Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D
.
Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.
Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, twisted, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.
Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)
Italic: flashback
.
Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)
.
Have a nice read!
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Jari-jemarinya cekatan memilah-milih berlembar-lembar foto yang disiram cahaya matahari berserakan di atas meja taman musim panas. Matanya berbinar-binar menatapi setiap permukaan helai-helai potret yang melukisi kebersamaan. Dipenuhi dirinya dan satu-satunya entitas di dunia ini yang menyayanginya tanpa pamrih.
Seberkas foto diraihnya, ditempelkan pada halaman album yang terbuka. Kemudian ia menggapai bolpoin, menuliskan waktu kapan foto tersebut diambil, dan uraian singkat momen itu.
Ciuman halus mendarat di ubun-ubunnya. Ia mendongak. Senyum menyapa matanya, dan ditemukannya biner kembar magenta monokrom hangat memandangnya.
"Maaf membuatmu lama menunggu, Kouki."
Yang dipanggil dengan nama kecilnya menahan sudut-sudut bibir yang berkedut akan kelegaan. "Tidak biasanya kau terlambat."
"Terjebak macet." Pemuda yang semula menyampirkan blazer putih berlogo salah satu sekolah terkemuka di sektor Kyoto itu kini meletakkannya di meja yang tidak dihamburi berlembar-lembar foto.
"Aku baru tahu kereta juga bisa terjebak macet." Manik berpupil mungil itu berotasi sekali, nyala menggoda di matanya.
"Sebelum naik kereta." Individu itu melonggarkan dasi hitamnya dan membuka kancing kerah kemeja birunya. "Aku turun di tengah jalan dari bus sekolah, dan lari ke stasiun agar tidak ketinggalan kereta."
Sunyi sesaat.
"Maaf, Sei." Wajah tanpa keistimewaan berarti itu menyiratkan sesal, ia meletakkan klipingnya. Buru-buru meraih botol minumnya yang masih penuh terisi pada pemuda yang mendudukkan diri di sampingnya.
Tawa kecil nan rendah, nada-nada kemenangan. Siapa suruh berpretensi merajuk karena ia tidak datang tepat waktu. Ia mengambil botol berisi air mineral yang disodorkan padanya, menenggaknya. Ada beberpa bulir bergulir dari sudut bibir, dan pemuda yang menunggunya lebih dulu itu refleks menyeka butir-butir air yang turun mengalir ke dagu dan menggarisi rahangnya.
Tangannya mengacak sekilas benang-benang kecoklatan yang hangat—mungkin karena sudah agak lama diterpa terik matahari. "Maaf diterima." Dan cengiran itu terbit memupus sendu yang sempat singgah. "Sudah mengerjakan tugasmu?"
"Ah." Dari telisikan pupil yang memungil, dan tangan terlayang menggaruk belakang kepala tak gatal, ia tahu jawabannya. "Belum."
Helaan napas. Sebelah matanya tertutup, dan satu mata lagi menyempitkan pandangan fokus hanya pada pemuda yang kini meringis salah tingkah.
"Aku tidak paham tugas-tugas hari ini." Furihata takut-takut mengaku.
Akashi menyingkirkan album foto dan merapikan foto-foto yang berserakan nyaris memenuhi meja taman tersebut. "Selesaikan dulu tugasmu. Sini aku bantu."
Furihata mendesah kecewa tapi menurut akan titah absolut itu. Biar bagaimanapun, ia tahu Akashi pasti sudah menyelesaikan tugasnya dalam perjalanan menuju ke Tokyo untuk meluangkan banyak waktu bersamanya. Karena itulah ia tidak membantah, mengeluarkan buku-bukunya dan alat tulis dari tas. Membuka buku catatan dan buku teks pelajarannya.
Kekasihnya sejak setahun lalu itu membaca kedua buku catatannya. "Ini manajemen." Akashi menujuk satu buku, lalu memosi buku satunya lagi. "Dan ini tentang marketing." Kemudian ia menatap kekasihnya. "Mudah."
Furihata bersungut muram. "Kata seseorang yang bisa segalanya."
Akashi menyeringai. "Aku terbiasa dengan perkara sialan ini, Otou-sama menjejalkannya padaku sejak aku baru masuk Teikou."
Furihata tahu Akashi memang bertanggung jawab atas anak cabang-cabang korporasi keluarganya yang serimbun semak belukar menguasai delapan puluh persen ranah ekonomi tanah air mereka.
Menggerung murung. "Aku masih bisa membuat simulasi rangka proyek dan rancangan anggaran dalam proses tender. Tapi bagian Anwizing dan negosiasi sebelum pembuatan proyek kerja yang nanti akan dipresentasikan, aku tidak bisa." Furihata menopangkan siku ke meja, dan mengurut kening yang pening.
Akashi turut bertopang dagu, mengetukkan jarinya ke buku catatan kekasihnya yang terbuka. "Kau pernah dengar pepatah , 'when we do the tender, do it tenderly'?"
Furihata menggeleng. "Sensei tidak menyebutkan pepatah itu."
"Tentu saja tidak." Akashi mengacak rambut sewarna kayu manis itu, dan yang diacak rambutnya merengut sedikit lalu menjauh. Ia tersenyum tipis. "Biasanya itu populer hanya di kalangan Stakeholder."
Furihata beringsut meretas rentangan jarak dari pemuda yang kini tengah mengawasinya belajar. Membaca catatannya mengenai stakeholder. Barulah manggut-manggut paham. "Dan apa hubungannya pepatah itu dengan praktik Aanjwizing atau negosiasi?"
"Tugasmu ini memosisikan kau sebagai Manajer." Akashi menunjuk selarik kalimat dari sebuah soal yang dituliskan Furihata di buku catatannya.
"E-eh … kukira aku ada dalam posisi vendor." Furihata mengangguk lagi, baru mengerti. Beruntung Akashi mengoreksi dirinya yang keliru dalam memahami tugas dari gurunya.
"Tentu saja tidak mungkin." Akashi memosi kalimat lain di buku tugas tambatan hatinya. "Vendor memang termasuk stakeholder, tapi negosiasi dengan vendor itu dilakukan jika bisa sebelum Aanjwizing. Karena kau harus menyetorkan dokumen dulu ke pihak panitia dan sudah fiksasi kesepakatan kerja dengan vendor sebelum kau berhadapan dengan pelelang tender."
"Uhm … begitu." Melipat kedua lengan di atas meja, ia nyengir lebar untuk menyimak eksplanasi kekasihnya. "Tolong ajari aku, Sei."
"Saat menjadi seorang representator, pertama kau harus yakin bahwa proposalmu sudah benar sesuai dengan tender yang diajukan pelelang. Sebelum ikut Aanjwizing, ada baiknya kau memelajari kemampuan kompetitormu. Ketika nanti kau maju mempresentasikan proposalmu, kau bisa menekankan keunggulan dari apa yang kautawarkan dalam kerjasama proyek itu dan meminimalisir mungkin kelemahanmu dari competitor lainnya. Itu berarti, kau harus membuat pelelang tertarik pada apa yang kautawarkan, dan buat dia berpikir bahwa proyekmu itu paling mendatangkan profit baginya."
Pemuda yang tadi sibuk membuat kliping kini teralih mencatat apa yang dituturkan tutor dadakannya.
"Bagaimana cara aku membuat mereka yakin bahwa yang kutawarkan itu yang terbaik, Sei?"
Akashi melayangkan tangannya untuk menjumput ceceran helai anakan rambut di belakang telinga Furihata. Memainkannya dalam pilinan.
"Kau harus bicara terus terang pada mereka, dan sampaikan apa adanya, Kouki. Kemampuanmu, dan kekuranganmu. Jangan rendahkan dirimu, tapi juga jangan melebih-lebihkan kemampuanmu. Jangan pernah menipu—terutama soal Invoicing, bila kau menipu agar menang tender, di lain waktu kau sendiri yang bisa akan tersandung.
"Lakukan dengan tenang, dan tanpa tergesa-gesa. Itu gestur utama yang membuat pelelang dalam alam bawah sadarnya akan berpikir, bahwa kau adalah manajer yang dapat diandalkan serta dapat menanggulangi resiko apapun yang sekiranya akan muncul dalam pengerjaan proyek nanti."
Furihata bergumam, sebelah alisnya masih terangkat dalam lekuk ketidakpahaman. "Kalau ternyata setelah itu pun pihak pelelang masih tidak mau padahal aku sudah berjuang meyakinkan mereka?" Ia menangkap jemari nakal Akashi, menyatukan jari-jari mereka dalam kaitan—genggaman.
Akashi balas menggenggamnya. Sudut-sudut bibir mengulas senyum kecil. "Triknya, jangan buat mereka berpikir bahwa kau sebegitu frustasi menginginkan tender itu. Putar balik situasinya, buatlah mereka berpikir bahwa jika mereka tidak menjalin kontrak bersamamu, mereka akan sangat merugi. Caranya, kau harus terlihat netral dan biasa saja, berterimakasih dengan apresiasi tinggi bila proposalmu diaprovasi, dan tetap seperti sedia kala meski proposalmu ditolak. Buatlah seolah pelelang yang membutuhkan manajer sepertimu—dan yang mereka cari adalah kau, bukan sebaliknya."
Sedepa jeda. Akashi mengecup punggung tangan dengan jari-jari yang selalu terjalin pas dengan jemarinya.
"Seperti kau." Furihata tersenyum usai mencermati penjelasan Akashi baik-baik. "Kau melakukannya sesuai dengan pepatah 'when we do the tender, do it tenderly'."
"Dalam pandanganku, ketenangan akan mengintimidasi lawan. Semua takut bila ada kompetitor yang tidak gentar." Akashi tertawa rendah, antagonis khasnya.
"Terdengar licik." Furihata turut tertawa. Kakinya yang semula menapak tanah, terayun-ayun riang karena Akashi tertawa mendengar tanggapannya.
"Bukan licik, tapi cerdik," ralat Akashi tenang.
"Bisa jadi." Furihata ringan mengangkat bahu. Mencatat hal-hal penting dari yang Akashi kemukakan, lalu merapikan buku catatannya. Melirik Akashi, kemudian mendaratkan ciuman halus di pipinya. Paras memanas tatkala berbisik, "Te-terima kasih … su-sudah membantuku."
Akashi menyelinapkan lengan melingkari pinggang Furihata yang kembali bersukacita menggelar aktifitasnya sampai sebelum pemuda yang bersekolah di Rakuzan itu tiba. Manik mata merah brilian itu digelayuti legam yang tidak Furihata ketahui, Akashi menumpukan dagu di bahu kekasihnya sembari mengawasinya menuliskan waktu dan kenangan tentang foto tersebut.
Ada ketika mereka piknik di peternakan dan perkebunan di tepi Kyoto.
Ketika mereka mampir di sebuah café—yang Furihata mendeklarasikan dia suka strawberry cheese cakes-nya.
Ada lagi suatu waktu mereka bermain di mall, memainkan sega, dilihatnya mereka berfoto selfie dengan senjata di tangan—tentu saja Akashi yang menang dalam segala permainan.
Ada ketika dirinya sedang bermain biola. Foto lain lagi yang ia ambil saat Furihata terlelap dengan air liur meleleh di sudut bibir di dekat perapian paviliunnya di Kyoto.
Foto Akashi sedang serius bermain catur sendiri karena setahunya kekasihnya sibuk sendiri mendesain sebuah arbor—tidak sadar Furihata diam-diam memfotonya.
Akashi menahan senyum tatkala melihat Furihata hendak menyisihkan foto yang diambil olehnya, dalam foto itu memperlihatkan keduanya sedang di taman bermain, menampakkan Furihata yang menggelepar setelah lelah muntah-muntah naik roller-coaster dan beberapa wahana ekstrim berturut-turut.
Pula juga foto-foto mereka dengan teman-teman. Dan sanak keluarga Furihata—hanya bibinya saja, di sisi Akashi. Ketiganya sudah seperti keluarga.
"Kenapa kau suka sekali memfotoku?" tanya Akashi, pasca menarik konklusi bahwa sebagian besar sosok yang mendominasi objekan fotografi Furihata adalah dirinya.
"Kau fotogenik." Jawaban itu singkat saja.
Akashi menghela napas lagi. Kalau sudah sibuk, kekasihnya bisa melupakan apa saja. Akashi saja terlupakan, apalagi dirinya sendiri. Karena itulah ia mengecup perpotongan lehernya, menggigitnya pelan-pelan—cara halus mencari perhatian.
Furihata konstan mengabaikan.
"Aku tidak suka foto."
Pernyataan itu absolute memecah fokus Furihata, terlebih karena nada yang Akashi gunakan terlalu lugas.
"Kenapa?" Furihata tampak kecewa.
"Ini seperti kenangan terakhir." Jawaban Akashi mengapung di udara. Matanya balas menatap Furihata—yang berusaha mencari tahu penyebab Akashi tak suka dengan foto.
"Ini untuk mengabadikan memori, Sei." Sanggahan itu tak mempan bagi sang emperor muda.
"Kau tidak butuh memori, aku selalu di sini bersamamu, Kouki."
"Tapi—"
Furihata tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Akashi menerjangnya dalam ciuman panas yang menyulutkan gairah, basah, dan penuh keputusasaaan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Furihata mengalungkan tangannya di leher Akashi—memeluknya erat-erat.
Ketika gigi-gigi Akashi menggigit bibirnya, menghisapnya, melumatnya lembut dan Furihata mengeluh dengan menjambak rambut merah melampiaskan hasrat … ia baru teringat suatu sebab yang mungkin adalah alasan Akashi tidak suka foto.
Merasa bersalah, Furihata mencium kekasihnya lebih lembut, membelai sayang punggung tegap itu. Dan ia memekik ketika Akashi mendorongnya jatuh terlentang ke bangku,terguling ke bawah, menggelinding di atas rerumputan—masih dengan bibir saling meraup tak mau lepas satu sama lain.
Akashi mendekap Furihata, menggulingkan mereka berdua menembus gemeresak semak-semak ketika ada orang lain masuk ke taman. Menatap hampa pijar mata kolong langit yang teduh memandangnya, dan Akashi menurunkan kepalanya, mencium lagi bibir yang selalu membuatnya mabuk kepayang—membuatnya lupa apapun yang terpatri mati di memorinya.
Desperasi ini hanya mereka yang mengerti.
.
#~**~#
Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",
Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,
.
.
Ienakatta Omoi wo
(My feelings that I kept from you)
.
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
.
.
Calon pengantin pria dan eksekutor rencana pernikahannya itu menyambangi perusahaan catering ternama, sejalur dengan distrik area tempat Yosen berada kendati terentang jarak yang memangkas waktu satu jam perjalanan—di pinggir wilayah jantung kota kosmopolitan. Ditilik dari betapa kantor utama perusahaan tersebut diapit oleh beberapa toko atau resto ternama dari pelbagai penjuru dunia.
Kedatangan mobil mewah yang tak lazim menginvasi pelataran parkir kantor catering kepercayaan Seirin itu merampas perhatian bagai kumbang terjerat pesona adiktif nektar. Seketika terbelalak syok ketika pengendaranya adalah seorang Akashi Seijuurou—siapa pula tak tahu figur publik yang santer dielu-elukan media cetak dan elektronik.
Bukan itu bagian yang mengejutkan, melainkan ketika seorang pemuda yang benar-benar tidak terlihat layak menumpangi mobil mentereng itu memandu sang pengendara masuk ke dalam gedung seperti chihuahua turun dari kereta kencana. Maka tak mengherankan yang menyambut adalah top manajer Seiho sendiri.
Tsutomu Iwamura dengan gaya profesionalnya mengayomi tamu dengan baik, sudah tentu mengetahui perihal kedatangan dua klien istimewa ini. Namun ia pamit undur diri karena tak bisa melayani relasi bisnis terpercayanya, Seirin, ada jajaran tugas yang harus dituntaskan.
Memohon maaf, sang top manajer menuntut Tomoki Tsugawa yang supel dan komunikatif. Terlebih lagi, Tsugawa sudah mengenal Furihata karena mereka sebaya dan ini bukan pertama kalinya dua pemuda itu bekerja sama, eksekusi proyek secara kooperatif antara Seirin dan Seiho terjalin berkat keduanya.
Tsugawa yang sudah dikonfirmasi Furihata akan kedatangannya dengan sang klien menyampaikan bahwa menu-menu paket catering yang cocok untuk royal wedding telah disiapkan. Ia mengajak Furihata dan Akashi untuk mengikutinya ke ruang uji coba. Berjalan berdua di depan—meninggalkan Akashi sendiri di belakang memantau keduanya, pemuda plontos yang acapkali bersitegang dengan Kagami itu berbisik-bisik.
"Kenapa kau tidak bilang klienmu Akashi Seijuurou?"
"E-eeh … apakah itu penting?" Furihata balas berbisik.
Tsugawa menyikutnya. Furihata mengaduh karena pinggangnya sakit ditikam sikut tajam si pemuda imitasi Kawahara itu. "Tentu saja! Kau menang tender darinya untuk menyiapkan royal wedding-nya, eh?"
"Err, tidak." Furihata mengusap-usap pinggangnya yang ngilu. "Dia sendiri yang memintaku."
"Benarkah?!" Mata sang juru masak itu membulat serupa mata gurita. "Kenapa dia tidak minta Kuroko saja? Sebagai sesama anggota Kiseki no Sedai."
Furihata menggumam, "Entahlah." Ia menatapi lantai bersih berkilau yang dipijakinya menuju ruang uji coba.
Tsugawa merangkul partner kerjanya. Terkekeh maniak khas. "Kalau dapat profit besar, bagi-bagi padaku, ya."
Furihata mendengus geli. "Akan kuberitahu pada Iwamura-san bila ada profit lebih."
"Woy, jangan! Beritahu aku."
"Ah. Aku curiga kau akan melakukan penggelapan dana." Furihata mengerucutkan bibir. Menggeser lengannya sebagai tameng sebelum Tsugawa menyikutnya lagi lebih keras.
"Enak saja!" Tsugawa menempeleng kepala salah satu advisor muda Seirin tersebut. "Aku ini suci, tahu!"
"Uhum. Aku percaya kau lebih suci dari lantai berkilau rumah sakit yang berbau karbol memuakkan itu." Furihata membalas perlakuan pemuda tersebut dengan merangkul balik Tsugawa, memiting lehernya sampai tercekik. Tertawa ketika Tsugawa meremas keras-keras bahunya karena megap-megap tak bisa bernapas.
"K-kau me-menghinaku—a-akh! Ampun, le-lepaskan!" pinta pemuda semirip biksu di kuil-kuil itu saat didesak sesak napas.
Ketika Furihata melepaskannya, Tsugawa memaki bahwa komparasi lantai bersih bersinar rumah sakit yang sayangnya berbau karbol menyengat itu terlalu pas dengan intensi keladinya. Furihata terlalu tajam untuk seseorang bertampang inosen yang seharusnya mudah dikelabui.
Sesampainya di ruang uji coba yang ternyata adalah dapur koki-koki ternama Seiho—dapur yang homey dengan seperangkat kitchen-set bersih berkilat, Tsugawa menggiring kliennya ke sebuah meja panjang yang mendisplay dalam lemari kaca penghangat makanan yang disiapkan sebagai tester untuk Furihata dan Akashi. Ia absen sesaat mengambilkan piring kecil, sendok, sumpit, dan tisu.
Furihata membungkukkan tubuhnya, mengamati satu kudapan yang terdiri atas appetizer, main-course, dan dessert dalam beberapa paket catering untuk royal wedding. Berdecak kagum menikmati penampilan elegan nan menggiurkan dari sajian estetik dari pelbagai jenis racikan kosmopolitan. Inilah hebatnya Seiho, mereka tidak terkekang hanya menyajikan menu konvensional, tapi juga internasional. Bahkan mereka mampu mengombinasikan makanan tradisional hingga internasional dari berbagai penjuru dunia.
Akashi hanya berjalan di sisi Furihata. Lebih atraktif pijar di mata dipercik warna almond itu yang kini agak bercahaya—kendati tidak seterang lampu-lampu di ruangan uji coba ini, kilatan terimpresi dan decak kagum yang lugu—seperti dulu.
Furihata mengambil ponselnya di saku baju. Mengambil foto dari setiap makanan.
"Untuk apa kau memfotonya?"
Pertanyaan Akashi itu membekukan gerakan Furihata yang baru mengambil foto sepaket menu catering. Merilekskan diri dengan mengambil satu langkah lebih lebar—meretas jarak dari Akashi, Furihata merepetisi aksinya yang terinterupsi.
"Preferensi." Furihata melirih, agak risih ketika Akashi memangkas bentangan jarak mereka. Ia gigih melangkah lagi, memfoto setiap menu lebih cepat.
"Mungkin lain waktu saya akan mendapatkan klien lagi yang cukup berada, saya bisa membuat referensi menu agar bisa merekomendasikan yang terbaik untuk mereka."
Tepian bibir sang klien advisor tersebut terlengkung menyaingi poros gravitasi. Teringat kliping tempat pernikahan terbaik dan juga desain dekorasi altar yang memukau, dan dahulu sekali ia tahu Furihata lumayan rajin membuat kliping atau semacamnya demi keperluan kuliah sekaligus hobi personalnya. Siapa sangka kegiatan tersebut menjadikannya seorang advisor pernikahan yang rekomendatif dan begitu baik?
Hobi personal yang berbanding terbalik dari opini pribadinya—perspektif emperor.
Akashi mengakomodasikan sempurna lensa magentanya pada Furihata. "Kau biasa datang ke mari."
Furihata bergumam afirmatif. Menggeleng-gelengkan kepala, terpesona memandangi sajian yang dinamai "Sakura Tujuh Warna". Tertawa kecil pada diri sendiri, teringat Kiseki no Sedai.
"Kau terlihat amat bersahabat dengan pegawai Iwamura-san."
Cetusan itu menguapkan tawa Furihata. Ia melirik ragu pada Akashi selintas, kembali menyibukkan diri memfoto satu per satu makanan di lemari penghangat makanan. Opsi tidak menjawab dipilih olehnya.
"Kau juga dekat dengan Kasamatsu-san."
Kali ini bulir keringat dingin menyembul di kening terhambur helai-helai coklat yang mencuat agak tak beraturan. Apa-apaan nada akusatif dalam perkataan Akashi yang membuat Furihata merasa defensif?
"Anda … uhm … terlihat amat bersahabat dengan Kiseki no Sedai."
Akashi mengangkat sebelah alis. Tentu saja ia dekat—karena memang nyata adanya ikatan persahabatan itu. Mereka sesama alumnus sekolah menengah pertama Teikou dan saling berkompetisi di liga olimpiade akademis tiga tahun berturut-turut di sekolah menengah atas.
"Anda juga … benar-benar dekat dengan Chelsea-san."
Hari cerah sebelum badai datang mulai menampakkan rupa aslinya, dikabuti bergulung-gulung awan abu-abu akan emosi dengan percikkan ombak yang pasang bergelombang.
Beruntung matahari masih timbul tepat sebelum guntur menyambar bentrokan awan-awan kehitaman mengabuti buih-buih riuh gejolak ombak dan gemeresak angin polos menyaput semua tanpa memahami sirkumstansi genting yang terjadi.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Tsugawa tanpa prasangka datang begitu saja membawa nampan berisikan peralatan makan. Memberikannya pada Akashi dan Furihata yang bungkam untuk duduk di meja berbentuk persegi empat berbahan sintetis keras dan padat. Karyawan muda potensial Seiho itu membuka lemari penghangat serupa etalase mini dengan lampu sorot meradiasikan kalor yang menghangatkan makanan.
Koki muda itu juga sibuk berceloteh mengeksplanasi nama makanan dan komposisi kudapan tersebut sembari bolak-balik dari meja ke displayer berpaket-paket catering kebanggaan Seiho.
Akashi lekat menatapi suatu main-course yang tadi ditatapi Furihata, Sakura Tujuh Warna. Menyerupai santapan khas Korea yang artistik dari permainan warna dan penataan apik, tujuh jenis makanan berbeda tujuh warna di tata dalam suatu wadah berbentuk donat—yang di tengahnya adalah ushiojiru berkuah sejernih mata air pegunungan.
Furihata menggeserkan tatakan kecil sekaligus sendok agar Akashi mencicipinya. Lirih berkomentar kudapan itu pasti menggugah selera, dan gerungan yang Akashi dengar bahwa ini mengingatkannya seperti Kiseki no Sedai.
Akashi menyahut bahawa ia menyetujui Furihata seraya meracikkan makanan, menggunakan sumpit menjumput ketujuh jenis makanan tersebut.
Komposisi anomali jadi kombinasi menakjubkan. Terdiri atas serutan paprika merah, suwiran rapi daging sapi yang sudah di-marinate dengan saus uster, kupasan halus kulit lemon yang menyehatkan, potongan sebesar batang korek api paprika hijau, cacahan cumi-cumi yang anehnya berwarna biru dengan citarasa kari persis seperti menu andalan terfonemal restoran Blue Thai Curry asal Thailand di Tokyo, serat-serat nila blue cheese, serta selembar kubis ungu. Disiram dengan sesendok ushiojiru dalam satu cawan kecil.
Menyumpit ayakan makanan dalan cawan, Akashi mendekatkan cawan ke bibir pemuda yang seharian ini bersama dengannya seraya mengangkat satu suapan. Furihata berjengit, berkedip-kedip bingung. Alisnya terkerut dalam, pelupuk mata berkedut takut.
"A-ano—" Furihata menghindari mata merah brillian yang bisa jadi akan selalu menyandera dirinya dalam kesengsaraan. "—Tsu-Tsugawa-san—"
"Dia masih sibuk." Akashi memosi poin kenyataan Tsugawa memang tengah memuji kelezatan semangkuk Suimono masterpiece masakannya—tidak memedulikan kedua kliennya. Mendekatkan sumpit ke bibir yang terkatup.
"Kau bilang kau akan memilihkan menu makanan terbaik. Jadi, cobalah ini."
Aku bisa melakukannya sendiri!—sehiperaktif apapun nuraninya menjeritkan komplain, Furihata terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Bibirnya akhirnya terbuka, membiarkan Akashi menyuapinya dengan tangannya berkeringat dingin meremas keras-keras fabrik celananya.
Furihata mengunyah makanan, merasakan perpaduan rasa yang eksplosif di indera pencecapnya—atau ada kepak sesemarak kembang api meledaki dasar perutnya.
Mematut Akashi yang turut mencicipi masakan itu—masih dengan sumpit yang sama dan Furihata tak tahu kenapa ia merasa perlu merutuki sumpit tersebut, sesaat menyelami mata merah yang menatapnya dengan gelimang ekspetatif—memaut hatinya sekeras apapun ia membentengi diri.
"Aku—ma-maaf … saya tahu masih ada beberapa main-course yang belum dicicipi." Furihata lagi-lagi jadi yang pertama memutuskan tautan tatapan. "Tapi saya rasa Sakura Tujuh Warna akan jadi highlight maincourse di pernikahan Anda."
Nihil respons dari sang klien, Furihata mengerling ragu. Akashi tengah memandangnya, ada riak dari ekspresi monotonis wajahnya yang hanya terlihat dari mata merahnya.
'Kau suka?'
Furihata menelisik derik emosi itu, dan pemahaman menyapu benaknya.
"Sa-saya … suka."
Bibir yang mengurva senyum tipis itu atas jawabannya menyebabkan Furihata tergemap.
"Kita pilih ini." Akashi mengetukkan sumpit ke cawan kecil itu. "Pilihkan juga untuk pencuci mulut dan hidangan penutup, Kouki."
Furihata beranjak menghampiri Tsugawa untuk menyampaikan keputusan yang telah mencapai mufakat. Ia tidak kembali ke sisi Akashi lantaran memutuskan untuk mencicipi langsung di sana saja. Alasan utama karena Akashi jelas memercayakan sepenuhnya urusan menu catering pada Furihata, alasan tersembunyinya adalah karena Furihata ingin bertindak leluasa tanpa tekanan mental sementara atensi Akashi padanya hanya membatasi ruang geraknya.
Pemuda yang akan melepas masa lajangnya itu pada hari ulang tahunnya memerhatikan anomali dalam hidupnya. Alis coklat terangkat, dahi berkerut, mulutnya menggiling kudapan satu per satu. Lucu sekaligus aneh, makanan itu bahkan bisa menyulut senyum sumringah yang kini selalu mati ketika Akashi ada di hadapannya.
Hidangan yang disantapnya menghambar. Kejadian yang terhampar—dan ia tahu sudah tergelar—tak seharusnya membuatnya tertampar. Ini pilihan terbaiknya—dan Akashi berusaha tegar.
"A-ano…"
Akashi memfokuskan atensi pada pemanggilnya. Mulut itu terbuka sedikit, terkatup, seperti ikan terdampar di pinggir pasir atau manusia yang menyeruak ke permukaan kenyataan. "Ada apa, Kouki?"
"U-uhm—" Furihata tak berani bertemu pandang, ia berjuang memikirkan Tsugawa berambut bob atau kribo alih-alih mengafirmasi Akashi memang sedang memandanginya. "—bisa tolong ikut saya sebentar? Ada beberapa menu yang sudah saya pilih, tapi saya butuh aprovasi untuk menjadikannya menu catering di pernikahan Anda."
Akashi meletakkan sumpit. Beranjak dengan matanya menyorotkan instruksi pada Furihata agar memandunya. Furihata memunggunginya—lagi, ke display makanan yang telah diletakkan ke atas lemari penghangat makanan. Akashi mengambil sumpit yang disediakan Tsugawa, mencicipi satu per satu makanan—tak menghiraukan sunyi mematikan. Meneliti satu per satu perfoma sajian yang menggoda nafsu makan.
Tsugawa mencatat menu-menu yang disebut Akashi, manggut-manggut menurut dari pesanan yang kliennya ajukan. Dilihatnya Furihata berkhianat—meninggalkannya berdua saja dengan Akashi, berlalu ke konter yang menyediakan dispenser sembari mengisi dua gelas air dengan air hangat.
"Berapa porsi yang ingin Anda pesan, Akashi-sama?" Tsugawa sadar dirinya berkeringat dingin melihat Furihata menaruh dua gelas di meja seraya mendudukkan diri—jelas tidak berniat membantunya menghadapi Akashi.
"Belum pasti. Perkiraanku sekitar seribu sampai dua ribu porsi." Akashi merunuti arah pandang Tsugawa—Furihata duduk meneguk airnya dan susah payah tak menghiraukan perhatian yang tertumpah padanya.
"Berarti dua kali lipat, ya?" Tsugawa terbelalak mendengar porsi pesanan. Benar-benar royal wedding. Ini kabar gembira—dan ia harus segera menginformasikan seluruh petinggi Seiho.
"Begitulah." Akashi membuang tisu yang tadi dipakainya untuk membersihkan bibir dari noda makanan ke tempat sampah terdekat. Melangkah meninggalkan Tsugawa yang matanya terjelma hijau imajiner bersimbol mata uang dollar dengan otak mendentingkan suara nyaring lemari kasir terbuka.
"Nanti akan kuberitahu Kouki jumlah undangan, baru buat makanan dua kali lipat dari jumlah orang yang hadir di pernikahanku nanti."
Furihata menaruh gelasnya ketika Akashi menghampirinya dan meraih segelas air hangat yang disiapkan manajer pernikahan tersebut untuknya.
"Sudah selesai?" Furihata berupaya mengagumi kitchen-set para koki professional Seiho. "Ada lagi yang harus dilakukan?"
"Sudah. Detail apapun yang Seiho butuhkan, akan diberitahukan padamu untuk diinformasikan padaku. Akan kujawab melalui kau." Akashi tak mengindahkan gelagat gelisah Furihata yang duduk di kursi, menaruh gelas ke meja dengan suara bergema seruangan. Ia beranjak pergi.
"Ayo kita pulang, Kouki."
Furihata menatapi punggung tegap itu—yang entah kenapa serasa takkan terjangkau lagi olehnya, ketika Tsugawa mendekat.
"Oke, nanti aku terima detail orders darimu, Furihata. Nomor ponselmu masih sama, 'kan?"
"Iya." Pemuda itu memandang Tsugawa, menghela napas—merasa lega. Tsugawa tak punya daya apapun yang dapat menyesakkan dirinya. Dan ia luput menyadari Akashi menghentikan langkah, mata magenta agak terbeliar mendengar konversai mereka. "Yang kuberikan padamu seminggu lalu."
"Oh, untuk yang seminggu lalu, ya? Omong-omong, itu kuserahkan pada Kasuga-san." Tsugawara memiringkan kepala sambil mengelus dagu. Dia mengesah kecewa. "Sayang sekali, kalau begitu Kasamatsu dan kau akan segera—"
"A-ah!" Furihata menyabet tangan Tsugawa yang semula membelai rambut halus di dagu. Menjabatnya keras-keras. "Pokoknya, mohon kerjasamanya lagi, oke? Aku pulang dulu. Sampai nanti."
Pemuda yang memilihkan semua menu catering itu salah tingkah saat akhirnya menyadari Akashi tengah mengawasinya dengan roman ekspresi tak erbaca. Sel-sel otaknya mendidih, histeris mencari solusi agar konversasi apapun nanti di mobil dengan Akashi tidak akan lagi menjadi pembicaraan mati. Atau hal lain yang amat brilian, ia bisa kabur—
"Ayo, Kouki."
—ukh, lupakan. Mendelik pada Tsugawa yang melongo tak mengerti, Furihata diderik mimik setengah hati meratapi nasib, mengekori Akashi keluar dari gedung tersebut.
Tidak memperbaiki suasana, di luar langit digelayuti manjanya awan-awan gembul kelabu. Helaan napasnya terevaporasi pada temperatur dingin udara yang menyebabkan dingin menggigil hingga ngilu menusuk-nusuk tulang. Furihata menyerah akan resolusi untuk kabur dari Akashi, ia memilih menghadapi—apapun resikonya nanti. Lagipula ia tidak mau mati kedinginan.
Akashi segera menyalakan air conditioner yang disetel ke level penghangat. Memindai sekilas Furihata yang giginya bergemelutuk sembari memasang sabuk pengaman, lantas meringkuk di kursi, menggosok-gosokan kedua telapak tangan mencari kehangatan. Akashi hanya menatap, kemudian menghela udara, menyalakan mesin mobil. Sesaat memanaskan mesin, barulah menyetirnya meninggalkan destinasi terakhir dari rencana mereka.
Furihata melirik takut-takut Akashi dari kaca spion. Mengenal karakteristik pemuda yang mendapatkan beasiswa ke Inggris itu, Akashi bukan tipikal yang banyak bicara bila memang tidak diperlukan. Ini amat dilematis, Akashi bicara—ia takut. Tapi bila diam dan terlalu distan, ia lebih takut lagi. Karena tidak seperti Akashi yang bisa membaca personanya semudah membaca buku terbuka, Furihata pikir ia sama sekali awam dengan kepribadian Akashi yang sebenarnya.
Keheningan kali ini menegangkan—serasa hembusan karbondioksida memblokir faringnya.
Advisor pernikahan sang pengendara itu ingin bertanya mereka sesungguhnya akan kemana—karena destinasi telah dicapai. Ia ingin meminta sketsa Rosario. Ingin tahu detail pernikahan mengenai undangan yang Akashi mau dan konsep foto pra-wed yang dijanjikan. Ingin mengerti mengenai mengurus surat perizinan antar-Negara. Tapi semua itu tergelontor akibat ciutan nyali—apalagi Akashi kini mengaktivasi mode indignan yang paling Furihata tidak suka.
Keduanya bungkam, hanya derum air conditioner dan racauan dengung mesin mobil, sesekali benturan daun dan ranting kering di kaca jendela, berbicara menepis kesunyian mencekam.
Furihata bingung ketika Akashi melajukan mobilnya memasuki sebuah café dengan sistemasi order take away. Pemuda bersurai magenta itu membuka jendela, membiarkan pelayan menyambutnya dengan cara ramah dan klise. Ia memesan segelas Hot Latte dan Café au Lait , ditambah dua club sandwich, dan dua botol air mineral. Pelayan mencatatkan pesanannya lalu sopan memintanya untuk lanjut ke konter berikutnya.
Akashi masih tak hirau pada Furihata yang terlampau bingung, menyetir mobil ke pemberhentian berikutnya. Pelayan lain menyebutkan nominal total harga makanan yang dibeli, Akashi merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang pecahan sepuluh ribu yen. Satu pelayan asisten memberikan sekantung besar bungkusan yang memadukan aroma kopi, kentang goreng, dan harum lezat sandwich.
Furihata mengerjapkan mata ketika Akashi membuka dompet dan meliriknya, curiga. Menjauhkan dompetnya dari sudut pandang mata berpupil mungil yang terkerjap dirundung bingung.
"Tolong pegang dulu, Kouki."
Akashi menjejalkan semua bungkusan pada Furihata. Kemudian mengambil kembalian uang yang diulurkan si pelayan diimbuh ucapan terima kasih dan semoga datang kembali. Menyimpan kembalian ke dompet dan menaruh dompetnya di dashboard—terbuka dan kilauan cahaya konter rasanya memantulkan sesuatu, Akashi berdecak dan lekas menyambar dompetnya sendiri untuk disimpan ke kantung. Ia menyetir lagi hingga galardonya keluar dari lingkup jajaran resto terkenal.
"Ehm … panas." Furihata bergumam takut. Menggelinjang perlahan, pangkuannya panas karena disengat kalor yang merambat dari kentang goreng dan sandwich hangat. Tangannya memegang dua gelas minuman yang juga sama panasnya.
Akashi mengerling teman mengemudinya selintas. "Sabar sebentar."
Furihata berjengit horror ketika galardo Akashi malah salip kanan-kiri mobil lain dengan kecepatan yang menyaingi talu-talu pilu dentum jantungnya. Meski kedua tangannya kebas akan panas, tapi toh ia tetap mencengkeram erat kedua minuman tersebut. Kalau tumpah, malah tubuhnya yang akan kena siram—dan ia tidak mau hal itu terjadi.
Galardo itu memasuki jalur lambat, lalu melaju memasuki area yang ramai disambangi ketika malam menjelang.
Taman musim gugur.
Furihata terkesima dan melupakan nasib badannya panas tak karuan—dalam makna denotasi karena tubuhnya ditindih makanan dan minuman panas.
Kendati malam mulai menggagahi senja, sisa-sisa buntalan awan terbias selendang merah muda di langit yang dijamahi warna indigo menyemburati langit, menaungi taman. Indah. Taman yang dibingkai pepohonan lebat akan daun-daun bergradasi merah kecoklatan dan ranting mulai mengisut, rumput-rumput terpotong rapi yang keemasan di balik pagar pembatas. Lampu-lampu benderang taman menerangi warna-warni musim gugur yang menakjubkan.
Hal klise yang menggugurkan impresi spektakuler taman itu hanyalah ini malam minggu, pasangan-pasangan saling memadu cinta yang seolah amat sakral tanpa pandang waktu.
"E-eh." Furihata kaget ketika ada tangan lain—hangat seperti yang dia ingat, mengambil segelas minuman dari tangannya. Menarik keluar sebuah bungkusan berisi sandwich dan kentang goreng.
"Mungkin kau sudah kenyang karena seharian ini kau makan di Yosen dan Seiho," Akashi tenang bertutur, memundurkan kursinya sedikit dan melepaskan sabuk pengaman, "aku berpikir ingin mengajakmu makan malam ke suatu tempat sebagai balas budi atas kerjakerasmu hari ini, tapi aku yakin kau tidak mau."
Furihata tertohok. Lantas menahan napas, Akashi menatapnya tepat di mata.
"Maaf aku hanya membelikan makan malammu ini, aku tidak tahu apa yang tidak akan kautolak."
Di luar mobil hitam metalik yang dihujani daun-daun kering teranggas, gelak tawa kekasih-kekasih itu mengudara tanpa kandas—merayap hingga ke dalam galardo.
Ironi.
"Maaf menyusahkan." Furihata melirih—membenarkan pernyataan yang Akashi kemukakan, menundukkan kepala memandang bungkusannya. "Terima kasih."
Akashi beringsut sedikit, lengan kanan terjulur ke belakang.
Furihata yang heran dengan pergerakannya menoleh ke kiri, tak mengantisipasi kedekatan ekstrim mereka.
Sepasang pemuda membatu kaku ketika hidung seinci dari hidung lain—napas hangat saling menerpa wajah.
Akashi statis sesaat, mendekam sedalam manik solid kolong langit bergravitasi yang menariknya jatuh lagi dan lagi dan bibir yang digigit itu—
"Aku—" Akashi tahu Furihata tidak mengerti dirinya menahan napas karena ekshalasi gugup pemuda dengan mata kolong langit itu mengacaukan ritme ritmis jantungnya, ia berbisik, "—mau memberikan ini."
Terlalu dekat! Ya Tuhan—tolong! Furihata yakin pandangannya mulai berkunang—dan kunang-kunang itu kini memekat merah warnanya.
—Furihata impuls memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat ke sisi jendela kanan. Akashi mengerahkan kekuatan agak berlebih menarik ransel yang tergeletak di jok belakang. Dengan satu tangan, membuka ranselnya, mengambil sebuah buku. Membukanya di suatu halaman yang telah ditandai, menaruhnya di dashboard di hadapan Furihata.
Kesenyapan menyelubungi keduanya seaneh alien berpelesir di bumi menggunakan UFO.
Furihata menggulir pandangan antara buku dan bungkusan makanannya. Lalu melirik Akashi setengah hati, mencari pengalih atensi dengan meretakkan kecanggungan yang menertawakan keduanya. "Boleh … sambil makan?"
Ini pertama kali Akashi membuang pandang lurus ke depan. Berekshalasi agak dalam, melirik Furihata yang tengah menggigit bibir. Lega menjalar di antara kacau debar jantungnya. "Tentu."
Dalam hati, Furihata mengutuk lagi lampu taman yang terlalu benderang, atau Akashi yang perlu dirutuk karena mata merahnya bergelimang brilian dibias cahaya lampu taman, atau senyum samarnya yang terlalu terang.
Mungkin juga dirinya merutuki Akashi yang mempersulit situasi antara mereka berdua. Entahlah. Otaknya disfungsi mencerna apa yang baru saja terjadi. Furihata memilih menyesap minumannya perlahan-lahan seraya memapar perhatian ke taman—secara tiba-tiba tampak atraktif baginya.
Keduanya makan dalam diam. Akashi melirik Furihata—yang baru hari ini ia sadari Furihata mungkin tidak suka dipandang olehnya—tengah mendengus, mata lurus ke depan menembus jendela dan mulutnya penuh dengan kentang goreng bersaus pedas. Ia mengikuti arah pandang Furihata, mengerti penyebab kenapa pemuda itu tampak sebal.
Tidak sedikit pasangan kekasih bermesraan bertebaran di taman. Terekspos segamblang kelam malam bersemaikan bintang-gemintang yang berkedap-kedip menggoda bulan.
Akashi tengah menyesap kopinya, Furihata sedang melayangkan gigitan besar pada sandwich tuna lezat yang dibelikan untuknya, ketika keduanya tak sengaja memergoki sepasang sejoli berciuman di bangku. Sepertinya ciuman mereka memanas sampai keduanya berguling terjatuh dari bangku, bergemul menembus semak belukar. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kelanjutan sesi bercumbu dua sejoli tersebut.
Furihata tersedak hebat. Ia mencengkeram dadanya yang sesak. Akashi refleks menepuk-nepuk punggung kurus itu dengan tangan kanan—tangan kiri tengah menggenggam segelas karton kopi.
"A-astaga … bagaimana mereka bisa melakukan hal itu di tempat umum?" sahut pegawai Seirin itu dalam gerungan gerutu.
"Seperti kau tidak pernah melakukannya saja." Akashi melontar komentar, membiarkan nada geli merendahkan tersemat dalam setiap kata yang diucapkannya.
Furihata tersendat untuk kedua kalinya. Kali ini Akashi tertawa kecil, memijat-mijat pelan garis belikat pemuda itu dari kiri ke kanan—hampir seperti merangkulnya.
"Bu-bukan begitu—" Furihata menggelengkan kepala keras-keras.
"Oh, kau mengelak?" Alis magenta terangkat main-main, berpura-pura terkejut.
"Ti-tidak—"
"Ah, kau pernah melakukannya." Akashi menyeringai antagonis.
Furihata menatapnya horror dan terbatuk karena terburu-buru menelan sisa kunyahan makanannya. "Ma-ma-maksudku—hik!"
Tawa melelehkan sikap indignan dan distan Akashi ketika Furihata terceguk karena tindakan impulsif sendiri. Memberikan penekanan lebih di tangannya untuk membantu Furihata pulih dari cegukan dengan tepukan frekuentif di punggungnya. Kentara dalam riak roman wajahnya pemimpin dari Kiseki no Sedai itu menikmati ragam mimik Furihata yang ekspresif, antara malu, menderita, sebal, sekaligus salah tingkah.
"A-aku—err … oh, sudahlah … jangan tertawa di atas penderitaanku." Furihata membenturkan keningnya ke dashboard. Merinding mendengar tawa pelan itu dan merasakan tangan hangat yang membuat relung hatinya ngilu, memijat tulang belikat yang pegal bukan main.
Tidak perlu emperor eyes diaktivasi pun, Akashi tahu spektrum warna rambutnya mendebui tulang pipi tirus itu. Perasaan dingin yang sedari tadi Furihata tikamkan padanya, ternetralisir sedikit mendengar gaya bicara Furihata seperti yang biasanya—atau tepatnya serupa dengan ingatan yang tersisa dulu.
"Siapa yang tertawa." Tatapan mata magenta itu melunak ketika Furihata merilis suara serupa dengkuran kucing ketika bagian punggung dipijat olehnya. "Apa bagian ini terasa sakit?"
"Ngh—begitulah." Furihata memejamkan mata, terlena dengan sentuhan yang merelaksasi otot tubuhnya. "Terlalu lama duduk, mungkin."
Tangan Akashi berkelana ke leher jenjang Furihata untuk memijat yang otot-ototnya terasa keras dan kaku. Suaranya melembut. "Jam kerjamu terlalu banyak."
"Yeah, bisa jadi. Tapi mau bagaimana lagi, dari waktu ke waktu, proyek semakin banyak."
Furihata mendesah resah. Mana mungkin ia bilang jam kerja yang banyak sangat dibutuhkannya untuk meminimalisir waktu memikirkan seseorang yang pergi membawa seluruh hatinya dan ditakutkannya takkan pernah kembali. Atau suatu hari perasaannya yang malah akan mati. Akashi tidak akan pernah bisa mengerti.
"Lagipula, jam kerjaku tidak sebanyak para senior atau Kuroko dan Kagami."
"Aku baru tahu kau ternyata workaholic." Tangannya kini memijat gelang bahu kiri yang membuat Furihata berjengit pelan, merintih kesakitan karena bagian itu yang paling terasa pegal-linu dan Akashi mengucapkan maaf perlahan.
Menghembuskan napas panjang dari celah-celah gigi, kepulnya membuih putih tertangkap matanya, Furihata mendekap bungkusan makanannya ketika Akashi menyebutkan soal pekerjaan—berkenaan dengan profesinya, romannya menyendu teringat seseorang yang pernah menyebutnya seperti yang Akashi katakan.
Ah, ya … Furihata Kouki saat ini adalah manajer royal wedding untuk Akashi Seijuurou.
"Akashi-sama adalah orang kedua yang menyebut saya workaholic."
Gerakan Akashi lekas terhenti. Furihata impuls memutar kepalanya yang disandarkan di dashboard menatap Akashi yang ternyata sedang lekat memandangnya dan tangan berhenti memiijat bahunya. Sebelah alis kecoklatan terangkat samar, ia tahu jenis ekspresi Akashi kali ini adalah raut kejengahan atau ketidaksukaan. Tapi bibirnya terkatup. Siratan mata merah sekilas meredup—dan itu berefek pada Furihata yang menghirup napas gugup.
Tanda Akashi belum mau mengemukakan apapun yang kini mengendapi benaknya. Furihata membiarkan—ia pun tidak yakin mau tahu.
"Apa agenda kita minggu depan, Kouki?" Akashi menyesap cairan pahit yang makin pahit di indera pencecapnya. "Selain ke Rakuzan."
Furihata menginjak-injak kekecewaannya yang bermuara ke permukaan. Menegakkan kepalanya lagi, ia mengendalikan kesadaran dirinya sembari membuka bungkusan sandwich. "Apa Anda sudah memutuskan mengenai orkestra, dokumentator, hadiah untuk pengantin perempuan, dan bintang tamu?"
"Sudah, kecuali dokumentator." Akashi mengawasi Furihata yang memakan tuna sandwich-nya dengan kekhidmatan berlebihan. "Hadiahnya akan dikerjakan Rakuzan bersamaan dengan suvenir. Orkestra dan bintang tamunya, aku pilih Shutoku."
Menahan menceletukkan komentar "Sudah kukira kau pasti pilih Shutoku." yang nyaris tergelincir dari bibir, Furihata tak bisa menahan godaan penasaran untuk bertanya, "Hadiahnya apa?"
"Yang dia mau." Akashi menghunjamkan pandangan vertikal ke sepasang kekasih lain yang dimabuk asmara tertawa-tawa bahagia saling berkejaran mengitari air mancur di taman. Tsk. Mereka pikir mereka adalah pelakon drama India. Beruntung Furihata sedang bersamanya, kalau tidak entah apa yang akan Akashi lakukan untuk mengenyahkan mereka semua dari ruang pandang biner merah kembarnya.
"Kalau begitu, kita minggu depan ke Rakuzan dan Shutoku." Furihata turut mencatatkan keputusan itu di benaknya yang merana.
Jarum menit berketak-ketik untuk berevolusi jadi hitungan jam yang dipersunting kesunyian dalam altar mewah nan gelap mobil hitam metalik tersebut. Karena yang mengisi waktu sepi yang dilingkup taman beratmosfer berisik itu hanyalah gemersik bungkus makanan ataupun nyanyian klise deru mesin motorik.
Sungguh ironi. Dua orang yang semula sepasang kekasih kini dilumuri keheningan terjerat sulur ketegangan yang harusnya hanya terjadi pada sepasang orang asing baru pertama kali bertemu.
"Kau mau kuantar kemana?" Akashi menyimpan sampah bungkusan makanan di kantung plastik, menaruhnya dalam laci mobil di bawah dashboard kursi penumpang yang ditempati Furihata.
Usai menenggak minumannya, Furihata meremas gelas karton dan mengikuti tindakan Akashi seraya mengerling bingung sang pemilik yang mobilnya ia tumpangi. "Saya tidak mau kemana-mana."
Mendengus geli merendahkan, Akashi memperjelas pertanyaannya. "Kau mau kita diam di sini selamanya?"
Furihata refleks menggeleng-gelengkan kepala keras-keras. Punggungnya dijalar getar sensasi familiar memikirkan mereka berdua diam di sini selamanya dengan situasi dan kondisi lebih mengerikan daripada berdiri di tepi tebing dititah dan untuk loncat bunuh diri.
"Mau kuantar pulang?"
Remasan keras dan sampah disumpalkan ke kantung plastik menimbulkan bunyi gaduh yang tak wajar. "Ti-tidak. Turunkan saja saya di halte bus terdekat. Saya akan kembali ke Seirin."
"Kuantarkan." Akashi membuat keputusan sesukanya. Lirikan tajam matanya membungkam Furihata dari penolakan yang hendak ditandaskan.
Mobil yang jadi lirikan para pasangan dengan decak kagum itu terpaksa harus mengeluh kecewa karena akhirnya beranjak pergi. Furihata mematri taman asri itu dalam setapak memori—menepis intuisi yang ingin menyimpan kenangan hari ini bersama Akashi. Hari pertama mereka bersama lagi—dalam makna konotatif, menghabiskan waktu sepanjang hari.
Furihata melirik Akashi yang fokus mengendarai mobil. Memerhatikannya secara seksama. Tangan dengan lekukan urat menonjol memegang setir, jari-jemari kapalan yang dulu biasa menggenggam tangannya atau membelai rambutnya tervisualisasi lebih panjang dari seharusnya, mata merah brilian yang tak pernah kehilangan pendar impresi brilian memancarkan kejeniusan, rambut merah yang
Furihata baru menyadari sudah memanjang ketimbang terakhir kali mereka bertemu—terjatuh menutupi dahi dan membingkai fitur wajahnya, garis-garis kedewasaan menggurat sosoknya penuh elegansi.
Postur tubuhnya sepertinya sedikit lebih tinggi—Furihata menahan kembangan senyum di wajahnya karena tinggi badan adalah perihal agak sensitif bagi Akashi—dan bahunya tetap tegap, lehernya jenjang seperti sedia kala, punggungnya tegak, dadanya bidang—dan dulu Furihata selalu menyembunyikan wajahnya di sana.
Pandangannya menjajaki lagi ke sisi kanan wajah Akashi—dilihat dari samping tetap saja membuatnya sesak napas. Lirikan matanya, dan bibirnya—yang dulu—
"Ada sesuatu yang salah dariku, Kouki?"
—menciumnya. Sial. Tidak bisakah dirinya berhenti mengingat masa lalu?!
Furihata nyaris headbangs ke dashboard sang pemilik galardo yang bibirnya terkurva enigmatis.
"Ti—tidak." Kepala yang dianugerahi helai-helai sewarna maple musim gugur itu membanting ke samping kiri. Menggigit bibir, paras memanas. Matanya terpaling ke jalan dan marak lampu-lampu mobil yang menyiksa lensanya.
Akashi tak memaksakan bertanya lebih jauh. Paham bahwa Furihata tadi meneliti dirinya—dan ia tak menaruh ekspetasi terlalu tinggi ada pendar pesona di netra semungil biji coklat. Ia memagnetkan atensi setipis kertas karkil yang ditulisi rahasia dan tidak berintensi untuk disibak.
Melirik kerutan dalam di dahi yang berceceran anak-anak rambut kecoklatan—tanda pemiliknya berpikir keras, hidungnya yang kembang-kempis, bibir yang digigit—kebiasaan yang Akashi kenali sebagai kegugupannya, alis matanya terlengkung ke dalam—tanda pemuda tersebut mengkhawatirkan sesuatu, dan ceruk matanya melekuk dalam bilur keraguan entah apa.
"Kouki?"
"Ha'hai?"
"Kukira kau tidur."
"Tidak." Furihata berupaya merilekskan diri. Rahangnya terasa kaku, tulang pipinya liat tatkala ia berusaha tersenyum. "Tadi sudah tidur."
"Kalau lelah, tidur saja."
"Tidak." Penolakan berturut-turut. "Nanti Anda sendirian lagi."
Kata-kata itu meluncur lebih cepat daripada kecepatan cahaya yang menyeruak retina mereka. Akashi terkejut, dijerat sedikit keraguan akan fungsi indera pendengarannya, menoleh ke samping. Ekspresi Furihata kosong seakan ia baru saja merilis fakta bahwa sebenarnya bumi tidak pernah sendiri, ada bulan yang selalu menemani.
Bibir Akashi meliuk senyum. "Bagus. Jangan tidur."
Suara itu selembut dayu biola yang mengalunkan lagu pembuai mimpi-mimpi menjanjikan kahyangan seribu angan. Tangan yang berkeringat dingin akibat efek samping ketegangan mencabik fabrik mantelnya, merutuki kalimat bodoh yang terutarakan sejelas kutub utara dan kutub selatan, bagaimanapun mereka terpisah pasti akan selalu menyatu.
"Hai'."
Dan lidahnya tidak menurut pada instruksi otaknya. Furihata menggeleng cepat sekilas, mendepak kemungkinan sinting yang berlintang pukang laknat menginvasi kewarasan otaknya. Mengalihkan perhatian untuk meminimalisir kecanggungannya, tangannya meraih sebuah buku yang terbuka dan tergeletak—sempat terlupakan.
Sebuah halaman putih bersih ditinta hitam dengan torehan sketsa halus estetis rancangan suvenir pernikahan terbaik. Seuntai Rosario dengan mata bandul sebuah senjata—semacam senapan laras panjang—bersanding dengan gunting. Furihata tertegun, jemarinya gemetar meraba mata bandul yang tergantung di rantai itu. Desain menakjubkan dan familiar baginya. Pijar hidup di matanya—dan Akashi menyadarinya.
Lain halnya dari mencerah roman wajah sang advisor pernikahan, airmuka sang calon pengantin kembali non-ekspresif.
"Boleh saya simpan sketsa ini?"
"Bawalah minggu depan bersamamu, sketsa itu harus diserahkan ke Rakuzan."
"Uhm."
Sisa-sisa perjalanan mereka disekap ngilunya senyap. Mungkin di balik pekat abu-abu awan yang posesif, ia hendak menyembunyikan kedap-kedip menggoda sembulan bintang yang bertaburan di hamparan legam malam.
"Kau baik-baik saja, Kouki?"
"Ho-hoaahm."
"Mengantuk?"
"Se-sepertinya."
"Jangan tidur."
"Se-semoga."
"Kouki."
"…ha-hai'. Err, kalau ketiduran?"
"Akan kubangunkan."
"Ukh. Hai'."
Meski demikian, Furihata memejamkan matanya yang memedas diburamkan air. Menormalkan hela-hirup, mengatup bibir, menyanggakan kepala ke bentangan sabuk pengaman. Ia lelah. Toh kalaupun nanti ia benar-benar tertidur, Akashi akan membangunkannya. Karena perkataan entitas yang menyukai kata tirani itu perkataannya selalu absolut.
Harapannya seperti ranggasan dedaunan di ubun-ubun pohon, gugur.
Hembusan napas. Mobil terasa berhenti melaju. Ada keriat bangku, keriyap air conditioner disetel ke level tertentu—pelosok-pelosok mobil oleh suhu hangat disembur. Wangi khas dan kehangatan familiar pada Furihata terbanjur.
Takut—akan sesuatu yang ia jaga agar hidup melintasi batas waktu, Furihata berpretensi tidur.
Sentuhan halus di pipi. Seolah penyentuhnya itu takut menginjak ranting reyot yang reras di musim gugur.
"Bilang saja kalau kau lelah."
Furihata oleh lara dibalur, dan Akashi jelas bukan pelipur.
Sepanjang sisa perjalanan, atau mungkin seperti malam-malam sendiri tersepi enam tahun terakhir merindu dendam, bisa jadi hingga malam-malam terakhir jelang hari pernikahan Akashi, Furihata pilu—tahu ia akan menghayati malam menua bersama secercah cahaya sayup rembulan di sela celah kerai lantaran tak bisa tidur.
Furihata tak tahu lagi mana yang lebih membunuh dirinya sepelan kecepatan siput. Merindukan seseorang yang hidup, bernapas, antah-berantah di negeri yang tidak diketahui seperti ia mengerti seluk-beluk rinai sakura musim semi dan konstan diekshalasikannya mimpi-mimpi akan kepulangan dari setiap hela napasnya. Atau—
"Oyasuminasai, Kouki."
—berada begitu dekat dengan yang entitas paling dirindu, tapi tidak bisa memberitahukan seberapa pedih rindu yang dibelenggu oleh rentangan jarak, larikan waktu, dan tamparan akan kenyataan.
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
(*) Glosarium
Negosiasi: perundingan, diskusi, atau musyawarah untuk mencapai mufakat/kesepakatan/persetujuan.
Tender: proses penawaran dalam lelang proyek, umumnya adalah kerja dalam bidang konstruksi.
Aanjwizing: proses penjelasan lelang dalam prosedur tender.
Stakeholder: individu-individu atau pihak-pihak yang terlibat dalam proyek baik secara negatif maupun positif.
Vendor: istilah bagi pemasok properti atau komoditi dalam lingkungan proyek.
Invoicing: sistem pembayaran. Dalam dunia bisnis, biasanya sistem pembayaran bergantung pada kesepakatan stakeholder.
Profit: keuntungan. Dalam bisnis, biasanya pebisnis cenderung mengucapkan "profit" dalam keuntungan yang positif, karena arti "keuntungan" dalam bahasa Indonesia seringkali disalahartikan dalam sudut pandang negatif.
Marinate: Bahan makanan yang sudah direndam/didekam atau diungkep dalam bumbu agar bumbu meresapi makanan dengan jangka waktu lama untuk mendapatkan citarasa makanan yang gurih.
Ushiojiru: sup/kaldu berwarna bening dari kerang.
Uster: dalam bahasa Jepang, disebut juga kecap Inggris.
Blue cheese: Keju unik dengan tebaran jamur biru, di permukaan ataupun di dalamnya. Keju ini merupakan keju dengan aroma paling kuat dan rasa yang paling tajam. Rasanya asin tetapi ada beberapa versi mild yang lebih enak di mulut.
Suimono: masakan Jepang yang berjenis sup.
Highlight maincourse: hidangan paling utama yang jadi sorotan karena keistimewaan di antara sajian-sajian kudapan utama lainnya.
.
.
.
Err, saya sebenarnya hanya belajar selintas mengenai Manajemen dalam Pengantar dan Proyek. Dan kebetulan banget berguna dalam fanfiksi ini. Karena itu, bila ada kekeliruan dalam penempatan istilah atau sistematika ilmunya, tolong segera koreksi saya agar dapat segera diperbaiki. *ojigi* kalau istilah makanan, trims Wikipedia (seperti biasa). Terima kasih.
Untuk maincourse Nanatsu no Sakura, ini terinspirasi dari Korean dishes (maaf, saya lupa namanya #duesh) pas nonton acara masak KBS. Jadi ada beberapa macam makanan warna-warni, ditaruh dalam panci berbentuk donat yang di tengahnya ada kuah untuk saus atau kaldu yang menjadi teman makanan warna-warni itu. Makanan yang populer dan masuk jadi salah satu top menu kudapan dalam Korean-waves karena sajian artistik nan estetiknya. (sementara yang saya pikirkan pas nonton cuma "Wah, warna-warni mirip Kisedai!")
Nah, sebelum saya dikira nggak waras dan nggak realistis karena: "Kok bisa cumi-cumi warna biru muda?" … pada kenyataannya, memang ada. Ada restoran yang sangat terkenal di Thailand—buka cabang dimana-mana tapi baru ada satu di Jakarta, namanya Blue Thai Curry. Makanan yang dihidangkan memang punya cita rasa khas Thailand—dominan asam dan pedas. Restoran itu memang menyajikan makanan warna biru dengan rasa kari. Biasanya restoran tersebut menyajikan menu hidangan seputar mie dan seafood. Tidak diinformaskan resep rahasia mereka bagaimana bisa memasak makanan hingga berwarna biru. Tapi, akhir-akhir ini, makanan warna-warni seperti itu memang mulai populer di Jepang.
Di Indonesia, umumnya menu paket catering pernikahan itu prasmanan. Tapi di Jepang, tergantung. Adat istiadat pernikahan mereka biasanya satu set box menu appetizer, maincourse, dan desserts biasa jadi sepaket. Mereka nggak merusuh mengambil menu makanan sendiri karena sudah dijatah porsi dan paket per tamu undangan.
Silakan cek pada Mbah gugel—karena saya meriset ke Mbah serba tahu ini juga. X)
Bagian "mengarang"-nya, adalah namanya Nanatsu no Sakura—ini saya yang buat. Karena nama Korea-nya saya lupa—terlalu sulit untuk saya ingat.
Kalau ada yang kepikiran … "Apa nyambungnya wedding catering antara nanatsu no sakura, strawberry parfait, dan strawberry cheese cakes?!" … well, silakan tebak-tebak sendiri. *nyengir polos* #dibabet
Puas, ya, chapter ini kayaknya hampir full of AkaFuri. *wink*
.
And see you latte~
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
