Disclaimer: Naruto punya Aria! Punya Aria! Punya Aria! Punya Ari… *ditimpuk*

Rating: M untuk tema dewasa, M untuk lime, M untuk violence, perlukah saya jelaskan lagi? Ya, fanfic ini ratingnya M.

Pairing: SasuNaru, sedikit SasuSaku, dan sedikit pairing2 lainnya…

Warning: Yaoi, AU, OOC, angst…angst…never ending angst…

Hahaha… saya cuma bisa tertawa hambar begitu selesai mengetik chapter ini. Padahal ini lagi minggu ujian… Udah lama updatenya *huwee…maaf…*, suram pula ceritanya… Ini chapter yang sangat pendek, tapi isinya padat!*yeah...*

Anyway… mari kita kesampingkan semua pemikiran kelabu itu dan beralih ke hal yang lebih menyenangkan, ucapan terima kasih misalnya. Aria berterima kasih banget sama orang-orang yang sudah bersedia R&R, saya jadi merasa sangat tersanjung, kufufufu… That means a lot for me ,This chapter is for you, guys!!



The Darkness Remains

By : Aria_TheMosquitoRepellent

Chapter 4 : A Tiny Bit of Truth

---

Bar itu terlihat gelap dan remang-remang, seperti bar-bar kelas rendah di London pada umumnya. Pria-pria dengan pakaian lusuh berjalan sempoyongan dengan sebotol bir murah di tangan mereka, menyanyikan lagu yang terdengar seperti yodel. Sementara itu wanita-wanita penghibur dengan gaun berdada rendah dan dandanan yang menor terkikik sambil menempel erat pada pemabuk-pemabuk itu. Suara tawa dan gumam-gumam orang berbicara semakin ramai seiring dengan larutnya malam, kontras dengan suasana sepi Durward Street di luar, yang sepi dari kehidupan.

Neji Hyuuga mengernyitkan hidungnya, bau bir yang tajam menyerang penciumannya seketika saat memasuki bar remang-remang itu. Sang Earl mengeratkan coat panjangnya, sambil berusaha melewati kerumunan orang-orang mabuk menuju salah satu meja di pojokan. Di sana, seorang wanita berambut pirang panjang sedang menempel pada pria gendut yang sibuk meracau tentang bisnisnya, penjualan opium atau apalah itu, lalu keduanya terkikik. Rona merah terlihat di wajah sang pria, menandakan ia mabuk berat, dan hanya dalam hitungan menit pria itu tertidur. Sang wanita menegakkan tubuh sambil mengibaskan rambut pirangnya, lalu memandang tepat ke mata Neji. "Hyuuga…" bisiknya dengan nada penuh kebencian.

Neji balas menatap wanita itu dengan dingin, sama sekali tidak tergerak oleh kebencian wanita itu. "Ino Eddowes,"

Tak lama, sang pria mabuk sudah didorong ke lantai untuk menyediakan tempat duduk bagi Neji.

Ino menuangkan bir ke dalam gelas dan mengacungkannya ke arah Neji sebelum meminum isinya sampai habis. Sang bangsawan Hyuuga hanya menatap dengan jijik. Bisa-bisanya ada orang yang meminum sampah itu.

"Jadi, ada apa sampai aku mendapat kehormatan dikunjungi oleh seorang Earl Hyuuga?" Ino tersenyum, dengan senyuman palsu yang dilatihnya sejak mulai menjadi wanita penghibur.

"Kau tahu apa." Neji mengeluarkan sebuah amplop dari balik coat-nya, dan mengulurkan benda coklat itu ke arah Ino, yang diterima dengan banyak emosi tak terungkapkan di matanya. Kebencian, kemarahan, dan yang paling dominan … kesedihan.

"Kompensasi untuk setahun lalu." Sang Earl berkata dengan nada datar, membuat Ino memandanginya dengan mata berkaca-kaca.

"Bagimu, ini mungkin memang hanya permainan. Dan kompensasi ini … mungkin memang bagian dari perjanjian kalian, tapi…" Ino tercekat, "… tapi…"

"Jangan konyol," potong Neji. "Dia sendiri yang menyetujuinya," dan tanpa banyak bicara, pria berambut hitam itu bangkit dari sofa. Dengan satu pandangan terakhir, ia membalikkan badan dan meninggalkan Ino sendiri.

"Suatu saat…", isak Ino, kedua tangan wanita itu menutupi wajahnya yang berurai air mata, "… suatu saat kau akan merasakan pahitnya kehilangan orang yang kau cintai…"

"… dan akan kupastikan hari itu tiba…" kedua mata birunya menatap tajam pada punggung Neji yang menjauh. Sebuah rasa sakit yang familiar kembali terasa di dadanya.

Tanpa menghiraukan keadaan di sekeliling, Ino mengangkat kakinya ke atas sofa dan meringkuk di sana. Tubuhnya gemetar, dan tangannya mencengkeram dada sambil terisak pelan.

"Sai…"


Neji membanting pintu bar itu saat keluar. Udara dingin seketika menyerangnya, membuat pria itu mengeratkan kembali coat dan syal yang ia kenakan. Bibirnya membentuk garis tipis, menandakan ia sedang kesal. Ya, setiap kali bertemu dengan wanita itu selalu ada perasaan aneh ini di hatinya, seperti perutnya diremas-remas dan nafasnya jadi sesak. Tatapan penuh kebencian yang ia terima tidak membantu mengurangi ketidaknyamanan itu. Wajar kalau Sang Earl tidak ingin berlama-lama bersama wanita itu, karena ia takut perasaan yang ia pendam dalam-dalam sejak setahun yang lalu menyeruak dan terlihat di matanya.

Perasaan bersalah… dan menyesal… Karena hasilnya tidak seperti yang kuharapkan, Neji meyakinkan diri sendiri. Karena masalahnya sekarang jadi merepotkan.

Bukan karena aku menghacurkan sebuah keluarga demi ambisiku…

Jelas bukan.

Suara benda terbanting menyentakkan Neji dari lamunannya. Suara itu berlanjut dengan suara pukulan dan rintihan seseorang, sampai ia melihat seorang bocah laki-laki berambut merah, usianya tidak mungkin lebih dari 16 tahun, berlari menuju arahnya hanya untuk tersungkur beberapa kaki di depan Sang Earl. Neji sempat memperhatikan keadaan bocah itu sejenak. Kemejanya terkoyak di beberapa tempat, warna putih itu kini diwarnai dengan kotornya lumpur dan lumut, dan darah. Bocah itu mengerang sambil mencoba mengangkat tubuhnya, sedangkan Neji masih diam di tempat. Tak terbersit sedikit pun dalam pikirannya untuk menolong sang bocah.

Sekilas, Neji seperti melihat dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Babak belur dan lemas di tangan pamannya, Earl Hyuuga yang dulu.

"Hyuuga tidak bergaul dengan kalangan rendahan!" Hiashi Hyuuga mencengkeram tubuh Neji yang sudah lemas, dan menghempaskannya ke lantai. Hari ini ia melakukan satu kesalahan : bermain dengan anak pelayan. "Jangan ulangi kesalahan ini lagi!" bentaknya sambil kembali menampar pipi Neji.

Neji kecil hanya menatap nanar ke arah dinding, mendengarkan dengan seksama suara langkah Hiashi yang menjauh. Pipinya panas dan pasti memar-memar, sedangkan seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia merasa lelah, dan tidak menemukan kekuatan untuk berdiri. Hanya bisa terbaring di lantai yang dingin...

Lamunan Neji terputus oleh suara tiga orang pria.

"Dia lari ke sana!"

Beberapa orang pria mengejar sang bocah, dan menarik tubuhnya ke belakang. Bocah itu terbanting keras, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah rintihan pelan. Entah karena terlalu lelah, atau terlalu kesakitan, atau keduanya. Kini salah seorang dari mereka menjambak rambut bocah itu, menyebabkan lehernya tertarik.

"Kau, berani-beraninya mencuri uang kami!"

Bocah itu berbisik lemah, "...aku tidak..."

Kata-katanya terputus oleh sebuah tendangan. Dan pukulan. Disusul oleh pukulan lainnya. Neji hanya mendengus, orang-orang rendahan ini hanya bisa menyalurkan rasa frustasinya dengan cara ini, kasihan. Saat itu ia berniat pergi dari tempat itu sampai … sampai sepasang mata berwarna hijau bertatapan dengannya. Hanya sekilas, tetapi Neji dapat melihat banyak hal dari mata itu. Kesedihan, dan permohonan untuk ditolong. Tetapi bukan keputusasaan.

Mungkin itulah yang membuat Sang Earl Hyuuga maju tiga langkah dan melemparkan sejumlah pound ke arah pria lainnya. Mereka langsung mengerti dan menjauhi bocah itu, tentu saja setelah memberikan satu tendangan terakhir ke perut si bocah.

Mereka berdua terdiam di tempat masing-masing. Neji masih berdiri di tempatnya, dan bocah itu terbatuk-batuk sedikit lalu duduk. Pandangan matanya kini menatap lurus ke sepasang mata lavender milik Neji. Kesunyian yang nyaman tercipta di antara mereka, sebuah atmosfir yang dipecahkan oleh teriakan terkejut seorang wanita.

"Ya, Tuhan! Gaara! Apa yang terjadi denganmu?" seorang wanita dengan kulit kecokelatan dan rambut pirang berlari melewati Neji untuk mengecek keadaan sang bocah bernama Gaara itu. Tanpa banyak bicara, Neji membalikkan badannya dan segera pergi dari tempat itu.

"Gaara, huh?" bibir Sang Earl membentuk senyum simpul. "Kenapa aku menolongnya ya?" gumamnya pada diri sendiri.

Mungkin memang masih ada rasa kemanusiaan yang tersisa di dalam dirinya.


Sasuke melangkahkan kakinya ke luar dari Hatake Residence. Hari ini ia diminta untuk memeriksa kesehatan Lady Rin Hatake, istri Earl Hatake yang sakit-sakitan. Wanita itu tak akan bertahan lama, penyakit jantung yang dideritanya sudah cukup parah. Sedikit saja shock, bisa menyebabkan kematian. Sasuke tersenyum sinis, coba kalau sampai wanita itu memergoki perselingkuhan Earl Hatake dengan tangan kanannya, Iruka.

"Earl Uchiha?" seseorang memanggil Sasuke, membuat pria berambut hitam itu menghentikan langkahnya. Dapat ia lihat seorang pria berambut coklat berantakan berjalan mendekat sambil tersenyum. Pria itu menyodorkan tanda pengenal kea rah Sasuke, yang diterimanya dengan mengangkat sebelah alis.

"Kiba Inuzuka, penyelidik Scotland Yard."

Lima belas menit kemudian, Sasuke Uchiha dan Kiba Inuzuka sudah duduk berhadapan di sebuah café di Essex. Tempat itu cukup nyaman, dinding dan lantainya berbahan kayu, membuat suasana ruang itu lebih hangat. Dapat terdengar kayu di perapian bergemeretak, suara orang-orang berbincang dengan suara rendah, suara tawa hangat para gadis bangsawan yang saling bergosip, dan suara musik lembut yang mengalun dari gesekan biola seorang pemusik di sudut ruangan. Sejenak menikmati suasana, kedua pria itu menyeruput tehnya dalam diam, sampai Sasuke memulai pembicaraan.

"Apa sebenarnya keperluan anda?" Tanya Sang Earl dengan nada bosan. Hal ini menyebabkan Kiba tersenyum kecil.

"Hanya ingin bertanya beberapa hal. Kudengar akhir-akhir ini karir anda di dunia kedokteran sangat sukses ya?" Kiba meletakkan cangkirnya, dan menatap mata Sasuke dengan wajah tertarik.

Sasuke hanya diam, mengira-ngira arah pembicaraan ini. Orang-orang Scotland Yard itu suka berputar-putar untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Salah-salah dia bisa dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan. "Lalu?"

"Tidak, hanya saja saya mau meminta pendapat anda sebagai dokter terkemuka tentang kasus yang terjadi akhir-akhir ini."

"Kau membuang waktuku." kata Sasuke kesal, lalu ia meletakkan 20 pounds di atas meja dan merapikan jasnya, bersiap untuk pergi.

"Earl Hyuuga cukup menarik perhatian ya? Dengan organisasi barunya itu." Kata Kiba lagi sambil mengaduk-aduk teh di hadapannya.

"Aku tidak peduli dengan hidup matinya 1-2 pelacur di luar sana. Hyuuga bebas melakukan apa yang ia mau." Dan dengan kalimat itu, Sang Earl Uchiha pergi meninggalkan Kiba sendirian.

Detektif itu hanya bersiul, lalu tersenyum kecil. "Tepat sekali, Earl. Anda tidak peduli…" gumamnya, lalu melambai kea rah salah satu pelayan agar menyingkirkan teh yang tadi ia minum. Kopi akan lebih membantu Kiba untuk berkonsentrasi.

Yap, pikir Kiba sambil menyeruput kopinya. Ini memang lebih baik.



"Bunga, siapa mau beli bunga?" seorang gadis menawarkan bunga-bunga segar di keranjangnya kepada siapa pun yang lalu lalang. Dilihatnya seorang pria tampan berambut hitam ke luar dari dalam café, dan dengan riang ia hampiri pria itu. Mungkin orang yang kelihatannya kaya itu akan membeli bungaku, pikirnya.

Gadis itu memasang senyuman terbaiknya saat berkata, "Bunga, tuan?"

Sang pria hanya tersenyum, bukan senyum lembut, bahkan bukan senyuman sinis. Tetapi senyuman yang menyiratkan kegilaan, yang membuat sang gadis penjual bunga gemetar dan jatuh terduduk. Seikat bunga di keranjang sang gadis terjatuh, dan sang pria memungutnya.

Gadis itu masih gemetar saat beberapa keping uang logam dijatuhkan ke dalam keranjang.


"Kau membuatnya takut." Seorang pria berambut abu-abu keluar dari balik dinding di salah satu gang, ia tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang runcing ke arah Sasuke. Bagaimana gigi bisa sampai seperti itu, Sasuke tidak ingin tahu.

"Siapa?"

"Penjual bunga itu,"

Sasuke mengangkat bahu, lalu melempar bunga di tangannya ke salah satu tumpukan sampah di ujung gang.

"Pfiu… pria dingin. Rupanya kau sedang diincar banyak orang ya. Kemarin Hyuuga, sekarang Inspektur Inuzuka. Mungkin pheromones-mu terlalu kuat?" pria berambut abu-abu itu berjalan mengikuti Sasuke, berusaha menyamakan langkahnya.

"Tidak usah banyak bicara, berikan hasil laporanmu padaku." Sang Earl Uchiha mulai kesal dengan perilaku pria di hadapannya ini. Suigetsu. Penjual informasi terkemuka di dunia bawah tanah London. Informasi yang diberikannya selalu langka dan akurat, dan ia bekerja berdasarkan rasa ketertarikan. Hal itulah yang membuat Sasuke menyewanya, Suigetsu bukan orang yang mudah menjual informasi kepada siapa saja, dan juga bukan orang yang suka ikut campur hal yang bukan urusannya.

Sang pria berambut abu-abu itu mengulurkan sebuah bungkusan berwarna coklat, yang ditukar dengan amplop berisi uang oleh Sasuke. "Aku yakin ini bisa menjelaskan banyak hal," kata Suigetsu serius, "Kelihatannya apa yang kau cari itu tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya,"

"Aku tahu itu," kata Sasuke, "Terlalu banyak hal yang aneh. Untuk itulah aku menyewamu."

Diam sejenak.

"Hei, Uchiha." panggil Suigetsu tiba-tiba. Sasuke mengerutkan dahi, tidak menyukai cara Suigetsu yang memanggilnya dengan begitu akrab. Pria berambut abu-abu itu mendekati Sasuke, lalu berbisik di telinganya. "Hati-hati dengan kegiatan malammu… Yah, aku tidak peduli sih, tetapi sepertinya akhir-akhir ini Scotland Yard mulai menghubungi beberapa kolektor informasi."

Sang Earl Uchiha hanya memandangi sosok Suigetsu yang pergi menjauh dengan wajah dingin, tak terlihat sedikit pun emosi di mata hitamnya.


Selembar foto dan surat, hanya itu yang ada dalam bungkusan dari Suigetsu. Sasuke meremas foto itu, lalu berbaring di tempat tidurnya. Itu adalah foto sebuah keluarga, seorang pria berambut hitam bersama istrinya dan keempat anak mereka. Keluarga yang kelihatan hangat dan bahagia, dengan sang ayah menggendong anak terkecilnya dan sang ibu merangkul anak yang lain. Semua tersenyum, semua gembira. Tetapi Sasuke tidak, karena Sang Earl Uchiha mengenali dengan baik wajah pria itu. Wajah yang saat-saat kematiannya ia rekam jelas dalam ingatan. Wajah pucat yang sedikit mirip dengannya.

Sai Eddowes.


Ino sayang, aku ada sedikit pekerjaan dari Earl Hyuuga, mungkin hari ini aku tidak akan pulang. Kau tahu kan, perjanjian itu? Aku tahu kau tidak menyetujuinya, tetapi kalau ini berhasil, kita bisa membeli obat untuk Tazuna. Earl Hyuuga sudah berjanji, dan aku tahu dia akan menepati janjinya. Sampaikan salam sayangku untuk anak-anak kita tercinta, Hanabi, Shisui, Moegi, dan si kecil Tazuna.

24 September 1886, Sai Eddowes.

TBC..



… Sejak kapan Hanabi dkk jadi anaknya Sa'i?... *Author tidak bertanggung jawab*

Harusnya malem ini saya ngerjain proposal TA, bukannya fanfic *ditimpuk Raven*… Untung Aria nggak salah tulis "Sasuke" jadi "Stasiun" … atau "Inuzuka" jadi "interchange" … Jangan-jangan hari Sabtu nanti yang Aria kumpulin malah fanfic ini, bukan proposal TA, haha…*ketawa hambar, lagi*

Enough with my self-depression, Review?