The Mysterious Babysitter
Penulis: evi
Remake: mydhdiah
Cast: oh sehun, kim jongin (kaihun)
Other cast: chanyeol, baekhyun, kris, suho, lay, chen, taeoh, xiumin, taemin, kim seo ra, dll
Genre: romance, family, misteri
WARN: Yaoi, BOYSLOVE, BXB, MPREG/?,DLDR, OOC, TYPO BERTEBARAN
Ps: bold italic flashback
.
.
.
Chap 13
"hyung, mata mu kenapa seperti mata panda?" tanya taeoh memperhatikan wajah sehun yang tengah menuangkan segelas susu untuknya.
"gwenchanseumnida" jawab sehun.
"appa" raut wajah sehun langsung tegang saat ia mendengar suara langkah kaki berjalan menuju ruang makan. Ia langsung berbalik kebelakang dan menundukkan kepalanya.
"selamat pagi" sapanya lalu berjalan cepat menuju dapur tanpa sedikitpun mengangkat wajahnya untuk melihat wajah jongin. Dahi jongin mengerut melihat sikap sehun. Ia pun segera mendudukkan tubuhnya diatas kursi.
"appa, kau tahu mata sehun hyung hari ini terlihat seperti mata panda" ucap taeoh.
"ne? Ma-mata panda?" tanya jongin sambil mengoles roti nya dengan selai.
"ne. Apa dia tak bisa tidur semalam?" tanya taeoh. jongin terdiam sambil menatap rotinya.
…
Sehun menggosok-gosokkan sponge yang berbusa diatas alas piring berkali-kali, ia memejamkan kedua matanya sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri, mencoba menghapus bayangan semalam.
"sehun-ssi"
kedua mata sehun langsung terbuka dengan wajah kaget, piring yang dipegangnya reflex terjatuh didalam bak, untung saja tidak sampai pecah.
"ada yang bisa ku bantu?" tanya sehun sambil menghadap kearah jongin sedikit. Jongin mengerutkan dahinya sambil menatap wajah sehun, ia menundukkan wajahnya ke bawah dan mensejajarkan wajahnya dengan sehun. Kedua mata sehun membulat begitu jongin mendekatkan wajahnya.
"taeoh benar. matamu seperti mata panda. Apa kau tak bisa tidur nyenyak semalam? Apa kau baik-baik saja?" tanya jongin.
"a-ah i-itu, aku tidak apa-apa" ucap sehun sambil menjaga jarak wajahnya dari jongin. Melihat sikap sehun yang menghindar, jongin pun langsung berjalan mundur beberapa langkah dari sehun.
"kalau kau kurang tidur kau bisa istirahat. Toh, kemarin kau juga tak mengambil cuti. Aku akan meminta suho hyeong untuk menjemput taeoh nanti" ucap jongin.
"ga-gamsahamnida" ucap sehun. jongin mengangguk dan segera berjalan meninggalkan dapur.
.
.
.
"taeoh-ya, hari ini suho samchon yang akan menjemputmu. Jadi kau tunggu di ayunan taman nurserymu kalau pamanmu belum datang, araso? Jangan ikuti orang asing yang tiba-tiba mendatangimu. ingat itu" ucap jongin.
"ne, allgesseumnida" ucap taeoh patuh.
"yasudah, lekas turun. sebelum gerbang nursery mu di tutup" taeoh mengangguk, ia mengecup sebentar pipi ayahnya sebelum turun dari mobil. Jongin tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah taeoh yang tengah berjalan menuju gerbang nurserynya. Setelah taeoh masuk kedalam nursery nya, jongin langsung mengeluarkan ponsel dari saku jas nya dan menghubungi sekretarisnya.
"tidak ada meeting atau bertemu klient kan hari ini?"
"…"
"baguslah.. Tinggalkan saja memo atau map-map diatas meja kerjaku. Aku tidak ke kantor hari ini.."
"…"
Jongin segera menyudahi percakapannya ditelfon dan segera menyalakan mesin mobilnya.
.
.
"kau kelihatan lebih cerah, Oh" ucap mirae. Sehun mengangguk kecil.
"tuan kim dan putra nya memperlakukanmu dengan sangat baik, bukan?" sehun mengangguk. Mirae memperhatikan sebentar wajah sehun.
"kau kenapa? Apa ada yang kau pikirkan?"
"animnida, gwenchanseumnida"
"hhmm aiya, saat aku pulang ke Busan kemarin, aku bertemu dengan beberapa orang yang dulu satu sekolah denganmu. Kau ingat namja bernama Huang zitao?" sehun mengangguk kecil.
"dia baru saja membuka sebuah bakery yang enak di sana. Dia menanyakan bagaimana kabarmu. Oh, apa tidak sebaiknya kau mengunjungi Busan dan bertemu dengan teman-teman lamamu? Walaupun kau tak akrab dengan orang-orang di kelasmu setidaknya mereka masih mengingatmu. mungkin saja namja itu juga ada di Busan" sehun mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan mirae.
"Oh, apa kau tak ingin tahu kabar nya? Dia satu-satu nya orang yang sangat dekat denganmu kan dulu?" tanya mirae.
"dulu" lirih sehun.
"ayolah, Oh mungkin saja kalian akan bertemu kembali jika kau mengunjungi Busan beberapa hari. Apa aku harus memintakan izin kepada tuan kim agar dia bisa mengizinkanmu?"
"tidak usah a-aku akan bicara dengannya"
"geure? Jadi kau ingin ke Busan?" sehun mengangguk kecil.
"aku senang mendengarnya" ucap mirae.
.
.
.
Kedai
"ahh, babo. inikan hampir mendekati musim dingin. Orang aneh mana yang akan memesan ice cream di musim seperti ini" ucap jongin dengan wajah bosan sambil menatap seisi ruang kedai tempatnya berada. Ia kira dengan mendatangi tempat ini, ia akan menemukan sosok sehun didalam kedai tapi hampir setengah jam ia berada di kedai, sosok sehun tak kunjung terlihat oleh kedua bola matanya.
"lebih baik aku pesan minuman panas saja" jongin segera mengambil buku menu diatas meja dan membuka nya. "agas-" jongin yang hendak memanggil pelayan kedai langsung mengurungkan niatnya, mulutnya langsung membentuk huruf O begitu melihat sosok namja yang entah sejak kapan sudah duduk dihadapannya.
"s-sehun?" ucap jongin menahan suaranya agar tak berteriak mengingat ia di tempat umum sekarang. Ia langsung menutup buku menunya dan memasang wajah santai.
"aku ingin bertemu klient disini" ucap jongin merapihkan dasinya yang sempat ia regangkan sedikit. sehun hanya diam sambil menatap lurus kearah jongin.
"yya, aku benar-benar tak ada niat untuk mengikutimu lagi. Sungguh" ucap jongin mengangkat sebelah tangan kanannya keatas seperti orang yang sedang melakukan sumpah di ruang pengadilan.
"arra" ucap sehun.
"ke-kenapa kau duduk disini? Bukankah kau biasanya duduk disana?" tunjuk jongin kearah meja kosong yang biasa dijadikan tempat untuk sehun merenung sambil menatap dua mangkuk ice creamnya.
"aku ingin minta izin" ucap sehun.
"hah? Minta izin? Izin apa?" tanya jongin.
"aku ingin ke Busan" jawab sehun.
"n-ne? Bu- busan? Untuk?"
"mengunjungi beberapa teman lama" jongin menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban sehun.
"berapa lama?" tanya jongin.
"4 hari 3 malam" jawab sehun.
"4 hari 3 malam? Tak lebih kan?" tanya jongin.
"animnida" jawab sehun.
"baiklah. Tapi kau harus berpamitan kepada taeoh sebelum pergi. kau tahu kan taeoh susah untuk di tinggal oleh kau"
"ne, allgesseumnida" ucap sehun lalu beranjak berdiri.
"e-eoddi?" tanya jongin.
"bukankah anda sedang menunggu klient? Aku akan pindah ke meja lain" ucap sehun.
"tidak usah. Sepertinya klient nya tak datang. Lebih baik kita pergi saja dari tempat ini. Kajja" sehun melotot begitu jongin tiba-tiba menarik tangannya dan membawa nya keluar dari kedai.
.
.
.
"taeoh" baekhyun melambaikan tangannya begitu melihat sosok taeoh yang baru saja keluar dari nursery.
"samchon" seru taeoh sembari berlari menghampiri suho dan baekhyun.
"appa mu meminta samchon untuk menjemputmu. Hari ini kita main di resto samchon ok?" usul suho.
"ayay ne samchon" ucap taeoh girang.
"kajja" baekhyun segera membawa taeoh masuk kedalam mobil bersama suho.
...
"eoh, ada taeoh juga. Kalian habis menjemputnya?" tanya chanyeol begitu tiba di resto.
"ne, jongin menitipkan anaknya disini. Sehun sedang beristirahat, begitu kata jongin" jelas suho.
"geure? Aneh nya. Jongin juga tak ada di kantor. kukira dia sedang ambil cuti untuk menjaga taeoh" ucap chanyeol.
"apa maksudmu jongin tak ada di kantor?" tanya suho.
"sekretaris nya bilang kalau jongin menelfon dan mengabari bahwa hari ini dia tak datang ke kantor. Entah apa alasannya" jawab chanyeol.
"taeoh-ya, kau tahu dimana appa mu sekarang?" tanya baekhyun.
"mungkin bersama hyung" ceplos taeoh sambil melipat kertas origaminya.
"mwo? Apa maksudmu, taeoh-ya?" tanya chanyeol kaget.
"mungkin taeoh hanya asal bicara. Namanya juga anak kecil chan" ujar baekhyun.
"tapi bisa saja yang dikatakan taeoh benar" ucap suho. Chanyeol mengerutkan dahinya dengan wajah bingung.
"taeoh, kau tahu darimana kalau appa mu bersama pengasuhmu saat ini?" tanya baekhyun.
"hheemm hanya menebak karena appa dan sehun hyung selalu bersikap aneh di rumah" ucap taeoh sambil melipat-lipat kertas origaminya.
"bersikap aneh? Bagaimana?" tanya chanyeol dengan wajah ingin tahu.
"hhmm setiap pagi mereka selalu bertingkah aneh" ucap taeoh.
"geure? Mereka bertingkah bagaimana?" tanya chanyeol. Taeoh menghentikan aktivitasnya melipat kertas origami.
"ini hyung" taeoh mengangkat tangan kanannya. "ini appa" taeoh mengangkat tangan kirinya. chanyeol dan yang lainnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"saat hyung mau menyentuh ini tiba-tiba" taeoh meletakkan tangan kanannya diatas kertas origaminya berwarna hijau. "appa juga" taeoh meletakkan telapak tangan kirinya diatas punggung tangan kanannya.
"m-mwo? Mereka bergenggaman tangan di meja makan?" pekik chanyeol.
"eissh, itu bukan bergenggaman tangan. mungkin tangan mereka berdua tak sengaja bersentuhan saat hendak menyentuh barang yang sama" ucap suho.
"lalu? Apa lagi?" tanya baekhyun.
"hhmm appa dan hyung mengobrol didepan pintu kulkas" ucap taeoh.
"m-mwo?! Mengobrol didepan pintu kulkas?" pekik chanyeol.
"appa bilang dia membantu hyung memasukkan kimchi kedalam kulkas" ucap taeoh.
"mwo?! Membantu memasukkan kimchi kedalam kulkas? Seingatku, aku memberikan kimchi yang ditaruh didalam Tupperware bukan didalam kendi. Kenapa memasukkan kimchi saja pakai di bantuin?" fikir suho heran.
"lalu apa lagi?" tanya baekhyun.
"saat taeoh mau ikutan, appa langsung menyuruh sehun hyung membawaku kedalam kamar.. selesai" ujar taeoh dan kembali melipat kertas origaminya.
"anehnya, tingkah mereka itu kenapa?" chanyeol menggaruk tengkuk kepalanya.
"seperti anak kucing yang sedang kasmaran" celetuk baekhyun.
"mwo?" kedua mata suho dan chanyeol langsung melotot mendengar ucapan baekhyun.
"samchon, kasmaran itu apa?" tanya taeoh.
"kau tak perlu tahu taeoh" ucap baekhyung sambil mengusap kepala taeoh.
"hoh ini benar-benar aneh" gumam chanyeol sambil mengusap dagunya.
.
.
.
"yeppo" kedua mata sehun kini menatap lurus sepasang kekasih yang tengah memasangkan syal di leher pasangan masing-masing. Kedua matanya bergerak menatap lurus syal berwarna abu-abu yang melingkar di leher sepasang kekasih yang berada dihadapannya.
"kau mau membeli syal?" sehun langsung menoleh kearah jongin yang berdiri disampingnya.
"nyonya Hong bilang kau suka merajut. bukankah kau sudah memiliki banyak syal hasil rajutanmu sendiri?" tanya jongin. Sehun mengangguk kecil seraya memutar tubuhnya kebelakang dan berjalan keluar dari toko yang menjual pakaian hangat.
"apa kau tak mau membeli apa-apa untuk persiapanmu ke Busan?" tanya jongin.
"tidak" jawab sehun.
"kau tak mau membawakan sesuatu untuk temanmu?" langkah kaki sehun langsung berhenti begitu mendengar ucapan jongin.
"ny. Hong bilang ada satu syal yang belum kau selesaikan. Apakah syal itu sudah selesai sekarang?" tanya jongin
"itu bukan urusanmu" ucap sehun dengan nada sinis dan kembali berjalan.
"wae? Hari ini hari bebasmu. kau bukan bekerja untukku dan aku tidak memperkerjakanmu. Aku bisa bertanya sebagai seorang teman kan?" ucap jongin sambil menyamai langkah kakinya dengan sehun.
"kau bukan temanku" ucap sehun.
"jadi kau menolak tawaranku untuk berteman? Apa menjadi temanmu harus memiliki kriteria khusus?" tanya jongin.
"jongin-ssi"
"jongin-ssi? oh kau baru saja memanggil namaku. bukankah kau baru saja mengartikan hubungan kita sebagai pertemanan?" sehun menghembuskan nafasnya dengan wajah frustasi. "kajja, chingu" jongin tersenyum dan kembali menarik tangan sehun.
...
"gamsahamnida" ucap jongin begitu pelayan restaurant mengantarkan 2 piring steak pesanannya dan sehun lalu meletakkanya diatas meja.
"taeoh"
"taeoh sudah makan. Dia kan berada di restaurant suho hyeong, tak mungkin suho hyeong lupa memberi makan keponakan kecilnya" ucap jongin sembari memotong daging steak nya. "wae? kau khawatir taeoh belum makan?"
"an-animnida" ucap sehun sambil menatap steak dihadapannya. Saat ia hendak menusukkan garpu ked aging steaknya tiba-tiba jongin mengangkat piring steak miliknya dan menukarnya dengan piring steak milik jongin yang daging nya sudah di potong-potong. Kedua mata sehun langsung menatap kearah jongin.
"makanlah" ucap jongin sambil tersenyum.
"te-terimakasih" ucap sehun sambil menusuk daging steak nya dengan garpu.
.
.
.
Restoran
"hyunggggg" seru taeoh sembari berlari kecil menghampiri sehun yang masuk kedalam resto milik suho bersama jongin. Chanyeol dan baekhyun saling menyikut satu sama lain begitu melihat sehun dah jongin datang bersama.
"hyung dan appa datang bersama?" tanya taeoh. sehun hanya diam sambil melirik kearah jongin.
" taeoh benar kan samchon kalau ap- mmpphh" chanyeol langsung membekap mulut taeoh dan mengangkat taeoh kedalam gendongannya.
"yya, kau membuat anakku tak bisa bernafas babo" omel jongin.
" hehe mian, mian" chanyeol terkekeh kecil lalu membisikkan sesuatu kepada taeoh.
"allgesseumnida" ucap taeoh dengan wajah patuh.
"jongin kau datang menjemput taeoh bersama se-sehun?" suara suho semakin memelan begitu melihat sosok sehun yang berada didalam restaurantnya.
"annyeonghasimnikka" ucap sehun menundukkan kepala didepan suho.
"e-eoh, annyeong, kalian sudah makan?" tanya suho.
"kami sudah makan" jawab jongin.
"kami?" ucap chanyeol dan baekhyun dengan suara setengah berbisik.
.
.
.
"mwo? hyung kau mau pergi?" tanya taeoh begitu tiba di rumah.
"ne" jawab sehun.
"kau mau pergi lagi? Waeyo? aku tak menangis kan?" tanya taeoh dengan wajah merengut.
"aku hanya pergi sebentar. Akhir pekan aku sudah di rumah" ucap sehun.
"jincaa? Kau hanya pergi sebentar bukan untuk selamanya kan?" sehun menggeleng.
"kau mau kemana? Aku ingin ikut" tanya taeoh.
"Busan. kau tak boleh ikut. Aku kesana bukan untuk liburan" jawab sehun.
"geure? Aratsoyo" ucap taeoh dengan wajah sedih.
"jaga sikapmu selama aku pergi. Jangan menyusahkan ayahmu dan yang lainnya, araso?"
Taeoh mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk sehun. Kedua mata sehun membulat begitu taeoh memeluknya. Ia hanya diam dan tak memberikan penolakan atas tindakan taeoh saat ini. Entah kenapa ia merasa nyaman saat dipeluk taeoh. Apa karena bocah kecil ini menyayanginya? Mungkin.
.
.
Esok harinya
"oh sehun ke busan?" tanya kris.
"eoh. jongin baru saja menelfon dan meminta tolong untuk menjemput taeoh lagi karena sehun sedang pulang ke kampung halaman orang tua angkatnya" jawab suho.
"geure? Mungkin dia mau menemui temannya yang dibahas waktu itu" ujar kris.
"eng hyeong" suho menarik bangku dan duduk dihadapan kris.
"apa? Kau seperti mau membuat pengakuan dosa didepan pastur saja" tanya kris.
"kemarin taeoh bercerita-" suho membuka mulutnya dan menceritakan semua yang diucapkan taeoh kemarin kepada nya, chanyeol dan baekhyun mempraktekkannya.
"kasmaran? Mwoya" kris tertawa kecil sambil meminum teh jahe nya.
"aish, hyeong. bisa saja kan. Anak kecil itu tak pernah berlebihan kalau bercerita. kemarin saja jongin tak datang ke kantor dan oh sehun sedang ambil cuti. Malam harinya mereka datang bersama untuk menjemput taeoh bahkan mereka sempat makan bersama sebelum datang kemari. Bukankah terjadi sesuatu diantara mereka?" tanya suho.
"yakali. Memangnya kenapa kalau terjadi sesuatu diantara oh sehun dan jongin?" tanya kris.
"hanya aneh saja hyeong. kau tahu sikap suzy" suho menggerakkan jari-jemarinya dengan wajah bingung.
"memang tipe jongin seperti itu kan? kyungsoo juga bukan orang yang bawel dan aktif seperti xiumin. Kau ingat hari pertama xiumin memperkenalkan kyungsoo kepada kita? Dia begitu tertutup dan pemalu, berjam-jam dia terus menundukkan kepalanya ke bawah, tak berani menatap wajah kita bertujuh seakan dia sedang dikerumuni para bandit saja" oceh kris sambil geleng-geleng kepala.
"geure. Diantara kita bertujuh hanya jongin yang berani menghampiri kyungsoo dan mengajaknya bicara duluan" ucap suho.
"yahkan jongin memang lebih tertarik kepada namja yang seperti itu bukan namja yang suka menyerang seperti lee taemin itu"
"kau benar. Mungkin karena kyungsoo dan sehun itu tidak mirip dengan bibi nya"
"bisa jadi. kalau lee taemin itu kan 11:12 dengan bibi nya jongin. Pantaslah jongin anti sekali dengannya"
….
kantor
"apa-apaan ini? ada apa dengan proses pembangunan di Changwon?" tanya jongin begitu membaca map yang baru diberikan sekretarisnya.
"ada sedikit masalah, sajangnim. Kemarin mandor menelfon kemari dan memberitahukan bahwa-" jongin menaikkan sebelah alisnya mendengar penjelasan sekretarisnya.
"anda bisa mengirim karyawan lain untuk melihat proses pembangunannya"
"tidak usah. siapkan tiket pesawat untukku. Kalau perlu yang malam ini"
"ne, sajangnim" jongin segera merogoh ponselnya begitu sekretarisnya keluar.
"hoh benar-benar suatu kebetulan" gumam jongin sambil tersenyum.
.
.
.
Busan
"sehun?" pekik seorang namja yang baru saja keluar dari toko roti.
"sudah lama tidak bertemu, tao-ssi" sapa sehun sambil menundukkan kepalanya.
"omo! Ini benar-benar Oh sehun?" tanya tao.
"n-ne" jawab sehun.
"uwwaah, kau tak banyak berubah" ucap tao sambil memeluk sehun. "beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan ahjumma yang menjadi tetanggamu. Kau tinggal dengannya di seoul?"
"ne"
"pantas saja kau tak pernah ada kabar ternyata kau tinggal di Seoul. Banyak anak-anak yang menanyai dirimu karena kau tak datang di acara kelulusan sekolah"
"jwesonghamnida"
"eissh, jangan bicara terlalu formal. kita kan teman lama" sehun mengangguk kecil.
.
.
Incheon airport
"appa, bawakan oleh-oleh ne" ucap taeoh.
"ne, appa akan membelikanmu banyak oleh-oleh ,tapi kau harus menjaga sikapmu selama tinggal bersama paman-pamanmu ne?" ucap jongin.
"ne, allgesseumnida" jongin tersenyum sambil mengusap puncak kepala taeoh
"mendadak sekali, jong. Apa kau tak bisa menyerahkan urusan pekerjaan kepada bawahanmu?" tanya chanyeol.
"tidak bisa, harus aku sendiri yang turun tangan. lagipula aku hanya pergi selama 3 hari. Akhir pekan pasti aku sudah pulang" jawab jongin.
"sehun hyung juga akan pulang akhir pekan" sahut taeoh.
"ah, oh sehun ke busan ya?" tanya chanyeol.
"e-eoh" jawab jongin.
"hoh kebetulan ya, bukankah tempat proyek pekerjaanmu di Changwon, dekat dengan Busan kan?" tanya chanyeol.
"e-eoh wae? Kau mau menitip oleh-oleh dari Busan?" tanya jongin.
"aniya. setiap akhir tahun chen selalu membawakan oleh-oleh dari kampung halamannya itu. Aku tidak ingin oleh-oleh dari Busan" jawab chanyeol.
"taeoh mau" ucap taeoh.
"geure? Appa akan membelikanmu banyak oleh-oleh nanti." ucap jongin. Chanyeol hanya geleng-geleng kepala.
"aku harus segera masuk sekarang. yeol, titip taeoh" ucap jongin.
"geokjongma, kami akan menjaga taeoh selama kau pergi" ucap chanyeol.
"gomawo. taeoh, appa pergi ne, ingat pesan appa tadi, araso?" ucap jongin.
"ne" jongin tersenyum lalu mengecup sebentar pipi putranya.
"appa pergi. annyeong" taeoh melambaikan tangannya kearah jongin yang perlahan mulai masuk kedalam gerbang keberangkatan.
"kibe kajja, taeoh" ucap chanyeol sambil menggenggam tangan taeoh dan berjalan meninggalkan bandara.
.
.
Busan
Esok harinya
"bukankah banyak yang telah berubah dari gedung ini?" kedua mata sehun menatap bangunan sekolah SMA nya dulu. Gedung sekolah lama nya benar-benar terlihat berbeda dari ingatannya.
"kau mau menemui ahn sonsaengnim? Beliau masih mengajar disekolah ini" usul tao.
"ne" ucap sehun.
"ayo" sehun mengangguk dan segera berjalan masuk bersama tao.
"lapangan sepak bola nya masih sama. yang tak berubah dari sekolah ini hanya lapangannya saja" oceh tao. Kedua bola mata sehun beralih menatap segerombolan anak yang tengah bermain sepak bola. Langkah kaki nya terhenti saat melihat bola kaki menggelinding kearahnya dan berhenti tepat didepan kedua kakinya.
"oh sehun"
Raut wajah sehun langsung berubah tegang saat samar-samar ia mendengar suara seseorang yang berasal dari masa lalu nya.
"oh sehun, tolong tendang bola nya kemari"
"ah, mian. aku lupa kalau kau tak suka bermain sepak bola"
"hyung" sehun tersentak kaget saat mendengar teriakan anak-anak yang berada dilapangan.
"hyung, tolong tendang bola nya kemari" pinta anak-anak yang berada di lapangan tersebut. Kedua mata sehun menatap lurus bola kaki yang ada didepan kedua kakinya saat ini.
"kau tak bermain bersama yang lainnya? Kau tak suka olah raga ya? Olah raga itu sehat dan menyegarkan"
"hyung!" tao menoleh kebelakang dan menatap sehun yang melamun. Sebelum anak-anak yang ada dilapangan terus berteriak, tao segera menendang bola kaki yang ada didepan kaki sehun kearah lapangan.
"gomawo, hyung" ucap anak-anak yang ada dilapangan.
"sehun? Kau baik-baik saja?" tanya tao.
"ah i-iya" jawab sehun dan kembali berjalan.
…..
"kau lihat? Loker disini sudah bagus-bagus. tidak seperti zaman kita dulu, yakan?" ucap tao. Sehun mengangguk kecil sembari berjalan disepanjang koridor bersama tao.
"Oh sehun" sehun langsung menolehkan wajahnya kebelakang. Ia langsung melihat bayangan sesosok pria yang memakai seragam dan tengah berlari kecil kearahnya.
"kau sudah mengerjakan PR MTK?"
"kau tahu aku tidak suka MTK. Aku ini tidak sepertimu, sehun"
"aku boleh pinjam kan? Ku traktir 1 mangkuk ice cream chocolate, eotte?"
"sehun" sesosok bayangan namja yang tengah dilihat sehun langsung hilang saat merasakan pundak nya ditepuk oleh tao.
"kau kenapa? Kantor guru sudah dekat" sehun menggeleng pelan dan kembali berjalan bersama tao.
.
.
Changwon
"aigoo sajangnim, kau sampai repot-repot datang kemari untuk melihat permasalahan dalam proses pengerjaan pembangunan ini. kami jadi tidak enak denganmu" ucap mandor.
"aniya, gwenchana. Aku juga ingin melihat proses pengerjaan secara langsung" ucap jongin sambil tersenyum.
"tapi kami masih merasa bersalah. Anda jauh-jauh datang dari seoul kemari hanya untuk mengurusi masalah kecil begini. Kami benar-benar membuang waktu bekerja anda jadinya"
"eissh, gwenchana. Lagipula, aku ingin refreshing sebentar"
"anda ingin jalan-jalan di daerah changwon?"
"entahlah. mungkin aku akan ke Busan. Aku ada urusan disana"
"ah, begitu" jongin mengangguk kecil dan kembali berkeliling disekitar kawasan pembangunan.
"ini hari ke-2 nya di Busan. Apa dia sudah bertemu dengan temannya itu?" fikir jongin sambil menatap arlojinya.
.
.
Busan
"aku benar kan? Semua guru bahkan masih ingat denganmu dan senang melihatmu menampakkan dirimu di kota ini setelah sekian lamanya" oceh tao begitu keluar dari kantor. Sehun mengangguk sambil menghela nafas lega. Rupanya ia di ingat banyak orang di kota ini.
"kau sudah tahu kabar dia?" tanya tao.
"an-aniyo" jawab sehun.
"geure? Dia juga sama denganmu. tak ada kabar. Pindah sekolah tiba-tiba dan sampai sekarang tak pernah mengunjungi kota ini. Mungkin dia sudah terlalu nyaman tinggal di luar negeri, yakan?" tanya tao.
"n-ne" jawab sehun dengan wajah lesu.
"ahh sehun, kau tunggu dilobi saja ya. aku ingin ke toilet" ucap tao sambil memegangi perutnya dan langsung berlari menuju toilet.
….
Sehun mendongakkan wajahnya sedikit keatas begitu ia tiba didepan lobi. Dilihatnya warna langit yang kini kelihatan gelap tak seperti tadi, biru cerah. Sedikit demi sedikit, butiran-butiran air turun dari langit dan membuat jalanan sekolahan basah. Sehun menggeser tubuhnya kesamping agar memudahkan segerombolan anak-anak yang tadi bermain sepak bola di lapangan bisa langsung masuk kedalam gedung sekolah agar tak kehujanan.
Jjddeerr~~ sehun menggenggam kedua tangannya dengan erat begitu petir menyambar tiba-tiba. Tatapan kedua matanya langsung berubah kosong saat ia mengingat sesuatu.
Flashback
"oh sehun…" sehun yang tengah berdiri didepan lobi sekolahnya untuk meneduh dari hujan langsung menoleh kesamping, menatap seorang pria yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
"kau tak bawa payung juga?" sehun menggeleng pelan.
"kita senasib" sehun tersenyum kecil sambil menatap tetesan air hujan yang turun semakin deras.
"kau mau menunggu disini sampai hujan reda?" sehun mengangguk kecil.
"eomma mu akan marah ya kalau kau pulang basah kuyup?" sehun mengangguk dengan wajah merengut.
1 jam kemudian
"eoh, hujannya sudah mereda" sehun mendongakkan wajahnya keatas, perlahan ia bisa melihat sinar matahari yang kembali muncul.
"kajja" sehun mengerutkan dahinya dengan wajah bingung.
"aku antar pulang. Ini hampir jam 6. Tidak baik pulang seorang diri" sehun tersenyum dan segera berjalan beriringan bersama temannya itu.
Flashback end
"penjaga sekolah meminjamkan payungnya untuk kita" sehun menoleh dan melihat tao yang tengah membuka lebar payung yang berhasil ia dapat pinjam dari penjaga sekolah.
"ayo, pulang" sehun mengangguk dan segera berteduh dibawah payung yang sama dengan tao.
"apa kau akan lama berada disini?" tanya tao.
"lusa aku harus kembali ke Seoul" jawab sehun.
"geure? Cepat nya" ucap tao. "aku akan berikan nomor telfonku kepadamu. kalau mau berkunjung ke Busan, hubungi aku saja ya?"
"ne. gomawo"
.
.
Seoul
"yya, berhentilah mencurigai jongin. dia kan ke Changwon untuk bekerja" ucap kris.
"arayo, hyeong. tapi ini suatu kebetulan yang aneh. Changwon dan Busan itu kan dekat" ucap chanyeol.
"yah, kalaupun jongin mengunjungi Busan belum tentu juga kan dia bertemu oh sehun. Busan itu kan bukan kota yang sangat kecil. Yakan, chen?" tanya kris.
"maja. memangnya jongin tahu daerah di busan yang didatangi oh sehun? tidak kan?" tanya chen.
"eissh, kalian berdua ini" gerutu chanyeol.
"aku pulang" kris dkk langsung menoleh kearah pintu dan melihat lay bersama taeoh yang berjalan masuk dengan langkah girang.
"kenapa menjemput taeoh lama sekali?" tanya kris.
"kami berbelanja keperluan dapur suho hyeong tadi" jawab baekhyun sembari membawa beberapa kantung belanjaan.
"suho, kapan xiumin hyung pulang? Tak biasanya dia dinas lebih dari 1 minggu" tanya chen.
"molla. dia bilang lusa atau 3 hari lagi. Yang jelas minggu depan dia sudah pulang dari Jepang. dia sudah membelikan kita oleh-oleh yang banyak khususnya taeoh" jawab suho.
"uwwaah, aku akan terima banyak oleh-oleh. appa, sehun hyung dan xiumin samchon" ucap taeoh senang.
"taeoh-ya, apa menurutmu appa mu akan mengunjungi pengasuhmu?" tanya chanyeol.
"yya, kenapa kau tanya hal begitu?" sahut kris.
"siapa tahu saja dia tahu informasi, hyeong" ucap chanyeol.
"eissh, kau ini"desis kris.
"aku merindukan sehun hyung" ucap taeoh.
"kau sudah merindukan pengasuhmu? Ayahmu bahkan tak kau tanyakan" ucap chen.
"aku ingin menyiram bunga di taman bersama sehun hyung lagi. Bunga iris nya bisa layu nanti" ucap taeoh lesu.
"bunga iris?"
"ne. bunga yang dibelikan appa untuk sehun hyung"
"mwo?!" kris menutup kedua kupingnya yang pengang begitu kelima dongsaengnya tiba-tiba memekik.
"jongin membelikan bunga untuk sehun?" ucap chanyeol dengan wajah histeris.
"ige mwoya. sejak kapan jongin menjadi pria romantis begitu?" fikir chen.
"taeoh juga ingin bermain air bersama sehun hyung dan appa" ucap taeoh dengan merengut.
"aigoo taeoh-ya, kau akan sakit jika mau main air di cuaca dengan angin kencang begini" ucap baekhyun.
"issh, hyeong. yahkan ada yang aneh dengan mereka berdua" ucap chanyeol.
"sudahlah, nanti saja kita tanya langsung sama myungsoo" ucap kris.
.
.
Busan
Esok harinya
"kara's bakery. sepertinya nama yang diberitahukan ny. Hong tidak salah" gumam jongin sambil menatap nama toko roti didepannya.
"apa datang kemari bisa membuatku bertemu dengannya?" fikir jongin sembari melangkah masuk kedalam bakery.
"selamat datang" sapa tao begitu melihat jongin masuk kedalam bakerynya. Jongin mengangguk sambil tersenyum kecil lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling bakery.
"ada yang bisa saya bantu?" tanya tao.
"ya? a-aniya, gwenchana" jawab jongin sembari mengangkat nampan untuk meletakkan roti yang akan dibelinya.
"mungkin dia tak datang kemari lagi" fikir jongin meletakkan cream puff nya diatas nampan.
Kkrriinngg~~ Tao yang sedang meletakkan roti yang baru matang di tempat nya langsung menoleh kearah pintu begitu mendengar suara bel pintu.
"sehun-ah" kedua mata jongin membulat begitu mendengar nama sehun disebut.
"kupikir kau langsung mengunjungi tempat abu orang tua mu di buang. Ternyata kau mampir kemari" ucap tao.
"ne. aku ingin berpamitan sebelum aku pulang besok" ucap sehun.
"geure? Kau sudah mau pulang besok? Cepat nya" ucap tao.
"aku akan menghubungimu jika aku ingin kemari lagi" ucap sehun.
"tentu saja kau harus menghubungiku. Aiya, kau sudah sarapan? Kebetulan roti-rotiku masih hangat. makan dulu saja sebelum kau pergi" usul tao.
Sehun mengangguk kecil dan begitu mengalihkan matanya ke tempat lain, tatapan kedua matanya terpaku ke sosok seorang pria yang tengah berdiri dalam posisi memunggunginya. Ia mengerutkan dahinya saat sosok pria tersebut tak asing di kedua matanya. Perlahan namun pasti, sosok pria yang dilihatinya itu berbalik, membuat wajahnya bisa terlihat jelas. Ia terbelalak kaget begitu melihat sosok jongin didepannya.
"anda sudah selesai, tuan?" tanya tao.
"ah, ne ini" jongin memberikan nampan berisi roti yang akan ia beli kepada tao. Sehun menatap jongin dengan wajah bingung.
"kebetulan sekali, sehun-ssi" ucap jongin sambil tersenyum begitu tao pergi kearah kasir.
….
"yaya, oh sehun" panggil jongin sembari berjalan keluar dari bakery dan menyusul sehun yang berjalan didepannya.
"yya, kau marah denganku? Kau berfikir aku mengikutimu lagi?" tanya jongin menyamai langkah kakinya dengan sehun.
"tidak" jawab sehun dan kembali berjalan.
"aku benar-benar tak membututimu. Aku pergi ke Changwon kemarin untuk mengurusi proyek pekerjaanku. kau bisa tanya sekretaris kantor ku kalau kau masih tidak percaya" ucap jongin.
"tidak perlu, aku percaya" ucap sehun.
"jincaa?" sehun mengangguk kecil lalu berjalan masuk kedalam toko bunga.
"kenapa kau masuk ke toko bunga?" tanya jongin.
"membeli bunga. tentu saja" jawab sehun sambil menunjuk bunga mawar putih kepada pelayan toko.
"untuk apa?" tanya jongin.
"mengunjungi orang tua ku" jawab sehun pelan namun masih bisa terdengar oleh jongin.
"orang tua?" jongin menaikkan sebelah alisnya.
.
.
Sehun melemparkan dua batang bunga mawar putih keatas laut secara bersamaan. Kedua matanya menatap lurus kearah dua bunga yang mulai terbawa arus laut.
"aku baik-baik saja ayah,ibu" lirih sehun.
"jangan berbohong" ucap jongin. Sehun langsung menoleh kearah jongin yang berdiri disampingnya.
"kau tak baik-baik saja. jangan berbohong dihadapan orang tua mu" ucap jongin.
"aku baik-baik saja. jangan dengarkan perkataan pria ini" ucap sehun sambil menatap kearah lautan.
"ahjumma, putra mu tidak dalam keadaan baik. Kau bisa lihat sendiri kan keadaan putramu sekarang? Dia tak pernah tersenyum bahkan tertawa. Bukankah dia sakit?" ucap jongin. Sehun mendelik sebal kearah jongin.
"ahjumma, ahjussi. bisakah kau nasehati putramu ini untuk mau tersenyum walaupun hanya 5 detik saja. Kalian juga rindu melihat wajah senang anakmu ini kan?" sehun mengerutkan dahinya mendengar ucapan jongin.
"hidup tanpa tersenyum sehari saja benar-benar tidak enak, bukan? Melihat putramu yang sekarang pasti kalian merasa sedih karena menganggap putramu tak bahagia dan tak sehat, yakan? Tapi tenang saja. Kalian akan melihat senyuman putramu sebentar lagi" sehun langsung menoleh kearah jongin dengan wajah kaget.
"mwo? Apa seumur hidup kau tidak ingin tersenyum? Bibirmu tak lelah terus lurus seperti ini?" tanya jongin sambil menatap sehun.
"aku tak tahu masa lalu mu yang membuatmu jadi jarang tersenyum seperti ini tapi apapun alasan yang membuatmu seperti ini seharusnya kau segera melupakannya. Masa lalu adalah masa lalu. Untuk apa mengingat masa lalu yang menyakitkan selama bertahun-tahun? Hatimu akan lelah sendiri" ucap jongin kembali mengalihkan pandangan kedua matanya kearah laut.
"ahh aku lapar. Mengikutimu membuatku belum sempat memakan roti yang kubeli tadi. Kajja" sehun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak ada tanda penolakan darinya begitu jongin menarik tangannya dan membawanya pergi.
"tunggu" jongin langsung berhenti berjalan dan menoleh kebelakang begitu sehun memintanya untuk berhenti.
"ada apa?" tanya jongin. Kedua mata sehun menatap kotak musik berbentuk kerang berwarna putih disalah satu toko.
"kau mau membelikan oleh-oleh untuk taeoh?" tanya jongin.
"e-eoh" jawab sehun dengan kepala tertunduk.
"dia akan senang jika kau membawakannya oleh-oleh" jongin tersenyum lalu mendorong pelan pundak sehun untuk masuk kedalam toko yang menjual oleh-oleh.
.
.
"bagaimana kunjunganmu selama berada disini? Kau sudah puas melepaskan rasa rindu mu dengan kota ini?" tanya jongin sambil mengunyah roti nya.
"e-eoh" jawab sehun sambil memainkan pasir pantai berwarna putih dengan sandal nya.
"kau bertemu dengan dia?" tanya jongin. Sehun menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
"geure? Kau pasti kecewa karena tak bisa bertemu dengan teman dekatmu itu lagi setelah kembali kemari" ucap jongin. Sehun hanya diam.
"kau tak mencoba mencari tahu tentang dirinya selagi kau berada disini?" tanya jongin. Sehun mendesah pelan, ia mengangkat wajahnya dan menatap pemandangan pantai didepan kedua matanya.
"aniyo. Mungkin lebih baik seperti ini. Dia- dia pasti hidup bahagia selama aku tak tahu mengenai keadaan dirinya" ucap sehun.
"apa maksudmu? Kenapa dia bisa hidup bahagia sementara kau tidak tahu mengenai keadaannya? Bukankah dia teman dekatmu? Seorang teman mana mungkin bisa bahagia jika teman dekatnya tak tahu mengenai keadaannya selama ini" tanya jongin.
"memang seperti itu kenyataannya. Lebih baik seperti ini" lirih sehun.
"kau akan melupakan temanmu itu?" tanya sehun.
"kau bilang 'Masa lalu adalah masa lalu. Untuk apa mengingat masa lalu yang menyakitkan selama bertahun-tahun?' yakan? Aku harus melupakan masa lalu agar ini tak terasa lelah dan sakit" ucap sehun meletakkan telapak tangannya di dadanya. Jongin tersenyum, kedua tangannya tiba-tiba merengkuh kedua pipi sehun, menarik pipi bulat sehun dan membuat bibir sehun melengkung keatas.
"kalau begitu cobalah untyuk tersenyum seperti ini jika kau tak ingin hatimu terasa lelah dan sakit. Araso?" ucap jongin. Sehun menggerakkan kepalanya keatas dan kebawah, ia tak bisa menggerakkan bibirnya karena tangan jongin yang mencubit pipi nya.
"baguslah. taeoh akan senang jika pengasuhnya tersenyum" ucap jongin berhenti mencubit pipi sehun lalu, mengusap kedua pipi nya dengan lembut. Kedua mata sehun berkedip bersamaan begitu tangan jongin mengusap pipi nya.
CUP~
Kedua bola mata sehun terasa akan keluar dari tempatnya begitu ia kembali merasakan bibir jongin menyentuh bibir nya. Walaupun hanya sebentar, ciuman kecil tersebut sukses membuat wajahnya terasa panas sekarang. Kedua mata jongin kini menatap kedua bola mata sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kembali mendekatkan wajahnya dan menautkan kembali bibirnya dengan sehun.
Kedua mata sehun reflex terpejam rapat sementara kedua tangannya kini meremas kuat ujung jaket jongin saat dirasanya jongin melumat bibirnya. Pikirannya benar-benar tak bisa diajak berkompromi dengannya saat ini. Bibir sehun yang tadinya diam tak bergerak kini perlahan bergerak. Membuat ciuman nya dengan jongin kali ini terasa berbeda. Keduanya saling membalas ciuman seolah terbawa suasana.
Jongin menjauhkan sedikit bibirnya dari sehun, membiarkan sehun untuk menghirup oksigen. Sehun langsung mengalihkan wajahnya kesamping begitu jongin kembali mendekatkan wajahnya kearahnya. Jongin tersenyum kecil begitu sehun menghindar untuk di cium olehnya, tangan kirinya yang sedaritadi melingkar setengah di pinggang sehun dengan cepat menariknya, membuat tubuh sehun kini berada didalam dekapannya.
"sehun-ssi" sehun mengatupkan bibirnya rapat-rapat begitu suara jongin yang pelan terdengar jelas didekat telinganya.
"sepertinya aku tertarik denganmu" kedua mata sehun melotot, raut wajahnya langsung tegang mendengar pengakuan yang dikatakan jongin barusan. Jantungnya berdebar keras sekarang. Ini pertama kalinya ada yang mengatakan hal seperti itu untuknya dan ia tak mengerti harus berbuat apa.
.
.
.
TBC
Hai maaf aku baru update ternyata semua jadwal yang udh aku tulis harus dirombak karna mami ngajak pergi selama liburan, aku ga bisa update jadinya hiks mianhaeeee T-T padahal kemarin" mami bilang ga bakal kemana-mana eh ternyata malah pergi jadi semuanya kacau deh :' maafin yaa. Semoga aku bisa update cepet ya liburan tnggal seminggu lagi nih aduh :' sedih dedek ... byebyeeeee makasih reviewnya guysss
