The Mysterious Babysitter
Penulis: evi
Remake: mydhdiah
Cast: oh sehun, kim jongin (kaihun)
Other cast: chanyeol, baekhyun, kris, suho, lay, chen, taeoh, xiumin, taemin, kim seo ra, dll
Genre: romance, family, misteri
WARN: Yaoi, BOYSLOVE, BXB, MPREG/?,DLDR, OOC
.
.
.
Chap 12
Sehun memasukkan kimchi didalam kulkas dan menatap sebentar isi kulkas dengan pandangan kosong. Tangan kanannya bergerak ke dahinya, mengusap pelan dahinya yang membentur dahi jongin tadi di mobil.
Jongin yang hendak mengambil segelas air, mendapati sehun tengah duduk diatas lantai sambil menatap isi kulkas. Ia pun beranjak duduk disamping sehun sambil memerhatikan sehun yang sepertinya tak menyadari kehadirannya.
"sehun-ssi" ucap jongin dengan suara setengah berbisik tepat ditelinga sehun. Raut wajah sehun langsung berubah tegang saat mendengar suara bisikan jongin ditelinganya, ia langsung menoleh kesamping kirinya dan disaat yang bersamaan ujung hidung nya dengan jongin bersentuhan karena jarak wajah mereka yang kini begitu dekat.
Jongin menelan air liur nya begitu ujung hidungnya dan sehun saling beradu. Seperti kejadian malam itu, entah mendapat dorongan darimana, jongin memiringkan sedikit wajahnya sembari memejamkan matanya perlahan. Sehun mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat wajah jongin kiat dekat dengannya.
"appa"
Jongin membuka kedua matanya dengan wajah kaget saat mendengar suara taeoh. Ia langsung menjauhkan wajahnya dari sehun dan langsung menoleh kebelakang.
"ta-taeoh" ucap jongin dengan mata melotot.
"hyung dan appa kenapa duduk didepan kulkas? aku juga mau ikut" ucap taeoh berjalan menghampiri ayah dan pengasuhnya.
"ekhm" ehun segera bangkit berdiri dan melipat lap dapur diatas meja counter.
"hyung, kau mau kemana? Aku baru ingin duduk bersamamu dan appa" tanya taeoh sambil menatap sehun.
"ta-taeoh, appa hanya membantu sehun memasukkan kimchi didalam kulkas. Kimchi nya sudah masuk kulkas, kau tak usah duduk di lantai" ucap jongin ikut bangkit berdiri dan menutup pintu kulkas.
"hhmm, baiklah"
"s-sehun-ssi, ajak taeoh ke kamarnya. jangan lupa gantikan baju nya dengan piyama" ucap jongin.
"ne, allgesseumnida" ucap sehun dan segera pergi meninggalkan dapur bersama taeoh. Setelah sosok sehun dan taeoh pergi. Jongin langsung menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya dipintu kulkas.
"tadi hampir saja" ucapnya sambil mengurut dada.
"aish. apa yang mau kulakukan tadi?" fikir jongin.
.
.
.
Esok harinya
Jongin berjalan menuju ruang makan dan melihat belum ada sarapan yang dihidangkan diatas meja. Ia melirik jam dinding dan menepuk dahinya. Pantas saja belum ada sarapan, ia bangun 30 menit lebih awal pagi ini.
Ttaakk
Jongin mengalihkan pandangan kedua matanya kearah dapur saat mendengar suara pisau yang tengah memotong diatas talenan. Begitu tiba didapur, ia melihat sehun tengah mencincang daging dengan posisi memunggunginya. Sehun menghentikan aktivitasnya sejenak saat merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya.
"selamat pagi" ucap sehun masih dalam posisi memunggungi jongin.
"oh se-selamat pagi" ucap jongin kikuk sambil membuka kulkas dan mengambil susu kotak kecil. Sehun kembali melanjutkan aktivitasnya mencincang daging sapi. Jongin membuka susu kotaknya lalu meneguknya dengan kedua mata yang menatap lurus kearah sehun yang tengah mencincang.
"maaf"
Sehun mengangkat wajahnya dan menghentikan aktivitas nya yang mencincang daging. Jongin berhenti meneguk susunya begitu sehun tiba-tiba mengeluarkan suara.
"tolong jangan berdiri dibelakangku"
jongin sedikit tersedak mendengar ucapan sehun. Ia langsung mengelap mulutnya yang basah.
"m-mian aku tak tahu kalau kau merasa risih jika ada orang di dapur ketika kau sedang menyiapkan sarapan" ucap jongin.
"gwenchana" ucap sehun dan kembali mencincang daging sapinya. Jongin berjalan menghampiri sehun, ia menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja counter sambil menatap daging yang tengah di cincang sehun.
"sehun-ssi, kemarin malam itu-"
Sehun terus mencincang daging sapinya dengan cepat begitu jongin mulai menyinggung kejadian semalam. Jongin merubah posisi nya menghadap kesamping dan menatap wajah sehun dari samping.
"apa kau pernah berciuman sebelumnya?" tanya jongin. Sehun berhenti mencincang beberapa detik saat mendengar pertanyaan jongin tapi ia langsung menghiraukan pertanyaan jongin tersebut dan kembali mencincang.
"kau pernah?" tanya jongin. Sehun mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"solma, apa CPR yang waktu itu adalah yang pertama untukmu?"
sehun langsung berhenti mencincang, otaknya kembali memutar kejadian saat dirinya memberikan bantuan pernafasan kepada jongin yang sulit bernafas akibat alergi kacang. Setahunya, jongin pingsan saat ia melakukan itu. Bagaimana jongin bisa menanyakan hal itu kepadanya sekarang? Apa jongin saat itu setengah sadar dan mengingat peristiwa tersebut?
"jadi benar?" tanya jongin memerhatikan raut wajah sehun. Kepala sehun menoleh kearah kesamping, membuat jongin tidak bisa melihat muka sehun.
"yya, aku sedang bicara denganmu, kenapa kau tidak melihat kearahku?" jongin menarik pundak sehun agar ia bisa melihat muka sehun. Kedua matanya terpaku saat melihat rona merah di pipi sehun.
"pipi mu-" sehun langsung mengangkat talenan berisi daging yang sudah ia cincang dan berbalik memunggungi jongin. Masih dengan bibir yang teraktup rapat, sehun segera menyiapkan wajan untuk menggoreng daging cincangnya.
"aku akan membangunkan taeoh kalau begitu" ucap jongin seraya berjalan meninggalkan dapur. Sehun mengurungkan niatnya untuk menyalakan kompor setelah jongin pergi meninggalkan dapur. Kedua tangannya tiba-tiba terangkat untuk mendekap kedua pipi nya yang terasa panas. Ada apa dengan dirinya?
.
.
Kantor
"eng- apa itu ciuman pertamanya?" fikir jongin sambil menatap desain bangunan untuk proyek pekerjaannya diatas meja.
"apa itu di hitung sebagai sebuah ciuman? Itu kan CPR, sekedar tempel bibir- Kalau dia tak pernah berciuman, kenapa dia mau melakukan CPR? Kenapa aku memusingkannya? Kan dia yang melakukan bukan aku. tapi kenapa dia tak menjawab pertanyaan tadi pagi? Harusnya dia jawab iya atau tidak, bukannya diam dan menyembunyikan pipi nya yang merah. Apa dia merasa malu karena aku mengingat perbuatannya?"
"sajangnim-" Jongin mengangkat wajahnya dan menatap sekretarisnya yang sudah berdiri didepan mejanya.
"n-ne? Ada apa?" tanya jongin.
"meeting anda akan di mulai 10 menit lagi" jawab sekretaris.
"ah, ne. aku akan ke ruang meeting" ucap jongin sambil melirik arlojinya. "sepertinya akan keburu" gumam jongin.
.
.
.
"oh sehun" sehun yang baru saja keluar dari gerbang rumah untuk menjemput taeoh di nursery nya langsung menoleh sedikit saat mendengar suara seseorang menyebut namanya. Taemin melepas kacamata hitamnya dan berjalan menghampiri sehun.
"ada yang bisa saya bantu?" tanya sehun.
"ya"
"apa yang bisa saya bantu?"
"tinggalkan jongin dan anaknya. Keinginanmu untuk mendapatkan jongin lewat anaknya tak akan berhasil, arra?" sehun hanya diam sambil menatap taemin datar.
"yya, kenapa kau malah diam seperti patung? Aku baru saja memberikan peringatan kepadamu. Seharusnya kau segera beresi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini. Dirimu ini tak pantas untuk bisa bersanding bersama jongin bahkan menjadi ibu untuk anaknya"
"kotoran" ucap sehun.
"mwo? K-Kau menyebutku kotoran? Kurang ajar sekali ucapanmu" bentak taemin.
"anda menginjak kotoran anjing peliharaan tetangga sebelah" taemin melotot dan mengalihkan pandangan kedua matanya ke bawah.
"omo!" pekiknya saat sepatu mahalnya kini berdiri diatas kotoran.
"permisi" sehun segera berbalik dan pergi meninggalkan taemin yang masih histeris karena sepatu mahal nya menginjak kotoran hewan.
"yayaya- berani sekali kau main pergi begitu saja" seru taemin. "issh, menjijikan"
.
.
.
Bakery
"hyung, aku ingin cake ini" tunjuk taeoh kesalah satu cake yang dipajang di toko kue.
"chocolate blueberry" ucap sehun kepada pelayan kue.
"hyung, begitu tiba di rumah aku ingin langsung makan ini dan menonton pororo, ne?" ucap taeoh.
"kau harus mengganti bajumu lalu mencuci kakimu baru bisa menonton pororo" ucap sehun sembari membayar cake dikasir.
"ne, allgesseumnida" ucap taeoh patuh.
"kajja" taeoh tersenyum dan segera meraih tangan kanan sehun kedalam genggaman tangannya.
...
"issh, kenapa pembantu itu pulang nya lama sekali? Aku harus segera mencuci sepatuku ini. tidak mungkin aku masuk kedalam mobil dengan sepatu berbekas kotoran begini" dumel taemin.
"pororo, petty, crong, loopy, eddy, pobby, harry. maja hyung?" tanya taeoh usai menyebutkan nama karakter didalam kartun kesukaannya.
"ne" jawab sehun sambil menatap lurus kearah taemin yang masih berdiri didepan ditempat awal sebelum ia pergi.
"eo- ahjussi" taeoh segera berjalan menghampiri taemin. "ahjussi apa yang kau-ukkhh ahjussi kau bau" taeoh langsung menutup hidungnya saat mencium bau-bau tidak sedap didekat taeoh.
"yya, kenapa kau pergi begitu saja sebelum membantuku?" omel taeoh.
"ahjussi kau bau seperti anjing peliharaan shin ahjumma" ucap taeoh
"mwo? YA! kau tak lihat aku menginjak kotoran anjing peliharaan tetanggamu, eoh?" gerutu taemin. Sehun menghela nafas dan segera membuka pintu gerbang rumah nya.
"ahjussi, lepas sepatumu. kau akan membuat halaman rumah kami bau kotoran" ucap taeoh.
"m-mwo? Aku harus telanjang kaki masuk kedalam rumah, begitu?"
"geurom. aku tak ingin rumput di sini semuanya layu karena terinjak kotoran dari sepatumu" taemin mendengus kesal mendengar ucapan taeoh. Ia pun terpaksa melepaskan sepatunya di kedua kakinya dan berjalan masuk kedalam rumah sambil berjinjit.
"yya, eoddiga? Bersihkan sepatuku" pinta taemin. Sehun melirik sedikit kearah taemin dan sepatunya yang di tenteng oleh taemin.
"andwae. Sehun hyung harus memotong cake dan menemaniku menonton pororo" sela taeoh.
"m-mwo? po-pororo?" ucap taemin.
"ne. ahjussi, kau bersihkan di teras saja. kajja, hyung" taeoh langsung menarik tangan sehun dan membawanya masuk kedalam rumah.
"issh,menyebalkan" dumel taemin
...
taemin berjalan menuju ruang tengah usai mencuci hak sepatu nya yang kotor karena menginjak kotoran. Begitu tiba di ruang tengah, ia langsung mendengar suara tawa taeoh yang kencang karena sedang menonton kartun pororo di TV.
"cih nonton begituan saja pakai ketawa" gerutu taemin lalu melirik kearah jam dinding. "jongin pulang jam berapa ya?"
"dia akan pulang sebelum jam makan malam" taemin menoleh kesamping dan terkejut melihat sehun yang baru saja berjalan melewatinya sembari membawa sepiring kue yang sudah di potong.
"masitta." ucap taeoh sambil menatap potongan cake yang baru saja diletakkan ehun diatas meja beserta segelas jus strawberry.
"yya, kau hanya membawa sepiring? Kau anggap aku ini apa? Orang yang menumpang cuci sepatu?" tegur taemin.
"aku akan siapkan" ucap sehun seraya berjalan menuju dapur. Taemin mendesis dan segera mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
"taeoh-ya, kenapa kau betah sekali bersama pengasuh itu?" tanya taemin.
"wae? Sehun hyung orang yang baik. aku menyukainya" jawab taeoh sambil memakan cake nya.
"apanya yang baik? Pengasuhmu itu ingin menjauhkan ayahmu darimu" ucap taemin.
"Geundae, sehun hyung bukan penculik yang bisa menjauhkan appa dari taeoh" ucap taeoh
"eissh, bukan penculik maksudku. Pengasuhmu itu menyukai ayahmu dan dia ingin ayahmu pergi darimu" ucap taemin.
"aniyo. Sehun hyung tidak menyukai appa. Sehun hyung sendiri yang bilang" ucap taeoh.
"m-mwo? Je-jeongmalyo?" taeoh mengangguk dan kembali menonton.
.
.
.
"ada perlu apa kau datang kemari?" tanya jongin dengan wajah masam melihat taemin berada di ruang makan.
"hanya datang berkunjung sekalian bermain bersama taeoh" jawab taemin tersenyum manis. Jongin memutar bola matanya keatas dengan wajah malas.
"appa, taemin ahjussi tadi menginjak kotoran becky. anjing peliharaan shin ahjumma" lapor taeoh.
"m-mwo? Me-menginjak kotoran?" jongin mengernyitkan dahinya sambil menatap taemin yang kini tengah mendengus kesal.
"a..aku hanya kurang beruntung" ucap taemin sambil tersenyum kikuk.
…
"jong, kau masih marahan dengan yimo mu?" tanya taemin.
"biasa saja. sepertinya hanya yimo yang marah akibat perbuatannya sendiri" jawab jongin.
"yimo marah karena namja ini" taemin melirik sedikit kearah sehun yang baru saja meletakkan sepiring buah diatas meja.
"yya, jaga ucapanmu!" ucap jongin.
"aku benar kan? Kalau kau tak mengajak namja ini untuk kembali bekerja di rumahmu, kau dan bibi mu tak akan bertengkar. Kedatangan namja ini seperti malapetaka" ucap taemin.
"YA! Kalau tujuanmu datang ke rumah ini hanya untuk menjelek-jelekkan sehun sebaiknya kau segera keluar. Keluar sebelum taeoh mendengar kata-kata kasarmu. Kau dan yimo memang 11:12" omel jongin seraya bangkit berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
"yya, jongin. Kau mengusirku?" seru taemin. "issh" taemin mendesis sebal lalu menatap sehun yang masih berdiri.
"ini semua salahmu" ucap taemin lalu berjalan meninggalkan rumah jongin.
...
"taemin ahjussi mengatakan hal aneh tentangmu" sehun hanya diam sambil membenarkan posisi selimut taeoh.
"dia bilang kau ingin menjauhkanku dari appa. tidak kan?" tanya taeoh.
"tidak" jawab sehun.
"sudah kuduga. hyung kan bukan penculik yang akan menjauhkan appa dariku" ucap taeoh. sehun mengangguk kecil dan segera membuka buku cerita yang akan dibacakannya untuk taeoh.
…
"sehun-ssi" sehun menoleh sedikit kebelakang begitu menutup rapat pintu kamar taeoh
"jangan dengarkan perkataan taemin tadi. kau tahu kan dia dan bibi ku itu 11:12" ucap jongin.
"allgesseumnida" ucap sehun.
"chankam-" sehun langsung berhenti berjalan, kedua matanya melirik tangan kanan jongin yang kini memegang pergelangan tangannya. "mian" jongin langsung melepaskan tangannya yang menggenggam tangan sehun.
"besok. bisakan kau tidak ambil cuti? Aku ingin kau dan taeoh berada di rumah" tanya jongin. Sehun terdiam sambil memasang wajah berfikir.
"ada sesuatu yang ingin aku lakukan bersama kalian berdua" ucap jongin.
"allgesseumnida" ucap sehun.
"gomawo" ucap jongin. sehun mengangguk kecil.
.
.
.
Esok harinya
"hyung, kau tidak mengambil cuti?" sehun yang baru saja meletakkan sarapan diatas meja langsung menoleh kebelakang begitu mendengar suara taeoh. "bukankah ini akhir pekan?" tanya taeoh masih dengan wajah mengantuk.
"animnida" ucap sehun.
"hhoaahm- annyeong" ucap jongin begitu tiba di ruang makan.
"annyeonghasimnikka" ucap sehun sebelum kembali ke dapur untuk mengambil susu.
"appa, sehun hyung tidak mengambil cuti?" tanya taeoh.
"ani. appa meminta nya untuk berakhir pekan disini. Kita bertiga." jawab jongin.
"jeongmalyo? Kita mau jalan-jalan bertiga?" tanya taeoh.
"aniya. kita tak akan keluar rumah. Kita akan menghabiskan waktu di taman belakang" jawab jongin. Taeoh mengerutkan dahinya dengan wajah tak mengerti akan ucapan ayahnya.
….
"uuwwaah, yeppuda. Hyung, lihat" taeoh mengayunkan tangan kanan sehun begitu melihat jongin berjalan ke taman belakang sembari membawa dua pot bunga iris berwarna ungu. Kedua mata sehun menatap lurus pot bunga yang dibawa jongin.
"sehun, kau suka?" sehun mengalihkan pandangan kedua matanya ke wajah jongin. Jongin tersenyum sambil mengangkat dua pot tersebut.
"appa, kita akan menanamnya di rumah?" tanya taeoh.
"tentu, hari ini kita akan menanam bunga kesukaan sehun dan berkebun. Appa membeli banyak bibit sayuran dan tanaman agar taman kita tak kelihatan gersang" jawab jongin.
"uwwah, chemiso" ucap taeoh segera mengeluarkan kantung berisi bibit sayuran organic dari kantung plastic.
"bunga ini yang kau suka kan?" tanya jongin.
"n-ne" jawab sehun.
"appa, kau membeli bunga yang lain?" jongin menoleh dan melihat taeoh yang tengah menatap bunga berwarna kuning menyala.
"marigold" ucap sehun pelan.
"kau tahu bunga itu? Ahjumma di toko bunga menawarkanku bunga itu, dia bilang bunga itu cocok untuk di tanam di halaman rumah. Warna nya cantik, lihat. kupu-kupu bahkan hinggap dikelopak bunga tersebut" jongin tersenyum sambil menatap taeoh yang tengah menatap kupu-kupu yang hingga diatas kelopak bunga marigold. "ayo. kita tanam bunga kesukaanmu" sehun menganggukkan kepalanya.
...
Sehun meletakkan sekop nya dan melepaskan sarung tangan nya usai bunga kesukaannya sudah dipindahkan dari dalam pot untuk ditanam diatas tanah. Kedua matanya menatap lurus bunga iris berwarna ungu tersebut dengan pandangan kosong.
"iissshh" sehun menoleh kesamping dan melihat taeoh yang tengah kegelian saat ayahnya mengangkat seekor cacing tanah dan menjulurkan kearahnya.
"shireo" tolak taeoh sambil tertawa begitu jongin menyuruhnya untuk memegang cacing. Kedua mata sehun menatap lurus kearah taeoh dan jongin yang tengah tertawa. Benar-benar pemandangan yang bahagia antara anak dan ayah.
"appaaaaa" rengek taeoh sambil menghindar begitu jongin semakin menjahili putra kecilnya.
"araso,araso" jongin segera membuang cacing yang dipegangnya dan menunjukkan kesepuluh jari tangannya didepan taeoh. "tidak ada cacingnya. ayo kita tanam lagi" taeoh tertawa kecil dan kembali berkebun bersama ayahnya.
"eoh hyung, kau sudah selesai menanam bunga nya?" tanya taeoh
"n-ne, aku akan buatkan minuman" jawab sehun seraya bangkit berdiri dan berjalan masuk kedalam rumah.
…..
"siram yang merata" ucap jongin sambil mengarahkan selang yang dipegang taeoh kearah tanaman. taeoh mengangguk patuh dan mengarahkan selang air nya ke semua tanaman yang baru ditanamnya dan juga bunga-bunga disekitar pekarangan rumahnya.
"aigoo. kenapa sehun lama sekali?" gumam jongin sambil menyeka keringat di dahinya. Taeoh tersenyum kecil saat melihat ayahnya kepanasan, ia pun mengarahkan selang air yang dipegangnya kewajah ayahnya.
Sehun yang baru tiba di taman belakang sambil membawa dua gelas air jeruk segar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat taeoh dan jongin yang kini tengah main air. Siapa yang menyangka sikap jongin terkadang bisa kekanak-kanakkan layaknya anak laki-laki berusia 6 tahun.
"kyaaa hyung" sehun melotot kaget begitu taeoh berlari kearahnya sementara jongin berlari dibelakang taeoh sambil membawa selang air.
"tolong aku" taeoh langsung menarik tangan sehun untuk berdiri didepannya. Selang air yang dipegang jongin pun otomatis langsung mengarah kewajah sehun dan membuat tubuh namja tersebut langsung basah kuyup.
"o-oh ma-maaf" jongin yang baru sadar menyemprot wajah sehun langsung menurunkan selang air nya. "mianhae, sehun aku minta maaf" ucap jongin sambil menatap ekspresi wajah shun yang menatapnya dengan datar. Apa sehun marah lagi dengannya?
Kedua mata sehun menatap selang air yang masih dipegang jongin. Taeoh yang berdiri dibelakang sehun melirik sedikit saat tangan sehun merebut selang air yang dipegang jongin dan balik menyemprotkan wajah jongin dengan air. Taeoh yang melihatnya malah tertawa keras.
"appa, kita 1 sama" ucap taeoh diselang tawanya
"yaya, oh sehun. kau balas dendam, eoh?" sahut jongin dan kembali merebut selang air yang dipegang sehun.
"hyung, lariiii" taeoh langsung menarik tangan sehun sambil berlari untuk menghindari jongin yang akan menyiramkan air kepada mereka berdua.
"taeoh, jangan bersembunyi" ucap jongin sembari mengarahkan selang air kearah anaknya yang terus bersembunyi dibalik punggung pengasuhnya.
"ah, appa aku lelah" ucap taeoh sembari berjalan menuju ayahnya
"jeongmalyo? Araso. Kita berhenti main air, kau bisa sakit nanti" ucap jongin menjatuhkan selang air nya dan dengan cepat taeoh memungut kembali selang air tersebut lalu menyemprot tubuh ayahnya dengan selang air. Jongin mengangkat tangannya keatas, untuk menepis air yang terus disemprotkan taeoh ke wajahnya.
"yayaaa taeoh" jongin terus menepis air yang diarahkan taeoh menuju wajahnya, ia mengangkat wajahnya kedepan dan samar-samar kedua matanya menangkap sosok sehun yang tengah menatap lurus kearahnya.
Walaupun pandangan kedua matanya saat ini tidak begitu jelas karena wajahnya terus di semprot air oleh taeoh tapi ia benar-benar yakin bahwa kedua matanya tidak salah menangkap pemandangan didepan matanya kini. Oh sehun tersenyum. Ia yakin namja yang tengah memandanginya itu kini sedang tersenyum kearahnya. Namun perlahan senyuman di wajah sehun memudar seiring dengan semprotan air di wajahnya mengurang.
"ayahmu bisa sakit jika kau terus menyemprot wajahnya" ucap sehun menjatuhkan selang air yang dipegang taeoh.
"baiklah, appa aku menang yes" ucap taeoh senang sambil cekikikan dan berjalan ke pinggir taman untuk meminum air jeruk nya.
"k-kau" kedua mata ehun langsung beralih menatap jongin. Dahi jongin berkerut sambil memerhatikan ekspresi di wajah sehun. "apa aku berhalusinasi?" gumam jongin sambil mengucek matanya.
"kau baik-naik saja?" tanya sehun.
"n-ne, aku baik-baik saja" jawab jongin. Sehun mengangguk kecil dan segera berjalan menghampiri taeoh.
"apa mataku terlalu banyak di semprot air hingga penglihatanku ngawur?" fikir jongin sambil berjalan menghampiri taeoh yang tengah meminum air jeruknya.
Sehun duduk berlutut didepan taeoh sembari menggosokkan rambut basah taeoh dengan handuk yang sudah di bawanya.
"mandi dengan air hangat segera sebelum kau terkena flu, araso?" ucap sehun.
"ne, allgesseumnida" taeoh segera berjalan masuk kedalam rumahnya untuk segera mandi.
"ini" jongin meneguk habis air jeruknya dan menoleh kearah sehun yang menyodorkan selembar handuk berwarna hitam kepadanya.
"kau terlihat basah kuyup" ucap sehun. Jongin langsung menerima handuk pemberian sehun barusan namun handuk yang baru ia terima itu langsung ia lampirkan diatas kepala sehun. Kedua mata sehun membulat saat merasakan kedua tangan jongin yang kini tengah mengusap kepalanya dengan handuk.
"sebelum kau menyuruhku untuk mengeringkan diri sebaiknya kau keringkan dirimu yang basah kuyup juga. Kau bisa jatuh sakit" kedua mata sehun terangkat menatap wajah jongin yang berdiri didepannya. Jongin tertegun begitu kedua matanya kini berada tepat didepan kedua mata sehun. Selalu saja ada hal aneh ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata sehun. Jongin menundukkan sedikit kepalanya dan mendekatkanya kepada sehun.
Kedua tangan sehun yang berada dikedua sisi tubuhnya langsung terkepal erat begitu wajah jongin semakin mendekat. Ia tak bisa menghindar toh tubuhnya terasa kaku untuk ia gerakkan. Mungkin karena gugup. sehun menahan nafas beberapa detik begitu ia merasakan nafas hangat jongin menerpa kulit wajahnya. Saat jarak bibir kedua nya semakin dekat tiba-tiba-
"hhaatcchii" sehun langsung menjauhkan wajahnya begitu jongin tiba-tiba bersin didepannya. Begitu pandangan kedua mata mereka kembali bertemu, mereka langsung berjalan 1 langkah ke belakang dengan wajah kikuk. Sehun langsung mengangkat dua gelas air jeruk yang sudah habis isi nya dan buru-buru berjalan masuk kedalam rumah.
"aiisshh" desis jongin sambil menggosok-gosok hidungnya.
.
.
.
"eoh hyung, wae?" tanya jongin.
"dimana taeoh? Aku rindu mendengar suara keponakan kecilku" jongin berjalan menuju kamar taeoh dan mengintip sedikit dari celah pintu. Dilihatnya sehun yang tengah mengeringkan rambut taeoh.
"dia baru selesai mandi. kau masih lama di jepang?"
"begitulah. Pekerjaanku banyak sekali di Negara ini. Tapi tenang saja. aku sudah belikan oleh-oleh yang banyak untuk taeoh. Aiya, suho bilang sehun bekerja kembali di rumahmu? Apa benar?"
"eoh. kau tahu taeoh, kan? Dia tak mau dengan siapa-siapa jika bukan dengan sehun. Jadi aku minta bantuan nyonya Hong untuk kembali memperkerjakan sehun di rumahku"
"aigoo. taeoh benar-benar menyukai pengasuhnya seperti dia menyukai kyungsoo. Apa kau tak takut rasa sayang anakmu kepada pengasuhnya itu bisa menjadi rasa sayang seorang anak kepada ibunya?"
"n-ne? a-apa maksudmu?"
"hye gyul akan menganggap suzy sebagai ibu nya jika hubungan mereka semakin dekat layaknya ibu dan anak. Kau tahu kan perasaan anak kecil itu bagaimana?"
"a..arra.. geokjongma, hye gyul masih menyayangi Jinri"
"aku tahu dia masih menyayangi ibu kandungnya tapi bisa saja rasa sayangnya sudah terbagi dua. Rasa sayang untuk ibu kandungnya dan rasa sayang untuk pengasuhnya"
"geure? Aku rasa itu tidak apa-apa jika taeoh memang bahagia"
"kau bisa bilang itu tak apa-apa. Jika suatu hari Oh sehun itu kembali berhenti dari pekerjaannya, kau yang akan lebih kerepotan mengurusi taeoh daripada hari sebelumnya setelah pengasuhnya berhenti waktu itu"
"lalu apa yang harus aku lakukan?"
"berikan ibu baru untuk taeoh"
"m-mwo? YA hyung, apa kau gila? Gampang sekalu kau bicara hal begitu"
"wae? Apa seumur hidup kau mau menduda terus-terusan dan taeoh sampai tubuh dewasa tak punya seorang ibu? jong, kau akan kesepian di hari tua nanti jika taeoh sudah dewasa dan tinggal jauh darimu. Lekas cari pengganti kyungsoo, aku yakin kyungsoo juga sedang berharap agar kau segera menemukan penggantinya"
"aissh"
"eh, tapi jangan jadikan nasehatku ini menjadi alasanmu meladeni namja eyeliner tebal itu ya. Aku dan yang lainnya akan setuju jika kau menikah lagi tapi tidak dengan namja pilihan bibi mu itu"
"arayo. siapa juga yang akan menjadikan taemin sebagai ibu baru taeoh? Aku juga bisa memilih seseorang yang baik yang bisa dijadikan sosok ibu bagi taeoh"
"yasudah, titipkan salamku untuk taeoh ya"
"ne, jaga dirimu"
Jongin segera mengakhiri percakapannya ditelfon sambil menghela nafas mengingat ucapan xiumin barusan. Kedua matanya kini menatap foto kyungsoo yang ada diatas meja pajangan.
"apa kau tak ingin mengirimkan seseorang penggantimu kepadaku saat ini?" ucap jongin.
"chogi" jongin langsung menoleh kesamping begitu mendengar suara sehun. "apa kau ingin di buatkan makanan atau minuman hangat?" tanya sehun sambil menatap jongin.
"hoh? E..eoh" jongin menganggukkan kepalanya sambil mengusap tengkuk kepalanya.
"taeoh sudah tidur?" tanya jongin yang kini duduk di kursi pantry.
"ne. mungkin dia kelelahan karena seharian bermain air jadi dia tidur lebih awal" jawab sehun meletakkan teh jahe diatas meja pantry.
"gomawo" ucap jongin lalu menyeduhnya pelan. "kau benar. mungkin dia kelelahan. Kami sudah lama tak bermain seharian di taman belakang" ucap jongin. Sehun mengangguk kecil sembari mengeluarkan bahan masakan yang akan dipakainya untuk membuat sup.
"apa yang akan kau buat?" tanya jongin sambil menopang dagunya menatap sehun yang tengah membuka kulkas.
"sup tomat jamur. taeoh tak suka makan tomat jadi aku tak pernah memasak yang memakai bahan tomat. Berhubung hanya kau yang akan memakannya jadi aku akan menggunakan tomat. Gwenchana?" tanya sehun.
"e-eoh, gwenchana. Aku suka tomat" jawab jongin.
20 menit kemudian
"gomapta" ucap jongin begitu sehun meletakkan sup yang sudah matang diatas meja pantry didepannya. "duduklah. temani aku makan" pinta jongin begitu sehun hendak berjalan meninggalkan dapur. Sehun mengangguk kecil dan segera duduk dihadapan jongin.
"masitta" ucap jongin begitu meminum kuah sup nya. "kau belajar memasak dimana sampai bisa memasak masakan yang enak nya beda tipis dengan masakan suho hyeong?"
"eo-eomma" ucap sehun.
"eomma? Ibu angkatmu?" tanya jongin.
"n-ne"
"mian. aku tak bermaksud mengingatkanmu"
"gwenchanseumnida"
"emm. kau tak ingin mengunjungi makam orang tua angkatmu?"
"an-aniyo. Mereka di kremasi dan abu nya di buang di laut"
"ah, begitu. Kau pasti mengingat mereka dalam hati mu kan?" sehun mengangguk kecil.
"temanmu, bagaimana?" jongin mengamati dengan teliti raut wajah sehun saat ia mula menyinggung masalah teman sehun.
"kau tak ingin mengunjungi temanmu di Busan? Mungkin teman dekatmu ada di Busan" ucap jongin.
"m-molla" ucap sehun.
"kenapa dia pergi hingga kalian lost kontak?" sehun memainkan jari-jemarinya mendengar ucapan jongin.
"sehun?" sehun langsung beranjak berdiri dan mengangkat mangkuk sup milik jongin yang sudah habis, ia langsung memunggungi jongin sambil berjalan menuju bak cucian piring. Saat hendak menyalakan kran air tiba-tiba jongin menahan tangannya dan memposisikan tubuhnya berhadapan dengan jongin.
"kenapa kau selalu menghindar jika menyangkut mengenai temanmu?" tanya jongin. Sehun terdiam sambil mengalihkan wajahnya kesamping agar jongin tak bisa menatap wajahnya. "apa temanmu menyakitimu?"
"aku harus mencuci mangkuknya"
"apa dia yang membuatmu menjadi jarang tersenyum?" raut wajah sehun langsung berubah kaku mendengar ucapan jongin.
"benar? Apa dia melukaimu?" tanya jongin sambil memerhatikan raut wajah sehun. "beri tau aku" sehun menundukkan kepalanya kebawah, masih tak bersuara. Jongin menghela nafas, kedua tangannya tiba-tiba merengkuh kedua pipi sehun, mengangkat wajahnya keatas agar ia bisa menatap wajah namja yang tengah diajaknya bicara itu.
Jongin sedikit terkejut saat melihat butiran air mata yang menetes keluar dari pelupuk kedua mata sehun begitu ia mengangkat wajahnya. Kedua ibu jari tangan jongin perlahan bergerak untuk menyeka air mata di kedua pipi sehun.
"uljimma" ucap jongin. Sehun menatap lurus wajah jongin yang kini beradap dihadapannya. Kenapa perasaannya menjadi lebih tenang mendengar ucapan jongin barusan?
Kedua mata jongin kini menatap lekat kedua mata sehun, mengunci pandangan kedua mata namja di hadapannya. Ia bahkan bisa melihat pantulan dirinya di kedua bola mata sehun saat ini. Perlahan, jongin memajukan wajahnya kearah sehun, menepis jarak dikedua nya sampai benar-benar hilang.
Kedua tangan sehun terkepal kuat saat merasakan sesuatu yang lembut menekan bibirnya. Kedua matanya membulat saking tidak percaya akan apa yang sedang ia alami saat ini. Jongin menciumnya, tepat di bibirnya. Dengan kedua mata yang masih terbuka, ia bisa melihat kedua mata jongin yang kini terpejam sempurna. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini semua terlalu tiba-tiba untuknya.
Tangan kanan jongin perlahan menyusup ke tengkuk belakang sehun, menekan pelan tengkuk namjanya dan membuat ciuman mereka semakin dalam. Entah sejak kapan ia sadari bahwa kedua tangan sehun kini bergerak melingkar di pinggangnya, membuat jarak kedua nya semakin dekat tanpa celah.
Beberapa menit kemudian barulah jongin melepaskan tautan bibirnya dari sehun. Kedua matanya perlahan terbuka begitu juga dengan kedua mata sehun. Ia menatap lekat wajah sehun yang merah. Raut wajah sehun langsung berubah terkejut begitu tatapan kedua matanya bertemu dengan kedua mata jongin, ia langsung mendorong pundak jongin dan berlari meninggalkan dapur.
Bbrraakk
Sehun menutup rapat pintu kamarnya dan langsung mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Ia membuka laci meja disamping ranjangnya dan mengeluarkan syal rajutan yang belum selesai. Ia menatap syal tersebut sebentar lalu tangan kanannya bergerak menuju dada bagian kirinya. Merasakan detak jantungnya kini berdebar tak karuan.
TBC
Uhuk jong uhuk. Cieee akhirnya yang ditunggu-tunggu terjadi senengnyaaa
Untuk semua readers selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin guys. Jangan lupa kasih aku thr ya #ditabokreaders
ps: mungkin aku bisa update setiap hari, end sebelum aku masuk sekolah.. fighting!
