, Kantoku."
"Kenapa?"
"Ingat Mata-mata Amerika yang tidak sengaja bertemu dengan Midorima dan Sakurai?"
"Hmm. Apa hubungannya dengan makhluk KEPO itu?"
"Dia mengafirmasi bahwa mereka datang ke Jepang mencari kami, tapi malah dapat jackpot karena menyaksikan timnas junior saat Ritual Neraka di Sky Tree."
"... tsk." Kagetora menaruh sebelah tangan di pinggang, satu kaki yang ditekuk mengetuk-ngetuk berisik lantai lapangan. "Jadi, sekarang American Spies itu memutuskan untuk melacak timnas junior?"
"Ya." Hibiki mengangguk tegas. "Walaupun Jabberwock berkarakterisitik sangat arogan, tapi tidak berarti Generation of Miracles dan tim pelatih mereka akan jadi sangat ceroboh meremehkan semua pihak. Hanya melihat Midorima saja, mereka bisa mengetahui seberapa besar ancaman timnas junior kita pada timnas junior mereka di FIBA nanti."
"Kenapa tidak kalian katakan padaku dan pelatih lainnya?!" Kagetora merasakan darahnya bergelegak hebat. "Bocah-bocah menyusahkan itu dalam bahaya! Kita harus—"
"Jangan khawatir," Hibiki bertutur halus, "karena beban Kantoku dan yang lainnya sudah sangat berat. Kami tidak ingin merepotkan kalian lebih dari yang sudah kami lakukan."
Pemuda itu tersenyum tipis seraya berkata lebih ringan, "Dan lagi, kami pun bertanggung jawab untuk melindungi adik-adik di timnas junior. Mereka juga harapan kita semua dan masa depan perbasketan Jepang."
Kagetora terdiam, tak bisa lanjut menggeram dengan keteguhan hati yang tercermin dari bahasa tubuh satu tim yang direkrut olehnya sendiri.
"Masih bisa kami atasi sendiri." Satu-satunya pemuda yang berkacamata itu turun tangan menenangkan sang pelatih. "Kami meminta dia menyimpang-siurkan informasi tentang timnas junior lewat underground, bahwa yang terjadi di Sky Tree hanyalah kegiatan bermain basket ekstrim dan gila, tidak berhubungan dengan tim nasional Jepang."
"Mana bisa Amerika percaya semudah itu?" Sang pelatih menggeram kesal. "Mengecek tentang mereka ke situs unggah video atau mesin pencari, mereka akan tahu—"
Pemuda yang paling muda lantas menyela, "Berita mereka sudah ada sejak mereka sekolah di Teikou. Mengingat terutama Kiseki no Sedai, adalah figurisasi pahlawan oleh publik, pasti berita mereka sangat banyak."
"Karena itu, untuk membantunya, kami bekerja sama untuk memproteksi berita yang ada tentang timnas junior agar tidak bisa diakses oleh domain atau IP Address luar negeri," tukas pemuda yang memiliki nama panggilan bernomor dua belas itu.
"Sebanyak itu website yang mengulas tentang Kiseki no Sedai dan lainnya kalian proteksi, Senpai?!" tanya pemuda dengan garisan luka vertikal di matanya, ngeri.
"Ya, tapi kita tidak bisa terus-terusan melakukannya," jawab pemuda dengan helaian rambutnya terurai menutupi setengah wajahnya yang cacat oleh luka silang, "Terlebih, American Spies akan memecahkan sandi proteksinya yang kami buat. Atau kalau mereka mengambil jalan pintas, mata-mata yang ada di sini akan mengakses informasi timnas junior dari website lokal dengan domain dan IP Adress lokal juga."
"Sebelum itu terjadi, Kantoku," Pemuda yang mengingatkan Kagetora pada kapten timnas junior itu—sekaligus kakak dari manajer timnas rahasia ini, berujar tenang, "untuk mengantisipasi intrusi dan mata-mata dari Amerika, kami akan menghapus semua informasi tentang timnas junior dan riwayat mereka yang berkaitan dengan basket, kemudian memanipulasi informasi palsu untuk menyesatkan siapa pun yang mencoba melacak timnas junior untuk merugikan anak-anak itu."
Gadis tunggal di ruang gimnastik itu turut melontar, "Apalagi saat nanti jelang musim pertandingan, akan lebih sulit lagi menjaga keamanan data dan pemain—karena semua berlomba-lomba untuk saling cari celah agar lawan bisa kalah. Jadi lebih baik dilakukan dari sekarang."
"Bagaimana bisa kalian melakukannya kalau begitu?" tanya Kagetora sembari menopang dagunya. "Aku tidak mengerti soal internet atau underground, tapi kalau kalian ingin memanipulasi hal-hal semacam itu, bukankah berarti kalian harus tergabung dalam pemerintahan atau paling tidak Intel Negara untuk menghapus semua informasi tentang anggota timnas junior?"
Kembangan senyum sebagian besar dari mereka kian mendinginkan atmosfer dalam gim.
Kagetora nyaris bergidik melihat ekspresi distan hampir semua personil anggota tim yang dibina olehnya. Dia berusaha mengingat-ingat latar belakang setiap pemain yang disatukan menjadi tim ini, seingatnya tidak ada satu pun dari mereka yang kebanyakan hidup di luar negeri adalah aktivis pemerintahan atau tergabung di badan intelijen Jepang.
"Kalaupun tidak ada "orang dalam", banyak di antara anggota tim Von yang berpengalaman, Kantoku," jawab satu-satunya pemuda blonde yang ada, "apalagi si Tiga Belas."
"Tidak berarti kami tidak ada channel sama sekali," imbuh Twelve yang Kagetora juluki penguasa udara sambil terkekeh renyah.
Kagetora menyelidik sang kapten yang nyengir tanpa dosa—tampang pura-pura tidak tahu yang tidak menipu Kagetora. "Jadi kalian punya koneksi ke badan intelijen negara atau pemerintahan atau semacamnya untuk mengeksekusi rencana kalian itu?"
"Bisa jadi," jawab sang kapten sambil menggendik bahu, "detail itu tidak perlu Kantoku pikirkan."
Kagetora menjustifikasi satu per satu pemuda yang tampak ambisius. Ironisnya, ada kesan agak menakutkan yang mereka goreskan, seakan mereka menikmati permainan tak kasat mata yang telah dimulai bahkan sebelum genderang perang di turnamen kehormatan ditabuh.
"Kantoku, tenang saja." Pandangan Hayate melunak, suara paraunya berucap lembut, "Kami juga akan melindungi timnas junior."
Kagetora terdiam dengan perkataan itu dan determinasi yang terefleksi dari wajah-wajah setiap individu yang ada di hadapannya. Sepertinya mereka telah bertindak lebih dulu tanpa melibatkan representasi Asosiasi Basket Jepang—tim pelatih, pasti mereka punya pertimbangan tersendiri.
Ada sesuatu yang terjadi dan bahkan dirinya tidak sadari, tapi tim yang dilatihnya ini lebih dulu menyadarinya.
Dari cara para pemuda di hadapannya ini bungkam kemudian, tidak memberitahukan apa pun lagi, Kagetora mengerti bahwa ada alasan penting tim dari generasi pendosa ini tidak ingin membeberkannya pada yang lain. Hanya dirinya satu-satunya yang cukup mereka percaya tentang hal ini.
"Terima kasih." Mengembuskan napas panjang, pria yang didaulat sebagai pelatih timnas itu bertanya berat, "Jadi, tidak perlu memberitahu yang lain ataupun bocah-bocah merepotkan itu?"
"Tidak sekarang," jawab Hibiki lugas.
"Kenapa tidak? Mereka berhak tahu."
Twelve menatapi boneka warna pink dan ponsel ketinggalan zamannya. "Kami mengerti, tapi ..."
Kagetora mengangkat sebelah alis, tidak paham dengan atmosfer sentimental yang tiba-tiba melingkupi tim Von.
"... saat ini, kalau mereka tahu, mereka akan sangat tertekan. Dipaksa menerima beban sebagai timnas saja sudah membuat mereka tertekan," sambung Nine.
"Selain itu, Kantoku," Kapten tim rahasia ini memasung tatapan pada sang pelatih, mewakili yang lain mengaku, "... kami ingin mereka benar-benar bebas bermain basket."
Kagetora seketika paham.
Perkara kebebasan atau tidak dalam bermain basket adalah topik paling sensitif bagi tim Von—karena hampir semua dari para pebasket itu tidak mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan bermain basket selama separuh (bahkan lebih) karir gemilang mereka berkiprah di dunia olahraga ini.
"Baiklah." Kagetora tersenyum menenangkan dengan realisasi ini. "Kapan tim pelatih bisa diberitahu?"
"Perkiraan, para pelatih bisa kami beritahu mungkin saat jelang kedatangan Jabberwock," jawab eks-model ternama sekaligus center tim Von, Ichijou.
"Baiklah. Aku juga akan tutup mulut sampai saat itu tiba." Kagetora mengangguk. Dia juga akan memercayakan hal sekretif ini pada anak-anak muda yang lebih paham darinya. "Bagaimana dengan timnas junior?"
"Dua hal." Hibiki mengangkat kedua jarinya—mengingat mufakat dari debat alot timnya. "Satu, ketika mereka sudah sadar tanggung-jawab sebagai tim nasional yang sesungguhnya—mengerti beban berat misi mereka untuk memenangkan Hall of Fame. Dua, saat tim mereka sudah solid."
Seketika Kagetora tergelak sampai memegangi perut karenanya. Tatkala tawanya mereda, dia menyeringai pada orang-orang yang sama sekali tidak ikut tertawa dengannya. "Nomor dua ... sepertinya sulit, apalagi setelah nanti berita vakum Inter-High dan Winter-Cup tahun ini dipublikasikan."
"Anda sudah menduga apa yang akan terjadi?" tanya Hayate dengan senyum lugu khasnya.
Kagetora mendengus. "Tentu saja."
Chaos.
Roman wajahnya yang kini agak mengeruh berasumsi akan hal yang pasti terjadi, dan mengingat hal distraktif satu itu yang dipikirkannya selama sebulan belakangan untuk mengantisipasi solidasi timnas junior, tidak luput dari mata-mata tajam dewasa yang jeli mencermatinya.
"Kali itu, aku membuat mereka bertaruh dan kalah dengan melawan si Hantu, memaksa menerima semua, dan aku tidak memberi mereka pilihan." Kagetora membulatkan keputusannya, rautnya amat serius mengucap konklusi, "Tapi nanti, aku akan berikan pilihan pada mereka."
'Sasuga Hidoi no Kantoku.' Jawaban itu saja membuat yang mendengarnya bersimpati pada timnas junior akan sesuatu yang belum terjadi—tapi pasti akan terjadi.
Bagaimanapun, pelatih mereka tidak pernah jadi seseorang yang selalu memanjakan pemain-pemain asuhannya. Itulah caranya mendewasakan tim yang dibina dan dijaga baik-baik olehnya.
Mengendurkan suspense berat yang melingkupi mereka, Kagetora menatap hangat para pemain yang dilatihnya satu per satu.
"Sebaiknya kalian makan siang sekarang. Nanti setelah mereka selesai makan siang, aku akan mengantarkan bocah-bocah itu kemari." Kagetora menuding pada ace yang entah sejak kapan tergantung diam, tidak belingsatan—mungkin mendengarkan seksama percakapan mereka. "Oi, Vampir, berikan dia makan, tapi jangan turunkan sampai aku memberi izin."
Pemuda blonde yang dipanggil vampir itu menghela napas pendek, mengangguk tanpa suara. Melirik sekilas partner-nya yang melotot pada pelatih mereka, tapi tidak dihiraukan.
Kagetora menatap satu persatu individu dewasa dan remaja yang ada di sana, kemudian berbalik, menoleh ke belakang dengan mata terpicing, menyarangkan pandangan curiga pada mereka.
"Kalian tidak merencanakan hal aneh-aneh di luar tindakan protektif untuk timnas junior, 'kan?"
Sunyi. Kedua pemuda yang tidak menyembunyikan rahasia atas rencana gila para seniornya, seperti Otosaka Yuu dan Nijimura Shuuzou, refleks membuang pandang ke langit-langit ruangan.
Hibiki tersenyum tenang. "Maksud Kantoku?"
'Detta: senyum serigala bertampang kucing.' –kompak airmuka setiap anggota tim Von yang melihat ekspresi sang kapten.
"... bukan apa-apa." Mungkin hanya firasatnya saja, curiga dengan keantikan tim yang acapkali berkelakuan di luar nalar. Kagetora melambai pada mereka. "Jangan lupa janji kalian padaku."
(Jangan hancurkan mereka.)
"Hai', Kantoku!"
Roman wajah mereka ringan tatkala perkataan terakhir sang pelatih menyisa gema di gim dengan senyuman pengertian kebapakannya, hati menghangat memahami bahwa pelatih mereka paham siapa yang tidak hadir di antara mereka, yang telah memulai upaya perlindungan untuk timnas junior meski harus seorang diri dalam pertarungan yang bahkan belum memiliki wujud konkrit.
Persona paling berbayang yang tidak pernah dicercah terang, yang bersembunyi atas khianat serta timbun tambun dosa, dan paling jauh dari benderang.
"Omong-omong, Von ... katakan pada Joker: ganbatte."
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 16
"The Fierce Battle of Observation and Analysis"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
"Kau tidak boleh jadi starter!"
"AKU MAU BERTANDING!"
"Mau kutembak dengan pistolku, hah?! Atau kuikat dan kugantung terbalik lagi, Bocah?!"
"Tembak saja kalau berani! Dan aku mau main basket melawan anak-anak dengan bakat luar biasa itu! Aku akan menang dari mereka!"
"Dasar bocah! Ini bukan tentang menang atau tidaknya kau dari mereka!"
Pertengkaran sengit menyambut timnas junior yang baru masuk gimnastik setelah berganti baju itu tercenung bingung.
Mereka melihat sang pelatih diselebungi aura kegelapan tengah memelototi ace tim Von yang berwajah mantap dan bersikukuh teguh dengan pendiriannya.
"Apa yang terjadi?" bisik Kise pada Momoi yang segera berdiri dari bench untuk menyambut mereka.
Momoi balas berbisik, "Ace mereka memaksa minta turun bertanding sementara Kagetora Kantoku melarangnya bermain."
"Kenapa Ace tim Von tidak diperbolehkan turun bertanding?" tanya Takao heran.
Momoi menggelengkan kepala. "Aku masih belum tahu. Mungkin karena Kantoku merasa tidak sepantasnya Ace dari para Aces itu melawan timnas semuda kita."
"Mendadak, aku teringat pelatih seseorang." Kuroko melirik sang model ternama. "Ace yang dilarang turun untuk bertanding karena tim lawan dianggap terlalu lemah."
Kise berjengit karena lirikan dengan mata terpicing trio Seirin padanya, dia nyengir penuh sesal. "Maaf, maaf. Itu, kan, kemauan Genta Kantoku."
Himuro mengamati pertengkaran di kubu sebelah lekat-lekat, kemudian mengecilkan volume suaranya. "Tim Von tidak seperti timnas senior unit publik yang terlihat meremehkan kita."
"Jangan berpikir seperti itu dulu. Kita tidak tahu benar apa mereka meremehkan kita atau tidak," ucap Aomine tajam dengan nada memperingatkan.
"Kalau mereka tidak menurunkan Ace, itu berarti mereka sangat merendahkan kita, nanodayo." Midorima memasukkan lipatan rapi baju miliknya ke dalam tas.
Kagami yang tengah mengetukkan ujung sepatunya agar memvibrasikan getar hingga ke betisnya—menguji ketegangannya dengan getaran ringan, mendengus perlahan. "Kalau mereka melakukan itu, kita harus melibas mereka—"
"—dan membuat mereka menyesal karena tidak menurunkan Ace dari awal." Akashi menyambung ujaran Kagami. Kedua pemuda berambut merah berbeda spektrum itu bertukar seringai tipis karena kali ini pikiran mereka selaras.
Setelah merapikan barang bawaan masing-masing, mereka beralih memerhatikan kubu lawan.
Timnas junior dibuat terkesiap dan terbelalak horror melihat pemuda dengan tinggi agak kelewat rendah untuk ukuran pemain basket itu mendongak penuh keberanian meski sang pelatih menodong moncong pistol ke pelipisnya. Baru pertama kali mereka melihat sang pelatih menyengatkan deathglare terbengis pada pemuda di hadapannya yang tidak gentar sama sekali.
Kebanyakan anggota tim Von hanya menatap dengan wajah poker-face pertengkaran yang terjadi. Sebagian lagi menjejalkan baju mereka ke tas. Beberapa tampak terlihat nyaris geli (tapi lebih dingin dari itu) atas kebebalan ace mereka versus kesebalan sang pelatih. Sebagian lagi tengah berdiskusi dengan suara rendah.
Bahasa tubuh senior mereka antara acuh tak acuh dengan keklisean yang kembali terealisasi.
"Homina ... hominah ... hubah! HUHAH!"
Bahkan ketika ada yang memulai ritual angker sekte sesat pemujaan terhadap payung yang ditaruh di bench dan dijampi-jampi dulu—membiarkan teman mereka khusyuk komat-kamit memeranjat doa serupa mantra, itu juga tidak ada yang menghentikan ritual mistis tersebut lantaran sudah terlalu terbiasa, mereka berlaku terhadap tingkah aneh dan segala keabnormalan yang terjadi itu seakan normal.
Di sisi lain, Kagetora yang geram karena tidak bisa membuat ace tim Von tunduk, menoleh pada sang kapten tim Von yang sibuk menahan diri untuk tidak tertawa. "Oi, Hibiki, kau mau kuhukum lagi karena kelakuan bengal Yuuichiro?!"
Hibiki melenyapkan tawanya, ia berdiri dengan ketenangan yang kharismatik dan senyum ramah khasnya.
"Kantoku," ucapnya sopan nan halus sebagaimana seorang yang lebih muda menghadapi seseorang yang lebih tua, "saya memohon izin untuk Yuuichiro Hyakuya menjadi starter kali ini."
Kagetora menggeram marah. "Tidak bisa! Kau yang seharusnya paling mengerti—"
"Saya yang akan bertanggungjawab penuh jika terjadi sesuatu yang buruk." Hibiki tersenyum penuh kepercayaan diri seraya mengacak sekilas rambut hitam kebiruan Yuuichiro.
Kagetora menatap pemuda yang jadi pemimpin tangguh untuk timnas senior divisi rahasia asuhannya. Mengenal benar betapa konsistennya komitmen pemuda bermata sebiru langit musim panas ini sebagai seseorang yang bertanggung-jawab atas perlakuan teman-teman setimnya dan keputusan yang dibuatnya, dia mendelik pada Hibiki yang memperlakukannya sedemikian santun seakan ia orangtua keras kepala.
"Tsk." Sang pelatih mendecih. Dia menyakukan kembali pistolnya seraya menampar tatapan tajam pada satu per satu sosok dewasa di hadapannya. "Kugilas kalian semua kalau sesuatu buruk terjadi."
"Terima kasih, Kantoku." Hibiki membungkuk hormat pada sang pelatih yang melenggang menyabet sofa singgasananya. Dia menoleh pada teman setimnya yang paling menyusahkan, nyengir lalu menepuk kepalanya. "Oke, Yuu-chan. Semangat dan bersenang-senanglah."
Yuuichiro nyengir lebar. "Osu, Senchou!" Dia berseru penuh semangat pada sang pelatih, "Kantoku, lihat saja! Aku akan berjuang keras untuk menang!"
"Dasar bocah keras kepala." Kagetora mendengus pelan. Geli melihat pemuda bermata hijau brillian itu tidak ragu-ragu membuka bajunya untuk memakai kaus berlogo tim Von. "Jangan lupa janji tim kalian denganku."
"Hai', Kantoku!" Dari gestur mereka saja, timnas junior dapat melihat respek yang tercermin dari cara mereka membungkuk hormat pada pelatih timnas basket Jepang saat ini.
Timnas junior mendapati sang ace bergabung dengan anggota timnya. Disambut dengan berbagai reaksi. Seringai kemenangan mengontras tatkala tergores di wajah inosen si pemuda berambut hijau itu. Yang agak menepi, hanya manajer dan kapten.
"Apa kau yakin memasukkan Yuu-san jadi starter tanpa Mika-san, Kapten?"
"Tenanglah, Miyuki. Tidak apa-apa. Sebelum— (tidak terdengar lantaran terlalu samar) ... –dia akan langsung aku subs-out." Hibiki menepuk ringan bahu mungil manajer timnya, lalu menepukkan tangannya seraya menatap anggota timnya satu per satu.
"Minna, ayo pemanasan! Mika, tangkap Yuu-chan sebelum dia memegang bola! Hayate, kubuang payungmu kalau kau tidak berhenti menyembahnya, cepat siapkan speaker! Nine, Ichijou, Nijimura, lipat matras-matras ini dan taruh di pinggir lapangan! Namikoshi, Akechi, Tatsuya, singkirkan trampolin itu! Simpan galahnya di sebelah matras—bukan kaulompati, Twelve! Yuu, bawa keranjang bola ke sini dan satu lagi untuk adik-adik timnas junior! Miyuki, siapkan minum dan handuk untuk kita!"
"Hai', Senchou!"
"Aku tidak mau latihan! Ayo kita langsung main!"
"Yuu-chan, dengarkan kata Hibiki-Senchou!"
"Kau yang dengarkan apa yang kukatakan, Mika! Lepaskan aku!"
Hibiki membiarkan Mikaela berusaha meringkus Yuuichiro sementara dia menoleh pada timnas junior, dia melambai pada mereka seraya memulas senyum seramah biasanya. "Kalian juga pemanasan dulu. Pakai saja lapangan yang sebelah, kami pakai lapangan sebelah sini."
"Hai'." Timnas junior balas mengangguk pada sang kapten tim Von yang menghampiri teman-temannya untuk membantu membereskan barang-barang mereka.
Momoi mengucapkan terima kasih pada Otosaka Yuu yang membawakan satu keranjang bola untuk mereka, lalu meminta bantuan Furihata menyiapkan handuk dan minum untuk timnas junior yang disediakan Miyuki untuk mereka juga.
"Berkumpul, Minna." Akashi menepukkan tangannya beberapa kali, memagnet perhatian padanya dari teman-teman setimnya yang hendak pemanasan masing-masing.
Ditilik dari kuaran aura otoritas sebagai kapten dengan kewenangan absolutnya terhadap anggota tim, mereka menurut padanya karena sang kapten menyungging senyum tipis nan ringan yang sama sekali tidak terlihat berbahaya—belum ada yang sudi mengaku senyumnya sesungguhnya menenangkan kegundahan dan menyembulkan perasaan bersemangat anomali masing-masing dari mereka.
"Karena bola sudah ada, sebaiknya kita pemanasan. Bagi tiga kelompok dengan menjadi regu passing, dribbling, dan shooting, setiap orang bergilir di tiap regu. Jangan pemanasan terlalu keras dan jaga stamina kalian baik-baik karena kita akan menghadapi permainan yang belum kita ketahui detail kemampuan lawan."
Mereka yang berada di bawah kepemimpinan Akashi dalam timnas junior basket itu mengangguk singkat.
"Putaran pertama, regu passing adalah Takao, Kuroko, dan Furihata. Regu dribbling adalah Himuro-san, Kise, Kagami, Murasakibara. Di bagian shooting yaitu Midorima, Sakurai, Kise, Aomine. Rotasi searah jarum jam."
Timnas junior mengangguk dan bubar mengeksekusi instruksi sang kapten usai menyerukan, "Osu!"
Akashi lantas beralih pada Momoi yang tengah menarik sebuah keranjang berisi handuk bersih di sisi bench. "Bagaimana hasil pengamatan yang tadi kuminta padamu saat kami berganti baju, Momoi?"
Gadis itu menggeleng. Ia berpura-pura tetap fokus menghitung jumlah handuk sembari menjawab agar tim Von tidak mengetahui diskusinya dengan Akashi. "Aku tidak mendapatkan informasi apa pun lebih dari yang tadi diberitahukan oleh timnas senior publik."
Momoi menegakkan tubuhnya lalu mengerling halus pada bench di seberang bench timnya.
"Kelihatannya fisik mereka tidak seperti fisik pebasket dengan anugerah bakat atletis God-like. Mereka bahkan tidak terlihat semengerikan seperti timnas senior sebelumnya, hanya saja ..."
"Apa?" Akashi ikut melirik pada tim Von yang ternyata tengah memerhatikan timnas junior dengan penuh minat.
"... ada yang aneh dari mereka, tapi aku belum bisa mengidentifikasi tepatnya apa yang aneh itu. Perasaanku tidak enak karena hal ini, Akashi-kun." Momoi mendesah khawatir.
Jika manajer mereka dengan kemampuan analisis brillian dan insting yang tidak patut diremehkan itu bisa bicara seperti ini hanya karena mengamati sesaat tim Von, itu berarti mereka harus benar-benar waspada menghadapi tim tersebut.
Akashi termenung menganalisis yang Momoi sampaikan sekaligus mengilas balik segala hal yang berkaitan dengan timnas senior divisi rahasia tersebut.
Dia teringat yang wakil ketua tim nasional Jepang sekaligus ketua timnas unit publik sampaikan, tim Von merupakan tim dengan personil-personil berdarah Jepang yang tergabung dan tersebar di tim-tim terbaik seluruh dunia.
Anggota-anggota tim Von dulunya adalah anggota tim basket terbaik negara-negara superpower. Tidak mungkin anggota dari tim terbaik hanyalah pebasket biasa saja.
Julukan mereka: The Ghost, Avatar – The Last Airbender, Crimson Prince ...
Kapten timnas junior itu mendengar bisikan dari dirinya yang satu lagi. Dia pernah mendengar tentang julukan-julukan mereka saat dulu—ketika masih di Chuugakou atau mungkin lebih muda dari itu—saat ia masih sempat mencuri waktu luang untuk menonton televisi di stasiun olahraga.
Akashi memercayai intuisinya. Dia mengingat keanehan Nijimura saat hendak berkata tentang pendosa yang mengklarifikasi bagian center tim Von, si Crimson Prince, tapi ditahan oleh Hibiki.
Pasti ada sesuatu yang ganjil dalam tim Von—mereka tidak mungkin jadi tim yang dicaci dan dicari seluruh dunia karena aksi ekstrim mereka jika mereka tidak seberharga itu.
Pemuda berambut merah itu waspada mengedar pandang. Bagus, tidak ada yang memerhatikan selain asisten timnas junior yang tercenung bingung, tapi sigap mengalihkan perhatian agar tidak perhatian yang lain tak tertuju pada mereka.
Sang kapten mendekat pada gadis itu. Posisi mereka beroposisi—saling memunggungi. Akashi memastikan volume suaranya hanya dapat terdengar oleh manajer timnya—yang tampaknya menyadari gelagat anomali dirinya dan tetap tenang melaksanakan tugasnya.
"Browsing di internet sekarang juga, Momoi. Cari tentang pebasket The Ghost, The Last Airbender, Crimson Prince. Itu memang nama julukan mereka dan yang lain tidak kita ketahui, maka coba cari semua nama anggota tim Von di mesin pencari, atau kalau masih tidak ketemu, cari berita tentang Taizai no Sedai dan cari track-record karir bermain mereka di negara lain."
Momoi mengangguk, mengerling sekilas pada kaptennya. "Aku mengerti, akan kulakukan."
Akashi mengucapkan terima kasih, kemudian mengingatkan Momoi agar setelah Furihata menyelesaikan pekerjaannya untuk menyusul anggota yang lain pemanasan.
Akashi bergabung dalam rotasi pemanasan sembari sesekali mengingatkan untuk tidak malah one on one atau saling bentrok karena hal sepele. Seperti saat ini, Midorima yang hendak menembakkan tiga poin tengah bersitegang dengan Murasakibara yang berhasil menepis tembakannya.
Di satu sisi, tim Von yang sadar benar mereka juga sedang diawasi itu tidak menanggapi perlakuan naif tersebut.
Manajer tim Von menyetel volume speaker dan menyambungkannya pada ponselnya sesuai permintaan sang kapten. Gadis itu teralih memerhatikan bagaimana antusiasme timnya mengawasi latihan timnas junior.
"Wow! Dunk-nya si pirang itu luar biasa! Itu siapa tadi, ya?"
"Namanya Kise. Ternyata Kise tidak terlihat seperti model kalau sedang main basket."
"Kau juga sama saja, Ichijou. Tte, itu yang paling tinggi ... astaga, lengannya panjang sekali memblok quick-shoot itu."
"Itu namanya Murasakibara. Bukan hanya lengannya tinggi, kakinya juga. Defense area-nya sangat luar biasa."
"Hei, hei! Lihat yang itu! Lompatnya tinggi sekali— ... eh? Dia menabrak ring?"
"Dia akan jadi lawan yang menarik untukmu, Twelve."
"Kalian lihat kemana? Lihat itu pemain yang berkulit gelap! Dia sangat cepat dan formless shoot-nya luar biasa. Dia pasti pebasket streetbasketball yang mengerikan."
"Tidak adil sekali rasanya mendengar pemuda berkulit gelap itu dapat pujian dari yang dijuluki sebagai The Fallen Angel."
"Heh, justru karena aku yang paling mengerti tentang streetbasketball, aku bisa tahu kualitas pemain itu sehebat apa."
"Setahuku memang Aomine dari kecil bermain street basketball, Senpai. Sudah kubilang, Aomine pasti sangat menarik perhatian kalian."
"Oi, Nijimura, itu ukuran badan mereka memang besar-besar begitu?"
"Hmmh ... dulu mereka tidak sebesar sekarang, Senchou."
"Itu berarti hanya kau yang paling tinggi di tim ini, Otouto yo. Hmm ... mungkin kita benar-benar dalam bahaya."
"Mereka memang sangat kuat—o-oi! Itu tembakan tiga poinnya! GILA."
"Pffth, itu shooter yang mirip dengan Nine. Kukira hanya Nine yang bisa menembak seperti itu."
"Yang mirip Namikoshi itu, teknik bermain basketnya sangat halus dan hampir sempurna."
"Aku setuju, tapi ... kalian lihat? Itu orang yang dilewati oleh kapten timnas junior sampai jatuh terduduk."
"Dari dulu, Akashi melakukan ankle-break semudah melakukan dribbling."
"Ada pemain muda yang bisa seperti itu? Itu butuh latihan yang lama, kelentukan dan keseimbangan tubuh yang sempurna. Anak muda sungguh luar biasa."
"Kapten, tidak usah bicara seperti kau sudah sangat tua dan kau tidak luar biasa."
"Mereka pemanasan dengan latihan dasar?Pintar. Fundamental kemampuan dan wawasan mereka melebihi bayangan kita."
"Yang pintar mungkin kapten mereka, terlihat dari caranya menginstruksi latihan dan memerhatikan anggota timnya."
"Oh, Akashi dari dulu saat memimpin Kiseki no Sedai memang begitu, karena itulah aku menurunkan jabatan kapten padanya ketika dia masih kelas dua."
"Dia memang jenius."
"ALERT, Hibiki-Senchou! Yang maha jenius dengan IQ dan EQ di antara para jenius bilang kapten timnas junior jenius!"
"Ada angin apa kau mengakui Akashi Seijuurou adalah jenius, Taurus Silver-sama?"
"Aku dan Akashi pernah bekerja dalam suatu proyek, jadi aku—Miyuki juga—tahu dan mengerti kapabilitasnya."
"Proyek? Oh, yang di Sky Tree?"
"Begitulah. Anak itu jenius dan pekerja keras."
"Entah kenapa, Akashi-kun terkesan mirip Hibiki-Senchou."
"Tidak, menurutku lebih mirip lelaki yang berambut coklat dan dari tadi bilang sumimasen-sumimasen dengan Hibiki Senchou. Lihat saja dari caranya menembakkan tiga poin."
"Tepatnya, Senchou punya tampilan luar mirip Akashi—all over humble, gaya bermainnya mirip si coklat itu. Sayang, pemuda yang bicara sumimasen-sumimasen itu masih jauh sekali dari Senchou."
"Heck yeah Akashi mirip Hibiki-Senchou. Beda kalian sejauh Bimasakti ke Andromeda."
"Kau jahat, Nijimura Otouto. Kau lebih membias Akashi daripada aku."
"Akashi jauh lebih beradab sementara kau sangat biadab."
"Bahasa, Nijimura Fuku-Senchou! Kau akan kuhukum secara seksama dan dengan tempo yang selama-lamanya!"
"Aku tidak mau dengar itu darimu, dan terima kenyataan, Hibiki-Senchou!"
"Sudahlah, ini bukan saatnya bertengkar, Senchou, Fuku-Senchou. Itu pemuda berambut hitam yang sedang tertawa ... dia punya court-vision yang luas."
"Oh, yang berdiri di sebelah Midorima, ya? Caranya mengoper ... mungkin dia point-guard."
"Omong-omong soal operan," Ahli faker tim Von yang paling peka merendahkan suaranya, "tidakkah kalian menyadari dari tadi selalu ada saja bola yang lolos sana-sini begitu mudahnya? Janggal sekali."
Pemuda-pemuda dewasa lainnya juga mengangguk. Insting natural mereka yang telah terasah di medan laga terliar mendeteksi hal anomali yang terjadi.
Hayate menyahut sama pelannya, mata berkantung hitamnya itu mengerling sedemikian halus pada sang bayangan yang dimaksud. "Aah. Kuroko-kun. Kalian sudah melihatnya saat kita bersama-sama menonton rekaman CCTV ritual di Sky Tree, tapi kurasa kalau berada langsung di sekitarnya, kalian akan kehilangan dia."
Disematkannya atensi khusus pada pemuda tersebut dengan biner serupa oniks tersebut melunak.
"Dari sejak pertama melihatnya memasuki lobi, aku menyadari Kuroko-kun hampir sama sepertiku—dari auranya." Dengan artikulasi bahasa asing yang fasih karena telah terlatih, Hayate terkekeh seraya membisikkan monosilabel berkonten kenyataan, "Expert."
Siulan mendendang antusiasme serta seringai yang tersemai dari hampir semua personil tim Von menyambut konfesi dari sang hantu yang notabene adalah kartu truf tim Von. Jika sang hantu yang menyatakannya, itu berarti pemuda berambut lazuardi ini bukanlah golongan dengan talenta klise.
Golongan itimewa; memiliki bakat yang langka; expert.
Frasa "hampir sama sepertiku" memiliki implikasi bahwa Kuroko Tetsuya yang disebut-sebut adalah tipikal pemain yang memasterisasi sesuatu bidang hingga pada tahap membuatnya nyaris mustahil menjadi all around player—seperti pemain basket pada umumnya.
Pemain berjulukan "Hantu" itu memang seringkali telat disadari keberadaannya oleh orang lain, kelemahan paling parah darinya adalah dia cenderung amat telat menotis kehadiran orang biasa saja.
Namun sisi enigmatis dirinya yang paling tidak terjelaskan, adalah intuisinya yang tajam dan kemampuannya mendeteksi pemain dengan bakat natural yang langka.
"Aaah ... coba pemain itu bisa mendengar Hayate-Senpai bilang dirinya Expert," keluh Otosaka Yuu tidak percaya. Mendengar pebasket yang paling expert di bidangnya sampai memuji individu lain, itu adalah apresiasi tertinggi yang sangat membanggakan. "Aku iri."
Nijimura tertawa sekilas, satu-satunya yang familiar dengan keanomalian yang terjadi di kubu tim lawan. "Dulu di Teikou Chuugakou, Kuroko disebut sebagai The Phantom, Sixth Man. Keahliannya misdireksi. Pemain yang bergantung pada pemain bercahaya lain dengan bakat klise seperti yang Senpai-tachi miliki."
"Dilihat dari kondisinya sekarang—"
Para pemain tim Von mengerling penganalisis terjeli tim mereka, Tatsuya menyamarkan perhatian yang mereka tumpahkan pada si pemain bayangan keenam dengan melakukan peregangan ringan agar tak disadari tim lawan.
"—sepertinya dia sudah melampaui masalahnya itu karena hawa keberadaannya yang minim. Dia akan jadi salah satu pemain yang paling berbahaya dalam pertandingan."
"Afirmatif, Nii-sama, Minna." Miyuki menimbrung dalam konversasi serius timnya. "Berdasarkan hasil track-record karir bermainnya, dia berhasil mendapatkan solusi dari problem itu. Gaya bermainnya cukup konsisten dan konstan mengalami perkembangan yang signifikan."
"Itu berarti dia tidak stagnan. Bagus. Tidak akan menyenangkan melawan pemain yang stuck di tempat." Ichijou mengangguk puas. Dia menatap manajer timnya, menandaskan pertanyaan yang terbersit di benak teman-teman setimnya yang lain, "Kapan kau mengecek riwayat karir bermainnya, Miyuki-san? Apa yang lainnya juga—"
Miyuki tersenyum manis, lekas menyela, "—tentu saja, aku sudah melakukannya. Dan aku yakin, mereka juga sedang mencoba melakukannya," ucapnya ringan seraya mengerling halus pada manajer timnas junior yang tengah duduk manis mengutak-atik ponsel dengan wajah serius.
"Kita dari sini saja bisa merasakan kejanggalan yang terjadi tapi tidak tahu apa—dan ini bisa berakibat fatal jika kita terlanjur bermain tanpa tahu penyebab kejanggalan ini apa," tanggap satu lagi taktis tim Von yang membenarkan letak kacamatanya ke pangkal hidung. Nine juga memisdireksi atensi dari timnas junior dengan mendribble ringan bola basket.
"Kenapa bisa berakibat fatal? Kuroko bukan pemain yang kuat main full course, paling jika ia baru masuk sebentar, keseimbangan dari pertandingan akan terguncang sedikit karena syok." Nijimura mengerutkan dahinya. "Hawa eksistensi Kuroko yang tidak disadari keberadaannya itu tidak berefek selamanya."
"Kedengarannya seperti dia bukan pemain yang mesti kita benar-benar waspadai," timpal Yuu sembari menghela napas pendek. "Sama seperti pemain berambut coklat yang satu lagi, yang sedang mengejar-ngejar bola itu."
SLAP.
SLAP.
"ARGH! Twelve-Senpai!" Duo pebasket itu memberengut pada senior mereka karena kulit yang menyelaputi belikat ditampar keras olehnya.
"Ubah pola pikir kalian. Pemikiran meremehkan seperti itu akan menjerumuskan kita pada kekalahan."
Twelve mewakili senior yang lain menuturi kedua junior muda mereka, terkikis impresi playful khasnya dengan keseriusan yang meremangkan bulu kuduk. Pemuda yang sampai dijuluki penguasa udara itu merendahkan suaranya.
"Satu atau dua orang saja yang memiliki otak brillian di timnas junior, mereka akan memanfaatkan after-shock karena input eksistensi Kuroko. Mereka akan mengeluar-masukkan Kuroko, membuat setiap pemain di lapangan harus beradaptasi dengan ada-tidaknya dia, kemudian keluar, lalu masuk, terus seperti siklus, dan membuat tim lawan syok karena tidak terbiasa lagi dengan kehadirannya."
Nine membantu Twelve menguraikan, "Lain halnya dengan teman setimnya yang telah terbiasa dengan ada-tidaknya Kuroko dalam lapangan. Syok dan kesulitan beradaptasi karena pengaruh eksistensi Kuroko inilah yang mendatangkan keuntungan untuk tim Kuroko dan merugikan tim lawan."
Yuu mengusap-usap belikatnya yang nyeri karena sakit berlebih. "Bukankah kalau sering mengeluar-masukkan pemain justru membuat satu lapangan malah jadi terbiasa?"
"Tidak semua pemain itu adaptatif ataupun mudah beradaptasi." Akechi mengingatkan fakta yang acapkali dilupakan oleh mayoritas pebasket di dunia.
Mikaela—yang disadari oleh Yuuichiro dan seluruh anggota tim Von lainnya telah kembali warna matanya dari merah balik menjadi biru lagi, berarti dia meneropong sesuatu dalam kaleidoskop atensinya—akhirnya berujar, "Kalian ini seperti tidak mengerti saja, ada-tidaknya satu key-player dapat mengubah seluruh momentum permainan."
Namikoshi mengangguk membenarkan perkataan Mikaela. "Perubahan aliran permainan ini menentukan siapa yang akan menguasai jalannya pertandingan dan siapa yang dirugikan karenanya."
Sejenak tim Von dilanda keheningan karena mereka meresapi diskusi serius yang tidak disadari oleh timnas junior, tapi diam-diam diperhatikan oleh sang pelatih yang melunak memandangi mereka satu per satu.
Tawa sang kapten membunuh kesunyian mematikan yang melingkupi timnya. "Dasar kalian otak-otak Artificial Intelligence."
"Enak saja." Akechi mendengus sebal. "Otak kami bukan otak-otak buatan seperti yang sering dibuat Tatsuya."
"AI terlahir dari kecerdasan hakiki." Tatsuya tersenyum ala casanova, tidak tersinggung saat menanggapinya.
Satu tim impuls tertawa mendengar sanggahan dari trio taktis mereka.
Sesaat keramahan mengepul dari roman wajah Hibiki karena rahangnya mengeras. Mata tersebut yang sehangat langit musim panas, seseorang yang menjadi tempat mereka bernaung, kini menyiratkan pemahaman seraya menandas tegas.
"Secara teori, bisa jadi kita telah memahami kemampuan The Phantom Sixth Man—walaupun kita tidak boleh membutakan diri dari adanya probabilitas bahwa kemampuan satu pemain seperti Kuroko tidak mungkin terbatas dari apa yang sudah kita ketahui—jadi kita bisa mengantisipasinya. Akan tetapi, ketika kita berada di lapangan, bukanlah hal mustahil kita bisa jadi akan gelagapan karena kehadirannya dan malah tidak bisa mengantisipasinya."
Semua anggota tim Von khidmat memerhatikan tuturan dari figur ketua mereka yang telah melepas topeng keramahannya itu, bertransformasi menjadi sesosok kapten analitif dan tentatif, lelaki yang selalu berdiri memunggungi mereka menanggung segala konsekuensi dari apa pun yang terjadi.
"Meskipun aku tahu benar kemampuan beradaptasi dalam segala situasi setiap anggota dalam tim kita sangat luar biasa, tapi efek yang disebabkan oleh pengaruh eksistensi Kuroko yang mungkin akan membuat keseimbangan ritme permainan tim kita kacau walau hanya sepersekian detik—dalam fase itu pasti timnas junior memanfaatkan kekacauan momentum tim kita untuk memenangkan pertandingan, itulah yang harus kita antisipasi."
"Bagaimana kalau ternyata mereka tidak memanfaatkan Kuroko seperti yang Senpai-tachi katakan dan kita antisipasi dari sekarang? Itu akan membuat kita terlihat konyol karena terlalu khawatir berlebihan."
Cetusan inosen Yuu itu membuat mereka yang mampu menalar jalannya diskusi menatapnya seakan jamur tumbuh di kepalanya. Yuu mendesis tersinggung karena ditatap dengan pandangan seberapa-bodoh-kau-sebenarnya.
"Jika itu benar terjadi, terkutuklah timnas junior dan keidiotan mereka karena menyia-nyiakan pemain seberharga Kuroko."
Hibiki tertawa perlahan seraya menggeleng-gelengkan kepala. Mengabaikan teguran Nijimura ("Kapten, bahasamu!"), dia menatap dalam-dalam satu per satu anggota timnya.
"Jangan pernah sepelekan satu pemain pun, termasuk yang biasa saja dan lemah sekalipun. Tapi juga jangan dibuat buta hanya karena satu pemain. Jangan hanya mewaspadai apa yang terlihat kasat mata dan kita sadari saja keberadaannya."
Beberapa kepala yang dilabeli sebagai "otak AI" oleh sang kapten terkompulsi mengangguk patuh memahami yang disampaikan olehnya, tapi ada juga yang masih mengejap-ngejap mata, berusaha mencerna instruksi yang disampaikan oleh Hibiki. Terkecuali ace di antara para ace, Otosaka Yuu, dan Nijimura.
Lantaran tidak mengerti, mereka akhirnya menatap Hayate yang meski terlihat seperti orang autis karena menghitung berapa banyak bola masuk di lapangan tim seberang—tapi mereka tahu benar si pebasket Hantu ini memiliki kemampuan brillian lain yaitu mampu membagi atensi karena termasuk golongan "Otak AI"—meminta bantuan penjelasan.
Senyum mistis menoreh wajah sang albisian. Jika orang yang tak dekat dengannya, takkan mampu mengetahui itu adalah senyum perhatiannya. Mereka akan beranggapan itu senyum mengerikan dan terang-terangan meremehkan.
"Maksudnya Hibiki-Senchou, kewaspadaan kita tidak boleh hanya terbatas pada pemain-pemain di lapangan, tapi mereka yang duduk di bench juga," terang sang hantu dengan suara serak menyeramkannya.
Miyuki tersenyum lembut pada pemuda-pemuda yang jadi buronan dunia saat ini. "Tidak ada satu pun pemain basket yang pantas dipandang sebelah mata selemah apa pun mereka."
Setelah akhirnya Nijimura dan Yuu mengangguk paham, diam-diam dalam hati menggulirkan lagi kepingan kekaguman pada setiap anggota tim Von dengan intelijensi serta determinasi yang mereka tahu pasti bukanlah artifisial belaka, atmosfer berat yang melingkupi mereka didestruksi oleh sang ace di antara para ace.
"Kalian bicara apa, sih? Aku tidak mengerti."
Beruntung mereka bukanlah orang-orang ahli stand-up comedy yang akan jatuh tersusruk usai menyaksikan proklamator tersebut, notabene adalah ace mereka, menatap mereka dengan keinosenan tanpa batas yang terefleksi dari sepasang netra zamrudnya.
Ini bukan lawakan, tapi tak memungkiri meretaskan keseriusan menjelma tawa geli terburai dari anggota tim Von dan mereka memandang sang ace dengan tatapan tabah atas kebodohannya.
Mikaela menghela napas, satu-satunya orang yang cepat pulih dengan kelakuan ace tim mereka. Mata yang dipercik spektrum safir itu memicing, pemiliknya mendesah lelah. "Yuu-chan bodoh. Semua anggota tim Von jenius, kecuali Yuu-chan."
"KAUBILANG APA BARUSAN, MIKA?!" Yuuichiro melotot sembari menggulung lengan kausnya.
"Yuu-chan bodoh." Mikaela merepetisi tanpa dosa.
"KAU MENGAJAKKU RIBUT, HAH?!"
"Tuh, kan. Kau tidak bisa membalas perkataanku. Otak selalu dibalas dengan otot olehmu."
"BRENGSEK KAU, MIKA!"
Sebelum ace timnya itu menerjang partner-nya sendiri dan mereka mulai berguling-guling di lantai untuk bergulat kekanakan—dan menyadari tidak ada yang berminat menengahi keduanya, maka Hibiki turun tangan melerai mereka agar perang dunia tidak terjadi lagi.
"Sudahlah. Kita harus pemanasan." Hibiki memisahkan kedua pemuda yang sebenarnya tak terpisahkan itu. "Untunglah kita juga punya pemain yang mampu mendeteksi pemain seperti Kuroko dalam tim—" Pemuda berambut hitam legam itu menoleh ketika speaker yang disetel sang manajer mendentum musik dan seketika payung terkembang cantik menaungi satu tim dengan apiknya. "—sejak kapan kau mendapatkan payungmu, Hayate?!"
"Ketika kalian sangat khusyuk berdiskusi. Keh. Keh. Keh. KEHKEHKEH."
Tawa kemenangan Hayate yang parau bergaung horror di gimnastik tersebut.
Mayoritas tim Von merangsek keluar naungan kembangan payung putih itu yang kini diputar-putar diiringi tawa bahagia—lebih mirip seperti suara pita kaset yang kusut dan berbunyi rusak—pebasket yang merupakan kartu truf tim Von itu.
Yuuichiro mengangguk-angguk salut pada kaptennya. "Mengingat bagaimana Hayate mengalahkan mereka, keputusan menurunkan Hayate sebagai starter itu keputusan yang tepat, Senchou."
"Tapi ... aku tidak mau melawan mereka lagi, full course pula." Hayate menggerung murung. "Dengan taktik yang ... ukh, seperti itu."
"Jangan khawatir, Hayate. Kau bisa mengandalkan aku."
"Justru karena itu aku khawatir, Yuu-chan."
"Tenang saja. Kan, ada aku."
"Yuu-chan ..."
"Hmm?"
"Tsk." Nijimura jengkel memprotes. "JANGAN BICARA MANIS-MANIS BEGITU BERDUAAN DI BAWAH PAYUNG, HAYATE-SENPAI, YUUICHIRO-SENPAI!"
Hayate terkekeh, wajah tampannya malah terlihat jauh lebih eksentrik. "Jangan cemburu begitu, Otouto yo. Kemarilah."
"Siapa yang cemburu?!" sengit Nijimura yang seketika merasakan kepalanya pening bukan main.
"Lagu ini bukan lagu umbrella-dance, Hayate. Simpan payungmu." Yuuichiro menyarankan, dia nyengir seraya menunjuk orang yang dimaksud telah berancang-ancang menjarah payung keramat milik pemuda berjulukan Hantu itu. "Kalau tidak mau payungmu dibuang Hibiki."
Hayate buru-buru berkelit lincah, menggerung murung lagi karena payungnya harus dilipat—tapi memang jauh lebih baik daripada dimusnahkan kapten yang selalu berubah mode jadi orang sialan dengan ambisi melenyapkan payung tercintanya dari muka bumi, kemudian menyimpan payungnya ke dalam ranselnya sebelum dirampas sang kapten.
"Yosh, Minna!" Hibiki memberi kode dengan tangannya. "Ayo kita mulai!"
Timnas junior terhenti sesi pemanasan dengan triple-threat karena mendengar dentam musik yang up-beat dinamis. Alunan musik yang merupakan manipulasi suara elektris itu terdengar seperti lagu pengiring shuffle, cipta karsa musik yang mutakhir dan amat kekinian. Bukan itu yang membuat mereka kaget, yang membuat mereka tercengang adalah ketika melihat apa yang dilakukan tim Von.
Pemuda-pemuda dewasa itu bergerak mengikuti irama dengan bola basket di tangan disertai bunyi hitungan "dua, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan", kendati gerakan selaras dengan musik tapi hitungan mereka tidak cocok dengan tempo musiknya.
Timnas junior bisa mengidentinfikasi gerakan pemanasan untuk kelentukan tubuh dipadu gerakan fundamental dalam basket, mulai dari rotasi pivoting, crossover, formasi yang berganti-ganti antara setiap pemain.
Mereka menyadari bahwa tim Von mengaplikasi gerakan basket menjadi susunan kompleksitas formasi agresi dan defensi dalam basket yang memukau, berlanjut dengan simulasi pertandingan basket yang impresif.
Akashi menelisik tim lawan mereka baik-baik. "Itu kombinasi gerakan shooting, dribbling, passing, dan blocking."
"Ka-Kantoku ... apa yang mereka lakukan?" tanya Momoi, mendahului yang lain bertanya karena tercenung bingung dengan pemanasan versi tim Von.
Kagetora menyeringai melihat bocah-bocah asuhannya (meski relatif lebih dewasa dari timnas junior) itu manut pada sang kapten untuk pemanasan. Mendadak dia teringat betapa gemas dia ingin memiting kedua kapten timnas, baik itu Hibiki maupun Akashi, karena keduanya sama-sama berhasil membuat anggota tim lebih menurut pada mereka ketimbang pada sang pelatih.
"Senam irama." Kagetora menoleh pada timnas junior dan tergelak. "Atau meminjam istilah Kapten Abnormal itu: Joget Pemanasan."
"Seperti ... hmhh ... dance-dance revolution." Kise menelengkan kepala meneliti kelincahan pergerakan anggota-anggota tim Von.
"Dance!" seru Takao antusias. "Teknik mereka luar biasa! Baru pertama kali aku melihat ada yang menerapkan gerakan basket menjadi koreografi dance."
"Dari mana mereka dapat inspirasi melakukan hal itu?" Furihata berdecak takjub.
"Taekwondo," sahut Kagetora yang mengetukkan sepatunya ke lantai, menikmati komposisi musik yang dikutuk mati-matian oleh pecinta enka garis keras—paling kuyu melakukan pemanasan.
" Poomsae Dance, ya?" ucap Himuro seraya mengangkat sebelah alis.
Murasakibara lekas menoleh dengan mata berkilat ketika menawarkan pada Midorima camilan kesukaannya. "Pompom maiubo?"
Akashi menggeleng. Tersenyum tipis melihat Midorima menggerutu tentang tidak baiknya mengemil sebelum bertanding, tapi tetap menerima uluran maiubo dari Murasakibara. "Poomsae Dance. Demonstrasi rangkaian gerakan bela diri dan jurus Taekwondo diiringi musik."
Himuro menumpukan kepalan tangannya ke telapak tangannya yang terbuka. "Aku ingat. Alex pernah bilang, para pemain NBA dalam waktu istirahat mereka, untuk menjaga kondisi tubuh dan mengefektifkan pemanasan, mereka sering melakukan dance."
Kise menggeleng-gelengkan kepala. "Bagaimana bisa kalian mengetahui hal itu, Akashicchi, Himuro-san?"
Kedua pemuda yang disebut hanya saling lirik dan tersenyum tipis pada pebasket perfect copy. Bagaimanapun, basket bukan hanya tentang otot.
"Tapi kenapa melakukan dance? Mereka bisa saja melakukan seperti yang kita lakukan atau yang tim biasa lakukan." Sakurai tak menyadari kernyitan dalam tergurat di dahinya karena menontoni pemanasan versi tim Von.
"Kalau di sini area pegunungan, aku akan menyuruh mereka melakukan fartlek." Kagetora melirik timnas senior favoritnya itu dengan satu sudut bibir terangkat.
"Fartlek?" Sakurai memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Fartlek adalah latihan menggunakan seluruh tubuh dengan berlari di medan tanah yang tidak rata seperti pegunungan, agar dapat meningkatkan stamina tubuh sehingga selalu dalam kondisi prima," papar Momoi sesuai yang diketahuinya.
Akashi turut mengawasi gerakan dinamis tim lawan mereka yang inspiratif. "Karena Tokyo adalah wilayah perkotaan metropolitan, mereka tidak akan bisa pemanasan dengan fartlek."
"Makanya itu mereka mengganti dengan dance untuk tetap meningkatkan stamina prima tubuh," sambung Sakurai yang akhirnya paham.
Di antara para pemuda lain yang terlibat percakapan, Kuroko memerhatikan kedua pemuda yang terdiam berdampingan memerhatikan tim Von. "Ada apa, Kagami-kun, Aomine-kun?"
"Ah, Tetsu." Aomine tetap memancangkan perhatian pada tim yang akan jadi lawan mereka. "Rata-rata tinggi pemain mereka adalah tinggi standar. Paling tinggi hanya Nijimura-san, dan kedua tertinggi adalah Hibiki-san plus orang yang dekat dengan Mai-chan-ku itu."
Kagami memicingkan mata. "Kuroko, aku pernah bilang padamu aku bisa mencium mana pemain yang kuat dan yang tidak."
Pemuda yang lahir dengan alis terunik itu melihat beberapa anggota dari tim Von tengah tertawa dan sisanya tersenyum menyadari salah seorang kawan mereka sudah lelah, terengah-engah payah (si Hantu albisian itu) sambil menyumpah di sela lelah, meski baru satu setengah menit berselang sejak lagu diputar.
"Mereka sangat kuat." Aomine mengepalkan tangan erat. "Aku bisa merasakannya."
"Walaupun aku tidak bisa mencium kekuatan mereka." Kagami menajamkan pandangan pada timnas senior yang jadi harapan Jepang. "Tsk, aku tidak bisa merasakan batas kekuatan mereka." Kagami mengerling bayangannya. "Entah kenapa, mereka terasa sepertimu, Kuroko."
"Ada sesuatu yang aneh dari mereka." Aomine menyelesaikan ujaran konklusi yang dinotis pula oleh Kagami.
Furihata yang tidak sengaja mendengar konversasi mereka menyelinap bergabung untuk mengamati tim Von yang telah menyelesaikan sesi pemanasan mereka, menimbang untuk mengatakan keanehan yang ia notis sejak sesi perkenalan tapi niat tersebut ia urungkan karena belum ada bukti.
Asisten timnas junior itu menukas, "Kurasa yang paling mengerikan dari mereka adalah mereka sama sekali tidak menganggap kita rendah, seperti timnas sebelumnya."
"Jangan naif." Aomine mendengus seraya melirik pebasket Seirin bernomor punggung dua belas itu. "Kita tidak benar-benar tahu mereka meremehkan kita atau tidak."
Kuroko menatapi sepasang pemuda yang merupakan cahaya bagi bayangnya. Alis biru langit terangkat tipis, menganalisis maksud perkataan Kagami dan Aomine. Mungkin ada sesuatu yang hanya atlet-atlet teristimewa pahami. Hanya yang teristimewa yang bisa mengenali yang teristimewa pula. Biarpun demikian—
"—tidak peduli bagaimanapun kekuatan mereka atau meremehkan kita atau tidak ... kita hanya harus menang, bukankah begitu?"
Perkataan Kuroko membuat ketiga kawannya menoleh padanya. Kuroko mengejapkan mata birunya. Pandangannya melunak menemukan terbitnya senyuman dari ketiganya serta seluruh rekan-rekan setimnya karena menyetujui perkataannya.
Kagami menepuk keras bahunya sekilas, pertanda menyukai Kuroko mengucapkan lagi apa yang diucapkannya sebelumnya, nyengir ketika Kuroko mendelik padanya menahan ringisan dengan tangan mengusapi bahu malangnya.
Kagetora turut mendengarkan apa yang Kuroko ucapkan dan menjadi injeksi energi untuk moral tim. Karbondioksidanya berat terhembus.
Sejujurnya, sang pelatih sangat-amat keberatan sekali (ya, sehiperbolis dan segundah ini keberatan yang ia rasakan) menurunkan ace di antara para aces untuk pertandingan yang bukan pertandingan resmi—tepatnya ia tidak ingin tim Von melawan tim yang masih semuda tanggalan di almanak saat ini.
Ia tidak ingin para pemuda belia dengan talenta serupa batu permata kasar belum terasah sempurna itu dalam sekian paruh waktu ke depan, digodam dengan jurang diferensiasi talenta dan lima abiliti terfundamental yang terlampau mengerikan. Tidak walau mengekang tim Von sama dengan membuat mereka melanggar etika tertabu dalam menghadapi timnas junior.
"Ironis."
Silabel yang tercetus itu mengusik perhatian timnas junior dari timnas rahasia pada pelatih mereka yang tertawa sinis.
"Tadi, merekalah yang memerhatikan saat kalian pemanasan dan berdiskusi entah apa. Sekarang, kalianlah yang melakukannya." Kagetora memindahkan indera pengelihatannya antara timnas senior dan junior yang menjadi tanggung jawabnya.
Perkataan kepala rumah tangga keluarga Aida itu memosi atensi timnas junior termagnet pada tim Von yang memanuver gerakan mengagumkan memfungsikan bola basket dan memulai bergilir shoot ke bola basket satu demi satu. Dia menghela napas melihat bocah-bocah menyusahkan di dekatnya mulai tercengang dengan manuver high-pace tim Von.
"Gerakan mereka cepat sekali." Himuro menggeleng-gelengkan kepala melihat tim Von.
"Bahkan Nijimura-san bisa seperti itu sekarang," gumam Midorima, ketidakpercayaannya dikamuflase ekspresi seriusnya, "sulit dipercaya dia adalah senior Kiseki no Sedai yang menurunkan jabatan terlalu cepat pada Akashi."
"Dari awal Nijimura-san termasuk berbakat," sahut Aomine yang intens mengamati lawan mereka, "tapi, tidak pernah terlihat setenang dan permainannya sestabil sekarang."
Sakurai menyempitkan matanya, berkeriut ngeri dengan realisasi. "Ti-tidak ada satu pun tembakan atau operan yang meleset."
"Kantoku." Kise memutar bola dengan telunjuk menjadi porosnya. "Apa kau bisa menebak siapa kira-kira yang akan turun sebagai starters tim Von?"
Kagetora menelisik baik-baik tim tersebut. Melihat giliran ace tim Von itu memasukkan bola ke ring dan dengan sakti—dan anomali seperti biasa—bola itu mendepak anggota termuda hingga memecah tawa para anggotanya dan Nijimura mendamprat seniornya yang malah nyengir tak berdosa, Kagetora menggeleng sekilas.
"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya." Pria berusia melewati setengah abad itu mengedik kasual. "Tapi sekarang, aku benar-benar tidak tahu. Yang jelas, pemain yang menjadi starters itu biasanya ditentukan oleh Hibiki, Shiba Tatsuya, dan Nine."
Akashi menyekat ketiga pemain yang disebutkan itu dalam tatapan lekat. "Ketiganya adalah Tower Control."
"Bisa dibilang begitu." Kagetora menyeringai karena nalar Akashi menangkap makna perkataannya.
"Kantoku, aku tidak tahu ini akan dianggap sebagai kecurangan atau tidak ..." Pernyataan Himuro itu membuat seisi timnas junior meruahi sang ahli pemalsu gerakan itu dengan atensi, "... tapi, tidak adakah yang bisa kauberitahukan pada kami tentang tim Von?"
Kagetora merasakan bocah-bocah menyusahkannya beralih menumpah perhatian padanya. Ia mengerling eksplisit pada tim Von yang telah selesai pemanasan dan kini sedang cuddle—dilihatnya Hibiki sedang menuturi teman-teman setimnya entah apa dengan ekspresi serius.
"Aku deskripsikan dengan kata-kata pun, mustahil kalian mengerti."
Jawaban sang pelatih menyebabkan para pemuda itu tercenung bingung.
"Tapi, biar kuberitahu kalian satu hal."
Kagetora menghadap bocah-bocah di hadapannya. Mata memendar kesungguhan penuh integritas dan roman diwajah mengekspos keseriusan tak tersanggahkan.
"Jika tim Von masih mengandalkan kemampuan setiap anggota satu sama lain dan mengutamakan kerja sama tim untuk melawan kalian, itu tandanya mereka percaya kalian tidak akan bisa menang dari mereka."
–dan mereka memutuskan untuk mematuhi amanah dariku. Sisa perkataannya tidak diucapkan oleh Kagetora.
Deklarasi itu menohok hati mereka. Berdampak tajam menikam ke sudut terdalam hati masing-masing pendengar pernyataan tersebut.
Gurat ekspresi mereka menunjukkan keterkejutan bukan kepalang yang tak lagi dapat digalang, terlebih oleh mereka yang pernah mengenyam pelatihan ekstrim dari pelatih seperti Kagetora—Kuroko dan Furihata.
Tenggakan saliva laun memekakkan telinga.
"Bukankah itu implikasi dari mereka meremehkan kami?" tanya Akashi yang merepresentasi lonjakan perasaan gelap tak terdefinisi, sama seperti yang mengorupsi ketenangan hati teman-teman setimnya.
Ekshalasi letih mengekspos keseriusan Kagetora, dan jawabannya menyayat martabat pula harga diri setiap pebasket muda yang tergabung dalam timnas junior.
"Tidak sesederhana itu." Kagetora mengingat bocah-bocah yang lebih senior diasuh olehnya itu dan mengingat paradigma mereka yang impresif.
Pria itu yang didaulat sebagai ketua tim pelatih menatap tajam satu per satu anggota timnas junior—memikirkan perkataannya baik-baik, barulah bersungguh-sungguh mengujarkan hal yang menyinggung para pemain baru yang akan dididik olehnya.
"Mereka kasihan pada kalian."
Kagetora berlalu membiarkan anak-anak itu mencerna silabel yang menghantam efek kejut pada mereka telak. Perkataannya akan tervalidasi apabila Taizai no Sedai plus ace dari para aces tidak turun bertanding. Menelisik gestur tenang sekaligus ekspresi playful dari tim Von, sepertinya mereka memang akan menepati janji padanya.
Janji untuk tidak menghancurkan timnas junior.
(... tapi, sekali lagi, siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan.)
Yang Kagetora takutkan bukan ketidakmampuan tim Von menepati janji, melainkan labilitas emosi dari timnas junior yang belum bisa ia kendalikan dan antisipasi, kemudian hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan dapat menyebabkan tim Von sendiri tidak kuasa menepati janji.
Bukan karena (sempat eks)-sport trainer basket terbaik itu takut bahwa bocah-bocah bebal timnas junior itu nanti jadi terdegradasi mentalnya dengan dampak yang signifikan, ataupun ia takut mereka lantas berhenti bermain basket.
Tapi Kagetora mengerti, jika kekangan kendali pada tim Von terlepas, merekalah yang tidak bisa Kagetora antisipasi.
Kagetora memahami sedikit banyak timnas junior, mau dipungkiri atau disangkal dengan sebrillian apa pun, mereka menunjukkan kerja sama tim yang baik seperti waktu di Tokyo Sky Tree.
Impulsif dan masih naif.
Pelatih tersebut mengerti. Jauh di lubuk hati, beberapa di antara atau mungkin bahkan semua anggota timnas junior masih begitu murni.
Mereka memiliki paradigma bahwa kemenangan tidak ada artinya tanpa kerjasama tim, kerjasama tim tidak lagi mereka pandang sebagai suatu kelemahan, dan kebahagiaan bermain basket yang hakiki adalah karena memperjuangkannya bersama-sama sepenuh hati.
Paradigma murni mereka dapat diporak-poranda oleh tim Von (tim ideal yang sayangnya sulit Kagetora kategorikan sebagai dream-team yang memenuhi ekspetasinya) jika para pendosa itu lost-control.
Dilihatnya kedua tim kini sama-sama sedang melakukan cuddle.
Timnas junior yang sedang terjebak kekalutan dan gejolak emosional remaja masing-masing atas pernyataan sang pelatih, menoleh kaget mendengar cetusan serius dari Nijimura.
"—bagaimana kalau kita kalah, Senpai?"
Kalah? Tim Von yang katanya mengasihani mereka itu memikirkan kemungkinan akan kalah dari Kiseki no Sedai dan timnas junior yang bahkan tidak lebih tua dari usia bayi jagung? –itulah yang meriaki airmuka para personil timnas junior.
"Kita a-akan i-di-dihukum Hi-Hidoi no Kantoku." Mata oniks milik Hayate berkunang-kunang. Wajah pemuda itu berkeriut ngeri dan membuat orang biasa pun akan ngeri melihatnya karena benar-benar terlihat horror.
"Tidak perlu melibatkan Kantoku, kita tidak boleh menyusahkannya lebih dari yang sudah kita bebankan padanya," jawab sang kapten tenang.
Yuu dan Nijimura berpandangan. Keduanya bergumam bersamaan, "Jadi?"
Kagetora rasanya ingin memaki kapten tim Von itu yang tersenyum. Sunggingan dingin meliuki bibir seraut wajah tampan yang membuat siapa pun menggigil karena melihatnya. Disadarinya bahkan timnas junior tercengang bukan kepalang melihat perubahan roman wajah ramah sang kapten.
"Jika kita kalah melawan timnas junior sekarang, tidak akan ada satu pun dari kita yang berhak dan pantas mewakili Jepang untuk memenangkan piala Naismith."
Senyap menyergap mereka semua.
Berpuluh pasang mata terbeliak mendengar tandas tegas kapten dari ketiga unit timnas basket Jepang. Berbulir-bulir keringat dingin menyembul, dibelai air conditinioner, meluruh di sepanjang garis tubuh. Kerongkongan mereka mendadak mengering diterjang kemarau yang dingin mencekik napas.
Semua anggota tim Von telah belajar dari pengalaman untuk tidak mengalihkan tatapan mereka ketika sang kapten memandangi mereka satu per satu dengan mata terpicing tajam seperti tombak yang hendak mengoyak determinasi hati—kendati pandangannya menyebabkan tubuh menggigil hebat.
Belum sempat mereka merespons pada pernyataan gila sang kapten, Kagetora beranjak dari sofa yang didudukinya.
"Oi, Kapten Abnormal."
Para remaja yang masih muda di area timnas itu tercekat hebat melihat pelatih mereka dengan aura kegelepan teramat pekat mengacungkan pistol tepat pada tempurung kepala kapten tim Von.
"Aku tahu kalian selalu melakukan hal ekstrim, tapi jangan karena kalian menepati janji padaku, kalian membuat taruhan seperti itu. Ini benar-benar keterlaluan!" hardik Kagetora diselubung angkara murka.
Anggota tim Von yang lain tidak ada yang berbalik dari posisi mereka berada dalam satu lingkaran—mengetahui bahwa buncah amarah pelatih mereka adalah hal lumrah.
Hanya kapten mereka dengan otoritasnya sebagai seseorang yang paling sering berinteraksi dengan sang pelatih menegakkan tubuh seraya menatapnya tenang.
Timnas junior berjengit ketika kapten tim Von menggulir pandangan, menyekatnya pada kapten timnas junior yang berdiri sama tenang dengan roman setimpal dinginnya.
"Katakan, Akashi."
Hibiki frontal melempar perkara nalar pada pemuda yang intelijensinya bahkan diakui oleh Shiba Tatsuya.
"Apa kami yang merupakan tim All-Stars dari tim-tim terbaik dari seluruh dunia, mengkhianati tim asal kami demi pulang kembali ke Jepang, dilatih selama setengah tahun oleh para pelatih terbaik di sini agar bisa mewakili Jepang—padahal ada tim basket yang lebih veteran dan selama ini ada di sini dengan harapan bisa mewakili Jepang di liga internasional, pantas merepresentasi Jepang sebagai Tuan Rumah untuk memenangkan FIBA ... kalau kami kalah dari tim semuda kalian yang kemampuannya murni bertumbuh-kembang meski hanya di Jepang?"
Akashi memicingkan mata ketika mendengar tim veteran—yang sebelumnya telah timnas junior lawan—disebut-sebut oleh Hibiki.
Kapten timnas junior itu terdiam sejenak, bukan karena tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan retoris, melainkan karena pemuda tersebut menyadari ternyata tim Von ternyata bertenggang rasa dan menaruh respek terhadap tim veteran (yang notabene sempat meremehkan timnas junior).
Akashi seketika tersadar. Timnas junior sendiri, setelah mengalahkan tim veteran, bahkan tidak memikirkan kemungkinan bahwa tim senior-senior tersebut merelakan posisi yang selama ini mereka dambakan dan nanti-nanti ratusan hari untuk kedua timnas ini—untuk mereka sendiri juga.
Bagaimanapun, ketika periode Jepang terpuruk di masa ini dengan situasi dan kondisi paling bobrok sekalipun, timnas unit publiklah yang tetap ada di tim basket Jepang. Meski menderita dengan degradasi subsidi dari pemerintah, tim Veteran tetap tidak lantas hengkang dari Jepang .
Demi suatu hari nanti, penuh kebanggaan mereka bisa mewakili tanah air untuk mengharumkan namanya di kancah internasional.
Namun kini datanglah anak-anak muda cemerlang dengan bakat brillian, didaulat sebagai representator dalam ajang basket paling bergengsi sedunia yang dimimpi-mimpikan oleh para pebasket di seluruh dunia, merebut spot yang telah lama mereka mimpi-mimpikan.
Akashi berkonklusi dengan realisasi bahwa tidak seperti timnas junior yang dipilih oleh para elit Asosiasi Basket Jepang untuk merepresentasi Jepang—dan tidak ada lagi selain mereka, tim Von mengerti benar timnas Jepang veteran yang berkorban merelakan posisinya sebagai representator Jepang demi mereka, agar tidak memalukan sebagai negeri Sakura ini sebagai tuan rumah FIBA nanti.
Semata hanya demi kebanggaan bersama agar Jepang menang.
Ada perasaan asing memikirkan, mungkinkah dirinya bisa membuat teman-temannya menyadari hal ini juga.
Ada sesuatu seperti tersepi (dan mungkin sembulan iri) dalam diri Akashi memahami realisasi ini.
"Tidak." Akashi menatap lurus pada pemuda dewasa dengan mata lazuardi brillian yang melunak padanya. "Kami tidak tahu janji apa yang kalian buat pada Kantoku, tapi tepati janji kalian barusan—jika kalah dari kami maka tim Von tidak berhak maju sebagai representator Jepang di FIBA."
Hibiki menerbitkan senyum tipis—pemuda berambut merah di hadapannya memang jeli. Padahal pelatih tidak sengaja membicarakan soal janji itu, tapi Akashi menyadarinya kendati hanya sekali ucap. "Terima kasih, Akashi."
Kagetora hendak membeliak pada kedua pemuda, sepasang netra magenta dan biner lazuardi yang kini teralih padanya, tenang menanti tanggapannya dan tanpa sadar menyeret anggota tim mereka untuk turut menatapnya, tapi urung melakukannya.
Pria itu berekshalasi keras dengan pemahaman bahwa kedua tim kapten timnas ini mungkin tidak sadar diri mereka sesungguhnya kharismatik dan mengerikan.
"Baiklah, lakukan sesuka kalian."
Kagetora tetap bengis mengacung pistol pada kapten timnas senior yang tidak ketakutan dengan todongan sadis yang dapat melubangi tempurung otaknya, mengabaikan jengitan dan pekik halus ngeri yang merembasi gimnastik.
"Aku tidak mau kalian melanggar janji tempo hari, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kalian akan bertanding melawan timnas junior, tapi jangan sia-siakan orang-orang tua yang telah memperjuangkan kalian untuk pulang, oi, Para Pendosa!"
Hibiki menjentikkan jari pada anggota tim Von agar mereka kali ini mengubah posisi menghadap pelatih mereka.
Mengikuti pergerakan sang kapten yang membungkukkan badan sembilan puluh derajat—walau ace mereka kepalanya perlu ditundukkan oleh para pemuda lain di sisinya, mereka serentak berseru, "Arigatou gozaimasu, Kagetora Kantoku!"
"... jangan melakukan hal memalukan!" Kagetora mengacung-acungkan pistolnya pada mereka, walau sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas. "Kalian selalu saja melakukan hal ekstrim merepotkan!"
Mengamati tunduknya senior-senior mereka pada Kagetora sembari berusaha menahan tawa karena menyadari pelatih mereka memahami dirinya benar-benar dihormati oleh tim Von, timnas junior tidak tahu harus bereaksi apa atas yang terjadi.
"Tidakkah itu terlalu kejam?"
Timnas junior menyentriskan atensi pada sang bayangan yang menatap pada tim Von yang tetap membungkuk hormat pada sang pelatih—bersikukuh menerima omelan dan amarah Kagetora tanpa membantah.
"Setelah yang mereka lakukan—mengkhianati tim mereka sendiri, diperjuangkan oleh tim pelatih untuk pulang ke Jepang dan understudy dengan mereka selama setengah tahun, bahkan tim veteran merelakan posisi mereka untuk tim Von ... hanya karena kemungkinan akan kalah dari kita ... mereka main membuat keputusan untuk tidak merepresentasi Jepang di FIBA?"
Kuroko memancang pandang pada tim Von yang kembali huddle dengan konflik batin berkelibatan mengeruhkan ekspresi datarnya.
"Apa arti pengorbanan dan harapan semua orang bagi mereka tidak seberharga itu?" Kuroko mengepalkan tangannya, tidak bisa memahami apa yang tim Von pikirkan dan rasakan.
Pemuda berambut biru muda itu merasa apa yang tim Von lakukan berarti meremehkan mereka, bahwa timnas junior sebegitu lemah maka mereka tidak takut membuat taruhan seperti itu karena mereka tidak akan kalah. Bahwa kasihan hanyalah istilah lain bahwa mereka terlalu percaya diri atas kemampuan mereka masing-masing untuk kepastikan kemenangan dari timnas junior.
Semua terlarut dalam apriori dan asumsi masing-masing pada tim yang sama-sama mereka tempatkan dalam ruang pandang sebagai pencuri perhatian nomor satu untuk saat ini.
Kali ini, Midorima yang berujar konklusif setelah sesaat memerhatikan tim Von, "Ada yang tidak kita mengerti tentang mereka untuk saat ini."
Akashi mengangguk membenarkan, kemudian menutup konversasi dengan nada final, "Atas ketidakmengertian itu, kita tidak bisa menjustifikasi apa yang mereka lakukan benar atau tidak. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah tidak membiarkan mereka mengasihani kita dan menang!"
Seluruh para anggota termuda warga tim nasional basket Jepang itu berseru, "OSU!"
Di kubu tim lawan, usai memberikan penghormatan pada sang pelatih, kini seluruh anggota dihadapkan pada senyum lembut yang tidak selaras dengan pendar brillian di mata lazuardinya.
Semua anggota tim Von mengawasi tim lawan mereka, sama seperti mereka menyadari kapten mereka samar mengamati timnas junior. Mendengar cetusan kartu truf timnas junior, kapten mereka tersenyum tipis tatkala mengalihkan pandangan pada kartu truf tim Von.
"Saat kau memujinya, kuharap kau tidak melebih-lebihkan kemampuannya," lirih Hibiki tajam.
"Tidak." Hayate membalas senyumnya dengan pandangan melunak, menepuk punggung lengan kawannya. "Tapi, jika kau merasa tersinggung karena dianggap meremehkan mereka, tunjukkan perasaan kita sebenarnya dalam permainan basket kita."
"Lucu mendengar kau berkata seperti itu, Hayate-Senpai, mengingat kegilaan yang Hibiki-Senchou instruksikan untuk kita sebelumnya," sindir Nijimura ringan, kemudian menunduk sekilas penuh hormat, "Maafkan ketidakmengertian mereka, Minna. Mereka hanya masih—"
"—kau tidak perlu minta maaf, Niji-kun," hibur Twelve dengan tangan terjulur meninju main-main punggung lengan juniornya, "dengan semua yang terjadi hari ini, juga informasi simpang-siur yang mereka dapatkan tentang kita, tidak mengherankan mereka jadi berpandangan demikian."
Miyuki terkikik geli. "Perasaan kita ingin melindungi mereka rasanya seperti bertepuk sebelah tangan."
Satu tim terkekeh mendengar cetusan sang manajer, tapi tidak ada yang menyangkalnya.
Mereka tidak mungkin marah dan berusaha mengklarifikasi segalanya, karena yang mereka lakukan bukan murni hanya demi timnas junior, tapi juga para pelatih, tanah air tercinta, dan diri sendiri.
"Suatu hari nanti, mereka juga akan mengerti." Tatsuya yang biasanya selalu berwajah datar atau senyum formal, kini menatap teman-teman setimnya dengan senyuman ringan.
Hibiki mengangguk tegas. Dia mengulurkan lengan untuk menepuk satu per satu punggung yang membagi beban yang dijinjing olehnya sebagai tim dibebani ekspetasi tinggi, dan membubuhkan elusan sekilas di kepala beberapa anggota timnya.
Sentuhan halus tapi mengukuhkan tepat di balik kaus seragam lapangan, kulit yang meremang, dan rusuk yang membekap ronta dentam jantung. Mereka merekam senyum hangat sang kapten, yang menggigilkan mereka, masih sama seperti berhari-hari lalu tatkala salju berderu dan meleleh karenanya.
"You raise me up to more than I can be."
Kata-kata itu lagi yang membuat roman wajah-wajah starters tim Von mengeras penuh tekad, lalu mengangguk mematuhinya.
"VON—"
Kelima anggota Kiseki no Sedai tergeming di tempat ketika kapten tim lawan berseru lantang melihat anggotanya yang cuddle dengan tangan saling bertumpukan menggenggam kuat tangan yang lain. Seakan merefleksi mereka mengemban beban harapan sedemikian berat dan menyatukannya dalam satu genggaman.
"—RAISE THE SUNRISE!"
Selain mata-mata muda terbelalak melihatnya, mereka bisa melihat yang harus mereka hadapi adalah satu tim.
Tim.
Bukan terlihat seperti tim, mereka memang benar-benar tim.
Bahasa tubuh mereka mencerminkan keteguhan hati, komitmen diri, dan realisasi, kepercayaan diri serta kepercayaan pada teman setim masing-masing.
Kagetora yang didaulat menjadi pelatih timnas basket itu mengemukakan bahwa jika timnas senior yang akan berlaga memperebutkan piala Naismith itu tidak lagi bekerja sama sebagai tim, barulah timnas junior mereka hadapi dengan kekuatan yang sesungguhnya.
Bagaimana bisa mereka yang terlihat merupakan keutuhan dan kesatuan sebagai satu tim itu tiap pemainnya bermain individual?
Momoi mengalihkan fokusnya dari ponsel yang sedari tadi dipegangnya, terdistraksi karena aksi tim Von tadi, pada sang pelatih yang tampak rikuh, kesal, sekaligus khawatir. Tidak bisa dimengerti. Juga para anggota tim Von di bench yang terlampau cepat melepas atmosfer suspense mereka, kini tengah mengulum senyum atau meredam tawa, berbanding terbalik bila dikomparasi dengan starters tim mereka yang malah berwajah pias.
Ah, ada satu orang yang masuk duluan ke lapangan kemudian berdiri berkacak pinggang di tengah lapangan. Aura ace-nya merembas seseantero gim tersebut.
Manajer timnas junior itu menyerap suara yang merembas di sekitarnya—bukan hanya dirinya tapi juga rekan-rekan timnas junior lainnya, melihat yang dilakukan oleh Hibiki, dan mendengar apa yang diucapkan oleh kapten tim Von itu—mengubah roman wajah anggota-anggota timnas senior divisi rahasia tersebut.
Selain itu, timnas junior menyadari pakaian seragam lapangan yang digunakan tim Von bukanlah seragam resmi yang biasa timnas Jepang gunakan.
Berdasarkan ketentuan resmi dari departemen olahraga, seragam timnas basket Jepang ada dua. Satu berwarna hitam dan satu lagi putih.
Seragam yang dikenakan tim Von saat ini adalah seragam berwarna abu-abu muda lengan pendek dengan desain nama tim, serta nomor punggung yang ditulis font tipe algerian, dan ada logo berbentuk seperti atom mozaik atom es yang berwarna putih terukir di dada kiri mereka—tepat di atas jantung mereka—dengan ukiran nama mereka masing-masing tepat di bawah logo tersebut.
Mungkin mereka masih akan terkesima dengan desain kaus tim Von, jika tidak karena seruan yang amat distraktif.
"Aku mau melakukan tip-off!"
Orang itu lagi. Ace di antara para ace yang keras kepala tiada dua.
Nijimura berniat mendamprat seniornya yang paling bebal itu, tapi ia tahu dirinya juga tidak berguna—ace di antara para ace ini dengan segala harga diri ace-nya tidak akan mendengarkannya. Maha Ace satu itu tidak tunduk pada siapa pun, tidak bahkan pada pelatih mereka. Diedarkannya pandangan pada yang lain.
Nijimura tidak heran lagi melihat mimik pesimis dan murung merundung starters tim Von.
'Sial,' batin Nijimura.
Anggota-anggota tim Von yang bisa memanipulasi segala hal untuk mempersuasi ace di antara para ace menurut pada desain taktik tim, semua duduk tenang sembari mengulum senyum di bench. Starters sengaja dijadikan umpan.
Wakil kapten tersebut mengode seniornya minta bantuan, tapi mereka terang-terangan mengabaikannya. Si kapten malah menyuruh beberapa dari mereka untuk memasang kamera di tribun terendah dan pinggir-pinggir lapangan demi memvideo prosesi pertandingan.
Nijimura melotot pada senior blondenya yang selalu jadi pengontrol ace tim mereka. Mikaela mengedik kasual kemudian berlalu menyusul Akechi untuk ke naik ke tribun, Nijimura nyaris memelototi mereka.
Hayate, memahami keenganan Namikoshi, kesuraman wajah Yuu, serta kode keras dari Nijimura, akhirnya mendekati Yuuichiro untuk menepuk-nepuk halus kepalanya.
"Yuu-chan, biar Nijimura yang melakukan tip-off. Nanti dia akan mengoper bola padamu," bujuknya halus dengan nada manipulatif.
Yuuichiro mengerjapkan mata, menatap lekat Nijimura. "Kau harus memberikan bolanya padaku," ucapnya dengan nada menuntut.
Nijimura bisa melihat gelengan kompak nan menahan tangis dari Namikoshi dan Yuu, tapi ia tahu tatapan tajam mistis yang merindingkan bulu kuduk dari Hayate—mungkin dalam formasi starters ini hanya senior nyentriknya saja yang berpotensi mengontrol sang Ace, sepasang mata hijau polos yang tidak memijar apa pun selain keegoisan maksimum, dan ia tak diberi opsi kecuali mengangguk menerima nasib.
Tak ada gunanya memaki keputusan dari sang kapten yang menghendaki mereka berlima sebagai starters—demi intensi suci bersenang-senang main basket.
Nijimura menghela napas keras. Meneguhkan tekad, dia beralih mengobservasi tim lawan. Menyeringai menemukan eks-juniornya tengah berdiri tak berjauhan dan berdebat ringan.
Pemuda paling muda dalam anggota tim Von itu mengisyaratkan dengan kode morse—hand-sign—tim Von di balik punggung, mengafirmasi siapa yang akan melakukan tip-off dan persentase mungkin-tidaknya ia mampu menyambar bola lebih dulu dari Murasakibara.
Starters dipersilakan berdiri sejajar dan membungkuk formal menyerukan, "YOROSHIKU ONEGAISHIMASU!"
Kiseki no Sedai dibuat terkejut saat mereka berdiri tegak lagi, ketika Nijimura terguncang—bunyi tamparan—dengan raut wajah menggelap. Seseorang menepuk keras punggungnya. Oh, tidak. Sebentar lagi eks-senior mereka itu pasti akan merealisasi aksi sadis yang melibatkan kekerasan.
"Kau pasti—tidak, kau harus bisa merebut bola tip-off, Nijimura." Ace itu lagi nyengir tanpa dosa. Detik berikutnya, semua itu terpupus karena airmukanya mencerminkan keseriusan dari ketenangannya. "Kalau kau tidak mampu melakukannya, tidak usah berdiri di lapangan ini."
Mereka yang berada di luar lapangan, terkecuali anggota tim Von dan Kagetora, menganga syok dengan kefrontalan tersebut.
Yuuichiro menatap dalam pemuda paling tinggi sekaligus termuda di antara anggota-anggota timnya, pudar sudah keseriusannya. Kini dia nyengir seraya memosi ibu jari pada benchwarmer tim Von. "Kau tidak mau seseorang dari bench sana merampas tempatmu di dalam tim agar mereka dapat berdiri dan bermain di lapangan ini, 'kan?"
Kelima pemuda berambut pelbagai warna itu berasumsi bahwa Nijimura akan mendamprat seniornya karena difrontali dengan pernyataan sekejam itu. Nijimura bukan seseorang bertemper normal.
"Iya, Yuuichiro-Senpai."
Alih-alih membentak marah atau membalas dengan aksi melibatkan cedera fisik, Nijimura menyeringai pada seniornya.
"Tentu saja aku bisa." Pemuda yang paling muda itu menegakkan kepala, menegapkan tubuh, tapi melemaskan bahu dan lengannya. Dia mengerling pada senior-seniornya—karena kalian ada.
Tentu para eks-junior menyadari perubahan airmuka eks-senior mereka di Teikou dulu. Bagaimana senyumnya penuh kepercayaan diri Nijimura terlayang pada senior-seniornya saat ini yang tersenyum tipis karena mendengar perkataan pemain termuda mereka.
Kagetora yang berada di antara kedua tim meniup peluit. Tanda agar para pemain menyebar mengelilingi lingkaran tengah lapangan, sementara kedua pebasket akan berebut bola saat peluit tip-off digaungkan dalam gim.
Mungkin timnas junior masih terlalu belia untuk menyadari muka rumit yang dipaparkan oleh starters tim Von—mereka jauh lebih tegang menatapi Nijimura, seakan memantrai pemain mereka untuk gagal saja mendapatkan bola tip-off.
Apa-apaan aura hitam itu? Kagetora menggeleng geli melihat Nijimura sweatdrop merasakan bisikan-bisikan kegelapan tiga starters tim Von lain yang waras, "Gagal ambil bola tip-off. Gagal saja! GAGALKAN, NIJIMURA!"
Well, Kagetora bisa mengerti mengapa mereka, tim starters Von, menginginkan hal itu—bola tip-off gagal didapatkan Nijimura. Kalau dapat, membuat mereka kesulitan karena ace bebal mereka itu menghendaki bola dikuasai olehnya.
Ketika Kagetora menekuk lutut, bersiap melempar bola, terdengar bunyi decit sepatu dan kuda-kuda tubuh dari dua pemuda yang saling berhadapan menandakan mereka menekan tapak sol sepatu mereka begitu keras ke lapangan—bersiap melompat.
Nijimura menyeringai pada Murasakibara yang sekilas tersenyum tipis padanya. Bulir keringat dingin mengalir di pelipis mengilasbalik kenangan rekam kemampuan Murasakibara yang telah melebihinya dalam beberapa hal tertentu.
Kagetora menarik napas dalam-dalam.
Akhirnya, bola dilambungkan.
Tatkala bola mencapai titik lenting tertinggi—
"—PRIIIIIIIT!"
Kagetora selangkah demi selangkah mundur dari lapangan. Terpukau menyadari tak membuang barang sedetik pun, kedua pebasket menginjak bumi tanpa ampun, seperti kaki mereka adalah pegas yang menghantarkan tubuh tinggi menjulang mereka meraih bola.
Murasakibara terkesiap.
Ia tahu ia pasti lebih dulu menggapai bola yang berhenti di udara sepersekian sekon, energi kinetik sama dengan nol, dan lompatannya jauh lebih kuat daripada Nijimura. Kalaupun tangan Nijimura beradu dengan tangannya untuk memperebutkan bola, ia yang pasti menang karena dorongannya atau pun sambaran tangannya jauh lebih kuat.
Nijimura dengan ekspresi garangnya nyaris menyeringai, memahami Murasakibara yang mengira ia akan mengadu kekuatan tangan sebegitu naif. Dia yang dulu memang akan melakukannya.
Nijimura yang sekarang, yang telah mengerti lebarnya jurang perbedaan batas talenta dirinya dan mereka yang teristimewa, belajar untuk tidak membiarkan perbedaan itu merantai limit kemampuannya dan memenjara keberaniannya.
Pebasket termuda tim Von itu tidak mengacungkan lengan vertikal ke atas seperti Murasakibara, melainkan sorong ke dalam jangkauan lengan Murasakibara.
Sebelum telapak tangan atau pun jemari Murasakibara merampas bola, Nijimura menyelipkan jemarinya antara bola dengan tangan Murasakibara, kemudian menekan keras bola basket dengan ujung-ujung jemarinya untuk dilempar ke samping menggunakan akurasi jatuhnya bola yang telah dilatih oleh senior-senior monsternya.
Terdengar seruan keterkejutan melebur dengan kekecewaan melihat Murasakibara gagal mendapatkan bola tip-off.
Bagaimanapun, bola tip-off amat berpengaruh terhadap pemegang momentum pembuka permainan.
"Nice, Nijimura!"
Memercayai rekan setimnya (sekaligus sependeritaannya) itu pasti mendapatkan lemparan jatuh darinya, Otosaka Yuu bergegas menangkap bola.
Pemuda dewasa yang masih membuka hanya satu matanya itu men-dribble. Tidak kaget melihat reaksi kilat dari pemain timnas junior yang bergegas me-marking dirinya, menghalanginya untuk menerobos lapangan area timnas junior.
Yuu memerhatikan fokusnya pemuda pirang di hadapannya dan kerjapan di matanya. Otaknya menganalisis kecepatan anggota timnas junior ini mengikuti gerak-geriknya ke sana ke mari.
"Kenapa Anda tidak maju-maju—ssu?!" Kise berseru protes ketika Yuu memunggungi dirinya untuk memproteksi bola.
Yuu mengatup bibir. Ia menarik napas, menenangkan diri. Naif sekali dirinya jika maju menerobos begitu saja dengan resiko akan dicegat si model junior Ichijou Masaki ini.
"Otosaka!"
Seruan Nijimura refleks membuat Yuu menghela napas lega. Teman setimnya itu selalu ada di sana ketika dibutuhkan. Yuu mengoper bola pada Nijimura yang melepaskan diri dari marking dengan menembus blocking pemuda berkulit dim menggunakan drive andalannya.
Harusnya bola itu sampai pada Nijimura, yang bisa dengan bebas mengoper bola pada Namikoshi, kemudian akan dioper pada Hayate yang sudah bersiap-siaga untuk mempenetrasi defensi timnas junior. Akan tetapi—
CTAS!
"Osu, nice pass!"
"Tunggu, Yuuichiro-san— jangan!" seru Namikoshi yang berusaha berlari mengejar ace tim mereka.
Yuuichiro sigap menangkap bola. Tanpa ragu ia berlari mendekati ring. Saking syok bukan kepalangnya starters timnas junior, tak ada yang menghentikannya.
Untuk apa pula dihentikan jika pemuda bermata seteduh hutan musim panas ini berlari menerjang timnya sendiri dan memasukkan bola ke ring timnya sendiri?
Timnas junior mematung kaku. Syok berat.
Anggota starters tim Von memucat, sementara para anggota yang duduk di bench mengulum senyum.
Bunyi papan skor mengganti angka tak pernah terdengar sesumbang kali itu.
Kagetora menepuk dahi. Ia tahu ini pasti akan terjadi. Ini selalu terjadi. Tahap awal adaptasi ace tim Von yang luar biasa selalu menandangkan keki di hati bagi starters yang bermain bersamanya.
Yuuichiro mengangguk-angguk bangga menatapi papan skor. "Lihat, lihat! Baru lima detik, dan kita sudah mendapatkan skor pertama!"
Para anggota timnas junior ternganga tak percaya mendengar tawa gembira ace tim Von itu. "... hah?" –ini orang sinting, gila, idiot atau bagaimana?
Hibiki bertepuk tangan ringan. Begitu tenang balas melambai pada Yuuichiro yang terkekeh riang sembari mengacungkan ibu jari penuh semangat padanya.
Hayate mengembus lelah. Ia bergegas memungut bola dari bawah ring sendiri. Menatap muram pada anggota-anggota tim starters lainnya. Tidak ada gunanya mengeluh, ia hanya perlu bersabar. "Restart, Minna!"
Kelima anggota Kiseki no Sedai terbeliak kaget melihat pace kilat counter yang diciptakan tim Von.
Timnas junior masih terguncang karena peristiwa melampaui nalar mereka tadi, dua pebasket tim Von telah menembus area pertahanan mereka—Nijimura dan Oto-Yuu sukses menyelinap memanfaatkan momen skor menyedihkan tadi, menggemertakkan gigi, memantapkan tekad di hati, menetapkan pikiran yang tadi terjadi bukanlah tragedi—dan Hayate merealisasi drive lincah membawa bola melewati Aomine serta Akashi sekaligus.
"Defense!" seru Akashi penuh kewaspadaan. "Marking Hayate-san!"
Hayate terkekeh aneh khasnya. Bocah merah itu punya ruang pandang yang luas dan tidak tersekat dalam lapangan saja. Cukup mengesankan melihatnya sebagai instruktor tim, yang lebih mengagumkan lagi adalah anggotanya tahu harus melakukan apa hanya dari perintahnya itu.
Buktinya, shooter mereka yang berkepala hijau itu menghadangnya. Begitu ia mengerem langkah, Hayate merasakan aura mengerikan dari dua sisi di belakangnya.
Sang hantu dikepung oleh tiga pemain sekaligus. Hayate menghentikan langkahnya dan menyadari ia mengecoh tiga bocah hebat sekaligus dengan crossover itu persentase kemustahilannya sekitar sembilan puluh persen.
Astaga. Dari pijar determinasi di mata mereka saja dan rahang yang mengeras, Hayate mengerti mereka benar-benar ingin balas dendam padanya. Didengarnya sorakan meriah dari bench timnas junior, dan nihil seruan apa pun dari bench timnya sendiri.
Aomine, Akashi, dan Midorima memerhatikan pergerakan Hayate baik-baik. Membuka mata selebarnya, mengingat waktu itu orang ini berhasil melewati beberapa orang anggota tim mereka sekaligus dengan drive hantu mengerikannya itu.
Hayate tampak konsideratif, itulah yang anggota timnya dapatkan melihatnya dikerubungi tiga anggota timnas junior sekaligus. Tentu karena tidak ingin trik drive-nya dimengerti oleh musuh.
Menggulirkan pandangan secara kalkulatif ke segala arah, pebasket Hantu dari Taizai no Sedai itu menggeser tubuhnya mundur ke celah yang terbuka. Beresiko karena pemain yang ada di belakangnya pasti bisa merampas bola darinya, tapi manfaatnya adalah ia melindungi bola dari ketiga pebasket yang mengepungnya dan demi melindungi si primadona oranye.
Sesaat ketiganya terdistraksi karena terpesona melihat ada pemain yang tak tersandung langkahnya ke belakang padahal tengah men-dribble bola—bukan di antara kaki tapi benar-benar di belakang tubuhnya tanpa kaki saling menyangkut.
Aomine merangsek maju untuk merampas kesempatan itu—merebut bola dari pertahanan melemah Hayate yang terbuka di belakang tubuhnya, tapi dia dikejutkan dengan gerakan Hayate yang mengangkat kedua lengannya ke atas, bola berpindah cepat dari tangan kanan ke tangan kiri, kemudian merealisasi straight-tip ke sudut kiri—operan yang menekan ringan bola sehingga menukik lurus ke satu pemain tertentu.
Operan untuk Namikoshi yang off-marking dan mengetahui teman setimnya butuh bantuan untuk meloloskan bola dari kerubutan pemain.
"Tch." Aomine berdecih, dan ia tahu baik Akashi maupun Midorima merasa sama kesalnya dengan dirinya.
Sudah sebegitu ketat marking mereka pada pebasket hantu ini, orang mistis ini tetap saja lolos. Mereka bertiga refleks termosi untuk mengambil bola, tapi membatalkan niatan mereka.
Pebasket perfect copy mereka beraksi mencegat Hayate yang lolos dari mereka, ia tangkas maju hendak melakukan intercept operan Hayate pada Namikoshi.
Kedua tim sampai berdiri dari bangku karena dihantar suspense melihat Namikoshi dan Kise bertaruh dengan juluran lengan berkecepatan tinggi mereka untuk merampas bola, bersorak-sorai ramai menyemangati anggota tim mereka.
"Kise, ambil bolanya! Cetak skor pertama!"
"Namikoshi, jangan biarkan mereka mengambil bola!"
"Eh?"
Kise dan Namikoshi menggapai udara kosong. Jemari mereka bertemu dalam tautan yang membuat anggota tim Von di bench tersenyum, bahkan ada pula tertawa melihat mereka.
Sepersekian detik yang terasa amat ajaib, seseorang meng-intercept operan brillian Hayate untuk Namikoshi dan menjarah kesempatan Kiseki no Sedai mendapatkan bola, pemuda beriris zamrud itu dengan cemerlang laksana bintang jatuh melesat memenangkan bola dalam genggamannya.
Yuuichiro mengerem langkahnya sehingga menimbulkan decitan sol sepatu dengan lapangan basket yang amat memekak telinga. "YEAAAAAH!"
Entah harus terkesima atau terperanjat syok lagi, manakala melihat Yuuichiro membelakangi Kise dan Namikoshi yang terpaku masih dengan jari bertautan, memutari keduanya dengan putaran tiga ratus enam puluh derajat yang tajam dan mengagumkan, kemudian berlari balik ke ring timnya.
"Yuuichiro-Senpai, hentikan!" Nijimura melepaskan mandat dari zona ofensif, dia berlari balik, sprint sekuat tenaga untuk mencegah seniornya itu memerawani lagi kesucian ring tim mereka.
Otosaka Yuu tersentak. Dia berteriak horror, "Nijimura, jangan! Kau tahu apa yang akan terjadi padamu kalau Yuuichiro-Senpai melakukan shoot dalam mode seperti ini—NIJIMURAA!"
Bahkan Aomine, Akashi, dan Midorima yang masih berdiri seakan kaki mereka direkatkan pada lantai lapangan, dibuat membeku karena Yuuichiro dengan lincah menggocek mereka yang statis seperti prasasti.
Hayate yang sudah menduga Yuuichiro dalam fase kritis ini menyia-nyiakan usahanya untuk membawa bola ke half-court itu tersendat, menjerit layaknya orang sekarat melihat adik paling bungsunya yang bertendensi masokis berupaya menghentikan si kejora dalam tim mereka.
"Nijimura—" –panggilan ini menandakan seberapa besar desperasi sang hantu memanggil juniornya, "—berapa kali lagi aku harus memberitahumu?! Menjauhlah dari Yuu-chan di saat—!"
"Yuuichiro-Senpai!" Nijimura mengabaikan jeritan mengingatkan dari seniornya, dia gigih mengejar punggung pebasket yang dikaguminya sekaligus ingin sekali dicacimaki olehnya setengah mati. "Oper bolanya padaku!"
Sama seperti juniornya yang mengabaikan senior mereka, Yuuichiro dengan form shoot sempurna, langkah kaki kiri, kanan, kiri, hoop! Dia melompat dan mengangkat tangannya untuk melancarkan tembakan andalannya.
"Heaaargh, ASHURAMARU CANON!"
BANG!
"Aaargh!"
"NIJIMURAAA!"
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Catatan tambahan:
KEPO: Knowing Every Particular Object, mengetahui segala sesuatu. (Yang dimaksud di pembukaan chapter 16 ini, artinya memang benar-benar demikian.)
IP Address: Internet Protocol Address. Secara sederhana, merupakan sebuah alamat identifikasi di tiap komputer host agar bisa saling terhubung dengan komputer lainnya di dalam jaringan (internet) dengan deretan angka biner antara 32 bit sampai 128 bit.
Domain: nama unik yang diberikan untuk mengidentifikasi nama server komputer seperti web server atau email server di jaringan komputer ataupun internet.
Underground: kegiatan operas intelijen yang tersembunyi, gelap, dan rahasia. (arti yang sesuai untuk chapter ini)
Situs web: halaman suatu web yang saing berhubungan yang umumnya berada pada peladen yang sama berisikan kumpulan informasi yang disediakan secara perorangan, kelompok, atau organisasi.
Chaos: kekacau-balauan.
Artificial Intelligence: Kecerdasan buatan atau kecerdasan entitas ilmiah.
Triple threat: posisi paling fundamental dalam basket. Cara berdiri atau posisi ketika pemain basket basket siap untuk melakukan baik itu shooting, passing, ataupun dribbling.
Poomsae Dance: tarian yang berdasarkan lagu (biasanya lagu pop Korea) memperagakan rangkaian jurus, teknik gerakan dasar serangan dan pertahanan diri yang dilakukan melawan musuh imajiner dengan mengikuti diagram dan koreografi tertentu. Setiap diagram rangkaian gerakan yang diperagakan diadasari oleh filosofi Timur yang menggambarkan semangat dan cara pandang bangsa Korea.
.
.
Finally, comeback juga ke FknBI dengan salah satu fic canon divergence kesayangan saya! Saya mohon maaf karena update-nya kebangetan lamanya, karena saya sibuk IRL. *sungkem* Mudah-mudahan karakterisasi tiap karakter masih in-tact. :'D
Finally ... yang menotis hints kenapa kok cuma Kuroko yang selama ini paling dinotis sama Hayate, sudah terjawab, ya. Asdfghjkl banget hints udah dari chapter dua, baru dibuka di chapter 16. :")
Saya mohon maaf dengan ketidaknyamanan suddenly-multifandom ini. Tapi, saya nggak bisa memasukkan karakter Kurobas lain sebagai tim Von karena—ini canon divergence—yang paling hutama, karena saya menyiapkan karakter-karakter Kurobas untuk arc terbaper dan peran penting lain.
Untuk yang menanyakan pairing, ah, saya mohon maaf. Kisedai dan geng hanya ada buddy-complex saja, dan saya usahakan untuk tersebar merata. Karena seperti yang sudah diuraikan di atas, jadi timnas itu sama sekali tidak mudah. Mereka perlu latihan bersama dalam jangka waktu lama agar punya chemistry dan kepercayaan pada teman satu tim. Tidak ujug-ujug baikan.
Jadi untuk yang ahm—berpikiran bahwa fanfiksi ini terlalu merumitkan hubungan mereka ketimbang di Extra Game, mohon maafkan saya bahwa ya, memang seperti ini saya membuatnya (karena saya ingin membuat mereka dengan pertemanan jangka lama, yang butuh proses lama untuk jadinya; sama seperti jadinya batu permata, butuh ditempa dan diproses dalam waktu lama agar indah jadinya) dan fanfiksi saya memang tidak ada apa-apanya dan tidak bisa dibandingkan dengan Kuroko no Basket Extra Game. :")
Mungkin kalau ada yang tahu fandom lain yang saya masukkan kemari, pasti mengerti alasan pertama saya pilih karakter-karakter tersebut di tim Von. Sejak chapter 13. Yes, dominansi chara cowok yang saya pilih, otaknya pada brillian—jenius. *peluk-cium anggota tim Von* Ada alasan lain, tapi di chapters berikutnya.
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan a.k.a LoL
a
