Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Mohon maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu. *ojigi* semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. Dan terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D
.
Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Fate Stay Night – Carnival Phantasm belongs to Ufotable and Moontype. I didn't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning: Alternate Reality, genderbend!FurihataKouki, OOC, FLUFF, highschool, SUPER simple, cliché, typo(s), absurd, fail-romance, etc.
.
Special backsound: It Girl by Apink
.
Bila ada yang tidak Anda sukai dari warning yang telah saya cantumkan dalam fanfiksi ini, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih atas pengertiannya.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Last chapter:
.
.
"Dia me-menabrak Akashi—sa-sampai berdarah-darah! Chihuahua memang tidak apa-apanya daripada singa!"
Terjadi kegilaan akar kesalahpahaman yang luar biasa.
.
.
"A-aku tidak merasa aku layak berhadapan dengannya, aku juga tidak yakin bisa bicara dengannya. Tapi aku ingin meminta maaf sesegera mungkin padanya, besok—lebih cepat lebih baik. Aarghh ... bagaimana aku bisa tidak terlihat memalukan?"
Ada yang merasa bersalah atas kejadian yang bermula darinya.
.
.
"Aku akan bertanggung-jawab atas apa yang telah kulakukan padanya."
Ada yang merasa bertanggung jawab atas peristiwa yang bukan salahnya.
.
.
"Aku tahu kau tidak menyukai keputusan aku didaulat untuk menjagamu dan itu berarti aku harus bersamamu—"
Ada yang kehilangan ritmikal dentam jantungnya—
.
.
"—tapi, aku akan menjagamu."
—dan semua ini disebabkan kesungguhan tertulus dari yang memiliki hatinya.
.
#~**~#
.
Special requested by Kiseki wa Zettai,
.
Innocent Love
.
By: Light of Leviathan
.
#~**~#
.
"Your gentle smile is the only thing that melting my heart! I can even catch the rainbow as long as you're here—kyah!"
Furihata memekik ketika ia tengah berputar perlahan sehingga remple roknya terlambai dan asyik bersenandung,seraya memunguti serakan botol minum untuk diganti dengan sebaskom botol lain yang sudah diisi penuh untuk teman-teman setimnya, tiba-tiba ada pebasket dari tim Kaijou itu yang menghampirinya seraya berlutut di hadapannya dengan wajah pujangga (gagal) disinari sorot cahaya entah dari mana.
"Wahai, kau yang serupa kuntum bunga yang mekar di kala fajar—"
DUAK!
"Maaf. Abaikan saja dia."
Kasamatsu menendang keras-keras punggung rekan setimnya. Dia membungkuk sekilas, kemudian berlalu seraya menyeret dan mengomeli Moriyama yang hari ini kalap menggoda gadis-gadis manajer—karena hari mereka tampak berbeda dengan dadanan manis yang seragam.
Furihata masih memeluki botol minuman hanya mengejap bingung, sweatdrop—tidak mengerti apa yang terjadi barusan.
"Furi."
Suara familiar itu tidak membuat Furihata menoleh. Dia berhenti menatapi Moriyama yang mengganti target pada manajer modis Rakuzan, lalu menukar botol yang sudah kosong dengan botol yang masih diisi satu per satu. Dia menyahut pada seseorang yang memanggilnya dari titik butanya.
"Aku baik-baik saja, Fuku."
Fukuda mendesah pendek seraya membantunya merapikan botol. "Katakan itu kalau kau ada di posisi kami kemarin dan melihatmu seperti itu."
"Letakkan semua itu. Biar kami yang melakukannya." Kawahara mengambil alih botol-botol dari lengan gadis yang merupakan sahabatnya. "Kau duduk manis dan istirahat saja."
Furihata memiringkan kepala, kaget karena Fukuda dan Kawahara mengambil alih pekerjaannya. Dia mengembuskan napas panjang. Akhirnya mengerti apa maksud kedua pemuda yang telah jadi teman sejak kecilnya.
"So lucky to have you two~" untainya senang sembari bersenandung.
Gadis itu tertawa geli lalu menghambur merangkul kedua pemuda kesayangannya dan menepuk bahu mereka seakan kedua bahu tegap sahabatnya itu akan menghasilkan nada melodis untuk suaranya.
Lega karena gadis yang selalu ada di antara mereka berdua kembali tertawa ceria, Fukuda dan Kawahara balas menepuk bahu sahabat mereka.
Publik yang melihat menyimpulkan, dua pemuda dan satu gadis:
1). Cinta segitiga.
2). Satu atau bahkan dua di antara mereka terjebak the ultimate from of friendzone.
Di lain sisi gim, Akashi sempat mengawasi gadis itu yang tertawa sedemikian riang dengan dua pemuda tersebut. Dua pemuda yang tampak sangat menyayangi gadis itu. Mustahil gadis yang mesti ia jaga tersebut akan tertawa untuknya seceria itu.
Setelah kedua pemuda tersebut membantu kawan mereka mengisi minuman, latihan kembali berlanjut.
Di saat seperti inilah para manajer akan berdiri di samping lapangan dan bertukar percakapan. Gadis-gadis itu kesulitan menahan antusiasme dan jeritan mereka ketika Furihata dengan wajah memerah menceritakan apa yang tadi Akashi katakan padanya.
Ssst, ini adalah hak prerogatif para manajer untuk coret-menggosipkan-coret mendiskusikan para pemain lelaki tim mereka.
Terlalu asyik dengan obrolan mereka, bola yang ditepis saat latih-tanding mencelat ke arah gadis-gadis manajer yang tengah mengobrol seru.
"Satsuki, awas—!"
Akashi mendahului Aomine karena tahu seseorang yang cukup observan dari tim Seirin itu pasti menyadari kalau bola akan menghantam Momoi, menggeser gadis berambut merah muda itu ke samping, dan Akashi tidak lagi berpikir dua kali untuk mengejar bola itu agar tidak mendepak kepala tersebut.
Akashi sudah berjanji untuk bertanggung-jawab menjaganya, tidak terluka sedikit pun.
Sayangnya, aksi heroik para pemuda yang berusaha menyelamatkan para gadis manajer itu, tertepis sempurna oleh Furihata yang (tanpa melihat) menangkis bolanya dengan sangat inosen, kali ini malah sambil tertawa. Tindakannya itu membuahkan kikik geli dari tim manajer.
Beberapa gadis malah makin terpingkal-pingkal melihat Furihata berhasil menyingkirkan bola dan mengopernya kembali ke lapangan dengan gaya tomboy yang sama sekali tidak cocok dengan image manisnya saat ini.
"Jangan lempar bolanya semacho itu, Furihata-san! Aku sudah susah-payah mendadanimu menjadi seorang wanita!"
"Eeeh, me-memangnya kemarin aku tidak terlihat se-sebagai perempuan?!"
"Ya Tuhan, kau menyia-nyiakan lelaki yang sudah berlari-lari hendak menolongmu agar tidak kena bola, Furi-chan."
"Eh?"
"Kau harusnya membiarkan kepalamu kena bola saja, kita lihat nanti siapa saja yang datang menghampirimu. Fufufu."
"Wa-wajahmu menyeramkan, Aida-Senpai. A-aku tidak ingin menyusahkan yang lain lagi."
Ketika Fukuda menangkap bola tangkisan tak jauh dari para manajer yang memutuskan untuk menjauhi tepi lapangan, Furihata tersenyum ringan pada sahabatnya seraya berkata, "Bodoh. Cobalah lebih berhati-hati saat bermain."
Akashi menyadari perubahan ekspresi beberapa pemuda mendengar "bodoh" yang diucapkan dengan makna bercanda namun terlalu lembut. Mungkin bukan hanya dirinya yang merasa ucapan "bodoh" itu adalah candaan yang paling merdu untuk didengar. Atau memang itu efek lain karena suara alto gadis itu terlalu lembut.
Betapa beruntungnya jadi Fukuda yang disenyumi seperti itu dan membalas dengan cengiran yang makin mengembangkan senyum Furihata—bahkan bonus lambaian manis dari gadis itu.
Mengusir denyar aneh yang menjalar di ulu hati—ini tidak seperti ia merasa sial karena Furihata tidak berlaku sebaik itu padanya, Akashi beranjak kembali pada tim Rakuzan untuk melanjutkan sesi latihan daripada memikirkan kenapa ia ingin Furihata berbicara lagi padanya.
Nebuya tidak peduli dengan apa yang terjadi dan sedang bersendawa mengerikan yang membuat beberapa pebasket lain nyaris tewas di tempat. Hayama inosen bertanya apa yang Akashi lakukan hendak berlari lalu tiba-tiba berhenti. Mibuchi mengalihkan perhatiannya dengan menyebut ada Mayuzumi di pintu dan Hayama sukses tertipu.
"Ayo kita lanjut latihan lagi."
Kekacauan itu terhenti dengan satu instruksi dari Akashi.
.
#~**~#
.
Waktu istirahat, Akashi mendapat operan handuk dari Mibuchi dan tengah menyeka banjir keringatnya. Entah apa yang lagi-lagi membuatnya melirik pada bench Seirin.
Gadis itu sedang duduk di bench. Satu tangan melemparkan handuk pada pemuda yang nyaris botak seluruhnya lalu bertukar high-five dengan pemuda tersebut. Tersenyum mendengarkan keluhan lelah kawannya itu tentang latihan yang terlalu berat.
Namun Akashi melihat tangan kiri gadis itu meraba—dan sedikit menekan—perutnya. Sepasang alisnya meliuk bertemu, dahi berkerut. Tetap tersenyum seperti sedia kala.
Seseorang lagi-lagi mengusulkan untuk latih-tanding dengan mini-game. Para pemuda yang tidak bermain duduk mengelilingi lapangan untuk menonton, di sisi lain terdapat gadis-gadis manajer yang dipersilakan duduk di bench dan ikut menyemangati tim mereka masing-masing.
Akashi melihat Furihata mengendap-endap keluar gimnastik. Seketika pemuda tersebut tahu dirinya tidak akan menarik perhatian kendati undur-diri dari gim karena semua orang sedang terfokus pada jalannya mini game, Akashi menyelinap untuk mencari gadis itu.
Baru keluar dari pintu besar gim, dilihatnya Furihata sedang bersandar di dinding luar gim sambil berjongkok memeluk lutut. Rintihannya teredam dalam lutut, tapi masih samar terdengar.
Akashi perlahan-lahan mendekatinya. Ia berlutut di sisi gadis itu. "Sebaiknya kau beristirahat lagi di UKS."
"Kyu!" Furihata tersedak—yang entah kenapa terdengar imut—kaget. Dia memekik horor menyadari siapa yang berada dekat—ralat, begitu dekat dengannya.
Gadis itu jatuh terduduk saking terlalu terkejut. Namun karena refleksnya itu dan pantat serta pahanya terbentur ke lantai, ia mengaduh kesakitan.
Akashi refleks berpaling ke samping ketika rok gadis itu sedikit tersingkap lebih tinggi. Tidak perlu diberitahu, Furihata yang memerah malu bergegas merapikan roknya dan dengan susah payah berusaha bangun.
Akashi bangun lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Furihata berdiri. Namun gadis itu tidak melihat uluran tangannya, malah Akashi yang dibuat melihat perjuangannya melawan nyeri (sebenarnya karena menstruasi) dan berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Manajer tim Seirin ini untuk berdiri di atas kedua kakinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Uluran tangan Akashi kembali tersia-sia ke sisi tubuh—yang entah kenapa disisipi sepi, agak hampa karena ingin membantu tapi malah tersia-sia dan Furihata sama sekali tak sadar.
"Ti-tidak usah ke UKS." Furihata merapikan belakang roknya lamat-lamat dengan kepala tertunduk. "I-istirahat sebentar di si-sini saja, a-aku akan ba-baik-baik saja."
"Kau yakin?" Akashi lekat menatapinya. Ia ingin melihat pupil mungil itu membesar, kendati sedikit saja. "Bagaimana kalau luka jahit di perutmu terbuka lagi?"
Gadis itu buru-buru menggeleng. "Ti-tidak. Hanya sedikit sakit saja."
"Sedikit sakit?" Akashi menurunkan tatapan pada kuatnya remasan tangan gadis itu di fabrik roknya sendiri. "Kau tidak bilang kau sendiri baik-baik saja."
Furihata meringis salah tingkah. "A-aku memang tidak ba-baik-baik saja, ma-maksudku ... perutku a-agak sakit. Itu saja." Dia merasa perutnya makin mulas tapi dengan alasan yang amat berbeda dari sebelumnya. "A-Akashi-san bi-bisa kembali ke da-dalam."
Akashi bersandar pada dinding seraya menekuk satu kaki dan memasukkan tangan ke dalam saku celana. Dia menggeleng sepintas. "Aku tidak mau disalahkan teman-temanmu jika sesuatu terjadi padamu."
Furihata mengangkat kepalanya sedikit—merasakan kakinya lemas karena melihat Akashi menyebabkan dirinya merasa bisa gila kapan saja, raut menyesal terpeta di wajahnya. "Ma-maafkan mereka. Se-sebenarnya, ka-kau tidak perlu—"
"Aku yang ingin menjagamu."
Pemuda berambut merah itu menyela tegas, lalu mengerling halus pada gadis itu yang terkesiap karena perkataannya.
"Apa itu keliru?"
Suara sorak-sorai bergembira meledak di dalam gim.
Mungkin detak jantungnya yang mendadak meledak. Atau letusan gelembung-gelembung lembut di dasar perut yang membuat lidahnya mengelu. Wajahnya yang memanas dan pemuda itu sukses memulaskan warna merah seperti rambut serta matanya pada pipi sang gadis, berpaling untuk menyembunyikan ekspresinya.
Namun tak satu pun dari semua sensasi itu bisa Furihata benci.
Gadis itu membuang muka darinya. Hah, tentu saja. Gadis ini membencinya. Mungkin apa yang Akashi katakan akan menimbulkan kesalahpahaman dan membuat gadis itu makin tidak nyaman bersamanya.
Manajer tim Seirin ini tidak bisa menjawab pertanyaannya walau Akashi ingin mendengar jawabannya—ingin tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Tapi, Akashi tetap tidak bisa mengenyahkan rasa penasarannya untuk bertanya.
"Apa nama lengkapmu?"
Jawabannya yang lirih membuat Akashi memejamkan mata, suara yang bergetar di antara lengkingan peluit, merdu di sela teriakan-teriakan meriah.
"Fu- ... Furihata Kouki."
"Hmm." Akashi mengembangkan senyum, tidak sadar bagaimana efeknya pada Furihata, dan lembut mematut gadis di sisinya. "
.
#~**~#
.
Dia sedang bahagia.
Jika sebelumnya terlihat begitu hampa, orang biasa pun bisa melihat binar di mata yang memiliki pupil sekecil batu permata di atas cincin. Senyum yang tidak henti melengkungi bibirnya. Bahasa tubuhnya mengiringi suara yang berdendang riang.
Seakan-akan gadis itu terlihat seperti peri yang menabur warna-warni indah dunia pada semesta.
Sang senior dan manajer tim Too memicingkan mata pada manajer tim Seirin yang tersipu malu menatap mereka.
Sesuatu terjadi! Sesuatu terjadi dan mereka tidak ada di sana untuk menyaksikannya! Keduanya penuh nafsu menatap Akashi—yang mendadak merasakan getaran mistis di punggungnya tanpa mengetahui tatapan macam apa yang diarahkan padanya.
Sebelum sempat kedua gadis itu menculik Furihata untuk memulai sesi interogasi girls talk yang amat panjang, satu dari kumpulan pemuda pecinta basket yang gagal peka memanggil gadis itu untuk mendekat pada mereka.
Furihata mengangguk-angguk mengerti dengan instruksi yang diberikan padanya. Dia mengatakan sesuatu menengahi debat antara para senior mereka yang mengeluh karena Ignite Pass Kai Kuroko terlalu luar biasa dan sulit menerima operan dari sang bayangan.
"Reka ulang adegan—" Koganei membuat corong dengan kedua tangan di depan mulut, "action!"
Izuki mengoper bola pada Furihata dengan tenaga yang sudah dikurangi agar gadis itu tidak kesulitan menerimanya.
Furihata memasang kuda-kuda familiar dan dikipasi oleh Fukuda serta Kawahara, gadis itu berputar dramatis sehingga rok yang dikenakannya ikut melambai, tangannya terangkat dengan jari-jari terlipat.
"Ignite pass-nya Kuroko!"
Bola yang dioper oleh Izuki didorong oleh telapak tangan kecil Furihata. Bola tidak lantas membelah lapangan dengan dahsyat seperti Kuroko, melainkan melambung sedikit lalu jatuh ditangkap Kagami tanpa usaha sama sekali.
Semua anggota tim Seirin bergelimpangan tertawa melihatnya.
"Coba tiru clutch mode-nya Kapten!" pinta Koganei usai tawanya mereda.
Furihata memunggungi para pemuda itu. Berkacak pinggang. Meniru gerakan orang berkacamata dengan membenarkan letak kacamata. Menggemeretakkan leher ke kanan dan ke kiri. Menoleh dengan wajah yang gagal kelihatan menyeramkan.
"Dou-ahou!"
"Itu dou-ahou terimut yang pernah kudengar," kekeh Tsuchida yang disambut gumam setuju oleh para pebasket lainnya.
Hyuuga berseru protes, mengabaikan rekan-rekan setimnya yang tertawa dengan kurang ajar karena mendengar seruan lembut sang manajer tim. "Tidak mirip, Furi!"
"Bagaimana kalau mengikuti Kiyoshi?" tawar Tsuchida.
Furihata lekas tersenyum manis dan berkata dengan latar belakang gim seolah berubah jadi direkahi bunga-bunga musim panas, "Ayo kita bersenang-senang!"
"Aku akan lebih senang kalau kau yang mengatakannya daripada Kiyoshi, Mitobe juga bilang begitu, Furi!" seru Koganei gembira.
Seseorang yang menontoni kehebohan tim Seirin, bergumam serius. "Entah kenapa aku memikirkan hal menyenangkan yang berbeda dengan gadis—AWH!"
Kasamatsu menjitak Moriyama sekali lagi. "Jangan berpikir macam-macam!"
"Aku tidak berpikir mesum!"
"Kau baru saja mengatakannya!"
Kembali ke tim Seirin yang sedang beristirahat dan bercanda tawa dengan manajer mereka, kali ini Fukuda berseru pada sahabatnya. "Furi, coba tirukan meteor-jump Kagami!"
Furihata berpikir sejenak. Dia memberikan ok sign dengan apitan ibu jari dan telunjuknya. "Oke."
Gadis itu mengambil posisi dari garis tengah lapangan. Ancang-ancang start-nya sudah bagus. Ketika gadis itu berlari dengan kekhasan seorang gadis berlari itu sudah membuat para pemuda tersebut melongo.
Furihata meloncat dari garis tembakan tiga poin lalu meniru gerakan Kagami yang memasukkan bola dengan mengayunkan lengan sekencang yang ia bisa. "Meteor jump-nya Kagami!"
Pemuda yang menguasai jurus tersebut menghardik sewot, "Itu lompatanmu hanya lima sentimeter dari tanah, posisi lenganmu salah, dan itu sama sekali bukan Metor Jump!"
"Furihata-san, namai itu meteor jump reverse." Kuroko tersenyum pada sang gadis yang hanya mengerjapkan mata pada protes rewel Kagami.
Furihata mengacungkan ibu jari. "Baiklah, Meteor Jump: Reverse Version!"
"Jangan mengokekan Kuroko, Furi! Oi, Kuroko!"
"Hei, hei. Sepertinya seru." Takao ikut bergabung dengan cengiran lebar antusias. Dia menatap Furihata antusias. "Coba tiru tembakan tiga poinnya Shin-chan!"
Furihata menoleh pada Takao yang kena damprat Midorima di belakangnya. Ia menatap ragu pemuda bermata rajawali itu. "Aku tidak mengerti bagaimana cara melakukannya."
"Mudah." Takao menjentikkan jari. Ia bergerak ke sisi Furihata, menyuruh gadis itu untuk mengikuti gerakannya. "Langkahkan kakimu. Kanan, kiri, kanan, lompat, hup! Shoot! Nanti aku akan mengoperkan bola padamu."
"Hmph. Bakame." Midorima melemparkan sebotol minuman untuk mendepak kepala si pemuda berambut hitam yang bebal itu, tapi pemuda itu terkekeh laknat dan sukses berkelit darinya.
"Oh, baiklah. Akan kucoba." Furihata memosisikan diri.
Tim Shutoku teralihkan untuk memerhatikan manajer tim Seirin itu mengikuti ajaran Takao.
Furihata berlari dengan langkah kiri, kanan, kiri, melompat seraya berseru, "Tembakan tiga poinnya Midorima-kun!"
Tim Shutoku dibuat tertawa dengan tiruan terpayah dari tembakan tiga poin Midorima yang tidak terkalahkan, tapi Takao sangat bersemangat hingga ia berseru membenarkan kekeliruan yang Furihata lakukan. "Tanganmu salah! Shin-chan menembak pakai tangan kiri!"
"O-oh, maaf." Furihata mengganti tangannya dengan tangan kiri. Tetap dalam pose shooting.
"Osu. Operan dengan hawk-eye yang penuh ketepatan dan sangat akurat!" Pemuda itu beraksi keren seperti akan melemparkan bola, padahal ia berlari-lari kecil untuk menyimpan bola itu di tangan Furihata.
Padahal bola yang dilemparkan Furihata jelas-jelas tidak melambung setinggi yang Midorima tembakkan, tapi seruan heboh Takao menimpali kekeh tawa dari para pebasket lainnya.
"Pffth. Hahahaha! Tembakan Shin-chan memang terlalu tinggi!" Takao tertawa memegangi perutnya, ia membuka telapak tangan pada Furihata. "Nice shoot!"
Furihata nyengir dan menepukkan tangannya pada Takao. "Nice pass."
Di belakang sepasang pemuda-pemudi yang sedang terkekeh-kekeh itu, Miyaji menahan amukan Midorima karena bisa-bisanya Takao mengomentari shoot-nya seperti itu padahal manajer tim Seirin tersebut sama sekali tidak meniru gerakannya dengan benar.
"O(iii), c(o)ba p(r)akte(k)kan dun(k)-nya Kise!" Kali ini Hayakawa dari Kaijou yang meminta pada salah satu gadis kesayangan tim Seirin.
Furihata berpikir sejenak, ia menatap Kise yang dengan kasual mengedikkan bahu, lalu menoleh kembali pada Hayakawa. "Ta-tapi kalau salah, aku tidak mau ditendang."
Tim Kaijou refleks tergelak sementara Kise bergegas berdiri dan menjabat tangan Furihata erat-erat, mencurahkan deritanya yang seringkali ditendang oleh kaptennya—entah itu karena ia melakukan kesalahan atau jadi pelampiasan emosi kapten dari tim biru elit tersebut .
Itu justru jadi pemicu Kasamatsu yang melepaskan pitingannya pada Moriyama, berlari melesat untuk menendang punggung Kise dengan tendangan akurat teramat kuat.
Sang model tentu tidak menyadari Furihata agak salah tingkah karena berjabat tangan dengannya. Lumrahi saja, gadis mana bisa tidak silau dengan pemuda yang memiliki aura berkilau seperti Kise?
Meski hanya sedikit terkesan padanya, Furihata langsung membuat catatan dalam hati untuk tidak mencoret nama Kise Ryouta dalam daftar Target Note-nya.
Usai menendang Kise, Kasamatsu hanya mendengus ketika Nakamura menepuk-nepuk bahunya dalam rangka mencegah dirinya membuli ace mereka lagi seperti biasa.
Furihata berlari men-dribble dengan kemampuannya yang pas-pasan, tapi ketika sampai di pinggir rink, gadis tersebut mematung. Tampaknya para pemuda di belakangnya menyadari kenapa ia membeku di tempat dan menoleh patah-patah pada mereka.
Kiyoshi berbaik hati berdiri dan mendekat pada Furihata. Senyumnya menyiratkan pengertian, lantas ia bertanya, "Bagaimana kalau kau diangkat saja?"
Furihata melongo sesaat. Ia menggeleng sekilas. "Uhm—aku ..."
"Awas kau jangan sampai salah pegang, Kiyoshi!" sentak sang clutch kapten.
Kiyoshi hanya tertawa menanggapi seruan bernada mengomel dari teman setimnya. Ia menatap Furihata lekat yang menatap ragu pada bola basket dalam pegangannya.
"Kemarin saja Akashi bisa dengan mudah menggendongmu." Kiyoshi menepuk lembut puncak kepala sang gadis seperti kakak lelaki pada adiknya.
Dia memiringkan kepala tidak mengerti ketika Furihata memalingkan wajah darinya, wajah memerahnya tersembunyi sempurna oleh uraian rambut coklat panjangnya. Ia memang bukan orang paling gagal peka, tapi yang bisa Kiyoshi mengerti hanya sebatas Furihata khawatir Kiyoshi tidak akan cukup kuat untuk mengangkatnya.
Kiyoshi tidak paham salah tingkah Furihata karena center tim Seirin tersebut menyatakan hal tersebut dengan menyertakan Akashi. Ia merasa bersalah karena Akashi jadi bertanggungjawab atas kesalahan yang bukan salah Akashi sendiri, pula harus menggendongnya dari gim sampai ruang kesehatan.
... tapi, Akashi belum tentu berpikiran sama seperti Kiyoshi, 'kan?
Furihata menoleh ke belakang perlahan-lahan. Dilihatnya para pebasket lain yang duduk menyelonjorkan kaki dengan antusias menyemangatinya untuk menirukan dunk Kise. Di antara mereka yang duduk, ada pemuda yang Kiyoshi sebutkan tengah berdiri dan memegang bola sama sepertinya.
Akashi memerhatikannya!
Furihata meringis miris, serasa waktu berhenti berdetik dan jantungnya mogok berdetak. Dia membulatkan tekad, menatapi Kiyoshi dan mengangguk.
Senyum Kiyoshi melebar saat memosisikan diri di belakang Furihata. Menempatkan tangannya di pinggang kecil gadis itu, lalu mengangkatnya ke udara. Gadis itu sempat memekik—khasnya—dan takjub karena berada di udara dan baru pertama berada sedekat ini dengan ring basket.
"D-dunk-nya Kise-kun!" Furihata melakukan slam-dunk bola pada ring basket.
Bola terjatuh ke bawah seiring Kiyoshi menurunkan Furihata kembali menjejak lapangan. Furihata mendengar gemuruh tepuk tangan untuknya—diiringi gelak tawa serta protes Kise ("Itu slam-dunk paling tidak keren-ssu!") yang ditanggapi oleh Moriyama dengan hiperbolis ("Itu dunk paling manis yang pernah kulihat!"), hingga didengarnya seruan untuk memarodikan pemain lain makin membanjiri Furihata.
"Kenapa kau tidak mencoba ankle break Akashi?!"
Furihata yang menghampiri bola untuk memungutnya, jatuh terjengkang langkahnya sendiri karena kaget mendengar seruan dari Hayama Koutaro. Tangannya tak sengaja menampar bola. Gaya yang diberikan berlebih membuat bola terpantul ke lapangan lebih keras, ke atas, menuju wajah gadis yang berada dalam posisi tidak seimbang—
—BANG!
"KYAAAAA!"
Gadis-gadis menjerit histeris melihat teman mereka lagi-lagi naas tertimpa sial manakala bola membentur wajahnya lagi. Para pemuda menganga syok karena mereka sendiri mengerti sakitnya dihantam bola basket.
Bola sialan itu terpental inosen entah kemana sementara Furihata jatuh terduduk menutupi wajah dengan kedua tangannya sendiri.
Satu-satunya orang dengan reaksi tanggap paling cepat hanyalah Akashi yang berlari menghampiri Furihata. Berlutut di hadapannya, ingin menanyakan kondisinya dengan mengecek wajah yang terkena pantulan bola, tapi tangannya terhenti mengambang di udara.
Darah meluruh dari sela jari-jemari lentik itu.
Furihata tidak bisa mengingat apa-apa lagi selain pusing yang mendera kepalanya. Sakit di hidungnya. Hangat yang menyakitkan melebih lendir ketika terjangkit flu. Pandangannya berkunang.
Namun ketika tangannya disentuh, wajahnya terbuka, ia terkejut ketika yang pertama kali dilihatnya adalah wajah syok pemuda yang paling tidak diinginkannya melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Furihata melihat bagaimana kerutan di dahi Akashi mendalam, rahang pemuda itu yang mengeras, dan ia merintih ketika cengkeraman tangan kapten tim Rakuzan itu menyakitkan pergelangan tangannya.
Gadis itu menggigit bibir kuat-kuat ketika tangan Akashi yang tidak memegang pergelangan tangannya, kini menyangga dagunya dan pemuda itu meneliti wajahnya dengan begitu jeli.
Manajer Seirin itu bergeming kaku, berbanding terbalik dari letupan-letupan seperti ledakan kembang api—sensasi ini, ketika ibu jari kapalan itu menyeka luruhan darah di atas bibirnya.
"A- ... kashi-san—"
Kagami berlari menghampiri kawannya, "Katakan padaku hidung Furi tidak patah, oi, Akashi!"
Furihata tidak tahu kenapa mendadak ia merasa ingin menyalahi diri sendiri karena dalam sepersekian detik ia tidak merasa ingin dikerubuti teman-temannya. Tidak selama Akashi berada sedekat ini dengannya—dan menatapnya, memerhatikannya—
"Dia mimisan. Tidak ada luka terbuka. Untunglah hidungnya tidak patah. Cepat ambil kompres es, agar hidungnya besok tidak lebam biru," jawab Akashi tenang seraya menarik tangannya dari wajah Furihata.
Momoi melirih takut melihat tetesan darah yang merintiki lapangan. Riko meminta teman-teman mereka untuk mengosongkan satu bench serta mencarikan es batu sementara ia sendiri mencari handuk untuk mengelap darah adik kelasnya. Tim Seirin lekas bergerak dibantu dengan anggota tim basket Rakuzan yang mengetahui tempat di mana mereka bisa mendapatkan es batu.
Furihata merasakan bantuan Momoi yang mengangkat lengannya, tidak terasa lebih daripada hangatnya tangan Akashi yang menggenggam tangannya dan membantunya berdiri. Wajahnya panas. Begitu pula matanya.
Ia ingin pergi dari sini dan menyembunyikan diri.
Mungkin Furihata terlalu banyak membaca manga ataupun menonton anime shoujo. Mungkin menonton dorama roman picisan juga buruk untuknya.
Semua itu menyebabkannya berharap bahwa jika nanti ada saatnya seorang lelaki mengulurkan tangannya untuk ia genggam, kesannya adalah romantis—kalau perlu ditambah efek hembusan angin mempermainkan rambut dan pakaian yang mereka kenakan.
Mananya yang romantis dari genggaman tangan berhati-hati yang bernoda merah di mana-mana?
Namun meskipun apa yang terjadi saat ini tidak romantis seperti yang biasa ia bayangkan, Furihata sadar ia tidak membenci semua ini sama sekali. Tidak ketika Akashi mendudukkannya di bangku panjang, sementara pemuda itu berlutut di hadapannya seraya memastikannya mengompres hidung dengan benar.
"Beritahu aku jika terlalu sakit, Furihata-san," kata Akashi tenang dengan suara rendah (mungkin lembut; seperti senyumnya) yang membuat Furihata tergemap dan menyempitkan keleluasaannya untuk bernapas normal.
Furihata memalingkan wajahnya sembari mengompres hidungnya dengan satu tangan. Dia tidak kuasa menatap Akashi yang mengambil sembarang handuk di bench Seirin untuk membersihkan noda darah di tangan kirinya.
Desir deras di seluruh sistem peredaran darahnya serasa jungkir-balik, pandangannya berkunang-kunang, entah jantungnya berdebar jungkat-jungkit, tubuhnya panas dingin, tepat ketika ia tak kuat lagi tidak melirik pemuda yang tengah memegangi tangannya itu juga ternyata tengah menatapnya dengan penuh perhatian—
Tim Seirin menjerit histeris, "OWAARGH! FURIIII!"
—gadis itu terkulai pingsan.
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Menulis fic-fic dengan gender-bender, saya sadar bahwa, ya, saya lebih santai tiap menulis fic gender-bend. Ya apa ini. Isinya gula nan plotless aja. Orz
.
See you very sweet latte!
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
