The Mysterious Babysitter

Penulis: evi

Remake: mydhdiah

Cast: oh sehun, kim jongin (kaihun)

Other cast: chanyeol, baekhyun, kris, suho, lay, chen, taeoh, xiumin, taemin, kim seo ra, dll

Genre: romance, family, misteri

WARN: Yaoi, BOYSLOVE, BXB, MPREG/?,DLDR, OOC, TYPO BERTEBARAN

Ps: bold italic flashback

Maaf menunggu lama:'

.

.

.

Chap 14

Airport

"appa" taeoh melambaikan tangannya dari gendongan chanyeol saat melihat sosok ayah nya yang keluar dari gerbang kedatangan.

"dia pulang sendiri" gumam chanyeol.

"appa" chanyeol langsung menurunkan taeoh dari gendongannya dan membiarkan keponakan kecilnya itu melepas rindu dengan ayahnya.

"aigoo, 3 hari tak bertemu kenapa kau semakin berat saat di gendong? suho samchon memberikanmu banyak makanan, hem?" tanya jongin meraih taeoh kedalam gendongannya. Taeoh hanya terkekeh pelan.

"bagaimana perjalanan dinas mu itu?" tanya chanyeol.

"hhmm menyenangkan" jawab jongin. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "taeoh-ya, appa membelikan banyak oleh-oleh untukmu. pasti kau akan suka"

"jincaa? Uwwaah Oleh-oleh pertama dari appa, nanti dari xiumin samchon lalu sehun hyung" ucap taeoh girang lalu perlahan raut wajahnya berubah. "appa, sehun hyung belum pulang?"

"benarkah? Mungkin dia akan sampai sore atau malam" ucap jongin.

"jincaa? Aku rindu dengannya"

"sehun pasti akan pulang ke rumah nanti, bersabarlah"

"hey, ayo kita pergi segera" sahut chanyeol. Jongin mengangguk dan segera berjalan bersama taeoh kearah parkiran mobil.

"appa, apa sehun hyung akan membawakan oleh-oleh untukku juga?" tanya taeoh.

"tentu, dia pasti membawakan oleh-oleh untukmu" jawab jongin.

"senangnya" jongin tersenyum kecil melihat ekspresi senang di wajah anaknya. Ia mengalihkan pandangan kedua matanya ke kaca mobil.

Flashback

"kau pulang besok pagi kan? Kita pergi bersama ke bandaranya, eotte?" usul jongin.

"pulanglah duluan. Aku ingin berpamitan dengan beberapa orang disini" ucap sehun.

"aku temani"

"tidak perlu. Pulanglah terlebih dahulu, taeoh pasti merindukan ayahnya"

"araso"

"terima kasih atas tumpangannya" sehun segera melepas seat belt dan turun dari mobil jongin yang berhenti didepan hotel tempatnya menginap.

Flashback end

.

.

.

Busan

Sehun mendesah pelan sambil menatap ombak laut yang tinggi dan mendengarkan bunyi kencang ketika ombak laut terhempas kearah batuan di pinggir laut. Kedua bola matanya menatap lurus setangkai bunga iris berwarna ungu yang kini berada didalam genggaman tangannya.

"kau takut denganku?" kedua mata sehun menatap nanar namja yang berdiri dihadapannya.

"m-mian aku" raut wajah sehun semakin terlihat sedih saat mendengar nada ketakutan dari suara namja didepannya.

"aku tidak seperti itu" ucap sehun dengan suara menahan isak tangis.

"ma-maaf aku-" kedua kaki namja yang berdiri dihadapan sehun kini berjalan ke belakang. Menjaga jaraknya dengan sehun. "tolong menjauh dariku" tubuh namja itu perlahan berbalik dan berjalan menjauhi sehun.

"aku tidak akan membunuh siapapun" lirih sehun sambil menitikkan air matanya.

..

Genggaman tangan sehun yang memegang setangkai bunga iris itu perlahan mengendur, membiarkan tangkai bunga itu perlahan jatuh kedalam laut dan terbawa arus ombak yang cukup kencang.

.

.

Seoul

Kedua mata jongin melirik jam kecil yang ada diatas meja samping ranjang taeoh. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, taeoh sudah tertidur nyenyak walaupun tadi ia sempat menolak untuk tidur sebelum pengasuhnya pulang. Untunglah, jongin berhasil membujuk putranya untuk mau tidur dan menjanjikan bahwa sehun akan ada di rumah ketika dia bangun esok hari.

"Apa dia tak dapat tiket pesawat? Apa dia pulang naik bus?" fikir jongin seraya berjalan meninggalkan kamar taeoh. Langkah kaki jongin dengan sendirinya bergerak kearah pintu, tangan kanannya memutar kunci lalu menarik pintu rumahnya agar terbuka. Dia akan menunggu sehun didepan saja. Kedua matanya terbelalak kaget begitu melihat sosok sehun yang sudah berdiri didepan pintu rumahnya.

"se-sehun" kedua mata jongin menatap sosok sehun dari atas dan bawah berkali-kali memastikan dirinya sedang tidak berhalusinasi.

"kau baik-baik saja?" tanya sehun dengan wajah bingung karena dilihati jongin.

"hoh? E-eoh kau sampai malam sekali. Kau naik apa? Pesawat atau bis?" tanya jongin.

"bis" jawab sehun.

"Pantas saja, seharusnya kau pulang naik pesawat, hanya 2 jam saja. Kau tak akan pulang semalam ini jika tidak naik bis" ucap jongin.

"terlambat"

"ne? Kau telat tiba di bandara?" sehun mengangguk kecil.

"kau mengunjungi siapa saja memang nya sampai kau bisa terlambat tiba di bandara?" sehun terdiam, bibirnya tak menunjukkan tanda akan terbuka untuk bersuara. Melihat kediaman sehun. Jongin menghela nafas, ia menggeser tubuhnya kesamping.

"masuklah, ini sudah malam. Kau pasti ingin beristirahat bukan?" sehun mengangguk kecil dan segera berjalan masuk kedalam.

"aku duluan. selamat malam" ucap jongin sebelum pergi ke lantai 2.

"malam" balas sehun dengan suara pelan.

.

.

Esok harinya

"hyungggg" sehun langsung berhenti mencuci sayuran begitu mendengar suara taeoh yang berteriak memanggilnya di pagi hari. Ia berbalik kedepan dan disaat yang bersamaan, kedua tangan mungil taeohlangsung melingkar di pinggangnya.

"hyung, kau pulang" ucap taeoh sambil tersenyum senang.

"n-ne" ucap sehun.

"kau pulang malam saat aku sudah tidur?" tanya taeoh. sehun mengangguk.

"pantas saja. appa menyuruhku untuk tidur dan tidak usah menunggumu. Appa berjanji bahwa besok kau pasti sudah ada di rumah dan appa menepati janjinya. Senangnya" oceh taeoh.

"ne, aku harus menyiapkan sarapan. Lekas mandi setelah itu sarapan" Ucap sehun.

"ne, allgesseumnida" ucap taeoh patuh dan langsung berjalan menuju kamar mandi.

….

Jongin berjalan menuju ruang makan dengan wajah masih mengantuk. Begitu tiba di ruang makan, kedua matanya terpaku menatap sepiring sandwich diatas meja dan segelas susu putih.

"mwoya Jam berapa ini?" jongin langsung mengalihkan pandangan kedua matanya ke jam dinding. Ia melotot saat melihat angka jarum jam sudah bertengger di angka 10.30. Ia bangun kesiangan di hari libur. Mungkin karena kelelahan setelah bepergian ke luar kota jadi dia tidur lebih lama dari biasanya.

Jongin segera melahap sandwichnya lalu meneguk susu nya sampai habis dan berjalan menuju pintu teras, kedua matanya menatap lurus kearah sehun dan taeoh yang kini tengah menyiram bunga yang di tanam di pekarangan rumahnya bersama-sama. Kedua sudut bibirnya terangkat keatas membentuk sebuah senyuman saat melihat pemandangan didepan.

"suho samchon bilang bunga iris bisa tumbuh di musim dingin. Itu artinya bunga nya akan terus mekar walaupun salju turun kan, hyung?" tanya taeoh.

"ne" jawab sehun.

"syukurlah. aku takut jika bunga nya layu karena kedinginan di musim dingin nanti" ucap taeoh. sehun menarik kedua sudut bibirnya keatas, membentuk senyuman simpul saat mendengarkan ucapan polos taeoh.

"manis" kedua mata sehun terbelalak kaget begitu mendengar suara jongin. Ia mengalihkan wajahnya kesamping dan melihat jongin yang tengah berjalan menghampirinya.

"appa, kau sudah bangun?" jongin mengangguk sambil mengusap puncak kepala taeoh.

"selamat pagi" sapa sehun.

"pagi" balas jongin sambil tersenyum.

"appa, semua tanaman yang kita tanam sudah mulai bertumbuh. Lihat" tunjuk taoh kearah tanaman yang di tanamnya bersama ayahnya minggu lalu.

"ah, semuanya bertumbuh dengan sangat baik" ucap jongin.

"appa, kita tanam tanaman baru ya? Yaya?" pinta taeoh. jongin mengangguk mengiyakan permintaan taeoh lalu mengalihkan pandangan kedua matanya kedepan.

"aku harus mencuci pakaian" ucap sehun seraya memalingkan wajahnya kearah lain saat sadar ditatap jongin.

"hemm kita berkebun berdua saja kalau sehun hyung mencuci" ucap taeoh sambil menghela nafas. Jongin mengangguk kecil, kedua matanya menatap punggung sehun yang perlahan mulai menghilang dari pandangan kedua matanya.

.

.

Jongin mensejajarkan tubuhnya dihadapan pekarangan bunga di taman belakangnya. Kedua mata nya menatap lurus sekumpulan bunga iris berwarna ungu yang bermekaran dengan sempurna. Siapapun yang melihat, pasti kedua matanya terasa dimanjakan saat melihat keindahan bunga yang memiliki banyak arti ini.

"iris" lirih jongin pelan.

Teng tong! sehun menghentikkan aktivitas menjemur pakaiannya dan segera berjalan masuk kedalam rumah untuk melihat siapa yang bertamu siang hari seperti ini.

"halo sehun" kris dan kelima dongsaengnya menarik kedua sudut bibir mereka bersamaan begitu melihat wajah sehun yang muncul dari balik pintu rumah yang terbuka.

"silahkan masuk" ucap sehun seraya mempersilahkan kris dan yang lainnya untuk masuk kedalam.

"kalian berenam datang kemari tumben tak telfon dulu" ucap jongin.

"kunjungan mendadak, yakan?" ucap kris yang langsung diangguki oleh kelima dongsaengnya.

"kenapa kalau kami datang tiba-tiba, jong? Memangnya kau sedang melakukan apa sampai kami harus telfon terlebih dahulu?" tanya chen.

"appa dan aku sedang berkebun" sahut taeoh

"berkebun?" taeoh mengangguk sambil tersenyum.

"sayuran yang kutanam bersama appa akan tumbuh banyak sebentar lagi. Jadi kami berdua merawat bersama-sama" ucap taeoh.

"ah, merawat berdua bersama-sama" ucap chanyeol dengan wajah paham.

"hanya berdua? bukan bertiga kan? Kalian berlebihan" ucap kris dengan suara pelan seperti suara nyamuk mendengung.

"eoh kue dan minumnya datang" seru chen saat melihat sehun datang membawa teh hijau dan biskuit cokelat yang banyak. sehun meletakkan 6 cangkir teh dan setoples biskuit cokelat diatas meja.

"sehun-ssi" ehun yang hendak berbalik langsung mengurungkan niatnya itu. Ia menatap chen yang memanggilnya.

"ayo, ikut mengobrol bersama kami" ajak chen sambil menyikut chanyeol untuk bicara juga.

"n-ne, kami juga ingin mengobrol dengan pengasuh keponakan kami" ucap chanyeol. Taeoh dan jongin saling menatap lalu mengedikkan kedua bahunya bersama-sama.

"jwesonghamnida. Aku tak bisa mengobrol dengan kalian" ucap sehun.

"ya? ke-kenapa?"

"Tidak usah bersikap formal kepada kami, sehun-ssi. Jangan sungkan. Kami benar-benar ingin mengobrol denganmu" ucap suho.

"ne, suho benar. Kami akan memperlakukan kau dengan baik seperti kau memperlakukan taeoh selama ini" ucap lay.

"cucian" kris dkk menaikkan sebelah alinya dengan wajah bingung mendengar ucapan sehun yang menggantung. "aku harus menjemur. permisi" sehun segera berbalik dan pergi ke taman belakang.

"aissh. lihat itu, jong. kami sudah berusaha bersikap ramah dengannya untuk membuatnya tidak kaku tapi dia nya menolak ajakan kami" ucap chanyeol.

"aih, dia menolak karena pekerjaan rumah belum selesai di beresinya. Sehun itu orang nya teliti dan cekatan, dia tak bisa meninggalkan 1 pekerjaan rumah yang belum diselesaikannya" ucap jongin.

"jong, kau mendetail sekali" ucap baekhyun.

"hah? A-apa maksudmu? Mendetail apa nya?" tanya jongin.

"memperhatikan cara kerja oh sehun" jawab chnayeol.

"biasa saja" ucap jongin sambil mengusap tengkuk kepalanya.

.

.

"ini bunga dan tanaman-tanaman yang kau tanam bersama appa mu, taeoh?" tanya chanyeol.

"ne" ucap taeoh dengan wajah semangat menunjukkan tanaman dipekarangan rumahnya.

"bunga berwarna ungu ini" tunjuk chen.

"bunga iris. bunga kesukaan sehun hyung" ucap taeoh sambil menatap kearah sehun yang tengah menjemur.

"taeoh, kau tahu kenapa pengasuhmu menyukai bunga ini?" tanya baekhyun.

"molla" jawab taeoh.

"pasti ada hubungan dengan namja. Bunga ini kan bunga lambang asmara" ucap chen.

"sok tahu kau. Darimana kau tahu bunga ini merupakan lambang asmara?" tanya chanyeol.

"dari penjual bunga yang selalu kudatangi kalau aku mau memberikan bunga untuk polwan cantik" jawab chen.

"aissh, namja ini" desis chanyeol geleng-geleng.

"samchon, lambang asmara itu apa?" tanya taeoh.

"symbol kasih sayang" jawab baekhyun.

"benarkah?" taeoh kembali menatap bunga iris dengan wajah berfikir.

"xiumin hyung belum pulang?" tanya jongin.

"aniyo. Kukira dia pulang kemarin atau mungkin hari ini tapi dia tak memberi kabar sampai sekarang" jawab suho.

"mungkin dinas nya di tambah lagi" ucap lay.

"bicara mengenai dinas. Bagaimana dinas pekerjaanmu?" tanya kris menatap kearah jongin.

"bagaimana apa nya? Biasa saja. Pertanyaanmu aneh sekali hyeong" jawab jongin.

"tidak ada yang berkesan selama kau pergi ke luar kota?" tanya suho.

"an-aniyo. Aku kan bekerja bukan jalan-jalan" jawab jongin sambil mengunyah biskuitnya dengan wajah datar.

"kau jalan-jalan di Busan juga?" tanya lay.

"e-eoh. aku kesana untuk membelikan oleh-oleh titipan dari taeoh. Tidak ada lagi" jawab jongin dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya dan tak sengaja sudut mata nya menangkap sosok sehun yang baru saja selesai menjemur.

"sepertinya aku membeli banyak kue. tunggu sebentar, aku akan ambilkan di dapur" jongin segera berjalan meninggalkan ruang tengah.

"kalian dengar? jongin ke Busan hanya membeli oleh-oleh untuk taeoh kalau dia bertemu sehun di Busan seharusnya mereka pulang bersama tapi chanyeol yang datang menjemput di bandara bilang jongin seorang diri begitu keluar dari gerbang kedatangan. Kalian berdua masih berfikir bahwa sehun dan jongin ada sesuatu?" tanya kris.

"tapi hyeong-"

"eissh tidak ada tapi-tapian. Jikapun jongin memang tertarik atau bahkan memiliki hubungan dengan oh sehun atau dengan yang lain, dia pasti akan bercerita kepada kita. Seperti tidak tahu jongin saja" ucap kirs. Suho dan lay hanya menghela nafas mendengar ocehan kris.

….

Dapur

"ekhm" sehun langsung mematikan kran bak cucian piring begitu mendengar suara deheman yang diyakininya berasal dari jongin. Ia berbalik kebelakang dan menatap jongin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

"waeyo?" tanya sehun.

"waeyo? Aku yang harusnya bertanya seperti itu" ucap jongin. Sehun mengerutkan dahinya tak mengerti.

"ada apa denganmu?" tanya jongin.

"gwenchanseumnida" jawab sehun.

"jeongmal?"

"n..ne. Jika kau tak meminta bantuan apa-apa disini, aku akan kembali mencuci" ujar sehun kembali menyalakan kran bak cucian piring. Baru saja ia mengusap piring kotor dengan sponge, raut wajah nya langsung berubah tegang dikala ia merasakan sebuah tangan memeluk pundaknya dari arah belakang.

"aku tidak meminta bahkan tak pernah memaksamu untuk harus menjawab pernyataan waktu itu walapunbegitu …." Sehun menahan nafasnya sejenak saat merasakan pipi jongin yang menempel di kepalanya. "bisakah kau berhenti untuk bersikap menghindar" kedua mata sehun berkedip bersamaan mendengar ucapan jongin.

"bersikaplah seperti biasa. Jangan seperti ini" ucap jongin. Sehun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Setidaknya ia bisa menarik nafas lega karena posisi tubuhnya kini membelakangi jongin, jika ia berhadapan dengan namja yang memeluknya sekarang mungkin ia akan di tertawakan karena wajah merahnya.

"atau.. apa ada sesuatu yang kau rasakan terasa begitu aneh hingga kau menjaga jarak dariku?" tanya jongin membuat bibir sehun semakin terkatup rapat. Jongin mendesah pelan karena sehun tak kunjung mengeluarkan suara.

"baiklah.. aku tidak akan bertanya-tanya banyak hal kepadamu. Aku tidak akan memaksamu.. geokjongma" ucap jongin menurunkan tanganya dari pundak sehun. "kembalilah bekerja.." ujar jongin seraya pergi meninggalkan dapur. Setelah yakin jongin telah pergi, tangan kiri sehun langsung memegang meja counter, menjadikan tangannya sebagai topangan tubuhnya yang terasa lemas dan membuatnya tak bisa berdiri dengan benar. Tangan kanannya bergerak kearah dada bagian kirinya tepat dibagian jantungnya berada. Lagi.. Ia bisa merasakan jantungnya kembali berdebar tidak normal.

.

.

"taeoh…" taeoh langsung menoleh begitu sehun menyebut namanya.

"igeo…" sehun mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru yang sudah dihiasi pita dengan warna senada dan diberikannya kepada taeoh. Senyum dibibir taeoh langsung merekah melihat benda yang diberikan pengasuhnya kepadanya itu.

"oleh-oleh untukku?" sehun mengangguk.

"uwwaah…" taeoh langsung membuka oleh-oleh pemberian sehun dengan cepat. Kedua mata nya berbinar-binar menatap kotak musik berbentuk kulit kerang berwarna putih.

"cantiknyaa" ucap taeoh membuka kotak musik tersebut dan tersenyum mendengar alunan lagu dikedua telinganya.

"gomawo hyung" ucap taeoh

"ne, cheonmaneyo" ucap sehun.

"apa yang kau berikan untuk appa?" tanya taeoh.

"n..ne?" sehun membulatkan kedua matanya mendengar pertanyaan taeoh.

"hyung tak membelikan appa oleh-oleh juga?" tanya taeoh. sehun menggaruk tengkuk kepalanya dengan wajah bingung. Apa dia harus memberikan oleh-oleh untuk jongin? Membeli oleh-oleh untuk taeoh pun di temani jongin saat itu. Ia tak memikirkan untuk membelikan sesuatu untuk jongin.

"hyung tak ingat appa saat beli oleh-oleh? Memangnya hyung tak rindu dengan appa?" tanya taeoh. sehun semakin menggaruk tengkuk kepalanya dengan wajah bingung.

"tidak usah khawatir hyung, aku akan beritahukan kepada appa untuk tidak marah kepadamu karena tidak diberikan oleh-oleh" ucap taeoh sambil menepuk pundak sehun.

"n..ne?"

"hyung pasti merindukan taeoh juga kan makanya memberikan oleh-oleh? Ne?" tanya taeoh. Kedua mata sehun menatap lekat wajah bocah mungil yang duduk dihadapannya. Kedua sudut bibir nya perlahan terangkat keatas, membentuk senyuman tipis seiring dengan tangan kanannya yang kini mengusap puncak kepala taeoh.

"ne" ucap sehun. Taeoh tersenyum lalu menghambur kedalam pelukan ehun.

"nado bogoshipo" ucap taeoh lalu melepaskan pelukannya. "hyung, tadi chen samchon memberitahuku sesuatu mengenai bunga kesukaanmu" sehun menaikkan sebelah alisnya dengan wajah bingung.

"chen samchon bilang bunga iris adalah bunga lambang asmara dan baekhyun samchon bilang artinya adalah sebuah symbol kasih sayang, maja?" tanya taeoh. sehun terdiam sejenak.

"ne.." ucap sehun.

"jincaa? Jika taeoh memberikan bunga itu untuk hyung dan appa itu artinya taeoh menyayangi kalian, yakan?" tanya taeoh. Sehun mengangguk kecil.

"apa seseorang pernah memberikan bunga iris kepadamu?" sehun mengangguk.

"aw benarkah hyung? Orang yang memberikan artinya menyayangimu kan?" sehun tersenyum pahit, ia menggelengkan kepalanya.

"eoh? Orang itu tidak menyayangimu? kenapa?" tanya taeoh.

"hanya…" sehun menutup kembali bibirnya serapat mungkin.

"uljimma…" kedua tangan taeoh mengusap pipi sehun ketika dilihatnya kedua mata sehun mulai berkaca-kaca.

"aku menyayangi mu hyung, jadi jangan menangis ya?" sehun mengangguk lalu merengkuh tubuh mungil taeoh kedalam dekapannya.

Jongin menutup rapat pintu kamar taeoh sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat sehun menyadari bahwa sedaritadi ia mendengar percakapan didalam kamar.

.

.

Sehun menghela nafas usai memberesi beberapa mainan dan kertas origami milik taeoh yang berserakan di ruang tengah karena taeoh sempat bermain bersama paman-pamannya tadi sore.

"apa seseorang pernah memberikan bunga iris kepadamu? Orang yang memberikan artinya menyayangimu kan?" tatapan kedua mata sehun kembali kosong begitu ia mengingat ucapan taeoh.

Flashback

"ttadaa.." sehun mengerjapkan kedua matanya dengan wajah terkejut ketika melihat setangkai bunga iris didepan kedua matanya. Ia mendongak keatas dan melihat wajah namja yang memberikannya bunga tersebut.

"bukankah bunga ini cantik?" sehun mengangguk pelan sembari menerima bunga tersebut dan memandangnya sambil tersenyum.

"kau tahu arti dari bunga ini?" sehun menggeleng pelan. "kau tak tahu ya?hem..." sehun mengerutkan dahinya dengan wajah bingung saat melihat namja yang duduk disampingnya tengah mengusap tengkuk lehernya.

"tapi kau menyukai bunga ini kan?" sehun mengangguk.

"kau tak akan bosan jika aku memberikan bunga ini terus-menerus kepadamu kan?" sehun tersenyum.

"aniya. aku suka jika diberi bunga setiap hari" ucap sehun.

Flashback end

"jangan menangis" sehun tersentak kaget begitu merasakan ibu jari seseorang yang baru saja menyeka air mata yang mengalir dikedua pipinya. Ia menoleh kesamping dan terbelalak kaget melihat jongin yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.

"apakah temanmu benar-benar menyakitimu hingga kau selalu menangis saat mengingatnya?" tanya jongin. sehun hanya diam sambil menurunkan kedua tangan jongin dari kedua pipinya.

"kau menangis saat mengingatnya dan kau menolak untuk mencaritahu tentang keberadaannya. Kau bilang dia bahagia selama kau tak tahu mengenai keberadaannya, apakah kau tak bisa bahagia seperti temanmu itu juga? Kau berjanji akan melupakan masa lalu agar hati mu tak lelah. Apa kau benar-benar yakin saat menjanjikan hal seperti itu?" tanya jongin. sehun menyeka dengan cepat air mata yang kembali turun dari kedua pipinya.

"kau akan selalu menjadi orang yang lemah dengan menangis seperti ini. Kau bahkan tak menangis seperti ini ketika kau hidup untuk bersembunyi dari ayah tirimu" tangan kanan jongin terulur kembali kepipi sehun, mengusap pelan pipi namjanya yang basah.

"aku..aku harus bagaimana?" lirih sehun meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan kanan jongin yang ada diatas pipinya.

"kau hanya perlu seseorang untuk membantumu menutup luka di hatimu ini. Seseorang yang bisa menimbun lubang didalam hatimu" ucap jongin. Kedua mata sehun menatap lekat wajah jongin. "aku bisa menimbunnya. aku bisa membantumu untuk menutup nya" jongin menurunkan tangannya dari pipi sehun dan membalikkan posisi tangan sehun yang tadi menggenggamnya menjadi tangannya yang kini menggenggam tangan sehun.

"bisakah?" tanya sehun.

"aku akan mencobanya asalkan dengan satu syarat.." ucap jongin.

"apa?" tanya sehun.

"percaya kepadaku" kedua kaki sehun terasa kaku untuk digerakkan begitu jongin berjalan mendekat kearahnya. Ia menahan nafas sejenak saat wajah jongin benar-benar berada dihadapannya dengan jarak yang sangat kecil. "cukup kau percaya dan yakin bahwa aku bisa membantumu. Itu akan sangat membantu"

"aku… apakah aku bisa percaya denganmu?" tanya sehun terbata-bata. jongin tersenyum simpul.

"kenapa kau bertanya kepadaku kalau kau bisa merasakan nya sendiri?" ucap jongin sambil menatap sehun tepat di manik kedua matanya.

"jika kau memberikan pertanyaan itu kepada ratusan namja di luar sana, mereka pasti akan menjawab 'iya' tanpa kau tahu apakah orang yang menjawab kata 'iya' benar-benar orang yang tulus atau tidak. Satu-satu nya cara untuk tahu apakah orang yang menjawab itu tulus atau tidak adalah lewat dirimu sendiri. Seseorang yang tahu bahwa ia sedang jatuh cinta bukan karena ada orang yang memberitahukan kepadanya tapi orang itu tahu bahwa ia sedang jatuh cinta karena perasaannya sendiri yang memberitahukannya" kedua mata sehun berkedip bersamaan mendengar kalimat terakhir jongin barusan. "apa yang kau rasakan?" tanya jongin sembari mendekatkan wajahnya kearah sehun, membuat ujung hidung mereka saling bersentuhan dan perlahan jarak kedua nya semakin tipis. Kedua mata sehun reflex terpejam begitu jongin kembali menautkan bibirnya dan melumatnya dengan lembut.

Jongin tersenyum dalam ciumannya saat dirasanya bibir sehun bergerak membalas ciumannya. Beberapa detik, ia melepaskan sedikit tautan bibirnya dari sehun.

"kuanggap yang tadi adalah jawaban darimu" ucap jongin sebelum menautkan kembali bibirnya dengan sehun. Tangan kiri jongin menarik tubuh sehun kedepan, mendekap erat tubuh namjanya.

Kedua tangan sehun meremas kuat ujung kaus yang melekat dipunggung jongin saat dirasanya ciuman jongin kian dalam. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Apakah yang ia lakukan saat ini benar atau tidak? Apa yang akan dikatakan orang-orang mengingat statusnya dan status jongin benar-benar berbeda?

Perasaan gelisah itu perlahan menghilang saat dirasanya isi pikirannya benar-benar terasa kosong. Ia tak bisa fokus untuk memikirkan resiko dan masalah yang akan dihadapi kedepannya. Pikiran dan anggota tubuhnya benar-benar tak bisa ia ajak kerja sama untuk saat ini. Ia ingin menyudahi ini segera tapi anggota tubuhnya malah tak bisa ia gerakkan, kedua tangannya yang meremas kuat ujung kaus jongin seolah meminta namjanya untuk tidak pergi, begitu pula dengan bibirnya yang kini malah membalas ciuman jongin. Membuat jongin sendiri mengartikan tanda bahwa sehun menikmati keadaan sekarang.

TBC

Yatuhan maaf ya lama banget updatenya padahal udh janji fastupdate, maafkan aku yang sibuk saat masuk SMA baru masuk udh banyak tugas hiks maaf ya ini jadi lama banget updatenya, doain aja semoga cepet updatenya. Makasih atas pengertiannya

Terimakasih atas reviewnya!