Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D
.
Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.
Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.
Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)
Italic: flashback
.
Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)
.
Have a nice read!
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
"Kouki?"
"Aku di sini."
Pemuda yang sedang menjinjing keranjang piknik itu mendengus pelan, meredam geram karena mendengar tawa puas terdekap telapak tangan, entah dari mana asalnya. Mata merah dan merah tajam memindai ruang pandang.
Sejauh mata memandang, terbentang padang rerumputan musim panas hijau, peternakan di bawah bukit yang ramai didengung percakapan abstrak para fauna, derik jangkrik yang menangisi terik matahari, angin menggemeresak langit lazuardi terbuka melantun nada pada riuh-rusuh hutan di tepi bukit, dedaunan dengan klorofil hidup berseri di pohon yang menjulang tinggi berdahan banyak.
"Oh, kau mencandaiku?" Angin memberantaki helai-helai merah yang semula tertata rapi, ia masih mencari separuh jiwanya yang tertawa seperti hantu—nihil presensinya.
"Kau tidak bisa menemukanku?"
"Tsk."
Tawa riang lagi.
"Aku akan menemukanku. Jangan salahkan aku apa yang akan terjadi padamu."
"Itupun kalau bisa kau menemukan—ah."
"Bingo."
Seseorang yang bertengger di salah satu dahan pohon tinggi menjulangi bukit itu mendapati pencuri hatinya itu menodongkan pistol imitasi dari gerakan tangan. "Halo, Sei."
Senyumnya ringan, menularkan senyum pada pemuda yang tahu dipanggil dengan panggilan sayang lebih hangat daripada radiasi mentari hari ini. "Apa yang kaulakukan di sana?"
"Melihat-lihat." Pemuda bersurai sewarna bumi musim panas itu nyengir inosen. "Pemandangannya indah sekali dari sini." Dan kerling matanya menggoda halus. "Dan kau tidak suka dilihat dari atas ke bawah, bukan?"
Orang yang membawakan keranjang makan siang itu menaruhnya dekat akar kokoh pohon tinggi tersebut. Menyeringai merasa tertantang. "Benar. Kau lancang sekali, Kouki."
Ia mulai memanjat pohon bagai pemanjat terlatih dan tak terlihat kesukaran sedikit pun dari kemantapan pegangan serta pijakan kakinya.
"HEEE?! Aku tidak tahu kau bisa memanjat pohon!" Yang dipanggil Kouki berseru horror. Ia bergidik ngeri karena mata merah itu memburunya—hendak menerkamnya, ia buru-buru bangkit dan hendak kabur. Tapi kekasihnya lebih sigap, mendekapnya erat agar tidak melarikan diri. "Seiii—"
"—kau pasti berpikir aku tidak bisa." Penyandang panggilan sayang "Sei" itu matanya berkilat berbahaya.
"Te-tentu saja." Pemuda berpupil mungil itu menggelinjang geli karena digelitiki pinggangnya, tertawa-tawa tak bisa membalas. "A-aduh, awas nanti ki-kita jatuh! Sudaaah!" pintanya memelas.
Pemuda yang baru memanjat pohon itu mendudukkan diri di cabang terbesar pohon, menyandarkan punggung ke batang bakoh pohon, menarik kekasihnya—merangkulnya protektif. Dan yang dipeluk lebih erat nyengir lebih lebar, tahu itu adalah cara pemuda ningrat ini melindunginya tanpa bahasa verbal mesti dilisankan.
"Dulu waktu aku kecil, aku sering memanjat pohon-pohon kesemek di hutan belakang tak jauh dari rumah." Pemuda dengan tampang biasa-biasa saja itu mulai bertutur. "Kami suka duduk berdua di pohon, makan kesemek, kabur dari Okaa-san yang menyuruh kami ini-itu."
"Hmm." Hidungnya menelisik helai-helai coklat yang menguar wangi khas menyegarkan, mengadisi indera penciumannya. "Aku kurang lebih sama. Dulu sekali, kalau tidak diperbolehkan melihat Yukimaru, aku akan duduk di atas pohon—membaca buku. Tidak ada yang bisa menemukanku."
Mata bernetra kayu manis itu mengerling entitas yang mengecup belakang lehernya, terkejut. "Hee … siapa sangka kau bisa melakukan hal seperti itu?" Ia bergumam senang, "ternyata masa kecil kita cukup sama."
"Sama-sama tidak ingin ditemukan." Pemuda yang tergabung dalam generasi keajaiban itu mengujar konklusif. "Tapi, aku menemukanmu."
"Benar." Pemuda yang dipeluk itu meremas pelan tangan yang bertumpu di perutnya. Terkekeh gembira. "Dari atas sini, kita bisa melihat jauh kemana-mana. Hutan yang asri, rumput-rumput hijau, bunga-bunga cantik, interaksi hewan-hewan … pemandangan yang indah, 'kan, Sei?"
Pemilik sah Yukimaru itu menyahut pelan dengan gumaman, membubuhkan ciuman di puncak kepala bersurai sewarna kayu yang jadi sandarannya. "Kau tidak usah melihat kemana-mana, kau cukup melihatku."
Terdengar desah lelah. "Aku bukan wanita, jangan gombali aku."
"Aku tahu." Tawa pelan bersuara rendah. "Indah itu bukan pemandangan, Kouki."
"Lalu apa?" Ia memiringkan kepala, airmuka dikentali gejolak penasaran.
"Bukan apa, tapi siapa." Pemuda itu tidak menjawab lugas, menangkup pipi kekasihnya, meraup bibir yang selalu mengulas senyum menghangatkan hatinya.
Tidak ada entitas mana pun mengintipi cumbuan mereka. Terlindung di balik lebat dedaunan, marak ranting-ranting didenting angin, di sela-sela cahaya matahari yang menerobos kubah hijau, dicemburui ringkik kumbang cicadas. Tidak ada yang menemukan mereka, karena mereka menemukan kelengkapan diri hanya dalam afeksi yang memeluk erat keduanya.
.
#~**~#
Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",
Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,
.
.
Ienakatta Omoi wo
(My feelings that I kept from you)
.
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Sesuai hari perjanjian, Akashi datang kembali ke kantor Seirin Wedding Organizer. Kuroko berdiri dari posisi duduknya di balik konter, non-ekspresi menyambutnya lalu dengan gaya advisor formal mengajak Akashi untuk ke ruang kerja Furihata—yang sudah menunggunya.
Mereka naik lift ke lantai tiga gedung tersebut, keluar dari lift lalu berjalan ke kanan dan tiga pintu setelahnya, ada sebuah pintu berlabelkan "Advisor: Furihata Kouki". Kuroko menggunakan misdireksinya, meninggalkan Akashi begitu saja.
Akashi menatap papan namanya sedikit lebih lama, baru mengetuk pintu. Sekali, dua kali, tiga kali. Tak ada respon.
"Kouki, ini aku."
Konstan sunyi.
Akashi mengetuk dua kali lagi, nihil hasil. Ia menyentuh gagang pintu, menekan perlahan hingga klik menggema di koridor yang cukup sepi. Manik heterokromiknya menelusuri penjuru ruangan berwarna krem yang memberikan kesan nyaman, seperti rumah—seperti penghuni ruangan tersebut. Akashi menginvasi ruangan itu usai menutup pintu. Ruangannya sederhana, hening disusup deru halus air conditioner. Ada wangi kayu manis samar bercampur lavender penentram sanubari.
Pemindaian terhenti tatkala matanya tertumbuk pada seseorang yang tertelungkup di meja. Di meja yang sama pula, sudah tersedia beberapa folder file dan album foto, alat tulis, dan notes tersebut. Advisor pemilik ruangan ini terlelap di atas buku catatannya yang Akashi lihat terakhir kali mereka bertemu. Ada sesuatu tersisip di balik sampul bening. Akashi mendekat, ingin melihat lebih jelas.
Intensinya buyar ketika Furihata mengigau koherensif dalam tidurnya. Atensinya terfokus pada advisor pernikahannya. Orang ini tidur seperti dulu, pulas tak terganggu.
Akashi menari kursi di hadapannya, mendudukkan diri, menopang dagu. Memerhatikan dengan seksama helai-helai surai mencuat ke sana ke mari, terjatuh membingkai wajah tanpa keistimewaan berarti. Ada kantung mata menghitam di matanya, wajahnya sembab—dan Akashi tak mencoba menerka-nerka sebab wajahnya sepucat ini.
Dentang jam menjajah sunyi ruangan. Jarum jam panjang bergerak semakin menjauhi angka sepuluh. Akashi tak mengindahkannya. Bila Furihata memang membutuhkan tidur, Akashi akan menunggunya sampai terbangun.
Siapa yang suka jika tertidur dibangunkan secara paksa?
Sampai Furihata terbatuk-batuk pelan, mungkin tersedak sesuatu atau karena pengaruh dingin suhu di yang mendinginkan tenggorokannya. Ini membangunkan dirinya sendiri. Matanya mengerjap-ngerjap kuyu, tampangnya lesu dan separuh jiwanya masih melayang di awang-awang. Pasti awang-awang, karena ada bayang Akashi Seijuurou di depannya.
Ada … Akashi Seijuurou?
"Sei—?" Suaranya serak diganjal reak sisa-sisa batuk.
"Hm?" Manik heterokromik melunak. Furihata yang baru bangun tidur benar-benar sepolos kanvas lazuardi tanpa awan-awan gembul menutupi.
Senyap berkeriyap. Detik-detik berderik. Ekspresi polos itu seketika lenyap. Furihata refleks secepat kilat menegapkan tubuhnya, kepalanya tertunduk dalam. Gerakannya serabutan merapikan barang-barang yang berserakan di meja sambil berdeham mengatur wibawa—yang Furihata yakini kalah jauh dari martabat ketua kelas taman kanak-kanak. Ada dengus geli, suara rendah yang menggelitik indera pendengarannya
"Ma-maaf—" Suara tegukan saliva terlalu keras memicu seringai geli Akashi kian terkembang, Furihata dalam hati merutuk dirinya yang tampak buruk , "—atas ketidaksopanan saya."
Pemuda di hadapannya menatapnya, alis magenta terangkat elegan. "Kau lelah?"
"E-eh?" Furihata tercenung bingung.
"Kalau kau masih lelah, tidur saja dulu." Akashi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi—tampak nyaman dengan posisinya. "Aku sudah meluangkan jadwalku seharian ini untuk bersamamu."
Kata-kata itu tak ubahnya tsunami lelehan gletser di kutub yang bertabrakan dengan magma dalam perut permukaan bumi, semengenaskan itu efeknya bagi Furihata. Menggigit bibir keras, Furihata menarik napas dalam—bergetar, menghelanya perlahan. Ia tidak lebih rileks. Pikirannya meneriakkan suara semenggelegar semesta benaknya; suara-suara provokatif yang semestinya positif sebagai pengingat. Orang di hadapannya akan menikah dalam kurun waktu empat puluh satu hari lagi.
Meraih notes kesayangannya untuk dibuka lantas membaca sekilas apa yang tertulis hitam di atas putih, Furihata instan mengganti topic konversasi—tak tahu bagaimana cara menanggapi perkataan Akashi. "Ca-calon istri Anda tidak ikut?"
"Dia sibuk." Furihata sibuk tertunduk, luput melihat seringai Akashi menjelma garis linier horizontal. "Kalau kau mau tanya soal gaun pengantin, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Tapi aku belum ada. Kau harus memilihkan yang terbaik untukku."
Refleks kepalanya terdongak. Netra berpupil mungil dengan spektrum sewarna tanah itu menggersang. "Ti-tidakkah Anda seharusnya membuat gaun pengantin dari seorang desainer yang sama? A-agar—"
Furihata menghindari tatapan tajam iris magenta yang menguliti keberaniannya hidup-hidup. "—se-serasi."
"Yang penting berwarna putih. Itu saja. Dia tidak akan protes—karena kami sudah berkomitmen untuk tidak saling protes kemauan masing-masing," jawab Akashi dengan nada suara sedingin titik bifurkasi suhu dingin yang menggagahi bumi.
Furihata memaksa otot-otot pipinya mengangkat sudut-sudut bibir. "Calon suami-istri yang benar-benar ko-kompak, be-berkomitmen saling me-menghargai satu sama lain."
Kerutan dalam menggurati dahi yang diseraki poni sewarna asli mawar yang kini layu di vas bunga dalam ruangan. "Terdengar seperti kau menyindirku." Bibirnya samar mengurva terbuka. "Aku mau kau memilihkan wedding tuxedo untukku.
"Sa-saya memuji," kilah sang advisor pernikahan yang tergesa membaca lagi buku catatannya. Ia bergumam pelan, "Se-semoga selera saya bisa memuaskan kemauan Anda."
"Jika kustomer tidak puas, tinggal komplain pada wedding organizer dan supervisor-nya."
Furihata bergidik ngeri. Komplain versi Akashi menuai beberapa probabilitas ancaman dipangkatkan dengan kecaman yang bisa jadi mempertaruhkan nyawa. Bibirnya komat-kamit melirihkan ia akan berjuang mencarikan tuksedo terbaik untuk pemuda yang akan menikah di bulan Desember.
"Mengenai tempat pernikahan, saya sudah mensurvey beberapa lokasi." Furihata meraih sebuah album foto, membukanya, lalu menggeser album foto itu ke sentral meja. Jarinya menunjuk berbagai sudut tempat yang diabadikan dalam foto.
"Ini beberapa hutan yang asri dengan pepohonan tinggi. Ini hutan yang sebenarnya merupakan kebun buah-buahan. Yang ini hutan dengan iklim sub-tropis cukup dan cukup ramai dengan ekosistem fauna keci. Sementara yang itu hutan dekat wilayah konservasi—"
Akashi membiarkan pemuda di hadapannya berceloteh seperti sales menawarkan dagangan. Tangan kanannya memang sesekali menunjuk sebuah foto, kemudian menjelaskannya seolah eksplanasi lokasi tersebut terpatri sebagai hafalan mati dalam memori. Tapi Akashi menyadari tangan kirinya menutup sebuah foto yang letaknya ditimpa notes Furihata. Ia menegakkan duduk, intuisi memosi dirinya untuk mengambil foto tersebut.
"A-ano—" Furihata tercekat. Kontak fisik setelah enam tahun sialan tak pernah menemukan batang hidung di pucuk pandang satu sama lain. Hatinya mencelos melihat pancaran cahaya impresif di mata merah menyala itu.
"Di mana ini?" Akashi mengabaikan sensasi elektris dinamis ketika jari mereka bersentuhan. Menggelikan, ini bukan kontak fisik pertama kali—dan bahkan intimasi mereka sudah jauh lebih dari ini.
"Naminara. Uhm … te-tempat syuting Winter Sonata." Furihata menjatuhkan pandangan pada foto favoritnya yang kini dipandangi Akashi. "I-ini adalah jalan Metasequoia, pohon-pohon tinggi itu adalah pohon Ginkyo. Err, ini di luar—"
"—tidak masalah. Aku mau di sini." Akashi lugas menetapkan keputusan.
"Tapi, pe-perizinan antar-negeri amat sulit—"
"Biar aku urus."
"Ka-karena itu tempat wisata, mungkin lebih cocok dijadikan lokasi foto pra-wedding atau—" sungut lesu, "—tempat berbulan madu. Bukan menikah."
"Bagus. Lakukan ketiganya di pulau ini." Akashi menghela napas puas.
Furihata dibuat melongo. Akhirnya mengerang kalah—ia tidak akan pernah menang dari orang ini. Selalu saja orang ini seegois elang mematuk mangsa. Ada duka mengguyur relung hatinya, kontra dengan senyum yang tanpa sadar terbit karena merasa nostalgia dengan sikap semena-mena nan angkuh sarat arogansi entitas absolut di hadapannya.
Tak menyadari Akashi bungkam mencermati bagaimana manik coklat Furihata menghangat dan jarinya mengelus halus permukaan foto yang memapar panorama indah di Naminara tersebut.
"Mari ki-kita … kita … lanjutkan diskusi ke menu wedding catering yang Anda inginkan."
Pegawai Seirin Wedding Organizer itu menyisipkan foto pemandangan jalan yang diapit pohon-pohon Ginkyo ke dalam notes hitamnya. Tangannya meraih sebuh folder, menyibaknya—yang ternyata mirip seperti daftar menu. Bibirnya kembali meluberkan kata-kata tak ubahnya pedagang menjajakan barang dagangan, jari-jemari itu memosi satu persatu menu kudapan mewah, elegan, berestetika tinggi yang menggiurkan hanya dari performa semata.
Ruang pendengarannya meraup banyak-banyak suara yang kadang terbata dalam berkata, bagaimana intonasinya diinjeksi hesitansi tapi bersikukuh dengan determinasi, frekuensi suara yang pelan menepis keheningan. Sesekali kerlingan takut-takut—dan lebih banyak lagi keengganan di mata itu terpaut. Tremor yang kentara di tubuhnya. Gestur yang kentara menjauhi Akashi.
Furihata menyadari atensi Akashi tak terkonsentrasi pada penjelasannya. "Ja-jadi … Akashi-sama mau yang mana?"
"Tidak adakah sample untuk dicicipi?" tanya lulusan magna cum-laude Oxford itu skeptis. "Bisa saja penampilan menipu rasa asli hidangannya."
"Tadi sudah saya sebutkan, menu sajian per set ini dari nama-nama organisasi wedding catering ternama yang terpercaya bekerja dengan Seirin." Furihata mengelap telapak tangan kirinya yang berkeringat dingin. "Ta-tapi bila Anda ingin memastikan, bi-bisa saja kita menyambangi restonya untuk mencicipi."
Furihata tak tahu kenapa Akashi memandangnya dengan cara yang paling menyinggungnya, dan otak bak meriset memori krusial bagaimana sistematika normal respirasi di organ paru-parunya.
"Sekalian dengan wedding cake, Kouki." Akashi merekam kata "kita" yang diucap Kouki dalam memori. "Dia suka strawberry cheese cake, dan tambahkan dessert strawberry parfait di menu catering."
Pemuda bertampang biasa-biasa itu matanya membola seperti bola basket. "Di-dia?" Jantungnya meronta keras-keras menindas rongganya.
"Calon istriku." Mata merah brilian memancar geli yang dingin menggoda.
Menenggak dalam-dalam saliva, Furihata menyesal berani-beraninya bertanya. "Ba-baiklah." Pemuda ini mencaci-maki asa yang bersemi dalam hati, mencatatkan pesanan kliennya. "Be-berikutnya altar dan dekorasi—"
Furihata kini merekomendasikan berbagai desain altar dan lokasi dengan dekorasi terbaik yang disortir Kuroko untuk pernikahan musim dingin dengan tema Garden Party. Disusul penjelasan pelbagai konsep rencana susunan acara sederhana, modern, namun elegan serta mewah menoreh impresi menakjubkan—yang Akashi yakini murni buah pikir orang di hadapannya dan ini menjelaskan alasan kenapa Furihata semuram prasasti hachiko di stasiun Shibuya.
Akashi menelisik baik-baik mimik pemuda yang selalu menjadi negasi dirinya. Semakin redup cahaya di matanya ketika mempresentasikan berbagai konsep pernikahan yang direnungkan matang-matang, berarti semakin bernilai esensi konsep tersebut bagi pemikirnya.
Furihata tersedak ketika Akashi menginterupsi penjelasannya—telunjuknya menekan selembar foto yang tersemat di kertas putih berisi ringkasan singkat konsep desain dekorasi altar dan lokasi pernikahan.
"Aku mau yang ini."
Bibirnya dimagnet poros gravitasi. "Sa-saya mengerti." Furihata menarik kertas putih bertempelkan foto dan ringkasan ke buku kesayangannya. "Buket bunga—"
"Kaupilihkan saja yang terbaik," tukas Akashi ringan.
Furihata mengangguk perlahan, mencentang selarik tulisan. "Bagaimana dengan suvenir pernikahan?"
"Aku akan memikirkannya."
"Hadiah untuk pengantin perempuan?"
"Akan kutanya apa yang dia mau."
Cengkeraman pada bolpoin mengerat. "Tamu-tamu yang ingin diundang dan undangannya." Furihata meletakkan pulpen, menggapai folder lain lagi dan menguak gambar-gambar atraktif undangan pernikahan. Kembali menyebutkan bahan-bahan sekaligus menguraikan panjang lebar desain invitasi yang menarik hati.
Akashi menjatuhkan pilihan pada sebuah desain yang dihias sulur-sulur tanaman rambat dengan tebaran anggrek-anggrek merekah cantik.
"Hard cover. Putih untuk background, ornamen bordirnya keemasan." Susah menekan hasrat memulas seringai melihat Furihata konstan dirundung murung sembari giat mencatat. "Berarti masih ada orkestra, dokumentator, dan bintang tamu. Nanti aku akan mengonfirmasi siapa saja yang kupilih untuk melakukan tiga tugas tersebut. Sudah semua, 'kan?"
"Belum." Furihata menghindar dari heran yang menggurat ekspresi di wajah Akashi. "Masih ada pra-wedding photos."
Akashi menelisik orang di hadapannya yang kini merapikan lamat-lamat barang-barangnya. Mengujar konklusi dalam batin bahwa konversasi hendak dibuat usai, di luar kehendaknya.
"Urus itu nanti." Suara Akashi sehalus dengung penghangat ruangan, berefek membekukan harapan pendengarnya. Tapi toh Furihata menyanggupi rikues sang klien, mengangguk patuh robotik. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Akashi tentu tak luput mendapati tensi melingkupi Furihata mendengar aksara sakral; "kita". Sedepa jeda, sunyi ditikam mati semarak derak jendela yang digampar hembus garang angin musim gugur di luar gedung. Furihata beranjak dari tempat duduknya, menuju meja kerjanya yang dekat dengan jendela, mengambil kalendernya yang penuh dengan corat-coret jadwal.
"Apa Anda punya waktu luang tanggal tiga belas November?" Furihata bertanya sopan, nada canggung, kaku memijat bahunya yang tegang dan pegal-linu. "Masih ada banyak hal yang harus dipreparasi."
Akashi menatap lengkung punggung yang menjadi santapan bagi indera pengelihatannya. "Tidak. Jadwal bekerjaku penuh sampai tanggal sembilan belas November."
"Tanggal lima belas November?"
"Bisa. Setiap hari Minggu juga bisa."
"Itu waktu privasi." Furihata menggeleng. Ia melingkari setiap hari Sabtu selama sebulan ke depan. "Bagaimana kalau setiap akhir pekan pukul sepuluh pagi?"
"Fix." Akashi menyetujui negosiasi Furihata.
Furihata memijat kening yang dilanda pening. Ada beberapa jadwalnya harus dikosongkan hanya untuk Akashi. Untuk Akashi seorang. Hanya Akashi—dan frasa ini mengorek luka lama yang dibanjur cuka getir realita hidup.
"Akhir minggu ini tanggal lima belas November pukul sepuluh pagi, sesuai permintaan Anda … sebaiknya kita meninjau perusahaan wedding catering, pastry, and cakes." Furihata berkata seraya menuliskan memo pengingat bagi dirinya sendiri di catatannya. "Tolong sertakan keputusan Anda mengenai suvenir pernikahan."
"Kita?" repetisi Akashi, agak geli. "Kenapa tidak minta Taiga membuatkan wedding cakes?"
Furihata berjuang tak mengindahkan silabel "kita" yang meraung-raung di relung, menyelinap ke balik meja kerjanya—mencari proteksi dari mata merah brilian. "Dia tidak mau."
Sekerjap ingatan bertandang ke benak. "Kouki, bagaimana kalau nanti kita ke—"
Tok! Tok!
"Masuk!" Furihata berseru seraya menyamankan diri di tahtanya berupa kursi roda dengan bantalan lengan. Duduknya tegak seketika, matanya berbinar-binar melihat interuptor konversasi jelang usainya dengan Akashi. "Kasamatsu-san!"
"Yo, Furihata. Maaf mengganggu—" Kasamatsu tercengang di pintu masuk, "—Akashi Seijuurou?"
Akashi menatap interuptor laknat yang berdiri menghalangi pintu, beralih pada Furihata yang mematri sosok Kasamatsu dengan pandangan memuja tak ubahnya anak kecil melihat bintang kejora jatuh dari angkasa.
"Selamat pagi. Lama tidak bertemu, Kasamatsu-san." Akashi menyapa dengan formalitas, melepas kekang aura penguasa yang tandas sejak bertemu lagi dengan Furihata.
"Apa yang kaulakukan—oh." Kasamatsu menggaruk tengkuknya, kaku. "Selamat, Akashi."
"Terima kasih." Akashi tenang menanggapi.
Orang yang jadi panutan dan poros revolusi kebanggaan Kise Ryouta, seniornya di Kaijou, Kasamatsu Yukio. Tidak idiot seperti Kise, cukup tajam—bisa langsung memahami alasan kenapa Akashi ada di ruangan ini.
"Apa kalian masih nego? Kalau iya, aku bisa menunggu—"
"E-e-eh, tidak usah!" Furihata kilat mengibas-ibaskan tangan. Matanya memendar harapan. "Kami sudah selesai—"
Terdengar seperti relasi mereka lugas usai. Ini ambigu—atau ini perspektif Akashi saja yang keliru konteks pembicaraan dengan makna apa yang ingin disampaikan Furihata pada Kasamatsu jelas berbeda dari yang terbersit di benaknya.
"—dan Kasamatsu-san sama sekali tidak menganggu." Furihata tersenyum ringan pada pemuda yang lebih tua dua tahun dari mereka. Mata berpupil mungil mengerling Akashi selintas, berdiri seraya membungkuk hormat. "Otsukaresama deshita, Akashi-sama. Terima kasih, sampai jumpa nanti."
Kasamatsu masih berdiri di tempat yang sama, terlihat berpikir keras mencerna sirkumstansi dan atmosfer mengerikan macam apa yang menenggelamkan ruangan pada kondisi mati suri. Mungkin karena ada Akashi. Lantas kenapa dia malah mendatangi Furihata? Kan masih ada Kuroko, Kagami, atau yang lainnya yang lebih kredibel.
Akashi menyelidik dua entitas lain dalam ruangan. Tidak satu pun dari keduanya menginginkan eksistensinya di sini. Apalagi Furihata yang pucat kentara terlihat tak menghendaki berdua bersama Akashi lebih lama lag. Tapi di atas itu semua, hal—hal baru timbul menyenggol rasa penasaran yang setenang danau tanpa riak. Apa hubungan keduanya? Advisor dan klien? Teman biasa? Partner kerja, ataukah—
"Sampai nanti, Kouki." Akashi beranjak, menganggukkan kepala sebagai formalitas kehormatan pada orang yang lebih tua padanya—dan menepi masuk ke ruangan memberikan jalan untuknya.
Sebelum menutup pintu, Akashi mematung sesaat—mata magenta terbeliak, tangan meremas keras gagang pintu yang bermaterial dingin disisipi suhu rendah. Kasamatsu menghampiri Furihata, menepuk-nepuk puncak kepalanya. Furihata mengerucutkan bibir seraya menepis tangan Kasamatsu dari kepalanya—yang membuat Kasamatsu gemas mencubit pipinya sambil terkekeh.
—relasi istimewa melibatkan afeksi?
Akashi batal menutup pintu. Hanya beranjak pergi tanpa berkata-kata apa-apa lagi. Mendengus ketika menyadari kenyataan hidup.
Furihata bahkan tidak menganggap Akashi sejak kedatangan Kasamatsu.
.
#~*~#
.
Musim gugur meradang merangkaki klimaksnya. Dunia bergairah dengan warna merah kuning yang bergradasi kemerahan, kecoklatan, mengering terlepas disambit angin mewarnai langit sephia. 20 November, sesuai waktu perjanjian.
Akashi mengendarai mobil sport dua pintu black metalic galardo-nya ke pelataran parkir kantor Seirin Wedding Organizer. Baru saja ia memarkir mobil, tatapannya tersekat pada sosok yang sedang tergelak ceria dengan seseorang—persis seperti imaji yang selalu mendidihkan gugusan hemoglobin di nadinya selama sepekan terakhir. Keduanya berdiri di depan pintu masuk, tengah berkonversasi hanya berdua saja.
Sejenak atmosfer dalam galardo didesak sesak menyeluruh ke penjuru mobil. Menapak tilas, deru air conditioner menepis sunyi, tak menetralisir temperatur anomali yang mengungkung Akashi. Sejauh yang bisa diingatnya, Furihata tak pernah tertawa seperti itu pada orang lain—dulu. Sekarang lebih mengerikan, dia bahkan tidak pernah tersenyum seperti sekeping foto terakhir sebelum keberangkatan Akashi.
Mencengkeram setir, Akashi mendengus, semena-mena menekan klakson keras-keras. Ekspresi stoik monotonis terpahat di wajahnya.
Kedua orang itu refleks menoleh ke mobil mewah abnormal yang sementereng kuda putih mulus di antara kuda coklat-coklat jelata yang biasa diperbudak untuk kereta kencana zaman renaissance.
Senyum Furihata kandas tak bersisa menemukan sosok pengendara mobil tersebut. Kasamatsu menepuk puncak kepala bersurai coklatnya, tersenyum seraya berkata entah apa kemudian berlalu pergi.
Furihata terdiam menatap lurus pada sang pengendara yang mengangkat telunjuk dan jari tengah tangan kiri, memosi ke arah kanan—gestur meminta salah satu advisor Seirin Wedding Organizer itu masuk ke dalam mobil. Furihata tak merespon, tangannya mencengkeram ransel yang dibawanya. Pandangan mereka bertaut dijembatani kaca bening galardo. Tapi Furihata lebih dari mengerti tak ada lagi relasi apapun yang menautkan keduanya.
Namun yang dia tidak mengerti, sejahanamnya Akashi melupakan sumpahnya bahkan menyiksa dirinya dengan pekerjaan yang sama dengan membunuh hatinya, ketika Akashi menyuruhnya mendekat—Furihata tidak meretas jarak malah justru memangkasnya.
Meng-unlock mobil kesayangannya, Akashi membiarkan Furihata menggumamkan permisi serta sapaaan selamat pagi yang kaku dan duduk di sebelahnya. Begitu pintu ditutup, Akashi kembali mengunci pintu mobilnya. Furihata memucat mendengar gema pintu dikunci otomatis secara sistematis—ia tidak bisa lari kemana-mana.
Kebiasaan buruk Furihata tatkala berhadapan dengan Akashi—yang membuatnya memandangi orang ini dengan seksama—kumat, menggigit bibir menahan jantung berdegup gugup.
"Ayo kita berangkat." Akashi puas memandangi Furihata duduk di sebelahnya.
Membulatkan tekad, ia tak mau mengusik privasi Furihata dan relasinya dengan siapapun—karena tidak apa-apa di antara mereka. Tapi Akashi tetap berintensi menyingkirkan Kasamatsu dari pikiran Furihata—setidaknya selama bersamanya Furihata hanya harus fokus pada Akashi.
"Ke-kemana?" Furihata lugu, memandangnya bingung.
Akashi mendengus geli, menggeser gigi-gigi mobil dan menginjak pedal gas, menggelindingkan roda-roda mobil meninggalkan pelataran parkir. "Buka agendamu. Lihat apa yang kaurencanakan untuk kita hari ini."
Furihata menuruti instruksi Akashi. Kepalanya pusing karena indera penciumannya menghirup aroma maskulin Gio Armani yang elegan—khas seperti yang selalu diingatnya. Ia membuka agenda—mata membulat panik melihat halaman pertama, buru-buru menutupinya dan berisik membolak-balik catatannya.
"Err—ki-kita, eh … ke wedding catering, pastry and cakes." Furihata membalik ke halaman akhir catatannya, mencari kartu-kartu nama relasi bisnis terpercaya yang diarsipkan dengan baik olehnya. "A-alamatnya—"
"—tunggu." Akashi menyela, "Kemarin sebelum Kasamatsu-san datang dan kau bermesraan dengannya—"
Furihata terkejut. Lantas menukas ketus, "—aku tidak bermesraan dengannya!"
Dahi yang diuntai helai-helai magenta mengerut, heran pretentif. "—bahkan kau mengabaikanku—"
"—ta-tapi urusan kita sudah selesai—" Mata secoklat daun maple musim gugur itu membelalak kaget.
Akashi tertawa kecil, sinis. Perasaan kesal yang sempat mati suri di hatinya eksplosif kembali. "—belum selesai. Kau bahkan tidak membalas ucapanku—"
"—kau pergi begitu saja!" Furihata berteriak frustasi.
"—kau membiarkanku pergi." Akashi menyisip venom dalam suaranya. Ia menyengatkan tatapan tajam seperti algojo hendak mengeksekusi oknum terpidana mati. Di matanya tergenang ekspetasi. Suaranya sesaat kemudian begitu kontras—halus bertanya.
"Kau mau aku tidak pergi, Kouki?"
Furihata hampir kelepasan berteriak "Tentu saja, Sialan!" tapi ia menenggak pahit lagi kata-kata tersebut. Hatinya digugut pilu. Pandangannya berkabut, pikirannya carut-marut—ia lancang berbahasa tidak formal pada kliennya. Terlebih pada seorang Akashi Seijuurou.
Bagaimana bila saat itu Furihata meminta Akashi untuk tetap tinggal di sisinya?
Tidak. Furihata bukan seorang egois sadistik yang memposesi seseorang bermasa depan cemerlang dan akan memukau dunia dengan perfeksinya. Ia sendiri yang membulatkan keputusan untuk membiarkan pemuda sialan ini pergi membawa serta-merta hatinya.
"Maaf…" Furihata bergumam sarat penyesalan. "Maaf saya tidak sopan pada Anda." Tak sudi dirinya menjawab pertanyaan mengerikan itu. Topik prioritas konversasi blur entah kemana.
"Tidak usah minta maaf." Akashi melirik Furihata, menoleh sepenuhnya ketika Furihata nanar memandangnya. "Bukan hanya kau yang bersalah."
Furihata tergugu—tahu ini Akashi dengan kedua mata merah membara tapi lunak memandangnya. Akashi yang dipanggilnya dengan nama aslinya—panggilan kesayangannya. Ia tak bisa lari—mata terkunci mati pada ekspresi Akashi yang jelas sekali terlihat tidak menyukai interaksi mereka barusan.
"Sebelum Kasamatsu-san datang seminggu lalu, aku ingin bilang kau tidak usah repot-repot mencarikan toko yang menjual wedding cake." Akashi menutur jujur. "Aku ingin Murasakibara yang membuatnya, juga untuk menu desserts dan minuman."
Furihata mendesah, lelah. "Makanya tadi Anda bilang pembicaraan kita belum selesai."
"Benar." Akashi kembali memfokuskan sebagian besar atensi ke jalanan. "Kau keberatan kita minta Murasakibara saja?"
"Tidak. Itu hak Anda." Furihata berupaya keras memfokuskan atensinya ke pepohonan yang mengapit jalan. Advisor pernikahan hanya harus menuruti klien—dan kemauan klien tidak perlu konsiderasi dari advisor.
"Anda tidak butuh opini saya, karena yang menikah Anda." Si Advisor pernikahan berkata getir dengan nada satir.
"Aku butuh kau—"
Furihata tersentak.
"—karena kau manajer yang mengelola pernikahanku. Kau harus menyiapkan yang terbaik untukku. Apapun yang ingin kausampaikan, katakan saja padaku. Akan kudengarkan."
Sepasang helai daun maple yang bertintakan kuning menjurus ke merah, dan merah pada coklat—sekering kanebo tanpa uap air, membentur kap mobil yang melaju menembus jalanan bernuansa sephia musim gugur.
"Te-terima kasih atas pengertian Anda." Furihata lamat-lamat menanggapi. "Suatu kehormatan bagi saya."
Ia membenturkan kening ke kaca bening garlado. Mata serupa ranggasan daun musim gugur, kering akan emosi, dan bibir bergetar karena gigi-gigi gemeretak mendinginkan emosi yang memanasi ubun-ubun. Matanya terpejam, bibir rapat terkatup.
Apa maunya Akashi? Furihata tak tahu, tak mau tahu, tapi kalau terus seperti ini maka ia tak bisa maju-maju.
Cara bicara formalitas itu mengiritasi Akashi, dan belum tercetus cara untuk membunuh kebiasaan baru yang dikembangkan Furihata itu.
Disekap senyap dengan napas terasa pengap. Ketegangan belum juga mencair di antara mereka. Akashi paham kenapa Furihata bersikeras memblokade jarak keduanya dengan tembok berlin imajiner sekokoh baja. Ada kekecewaan yang masing-masing meracuni sampai ke detak nadi mereka.
Dengkur halus yang sesekali terseguk meretas atensi Akashi dari tenung renung. Termenung sesaat menelusuri relief wajah ordinari yang ditimpa cahaya muram matahari teradiasi dari balik jendela bening. Sisi kanan wajahnya lembab, jejak air laun mengering.
Akashi menepikan mobilnya sesaat ke pinggir jalan jalan, membuka blazer hitam yang dikenakannya untuk dipakai menyelimuti Furihata. Meraih sebuah handuk kecil di laci mobil depan kursi penumpang yang dilipat-lipat rapi untuk dijadikan ganjalan kepala Furihata di sisi kanan badan mobil—kening terantuk ke kaca bening jendela.
Akashi beringsut mendekat pada entitas yang tak pernah gagal melunturkan ekspresi stoiknya—terlihat kelelahan ditilik dari kantung mata menghitam di bawah kelopak mata. Jarinya terangkat menyeka perlahan sisi wajah yang basah. Bibirnya seinci di telinga yang diurai surai sekerontang batang pohon di musim ini.
"Maaf, Kouki."
—untuk semua yang telah dan akan aku lakukan padamu.
Dan bibir itu mengecup lembut sudut mata yang basah oleh linang melankolia.
.
.
To be continue
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Happy birthday, Akashi Seijuurou! I wish you all the best, and absolutely love you as always. Thanks for coming into my life. *peluk-cium*#dibabetpakegunting
Aaah~ Akang Sei akan menjumpai kita lagi di Kurobas project 29 Desember 2014 nanti. YEIIIY! *menggelinding bahagia* meski sejujurnya saya ragu apa Furihata bakal ada, karena asumsi saya Furihata jadi chara figuran yang bakal jarang muncul. Mainly focus ke Kisedai. *peyuk Furihata erat-erat*
Tuh, kan. Apa saya bilang, ini fic isinya bunch of romances aja. Susah juga ternyata bikin pairing sempet inrelationship, terus putus, terus ya HTS begini. *ditusuk-tusuk* hasilnya incredibly OOC, weird, nan absurd. AU pula. - lemah terhadap AU
Kalau pertanyaannya "Kenapa Kasamatsu?" soalnya saya ngobrol sama partner-in-crime saya, di CAFEIN: love with jealousy is really something. Biasanya saya menumbal cewek mary-sue untuk Furihata, tapi saya lagi kehabisan stok (?). Lagian udah disubstitusi untuk fic lain (!). Selain bereksperimen memakai chara cowok sebagai objek kecemburuan, saya inget orang yang pertama Furihata marking itu Kasamatsu. *towel pipi Furihata*#smirk
Saya sayang sama fic ini, jadi kita cut saja. *evil laugh* #dikutuk (baca: dia gak mau mempercepat penderitaan OTPnya #disyiksya)
.
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
