Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs Fujimaki Tadatoshi. Akame ga Kill belongs to Takahiro and Tetsuya Tashiro. I don't own it and don't take any commercial advantages nor profit through my fanfiction.

Warning: Alternate universe, super incredibly OOC, rather TWISTED, LIME, typo(s), SHOUNEN-AI/MALEXMALE, simple diction, fast pace, etc.

Italic: flashback

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika ada yang tidak disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read!

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Tervibrasi keriat api melahapi kayu. Senar dan bow berfriksi dengan penggesek. Lika-liku nada yang mengisyaratkan kesemamputan temperatur ke titik beku berkisah tentang staccato, melirih tentang crescendo, atau apapun itu istilah harmonisasi melodi yang hanya kekasihnya yang mengerti. Tiada satu pun nada tergelincir karena efisiensi permainan yang mutlak indahnya.

Tubuhnya yang semula meringkuk di atas karpet akhirnya menggeliat. Kejapan matanya sesayu salju yang kini merintiki ranting ringkih musim dingin. Tangannya bergerak ke sudut bibir, liur absen dari sana. Desah leganya terevaporasi ke udara bersamaan kabut tipis yang berhembus dari mulutnya.

Mungkin sebagian dari arwahnya berkelana merana—karena matanya masih berat dan dengan nada-nada lembut pembalur melankolia itu, maka yang ia inginkan hanyalah bergelung lebih dalam pada selimut serta membenamkan hidungnya yang dingin ke dalam lekuk empuk bantal—

"Apa aku membangunkanmu?"

permainan familiar terinterupsi.

Baru disadarinya bahwa ia yang tadi sedang menunggu kekasihnya—entah mengerjakan berkas-berkas dokumen apa—jatuh tertidur karena berguling-guling kebosanan di karpet. Sekarang kepalanya telah dialasi bantal kapuk empuk dan terbungkus mantel tebal. Pasti kekasihnya yang melakukannya.

Menyadari hal ini, bibirnya yang tadi menguap lebar-lebar, melengkung selayaknya penghujung instrumet yang menumpahi lapisan-lapisan udara dengan spektrum melodi hangatnya. Kepalanya impuls menggeleng singkat. Hatinya menghangat melihat kekasihnya beranjak mendekatinya.

"Maaf karena sudah meninggalkanmu sendiri." Kekasihnya itu seperti nuansa bata ruangan bercampur cahaya temaram api unggun di sekat cerobong asap. Ia menawan bukan karena pakaian mewah yang dikenakannya atau martabat yang senantiasa tercermin dari bahasa tubuhnya, melainkan senyumnya.

Senyum dan mata yang selalu memandangnya, identik dengan cara pandangnya selalu melanskapkan atensi hanya pada kekasihnya.

Dibiarkannya kekasihnya menjulurkan tangan untuk membelai rambutnya yang terurai di bantal. Ia memejamkan mata dan bergumam.

"Hmm. Aku mengerti." Gelengan sekilas. Rautnya mengulas seberkas penyesalan. "Maaf aku malah tertidur. Berapa lama aku tidur?"

Tawa rendah, seperti pulasan melodi romansa yang mengambang di udara itu menggelitik ruang pendengarannya.

"Lama. Sampai kukira kau marah padaku karena diam saja. Ternyata kau tertidur."

"Kalaupun aku marah padamu, kau tidak akan membiarkanku lama-lama marah padamu." Ia mendengus geli mendengar pernyataan itu. Tangannya terangkat, merapikan untaian helai magenta yang membingkai fitur wajah kekasihnya.

"Kau memunggungiku dan tidak bergerak. Itu amat mengkhawatirkan."

Tawanya serak karena dingin udara mendengar penuturan kekasihnya.

"Tidurmu lama sekali sampai kupikir kau hanya berpura-pura tidur karena marah padaku."

Ia tak menyadari sorot mata kekasihnya melembut menatapinya. Mungkin kebahagiaan itu sendiri tidak perlu didefinisi selain cahaya kehidupan yang tertera di matanya, senyumnya, roman wajahnya, tawa yang tidak terdengar seperti tawa karena teralun lebih halus ketimbang jatuhnya salju menjumputi pucuk dedaunan.

"Ah. Jadi karena kau berpikir begitu, kau sengaja main biola untuk membangunkanku? Atau … untuk merayuku agar tidak marah padamu?"

Bibirnya ditekuk pretentif ke bawah. Hidungnya mengerut melihat kekasihnya mengurvakan seringai, mengafirmasi jawabannya. Mendengus sebal, ia balik kanan. Mengeluh seketika tatkala lengan yang tadi menyangga biola kini menyelinap memeluk pinggangnya.

"Seiiii! Aku masih mengantuk, tahu."

Orang yang selalu menemaninya itu mengapit hidungnya yang memerah disisip dingin suhu dalam apitan ibu jari dan telunjuk. Gemas.

"Waktu selama aku membiarkanmu sendiri menungguku sudah ekuivalen, tidak—bahkan lebih, dari waktu yang aku luangkan untukmu menunggumu terbangun, Kouki."

Garis pipinya yang menggembung ditelusuri oleh tangan hangat, kalausa di jemari yang sebelumnya lihai menekan dawai-dawai biola. "Tidak bisakah menungguku sedikit lagi sampai aku bangun sendiri?"

"Kau bangun sendiri, Kouki-san." Dia menyeringai tipis, indikasi bahwa ia memang berintensi untuk membangunkan kekasihnya yang pulas terlelap.

"Jangan mengelak, Seijuurou-sama." Pemuda ini kemudian cemberut, menggerung perlahan. "Siapa yang suka jika tertidur lantas dibangunkan secara paksa?"

"Sebenarnya aku ingin membangunkanmu tidak dengan cara seperti itu. Aku sudah memerhatikanmu tidur selama waktu ekuivalen saling membuat kesepian satu sama lain terlewati kira-kira sejam-dua jam—"

"—err, apa aku mengeluarkan suara-suara yang, uhmm—"

"—yang sulit dideskripsikan?" Seringai itu membuatnya menepuk gemas lengan kekasihnya. "Mungkin."

"Seijuurou-sama, kalau kau sedang bercanda, ini tidak lucu. Katakan saja."

"Aku sendiri tidak tahu apa suaramu itu seperti mendengkur. Dan jangan panggil aku dengan sufiks menyebalkan begitu."

"Kau tidak marah dipanggil begitu oleh pelayan-pelayanmu."

"Kau tidak bekerja padaku atau keluargaku."

"A-ah … maaf. Jangan menatapku marah begitu. Awh. Sa-sakit ... kenapa dahiku disentil?"

"Jangan panggil aku begitu."

"Ta-tadi aku sudah minta maaf." Sungut muram. "Aku hanya bercanda."

"Candaanmu tidak lucu, Kouki."

"Bercandamu jauh lebih tidak lucu, asal kau tahu."

"…"

"Seiii."

Tangannya terangkat menyisiri rambut coklat berantakan, bergumam senang dengan tekstur rambut itu. "Maaf diterima, Furihata Kouki." Bibirnya menyapa penghujung mata meliukkan harmoni menyenangkan. "Maafkan aku juga."

Terkesima karena tak terbersit bahkan sebatas praduga, tak pernah mengetam prasangka akan lontaran aksara yang sekiranya tabu diucapkan kekasihnya, melinglungkannya. Sesaat ia lekat menatap kekasihnya yang begitu dekat—dan senyumnya hangat, lantas ia merebahkan kepalanya di bantal seraya memulas balasan setimpal.

"Uhm. Impas, Akashi Seijuurou."

Ekuivalen adalah ketika lini jenaka di bibir Furihata menjelma tawa lega diiringi tawa yang tak serupa tawa dari Akashi. Pemuda yang sebelumnya terbaring beberapa jam, menggeliat bangun, menyingkap selimut dan mendesis pelan karena temperatur seperlima antartika mengulum tubuhnya.

"Yang kaumainkan tadi itu lagu kesukaanmu?"

Akashi menaruh biolanya di buffet dekat sandaran kepala tempat tidurnya. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Setiap aku datang ke rumahmu, kau selalu memainkan lagu ini." Furihata termosi menyisiri helai-helai magenta yang membingkai wajah violinist di hadapannya.

Akashi bergumam pelan—amat mengapresiasi tindak afektif Furihata sekaligus membenarkan terkaannya. "Setiap aku datang ke tempatmu, aku juga selalu mendengar lagu yang sama dimainkan Obaa-san-mu dengan piano."

"Ah, Obaa-san hampir setiap hari memainkan lagu itu." Furihata mengangkat tangannya, menarikan jemari di udara sembari pita suara menyenandungi sebait melodi. Ia menahan diri merengut ketika Akashi tertawa rendah. "Maaf suaraku jelek—dulu almarhum Ojii-san bahkan sampai bilang suaraku dipakai bicara saja fals."

Pijar brilian bergelimang di netra magenta Akashi. "Mereka tidak tahu saja sebenarnya suaramu merdu."

"Terima kasih, aku tersanjung." Biner bulir sewarna pinus mungil diwadah sklera lebar itu mengucap murung.

Volume tawa Akashi naik sekian bit manakala pemuda yang tadi digendongnya untuk ditidurkan di ranjang pribadinya itu menggerung tersinggung. Furihata menyingkir darinya dengan bertapak di atas karpet beludru, mengungsikan diri ke depan piano hitam gagah dan menekan tuts keras-keras—nada sumbang mengesumat bergaung.

Akashi beranjak dengan menjinjing biolanya lagi untuk diletakkan di atas piano, kemudian mendudukkan diri di sisi Furihata—yang makin eksplisit merengut karena merasakan lengannya merengkuh pinggang pemuda yang tengah digiling kesal itu.

Furihata terkejut ketika tangan Akashi berdamping dengan tangannya, melambungkan nada-nada romansa ke angkasa. Tak perlu teliti menelusuri, meski masih mentah observasi ini, Furihata menyadari Akashi membimbingnya untuk menekan tuts yang benar secara non verbal—atau mungkin ini hanya modusnya untuk sesekali membelai atau mengaitkan jemarinya dengan milik sendiri.

Toh ketika piano tak terdengar seperti meradang lagi, dan mulai bernyanyi seuntai melodi yang tadi Furihata gerungkan namun terdengar kakofoni, Furihata tidak bisa tidak mengembangkan senyum setulus hati.

"Uwaah ... itu tadi permainan terburukmu yang pernah kudengar, tapi ini benar-benar permainan terbaikku! Baru kali ini aku memainkan lagu yang Obaa-san suka mainkan dan terdengar benar-benar seperti musik. Aku jadi ingin segera pulang dan memainkan lagu ini untuk Obaa-san."

Seruan bahagia melenyapkan gejolak emosional. Tidak berarti Akashi menolak redanya kekesalan Furihata dan surut gerungan muramnya, terlebih ia tidak sedikitpun keberatan dengan kecupan gembira apresiasi di rahangnya. Hanya saja—

"—kau bisa memainkan yang tadi aku ajarkan?" Alis merah delima terkernyit tipis.

"Uh ..." Furihata memijit tuts sesuai yang tadi Akashi tunjukkan padanya, "... se-seperti ini, 'kan?"

Akashi melirik kekasihnya sekilas. Sudut-sudut mulut yang terangkat memaut atensi Furihata yang berhenti merengut ketika ia memindah lengan dari pinggang pemuda inosen ini. Pemuda yang menatapnya ragu dan melantun nada-nada kaku, tapi lagu yang dihasilkan tidak terdengar seperti dimainkan metronome pianis berhati kaku.

Ini tanda Furihata benar-benar memerhatikan ketika Akashi tenang mengajarkannya.

"Hampir benar, tapi off key."

Akashi mengacak sekilas rambut coklat yang meluber wangi natural dari pemuda di sisinya. Mengecup pelipis Furihata sekilas, terbelalak ketika Furihata meraba-raba kunci nada menekan tuts secara random. Asumsi mati ketika puzzle melodi terangkai olehnya.

"Apa judul lagu ini?"

"Liebeslied. Atau arti lainnya, Ai no Kanashimi."

"Kenapa kau menyukai lagu ... ini, Ai no Kanashimi?"

"..."

"Sei?"

"Kenapa berganti memainkan Ai no Kanashimi?"

"Ka-karena itu lagu kesukaanmu?" Furihata mengejap. Mendadak senyap. Silabel-silabel penyesalan terkucur darinya. "Ma-maaf ... aku membuat lagu kesukaanmu terdengar sangat buruk."

Jeda.

Akashi menyesal telah bertanya. Karena dirinya, Furihata berhenti bermain. Tentu saja kekasihnya ini tak ingin mengukiri label buruk pada momen kebersamaan mereka dengan merusak lagu kesukaannya.

Sayangnya, Furihata tak mengerti seberapa berarti lagu ini bagi Akashi.

Tatkala pijar bahagia di netra magenta meredup, Furihata meneguk ludah gugup karena sentuhan halus Akashi di tengkuk telanjangnya begitu mengantup dan bibirnya impuls terkatup.

Desis Akashi ripuh di telinganya. "Berikan aku kompensasi karena kau membuatku mendengar lagu ini dan lagu yang sering Obaa-san-mu itu mainkan terdengar begitu buruk."

"Apa yang kauinginkan untuk kompensa—nnh."

Desah tipis digenggam jerit keriat kayu yang rakus dilahap api, bibir menghisap pelan kulit lunak di belakang telinga menyisa bara. Bibirnya seperti pusara vulkanik yang menyedot lapisan langit, arakan awan dan nyala matahari, merambati lehernya. Kecupan panasnya merambat lamat kejenjangan terekspos, pelan mendeteksi dengan ciuman mulut terbuka selaput kulit yang mengenkripsi kakofoni dentam nadi.

Jemarinya berhenti menari di batang-batang putih dan sisipan pijitan hitam, berganti dengan polesan non-inosen tak memiliki gradasi derajat temperatur selain titik kulminasi. Satu tangan kabur dari tengkuk dan tersungkur pada perut, menulusup baju yang Furihata kenakan, jemari mendelusuk pada bagian yang lekuknya tertransparansi melalui fabrik kaus.

"A-ah!"

Furihata meremas baju yang Akashi kenakan ketika jemari kekasihnya menari di tuts terimpuls keras dadanya, engah basahnya membuat Akashi melumat bibirnya sehingga refleks ia menyambut dengan ciuman mulut terbuka balas meraup bibir Akashi. Terlebih ketika lengan-lengan kukuh merengkuh lebih erat, menariknya, mengangkatnya hingga setengah terduduk di pangkuan Akashi yang mendekapnya posesif dan kaki mereka saling mengait.

"Ngh—" Pemuda tanpa keistimewaan berarti itu merasakan saliva mereka terlebur karena lidahnya menggelitik lidah Akashi yang balas menjilatnya, luruh meruah dari sudut bibir. Tangannya gemetar menarik baju di bagian punggung yang tegap menopangnya. "—o-orang-orang di ru-rumahmu—"

Akashi meluangkan Furihata kesempatan untuk memasok ulang oksigen—yang sesungguhnya sia-sia karena napas panas saling terhempas. "—Otou-sama tidak ada, dan yang lain sudah kuperintahkan untuk tetap di Maiden House selagi kau tidur tadi."

Furihata mencelos, menggigil menyadari kebenaran eksistensi intensi gemerlap asing, dingin, anomali di netra mega Akashi menjerat dirinya—sejak Akashi menawarkan untuk datang ke Mainhouse-nya di Tokyo. Ia ingin lepas, tak bisa. Ia tak ingin melakukannya—tidak, tidak, tapi ia tidak berontak—tergerak lari.

"Ka-kau mengajakku ke rumahmu, a-akhirnya ... ka-karena—ah." Desah malu. Paras memanas menyadari bukan hanya dirinya yang mengeras.

"Jangan bilang kau tidak menyadari itu. Aku sudah menunggumu—lebih dari satu atau dua jam."

Akashi tersenyum seksi dengan realisasi ini, menariknya untuk bangun dari piano yang tak sengaja tertekan menjadi topangan—berdenting nyaring tak merdu, memeluknya erat-erat—membunuh tersedianya opsi peluang bagi Furihata untuk lari tunggang-langang.

"Kesempatan terakhirmu untuk menghindariku adalah dengan tidak memasuki rumahku."

Langkah keduanya saling menyandung tatkala Akashi mendorong Furihata merebah di ranjangnya. Kasur melekuk, berderit karena beban bertumpu menumpuk di atas hamparan selimut.

Furihata merasakan lengan Akashi menyangga kepalanya—merengkuhnya erat, tubuh solid menindihnya lekat, dan hasrat mereka di balik sekat-sekat kain menganggu saling tertambat. Ia mengerang ketika Akashi menghujani ciuman lapar di selangkanya.

"Akh—"

Ribuan jarum jam di pelosok-pelosok kolong langit morat-marit.

Furihata tak bisa mengikis dentang risau yang berdetak dikurung rusuknya terlebih dengan redup pahit di merah, sepasang merah itu, yang mendelusuk karena ia mengangkangkan kesempatan dan lengah akan kelihaiannya untuk memojokkannya—determinatif membuatnya menyerah.

"Jangan harap kau bisa pulang cepat-cepat. Kau tidak akan bisa lari lagi, Kouki."

Seharusnya ia mendamprat angkara murka. Semestinya ia menggulingkan seseorang yang menindihnya dengan intensi cemar dari atasnya. Sewajarnya ia merasa cinta mereka apa adanya dan tercukupi begini saja. Tak per

Furihata dengan tangan segemetar daun bertahan di mulut ranting karena dihembusi angin, menangkup pelipis Akashi—turun sedikit ke telinganya, membingkai wajah yang tersenyum.

Alih-alih dominannya mengulas senyum mesum seperti yang rasanya ia tahu sebatas ilmu berdasarkan riset tentang relasi tabu, kurva antusiasme melintang di bibir dan kilat-kilat brilian asa ketulusan yang berlintasan di mata merahnya melantak blokade yang Furihata pagari dengan tembok rasionalitas.

Keistimewaan tabu hubungan penuh pantangan dan hunjaman rintangan mereka adalah tak satu pun dari keduanya dirugikan. Tidak juga berbekas kendati tetap menyisakan berkas. Ini tidak seperti Furihata tidak tercenung—begitu tersanjung merasakan seseorang menginginkannya yang tak memosesi keistimewaan berarti.

Dalam selimut mereka terdelusup, pakaian tidak berhamburan ke lantai diselaput karpet . Menggantung di tubuh mereka seperti keringat yang terpentah di sekujur badan, siapa peduli dengan gigitan dingin musim yang sirik membayang, sensasi melayang meski sesungguhnya tidak benar-benar terbang—

"Ah. Ah. Sei—aaahh!"

"Sudah ... ah. Kubilang apa. Yang indah bukan apa. Yang merdu bukan lagu—"

Ketika Akashi berhenti untuk menatapi Furihata, terpesona dengan penampakan kekasihnya takluk dalam cumbuannya—sebagaimana ia bertekuk lutut pada kesederhanaan memikat yang menghambur isak tangis nikmat, menghayati rintih letih memintanya untuk lanjut—dihentak sampai puncak.

"—kau."

Cinta mereka seperti puing-puing yang dipunguti, dirunut satu demi satu dan tetap tak punya rupa. Cinta mereka tidak dibangun dengan pernyataan rapuh dan tawa yang terkepul ke permadani biru hangat penaung cerianya kikik jangkrik. Cinta mereka tidak juga bisa disebut cinta semuci tanpa prahara karena tak berlandas sesederhana asas suka sama suka.

Derita.

"—kau—"

Duka.

"—kau."

Luka.

"Kouki."

Cinta.

Senandung kidung cinta kehidupan, yang bergesekan panas penuh penekanan, bukanlah semata murni dengus nafsu erotika. Di sela ketidakteraturan dan cinta yang terbisikkan berserakan, keduanya bersama seirama hanya di antara eratik nada-nada detak dalam dada.

.

#~**~#

Special Alternate Ending "Saigou ni Iezu ni Ita",

Special gift for Akashi Seijuurou's birthday,

.

.

Ienakatta Omoi wo

(My feelings that I kept from you)

.

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Ketika Furihata akhirnya kembali meja yang sebelumnya membuatnya selalu ingin lari dan tak kembali, dilihatnya hanya ada Chelsea dan tiada eksistensi Akashi.

Gadis itu yang semula duduk termenung menatapi minumannya, melengak, impuls memforsir—kelihatannya seperti itu bagi Furihata—diri untuk tersenyum padanya. "Hai, Furihata-kun. Urusanmu sudah selesai?"

Furihata meringis kecil. "Su-sudah. Tadi, err ... Ka-Kasamatsu-san terburu-buru, jadi, dia menitipkan maaf padaku untuk disampaikan padamu dan Akashi-sama karena tidak sempat berpamitan."

Furihata mencelos melihat Chelsea menatapinya lekat, seperti menelanjanginya untuk mendeteksi noda yang menyiratkan dosa. Kebohongan kecil tak menyakitkan, seharusnya. Lagipula ia tak terlalu berbohong.

"Oh, begitu." Namun gadis itu memilih melebarkan sepersekianmili bibirnya dalam kurva menyenangkannya ketimbang bertanya lebih lanjut. "Duduklah, Furihata-kun."

Wedding Planner itu lekas mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dari yang Chelsea tempati. Dia menoleh kanan-kiri. Berdua saja dengan seorang gadis yang ia tahu merupakan tunangan dari kliennya saja sudah membuatnya canggung, terlebih karena ketidakhadiran kliennya menyebabkannya bingung.

"Tidak begitu lama saat kau berbincang dengan Kasamatsu-san tadi, Akashi-kun harus bertemu dengan kolega kerjanya. Katanya, tolong tunggu dia di sini sebentar."

Chelsea kemudian menenggak minumannya, masih dengan seksama memerhatikan Furihata yang ia tahu juga mengamatinya. Dia menggeser segelas minuman di atas nampan.

"Kau sudah sarapan? Ah, karena kita masih harus menunggu Akashi-kun, ini untukmu."

Furihata mengangguk tak kentara. Mendistraksi diri dari kekecewaan yang meretaki ekspetasi sekaligus perasaan sesak yang mendesak hati, ia menghirup minuman yang tinggal tersisa setengah di gelasnya. Kopi. Pahit.

"Sudah kuduga, Espresso tanpa creamer apalagi gula itu memang menakutkan. Aku selalu heran pada orang yang bisa meminumnya seakan ini air mineral biasa tanpa rasa." Chelsea terkikik geli tatkala wajah pemuda di hadapannya berkeriut ngeri, horror menatapi gelas minuman yang diberikan Chelsea padanya. "Tidak enak, 'kan?"

Furihata cepat-cepat menggeleng, merasa sungkan. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Chelsea-san."

Pemuda itu melirik Chelsea sekilas, matanya meredup sepintas. Menotis betapa merah sklera dari lensa auburn gadis tersebut, wajah cantik yang sembab, dan jejak linang yang laun mengering. Suara-suara yang divibrasikan pita suaranya senantiasa terngiang—tentang rasa yang bukan hanya bayang-bayang.

Furihata meneguk sedikit demi sedikit espresso itu lagi, berpikir simpatik dalam benaknya mengasihani diri.

Toh espresso ini takkan sepahit empedu hasil tak sengaja mendengar konversasi tadi.

Chelsea menatap lembut pegawai di Seirin Wedding Organizer tersebut. Meski Furihata tidak menyukai espresso, ia tetap menenggak minuman yang diberikan padanya. Layaknya seorang pekerja profesional yang tidak sudi merijeksi pemberian klien, seburuk apa pun itu.

Hal sederhana saja, orang biasa ini sudah berkorban. Bagaimana jika untuk seseorang yang dicintainya? Chelsea sekarang bisa memahaminya—lengkap dengan intensi yang selama ini Akashi maksud.

Furihata mengingatkannya pada seseorang. Furihata yang berambut coklat kayu manis dengan rambut membingkai wajahnya yang cukup atraktif. Furihata yang sepertinya menghindari jadi sentris atensi Chelsea, tengah menoleh ke samping dan matanya yang sebulat kelereng matahari membola tapi pupilnya tetap secemerlang bintang.

Tanpa mengikuti arah pandang Furihata, Chelsea tahu pemuda di hadapannya terkejut menemukan Akashi sedang berhadapan dengan tiga pria yang berpakaian formal. Terbataskan sebaris bangku dan meja makan, selapis kaca bening, di sanalah meja tempat Akashi menemui kliennya.

Chelsea memerhatikan dengan seksama Furihata yang terpaku menatapi Akashi. Menemukan perubahan roman wajah Furihata menatapi Akashi, cara pandang perih menyerpih. Perasaan bersalah ini menggelontori dirinya. Ia mengatupkan bibir lebih rapat.

Furihata memerhatikan Akashi yang sedang berbicara. Entah apa. Gestur yang tenang. Sopan-santunnya. Tata kramanya yang elegan. Senyumnya—kendati formalitas belaka—yang familiar mendentam jantungnya sehingga tak selaras detak jam dinding.

Ia memerhatikan salah seorang pria mengeluarkan dompet berbahan kulit warna hitam metalik. Pria tersebut mengeluarkan sebuah kantung. Dari kantung itu, dikeluarkanlah sebuah kain yang disibak berlapis-lapis dalam beberapa rangkap lipatan.

Furihata mengamati Akashi mengangkat tangan untuk mengambil apa yang ada dalam genggaman—di atas kain—pria itu. Matanya terbeliak sesaat melihat Akashi mengangkat sebuah batu berwarna merah rubi berkilauan, menelisik secara cermat nan teliti, lalu membawa batu merah cemerlang tersebut untuk dikecup olehnya selagi ia terpejam.

Furihata mencelos, tahu apa yang Akashi lakukan dan kenapa batu tersebut diperlakukan demikian. Itu adalah cara paling praktis untuk mengidentifikasi keabsahan batu permata atau tidak. Ia diajarkan oleh salah seorang seniornya—Mitobe, dengan penerjemahnya—Koganei, yang seringkali bertugas dalam divisi aksesori para bakal calon pengantin.

Tunggu. Mereka, para pria yang membawa permata, adalah kolega kerja Akashi?

Furihata meremas perlahan gelas karton dalam genggamannya. Sejak kuliah di Inggris, sampai sekarang bahkan, ia menyadari ia tidak tahu apa pun tentang Akashi. Tidak kendati hanya sebatas mengetahui profesinya saja. Sebelumnya tersembul praduga tentang kemampuan berdiplomasi berelasi dengan profesi—karena Akashi tampak memudahkan perizinan antar-negara yang rumit, tapi mungkin tidak hanya sebatas itu.

Dilihatnya Akashi menerbitkan senyum yang lebih eksplisit terlihat, kentara merasa puas.

Furihata mengerti sensasi familiar yang menyayat hati ketika matanya tersemat pada Akashi yang mengucap sesuatu, mengembalikan batu permata pada para pria itu kemudian menjabat tangan mereka. Gaya profesionalnya itu yang dimiliki sejak kecil, yang diajarkan padanya ketika mereka berada di sekolah menengah atas. Senyumnya yang menawan—

"Ah."

—hingga cekatan napas dirinya atau pun Chelsea—yang menotis sesuatu, tak disadari oleh Furihata.

Furihata berjengit kaget merasakan sentuhan mendadak pada tangan kirinya.

"Ta-tadi ... kau tidak memakai ini, Furihata-kun."

Chelsea menyadari tangannya sendiri bergetar tatkala mengangkat tangan kiri Furihata. Bibir semerah muda sakura musim semi sedikit terbuka, mata auburn terpancang sekokoh pasak kayu konstruksi gedung—pada kedipan di salah satu jemari tangan kiri Furihata yang menyakitkan untuk dilihatnya.

Furihata sesak napas. Ia tidak kuasa menarik tangan dari Chelsea yang menatapi jemarinya, memandang dengan tatapan rumit dan kompllikasi konflik emosi dari airmuka keruhnya pada apa yang tersemat di sana. Asumsi liar merongrong benaknya. Takut bersembulan dari celah yang selama ini tak pernah tertutupi, malah semakin melebar retakan yang kian signifikan.

Chelsea berganti menatap wajahnya. Tercengang melihat ekspresi ketakutan Furihata. Lantas ia menatapi tangan yang berada dalam pegangannya lagi. Ia buru-buru tertawa—yang benar-benar terdengar terlalu sumbang.

"Apakah ini dari Kasamatsu-san?" Yang melingkari jari manis tangan kiri Furihata itu tak ubahnya gravitasi yang menarik atensi Chelsea konstan kepadanya.

Furihata menenggak saliva. Tangannya mulai berkeringat dingin. Denyar di perutnya menyakitkan menghimpit relungnya, membuatnya sulit berekshalasi-inhalasi dengan leluasa. "Err, Chelsea-san, maaf—"

Chelsea panik melihat raut menggelap ekspresi di wajah Furihata karena pertanyaan terkesan bodohnya—jawabannya, ya, tentu saja itu dari Kasamatsu. "Ahahaha. Ti-tidak apa-apa. Aku berpikiran terbuka, kalau itu yang kaukhawatirkan."

Furihata ternganga tak percaya, menatapi Chelsea seakan kepala bermahkota surai auburn itu ditumbuhi jamur. "Be- ... benarkah?"

"Sungguh." Chelsea mengangguk penuh keyakinan. Dia menepuk-nepuk punggung tangan yang berkalausa agak tebal dalam genggamannya. "Hidup di daerah Barat dan tempat kerjaku selama ini membentuk paradigmaku menjadi seperti itu."

Furihata memberanikan diri untuk menatap balik Chelsea. Menelusuri lensa semu senja di mata gadis itu yang berpendar bening, jernih—tak melarutkan kebohongan apa pun. Ia merasakan napas yang tertahan seketika terhempas.

Hanya untuk tersekat lagi di pangkal tenggorokan ketika dilihatnya sebulir airmata meleleh dari sudut mata auburn yang biasanya berpendar jenaka. Luruh ke tulang pipi sempurna yang mulus, hingga menggantung di dagu lancipnya. Tangan berjemari lentik dengan kuteks merah itu bergetar hebat.

Furihata tak sempat merepet panik karena reaksi Chelsea yang drastis tiba-tiba berubah, tatkala sebuah suara menginterupsi momen keduanya.

"Maaf membuat kalian menunggu. Urusanku sudah selesai."

Atmosfer tergelincir ke titik bifurkasi.

Akashi yang baru kembali—sebelumnya merasa lega karena melihat Furihata telah kembali dan duduk bersama Chelsea, melontar sapa dan permohonan maaf. Ia tidak sempat memerhatikan mimik ekspresi yang menorehi Furihata ataupun Chelsea.

Atensinya jatuh pada tangan dengan kuku berkuteks merah mengangkat tangan lain yang berwarna tan ringan. Kedua tangan yang kontras. Satu tangan berjemari lentik yang polos dari apa pun dan satu tangan kiri dengan jari manis dilingkari pendar bercahaya tertimpa remang pencahayaan Maji Burger.

"Akashi-kun."

Suara lembut gadis itu dikoyak serak, pedih melihat Akashi tertegun menatapi hal yang terlambat disembunyikan realitinya olehnya.

Cincin emas bertahta berlian. Berkilau indah tersemat di jari manis tangan kiri sang wedding planner.

Furihata menggigit bibir. Pasti bukan hanya dirinya yang menyadari kerjapan emas di rongga kiri mata Akashi. Rahang pemuda itu mengeras, seiring tangannya yang terkepal di sisi tubuh, lalu kemudian terlepas selaras garis bahu yang menurun.

Akashi berinhalasi. Berat. Sedalam-dalamnya. Ada yang retak dalam dirinya. Andai saja nalarnya diciptakan tidak dengan rasio yang kilat, tidak juga ia mampu menyangkal pemahaman dari kenyataan yang terpapar menampar dirinya.

Furihata, dari sejak pertama mereka bertemu, tidak mengenakan cincin apa pun. Tapi sejak kedua kali mereka bertemu, sudah ada Kasamatsu. Dan seterusnya, orang itu ada. Konversasi co-pilot Kise dan salah satu rekan kerja Kuroko Tetsuya tadi saat di Maji Burger terngiang bising menginvasi ruang pendengarannya.

.

"Kau ini … aku bilang aku benar-benar membutuhkanmu hari ini, kau malah bilang tidak bias."

"Maaf. Ta-tapi aku sudah bilang, hanya akhir minggu saja aku tidak bisa."

"Kau tahu aku yang harusnya kauprioritaskan, ini malah—"

"Aku memprioritaskanmu. Waktuku bersamamu akan kurelakan dua puluh empat per enam karena aku tahu—"

"—ya, ya. Karena royal wedding Akashi Seijuurou. Royal wedding."

"—aku tidak pilih kasih. Aku bahkan bersama Akashi-sama hanya satu hari. Sebenarnya itu tidak cukup."

"Kalau kau mau bersamanya lebih banyak lagi, bilang saja. Tidak perlu mengorbankan dua puluh empat per enam untukku, sumbangkan sebagian untuk Akashi—"

"Ti-tidak begitu! Su-sudahlah, sebenarnya ada apa, Kasamatsu-san?"

.

Jika memfungsikan logika secara maksimal, siapa yang senang dengan kenyataan bahwa kekasihnya saat ini, mengurus klien yang adalah mantan kekasihnya, padahal mereka telah bertunangan?

Sudah lazimnya jika memiliki kekasih, ingin diklaim sebagai milik, agar mereka yang telah lalu dan pergi kemudian kembali, tidak akan tiba-tiba merebut kembali.

Akashi berekshalasi perlahan karena realisasi ini. Harusnya ia merasa bersyukur dengan kenyataan ini. Bersyukur setulus hati—

"Ayo kita berangkat. Midorima dan yang lainnya menunggu kita."

—bukan merasa kalah.

Mengabaikan lelehan airmata gadis itu lagi yang selama ini ada di sisi, dan seseorang yang dulu selalu ia hasratkan untuk setia berada di sampingnya, dengan semua kenyataan ini, Akashi membalikkan badan dan beranjak lebih dulu untuk keluar dari Maji Burger yang ternoda polutan menyesakkan.

Furihata menenggak pahit saliva.

Chelsea tertunduk menyeka airmatanya.

.

#~**~#

.

Keheningan menyaingi kota yang seperti babak belur oleh apocalypse itu melebur pada atmosfer dalam mobil.

Chelsea melirik ke kanan pada Furihata, lalu ke kiri pada Akashi. Akhirnya mengerti siapa yang sebaiknya diajak bicara untuk melibas sunyi yang mengiris miris sembilu, gadis itu berdeham.

"Furihata-kun, sejak kapan kau bekerja di Seirin Wedding Organizer?"

Furihata tersentak kaget. Sedari tadi ia mendistraksi diri dengan menatapi pemandangan yang berlari-lari di luar jendela, kini ia melirik Chelsea sedikit yang (berusaha) tersenyum semanis biasanya.

"Se-sejak lulus kuliah, sekitar 4 tahun."

Chelsea bergumam mengerti. Ia balas mengerling pemuda di sisi kanannya—karena ia tahu pemuda di sisi kirinya pasti turut mendengar percakapan mereka. "Ah, tidak heran kau mahir sekali dalam bidang ini."

Furihata menggeleng. "Tidak juga. Aku biasa saja ketimbang senior-senior atau teman-temanku yang lainnya," ucapnya diimbuh tawa tertahan.

"Oh, benarkah?" Chelsea mengangkat sebelah alisnya. Ia menepuk ringan punggung tangan Furihata—yang Furihata ingat adalah gestur gadis ini familiar baginya, mungkin karena ia pernah melakukannya pada Akashi juga—seraya tersenyum tulus. "Tadi Satsuki-chan sudah memberitahuku hasil pilihanmu, tuksedo untuk Akashi-kun benar-benar sangat bagus—aku bahkan tidak bisa bilang Akashi-kun akan terlihat jelek memakainya."

Kesenyapan mencekam.

"I-itu ... itu bukan karena aku." Furihata menundukkan kepala. "Itu karena desain Momoi-san sa-sangat bagus—"

"Tapi dari sekian banyak pilihan, kau memilih yang cross-style." Chelsea menoleh pada Furihata yang mengeruh roman wajahnya. "Kenapa?"

Bibirnya kering. Lidahnya kelu. Napasnya sesak. Furihata tidak keberatan menjawab, bila saja Chelsea tidak bertanya ketika Akashi berada di dekat mereka. Dirasakannya jemari Chelsea menekan punggung tangannya, ia mendongak. Tercenung bingung melihat gadis itu seakan memohonnya untuk menjawab.

"Ka-karena itu ... itu yang terbaik untuk—" Furihata mengerling sekilas, makin sesak menyadari Akashi pun ternyata tengah meliriknya, "—A-Akashi-sama."

Jeda yang berdepa-depa.

Akashi mengalihkan pandangan pada jalan raya. Jawaban Furihata sesungguhnya meranakan dirinya.

.

.

"Pilihkan yang mana saja."

"Jangan. Kau tidak cocok pakai yang itu."

"Lalu kau maunya aku pakai jam macam apa?"

"Yang terbaik untukmu."

.

.

"Kau mungkin merasa kau biasa saja, tapi seleramu tidak biasa-biasa saja. Aku memang baru pertama kali melihatmu bekerja seperti tadi. Meski baru sekali saja, aku tahu betapa observannya kau pada sekelilingmu sehingga kau mengerti apa yang harus kaulakukan, Furihata-kun."

Satu-satunya gadis di antara kedua pemuda itu, sekali lagi menepuk-nepuk punggung tangan pemuda yang menatapnya kaget dan tak percaya. Chelsea berujar dengan nada lebih halus.

"Kau hanya harus lebih percaya pada dirimu dan kemampuanmu sendiri."

Furihata tercengang memandang gadis yang mengedipkan mata padanya. Gadis ini, yang tadi dikatakannya persis seperti Akashi waktu itu.

Di atas semua itu, Chelsea terasa seperti seorang adik yang menghibur kakaknya, juga seperti kakak yang dapat diandalkan untuk berpikir rasional. Diselaminya lautan auburn yang bening tak memijar kebohongan.

Mengingat Akashi seringkali mengomentari betapa buruk pretensi Chelsea, Furihata memercayai apa yang dilihatnya kini—kendati tak memahami sirat murung yang menaungi ekspresi gadis itu.

"I-ini pertama kalinya ada yang bilang seperti itu tentang aku." Furihata tahu ia tak bisa menyembunyikan salah tingkahnya. Namun ia balas menatap Chelsea—senyum yang mengimpuls sudut-sudut bibirnya untuk akhirnya meretas garis lurus jadi kurva melegakan. "Te-terima kasih, Chelsea-san."

Gadis itu bersenandung senang dengan ucapan tulus Furihata. Ia memekik riang sembari mengelus kepala Furihata. "Ternyata benar dugaanku selama ini. Kau ini menggemaskan sekali, sih!"

Furihata melongo dibuatnya. Ia mengerjapkan mata lalu menggumamkan, "Selama ini? Ki-kita baru bertemu dua kali."

"Wah, kau teliti sekali." Chelsea terkikik pelan. Gadis itu menghela napas lega dengan suasana menenangkan—tidak mencekam seperti tadi, merogoh tas selempang kesayangannya untuk mengambil lolipop kesukaannya. "Aku sudah tahu kau sejak lama, Furihata-kun. Dan sejak pertama kali melihatmu, kau memang terlihat menggemaskan. Tega sekali memang Akashi-kun jarang menceritakan tentangmu padaku sementara—"

TIIIIIIIIN!

"Hiiee!" Furihata dan Chelsea terperanjat kaget karena salak ganas klakson yang ditekan sadis oleh Akashi dengan wajah sedistan biasanya.

"Jangan membuat orang jantungan begitu!" Chelsea menatap gemas pada supir galardo tersebut.

Akashi tetap mematri konsentrasi ke jalanan. "Ada motor yang sembarangan menyalip." Dia melirik dingin pada Chelsea. "Kau harus lebih peka pada sekitarmu, Chelsea."

"Kau tidak perlu membanting klakson sekencang itu, aku sedang mengobrol dengan Furihata-kun." Chelsea membuka bungkus lolipopnya, memahami sarkasme yang Akashi maksud. Namun ia takkan mundur. "Kau yang harusnya lebih peka, Akashi-kun."

Aliran elektris imajiner menauti bersitatap sengit sepasang pemuda-pemudi itu yang telah saling mengenal sejak mereka mengenyam pendidikan S2 di Inggris. Keduanya bersitatap sengit.

"A-apa mobilnya lecet? Atau pengendara motornya terluka? Astaga, apa pengendara motor itu tidak sayang nyawa sampai menyetir ugal-ugalan begitu?"

Temperatur di ruangan mendadak menghangat.

Baik Akashi dan Chelsea menengok ke arah kanan, pada Furihata yang menatap cemas keluar melewati dashboard dan kap mobil—berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Keduanya lantas saling berpandangan, kemudian menghela napas panjang.

'Kenapa di saat seperti ini justru dia yang gagal peka?'

Chelsea yang pertama menebas situasi aneh ini dengan tawa lepasnya. "Tidak usah khawatir, kalau mobil ini lecet, Akashi-kun selalu bisa membeli yang baru."

Furihata turut tertawa kecil setengah hati. Ia tentu tidak meragukan kapabilitas Akashi Seijuurou membeli mobil mewah ini lagi, tapi sesungguhnya ia justru mengkhawatirkan nasib si pengendara motor jika dituntut ganti rugi ataupun terluka dan mesti merogoh biaya untuk mengobati diri sendiri.

Ia tidak ikut berpartisipasi dalam bara konversasi, indera pendengarannya sedikit disfungsi dari perdebatan yang diinisiasi lagi oleh Akashi dengan lawan debat Chelsea—tentang kompensasi kecelakaan.

Furihata termenung memikirkan yang terakhir Chelsea katakan dan aksi preventif Akashi barusan. Dia tidak seidiot itu tidak memahami apa pun yang hendak Chelsea sampaikan padanya—tentang bagaimana gadis itu telah mengetahuinya begitu lama, Akashi mendistorsi semua itu.

Seingatnya, pertemuan pertamanya dengan calon pengantin Akashi Seijuurou yang ia tahu ini adalah di Yosen Bakery. Ditambah kali ini, mereka baru bertemu dua kali. Apakah dua kurun waktu ini pantas disebut "sudah sejak lama tahu"?

Kecurigaan sang wedding planner kian mengambang ke awang-awang. Jika berasumsi Chelsea telah mengetahui dirinya sejak lama, itu berarti waktu sejak lama yang dimaksudnya ini adalah sebelum mereka bertemu. Furihata teringat waktu di Yosen Bakery dan Chelsea menemaninya memilih makan siang, gadis itu mengetahui dirinya adalah salah satu orang terdekat Akashi.

Selain itu, Chelsea mengemukakan ia tidak keberatan dengan relasi homogen yang tabu, dirinya open-minded lantaran sejak dulu bermukim di tempat-tempat yang membentuk paradigma dan perspektifnya untuk tidak antipati terhadap hubungan yang mayoritas kalangan masih beranggapan relasi tersebut menjijikkan.

Gadis yang dalam periode waktu sama sepertinya, enam tahun memiliki Akashi di negeri yang ia tidak ketahui, yang punya tawa seceria gemersak rerimbunan di padang bunga ditiup sepoi angin, menangis sedih mengatakan hal-hal seperti itu pada Akashi.

Furihata seketika merasakan tikaman menyakitkan di relung hatinya. Ini sebatas praduga semata. Tapi andaikata benar ...

Jika Chelsea selama di Inggris jatuh cinta pada Akashi, kemudian mengetahui ternyata Akashi pernah menjalin relasi yang mungkin tak pernah terimajinasi oleh gadis ini, dan ternyata keduanya memang harus menikah ...

Bagaimana perasaan gadis itu mengetahui lelaki yang dicintainya selama ini tidak pernah memiliki mantan kekasih perempuan?

Seseorang yang kini, ketika Akashi kembali, diminta untuk menyiapkan pernikahan mereka?

Tidakkah Chelsea sendiri sesungguhnya diterkam kekhawatiran tak berpenghujung mengetahui Akashi sekembalinya ke Jepang malah menemuinya lagi? Mereka akan menikah, tidak seharusnya Akashi kembali pada seseorang yang hanya merupakan masa lalunya.

Tidak mungkin seorang gadis tidak cemas dengan probabilitas kekasihnya menemui seseorang yang dulu pernah begitu lama memiliki hatinya.

.

.

"Aku melihatnya begitu sedih setiap melihatmu."

.

.

"Aku mencintai—"

.

.

"… -mu."

.

.

"Ma-maafkan aku—"

.

.

"—maafkan ke-keegoisan dan kejahatanku i-ini, Akashi-kun."

.

.

Ada perbedaan nyata antara berpikiran terbuka dan menerima individu berorientasi seksual menyimpang, dengan menerima kenyataan bahwa seseorang yang dicintainya itu sendirilah yang dulunya menyimpang.

Kebanyakan orang seharusnya melangkah mundur-teratur, terang-terangan menyekat impresi jijik pada orang yang orientasi seksualnya bertendensi homogen. Tapi Chelsea tidak demikian, Furihata mengingat perlakuan gadis itu sejak pertama kali bertemu dengannya. Diimbuh fakta bahwa gadis ini tidak memperlakukannya berbeda, ditambah realita gadis itu akan menikahi Akashi kendati mengetahui masa lalunya—

—Furihata menggigit bibirnya. Andaikan ia yang seorang gadis normal, ia akan berpikir repetitif untuk mengakhiri masa kegadisan dengan seorang lelaki yang orientasinya menyimpang. Tapi gadis ini memutuskan bersama Akashi—mungkin karena menyadari bakal suaminya itu telah meluruskan orientasinya yang bengkok?

Gadis mana lagi yang punya kelapangan dada dan kerelaan setulus Chelsea?

Gadis ini sepertinya justru merasa egois antagonis karena mengetahui perasaannya masih hidup kendati redup untuk kliennya, dan Chelsea merasa juga mencintai lelaki yang sama, karena itu ia berkata demikian pada Akashi.

Untuk apa gadis sempurna ini menangis segetir tadi jika ia yang akan menikah dengan Akashi sementara Furihata hanya Akashi jadikan sarana untuk menyelenggarakan pernikahan? Bukankah pada akhirnya Chelsea yang akan memiliki Akashi?

Furihata seketika bergetar dan merasakan hatinya kebas, mulutnya terasa masam sekaligus pahit dan pedas dijejali adas. Asumsi akhirnya merunut pada suatu konklusi yang menyebabkan matanya panas.

"Akhirnyaaa ... kita sampai juga di Shutoku. Ayo turun, Furihata-kun!"

Senyumn gadis ini cantik. Dia gadis yang baik. Kendati sepertinya ia mengetahui Akashi dulunya bukanlah pemuda normal—dan sejak kapan silabel normal dapat mendefinisi perfeksi seorang Akashi Seijuurou, sementara Furihata notabene adalah persona mozaik yang mengendapi masa lalu tapi diminta Akashi menjadi wedding planner mereka, Chelsea menerima keduanya tanpa memperkarakannya.

Dia gadis yang sangat baik. (—dan amat pantas bersanding dengan Akashi Seijuurou.)

Furihata mengatup bibir rapat dan membuka pintu yang kuncinya telah dibukakan oleh pemilik mobil. Langkahnya gontai setelah turun menapak aspal, berkaca menerawangi langit ditebari arakan awan yang gamang antara putih dan abu-abu.

"Tunggu, Akashi-kun! Hei, Furihata-kun, kenapa diam saja di situ? Masuk, yuk!"

Chelsea menggamit tangan sang wedding planner agar tidak tertinggal langkah-langkah panjang sang emperor yang lebih dulu bertapak memasuki gedung bereksterior vintage tanpa menanti keduanya.

Furihata menatap punggung mungil yang terbalut vest hitam di hadapannya, kagum dibubuhi salut menaburi secarik kecil bidang itu yang diseraki helai-helai sutra lembut auburun.

Determinasi memprovokasi hati, Furihata bersumpah akan memberikan yang terbaik untuk kedua kliennya karena mereka juga adalah—kendati perih tak terperi, ia takkan sungkan mengakui—yang terbaik.

Ketika sepasang pemuda dan satu pemudi yang telah dinanti-nanti kehadirannya oleh tuan rumah tempat ini masuk ke dalam gedung, seorang gadis berambut hitam dikepang dua mengantarkan mereka menuju lantai dua.

Mereka diantar memasuki sebuah ruang kedap suara. Mengedarkan pandangan, begitu banyak jajaran sofa beludru klasik berundak-undak sampai ke bibir panggung yang dijuntai tirai-tirai sutra. Terpukau karena ternyata tempat itu adalah miniatur dari panggung Broadway yang merupakan panggung nomor satu di dunia yang jadi objek mimpi banyak seniman di dunia.

Mereka masuk disambut dengan ruang pendengaran seketika diinvasi oleh hembusan dahsyat koor paduan suara gospel diiringi gelegar musik orkestra yang melesaki sanubari.

Furihata merinding berat. Betapa mengerikannya paduan vibrasi bariton dan soprano serta gelegar megah yang dipimpin oleh sang dirigen itu meremangkan buluk kuduk.

Chelsea hampir bisa merasakan garis-garis muram imajiner menjadi latar belakangnya saat ini. Antara ingin tertawa dengan ironi kedatangan mereka yang disambut semengerikan ini—karena bagaimanapun cocok dengan datangnya seorang emperor maha ternama dengan kharismatika memukaunya, Akashi Seijuurou, sekaligus miris karena sambutan oleh si musikus sekaligus dirigen jenius sahabat dari sahabatnya itu benar-benar tidak bisa disebut menyenangkan.

"Shin-chan, kau malah akan membuat kustomer kita lari ketakutan!" Seruan dramatis seorang pemuda yang tengah menyandang gitar tak diindahkan. "Kita harusnya mengeksekusi lagu pernikahan, bukannya memainkan requiem!"

Ketiga tamu yang baru datang bisa melihat partner dari kepala hijau sang dirigen itu berteriak-teriak layaknya figur hitam putih terlupakan. Sementara ada tiga pria lainnya yang juga saling menjerit, menuding si dirigen yang menyembunyikan bulu mata panjangnya di balik kacamata, menimang-nimang nanas sembari mengeker untuk menimpuk target berupa celengan berbentuk kodok hijau di atas tahta (speaker) tersebut agar menghentikan performa menakutkan sang dirigen jenius.

Alih-alih terlihat seperti markas orkestra, tempat ini seperti panggung opera dengan para lakon yang mencoba menumbangkan entitas diktator dari tabir takdir tirani yang kejam direalisasikannya.

Sang dirigen mengetuk kencang tongkatnya, memberi tanda agar setiap anggota orkestra dan paduan suara rehat sejenak dan membubarkan formasi. Merapikan kemeja yang dikenakannya dan kebiasaan membenarkan letak kacamata ke pangkal hidung, barulah ia berbalik.

Kali ini orang-orang yang berada di belakangnya dapat melihat kedutan pembuluh darah di sudut pelipis dan alis yang mengaum bertemu. Figur pemimpin orkestra ternama itu tidak suka menemukan benda keberuntungannya itu menjadi target pelemparan nanas oleh rekan-rekan kerjanya.

"Aku hanya menguji kapabilitas tim kita." Penuh martabat ia meletakkan tongkat kebesarannya, beranjak turun dari podium kehormatannya. Mendelik dingin pada partner bersurai hitamnya yang memutar bola mata bosan. "Dan Carmina Burana (1) itu bukan requeim, Bakao."

"Astaga, Shin-chan. Champina Merana barusan itu terdengar seperti pengantar lagu kematian, coba saja kautanya yang lain," sahut Takao Kazunari geli.

Chelsea mencetus ringan. "Champina terdengar seperti nama makanan enak."

"Mananya yang enak dari tambahan Merana?" gumam Furihata prihatin.

Takao tergelak puas mendengar komentar kedua tamu Shutoku tersebut.

Twitch.

"Bakame." Midorima Shintarou melengakkan kepala, arogan dan kebanggaan berbahasa dengan tubuhnya. "Carmina Burana, jangan membuat Mozart tak tenang dalam keabadiannya, nanodayo."

"Kurasa dia memang sudah tidak tenang, bangkit dari kubur dan merasukimu barusan." Takao terkekeh tanpa dosa, telah terbiasa dengan hunjaman delikan tajam partner-nya itu padanya.

Setimpal mengabaikan pingkal Takao yang sudah biasa, Midorima menatap pada orang yang ditunggunya karena telah membuat janji dengannya sejak kepulangan orang ini. "Akhirnya kau datang juga, Akashi."

Yang disebut namanya tersenyum tipis mengapresiasi sambutan untuknya. "Permainan yang indah, Midorima."

Baik Chelsea, Furihata, Takao, dan ketiga anggota inti Shutoku itu serentak menggeleng kompak. Sesempurna apa pun dendang dahsyat musik barusan, mereka tidak mendapatkan estetika pembelai hati yang bersifat menghibur. Tidak sama sekali.

Midorima mengerling pada Chelsea yang menyadari lirikannya. Lalu pada pemuda lain di sisi itu yang telah begitu lama tak dilihatnya.

"Halo, kita berjumpa lagi, Megane-kun." Chelsea menyapa riang pada pemuda tersebut. Dia mengalihkan lirikannya pada pemuda bermata tajam yang juga tengah menatapinya. "Takao-kun juga."

Tidak seperti Midorima yang hanya mengangguk formal pada gadis itu, Takao mengulurkan tangan pada Chelsea yang disambut dengan tepukan tangan ringan dan tawa keduanya bertemu dalam alunan kekompakan.

"Tidak kusangka akan bertemu secepat ini lagi, Chelsea-chan." Takao mengangsurkan cengiran pada gadis yang tingginya hampir sepantaran dengannya. Lalu dia mengerling pemuda yang dulu seingatnya selalu di sisi Akashi Seijuurou. "Hei, lama tidak bertemu."

Furihata menepis kegugupannya dengan membungkuk singkat yang membuat Takao geleng-geleng kepala karena formalitasnya. "I-iya, senang bertemu denganmu lagi."

"Kau terlihat tidak senang, sih." Takao sebenarnya ingin menertawakan Furihata yang mendongak padanya sambil ternganga tidak percaya—mungkin karena terkejut ia bisa menelisik ekspresi murungnya semudah itu, mata kelabunya menyorotkan pemahaman seraya mengedikkan bahu kasual. "Tapi aku mengerti. Well, bagaimana kalau kita duduk di sana saja membicarakan urusan kita?"

Baik Furihata maupun Chelsea melihat ketiga pria yang terlihat lebih dewasa dan bersahaja telah lebih dulu duduk mengelilingi sebuah meja kopi di pinggir panggung yang menjorok ke dinding dan pintu entah ke mana.

Chelsea mengikuti Takao yang membimbing mereka untuk bergabung bersama figur-figur penting dalam badan orkestra Shutoku. Keduanya bercakap seraya meretaskan suspense menjelma tawa ringan.

"Chelsea-chan, mana Mine?"

"Ah, dia tidak ikut karena sedang mengerjakan misi."

"Padahal kukira dia pasti ikut. Akan sangat menyenangkan melihat Shin-chan dan dia saling bertengkar lagi. Kapan lagi kita melihat komplikasi cara mengekspresikan diri para tsundere?"

"Mine memang tsundere, Takao-kun. Hihihi. Tapi aku lebih menyukai tsundere Midorima-kun."

"Apa? Kau menyukai Shin-chan?!"

"Tsundere-nya. Jangan terkejut begitu. Aku tidak menyukai Midorima-kun seperti kau—"

"Aku bercanda. Kupikir kau mau pindah ke lain hati. Hahahaha!"

"Hei, jangan mengalihkan!"

Midorima berekshalasi singkat, tidak mengerti bagaimana bisa orang-orang seperti Takao—bukan hanya Takao, tapi juga Momoi, Kise, bahkan Murasakibara—begitu mudah dekat dengan Chelsea yang mengintili Akashi sejak kuliah bersamanya.

Setidaknya Chelsea masih lebih bisa Midorima tolerir daripada yang satu lagi itu.

Dirigen jenius itu baru menyadari ada yang tertinggal. Seorang pemuda bertampang tiada mengusung keistimewaan, tengah menatapi punggung sahabatnya yang beranjak menuju organ hitam elegan dan menekan beberapa tuts dalam pesante.

Pemuda yang mengimpresikan halo pada rona musim gugur itu mendudukkan diri di kursi panjang di hadapan piano. Melepas blazer yang dikenakan, menggulung lengan baju hingga sebatas siku, melemaskan jari-jemarinya di atas piano, emas brillian dan merah meronta di rongga matanya.

Orang-orang terkesiap, decak kekaguman menyerbak menabrak nada-nada kuat yang berdesakan di udara terkontaminasi wangi pengharum ruangan.

Midorima tidak mengerti mengapa anggota orkestranya yang harusnya segera keluar dari ruangan untuk beristirahat, sampai berjejalan di pintu mengintip siapa pianis yang kini memanasi penghujung musim gugur dengan kobaran emosi yang tidak akan terpadamkan. Bahkan konversasi mereka yang berada di meja sampai terinterupsi.

"Lagu apa ini?" Furihata merasa matanya kebas karena tak berkedip menatapi Akashi yang memainkan piano bahkan tanpa izin dari empunya.

"Chopin's Etude, OP.25, no. 11. Le vent d'hiver, Winter Wind." (2) Midorima menjawab dengan artikulasi bahasa asing yang fasih.

Terilustrasi guguran daun-daun maple kering yang diembus amukan angin penghantar musim dingin.

Gema jiwa yang dibahasakan pada nada-nada memvisualisasi spektrum merah; gejolak amarah, Midorima menyimpul konklusi. Melirik rundung mendung dari refleksi musim gugur yang mungkin jadi objek kemarahan kawannya, sepertinya Furihata juga mampu memvisualisasi musim gugur ini. Merah; amarah.

Menjelang coda, ia mulai menyadarinya. Terafirmasi begitu lagu memasuki bagian overtune, mungkin hanya Furihata yang pilu mendapatkan sepuhan imajiner emas brillian seperti daun kemuning emas yang rontok meski belum saatnya reras. Emas; kesepian.

Akashi dengan sepasang netra merah dan emas.

Akashi dicengkeram amarah dan digugut kesepiannya.

Midorima mengawasi Furihata bergeming memerhatikan Akashi—dengan intensitas atensi dan afeksi yang mengimpresi kenas hati—selesai memainkan piano lantas beranjak mengitari sekelompok cello untuk ditatapi sejenak, dan melengang menghampiri biola-biola yang ditaruh di atas jajaran kursi.

"Aku tidak menyangka kau yang memutuskan hubunganmu dengan Akashi."

Pernyataan itu membuat lehernya bergemertak kaku, mulut ternganga, mata membeliak, sekujur tubuh terpaku pada dirigen yang ternyata tengah meliriknya dingin.

"Waktu itu kau bertanya pada kami, bagaimana cara agar Akashi pergi tanpa terbebani olehmu, dan kau menolak saran dari kami semua."

Furihata diforsir Midorima mengilas balik satu dari sekian seri momen tak terlupakan getirnya seumur hidupnya.

Malamnya sekembali ke rumah (kini almarhumah) bibinya setelah menemani Akashi membelikan arloji dan mematung lama menatapi almanak, dicambuk gulana karena tak kuasa mengucap "Aku ingin kita berpisah." pada Akashi, ia menyeka matanya repetitif malam itu seraya memutuskan untuk mengajak bertemu Kiseki no Sedai serta partner respektif mereka dan meminta saran dari mereka keesokan harinya.

Tentu Midorima takkan mungkin lupa hari itu pula, hari di mana ia bersama yang lainnya sempat dibuat terdiam. Terhenyak tidak mengerti menghadapi seorang pemuda yang matanya berkaca-kaca menunjukkan tekad sedemikian kuat, kendati kentara terlihat menahan sepat dan dentaman pepat—kuat yang dibuat-buat.

Entitas ordinari ini meminta maaf karena merepotkan mereka—hanya untuk sebuah saran demi kebaikan sahabat mereka. Dia tidak ingin sahabat mereka terbebani kepergiannya dengan kewajiban untuk menjalin relasi rapuh dan membawanya terbang ke negeri seberang, karena tak ada jaminan perasaan mereka takkan berubah.

Entah yang lain masih mengingat atau tidak, tapi Midorima tidak akan bisa lupa yang diucapkan Furihata Kouki hari itu dengan senyuman sayang dan hati yang terserpih hanya untuk Akashi Seijuurou.

"Sebenarnya ... saat terakhir kali kau mengantar Akashi pergi sendiri dan kami meninggalkan kalian, apa kau memberitahu Akashi tentang yang waktu itu kaukatakan pada kami?"

Furihata mengerjapkan mata, balas menelisik pupil klorofil di balik lensa yang mengintainya. "Ma-maksudmu?"

"Kerikil," ucap Midorima gamblang, kata kunci yang ia tahu pasti menjentik memori orang ini.

Furihata refleks menenggak saliva bulat-bulat, kemudian menggeleng keras.

Midorima mengembuskan napas panjang. "Sudah kuduga."

"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" Furihata mencuri pandang sekali dua kali takut-takut pada pemuda yang menjulurkan tangan untuk mengambil kerosuke itu.

"Akashi." Midorima turut mengamati Akashi yang kini menyetem biolanya hanya dengan sekali dua kali gesek. Perfect tune. Emperor dilingkupi perfeksi. "Dia memberitahukannya padaku sehari setelah landing di Inggris, dan kurasa bukan hanya aku. Dia mencari siapa dalang di antara kami semua yang menyarankanmu untuk putus darinya."

"Ke-kenapa tidak a-ada satu pun dari ka-kalian mengatakannya padaku?" Furihata terbelalak horror. "Ka-kalian tidak bersalah, a-akulah—"

"—yang berinisiatif untuk putus darinya, tentu kami tahu. Karena kami pun tidak merasa bersalah, makanya tidak ada yang merasa perlu mengatakan hal ini padamu."

Midorima mendengus pendek. Dia melirik Furihata yang ketakutan memandangnya, lantas menggeleng sekilas.

"Aku tidak memberitahukan mengenai kerikil, kalau itu yang kautakutkan. Dan kurasa tak seorang pun mengungkapkannya pada Akashi."

Midorima yang tidak habis pikir terhadap orang biasa-biasa ini—bagaimanapun orang biasa mana yang memutuskan relasi individu sesempurna Akashi sebagai kekasih—kendati ia mengenal Furihata Kouki sejak Akashi menceritakan pertemuan mereka di hari terjadinya salah satu tragedi paling mengerikan dalam maskapai penerbangan Japan Airlines, menatapnya tanpa kesan.

"Tapi, meskipun kau tidak mengatakannya pada Akashi, dari penderitaannya hidup di Inggris setelah kau memutuskannya, aku yakin Akashi mengerti intensimu melakukan hal itu."

"A-Akashi ... menderita?" Furihata menatap nanar pada punggung seseorang yang ingin sekali digapainya kembali dengan jemarinya sendiri.

Dengus merendahkan lagi. "Mana mungkin dia semenderita itu karena berpisah dariku atau Kiseki no Sedai. Dan jangan tanyakan ini padanya, dia tidak akan mengakuinya."

Furihata mengangkat punggung lengannya menutupi wajahnya—memblokir pandanganya dari siluet yang tengah menyetem biola, menekan fabrik mantel pada mata karena lakrimalnya bergetar hebat, melelehkan yang dibekukannya selama ini, pun yang ia pikir telah mengering karena sepagian ini sudah ruah layaknya bah seluruhnya di pelukan Akashi.

Wedding planner itu tidak bisa mencegah hatinya sendiri tidak lagi merasa menderita karena mengetahui ia benar-benar menyakiti Akashi lebih dari kelihatannya saat itu. Tidak juga ia bisa menekan rasionalitasnya untuk tidak bahagia mengetahui ternyata bukan hanya dirinya seorang yang menderita begitu lama.

Sunyi menyiangi keduanya di antara bunyi uji gesekan biola yang profesional dan percakapan ringan di meja kopi.

"Kalau tidak karena kau—dan intensimu saat itu merelakannya pergi tanpa terbebani oleh hubungan kalian, Akashi tidak akan menjadi seperti sekarang."

Midorima kini berbaik hati menarik sedikit ujung bibirnya, pandangannya terlayang selintas lebih ringan pada pemuda yang susah-payah meneguk seguknya. Pemuda yang hendak menyembunyikan tangisnya karena begitu malu dan terharu, tak mengerti apa yang dikatakannya karena begitu naif.

Ditatap dengan pandangan bertanya yang linglung, Midorima memperjelas pernyataan sebelumnya.

"Furihata Kouki, jangan katakan padaku bahwa kau tidak tahu berkat dirimu, Akashi Seijuurou kini—"

Pemberitahuan dari Midorima berikutnya membuat Furihata mencelos menyadari bahwa sebenarnya ia tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa sama sekali saat ini tentang Akashi.

Furihata tergugu lugu, menggeleng amat lamat. Ia sungguh-sungguh tidak tahu—tentu saja Midorima tahu bahwa Furihata memang tidak tahu.

"Midorima."

Panggilan itu membuat Midorima mengalihkan fokus pandang pada sumber tenor yang monotonis, menginterupsi konversasinya dengan Furihata.

Akashi beranjak dari piano dan mengitari lagi barisan cello serta harpa, mengambil sebuah biola dan mengujinya dalam gesekan. Mengernyit sesaat, menyetemnya tanpa tuner membuat Midorima mendengus karena perfect pitch-nya itu tidak karatan akurasinya karena segala hal yang telah didapatkannya saat ini.

"Apa?" tanya Midorima dingin.

"Kemarilah." Akashi meminta di sela kesibukannya menyetem biola, tak menyadari Midorima sendiri diam-diam mengumpati seorang anggota orkestranya yang lalai membenarkan alat musiknya sendiri. "Jadi pengiringku."

Twitch. "Pengiring?"

Halo, Emperor. Midorima Shintarou adalah solois piano yang harum namanya berdebur ke pantai lepas publik penikmat musik klasik—

Akashi tetap berwajah distan. "Ya."

Menyadari tidak ada juga ketak-ketuk langkah kaki menghampirinya, Akashi mendongak. Membalas tatapan iritatif Midorima dengan netra heterokromatik yang menghunjam pandangan menyiratkan perkataanku-absolut-jangan-berani-berani-kau-menentangku.

"Aku akan menemanimu main shogi nanti."

"Tsk. Itu kau yang mau."

"Tentu. Jadi apa karena kemauanku ini kau menyerah karena sudah tahu pasti kalah?"

"Lihat saja," Midorima menghentak langkah selaras sorot pandangnya yang hampir galak pada mantan ketua tim olimpiadenya waktu di Teikou dulu, "aku akan mengajarkanmu kekalahan."

Akashi tertawa rendah. Mengangkat badan biola untuk diapit dengan dagu dan bahu, sementara leher dengan senar-senar di tangan kiri, penggesek di tangan kanannya. Diliriknya sepintas Midorima yang menginjak pedal—tersenyum sinis menyadari Midorima mengecek ada tidaknya kerusakan pada piano karena ia mainkan sebrutal barusan dengan lagu Winter Wind.

Semua entitas luput mendengar bisikan Akashi pada biola dalam genggamannya. Tentang kekalahan. Satu dari kesekian terkalkulasi dengan jemari. Baru saja ia dapatkan lagi.

Midorima bertanya lagu apa dalam nada jengkel yang melesak masuk berlalu-lalang sambil lalu di telinganya, tak tahu Akashi baru mempertimbangkannya begitu ia bertanya.

Akashi tak lekas menjawab. Folder ingatannya ia buka satu per satu dari sekian puluh daftar lagu yang mampu dimainkannya. Mungkin menggubah Carmina Burana atau requiem lainnya menyesuaikan dengan suasana hatinya saat ini bukanlah opsi yang buruk.

Hingga pandangannya berlabuh pada sepasang mata solid kolong langit yang sebening kala hujan usai merintik.

Vertigo mencabik kepalanya, Akashi memejamkan mata dan merasakan persona sejatinya menang kembali atas dirinya seraya membisikkan sebuah judul lagu. Begitu tirai kelopak tersibak, magenta monokrom tertuang pada ceruk jendela hatinya.

Akashi samar memandangi tangan kiri yang tergantung di sisi tubuh itu. Lingkaran emas mungil ditahta sebutir berlian berkilat di jari manisnya. Namun matanya itu memikat, membuatnya tertegun menemukan ekspresi anomali tertera di seberkas wajah biasa-biasa saja.

Akashi ingin bertanya, mengapa terjejak hujan di wajahnya. Semburat senja di pipinya. Lengkung pelangi di bibirnya. Kunang-kunang haru-biru di matanya.

Namun sebilah pertanyaan itu terberangus karena kenangan memantik sebuah lagu. Konstelasi melodi ini yang dipersembahkan Akashi (dulu, selalu; hampir setiap waktu) melalui senandung biola, memiliki begitu banyak napak tilas kenangan yang takkan terganti di hati.

Midorima dengan sederhana mengingat lagu ini tercipta dari E. Kreisler. Chopin's Etude. Op. 25. No.5. E Minor, salah satu dari satu set pieces lagu cinta. Liebesleid. Lagu favorit Akashi semenjak belia.

Furihata berbisik serak pada diri sendiri, menggumamkan lagu yang paling menyentuh hati baginya dari sekian banyak lagu yang Akashi mainkan.

Midorima tidak tertawa, tidak juga peduli, tapi toh itu tak memprevensi bibir mengurva melawan poros gravitas.

Ia merangkai asumsi apa yang ingin Akashi bicarakan dengannya setelah ini, selain rupa opini sederhana lain yang terkonstruksi di benaknya karena menyadari lagu ini sesungguhnya diperdengarkan hanya untuk satu orang saja. Ia lebih dari mampu memahami efek mozaik impresi dari konstelasi melodi yang digemakan Akashi.

Sungguh lugu pemuda ini yang tergugu, tidak tahu-menahu betapa influensif dan berarti eksistensinya di hidup seorang Akashi Seijuurou.

Saat mengingat perkataan Midorima padanya sebelum didaulat menjadi pengiring—hal pertama yang akhirnya Furihata tahu dan selama ini ia harapkan hanya untuk Akashi, denting-denting melodis biola diringi gema merdu piano yang mengisahkan sembilu pilu romansa, membalur nuansa pilu di tempat tersebut.

Furihata berbalik memunggungi Akashi (roman wajah yang tampan begitu teduh ketika peluh tersepuh di tubuh dan lampu sorot di atas sana membuat sosoknya hanya semakin terlihat sempurna) dan terhuyung menuju meja kopi, nostalgia dan berusaha untuk tidak gila karena hatinya ditoksik empedu lagu cinta hasil cipta Kreisler.

.

.

.

'Omodetou, Seijuurou.'

.

#~**~#

.

Begitu Furihata duduk di salah satu kursi meja kopi yang kosong, ia dibuat terkejut tatkala Takao menggeser secangkir latte padanya dan duduk di sisinya. Seseorang yang diingatnya selalu ada di sisi Midorima Shintarou sejak sekolah menengah atas itu menatapnya jenaka.

"Ini pertama kalinya kita bekerja sama, eh?" Takao mengangsurkan senyuman tipis pada pegawai Seirin Wedding Organizer tersebut. "Biasanya aku diminta datang oleh Kuroko—kalau Seirin butuh pertolongan."

Furihata membungkukkan badan sekilas. Dia tersenyum enggan. "Aku tidak secakap Kuroko atau Kagami, atau seniorku yang lain, err ... jadi, mohon kerjasama dan bantuannya."

Miyaji menanggapi dengan senyuman ringan. "Kami juga mohon kerjasama lagi denganmu—dengan Seirin, Furihata-kun. Ini pertama kalinya satu tim orkestra penuh yang dipakai, biasanya kalian hanya meminta band saja."

"Karena Wedding Planner-nya sudah datang, jadi bisa kita mulai sekarang?" Ootsubo, selaku pimpinan direksi tertinggi dari orkestra Shutoku, mengedarkan pandangan.

Furihata lantas mengucap terima kasih yang ditanggapi dengan senyum tipis oleh Takao, menghirup latte yang dibuatkan untuknya, dalam hati bersyukur karena manis dan hangatnya latte sesuai dengan seleranya.

Takao membuka-katup mata repetitif. "Are? Akashi tidak ikut berdiskusi dengan kita?"

"Dia bilang semuanya dia percayakan pada Furihata-kun." Jawaban Chelsea mengguratkan kerutan dalam di dahi dijuntai helai-helai hitam. "Kita bisa mulai tanpa dia."

"Orang itu benar-benar ..." Takao membelalak tidak percaya pada violinist yang tengah berduet dengan pianis partner-nya itu. Dia berusaha tidak menyumbangsihkan tatapan simpatik pada sang wedding planner yang wajahnya tersembunyi di balik cangkir.

"Oi, Midorima juga tidak ikut duduk diskusi, Takao?" tanya Miyaji—dari wajah gelapnya saja Takao merasakan alarm bahaya dalam dirinya meneriakkan keselamatan Midorima.

Takao tertawa setengah hati. "Shin-chan bilang orkestra kita bukan band pengiring pengantin. Dia minta diberitahukan nanti lagu apa yang mesti dimainkan saat momen Here Comes the Bride."

"Kalau begitu, kenapa dia membuat kita semua menerima permintaan Akashi untuk menjadi orkestra di pernikahannya, eh?" Keringat dingin mengalir tipis di pelipis Kimura yang tak habis pikir dengan pola pikir dirigen jenius mereka.

Chelsea terkikik geli melihat para individu yang berperan penting dalam organisasi orkestra veteran ini berwajah muram seraya menggelengkan kepala. "Toh kan kalian paling hanya memainkan lagu saat pengantin wanita berjalan ke altar, 'kan?"

Furihata menaruh cangkirnya seraya berdeham canggung untuk menyita perhatian. "Sebaliknya, justru orkestra yang paling sibuk saat hari pernikahan dan tidak berhenti memainkan musik."

"Bukankah yang penting memainkan musik saat pengantin wanita masuk dan resepsi saja?" tanya Chelsea tidak mengerti.

Advisor pernikahan itu melipat kedua lengan di atas meja, mengeksplanasi sesuai ilmu yang dikuasainya selama menggeluti profesi ini.

"Tidak sesederhana itu. Musik sudah jadi bagian krusial dari pernikahan, Chelsea-san. Baik itu pernikahan tradisional ataupun modern, semuanya melibatkan musik untuk membangkitkan impresi sakral dan mengharukan dari upacara pernikahan. Iringan musik dalam pernikahan terbagi atas beberapa tahap. Yang membedakan tahapannya adalah konsep pernikahannya."

Bibir merah muda itu terdorong ke atas. Netra auburn itu selalu berpendar senang setiap melihat sang wedding planner beraksi tanpa disadari.

"Jadi, kalau konsep pernikahannya adalah royal wedding, bagaimana tahapan yang harus dilakukan oleh pengiring upacara pernikahan dengan musik, Furihata-kun?"

Yang ditanya membuka resleting ranselnya bagian depan. Mengeluarkan buku catatan itu lagi yang Chelsea lihat waktu itu dikeluarkan Furihata saat mereka berada di Yosen.

Takao yang duduk di sisinya tengah menyesap cappucino-nya melirik ke Furihata yang membuka buku catatannya. Mungkin mata biasa tidak akan bisa menangkap secarik visualisasi menarik dari balik sampul buku catatan itu. Namun mata yang terlatih mengimaji nada-nada dalam seberkas suara itu tak luput melihatnya—tidak dari mata rajawalinya, yang bahkan mampu memvisualisasi nada-nada, terbelalak kaget.

Furihata sepertinya tidak sadar Takao sempat melihat apa yang tertera di sana. Gitaris tersebut memilih bungkam—kendati ketidakmengertian dan penasaran mewujud dalam keruh ekspresinya.

—kalau begitu, kenapa Furihata menerima saja rikues Akashi untuk menyiapkan pernikahannya?

Orang ini masokis atau idiot? Atau keduanya sekaligus?

Takao menggeleng sekilas, mencatat dalam benak akan bertanya saat ia nanti berdua saja dengan Furihata.

"Uhm ... ini masih butuh didiskusikan dengan Akashi-sama sebenarnya—"

Biner kelabu dibuat terbeliak lagi. Apa tadi? Dia memanggil Akashi dengan embel-embel "-sama"? Setelah semua yang mereka punya di masa lalu?

Takao mengumpat pelan. Sulit untuk tidak membayangkan semenyakitkan apa hidup pemuda ini. Astaga. Mengimaji dirinya dalam posisi Furihata saja, Takao rasa ia tidak akan sanggup.

"—gambaran kasarnya ada beberapa tahap. Nanti kalau diskusi kita selesai, aku akan beritahukan pada Akashi-sama agar dapat direvisi jika ada yang keliru atau tidak sesuai keinginannya. Silakan catat kalau perlu, siapa tahu ada yang tidak perlu dimainkan."

Furihata menampilkan senyum sopan profesional—yang tidak disadarinya ia miliki selama ini.

Ootsubo meminta Kimura mengambil kertas dan bolpoin untuk mencatatkan yang realisator upacara tersakral seumur hidup itu sebutkan. Mereka memang memiliki relasi kooperatif yang mutualisme dengan Seirin Wedding Organizer. Karena itulah mereka terbiasa mengetahui apa yang ditentukan oleh advisor sesuai kehendak klien.

"Musik pengiring terdiri atas beberapa tahap, yaitu ..." Furihata membuka lembaran yang baru ditulisinya dengan tinta hitam, "Satu: prosesi masuknya pengiring pengantin lelaki, best man-nya, dan keluarga serta iring-iringannya ke altar.

"Dua: Musik prosesi pemberkatan pernikahan.

"Tiga: prosesi penghormatan pada orangtua kedua mempelai.

"Empat: jika pengantin wanita terlambat, diantisipasi dengan iringan musik ringan untuk mengisi waktu.

"Lima: prosesi paling penting, Here Comes the Bride.

"Ada jeda di bagian ini karena pengantin harus mengucapkan ikrar pernikahan—sumpah sehidup-semati, memakaikan cincin, barulah prosesi enam: you may kiss your bride."

"Tujuh: pengantin turun dari altar berjalan di karpet merah menuju tempat VVIP mereka bersama iringannya.

"Delapan: wedding toast, memotong kue pernikahan, dan selebrasi resepsi.

"Sembilan: musik mengiringi dansa pertama pengantin.

"Sepuluh: acara penutup, ketika pengantin wanita melemparkan buket bunga dan pengantin undur-diri dari tempat resepsi. Ah, dalam satu prosesi, bisa jadi tidak hanya diisi dengan satu lagu saja."

Bukan hanya Takao yang mengepalkan erat tangannya dan tercenung menatapi Furihata yang bertremor, getar parsial teresonansi pada kertas putih yang dikusutkannya dalam sisipan jemari, suara lirihnya mengucapkan satu demi satu prosesi untuk orkestra yang akan mengalunkan musik terindah demi satu upacara pernikahan terbaik.

Miyaji bergumam takjub, "Wah, kau sudah bikin rundown acara, Furihata-kun?"

Furihata termenung bingung memandangi tulisan tangan miliknya. Hitam di atas putih. Ironi. Dia tersentak, buru-buru mengulas senyum kaku.

"Kira-kira begitulah. Setiap divisi dalam pernikahan itu berbeda urutan acaranya, tapi secara kasar memang seperti tadi. Kalau bagian jamuan makan, tentu rundown kesibukan para pelayan berbeda dengan orkestra—bintang tamu—lainnya nanti," guraunya parau.

Hening menggores atmosfer dengan torehan sunyi.

Chelsea berekshalasi berat usai mendengar penuturan tersebut. Sukar baginya untuk tetap mengurvakan bibirnya dalam liuk yang menghangatkan hati. "Jadi, ada berapa banyak musik yang harus dimainkan?"

"Banyak. Sangat banyak." Serempak tim inti orkestra Shutoku menjawab kompak.

"Terus, bagaimana cara menentukannya kalau memang musik iringan yang diperlukan sangat banyak?" Chelsea bertanya perlahan seraya menarik cangkir moccachino-nya untuk dihirup kembali.

Pertanyaan itu tak lekas dijawab, dijeda dengan satu-satunya yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan sesapan sepat pada latte yang tak lagi merembas manis pada penghujung indera pencecapnya.

Furihata meletakkan cangkirnya, kali ini berujar tanpa melihat catatan—seakan jawabannya adalah hafalan mati terpatri abadi dalam memori. "Ada tiga poin penting dalam memilih musik untuk pernikahan."

Telunjuk tangan kanan diangkat sementara jari lain terlipat. "Satu, sesuai dengan konsep pernikahan."

Menerka apa yang hendak satu-satunya gadis di meja tersebut ingin tanyakan, Furihata lanjut menjelaskan, "Musik yang dipilih harus sesuai dengan rundown dan konsep pernikahan. Tidak mungkin jika pernikahannya bertemakan modern, tapi yang diputar lagu-lagu tradisional. Atau kalaupun pengantin memiliki selera musik tradisional, maka tim pengiring musik akan dirikues untuk membuatkan aransemen musik tradisional menjadi lebih modern."

Chelsea, diiringi oleh jajaran direksi tertinggi Shutoku itu, manggut-manggut dengan bibir nyaris mengerucutkan huruf O.

"Kedua, musik berperan penting dalam mengatur mood dalam rangkaian acara dengan memerhatikan susunan yang tepat. Maksudnya begini, misalkan pada prosesi-prosesi awal, itu dimainkan musik instrumental yang cenderung slow dan ballad. Begitu memasuki bagian pesta, itu dimainkan musik dan lebih baik lagi dinyanyikan lagu yang bertempo cukup cepat dan membangun atmosfer membahagiakan.

"Sementara di bagian yang intim antara pengantin—seperti dansa pertama atau acara suapan potongan kue pertama, musik melantunkan lagu-lagu yang romantis. Di bagian momen spesial seperti pelemparan buket bunga, sebaiknya memilih lagu yang ikonik dan mempunyai nuansa membahagiakan."

Tim Shutoku berekspresi sama seperti Chelsea—mata membulat dan mulut ternganga, lantaran biasanya mereka hanya diberitahukan rundown acara pernikahan, kronologis prosesi pernikahan, serta susunan urutan lagu yang harus dimainkan. Baru pertama kali ini mereka dijejali wawasan dalam memilih musik dan lagu pernikahan.

"Ketiga, memerhatikan kecocokan musik dengan lirik lagu, tipe dan selera pasangan."

Furihata merasa lebih rileks mengamati ternyata semua yang ada di meja kopi mendengarkan penuturannya dengan seksama. Bibirnya mengedutkan segaris senyum tipis.

"Ada beberapa tipe pasangan dalam pernikahan. Tipe pasangan yang romantis, klasik, trendy, atau quirky—unik.

"Akan lucu jadinya jika pasangannya adalah pasangan yang trendy—biasanya cenderung berjiwa muda, tapi yang diputar lagu dan musik klasik dengan kecenderungan slow-ballad. Itu bisa jadi kesalahan fatal dan ketidakcocokan yang sangat absurd.

"Dalam memilih musik, seringkali kekeliruan fatal yang terjadi adalah lagu yang dipilih lirik lagunya memang romantis, tapi mengontra makna romantisme pernikahan itu sendiri. Misalkan, lagunya terdengar manis dan romantis, tapi lirik lagunya menceritakan tentang patah hati. Padahal ini upacara pernikahan—harusnya berbahagia."

"Misalkan begini, Furihata-kun, bagaimana kalau tipe pasangannya itu unik, aneh, tapi selera musik mereka bertolak-belakang? Yang satu suka musik up-beat, yang satu suka musik klasik ballad. Begitu ada kesamaan lagu favorit mereka, tapi lagu pilihan mereka itu juga bertolakbelakang dengan tema pernikahan."

Chelsea menatap lekat penyelenggara pernikahan itu yang punya problema tentang konfidensi. Dipikirnya Furihata akan termangu lagi menjawabnya, tapi mereka dikejutkan lagi dengan jawaban mendetail si realisator upacara tersakral bagi setiap pasangan yang ingin melepaskan masa lajang mereka.

"Di tahap ini, sering terjadi perdebatan alot antara wedding planner dengan klien. Untuk mengantisipasi hal tersebut, biasanya tim wedding planner meriset musik dan lagu dibantu tim musikus, berdasarkan preferensi musik dan lagu kesukaan klien. Menyesuaikan dengan konsep pernikahan dan tipe pasangan—bahkan juga dicocokkan dengan musim pernikahan. Kalaupun semuanya bertentangan, kami tetap mengutamakan kesukaan klien dan konsep pernikahan yang diusung. "

Furihata mengilasbalik suatu kenangan dengan salah satu kliennya selain royal wedding Akashi Seijuurou—yang sebentar lagi juga akan segera menikah, tertawa mengingatnya. Kliennya yang satu itu dengan pasangannya memang paling keras kepala.

"Aku punya klien yang juga sebentar lagi menikah. Antara dia dan pasangannya benar-benar bertolakbelakang, semacam mismatch couple. Preferensi mereka juga beda jauh. Namun setiap melihat mereka berdua, semua juga bisa mersakan romantisme mereka—selalu dibuat cemburu dengan cara kemesraan melalui pertengkaran mereka.

"Itu aku, Fukuda, dan Kawahara benar-benar susah-payah mencari referensi musik yang cocok dengan ketiga poin utama ini, lebih sulit lagi diapprov oleh mereka."

"Kami biasanya hanya diberi list lagu saja untuk langsung dimainkan," tanggap Ootsubo yang mengaduk white coffee di gelasnya.

Furihata meringis pelan, menunduk penuh rasa bersalah. "Err, itu karena aku tidak seahli Kuroko, Kagami, dan yang lainnya. Ini juga pertama kali calon pengantinnya sendiri memberikanku kepercayaan penuh padaku, tapi aku agak ... ya, kurang yakin."

Gelontoran persona pengecut memecut dirinya.

"Jadi lebih baik nego dengan semuanya sekaligus, agar semua pihak yang terlibat jelas. E-eto ... biasanya juga hanya band biasa yang memainkan musik iringan dalam pernikahan, i-ini pertama kalinya ada klienku menginginkan bintang tamu dan pengiring musiknya adalah orkestra."

"Kau baru pertama kali dapat tender royal wedding dari klien seperti Akashi, eh?" goda Takao.

Furihata melekukkan bibir tanpa harmoni ekspresi berarti. "I-iya."

"Kurasa aku lebih suka caramu mengajak semua pihak, kau sebagai wedding planner, klienmu, dan pihak yang terlibat dalam pernikahan—seperti sekarang ini yaitu tim orkestra, berdiskusi bersama, Furihata-kun. Semua pendapat bisa didiskusikan agar mencapai mufakat dan mendapatkan titik terang—musik dan lagu yang cocok serta indah untuk pernikahan" tutur Chelsea halus.

Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk lembut punggung tangan advisor pernikahan tersebut yang kini ia mengerti sungguh-sungguh memerhatikan setiap detil dalam pekerjaannya dan kebahagiaan kliennya.

Furihata menatapi tangan berjemari lentik—dengan kuteks yang agak berantakan karena dikikis Akashi saat mereka di Too tadi—dan gesturnya ini. Familiar. Mungkin kebiasaan Chelsea. Senyumnya terkembang tulus.

"Terima kasih, Chelsea-san."

"Nah, kalau begitu, bimbing kami memilih lagu dan musik untuk pernikahan Akashi Seijuurou. Tipe pasangan, konsep, apa pun itu," pinta Ootsubo lugas.

Furihata menegapkan tubuhnya. Mata berpupil kolong langitnya yang mungil memijar solidnya determinasi.

"Konsep pernikahan modern, royal wedding. Tipe pasangan—"

"Quirky. Oposisi. Mismatch," sela Chelsea tanpa ragu dan terkiki geli karenanya.

Furihata melongo sesaat. Dia menggaruk pipi, tidak merasa Akashi dan Chelsea sebenarnya adalah pasangan bertipe aneh ataupun bertolakbelakang. Mereka amat kompatibel—dalam perspektif Furihata.

"Kalau preferensi klien ..." Furihata termangu sesaat. Lukisan kerumitan merasuki wajah yang tengah menerawang. "... uhm, mungkin klasik. Mungkin."

Akashi suka musik klasik, 'kan? Tapi Chelsea tidak terlihat seperti gadis yang menyukai musik kla—oh, pantas saja gadis itu tadi bilang mereka adalah pasangan tipe oposisi. Menyerah dengan hal ini, Furihata mendongak.

"Bagaimana kalau tanya langsung pada klien kita saja?" usul ahlinya tentang pernikahan tersebut.

Takao lekas mengangguk menyetujui. "Sekalian menentukan musik paling penting, bagian here comes the bride." Dia menyeringai sembari memosi ibu jari pada dua pemuda yang tengah berkonversasi serius. "Bagaimana kalau kita ke sana saja?"

Ootsubo berdiri dan mengetukkan jemari pada meja kopi. "Takao, Furihata, kalian bersama Midorima, Chelsea-san, dan Akashi, menentukan musik terpenting itu dulu. Kimura, Miyaji, ikut denganku mencarikan list musik klasik dan lagu-lagu yang biasa mengiringi sepanjang resepsi pernikahan."

"Oke." Sementara ketiga seniornya melengang menuju tempat arsip—perpustakaan berbasis online, Takao beranjak bersama sepasang pemuda-pemudi lainnya mendekat pada grand piano di sentral panggung.

Chelsea memacu langkahnya, sesekali melompat ringan menghampiri kedua pemuda yang tengah berkonversasi serius.

Takao sengaja menyejajarkan langkahnya dengan pemuda yang ia ingat dulu pernah meminta hal yang jika ia berada di posisinya, belum tentu ia sanggup melakukannya. Pemuda yang dulu ia ingat selalu berada di sisi sang emperor.

"Hei—"

Suara serius yang anomali dari pemilik mata rajawali yang biasa memendar pesona goda menginterupsi langkahnya.

"—di balik sampul bukumu itu—"

Takao tak terkejut melihat sepasang mata itu membulat. Pupilnya bergerak tak beraturan. Ceruk matanya berkerut. Alisnya meliuk bertemu. Airmukanya memendar ketakutan. Teridentifikasi oleh matanya orang di hadapannya menatapnya seakan ia terror serupa meteor yang ganas menghunjam bumi.

"—kalau begitu perasaanmu, kenapa kau menerima permintaan orang itu untuk menyiapkan pernikahannya?"

Ketegangan merajam keduanya dalam kesunyian menyesakkan.

"Di-dia memintaku."

"Kenapa kauterima? Kau ini idiot atau masokis?"

"Aah ... tadi pagi saat kami ke Too, Aomine juga bilang aku idiot dan semacamnya. Haha."

"Itu berarti bukan hanya aku yang berpikiran semua ini—tindakanmu—tidak masuk akal. Aku tidak mengerti. Dia menginjak-injak perasaanmu."

"..."

"... jangan bilang dia tidak tahu bahwa kau—"

"—dia ... di-dia ti-tidak perlu ta-tahu. Tolong jangan beritahu dia juga—i-itu sudah masa lalu."

"Astaga kau benar-benar gila sepertinya. Apa yang kaupikirkan sebenarnya?"

"Aku punya alasan ... a-aku juga sudah berjanji padanya, aku a-akan menyiapkan pernikahan terbaik u-untuknya."

Takao menatap Furihata dengan roman wajah keruh, lekat-lekat menelusuri pemuda ordinari yang malah membalas tatapannya dengan sepasang mata menggelimang resolusi—yang dalam anggapannya tidak lebih dari destruksi diri.

"Ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya." Furihata melirih. Lebih dari sekedar rintih sedih. "Terakhir."

Takao mengacak rambutnya sekilas, kali ini tidak bisa meredam empati tersisip dalam suara yang hampir merembaskan pilu.

"Saat dia memintamu berjanji padanya, bagaimana perasaanmu saat itu? Kau—kau tidak mungkin baik-baik saja."

Furihata menghindari netra rajawali yang menelisik rahasia perasaan yang didekamnya. Rindu-dendam yang remuk-redam dipendam lebih kelam daripada jelaga malam.

Ada sebait dedikasi afeksi yang Takao mustahil mengerti. Jika dia yang berada di posisi itu, ia belum tentu mampu.

Pertanyaan terakhir Takao, yang memang tidak untuk diijawab, senantiasa mengambang di ruang pendengaran Furihata yang terdampar di awang-awang.

.

.

.

"Furihata Kouki, kautaruh di mana hatimu selama ini saat kau menyiapkan royal wedding untuk Akashi Seijuurou?"

.

#~**~#

.

"Lagunya itu yang tet, tet, tet, teeeeet. Tet, tet, tet, Teeeet. Atau yang teeeet, teeet, tet, tet, tet—"

"Jangan substitusi musik instrumental sakral begitu dengan "tet" saja, nanodayo."

"Eeeh, tapi aku tidak fals menyanyikannya, 'kan?"

"Terdengar jelek dengan "tet"."

"Kalau begitu, na, na, na, naaa—"

"Pakai "naa" juga terdengar buruk, nanodayo!"

Sepasang pemuda dan pemudi yang tengah berdebat menyengat deathglare pada gesekan biola mendayu-dayu, keduanya menyentak, "Hentikan memberikan kami backsound Turn (4) begitu, Akashi(-kun)!"

Alih-alih marah, Akashi terlihat netral seperti biasa—bahkan geli karena keduanya mengetahui lagu dari seorang musikus Jepang ternama itu. Menggoda keduanya yang ribut memang jadi sarana atraktif baginya, mereka cocok jadi objek pelampiasan emosi agar dirinya tetap terkendali.

"Shin-chan, mana bisa kau dapat pacar kalau kau bicara seperti itu pada seorang gadis?" Takao terkekeh seraya menopangkan lengan pada speaker besar. "Oh, tunggu dulu, jangan katakan kau tidak membutuhkan pacar! Aku selalu mengkhawatirkanmu tidak akan bisa jatuh cinta."

Sebelum Midorima ketus menanggapi—mulutnya baru terbuka dengan ancang-ancang mengucap "Bakao", Chelsea lebih dulu menukas.

"Kurasa Midorima-kun akan jatuh cinta pada gadis pembaca Oha-Asa."

"Belum tentu gadis pembaca Oha-Asa tiap hari itu mau dengan Shin-chan."

Twitch.

"Kalau zodiak mereka cocok? Dan ada couple item-nya?"

"Pffth. Bwahahaha! Aku tidak akan kaget kalau mereka bisa pacaran. Mereka akan jadi pasangan paling aneh yang pernah ada."

Twitch.

"Cinta mereka penuh dengan ramalan bintang. Terdengar romantis, ya?"

"Sementara si gadis membaca ramalan Oha-Asa, Shin-chan akan memainkan piano dengan lagu indah untuknya."

Twitch.

"AHAHAHA! ROMANTIS!"

Sepasang pemuda-pemudi itu tertawa nista seraya bertukar high-five keras-keras—dan Midorima bisa mengidentifiaksi kejengkelannya bukanlah karena ditertawakan, melainkan kenyataan Takao akrab sekali dengan Chelsea.

"Butuh bantuan?"

Tanpa mata emperor-nya pun, Akashi dapat melihat aura kemarahan berkobar melingkupi Midorima. Karena itu ia berbaik hati menyerahkan tongkat dirigen balik pada empunya.

Sebagai sahabat, tentu ia paham seberapa kesal Midorima digoda Takao—kendati sudah biasa. Sama seperti dirinya dengan Chelsea. Kini kedua orang penggoda mengesalkan itu berkonspirasi seperti sejak pertama kali bertemu.

Ibaratnya, seperti nyamuk yang berdengung di telinga tatkala kita hampir terlelap. Sudah berisik, membuat gatal. Namun tak bisa dienyahkan karena berterbangan nakal.

"Aku tidak butuh dikhawatirkan tentang jatuh cinta, nanodayo."

Zrash.

Furihata berjengit horror melihat Midorima merampas tongkat dirigennya dengan tangan kiri dari Akashi yang menyodorkannya, menebaskannya pada Takao dan Chelsea sekaligus. Dia mengeret ngeri mendapati sepasang pemuda-pemudi itu tidak marah, volume tawa mereka kian mengencang—dan keduanya lincah berkelit dari sabetan dirigen jenius tersebut.

"Itu berarti kau sudah atau sedang jatuh cinta?" terka Chelsea telak. Melihat iris seteduh rerimbunan hutan di balik lensa bening itu kian terpicing, ia kembali tergelak. "Aku benar."

Takao memandang Chelsea dengan tatapan tercengang. "Bagaimana kau bisa tahu, Chelsea-chan? Ini Shin-chan yang sangat distan dan dingin dan aseksual kecuali terhadap lucky-item sampai aku cemas suatu hari nanti Shin-chan akan mendeklarasikan bahwa Oha-Asa adalah cinta sejati—ouch, Shin-chan!"

"Kau baik-baik saja, Takao-kun?" Chelsea mengelus-elus punggung lengan Takao yang kena sambit pianis solo di orkestra Shutoku, kerling auburn-nya nakal menggoda Midorima. "Ah, ya, kalau kau sensitif dengan topik ini, kuasumsikan kau belum menyatakan cintamu?"

Ada suara ledakan imajiner menggelegar di panggung opera tersebut.

Midorima menoleh kaku patah-patah pada Akashi. Yang dihunjami delikan sadis dengan acuh tak acuh mengedikkan bahu. "Oh, kau sedang jatuh cinta, Midorima? Jika Chelsea tidak mengatakannya, aku tidak akan menyadarinya."

Sebelum Midorima membuka mulut, Chelsea yang menepuk-nepuk lembut punggung lengan Takao itu berujar seraya mengangkat-angkat alisnya. Senyum menggodanya benar-benar terlihat menyebalkan—kini Midorima mengerti kenapa Akashi selalu berintensi mengenyahkan tapi pada akhirnya tetap membiarkan Chelsea di sisinya.

Gadis ini mengesalkan. Intelijensi tinggi menyokong kemampuan deduksi. Dia jadi terlalu banyak tahu.

"Jangan remehkan intuisi wanita, Midorima-kun." Kedip penuh arti.

"EEEH?! Siapa orang sial yang ketiban cinta Shin-chan?!"

"Kenapa malah jadi membahas jatuh cinta dan aku, nanodayo?! Bukan ini yang harusnya kita diskusikan! Dan tidak usah ikut-ikutan seperti Momoi, Chelsea! Aku jatuh cinta atau tidak itu bukan urusanmu, Bakao!"

Chelsea tertawa lepas dengan suara lembutnya itu mendapati Midorima menatap indignan pada Takao yang menguber-ubernya untuk memberitahu persona mana yang sukses menawan hati pemuja Oha-Asa garis keras itu.

Akashi melirik Furihata yang tertawa kecil menggumam, "Chelsea-san terdengar seperti Momoi-san."—dan membuat sorot pandangnya melunak.

Furihata mengamati baik-baik Chelsea yang berseri-seri menyaksikan adu mulut dua anggota inti orkestra Shutoku tersebut. Seperti bayangan dan cahaya yang saling melengkapi. Lantas ia beralih, paham keras menghantam tatkala Furihata baru menyadari kenapa Midorima murka pada Takao sementara Takao persisten sekali menanyakan kebenaran asumsi yang Chelsea cetuskan.

Oh.

Jadi dari dulu mereka tidak bersama?

Tawanya menyurut. Sorot tatapnya melembut. Mereka masih punya banyak kesempatan—semoga saja bisa bersatu dan tidak akan terpisah.

"A-ano—"

Furihata berusaha menyela sehalus yang ia mampu. Namun tetap saja tak bisa berkelit dari jengit ketika perbincangan riuh terhenti dan ia ditatapi dua ragam arti pandang: keji serta geli.

"—bi-bisakah kita me-menentukan lagu penting dulu untuk pernikahan?"

Midorima, meski diancam belati akan mengiris nadi agar dirinya mati pun, tidak sudi mengakui ia berterimakasih pada individu Seirin ini yang menyelamatkannya dari cecaran Takao dan godaan Chelsea. Mendorong kacamata balik ke pangkal hidung—kebiasaannya, ia mendengus.

"Tadi kami juga sudah sempat membahas itu." Netra klorofilnya hampir melotot galak lagi pada sang gadis yang baru membuka celah bibirnya. "Diam, Chelsea. Jangan substitusikan musik here comes the bride dengan naa atau tet lagi."

Furihata mendekat pada piano, mengabaikan Midorima yang bersidekap dan bertukar tatapan beraliran elektris dinamis dengan Chelsea. "Karena ini royal wedding, modern ... tentunya bagian here comes the bride itu akan diiringi dengan Bridal Chorus atau Wedding March, 'kan?"

"Treulich geführt. " Midorima berdecak pelan, melirik dingin pada Furihata yang tercenung bingung. "Kau bicara panjang lebar tentang makna musik dalam pernikahan, tapi kau memilih antara dua lagu itu untuk menjadi backsound bagian yang penting?"

Takao merepresentasi kebingungan Furihata dengan menyahut, "Kau bicara apa, Shin-chan?"

"Treulich geführtatau Bridal Chorus, satu dari sekian banyak lagu yang biasa diputar pada upacara pernikahan ketika pengantin wanita datang dan berjalan menuju altar. Itu adalah lagu yang dikomposisi oleh Richard Wagner pada operanya tahun seribu delapan ratus delapan puluh lima, berjudul Lohengrin."

Furihata berupaya fokus pada penjelasan histori dari Akashi, bukan artikulasi seksi bahasa asing dengan tenor rendah yang amat mendistraksi itu. "La-lalu apa yang salah dengan kedua lagu yang selalu diputar ketika pengantin datang itu?"

Akashi menggeser tempat duduknya, memberikan spasi untuk siapa pun duduk di sisinya—di kursi piano yang Midorima tinggalkan karena tadi sibuk berdebat dengan Chelsea dan Takao.

"Lagu itu dipakai untuk pembuka babak ketiga, saat pengantin wanita dari protagonis cerita itu berjalan ke altar dan mengiringi prosesi pernikahan dengan ksatria penyelamatnya, Lohengrin. Pernikahan mereka diinterupsi dua kali."

"Ah, cerita tragis itu." Ekspresi Chelsea bahkan berubah serius mengingat kisah tragis pernikahan tersebut.

"Apa yang terjadi?" tanya Takao—satu-satunya yang tidak tahu kisah tersebut selain Furihata.

Midorima menghela napas pendek, kemudian bertutur, "Singkatnya, pernikahan mereka batal karena kesalahan Elsa meragukan jati diri Lohengrin. Ia tidak tahu siapa Lohengrin itu sebenarnya dan tidak tahu kesalahan yang ia perbuat dengan tanpa sengaja memakai kekuatan sihir mengubah adiknya menjadi merpati.

"Lohengrin adalah ksatria dari langit yang jatuh cinta pada Elsa karena dia adalah gadis inosen berharti murni, ia berdoa memohon pada Raja Langit yang merupakan ayahnya sendiri, agar tidak menghukum Elsa."

" Berarti kalau si Lohengrin ini bukan manusia biasa seperti yang lainnya," Takao mengangkat sebelah alisnya, "setelah ketahuan jati dirinya, ia harus kembali ke langit tempatnya berasal?"

"Benar. Dan Lohengrin mengemukakan, jika saja pernikahan mereka bisa berjalan setahun, ayahnya telah menjanjikan adik Elsa kembali seperti manusia biasa—dan Elsa serta adiknya bisa mendapatkan tahta mereka sebagai Bangsawan lagi yang direbut saudara tiri mereka. Sepasang saudara tiri mereka yang di pernikahan itu juga dibunuh oleh Lohengrin karena menginterupsi pernikahannya dengan Elsa." Chelsea mengembuskan napas panjang menceritakan potongan kisah itu.

Midorima menutup sepenggal roman tragedi itu. "Di akhir cerita, adiknya yang merupakan merpati itu kembali ke wujud manusianya, sementara Lohengrin pulang kembali ke asalnya. Elsa menangis dalam pelukan adiknya karena suaminya, ksatria penyelamat hidupnya—karena ia sempat nyaris dieksekusi saudara tirinya—yang dicintainya, tidak akan pernah kembali lagi."

'Ksatria penyelamat hidupnya ... yang dicintainya ... tidak akan pernah kembali lagi.' Larikan klausa itu menusuk lubuk kalbu Furihata.

Tersenyum getir, setidaknya, penyelamat hidupnya, kembali lagi—meski ia pun pernah tak terhitung lagi berpikir yang dicintainya tidak akan pernah kembali lagi.

(Sebenarnya, untuk apa ia kembali lagi dan membuatnya berjanji—yang membunuh hati?)

"Aah. Jadi Bridal Chorus ini dimainkan pada opera Lohengrin, yang sebenarnya mengisahkan hancurnya sebuah pernikahan." Takao menyisiri rambutnya dengan jemari, gerakan mengemukakan hampir frustratif. Sinis ia berujar, "Tapi ayahnya Lohengrin kejam juga. Hanya karena identitas anaknya diketahui, anaknya dibawa pulang—baru juga menikah. Tidakkah dia memikirkan sedikit perasaan anaknya itu?"

"Sudah sewajarnya ayahnya berlaku demikian, karena mereka adalah golongan ksatria langit. Terlebih Lohengrin seharusnya menjaga Holy Grail—semacam kekuatan supranatural yang menjadi pusat keseimbangan dunia," tanggap Midorima datar.

"Tetap saja," gerutu Takao kesal, "Memangnya kesalahan sebesar apa yang Lohengrin lakukan sampai satu-satunya kebahagiaan putranya dirampas begitu?"

Kesunyian anomali yang menggerogoti atmosfer di sekitar mereka, diretakkan oleh tawa rendah tak mengalunkan nada kebahagiaan selarik pun.

"Karena putranya, Lohengrin—sang Ksatria Langit itu, jatuh cinta pada manusia biasa."

Serentak atensi termosi pada sumber tawa kakofoni tersebut.

"Padahal yang Lohengrin lakukan selama itu hanya mencintai Elsa." Akashi dengan ekspresi stoik menekan tuts piano. "Sayangnya, Elsa pun tidak benar-benar mengerti itu. Malah meragukan Lohengrin, dirinya sendiri, bahkan sempat menginginkan Lohengrin pergi."

Furihata menggigit bibir. Sistem respirasinya disfungsi. Hatinya dikeriyapi nyeri. Tenanglah, tarik napas, buang perlahan; bukan dirinya yang dibicarakan.

"Setidaknya Lohengrin sudah menikah dengan Elsa, dan gadis itu selamanya tidak akan bisa menjadi milik yang lain selain dirinya. Tidak akan ada yang bisa mengambil Elsa dari Lohengrin, karena ikatan pernikahan mereka—walau hancur—tapi nyata absolut adanya."

Tawa satir Akashi mengiris sunyi. Menampik miris.

"Setidaknya, Lohengrin masih beruntung. Di langit, dia pasti bisa melihat gadis yang dicintainya meratapi kepergiannya, menyesali kesalahannya karena sempat meragukannya dan menginginkannya pergi, menangisi pernikahan mereka yang tragis."

Tak terkirik ekspresi apa pun selain stoik yang menggurati roman wajah Akashi saat mengemukakan pendapatnya tentang akhir kisah opera tersebut.

Ow.

Kali ini, Takao menyikut Midorima yang melirik sebal padanya—tak satu pun dari keduanya mau berpretensi sebagai orang gagal peka. Chelsea menatapi pemuda yang terpaku kaku di tepi piano, dan pemuda yang duduk di hadapan tuts hitam putih itu dan menekan random nada-nada biru.

Chelsea mengerti Akashi seperti melempar misteri yang mudah dipecahkan dan berharap kepingan terakhir akan diulurkan entitas tertentu, kendati benar-benar tahu tidak mungkin individu tersebut membuka mulut menanggapinya—mengurai enigma.

Tak tahan melihat kepala persona yang dimaksud tertunduk merasa begitu buruk, sahabat tempatnya bersandar yang menyedihkan, kedua pemuda lain yang turut merasa canggung, gadis itu bersenandung.

"Let. It. Go. Let. It. Go." Chelsea memutuskan untuk menggeser kursi tempat Akashi menaruh biola supaya bisa didudukinya. Satu-satunya yang bisa dilakukannya dengan baik adalah berpretensi—bobrok sekalipun. Ceria berkata, "Itulah yang dinyanyikan Elsa."

"O. Laugh!" Takao impuls tertawa karena Chelsea mulai menyenandungkan nada yang digemari gadis-gadis kecil yang bermimpi jadi putri. "Hei, itu saja yang dijadikan lagu here comes the bride, bagaimana?"

Midorima berdecak gusar. "Jangan rusak musik opera ternama dengan komparasi yang kekanak—"

"Your comment won't bother the wedding anyway~" Chelsea beranjak dari kursi, berputar sekali ala ballerina sehingga roknya melambai anggun dan rambut aubrun sepinggangnya terkibas perlahan. "Di luar tentang kisah itu, lirik lagu asli Bridal Chorus mengisahkan tentang kebahagiaan sepasang sejoli. Kenapa tidak?"

"Sebentar-sebentar." Takao menginterupsi. "Dari tadi kita membicarakan lagu itu, sebenarnya lagunya yang mana, sih? Aku tahu ada dua lagu, tapi aku tidak tahu yang mana Bridal Chorus atau—eh, apa satu lagi namanya?"

"Wedding March," sahut Furihata pelan.

Midorima mendengus, heran bagaimana partner-nya itu bisa berada di Shutoku dan menerima tugas sebagai pengiring pernikahan dalam sub-tim—band—tapi tak pernah tahu perbedaan dua lagu itu. Dia mendekat ke piano, jari-jemarinya lincah memijit tuts.

"Ini Bridal Chorus," ucap pianis jenius itu.

"Aah. Ini lagu tet, tet, tet, teeeet—"

"Stop, Chelsea."

Takao menahan tawanya yang nyaris meletus lagi, tapi ia tersenyum lebar pada Midorima—tidak ingin pemuda yang kepadanya Takao selalu setia di sisinya, tersinggung lagi. "Yang Wedding March?"

"Itu butuh orkestra, tapi—" Jemari panjang yang sangat terawat khas seorang pianis itu membayangi tuts hitam putih, berpindah pada tangga nada yang berbeda, "—sederhananya begini. Chelsea, jangan substitusi dengan tet atau naa."

Chelsea mentransformasi bibir yang terbuka hendak melantun nada jadi mendengus geli. Midorima memang hebat dan bisa membaca pikiran—ulah hendak usilnya saja diantisipasi, lantas kenapa tidak bisa membaca makna tindak-tanduk Takao, eh?

"Bagaimana, Akashi? Kaupilih yang mana?"

Pertanyaan Midorima itu membuat Akashi menyingkir dari piano dan beranjak ke kursi, memungut biola yang semena-mena Chelsea taruh di lantai—dipangkunya biola tersebut dengan mendudukkan diri di kursi dengan kaki kanan menumpang di atas kaki kiri.

Chelsea—memahami gestur distan kawan hidupnya selama di Inggris itu—menjawil sang pianis, berbisik keras, "Kau tanya pada Furihata-kun. Wedding planner-nya dia."

Midorima menggulir kedua lanskap zamrudnya pada advisor pernikahan yang dimaksud.

Furihata memiringkan kepala, ia tidak bisa memutuskan karena rasanya masih ada yang mengganjal. "Ba-bagaimana kalau mencoba dua lagu itu didengarkan dengan orkestra agar ki-kita tahu mana yang pa-paling cocok untuk royal wedding modern?"

"Menurutku juga begitu. Karena kurasa yang bridal chorus itu terlalu sederhana untuk pernikahan kali ini, Shin-chan. Mungkin yang Wedding March lebih cocok." Takao menimpali, kali ini sebagai orang yang mengenyam profesi sebagai musikus dengan jam terbang tinggi.

Chelsea menjentikkan jarinya. "Sekalian saja cari Ootsubo-san dan yang lain untuk mengecek lagu lainnya."

"Chelsea-chan benar. Miyaji-san dan yang lain lama sekali," keluh Takao. Digeretnya Midorima keluar dari ruangan opera dengan lambaian tangan ringan tak berdosa. "Kami pergi dulu."

Chelsea bergegas berlari-lari kecil mengejar dua pemuda tersebut. "Aku ikuuut! Aku mau lihat-lihat tempat kerja orkestra sehebat Shutoku!"

Seperti badai pasir kering di padang tandus yang gersang akhirnya berlalu.

Furihata mendesah gelisah. Ia menghempaskan diri ke bangku panjang piano. Memijat bahunya yang pegal-pegal—akibat terlalu lelah dan kebanyakan pekerjaan. Matahari disemu arakan awan masih menggelantungi dirgantara, tapi ia sudah sebegini lelah.

Lebih tepat, tekanan mental yang menderanya membuatnya penat.

Furihata tertunduk melanskap barisan tuts putih dan hitam terpampang di hadapannya. Termenung, ia mengingat piano ini yang tadi dicumbui jari-jemari Akashi menyenandungkan melodi yang terpatri mati di memori.

Itu tadi gugusan melodi yang menemani masa kanak-kanak Akashi. Ditenun tenung renung, jarinya membayang tuts dalam sentuhan—kenang-kenangan tentang masa kecil menggenang. Tentang seutas senyum sayang di sisi keriput—serta sorot pilu selamanya bernostalgia yang saat itu tak ia pahami, dan alunan nada-nada cinta tak dilekang usia.

"Obaa- ... san."

Akashi yang sedang menertawakan konyolnya mengomparasi Lohengrein dengan dirinya; antara opera dengan realita, sembari membersihkan penggesek biola—yang tadi ditaruh oleh Chelsea di lantai—dengan blazernya, didengarnya lirih sedih itu disambung intro keindahan prematur dari musik klasik yang dirintihkan oleh satu-satunya piano dalam ruangan tersebut.

Jari-jemari yang memijit tuts itu satu per satu. Tertatih. Bukan tangan terlatih unjuk gigi mementas rangkaian tangga nada dalam sentuhan semata. Musik yang menggema lembut di ruang kedap suara itu dan beresonansi hingga hati Akashi.

Saat sepasang netra magenta itu akhirnya bermuara pada sebilah punggung kurus yang memblokir megahnya piano, bait lirik lagu itu menyapukan gelombang nostalgia. Secarik memori terpantik; ini lagu yang biasa ia dengarkan saat ia bertandang dulu ke tempat tinggal entitas yang tertatih meraba nada-nada lagu penuh kenangan tersebut.

Akashi beranjak, menaruh biola kembali di kursi, langkahnya disaput keraguan untuk mendekat—menjangkau lengkung punggung itu.

Alunan musik seketika terhenti.

"Aaah. Aku lupa kelanjutannya." Furihata berekshalasi panjang, menggerungkan dirinya sendiri payah. Rintihan sesal. "Maaf, Obaa-san. Judulnya saja aku tidak ingat—"

Furihata tersendat saat melihat ada lengan bersandingan di sisi lengannya. Jari-jemari lain menari di sisi jari-jarinya yang tergugu di beberapa tuts tertentu.

"—Clementine, Kouki."

Bisikan itu tepat di telinganya. Furihata impuls menggigit bibir, menggigil—tak menyadari Akashi berada sedekat ini dengannya.

Furihata sebenarnya ingin tertawa getir lagi. Ironis: Ai no Kanashimi, lagu favorit Akashi—dan sampai sekarang ia masih tidak mengerti kenapa Akashi menyukai lagu menyedihkan ini, bisa ia ingat. Kenapa lagu yang diajarkan oleh satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa ia malah tidak ingat?

'Obaa-san, maafkan aku.' –kenapa malah Akashi yang ingat? Atau Akashi ingat judul lagunya saja? Atau memang Akashi ingat lagu ini sering didengarnya dulu saat berkunjung ke rumahnya?

Entah mana yang lebih nyata. Deru helaan napas Akashi yang menggelitik telinganya, radiasi kehangatan tubuhnya dan tangan itu—yang Furihata tidak pernah bisa membunuh hasrat akan kehangatannya, alunan melodis manis menyakitkan dari tarian jari-jemari di atas tuts piano yang dinamis.

Akashi tidak memainkan versi asli lagu Clementine yang terlalu klasik—melainkan gubahan yang tercipta saat itu juga, tiupan dewi inspirasi melesaki hati dari segala peristiwa yang terjadi hari ini.

Entah mana yang lebih menyakitkan. Kontra lagu pernikahan dengan sejarah kisah opera di baliknya—dibandingkan dengan realitanya. Jemari dengan kilatan emas berkilau di jari manis Furihata yang bersanding dengan jari-jemarinya di atas tuts hitam putih. Atau lirik lagu ini yang satir terhadap intensi Akashi sendiri.

Ketika mengerling pada wajah yang persis berada di sampingnya, bahkan pipi mereka hampir bersentuhan, ekspresi anomali merekah di wajah orang ini yang begitu perhatian dan observan mengamati permainannya, terbersit harapan yang mustahil terwujud.

Mungkin ia ingin memainkan lagu ini, bersama orang ini yang tertatih menyerpih nada dengan piano, dipersunting gesekan biolanya. Kolaborasi oposisi. Tentunya takkan menghasilkan simfoni harmoni yang indah.

Setidaknya dari tatanan indah melodi ini, mereka dapat mengimaji hamparan rumput hijau yang disepuh sendu sinar matahari, padang ilalang yang bergoyang, lahan yang direkahi semerbak wangi bunga-bunga, mungkin dengan iring-iring ricik air atau ringkik jangkrik.

"Ma- ... maaf."

"Kau tidak salah apa-apa padaku, Kouki."

"..." –kau menderita karena aku. Dulu.

"..." –clemency, aku yang harusnya mengucapkannya padamu.

"... ka-karena aku tidak tahu tentang dua lagu yang biasa dimainkan saat here comes the bride ternyata berasal dari kisah pernikahan setragis itu. Ha-harusnya aku cari tahu lebih dulu—"

"—aku tidak peduli kontroversi kedua lagu itu. Kaupilihkan saja yang terbaik."

"Ca-caraku tahu itu yang terbaik untuk—"

"—kau lebih suka yang mana?"

"..." –yang aku suka lagi?

"Kau juga tidak punya preferensi khusus antara kedua lagu itu."

Checkmate.

Lagu Clementine mangkir tanpa ada coda akhir.

Akashi memutuskan untuk duduk di spasi yang tersisa di bangku panjang piano itu. Persis di samping wedding planner yang terpekur karena pernyataannya memiliki konten kebenaran tak dapat diblur.

Bagaimana bisa jari-jemari yang hanya berlari-lari di atas pijak bumi putih dan hitam menghasilkan warna nada yang berbeda?

Menyerah pasrah, Furihata menggerung murung. "Ba-baiklah. A-aku akan memilih." Nanar memandangi jari-jemari dengan keinginan untuk menyisipkan miliknya pada tangan hangat yang melantun melodi magis menghipnotis.

Ketika atmosfer diusapi sunyi, jari-jemari menari merangkai melodi lagi.

"Ini lagu yang sering dimainkan Obaa-san-mu dulu."

Furihata tertawa hambar. Akashi mengingat hari ini adalah sehari dalam setahun tegar dirinya babak belur dan sekali di antara ratusan hari puing-puing hatinya yang beku boleh meleleh, lucu bila pemuda yang duduk di sampingnya ini tidak mengingat Clementine adalah yang sering didengarnya dulu saat bertandang ke rumah Obaa-san.

(Pada kenyataannya, Furihata sendiri tidak pernah bisa lupa lantunan melodi Ai no Kanashimi.)

"Ku-kurasa ... ini bukan lagu ke-kesukaan Obaa-san."

Akashi tidak membawa dirinya mengerling Furihata. Sedekat ini membuat lidahnya sepat. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"A-aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi beliau selalu te-terlihat sedih saat memainkan lagu ini. Padahal lagu ini sa-sangat indah."

"Indah karena gubahannya diperbaharui masa kini. Sebenarnya lagu ini termasuk lagu klasik yang kebanyakan generasi muda kita akan mengantuk mendengarnya."Tawa rendah itu merusak ritmis dinamis jantungnya. "Selain Ojii-san dan keluargamu, apa Obaa-san punya sanak keluarga lain?"

Furihata mengernyitkan alis, tak dapat merasio makna tawa duta besar di sisinya. "Tidak a-ada. Err, ada ... mendiang anaknya yang sebaya denganku. Wafat saat kami masih sangat kecil—karena itu aku tidak bisa mengingatnya."

"Anak perempuan?"

Tanpa bersitatap pun, Akashi bisa memperkirakan bagaimana ceruk oval itu terbeliak kaget. Nyaris tercetus ungkapan andalannya—aku selalu tahu karena aku selalu benar, bibirnya mengukir senyum kecil.

Akashi berujar singkat, "Coba kaulihat di internet lirik lagu Clementine, Oh My Darling."

Furihata tak melontar tanya kenapa Akashi memintanya seperti itu, menuruti instruksi Akashi, ia mengecek ke internet bait lirik lagu tersebut. Kendati ketika pemuda ini yang tadi mengecup permata sedemikian lembut itu menyekap lagu tersebut dalam ruang kedap suara tempat mereka berada.

Ada lirik versi klasik. Ada yang versi translasi. Furihata memilih opsi kedua. Layar ponselnya mendisplay berlarik-larik lirik yang seksama ia telusuri.

Clementine—clemency.

Furihata tergugu membaca lirik lagu itu. Matanya berkaca-kaca, akhirnya mengerti mengapa bibinya itu selalu tersenyum pilu menyenandungkan lagu ini. Tentang mendiang putrinya. Penyesalan akan kematian satu-satunya putrinya tanpa bisa menyelamatkannya.

Wanita bermata sayu yang selalu terbatuk-batuk lelah dan tak henti mencemaskannya; selalu mengingatkannya untuk makan dengan benar; tidur tepat waktu; tidak pulang larut malam; tulus berbahagia ketika Furihata akhirnya mendapatkan ganjaran kebahagiaan setelah beruntun kehilangan yang bermanifestasi dalam wujud seseorang (sekali lagi di sisinya, kini); seseorang yang merintihkan maaf (padahal sama sekali bukan salahnya) merinai airmata ketika dirinya hancur-lebur setiap ia selalu kehilangan yang dicintainya.

Bibi yang menjadi pengganti ibunya. Bibi yang merawatnya dan menyayanginya seperti anak sendiri setelah keluarganya terberangus entah di mana titik lintang dan bujur bumi. Figur terakhir yang memiliki tautan DNA dengan Furihata, mencintainya hingga tak bernyawa.

Seseorang yang ketika tenang meregang nyawa, syahdu menguntai frasa kelabu.

"—dia akan kembali padamu, Itoshi go yo. Percayalah."

Akashi mengerling ketika Furihata merinding seraya melepas tuts dari sentuhan jemarinya, mengangkat punggung lengan untuk menyeka wajah basahnya. Indera pengelihatannya terakomodasi sempurna, fokus tak fokus pada piano. Dari tindakannya itu saja, Akashi paham Furihata telah mengerti yang selama ini tidak diketahuinya.

Yang tidak Akashi pahami adalah kenyataan lain, lirik lagu itu mengingatkan Furihata pada bandar udara di siang hari, terik garang matahari, serta kehilangan tak terperi, seberkas siluet melangkah pergi membawa separuh hatinya; kepergian yang hanya saat itu saja berjuang—setengah mati—ia relakan.

"How I missed—" –him. Him.

Gumam random lirik lagu. Furihata berekshalasi berat—menipu diri sendiri dari sedan tertahannya.

"Dreadfull sorry—" –telah membuatmu sempat amat menderita. Clementine.

"—ternyata lagu ini lebih indah dari yang kutahu."

Akashi tidak mengomentarinya. Sulit mengontrol matanya agar tak mematut kedip cahaya di lingkar emas melilit jari manis Furihata yang termenung. Jika saja emperor eyes punya kekuatan supranatural seperti membakar—kalaupun bisa yang ia pertama bakar mungkin gigir takdirnya sendiri di masa ini.

Lamunannya tersibak tatkala menyadari sepasang mata tak henti mematri atensi pada jemari. Furihata tersentak kaget, risau menyergap hatinya jika Akashi melihat latar di balik halaman browser yang dibukanya—wallpaper. Menjejalkan ponsel ke saku, Furihata baru menotis yang Akashi pandangi bukan dirinya, melainkan cincin di jari manis tangan kirinya.

Ah.

Ketika Akashi kembali, yang pertama kali diucapkannya adalah selamat ulang tahun untuknya. Kalimat berikutnya, hadiah terindah itu jadi momok mimpi buruk Furihata akan ulangtahunnya ke depannya jika kandelir usianya masih memelita dan tersisa.

Furihata menanggapinya dengan ucapan selamat datang. Kalimat berikutnya, apresiasi formalitas belaka atas pemilihan jasa tempatnya bekerja. Ia tidak mengucapkan "selamat" seperti yang diucapkan Kasamatsu pada Akashi.

Selamat untuk pernikahanmu.

Tuhan, mana bisa Furihata mengatakannya? Formalitas menyebabkan hati kebas, tapi sekedar formalita saja lidahnya dibelenggu kelu—tak sanggup mengucapkannya sehingga bibirnya konstan terkatup.

Jadi Furihata tidak menuntut Akashi untuk mengucapkan pula padanya, ungkapan formal selamat untuk pernikahanmu atau pertunanganmu. Tak memungkiri eksistensi kemungkinan Akashi mengetahui intensinya ini.

Gemerlap manik heterokromik.

—atau mungkin tidak, jinjitan desperasi melentingkan ekspetasi. Sehingga intensi selama ini yang terpendam di hati, terselip dari legih bibirnya.

"Ka-kalau ... kalau aku menikah nanti, aku ingin lagu Clementine jadi salah satu lagu di pernikahanku."

Furihata menggaruk pipinya yang tak gatal. Sekedar mengusir canggung. Dalam hati mengumpati diri yang melemparkan granat bunuh diri.

Kakofoni—satu tuts keliru ditekan. Ada napas yang tertahan—bukan Furihata.

"—a-agar aku me-merasa Obaa-san juga da-datang ke pernikahanku. Hahaha ..." Tawanya menggaung sumbang—memalukan. "Me-memang ironis—seperti yang Midorima katakan dan aku menyalahi prinsip poin dasar memilih lagu wedding planner, lagu ini kisahnya sedih, tapi aku malah ingin—

"Kapan—"

Furihata terkesiap pelan ketika pandangan Akashi menyejajarinya. Lurus. Menyelaminya. Mendesaknya. Menuntut absolut. Terlalu dekat—melesak sesak. Terkuap aksara yang hendak diucapkannya.

"—lagu ini akan kaumainkan di pernikahanmu?"

Tenggorokannya tersumbat. Benaknya pepat—sekelumit stressor karena dikiranya ia berdelusi diterror lembayung asa tertera di netra magenta sang emperor itu akan jawabannya.

"... sa-saat dansa pertama."

Furihata menyerah. Kalah. Memasrah atensinya pada tangan yang berhenti memainkan lagu masa kecilnya itu.

Frekuensi suara Akashi merendah. "Dan tempat dansanya adalah padang hijau perbukitan, dengan pohon-pohon tinggi, rerumputan hijau, bunga-bunga yang cantik, mungkin juga peternakan di kejauhan, saat musim panas."

Furihata mendengarnya. Bertalu-talu pilu memalunya akan satu per satu kriteria yang lagi-lagi melingkupkan nuansa nostalgia. Laun ia menggeleng.

"Musim semi—"

Ganti Akashi melanskap Furihata dalam atensinya—entah kenapa respirasi dibekap pengap mendengar lirihan sendu itu.

"—ketika sakura mekar sempurna."

Terpaut diferensiasi waktu hanya semusim.

Akashi perlahan membayang tuts hitam piano di hadapan mereka.

Furihata bersikeras menguatkan suaranya—supaya tak terlampau parau. "Kalau saja bisa, a-aku ingin ... saat senja musim gugur. Ba-bayangkan musim gugur yang dipenuhi guguran daun maple, pasti indah dan memorable saat nuansa musim gugur itu bersanding dengan senja, ya?"

Tidakkah Furihata mengingat perbincangan dengannya di tempat tersembunyi dari bintang paling terang, harum padang bunga, goyangan ilalang, dan gemersak rerumputan dikudap ternak serta rimbun pepohonan? Berbincang dengannya tentang tempat yang indah?

Akashi bergumam samar—Furihata mengempis penasarannya apa itu persetujuan atau pertentangan dalam gumamnya.

Ketiadaan tanggapan menyebabkan Furihata kelam dalam bungkam.

Deru jahat elektrokardiogram imajiner berhenti menaik-turunkan grafik, menjalin garis lurus, satu lengking meniup harapan yang tinggal seujung jalan.

Akashi berinhalasi dalam. Seberat kali pertama ia melihat pendar emas bertahta permata di jari manis tangan kiri Furihata. Perlahan, ia mengucap.

"Selamat ... untuk pernikahanmu nanti, Kouki."

Akashi mampu mengucapkannya, Furihata merintih pedih. Maaf, Sei.

Tiada melodi yang menghantar estetika padu-padan nada. Keduanya dihanyutkan hulu-hilir memori dan kerikil kepingan hati yang tak bermuara kemana-mana. Tuli digiling sunyi serupa nihilnya keriyap dalam ruang kedap suara tersebut.

Pandangan mereka tak lagi sama dan nada-nada detak dalam dada bertalu-talu hidup, tak lagi seirama.

.

To be continue

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Backsound for this Chapter:

Carmina Burana by Wolfgang Amadeus Mozart.

Chopin's Etude, OP.25, no. 11. Le vent d'hiver / Winter Wind.

Chopin's Etude. Op. 25. No.5. E Minor. Liebesleid/Love's Sorrow/Ai no Kanashimi by E. Kreisler. (violin version)

Turn by Yuki Kajiura – Theme Song Pandora Hearts

Bridal Chorus by Richard Wagner from his opera titled: Lohengrin.

Wedding March by Felix Mendelssohn from A Midsummer Night's dream.

Oh My Darling, Clementineby Percy Montrose/ Barker Bradford.

Requiem: Lagu pengiring kematian.

Here comes the bride: Prosesi ketika pengantin wanita tiba di tempat pernikahan, (biasanya) berjalan di atas karpet merah diantar oleh ayah atau wali nikah menuju ke altar.

You may kiss your bride: Adalah kata-kata yang diucapkan oleh penghulu setelah pengantin mengucapkan sumpah/ikrar sehidup-semati dan memakai cincin, pengantin lelaki dipersilakan mencium pengantin perempuan.

Wedding toast: Bersulang minuman pertama (biasanya minuman keras, wine, atau semacamnya) di acara pernikahan untuk memberkati pengantin dengan kesejahteraan.

Penting dalam Memilih Lagu Pernikahan

1.Satu, sesuai dengan konsep pernikahan

2.Kedua, musik berperan penting dalam mengatur mood dalam rangkaian acara dengan memerhatikan susunan yang tepat.

3.Ketiga, memerhatikan kecocokan musik dengan lirik lagu, tipe dan selera pasangan.

#~**~#

Pertama-tama, saya mohon maaf banget pada RnR yang masih setia menunggu update-nya IoW dan terima kasih tak terhingga untuk kalian yang memberikan reviews/faves/follows untuk fanfiksi ini. Semoga saya update sebanyak ini words-nya, bisa memuaskan dahaga kalian semua.*nangis + peluk + cium terharu satu-satu semuanya*

Kedua, terima kasih sudah menominasikan fanfiksi ini sehingga masuk tahap polling di IFA 2015 kategori best Romance Multichapter. *ojigi*

Ketiga, mengenai tahapan acara. Setelah saya cari tahu, susunan acara pada pernikahan Jepang antara adat tradisional dan modern itu berbeda. Adat tradisional punya tahapan yang lebih kompleks sementara modern itu lebih umum dan cukup sederhana ketimbang adat tradisional. Rundown yang dibuat Furihata itu untuk modern wedding secara garis besar.

Keempat, uhm, saya sudah berjuang menyisipkan hints sana-sini sejak awal dan maaf karena diperjelasnya (atau di-twist *menerawangi langit*) sedikit demi sedikit, jadi saya nggak membuat ujug-ujug ada. Mungkin juga karena hints-nya terlalu samar jadi gak ketahuan. Tapi, fic ini nggak lepas dari prekuelnya: Saigo ni Iezu ni Ita.

Kelima, FIC INI RESMI SETAHUN! *joget* /lama banget kamu nulis nak/ *dikemplang* My Dear Akashi Seijuurou, kok kamu ganteng banget di OVA tapi miris amat sih dalam fic ini. *lalu digeret Akashi ke pancungan* Akashi, selamat ulang tahun. Semoga dirimu langgeng di hatiku sebagai bias tercinta-(dan Furi. Cie, Akashi inget Furi. Cie, Furi-nya inget banget juga sama Akashi. KYAHAHAHA /lovestruck/)

Niat saya sebenernya gak memadatkan 15k dalam satu chapter (di luar A/N). Aduh, yang ada gak bisa update bareng CR sama Silence. Tapi ... masa momen semembahagiakan ultah Akashi kali ini, saya gak ngasih scene AkaFuri? Atau malah harusnya gak usah karena chapter ini ruined moment banget? Orz *kemudian dicekek*

Terakhir, eto saa ... semoga RnR gak keberatan ngasih saya review (bila sudi me-review) yang bukan satu atau dua kata aja. Dan semoga yang sebelumnya masih malu-malu (? XDD /nak/), tenang aja, saya nggak menggigit, kok. ;")

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan