Disclaimer: Masashi K : Pak polisi! Dia tuh orangnya yang nyulik tokoh-tokoh sayaa!*nunjuk Aria yang lagi mengendap-endap bawa karung*
Aria : *angkat tangan, karungnya jatuh ke sungai ciliwung* Bukan saya pak! Sumpahhhh!!
Naruto dkk : blbkblbkblbk…gulp….*kelelep*
Rating: M untuk tema dewasa, M untuk lime, M untuk violence, perlukah saya jelaskan lagi? Ya, fanfic ini ratingnya M.
Pairing: SasuNaru, sedikit SasuSaku, dan sedikit pairing2 lainnya…
Warning: Yaoi, AU, OOC, angst…angst…never ending angst…
Wuah, ga nyangka masih bisa bikin fanfic dan mengepostnya di sela-sela jadwal yang sibuk. Ini aja Aria baru pulang dari survey stasiun-stasiun di Jakarta, yang jelek n jorok banget. Stasiun Bandung tidak pernah seindah ini di mata Aria *sigh*
Saya minta maaf banget buat author-author yang akhir-akhir ini belum Aria R&R ficnya, maap… kehidupan mahasiswa tingkat 4 di akhir semester ini bener-bener menguras pikiran dan tenaga Aria… Termasuk saat bikin fanfic ini. Sejujurnya Aria merasa belum puas, karena entah kenapa di chapter ini vocabularynya kok minim banget, entah gara-gara kebanyakan ngetik draft makalah, Aria jadi menumpul kemampuan bikin fanficnya, hahahaha *ditimpuk*
Anyway, mudah-mudahan semua bisa menikmati chapter ini…
The Darkness Remains
Chapter 2,5
When You Were Here
By:
Aria_TheMosquitoRepellent
Special thanks: Raven-heika
Sasuke terbangun saat udara dingin menyusup masuk ke dalam kamarnya. Kedua mata hitam itu terbuka, mencoba mengenali keadaan sekelilingnya. "Dingin sekali," gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur. Perlahan ia mendekati jendela, lalu membuka tirainya. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya warna putih salju menyelimuti halaman Uchiha Mansion.
"Salju pertama…" gumamnya, lalu membuka jendela. Udara dingin menggigit seketika menerpa tubuh Sasuke, tetapi ia toh tidak beranjak. Bagi Sasuke, ada tidaknya salju akan terasa sama, karena ia terjebak dalam musim dingin dan tak bisa keluar lagi. Terjebak dalam musim dingin tahun itu, yang masih bisa ia rasakan jelas di kulitnya, di setiap sel syarafnya. Musim dingin di mana ia kehilangan Naruto.
"Aku ingat, saat itu juga turun salju seperti sekarang ini…"
"Sasuke! Sasuke! Ayo cepat kesini!" panggil Naruto dari kejauhan. Wajahnya memerah karena terlalu bersemangat atau karena udara dingin, atau keduanya. Sasuke Cuma menghampirinya dalam diam.
"Lihat itu!" tunjuk Naruto ke salah satu etalase toko. "Bukankah pita itu sangat cantik? Pasti cocok untuk Sakura." Katanya bersemangat. Saat ini mereka berdua memang sedang berada di salah satu shopping street di London untuk mencari hadiah natal.
"Hn, idiot. Kecilkan suaramu, semua orang melihat ke arah sini tahu!" kata Sasuke. Memang benar, beberapa orang menengokkan kepalanya ke arah mereka berdua, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Naruto menjulurkan lidahnya, "Orang-orang usil! Lagipula, kenapa begitu banyak orang sih?"
"Jelas saja, sebentar lagi kan natal. Orang-orang pasti ingin mencari hadiah untuk keluarganya. Ayo masuk ke toko ini!" Kata Sasuke tidak sabar sambil menarik tangan Naruto masuk ke dalam toko.
Pemilik toko itu adalah seorang pria setengah baya yang agak botak. Sambil tersenyum, ia menyambut kedua orang tamu yang baru saja memasuki tokonya itu. "Ah, selamat datang, Mr. Uchiha. Senang sekali Anda datang ke mari. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hn. Bukan aku, tetapi dia." Sasuke bergeser selangkah, membuat pemilik toko itu melihat Naruto lebih jelas. Tiba-tiba sikapnya berubah, keramahan yang tadi ia tunjuukan tiba-tiba menghilang.
"Mr. Namikaze." Gumamnya dingin. Naruto berjengit mendengar nada suara itu. "A..ah… Anda salah orang, namaku Uzumaki." Kata Naruto sedikit terbata-bata. Sasuke memandangi pemilik toko itu dengan tatapan marah.
"Sepertinya toko ini tidak memiliki etika yang baik dalam melayani tamunya. Ayo kita pergi saja, Naruto." Tanpa menghiraukan panggilan panik sang pemilik toko, Sasuke membawa Naruto keluar, menjauhi shopping street itu, sampai tiba di sebuah gang.
"Sa…Sasuke? Ada apa?" Tanya Naruto terbata-bata.
Yang ditanya hanya diam. "Sasuke?"
"Aku tidak suka caranya memperlakukanmu." Jawab Sasuke singkat, kemarahan jelas terpancar di matanya.
Naruto tertegun sejenak, lalu tersenyum. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk membelai lembut pipi Sasuke. "Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa kok." Katanya pelan.
"Justru kau tidak boleh terbiasa diperlakukan seperti itu!" kata Sasuke lagi.
Naruto masih tersenyum, "Tapi Sasuke, itu bukan hal yang aneh mengingat apa yang telah terjadi."
Dulunya, keluarga Namikaze adalah keluarga pedagang yang kaya dan terpandang, sampai setahun yang lalu, kepala keluarga mereka terlibat dalam suatu kasus pembunuhan anggota kerajaan, Pangeran Nowaki. Tentu saja tidak ada yang percaya kalau Minato Namikaze hanya dijebak. Setelah Minato dihukum gantung, seluruh gelar mereka disita dan kekayaan mereka dicabut, meninggalkan putra semata wayang keluarga Namikaze, Naruto menjadi miskin dan yatim piatu. Untungnya, keluarga Uchiha, yang telah menjadi sahabat keluarga Namikaze selama bertahun-tahun, bersedia menampung Naruto dan mempekerjakannya sebagai pelayan pribadi Sasuke. Mereka tidak bisa mengambil resiko dikucilkan dari dunia pergaulan kelas atas dengan mengangkat Naruto sebagai anak, tentu saja. Meskipun demikian, Naruto sangat berterima kasih kepada Fugaku Uchiha atas kebaikannya. Sayangnya, Sasuke tidak berpikiran sama, dia masih menyesali kenapa Naruto tidak bisa menjadi bagian dari keluarga Uchiha.
"Tapi kau sampai harus memakai nama keluarga ibumu…" gumam Sasuke.
"Sudahlah, Sasuke. Tidak apa-apa. Tenanglah, oke?" kata Naruto lembut, lalu menuntun Sasuke kembali ke jalan besar. "Cuma melihat-lihat saja aku sudah senang kok. Nanti kau saja ya, yang beli, biar aku kasih uangnya." Naruto memperlihatkan dompetnya. "Aku sudah menabung lho! Oh iya, kamu mau hadiah apa?" ia menegok ke belakang, baru menyadari kalau Sasuke berhenti berjalan.
Pria berambut hitam itu tersenyum sambil menyelipkan sehelai rambut Naruto ke belakang telinga, "Ada sesuatu yang kuinginkan, yang hanya bisa diberikan olehmu."
Diperlakukan seperti itu, wajah Naruto sedikit memanas. "A…apa?"
"Well…well…well… Uchiha. Menyenangkan sekali kita bisa bertemu di sini." Sebuah suara yang familiar mengalihkan perhatian Naruto dari Sasuke, ke seorang pria perlente berambut hitam panjang yang baru saja menghampiri mereka. Di belakangnya, ada seorang lady cantik, yang terlihat malu-malu. "Se…selamat siang, Mr. Uchiha," kata Lady itu terbata-bata, sambil membuka tudung baju hangatnya.
"Neji dan Hinata Hyuuga." Kata Sasuke singkat.
"Hmm, apa yang kita punya di sini? Ah, ada Mr. Namikaze rupanya. Kudengar sekarang dia menjadi pelayan pribadimu, hm?" kata Neji, ia bicara seolah-olah Naruto sendiri tidak berada di situ.
"Lebih baik kau urusi masalahmu sendiri, Hyuuga.." Kata Sasuke, tanpa melepaskan topeng dinginnya.
Naruto dan Hinata yang kebingungan dengan atmosfir berat itu hanya bisa saling memandang. Hinata tersenyum, Naruto membalasnya dengan senyum yang tak kalah lebar. Mereka bukannya tidak tahu kalau hubungan antara Sasuke Uchiha dan Neji Hyuuga kurang baik, bahkan seluruh London tahu mereka bermusuhan. Bagaimanapun, tidak akan ada orang yang terbiasa dengan suasana yang tiba-tiba mencekam ini.
"Ne…Neji, bagaimana kalau kita teruskan saja belanjanya?" Tanya Hinata dengan suara pelan, namun terdengar juga oleh Neji. Kalau ada orang yang disayangi oleh Neji Hyuuga, itu adalah Hinata, sepupu yang sudah tinggal bersamanya sedari kecil. Begitu juga kali ini, cuma Hinata yang bisa mengalihkan perhatian Neji dari pertengkarannya dengan Sasuke.
Neji menghela nafas, "Baiklah, Hinata. Ayo pergi."
Tanpa memberi salam kepada Sasuke lagi, Neji pergi duluan meninggalkan ketiga orang itu di tempatnya. Hinata tersenyum meminta maaf, "Permisi dulu, Mr Uchiha, Mr. Namikaze." Katanya, lalu mengejar Neji.
Sepeninggal mereka berdua, tiba-tiba Naruto menjadi diam. Sepanjang jalan, tidak terdengar lagi teriakannya yang menunjuk-nunjuk barang di etalase.
"Kenapa Naruto? Sudah lelah?" Tanya Sasuke khawatir. Naruto hanya menggelengkan kepala. "Perasaanku tidak enak, Sasuke. Kau lihat cara Neji memandangku tadi? Aku tidak suka tatapannya."
"Jangan hiraukan dia, lebih baik kita pulang saja, oke?"
Naruto mengangguk, dan mereka pulang dalam keadaan diam.
"Hei, Sakura, tahu tidak? Masa Sasuke tidak mau memberitahuku apa yang dia inginkan untuk hadiah natal! Dan ini malam Natal! Mau kukemanakan harga diriku sebagai seorang Namikaze kalau memberi hadiah natal saja terlambat!" Naruto bersungut-sungut sambil duduk di samping Sakura. Sore itu, mereka bertiga –Naruto, Sasuke, Sakura- sedang duduk-duduk minum teh di ruang baca keluarga Uchiha, sambil menghangatkan diri di dekat perapian. Di luar sedang badai salju, dan sepertinya Sakura akan melewatkan malam natal di sini bersama dua sahabatnya itu. Fugaku, ayah Sasuke, sedang beristirahat di pedesaan bersama Mikoto, ibu Sasuke. Karena itu tahun ini Sasuke hanya merayakan natal berdua –sekarang bertiga- dengan sahabatnya. Sebenarnya tidak sedikit undangan pesta yang ditujukan kepada keluarga Uchiha, tetapi Sasuke yang pada dasarnya sedikit antisocial memilih untuk menjauhkan diri dari pesta-pesta semacam itu.
"Kalau dipikir-pikir, kaulah yang jahat, Naruto," kata Sakura santai, "karena tidak juga menyadari apa yang diinginkan Sasuke," gadis itu melirik Sasuke, pria berambut hitam itu sedang melempar tatapan sadis ke arahnya. "Ups! Maaf, Sasuke. Aku cuma merasa sedikit gemas melihat kalian berdua."
"Eeh? Memangnya apa yang dia inginkan?" Tanya Naruto. Sasuke hanya diam sambil menyodok-nyodok kayu di perapian dengan sebatang besi.
Naruto terlihat berpikir sejenak, lalu sambil tersenyum jahil ia jongkok di samping Sasuke. "Jangan-jangan, kau mengincar keperjakaanku yaa?" Tanya Naruto bercanda. Efek kalimat ini luar biasa, karena Sasuke hampir tersungkur ke perapian (akibat menyodok terlalu keras) dan Sakura tersedak tehnya. Naruto bingung.
"Eeh? Memangnya seheboh itu? Aku kan Cuma bercanda!"
Sasuke dan Sakura terdiam. Naruto makin bingung.
"Jangan-jangan… itu benar?"
Sasuke dan Sakura masih diam. Wajah Naruto memerah seketika, "Tidak mungkiiin!!"
"Bodoh." Kata Sasuke. Singkat. Padat. Jelas.
"Cih, bercanda rupanya," kata Sakura dengan nada kecewa.
"Apa maksudnya itu, Sakuraaaa! Eeh? Wajah Sasuke merah! Makanya jangan terlalu lama di depan perapian! Dan kupikir kaulah yang lebih pintar di antara kita berdua!"
"Naruto…" Sakura memanggilnya pelan. Pria berambut pirang itu menengok, "Ya, Sakura?"
"Kau meracau."
"A…aku tidak…"
Sakura menghela nafas. Ini mulai mengesalkan, pikirnya.. "Biar kuberi petunjuk…" katanya memulai. Sasuke melotot, Sakura tidak ambil peduli. "Yang tadi itu tidak salah juga sih, tetapi agak sedikit terlalu jauh…"
Naruto memiringkan kepalanya. "Aku tidak mengerti."
"Idiot." Kali ini kata-kata itu keluar dari mulut Sakura. Gadis itu beranjak dari tempatnya duduk, "Malam ini aku tidur di kamar tamu kan? Aku taruh tas dulu. Kalau sudah selesai, kalian tahu di mana harus mencariku." Dan dengan itu, Sakura keluar dari ruang baca, meninggalkan Sasuke yang wajahnya semerah tomat, dan Naruto yang masih garuk-garuk kepala kebingungan.
"Terlalu jauh? Jadi maksudnya yang tidak sejauh itu, artinya, ciuman? Tapi bukannya dulu kami pernah ciuman?( tidak sengaja sih…) Atau Sakura Cuma bercanda? Tapi dia tidak terlihat bercanda, tapi…tapi… Ah! Aku meracau lagi! Memangnya Sasuke punya perasaan khusus terhadapku? Tidak mungkin kan? Kalau begitu apa yang dia inginkan?"
"Naruto…" panggil Sasuke pelan. Naruto mendongak, dan terkejut. Sejak kapan Sasuke berada sedekat ini?
"Y…ya?" Naruto menjawab dengan terbata. Apa hanya perasaanku saja, atau ruangan ini tiba-tiba jadi panas ya?
"Hmm, kau wangi…" Sasuke menghirup aroma rambut Naruto, yang wajahnya sudah memerah sampai ke telinga.
"E…eh? Benarkah?"
Sasuke mengangguk, jemarinya meraih dagu Naruto dan mendongakkan wajah pria berambut pirang itu sehingga mereka bertatapan. "Apa sekarang kau sudah bisa menebak apa yang kuinginkan?"
"…"
"…?"
"…"
"Sudahlah, buatkan saja aku cokelat panas sebagai hadiah Natal. Malam ini sepertinya akan dingin" kata Sasuke sambil menghela nafas. Kenapa aku bisa jatuh cinta kepada orang yang tidak peka begini sih?
Namun saat akan Sasuke beranjak, Naruto menarik tangannya sampai pria itu jatuh terduduk. "Oi, apa-apaan si…mmmph!" protes Sasuke ditenggelamkan oleh bibir Naruto yang kini menempel erat di bibirnya. Tak lama kemudian, Naruto menjauhkan wajahnya dari wajah Sasuke. Kepala pria berambut pirang itu menunduk, tidak berani menatap mata Sasuke.
"A…apa itu yang kau inginkan?" Tanya Naruto dengan suara pelan.
"Hah?" Sasuke masih sedikit 'melayang', setelah beberapa saat barulah ia menyadari bahwa sekarang Naruto duduk di pangkuannya, agak terlalu dekat dengan batas nyaman Sasuke.
"Bukan…" kata pria itu setelah beberapa saat.
Naruto tersentak mendengarnya, wajahnya semakin memerah karena malu, "Ma… maafkan aku, kupikir…"
Kupikir kau memiliki perasaan yang sama denganku.
Pria berambut pirang itu berusaha menjauh dari Sasuke, tetapi tangan Sasuke di pinggangnya membuat Naruto sulit bergerak. "Sasuke? Aku tidak bisa bergerak kalau begini caranya."
Yang dipanggil malah mengeratkan pelukannya, lalu menyandarkan dahinya di pundak Naruto. "Baguslah, jadi kau tidak akan pergi ke mana-mana."
Tubuh Naruto menegang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "Bukankah…" Bukankah kau tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku? Lalu kenapa menahanku seperti ini?
"Yang kuinginkan…" potong Sasuke, "… adalah kepastian perasaanmu."
Nafas Naruto tercekat, kalau bisa, mungkin saat ini jantungnya sudah melompat ke luar.
"… bukan tubuhmu… bukan pengabdianmu…"
"Sasuke…"
"Yang kuinginkan adalah cintamu…"
Satu kalimat itu cukup untuk membuat sebutir air mata mengalir di pipi Naruto. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Sasuke, dan memeluknya erat.
"Aku mencintaimu, Sasuke…" bisiknya. Selalu, selamanya.
Dan mereka berpelukan, entah untuk berapa lama. Saat malam tiba, keduanya teringat akan Sakura dan mendatangi gadis itu di kamar tamu.
Sakura membuka pintu dan mendapati kedua sahabatnya kini bergandengan tangan, lalu ia tersenyum. Ini hadiah natal terindah yang pernah ia dapatkan.
Sasuke memejamkan matanya, seulas senyum tergambar di wajah pria itu. Betapa ia tak pernah lelah mengenang masa-masa bahagia saat masih bersama Naruto. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, dalam waktu kurang dari dua tahun, semuanya harus hancur berkeping-keping.
Dilihatnya butiran-butiran salju semakin berjatuhan. Kelihatannya hari ini akan ada badai. Ya, badai. Saat itu juga sedang badai di musim gugur, dan Sasuke masih bisa mengingat jelas setiap detailnya. Hari di mana ia kehilangan Naruto.
Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tamu-tamu sudah memenuhi ruangan pesta, dan sejauh ini segalanya berjalan lancar. Hari ini adalah pesta perayaan diangkatnya Sasuke menjadi Earl Uchiha yang baru, menggantikan Fugaku yang mulai sakit-sakitan dan saat ini lebih banyak menyepi di desa. Bahkan, hari ini pun Fugaku tidak dapat hadir karena penyakitnya.
Dari sudut matanya, Sasuke dapat melihat Sakura dengan gaun pinknya mondar-mandir berbicara dari satu Lady ke Lady lainnya. Bisa ditebak, sebenarnya, tujuan gadis itu. Dia mencoba menghalangi para Lady yang ingin mencoba merebut hati Sasuke dari Naruto. Bukannya mereka tahu juga hubungan Naruto dan Sasuke, karena tentu saja ini adalah rahasia. Hubungan sejenis belum dapat diterima secara resmi oleh masyarakat Inggris, walaupun tidak sedikit yang melakukannya secara diam-diam.
"Kenapa, Earl Uchiha?" Tanya Naruto dari balik punggung Sasuke.
"Hn. Hanya melihat-lihat."
"Ayolah, ini pestamu! Setidaknya hampirilah para bangsawan itu dan bangunlah hubungan baik dengan mereka."
"Hn."
"Terserahlah…" kata Naruto, pasrah.
"Selamat, Earl Uchiha." Seorang wanita menghampiri Sasuke dan mengulurkan tangannya, yang disambut dengan kecupan di punggung tangan oleh Sasuke. Sebelah alis Naruto terangkat, apa-apaan dengan keakraban ini?
"Ms. Hyuuga."
Hinata tersenyum. "Halo, Mr. Namikaze." Sapanya, dibalas dengan anggukan dari Naruto. "Aku ingin minta maaf atas pertemuan kita sebelumnya yang … kurang pantas." Kata gadis itu.
"Tidak masalah," Kata Sasuke pendek.
"Sangat kusesalkan, sebenarnya. Aku berharap keluarga kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik."
"Jangan terlalu dipikirkan, Ms. Hyuuga." Ujar Sasuke lagi sambil meraih segelas champagne dari salah satu pelayan, lalu menyodorkannya kepada Hinata.
"Terima kasih. Sebenarnya aku datang mewakili Neji, kakakku. Hari ini ia berhalangan hadir, kuharap Anda bisa mengerti."
"Tentu saja, Ms. Hyuuga."
Hinata meneguk sedikit champagne-nya, sementara Sasuke menyadari bahwa Naruto sudah tidak ada di sampingnya lagi. Dan pria berambut pirang itu tidak terlihat lagi sepanjang pesta.
Malam semakin larut, dan tamu yang tersisa hanya Ms. Hyuuga, yang saat ini sibuk mengobrol dengan Sakura, dan beberapa bangsawan. Sasuke menyelinap keluar dari ballroom untuk mencari Naruto, dan tidak terkejut saat menemukan pria itu di balkon.
"Kau kemana saja?" Tanya Sasuke.
"Di sini." Jawab Naruto pendek, matanya memandangi gumpalan awan hitam yang mulai menebal di langit. Sepertinya akan ada badai.
"Kenapa kau memilih di sini, dan bukan di sampingku?"
Pertanyaan itu sedikit mengejutkan Naruto, tapi dia tetap menjawab, "Bukankah sudah ada Ms. Hyuuga yang menemanimu? Tumben kau begitu ramah."
Sasuke tersenyum kecil. Dia cemburu, eh?
"Kau sendiri yang bilang kalau aku harus ramah kepada tamuku." Pria berambut hitam itu melingkarkan lengannya di pinggang Naruto.
"Kau menikmati ini ya? Sialan." Omel Naruto, yang dibalas dengan kecupan kecil di tengkuknya oleh Sasuke. "Sangat."
Sasuke baru membalikkan tubuh Naruto dan akan mengecup bibirnya saat didengarnya Sakura berdehem.
"Ehem, maaf mengganggu. Tapi Ms. Hyuuga sudah mau pulang." Kata Sakura, matanya berbinar-binar nakal. Sasuke punya perasaan buruk kalau gadis itu akan mengejeknya karena hal ini.
"Eh? Selarut ini hanya pulang dengan kusir?" Tanya Naruto kaget setelah menemui Hinata. Wanita itu hanya tersenyum. "Kakakku tidak bisa menjemput."
"Bagaimana ini Sasuke? Mungkin sebaiknya kita antar saja?" Tanya Sakura, Sasuke terlihat berpikir.
"A…aku tidak ingin merepotkan." Kata Hinata pelan.
"Ah! Aku tahu, aku saja yang mengantar Ms. Hyuuga, bagaimana?" Naruto menawarkan diri.
"Ini sudah malam, Naruto." Kata Sasuke dengan nada tidak setuju.
"Lalu? Sasuke, aku ini laki-laki. Tolong jangan terlalu melindungiku seperti itu. Lagipula aku cuma mengantar orang, bukan pergi perang!"protes pria berambut pirang itu. Mata birunya memancarkan rasa memohon.
"Tidak."
"Hey, ayolah, beri aku kesempatan untuk membayar rasa bersalah karena telah mencemburui Ms. Hyuuga tadi." Bisik Naruto di telinga Sasuke.
Sasuke terdiam, lama. Mencoba menolak, tetapi gagal saat melihat tatapan memohon dari mata biru Naruto. "Baik. Tapi berhati-hatilah."
"Tenang, aku kan naik kereta kuda. Silakan, Ms Hyuuga!" kata Naruto, memberi jalan kepada Hinata. "Selamat malam, Earl, Ms. Haruno." Kata wanita itu berpamitan. Sasuke dan Sakura hanya mengangguk.
Sakura memandangi kepergian kedua orang itu sampai mereka menghilang ke balik pintu. "Intuisiku jarang tepat, tetapi entah kenapa ada aku merasa tidak tenang." Gumam wanita itu. Sasuke hanya terdiam.
Aku juga, pikirnya. Aku juga.
Sasuke mengalihkan pandangannya dari dahan pohon ke hamparan salju di tamannya, matanya masih menerawang kosong. Rupanya intuisi Sakura kali itu memang tepat, karena malamnya, Naruto tidak pulang. Sasuke masih berusaha berpikir positif dengan mengasumsikan Naruto tinggal di kediaman Hyuuga karena hujan badai yang turun malam itu, dan mengharapkan kekasihnya pulang saat pagi tiba.
Tetapi yang datang pagi itu, bukanlah sesosok pria berambut pirang dan bermata biru, melainkan petugas Scotland Yard.
"Anda Earl Uchiha? Kami ingin mengabarkan bahwa dini hari tadi, kami menemukan mayat Namikaze Naruto di salah satu gang di Durward Street. Dia adalah pelayan Anda, benar?"
Dengan kalimat itu, seluruh dunianya terasa runtuh.
Sasuke membuka matanya, tubuhnya menggigil di balik selimut, tetapi rasa dingin ini berbeda dengan yang ia rasakan sebelumnya. Ia mengedarkan pandangannya, mencoba mengenali keadaan sekelilingnya. "Dingin sekali," gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur. Perlahan ia mendekati jendela, lalu membuka tirai, hanya untuk melihat pemandangan daun-daun yang kemerahan, sedangkan tamannya diselimuti oleh tumpukan daun yang berguguran.
Musim gugur? Tapi tadi…
Setelah tertegun sejenak, ia mulai tertawa, dan tertawa. Bahkan dalam mimpinya pun yang ada hanya musim dingin. Karena tanpa mataharinya, yang tersisa hanya kehampaan, dan musim dingin dengan salju yang membekukan.
…Tbc…
Hmm... rasanya saya bercerita dengan terlalu terburu-buru...
Cliffie… hohoho… Ada apa dengan Naruto? Tunggu chapter koma-komaan berikutnya! Coba-coba ikutan Code Geass, menamai episode filler pake koma-komaan (chapter 3,75 lah, chapter 8,5 lah…), bedanya, chapter ini bukan filler! Melainkan flashback yang sangat penting!! *yeah, right…*
Jujur, chapter ini susah banget dibuatnya, saya sampai bikin 5 versi dan baru ini yang saya anggap cukup layak buat dipost, haha… dilemma seorang perfeksionis…
By the way, adegan mesra SasuNaru di ruang baca itu… cheesy banget!!! Gyaaa!! Bisa-bisanya saya bikin adegan cheesy semacem itu!!! (ada yang pernah mengucapkan kalimat yang mirip-mirip itu ke Aria loh… haha… So cheesy) Aria bener-bener nggak bakat bikin cerita fluff…
Daa…n kalau ada yang bingung, adegan Sasuke terbangun di musim dingin itu cuma mimpi, representasi dari sepinya hati dia saat itu, gitu…
Ayo, kasih feedback buat Aria… Review?
