Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.

Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, rather TWISTED, lime, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.

Special backsound: Gray Paper by Yesung (O.S.T That Winter the Wind Blows)

Italic: flashback

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jik ada tidak yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read!

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Saat itu, musim gugur dikecam ajalnya.

Histori kelak takkan mengingat hari itu, tidak ketika kemarin lusa mereka pilu ditinju kenyataan—mengenai kehilangan.

Banyak sekali orang. Daun-daun kering bergemertak terinjak-injak, basah—dihujani air tumpah-ruah.

Akashi Seijuurou pikir tidak seharusnya di hari yang saputan matahari hanya berupa kerjapan kejam—sendu, orang-orang akan datang—dan pasti pergi, mungkin takkan datang lagi.

Deru pesawat yang merambahi awan berangan kandas menyisakan kepul asap. Penghormatan terakhir.

Sampai beberapa hari ke depan, bisa jadi hitungan minggu atau sebulan bahkan dua bulan lagi, tempat ini masih akan ramai. Di tahun-tahun berikutnya, bisa jadi hanya beberapa yang masih menyimpan ingatan untuk datang, atau selalu ada pilihan bagi mereka untuk melupakan.

Ironinya, betapa pun tanah-tanah digersangkan dingin itu akhirnya dihujani rintik hangat nan asin—terhimpun emosi-emosi yang dibelenggu pilu, tetumbuhan menolak untuk merekahkan hidup mereka. Seakan mengejek, bahwa saat itu—menyapa halo pada sayup harum salju, adalah deklarasi bahwa mereka mati suri.

Dan yang mati, tidak akan bisa hidup kembali.

Akashi Seijuurou sudah paham sejak kecil. Sejak ia bisa mengingat ibunya takkan pernah tersenyum lagi padanya. Tidak akan pernah memeluknya lagi. Tidak akan bisa membelai kepalanya lagi. Takkan bisa memanggil nama aslinya dengan panggilan sayang itu. Ibu tidak akan bisa menyayanginya lagi.

Langkahnya terhenti di suatu sudut. Pohon tinggi ditanduskan cuaca, sekering artefak tengkorak purba, rikuh mereraskan daunnya pada tumpukan-tumpukan tanah baru bertabur bunga.

Ah. Bocah itu sendiri lagi.

Dan lagi-lagi menangis.

Tsk. Dasar cengeng.

Dia pasti individu awam tentang kehilangan.

Dia pasti baru tahu mengerikannya perasaan ditinggalkan.

Akashi berjalan menghampirinya yang sendiri, kaki sedemikian keji menapaki ranting kering. Berisik. Sepasang mata sepilu retakan maple tergulir padanya.

Ah, mata itu lagi, ekspresi ini lagi, seperti kemarin lusa.

Hampir seperti dirinya yang dulu.

'Percuma saja, sebanyak apapun kau menyia-nyiakan airmatamu, bunga dan rumput tidak akan tumbuh jika masa mereka mencuat di muka bumi telah usai.'—ini yang ingin Akashi ucapkan padanya. Tapi rana telah bicara dalam roman derita wajahnya, dan Akashi batal mengatakannya.

Tidak perlu diberitahu, bocah tersebut sudah tahu.

Akashi kini mengerti, hari ini bocah itu punya alasan untuk menangis. Dan hari ini, benar-benar bukan untuknya—tak seperti kemarin lusa.

Akashi memutuskan duduk di sisinya. Tangannya terangkat, menepuk kepala yang tertunduk dalam, menyentuh helai-helai coklat yang tersangkut di jarinya. Tch, wangi, maskulin yang bersemi tapi masih pekat aroma remaja. Matanya—amat berair, bicara tentang duka mendalam. Dan bocah itu menghambur padanya.

Di sela histeris yang bergema miris, dan gemericik tangis, dengung simpati tak berguna terus berdesis, Akashi berpikir bahwa seguk kakofoni bocah yang membasahi pangkuannya ini tak tahu bagaimana caranya, ternaturalisasi membuatnya mengilas balik.

Sekeping kenangan biru di masa lalu, Akashi juga belajar tentang kehilangan. Ditinggalkan. Dan tegar berjuang untuk tak melupakan.

Hari itu, atau mungkin sejak dua hari yang lalu, Furihata Kouki harus belajar pedih realita tentang kehilangan. Siap tak siap, menghadapi kenyataan ditinggalkan. Dan berani untuk menyongsong masa depan.

Mereka sama-sama mengalami. Getir ini yang mereka resapi. Hanya mereka yang mengerti karena sama-sama telah memiliki; distopia ini.

.

#~**~#

Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",

Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,

.

.

Ienakatta Omoi wo

(My feelings that I kept from you)

.

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

"Ohayou."

"Ohayou—o-oi, Furi, kau baik-baik saja?"

Fukuda melongo melihat temannya terhuyung masuk ke ruang kantor utama. Matanya bengkak, berkantung menghitam. Skleranya dijalar akar semu kemerahan.

Entah kenapa setiap Sabtu dan Senin, Furihata selalu terseok ke kantor dengan kemuraman yang meneriakkan: "Hidup segan, mati pun enggan."

Hanya jajaran petinggi Seirin Wedding Organizer yang takkan bertanya ada apa dengan salah satu advisor mereka.

Furihata melemparkan ranselnya ke meja, menghempaskan bokongnya ke kursi roda, bersandar nyaman seraya melipat lengan. "Hmm. Aku oke."

"Sama sekali tidak." Kawahara menimpali. Diletakkannya secangkir kopi susu hangat di depan kawannya yang sesuram zombie gentayangan.

Furihata tak ambil pusing semenyedihkan apa dia terlilhat sekarang. Bukan maunya tak bisa tidur dan hanya berguling-guling stress di ranjang memikirkan hari ini setelah mengecek kalender. Hari khusus tertentu dalam setahun—baginya. Masih terkait dengan klien sialannya yang menambah panjang rentetan alasannya tak kunjung memejamkan mata setiap malam. Tangannya menangkup segelas kopi susu, menyesapnya sedikit.

"Pekerjaanku banyak," segah Furihata, menghindar dari pandangan menyelidik kedua sahabatnya.

Fukuda dan Kawahara serempak menggeleng. Biasanya juga pekerjaan Furihata membludak—seperti mereka berdua, tapi Furihata tetap bisa menjaga waktu tidurnya dengan baik—kecuali menjelang deadline proyek. Ah, ya. Sebentar lagi ada satu proyek Furihata yang deadline.

"Oi, Furihata, tadi Kasamatsu-san telepon ke kantor." Izuki yang menyadari kedatangan juniornya itu menghampiri. "Tadi katanya dia meneleponmu, tapi tidak diangkat. Jadi dia mengecek lewat telepon kantor, tapi kau tadi belum datang."

Furihata refleks menaruh gelas minumannya, cairan coklat muda itu beriak dan memercik sedikit ke meja. Advisor muda itu tergesa mencari ponselnya. Menumpahkan tasnya ke meja dan mengobrak-abrik barangnya. Nihil hasil, ia meraba-raba tubuhnya sendiri, dan baru sadar ponselnya tersimpan aman di saku kemeja pendek berlengan sebahu yang ia pakai di balik mantel.

Dilihatnya ada dua miscall dari Kasamatsu. Begitu ia mengecek setting ponselnya, ternyata memang silence tanpa vibrasi. Pantas saja Furihata tidak tahu ada panggilan masuk. Buru-buru ia mengganti setting suara di telepon genggamnya.

"Kenapa pagi-pagi kau sudah rusuh, Furihata?"

Yang dilemparkan tanya mengalihkan atensi ke sumber suara. Seniornya yang sempat cidera kaki dan menjalani medikasi di Amerika tersenyum padanya, kemudian menyerahkan sebuah map berisi faksi dokumen kontrak kerja.

"Fix." Kiyoshi membuka map seraya memampangkan stempel khas dekorator ternama itu. Senyumnya kian melebar. "Kirisaki Dai ichi, dipimpin Hanamiya Makoto, akan menjadi dekorator untuk royal wedding Akashi Seijuurou."

Sunyi menggilas konversasi riuh-rendah di ruang kantor utama.

Furihata berjengit mendengar nama itu santai dilantunkan seniornya. Bisik-bisik berderik di sekitarnya, memenuhi dirinya, meretakkan sesuatu dalam hatinya. Tapi ia berhasil menghalau keinginannya untuk mencaci-maki yang lain agar mereka bungkam—mereka tidak tahu sebenarnya yang kini terjadi.

"Hei. Bagaimana kalau sebenarnya Akashi-sama menyiapkan semua ini untuk Furihata-san?"

"Oh, kejutan manis sekali kalau begitu jadinya!"

"Hm-uhm! Aku juga pikir begitu. Bagaimanapun, kalian lihat tidak waktu dia pertama kali datang dan menatap Furihata-san terus tersenyum dengan mata yang—"

"KERJA SANA! JANGAN MAKAN GAJI BUTA!"

Raungan ganas Kagami membuahkan pekik kaget. Yang berteriak tadi membanting pintu ruang kerja menutup. Pegawai-pegawai yang belum mengenal persona ace Seirin Wedding Organizer itu terbirit-birit, mencicit mohon ampun, dan Kagami balas dengan pelototan beringas. Para karyawati yang berkomentar tadi nyaris menangis, menyingkir sebelum Kagami melaporkan tindakan mereka ini pada Aida Riko—bisa-bisa nanti upah mereka dipangkas.

"Jangan berteriak begitu, Kagami-kun." Kuroko di sisinya tenang menyahut. "Suaramu membuat telingaku sakit."

Furihata tersenyum melirik Kagami—berkeringat dingin karena sadar itulah cara pemuda tersebut menolongnya, mengambil dokumen yang disodorkan Kiyoshi padanya. "Terima kasih, Senpai."

"Tidak juga. Ini karena kau sendiri mau menawarkan proyekmu pada mereka. Aku hanya membantu sedikit." Kiyoshi menepuk halus kepalanya, tidak sadar perlakuannya itu melenyapkan lekuk di bibir juniornya.

"Aku juga membawa kabar gembira untukmu, Furihata-kun." Kuroko tersenyum tipis pada pemuda yang wajahnya dihamburi helai-helai secoklat kopi susu. Ia membuka tasnya, mengambil dokumen seperti yang diserahkan Kiyoshi pada kawannya.

"Nijimura-Senpai dan Momoi-san sudah mengaprovasi tawaranmu. Nijimura-Senpai bilang, kau dan klienmu bisa langsung ke galerinya mendiskusikan serba-serbi untuk pra-wedding photos nanti. Sementara Momoi-san bilang kau bisa menemuinya di Too atau ke butiknya langsung untuk memilih wedding dress."

Tiada respons.

Senyum sang advisor bayangan menyurut. Kepalanya dimiringkan, hendak mengetahui ekspresi kawannya. Seniornya mengangkat telapak tangan lebarnya, sama bingungnya karena pemuda biasa-biasa itu terdiam tak merespons.

Tarikan napas, dalam. Furihata mengedarkan pandangan. Suaranya ceria seperti biasa. Alisnya terlekuk ke bawah, dan matanya mengkhianati senyumnya. "Semuanya, terima kasih atas bantuan kalian."

Ia membungkukkan badan. Menegakkan tubuhnya, nyengir seakan tak terjadi apa-apa. Diambilnya dokumen dari Kuroko dan mengucapkan terima kasih lagi.

Detik berikutnya, sebelum seseorang dari mereka sempat mencetuskan sesuatu agar Furihata tak perlu bersikap pretentif terhadap mereka, ponselnya berdering. Furihata pamit meninggalkan mereka dengan dokumen-dokumen aprovasi yang dibutuhkannya untuk royal wedding.

"Ah, maaf aku tadi tidak mengangkat telepon, Kasamatsu-san. Ada apa?"

Mereka menyaksikan Furihata berkonversasi dengan lawan bicaranya. Sesekali mengangguk, beberapa kali tertawa, dan berseru antusias, kemudian bersuara halus memohon maaf.

Tapi matanya tidak bisa berbohong—lekat menatapi dokumen-dokumen di tangannya.

Di setiap map yang disisipkan dokumen aprovasi, ditulis tangan oleh Furihata nama proyek yang digarapnya.

Royal Wedding: Akashi Seijuurou.

.

#~**~#

.

Temperatur yang kian merosot ke titik beku buas menggigit-gigit dunia dalam cabikan dingin menusuk ke tulang rusuk. Masa transisi nuansa merah kecoklatan musim gugur yang menua akan segera digantikan musim penghujung tahun. Ekosistem bergelung dalam hibernasi daripada bergulat dengan raungan dingin yang menguras emosi dan kucuran kesabaran hati.

Furihata berdiri bersandar di dinding dingin pintu luar depan lobi utama, usai memutuskan sambungan telepon dengan Kasamatsu yang mengajaknya untuk bertemu karena mereka harus melakukan sesuatu. Ia bilang belum tahu mungkinkah mereka bisa bertemu.

Mengingat pasti Akashi akan hadir lagi dan satu hari ini khusus untuk kliennya tersebut. Selain itu, hari ini adalah satu-satunya hari dalam setahun yang ia tidak ingin melakukan apapun selain mengunjungi tempat itu.

Terlebih bukan berarti Furihata ingin mengistimewakan Akashi—dengan meluangkan satu hari khusus hanya untuknya, tapi ia masih ingin rasional untuk mengingatkan diri bahwa orang ini akan menikah dalam kurun waktu tak lebih dari empat baris minggu di almanak—serta tidak perlu dirinya berdekatan dengan seseorang yang memperlakukannya, seperti di masa lalu.

Mengesah lelah entah untuk kesekiankali, Furihata mengangkat tangan kiri untuk mengecek jamnya. Sebentar lagi Akashi datang—dan ia baru ingat hadiah ulang tahunnya ini … tsk. Terlalu banyak hal yang mengingatkannya pada sang klien, ketika seseorang yang seharusnya (hanya) jadi objek proyeknya itu tidak menggiling determinasi dan komitmennya dengan sentuhan serapuh ranting reyot nan kering.

Di saat yang sama, pandangannya melembut dan senyum mengukir bibir. Ah, ternyata Akashi masih memakai jam yang dipilihkannya dulu sebelum berangkat ke Inggris.

Tunggu.

Furihata ternganga horror saat realita mencambuk lamunannya, refleks ia menampar kedua pipinya sendiri. Menghangatkan pipi dari gumulan dingin, sekaligus menyadarkan dirinya bahwa ia tidak seharusnya terkesan merasa bahagia dengan kesadaran akan kesamaan hal sesepele jam tangan.

Galardo hitam metalik itu memasuki pelataran parkir. Furihata kali ini tak lagi tergagu bisu memandangi mobil—tepatnya, pengendaranya—seolah mendapati kereta kencana di antara becak-becak rakyat jelata.

Ia tak mau para pegawai Seirin Wedding Organizer yang tak paham kronologi peristiwa, melongokkan kepala dari jendela atau lobi untuk terkesima dengan mobilnya—

Furihata bergegas masuk ke dalam mobil, mengenyahkan dugaan gosip-gosip mengerikan yang mungkin berseliweran di antara pekerja-pekerja kekurangan jam kerja di musim dingin. "O- … ohayou."

"Ohayou, Kouki." Suaranya halus, tenang, sedingin benturan angin yang menabrak kaca jendela bening.

—tapi Furihata lebih tidak mau lebih banyak lagi orang-orang menotis kehadiran serta mengetahui identitas si pengendara galardo hitam metalik ini. Kalau orang-orang tahu, Furihata tidak yakin dirinya sanggup mendengar komentar-komentar miring dari mereka yang tak paham situasi.

Sejenak keduanya dilekati kesunyian anomali.

Akashi mengingat hari ini, dan ia menanti Furihata yang gelisah untuk mengungkapkan sesuatu—mungkin meminta padanya. Tapi ditilik dari Furihata yang menghela kesah lelah, pasti sisi pengecut mengerucutkan keberanian untuk meminta.

Sesungguhnya, Furihata yang seperti ini menyulitkan Akashi untuk menebak gerak nalarnya.

"Hari ini kita tidak bisa ke Rakuzan. Minggu depan saja, bersamaan dengan kita ke Kaijou." Akashi melantakkan keheningan menyesakkan. "Agenda kita hari ini di seputar Tokyo saja. Kita tetap ke Shutoku, dan Too."

"Too?" gumam Furihata, seketika teringat aprovasi Momoi yang diinformasikan Kuroko.

"Security Guards, Too." Akashi menggeser persneling untuk memindahkan gigi mobil. "Mungkin orang biasa tidak akan membutuhkan sekuriti dalam pernikahan. Tapi aku membutuhkannya untuk pernikahanku."

Furihata menimang-nimang sejenak, lantas mengangguk tak kentara. Memikirkan latar belakang keluarganya, bisa jadi Akashi memang membutuhkan sepleton sekuriti untuk tidak mengacaukan acara pernikahannya.

"Kouki, untuk foto pra-wedding sekaligus fotografer, aku kenal seorang fotografer. Dia pasti akan membantuku kalau aku meminta."

Furihata mencelos. Jari-jemarinya saling meremas dalam genggaman. Matanya menelusuri jalanan yang tiada batas tepi, berdesing melewati mobil, seakan hendak melahapnya dalam kenangan.

"Ta-tapi, Seirin su-sudah bekerja sa-sama dengan a-agensi pemotretan."

"Siapa fotografernya?" Akashi mencuri pandang sekilas pada Furihata.

"Nijimura-san." Furihata terbata berkata. "Ka-kalau Anda punya pilihan sendiri, a-akan saya konfirmasi pembata—"

Tawa kecil itu menggelitik ruang pendengaran sang advisor pernikahan.

"Jangan batalkan." Akashi menyimpan terbitan tanya di hatinya mengapa bisa mereka berpikiran hampir serupa, padahal ia dan Furihata adalah oposisi satu sama lain. "Yang kumaksud tadi juga adalah Nijimura-san."

"Ah—oh." Furihata tercenung sesaat, sesuatu dalam dirinya korslet mendengar tawa dan mendapati lirikan itu terarah padanya. "Syukurlah."

Akashi tak menanggapi lagi perkataan Furihata—yang kini memiliki kebiasaan untuk memutar kepala ke kanan menyaksikan jalanan berlari-lari semu di luar kaca jendela mobilnya.

Furihata baru sadar bahwa rute jalan yang mereka tempuh menyalahi petunjuk jalan bebas hambatan menuju Too. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, kepalanya tertolah-toleh kanan-kiri, bingung. Hendak bertanya, namun niatnya ia kurung. Ingin bertanya pada Akashi, tapi keberaniannya terkungkung.

Barulah ketika akhirnya mobil Akashi memasuki wilayah tertentu, Furihata mencelos tak percaya. Kerongkongannya tercekat, hidung serasa tersumbat, pandangannya berkunang tak menyangka.

"Sudah sekian lama lama aku pulang dari Inggris, tapi belum sempat ke sini." Akashi akhirnya bicara. Ia memarkir mobil di area parkir yang lenggang nan sepi dari orang-orang. "Apa kau keberatan aku menemui Okaa-sama dulu?"

Gelengan kepala menjawab tanya Akashi.

"Kau mau ikut atau tunggu di mobil?"

Furihata tak memproses pertanyaan, instan menjawab, "Ikut." Ia melepas sabuk pengaman dengan gerakan perlahan. "A-apa—" Tak sengaja bersipandang dengan gelimang monokrom magenta yang adiktif. "—e-eh, ti-tidak. Maaf."

Akashi membiarkan saja. Kali ini ia bisa menerka apa yang sebenarnya hendak Furihata tanyakan.

Keluar dari mobil, Furihata berlalu untuk menghampiri penjual air, bunga, dan dupa. Sepasang kakek-nenek berusia renta yang dikenalnya—dan Akashi—sejak dulu. Sejak mereka paham perasaan mengerikan ditinggalkan, dan berjuang untuk tegar menjalani kehidupan.

Akashi mengunci mobil automatik, barulah menyusul pemuda bersurai coklat itu membeli benda-benda yang pasti dibawa setiap orang menyekar ke pemakaman. Dan ia membeli barang yang serupa.

Menjinjing belanjaan, keduanya berjalan beriringan. Akashi masuk ke kompleks pemakaman yang merefleksikan perbedaan strata dari entitas yang telah tiada. Ia menoleh, agaknya tak menyangka Furihata akan mengikutinya. Langkahnya terhenti. Pemuda yang mengikutinya hanya melemparkan pandangan tanya dengan roman keruh.

"Kau tidak ke makam keluargamu?"

Furihata terhenyak. Sorot mata hampa sekilas membalas pandangan mata magenta. Ternyata Akashi masih ingat hari ini. Pandangan dihempaskan ke rerumputan kemuning kering yang dipijak mereka. "A-Anda bilang … ma-mau ke makam Ibu Anda."

"Aku memang akan ke makam Okaa-sama. "Suara Akashi setenang air yang tak beriak akan emosi. "Kalau aku tanya apa kau mau kutemani menyekar hari ini, apa kau akan memperbolehkanku menemanimu?"

Furihata menggeleng pelan. "Ti- … tidak."

Seakan Akashi sendiri tahu ia tidak lagi ada dalam ranah privasi Furihata dan mempunyai peran sebagai seseorang penting yang dapat berada di sisinya untuk menjumpai jiwa-jiwa dengan raga diberangus bumi setelah sekian tahun lamanya.

Furihata meremas mantel coklat kopi susu yang dikenakannya, pikirannya liar merambah waktu-waktu yang telah lalu.

Sejak kepergian sang emperor absolut ke negeri persemayaman William Shakespeare itu, Furihata selalu datang sendiri ke makam. Mengomparasi dirinya yang seorang diri dan ketiadaan Akashi. Ia menghabiskan waktu lebih lama hanya bergumam—berbicara pada makam-makam.

Sekali dalam tahun-tahun amat tersepi sendiri itu, membiarkan dirinya meluruhkan apa yang selama ini dibekukan lakrimal matanya.

Akashi menahan tangannya yang nyaris membela helai-helai lapuk kecoklatan yang familiar bagi tangannya. Gestur refleks ini makin sulit dikendalikan—karena ada kalanya Akashi menemukan dirinya berhasrat menyentuh helai-helai coklat teracak lembut itu. Menyusun kata-katanya—dalam makna ambigu—dan penuh kehati-hatian sangat mengujarkannya.

"Kau bisa ikut denganku menemui Okaa-sama. Tapi sebagai kompensasi agar impas, aku juga akan ikut denganmu. Setelah itu, baru kita berangkat ke Too dan Shutoku."

Furihata melengakkan kepala. Akashi dilatari musim gugur yang menyendu karena akan berevolusi menjelma musim salju itu memenuhi dirinya. Ia menunduk, menghembuskan napas panjang, lantas mengangguk.

Kompensasi, huh. Furihata mengelukan lidahnya untuk tak menggulir kata-kata yang ia tahu hanya harapan sia-sia belaka; Akashi sebenarnya ingin menemaninya menyekar hari ini. Tapi tak mungkin, Akashi pasti hanya berintensi untuk menjenguk ibunya sendiri.

Namun di sudut hati kecilnya, ia ingin sekali membenarkan pemikirannya sendiri: Akashi memang ada di sini untuk menemaninya menyekar pagi ini.

Astaga. Ia berspekulasi lagi tentang Akashi.

Seseorang, adakah tabib yang dapat menyembuhkan keegoisan dirinya ini?

Oh, sudahlah.

Furihata merutuki diri dalam hati, menuruti jejakan Akashi memasuki area pemakaman kasta elit.

Terlihat dari rupa pemakamannya yang bukan hanya gundukan tanah berpermukaan ilalang tandus musim gugur. Bertancapkan gelondongan kayu berbentuk tanda tambah dengan ukiran waktu lahir dan wafat mereka yang terdekam di bawahnya, tapi juga makam-makamnya dipagari keramik dan ditanami bunga-bunga.

Beberapa makam bahkan dinaungi arbor cantik yang terpelihara kerawatannya karena orang-orang kelas atas biasa menyewa individu tertentu untuk menjaga memorial terakhir mereka yang tiada di muka bumi.

Dan makam ibunda Akashi itu termasuk golongan terakhir.

Advisor pernikahan tersebut memerhatikan saksama kliennya menaruh karangan bunga di dekat bingkai foto yang terletak di atas keramik marmer obsidian mengilat pemagar makam.

Tangan hangat itu mengelus permukaan fotonya yang melukiskan potret seorang wanita bersurai dengan biner magenta persis seperti milik putra semata wayangnya, tengah tersenyum lembut menghangatkan hati—sekaligus menghancurkan ketegaran orang-orang yang ditinggalkannya.

Furihata ingat senyum itu. Bukan karena ia pernah berjumpa dengan wanita yang perampas separuh hatinya ke dunia, melainkan karena entitas yang kini tengah mengguyurkan air ke nisan itu punya senyum yang sama seperti wanita dalam lukisan digital lantas membantu membakarkan dupa.

Sejak pertama kali diajak menemui ibunya, akhirnya Furihata mengerti fitur fisik Akashi yang dipuja sebagian besar kaum hawa itu pasti warisan genetik dari wanita jelita yang kini hanya tersisa secarik foto dan berlarik-larik kenangan tak terlekang waktu.

Akashi kembali ke sisinya. Dan kedua pemuda itu berlutut beralaskan ubin pualam menyengatkan temperatur sedingin lantai samudera di musim salju. Lalu menempelkan kening mereka ke lantai itu—hampir seperti dogeza.

Ini adalah ritual penghormatan terakhir bagi entitas tercinta yang telah meninggal. Sekaligus memanjatkan doa-doa untuk ketenangan almarhumah yang berbaring kaku direngkuh ibu pertiwi.

Usai melakukan hal itu, Furihata mengikuti Akashi dengan posisi duduk formal. Sudah lama dirinya tahu, ini hanya sekali dalam setahun Akashi akan tersenyum sehangat matahari musim panas, ceruk matanya tak menyipit kalkulatif—memendar rindu pada musim semi, dan suaranya selembut kapuk-kapuk putih yang mengkristal.

Dan ia akan duduk menemani Akashi berbicara pada ibunya. Sebutlah mereka tak ubahnya pesakitan jiwa yang berbicara entah mungkin pada tanah, sebingkai foto, kayu bercat putih bersih anti-air, lantai dingin, atau apa. Tapi hanya orang-orang yang telah ditinggalkan yang tahu, bahwa apa yang mereka katakan akan didengarkan oleh orang yang disekari.

"Aku sangat merindukan Okaa-sama."

Furihata menggigit bibir bagian dalamnya mendengar keserakan janggal dalam suara pemuda di sampingnya.

"Kapan Okaa-sama akan menjemput Otou-sama? Aku sudah muak dengannya."

Furihata juga tahu benci yang mengakarkan dendam di lubuk hati emperor absolut tersebut. Suaranya tetap lembut, kendati tertanam venom tatkala menyebut perihal ayahnya.

Detik-detik tersemai merangkai menit, Akashi tenang mengisahkan ringkas kehidupannya di Inggris. Furihata mendengarkan baik-baik—hal yang selama ini ingin ia ketahui, tapi Akashi hanya mengisahkan ia berkuliah di sana, hidup sendiri serta belajar supaya bisa cepat pulang ke Jepang, dan menjadi lulusan terbaik.

Pemuda itu mengatupkan bibir lebih rapat, menelan kekecewaan. Ia masih tidak tahu apa-apa mengenai Akashi selama enam tahun terakhir.

"Okaa-sama, aku akan menikah. Waktu yang sama, dua puluh enam tahun lalu, Okaa-sama melahirkanku."

Angin menggemeresak reras dedaunan kering, menyapa ilalang yang melayu, dan mendayu pohon-pohon bernuansa merah kecoklatan.

"Sesungguhnya, aku ingin Okaa-sama ada mendampingiku. Dan lagi, ini kali terakhir aku akan mematuhi Otou-sama."

Frekuensi suara merendah. Melesak sesak. Furihata mendapati hentakan intensi untuk menepuk punggung yang selalu tegap itu, tapi mengurungkan niat. Berempati pada seorang Akashi Seijuurou yang berduka berarti melecehkannya dengan menganggapnya lemah.

Dan lagi, ia sudah tidak punya hak veto lagi untuk mengistimewakan Akashi.

"Aku tetap selalu mencintai Okaa-sama. Dulu, sekarang, sampai nanti aku akan bersama Okaa-sama lagi."

Pandangannya blur, Furihata lekas menyeka air yang memburamkan netranya.

"Kouki, kau mau mengatakan sesuatu pada Okaa-sama?"

Itu adalah pertanyaan yang repetitif dilontarkan pada Furihata, hanya pada hari ini, setiap Akashi selesai bicara pada ibunya, dan sudah lima kali disuarakan. Ini yang keenam, setelah enam tahun, dan Furihata berusaha tak hirau pada Akashi yang memandangnya.

Ia dulu selalu mengucapkan terima kasih. Untuk banyak hal, terutama karena telah melahirkan Akashi Seijuurou.

"Terima kasih." Furihata menumpukan lagi dahinya ke dingin ubin. Berbisik parau, "Tolong doakan putra Anda agar pernikahan yang saya upayakan dapat menjadi pernikahan memorial, dan tolong jaga dia agar dapat berbahagia—seperti Anda di sana … serta …."

Akashi tidak mendengar lagi apa yang Furihata bisikan, suaranya terlalu pelan. Desau ilalang kering membuyarkan ketajaman indera pendengarannya.

Ketika Furihata menegapkan tubuhnya, sedikit pening karena dingin di dahinya, takut-takut mengerling Akashi yang bergeming mengkhawatirkan bahwa kalimat terakhirnya terdengar—ia terhenyak. Cara pandang mata merah brilian itu familiar—dalam sudut pandang yang paling tidak ia suka. Gurat luka berbalur duka tampak nyata.

Sekali waktu Furihata melihatnya begitu, hanya ketika mereka berpisah. Furihata menenggak saliva. Mungkin Akashi mendengarnya.

Pemuda bersurai magenta itu mengalihkan pandangan ke makam. Beranjak berdiri seraya memandang lembut untuk terakhir kali. Perih samar menodai tenor suaranya. "Sampai nanti, Okaa-sama. Aku akan berkunjung dan bercerita lebih banyak lagi untuk Okaa-sama."

Furihata tergesa berdiri, membungkuk hormat, kemudian bergegas mengikuti langkah Akashi yang meninggalkan area pemakaman itu. Matanya melekat erat punggung tegap yang mengesankan ketegaran. Ia mengerti, melankolia para pengunjung makam setiap kali menyekar ke peristirahatan terakhir orang-orang tercinta.

Tidak biasanya Akashi begini. Sesuatu berbeda. Entah apa. Tapi ada, dan nyata.

Namun mungkin, hanya perasaan Furihata saja.

Sepasang pemuda itu kini merambahi makam-makam menuju ke kawasan pemakaman strata orang-orang kelas menengah ke bawah.

Furihata dengan pikiran mengambang dalam lamunan hanya membuntuti Akashi yang ternyata tidak melupakan tempat tersudut makam keluarganya di wilayah tersebut.

Di bawah pohon kerontang—hanya rindang ketika musim panas, berjajar tiga makam—satu keluarga. Akashi membantu membakarkan dupa sementara Furihata menaruh bunga-bunga untuk tiga makam itu lalu menyiramkan air ke batu nisan dari botol air satu liter yang dibeli. Kembali merepetisi penghormatan terakhir untuk yang telah bermuara ke alam kekal.

"Apa kabar, Otou-san, Okaa-san, Onii-san?" Furihata mengubah posisi bersujudnya menjadi duduk bersila, beringsut sedikit untuk menyandarkan tubuh ke batang ripuh pohon.

Ia memeluk kedua lututnya. Menatap sayang pada tiga makam itu, seakan orang-orang terkasihnya masih menghirup oksigen seperti yang kini diekshalasinya.

"Sudah bertemu Obaa-san?"

Sepasang mata magenta terdistraksi, keterkejutan terarah pada Furihata.

"Sampaikan salamku untuknya dan Ojii-san. Bilang juga, terima kasih sudah merawatku selama ini dan tidak usah mencemaskanku."

Tirai kelopak mata semerah mawar ranum turun setapak. Akashi meragukan getar suara Furihata itu menjanjikan "baik-baik saja".

"Aku janji akan ingat makan dengan benar … tidur te-tepat waktu … ti-tidak pulang malam lagi..."

Desis pesimis. Mata kolong langit tidak lagi solid; dirinai gerimis.

"A-ada teman-teman ... aku a-akan baik-baik saja… ukh."

Wajahnya ditenggelamkan ke lekukan lengan.

'Aku tidak sendiri. Kalian tidak usah khawatir.'

Itulah makna yang tak kuasa Furihata terangkan, pada mereka yang tidak akan lagi benar-benar mendengarkan. Pada kenyataannya, kesepian menggerogotinya, entah sejak kapan ia tinggal seoran diri berjuang melibas sunyi penyebab diri serasa terisolasi karena tidak ada lagi sandaran hati.

Tak ada isak. Tapi hati pendengarnya terkoyak.

Perasaan bersalah merajam diri. Bila saja ia tidak pergi—

Furihata terhenyak.

"—a-ah … Se- … Sei?"

—Akashi tahu ia melewati limitasi yang dicanangkan sendiri olehnya sejak jauh-jauh hari mengetahui imaji futuristik yang dicanangkan untuknya. Persetan dengan semua itu. Intensi ini saja yang tidak akan lagi diblokade kontrol dirinya, karena murni lahir dari intuisi. Direngkuhnya Furihata dalam pelukan. Satu tangan kiri mengusap punggung yang bergetar, tangan kanan membelai halus surai sewarna maple merah-kecoklatan yang dimusikalisasi angin menebari udara.

Akashi menghirup wangi yang diadiksi ruang penciumannya. Memejamkan mata, mengatupkan bibir, mengeratkan pelukan.

Panggilan itu, lagi. Setelah sekian lama.

Akashi tidak bisa menjanjikan "tidak apa-apa", atau penuh absolutisme kepercayaan diri mengucapkan "aku di sini". Tidak akan menjanjikan yang tak kuasa ditepatinya. Maka dari itu bibirnya tertutup, hanya gesturnya yang berbahasa.

Furihata tak bicara. Tapi lututnya diturunkan. Wajahnya kini dibiarkan terbenam ke bahu berlapiskan mantel krimson. Ia tidak membalas pelukan Akashi. Terpaku kaku, tapi air di lakrimalnya tak lagi beku—seketika produktif. Tangannya terangkat, berusaha menyeka airmata tapi sia-sia. Menderas.

Ketakutan membludaki, kini, bila Akashi mengetahui degup gugup jantungnya. Dan kengerian, detak jantung mereka tak lagi dinamis selaras.

Ketika ia sudah tenang—dan tentram, Furihata membiarkan egonya menang atas rasionalitasnya. Dibiarkannya saja Akashi tetap melanjutkan memeluk dan membelai kepalanya, tak acuh pada waktu yang jingkrak-jingkrak menggapai matahari jelang tengah hari. Sampai posisi memegalkan sang emperor itu membuatnya meregangkan sedikit pelukan, Furihata menggunakan kesempatan itu untuk buru-buru menyeka airmatanya.

Dulu, Akashi berkata "aku di sini dan kau tidak sendiri". Terkadang sadis menggodanya, "kau masih saja cengeng". Dan dua kali dalam dua tahun, menciumnya untuk menghentikan tangisnya.

Dahulu, Furihata akan menggumamkan maaf—karena merasa merepotkan Akashi, dan terima kasih karena Akashi selalu di sisinya. Dan dua kali, ia bahkan merah padam tak bisa berkata apa-apa lagi karena aksi pembungkaman versi Akashi.

Kini Akashi hanya membelai halus kepalanya, kemudian punggungnya. Tidak menyeka jejak-jejak pasca guliran airmata—karena Akashi mengerti mereka kini telah dewasa dan Furihata tidak akan suka diperlakukan seperti gadis menangis. Ia berdiri, mengulurkan tangan pada Furihata—yang memandang uluran tangannya.

Senyum samar membayang roman wajah Akashi yang menarik Furihata menyeruak dari naungan pohon kerontang.

Sedepa jeda, mereka berpandangan.

"Obaa-san, maaf aku baru tahu dan baru bisa menemuimu sekarang. Tapi, tolong jaga Kouki." Akashi membungkuk sekilas pada ketiga makam yang berjajar di hadapannya. Hal-hal rahasia lain yang tidak diperkenankan Furihata mendengar—dengan berbagai pertimbangan alasan, dibisikannya hanya dalam hati.

"Aku akan menemui kalian lagi. Atau kalian bisa datang ke mimpiku." Furihata melambai sekilas pada keluarganya. Cengiran pilu tergaris halus di bibirnya. "Sampai jumpa nanti."

Keduanya melangkah pergi diiringi ilalang yang bergoyang, gemeresak semak-semak belukar, dan kelopak-kelopak bunga layu yang berterbangan.

Furihata menghentikan langkahnya tepat sebelum mereka masuk mobil, menarik tangannya yang digenggam sejak keduanya meninggalkan pemakaman. Sesuai asumsi, Akashi menoleh padanya. Bersitatap.

Sejenak senyap.

"Ta-tadi saya ingin bertanya." Furihata melayang pandang nyalang ke segala arah, kecuali individu di hadapannya.

Dengus geli. "Apa aku ingat hari ini hari biasa kita menyekar atau tidak? Tentu aku ingat."

Furihata meratap, "I-iya … hari menangis setahun sekali, bagiku." Ia berusaha memperbaiki impresi mengenaskannya itu dengan tawa canggung. "A-ah … hari ini, selalu mengingatkan pada hari pertama kita bertemu."

Akashi tertegun. Skak mat.

Furihata memucat. Ia benar-benar salah bicara.

Klik. Klik. Lampu sen menyala kedap-kedip. Akashi membuka pintu mobil. Ia menggeleng sekali.

"Ini bukan hari pertama atau tempat pertama kita bertemu."

Tulang pipinya kaku dan ujung-ujung bibirnya terangkat dalam senyum ragu. "Be-benarkah? A-ah, aku salah—"

"—ini seperti hari ketika pelangi sehabis hujan, bagiku." Akashi terlihat kasual memosi ibujari ke galardo pribadinya. "Ayo kita berangkat, Kouki."

Furihata tak paham silabel-silabel yang Akashi ungkapkan. Ia membiarkan ketidakmengertian itu untuk saat ini—tak tertafsir, dan melangkah masuk ke dalam mobil kliennya—tanpa sekehendaknya bibirnya menguntai senyum.

Akashi melirik sekilas pada Furihata yang sibuk memasang sabuk pengaman.

Pelangi sehabis hujan.

(Ini rahasia; bagi Akashi, pelangi seperti kurva di bibir itu yang melengkungkan senyum pasca hujan di matanya mereda.)

.

#~**~#

.

"Kapan Obaa-san meninggal?"

Pertanyaan yang memecahkan keheningan di mobil itu dalam perjalanan mereka ke Too itu membuat Furihata melirik Akashi.

"Setahun setelah … kau pergi kuliah."

Akashi menoleh padanya. Napas tercekat di tenggorokan Furihata karena mata merah brilian itu menyiratkan sesal.

"Penyebabnya?"

"Obaa-san sakit kanker paru-paru." Furihata lamat-lamat menjawab.

Pemuda yang sempat mengidap personality disorder itu menghela napas. "Pantas saja beliau sering batuk-batuk waktu itu."

"Bisa jadi." Bahunya terkedik lesu.

"Maaf."

"Ha-hah?"

"Maaf aku bertanya hal yang pastinya menyakitkan untuk kaujawab."

Meremas belitan sabuk pengaman di tubuhnya, Furihata memalingkan pandangan ke jalanan. "I-itu sudah lama. Tidak apa-apa."

"Kau masih tinggal di rumah Obaa-san?"

Gelengan sekilas. "Ti-tidak … sulit untuk tinggal di sana." Furihata mengerling Akashi sekilas, dan kelihatannya Akashi paham bahwa akan menyusahkan untuk tinggal di rumah bernapaskan orang-orang yang mereka cintai telah tiada.

"Kau tinggal sendiri?" Akashi sesaat terlihat mempertimbangkan sesuatu, sebelum melontar tanya, perlahan, "Di mana?"

"Uhm, sendiri." Tidak seperti asumsi Akashi, Furihata tidak tampak tersinggung dengan pertanyaannya. "Ternyata Ojii-san dan Obaa-san sudah mewariskan harta mereka untukku. Sebagian kudeposit untuk biaya kuliah, sebagian ditabung, dan sisanya kupakai membeli apartemen untukku sendiri."

Tunggu sebentar. Furihata mulai menyadari ada kekeliruan yang terjadi.

"Aku juga tinggal sendiri di flat sewaktu Inggris."

"A-ah, aku tahu. Chelsea-san sudah bilang padaku."

"Kita sama." Akashi tersenyum samar menyadari fakta itu.

Furihata juga sama sadarnya, makanya ia membenturkan dahinya ke jendela. Lagi-lagi ia mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Di atas itu semua, kenapa bisa ia begitu bodoh menjawab pertanyaan Akashi?! Bukankah ia sudah mengukuhkan resolusi untuk menjauhi klien sialan ini yang akan menikah di hari ulang tahunnya, eh? Akashi akan menikah, menikah, ME-NI-KAH!

Setiap ia ingin membentangkan jarak, Akashi mudah meretasnya. Keterlaluan. Ya Tuhan, apa maunya orang ini?

Meski demikian—sesampainya di Too, Furihata turun dari galardo hitam metalik yang hari ini pun sebersih bentangan lazuardi musim semi, menggigit pipi bagian dalamnya untuk tak tersenyum hingga sudut bibir dan tepian mata bertemu dalam harmoni. Atensinya tertarik pada Akashi dan mengingat semua yang terjadi tadi.

Percakapan mereka tidak terlalu buruk.

Agaknya Furihata lupa dengan semua yang harusnya benar-benar ia ingat, maka ketika keduanya memasuki bangunan—tanpa sadar mereka di-scan detektor inframerah sekaligus diidentifikasi melalui puluhan CCTV, dan tiba-tiba ada gadis melesat kilat menyongsong Akashi lantas hendak menerjangnya dalam pelukan, Furihata terbelalak horror.

"Akashiii~!"

Itu bukan gadis yang Furihata tahu akan menikah dengan Akashi.

Gadis ini tampak mencolok dengan segala hal yang menjeritkan halo merah muda seolah percik warna semburat senja itu hal eksistensial baginya.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Ini harusnya nggak ada. Tapi saya pikir, kalau saya nanti mesti bikin cekcok bentrokan keluarga Furihata dengan keluarga Akashi karena hubungan tabu AkaFuri—dan daripada saya bikin AkaFuri kawin lari eh tapi ujug-ujug saya tikung mereka malah mati, agar mudah untuk mereka kedepannya, saya sisihkan keluarga Furihata. Gomenasai ne, Kouki. *peluk Kouki* #dicincang

Dan sekarang bagian Akashi gak suka foto dari sejak prekuel fic ini, serta sebab Furihata yang sebenarnya nggak mau ditinggal Akashi, sudah jelas, ya. ;)

Sebenarnya saya nggak mau mengulangi hal klise yang sudah saya beritahukan sejak awal, tapi karena banyaknya pertanyaan "Gimana ending-nya?"—yang sejujurnya bikin saya cukup kecewa karena kayaknya fic ini gak bakal diminati kalau ending-nya sad/bad, juga kayaknya A/N saya tidak dibaca seksama, saya tegaskan lagi: fic ini punya ending berbeda dari prekuelnya. Ternyata saya masih harus berjuang lebih keras lagi menulis fic lebih baik. OTL

Ah, soal scenes akhir chapter itu bukan karena saya super WB dan kehabisan ide (desperet seperti biasa), tapi memang saya pengen nge-cliffhanger di adegan itu. XD #dikutuk

Eto saa, yang tahu Akame ga Kill mungkin tahu siapa perempuan di adegan terakhir chapter ini. Atau mungkin ada yang tahu imperial arms Chelsea. Kihihihi. XDD

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan