Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D
.
Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.
Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, twisted, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.
Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)
Italic: flashback
.
Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)
.
Have a nice read!
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
"Pilihkan yang mana saja."
"Jangan. Kau tidak cocok pakai yang itu."
"Lalu kau maunya aku pakai jam macam apa, hmm?"
"Yang terbaik untukmu."
Salah satu pemuda tertegun sejenak, selangkah tertinggal. Ia selalu mendapatkan yang terbaik, keluarganya menuntut absolut segala sesuatu yang terbaik dan menang akan atas segala sesuatu.
Namun ketika pemuda dengan helai-helai coklat yang benderang ditimpa sinar temaram display lemari berisi koleksi arloji-arloji itu itu begitu lugu mengatakan ia akan bantu memilihkan yang terbaik, sepertinya hal "terbaik" tidak lagi sekadar standarisasi wajib dengan klasifikasi tinggi, melainkan sesuatu yang pantas diterima dan dihargai olehnya dengan cara abnormal menghangatkan hati.
"Sei, kurasa yang ini bagus untukmu!" Senyum hangat terbit menghalau tuntutan kolot nan kaku yang membelenggu dirinya. Teralih sesaat pada pramusiwi. "Ano, bisa tolong perlihatkan yang ini?"
Meretas jarak dari siluetnya—menahan diri untuk tidak menyelinapkan lengannya untuk merengkuh sosok anomali di tengah kemewahan department store, seorang pegawai perempuan tersenyum santun pada kekasihnya dan mengambil sekotak hitam berlogokan elegansi merek Titan. Arloji hitam terpapar cahaya berkilauan terpampang menghiasi kotak tersebut.
"Seleramu ternyata tidak biasa-biasa." Mata merah briliannya melunak ketika menemukan garis pipi wajah biasa-biasa saja itu sedikit tergembung, menggemaskan. Intensi untuk menarik pipinya sampai melar mungkin akan terealisasi bila tidak ingat mereka sedang berada dalam visi kasat mata publik.
Sosok yang tengah menggembungkan pipi mendengus dengan mata terpicing. "Tidak semua orang biasa punya selera biasa-biasa saja."
Menyeringai membenarkan, ia mencoba mengenakan arloji tersebut di tangan kirinya. "Selera orang biasamu itu seluar biasa aku."
"Aku bicara tentang barang, bukan orang."
"Bagaimana jika mengenai orang?" Lirikan matanya menggelimang dingin,menggoda penuh pesona.
Resisten terhadap godaan halus tersebut, biner kembar coklatnya berputar—pura-pura bosan. "Kita sudah pernah membahas ini. Dan, ya, kau benar." Daun telinganya memerah, sorot matanya menjauhi kelereng merah yang mengintai—tak mau ketahuan salah tingkah.
Tapi toh sepasang netra magenta itu brilian dalam menelisik entitas di sampingnya. Menekan sudut-sudut bibirnya yang hampir menguntai seringai kemenangan lantaran pemuda yang memilihkan arloji untuknya mengaku sampai malu-malu, ia bertanya, "Bagaimana menurutmu?"
"Benar dugaanku, jam itu sangat bagus untukmu." Lawan bicaranya mengangguk-angguk senang, manik solid kolong langit berbinar menatapi arloji tersebut melingkari pergelangan tangan kirinya. Sebelum matanya membelalak melihat price-tag yang terjuntai di rantai jam tangan. "Err…"
"Aku yang beli." Tangannya menepuk puncak kepala surai yang terburai ditiup dingin AC. Ia melepaskan arloji tersebut dan menyerahkannya kembali pada pramusiwi. "Ini saja."
Setelah mendapatkan nota barang, keduanya berjalan bersisian menuju kasir. Merasakan lirikan repetitif tertuju padanya, ia balas melirik. "Apa benar arloji itu paling bagus untukku?"
Anggukkan lesu. "Uhm … menurutku."
"Berarti yang terbaik untukku." Tangannya mendarat di rimbun yang sehalus butir bubuk kokoa.
Ekspresinya keruh akan kekecewaan. "Ta-tapi—"
"Sssh. Karena yang memilihkan adalah orang yang bagiku, terbaik untukku." Bibirnya mengurvakan senyum tatkala orang di sisinya terpana sesaat, kehilangan kata-kata untuk menanggapi.
Karena itulah ia melenggang lebih dulu ke kasir untuk lekas membayar dan mengambil barang yang dibelinya, meninggalkan insan itu masih statis di posisi semula.
"Kouki, sampai kapan kau mau berdiri menghalangi jalan?" tanyanya sekembali dari transaksi jual-beli, lekas memakai arloji hitam itu, lantas meraih lengan orang yang konstan membatu.
Terperosok kembali pada kenyataan, yang dipanggil baru sadar bahwa lengannya digenggam oleh tangan yang sudah mengenakan arloji pilihannya. Pemuda bersurai merah membara itu terdiam ketika kekasihnya meraih tangan kirinya, mengelus arloji hitam model terbaru nan berkilau dengan buncahan haru dan sedikit cemburu.
Asumsi terujar. "Kau mau juga? Akan kubelikan."
"Ah, tidak. Jangan! Kalaupun aku mau memakai yang sama denganmu, aku akan membelinya sendiri." Gelengan cepat-cepat. Kepalanya terlengak, pandangannya agak sayu. "Hanya saja … nanti di sana … jangan sampai lupa waktu."
Ganti ia yang terdiam.
"Kadang kalau kau sibuk atau serius mengerjakan sesuatu, kau sering lupa waktu." Roman sendu digelayuti kelabu. "Aku tidak akan bisa lagi mengingatkanmu setiap waktu."
"Karena itu kau memilihkan arloji untukku," tenornya melembut dalam pemahaman. "Terima kasih, Kouki."
"Bu-bukan hanya itu." Sedepa jeda, sesak melesak serongga dada. "A-aku ingin kau mengingat … waktu … selama kita bersama."
Suaranya memelan ditelan keramaian dunia. Senyumnya bergetar, tatapan itu membuat bahkan makhluk tak berperasaan pun luluh karena terenyuh.
"Kau ini bicara apa?" Tangannya meraih tangan yang tergantung lemas di sisi tubuh. Mengenggamnya, dan tidak hirau pada dunia kacau yang mereka singgahi semasa hidup.
"Sebenarnya, aku i-ingin ki-kita ber—ah! Lepaskan, Sei … kita di tempat u—"
"Kita akan selalu bersama." Dieratkannya genggaman mereka. Lekat, takkan terpisah. "Tidak perlu saling mengenang."
Persetan dunia punya perspektif tentang relasi mereka yang tabu. Karena dunia sendiri tak peduli, untuk apa dirinya peduli?
"Ayo pulang, Kouki."
Furihata Kouki menenggak tangis bulat-bulat meski pertahanannya nyaris terkoyak ketika Akashi Seijuurou tersenyum hangat padanya, menggenggam tangannya erat-erat, dan mereka melangkah pulang bersama. Tangannya balas menggenggam lekat tangan hangat itu.
(Perpisahan mereka tinggal menghitung hari menggunakan jari. Tidakkah Akashi mengerti? Furihata tidak berani berkata ia ingin Akashi tetap di sisi dan tidak harus pergi, terlalu pengecut untuk menghancurkan relasi mereka yang disokong tulusnya afeksi.)
.
#~**~#
Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",
Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,
.
.
Ienakatta Omoi wo
(My feelings that I kept from you)
.
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
"Oh, kau temannya Taiga dan Kuroko-kun, ya?"
Furihata yang tengah duduk di meja bundar menunggu Murasakibara keluar dari kantornya untuk berdiskusi, menoleh pada seseorang yang datang menghidangkan teh hangat dengan senyum sama hangatnya. Senyumnya terkembang.
"Himuro-san?"
Himuro Tatsuya tersenyum, matanya ikut terlengkung ramah. "Kukira hanya Akashi yang datang bersama Chelsea. Ternyata ada Furihata-kun juga." Ia tidak menyapa Akashi lagi—karena sudah bertemu dengannya sejak kedatangan pewaris sah aset kekayaan klannya itu. "Apa yang kaulakukan di sini?"
Akashi samar mengedar pandangan. Nihil presensi Chelsea—pasti dia masih menggelayuti Murasakibara mencari proteksi. Lirikannya terpancang pada seseorang yang duduk di sampingnya, tengah tersenyum dengan cara yang menggeliatkan jengkel di dasar perutnya.
"A-ano … kalau Himuro-san belum lupa, Seirin Wedding Organizer…"
Himuro menggumamkan –ah-sou-kaa, pengertian menggelayuti utasan senyumnya. "Advisor pernikahan Akashi?"
Furihata mengangguk. Tersenyum gugup.
Beberapa saat Himuro menatapi Furihata dengan ekspresi layaknya ia baru saja dikejutkan hantu di tengah malam buta. Ia mengerling Akashi—menelisiknya teramat jeli. Sekian detik terlewati, matanya menyorot rikuh simpati. Sebelum memudarkan, menjelmakannya jadi secarik senyum yang dipalsukan.
"Mau pesan Wedding Cake pada Yosen, eh?" Himuro membalikkan badan, melambai perlahan. "Akan kupanggilkan Atsushi."
"Tu-tunggu—" –aku tak mau tinggal di sini berdua saja dengan Akashi! Tidak mungkin Furihata membeberkan ketakutan yang berada di puncak daftar "hal-hal yang tidak diinginkan".
Mengenyahkan buntalan kekecewaan jauh-jauh ke pojok nurani, Furihata menyibukkan diri dengan mengobrak-abrik ranselnya, meraih notes lusuh kesayangannya. Tak sengaja terjatuh saat ia menarik kuat-kuat dari berbagai benda lain yang terjejal dalam tas. Akashi impuls tergerak meraih buku itu—berniat membantu Furihata yang kerepotan dengan isi ranselnya itu.
"Ma-maaf!"
Bila tadi tangannya menggenggam pergelangan tangan itu tak ditepis, maka tiba saatnya Furihata menyentaknya dari sesuatu yang berharga baginya—karena Akashi yakin Furihata tak lagi menganggapnya ada. Ketakutan, kengerian, horrorisme mata semungil pinus di pucuk cemara itu mendecit Akashi dalam emosi yang sedikit demi sedikit kian meningkat. Sang advisor pernikahan defensif mendekap buku catatan kesayangannya, seakan Akashi menggores arteri yang gaduh bergemuruh di lehernya.
Respons penolakan.
Ada sesuatu yang tidak seharusnya Akashi tahu.
Furihata tidak mau berbagi hal ini dengan Akashi.
"Te-terima kasih…"
Seberkas sunyi disayat gema berlembar-lembar kertas dibolak-balik. Akashi bergeming menyaksikan Furihata menunduk menelusuri catatannya—seolah tindakannya barusan adalah aksi balas dendam atas apa yang Akashi telah dan akan lakukan padanya. Meneliti raut muka yang mendistan terhadapnya, ditemukannya Furihata menerawang catatannya—jarinya membelai selarik tulisan tangan yang mencela putih kertas.
"Strawberry … cheese cakes." Furihata mengetukkan telunjuk pada selarik tulisan cacing kremi menyedihkan di buku catatan kesayangannya. "Calon pengantin Anda suka itu."
"Benar."
"Tapi—" Pemuda bersurai seberantakan daun-daun coklat digiling angin dingin itu menggeleng pada diri sendiri, "—ah. "
Akashi takkan meloloskan Furihata dari apapun kata yang ingin dilontarkan. "Katakan padaku."
Melumat keraguan yang menggempurnya, Furihata menjawab perlahan, "Anda … tidak suka."
Kata-katanya melayang-layang di udara.
Meresapinya baik-baik, Akashi tak menampiknya. "Benar." Ia melekatkan pandangan pada Furihata yang statis persis manekin museum. "Tapi, selama dia suka … tidak apa-apa."
Tidakkah dia yang akan menikah dengan Akashi sungguh mujur? Akashi, The Almighty Emperor, mengalah untuk pengantinnya. Komet yang datang tujuh puluh tujuh tahun sekalipun takkan mampu menandingi keajaiban mengerikan ini.
Furihata tersenyum tanpa hati, lengkung tak mencapai mata. Matanya kebas memanas, makin buyar fokus membaca buliran huruf-huruf acak-acakan yang blur bagi indera pengelihatannya.
Beruntunglah keheningan seperti kota mati imajiner dilibas dengan kedatangan sang ace chef kebanggaan Yosen, diiringi Himuro yang tersenyum khasnya.
"Oooh~ Aka-chin." Murasakibara, masih dengan pakaian chef mengenakan celemek putih bernoda coklat dan tepung, datang dengan sepiring kue di tangannya. Menyajikannya di meja bundar yang diduduki sepasang pemuda. "Ini yang tadi kau minta."
"Cicipi ini, Kouki." Akashi menggeser piring yang diberikan Murasakibara pada advisor pernikahannya. Murasakibara santai mendudukkan diri di hadapan mereka, lantas ia meluncurkan tanya, "Mana Chelsea?"
"Sedang ke toilet." Murasakibara menyeringai malas.
Pemuda berambut sewarna permen-permen anggur di etalase Yosen itu memandang Furihata yang tergeming menatapi strawberry cheese cakes—seakan kue berpenampilan estetik itu adalah venus flytrap yang akan melahapnya seganas paus orcha menyantap seton sarden tanpa toleransi.
Biner ungu menyipit tak suka. Sebagai seorang chef, kebanggaannya adalah ketika individu mana pun yang mencicipi hasil masakannya, akan sebahagia musafir kelaparan yang terseok-seok mengarungi perjalanannya dan akhirnya mendapatkan segulir air yang bisa memuaskan dahaganya. Namun di atas semua itu—
"—siapa kau?"
Tik tok jam klasik bernyanyi serta dengung mesin penggiling adonan bersaing menyela hening.
Furihata berdiri sesaat, membungkukkan badan sembilan puluh derajat. Dagunya nyaris terjatuh imajiner menghantam meja. Ia bukanlah Kuroko Tetsuya yang acapkali gagal dinotis, tapi bukan pula Kagami Taiga yang punya aura outstanding. Karena persona ordinarinya bukanlah sesuatu yang patut direkam ingatan, Furihata menggesturkan formalitas ala kadarnya—hendak memperkenalkan diri.
"Fu-Furihata—"
"—Atsushi." Himuro menyela seraya menepuk bahu bidang yang diurai surai ungu terikat asal. "Furihata-kun adalah temannya Taiga dan Kuroko-kun dari Seirin Wedding Organizer."
"Oooh." Murasakibara bertepuk tangan sekali. "Aku tidak tahu kau, tapi salam kenal."
Sweatdrop, Furihata duduk lalu mengangguk. Hanya seorang Murasakibara yang bisa melupakannya meski mereka telah bertemu beberapa kali.
Akashi menghela napas pendek. Ia baru hendak mendeklarasikan suatu hal yang akan dapat mengirik memori sang kyojin ungu, ketika kelebatan surai auburn dan tongkat lollipop yang terjepit di bibir mengurai senyum menyebalkan itu mengusiknya. "Chelsea."
"Astaga … kau masih marah padaku?" Chelsea berpretensi terkejut, berlagak mulas sembari memegangi perut. "U-ukh … sepertinya aku masih diare."
"Chelsea-san, ka-kau baik-baik saja?" Furihata teralih atensinya, mengkhawatirkan gadis itu—bukan karena tertipu aktingnya melainkan kondisinya yang mendongkrak mood buruk Akashi.
Akashi bangkit berdiri, menyambangi gadis itu yang mengerang-erang kesakitan sembari sesekali melirik nakal dirinya. "Hentikan kepura-puraan bobrokmu itu."
"Aktingku brillian, patut mendapat piala Oscar. Kau tidak romantis sekali, Akashi-kun, membiarkan seorang wanita kesakitan tanpa menanyakan kondisinya. Furihata-kun lebih baik—"
Chelsea menyanggah, sama sekali tak tersinggung dengan hina-dina Akashi. Melihat kerjapan biner emas mengganti iris merah di mata kiri pemuda yang satu kuliah dengannya, Chelsea lekas balik kanan—menyelamatkan diri.
"—upsy. AHAHAHA!"
Seringai dan binar merah kecoklatan itu bergelimang selicik rubah mengelabui manusia. Chelsea tertawa laknat sembari berlari menjauhi Akashi yang berniat untuk meringkusnya, mengikatnya dengan tali laso di kursi, melakban mulutnya dan menjejalkan batu-batu berujung runcing untuk merusak pita suaranya—k alau perlu agar berhenti tertawa, apapun aksi yang dapat memberikan efek jera.
"Ganbatte nee, Sea-chin~" Murasakibara menyoraki asal-asalan.
"Ouch!" Gadis cantik itu memelintir lemparan gunting yang Akashi temukan di bilik suatu konter. "Tenang saja, Murasakibara-kun."
Gadis itu melemparkan sebatang lollipop dengan presisi mengerikan, lollipop yang selalu tersimpan di tas selempang kecil kesayangannya pada Akashi. Meringis ketika lemparannya ditangkap Akashi bagai seorang profesional menangkap darts.
Himuro mendesah melihat peperangan yang lazim terjadi antara dua orang itu. "Tidak bisakah kau menghentikan mereka, Atsushi?"
Murasakibara menggeleng inosen.
Furihata menatapi strawberry cheese cakes, kemudian menoleh pada Akashi dan Chelsea yang berperang dengan segala barang yang dapat mereka lempar satu sama lain—serta keabnormalan tidak terjadinya ledakan atau kekacauan seperti yang biasa terjadi bila ada keributan.
Cara keduanya bertarung sengit penuh elegansi dan perfeksi lemparan dengan presisi berakurasi tinggi. Menggigit kawah dalam pipi bagian samping hingga tercekung ke dalam, bahu Furihata menurun selesu lekuk bulu ayam yang menghiasi kemoceng tergantung di dinding.
"Atsushi, masa kau tidak tahu Furihata-kun?" Himuro mendudukkan diri di kursi yang semula ditempati Akashi, menepuk bahu kuyu pemuda bersurai coklat yang menghayati bidang permukaan meja bundar berpelitur mengilat.
"Dia ini … Kou-chin, kau ingat?"
Furihata berjengit mendengar nama panggilan yang disarangkan Murasakibara beberapa tahun silam padanya. Memekik kaget tatkala sebuah jari telunjuk besar mendongakkan dahinya, kemudian bekerja sama dengan ibu jari mengapit kelopak mata, Murasakibara memajukan kepala—seksama menelitinya seperti anak kecil penasaran mencolek cicadas yang menggelapar dekat akar pohon.
"Ah." Pandangan Murasakibara menghangat menemukan pupil semungil permen coklat. "Kou-chin." Tangan besarnya menangkup kepala sewarna coklat susu lezat—itu yang dulu selalu dikatakannya pada Furihata, membelai-belainya sayang. Furihata menyingkirkan tangan itu, terlihat tak menyukai perlakuannya.
"Maaf~ kau marah?" Senyum kekanak-kanakan itu nostalgia bagi Furihata.
"Ti-tidak apa-apa." Pemuda itu merapikan rambut coklat acak-acakan serupa semak-semak pinggir jalan, percuma saja merapikannya seperti semula. Ia mendesah lelah.
"Kou-chin, kenapa tidak pernah main lagi ke sini sejak Aka-chin kuliah ke Inggris?"
Pertanyaan inosen itu membekukan pergerakan Furihata.
Himuro yang lebih memahami sirkumstansi dengan atmosfer hampir mencapai titik bifurkasi itu menyelamatkan Furihata yang memucat. "Omong-omong, Atsushi, Furihata-kun datang ke mari karena harus bernegosiasi dengan Yosen untuk wedding cake pernikahan Akashi nanti."
"Oh, oke." Murasakibara teralih, terlampau mudah.
Furihata memandang Himuro yang memulas senyum pengertian, mata coklat itu menyorotkan terima kasih tak terhingga—Himuro menggeleng ringan.
"Kou-chin sukanya Chocolate Gateu—"
"Atsushi."
"Hai'~" Murasakibara mematuhi pemuda yang lebih tua setahun daripadanya itu. Ia menatap penuh minat Furihata yang terlihat dilematis mencicipi masakannya. "Kuenya enak. Coba saja. Aka-chin bilang Kou-chin juga suka itu."
Himuro menggeleng letih. Murasakibara terlalu inosen untuk memahami bahwa relasi Akashi dan Furihata sudah tidak lagi seperti yang dulu mereka semua ketahui. Ia merasa bersalah melihat Furihata kaku mengangkat garpu kecil, menggerung entah apa dengan roman wajah keruh.
Sejujurnya, bila ia yang ada di posisi Furihata, Himuro yakin dirinya akan merijeksi rikues Akashi. Tapi sempat mencuri dengar konversasi Akashi yang sebelumnya menghampiri Murasakibara, ia mengerti intensi sang emperor.
"Atsushi, bisa tolong buatkan Strawberry Parfait dan bawakan segelas air?"
"Heee…" Murasakibara mengerang malas. Tapi melihat senyum dingin partner kerjanya, ia menyeret langkah menyiapkan pesanan Himuro. "Okeee."
Chelsea yang melihat Murasakibara melesat lari dari perseteruannya dengan Akashi, lekas mengintili chef tersebut ke areal kerjanya. Melambai ringan pada Akashi yang hanya mendengus dan kembali ke meja bundar.
Akashi memonopoli kursi Murasakibara. Furihata terlihat makin tegang ketika ia datang. Akashi mengabaikan, meraih sebuah folder yang disediakan para pegawai Yosen, membuka desain-desain wedding cakes fenomenal berharga maha karya sang ace chef kebanggaan toko tersebut.
Himuro tertawa kecil, sarat keengganan. Apa-apaan nuansa sephia nan kelam yang membuat orang merinding seperti peselancar berhadapan dengan beruang kutub?
Manik heterokromik itu halus mendelik—menghendaki rekan kerja Murasakibara pergi. Sementara Furihata memelas memohon butuh pendamping—dan Himuro bisa memahami kenapa Furihata tak mau ditinggal sendiri dengan Akashi.
Sayangnya, Himuro masih menyayangi nyawanya. Karena itulah ia menepuk lembut bahu Furihata. Tersenyum tipis sarat sesal. "Aku harus memastikan Atsushi memasak dengan benar. Maaf, aku permisi."
Ia melirih pada teman adik kesayangannya itu, "Sampai nanti, Furihata-kun."
Furihata memandang Himuro dengan siratan terkhianati. Menghembuskan napas panjang, sudah tak ada pilihan. Lebih baik semua cepat diselesaikan. Ia memotong kue dengan garpu, mencicipinya. Melumat potongan kue itu, perlahan-lahan menelan—menenggak kenangan-kenangan mengerikan dari kue ini dengan sosok di hadapannya.
Enak.
Rasa nostalgia. Ini bisa membuatnya gila.
Kue ini seperti apel merah di pelosok neraka, lezat menggugah hasrat, inti sari suatu dosa dari manis kisah yang kini menyisakan ampas asam.
"A-apa Anda mau mencobanya?"
Akashi menggeleng—split personaliti, pening sesaat karena ia tahu matanya selalu merah kembali seperti semula—selalu Furihata yang bisa mengembalikan jati dirinya. Mata merahnya menggelap melihat lidah itu bergulir pelan di atas bibir, menjilat sisa krim yang menodainya.
"Kau tahu aku tidak suka, Kouki."
"Ha-hanya mencicipi." Furihata bergumam. "Anda yang minggu lalu bilang penampilan bisa menipu rasa."
"Benar. Aku ingin kesempurnaan mendetail pada pernikahanku." Akashi menanggapi dengan nada afirmatif. "Bagaimana rasa kue buatan Murasakibara?"
Furihata memakan kue itu minus nafsu. "Sangat … enak."
"Kau suka?"
"Siapa tidak akan suka dengan kue seenak ini?" Furihata menusuk stroberi yang menghiasi topping white-cream cheese. Menyantap tanpa hasrat, meringis pilu ketika stroberi itu menyengatkan asam alih-alih manis legit.
"Bagus." Akashi tampak puas. Ia menyerahkan folder ber-name-tag Yosen pada advisor pernikahannya. "Aku tidak tahu model mana yang cocok dengan tema pernikahanku. Pilihkan."
Furihata menyingkirkan piring kecil dengan kue masih tersisa. Mengambil alih folder dari tangan Akashi yang bersinggungan dengan tangannya—ia tidak menunjukkan keterkesiapan atau kekagetan, melainkan membangkitkan mode observannya meneliti koleksi foto-foto model kue pernikahan yang terlihat fantastis—nominal harganya pun mencengangkan. Memilah-milih kue yang diselaraskan dengan konsep tema, kondisi tempat, situasi futuristik yang akan terjadi, serta desain dekorasi dan altar pernikahan.
Okamura muncul bersama ketiga rekannya—yang juga merupakan tim head chef Yosen, menyapa mereka sebelum melesat ke dapur karena mendengar kegaduhan di sana. Liu menyapa sekilas sebelum mengasisteni sang head-chef. Fukui muncul, turut menyapa, dititah sang kapten untuk bernegosiasi dengan klien—Akashi serta advisor pernikahannya.
Fukui agak terkejut. "Wedding cakes? Tidak masalah. Tanggal berapa deadline-nya?"
"Untuk dua puluh Desember." Furihata menjawab. Ia menunjuk sebuah model kue pernikahan. "Yang ini."
"Wah … mengesampingkan perasaan terkejut karena kau berani mengambil kue yang dibuatnya amat merepotkan itu, kau yakin memilih ini?" Fukui berdecak takjub.
Furihata mengangguk. "Ini yang paling cocok dengan tema pernikahan royal wedding."
"Oh, Royal Wedding." Fukui balas manggut-manggut paham. Ia mengelus dagunya penuh perhitungan. "Sebenarnya, waktunya agak riskan. Kau tahu, dua puluh desember berdekatan dengan waktu Natal dan tahun baru, kami kebanjiran order—"
"—itu sesudah waktu pernikahan." Furihata berdalih. Ia tersenyum tipis ala pebisnis. "Jangan ragukan soal pembayaran. Bila perlu, bisa kontan lunas akan kami bayar." Matanya mengerling Akashi yang bersidekap memerhatikannya. "Bukankah begitu, Akashi-sama?"
"Tentu." Akashi balas tersenyum padanya—menggoyahkan senyum Furihata sendiri.
"Hmmm … lokasinya pernikahannya di mana? Biar kami tahu harus kemana mengirimkannya." Fukui memandang seksama salah satu kue berornamen rumit mendetail hasil eksekusi ace chef Yosen.
"Naminara." Furihata menginjak nuraninya yang terlonjak girang menemukan Akashi tersenyum padanya.
"Na-Naminara?!" Chef tersebut membulatkan mata. "Tidak mungkin kami mengirimkan kue ini ke negeri seberang, perizinannya sangat sulit—"
"—tidak usah khawatir, itu akan kami urus." Furihata menyela.
"Meskipun begitu, tetap saja … kalau ingin membuat kue seperti ini agar rasanya tetap fresh, paling tidak pertaruhan waktu kami adalah tiga hari lembur. Katakanlah waktu pengiriman paling singkat dua puluh empat jam dengan paket kirim express, tapi siapa bisa menjaga kue pernikahan ini dari resiko cacat-cela dalam perjalanan kalau kami terlanjur kelelahan dalam pembuatannya? Petugas pengiriman tidak akan mau bertanggung-jawab." Fukui mengemukakan hal klise dalam binis perdagangan bakery mereka.
Furihata mendesah. "Ah, benar juga." Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Berpikir keras. Nyalang matanya memandang sekeliling, hingga tatapan terlabuh ke langit-langit ruangan, lampu vintage itu memercikkan ide otaknya. Ia lekas menegakkan posisi duduk.
"Bagaimana kalau kalian membuat saja di sana? Misalnya, kami siapkan tempat yang kalian butuhkan. Kalian bisa membuat kuenya di sana, sehingga meminimalisir resiko kerusakan kue."
"Oh." Fukui menjentikkan jemarinya. "Ide bagus. Tapi siapa yang akan membayar ongkos kami menginap di sana hanya untuk membuatkan satu royal wedding cake? Okamura Danchou akan menolak anggaran biaya yang tidak memberikan profit untuk Yosen."
"Itu tanggung jawab kami," tanggap Furihata. Ia mengerling Akashi—yang tidak lepas juga memandangnya. "Finansial adalah urusan internal kami."
"Apa bayaran upah wedding cakes akan dipotong ongkos menginap Yosen di Naminara?" tanya Fukui mengklarifikasi.
Furihata mendapati Akashi menggeleng sekilas, lantas ia turut menggeleng. "Tidak. Ongkos inap dan konsumsi kalian selama di sana terjamin. Biaya kue tidak akan dikurangi untuk menutup ongkos kalian selama di Naminara membuat kue pernikahan."
Fukui tampak tergiur dengan tawaran Furihata. Berpikir sejenak, ia bangkit seraya memosi dapur dengan ibu jari. "Sebentar, aku tanya yang lain dulu." Kemudian ia berlalu.
Furihata mengambil segelas teh yang diseduhkan Himuro untuknya, menyesap lamat-lamat.
"Kau bisa bernegosiasi."
Cetusan Akashi itu membuat Furihata melirik sekilas, meneguk tehnya, mengingat bahwa itu adalah skill utama Akashi selama menjadi top manager yang memegang lini wewenang tertinggi perusahaan-perusahaan keluarganya. Menyembunyikan senyum getir di balik—teringat dulu Akashi pernah mengajarinya kemampuan yang sama, Furihata menelan lagi aliran kecoklatan manis yang menghangatkan kerongkongannya, barulah meletakkan cangkir ke meja.
"Sudah jadi pekerjaan saya." Furihata menyahut, meraih lagi piring kue untuk menandas strawberry cheese cakes yang tersisa.
Akashi bertopang dagu, memerhatikan Furihata yang kembali canggung karena diperhatikan olehnya. Matanya melunak memandangi Furihata mencecap kue yang dulu pernah ia bilang enak.
"Apa Yosen akan menerima tawaran kita?"
Furihata nyaris tersedak. Kata "kita" itu memiliki banyak interpretasi, tapi definisi Akashi itu ekuivalen pada kata "kami" yang sedari tadi Furihata gunakan untuk bernegosiasi dengan Fukui.
"Anda tahu Yosen tidak akan bisa menolak penawaran sebagus ini," jawab Furihata, agak sinis menyisip retoris.
"Kau lupa memberitahukan mereka bahwa kita juga memesan desserts untuk pesta nanti." Akashi mengingatkan, raut kemenangan merekah di wajahnya ketika Furihata tampak syok.
"A-ah … maaf saya lupa."
Kerut samar menggarisi dahi yang dihamburi helai merah. Ia tidak bisa membaca Furihata—dari matanya karena tersembunyi di balik serakan surai coklat. Terlebih dengan gestur tubuh gelisah saat berdekatan dengannya. Entah ini bisa dipahami atau tidak, dulu mereka jauh lebih dekat dari sekarang.
Menghirup napas dari hidung dan menghelanya melalui mulut, sedikit rileks, Furihata melontar tanya sembari mengaduk remah kue dan noda krim di piring saji.
"Apa Anda sudah memikirkan Hikidemono (1) yang diinginkan untuk pernikahan?"
"Sudah."
"Bisa beritahukan pada saya?"
"Sujeo." (2)
Furihata sweatdrop, menghembuskan napas panjang. "Itu sudah pasti. Anda mau pilih sendiri atau—"
"—kau pilihkan."
"Baiklah. Hikidemono-nya?
"Selain hal-hal umum dalam kantung tas suvenir, ada cindera mata istimewa yang ingin kuberikan pada para tamu."
"Saya juga yang mengurus isi tas suvenir?"
"Tentu. Kau, kan, advisor pernikahanku."
"Err … saya mengerti. Lalu cindera mata macam apa?"
"Rosario."
Furihata menoleh, kepalanya dimiringkan ke samping. Terkejut ketika dirinya bersipandang dengan Akashi, lekas membuang pandang ke sisa kue strawberry cheese cakes di piring kecil.
"Aku sudah membuat sketsa rosarionya. Nanti aku berikan padamu." Akashi mengawasi betapa menggoda krim itu diulik untuk disentuhkan ke pucuk hidung yang kembang-kempis menghembuskan napas tak ritmis.
"Apa Anda punya toko kepercayaan lagi atau saya carikan?" Furihata menemukan solusi, ia bisa bicara baik-baik pada Akashi tanpa terbata bila mereka tidak berpandangan mata.
Akashi mengonsiderasi sesaat, bertanya tenang, "Bila kau yang mencarikan, toko mana yang akan kaupilih untuk membeli cincin pernikahan sekaligus memesan rosario?"
Pemuda itu meletakkan garpu, menelaah lagi catatannya. Menelusuri seksama daftar agensi toko wedding souvenir dan wedding ring yang merupakan relasi dekat Seirin. Mengingat ia tidak perlu mempertimbangkan soal anggaran biaya, terlebih proyeknya ini adalah royal wedding, matanya terpancang pada satu nama.
"Mungkin … Rakuzan."
Bibirnya impuls terkuva tipis. Pilihan Furihata jelas sama dengan yang terapal di benaknya. "Bagus."
Furihata menerawang catatannya. Seakan berlembar-lembar kertas putih itu transparan dan ia bisa memandang pada apa yang terselip di belakang cover buku. Menyingkirkan seberkas memori lapuk itu, Furihata merogoh ranselnya. Mengeluarkan bolpoin untuk mencatat.
"Ada waktu di akhir minggu depan, Akashi-sama?"
"Tentu."
"Agenda kita adalah ke Rakuzan, membeli cincin pernikahan dan memesan Rosario."
"Lalu?"
"Anda bisa memberitahukan hasil diskusi dengan calon pengantin Anda dekorasi altar yang diinginkan pada pertemuan berikutnya, juga membelikan hadiah untuk calon pengantin."
"Hm. Itu belum."
Furihata mendongak mendengar tawa bersuara rendah, menjalar getar ke relung hati. Kelopak matanya turun setapak. Bibirnya berkedut menahan diri untuk tidak meretaskan ekspresi datarnya. "A-apa?"
"Kau seperti asisten pribadiku saja." Sudut bibirnya menguntai lengkung samar ke atas.
Jendela hatinya—jalan tempat Akashi menyelidik keseluruhan Furihata—tertutup hamburan coklat yang terjuntai halus. Hanya seulas senyum yang bibirnya bergetar, tawa mengasihani diri. Suaranya lirih.
"Aku sudah pernah lebih dari sekedar yang kausebutkan itu."
Furihata luput memerhatikan reaksi Akashi saat itu. Terlalu sibuk merundukkan kepala mengerjap-ngerjapkan mata yang memanas. Batin merutuk keimpulsifannya lancang berkata hal-hal yang sewajarnya tabu bagi mereka saat ini.
Keheningan menyerupai ketenteraman hari sebelum badai datang itu luluh-lantak sebelum badai sesungguhnya bergejolak ketika para pegawai Yosen dan Chelsea yang berkonversasi cerah-ceria masuk lagi ke ruangan. Himuro menghidangkan Strawberry Parfait, segelas air mineral, dan segelas Espresso yang diracikkan Murasakibara untuk Akashi.
"Kami sudah berdiskusi," ucap Okamura yang berhadapan dengan Furihata—terbagi fokus antara pria berdagu belah itu dengan Strawberry Parfait yang disajikan untuknya. Ia mengulurkan tangan, tersenyum lebar. "Deal."
Furihata ternganga sesaat, kemudian mengatupkan bibir dan mengulas senyum lega. Membungkukkan badan sekilas seraya berseru, "Deal. Terima kasih!" Ia menjabat tangan kepala manajer Yosen tersebut.
Himuro tersenyum hangat pada Furihata. "Mohon kerjasamanya, ya."
"Ha-hai'!"
"Tentu saja. Siapa bisa menolak tawaran sebrilian yang kauajukan, Furihata-kun," cetus Chelsea geli.
"E-eh … tawaranku biasa saja. Ma-maksudku, kalau bukan karena—"
"—unlimited budget, kau tidak akan melakukannya." Chelsea menuntaskan kalimatnya. Ia mengerling Akashi yang bergeming.
"HEEE? UNLIMITED BUDGET?!" Fukui berseru dramatis.
Liu menggeleng-gelengkan kepala. "Orang kaya memang berbeda."
Murasakibara tidak peduli pada negosiasi yang terjadi. "Kou-chin, coba parfait-nya."
"Oh, ya. Cobalah! Rasanya enak sekali. Ah, stroberi atasnya boleh untukku?" Chelsea menunjuk stroberi yang memahkotai krim lembut di pucak gelas.
Furihata mengangguk sekenanya. "Silakan." Ia meraih sendok untuk mengudap dessert hasil karya Murasakibara. Menyuapkannya ke mulut, ia mendesah ketika rasa lezat parfait memenuhi mulutnya membuat para pekerja Yosen itu menetaskan senyum melihatnya.
Akashi memfokuskan atensi pada Furihata. "Kau suka?"
Pertanyaan klise itu menuai jawaban sama klisenya. "Siapa tidak bisa suka dengan dessert seenak ini?" Furihata tetap tersenyum—tapi pada pegawai Yosen, Akashi menyadarinya.
"Yokatta~" Murasakibara memancang tatapan pada Furihata yang balas memandangnya tak paham. "Akan kubuatkan apapun yang Kou-chin mau sampai Kou-chin tersenyum lagi. Nee?"
Furihata tertegun. Pandangannya sepersekian sekon meredup. Himuro menyikut rekan jangkungnya yang tidak juga paham situasi telah berubah.
"Okeee~ Strawberry Parfait dan Strawberry Cheese Cakes. Ah, sungguh kabar gembira. "Chelsea melahap stroberi yang diberikan Furihata padanya.
Nada dering ponsel tanda panggilan masuk berbunyi teredam. Chelsea bergegas mengambil ponselnya yang tersimpan di tas, menjauh dari semuanya. Ketika ia berkonversasi dengan lawan bicaranya, para pemuda yang melingkari meja bundar itu bercakap-cakap ringan tentang proyek royal wedding dan pekerjaan mereka. Tidak lama, ia selesai menelepon dan menyimpan ponselnya kembali ke tas. Raut wajahnya mendung.
"Semuanya, maaf. Aku harus kembali." Chelsea berpamitan, kekecewaan menyapu roman wajahnya.
"Yah, sayang sekali." Okamura paling berduka—terekspos eksplisit. Siapa tidak suka ada gadis cantik berkeliaran di toko mereka. Ia bosan melihat serta bergerombol dengan para pemuda pengidap gigantisme atau Himuro yang terlalu populer dan magnetis bagi kaum hawa.
"Ada apa?" tanya Liu.
Gadis bersurai auburn itu mendengus pelan. "Pekerjaan. Leone meneleponku, pekerjaanku menumpuk dan dia tidak bisa meng-cover untukku lagi."
"Tuntaskan dulu pekerjaanmu baru datang ke mari," sahut Akashi tenang.
Merengut sebal dengan bibir terlekuk poros gravitasi, gadis itu menggerutu, "Kau tahu aku bukan tipe orang yang melalaikan tugas, Akashi-kun. Aku sudah menyelesaikan jatahku."
"Aku tahu." Akashi menyesap espressonya—membiarkan perkataannya merambahkan suspense pada gestur pemuda yang duduk di sisinya yang makin hilang nafsu menyantap Strawberry Parfait, meletakkan cangkirnya di tatakan lantas berkata, "Mungkin seseorang lain dari divisimu melakukan kesalahan dan membuat yang lain harus ikut bertanggung-jawab karenanya."
"Bisa saja—" Airmukanya menjelma sehorror anak kecil penakut disuruh menonton film horror semalam suntuk, "—pasti Mine! Dia pasti mengerjaiku lagi." Ia menggeleng-gelengkan kepala.
Ponsel satu-satunya gadis di antara para pemuda lajang itu menyalak riuh. Chelsea membaca nama yang tertera di display ponsel. Memandang tegang layar telepon genggamnya. "Bos meneleponku. Bagaimana ini?"
"Berikan padaku." Akashi menjulurkan telapak tangannya yang terbuka
Chelsea tanpa berpikir dua kali menyerahkan ponselnya pada Akashi yang berdiri menjauh dari semuanya untuk menjawab panggilan masuk di ponsel gadis tersebut. Akashi tampak berbicara dengan siapapun "Bos" yang Chelsea sebut, sementara gadis yang bersangkutan berjinjit berusaha menyamakan tingginya dengan Akashi. Menempelkan telinganya ke ponselnya, tangan berjemari lentik dengan kuku dilapis kuteks berwarna selaras rambutnya itu bertumpu di bahu terbalut blazer hitam. Chelsea sedang menguping pembicaraan Akashi dengan bosnya.
Keduanya terlalu dekat.
Berempati ketika menemukan tatapan nanar sang advisor pernikahan, Himuro buru-buru duduk di kursi di hadapan Furihata. Menyodorkan gelas air putih untuk pemuda malang itu, seraya melontar tanya, "Furihata-kun, bagaimana kabar Taiga?"
Furihata terlihat tidak siap dengan pertanyaannya. Butuh waktu beberapa detik agak terlalu lama baginya untuk menjawab, tapi toh ia melontar jawaban perlahan. "Baik."
Di sela suapannya, pemuda yang bekerja di Seirin Wedding Organizer itu menguraikan segala hal tentang keadaan temannya pada sosok kakaknya. Sesekali pegawai Yosen lain turut dalam perbincangan menanyakan senior-seniornya. Setidaknya, Furihata teralihkan untuk beberapa saat—walau Himuro sama sekali tidak tertipu dengan sudut mata berpupil mungil itu mematut sepasang muda-mudi yang menjauh dari mereka.
"Aku berhutang padamu." Terdengar Chelsea berkata pada Akashi yang memutuskan sambungan telepon karena konversasi telah usai.
Tidak perlu melihat wajah sang emperor muda itu untuk mengetahui ia tertawa kecil nan sinis pada gadis kawan perjuangan hidupnya di Inggris. "Bukan masalah besar. Jangan lupa janjimu padaku."
"Siap, Yang Mulia. Setelah itu, impas, ya." Chelsea melantun nada formal dalam perkataannya sambil mengambil ponselnya yang diulurkan penolongnya. "Terima kasih, Akashi-kun," ucapnya tulus. Ada sesuatu yang berpendar di manik cantik merah kecoklatannya.
Akashi ringan menepuk puncak kepala bermahkotakan helai-helai halus auburn. Gestur yang membuat Furihata tergugu, terlalu familiar dengan bahasa tubuh sang emperor—tanda afeksi yang nyata. Ia menghunjam nanar parfait yang manis tertoksik hingga stroberi bahkan terkecap pahit, peduli setan dengan apapun yang Akashi lirihkan pada gadis tersebut.
Ketika keduanya kembali bergabung ke meja, Furihata berteguh hati menghabiskan Strawberry Parfait—demi Murasakibara yang bertepuk tangan kekanak-kanakan karena senang seakan melihat masterpiece-nya disantap begitu lahap.
"Pinch?" Liu melirik gadis penerima beasiswa dari salah satu universitas ternama.
Mengapitkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, nyengir lega. "Sudah terlewati. Aman."
"Kalau kau harus kembali ke kantor, berarti kau tidak jadi ikut ke tempat wedding catering?" tanya Himuro yang teringat tujuan kedatangan Chelsea ke café karena berjanjian dengan pemilik toko Rakuzan itu.
Bibir mungil terpoles lipstick natural ternganga, meluruhkan kesah kecewa. "Benar juga." Ia berlutut di dekat Furihata yang memusatkan konsentrasi menandaskan Strawberry Parfait. "Maaf, Furihata-kun."
Sendok yang berisi lelehan es krim dan sepotong kue tergantung di udara. Furihata tercengang, gagal paham. "Ke-kenapa minta maaf padaku, Chelsea-san?"
"Aku tidak bisa ikut kau dan Akashi-kun ke tempat wedding catering," sesal gadis itu yang melengakkan kepala hingga Furihata mendapati roman kekecewaa melipatgandakan sesak di hatinya.
Tentu saja, pikir Furihata getir. Mana ada pengantin wanita yang tidak bersedih ketika ia tidak bisa andil langsung mempreparasi pernikahannya. Mungkin dia adalah seorang wanita karir yang memiliki peran penting dalam pekerjaannya—karena itulah dibutuhkan rekan-rekan kerjanya, dan maka dari itu pula tak bisa menyiapkan sendiri pernikahan dengan Akashi.
Chelsea yang periang, manis, jahil, meminta maaf setulus itu padanya. Furihata menaruh sendoknya di gelas saji, menggeser sedikit tubuhnya seraya menggeleng sekilas.
"Tidak usah minta maaf. Aku mengerti." Senyum rikuh terpulas di bibir sang advisor pernikahan. Ada kalanya hanya salah satu pengantin yang bisa mempreparasi pernikahan, baru hal-hal krusial akan diurus bersama—berdasarkan pengalaman Furihata. "Aku akan memilihkan menu makanan terbaik, Chelsea-san."
Sejenak gadis dengan headset menutupi daun telinganya itu termenung. Manik fuschia-nya melembut. Ia mengangguk. "Tolong, ya, Furihata-kun."
Furihata salah tingkah. Sekian tahun berlalu, gadis cantik tetap adalah kelemahan utamanya. Lumrahi, dia masih lelaki normal—mengesampingkan masa lalunya rangkaian gugus atom di tubuhnya terkatoda pada seorang pemuda berambut semerah penghujung senja. "Kalau kau buru-buru kembali, aku bisa pergi sendiri ke sana."
"Maksudmu?" Penyuka lollipop itu memiringkan kepalanya.
"Akashi-sama bisa mengantarkan Chelsea-san," jawabnya enggan.
Chelsea mengerling Akashi yang balas menatapnya. Hanya gadis itu yang paham tipikal pandangan biner magenta sang pemuda yang disorotkan padanya. Ia bangkit berdiri, terkikik pelan. "Mauku juga begitu. Biar teman-temanku cemburu melihatku di antar akashi." Bahu mungil terlapis kemeja putih dan vest hitam terkedik ringan.
"Tapi, sayangnya, sebentar lagi jemputanku datang."
Bibir seseorang yang masih tersisa sedikit krim keju itu ternganga. Barulah mengangguk paham.
"Temani Akashi-kun memilih menu terbaik, ya. Kau tahu, dia tidak bisa dipercaya soal hal-hal—"
"—Chelsea."
Venom dalam suara dingin kawan sejawatnya justru meletupkan lagi tawa si gadis.
Chelsea berdiri di belakang Furihata, membiarkan pemuda itu terdongak untuk memandangnya—memetakan struktur wajah cantik itu dalam memorinya.
"Bilang padaku kalau Akashi-kun memperlakukanmu seperti personifikasi bidak catur. Terkadang karena terbiasa memerintah orang seolah dia penguasa jagat raya, dia jadi otoriter dan—"
"Tutup mulutmu. Chelsea, kuantar kau ke depan." Akashi menjarah pergelangan tangan gadis itu, menariknya—menggandengnya pergi.
"Semuanya, sampai jumpa lagi!" seruan riang gadis itu hilang ditelan pintu yang berdebam tertutup. Sayup-sayup protes pretentifnya yang dilayangkan pada Akashi terdengar sampai ke pantry.
Semuanya membalas ucapan Chelsea samar-samar. Furihata mengkhidmati impresi akan gadis manis pengulum lollipop itu. Tenggelam dalam diam, mengaprovasi bila Akashi menikahi Chelsea. Keduanya tampak serasi, benar-benar laiknya sejoli yang akan mengikrarkan sumpah sehidup-semati.
Sepeninggalnya Akashi keluar untuk mengantarkan Chelsea—mungkin sekalian menungguinya dijemput oleh rekan kerja, Furihata menjawab pertanyaan yang dicecarkan padanya oleh karyawan-karyawan Yosen. Seputar kontak pribadi yang bisa dihubungi, desain kue pernikahan berikut alas dan display mewahnya, model gelas saji dessert, jenis-jenis minuman di pesta nanti, negosiasi menu pencuci mulut dan dessert lain, jumlah pesanan, dan serba-serbi yang mendetail.
Furihata berjanji akan menghubungi Himuro—sebagai negosiator Yosen—untuk membahas lebih lanjut kontrak kerjasama dengan Seirin Wedding Organizer.
Tepat ketika Strawberry Parfait telah tandas tak bersisa, Akashi masuk kembali ke ruangan. Selintas melirik Furihata yang kembali kikuk karena presensinya—canggung meneguk air mineral.
"Siapa yang menjemput Sea-chin, Aka-chin?" Murasakibara menyingkirkan gelas dan piring kue dari hadapan Furihata, meyerahkannya pada Okamura—suruhan halus untuk membawakan peralatan makan kotor itu ke bak cuci.
"Akame." Akashi mengabaikan sumpah-serapah Okamura yang teruah pada si maniak maiubo. "Tadi dia membeli Pizza Napolitana, dan titip salam untukmu. Katanya, masakanmu selalu enak."
"Hoo … yokatta." Murasakibara tentu mengenal salah satu teman kerja Chelsea. Ingatannya menjentik sesosok lain rekan Chelsea yang amat menyukai masakannya. "Mine-chin mana?"
"Tidak ikut." Akashi menggulung lengan baju untuk mengecek arloji titan hitam yang tampak elegan melingkari pergelangan tangan kirinya, Furihata terpaku kaku menatapinya. "Sudah selesai, Kouki?"
Hanya mengangguk bisu, Furihata berdiri—berupaya tak lagi meliriki arloji yang sudah dilihatnya melingkari pergelangan tangan kiri Akashi sejak enam tahun lalu. Ia mengungkapkan terima kasih seraya membungkukkan badan untuk berpamitan pada para pegawai petinggi di yosen.
Akashi turut berpamitan, mengucapkan terima kasih karena Murasakibara bilang ia tidak perlu membayar sepeser pun untuk semua kudapan yang ditandaskan. Menitipkan kepercayaannya pada kawannya sejak sekolah menengah pertama untuk membuatkan kue pernikahan terbaik baginya dan pengantinnya.
Lampu besar galardo hitam metalik berkedap-kedip dua kali tatkala tombol unlock kunci dipijit. Furihata merasakan dirinya masuk lagi ke sangkar emas spesies langka, masuk, terisolir dari dunia luar. Memandangi indah dunia di puncak musim gugur dari balik jendela serupa pilar-pilar sangkar. Terbelit sabuk pengaman yang menghimpit dadanya mengurangi pasokan napasnya. Memimpikan menghirup udara suhu dingin musim gugur daripada deru hangat air conditioner.
Di dalam mobil sport mewah itu, pemandangan tepi jalan berlari berseliweran di layar kaca yang sekilas pandang bersih dari kotoran. Sang pengendara mengakomodasikan sempurrna indera pengelihatannya ke jalan—yang merentangkan jarak kian jauh dari bakery yang barusan mereka sambangi. Si penumpang menerawang pemandangan yang kini terkenang lagi dalam memorinya, dulu ia sering melewati jalan ini bersama orang di sampingnya ketika mengunjungi Yosen.
"Bagaimana Chelsea, menurutmu?"
Pertanyaan itu membuyarkan fokus pikiran yang melang-lang buana. Mengonsiderasi beberapa saat dalam gumam rendah yang panjang, Furihata tahu Akashi menanti jawabannya.
"Cantik." Furihata menjawab jujur. "Manis. Agak hiperaktif. Ceria. Jahil, sepertinya … uhm, menyenangkan. Dan baik."
Akashi mengerling pemuda yang tak mau memandangnya, namun dari refleksi di kaca jendela, mendapati Furihata tersenyum mengenang pertemuan pertamanya dengan Chelsea. "Kau menyukainya?"
"Siapa yang tidak akan suka pada—" Menyaingi kecepatan lari mesin motorik galardo hitam metalik, Furihata menolehkan kepala sembari ternganga memandangi Akashi—kengerian mempolusi mata serapuh ripuh daun kering musim gugur. "—a-apa?!"
"Apa kau suka padanya?" Pemuda yang akan menikah pada hari ulang tahunnya itu melirik eksplisit penumpangnya.
"Te-tentu saja—"
Akashi impuls menoleh pada Furihata, pandangan mereka bertemu. Pita suara yang memvokalisasi nada-nada vakum.
Napasnya tergemap dengan jantung berontak beringas di rongga dada—serasa nostalgia ketika Akashi menyelami lubuk hatinya melalui pelupuk mata. Dilematis bagi Furihata. Jawaban apa yang Akashi harapkan darinya? Karena: 1). Ya, Furihata menyukai Chelsea hanya sebatas kesan pertama. 2). Tidak, bukan makna suka yang afektif dari sisi romantisme.
Advisor pernikahan muda itu lari dari atensi Akashi, menyematkan pandangan ke jalanan.
"—y-ya, Chelsea-san sepertinya gadis yang baik."
"Kau tahu aku bertanya bukan dalam konteks suka yang kaujawab barusan, Kouki." Akashi kembali terkonsentrasi untuk menyetir. Sebuah mobil di jalan raya menyalip mobilnya. Tapi toh matanya mencuri pandangan pada sosok yang duduk di sisinya.
Furihata keki. Ini jelas sekeping persona Akashi yang tidak disukai olehnya. Jawaban ambigu tak tertolerir oleh sang emperor. Ia menghembuskan napas panjang yang selama ini tertahan, menghempaskan kepala ke tali sabuk pengaman yang mengekang tubuhnya.
"Tidak," jawab Furihata dalam volume suara merendah.
Dan dari refleksi kaca jendela pula Akashi mendapati awan sendu memendungi kelabu ekspresi Furihata. Berekshalasi lega seakan beban yang sedari tadi Furihata timpakan padanya kini bertransformasi seringan gulali, ia menghentikan konversasi dengan sebuah instruksi.
"Tunjukkan padaku jalan menuju tempat wedding catering langganan Seirin."
.
.
To be continue
.
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Glosarium:
Hikidemono: Suvenir pernikahan. Dalam pernikahan baik secara tradisional maupun modern, Jepang memiliki adat untuk memberikan suvenir. Biasanya ada dua. Yang pertama adalah hikidemono berupa kantung berisi Sujeo, dan barang-barang tertentu atau makanan. Berikutnya yaitu cindera mata memorable yang biasa merepresentasikan pasangan yang akan menikah, konsep pernikahan, atau juga merupakan permintaan dari calon pengantin.
Sujeo: Satu set sendok dan sumpit. Dalam adat pernikahan Jepang, Sujeo wajib diberikan oleh pihak pengantin pada tamu undangan. Sendok dan sumpit mewakili arti "alat untuk makan", dan "makan" sendiri adalah lambang "kemakmuran". Karena itulah Sujeo bisa juga mempresentasikan arti kemakmuran, dengan harapan tamu undangan yang datang ke resepsi maupun pesta pernikahan akan selalu memberkati kemakmuran sang pengantin.
.
.
Thanks Mbah Gugel. Karena saya pilihkan pernikahan Akashi temanya modern royal wedding, jadi lebih simple ketimbang adat tradisional pernikahan Jepang.
Untuk dear RnR yang non-login: terima kasih sudah RnR fic saya dan memberikan reviews. Maaf nggak bisa saya balas satu-satu, tapi saya sungguh berterimakasih. Kalau mau, silakan hampiri saya di sosmed (Facebook) dan ngobrol tentang fic ini (dan fic lainnya juga). *ojigi* #peluksemuanya
Entah ini ada yang notis atau nggak, fic ini fast-pace di bagian dialog, malah minim deskripsi. Selain karena otak saya terinvasi kuliah dsb, dan plots-nya masih samar meski hints udah disisipkan sana-sini. Jadi kalau RnR sekalian merasa fic ini kayak lost-touch ala LoL, itu benar. Nggak salah. Gaya nulisnya memang berbeda. *pias melirik RL*
Saya bukan cuma stuck, tapi WB. Karena itu, maaf fic lain belum bisa update. *sungkem dalem-dalem*
.
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
