Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.

Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, twisted, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.

Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)

Italic: flashback

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read!

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Enaaaak!"

Akashi tersenyum samar sembari bertopang dagu. Furihata di hadapannya tengah memapar cengiran idiot kekanak-kanakan penuh semangat menikmati sajian di hadapannya. "Kau suka?"

"Uhm." Furihata mengangguk sembari mengulum krim yang melekati garpu. Matanya dipijar antusiasme—rakus melahap kue yang disajikan padanya. "Ini benar-benar enak. Sayang sekali kau tidak suka, Sei."

"Citarasa dan seleraku tidak normal seperti kebanyakan orang pada umumnya." Akashi menyentuh pucuk krim di sepotong kue yang disantap pemuda tanpa keistimewaan berarti, menodai pucuk hidungnya dengan krim. Furihata merenggut tak suka, senyum Akashi kian merekah.

"Kenapa aku merasa perkataanmu adalah suatu penghinaan padaku?" Furihata menyentil jari nakal Akashi yang berniat mencolek krim manis nan lembut ini—mata merah cemerlang itu jelas berintensi menggodanya yang kentara berniat mengotori wajah Furihata. "Aku orang normal."

Akashi menyeringai. Beralih hendak mencuri sebuah stroberi di pucuk krim yang membuat Furihata membelalak horror mengonter aksinya. "Benar. Kau orang normal dengan selera orang biasa."

Mendengus ketus, Furihata menjauhkan piring dari jangkauan Akashi. "Ini tidak menjelaskan kenapa orang sepertimu bisa-bisanya mau bersama dengan orang normal berselera biasa sepertiku."

Akashi menahan piring strawberry shortcake yang dibelikannya untuk Furihata. "Sudah kubilang, seleraku, apa yang kusuka, siapa yang kucinta—" Seringai kian tersemai ketika Furihata terbatuk karena terkejut dengan perkataannya, "—bukanlah yang normal."

"Tapi aku normal." Furihata tersenyum setengah hati—mengekspos degradasi kepercayaan dirinya, menangkap jari Akashi yang berlumur krim.

"Bukan begitu." Pandangan Akashi melunak menatapi Furihata yang menyeka wajahnya dengan punggung lengan untuk membersihkan krim dari hidung. "Orang-orang normal akan mencari seseorang sepertiku menjadi pasangan hidup idealnya, bukankah begitu?"

Tentu saja—Furihata mengangguk-angguk paham. Siapa orang normal—perempuan khususnya—yang tidak mau bersanding dengan Akashi Seijuurou? Dia jenius, fisik keterlaluan menawan, penuh talenta, terlahir dari keluarga bangsawan bergelimpang harta, tata krama yang mencerminkan aristokrasi dan aura emperor bermartabat tinggi.

"Aku termasuk orang normal itu." Furihata mengakui—meski dia lelaki.

Akashi terdiam sesaat. Sesuatu sehalus sepoi angin musim semi meringkus hatinya—perkataan Furihata barusan seperti konfesi kejujuran yang sesungguh-sungguhnya. Sehangat sentuhan ibunya—tapi menghidupkan geletar debar di dada.

"Tentu orang sepertiku seharusnya mencintai segala sesuatu maupun individu lain yang setara denganku, kebanyakan orang sepertiku akan berlaku begitu."

Furihata mencerna frasa "orang sepertiku". Mungkin yang Akashi maksud itu semua entitas di muka bumi yang dianugerahi talenta perfeksi sefantastis dirinya? Lurus menyelami biner magenta yang hangat memandangnya, Akashi mengangguk mengafirmasi asumsi Furihata.

"Tapi aku bukan "kebanyakan orang" yang "sepertiku"." Akashi mengangkat tangan kirinya yang terbebas untuk meraih tangan kanan Furihata, menggenggam tangan yang bertekstur agak kasar—tanda Furihata adalah seorang pekerja keras—tapi hangat tak terbantahkan.

"Sejak terlahir, aku hidup terkondisikan dengan orang-orang serba luar biasa, aku jadi terbiasa."

Furihata menelengkan kepala. Bingung. Akashi balas menelisik manik berpupil mungil yang menyandera hasrat dirinya yang tak mudah terpesona.

"Tapi kemudian aku bertemu kau … orang biasa. Kau itu—" Akashi mengangkat tangan kanannya yang berlumur krim, menodai lagi sudut bibir Furihata dengan krim—yang bersangkutan mendesis kesal karena kelakuannya.

"—adalah orang biasa dan normal. Tapi sekaligus seseorang yang luar biasa dan abnormal dalam hidupku."

Sunyi sejenak.

Furihata gagal menahan cengirannya. "Perlukah aku merasa tersinggung lagi? Kau bilang aku abnormal."

"Aku tahu kau tidak merasa tersinggung." Mata merah Akashi berkilauan, menyenangi cara pandang Furihata yang selalu mengabnormalkan dentang jantungnya.

"Jadi karena kau adalah orang luar biasa dengan selera abnormal yang dikelilingi orang-orang super luar biasa … kau malah jadi terbiasa—karena itu adalah sesuatu yang normal dalam hidupmu?" Furihata mengujar konklusi.

"Kau mengakusasiku." Akashi berpretensi tersinggung, balik menuduh Furihata. "Kau bilang aku abnormal."

"Maksudku, seleramu abnormal. Kau sendiri yang bilang, Sei." Sweatdrop—karena ia sendiri beropini bahwa segala sesuatu tentang Akashi Seijuurou tidak ada yang normal, Furihata menangkap jari nakal yang lagi-lagi mengulik kuenya dan jelas hendak menodai wajahnya lagi. "Aku memastikan—karena kau tidak mau langsung menjelaskan."

"Oke. Impas." Akashi menyeringai, menantang roda-roda nalar Furihata meresapi konversasi mereka. "Lalu?"

Furihata yang gerah melihat jari-jemari hiperaktif Akashi yang terlumur krim itu menghisap noda krim jari-jari tersebut dengan inosen—tak mengerti tindakannya menyulut gairah Akashi yang terkejut karena aksinya itu.

"Uhmm…" Furihata tercekat sesaat merasakan mata merah itu tiba-tiba berkilat tajam—seksi. Berdeham gugup sebelum menggerung, "—dan karena aku adalah orang biasa normal yang notabene tidak biasa dalam hidupmu, ditambah selera abnormalmu, aku jadi, err … bukanlah orang biasa bagimu?"

Akashi tak frontal menjawab. Ia bangkit sedikit, mengangkat dagu Furihata. Menjilat sarat sensualisme sudut bibir yang terbuka sedikit dibubuh krim. Manis krimnya, lembut bibirnya. Hasrat membara di mata magentanya. Menghempas napas panas pada Furihata yang terbeliak kaku dengan wajah semerah rambutnya.

"Kau adalah orang biasa yang luar biasa bagiku." Akashi menautkan jari-jemarinya yang basah tersisa saliva Furihata dengan tangan yang memegang piring kue. Jarak bibir mereka tersisa seinci, ia berbisik dengan suara rendah.

"Kau anomali di hidupku."

Tepat sebelum Akashi melumat bibir kekasihnya, Furihata menyumpal bibir sang penyulut gairah itu dengan stroberi yang semula bertahta manis di atas pucuk krim kuenya. Badannya menggigil menahan tawa—pipinya dirambati spektrum stroberi itu sendiri.

"Kita di tempat umum, Sei."

Furihata memosi café tempat mereka singgah dengan ibu jari melampaui garis bahunya. Café di distrik perkotaan yang ramai disambangi, tapi jam setelah makan siang memang sepi didatangi. Toh tetap saja mereka tidak bebas melakukan apapun sesukanya, mereka kasat mata dalam visi publik.

Akashi berdecak. Menyentil kening Furihata. Duduk kembali ke kursinya seraya mengunyah stroberi yang dijejalkan kekasihnya padanya. Menghunjamkan pandangan sadis yang anehnya malah melebarkan senyum kekasihnya. Bagi Furihata, Akashi yang tidak mendapatkan apa yang ia mau itu akan memulas ekspresi langka yang diekspos hanya padanya. Karena itulah ganti dirinya yang bangkit, mengecup singkat dan kilat garis rahang Akashi yang mengeras karenanya.

Mata merah brilian menggelap. "Habiskan kuemu. Kita cari tempat yang tidak umum."

"Sei!" Furihata memandang horror dihunjam pandangan absolute tak mau dibantah dan nada bicara penuh kekuasaan itu, ia hanya mendesah—tahu sejak awal dirinya sudah kalah.

Di penghujung hari, ciuman terakhir sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing, Furihata dengan bibir yang dieksploitasi habis-habisan oleh Akashi menggumam lelah. Melirih, Akashi seperti stroberi yang sepanjang hari ini tercecap di lidah dan pertukaran saliva mereka—asam sekaligus legit manisnya. Asam sadisnya, manis kasihnya.

Akashi merengkuhnya erat, menggigit pelan nadi yang berdenyut keras di leher tercemar wangi samar cologne segar. Balas berbisik, ia akan sering-sering membelikan Furihata kue stroberi karena kekasihnya itu cukup menyukainya.

Di hari-hari ketika mereka terpisah, meski tak pernah barter pikiran dan rasa lagi, tapi sesuatu kini mereka pahami. Kisah mereka seperti buah tersebut. Manis kasih yang direguk oleh mereka, asam tanpa bisa dinetralisasi kenyataan hidup keduanya.

Habis manis, asam yang tersisa.

Setelah kebersamaan habis, bertemu lagi setelah berpisah menjadi akhir yang nyata.

.

#~**~#

Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",

Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,

.

.

Ienakatta Omoi wo

(My feelings that I kept from you)

.

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Semut-semut kutub bermigrasi ke tenggorokannya, dingin menyemut merangsangkan gatal tak tertahankan bermanifestasi jadi batuk-batuk keras. Merapatkan selimut yang menyelubungi tubuh, menutupi hidung untuk menghangatkan napas yang mendingin—berekshalasi senang karena menghirup wangi maskulin khas yang merupakan adiksi mematikan bagi indera penciumannya.

Bersin kencang. Furihata menggeliat seraya menggosok hidungnya yang dialiri lendir. Mengerjap-ngerjapkan mata—pikirannya kosong-melompong selain kenyataan bahwa ia memimpikan masa lalu. Berusaha memulihkan kesadaran dirinya sepenuhnya sembari merutuk orang yang dimimpikannya. Ia menegakkan posisi duduk, sebuah handuk yang terlipat rapi jatuh ke pangkuannya di atas blazer hitam yang menyelimutinya.

Furihata memerhatikannya seksama. Ini blazer hitam pernah dilihatnya. Ah, Akashi tadi memakainya.

"Eh?"

Menoleh ke samping, tiada presensi pengendara galardo mewah itu. Furihata memalingkan tatapan ke pintu, terkunci. Mesin mobil menyala, sunyi didera deru halus air conditioner. Meski mesin penghangat telah diaktivasi, suhu dingin dari luar mobil serakah menggelar kuasanya ke seluruh penjuru. Ini menjelaskan kenapa Akashi menyelimuti Furihata dengan blazernya.

Furihata menggeleng keras-keras. Tidak, ini tidak menjelaskan alasan sesungguhnya Akashi melakukan hal konyol ini padanya. Rasionya menang atas sudut kecil hatinya yang melonjak-lonjak girang karena ada lagi tindakan Akashi yang seperti dulu diingatnya. Mengedarkan pandangan, manik berpupil mungilnya tertumbuk lurus ke depan.

Mobilnya terparkir di sebuah toko besar berpapan nama Yosen Bakery and Pastry dengan nuansa ungu mendominasi gedung classy tersebut. Di meja yang paling dekat dengan pintu masuk, disekat oleh kaca bening besar yang terlihat benar-benar bersih, Furihata menemukan orang yang menyelimutinya dengan blazer wangi itu tengah berkonversasi dengan seorang gadis.

Furihata memandang kosong pada keduanya yang tengah bercakap-cakap serius selama beberapa saat.

Siluet gadis cantik itu berbicara sesuatu sembari memilin lollipop, menggelengkan kepala, kemudian tersenyum manis pada Akashi seraya menepuk-nepuk punggung tangan pemuda berambut merah itu—senyum yang lambat-laun bertransformasi jadi tawa.

Yang membuatnya ngilu ulu hatinya bukan kebersamaan Akashi dengan gadis tersebut, melainkan ekspresi lembut Akashi dan senyumnya untuk gadis itu.

Ah. Pasti dia adalah gadis yang beruntung itu.

Furihata bisa saja membuka kunci pengaman mobil—tanpa menimbang bahwa Akashi pasti memiliki kunci serep untu mengunci pintu mobil dari luar, bersejingkat atau lari sprint sekalian pergi dari tempat antah-berantah ini. Tubuhnya membeku kaku, mengirim sinyal gagu yang membuat otak membisu—tak memberikan instruksi apapun bagi tubuhnya untuk reaktif pada tremor tektonik yang membesarkan retakan di hati.

Biner sewarna maple kering itu terbeliak tatkala gadis tersebut tak sengaja mendaratkan pandangan padanya. Sepasang manik merah kecoklatan terpicing runcing, sebelum melebar dan tangannya menepuk punggung tangan Akashi berulangkali, menggunakan lollipopnya menunjuk-nunjuk Furihata seraya berkata sesuatu entah apa.

Akashi mengikuti direksi yang diberitahukan teman bicaranya. Menotis penumpang yang terlelap nyenyak di galardonya telah terbangun. Ia balas berkata entah apa, lalu beranjak meninggalkan gadis tersebut untuk keluar dari toko mendekati galardonya. Merogoh saku celana, mengeluarkan kunci serep mobilnya untuk meng-unlock kunci pintu. Membuka pintu dari sisi supir.

"Sudah lama bangun?" Akashi mendudukkan diri di kursi supir, memandang Furihata yang berekspresi impasif.

"Baru saja." Furihata meletakkan handuk yang tadi mengganjal kepalanya ke dashboard, memeluk blazer hitam yang bukan miliknya lebih erat. "Maaf … maaf membuat Anda menunggu."

Sebelah alis terangkat elegan, hendak mempertanyakan kenapa sikap Furihata kian anomali namun niat tersebut masih diurungkan. Furihata pasti masih kesal karena pertengkaran mereka tadi. Menarik napas agak dalam, Akashi tenang berujar.

"Tadi aku sudah bertemu Murasakibara—"

Furihata mengalihkan pandangan ke sisi kanan, berpura-pura mengamati jalan yang ramai dilalu-lalang kendaraan. Memutar kedua bola mata. Sejak kapan Murasakibara bertransformasi jadi gadis secantik Coppelia atau seanggunMaria Antoniette?

"—dia akan meluangkan waktu untuk kita."

"Berapa jam … saya tertidur?" Furihata bertanya, enggan.

"Sepanjang perjalanan. Sesampainya di sini—" Akashi melirik alroji titan sewarna garladonya yang tersemat di tangan kirinya, "—baru setengah jam."

Furihata memandang arloji hadiah ulang tahunnya—tak menyadari atensi Akashi terpancang pada arloji putih yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek berhenti di antara angka satu dan dua, jarum panjang di angka enam. Perjalanan ternyata memakan waktu cukup lama, tidurnya pun keterlaluan lama. Ia mengerling Akashi, agak menyesal.

Sebelum bibir itu lagi-lagi menggulir maaf, Akashi mematikan mesin mobil. "Tidak usah minta maaf. Cepat turun, kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan."

Furihata mengatup bibir, patuh pada instruksi Akashi. Ia membuka pintu mobil, lekas turun. Akashi mengantungi dua kunci mobil sekaligus, memberikan gestur agar Furihata mengikuti langkahnya ke toko dilabel nama Yosen itu. Advisor pernikahan emperor muda itu membiarkan imajinasi berekspedisi liar menyelami samudera kosakata umpatan atas nasib sialnya.

Akashi menahan pintu membuka, membiarkan Furihata masuk terlebih dahulu—bergumam terima kasih diikuti pernyataan sepihak bahwa Akashi tidak perlu memperlakukannya seperti perempuan. Sayangnya ucapan selain terima kasih itu teredam suara karyawan-karyawan Yosen yang berpakaian ala chef refleks formalitas menyambut mereka dipadu denting bel tanda seseorang keluar-atau masuk dari ruangan.

Memasuki Yosen Bakery and Pastry itu sewajarnya mendatangi toko kue dan roti pada umumnya. Bau roti panggang yang hangat, buah-buahan menyengarkan, lelehan keju yang mengundang kucuran saliva, harum semerbak roti ber-topping daging asap atau osis, aroma krim manis dipadu cokelat aneka warna dilelehkan mengalir selaiknya air mancur taman kota, semua wangi itu bersatu-padu menyusupi sistem respirasi untuk menggoda perut supaya mengerut protes kelaparan.

Sayangnya Furihata gagal memfokuskan dirinya pada harum-harum lezat yang menyesaki udara. Ada sesak lain yang mendesak dirinya. Terlebih ketika Akashi ternyata menghampiri gadis yang duduk berbincang dengannya—mungkin selama setengah jam terakhir.

Furihata menatap gadis itu lekat-lekat. Menawan. Rambutnya berwarna auburn bergelombang sepanjang pinggang dimahkotai bando pita berwarna selaras. Matanya merah kecoklatan cemerlang menyiratkan kecerdasan. Telinganya ditutupi dengan headset bertuliskan X besar merah menyerupai kupu-kupu. Bibir merah mudanya mengulum lollipop. Struktur wajahnya cantik. Senyumnya tulus. Bahasa tubuh elegan sekaligus ekspresi ramah bersahabat.

Tubuhnya semampai dengan lekuk yang badan cukup sempurna—tidak terlalu menonjol di area tertentu tapi terbentuk indah, dibalut rok merah bermotif kotak-kotak dengan panjang di atas lutut, sepatu boots berhak dihias pita merah. Bajunya adalah kemeja putih dengan vest hitam berdasi merah. Pakaiannya seperti seragam para pelajar atau pekerja dari institusi lembaga edukatif atau badan rahasia intelijensi Negara.

"Konichiwa."

Furihata terkesima. Senyum gadis ini semanis suaranya. Salah tingkah—karena terpesona dan gadis ini terkikik geli menyadarinya, ia balas menyapa terbata, "Ko-konichiwa."

Akashi berdeham. "Kouki, kenalkan. Ini Chelsea."

"Yo-yoroshiku onegaishimasu." Furihata membungkukkan badan sembilan puluh derajat.

"Chelsea, ini Furihata Kouki."

Chelsea mengibaskan tangan pada Furihata, mengangguk sopan. "Tidak usah formal begitu. Aku tidak akan menggigitmu." Ia mengerling Akashi, jenaka. "Terima kasih banyak atas bantuanmu, Furihata-kun," ucapnya tulus penuh pengertian.

Furihata tersendat. Ah. Gadis ini ….

Menegakkan tubuh, Furihata menggeleng. Tersenyum semampunya. "Sudah jadi tugas saya."

"Aduh." Chelsea mendesah. "Jangan berbahasa mengerikan begitu denganku. Santai saja, oke?" Ia mengedipkan sebelah mata.

Furihata melirik Akashi yang ringan mengedikkan bahu. Furihata akhirnya mengangguk. Chelsea bertepuk tangan sekali, ceria. Suara kerutan mengerikan bersumber dari perut pemuda yang baru bangun tidur. Keheningan melanda ketiganya. Chelsea tertawa lepas mendengarnya, Akashi melirik pada pemuda yang ditertawakan Chelsea, sementara Furihata merutuk dalam hati perutnya yang sialan berbunyi di saat seperti ini—sungguh mempermalukan dan menjatuhkan harkat martabatnya saja.

"Tiga jam perjalanan pasti melelahkan, ya." Chelsea beranjak berdiri. "Kau juga belum makan siang, 'kan? Yuk, kita pesan makan siang untukmu." Gadis cantik yang tingginya mencapai alis Furihata itu ringan menggamit lengannya ke area yang menyajikan kudapan-kudapan menggugah selera.

"Oi, Chelsea—" Akashi menyergah jengah.

Chelsea mengayun-ayunkan lolipopnya yang dari tadi terselip di mulutnya. "Jadilah anak manis dan jaga meja kita, Akashi-kun."

Ia menjulurkan lidah nakal pada pemuda bersurai magenta yang menatapnya dengan pandangan membunuh, menyabet blazer hitam di tangan Furihata untuk dijejalkan kembali ke Akashi. Santai saja seakan ancaman singa yang diulik-ulik segala hal miliknya itu tak ubahnya kucing posesif, melenggang menyeret Furihata ke gelanggang penuh makanan.

"A-ano—" Furihata mendapati remang di bulu kuduknya, benar-benar menotis tatapan membunuh yang diborkan ke punggungnya—seolah dapat melubangi bahkan isi perutnya. Keringat dingin membanjiri tubuh kendati udara terlampau dingin.

"Chelsea-sama—akh! Ke-kenapa aku dicubit?" ringisnya ketika jari-jemari lentik dengan kuku berkilauan akibat kuteks merah muda natural mencubit punggung tangannya.

"Jangan pakai embel-embel yang membuatku muak," tegas gadis bersurai auburn itu.

"Ma-maaf. Baiklah, Chelsea-san, bisakah kaulepaskan aku?" pinta Furihata memelas. "Kalau Akashi-sama cemburu—"

Chelsea terkikik. "Justru itu yang kumau." Ia merangkul lengan Furihata yang makin salah tingkah dengan wajah memerah. Melirik ke belakang, menemukan tatapan toksikal Akashi tertuju pada mereka berdua, ia tertawa.

Furihata sweatdrop deras. Gadis ini abnormal. Akashi Seijuurou adalah entitas posesif yang tidak sudi berbagi siapa atau apapun miliknya pada siapapun. Astaga, bisa-bisa dia yang dibunuh Akashi karena calon istrinya malah memanas-manasinya dengan menggandeng mesra lengan Furihata.

Chelsea meraih capit roti dan nampan putih. "Kau suka apa, Furihata-kun?" tanyanya tenang mengalihkan atensi Furihata yang panik seorang diri.

Furihata komat-kamit memanjatkan doa pada Tuhan agar Akashi tidak mengibirinya setelah ini. "Err…" Setidaknya sebelum ia dieksekusi, biarkan dulu ia mengisi perut karena bunyi kerut memalukan itu kembali terdengar—meretas tawa Chelsea sekali lagi.

Selagi Furihata memilih-milih roti yang paling menggiurkan untuknya, Chelsea memindai ke kejauhan dari balik rak-rak yang mendisplay roti-roti dan juga lemari-lemari es memajang kue-kue lezat berpenampilan elegan. Akashi duduk di kursi yang tadi ditempatinya, membenamkan wajah ke blazernya. Mendengus geli, Chelsea mengalihkan atensi pada Furihata yang memilih smoke beef croissant dan donat terlapis saus dark chocolate.

"Hei … sejak kapan kau kenal Akashi-kun?" tanya Chelsea. Airmukanya pasif merasakan bahasa tubuh Furihata menegang di sisinya.

Furihata bungkam sesaat, sebelum menjawab, "Sejak SMA … sampai Akashi-sama pergi ke Inggris."

Senyumnya merekah, Chelsea menggeser tubuhnya untuk menutupi pandangan Furihata dari Akashi yang duduk di seberang pandang keduanya. "Lama juga, ya."

"Chelsea-san sendiri…" Furihata mengukuhkan tekad untuk bertanya, "sejak kapan mengenal Akashi-sama?"

"Sejak kuliah. Sepasang pelajar Jepang yang mendapat beasiswa dari Oxford itu aku dan Akashi-kun."

Furihata mencelos.

Gadis itu membuang lollipop yang habis dihisap olehnya. Menggeret Furihata ke konter lollipop lagi, memilih beberapa yang diinginkannya. Ia bersenandung lembut.

"A-ano … ba-bagaimana kehidupan Akashi-sama di Inggris?" Furihata bertanya pelan. Dalam hati mengumpati diri, bisa-bisanya menanyakan hal yang selama ini bercokol di pikirannya setiap malam sebelum tidur sejak hari ulang tahunnya yang kedua puluh enam. "Ma-maksudku—"

"Eh, Akashi-kun tidak cerita padamu?" Chelsea menatap sosok yang digamitnya, murni terkejut. "Padahal kau salah satu orang yang paling dekat dengannya, 'kan?"

Furihata ternganga, sama kagetnya. "Da-darimana Chelsea-san tahu kalau aku—"

"—salah satu orang yang paling dekat dengan Akashi-kun?" Chelsea mengerling entitas yang jadi topik utama konversasi mereka. Mengulum senyum. "Tentu aku tahu. Sudah jelas, 'kan?" lirihnya.

Keduanya yang berada di bawah terpaan langsung air conditioner tak merasakan suhu hangatnya, melainkan atmosfer percakapan mereka setandus savannah Afrika. Furihata ingin sekali bertanya makna perkataan gadis yang ia tahu akan bersanding dengan Akashi ini. Tidak mungkin Akashi bilang mereka pernah berpacaran, bukan?

"Karena Akashi-kun tidak memberitahumu, biar aku beritahu kau. Sekalian kubongkar aib-aibnya." Chelsea tertawa puas, memupus mimik sendu yang sempat singgah. "Dia sangat populer, Furihata-kun. Bukan hanya karena rambutnya sewarna saus ekstra pedas—kelakuannya seperti saus ekstra pedas itu sendiri. Dia membuat orang terkagum-kagum—"

Entah kenapa, mendengar celoteh frontal gadis ini, sudut-sudut bibirnya perlahan terangkat. Tersenyum mendengar Chelsea menguraikan sosok distan dan indignan Akashi yang selama ini terpatri dalam memori dan bilik-bilik hati. Ternyata benar seperti yang diharapkan dan dimimpi-mimpikannya selama studi Akashi di Negara persemayaman pembuat kisah roman agung Romeo dan Julliet itu, emperor absolut itu benar-benar memukau dunia di kancah internasional dengan prestasi-prestasi yang mengagumkan.

Banyak orang tak menyukai Akashi karena ia tak membaur, padahal banyak sekali yang ingin berdekatan dengannya—mungkin tipikal manusia-manusia jenius ambisius yang hendak mengeksklusifkan pergaulan mereka, tapi Akashi tetap seperti sedia kala—tidak terpengaruh sama sekali. Ia benar-benar fokus pada studinya.

"—gadis-gadis bule karnivora itu sampai histeris begitu tahu kami akan pulang ke Jepang. Prom Night malam kelulusan itu benar-benar gila, Akashi-kun diuber kemana-mana sebagai Top Wanted dan masuk headline news bulletin kampus Number-One-Man-that-I-want-to-dance-with. Hei, ini rahasia, ya. Jangan bocorkan pada Akashi-kun—"

Furihata mengangguk, nyengir menyetujui Chelsea yang mengedipkan mata nakal. Sepasang mutiara merah kecoklatan itu memendar antusiasme, enigmatis. Gadis itu berjinjit mendekatkan bibirnya ke telinga Furihata, matanya memindai sosok yang dibicarakan mereka—tengah memandang jauh ke luar jendela.

"—dia sampai sembunyi di toilet pria bar tempat Prom Night diadakan." Chelsea terkikik geli mengingat momen tersebut.

"Tapi para perempuan fansclub loyal Akashi-kun itu tidak menyerah juga, mereka minta cleaning service mengecek Akashi-kun di toilet. Eh, ternyata dia sudah raib dengan fantastis bagai ditelan bumi. Semua kelimpungan mencarinya, dia kabur dari jendela toilet lantai dua. Dugaanku dia merayap menyaingi Spiderman untuk turun ke lantai satu, lalu pulang duluan ke flatnya sebelum digerebek di sana sedang berkemas untuk pulang ke Jepang."

Furihata tertawa lepas mendengar cerita tersebut. Siapa sangka seorang Akashi Seijuurou bisa melakukan hal-hal seperti itu? Tentu saja Akashi tidak akan menceritakan hal-hal yang menodai harkat-martabatnya karena bisa jadi konsumsi humor umat—orang-orang di Jepang yang mengenal individunya langsung.

"Akhirnya kau tertawa juga."

Pemuda yang sedang tertawa itu seketik surut tawanya. Tertegun karena Chelsea hangat memandangnya seraya memulas senyum lembut. Ia mengerjapkan mata, tak mengerti.

"Kau terlihat tertekan." Chelsea menjawab siratan tanya di mata Furihata. Tertawa kecil, ia berkata, "semoga saja bukan gara-gara Akashi-kun, ya." Sedepa jeda, lantas berujar halus, "Kau punya tawa dan senyum yang—"

"Chelsea."

"KYAAA!" Chelsea memeluk lengan Furihata lebih erat. Horror seketika mengeruhkan mimik riang wajahnya. "A-Akashi-kun!"

"Cerita apa kau pada Kouki? Sepertinya lucu." Akashi mendengus sinis. "Bisa ceritakan juga padaku?"

"Err—" Chelsea bertukar kerlingan gugup dengan Furihata. Menemukan binar hangat di mata coklat terlibas ketakutan, ia menarik napas dalam. Menyeringai. "—menceritakan kisah humoris perjuangan hidup-setengah-matimu di Inggris ala Shujinkou shounen manga berperang membela kebenaran?"

"Oh. Terdengar heroik." Akashi menaikkan kadar sinismenya. "Bisa ceritakan juga padaku?"

Chelsea tersenyum manis. "Sangat. Aku menceritakan riwayat penutup kisah kita di sana dengan malam Prom Night tidak terlupakan, aksimu yang mengimitasi spiderman—"

"Chelsea." Matanya terpicing menyaingi tajam mata pisau, suaranya merendah—alarm tanda bahaya.

"Ahahaha!" Chelsea melesat selincah kelinci angora meloncat-loncat di padang bunga, melepaskan gandengannya dari Furihata yang membeku bisu di spot sama, lincah berkelit dari aksi apapun yang Akashi hendak realisasikan untuk membungkam mulutnya. Lari memutari stan-stan roti dan kue, menjulurkan lidah nakal pada teman seperjuangannya di Inggris.

"Furihata-kun, ini rahasia kita berdua, yaaa!" Tawa manis sang gadis berdering nyaring di toko Murasakibara. Ekspresinya angkuh menghina Akashi yang geram akan kelakuannya. Dia buru-buru melarikan diri sebelum Akashi melemparkan capit roti untuk menjitak kepalanya, menyelamatkan diri—masuk ke dapur yang harusnya khusus staff saja demi mencari perlindungan ke pemilik bakery Yosen tersebut.

Akashi mendengus. Berdecak. Kekesalannya memuncak layaknya magma bergolak di perut bumi, dari kawah gunung berapi tinggal menghitung waktu sebelum eksplosif terjadi. Urat di dahinya saling bersilang, panas berkedut—terlebih mendengar tawa menyebalkan itu menggema dari balik pintu dapur. Bertahun-tahun mengenal Chelsea, ia tahu gadis itu selicin belut di air sabun. Mustahil ditangkap, akal bulusnya sebanyak lebat dedaunan yang menyemaraki pohon di musim panas.

Furihata tak kuasa mengenyahkan kata "kita" yang dipakai Chelsea untuk merujuk gadis itu dan Akashi berseliweran di benaknya. Tapi toh ia tersenyum mengingat celoteh gadis itu yang menyaingi deru cerobong asap lokomotif dan tawanya bagai peluit nyaring—ramai berdenting.

"Kenapa Anda tidak mengenalkan saya lebih cepat dengan Chelsea-san?"

Pertanyaan itu mengusik Akashi, melirik Furihata. Tangannya terkepal dalam saku blazer hitam yang telah digunakannya lagi. "Kau lihat sendiri kelakuannya."

Furihata merundukkan kepala. Matanya tersembunyi di balik hamburan helai-helai surai coklat susu. "Dia … gadis yang istimewa, ya." Ia memunggungi Akashi, menuju kasir sembari menggerung samar.

"Anda sungguh beruntung bertemu dengannya..."

Advisor pernikahan itu mencengkeram nampan berisi makanan yang dipilihnya ke kasir untuk membayar. Penjaga kasir menolak pembayarannya, menaruh dua kudapan Furihata di piring serta bonus segelas teh beraroma kayu manis seraya menjelaskan bahwa siapapun tamu Akashi Seijuurou, bos mereka memberikannya gratis. Furihata melongo, tapi ia berterimakasih. Mengangkat nampan baru yang berisi pesanannya, ia berbalik. Dilihatnya Akashi sudah duduk di kursi tempatnya tadi duduk dengan Chelsea.

Berberat hati, Furihata menghampiri kursi yang tadi diduduki Chelsea. Ia duduk di hadapan Akashi—luput menyadari keterkejutan emperor muda itu, menyantap makanannya lamat-lamat. Tak seorang pun dari keduanya mengucap barang hanya sepatah kata. Mungkin hening itu sendiri menjadi pencuri ulung atas kata-kata dari suara yang ingin diungkapkan, intuisi mendekam dalam-dalam semuanya.

Tak nyaman karena sepasang mata merah brilian itu mengawasinya atentif seperti singa mematut mangsa, Furihata menelan potongan keempat croissant-nya, bertanya pelan.

"A- … Akashi-sama sudah makan?"

Akashi menatap Furihata lekat. Pemuda yang memegang sapu dan garpu dengan tangan dirayap getar samar tak menipu matanya itu, jelas-jelas menghindari bersitatap langsung dengannya. Ada atensi setengah hati yang mungkin ingin Furihata tumpah-ruahkan padanya, namun kentara diurungkan. Lagi-lagi selapis hal yang mengelupas kesabarannya. Menginhalasi dalam, Akashi menenangkan diri.

"Sudah." Furihata tak bertanya lagi, Akashi mengonsiderasi baik-buruknya mengungkapkan apa yang kini menginvasi alam bawah sadar sampai kesadaran utuhnya, barulah berkata tenang.

"Jangan dekat-dekat dengan Chelsea, Kouki."

Pernyataan ini menyebabkan Furihata mendongak. Akashi menyipitkan matanya, tak paham kenapa Furihata terlihat tersinggung—dan lebih banyak lagi luka di matanya.

"Saya mengerti." Furihata menunduk lagi. Memotong agak kasar croissant-nya. "Maafkan kelancangan saya tadi berdekatakan dengan Chelsea-san." Ia melahap bulat-bulat croissant sekaligus sisipan daging asap yang tak terkecap lezat lagi di indera pencencap.

Furihata mengerti bahwa Akashi sebagai seorang posesif, jelas tidak suka siapapun miliknya berdekatan dengan orang lain—karena opininya mengemukakan otoritas khas emperor bahwa miliknya tidak boleh berakrab ria dengan siapapun selain Akashi sendiri.

Lulusan universitas Oxford tersebut mengernyitkan alis. Chelsea dipanggil dengan sufiks "san", ia dipanggil dengan sufiks "sama". Tak perlu jadi jenius untuk memahami siapa yang lebih distan dengan Furihata. Terlebih ia tak paham apa yang dimaksud Furihata dengan "mengerti". Sesuatu diskonek antara mereka. Akashi memilih bungkam, terlanjur—tidak ada yang bisa diperbaiki. Dan sejak awal, Akashi tidak berniat memperbaikinya—karena ia tahu benar memang takkan pernah bisa.

"Habiskan makananmu." Akashi beranjak pergi. "Aku menemui Murasakibara dulu."

Furihata meremas alat makan berbahan besi—bahan konduktor itu menyerap panas tubuh manusia yang mencengkeramnya keras-keras. Menaruh garpu dan pisau roti kembali ke piring putih pertama yang croissant telah tandas hingga menimbulkan denting bising, Furihata tak menghiraukannya—beralih menyantap donatnya. Giginya mencabik-cabik donat beroleskan pahit-manis dark chocolate tanpa minat.

Donat ini bertekstur lembut dengan krim lemon di dalamnya, kulit luarnya renyah dilapisi frozing sugar. Dark-chocolate-nya mungkin menyindir Furihata tentang persona Akashi hari ini. Terasa manis awalnya—menyelimutinya dengan blazer hitam wangi itu, baru tersisa rasa pahit kemudian—menitahnya menjauhi calon pengantinnya. Cih—kenapa selalu ada hal-hal yang mengingatkannya pada pemuda sialan berambut merah sehalus beludru itu.

Menelan gigitan terakhir donatnya hingga terlumat sempurna, Furihata meraih teh beraroma kayu manis. Menghirup wangi yang merelaksasi gemuruh batinnya yang seheboh lereng es di kutub tererosi besar-besaran akibat global warming.

"Kouki, kata Murasakibara kita langsung ke pantry saja."

Furihata berjengit kaget, tersendat napasnya. Salah dirinya terlalu khusyuk menyumpahi interuptor kenikmatannya dengan teh kayu manis ini. Terbatuk-batuk keras, Furihata susah payah mengangguk. Ia tercengang bukan kepalang ketika sebuah tangan kapalan menepuk-nepuk punggungnya, tangan lain meraih tisu untuk menyeka halus noda saus coklat topping donat yang tersisa di tepi bibirnya. Tubuhnya sekaku daun-daun kecoklatan musim gugur yang lapuk, kering, rapuh—dan sentuhan afektif selemah remasan bayi pada jari ibunya ini sungguh mudah menghancurkannya.

"Sepertinya donat buatan Murasakibara itu enak sekali, hm?" Akashi bertanya, geli tersisip dalam tutur lagu katanya.

Batuk Furihata seketika mereda. Akashi meraih gelas teh kayu manis di tangan Furihata yang tergantung bisu di udara, meletakkannya ke meja. Ia meraih tangan itu, berhati-hati menarik pergelangan tangannya—tak mau mempertaruhkan resiko akan rijeksi Furihata bila tak mau tangannya digenggam. Menuntun Furihata menuju pantry tanpa berkata apa-apa.

Furihata nanar memandang punggung tegap yang terbalut blazer hitam itu. Blazer hitam yang digunakan untuk menyelimutinya. Pergelangan tangannya kebas dipegang tangan yang selalu ia ingat kehangatannya, yang selalu ia harapkan akan kembali menggenggam tangannya. Akashi tidak menggenggam tangannya. Tidak akan lagi.

Apa maunya Akashi?

"Kouki?"

Pemuda yang akan menikah tepat saat ulang tahun keduapuluhenamnya itu menoleh ketika Furihata berhenti melangkah. Tangan mereka tergantung kaku di udara. Akashi menotis nadi yang berdentang keras di pergelangan tangan kurus dalam genggamannya, tangannya terkepal sekeras karang. Akashi menjatuhkan pandangan ke bawah, merasakan tangannya yang memegang pergelangan tangan Furihata itu menjeritkan suatu dosa.

"Ti-tidak ada apa-apa. Maaf."

Furihata mengulas senyum lebih buruk daripada chihuahua bergigi tonggos yang dipaksa majikannya untuk bilang "Cheese!" pada flash kamera. Sepersekian detik Akashi hampir yakin Furihata akan menyentak tangannya, tapi tidak. Entitas ordinari ini membiarkannya saja. Ekspresi Akashi kembali stoik, ia mengendurkan pegangannya. Telunjuknya membelai halus punggung tangan yang keras terkepal, kuat—tak berkurang intensitasnya.

Setelah sekian tahun pun, Akashi masih tak memahai gerak roda nalar Furihata. Entitas anomali dalam hidupnya.

"Ayo, Kouki." Tarikannya lebih lembut, Furihata menuruti ajakan Akashi menuju pantry Yosen.

Akashi tidak paham bahwa Furihata hanya takut kehilangan lagi kehangatan tangan yang selalu menggenggam erat tangannya. Furihata terlalu pecundang untuk menyisipkan jari-jemarinya dalam genggaman Akashi. Tapi Furihata juga terlalu pengecut untuk mengingat kenyataan asli, tangan ini akan menggenggam tangan gadis lain untuk mengarungi bahtera rumah-tangga sehidup-semati.

Sedekat ini mereka bersama, sejauh itu pula perasaan mereka terentang jarak seperti garis lurus. Garis lurus dengan ujung yang tak pernah mempunyai titik temu.

.

.

To be continue

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Tuh, kan. Bunch of romances. *nyengir watados*#digiringkepacungan

Aduh, berhubung ini fic AkaFuri lain dari biasanya, mereka pernah in-relationship, terus sekarang ketemu lagi … rasanya beda dari saya biasa nulis fic AkaFuri. Habis, penuh "rasa" yang jelas RnR sekalian tahu udah nggak abstrak lagi—bikin geregetan ya, kekeke.

Tapi kedepannya gimana—yang LeChi-tachi sekalian sudah banyak menebak—itu masih diblurkan. Menulis AU ternyata memang sulit, ya. Apalagi nulis split personality Akashi oreshi … maafkan karena ini jadi super incredibly OOC. #sungkemdalemdalem Saya harus lebih banyak belajar lagi. Yosh, ganbarimasu.

Kambuh lagi penyakit saya meng-crossover AkaFuri. *nyengir lebar* Kenalkaaan~ Chelsea dari fandom Akame ga Kill, salah satu female chara favo saya. Sedih banget saya pas dia mati, kepalanya dipotong terus ditancepin ke tiang dipamerin ke masyarakat. Tragis banget. T_T ahay, tenang aja, Kasamatsu dan Chelse masih akan berperan lagi. Sama yang lainnya juga.

Saya sudah mencantumkan warn "twisted", ya. ;)

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan