Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Disclaimer: Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi and I don't own it. I do not take any commercial advantages or profit from making this fanfiction. Song lyrics originally belongs to LoL.
Warning: Alternate Reality, OC, OOC, typo(s), death chara, rough-paces, Akashi-Oreshi X Furihata Kouki X Akashi-Bokushi, mild languages, M for violence and lime, etc.
.
Catatan pra-fic:
Akashi mengacu pada Bokushi.
Seijuurou mengacu pada Oreshi.
Italic: kilas balik/flashback/ inner's mind
Bold and Italic: lirik lagu
-**- : penggalan lirik lagu
.
Jika ada yang tidak disukai dalam warning yang telah saya cantumkan, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih untuk pengertiannya.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
...
Tetaplah, dan meski bukan padamu
Harusnya aku meminta
Tetaplah
Meski pinta ini begitu egois
dan ada takdir getir yang tak kuasa kutentang
Tetaplah bersamaku
...
.
.
#~**~#
.
For Ahokitsune's AKAFURI NEW YEAR CHALLENGE
.
Existence
.
Chapter 2
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Kouki yang menanti di lobi utama Rumah Sakit Touhashi itu lurus menatapi pintu terbuka-tertutup otomatis.
Setelah kemarin ditinggal Akashi—dan emperor satu itu menepati janji untuk melunasi seluruh biaya administrasi kamar yang mereka tempati sehari, Kouki sempat beberapa saat melewat waktu yang terasa tak terbatas itu di taman rumah sakit—merenung di sana di tengah seliweran pasien silih berganti mengunjungi tempat itu.
Senja yang membalur nuansa sendu memaksanya untuk bangkit, menyeret langkah ke kamar nomor empat, menemui kakaknya dengan masker oksigen sedang menonton televisi seketika mencerah wajahnya melihat kehadirannya.
Ibu mereka sudah tak ada di sana.
Mereka tidak berkata apa-apa di saat seperti itu. Kouki mendudukkan diri di sisinya, tertunduk merasa seperti dulu kala, dan membiarkan kakaknya mengacak pelan rambutnya—malah kakaknya yang mengucap maaf sementara Kouki memugar sedihnya sendiri.
Kakaknya itu meraih ponsel, menyerahkan padanya dan menunjukkan Akashi mengirimkan pesan janji bertemu siang ini dari nomor ponsel yang tidak dikenal.
Malam itu, ketika ayah mereka datang, Kouki melirih untuk pamit pulang dan mendekam satu kenangan biru lagi dalam memorinya tatkala hanya kakaknya yang merespons dengan hati-hati di jalan.
Usai latihan dengan tim Seirin yang membuatnya merasa sedikit lebih baik—terkekeh mengingat tadi ia sempat terlamun beberapa kali dan pass course-nya dengan Kuroko yang mencoba ignite pass jadi keliru menubruk bokong Kagami sehingga duo cahaya-bayangan Seirin itu meramaikan gim dengan perdebatan mereka—bahkan melihat kondisinya, pelatih mudi mereka memaksanya beristirahat.
Kouki menjawab sebisa yang ia jawab pada pertanyaan yang dihujankan padanya seputar kondisinya. Ia tidak mengatakan apa intensinya ke tempat itu sampai disiksa, tidak juga menyebutkan yang terjadi dengan seseorang yang tengah ia nanti. Teman-temannya geram, tapi Kouki berusaha menenangkan mereka dan mengatakan dirinya tidak apa-apa.
Di sinilah Kouki saat ini, menanti Akashi Seijuurou.
Tidak sulit menemukan Akashi Seijuurou dengan helai magenta yang menukik di tengah latar dan dominasi seragam putih orang-orang medis, masuk ke lobi dan mengedar pandang hingga tatapan mereka saling bertumbukan.
Kouki bergetar sekujur tubuh menyadari manik heterokromik bergelimang di cangkang mata pemuda yang menghampirinya itu dan datar mengucap maaf karena telah membuatnya menunggu—persis intimidatif tatkala ia pertama kali melihat kapten tim Rakuzan itu di puncak anak tangga setelah upacara pembukaan Winter Cup .
Kouki gelagapan menjawab tidak apa-apa, was-was mengawasi tangan dan penampilan teman Kuroko Tetsuya itu—siapa tahu ada senjata tajam di tangan yang bisa digunakan untuk menyabet pipinya.
Keduanya melangkah menuju tujuan. Membiarkan hening melinting berat atmosfer antara keduanya. Kouki memandu mereka ke tempat tujuan. Jalur yang dipilihnya membuat Akashi melihat gerbang—kali ini lebih mirip kerangkeng—penjara bertuliskan sektor khusus pasien irasional.
Walau dibilang dekat dengan taman—kalau membatasi bangsal sakit jiwa itu benar, tapi ternyata itu di luar area rumah sakit. Setelah area taman dengan barisan pepohonan yang merekah, barulah tampak lapangan basket itu. Benar seperti yang dikatakan Kouki, tidak terpakai.
Akashi mengedarkan pandang. Lapangan basket ini bersisian dengan tempat untuk bermain tenis lapangan. Dipagari pagar kawat seperti biasa, di seberang area pepohonan ke arah teman, dipagari oleh pepohonan dengan jarak renggang antara satu dengan yang lainnya, sehingga panorama sungai buatan dan perkotaan terlihat jelas dari lapangan.
Kedua pemuda itu menjajarkan tas di bangku kayu panjang yang ada di situ. Kasual melepas jaket serta luaran celana panjang yang mereka kenakan, telah mengenakan kaus dan celana pendek untuk berlatih basket, melipat baju mereka dan memasukkannya kembali ke dalam tas serta menyiapkan botol minum dan handuk masing-masing di atas bangku.
"Kita one on one saja dulu."
Kouki manggut sekenanya dengan instruksi absolut Akashi.
Akashi memulai pemanasan seorang diri karena tahu Kouki sebelumnya telah berlatih di Seirin. "Lalu—"
"—a-apa?!" Kouki syok, takut salah dengar.
Kouki bergetar ketakutan ketika mendengar decak kesal Akashi bergema membaret sunyi di lapangan basket itu karena kekeliruan dengarnya.
"Aku perlu tahu sampai seberapa jauh kaubutuh kulatih, paling tidak agar tidak menjadi penghambatku saat melawan si kembar Sasaki itu."
"Ha-hai'!"
Kouki meratap pedih dalam benaknya sendiri ketika Akashi dengan persona absolut itu menengok padanya, mengerling dengan tatapan meruncingkan ancaman. Mara bahaya. Seolah Kouki detik itu tahu nyawanya dalam bahaya.
Memakai bola yang ada di lapangan itu—bahkan Kouki tidak berani mengeluh bolanya telah gundul di beberapa sisi karena tatapan dari kedua mata dwi warna itu mengerikan seakan bisa melubangi bola, keduanya berhadapan.
"Lima skor saja."
"I-iya."
Untuk berdiri menghadapi Akashi, butuh memfungsikan maksimal energinya. Serasa nostalgia sampai gila menghadapi Akashi dengan mata tajam menganalisisnya, bahkan ketika mereka memulai tip-off, Kouki jatuh tersandung dalam upaya hendak menggapai bola.
Akashi mematung. Bola tidak ia dapatkan. Bola itu binal menumbuk kepala pemuda yang tersungkur di lapangan.
Astaga, ini baru permulaan.
Akashi berinhalasi dalam. Tenang. Ini bukan yang dikalkulasi olehnya tidak akan terjadi. Tapi, sensasi familiar—seperti garis-garis imajiner kesuraman masa depan nasib mereka—mengulik relung hatinya.
Mereka one on one. Atau tepatnya, Kouki dilibas habis oleh Akashi yang tidak mengalah sama sekali—baik itu mengetahui kondisinya masih belum prima ataupun suasana mood-nya yang belum pulih sejak kemarin.
"Sekali lagi."
Kouki membuang napas panjang, kendati bibirnya ia gigit agar tidak mencetuskan hal bodoh, ia benar-benar merasa sudah tidak sanggup lagi—tapi ia terlalu takut membantah Akashi yang dalam mode maha absolut. Tertatih bangkit berdiri setelah dibuat jatuh terduduk dengan ankle-break keenam kali. Tiga menit. Lima skor.
Jurang diferensiasi membentang antara keduanya. Perbedaan talenta (yang satu jenius dan yang satu biasa saja), pengalaman (yang satu veteran dan satu lagi masih pemula), kemampuan (yang satu luar biasa dan satu lagi benar-benar biasa saja), semua.
Kendati dunia diputar balik pun, segalanya akan berbeda selamanya.
Akashi merasakan kerut-merut akan ketidakberesan menggurati dahinya. Pandangannya kian terpicing kalkulatif. Tatkala ia berdiri tenang mendribble bola, melihat Kouki menyongsongnya dengan selongsong tekad di mata bersorot sekosong kemarin, Akashi mendecih pelan dan bahkan tanpa mengerahkan energi berlebih memanuver crossover—terlalu mudah melewati Kouki.
One on one kedua. Delapan ankle break. Dua menit. Lima skor.
Tungkai-tungkai bertremor itu saling tubruk, lagi-lagi Kouki jatuh tersaruk. Peluhnya terkucur ke lapangan. Telapak tangan dan lutut menumpu tubuh. Satu tangan terkepal erat, meninju lapangan untuk bangun namun ia lagi-lagi rubuh.
"Tsk."
Kouki gemetar hebat ketika decih itu menyobek keheningan di lingkungan sekitar mereka. Dia bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk mengeringkan keringatnya. Ia melengak, hendak melontar ia masih bisa untuk satu one on one lagi yang sebenarnya sangat muskil dengan kondisi seperti ini, tapi ditemukannya Akashi menatapnya dari atas ke bawah—seolah dirinya teramat lebih rendah walau kenyataan sialnya memang begitu.
Manik heterokromik itu menelisik. Menyelidik. Pemiliknya berekspresi stoik.
"Apa yang harus aku lakukan padamu?"
Tenor Akashi bernada nyaris risau menyela desau angin.
"Ini tidak seperti kau tidak menerima latihan fundamental."
Kouki tidak berkutik.
"Bisa kuketahui malah untuk pemain sepertimu, kau menerima pelatihan yang sangat baik."
Kouki merasakan indera pengelihatannya mulai perih karena tidak juga berkedip.
"Tapi untuk melawan si kembar terkutuk itu dan harus bekerja sama denganku, bisa jadi kita akan jadi kombinasi duo terburuk."
Lengan dan tungkainya pegal. Kepalanya lebih pegal lagi harus melengak pada emperor. Kouki hampir bisa berdelusi ada jubah berkibar megar melingkupi sosok regal di hadpaannya.
"Itu pun tidak masalah. Asal kondisi terpenuhi, di mana mereka pikir kau akan menghambatku, itu sudah cukup. Permainanmu tidak akan merusak permainanku. Permasalahannya—"
Kouki berjengit ngeri, lekas tertunduk ketika aura Akashi padanya mirip aljogo membantai terdakwa pidana yang mesti dieksekusi mati.
"Kau mispersepsi dalam one on one kita."
Kouki tercekat tatkala Akashi berlutut, menarik kausnya, membenturkan kening mereka. Ia pias, memelas menahan napas. Dahinya kebas. Tidak bisa bernapas dengan kedekatan ekstrim mereka. Dirasanya napas Akashi mengempas wajahnya dan renggutan kuatnya tidak juga terlepas.
"A-a-a-aku a-a-akan be-beru-u-usaha—"
Kouki memekik seperti orang tercekik ketika kausnya ditarik lebih kuat dan dahi mereka dilekat lebih erat.
"Lihat aku."
Sepasang manik heterokromik itu terlampau hipnotik.
"Angkat kepalamu dan lihat aku—karena kau selalu melihat ke bawah."
Bisikannya sedingin belai angin.
"Kau selalu melihat ke bawah, karena itulah kau merasa dirimu begitu rendah. Lemah tidak berarti kau harus merasa dirimu teramat rendah."
Akashi bisa melihat bagaimana pupil mungil itu membesar. Bisa melihat dirinya sempurna terefleksi di mata Kouki.
"Kau sangat sadar diri dan rendah diri. Aku bisa melihat kau mengerti bahwa ada sesuatu yang mungkin bisa kaulakukan. Tapi tidak dengan pikiran serta tekad bahwa kau siap dan kuat dilewati olehku. Ini bukan pertandingan seperti waktu itu di mana kau jadi umpan yang tidak bisa sepenuhnya kuabaikan."
Pemuda yang tertengadah itu terperangah. Sesak. Wangi maskulin lelaki ini terhirup tidak lebih dalam dari semerbak sakura di musim semi.
"Ini one on one. Rebut bola dariku. Cetak skor. Meskipun itu mustahil, lakukan. Jangan terdistraksi hal lain untuk saat ini. Fokuslah."
Kouki tergemap menyadari tarikan di kausnya mengendur.
"Kau melakukan ini dengan tujuan. Apa pun itu, kita tujuan umum kita sama, menang dari mereka. Bukankah hal ini saja yang mirip dengan saat timmu menang dari timku?"
Terbeliak perlahan melihat manik heterokromik melunak menatapnya lekat, Kouki tergugu, apa mungkin dirinya saja yang merasa seperti ini: ringkik detik terhenti dan peristiwa di momentum ini terlanskap kehilangan satuan waktu dalam bilik-bilik memorinya.
"Kita bisa melakukannya, Furihata Kouki."
Ekshalasi pelan. Akashi melepaskan kaus Kouki yang kelimpungan terduduk, ia lantas bangkit berdiri.
"Kalau kau takut pada dirimu sendiri karena akan menjadi bebanku dalam pertandingan kita nanti, lakukan sesuatu—apa pun yang kaubisa—agar itu tidak terjadi."
Akashi mematut Kouki yang ternganga bodoh memandangnya dalam tatapan atentif.
"Kurasa kau tidak sepengecut itu." Akashi membiarkan telunjuknya menusuk pelan dahi Kouki karena menampilkan wajah melongo bodoh itu. "Kau hanya takut."
Kouki tidak sadar dirinya menggigil dengan gestur Akashi yang ini. "A-aku ..."
"Kau bisa mengatasi ketakutanmu saat kau harus me-marking-ku tahun lalu. Kau tidak mundur me-marking-ku, dan tidak juga meminta siapa pun menggantikanmu melakukan hal itu—kau tidak lari dari ekspetasi padahal saat itu semua orang mispersepsi memandangmu dengan simpati karena hanya dijadikan umpan. Kau tidak lari, karena itulah kau tidak sepengecut yang kaupikirkan."
Disingkirkannya helai sienna yang halus dalam usapan kecil oleh ujung telunjuk berkalusnya, berbanding terbalik dari kecaman yang terkuar dari manik heterokromiknya.
"Ingat perasaanmu saat itu, Furihata Kouki."
Bagaimana Kouki bisa mengingat dengan aksi Akashi padanya saat ini dan gemuruh rasa yang meriuh rikuhnya? Pandangannya berkunang, dan sistem respirasinya eratik dengan semua yang terjadi hampir terasa seperti waktu terhenti.
"Anggota timku bahkan bisa berkata, dengan usahamu itu, bahwa kau sudah banyak bekerja keras dan masih butuh bekerja keras lagi ke depannya."
Akashi beranjak, membiarkan pemuda itu tercenung di sentris lapangan dengan bola menggelinding didribble angin, meraih botol minum yang telah mereka siapkan di bangku. Kasual, dioperkannya botol minum untuk pemuda yang masih tercenung di lapangan.
Buk.
Bibir Akashi terbuka tipis tak percaya. Pebasket Serin bernomor punggung dua belas itu tidak menangkap operannya, botol menimpuk kepalanya.
Akashi memejam mata. Sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi pada pemuda itu. Merah kembali meraja rongga mata, melebar dalam keterkejutan ketika melihat Kouki oleng, dan—
—bruk.
Ini kedua kali Akashi Seijuurou tercenung bingung ketika kubah sakura bergemersak dan beberapa kelopak tertindih Kouki yang jatuh pingsan—karena kelelahan. Ini ketiga kali Kouki jatuh pingsan di depan Seijuurou.
Pemuda itu menyambar handuk, bergegas mendekat pada Kouki yang pucat terkapar lemas. Mungkin dirinya yang satu lagi terlalu memforsir Kouki dengan one on one tidak manusiawi, padahal kondisinya non-prima, dan pasti kejadian kemarin serta kemarin lusa melipatgandakan kelelahannya.
'Menyedihkan.'
'Kau berlebihan padanya.'
'Dia kelelahan.'
'Salahmu.'
'Aku bagian dari dirimu, jadi ini pun salahmu.'
'Lucu sekali kau baru merasa kau bagian dari diriku di saat seperti ini.'
Seijuurou menyangga kepala Kouki dengan pahah kanannya yang ditekuk sementara lutut kiri menjadi tumpuan tubuh, mendesah pelan sembari menyeka lelehan kristal garam yang berkilau terpentah di wajah biasa-biasa saja itu.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, Furihata-kun?"
(Mungkin juga Kouki pingsan bukan sesederhana karena kelelahan semata.)
.
#~**~#
.
Kouki siuman dengan kepala telah disangga dengan lipatan handuk yang dijadikan bantal sementara seluruh tubuh pegal. Seijuurou duduk di sisinya dengan satu kaki kiri terlipat, dagu bertumpu di lutut, tengah bermain shogi.
"A- ... Aka—?"
Begitu menyadari dirinya sadar, Kouki silau dengan kerling mata magenta monokrom yang menyiratkan kelegaan terarah padanya dan rimbun merah muda lembut di pepohonan melatarinya.
"Akhirnya kau sadar juga."
Menemukan ternyata Seijuurou mematut dengan sudut-sudut mata melembut itu sukses merampas napas Kouki yang kesadarannya disambit kembali oleh langit.
"Aah."
Seijuurou berekshalasi panjang. Apalagi yang harus dilakukannya agar orang ini tidak pingsan. Perasaannya saja atau memang saat berhadapan dengannya Kouki pingsan frekuentif. Padahal ketika ketakutan dengan persona absolutnya yang jelas-jelas intimidatif, Kouki malah tidak pingsan.
Seijuurou tidak memahami perasaan tidak sukanya saat itu. Entah pada Kouki, atau dirinya yang satu lagi. Mungkin keduanya.
Jemari kembali membayangi bidak-bidak shogi mini yang selalu dibawanya kemanapun. Tidak menyenangkan memang jika tidak memakai bidang kayu dan petak-petak yang lini hitamnya terlihat jelas, tapi kini firasat tajamnya untuk membawa shogi mini ada benarnya—ia perlu membunuh waktu saat menunggu.
Bukan dalam arti harfiah, melainkan sesekali matanya mengerling—menelusuri fitur biasa-biasa saja profil seseorang yang komikal sekali pose pingsannya itu. Bisa-bisanya pingsan dengan mata terbuka, hanya sklera pula yang terlihat, dan mulut ternganga. Hal ini meliukkan tepi mulutnya berharmoni dengan matanya.
Seijuurou mengganti tekukan tungkainya, kiri bersila, dan kaki kanan berlutut—sesi shogi dengan dirinya sendiri terdistorsi. Dijadikannya telapak tangan kiri sebagai pivot tubuh tepat di sisi lengan kanan pemuda yang pingsan, tubuhnya bergeser setengah menaungi Kouki sementara tangan kanannya tergerak ke relief wajah tanpa keistimewaan tersebut. Telunjuk menekan pelan lekuk pipi Kouki. Lunak.
"Yaa."
Tekan lagi.
"Furihata-kun."
Tekan sekali lagi.
"Hei."
Selesu kuyup helai sakura yang meranggas, kelopaknya tersibak. Selaput pelangi dengan percikan spektrum kolong langit itu mengejap letih.
"A-Aka—"
Tubuhnya sudah bertremor mendapati emperor itu tepat di pucuk pandangnya. Tapi tekanan di pipinya menariknya, sedikit rasa sakit memaksanya untuk sadar.
"—s-shi?!"
"Jangan pingsan lagi."
"HI-HIIEEE!"
Seijuurou sweatdrop melihat aksi tangkas Kouki yang tiba-tiba berguling-guling menjauh darinya sampai punggung membentur bola hingga menggelinding makin jauh.
Ya, setidaknya, dia tidak lagi pingsan.
"Ma-ma—maafkan aku." Kouki terduduk, tungkainya terlipat di masing-masing sisi tubuhnya, kepala terunduk merasa bersalah.
Lensa magenta menyempit melihat Kouki terduduk seperti itu. "Kau membuang-buang waktu."
Desing peluru pertama secara imajiner ditembakkan padanya. "Ukh."
"Kita tidak punya selamanya, kau tahu?"
Desing peluru kedua mutlak telak mengenai sasaran. Kouki merasakan dirinya menggigil dengan kenyataan yang kasual dikatakan Seijuurou. "Kkhh."
'Jadi kalau selamanya itu ada, kau akan membiarkannya tetap begitu?'
Seijuurou mengabaikan intuisi satir adiknya itu, inkonklusif dan dia tengah tidak berminat berargumen lebih jauh. Menelisik fisik Kouki, ia tahu pemuda itu tidak mampu jika harus berlatih atau one on one lagi dengannya.
Aah, apa yang harus ia lakukan agar pemuda itu tidak terlihat terus-menerus dirundung murung apalagi Kouki menurunkan telinganya dengan lesu dan ekor terkulai kuyu—
Yaa, apa yang Seijuurou lihat sebenarnya?
—delusi matahari.
Matanya (yang berkaca-kaca meredup) itu pangkal petaka, sepertinya. Pangkal petaka atas apa, Seijuurou memilih tidak mencari tahu lebih lanjut. Setidaknya itu yang ia rasakan—dan divalidasi kebenarannya bahkan oleh dirinya yang satu lagi persisten menukaskan hal yang sama.
'Jadi kalau selamanya itu ada, kau akan membiarkannya tetap begitu?'
'Diam. Bukan kau yang harus menghadapinya yang seperti itu.'
'Tukar, kalau begitu.'
'Kaupikir aku tidak mampu menghadapinya yang seperti ini?'
'Tidak. Kembali kau ke sini dan tetap di sini selama-lamanya.'
'Nanti dia pingsan lagi.'
'Dia pingsan justru karena kau ada.'
'Itu gara-gara kau.'
'Kau.'
'Kau.'
'Kau. Uruslah dia.'
'Kaupikir aku siapanya dia?'
'Seseorang yang bingung harus bagaimana melihatnya dalam posisi submisif begitu.'
'Kau hanya kelemahanku. Kita terlalu tahu apa yang kita pikirkan satu sama lain, kau tidak akan melihat apa yang kauinginkan darinya jika aku menginginkanmu hilang.'
Sepasang mata berpupil mungil itu berkedap-kedip repetitif, mengamati Seijuurou tiba-tiba terdiam begitu lama. Mengontradiksi tentang kata-katanya sendiri, mengenai buang-buang waktu, dan mereka tidak bisa terus-menerus begitu.
Kouki menggeser posisinya, kini menghadapi Seijuurou yang duduk bersila dengan mata terpejam rapat dan kerut menggurat dahi di balik hamburan helai merah. Memerhatikan betapa fokusnya Seijuurou, Kouki ikut larut pada fenomena yang tidak ia pahami.
Tatkala Seijuurou membuka mata, dilihatnya Kouki telah duduk menghadapnya dengan mata melebar—dan pupilnya terlihat makin mungil.
"A-apa tadi kau sedang bicara dengan dirimu yang satu lagi?"
Seijuurou mengangkat sebelah alis. "Bagaimana kau tahu?"
Kouki memiringkan sedikit kepalanya—dan Seijuurou mengabaikan sentakan dari personanya yang satu lagi menuntut absolut untuk tukar persona sekarang juga—dan senyumnya terbit kendati terlihat masih sungkan.
"Ka-kau terlihat seperti ... uh, punya dunia sendiri." Kouki menatap Seijuurou yang tampak terkejut. Airmukanya meriakkan ketulusan tatkala berkata, "Kelihatannya seru."
Seijuurou menatap pemuda di hadapannya. Kemudian kepala turun sedikit, sehingga helai rambutnya yang telah memanjang setelah beberapa bulan tidak dipangkas itu menutupi sorot matanya.
Baru pertama kali ada yang berkomentar seperti itu. Rasionya, orang awam akan memandangnya ketakutan karena ia memiliki kelemahan seperti ini. Orang akan bertanya bagaimana rasanya ada dua jiwa dalam satu tubuh, dan anggapan dia sakit jiwa.
"Mungkin seru seperti ketika kau punya saudara."
Kouki terbeliak tanpa suara ketika Seijuurou non-ekspresi menatap keping-keping shogi. Diperhatikannya bagaimana punggung tegap itu melengkung dan raut wajah yang Kouki eja arti ekspresinya kendati seharusnya tidak terbaca. Diingatnya Seijuurou sering memanggil persona yang satu lagi sebagai adiknya.
"Berbeda kau dan kakakmu, saling menyayangi." Seijuurou memungut sekeping bidak bishop di tangannya, memindahkan tiga petak ke depan dari tempatnya berasal. Senyum sinis tipis tergaris di wajahnya. "Dia lahir dari kelemahanku, dan aku ingin dia hilang."
Kouki memerhatikan Seijuurou baik-baik yang tidak menatapnya. Ketika angin riuh memeluki sosok itu yang duduk tetap dengan komposur sempurna, pandangannya meringan pada pemuda yang mungkin sebenarnya kesepian dalam kesehariannya.
"Tidak sesederhana itu, kurasa."
Menyadari kini lirikan stoik yang termosi padanya, Kouki buru-buru mengimbuh, "Se-setidaknya bagiku." Dia menunjuk papan shogi di hadapan lawan bicaranya. "Sekarang ... kau juga sedang bermain shogi dengannya, 'kan?"
Ekspresi naif. Biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya. Bahkan kali ini Seijuurou khidmat mendengarkan gumam tersebut dari adiknya di sela rencana yang persona itu pikirkan.
Pandangan penuh perhatian yang tertumpah padanya konstan Seijuurou abaikan, ia hanya menggumam membenarkan pernyataan Kouki.
Mereka ada di sana bukan untuk menguak eksistensi ada atau nyata. Setidaknya, tidak pada orang sebiasa-biasa Furihata Kouki yang tidak ada keuntungannya juga bercerita tentang Akashi Seijuurou padanya.
"La-lalu ... kita harus apa sekarang?" Kouki susah payah bertumpu di kedua kakinya. "Kita tidak punya banyak waktu."
Seijuurou merasa kalimat itu satir, mungkin Kouki terlalu baik hati atau terlalu pengecut untuk menjadikan kata-katanya ("Kau buang-buang waktu.") sebagai bumerang. "Kemarilah, Furihata-kun. Aku tahu kau sudah tidak mampu, jadi lebih baik aku beritahu kau tentang Sasaki bersaudara dulu."
Kouki menurut, beringsut susah payah sampai ke dekat Seijuurou yang tetap memasung atensi pada shogi. Seijuurou melirik sekilas melihat Kouki berguling saking lelahnya untuk kembali ke sampingnya, tiba bisa menahan dengus geli terilis darinya melihat yang Kouki lakukan.
"Mereka dulu lawan yang pernah membuat Kiseki no Sedai kesulitan di final kejuaraan nasional waktu kelas dua."
Kouki nyaris terjungkal lagi mendengar pernyataan yang membuatnya gugup berat. Apa? Kembar jenius? Bagaimana bisa hanya dua orang saja membuat Kiseki no Sedai kesulitan?
"Mereka masih pemula saat itu. Tapi, ritme pergerakan mereka abnormal dari pebasket dengan pengetahuan dan pengalaman basket fundamental, pengaruh dari Aikido—mereka jenius dalam seni bela diri satu itu."
"A-aikido?"
"Ya. Aikido adalah seni bela diri yang mengajarkan mereka yang memelajarinya untuk mengarahkan kekuatan menyerang lawan dengan cara menyelaraskan napas mereka dengan ritme respirasi mereka pelajari di aikido itu, membuat mereka bisa menemukan waktu dan tempat yang tepat untuk menyebabkan lawan terkena fouls."
"Pa-pantas saja saat menghajarku, rasanya a-ada yang aneh. Dan ... fouls?"
"Karena mereka belajar aikido itu. Pola pergerakan mereka. Keahlian mereka adalah membuat pemain lain yang one on one dengan mereka melakukan fouls." Seijuurou berganti menopangkan lengan di lutut kanannya. "Jangan khawatir, mereka tidak bermain seperti Kirisaki—atau saat itu yang kutahu tidak."
"Jadi ... ba-bagaimana cara menghadapi mereka?"
"Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan, dan kau cukup jadi dirimu yang biasa saja."
"..."
"... ha-hah?"
"Kau tidak akan mengerti saat ini. Dan kalau aku jelaskan sekarang, nanti kau tidak akan bermain natural—mencoba mengeksplorasi kemampuanmu tapi itu malah bisa jadi kesalahan fatal."
"O-oh. Jadi aku harus latihan apa?"
"Menghadapi musuh seperti mereka one on one tanpa terjebak trik foul mereka. Karena kau yang akan jadi incaran serang oleh mereka."
Seijuurou menurunkan kedua kakinya hingga bersila, kasual bertutur.
"Mereka akan memojokkanku sehingga aku tidak punya pilihan selain mengoper padamu, dan saat itulah mereka akan memanfaatkanmu yang terlihat lemah untuk mencuri bola serta mencetak skor."
Kouki ternganga mendengarnya.
"Kita putar balik. Kau yang akan bertugas menjadi support untukku menyerang. Kau harus terlihat seolah kau tidak bisa mereka jatuhkan dengan foul, sehinga terbangun impresi kau bukan pemain biasa. Kau menjadi distraksi untuk mereka agar tidak menghalangi agresiku."
Mata magenta itu melenting kerling lagi karena pemuda yang duduk di hadapannya itu menatapnya tanpa kedip, ketidakpercayaan tertera di matanya.
"Apa?"
"Ba-bagaimana ... ka-kau bisa tahu semua itu?"
"Bukankah orang biasa bahkan bisa mengetahui hal itu akan terjadi dan tinggal mengantisipasinya?"
Kouki menggeleng-gelengkan kepala dengan kecepatan mengagumkan. Siapa orang biasa dan luar biasa di sini sebenarnya? Susah menghadapi orang luar biasa dan segala hal tentangnya luar biasa tapi ia anggap biasa-biasa saja.
Setidaknya—Kouki tidak bisa menahan tulang pipinya untuk tidak meninggi dengan realisasi ini—Akashi Seijuurou-lah yang saat ini jadi teman setimnya.
Bila jadi lawan, ia sangat mengerikan. Jika jadi kawan, ia sangat bisa diandalkan.
Sensasi ironi macam apa ini.
"A-apa kau bisa memberitahuku apa saja yang harus a-aku lakukan?"
Seijuurou menatap pada Kouki, sekali ini tidak mengerti mengapa mata pemuda berambut coklat sienna itu berpijar memandangnya, tapi—memutuskan ia tidak membenci cara Kouki menatapnya—ia kembali menutur detil apa saja yang perlu mereka persiapkan untuk menghadapi kembar bersaudara alumnus Kamata Barat itu.
.
#~**~#
.
Keesokan harinya, berlari-lari menelusuri gedung rumah sakit ke tempat ini setelah latihan dengan teman-teman di sekolah, Kouki terpaku merasakan presensi intimidatif seseorang yang membekukan desir darahnya.
"E-EEH?!"
Akashi melirik mendengar seruan terkejut itu diiring bunyi tas terisi penuh jatuh dramatis menumbuk lantai lapangan basket di dekat area bangsal sakit jiwa.
"U-uhm—" Pulasan merah bahkan sampai ke telinganya. Kouki masih belum bisa melupakan apa yang Akashi ini lakukan padanya kemarin.
Siapa kira saput tipis spektrum mega tidak buruk tersepuh di pipi tan ran itu—setidaknya Akashi berpikir demikian.
"Aku dan dia sepakat kami akan bergantian mengajarimu. Sehari aku, besoknya dia, terus sampai Sabtu dua minggu lagi." Akashi stoik seperti biasa, mendireksikan ulang perhatiannya pada papan shogi mini di hadapannya.
Kouki memungut tasnya. Refleksnya tadi bodoh sekali. Kenapa mesti sebegininya pada Akashi yang ini, entahlah, mana ia mengerti. Yang jelas ia tidak bisa tidak mengabaikan kalor yang mendadak meningkat di sekitarnya merasakan sepasang manik heterokromik (brillian diterpa muram cahaya matahari).
"Ke-kenapa?"
"Karena kau butuh menghadapi siapa pun tanpa merasa tertekan." Satu tepi bibir terangkat dalam humor gelap yang membuat Kouki gemetar. "Dan aku harus membuatmu merasakan, tidak ada yang lebih menakutkan daripada aku."
'Te-te-tentu saja a-aku tahu itu! Tidak perlu kau melakukannya, aku juga sudah merasa seperti itu!'
"Jadi kau bisa melawan si kembar terkutuk itu tanpa takut, dengan pikiran tidak ada lagi yang lebih menakutkan selain aku."
Kouki bahkan belum melawannya tapi kaki-kakinya mulai dirambat getar parsial, yang terhenti detik itu juga tatkala Akashi meliriknya—tidak seantagonis yang ia kira dengan intensinya yang pertama.
"Kau juga butuh melatih staminamu."
Hanya dalam hati, Kouki berani meratap sengsara. Mananya melatih stamina jika persona satu ini yang paling serakah menguras energinya hanya untuk berdiri menghadapinya. Latihan mereka tinggi probabilitasnya tidak akan efektif.
"Untuk teknik permainan, dia yang akan mengajarimu."
Tapi—
"—a-aku mengerti."
—itu adalah metode teringkas untuk mengatasi rasa takut Kouki, takut yang mengingatkannya seperti pertama kali menginjak lapangan basket dan menghadapi Akashi yang ini, dan melatih tekanan mentalnya.
Seperti memori masa kecil yang lagi-lagi menggelinding terkilas balik di benak, Kouki kali ini melakukannya bukan karena ketiadaan pilihan atas ajaran normatif dan tidak mau dituturi orang dewasa, melainkan ini pilihannya sendiri.
Akashi berekshalasi pendek melihat determinatif Kouki itu—tidak seperti yang waktu pertama kali ia lihat saat mereka one on one. Dirapikannya papan mini shoginya. Ini tidak akan berlangsung sama—secepat apa pun hasil yang mereka inginkan, tidak ada hal instan.
Jadi berdasarkan peringatan dirinya yang satu lagi, ia akan membiarkan Kouki tekapar jika energinya sudah habis total setelah berlatih dengannya—toh ia butuh cepat kembali untuk urusan personal yang menggenting karena ponsel lama mereka masih ada di tangan si kembar terkutuk.
Sesi latihan mereka—one on one dengannya, tidak memecah rekor baru. Tiga koma lima menit, dan Kouki sudah berkeringat parah terengah-engah, terkapar di tengah lapangan.
"A-a-ano."
Akashi yang tengah mengusap perahan keringat yang tergantung di ujung-ujung anakan rambutnya di dahi dengan punggung tangan, melirik tanpa minat pada Kouki.
"Te-te-terima ... kasih."
Akashi menoleh sedikit lebih eksplisit, alis terangkat sedikit pada Kouki.
"Ka-kau meyelamatkanku ... da-dari tempat itu."
Kouki memalingkan wajah ke samping. Tetap saja emperor eyes tidak mungkin terlewat melihat semburat di pipinya—yang pasti karena kelelahan melawannya ucap dirinya yang satu lagi (oreshi) disertai dengusan.
"Da-dan untuk kata-katamu ke-kemarin. Ju-juga kau percaya ... a-aku bisa—kita bisa melakukan i-ini."
Akashi merasakan entah bagian mana dalam dirinya merileks mendengar itu. Matanya tidak tercegah menelusuri bulir keringat di leher jenjang itu.
"Aku percaya dengan kemampuanku untuk membuatmu tidak jadi penghambatku mendapat kemenangan."
Kouki merasakan desing imajiner itu lagi dalam dirinya mendengar ujaran geli terdingin dari pengagung aku-selalu-benar tersebut.
"O-oh. A-ahahaha." Kouki tertawa. Kerongkongannya mendadak gersang.
Dia tertatih bangkit, masih membungkuk sembari melenyapkan aliran keringat yang menggatalkan tengkuk, "Se- ... sekali lagi, tolong!"
Mata itu lagi. Bahkan meski tidak ada cahaya yang tertuang di sana, tapi tetap bercahaya akan resolusi.
Akashi tidak (akan) menolaknya.
.
#~**~#
.
Di hari berikutnya, Seijuurou mendongak dari dokumen data eksata perusahaan keluarganya yang tengah ia pelajari ketika mendengar derap langkah heboh itu, baru hendak mengucap selamat siang dengan sopan sebagai formalitas, ketika Kouki masuk dengan jatuh tersusruk karena kakinya tersandung akar pohon.
Pemuda ini sweatdrop melihatnya, lantas lekas beranjak menghampiri Kouki. "Apa kau terluka?"
Kouki bangun kembali, mendesis pelan, tapi menggeleng. Menepuk lututnya yang dijilati nyeri tak berarti, ia melangkah lebih berhati-hati masuk ke lapangan.
"Ma-maaf aku te-terlambat."
"Kenapa terburu-buru begitu?" Seijuurou dengan mata awasnya memerhatikan telapak tangan Kouki yang memerah parah.
Kouki mendongak padanya, penyesalannya terujar lirih, "A-aku tidak ingin membuatmu terlalu lama menunggu."
Seijuurou tersenyum tipis karena kejujuran Kouki—dilisankan dengan ekspresi polos yang diteduhi naungan sakura. Diraihnya tangan Kouki yang terkesiap kaget dengan tindakannya—mencari tahu apakah ada baret luka meluruhkan darah di sana.
"Tangan adalah yang paling penting bagi seorang pebasket, kau harus menjaganya baik-baik."
Kouki mengangguk, kelu karena kecerobohannya sendiri. Dibiarkannya Seijuurou menariknya ke bangku, mengeluarkan botol minumnya sendiri, dan membasuh tangannya dengan air dingin, lalu membalut tangannya dengan handuk kecil.
"Ada luka di sini."
Kouki ikut memandangi torehan luka di telapak ibujari tangan kirinya yang tengah dibersihkan. "Benar. Aaah ... aku ini ceroboh sekali," desahnya lelah.
Ditaruhnya tasnya ke bangku, lalu membuka resleting bagian depan. Meraih satu bungkusan plester yang selalu dibawanya. Saat Kouki hendak membukanya, ia canggung menatapi tangan kirinya masih dipegangi Seijuurou—ia tidak bisa merekatkan handsaplast antiseptik dengan satu tangan. "Uhm ..."
Seijuurou meraih plester dari tangan kanannya, lalu memasangkan dengan rapi di telapak ibujari Kouki yang kapalan. Menekan-nekan telapak ibujari Kouki agar plester benar-benar terekat erat, kemudian menyungging senyum tipis.
"Kau harus lebih berhati-hati. Jika kau cedera atau terluka, kau malah akan menyulitkan kita."
"Maaf." Kouki mengangguk, tertunduk ke bawah. "Aku akan lebih berhati-hati."
Jika ini adalah persona absolutnya, Seijuurou yakin dirinya yang satu lagi akan segera teriritasi melihat Kouki selalu menunduk seperti itu. Tapi, dirinya sendiri membiarkan tangannya terangkat untuk menepuk kasual helai sienna yang terlihat seperti lelehan coklat menggiurkan disiram radiasi matahari.
"Ayo kita mulai berlatih."
Latihan dimulai dengan Seijuurou mengoreksi pergerakan Kouki dalam triple threat—shooting, passing, dan dribbling—dengan memberitahukan untuk tidak melakukan gerakan yang tak perlu sehingga bisa menghemat energi.
Seharian itu sampai matahari meluruh dalam dekap horizon, pantulan cahaya keemasannya beriak di permukaan sungai, itulah yang kedua pemuda tersebut lakukan dengan jeda istirahat dua kali—karena Kouki jauh lebih lelah dari Seijuurou dengan latihan Seirin dan latihan dari adiknya kemarin.
Pace latihan mereka agak terlalu lambat bagi Seijuurou, tapi dia menoleransi karena kondisi Kouki pun belum pulih sepenuhnya.
"—ini penting untuk kau kuasai, karena musuh akan bergerak dengan mengantisipasi gerakan persiapan. Jadi, besok kita akan—"
Seijuurou tercenung ketika Kouki tumbang dengan wajah terbenam ke refleks terjulur menepuk-nepuk punggung lengan si bungsu Furihata.
"—hei, Furihata-kun, jangan pingsan—"
Kouki dengan mata terbuka-terkatup, redup serupa kepak kupu-kupu, menoleh pada Seijuurou. Melirih letih, "—ti-tidak. Tapi, se-sebentar saja. Tolong ajari aku, agar ... ngh ... aku bisa ... membuat ... timku sendiri, A—"
Seijuurou terdiam memandang Kouki yang jatuh tertidur di bangku, melirihkan namanya.
.
#~**~#
.
"Apa yang harus kulakukan padamu?"
Kouki menggigit bibir ketika decih mengonten sarkasme tak terucap beralih jadi pertanyaan lebih pada pada diri sendiri.
Tangan kirinya memijati dahinya yang menghantam lantai lapangan, tangan kanan kesusahan hendak menekan semutan sakit di punggungnya karena tadi manuver gerakan ingin merampas bola dari tangan Akashi tapi tutornya itu berkelit gesit, sementara tubuhnya terlekuk ke depan tiba-tiba sementara bekas rajam rerantai di sana berdenyut menyakitkan dan ia jatuh tersungkur dengan dahi jadi landasan pacu.
Akibat dari jatuh tidak elit itu bukan hanya luka mengering di punggungnya yang belum sembuh benar mendecit sakit, dahinya pun sakit, tapi juga gelang bahunya yang nyeri—mungkin karena jatuh salah posisi.
"Aku mentrikmu agar tidak terjebak foul, kau malah dengan mudah terperangkap foul. Ini sudah ketujuh kali."
"Ma-maaf."
Kouki menjadikan lutut sebagai tumpu, baru menghempas bokong ke semen lapangan. Dia meringis miris, mustahil mengutuk Akashi yang melakukan semua ini demi prioritas mereka untuk menyabet kemenangan, jadi ia berakhir terduduk merutuk diri sendiri karena tidak bisa juga lolos dari foul yang Akashi peragakan.
Matanya menelusuri figur yang tengah menopang satu tubuh menggunakan lengan, sementara satu tangan berusaha meraba punggungnya sembari wajah berkeriut aneh menahan nyeri. Akashi beranjak ke belakang Kouki yang lebih mirip atlet gagal akrobat dengan posisinya seperti sekarang.
"Kau tidak pemanasan?"
"Hari ini ... a-aku tidak ada latihan basket."
"Pantas kau datang tepat waktu."
Mungkin sinar muram matahari yang merasuk dari mata hingga menusuk melampaui rusuknya, itu yang Kouki rasakan mendengar kebenaran yang Akashi ucapkan.
"Bahumu keseleo."
"E-err—"
"Aku melihatnya."
Kouki ingin mempertanyakan bagaimana Akashi bisa tahu, tapi mengetahui Akashi memang selalu tahu, ia mengatup bibir lalu mengangkat tangan yang semula menopang tubuhnya untuk memiijat bahunya yang ngilu seakan menghimpit tulang-belulangnya.
Garis kelopak mendatar jadi garis lurus melihat pemuda yang cidera mencengkeram erat kausnya karena menggerakkan lengannya saja sudah sakit. Mata yang sama kemudian melebar sekian inci melihat bagaimana jemari itu dengan terampil mulai memijat bahunya sendiri.
"Kau bisa tapping."
"A-aku belajar pada Aida Kantoku." Kouki mengangguk sembari mengurut bahunya sendiri perlahan-lahan.
Akashi mendekat padanya, mengernyit kening menyadari Kouki kesulitan memijat bahunya karena punggungnya terlengkung ke belakang—ekspresinya menahan sakit. Mungkin karena malam itu disabet rantai oleh entah preman mana.
Akashi berlutut di belakang pemuda tersebut. "Kalau kau men-tapping bahumu, jangan tegang begitu. Malah akan terasa makin sakit saat kau melakukannya."
Kouki mengejap. Oh, ternyata itu penyebabnya. Karena punggungnya tegang oleh rasa sakit, berpengaruh pada gelang bahu kirinya dan ketika dipijat oleh tangan kanan malah bertambah nyeri. Dia memekik pelan ketika tangan kanannya dilepaskan dari bahu kirinya, dan ada sepasang tangan lain di bahunya.
Kouki merinding ketakutan merasakan hembusan yang bukan angin menerpa belakang kepalanya hingga ke tengkuk. "A-Aka—"
"Rileks." Akashi menelisik baik-baik gumpalan otot anomali dengan jemari nya di bahu serta punggung lengan pemuda yang bergetar hebat. Begitu menemukannya, ia mulai mengurut pelan-pelan agar posisinya dapat kembali seperti semula. "Rileks, aku tidak berniat mematahkan lenganmu—kalau itu yang kautakutkan."
".."
Kouki berusaha merileksasi diri. Ia terlalu tegang untuk itu walau ia telah histeris dalam hati untuk tenang. Tarik napas, diembus pelan. Tenanglah, tenanglah. Akashi tidak mungkin menciderainya karena kalau ia cidera Akashi maka orang itu akan kehilangan rekan setim untuk memenangkan pertandingan penting bagi keduanya itu. Tenanglah.
Pemuda yang lebih tua sebulan itu melirih perih ketika Akashi menekan spot yang tepat. Tapping-nya itu disertai dengan upaya untuk melemaskan otot-otot bahu ke punggung lengannya yang kaku karena diforsir berlatih dari pagi sampai menjelang malam. Dia memejam mata untuk menikmati, berusaha percaya—Akashi tidak akan mendislokasi gelang bahunya.
"Kenapa kau belajar tapping?"
"A—ah. Aku jarang bermain di pertandingan. Ja-jadi, aku mencari hal yang bisa kulakukan untuk membantu timku."
"Apa itu selalu berguna?" Akashi memerhatikan bagaimana helai sienna itu tampak seperti hamparan tanah, bumi di musim panas.
Kouki tertawa tanpa nada humor. "Ti-tidak selalu."
Akashi menatap belakang kepala pemuda itu datar. "Kalau kau memelajari hal selain yang diperlukan untuk bermain di lapangan, aku bisa mengerti sekarang kenapa kau tidak selalu dipilih jadi salah satu pemain untuk bertanding memenangkan pertarungan."
Ibaratnya Kouki mempunyai luka ternganga hampa, Akashi ada di sana untuk membanjurkan air perasan lemon, atau cuka, atau alkohol, atau garam, atau mungkin semuanya sekaligus pada luka yang Kouki miliki.
Manik heterokromik itu tajam mengawasi bagaimana Kouki meremat celana hitam yang dikenakannya dengan mosi desperatif.
"Mu-mungkin yang kaukatakan be-benar."
"Aku memang selalu benar."
"Ukh. Timku ... sangat hebat. Setiap anggota starters pun begitu."
"Aku tahu itu. Timmu menang dari semua tim. Tsk."
"Ma-maaf. Maksudku, aku juga pernah merasakan ingin keluar dari tim karena untuk mengimbangi pace latihan saja sulit. Apalagi kalau melihat pemain seperti Kagami, kau, dan yang lainnya ... rasanya mustahil."
"..."
"Ngh ... tapi, melihat Kuroko, aku berpikir mungkin ada sesuatu yang bahkan seseorang seperti aku bisa lakukan. Karena itulah aku belajar hal lain yang bisa mendukung timku meski dari luar lapangan."
"Kau berniat jadi benchwarmer sejati?"
"Ti-tidak. Itu kulakukan demi timku. Sebenarnya ... a-aku sangat ingin turun bermain ke lapangan. Egois—aku tahu itu, tapi saat bermain melawan tim Kaijou, aku benar-benar senang walau awalnya ketakutan sampai rasanya ingin pingsan. Aku ingin bermain lagi, tapi itu saja tidak cukup. Karena pada kenyataannya ... aku tidak seberguna itu. Aku merasa tidak berguna, kau membuatku menyadari hal itu se-setelah aku me-marking-mu."
Ini adalah konfesi yang tidak pernah terbersit secarik pun dalam diri Akashi. Sesaat tangannya hanya menyentuh bahu Kouki tanpa bergerak memijat sama sekali, terlarut konfesi lirih menyakitkan itu. Bisa saja ia yang selalu benar membenarkan, Kouki di lapangan memang tidak banyak gunanya.
Namun kesadaran diri Kouki membungkamnya. Untuk apalagi diberitahu jika memang sudah tahu?
"A-aku berusaha belajar keras agar lain kali, aku ingin jadi kuat dan bisa turun bertanding dengan timku lagi. Aku ingin timku menang dengan support dariku, aku tidak ingin merasa tidak berguna lagi."
Matahari menyiram kehangatannya menumpu ubun-ubun mereka. Riak sungai menggema tipis bunyinya tergelinding ke seluk-beluk lapangan. Kedua hal itu luput dari atensi Akashi karena yang bersangkutan menatap lebih lunak pada pemuda yang memunggunginya.
Mungkin ini bisikan dari dirinya yang satu lagi, yang terselip keluar dari bibirnya dalam untaian kata saat manik heterokromiknya menatap ke bawah –pada pemuda yang sedang di-tapping olehnya.
"Kalau kau tidak berguna sama sekali dalam pertandingan, kenapa kau diturunkan untuk bermain oleh pelatihmu?"
Pandangan keduanya bertautan. Seakan seluruh gugus waktu terkunci mati pada detik-detik seperti abadi ini.
Kouki tersentak. Refleks kepalanya menengadah. Matahari tidak merasuk matanya, hanya helai merah yang dikepuli angin dan sepasang biner berbeda spektrum yang menghunjamnya. Terkesima atau tergemap, tidak lagi bisa dibedakan.
Akashi tidak menganalisis mengapa lidahnya kelu. Tidak ketika apa yang ia lihat saat mereka pertama kali bertemu pandang, dilihatnya lagi berpijar menyala di rongga mata itu.
Determinasi.
Pemain ini yang lemah tak terkira, yang membuat Akashi bingung bagaimana lagi harus menghadapinya dan tidak menyisakan pilihan selain mengeleminasinya dari lapangan, pemain yang tidak benar-benar bisa ia abaikan.
Satu-satunya pemain lemah yang tetap bangkit lagi walau ngeri setengah mati.
Satu-satunya pemain yang menerima kelemahannya, menyadari dirinya tidak seberguna itu, tapi tetap melakukan segala yang ia bisa untuk melawan salah satu pemain terhebat meski hanya jadi umpan dan menghentikan aksi untuk menembakkan tiga angka.
(Satu-satunya pemain biasa saja dengan mata memijar resolusi yang brillian.)
Sesaat kedua pemuda itu saling berpandangan dari atas ke bawah dan bawah ke atas. Dunia diputar balik pun, segalanya akan tetap sama.
Karena sebagian besar omong kosong dunia mencerca dengan naif bahwa atas tidak bisa bersama dengan bawah.
Mereka terpisah.
Pada kenyataannya, representasi atas dan bawah selalu berhadapan seperti cermin yang merefleksi jurang perbedaan—bagian dari dua sisi dunia yang kadang selalu terlupa atau bahkan dianggap sangat sepele.
Perbedaan luar biasa keduanya bukan jurang pemisah. Melainkan eksistensi yang melengkapi satu sama lain, tidak akan ada atas bila tidak ada bawah.
Seperti itulah mereka.
"Kalaupun kau tidak seberguna itu di lapangan, kau tidak membiarkan ketidakbergunaan itu terbawa keluar lapangan."
Akashi Seijuurou sendiri mungkin tidak menyadari bahwa dirinya juga satu-satunya entitas saat itu (dan sampai saat ini) yang bisa melihat seberapa solid resolusi Furihata Kouki.
Mungkin jika bukan pijar resolusi itu yang membutakan, bisa jadi itu adalah pijar lain—dan berharmoni dengan pipinya juga bibirnya. Senyuman yang merekah, mata yang berkaca.
Lunatik.
.
#~**~#
.
"Apa yang harus kulakukan padamu?"
"Ka-kau ... selalu bilang begitu."
"Apa kemarin Adikku juga berkata seperti itu?"
"A-a ... i-iya."
Empat belas dari dua puluh kali percobaan shooting di berbagai posisi area inside itu meleset. Seijuurou dengan tangan tersimpan di pinggang, kasual menyeka gulir tipis keringat di pelipisnya. Bukan matahari diselendang lembayung senja yang galak menyerbak panas yang mengemut tubuh mereka, melainkan aktifitas yang mereka lakukan selama seharian ini.
"Ka-katamu waktu itu a-aku hanya jadi support, terus kenapa aku berlatih shooting setelah tujuh kali one on one?"
Seijuurou masih bisa mencerna kata-kata itu walau diserukan dengan terbata-bata. Dia mengulurkan tangan pada Kouki yang tergelepar kelelahan di lapangan karena latihan spartan dengannya.
"Kita tidak bisa naif berpikiran mereka akan tertipu hanya dengan kau berhasil tidak terjebak foul mereka. Cara meyakinkan mereka bahwa kau bukan pemain biasa adalah kau bisa mencetak skor mandiri, itu akan menakuti mereka."
Kouki—mengetahui ini bukan persona dengan manik heterokromik yang dari hari ke hari makin menguras stok napasnya—menyambut uluran tangan pemuda di hadapannya, merasakan dirinya ditarik mantap untuk bangun berdiri lagi.
"Ke-kenapa dari se-segala posisi?" gerung Kouki pelan.
"Antisipasi." Seijuurou bersidekap sambil menjawab. "Bisa saja mereka memojokkanmu ke area inside. Tapi kanan, kiri, sudut mana, kita tidak tahu kapan kesempatan menembak kapan akan terjadi nanti. Jadi, kubuat kau berlatih melakukan semuanya."
Gerungan tapi-kau-menyiksaku dari Kouki yang mendesah hanya mengimpuls Seijuurou untuk menyumbangsih tawa tipis pada peluk angin yang sejuk meraup keduanya.
"Kalau kau berlatih di garis tembakan tiga poin, hanya dengan posisi vertikal sejajar ring, kau tidak akan bisa menembakkan bola ke ring dengan benar—karena musuh akan muncul dari titik buta untuk menyepak bola dari tanganmu."
Kouki mengangguk paham dengan penjelasan itu sibuk berusaha memahaminya—karena ia lebih bisa berinteraksi dengan Akashi yang satu ini—dan mencatatnya dalam benak. Mengingat simulasi triple threat latihan dari pelatihnya, mungkin suatu hari nanti, bisa ia modifikasi dengan banyak kritik dan saran dari Seijuurou.
"Ah, lukamu benar-benar sudah baik-baik saja, 'kan?" tanya Seijuurou yang mengangkat genggaman tangan mereka, memerhatikan telapak tangan pemuda di hadapannya—yang telah melepas plester penutup luka.
Kouki sweatdrop. "Tidak bisakah kautanyakan itu sebelum kau melatihku shooting dan one on one berkali-kali?"
"Hmm." Seijuurou mengangguk puas sembari mengelus lamat garis luka di telapak ibu jari Kouki—luput melihat Kouki yang tersentak pelan karena gesturnya. "Syukurlah, baik-baik saja."
Senyum tanpa dosa Seijuurou membuat Kouki tidak bisa marah lebih lama padanya, tidak meski dalam proses latihan tadi—sementara Kouki berlatih shoot dari berbagai posisi di sektor inside justru Seijuurou berlatih di area outside sembari mengoreksi gerakannya seperti biasa—ada juga shoot mulus Seijuurou di ring mendepak kepalanya karena ia tengah memungut bolanya sendiri.
Kouki tidak bisa marah ketika itu pertama kalinya Seijuurou menghampirinya, mengucap maaf, mengulurkan tangan baginya untuk bangun, dan tertawa.
Begitu genggaman tangan mereka terlepas, Kouki membiarkan tangan dengan darah berdesir deras ke sana menimbul panas berlebih kini tergantung di sisi tubuh. Diikutinya langkah Seijuurou menuju ke bangku panjang, menerima operan handuk darinya.
Keduanya bermandikan sendu senja, dan keringat saja yang bisa mereka seka.
"Aku sudah mendapatkan video rekaman pertandingan waktu itu dan riwayat pertandingan Sasaki bersaudara selama sekolah dari Momoi."
"Sekarang juga? Ta-tapi ... mereka masuk sekolah mana?"
"Entah."
"La-lalu bagaimana bisa Momoi-san tahu?"
"Dia memang selalu punya cara untuk tahu."
"Aaah. Kalau hal itu saja Momoi-san bisa tahu, apa kau memberitahu ... tentang kita?"
"Tidak. Aku mencari tahu dulu di mana mereka sekolah saat ini, lalu memberitahukan pada Momoi akan memerlukan datanya untuk bertarung melawan mereka."
"Dia langsung memberikan?"
"Tentu. Berikan alamat surelmu, nanti malam akan kukirimkan padamu. Kau pelajari mereka."
"O-oke."
Sepasang pemuda tersebut melipat kembali handuk ke tas, minum dari sisa air dalam botol yang selalu mereka siapkan, berkemas barang mereka masing-masing untuk pulang. Membiarkan selembar dua lembar kelopak tersisip di antara lipatan handuk dan baju terjejal ke dalam tas.
Seijuurou menyerahkan ponselnya pada Kouki agar mencatatkan alamat surelnya, kemudian kembali sibuk membuka spasi untuk memasukkan botol minum ke tasnya.
Kouki terpana melihat wallpaper telepon genggam Seijuurou adalah hasil rekayasa fotografi artistik.
Sebuah bidang kayu berpelitur mengilat ditumpah cahaya entah dari mana, di atasnya ada sebuah benda berwarna oranye bundar kecintaan mereka—bola basket, berdampingan dengan sesuatu yang berbentuk seperti jimat dengan kain beludru warna oranye. Di bagian luarnya terajut tulisan sambung estetik nama kecil pemuda di sisinya.
Mengesampingkan hal itu, Kouki buru-buru mencari fitur memo untuk menuliskan surelnya—tanpa bisa mengenyahkan kesan wallpaper yang ia lihat. Meski tidak berwarna kusam, tapi menoreh impresi sephia yang sunyi menyentuh hati.
Seakan dua hal itu begitu berharga untuk Seijuurou.
Kouki mengembalikan ponsel pada pemiliknya lagi yang mengangkat sebelah alis, menanyakan kenapa Kouki menatapnya seperti itu.
Pemuda yang ahli dalam subjek biologi itu menggeleng sekilas, terlalu takut mengomentari bahwa foto yang dijadikan wallpaper itu sama sekali tidak terlihat amatir tapi terkesan begitu satir—seperti menyisip kisah akan sebuah akhir. Mengatup bibir, rasanya eksistensi dilingkup perfeksi itu terlalu luar biasa—seperti sinau yang membuat silau.
Seseorang all-around-genius membuat orang seperti dirinya hanya merasa rendah—berada begitu di bawah. Untuk sekedar menyenda-gurau tentang kenyataan saja ia tidak bisa, karena itulah setiap mereka pulang bersama sampai ke stasiun, Kouki selalu melangkah di belakangnya dan merasa tidak pantas berjalan di sisinya.
"Aku tahu ini tidak ada hubungannya dengan kepentingan pertandingan kita—"
Kouki mendongak. Tergemap menemukan sudut-sudut mata magenta monokrom mematutnya.
"—tapi, meninjau hasil latihanmu beberapa hari ini, kurasa kau bukan tipikal point-guard ortodoks yang mempertaruhkan segala resiko untuk mengoper bola asal rekan setimmu bisa menembakkan bola ke ring.
"Kau menghindari resiko yang ada, waspada terhadap segala kemungkinan yang akan lawanmu lakukan, dan memengaruhi lawan—bisa jadi bahkan pace permainan—pada permainan pace-mu sendiri yang lambat serta membutuhkan ketenangan. Kalau lawanmu tidak adaptatif, mereka akan gegabah dan kau bisa merebut momentum itu tanpa mereka sendiri sadari."
Kouki ternganga seraya mengejap mata. Dia sendiri saja tidak mengetahui semua itu. Seijuurou membual atau bagaimana sebenarnya?
"Permainan terbaikmu adalah screen play—memudahkan teman setimmu untuk bergerak menyerang. Kau pemain yang suportif, sebagaimana point-guard ideal sesungguhnya."
Kerongkongan terlanda gersang, Kouki linglung menatap punggung tegap di hadapannya. Seseorang yang siapa pun selalu memandangnya dengan decak kagum, kini mengerlingnya halus dan berkata dengan begitu tulus tentangnya. Sesuatu yang mustahil dilihat oleh mata orang awam dan terlalu sering alfa pada yang biasa-biasa saja.
Akashi Seijuurou tidak pernah memercayai apa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Yang ia percayai adalah apa yang ada di balik yang ia lihat. Dia tidak pernah mentah-mentah memercayai apa yang ia dengar dan rasa, karena yang ia percayai adalah kebenaran yang selalu berada di balik semua itu.
Dan Furihata Kouki, baginya, bukanlah pengecualian dalam sistemasi caranya melanskap atensi pada segala sesuatu.
"—kau juga sangat—ah."
Kaget melihat Seijuurou tiba-tiba berhenti melangkah, dan suara anomali yang merusak ketenangan pemuda tersebut dalam bertutur, adalah belukar tajam yang menggores sisi kiri tangannya—Kouki terkesiap terlebih ketika menotis darah memercik semak jahanam tersebut.
"Ka-kau terluka!" Kouki panik melihatnya.
Dia meraih tangan Seijuurou yang tidak menunjukkan raut kesakitan sedikit pun, memeganginya sembari satu tangan mengobrak-abrik isi tasnya yang semula tertata rapi, sibuk mencari sapu tangan, air minum, dan plester antiseptik yang selalu dibawanya.
"Ka-kalau jalan, to-tolong lihat-lihat ke depan. Apa emperor eyes tidak bisa melihat semak seperti ini saja?"
"Emperor eyes milik Adikku. Dan lagi, tadi aku sedang melihatmu berbicara denganmu. Kau juga tidak memberitahuku."
"... o-oh. Maaf." Kouki kikuk dengan kenyataan itu—salah siapa yang menghancurkan ketenangan dan kenyamanan dirinya dengan perkataan yang membuat hati kobat-kabit sebenarnya—karena ia sendiri tidak memerhatikan lingkungan sekitar.
Kouki membasuh darah dengan airnya, membiarkan darah dilebur air itu merintik semak-belukar sepinggang teramat tajam yang menggores tangan Seijuurou. Mengeringkannya dengan sapu tangan, lalu berhati-hati merekatkan plester untuk membalut luka tersebut.
"Ta-tangan ... adalah yang paling penting bagi seorang pebasket. Kau harus menjaganya baik-baik."
Kouki menekan plester agar benar-benar melekat erat dan memerhatikan apakah ada goresan yang tertinggal, tidak tertutup oleh plester—karena ia tidak ingin tangan berharga ini sampai infeksi.
"Aku jadi teringat kemarin lusa. Siapa menduga situasinya akan berbalik, hm?"
Seijuurou tertawa perlahan. Dia adalah entitas yang selalu dilimpah perhatian, telah terbiasa dengan atensi masif yang menjilatinya hingga dirinya muak, tapi sekali ini ia sama sekali tidak benci dengan yang Kouki lakukan padanya—tidak bahkan walaupun Kouki memuntir kata-katanya sendiri menjadi bumerang.
Baginya, Kouki melakukan semua itu bukan basa-basi kebaikan hati, tapi seaksi afeksi.
"Kau memerhatikan segala sesuatu di sekelilingmu dengan baik. Kau sangat perhatian."
Kouki yang semula tengah bergumam puas karena luka tersebut tidak separah yang ia khawatirkan, terkejut karena kata-kata itu lantas melengak kepala—mendapati Seijuurou tengah menatapnya.
Sosok sempurna itu di antara tudung kubah pepohonan, tersimbah selarik cahaya oranye senja dari celah reranting dan dedaunan, mengempis habis ruang udara dalam paru-paru Kouki karena oksigennya mandat saja di pangkal tenggorokan dengan sorot mata selembut gemerisik angin yang melingkupi mereka.
"Aku tidak bisa memberitahumu apa yang harus kaulakukan untuk mengasah segala aspek kualitas yang kutemukan dalam dirimu, itu harus kautemukan dan kaulakukan sendiri. Tapi, kurasa jika kau bisa mengasah semua itu, kau akan menjadi seorang point-guard yang berguna dan bisa diandalkan teman-teman setimmu."
Mungkin orang sesempurna Seijuurou tidak akan mengerti bagaimana rasanya ada yang menotis begitu banyak tentang seseorang biasa saja, memberi jawaban dari yang selama ini dicari dengan terlilit desperasi, betapa berharganya itu bagi seseorang yang sering luput jadi perhatian karena tidak memiliki keistimewaan berarti.
Konfesi tentang kualitas diri itu tidak berarti rasanya membuat Kouki lantas buncah bahagia. Tidak, lebih terasa menyakitkan dan terlesak sesak. Karena seseorang sesempurna Akashi Seijuurou yang menyadarinya, menyebabkan Kouki merasa selama ini ia begitu pengecut sebab dirinya sendiri bahkan luput mengenali baik-buruk dirinya sendiri dan malah meratapi dirinya begitu rendah.
Mayoritas orang, terutama orang biasa saja sepertinya, lebih sering merasa takut pada eksistensi mengumbar perfeksi yang tidak (dalam kasus Akashi Seijuurou, tidak lagi) pongah, dan lantas memandang diri begitu rendah.
Padahal tidak berarti seperti itu. Biasanya, orang yang berpikir seperti itu hanya belum menemukan hal esensial yang membuatnya tegak memandang dunia dan tidak minder menghadapi justifikasi publik atas baik-buruk setiap individu serta bumi seisinya.
Dia hanya belum memiliki sesuatu yang menjadi identitas diri atau sesuatu yang dapat membangun kepercayaan dirinya.
Seperti Seijuurou adalah orang yang mengirik apa yang waktu itu Kouki katakan, mungkin ada sesuatu yang bahkan seseorang sepertinya bisa lakukan.
Seijuurou yang menemukannya ketika Kouki didera desperasi masih mencari, meski merasa dirinya hanya pengecut yang tidak ada apa-apanya dibanding kesempurnaan seseorang di hadapannya, tapi dengan perasaan hangat berharga yang menyesakinya ini (yang ditimbulkan oleh Seijuurou), Kouki melirih—
"—te- ... terima kasih."
—dan merasa, semua yang Seijuurou sampaikan saat ini adalah petunjuk yang dicarinya untuk membuat timnya sendiri. Tim yang dimulai dengan meningkatkan kualitas dirinya terlebih dahulu untuk menyokong eksistensi tim tersebut.
Ada sesuatu yang memang bisa dilakukannya.
(Ketika wajah Kouki menyemburat yang tidak seperti karena terlumat senja dan secarik cahaya menerpanya dari sela-sela dedaunan, mata dengan pijar resolusi itu berkaca, tersenyum seraya berbisik penuh haru-biru, familiar, dan semua waktu dunia yang tersisa itu tak terhingga berharganya bagi mereka saat ini—
'Lunatik.'
—seketika itu, Seijuurou tertegun.)
.
#~**~#
.
Sebenarnya, Koichi tidak ingin menanyakan hal ini. Tidak ketika Kouki tersenyum sendiri—seperti terperangkap kebahagiaan semu yang terasa abadi—yang jarang terjadi.
Teman-teman Seirin remaja itu dapat membuat Kouki tertawa sepanjang hari, bahkan memenangkan Winter Cup dapat membuat binar di matanya awet sekitar seminggu—meski tak setiap waktu.
Padahal beberapa saat lalu, Koichi tengah seorang diri ditemani detik-detik yang terus meneriakinya, mengganggunya, tapi ia abaikan semua itu karena mengingat individu tertentu membuat telinganya mentransisi bunyi monotonis detak jam dinding menjelma senandung yang hanya bisa ia tuliskan di kertas bergaris-garis dengan beberapa spasi.
Koichi pasrah seorang diri lagi hampir seharian—kecuali di jam-jam besuk, tapi adiknya muncul dengan senyum lebar—memanipulasi kekecewaan lain karena absensi seseorang dengan menyampaikan bahwa pesanan mereka sudah tiba.
Begitu ditanya, Koichi nyaris tertawa karena adiknya menggerung tentang orang tersebut berhalangan hadir berlatih basket dengannya hingga sore karena ada urusan penting.
Koichi, entah kenapa, seperti bercermin saat melihat Kouki. Dirinya di masa lalu. Itu jika memang Akashi Seijuurou yang jadi faktor sorot matanya selembut itu saat ia tengah begitu serius—biasanya adiknya itu selalu mengandalkan imajinasi untuk berkreasi.
Tidak akan menyakitkan untuk mencari tahu, bukan?
"Kau ... masih marah padaku?"
Kouki yang tengah mengetukkan jemari pada buku catatan penuh bertuliskan corat-coret, mendengus pelan dengan lontaran pertanyaan itu. Berhenti mencocokkan kata dengan nada, ia berkata, "Aku tidak marah padamu lagi, Aniki."
"Tapi sudah seminggu ini kau jadi jarang menjengukku, kau juga jarang menemaniku menginap di sini lagi."
Kouki sweatdrop dengan kesuraman yang sama sekali tidak pantas disuarakan oleh kakaknya.
"Ah ... kan, aku sudah bilang. Aku pagi berlatih dengan Seirin, siangnya aku latihan dengan Akashi. Lagipula, kemarin saja dia membantuku mengerjakan sastra klasik Jepang yang mengerikan dengan kanji-kanji kegelapan itu."
Kouki berdecak, tersenyum geli seraya menggeleng-gelengkan kepala mengingat seseorang yang mutlak perfeksinya.
"Di mana letak keadilan dunia ini jika ada orang seperti dia bisa apa saja?"
Hening didesing gumam samar monosilabel diserasikan dengan selarik melodi.
"Oh, ternyata bersama Akashi Seijuurou begitu menyenangkan, ya. Sampai-sampai tiap kau datang, hanya dia yang kauceritakan padaku."
Koichi memetik gitar dengan petikannya—jemarinya mulai tidak kuat menekan senar-senar yang menghasilkan getar yang dicintai ruang pendengarannya. Putra sulung Furihata itu sengaja mendesah panjang-panjang.
Kouki tidak sengaja melubangi kertas di buku catatan penting itu mendengar keluhan kakaknya. Dia berusaha menyergah, "A-apa-apaan Aniki berpikiran begitu?! Sama Aniki bukan cuma sekedar menyenang—"
"Jadi kau senang bersamanya—oi, Kouki, jangan rusak buku itu!" Koichi menarik buku berharga yang selalu keduanya tulis bersama, dia berceloteh, "Kenapa kau menulis lirik "semenjak ada dirimu", kau mau menyindirku atau kau sedang terbawa perasaan sendiri?"
"Ke-kembalikan, Aniki! Biar aku ganti kalau kau tidak suka—"
"—oh, tidak, tidak. Aku tidak bilang tidak suka. Aku hanya bertanya—kenapa kau panik begitu. Oh—tunggu, tunggu! Yang ini insert song untuk shoujo anime itu?"
"I-iya, memang untuk yang itu—aaah, Aniki!"
"When you see me from the corner of your beautiful eyes—"
"Stop, stop!"
"—woah, judulnya tidak seperti biasanya—
"—ka-kalau tidak cocok dengan musikmu, ti-tinggal ganti saja—"
"—eits, jangan diganti. The Cowardice's Love, ini judul sempurna."
Kouki berusaha menggapai buku yang diacungkan tinggi-tinggi oleh pemuda yang lebih tua, tangan kakaknya menahan bahunya sementara satu tangan lagi menjauhkan buku dari jangkauannya, kakaknya tertawa gembira seraya menggantikan tugas Kouki meleburkan kedua komponen utama.
"Wow, bagian: 'do you even understand that your existence' ... ah, ini pasti cocok untuk lagu soulful yang kubuat! Kau kerasukan apalagi, Kouki? Ini bagus sekali!"
"I-itu be-belum selesai! Sini, ke-kemarikan!"
Kouki mengeluh tak suka ketika kakaknya mengacak gemas rambutnya sambil terkekeh. Serahkan pada kakaknya untuk menggodanya dengan gelimang begitu tahu yang membuat Kouki paling tidak tahan dengan sisi kakaknya yang ini.
Koichi terkekeh, gemas dengan adiknya yang mendelik padanya. Ditariknya pipi adiknya sampai melar. "Kenapa kau panik sekali, hm?"
"Tsk." Kouki menepis tangan Koichi dari pipinya. "A-aku membuatkan lagu ini untuk Aniki dan—"
"—Akashi?"
"— ke- ... ke- ... kenapa jadi Akashi? Aku bikin lagu ini untuk Aniki dan dia—jangan tertawa!"
"Bernapas, Kouki. Tidak usah bicara cepat-cepat—kau tidak perlu pamer keahlianmu itu, nanti kau tersedak. Ah, apa butuh kupinjamkan selang oksigenku untukmu?"
Kouki membuang muka. "Aniki, jangan berpikir macam-macam," keluhnya.
"Apa kalau aku berpikir mata Akashi itu bagus dan langka itu termasuk berpikir macam-macam? Kalaupun benar inspirasimu menulis ini memang Akashi, ya sudah."
Koichi mengedikkan bahu dengan keterlaluan kasual. Pretensinya teretas ketika melihat adiknya membeliak nyaris mengimpresi galak padanya. Mirip chihuahua yang hendak menggigit karena dielus-elus gemas oleh orang yang menyukainya.
"Hei, meski aku lelaki, tidak berarti aku sebegitu gengsi dan tidak bisa memuji apa yang nyata adanya. Melihatnya mengingatkanku pada wanita baik hati itu yang dulu tinggal di seberang kamarku."
Mengabaikan adiknya yang berdiri merampas buku dari tangannya—lalu merengut, Koichi membelai halus kepala Kouki seraya tersenyum lembut. Mereka sama-sama bahwa itu adalah gestur meminta maaf dan dimaafkan atas canda dan goda antar-saudara.
"Itu akan jadi lirik lagu yang sangat bagus. Terima kasih sudah membuatkannya untukku dan dia."
Kouki mengembuskan napas panjang. Menghargai apresiasi kakaknya, ia melunak. "Iya."
Keduanya kembali melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda seminggu lamanya itu. Koichi menyembunyikan senyumnya ketika ia mengumpan pembicaraan, Kouki menyambutnya—karena topiknya berkisar tentang orang tersebut.
Koichi tahu, di antara cerita yang berhamburan diceritakan adiknya, ada keping-keping yang hilang—yang adiknya tidak ceritakan. Ia biarkan—tiada lagi yang bisa membuatnya tersenyum selain adiknya.
Adik yang selalu bersembunyi di belakang dan menjadi bayang-bayang kakaknya.
Bila ia tiada, adiknya akan jadi cahaya. Seperti saat ini, ketika Kouki tertawa menceritakan si pemuda berambut merah itu memiliki candaan yang tidak lucu sama sekali.
"Oh, begitu? Ternyata dia tidak sesempurna kelihatannya. Ah, lain kali, ajak dia ke sini lagi. Aku ingin bertemu dengannya lagi."
"Oke!"
"Omong-omong, apa dia tahu ... siapa kita?"
"... ah. Mungkin. Kalaupun dia tahu, dia tidak bertanya. Itu tidak penting baginya."
"Kau pengertian sekali padanya."
"Aniki, kau apa-apaan—ah, itu ponselmu bunyi."
Koichi beralih ke ponselnya yang tergeletak di meja. Senyumnya terbit melihat nama pengirim yang pesan singkat itu.
"Siapa, Aniki?" Kouki jarang melihat kakaknya nyengir seperti itu.
"Kouhai-ku dulu di klub K-On saat Chuugakou. Dia mengucapkan selamat dan semoga menang."
"Eh, dia tahu siapa Aniki?"
"Hmmh. Dia tahu. Kami cukup sering bermain band bersama sehingga dia bisa mengenali ciri khas musikku."
"Err ... la-lalu, apa dia tahu ...?"
"... oh, tidak."
Kouki memilih tidak melanjutkan tanya mengapa kakaknya itu menyembunyikan kondisinya dari kehidupan biasa dunia yang pernah dijalaninya pada suatu masa.
"Katanya sekarang dia juga bermain basket, Kouki."
"Oh, benarkah? Dia di tim mana? Apa timku pernah melawannya?"
"Hmm ... nanti aku tanyakan."
Setelah Koichi membalas pesan dan Kouki merangkum ceceran buah pemikirannya dalam satu catatan rapi, mereka melanjutkan kegiatan yang tertunda. Mengheningkan cipta yang hanya mereka yang punya.
Hingga Kouki tidak menyadari instrumen kakaknya berhenti menderit merdu.
"Kouki, aku ... mungkin tidak bisa menunggunya lagi."
Kouki tersentak.
Bukunya seketika terlupa.
Matanya berkerut takut, tawanya kakofoni.
"A-apa yang Aniki bicarakan?"
Dan ia kelu tidak mampu mengucap bahwa orang itu pasti akan datang. Ingin meyakinkan kakaknya tapi tidak mampu ketika dihunjam sorot penuh pemahaman.
"... aku lelah menunggunya." Koichi mengalihkan pandangan pada dunia luar yang enigmatis baginya, memberi ruang bagi adiknya untuk bernapas normal setelah ditatap olehnya.
Kouki meremat kertas dalam genggamannya melihat kakaknya tidak membalas tatapannya saat mengatakan hal itu. "Ti-tidak. Dia hanya belum ada waktu luang ke sini—"
"... bukan, Kouki."
Koichi mengembuskan napas panjang, menoleh pada adiknya dengan senyuman yang surut kemudian melihat adiknya mengatup rapat bibir dan tubuhnya terguncang—menahan. Ditepuknya bahu Kouki, meremas pelan untuk merilekskan badan, berharap semoga berefek pada perasaan ketakutan yang adiknya mati-matian tahan.
"Kau yang pertama kau beritahu, aku ... aku menerima untuk operasi lagi."
Kouki terbeliak. Tak percaya menatap kakaknya.
"Bukan karena aku ingin bertemu dia lagi. Toh, melihatnya dari teve, dia kelihatannya baik-baik saja, aku rasa sudah cukup." Indera pencecapnya didecit pahit. Koichi mengulas senyum tulus. "Ini kulakukan demi Otou-san, Okaa-san, dan kau."
Koichi berekshalasi, menaruh gitar bersandar ke lemari, lalu meraih pelan buku tintanya mulai dipudar rintik adiknya. "Kau boleh menangis, tapi jangan sampai menghilangkan hasil—"
Dia tersentak pelan ketika Kouki menyarukkan wajah ke lengannya.
Koichi menarik napas dalam-dalam—kendati pedih serasa paru-parunya tersayat dalam setiap tarikan napas, bergetar, realisasi bahwa ia telah menyakiti dan menyusahkan begitu banyak orang dalam hidupnya.
"Persentase keberhasilannya minim, tapi akan kucoba. Toh, ini bukan yang pertama."
Koichi membiarkan lengannya basah. Senyumnya adalah sinisme pada spasi putih sempit berbau medikasi tiada berarti yang mengurungnya dan menahannya untuk makna mengapa ia ada di dunia, memugar tegar dalam diri, menepuk-nepuk kepala adiknya.
"Kalau gagal—"
"—jangan."
Bisikan.
Teramat pedih.
"Jangan katakan itu lagi—a-atau aku akan marah padamu lagi."
Koichi merapatkan mulut.
Belajar dari pengalaman sekitar satu setengah minggu yang lalu, kata-kata bisa menjadi belati berkarat yang menyayat hati seseorang. Keegoisan bukanlah kebanggaan, kenyataannya hanya menyakiti orang lain.
Kakak itu tersenyum, mengangguk, menepuk-nepuk halus kepala adiknya yang terseguk.
.
Jangan menangis dan berpikir kau egois
Lalu kauucapkan maaf, padahal aku hanya butuh kau tetap tinggal
Jangan tersenyum tegar
Lalu kauucapkan selamat tinggal
.
#~**~#
.
Seijuurou membungkukkan badan pada pria itu yang berlalu keluar dari tempat tersebut. Kepergian orang itu tidak mendampakkan ketenangan untuk dirinya. Padahal selama ini ia telah bersusah-payah, tinggal selangkah demi kebebasan, dan semuanya terjadi.
Semoga segalanya tepat waktu.
Jika saja ayahnya tidak seketat itu memonitor dirinya hanya demi calon pewaris—
"—loh, Akashicchi?"
Seijuurou menoleh. Terkejut yang hanya terlintas singkat di matanya melihat sesosok semampai dengan penampilan stylish itu tersenyum ceria melihatnya. Ekspresinya melunak. "Kise."
"Aku tidak menyangka kau ada di sini." Kise menghampirinya, mengedipkan sebelah mata lalu mengajaknya duduk dengan memosi ibu jari ke salah satu meja.
Seijuurou menyanggupinya dengan duduk kembali di salah satu sofa—bukan yang tadi ditempatinya dengan pria yang sebenarnya ia embankan harapan tertingginya—nyaman berbahan beludru. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Pemotretan untuk promosi cafe ini." Kise melihat tanda-tanda pelayan akan menghampiri mereka. Begitu melihat lawan bicaranya menggeleng ringan, Kise pun memberi tanda agar pelayan tidak usah meminta pesanan mereka. "Aku tidak tahu Akashicchi ada di Tokyo. Ada apa?"
"Meeting." Seijuurou refleks mengedut sudut bibirnya dalam senyum yang terlatih. "Penting."
"Oh, Akashicchi tidak mengherankan, ya." Kise balas tersenyum penuh pemahaman. "Kau pasti bisa jadi pewaris keluarga yang hebat."
Bukan itu yang aku inginkan. Seijuurou hanya tertawa pelan menanggapi perkataan pebasket perfect copy di hadapannya.
Konversasi mereka berlanjut, obrolan berderai santai. Walau didominansi topik tentang basket dan tersentral seputar basket serta dunia sekitarnya. Tentang Inter-High yang pasti akan sangat seru dengan berlaganya lagi masing-masing tim Kiseki no Sedai akan berkonfrontasi dalam lapangan berkilauan dan bau karet basket merebahi air salonpas.
Cafe tersebut berada di salah satu distrik tersibuk di Tokyo. Tipikal cafe elit dengan nuansa gainsboro, bergradasi ke nila, sedikit mengingat Akashi akan Mayuzumi dan Aomine, entah kenapa. Harum makanan dan minuman—bahkan yang alkohol—saling gilas memenuhi udara dalam tempat tersebut.
Ketika entah dari mana terdengar lagu familiar itu—
.
Bukankah pada malam yang dulu memeluk purnama sempurnamu,
kau masih memendam rindu?
Meski hanya demi dirinya
Bisakah kau tidak lelah menunggu?
.
—Kise bersenandung senang mengikuti irama. "Lagu ini hits sekali, ya."
"Hmm. Aku mendengar entah sudah berapa kali." Seijuurouu tenang menimpali. "Memang bagus, tapi seperti tidak ada lagu lain saja."
"Mungkin karena studio musiknya gencar mempromosikan. Lagu ini masuk nominasi untuk Japan Music Award dalam kategori best song, best lyrics, song of the year, juga favorite. Ah, acara pengumuman pemenang akan diumumkan hari Sabtu nanti mulai sekitar jam lima sore."
Kise menggelengkan kepala dengan kenyataan satu lagu bisa masuk dalam beberapa kategori sekaligus.
"Mungkin juga karena komposer dan penyanyinya misterius."
"Misterius?" sahut Seijuurou. Sebelah alis terangkat.
"Sampai sekarang, publik tidak pernah diberitahu siapa sebenarnya pencipta lagu-lagu hits itu. Ini satu yang paling hits memang, tapi lagu-lagu lainnya juga booming sekali. Hanya atas nama Plain."
"Misterius dari mana kalau dia bisa mengorbitkan lagu-lagunya begitu?" tanya Seijuurou tanpa minat.
"Soalnya, Plain tidak pernah tampil di panggung atau acara mana pun sebegitu laris-manis penjualan lagunya di pasaran. Termasuk salah satu yang sering merajai puncak tangga lagu." Kise mengangguk-angguk kepala mengikuti melodi. "Dia masih menerima permintaan mencipta lagu untuk dinyanyikan penyanyi lain, lagu untuk dorama atau anime, tapi hanya yang ia mau. Misterius sekali, 'kan? Karena itulah, di acara penghargaan ini, semua mengharapkan kedatangannya."
Seijuurou mengangguk menyetujui. Matanya terpicing menyusun berlarik mozaik yang berserak di benaknya.
"Tapi, Kasamatsu-Senpai tahu siapa itu Plain."
"Berarti dia tidak semisterius itu?"
"Kata Kasamatsu-Senpai, memang orangnya misterius. Dia tahu dari ciri khas musik yang dimainkan, musik yang bisa dinikmati saat patah hati. Katanya dulu mereka pernah tergabung dalam klub K-On di Chuugakou, Plain itu dulu seniornya Kasamatsu-Senpai—setahun lebih tua."
"Oh, benarkah? Bukan sekedar khayalan?"
"Tidaaak, Akashicchi. Kau kejam sekali. Kasamatsu-Senpai, biarpun kelihatannya konservatif dan kurang gaul, tapi dia tidak delusional. Dia pernah telpon si Plain, dan aku mendengar Kasamatsu yang sebal karena diragukan oleh Moriyama-Senpai menantang Plain bernyanyi. Sama persis dengan rekaman lagu-lagunya."
"Kalau begitu, kenapa tidak Senpai-mu itu beritahukan pada publik siapa sebenarnya Plain?"
"Aku juga sudah tanya begitu. Senpai bilang, karena dia sendiri tidak tahu sekarang Plain ada di mana. Dia hilang begitu saja tepat setelah kelulusan. Tidak ada yang tahu dia masuk sekolah menengah atas mana atau dia ada di mana sekarang. Dan kalaupun dia tahu, dia tidak akan memberitahu."
"Kenapa begitu?"
"Karena musiknya bisa seindah itu justru karena dibuat tanpa intensi komersil. Benar-benar dari hati. Yaa, aku juga tidak mengerti. Karena yang kutahu dan kusukai hanya basket."
Seijuurou mengembang senyum ketika Kise terkekeh menyatakan hal tersebut. Dia juga merasakan hal yang sama seperti Kise.
Kise memiringkan kepala, memerhatikan video klip yang menyita perhatian segenap pengunjung cafe. Matanya menggelimang terkena terang cahaya di cafe tersebut, seperti lelehan madu yang legit memikat. Menantang.
"Seandainya kita bermain basket dikomersilkan, bagaimana? Bukankah kita akan dapat keuntungan melakukan hal tersebut?"
Wajahnya menyemai seringai. Tertantang. "Bukankah itu berarti kita hanya dijadikan objek untuk mendapat keuntungan lalu kita dibagi keuntungan material tersebut?" Seijuurou bertopang dagu melihat Kise pun menyeringai mendengar tanggapannya. "Kita tidak akan bermain dengan kesungguhan hati dan tekad murni untuk menang. Kita hanya akan jadi budak untuk mengeruk uang."
"Basket yang seperti itu tidak menyenangkan, ya, Akashicchi."
"Hmm. Benar."
"Lebih menyenangkan bermain bersama teman-teman dan berjuang melawan musuh yang—"
"KISEEE-KUN!"
"—aaaah. Aku sudah dipanggil manajerku."
Kise mengeluh karena panggilan gemas dari fotografernya yang mencari-cari dirinya. Dia tersenyum sederhana—dan tetap saja bagi gadis-gadis penggemarnya tetap akan membuat mereka menjerit-jerit histeris—pada eks-kaptennya di Teikou; mengulurkan telapak tangan pada temannya.
"Sampai ketemu lagi di Inter-High, Akashicchi! Jangan kalah sampai kau kalah dariku!"
Seijuurou menyambut tangan Kise dengan tepukan. High-five . Menyampingkan serakan mozaik dari peristiwa-peristiwa anomali yang terjadi dalam hidupnya, juga keping yang tanpa sadar Kise lengkapkan untuknya, ia tersenyum—merasa hatinya lebih ringan karena pertemuan dengan temannya itu.
"Tentu, aku tidak akan kalah sampai mengalahkanmu—dan semuanya." Seijuurou balas melambai pada Kise yang tertawa riang karena perkataannya sembari melambai ramai padanya. "Sampai nanti, Kise."
Personanya yang satu lagi bergumam dalam ruang imajiner mereka. Menanyakan apakah persetujuannya terhadap perkataan terpotong yang Kise katakan pun berlaku untuk seseorang biasa saja—yang mengacau ketenangan keduanya dengan membuatnya keduanya mencurah abstraksi atraksi hanya untuk individu tanpa keistimewaan berarti itu.
Untuk apa bertanya kalau jawabannya—sebenarnya jika harga diri dan harkat sebagai emperor-nya tidak setinggi ini menyulitkannya mengaku dengan sederhana, sudah begitu jelas?
Menerawang keluar bening kaca dan refleksi diri, Seijuurou mendapati ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
.
#~**~#
.
Kouki menyadari di minggu berikutnya, Akashi Seijuurou selalu datang terlambat di tiap sesi latihannya. Ketika ucapan maaf repetitif terselip keluar dari mulut tersebut—mengabaikan sepi yang ia rasakan karena menanti itu tindakan mulai terdefinisi nyaris seperti abadi, menyadari itu bukan karena ia sedang dihindari, Kouki tidak bisa tidak memaafkannya.
Mungkin ada hal urgensi yang dilakukannya. Terkadang, di sela waktu jeda—untuk Kouki menormalkan sistem respirasi dan stok energi, baik kedua persona Akashi Seijuurou itu tetap bermain shogi seperti biasa namun mereka hanya menatap.
Mata itu, baik magenta monokrom, ataupun manik heterokromatik, tidak menyorot kalkulasi dan presisi dalam membangun rencana-rencana yang hanya dimengerti kubikel-kubikel otak jeniusnya.
Memikirkan hal lain, helaan napas lebih frekuentif—kali ini bukan karena melihat Kouki terpeleset atau melakukan kekeliruan, dan sesekali menatapi wallpaper ponselnya sendiri.
Jika Kouki tidak bersamanya selama satu setengah minggu, ia mungkin tidak akan bisa mengetahui tingkah anomali Seijuurou. Pemuda itu masih non-stoik hampir di setiap waktu mereka bersama, tapi komposurnya tidak pernah seretak saat ini.
Sekali waktu Kouki mencoba mendistraksi, Akashi malah tersenyum menyebabkan bulu kuduknya meremang dan mengajaknya bermain shogi. Kouki tidak diberi opsi menolak, ia hanya harus menurut kendati tidak mengerti, dan kalah mutlak.
"A-apa kau sa-sangat suka shogi?" tanya Kouki pasca stuck untuk kesekiankalinya.
"Ya. Seperti basket." Seijuurou melunakkan tatapan pada belasan bidak di papan mini shogi-nya. Mengingat rencana yang ia punya dan ingin ia wujudkan. "Aku ingin jadi pemain shogi."
Itu mengejutkan. Kouki kira Seijuurou akan menjadi pewaris keluarganya dan meneruskan lini kebangsawanan yang telah turun-temurun, pandangannya melembut dengan realisasi melihat cara Seijuurou menatap papan shogi di hadapan mereka.
"Pantas saja. Cara bermain basketmu seperti ... be-bermain shogi."
Tentu hal itu Kouki katakan pada Seijuurou—karena Akashi tidak akan menanggapinya kecuali dalam momen-momen tertentu seperti meliriknya sesekali dan Kouki terlampau takut tidak mampu melarangnya karena ia sendiri tidak keberatan.
Tiga hari terakhir bermain dengan kapten tim basket Rakuzan itu, dan ia menyadari hal ini setelah memelajari cara bermain shogi—serta kekalahan repetitif.
"Jelaskan."
"U-uhm ... kau tidak langsung menggerakkan bidak raja saat bermain? Kau ... err—bagaimana aku menjelaskannya—ini perasaanku saja, entah benar atau tidak, tapi kurasa kau beradaptasi dan memelajari musuhmu dulu. Baru ... kau mengalahkannya dengan ke-kemampuanmu yang sebenarnya?"
"Kenapa nadamu bertanya begitu?"
"A-aku ... ragu. Ka-kalau aku salah—"
"—tidak salah. Checkmate."
Seijuurou mengetahui Kouki sangat memerhatikan hal-hal di sekitarnya, dan menyadari dirinya tidak menjadi pengecualian dari bagaimana cara Kouki membalur atensi pada sekelilingnya, menyebabkan bibirnya mengurva dalam lengkung menyenangkan.
"Aaah. Aku kalah lagi."
"Kapan kau pernah menang dariku, hm?"
"Ukh."
"Ayo latihan lagi."
"Err—"
Seijuurou pikir Kouki mungkin juga merasakan terkantup sensasi anomali ketika jemari mereka yang tengah merapikan bidak-bidak shogi pelan saling mengecup, tapi Kouki—dengan dilema mengeruh ekspresinya—ternyata tengah menatapnya.
"Apa?"
"Uhm ... a-aku ingin tahu, apa kita bisa selesai latihan lebih ce-cepat?"
"Kenapa?"
"Ka-kakakku ingin bertemu denganmu lagi. Dan hari ini dia ada terapi, jadi kalau kita bi-bisa selesai lebih cepat, kita bisa segera menemuinya sebelum dia terapi. Ka-kau juga tidak akan pulang ke-kemalaman."
"Kenapa ia ingin bertemu denganku?"
"A-aku juga tidak tahu ... jadi?"
Seijuurou mengakomodasi sempurna pandangannya membalas tatapan ekspetatif dari Kouki. Berkilau—seperti kunang-kunang mungil.
Ada bisikan dari dirinya yang satu lagi. Mana bisa dirinya menolak.
"Ayo kita latihan agar cepat tuntas dan bisa segera menemui kakakmu."
Dan mana bisa Seijuurou menolak bludak hasrat ketika tangannya tak tertahan menggantikan belai angin, menggeser helai sienna halus—hanya untuk melihat mata itu lebih jelas.
Kouki yang terkejut dengan tindakan tanpa peringatan atau gestur persiapan—dan mengapa di saat seperti ini pelajaran tentang prepatary movements tiba-tiba membersit benak—refleks mundur, jatuh terjerembab dari bangku panjang, dan karena sakit menggigit dirinya ia lantas mengerang.
Canggung melihat Seijuurou masih terpaku kaku, Kouki menggumam, "Ma-maaf."
"Bukan salahmu."
Kouki menggigit bibir ketika Seijuurou melewatinya tanpa tangan terulur dan tidak menatapnya menghalangi silau matahari—seperti yang selalu dilakukan pemuda tersebut jika Kouki terduduk di bawah dan mendongak memandangnya.
Entah kenapa ini pertama kalinya sesulit ini untuk bangun sendiri. Kouki mungkin kelewatan dengan mengharapkan selalu mendapat uluran tangan. Ia telah jadi terlalu pengecut untuk bangun dengan kekuatannya sendiri—karena akhir-akhir ini selalu ada Akashi Seijuurou mengulur bantuan untuk bangun.
Ironis, padahal jauh tempo hari lalu di final liga nasional itu, Akashi Seijuurou yang sama selalu membuatnya terjatuh.
"Aku akan mencoba triple crossover seperti yang waktu itu Aomine lakukan, jadi sekarang kau akan melakukan assist padaku. Kita buat simulasi di mana kau akan memakai berbagai operan tergantung pada situasi yang tengah berlangsung. Jika jarak dekat dan musuh tidak mungkin melakukan intercept, maka kau oper padaku dengan chest-pass. Kalau—"
Seijuurou bertutur dengan komposur tenang seperti sedia kala seraya memungut bola yang menindih kelopak mati sakura. Eksplanasi diikuti instruksi dan Kouki mengangguk-angguk mendengar penuturannya, segalanya tetap sama—berjalan seperti biasa.
Namun ketika mereka berdua merambah angin, dan melakukan chest-pass—dengan mata yang saling menghindari padahal itu penyebab kesalahan fatal terjadi, Kouki lagi-lagi fumble dan petaka loose-ball terus terepetisi, Seijuurou terdiam menyadari mungkin bukan Kouki yang perlu repetitif memohon maaf atas semua kesalahan.
Pace operan Seijuurou terlalu cepat—terakselarasi. Benar-benar berbanding terbalik dari pace Kouki. Mereka terlalu berbeda.
Kouki menggigil melihat Seijuurou menarik napas dalam dengan roman wajah sekeruh itu. Ia tidak akan protes jika tutornya itu mengucap 'apa yang harus aku lakukan padamu' lalu meningkatkan intensitas latihan mereka.
Namun pebasket Seirin bernomor punggung dua belas itu dikejutkan ketika kelopak tersibak, manik heterokromik brillian tercangkang di rongganya.
"A-Akashi?"
Itu bukan Akashi Seijuurou yang tadi—Kouki tergemap menatap Akashi yang tersenyum abnormal padanya karena mata dwi-warna itu baru pertama kali melembut padanya.
"Ayo kita lanjut latihan."
Kouki tidak mungkin bisa mendengar bisik itu. Hanya Akashi yang bisa. Karena hanya Akashi yang bisa mendengar tanya perlahan personanya yang satu lagi, mengapa saat persona absolut tersebut melakukan hal serupa pada Kouki, pemuda biasa-biasa saja itu tidak pernah lari dari sentuhannya ataupun segala hal ekstrim yang dilakukannya.
Sebegitu takutnya Furihata Kouki pada persona bokushi, tidak pernah sekalipun Kouki pingsan berhadapan dengannya.
'Siapa yang selalu kalah dan duluan terjatuh?'
'...'
'Syukuri keberadaanku.'
'Selamat. Dia ... jatuh padamu—'
Akashi tidak bisa mengenyahkan sesak dan lidah sekelu empedu dengan realisasi pedih personanya yang asli.
Dan ketika akhirnya Kouki membalas senyumnya—terlihat lebih lega, ia balas tersenyum walau sekeping hatinya yang lain terjatuh lagi, pecah, berdarah-darah menggenang merah pada ruang privasi yang hanya mereka berdua ketahui, tersembunyi sempurna olehnya.
Sekali lagi, Seijuurou jatuh, tenggelam terlalu dalam.
.
.
'—bukan padaku.'
.
#~**~#
.
Akashi Seijuurou bukan seseorang yang mengumbar omong kosong. Dia hanya bicara ketika perlu dan lebih sering menatap segala sesuatu melampaui yang orang biasa dapat ketahui sebatas pandang mata saja.
Namun—walau waktu kebersamaan mereka terbilang amat singkat—Kouki tahu, Akashi yang ini lebih tidak ekspresif dan jauh lebih dingin daripada Akashi yang satu lagi.
Ini tidak seperti Kouki leluasa mengajaknya bercakap seperti teman biasa walaupun persona yang satu lagi lebih ramah.
Tidak mampu menyalahkan sendiri mengapa ia merasa terselamatkan dengan Akashi yang ini, tidak mengerti mengapa ia tidak menanyakan alasan Akashi yang tadi berganti posisi begitu saja—padahal hari ini belum berakhir—dan malah tersenyum lega pada Akashi yang berjalan dengannya menyusuri koridor ke kamar nomor empat.
Latihan mereka makan waktu lebih lama dari yang semula direncanakan. Akashi dengan stoik mengungkapkan ia tidak keberatan pulang sedikit terlambat, jadi di kamar nomor empat yang Kouki ketuklah kini mereka berada.
Tidak ada sahutan seperti biasa, Kouki bergegas masuk. Dia mengerang kecewa karena kakaknya telah tidak ada—pasti sudah memulai terapi.
"A-apa kau tidak keberatan me-menunggunya selesai terapi?"
"Berapa lama kakakmu terapi?"
"Se-sekitar dua jam."
Akashi hanya menyahut tenang ia akan menunggu, mengambil alih kuasa kursi yang waktu itu pernah ia duduki dekat dengan jendela, lalu ia mengeluarkan papan shogi mininya dan menyusunnya seorang diri. Ini yang selalu dilakukannya untuk membunuh waktu yang selalu terseok di saat seperti ini.
Tentu ia menotis perkakas dan properti anomali di meja tersebut—di hari sepasang kakak-adik Furihata bertengkar—yang sebelumnya tidak ada.
"Railroad?"
Kouki menutup pintu, berbalik mendekatinya dengan wajah dipoles senyum canggung. "U-uhm. Err, kekanakan, ya?"
"Tidak." Akashi mengangkat sekeping shogi, menaruhnya ke bidang kotak yang berbeda dari tempatnya semula untuk mengawali permainan solo—personanya yang satu lagi terdekam dalam. "Setahuku railroad cukup sulit untuk dibuat. Itu hobi yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi."
"A-apa iya?"
"Entah." Akashi melirik, melunak menyadari pijar lain di mata Kouki yang ekspresif tatkala menyentuh rel dan gerbong. "Tapi, kurasa hobi ini cocok untuk orang sepertimu."
Lirikan mereka bertemu.
Kouki terbatuk kecil, menggerungkan terima kasih yang amat lirih, lalu mulai menekuni hobi yang baru Akashi ketahui.
Akashi mengabaikan lesak sesak di hati yang bukan hanya milik dirinya—dan sesak abstrak itu pun bukan darinya.
Wangi sakura membelai mereka dengan penanda mekarnya musim semi. Terbitnya gairah hidup dunia yang menguncup saat sempat diduduki musim dingin dalam siklus tiada akhir.
Seperti itu pula perasaan, seperti siklus tiada akhir, kadang penuh semangat seperti musim panas, kadang kecewa karena harapan mereras persis musim gugur, kadang membeku dan membadai seperti musim dingin dan kali ini yang melanda kedua pemuda itu mungkin seperti musim semi. Layaknya bunga yang semula menguncup, perlahan-lahan menguak legit nektar untuk mekar hingga sempurna.
"A-apa kau ... se-sedang bermain dengan kau yang satu lagi?"
"Tidak."
"Sudah kuduga ... aku—uh ... minta maaf."
"Soal yang mana?"
"Ta-tadi ... saat berlatih pass dan—uhm ..."
"Itu bukan salahmu, dia sudah bilang begitu."
Kouki kehilangan hitungan telah berapa kali dirinya dibuat terkesiap oleh Akashi Seijuurou yang menatap dan berkata dengan nalar jauh melampauinya.
"Jangan meminta maaf untuk hal yang bukan salahmu."
Pemuda itu menggigit bibir agar tidak menggulir silabel tersebut sembarangan karena manik heterokromik mengawasinya dengan atentif—hingga menyesakkannya. Kalaupun itu bukan salahnya, tetap saja tidak bisa memusnahkan rasa bersalah karena tindakannya menghindar itu.
Melirik Akashi entah telah berapa kali hari ini, Kouki menghimpun keberanian untuk bicara dengannya di antara jalur kereta yang ia konstruksi—dan berusaha cermati walau fokusnya retak dengan lirik manik heterokromik yang diam mengamatinya di antara bidak-bidak shogi.
"Kau ... uh, mau coba juga? Merakit railroad?"
Itu hanya distraksi, tapi Akashi merelakan keping-keping shoginya dielusi angin musim semi untuk bergerak mendekat padanya—bertanya apa yang harus ia lakukan.
Kouki berekshalasi. Sedikit lega. Pemuda yang mengenyam pendidikan di Seirin itu terbata karena antusias, menjelaskan apa yang mereka lakukan.
Lebih menyenangkan mengonstruksi railroad dengan Koichi Aniki—pikir Kouki, karena mereka akan tertawa, berbicara apa saja, bernyanyi lagu random meski dulu hanya tembang sumbang—tanpa padu-padan nada, dan bahagia bersama.
Tidak ada lirikan dan sentuhan jemari dalam tindak (yang harusnya hanya) kooperatif, terasa seperti detik-detik mangkir hingga menjadikan segalanya taida akhir, yang menyesakkan bahkan ketika mereka jauh lebih cepat menyelesaikan railroad tersebut daripada ketika Kouki merakitnya dengan Koichi.
Yang menyesakkan, ketika Kouki sebelum terlelap dengan kepala terebah ke lipatan lengan dan rambut berfriksi dengan badan kereta, merasakan sentuhan halus di kepalanya dan melihat tatapan yang hanya tertuju padanya.
Dwi warna itu brillian, tervisualisasi hingga ke mimpi Kouki.
.
#~**~#
.
Koichi persisten bertahan beridri dengan kruk sekitar satu jam. Rekor terlama yang pernah dilakukannya dengan kondisi semengenaskan ini.
Ia telah ada di balik pintu, urung mengetuk dan bergegas masuk, melihat adiknya duduk dekat jendela dengan entitas yang sekitar satu setengah minggu terakhir mendominasi topik konversasi mereka.
Tersenyum lebar melihat keduanya bekerja sama membuat railroad—pesanan yang beberapa waktu lalu Kouki antarkan padanya saat ia akhirnya memberitahu keputusannya untuk operasi sekali lagi.
Pemuda itu kasar mengusap manifestasi sedih menggenang panas di matanya, terharu bukan karena betapa sempurna rupa railroad tersebut, melainkan karena mungkin ini pertama kali adiknya tidak membuat railroad itu sendirian.
Ada yang menemani adik semata wayangnya.
Lantas ingatannya terlayang pada seseorang yang dulu jadi penasihat cintanya, kawan berbincang dan teman bernyanyi di masa kecil, pula figur orangtua di rumah keduanya ini—bahkan ia bisa bilang rumahnya tidak lebih akrab daripada kamar nomor empat ini. Dulu seseorang yang menempati kamar nomor dua belas—tepat di depan kamarnya.
Individu dengan senyum sekausi madu, tidak pernah melontar kosakata serupa empedu, dan sorot mata sebegitu syahdu.
Koichi tersenyum tipis, sosok yang kini ia lihat persis seperti replika sosok yang ia ingat. Dari sejak pertama melihatnya, Koichi menyadari itu.
(Sebenarnya, ia justru terlambat menyadari pemuda itu adalah pemuda yang sama diceritakan adiknya sebagai lawan yang membuatnya paling frustratif.)
Mungkin, kekhawatiran ekuivalen keduanya—akan kedua sosok yang selalu jadi bayang-bayang bagi cahaya dirinya dan penasihat cintanya itu, bermuara pada relasi kedua pemuda yang tekun merakit railroad itu di hari ini.
Koichi bukan pemuda yang terjeli, tapi apalah arti kecermatan dan ketelitian jika dengan perhatian dan mata telanjang kau bisa menelisik apa yang terjadi di ruang antara kedua pemuda berkawan bidak-bidak shogi serta gerbong-gerbong kereta.
Dan ada bola basket di dekat kaki mereka.
Hingga adiknya akhirnya jatuh tertidur dihantar elus halus dengan tatapan mengonten beragam makna, mata Koichi melebar melihat ketika pemuda tersebut bangkit, dan—
"Ah."
—ia tidak akan cerita apa yang terjadi pada adiknya. Biar rahasia ini dibawanya sampai ke liang lahat dan pemuda itu sendiri yang satu-satunya ditinggal dengan pemilihan untuk menceritakan atau selamanya merahasiakan dari adiknya.
(Kalau bukan karena kondisinya dan adiknya itu selalu membicarakan pemuda tersebut dengan desingan tempo berkata menyaingi kecepatan cahaya, mungkin ia sudah mendobrak masuk dengan heroik dan menghajar pemuda tersebut sekarang juga.)
Mungkin ini sudah saatnya untuk masuk.
Koichi berdeham lalu mengetuk pintu kamarnya sendiri. Melihat dari sekat jendela yang ada, pemuda itu menarik diri dari adiknya lalu menyahut, ia membuka pintu dengan ekspresi terkejut sempurna serta senyum yang kembali melebar.
"Wah, Kouki benar-benar menepati janjinya. Dia benar-benar mengajakmu bertemu lagi denganku."
Koichi memendam kagum untuk aksi luar biasa pemuda bermata merah monokrom tersebut yang kilat duduk menghadap papan shogi dan menerawang keluar jendela sampai dirinya membuka pintu.
"Selamat sore, Furihata-san," sapanya sopan.
"Sore." Koichi nyengir santai. Dia tertatih melangkah masuk, mengapresiasi pemuda yang tadi menemani adiknya bermain itu tergerak memapahnya untuk naik ke tempat tidur setelah menutup pintu. "Terima kasih, Akashi-kun. Woah, aku lama sekali, ya? Kouki sampai tertidur."
"Tidak terlalu lama sebenarnya," sergah Seijuurou yang kembali ke kursinya, mengendalikan diri setenang biasanya menghindari biner coklat kayu yang investigatif menelitinya—mengulitinya.
Koichi tersenyum karena kilahan baik hati itu. Dia menatap Kouki yang terlelap dengan posisi tidak nyaman. "Maaf, apa kau bisa memindahkan Kouki ke dekatku?"
Seijuurou mengerling pemuda yang rambut coklatnya direrasi lembaran helai sakura. "Nanti dia akan terbangun."
"Tidak, tidak. Kalau kelelahan begitu, dia paling hanya mengigau bahkan kalau kau menidurkannya ke lantai. Bisa-bisanya tidur sambil melindur seperti itu." Koichi terkekeh mengingat kebiasaan sejak kecil adiknya yang satu itu tidak pernah berubah.
"Aku tahu."
Koichi tidak tahan untuk tidak mengusili pemuda yang sedemikian lembut mematut adiknya dengan pendar afektif. "Oh, bagaimana bisa kau tahu?"
"Dia pernah melakukannya juga di hari-hari pertama kami latihan."
Seijuurou luput melihat sirat penuh pemahaman tersebut karena ia lekas memundurkan kursi yang Kouki tempati, lalu memapahnya, membiarkan Kouki melindur dengan kepala terkulai nyaman menelusup ke ceruk lehernya sementara ia menahan beban tubuh pemuda yang tertidur itu dengan lingkup kukuh lengannya, satu tangan lagi menarik kursi yang Kouki tempati untuk digeser mendekat ke ranjang Koichi.
"Ungh ... Aniki?"
Dari bahu yang menyilir wangi penentram itu, Kouki terbangun, redup melihat kakaknya tengah tersenyum duduk di ranjang.
"Sssh. Tidur, Kouki. Tidurlah." Koichi mengulur tangan untuk menggapai tangan adiknya yang terjuntai di sisi tubuh, menariknya perlahan sementara Seijuurou membantu remaja yang lebih muda beberapa tahun darinya itu terduduk.
Kouki mengejap lamat. Sebagian kesadaran masih tertinggal di awang-awang, di dunia yang terlihat senyaman awan. Dibiarkannya kakaknya menariknya untuk rebah kembali, kali ini lengan kakaknya yang tidak dipasangi infus menjadi bantal untuknya tidur lagi.
Kouki yang kepalanya tertoleh ke samping, melirik ke atas. Pandangan berkabut, hanya siluet merah pekat yang tidak mungkin tidak ia ketahui, diam menatapnya.
"A—"
Magenta monokrom itu serupa bilur senja, mengimaji warna itu di balik rapat kelopak mata—seperti kali pertama mereka tidur di kamar itu setelah malam panjang penyiksaan—dan dengkur halusnya.
Seijuurou menyempitkan atensinya, hanya pada Kouki yang melindurkan namanya. Satu bibir terangkat, segaris senyum asimetris. Mungkin Kouki memanggil dirinya yang satu lagi—bukan dirinya yang asli.
"Apa dia banyak merepotkanmu?" tanya Koichi seraya membelai helai sienna yang terburai di lengannya.
Seijuurou menggeleng. "Tidak."
Koichi mengerling adiknya yang nyenyak sekejap mata. "Kalaupun iya, maafkan dia. Bukan salahnya menjadi seperti itu—ini semua gara-gara aku."
Seijuurou ingin menyanggah, tapi tatapan mengutarakan pemahaman tak terkatakan yang Koichi sorotkan itu membisukannya. Seolah serba tahu, bahkan yang dirinya sendiri tidak tahu. Dengan gestur Koichi menunjuk sudut tempat tidurnya, Seijuurou duduk di situ sembari atensi termagnet pada Kouki yang pulas kelelahan.
"Apa kau tidak keberatan mengobrol denganku?" tanya Koichi halus.
Seijuurou menatapnya sejenak, merasakan jika ia memiliki figur kakak, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Bukan inginnya merasa iri pada Furihata Kouki karena memiliki seorang kakak seperti Koichi.
"Tentu."
"Dari dulu ... aku sakit. Sakit yang banyak orang kita tidak ada obatnya, tapi bisa tersembuhkan jika diterapi jangka panjang—"
Seijuurou khidmat menyimak, tidak menanyakan nama penyakit apa yang diderita oleh kakak dari Furihata Kouki tersebut. Terkadang, ada hal yang terlalu menyakitkan untuk dikatakan—meski hanya kenyataan sesederhana ini.
"—aku sempat sembuh saat Chuugakou dan bisa bersekolah normal setelah operasi sekali, tapi kambuh lagi. Sampai sekarang aku di sini."
Koichi tersenyum saat jemarinya menyisiri rambut sedikit kusut milik adiknya. Berbeda darinya, rambut adiknya coklat terang—menyala, tidak kusam sepertinya.
"Ada yang bilang, anak pertama itu gennya paling sempurna. Aku tidak percaya walau semua orang dewasa saat itu selalu bilang begitu padaku. Kehidupanku saat itu mungkin sempurna—kurasa kau pasti mengerti, ada orangtua yang bangga padaku, teman-teman yang selalu didekatku, dan adikku yang sangat mengagumiku. Aku bisa merasakan mereka sangat menyayangiku, hingga aku divonis sakit keras tepat sebelum umurku belasan.
"Demi kesembuhanku, orangtuaku bekerja keras untuk membiayai pengobatanku. Mereka tetap bilang mereka bangga padaku walau tidak ada hal lagi seperti prestasi akademik ataupun fisik yang dapat kuberikan untuk mereka, tapi aku tahu mereka menangis gara-gara aku. "
Koichi tajam menghirup napas. Berat. Tangannya mengusap dahi adiknya yang samar berkerut.
"Karena bekerja siang-malam untuk mengobatiku, anak yang mereka banggakan, mereka tidak punya waktu sebanyak itu untuk memerhatikan Kouki. Aku harus rutin terapi sementara Kouki ditinggal sendiri—orangtua kami dulu tidak pernah memperbolehkannya ikut melihat sesi terapiku, dulu Kouki akan menangis dan ... aku tidak bisa ada setiap waktu untuk menghapus airmatanya.
"Bagaimanapun, tidak ada yang memerhatikannya selain aku. Mereka tidak pernah menyiksa Kouki atau semacamnya, hanya mereka benar-benar tidak ada waktu untuk menyayanginya seperti orangtua biasa. Mereka juga tidak pernah menelantarkan Kouki dengan kelaparan atau menyiksanya, menuntutnya ini-itu, ataupun memaksa masuk sekolah unggulan. Mereka benar-benar tidak memikirkan semua itu karena mereka percayakan semuanya pada Kouki sendiri. Karena aku dan Kouki sangat berbeda.
"Kurasa Kouki juga menyadari itu, dan dia tidak pernah iri-dengki padaku meski orangtua kami selalu rutin datang mengunjungiku serta memantau kondisiku walau dia sendiri tidak. Kouki mengerikan, 'kan?"
"Aku tidak memahami sisi mana mengerikan selain mengagumkan."
Tanggapan Seijuurou meletupkan tawa sedih Koichi.
"Kau benar. Kouki mengagumkan—selalu bekerja tanpa pamrih sesuai motto yang dia pegang teguh. Dia tetap tumbuh seperti anak biasa pada umumnya, sekolah, belajar, bermain, bisa melirik seorang gadis, menjadi komite perpustakaan ataupun bermain basket, kadang resah ketika perlu diremedial, terkadang jalan-jalan bersama teman, berjuang untuk menang, walau di antara semua itu ada yang tertinggal.
"Orangtuaku memang tidak pernah menuntut anak mereka harus selalu jadi nomor satu atau menang, mereka mengerti Kouki bukan sepertiku yang dapat membanggakan mereka setiap waktu, karena itulah mereka membiarkan Kouki melakukan apa pun yang Kouki rasa itu terbaik untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi kurasa Kouki merasa dia tidak mungkin melebihiku. Setidaknya, tidak di mata orangtua kami. Mungkin keberadaanku hanya akan selalu membuatnya berlindung di balikku, terlebih ketika orangtua selalu berkata, "Coba kau contoh kakakmu." dan dia harus lebih berempati padaku. Dibanding-bandingkan itu menyakitkan, tapi Kouki tidak pernah marah. Dia malah merasa semua itu benar.
"Suatu waktu saat aku baru lulus Chuugakou sementara Kouki baru masuk, ada seseorang yang selalu di sini menemaniku dan Kouki, tapi saat itu aku tidak sadar, bahwa mungkin Kouki juga menyukai perempuan yang saat itu aku cintai.
"Perempuan itu ... dia bahkan bisa membuat Kouki berjuang di satu bidang agar jadi yang terbaik—sampai menang. Kouki membuktikannya dengan basket. Dan dia terlanjur pergi dariku, dari Kouki. Namun Kouki tetap menyemangatiku bahwa dia akan datang lagi."
Seijuurou berpaling ke samping, keramik putih mendadak terlihat lebih menarik, daripada Koichi yang mengucur hening dengan denting bening. Ini sesuatu yang baru didengarnya.
"Anda merasa merampas segala hal dari Furihata-kun dan menyakitinya."
"Ya. Kalau aku tidak ada, hidupnya—"
"—jangan bicara begitu."
Koichi tidak terkejut ketika Seijuurou menyentaknya. Senyum lumrah terukir di bibir.
"Aku memang anak tunggal, aku tidak tahu bagaimana rasanya menyayangi saudara sendiri—" Seijuurou berkata, berdamai dengan desak sesak karena ada hal yang diinginkannya selama tersepi sendiri, dan adik virtual yang ada dalam dirinya adalah perwujudan angan tersebut, "—tapi, aku bisa tahu Furihata-kun sangat menyayangi Anda dan akan melakukan hal apa saja untuk Anda."
"Aku tahu, Akashi-kun." Koichi beralih menarik pelan pipi adiknya yang tertekan lengannya. Dia tertawa pelan. "Tapi, mungkin selama ini aku terlalu larut dengan merasa bersalah padanya karena hidupnya jadi seperti ini karena keberadaanku, sementara Kouki tidak melakukan apa pun selain menyayangiku."
Koichi mengembus panjang lamat-lamat, mengguling binernya menatap pemuda yang ternyata juga tengah memandangi adiknya.
"Tepat beberapa hari sebelum malam kau dan Kouki babak belur, aku membuat Kouki marah ketika aku baru keluar dari ICU setelah kondisiku memburuk."
Seijuurou beralih, lebih berhati-hati menatap replika dewasa Furihata Kouki itu yang tertempa dengan penderitaaan hidup dan matanya berkaca-kaca memandang sosok yang pulas di lengannya.
"Aku ingin mati."
Sunyi menjebloskan atmosfer pada efek kejut yang amat menyakitkan.
Seijuurou terbelalak mendengar pernyataan serak itu.
"Sakit."
"..."
"Sa-sakit sekali. Aku tidak ingin terus-terusan be-begini."
Koichi menghirup napas dalam-dalam, berusaha menetralisir emosinya agar tidak marah dan membuat kondisinya sendiri tidak stabil. Itu hanya akan merunyamkan semua orang, terutama prosedural rumah sakit di mana pasien sakit keras sepertinya hanya dapat dioperasi jika kondisinya cukup stabil.
"Untuk apa ... untuk apa aku hidup kalau hanya merasakan sakit dan menyakiti orang-orang di sekitarku?"
Seijuurou kelu.
Kali ini, tidak tahu harus berkata apa. Kosakata hiburan apa pun takkan mempan untuk orang yang telah tidak terhitung lagi berapa kali dijejali perkataan dengan harapan semu seperti itu. Seseorang yang terombang-ambing di antara ada dan tiada.
Orang ini dikhianati harapan.
"Aku minta maaf padanya untuk semua yang telah kulakukan padanya selama ini. Aku tidak ingin tersiksa seperti ini tanpa henti. Aku muak dengan diriku sendiri dan apa yang selama ini kulakukan pada orang-orang yang kusayang."
Koichi menyeka airmatanya yang luluh jatuh membasahi pipi adiknya.
"Aku ... memintanya lupa segalanya. Melupakanku, agar dia bisa melanjutkan hidup tanpa terbebani lagi olehku."
Seijuurou tercenung melihat pemuda di hadapannya menangis sedih.
Tidak terlihat cengeng.
Menyakitkan.
Menyedihkan.
Orang ini terlalu lama menderita tapi tetap bertahan hanya demi orang-orang yang ia sayang.
"Di-dia ..." Jeda. Tarikan berat napas. "Kouki marah padaku, itu pertama kalinya terjadi. Dia menangis. Kurasa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk Kouki, selain membuatnya menangis dan sesedih ini."
Koichi bergetar mengusap rambut adiknya yang selama ini selalu setiap ada di sisinya. Satu-satunya orang yang tidak pernah menghiburnya dengan harapan palsu membuat jemu memalu ngilu hingga ke setiap denyut inti nadi.
"Aku kakak dan anak yang buruk," bisiknya pedih, "Setelah yang orangtuaku dan Kouki perjuangkan untukku, aku hanya berpikir betapa sakitnya aku dan egois ingin pergi."
Seijuurou bergetar menginhalasi wangi familiar musim semi dan firasat seperti ketika ibunya akan pergi tanpa pernah lagi kembali.
Pemuda berambut merah itu yang pandangannya sedikit berkabut, memburam, menatap pada Kouki yang bernapas teratur. Bisa-bisanya tidur di saat seperti ini. Bagaimana selama ini Kouki tetap terlihat seperti pemuda biasa-biasa saja yang hidupnya tidak pernah dirongrong gulana dan realita hidup?
(Dan bukankah tidak ada satu orang pun di dunia yang tidak terlahir dengan problema dalam hidup mereka masing-masing sebiasa apa pun orang tersebut?)
Koichi terbatuk kecil. Dia berupaya menghapus jejak sedih yang selama ini ia bekukan, kubur jauh-jauh tak pernah disingkap siapa pun. Bibirnya menekuk senyum yang tidak selaras pilu di matanya.
"Karena itu aku berubah pikiran, aku ... aku ingin berjuang juga. Seperti yang Kouki dan orangtuaku lakukan. Demi mereka, juga perempuan itu yang ingin kutemui lagi."
"Apa ... ada cara?"
"Ada." Koichi mengangkat sedikit selimutnya untuk menyeka pipi Kouki yang basah olehnya. "Operasi. Aku sudah bilang tadi, aku pernah dioperasi dan sempat sembuh. Aku akan melakukannya lagi, walau dokterku sudah bilang presentase keberhasilannya tidak lebih dari sepuluh persen."
Seijuurou mendadak menegakkan duduknya. Matanya melebar dengan asumsi yang sebenarnya telah ia ketahui kebenarannya tanpa perlu ditanyakan. "Kapan?"
"Sabtu, tepat di jam yang sama kalian berdua harus melawan geng berandalan bajingan yang menyakiti Kouki."
Melihat gelagat Seijuurou dan pandangan yang mendadak kosong, Koichi mengibas pelan satu tangan yang tidak mengelus rambut adiknya.
"Tidak, aku bisa melihat kemarin seberapa gigih Kouki untuk membalas orang-orang itu. Aku sudah bilang padanya kemarin saat kami bekerja, tidak apa-apa dia tidak menungguku operasi, lagipula aku percaya pada janjimu saat itu untuk menjaga Kouki agar tidak terluka lagi dengan back-up yang kausiapkan."
Koichi membungkuk, beringsut sedikit dengan usaha tidak mengusik tidur adiknya, tangannya terjulur menepuk bahu pemuda yang duduk di pinggir ranjangnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkannya, melatihnya, membuatnya bahagia, dan berjanji untuk menjaganya, Akashi-kun."
Seijuurou tercenung. Tidak menemukan tanda-tanda dusta ketika Koichi tersenyum sendu padanya. Pertama kalinya ada yang mengapresiasinya ia bisa seberarti itu untuk seseorang.
"Aku tahu aku kurang ajar, tapi ... apa ... apa kau bisa berjanji dua hal lagi padaku?"
Ketika Seijuurou mendengar permintaan yang Koichi mintakan padanya, Seijuurou terdiam memandang Kouki. Bimbang karena permintaan berat dan termengerikan akan beban moral itu. Namun dalam waktu singkat, dengan harapan yang ditumpukan padanya oleh kakak Kouki tersebut, Seijuurou membuat keputusan.
Keduanya bekerja sama mewujudkan satu dari dua janji tersebut. Hanya separuh dari satu janji itu malah. Seijuurou menyanggupinya karena kendati sebenarnya meski ia tidak memiliki prediksi akan futuristik pun, ia tahu apa yang akan terjadi.
Koichi tersenyum seraya menyeka airmatanya saat Seijuurou memberi kode dengan tanda tangan bahwa mereka telah selesai.
"Terima kasih, Akashi-kun."
"Bukan apa-apa."
Dia mengacak pelan rambut adiknya yang masih bisa-bisa terlelap di saat seperti ini, kemudian tidak sengaja melihat wallpaper dari ponsel yang hendak Seijuurou sakukan kembali.
"Kau benar-benar suka basket, ya."
Seijuurou membalas senyum itu dengan kasual. "Itu harta karunku."
Dia beranjak ke kursi untuk merapikan papan shogi mini miliknya. Tersenyum tipis mendengar sedih teretas tawa tipis, Koichi menggumamkan bahwa harta karunnya mungkin railroad, gitar, atau orgel. Sebelum akhirnya melontar tanya ketika teringat lagi yang dari awal paling ingin ditanyakannya saat bertemu dengan Akashi Seijuurou.
"Boleh aku tanya sesuatu, Akashi-kun?"
"Apa?"
"... apa kau berelasi dengan Akashi Shiori? Wanita yang dulu pernah ada di seberang kamarku, di kamar nomor dua belas? Dia dulu jadi figur ibuku saat masih hidup, sangat baik dan cantik. Dia konsultan hidup dan cinta masa labilku—ahaha, kalau bukan karena dia mungkin aku hanya jadi pasien paling tidak berguna yang pernah ada. Ah, kalau kau tidak tahu, berarti aku yang keliru—"
Koichi entah kenapa tidak seterkejut itu melihat Seijuurou lekas berbalik, terbeliak menatapnya.
Seijuurou mengingat kali pertama dia memasuki tempat ini.
Mengapa begitu muak, mual, nyaris muntah. Melilit paru-parunya hingga terasa tertindih tidak mampu menampung oksigen. Mencekik arteri sehingga ia bisa meraup sisa-sisa hembus napas yang akan atau telah mati.
Familiar.
"Akashi Shiori—"
Seijuurou mencengkeram erat ponselnya yang mendisplay dua harta karun paling berharga dalam hidupnya.
Memento mori terakhir yang ditinggalkan seseorang tercinta seumur hidupnya.
"—adalah Ibuku."
"... ah, sudah kuduga. Kalau begitu, apa kau sudah baca isi surat yang dia berikan padamu? Aku membantu membuatnya."
.
#~**~#
.
"Ya Tuhan, kenapa kau hujan-hujanan?!"
Ini adalah hari esok setelah bertemu lagi dengan kakak dari pemuda yang menggigil berteduh di bawah pohon dari rongrongan beringas badai hujan musim semi. Dua hari sebelum hari H bertarung dengan Sasaki bersaudara.
Ketika Kouki terbangun, yang dilihatnya adalah kakaknya tengah berbincang akrab dengan pemuda yang kini berjalan menerobos sekaligus dikemayupkan hujan menghampirinya. Sampai ia berhasil pulih dari kantuk dan lelah yang menggerogoti tubuhnya, Kouki menggigit bibir tidak mengerti mengapa kakaknya bisa seakrab itu dengan Akashi Seijuurou yang baru dua kali bertemu.
Mereka membicarakan hal yang tidak Kouki mengerti.
Siapa peduli (dan mengerti) dengan teorema phytagoras, notasi sigma, perbedaan makromolekul polimer ataupun biomolekul?
Manusia biasa cukup hidup dengan perspektif kearifan lokal dan kiat hakiki menghadapi kejamnya realita, untuk apa memelajari semua itu jika tidak memenuhi kebutuhan primer manusia?
Dan bukankah kakaknya itu hanya menikmati suka-duka bangku sekolah sampai Chuugakou? Itu bahkan pelajaran tingkat akhir jurusan pengetahuan alam. Kalau Seijuurou, tidak usah ditanya dia tahu sampai mana. Kalau dia tidak tahu, baru Kouki akan mempertanyakannya.
Namun ketika pandangan mereka bertemu, Kouki menatap—dalam senyap berharap, Seijuurou lekas memejam mata.
Kouki mencelos.
Akashi dengan manik heterokromik muncul kembali, singkat mengurai, "Dia bilang senang berbincang dengan Anda, Furihata-san."
Koichi tidak kejang oleh keterkejutan—seakan entitas dengan bipolar personality disorder itu adalah hal lazim dari sekian banyak fenomena gaib yang dapat terjadi di rumah sakit. Malah dengan ceria berkata ia pun merasakan hal yang sama dan berharap bisa mengobrol lebih lama lagi bersama Akashi Seijuurou dan membicarakan seseorang itu lagi.
Ketika Kouki bertanya, Koichi nyengir inosen padanya dan berkata itu rahasianya dengan Akashi Seijuurou.
Itu formalitas ataupun tidak, Kouki tidak bisa mengenyahkan perasaan tersisihkan karena Akashi Seijuurou yang itu tidak pernah berkata senang berbincang dengannya. Meski ia tersenyum lega karena Akashi Seijuurou yang ini sekali lagi tersenyum padanya—tidak membuatnya merasa amat bersalah.
Akashi menyampaikan bahwa karena ada hari yang tersia-sia, mereka perlu berlatih intensif seharian. Membuat keputusan untuk mereka berlatih dari pagi sampai malam, dan dia akan menginap di salah satu hotel di Tokyo atau menghubungi salah satu anggota Kiseki no Sedai—mungkin Midorima Shintarou atau Kuroko Tetsuya tapi Akashi yakin mereka pasti akan mengorek informasi dengan keanomaliannya.
Kouki menyetujui hanya karena hari itu tidak ada latihan basket dengan tim Seirin. Tidak sengaja mencetus seinosen ketika dia menawarkan pada temannya (biasanya Fukuda dan Kawahara), apa Akashi mau menginap saja di rumahnya karena tidak perlu membuang uang menginap di hotel.
Lagipula lebih dekat ke rumah sakit. Sekali naik kereta, sekali naik bus. Dan orangtuanya baru pulang ke rumah sangat larut malam lalu berangkat lagi pagi sekali.
Tidak dinyana, Akashi menyetujuinya.
Sore itu, mereka tidak berlatih—karena Akashi bilang dia ada urusan penting lagi jadi mereka bertemu lebih sore. Namun saat ini badai memorak-moranda taburan damai dari musim semi. Kouki menyadari keretanya mungkin delay atau semacamnya, jadi ia tetap menunggu di dekat lapangan basket itu seperti biasa.
Siapa sangka satu jam kemudian Akashi muncul dengan tubuh basah kuyup.
"Kenapa ti-tidak berteduh dulu?! Kau benar-benar basah kuyup!"
"..."
"Ke-kenapa tidak pakai pa-payung atau jas hujan?"
"Tertinggal di tempat pertemuanku tadi karena diriku yang satu lagi segera kemari begitu tahu hujan deras. Dia bilang, kau pasti menunggu di sini. "
Pergerakan Kouki yang sedang mengaduk-aduk tasnya, mengeluh karena dia tidak memprediksi hari ini hujan—karena kemarin hari cerah terang-benderang—dan tidak ada latihan jadi ia tidak membawa handuk atau kain apa pun untuk mengeringkan keduanya, seketika terhenti.
Akashi menarik resleting tasnya membuka, melihat handuknya yang berada di paling atas barang bawaan lainnya lembab. Masih bisa dipakai. Diraihnya handuk tersebut, menyelempang tas ke belakang tubuh usai menutup resletingnya kembali, lalu menyampirkannya ke kepala Kouki.
"Kenapa kau juga tidak berteduh dulu di rumah sakit?"
Akashi menatap. Airmuka tidak ekspresif seperti biasa kendati tangannya terulur untuk mengusap rambut lembab Kouki yang dirintik air hujan dari celah-celah rimbun dedaunan menggunakan handuknya.
Tangannya berhenti mengusap tatkala Kouki menepis pelan tangannya, menarik handuknya, lalu berbalik menyampirkannya ke kepala pemuda yang telat datang itu.
Tangan pemuda yang lama menunggu itu bergetar—entah oleh dingin atau apa—menghanduki rambut merah yang kuyup melekat ke kulit, membingkai seraut wajah yang tidak meriakkan tentang dingin sedingin badai yang mengukung mereka.
"Aku ... a-aku tidak mau membuatmu menunggu."
Kedua pemuda itu di antara rinai hujan yang menderai basah dingin dan fabrik handuk basah menyerap air, bersitatap.
Kouki tersendat ketika Akashi memandangnya seutuhnya—tidak lagi meliriknya dengan mencuri-curi waktu yang tidak lagi terasa berarti.
"Karena itulah, aku pun tidak mau membuatmu menunggu."
Ucapannya menebas deras hujan yang melibas keduanya dari hujan yang menggelontor ranting-ranting di pepohonan hingga berderak patah. Kesungguhan dari manik heterokromik yang berkaca membuat Kouki tergugu—mengenang hari itu.
Bukankah itu kata-kata yang dulu diujarkannya pada Akashi Seijuurou yang satu lagi?
Handuk itu ditepis kasar dari kepala yang sedang dihanduki, oleh deras hujan dari batang leher pepohonan. Teronggok di dekat kaki mereka. Petir garang menggelegar mewarnai langit dengan cahaya, menggerus spektrum kelabu dengan gradasi warna lebih terang.
Kouki tergemap. Tidak bisa bernapas ketika Akashi meraih tangannya yang dingin dengan jari-jari perih berkerut, menyisip jemari mereka dalam genggaman hangat, menatapnya lekat, kening mereka seperti hari itu—saling tertambat, kian mendekat—
"Apa yang sebenarnya kaulakukan padaku, Kouki?"
Namanya yang pertama kali dibisikkan, menyengatkan kalor seperti erupsi material vulkanik berkalor tinggi dari perut bumi. Kouki sesak menyadari manik heterokromik mengunci atensinya dan membayang bibirnya yang membiru tipis ternganga mengepul uap hangat.
—dan ketika Akashi (bibirnya teramat dingin, seperti bibirnya sendiri) menciumnya seraya menyelinapkan satu lengan ke pinggangnya, Kouki terpaku kaku.
Bibir mereka terpisah sesaat, napas panas mereka saling mengempas, hangat, serupa panas bertemu beku lalu beradu.
Bisikan 'apa yang harus aku lakukan padamu' dikecupkan lagi oleh Akashi pada bibir Kouki yang akhirnya terbuka untuknya, keduanya merapat dalam pelukan untuk saling melumat, gemuruh dan badai emosional (sesak, amat sesak) lain akan satu eksistensi yang sempurna terlupa.
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Nyaa. Heavy spoilers. *digeplak*
Sejujurnya, ini pertama kali saya bikin cinta segitiga semacam ini. Aneh, nggak?
.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Keberatankah untuk RnR/concrit/feedback chapter ini terlebih dulu sebelum membaca chapter selanjutnya, LeChi-tachi?
.
Sweet smile,
Light of Leviathan a.k.a LoL
