The Mysterious Babysitter

Penulis: evi

Remake: mydhdiah

Cast: oh sehun, kim jongin (kaihun)

Other cast: chanyeol, baekhyun, kris, suho, lay, chen, taeoh, xiumin, taemin, kim seo ra, dll

Genre: romance, keluarga, misteri

Peringatkan: Yaoi, BOYSLOVE, BXB, MPREG /?

...

chap 5

"aigoo…besok-besok kau harus periksa makanan yang di suapkan pria itu kemulutmu, jong" ucap suho sembari meletakkan semangkuk sup ayam yang sengaja di buatnya untuk jongin.

"yayaya, aku akan ingat itu. gomawo hyeong" ucap jongin dan segera meminum kuah sup nya.

"apa kau tak kesakitan lagi? Terakhir kali alergimu kambuh, kau hampir membuat kami berenam membawamu ke ruang UGD karena kau sesak nafas ditambah wajahmu itu merah seperti mau meledak. Apa kau yakin kau baik-baik saja?" tanya suho.

"eoh, aku baik-baik saja kemarin memang aku sempat kesulitan bernafas tapi…"

jongin mengerutkan dahinya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dengan wajah bingung.

"ada apa?" tanya suho heran.

"sepertinya aku bermimpi tapi…" suho mengernyitkan dahinya melihat eskpresi wajah bingung yang terlukis di wajah jongin saat ini.

"bicara yang jelas, jong" ucap suho.

"se..sehun"

Suho menganggukkan kepalanya dengan wajah penasaran akan kelanjutan ucapan jongin.

"Ya"

Jongin tersentak kaget begitu mendengar suara sahutan yang berasal dari belakangnya. Ia menoleh dan melihat sehun sudah berdiri dibelakang dengan kedua mata menatap kearahnya.

"anda memanggil saya, tuan?" tanya sehun.

"ya? i..yaa bu..buatkan suho hyeong segelas teh. Dia belum minum" jawab jongin sambil menepuk pundak suho.

"Allgesseumnida" sehun segera berjalan kedapur membuat secangkir teh untuk Suho.

"yya, siapa yang mau minum teh? Aku kan bisa buat sendiri" tanya suho.

"tidak apa" jawab jongin dan kembali memakan sup nya.

...

Taesan TK

"yujin-ah…"

Taeoh memasang wajah cemberut saat pemandangan didepan kedua matanya saat ini selalu sosok seorang ibu yang menjemput teman-temannya didepan gerbang.

"eomma, ayo makan ice cream.."

Taeoh menghela nafas melihat teman kelasnya pergi bergandengan tangan dengan ibu nya.

"eomma, aku merindukanmu" lirihnya.

Sehun melangkah masuk kedalam halaman nursery taeoh dan langsung mengarahkan pandangan kedua matanya ke taman bermain tepatnya kearah ayunan yang menjadi tempat taeoh menunggu kalau belum di jemput. Ia langsung menghampiri taeoh dan berhenti tepat didepannya. Sadar ada yang berdiri didepannya, taeoh langsung mengangkat wajahnya.

"sehun hyung" ucap taeoh segera bangkit dari ayunan dan tanpa aba-aba ia langsung menggenggam tangan sehun.

"ayo kita pulang" ucap taeoh. Sehun mengangguk kecil dan segera berjalan pulang bersama taeoh.

.

"appa bagaimana? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya taeoh.

"dia baik-baik saja. Paman anda membawakannya sup ayam dan dia sudah memakannya sampai habis" jawab sehun.

"ah, suho samchon. Eomma selalu membuatkan makanan yang hangat jika appa jatuh sakit. Sekarang eomma sudah tak ada jadi tak ada yang memasakkan makanan hangat untuk appa. Kasihan appa" ucap taeoh.

"hyung, kau akan memasak untuk appa juga kan kalau dia jatuh sakit?"

Sehun hanya diam, tak merespon ucapan taeoh. Kedua matanya kini beralih menatap hamparan sungai yang luas.

"aku kangen eomma"

kedua mata sehun langsung melirik kearah taeoh. "semua teman-temanku dijemput oleh ibunya. Sementara aku tidak karena aku tidak punya ibu sekarang. Hyung, kau juga tak punya ibu kan?"

"Ya"

"apa kau juga merindukan ibumu?"

"tidak"

"kenapa?"

"dia sudah lama pergi jadi aku sudah terbiasa"

"tak sedikitpun rindu dengan eomma mu?"

"Mm .."

"ayahmu? Apa kau merindukannya?"

"tidak"

"kenapa?"

"aku tak tahu ayahku"

"ne? Kau tak tahu siapa ayahmu? Bagaimana kau bisa hidup jika kau tak punya ayah dan ibu?"

Sehun diam, tak merespon ucapan taeoh. Langkah kakinya berhenti saat kedua matanya menangkap sosok wanita yang baru saja turun dari mobil. Taeoh ikut mengalihkan pandangan kedua matanya kearah yang ditatap sehun.

"ung.. yimo" ucapnya sambil bersembunyi sedikit dibalik punggung sehun. Seo ra menyipitkan kedua matanya melihat sehun dan taeoh yang berdiri beberapa jarak darinya.

...

"untuk apa kau permasalahkan? Taemin tak tahu kau alergi kacang jadi jangan marah bahkan membencinya. Kau harus meminta maaf karena sudah menyuruhnya pulang, dia merasa bersalah" ucap seo ra. Jongin hanya mendengus kesal mendengan ocehan bibi nya.

"Katakan kepada taemin bahwa kau tak marah dengannya dan atur makan malammu dengannya" ucap seo ra.

"yimo, berhentilah menyuruhku untuk makan malam dengan taemin. Berhentilah menjodoh-jodohkanku dengannya, aku tak akan meliriknya" ucap jongin.

"pria atau wanita seperti apa lagi yang akan kau lirik? Pria miskin dan bertubuh lemah seperti mendiang suamimu itu?" sahut seo ra.

"yimo, pelankan suaramu. Taeoh akan mendengarnya" ucap jongin dengan nada tegas.

"biar saja anakmu dengar. Agar dia tahu sosok ibu yang selalu di tanya-tanyakannya itu" ucap seo ra.

Taeoh langsung membalikkan tubuhnya usai mengintip ayah dan bibi nya yang berbicara di ruang tamu. Ia berjalan kearah sehun yang baru saja menyiapkan makanan untuknya.

"aku benar kan? Yimo selalu berkata hal aneh mengenai eomma. Aku tidak menyukainya" ucap taaeoh dengan wajah cemberut. Sehun hanya diam sambil meniup sup jagung yang akan disuapkannya kedalam mulut taeoh.

"buka mulutmu"

Taeoh membuka mulutnya dan menerima suapan dari sehun.

"kasihan eomma" lirih taeoh. Sehun masih diam, ia kembali menyuapkan sup kedalam mulut taeoh.

.

"kau bekerja double? Membersihkan rumah dan mengurus anak kecil itu. Kau sangat membutuhkan uang hingga rela bekerja double?" tanya seo ra memerhatikan dapur rumah jongin yang bersih. Sehun mengatupkan bibir nya rapat-rapat sambil membilas piring kotor di bak cucian.

"cepat atau lambat kau pasti akan mengundurkan diri karena kelelahan. Apalagi mengurusi anak kecil yang menyebalkan itu. Yakan?" sehun mematikan kran cucian piring dan berbalik menghadap seo ra.

"kau masih muda. Sayang kalau kau menghabiskan hidupmu mengurusi anak kecil itu" ucap seo ra.

"sampah" kedua mata seo ra membulat mendengar ucapan sehun didepannya.

"aku harus membuang sampah. Permisi" ucap sehun segera mengangkat kantung berisi sampah dan pergi meninggalkan seo ra yang tercengang.

"a..apa? dia.. benar-benar" desis seo ra.

"sehun hyung.. hyung" taeoh langsung berhenti bersuara saat tiba didapur dan melihat sosok seo ra bukannya sosok sehun yang dicari nya.

"kenapa kau suka sekali berteriak? Ini rumah bukan hutan" ucap seo ra dengan sinis.

"aku minta maaf" ucap taeoh sambil menundukkan kepalanya.

"apa yang kau bawa itu?" tanya seo ra melirik sweater yang di peluk taeoh.

"sweater eomma. sweater nya robek karena dipakai taemin waktu itu. Aku ingin sehun hyung menjahitnya" ucap taeoh.

"tak usah di jahit. buang saja. Itu pakaian yang tak terpakai" ucap seo ra.

"andwae. tidak ada yang boleh membuang pakaian eomma" ucap taeoh kencang.

"suaramu.. YA! Ibu mu sudah meninggal, dia tak akan peduli akan kondisi pakaiannya. Lebih baik kau buang pakaiannya daripada di tempeli debu karena tak pernah dipakai. Lagipula, cepat atau lambat lemari pakaian ibu mu akan kosong dan di ganti dengan pakaian baru" ucap seo ra.

"yimo, apa maksudmu?" tanya taeoh.

"kau masih tak mengerti? Pakaian ibu mu itu akan di gantikan dengan pakaian istri atau suami baru ayahmu cepat atau lambat. Ibu barumu"

"ibu baru? Nugu?"

"taemin. siapa lagi kalau bukan dia"

"tidak mau. Tidak ada yang boleh membuang pakaian eomma apalagi taemin ahjussi. Dia pembohong"

"hey, beraninya kau mengatai taemin begitu. Siapa yang mengajarimu bicara begitu? Apa pengasuhmu?"

"ada ribut-ribut apa ini? Yimo, kenapa kau berteriak didepan taeoh?" tanya jongin segera menghampiri taemin dan bibi nya didapur.

"hiks… appa, aku tak mau taemin ahjussi menjadi ibu ku. Aku tidak mau" tangis taeoh.

"ne? Si..siapa yang bilang begitu?" ucap jongin bingung, ia langsung menatap bibinya. "yimo, berhentilah bicara hal konyol kepada taeoh"

"konyol apa? Tamin itu satu-satu nya pria yang cocok bersanding denganmu. suamimu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan taemin"

"yimo, jaga ucapanmu. Taeoh mendengarnya"

"kenapa? Taeoh harus tahu siapa calon ibu barunya nanti"

"shireo… shireo.." teriak taeoh dan langsung berlari masuk kedalam kamarnya.

"ah, bibi. Calon ibu baru apa maksudmu? Sudah aku bilang aku tak akan melirik taemin"

"sudahlah, kau turuti saja ucapan bibi. Hidupmu akan berantakkan lagi kalau kau tak menurut. Kau tak belajar dari kesalahan akibat menikahi wanita miskin ini?" ucap seo ra sambil menunjuk foto kyungsoo yang terpajang.

"kesalahan apa? Menikahi kyungsoo bukanlah sebuah kesalahan. Berhentilah membicarakan dirinya dengan kata-kata burukmu. Sebaiknya bibi pulang pusing kalau bicara denganmu"

"kau harus ingat ucapan bibi untuk menemui taemin segera" seo ra segera mengambil tas nya dan pergi dari hadapan jongin saat membuka pintu rumah, ia dikejutkan dengan kepalan tangan sehun didepan wajahnya.

"a..apa yang kau lakukan?" pekik seo ra kaget. "kau mau memukulku, eoh?"

"animnida" ucap sehun masih mengepalkan tangan kanannya didepan wajah seo ra.

"lalu kenapa tanganmu seperti orang yang ingin meninjuku?" tanya seo ra bergidik ngeri.

"lalat" ucap sehun berjalan mundur, ia mengendurkan kepalan tangannya dan menerbangkan lalat itu keluar dari kepalan tangannya.

"dia akan masuk kedalam rumah kalau nyonya membuka pintu rumah dengan lebar" jelas sehun .

"namja aneh" ucap seo ra dan langsung pergi meninggalkan rumah jongin. Sehun menatap kepergian seo ra dengan tatapan datar.

...

"taeoh-ya. jangan menangis, jangan dengarkan ucapan bibi, ya" ucap jongin.

"aku tidak mau taemin ahjussi jadi eomma ku. Aku tidak suka!" ucap taeoh.

"tidak, taemin ahjussi tak akan jadi ibu mu. Jangan ingat ucapan bibi. Kau tahukan ucapan bibi seo ra" ucap jongin.

"appa, sweater eomma rusak. Kau tak akan menggantikan sweater eomma dengan pakaian taemin ahjusi kan?"

"tidak, tentu saja tidak. Tidak ada yang akan menggantikan pakaian eomma. mengerti?" taeoh mengangguk sambil menyeka air matanya.

"jangan menangis. kau berjanji tidak akan menangis, bukan?" ucap jongin sambil menyeka kedua pipi taeoh.

"eemm. Sehun hyung akan pergi kalau aku menangis. Jadi aku harus berhenti menangis sebelum sehun hyung kembali" ucap taeoh.

"hah? Sehun akan pergi jika kau menangis?"

"ya, aku tidak ingin sehun hyung pergi jadi aku tidak akan menangis agar dia tidak pergi" jongin tersenyum sambil mengusap puncak kepala anaknya.

...

"selesai" ucap sehun meletakkan jarum jahitanya didalam kotak dan menunjukkan sweater kyungsoo yang sudah ia selesai perbaiki didepan taeoh.

"wwaah, sweater eomma tak rusak lagi. Sehun hyung terimakasih" ucap taeoh senang melihat sweater ibu nya tak lagi rusak.

"karena pakaian eomma sudah benar jadi pakaian taemin ahjussi tak bisa menggantikan pakaian eomma, yakan?"

Sehun hanya diam sambil memberesi alat-alat menjahit miliknya.

"aku tidak ingin dia menggantikan eomma. Eomma satu-satu nya no.1 dan kau ada no.2 nya" kedua mata sehun langsung menatap kearah taeoh.

"aku menyukai hyung seperti eomma. jadi, kau tak boleh pergi ya?" sehun tak merespon, ia menutup kotak jahit nya dan beranjak berdiri. Ia mengambil buku cerita didalam rak buku taeoh.

"berbaringlah" ucap sehun.

"eemm.. Cinderella? Xiumin samchon sudah pernah membacakan cerita itu untukku" ucap taeoh.

"aku akan menggantinya" ucap sehun beranjak berdiri.

"hyung, apa kau percaya bahwa kisah bahagia yang dialami Cinderella dan pangerannya itu bisa menjadi nyata?"

Sehun mengurungkan niatnya untuk berdiri saat mendengar ucapan taeoh. Kedua tangannya bergerak kearah buku cerita yang masih di pegangnya, ia membuka halaman terakhir dan menatap gambar tokoh Cinderella yang menikah bersama pangerannya dengan tatapan menyedihkan.

"eomma pernah bilang bahwa appa seperti pangeran dalam kehidupannya yang datang tiba-tiba menyelamatkan hidupnya dari kesendirian seperti Cinderella ini. Tapi… kisah eomma dan appa tak sama seperti akhir kisah Cinderella dan pangerannya karena eomma pergi meninggalkan appa sekarang. Ini namanya bukan kisah bahagia kan?" tanya taeoh. Sehun hanya diam.

"hyung, apa kau ingin memiliki kisah bahagia bersama orang yang akan menyelamatkan hidupmu dari kesendirian?" tanya taeoh menatap lekat wajah sehun. Kedua mata sehun terpejam sedikit, ia menarik nafas dan menghembuskannya.

"aniyo. Kisah bahagia hanya ada didalam buku cerita. Kau sudah telat 2 menit dari jam tidurmu. Lekas tidur" ucap sehun segera meletakkan buku cerita didalam rak.

"baiklah, selamat malam hyung" ucap taeoh segera berbaring diatas kasur dan memejamkan kedua matanya. Sehun langsung mematikan sakelar lampu dan beranjak keluar dari kamar taeoh.

...

Sehun mendudukkan tubuhnya ditepi ranjangnya. Kedua matanya menatap kearah jendela kamarnya yang belum tertutup gorden, memudahkan dirinya bisa melihat warna langit yang sangat gelap. Kedua tangannya bergerak kearah laci meja kecil samping ranjangnya, meraih sebuah syal berwarna cokelat yang belum jadi seutuhnya.

Sorot kedua matanya berubah dingin saat memandang syal tersebut. Kedua sudut bibirnya terangkat keatas. Bukan sebuah senyuman yeoja yang merasa senang melihat hasil karya tangannya melainkang senyuman kekesalan, terkesan frustasi mungkin.

"bohong" lirihnya sambil membanting syal tersebut keatas lantai.

...

Esok harinya

Kantor polisi

"hhoaahhmm. menginterogasi tersangka pencurian perhiasan benar-benar melelahkan" gerutu chen sambil menutup mulutnya yang menguap lebar lalu mengucek kedua matanya yang berair.

"ini kopi untukmu" ucap inguk sambil memberikan sekaleng kopi hangat kepada chen.

"gomawo" chen segera menerima kaleng kopi tersebut dan meneguknya.

"ah, itu inspektur jung" inguk langsung menepuk pundak chen, membuat chen berhenti minum dan langsung membungkukkan badannya didepan atasannya bersama inguk.

"inspektur jung bersama siapa?" tanya chen.

"dia? Dia mantan kepala bagian investigasi kepolisian gwang-ju. Pak Han" jawab inguk,

"kenapa inspektur jung bisa bersama mantan kepala bagian investigasi gwang-ju disini? Gwang-ju dan seoul kan tak berdekatan" ucap chen.

"sepertinya inspektur Jung meminta bantuan pak han untuk menemukan jejak pelaku pembunuhan berantai. Kau tahu kan jejak pembunuh itu di curigai berada di Seoul"

"aku tau. tapi belum pasti juga dia ada di seoul. Kau tahu kan beberapa hari yang lalu aku mengintai nya bersama Detektif Shin dan hasilnya nihil. Rumah itu kosong dan tak ada jejak bahwa ada yang pernah menghuninya"

"eissh, itu karena pembunuh berantai nya cerdik. Jadi dia bisa memakai cara apapun untuk menghapus jejaknya agar polisi tak bisa mengejarnya. Itulah kenapa inspektur Jung meminta bantuan Pak Han. warga kota seoul mulai resah saat mencium kabar keberadaan pembunuh berantai ada di kota ini"

"kenapa harus Pak Han? Apa mantan ketua kepolisian investigasi itu memiliki ilmu yang bisa melacak keberadaan pembunuh berantai itu?"

"eissh, bodoh. Pak Han itu dari gwang-ju.. gwang ju"

"gwang-ju? Jangan-jangan… Apa Pak Han yang mengurus kasus pembunuhan pembunuh berantai belasan tahun lalu? Pembunuh berantai itu berasal dari gwang-ju kan?"

"akhirnya kau mengerti juga"

"eissh, walaupun pak han yang pernah mengurusnya, dia kan sudah berhenti dari kepolisian. Dia sudah tak punya andil untuk ikut campur dalam kasus ini"

"tentu dia punya andil. Pak Han itu polisi yang sempat menyelamatkan anak pembunuh itu yang tak sempat di tikam belasan tahun yang lalu. Menurut kabar yang ku dengar dari senior yang lain, pembunuh berantai itu ke seoul karena ia mengetahuk jejak keberadaan anak nya yang gagal di bunuh nya"

"benarkah? Jadi inspektur jung meminta bantuan pak Han untuk mencari tahu dimana keberadaan anak pembunuh itu untuk melindunginya"

"sepertinya begitu. Walau bagaimanapun juga, nyawa anak pembunuh itu dalam bahaya kalau dia berhasil ditemukan ayah nya"

"tapi… bagaimana mencari anak pembunuh itu di kota sebesar dan seluas ini? Memangnya Pak Han hafal wajah anaknya? Dia kan menyelamatkan anak pembunuh itu saat masih kecil. Memangnya dia tahu wajah dewasa anak pembunuh itu?"

"aku tidak tau, aku belum dengar ada sunbae-sunbae yang membahas itu. Aku akan mencari tahu nanti"

"Aissh, dasar penguping"

...

"Kang Dong Yoon"

Han Jin Sung mengucapkan nama pria yang wajahnya tercetak diatas kertas dengan nada sinis. "belasan tahun lamanya akhirnya dia mulai bergerak"

"sunbaenim, kau masih berambisi untuk menangkapnya?" ucap jung jae soon, inspektur kepolisian yang merekrut jin sung secara langsung untuk membantu bawahannya menangkap pembunuh berantai yang akhir-akhir ini membuat dirinya dan para polisi lainnya resah memikirkan nasib keselamatan masayarakat.

"tentu. Walaupun aku sudah pensiun dari jabatanku karena usia ku, tapi ambisiku untuk menghukum pria ini tak pernah hilang. Kang Dong Yoon, dia bertanggung jawaba tas nyawa orang-orang yang di habisinya" ucap jin sung tajam.

"sunbaenim, kau yakin motif dong yoon ke seoul karena ia mengetahui keberadaan anaknya di kota ini?"

"firasatku mengatakan seperti itu.."

"kau yakin putra dong yoon ada di seoul? Tidakkah seharusnya dia berada di luar negeri bersama orang tua angkat nya? Dia sudah di adopsi bukan?"

"orang tua angkat nya sudah tewas terbunuh dalam kecelakaan mobil"

"ne? Tewas terbunuh? Ma..maksudmu?"

"kang dong yoon membunuh sepasang suami istri yang mengadopsi anaknya. Dia benar-benar berambisius menghabisi nyawa putra nya hingga dia tahu siapa keluarga yang mengadopsi anaknya dan dimana keluarga itu membawa anaknya pergi"

"ah, inspektur Song dari busan juga pernah bercerita mengenai kecelakaan sepasang suami istri yang berhubungan dengan kang dong yoon. Bagaimana nasib anak itu sekarang?"

"entahlah. Setelah orang tua angkatnya meninggal, anak itu tiba-tiba menghilang begitu saja seperti di telan bumi. Tak pernah ada yang mendengar kabar anak itu lagi sekalipun para polisi sudah bertanya kepada teman-teman yang satu sekolah dengannya"

"hem… sepertinya akan susah mencari keberadaan anak kang dong yoon kalau kabar anaknya sendiri juga hilang di telan bumi bertahun-tahun"

"jikapun anak itu masih hidup. Aku yakin dia sedang merasa ketakutan" lirih jin sung.

" Nak, punggungmu berdarah. Apa yang terjadi?"

"tolong aku ahjussi.. ibuku…ibuku..."

"kenapa? ada apa dengan ibu mu?"

"pria itu menusukkan pisau ke perut eomma. Aku takut, tolong aku ahjusssi"

...

Kkkrrriinnnnggg ~~

Sehun tersentak kaget saat mendengar suara dering telfon rumah yang berbunyi. Membuatnya yang tengah mengelap meja sambil melamun sedekit terkejut. Dengan cepat, ia meraih gagang telfon tersebut.

"sehun-ssi…" ucap jongin.

"ne, tuan. ada keperluan apa menelfon?"

"bisa aku minta bantuanmu? Map cokelat milikku di atas meja ruang tengah.." sehun mengalihkan pandangan kedua matanya ke map cokelat diatas meja.

"itu berkas pekerjaan yang harus kupakai untuk meeting 2 jam lagi. Bisa kau antarkan map itu ke kantor ku?"

"aku akan mengantarkannya"

"terimakasih, alamt kantor ku…" sehun mendengarkan dan menghafal dengan benar alamat kantor yang diucapkan jongin di telfon. "kutunggu di lobi ya"

"ne" sehun segera menutup telfon dan bergegas mengantarkan map cokelat milik jongin ke kantor nya.

...

Stasiun kereta api

Sehun duduk termenung didalam stasiun selagi menunggu kereta yang akan di taiki nya tiba. Kedua tangannya memeluk map cokelat milik jongin, agar map tersebut tidak hilang atau jatuh mengingat kondisi stasiun yang selalu ramai.

Sehun segera beranjak berdiri saat kereta yang akan di taikinya sebentar lagi tiba. Ia langsung berjalan ke depan saat mendengar suara kereta, begitu mengangkat wajahnya keatas disaat yang bersamaan kedua matanya menangkap jelas sorot mata seseorang yang wajahnya di tutupi masker, membuat kedua mata orang itu bisa terlihat sedikit dibalik topi hitam yang dikenakannya. Sehun mengeratkan map cokelat yang dipeluk kedua tangannya saat ia mengenali sorot mata orang yang berada di sebrang nya itu.

...

Jongin kembali melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya dengan wajah resah. Ini sudah hampir1,5 jam ia berdiri didepan lobi kantor nya tapi sosok sehun yang ia mintai tolong untuk membawakan map pentingnya tak kunjung kelihatan.

"sehun, kau dimana?" gumamnya sambil menatap satu per satu orang yang melangkah masuk kedalam lobi.

Bbrrruugg ~~

"tuan, kau baik-baik saja?"

Jongin langsung menoleh kedepan saat mendengar suara orang terjatuh. Ia terbelalak kaget saat melihat orang yang tengah di bantu berdiri oleh security itu adalah orang yang d tunggu-tunggu sedari tadi.

"ahjussi, dia kenalanku.." ucap jongin segera membantu sehun berdiri.

"sehun-ssi, kau baik-baik saja? Apa kau tersesat hingga baru sampai" tanya jongin sambil memerhatikan wajah sehun.

"to..tolong aku" ucap sehun pelan sambil mencengkram kedua lengan jongin.

"apa yang kau katakan?" tanya jongin yang tak mendengar dengan jelas. Sehun mengangkat wajahnya dan menatap jongin dengan sorot mata ketakutan.

"tolong aku, a..aku takut" ucap sehun.

"ada apa denganmu?" tanya jongin bingung.

"aku mohon. Tolong aku.."

...

Taesan TK

"Taeoh-ya ..."

Taeoh yang baru saja melangkah keluar dari nursery nya langsung berlari dengan semangat saat melihat pamannya berdiri didepan gerbang.

"suho samchon, lay samchon. kalian menjemputku?" tanya taeoh.

"eoh. pengasuhmu sedang ada halangan. Jadi dia tak bisa menjemputmu hari ini" jelas lay.

"kami berdua yang bertugas menjemput dan menjagamu seharian ini" ucap suho.

"jincaa? Sehun hyung kemana memang nya?" tanya taeoh.

"eng… dia ada urusan, urusan orang dewasa" jawab lay sambil tersenyum.

"Hem.. padahal aku ingin membuat kerajinan dari kertas origami bersamanya" ucap taeoh lesu.

"taeoh, samchon dan lay samchon akan membantumu sekalian makan ice cream. Bagaimana?" usul suho.

"baiklah, ayo" ucap taeoh semangat.

"yayayaa ayo"

Suho segera menggandeng tangan hye gyul dan membawanya masuk kedalam mobil bersama lay.

...

"jadilah burung bangau" ucap suho menunjukkan hasil karyanya dari kertas origami didepan taeoh.

"wwaah,suho samchon hebat" ucap taeoh senang.

"tentu.." ucap suho sambil tersenyum senang.

"taeoh, apa pengasuhmu memperlakukanmu dengan baik?" tanya lay.

"sehun hyung? ya.. sehun hyung orang yang sangat baik. Taeoh menyukainya" jawab taeoh.

"benarkah? Apa kalian dekat?" tanya suho.

"tentu, Kami sering berbagi cerita bahkan kami memiliki rahasia"

" Aigoo… samchon iri sekali kau dekat dengan pengasuhmu. Apa yang sering di ceritakan pengasuhmu?"

"banyak hal.."

"keluarganya?" sahut lay. "eomma dan appa sehun.. kau tahu?"

"aku tau"

"benarkah?" ucap suho dan lay bersamaan.

"eemm… hyung bilang ia tak punya ibu dan tak rindu dengan ibu nya karena ibunya pergi sudah lama lalu ayah nya, dia tak tahu siapa ayahnya dan dia tak merindukannya" celoteh taeoh sambil menyantap ice cream nya.

"dia benar-benar yatim piatu" ucap suho. Lay mengangguk.

Sehun memainkan jari jemari tangannya dengan kepala tertunduk kebawah. Ia berada didalam ruangan jongin saat ini, seorang diri dan tak ada orang di sekelilingnya. Setidaknya itu membuat perasaannya cukup lega karena ia berada di tempat yang aman saat ini.

Sehun mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan kedua matanya menatap ruangan myungsoo yang tertata begitu rapih. Diatas meja, ia melihat sebuah miniature rumah yang tak asing di matanya. Ia berjalan mendekati miniature rumah yang dipajang diatas meja itu. Sehun memasang wajah paham saat ia mulai menyadari bahwa miniature rumah tersebut adalah gambaran rumah jongin saat ini.

Sepertinya, rumah yang menjadi tempat kerjanya adalah hasil rancangan jongin sendiri yang notabene nya adalah seorang arsitek. Kedua mata nya kembali bergerak mengamati ruangan jongin hingga pandangan nya jatuh kepada Koran yang terletak diatas meja jongin. Dengan langkah ragu-ragu, ia berjalan kearah meja, meraih Koran tersebut. Raut wajahnya berubah tegang saat kedua matanya menatap berita yang menjadi berita utama di lembar pertama Koran tersebut.

"tidak mungin" lirihnya pelan.

...

"terimakasih " ucap jongin sambil menyalami klient nya di ruang meeting. Ia menghembuskan nafas lega karena meeting nya berjalan lancar, semua klient nya menyukai presentasi nya. Ia harus berterima kasih kepada sehun karena membawa map pekerjaannya tepat waktu.

Dddrrtt ~~

Jongin segera mengambil ponsel dari saku celananya dan mengangkat ponselnya saat dilihatnya nama suho tertera di layar telfonnya.

"hyeong, kau sudah menjemput taeoh?"

"eoh.. aku dan lay mengajaknya nonton bersama. Dia sedang membeli pop corn bersama lay"

"ah, baguslah"

"yya ,jong. apa yang terjadi sebenarnya sampai kau meminta kami menggantikan tugas pengasuhnya itu? Apa kau bersama oh sehun?"

"begitulah. Aku akan menceritakan kejadian nya lebih detail , aku titip taeoh ya"

"ya, jangan khawatir. Kami akan menjaga anakmu"

"gomawo. Kututup"

Jongin segera menyudahi percakapannya di telfon lalu bergegas kembali menuju ruang kerjanya.

Jongin langsung menutup pintu ruang kerjanya dan berjalan kearah sehun yang berdiri mematung didepan meja nya.

"sehun-ssi, kau baik-baik saja?" tanya jongin. Sehun mengalihkan pandangan kedua matanya kearah jongin dan menatap nya.

"kau sakit? Apa kau ingin minum teh?" tanya jongin segera mengangkat gagang telfon untuk memberitahukan sekretarisnya untuk memberikan minum kepada sehun.

"tuan kim…"

Jongin mengurungkan niat nya untuk memencet tombol begitu sehun bersuara.

"aku…" sehun mengepalkan kedua tangannya yang gemetar.

"aku mengundurkan diri"

Jongin melotot kaget saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut sehun.

"m..mwo? me..mengundurkan diri? Tiba-tiba. kenapa? Kenapa kau ingin berhenti? Apa kau kelelahan mengerjakan dua tugas? Atau.. gaji mu kurang?" tanya jongin.

"aku tidak nyaman bekerja bersama anda dan anak anda" ucap sehun dengan suara yang cukup tenang.

"ya? Apa taeoh membuatmu kesusahan hingga kau merasa tidak nyaman?" tanya jongin.

"tidak, Aku hanya merasa tidak cocok bekerja di rumah anda. Maka dari itu…." Sehun menundukkan kepala dan tubuhnya didepan jongin.

"terima permintaan pengunduran diriku" ucap sehun.

"kau serius ingin berhenti?" tanya jongin.

"ya, aku serius. aku sudah memikirkannya baik-baik" jawab sehun. Jongin menghela nafasnya.

"baiklah.. aku akan terima keputusanmu. Maaf membuatmu tak nyaman bersama kami" ucap jongin.

"tidak apa, terimakasih" ucap sehun.

...

"appa…" seru taeoh sembari menghambur kedalam pelukan jongin saat jongin menjemputnya didepan resto suho.

"annyeong" ucap jongin.

"appa, ayo kita pulang, Sehun hyung sendirian di rumah sekarang" ajak taeoh.

"Taeoh-ya ..."

Jongin terdiam sebentar sambil mengamati raut wajah taeoh.

"jong, kau kenapa? Kau memikirkan sesuatu?" tanya suho.

"tidak. hyeong, aku dan taeoh pulang ya" ucap jongin segera membawa taeoh masuk kedalam mobilnya.

"Ada apa dengannya?" fikir suho.

.

"hyung, sehun hyung. Aku pulang" seru taeoh berlari masuk kedalam rumahnya.

"hyung, aku pulang. kau harus melihatku membuat bangau yang diajari suho samchon tadi" panggil taeoh berlari kearah dapur dan tak melihat sosok orang yang dicarinya.

"Hyung ..."

Taeoh membuka kamar sehun dan melihat kamar nya juga kosong.

"taeoh-ya" panggil jongin.

"appa, sehun hyung kemana? Dia tak ada dimana-mana. appa, kau tahu sehun hyung kemana?" tanya taeoh sambil mengguncang tangan kanan ayahnya.

"taeoh" jongin berjongkok didepan taeoh, membuat wajahnya sejajar dengan wajah anaknya.

"taeoh-ya, sehun sudah pergi" ucap jongin.

"ye? pergi? Kemana? Ke mini market?" tanya taeoh.

"tidak, dia pergi.. pergi dari rumah kita dan kehidupan kita" jawab jongin.

"tidak mungkin! Sehun hyung tidak boleh pergi. dia berjanji tidak akan pergi. Appa, suruh sehun hyung pulang" pinta taeoh.

"taeoh-ya, dia tidak akan pulang. Dia bukan pengasuhmu atau pembantu di rumah ini"

"apa dia tahu aku menangis makanya dia pergi? Bagaimana ini? Dia pasti marah dan pergi karena aku melanggar janjiku. Yakan?"

"ti..tidak, bukan itu"

"aku harus meminta maaf dengannya. Appa, aku ingin bertemu sehun hyung. Aku mohon" tangis taeoh. Jongin menghela nafas, direngkuhnya tubuh taeoh kedalam pelukannya sambil mengusap punggung nya agar berhenti menangis.

"uljimma.." ucap jongin.

"sehun-ssi, apa taeoh menyusahkanmu makannya kau mengundurkan diri?" tanya jongin

"tidak"

"apa kau tidak menyukai taeoh karena dia selalu merengek menanyai ibu nya?"

"aku… menyukai…nya"

TBC

Hehh aku emosi sama bibinya jongin, ngeselin banget serius dia ngeselin aku yang ngeremakenya aja kesel emosi bercampur aduk banget disini huhuhu. Sehunn jangan pergi hunnn T..T oh iya konflik mulai keliatan nih siapsiap perasaan dicampur adukkan, btw aku ga sabar nunggu kelanjutan ff remake ini serius aku yang ngeremakenya ga sabar soalnya kan castnya kaihun jadi feelnya beda sama yang myungzy menurut aku.. wkwkwk daaaaan makasih atas review kalian, aku baca semua kok review klian sungguh aku sangat bersemangat baca review kalian, jadi ga sabar buat chap selanjutnya wkwk. Terimakasih banyak ditunggu chap selanjutnya...

oh iya aku bingung menurut kalian, cocokan istri atau suami? kalo istri kan kyungsoo cowo masa dipanggil istri tapi kalo suami aga gimana gitu,,,jadi menurut kalian mening istri atau suami...mohon sarannya

Ps: chap6 mungkin aga telat aku update, besok harus daftar ulang SMA sama ada bukber bareng sahabat" aku

Pss: maafin kalo masih ada typo yaak hehe