Disclaimer: Naruto dkk bukan punya Aria!Sumpah bukan! Bukaaaaaann!!

Rating : M untuk tema dewasa, M untuk lime, M untuk violence, perlukah saya jelaskan lagi? Ya, fanfic ini ratingnya M.

Pairing : SasuNaru, sedikit SasuSaku, dan sedikit pairing2 lainnya…

Warning: Yaoi, AU, OOC, angst…angst…never ending angst…

Akhirnya, chapter ini bisa dipost juga. Sebenarnya udah jadi dari zaman kapan tau, tapi berhubung si orange-kun, laptop saya tiba-tiba mati dan harus diinstall ulang windowsnya, terpaksa harus ditunda deh. Maapp…

Special thanks buat dceemuse atas info tentang gelar2 bangsawan di Eropa (nyontek e-mail orang, haha…)

--

The Darkness Remains

By: AriaTheMosquitoRepellent

--

Shikamaru Nara keluar dari ruang otopsi itu sambil memijat bahunya sendiri, kemudian duduk di salah satu bangku di koridor. Berkas yang sedang ia pegang dibiarkan tergeletak begitu saja di sampingnya. Penampilannya sedikit berantakan, mengingat semalam ia tidak tidur untuk mengotopsi korban yang terbunuh kemarin sore. Wajahnya terlihat sedikit pucat, dengan lingkaran hitam di matanya yang sedikit merah. Menghela nafas, ia melihat ke sekelilingnya. Saat ini ia sedang berada di depan ruang otopsi, satu dari sekian banyak pintu di koridor panjang ini. Deretan bangku berdebu berjejer sepanjang koridor. Wajar, bagian ini memang bukan bagian yang banyak didatangi orang.

Pikirannya kembali beralih pada korban-korban pembunuhan yang akhir-akhir ini tampaknya semakin banyak saja. "Ada apa dengan orang-orang itu?Merepotkan saja," gerutunya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan secangkir kopi ke hadapannya, yang langsung ia terima dengan senang hati.

"Aku yakin kau membutuhkannya," kata orang itu.

"Terima kasih, Kiba."

Yang bersangkutan hanya tersenyum, lalu duduk di sebelah Shikamaru. Dokter forensik itu diam-diam melirik penampilan Kiba yang berantakan. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai, sedangkan kancing kemejanya terbuka di bagian atas. Tidak lupa jas serta celana yang kusut, dan terdapat sedikit noda di bagian lututnya. "Malam yang berat, huh?" tanya Shikamaru.

"Aku bisa mengatakan hal yang sama denganmu, dokter." Kiba merebut kopi di tangan Shikamaru, lalu meminumnya.

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja, mungkin harusnya Scotland Yard mengeluarkan larangan keluar malam bagi setiap warga, sehingga beban pekerjaanku bisa sedikit berkurang."

"Aku juga berharap kami punya wewenang untuk melakukan itu," Kiba menghela nafas. Memang akhir-akhir ini angka kejahatan meningkat drastis di Whitechapel. Meningkatnya jumlah imigran asal Irlandia, ditambah dengan pengungsi Yahudi yang lari dari Rusia dan Eropa Barat memperburuk keadaan kota London yang sudah penuh sesak. Tingginya angka populasi tidak sebanding dengan lapangan kerja dan permukiman yang tersedia, mengakibatkan tingginya angka kemiskinan, khususnya di daerah East End dan Whitechapel. Kondisi ini memicu terjadinya berbagai kejahatan, mulai dari pencurian sampai pembunuhan, serta prostitusi. Kalau mau melebihkan, hampir setiap hari mayat tak dikenal bisa ditemukan di daerah ini. Ditambah lagi, sekarang...

"Bagaimana hasil otopsi terhadap Tenten Chapman?" tanya Kiba memecah kesunyian. Tenten Chapman adalah nama wanita yang ditemukan terbunuh kemarin pagi di Hanbury Street.

"Sudah kuduga itulah penyebab kau datang. Ada berita buruk, sebenarnya." Kata Shikamaru, pandangan matanya mengikuti tangan Kiba yang sedang menaruh cangkir bekas kopi di kolong bangku. Kiba tersenyum pasrah, "Aku tidak yakin akan menyukai berita yang ini." Katanya.

"Pelakunya sama dengan kasus Ms.Nichols, dari bekas luka dan cara membunuhnya, diperkirakan senjata yang dipergunakan juga sama. Pisau yang sangat tajam dengan mata pisau yang tipis, panjangnya sekitar 6-8 inch." 1) kata Shikamaru sambil menyerahkan selembar berkas ke tangan Kiba. "Di dalamnya ada penjelasan hasil otopsi, bacalah!"

"Luka yang paling fatal adalah luka di lehernya sepanjang 14 inch… tangan kiri dimutilasi… tubuh disayat-sayat…lututnya dipatahkan secara terbalik?Ini gila...memar di wajah…Mengidap tuberculosis?"gumam Kiba sambil membaca berkas tersebut.

Shikamaru menunggu Kiba selesai membaca, lalu melanjutkan penjelasannya, "Kali ini lebih sadis daripada sebelumnya. Kau tahu kan, apa artinya ini?"

Kiba mengangguk, "Pembunuhan berantai." Jawabnya singkat. Bagus sekali, seolah-olah kota ini masih perlu tambahan penjahat, pikirnya geram. "Mungkin ini kedengaran jahat, tapi aku sedikit berharap pembunuhnya melakukan hubungan seks dulu dengan Ms. Chapman, minimal berciuman. Setidaknya kita tinggal mencari orang gila yang mengidap tuberculosis, tangkap, lalu hukum mati." Katanya dengan nada kesal.

"Tubercolosis memang menular, tapi tidak semudah itu juga." Gumam Shikamaru menanggapi komentar rekannya itu.

"Ada dugaan?" tanya Kiba sambil membuka jasnya, yang kemudian ia letakkan di pegangan kursi. Shikamaru memijat pelipisnya, lelah karena terjaga semalaman. "Pembunuhnya pasti mengalami gangguan jiwa." katanya memulai.

"Hahaha... kalau itu sih sudah pasti." potong Kiba sambil tertawa sinis.

"Kurang lebih dia memiliki pengetahuan tentang pembedahan." lanjut Shikamaru, kali ini ia meregangkan tangannya. Ah, pegal sekali badanku, aku ingin tidur.

"Jangan-jangan kamulah pembunuhnya, Shikamaru." kata Kiba tiba-tiba.

Shikamaru melirik pria berambut coklat itu, "Yeah, yang benar saja." lalu beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau pulang dulu, butuh tidur. Selamat pagi, Kiba." katanya sambil melambaikan tangan.

"Yo." balas Kiba, tidak terlalu memperhatikan Shikamaru. Kata-kata dokter forensik itu terngiang di benaknya.

...memiliki pengetahuan tentang pembedahan...

Kiba berdiri, lalu mengangkat jasnya. Sambil tersenyum kecil ia menyusuri koridor itu sampai tiba di pintu keluar. Cahaya matahari bersinar malu-malu dari balik awan, sedikit menghangatkan udara pagi itu. Sang inspektur polisi, tampaknya tidak terpengaruh oleh udara yang dingin, kalau dilihat dari jasnya yang masih ia pegang. Bergegas ia kembali menuju kantornya, matanya menyorotkan tekad. Hari ini pekerjaanku akan banyak, pikirnya. Target hari ini: memeriksa setiap dokter di London yang mengidap gangguan kejiwaan.

Sakura memandang bosan ke luar jendela, memandangi orang-orang yang lalu-lalang. Dari balik kaca terlihat deretan toko-toko yang menjual berbagai macam barang, mulai dari pakaian, sepatu, sampai buku-buku. Sebagian besar yang lewat berasal dari kalangan atas, dilihat dari pakaian yang mereka kenakan (dan jumlah kantong belanjaan di tangan mereka). Ingin rasanya menguap, tetapi sebagai seorang Lady, tentu saja Sakura tidak bisa menguap sembarangan di depan umum.

Hari ini, Sakura menemani Hinata berbelanja gaun untuk pesta selanjutnya. Orang yang bersangkutan sendiri sedang sibuk memilih antara renda dari Prancis atau dari Turki. Sejujurnya, dalam berbelanja, Sakura tidak terlalu peduli dari mana asal renda itu. Baginya, asal Sasuke dan Naruto (biasanya sebagian besar Naruto) mengatakan itu cocok, akan dia beli.

"Naruto…" Sakura berbisik, lalu menyentuh bibirnya sendiri karena terkejut. Mengingat Naruto membawa senyum di wajah cantiknya. Keceriaan pria berambut pirang itu menular ke siapa saja yang ada di dekatnya, bahkan Sasuke pun setingkat lebih ceria kalau ada di samping Naruto. Setelah berusaha mati-matian pun, Sakura hanya berhasil membuat Sasuke tersenyum kecil, berbeda dengan Naruto yang dengan mudah membuat Sasuke tertawa. Ah, terkadang aku iri dengan kedekatan mereka berdua, pikir Sakura. Sekali lihat pun semua orang tahu kalau mereka saling mencintai. Kapan ya, aku menemukan orang yang mencintaiku seperti itu?

Terkejut dengan pemikirannya sendiri, Sakura menggelengkan kepalanya. Tidak boleh! Aku kan akan menikah dengan Sasuke! Mungkin hubungan ini tidak sempurna, bukan hubungan penuh cinta seperti dalam dongeng. Aku tahu Sasuke menyayangiku, dan aku juga menyayanginya. Kurasa itu cukup, lagi pula, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga Sasuke. Ini lebih baik, dari pada Sasuke menikahi wanita yang tidak dikenalnya dan terpuruk lebih dalam. Aku tidak mau melihat Sasuke bersedih lagi, sekali saja sudah cukup menyakitkan.

Suara bel yang menandakan seseorang memasuki toko membuyarkan lamunan Sakura. Seorang laki-laki berambut hitam dengan poni lurus memasuki toko sambil sedikit terburu-buru. Sakura menoleh, mencoba melihat lebih jelas sosok pria itu. Lord Rock Lee, pikirnya. Pengusaha ekspor-impor bahan pakaian terkemuka di London. Sakura ingat, natal kemarin Mr. Lee menghadiahkan segulung renda asal Prancis, membuat Sakura digoda habis-habisan oleh Naruto (yang ujung-ujungnya mendapat benjol di kepala karena dipukul pakai kipas oleh Sakura).

Kenangan itu lagi-lagi membuat Sakura tertegun. Raut wajahnya menjadi sedih, air mata menggenang di pelupuk matanya. Naruto dan natal saat itu... Natal terakhir kami...ratapnya dalam hati.

"Kalau tidak keberatan, hapuslah air mata Anda dengan saputangan ini, Ms. Haruno." Sakura mendongak saat menyadari seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan cantik dengan renda di pinggirnya. Matanya melihat sepasang mata bulat hitam yang dibingkai oleh alis tebal, dan senyuman super lebar yang membuatnya tercengang.

"Mr. Lee...Ah, maaf! Aku jadi merepotkan anda," kata Sakura sambil meraih sapu tangan itu, lalu ia menyadari sesuatu "Eh, ini kan sapu tangan baru! Aduh, maaf, aku akan membayarnya!" lanjut Sakura, sedikit panik. Lee tersenyum lagi, "Wanita yang bersemangat itu terlihat lebih cantik daripada yang sedang bersedih, Ms. Haruno."

Dipuji seperti itu, wajah Sakura memerah. "Eh...aku..."

Lee kemudian mengangkat tangan Sakura dan mengecup punggung tangannya, "Nah, kebetulan urusanku disini sudah selesai. Bersemangatlah, Nona!Kibarkan gelora jiwa mudamu! Saputangan itu hadiah dariku, simpan saja." katanya sambil berdiri dan merapikan jasnya. Tersenyum, Rock Lee keluar dari toko diiringi bungkukan hormat dan ucapan terima kasih dari pelayan toko.

Sakura memandangi kepergian pria itu sambil tetap menggenggam erat saputangan hadiah itu. Wajahnya merah dan seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. Sakura selalu lemah dengan orang-orang yang penuh semangat seperti Naruto ...

… dan Lee.

"Ehem, nanti aku laporkan ke Mr. Uchiha lho…" bisik Hinata tepat di telinga Sakura, yang wajah dan lehernya langsung memerah.

"Eh, aku…tidak…" kata Sakura terbata-bata. Hinata hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu, lalu duduk di sampingnya. Setelah melihat ke kanan-kiri dan memastikan tak ada pelayan toko di sekitar mereka, Hinata bertanya dengan suara pelan, "Hey Sakura. Kenapa kamu bertunangan dengan Mr.Uchiha?"

"Eh?" kata Sakura, terkejut dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. Hinata menghela nafas, lalu kembali bertanya. "Iya, kenapa kau bertunangan dengannya? Kau yang mengajukan pertunangan ini padanya kan? Maksudku, kalian memang tumbuh bersama, tapi jelas-jelas kau tidak mencintai Mr.Uchiha. Kenapa kau melakukan hal ini, Sakura?"

Sakura hanya terdiam, lalu menyunggingkan sebuah senyum yang membuat Hinata terkejut. Senyuman yang penuh kesedihan. Tangan Sakura menggenggam tangan Hinata, lalu ia berkata dengan lembut. "Saat ini, hanya aku yang bisa menjaganya, Hinata. Hanya itu yang bisa kujelaskan padamu."

"Sakura…"

Percakapan mereka terpotong oleh salah satu pelayan toko yang membawakan barang pesanan Hinata. "Nona, ini barangnya,"

Hinata bergegas menuju pelayan tersebut, meninggalkan Sakura sekali lagi untuk merenung sendirian.

"Itu rusanya!" seseorang berteriak dari arah hutan. Mendengar hal ini, Sasuke membetulkan posisi senapannya lalu memacu kudanya ke arah sumber suara. Hari ini adalah hari perburuan yang diadakan setahun sekali oleh Earl Hatake, salah satu bangsawan terkemuka di Essex. Setiap tahun Sasuke menghadiri acara ini, bukan karena banyak bangsawan ikut berpartisipasi, tapi karena Sasuke menyukai acara berburu. Dia menyukai perasaan mengontrol saat membidik hewan buruannya, memutuskan nasib hewan itu. Tapi, yang paling disukainya adalah wajah berbinar Naruto setiap kali Sasuke berhasil mendapatkan hewan buruan. Karena itu setiap tahun dia selalu bersungguh-sungguh mengikuti acara ini.

Suara derap kuda di belakang Sasuke membuyarkan lamunannya, seseorang memacu kudanya lebih kencang supaya posisinya bersisian dengan pria berambut hitam itu.

"Uchiha." Kata orang itu dengan nada sinis. Sasuke hanya mendelik kepada lawan bicaranya, "Hyuuga." Balasnya tidak kalah sinis.

Neji Hyuuga tersenyum mengejek dari posisinya di atas kuda. Mata lavendernya tidak lepas dari rusa buruan yang sedang berlari jauh di depan mereka, mencoba menyelamatkan diri. "DIA MILIKKU!" teriak Neji sambil menembak rusa malang itu, yang langsung tersungkur ke tanah.

Sasuke menghentikan laju kudanya. Rusa ini terlanjur didapatkan lebih dulu oleh Neji. Dengan kesal, Sasuke mengawasi pria itu mendekati hasil buruannya. Rambut coklatnya yang panjang itu berkibar seiring dengan pergerakannya. Sasuke semakin kesal saat melihat Neji tersenyum mengejek ke arahnya. Tetapi bukan Sasuke namanya kalau tidak menemukan cara menjatuhkan musuh-musuhnya.

"Sudah berapa yang kau dapatkan, Hyuuga?Empat?"Tanya Sasuke.

Neji memasang tampang angkuh, "Dan kau, Uchiha?"

"Hn, baru delapan." Katanya sambil memandang penuh kemenangan, lalu memacu kudanya, meninggalkan Neji sendirian.

"Sial kau, Uchiha!"geram Neji. Tangannya menggenggam senapan dengan begitu kuat sampai buku-buku jemarinya memutih. Seperti biasa, hari ini pun ia berharap yang ditembaknya tadi bukan rusa, melainkan wajah angkuh Sasuke.

Permusuhan antara mereka berdua sudah menjadi rahasia umum, bahkan sejak awal bertemu mereka sudah saling membenci. Neji begitu membenci pria itu, karena sejak kecil, pamannya –Earl Hyuuga yang sebelumnya- selalu membandingkan mereka berdua, dan dalam prosesnya menghina semua usaha Neji selama ini. Entah sejak kapan perasaan benci itu berubah menjadi semacam obsesi. Ya, obsesi untuk menghancurkan seorang Sasuke Uchiha.

Suara terompet yang menandakan berakhirnya perburuan bergema di seluruh hutan. Masih kesal, Neji memacu kudanya kencang-kencang, berusaha mengurangi kemarahannya sedikit. Setelah ini ada acara sosialisasi dengan bangsawan lain, dan Neji tidak ingin terlihat berwajah muram di acara semacam itu.

"Anda sudah dengar berita tentang pembunuhan sadis di Whitechapel, Mr.Hyuuga?"

Neji mengangkat sebelah alisnya. Orang yang sedang berbicara dengannya adalah Sir Genma Shiranui, salah satu bangsawan yang memiliki tanah peternakan luas di pinggiran kota London. Dan tampaknya, orang ini suka membicarakan gossip-gossip seputar kota London.

"Ya, aku sudah mendengar tentang hal itu. Kabarnya korbannya disayat-sayat secara tidak berperikemanusiaan. Makin tidak aman saja kota London ini." Kata Neji sambil meraih minuman yang ditawarkan salah seorang pelayan. Genma melakukan hal yang sama.

"Kudengar korbannya selalu wanita penghibur. Kita harus mencurigai orang-orang yang berkeliaran di malam hari, bukan begitu, Mr.Hyuuga? Aku heran kenapa Scotland Yard belum mengambil tindakan." Kata Genma lagi. Kini matanya mulai melihat-lihat ke sekeliling, memandangi kumpulan-kumpulan bangsawan yang juga sedang bercakap-cakap.

"Kabarnya pelaku kedua pembunuhan itu sangat berhati-hati dalam menjalankan aksinya. Hampir tidak ada saksi mata, kalaupun ada,tak seorang pun yang melihat tersangka dengan jelas." Neji menenggak wine di tangannya dalam sekali teguk. Satu lagi psikopat di London, persis seperti yang dibutuhkan kota ini, komentarnya dalam hati. Sarkastis.

Ekspresi wajah Genma menunjukkan rasa ngeri, "Tidakkah Anda khawatir, Mr Hyuuga? Pembunuh itu bisa saja memperluas targetnya. Jangan-jangan tidak hanya wanita penghibur saja, tetapi juga wanita di London pada umumnya." Katanya sambil melambaikan tangannya pada Earl Hatake yang baru saja lewat. "Mungkin Scotland Yard juga membutuhkan bantuan dari masyarakat, bukan begitu, Mr.Hyuuga?" lanjutnya.

Neji hanya terdiam mendengar kata-kata Genma, sebuah ide terbersit di benaknya. Mungkin aku bisa memanfaatkan ini untuk meningkatkan kepopuleranku, pikirnya. Lalu sambil tersenyum, ia berkata kepada Genma, "Nah, kalau begitu, bagaimana kalau kita juga bertindak untuk membantu Scotland Yard?"

Butuh waktu bagi Genma untuk mencerna kata-kata Neji, "Eh?"

Pagi itu, seperti biasa, Sasuke duduk di kamarnya sambil minum teh dan membaca koran. Judul headline kali ini benar-benar menarik perhatiannya.

EARL NEJI HYUUGA TERPILIH SEBAGAI KETUA WHITECHAPEL VIGILANCE COMMITTEE

London, 12 September 1888

Menanggapi pembunuhan sadis yang terjadi kepada dua orang wanita belakangan ini, Earl Neji Hyuuga dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi yang bertujuan membantu pihak kepolisian untuk memecahkan kasus ini. Jack The Ripper –begitu istilah yang diberikan oleh WVC kepada pelaku pembunuhan ini- dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan kota London secara umum.

… "Kami sangat prihatin dengan kejadian ini, orang ini sangat berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Kami menghimbau kepada pemerintah agar menyediakan hadiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang Jack The Ripper. Sudah saatnya pemerintah meyakinkan penduduk di East-End bahwa pemerintah juga ingin membalas kematian kedua wanita malang itu." Demikian penjelasan Earl Hyuuga saat kami mewawancarainya setelah terpilih menjadi ketua WVC, 10 September yang lalu.

Sasuke hanya tertawa sinis membaca berita tersebut, "Hyuuga. Berani juga dia memanfaatkan peristiwa ini untuk meningkatkan kepopulerannya. Sudah putus asa rupanya." Ia bergumam sambil meneguk sisa tehnya. "Mungkin suatu saat nanti aku perlu mengirimkan hadiah untuknya,"

Aku tertawa saat mengetahui ada bangsawan yang membentuk organisasi yang mengklaim ingin membantu Scotland Yard untuk menangkap si Jack The Ripper ini (Jack Si Penjagal. Harus kuakui mereka memilihkan nama yang cocok untuk si psikopat itu). Paling-paling mereka memiliki motif tersembunyi di balik hal ini, karena, -hey- para bangsawan itu mana peduli dengan hidup matinya wanita penghibur. Kiba mengatakan bahwa kasus ini belum akan selesai. Instingnya mengatakan begitu. Instingku juga. Aku merasa ada sesuatu dalam kasus ini, sesuatu yang lebih dalam dibandingkan dengan orang frustasi yang sekedar memuaskan hasratnya. Dari cara pembunuhannya, aku bisa melihat kalau ada perasaan dendam yang terlibat. Dendam macam apa dan kepada siapa, aku tidak tahu. Saat ini, aku hanya berharap keberadaan organisasi ini –Whitechapel entahlah itu- tidak malah membuat si pelaku semakin tertantang.

Semoga saja tidak…

12 September 1888, Shikamaru Nara.

Catatan kaki:

1 inch 2,54 cm, jadi 8 inch sekitar 20cm-an

Tenten ikutan dibunuuuhh!!Lebih sadis pula…Menulisnya aja nggak rela rasanya, makanya adegan pembunuhannya tidak saya gambarkan, haha…Author pilih kasih

Selain itu, nggak ada adegan SasuNaru di chapter ini, dan itu membuat saya gatal pengen bikin adegan itu…

Pengakuan dosa:

Iyaaaahhh!!di chapter kemarin saya lupa memasukkan setting utama: London. Pasti banyak yang pada bingung liat nama2 tempatnya. Ampuni saya yang kurang mendeskripsikan tempat2 itu…Makasih buat gHee karena telah mengingatkan.

Sebelum ada yang protes, saya ungkapkan disini: Iya emang Lee-nya OOC banget!!Habis, saya nggak kebayang ada gentleman Inggris tahun 1888 berkeliaran pake spandex ijo (saya nggak yakin spandex sudah ditemukan di tahun segitu) dan meneriakkan kalimat "MASA MUDA YANG GEMILANG!!" sambil memamerkan giginya yang kinclong di Shopping street terkemuka di London. Nooooo!! Saya sudah mengusahakan dia tetap menyebutkan trademark masa mudanya itu sih, dengan cara yang lebih halus. Mudah-mudahan pembaca bisa menerima hal ini.

Terakhir, ada yang bisa kasih saya tips mengurangi penggunaan kata ganti –nya? Kok saia merasa banyak banget penggunaan –nya di fanfic ini.

Komentar?Kritik?Saran?Flame?

Ripiu…ripiu…ripiu…