Disclaimer: "'Till death do us part' means nothing Naruto, because even you're no longer alive, you'll always be by my side, always mine." said Sasuke, and then he kissed his beautiful bride, whom, sadly, cannot kissed back. "Why are you so cold, my love?" he asked, his voice barely a whisper.
His question left unanswered though, since his bride no longer have the ability to do so.
Rating: M
Pairing: SasuNaru
Warning: Angst. Yaoi. AU. OOC
Entah kenapa, setiap kali hujan turun dengan deras, Aria jadi terpancing untuk bermelankolis ria, cuma berbaring dan memejamkan mata, mendengarkan suara hujan yang jatuh di atap, di pepohonan, di tanah. Menikmati hidup, mengingat apa saja yang sudah terjadi dalam hidup saya dan bersyukur masih bisa melakukan hal-hal senggang semacam itu *halah, ngomong aja males ngapa-ngapain* yayaya... ini chapter flashback lagi...
Sangat disarankan membaca chapter ini sambil menyetel soundtrack Elfen Lied: Lilium. Enjoy!
The Darkness Remains
Chapter 5 : Rain
by : Aria_TheMosquitoRepellent
Hari itu lagi-lagi hujan musim gugur turun dengan derasnya, membasahi dinding-dinding batu tua yang bersemu kehijauan oleh lumut. Hari di mana orang-orang bersembunyi di dalam rumah, di depan perapian meminum secangkir teh hangat, dan berselimut bersama-sama untuk mengusir rasa dingin yang menggigit. Hari di mana pedagang-pedagang jalanan berlarian ke sudut-sudut bangunan, berteduh dari tetes-tetes air yang membasahi tubuh mereka. Hari di mana anak-anak memandang ke luar jendela, mata mereka mengikuti tiap aliran air yang berjatuhan di kaca, sambil bersenda gurau satu sama lain atau malah diam terpana. Hari di mana seorang petugas Scotland Yard mengetuk pintu Uchiha Mansion dengan sedikit terburu-buru.
Sasuke Uchiha sedang duduk di ruang tamunya dengan perasaan gelisah. Matanya merah, menunjukkan keadaannya yang belum tidur semalaman. Toh, hal itu tidak membuatnya merasa mengantuk sama sekali, karena rasa khawatir sedang memenuhi pikirannya. Ya, rasa khawatir terhadap seseorang berambut pirang dan bermata biru yang sangat dicintainya, yang belum pulang semalaman setelah mengantar Hinata Hyuuga.
Suara ketukan di pintu membuatnya terlonjak, lalu segera berlari untuk membuka pintu. Tak diperdulikannya status sebagai pemilik rumah, maupun tatapan heran dari Alfred. Sasuke hanya membuka pintu, berharap yang akan muncul adalah sosok kekasihnya, dengan senyum terkembang dan pelukan hangat.
Tetapi bukan.
Petugas Scotland Yard itu tersenyum sopan, lalu mengangkat topi yang ia kenakan, memperlihatkan sekilas rambut ikal berwarna kecokelatan. "Selamat pagi. Apakah Earl Uchiha ada di tempat?"
Sasuke, tertegun sejenak, lalu mengangguk. "Aku Earl Uchiha, ada urusan apa?"
Petugas itu tersenyum lagi. Sasuke tidak menyukai senyumnya. "Saya petugas dari Scotland Yard. Kami ingin memanggil Anda untuk datang ke kantor kami untuk memastikan sesuatu."
Sang Earl Uchiha mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, dini hari tadi kami menemukan sesosok mayat yang diduga adalah Namikaze Naruto, pelayan pribadi Anda. Saya harap Anda bisa membantu mengidentifikasikannya."
Sasuke terdiam. Lama.
"Apa?" suara yang keluar terdengar lebih serak dari seharusnya. Pria berambut hitam itu merasakan tenggorokannya tercekat, dan ia mulai sulit bernafas.
"Perlu saya jelaskan lagi?"
"… tidak. Sebentar." Dengan itu, Sasuke berbalik dan menutup pintu, meninggalkan sang petugas Scotland Yard di luar.
Berpakaian tidak pernah sesulit ini. Tidak jika tanganmu gemetar dan matamu kabur oleh genangan air mata. Atau jika nafasmu tersendat oleh isakan yang tertahan. Atau kalau hatimu terus menerus berdoa kalau Scotland Yard menemukan orang yang salah. Atau kalau tiba-tiba otakmu menolak untuk berpikir.
"... ini pasti hanya kesalahan biasa..." dengan susah payah Sasuke mengancingkan kemejanya. Tinggal tiga kancing lagi.
"... Naruto menginap di Hyuuga Mansion..." Dua kancing lagi. Sial!Tanganku terlalu gemetar.
"... yang mereka temukan pasti orang lain ..."
Selesai.
Saat menemui sang petugas Scotland Yard, Sasuke memasang topeng dingin dan angkuhnya. Bukan karena menjaga wibawa, tetapi Sasuke tidak tahu ekspresi apa lagi yang dapat ia tunjukkan. Kalau kau dibawa polisi untuk mengenali mayat orang yang paling kau cintai, kau harus berekspresi seperti apa? Sekali ini, hanya sekali ini saja Sasuke berharap ayahnya pernah mengajarinya.
The Royal London Hospital masih persis seperti di ingatan Sasuke. Lorong-lorong berdinding putih, bau desinfektan yang tajam menusuk, wajah-wajah pasien yang muram. Tempat ini pernah menjadi tempat magang dan praktek Sasuke sebagai dokter bedah, bahkan baru satu bulan yang lalu Sasuke mengundurkan diri. Posisinya sebagai Earl Uchiha membuat Sasuke tak lagi leluasa melakukan pekerjaan sebagai dokter di rumah sakit. Pria berambut hitam itu memutuskan untuk menjadikan profesinya sebagai dokter sebagai pekerjaan sampingan, selain mengurus aset keluarga Uchiha.
Koridor yang kini sang Earl lalui semakin tidak ia kenali. Wajar, karena bagian ini adalah bagian otopsi dan kamar mayat, sedangkan Sasuke lebih sering bekerja di unit gawat darurat. Di pintu keempat petugas Scotland Yard yang mengawal Sasuke berhenti berjalan, tangannya terulur menuju gagang pintu, lalu membukanya.
"Selamat siang, Earl Uchiha. Saya dokter Shikamaru Nara, dokter forensik dari Crime Investigation Departement Scotland Yard." seorang pria mengulurkan tangannya pada Sasuke, yang tidak disambut oleh orang yang bersangkutan.
"Earl Sasuke Uchiha." jawab Sasuke singkat, otaknya menolak untuk berpikir begitu menyadari di ruangan itu ada sesosok mayat yang ditutupi dengan kain putih. Matanya terus terpaku pada sosok itu, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Shikamaru sudah berdiri di samping mayat itu.
"Keadaan fisik korban cukup parah. Beberapa luka tusukan, ada sebuah potongan memanjang di punggung korban. Memar-memar, tanda bahwa korban melakukan perlawanan sebelum dibunuh. Dan..." tangan Shikamaru meraih ujung kain dan bersiap mengangkatnya. "... bekas perkosaan."
Hati Sasuke mencelos. Perkosaan?
Dokter forensik itu memandang Sasuke lekat-lekat. "Siap?"
Tidak akan pernah siap. Sang Earl menelan ludah, tetapi toh ia mengangguk juga.
Dan di balik kain putih itu, Sasuke melihat sosok yang sangat ia kenal. Rambut pirang yang dulunya secerah matahari kini kusam oleh lumpur dan lumut yang menempel, kulit yang berwarna kecokelatan itu kini begitu pucat, pipi yang dulu dihiasi tiga guratan di masing-masing sisi kini memiliki bekas luka gesek yang masih baru, dan bibir itu, yang dulu berhiaskan senyuman, kini berwarna kebiruan dan begitu datar, ditambah memar di sudutnya yang juga mulai berwarna biru.
Ragu, Sasuke mengulurkan tangannya untuk menyentuh bibir itu. Dingin. Kenapa begitu dingin?
Ini bukan Naruto. Bukan Naruto yang ia kenal. Naruto seharusnya sehangat matahari, Naruto seharusnya begitu cerah, begitu indah, begitu ... hidup.
"Apa benar orang ini adalah pelayan pribadi anda, Naruto Uzumaki?" seseorang bertanya. Sasuke tidak tahu siapa, dan tidak peduli. Kaku, kepalanya menoleh ke arah Shikamaru.
Sasuke ingin berteriak, ingin memeluk tubuh kaku kekasihnya dan mengguncang-guncangnya, berteriak agar ia membuka matanya. Sasuke begitu ingin memeluknya erat, menciumnya, agar tubuh dingin itu bisa kembali hangat. Sasuke begitu ingin berlutut dan menangis, dan bersujud dan memohon kepada siapapun di atas sana agar ini semua hanyalah mimpi. Bahwa saat ini kekasihnya menunggunya di rumah, bahwa ia tersenyum dan membentangkan tangan dan memeluk Sasuke, bahwa ia ... hidup.
Tetapi semua itu tidak terjadi. Tidak ada teriakan. Tidak ada histeria. Tidak ada apapun. Entah kenapa. Mungkin kematian kekasihnya membuat Sasuke mati rasa. Karena ia tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa marah.. Hanya... hampa. Dan karena itu pula, yang keluar dari mulut Sasuke hanya sebuah kata.
"Ya."
"Begitu." Shikamaru mengangguk, lalu bersiap menutup kembali tubuh Naruto dengan kain, sebelum dihentikan oleh Sasuke. "Tolong tinggalkan kami sejenak." Nada suara Sang Earl adalah nada memerintah yang tegas dan jelas, Sasuke sendiri terkejut betapa tenangnya suara yang ia keluarkan. Kedua petugas di ruangan itu meninggalkannya sendiri tanpa banyak bertanya, menghormati sang bangsawan yang sedang berduka.
Begitu mendengar pintu ditutup, tiba-tiba kaki Sasuke terasa terlalu lemas untuk menopang tubuhnya, membuat pria berambut hitam itu jatuh terduduk di lantai. Matanya tak pernah lepas dari wajah Naruto, dari matanya yang kini terpejam rapat dan tak akan pernah terbuka lagi. Tak lama kemudian, ia mengulurkan tangannya untuk mencengkeram pinggiran meja besi yang dingin itu, tempat mereka meletakkan mayat Naruto. Sasuke menarik tubuhnya sendiri untuk bangkit, dengan sedikit merayap ia berhasil mendudukkan dirinya di atas meja besi itu, di samping tubuh Naruto. Ia mencondongkan badannya, sebelah tangannya menyangga di samping kepala Naruto sampai wajah mereka berdekatan.
Perlahan dan gemetar, ujung jari pria berambut hitam itu menelusuri kontur wajah Naruto dengan sentuhan lembut. Cantik. Kekasihku begitu cantik. Tak ada lumpur, atau darah, atau memar, yang bisa menutupi kecantikannya. Bahkan di saat seperti ini pun, Sasuke masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana cara dahi itu berkerut saat ia sedang berpikir. Sang Earl mengecup dahi kekasihnya dengan lembut sambil memejamkan mata. Sasuke mengingat bagaimana mata itu menyipit saat tertawa, kemudian ia memberi kecupan di masing-masing kelopak mata, mengetahui betapa cemerlang warna biru yang tertutup oleh kelopak itu. Dan Sasuke masih ingat cara bibir itu melengkung membentuk senyum, lalu mengecupnya, lama.
Begitu dingin, sayangku.
Sasuke menyudahi kecupan itu sejenak, jarinya menyentuh bibirnya sendiri. Hangat.
Kenapa, cintaku? Kenapa aku begitu hangat dan kau begitu dingin?
Putus asa, Sasuke kembali mengecup bibir itu. Kali ini sebutir air mata menetes dari sudut matanya saat bola mata hitam itu terpejam. Bibir Sasuke bergetar hebat, yang baru berhenti saat pria itu menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat.
"Ugh..." Sebuah suara tertahan keluar dari mulut Sasuke, nafasnya kini tak beraturan, tersengal-sengal dan ia hampir tersedak oleh tangisannya sendiri. Perlahan, direngkuhnya tubuh kaku itu ke dalam pelukannya, erat. Air mata mengalir membasahi bahu Naruto.
"... Naru ... Naru ..." suaranya tak lebih dari bisikan, karena hanya itulah yang dapat Sasuke lakukan di antara isakan yang tak berkesudahan. Dan pria itu terus menyebutkan nama kekasihnya, bagai sebuah mantra, diucapkan dalam kedukaan yang dalam.
Kenapa aku begitu hidup dan kau tidak?
Keesokan harinya Scotland Yard memperbolehkan Sasuke membawa pulang tubuh Naruto, karena autopsi sudah selesai. Saat ini ia dibaringkan di dalam peti mati di sebuah gereja kecil di wilayah milik keluarga Uchiha. Peti mati itu terbuat dari kayu yang diukir dengan indah, sedangkan di dalamnya Naruto terlihat begitu tampan dalam balutan jas hitam dan setangkai bunga lili putih tersemat di dadanya. Gereja itu sendiri begitu sepi, tak banyak pelayat yang datang. Hanya ada lima orang termasuk pendeta, Sasuke, Sakura, dan Alfred.
Tak lama kemudian pendeta, Alfred, dan seorang pelayan pergi terlebih dahulu dengan alasan mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir Namikaze Naruto. meninggalkan Sasuke yang berdiri kaku di samping peti mati, dan Sakura, yang air matanya tak pernah berhenti mengalir dalam diam. Tetapi semua tahu kalau mereka hanya memberi kesempatan kepada kedua orang itu untuk mengucapkan salam terakhirnya.
Hening. Keheningan menyelimuti mereka, sesekali terdengar isakan pelan dari Sakura, lalu sunyi. Sampai akhirnya Sasuke melangkah lebih dekat ke arah peti mati, dan membelai lembut pipi Naruto.
"Jadilah saksi kami, Sakura." kata Sasuke pelan, pandangan matanya tidak pernah lepas dari wajah Naruto. Sakura, yang entah bagaimana bisa mengerti pikiran Sasuke, mengangguk dan turut maju sampai ia bisa melihat wajah sahabat tercintanya di dalam peti mati.
"Aku, Sasuke Uchiha, bersumpah menerima Naruto Namikaze sebagai pasangan hidupku, dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, susah maupun senang, walau kematian memisahkan kita." kata Sasuke, suaranya tegas, tetapi begitu lembut. Begitu ... sedih.
"Aku menyatakan kalian sebagai suami-istri." kata Sakura dengan suara tercekat dan parau, air mata kembali mengalir deras di pipinya.
Sasuke melepas cincin berlambang Uchiha dari jari tengah tangan kanannya, dan menyematkan cincin itu di jari manis tangan kanan Naruto.
"Kau... boleh mencium pengantinmu..." Isak tangis Sakura makin menjadi, ia mengatupkan tangannya di mulut untuk menahan suara yang keluar. Dapat ia rasakan pandangannya mengabur oleh air mata. Kumohon, Tuhan, biarkan aku bertahan sedikit lagi. Aku harus menyaksikan ini.
Dilihatnya Sasuke perlahan mencium pengantinnya, dengan satu ciuman yang panjang dan lama. Satu ciuman terakhir.
Sasuke menyudahi ciumannya dan beralih mengecup dahi Naruto, lalu tersenyum lembut. Sebutir air mata mengalir di pipinya.
"Selamat tidur, cintaku."
Selamat tidur, Naruto.
Sore itu, di bukit dengan pemandangan paling indah, hujan musim gugur kembali turun dengan derasnya, membasahi tanah merah yang baru selesai ditimbun. Membasahi bunga mawar merah segar yang baru diletakkan, membuat helaian-helaian kelopaknya tersebar di atas sebuah nisan batu yang dingin.
Nisan batu bertuliskan Uchiha Naruto.
-tbc-
Agak susah rasanya bikin chapter sedih waktu perasaan lagi seneng2nya gara-gara berhasil maen DDR tsugaru apple mix challenge. Oh well... Mudah-mudahan pembaca puas, biarpun secara pribadi saya merasa kurang sedih mengungkapkannya, ahh... orang ngga peka macam saya emang kurang bisa nulis masalah perasaan2 kayak gini.
Anyway, Aria mau berbagi sejuta ciuman buat semua orang yang udah mereview fanfic ini!!Biarpun nggak bisa Aria bales satu-satu, tapi review kalian mencerahkan hariku, sodara-sodara... Terima kasih banyak! May God bless you all...
Umm... di chapter ini juga, review? *grin*
