Disclaimer: Naruto cupped Sasuke's face, and smiled. "I'm yours, Sasuke, always yours." he said softly.

Rating: M

Pairing: SasuNaru

Warning: Angst. Yaoi. AU. OOC

Ya, saya tahu saya lama tidak mengupdate fanfic-fanfic saya. Sebenarnya chapter ini sudah saya buat dari jaman kapan tau, tapi gara-gara kesibukan menumpuk, plus kegemaran baru saya baca fanfic Tohoshinki (yup, they're damn hot!), akhirnya cerita ini terbengkalai *ditabok*. Maaaaaffff!!! Btw, masih ada yang baca nggak ya, fanfic ini? Jangan-jangan udah pada lupa, hehehe...


The Darkness Remains

Chapter 6 : Secret

by : Aria_TheMosquitoRepellent

"Kau tahu, dokter? Akhir-akhir ini tersebar desas-desus aneh di Whitechapel."

Sasuke mengalihkan perhatian dari aktivitasnya membereskan stetoskop dan termometer ke dalam tas. Sebelah alisnya terangkat sambil menatap Genma dengan tatapan heran. Hari ini memang Sasuke diminta Genma untuk datang, karena Genma memiliki masalah dengan perutnya.

"Kabarnya Earl Hyuuga beberapa kali terlihat menemui seorang wanita penghibur di Durward Street." Bahkan dalam keadaannya yang terbaring di tempat tidur pun, Genma masih bisa menyebarkan gosip. Serahkan pada Genma untuk mengetahui skandal-skandal aneh.

"Hn. Itu bukan urusanku." kata Sasuke pendek. Memang benar, dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dikerjakan Neji Hyuuga. Sejak dulu orang itu selalu memiliki kebencian tersendiri terhadap Sasuke, walaupun Sasuke tidak mengerti kenapa. Tapi sekali lagi, dia tidak peduli.

"Hahaha... aku tahu Anda tidak menyukai gosip semacam ini. Tetapi sepertinya ini bukan sekedar gosip, karena bahkan nama wanita penghibur itu pun diketahui. Hmm...siapa ya, namanya?"

Sasuke hanya menghela nafas, lalu menuliskan resep obat untuk Genma. Kehidupan malam Neji adalah hal terakhir yang ingin Sasuke ketahui. "Ini resep obatnya..."

"...ah!Aku ingat! namanya Ino Eddowes, kalau tidak salah." potong Genma. Sasuke menghentikan gerakannya, lalu menatap Genma tajam.

"Eddowes?" tanya Sasuke pelan, mencoba memastikan pendengarannya.

Genma menerima kertas resep yang diulurkan Sasuke, "iya be..." kata-katanya terpotong saat ia melihat ekspresi Sasuke. Mata hitam pria itu menatap tajam, entah kepada siapa. Sejenak, Genma merasa ketakutan, karena dalam tatapan yang penuh kemarahan itu, ia dapat merasa dirinya ikut terhisap dalam kegelapan yang tak berujung. Tatapan seorang psikopat.

"...Earl Uchiha?" dengan suara serak, Genma berusaha mengalihkan perhatian Sasuke, dan berhasil. Pria berambut hitam itu kembali memasang topeng dinginnya dan menatap mata Genma.

"Ya?"

Genma tidak pernah merasa selega ini dalam hidupnya.


Suara musik, suara tawa, hembusan asap cerutu dan botol-botol minuman keras. The Eastern Arms memang seperti bar dan pub pada umumnya, yang kehidupan malamnya diramaikan oleh orang-orang -pria dan wanita- yang mencari kenikmatan semu dan kehangatan sesaat. Prostitusi, tentu saja merupakan sebuah bagian yang tak terpisahkan dari bisnis pub-rumah bordil ini. Bahkan, undang-undang yang dikeluarkan parlemen mengenai rumah bordil dan ancaman hukuman penjara selama tiga bulan sama sekali tidak menyurutkan berkembangnya prostitusi di London. Tetapi bukan itu inti masalahnya, The Eastern Arms memiliki fungsi lain selain pub-rumah bordil biasa. Ya, di balik itu, The Eastern Arms juga merupakan sebuah Molly House, tempat prostitusi kaum homoseksual. Di masa itu, kegiatan homoseksual dianggap sebuah kejahatan, di mana pelakunya dapat dihukum secara legal dan diatur dengan undang-undang. Karena itu, jarang ada 'pria penghibur' yang menjajakan diri di jalan.

Sasuke meminum segelas bir, lalu mengerutkan dahinya. Pikirannya teralihkan.

Ini bir paling mahal dan rasanya seperti ini?

Memutuskan untuk tidak menyentuh bir itu lagi, Sasuke mengamati sekelilingnya. Saat ini ia berada di bagian lain The Eastern Arms, bagian tersembunyi yang hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu dengan pengawalan ketat. Bagian di mana tamu-tamu tidak dihibur oleh wanita dengan gaun berbelahan dada rendah, melainkan oleh pria-pria remaja muda. Bagian di mana hanya orang yang menyimpang saja yang ingin masuk.

"Boleh kutemani minum?"

Sasuke memandangi pemuda yang tiba-tiba duduk di sampingnya itu dari kepala sampai ujung kaki. Ia berkulit pucat, membuat rambut merahnya terlihat semakin mencolok. Mata hijaunya memandang lurus ke mata Sasuke, ujung bibirnya terangkat sedikit. Yang paling menarik perhatian Sasuke adalah tato di dahinya, yang terlihat seperti huruf asing. Pria berambut hitam itu tertawa dalam hati.

Penghibur, eh?

"Silakan. Aku yang bayar." kata Sasuke dingin, sambil mengayunkan gelasnya, memberi isyarat pada pemuda itu untuk duduk.

Bukan tipe yang suka bersosialisasi, ya? Baguslah, aku juga tidak suka pria cerewet. pikir pemuda itu sambil duduk di samping Sasuke. "Bir, please!"katanya pada bartender, yang segera menyediakan segelas besar bir di hadapannya.

"Jadi, tuan..."

"Kakashi," Sasuke berbohong.

"Ah, Kakashi. Apa yang membawamu ke tempat ini?" tanya pemuda itu membuka pembicaraan, ia mencondongkan tubuhnya ke dekat Sasuke.

Menyadari keadaan mereka yang sangat dekat, Sasuke hanya tersenyum sinis. Dasar pelacur. "Hanya minum," jawabnya.

"Aah, kalau hanya minum kau bisa melakukannya di atas, Mr. Kakashi." pemuda berambut merah itu menunjuk ke atas. Ya, molly house ini memang terletak di bawah tanah, tepat di bawah pub The Eastern Arms. Akses menuju tempat ini dijaga ketat, tidak sembarang orang bisa masuk.

"Hmm..." Sasuke memainkan rambut merah pemuda itu, "...jadi,..."

"Gaara."

"Baiklah, Gaara. Mau keluar denganku?" Sasuke memberi ciuman singkat di bibir Gaara, yang balik menciumnya dengan dalam.

Bagus, pikir Sasuke sambil menepuk pisau di kantongnya. Dia yang selanjutnya.

"Uhm, Gaara." panggil seorang wanita berambut pirang, membuat Gaara menghentikan ciumannya dengan wajah kesal. "Ada apa, Temari?"

Wanita itu hanya berbisik di telinga Gaara, membuat mata pemuda itu sekilas berbinar senang. Sasuke hanya memandangi adegan itu sambil bertopang dagu dan tersenyum sinis.

"Maaf, . Dengan sangat menyesal aku harus menolak ajakan Anda. Mungkin lain kali?" Gaara mengecup bibir Sasuke sekilas, lalu menjauhkan wajahnya sedikit, dan memandang mata Sasuke.

Pria berambut hitam itu hanya mengangkat bahu, "Baiklah, Gaara. Sampai lain kali." Lain kali aku pasti akan membunuhmu, membuatmu menggeliat kesakitan saat aku menghunjamkan pisau ini di punggungmu. Membuatmu menderita... seperti Naruto.

"Sampai nanti, Kakashi." Gaara melambaikan tangannya, lalu berlari menuju pintu di mana seseorang bermantel panjang menunggunya. Orang yang sangat Sasuke kenal.

Hyuuga, eh? Mungkin memang lain kali aku harus membereskan pelacur kecil itu.

"Neji!" Gaara berlari ke arah Neji yang berdiri di pintu pub, lalu memeluknya.

"Halo, Gaara." Neji tidak membalas pelukan itu, tetapi menarik tangan Gaara dan membawanya keluar dari pub. Gaara hanya tersenyum kecil saat Neji membantunya naik kereta kuda, dan mereka duduk bersebelahan sepanjang perjalanan, dengan tangan masih saling menggenggam.

Tak lama, mereka tiba di Hyuuga Mansion, sembunyi-sembunyi tentunya. Hinata bisa pingsan di tempat kalau tahu Neji membawa pulang seorang pria penghibur di tengah malam, bergandengan tangan pula.

"Hmm... Neji..." Gaara mendesah pelan, sebelum Neji membungkamnya dengan menempelkan bibir mereka. Hanya suara gesekan pakaian, helaan nafas berat, dan desahan yang tertahan memenuhi seluruh ruangan. Satu dari sekian banyak malam sunyi, di Hyuuga mansion. Satu dari sekian banyak malam dimana Gaara, terselubung aman dalam pelukan Neji, tersenyum simpul dan mengecup dada pria itu mesra. Satu dari sekian banyak malam dimana Neji, sambil melumat pelan bibir pemuda berambut merah di pelukannya, tersenyum dalam hati dan merasa lebih hangat dari malam-malam lainnya.

"Kemana saja kau selama ini? Kenapa baru kutemukan sekarang?" bisik Neji sambil menyingkirkan helaian rambut dari dahi Gaara.

Lagi-lagi, Gaara hanya tersenyum.


"Aah, aku menemui jalan buntu! Shikaa... beri aku pencerahan!" Kiba menyandarkan kepalanya di atas meja besi di hadapannya. Meja besi itu kosong dan terlihat bersih, dan dingin. Kiba menggesekkan pipinya, merasa suhu besi itu cocok untuk mendinginkan pikirannya.

"Jangan di atas meja itu, aku baru mengotopsi mayat seorang kakek tua yang tertabrak hackney coach1 di atasnya" kata Shikamaru santai tanpa mengalihkan perhatiannya dari file yang sedang ia baca.

"Eew!!" Kiba berteriak jijik sambil mengusap-usap wajah dengan jasnya. "Harusnya kau bilang dari tadi!" protesnya.

"Merepotkan." gumam Shikamaru, kedua kakinya kini dinaikkan ke atas meja kerja dari kayu, mengakibatkan beberapa map terjatuh ke lantai, sedangkan tubuhnya bersandar penuh di kursinya. Kertas-kertas file yang tadi di tangannya kini dibiarkan tergeletak begitu saja tersebar di atas meja.

"Tolong jangan bilang kau mau tidur. Aku tidak pernah mengerti bagaimana kau bisa tidur di ruang tempat mengotopsi mayat seperti ini." Kiba menggelengkan kepala. Ya, mereka kini memang sedang berada di salah satu ruang otopsi di The Royal London Hospital, tepatnya ruang otopsi nomor empat, favorit Shikamaru. Ruangan itu sederhana, dengan dua buah bouvenlicht memanjang di salah satu sisi dinding. Di dalamnya hanya ada sebuah meja besi tempat mayat dibaringkan, lemari tempat alat bedah (Kiba bergidik membayangkannya), sebuah rak tempat file, sebuah meja kayu dan dua buah kursi. Satu sedang ditiduri oleh Shikamaru, dan satu lagi diduduki oleh Kiba.

"Sudah biasa." jawab Shikamaru singkat, Kiba hanya mengerutkan dahinya. Belum lama ia berada di sini, dan dia sudah merasa muak dengan kuatnya bau desinfektan di ruangan ini. Kiba bersyukur dia tidak memilih menjadi dokter, khususnya dokter forensik.

Sunyi sejenak, dan Kiba mulai merasa bosan. Tangannya meraih satu bundel file yang tadi dibaca Shikamaru. "Apa ini?"

Shikamaru membuka sebelah matanya, lalu menjawab dengan malas. "Data hasil otopsi setahun terakhir."

Kiba memandangi pria berambut nanas itu dengan tatapan aneh, Shikamaru yang malas itu membaca ulang catatan setahun yang lalu? "...dan kau membacanya karena?"

Shikamaru menghela nafas, lalu menurunkan kakinya dari meja dan menegakkan posisi duduknya. "Kau tidak akan membiarkanku tidur ya?" ia bertanya sambil menatap Kiba. Detektif itu tersenyum lebar. Gotcha!

"Aku merasa familiar dengan cara pembunuhan Karin Ann Nichols, tetapi tidak bisa mengingatnya. Karena itu aku melihat-lihat catatan tahun lalu, siapa tahu bisa memberi petunjuk." kata Shikamaru sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

"Shika!" kata Kiba sambil memeluk dokter itu, "Aku tahu kau tidak akan membiarkanku bingung sendirian!"

"Ugh, Kiba. Aku tidak tertarik pada laki-laki." Shikamaru menendang Kiba pelan, orang yang bersangkutan hanya tertawa, lalu kembali membaca laporan otopsi di tangannya.

"Mati terbakar, eew... ditembak, ditusuk pisau, ditusuk pisau... Shika, begitu banyak orang yang mati ditembak dan ditusuk pisau." Kiba bergumam.

"Coba cari orang yang mati karena guratan pisau di punggung..." gumam Shikamaru setengah mengantuk. Sial, semalam aku mengotopsi orang sampai jam lima pagi! aku pantas mendapatkan sedikit tidur! gerutunya dalam hati sambil memijat pelipisnya.

"Ah, ada! Tapi ini wanita tua yang ditemukan di Canonbury road. Lagipula agak berbeda, tubuhnya tidak memar-memar. Yah, wajar, di usia 71 tahun mana bisa dia melawan..."

"Ya, ya, Kiba... terserah padamu..." Shikamaru kini yakin bahwa dia tidak akan dibiarkan tidur lagi, karena itu sekarang ia ikut meraih bundel file yang lain, dan membacanya.

"Hey, Shikamaru." panggil Kiba tiba-tiba. Sang dokter mengangkat kepalanya, kini memfokuskan perhatiannya pada Kiba. "...sepertinya ini cukup mirip."

Shikamaru merebut file itu dari tangan Kiba, matanya terbelalak melihat nama yang tertera di laporan itu. "...benar... seharusnya aku ingat..." Dokter itu menjatuhkan tubuhnya di kursi, matanya masih terus terpaku pada file di tangannya. Laporan itu berisi tentang data korban, dan hasil otopsi. Di kolom paling atas, Shikamaru melihat nama yang ia kenal: Namikaze Naruto.


TBC

1Hackney coach = taksi, berupa kereta kuda untuk 1-2 orang.

Pendek, tapi meang cuma itulah yang perlu disampaikan di chapter ini. Tapi dun worry, sodara-sodara... update selanjunya nggak akan lama-lama~ Chapter selanjutnya udah jadi kok... *nyengir*