Disclaimer: Semua pemeran-pemeran nggak penting (tukang bunga, supir kereta kuda, orang lewat, tukang sapu etc,etc) punya Aria.
Rating: M
Pairing: SasuNaru
Warning: Angst. Yaoi. AU. OOC
Masih seputar masalah lama-nggak-update. I lost my TDR's plot bunny!!!! Please come back to me plunny~ *nangis sesenggukan* akibatnya storyline yang (duluuu banget) udah saya susun terpaksa berubah *nggak bertanggung jawab* dan cerita ini melenceng makin jauh aja dari sejarah Jack-The-Ripper ^_^!
The Darkness Remains
Chapter 7 : Despair
by : Aria_TheMosquitoRepellent
Rumah itu satu di antara sekian banyak rumah di Whitechapel, dengan jendela-jendelanya yang menyala. Bagaikan akuarium-akuarium yang mempertontonkan kehidupan di dalamnya, kadang terisi drama tragis, di mana jeritan dan suara pukulan menjadi musik yang rutin mengalun. Kadang terisi drama kebahagiaan, dengan senyum di wajah, suara tawa canda, dan sup hangat di atas meja makan.
Ino mengintip dari tempatnya di bayang-bayang bangunan dalam gang sempit, menatap penuh kerinduan pada salah satu sosok yang terlihat melalui jendela. Tazuna sudah tumbuh begitu besar, terlihat sehat dan bahagia saat tertawa sambil memakan sendok demi sendok supnya. Sang 'ayah' di rumah itu bangkit dan mengacak rambut Tazuna dengan penuh kasih sayang, sementara sang 'ibu' memberikan separuh apel, yang tampaknya dibagi dengan 'anak'nya yang lain.
Sebutir air mata mengalir dari mata Ino, bersamaan dengan seulas senyum di bibirnya. Sungguh perasaan yang membingungkan, saat seseorang merasa bahagia sekaligus sedih. Saat hatimu terasa hangat sekaligus dingin mengigit. Bahagia, karena putra bungsunya, yang dulu kurus dan sakit-sakitan kini sehat dan hidup layak bersama keluarga yang menyayanginya. Sedih, karena kedua tangan Ino tak lagi bisa memeluk Tazuna, dan saudara-saudaranya yang lain.
Semenjak kematian Sai, keluarga mereka mulai hancur berantakan. Uang yang dijanjikan Hyuuga pada Sai tidak pernah datang, dan belakangan ia baru tahu kurir yang ditugaskan untuk itu ternyata menggelapkan uang tersebut. Keadaan ini memaksa Hanabi untuk bekerja demi membantu keuangan keluarga, walaupun ia masih di bawah umur. Ino sendiri mulai menjajakan tubuhnya di jalan demi menghidupi keempat anaknya, dan membeli obat untuk si bungsu Tazuna yang sakit-sakitan. Penghasilannya tidak cukup, tentu saja, bahkan sekedar untuk menyediakan sup encer bagi empat mulut (karena Ino sering memberikan jatah makannya untuk anak-anak). Hal ini diperparah saat Hanabi, putri tertuanya mengalami kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja.
Dengan berat hati, dan berurai air mata, Ino terpaksa menjual anak-anaknya untuk diadopsi keluarga lain yang lebih kaya demi membayar biaya rumah sakit Hanabi. Dimulai dari Shisui, lalu Moegi, dan terakhir Tazuna, karena Hanabi harus segera dioperasi. Seluruh usaha Ino berakhir sia-sia, Hanabi meninggal tak lama setelah operasi karena infeksi. Infeksi apa, Ino tidak pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah putrinya yang terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit, selembar kain putih menutupi tubuhnya. Tak lagi bergerak, tak lagi bernafas, tak lagi tertawa. Dan Ino sekali lagi menemukan dirinya berlutut di lantai, dengan nafas memburu dan airmata mengalir deras, meratapi kepergian satu lagi orang yang paling ia cintai.
Ino menghapus air mata di pipinya. Setiap kali teringat akan kenangan pahit tentang Hanabi, ia tidak bisa tidak meneteskan air mata. Karena ia tak pernah berhenti berduka, tidak sedetikpun. Luka karena kehilangan anak tercintanya tidak akan pernah sembuh, luka itu masih terbuka dan bernanah.
Tersenyum pahit, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan berpita. Hari ini adalah ulang tahun Tazuna yang kelima, dan Ino membeli sekotak cat lukis dari uang yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu. Tazuna suka menggambar, Ino ingat betul hal itu, dan kenangan ini membuatnya tersenyum lebih lebar. Sambil mengendap-endap, ia mendekati pintu rumah itu. Didekapnya bungkusan hadiah untuk Tazuna erat-erat di dada, lalu ia letakkan di depan pintu.
Satu kali ketukan di pintu.
Dua ketukan.
Dan saat sang 'ayah' membuka pintu, yang ia temukan hanya sekotak hadiah yang tergeletak di depan pintu rumahnya.
Ini bukan pertama kalinya Ino memergoki Neji Hyuuga keluar dari The Eastern Arms dengan seorang pemuda berambut merah di pelukannya. Bukan sekali-dua kali Ino memergoki Neji tersenyum lembut ke arah sang pemuda berambut merah, sebelum mereka berdua menaiki kereta kuda keluarga Hyuuga, bergandengan tangan. Dan saat Ino melihat Neji Hyuuga mencondongkan badannya untuk mengecup bibir si pemuda berambut merah secara sembunyi-sembunyi di salah satu sudut gelap gang di Whitechapel, ia tahu bahwa saatnya sudah tiba.
Tidak sulit untuk mengorek keterangan bahwa pemuda itu bernama Gaara, imigran Irlandia yang datang ke London bersama dua orang kakaknya. Tidak sulit juga mencari tahu bahwa Gaara bekerja sebagai bartender di The Eastern Arms setiap hari Senin dan Rabu, dan menjual diri di Eastern Arms' molly house di hari lain. Juga bahwa Neji Hyuuga merupakan salah satu pelanggan tetapnya, bahkan satu-satunya pelanggan Gaara akhir-akhir ini karena sang Earl selalu membawa pemuda itu semalaman.
Tidak sulit bagi Ino mendapatkan sebilah pisau yang sering digunakan oleh tentara. Di pasar gelap Whitechapel, segala macam barang ilegal dapat diperoleh dengan mudah, asal kau tahu dimana mencarinya. Dalam beberapa hari, Ino sudah hafal di luar kepala rutinitas Gaara sehari-hari. Dan hari ini, di hari Rabu, seharusnya Gaara langsung menuju apartemen kumuhnya di Durward Street setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai bartender di Eastern Arms.
Ino mengeratkan mantelnya, masih sambil mengawasi gerak-gerik Gaara. Sebilah pisau terselip aman di pakaiannya, siap untuk digunakan kapan saja. Dilihatnya Gaara berbelok di perempatan, dan Ino mengerutkan dahi. Itu bukan arah ke Durward Street. Ia mengangkat bahu, mungkin ada urusan lain? Bertemu Hyuuga, misalnya?
Tiba-tiba sesosok pria bermantel hitam mendekati Gaara, lalu berjalan di sampingnya. Gaara sendiri sepertinya mengenali pria itu, karena ia kemudian meraih lengan pria itu dan menggandengnya. Pria itu jelas-jelas bukan Hyuuga, pikir Ino sambil tersenyum sinis.
Mereka berdua terus berjalan sampai sang pria misterius menarik Gaara ke gang terdekat. Dari kejauhan, Ino dapat melihat siluet dua orang pria sedang saling melumat, tubuh berpelukan begitu erat saat mantel Gaara perlahan jatuh ke tanah. Ino memalingkan wajah, dua orang pria sedang bermesraan bukanlah pemandangan yang membuatnya nyaman. Baginya itu adalah sebuah penyimpangan, sebuah dosa, sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan gereja padanya sewaktu kecil dulu. Yah, bukannya ia masih mengamalkan ajaran gereja –sejak Sai dan Hanabi meninggal, Tuhan adalah hal terakhir dalam pikirannya—ia merasa jijik saja dengan perilaku homoseksual, titik.
Sebuah erangan tertahan membuat Ino hampir berbalik dan pergi. Hampir. Setelah menyadari bahwa erangan itu bukan mengindikasikan kenikmatan, melainkan rasa sakit, Ino memaksa dirinya untuk kembali mengintip apa yang terjadi. Adegan di depan matanya membuat kaki Ino terpaku di tempat, tak sanggup bergerak.
Sang pria misterius sedang menancapkan pisaunya untuk terakhir kali sebelum menendang tubuh yang sudah tidak bergerak itu. Ia mencabut pisaunya sebelum mengelap dan memasukannya ke dalam kantong. Sebuah kalimat lirih samar-samar terdengar oleh Ino, tapi tidak cukup keras untuk mengetahui apa yang ia katakan. Ino menggenggam erat pisau di tangannya. Begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih, bersiap seandainya pria itu menyadari keberadaannya. Ino tidak bodoh, ia dapat menduga kalau pria itu adalah Jack The Ripper, pembunuh yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Pembunuh yang hanya mengincar pelacur sebagai korbannya. Dan kalau hal itu benar, Jack tidak akan berpikir dua kali sebelum membunuh Ino.
Untungnya, pria itu segera pergi, meninggalkan Gaara yang terbaring kaku dengan genangan darah di bawah tubuhnya. Dengan langkah tertatih, Ino mendekati mayat Gaara. Berbagai macam emosi membuat nafas Ino tercekat. Rasa takut sekaligus kecewa. Kecewa karena Tuhan tidak mengizinkan Ino membunuh Gaara dengan tangannya sendiri. Kecewa karena bukan dia yang akan membuat Neji merasakan sakitnya kehilangan. Ia berlutut di samping tubuh Gaara. Darah membasahi mantelnya, tapi toh ia tidak peduli.
"Hmph..." Ino tertawa kecil. Karena apa, ia tidak tahu. Tidak ada yang lucu di sini, yang ada hanya sesosok tubuh yang ditusuk dan digorok dengan brutal. Lalu apa yang lucu?
Pertanyaan itu berputar di benak Ino saat tawanya makin keras, sementara airmata mengalir di wajahnya. Oh ya, aku masih bisa membalas Hyuuga, pikirnya sambil mengeluarkan pisau yang sedari tadi ia genggam. Dengan penuh tekad, Ino meraba dada Gaara, lalu membelahnya.
Air mata masih mengalir deras, di pipi Ino Eddowes.
Sasuke sedang berjalan menjauhi gang kecil di Whitechapel saat ia mendengar suara tawa seorang wanita, tepat dari arah kedatangannya tadi. Tempat dimana ia meninggalkan tubuh Gaara, dalam keadaan lebih parah dari korban-korban sebelumnya. Alasannya sederhana, karena ia ada hubungannya dengan Hyuuga. Pria itu akhir-akhir ini semakin membuatnya kesal, belum lagi komite bodohnya itu yang membuat Sasuke semakin sulit melakukan 'jalan-jalan malam'nya. Ditambah lagi dengan informasi yang diberikan Suigetsu mengenai keterlibatan Hyuuga dan Sai. Tapi ia belum punya bukti, walaupun sebenarnya kalau ada kesempatan, Sasuke tidak akan ragu menghabisi pria itu.
Ia mempercepat langkahnya kembali ke tempat Gaara. Suara tawa, dan bukan teriakan ketakutan. Ada sesuatu sedang terjadi, dan Sasuke tidak dapat menahan diri untuk mencari tahu.
Sinar bulan menerangi beberapa bagian gang, termasuk tubuh Gaara dan seorang wanita. Sasuke melihat wanita itu berlutut di samping Gaara. Ia menangis sambil mengenggam sesuatu di tangannya yang berlumuran darah, sebilah pisau bersinar memantulkan cahaya bulan tergeletak di samping mereka.
"Sai...Sai..." wanita itu berbisik lirih. Ia berlutut sambil sedikit meringkuk, rambut pirangnya tergerai dan ternoda darah di sana-sini. Saat wanita itu mendongak dan menatap mata Sasuke, pria itu menyadari siapa dia. Ino Eddowes.
"Hmph..." Ino tertawa lagi. "Kau kembali." bisiknya, namun masih terdengar oleh Sasuke. Wanita itu bangkit dari tempatnya, dan dengan langkah terseok berjalan mendekati Sasuke. Tangannya yang berlumuran darah masih memegang sesuatu, sesuatu yang tidak bisa Sasuke kenali karena kurangnya cahaya.
Ino berhenti tepat di hadapan Sasuke dan memiringkan kepalanya. Seulas senyum tergambar di wajahnya, namun matanya menatap kosong. Sasuke mempertimbangkan untuk langsung membunuh wanita ini saja, tetapi tatapan mata itu menahannya. Tatapan itu bukan milik seseorang yang takut dibunuh.
"Kau boleh membunuhku..." kata Ino dengan suara parau, jemarinya yang berlumuran darah menelusuri pipi Sasuke, menggambar garis vertikal. "Tapi tidak sekarang."
"Kenapa?" tanya Sasuke, pisau erat di genggamannya.
"Ada yang harus kulakukan, lihat?" Bau amis darah tercium tajam di hidung Sasuke saat Ino menyodorkan benda di tangannya. Mata Sasuke membelalak saat ia menyadari bahwa itu adalah jantung manusia, jantung Gaara.
"Untuk apa benda itu?"
Untuk apa aku berbincang dengan wanita yang sudah pasti akan kubunuh?
"Kuberikan pada Hyuuga..."
Mendengar nama itu, tubuh Sasuke menegang sejenak, lalu ia kembali bertanya. "Untuk apa?"
"Supaya ia merasakan sakitnya kehilangan seseorang..." Ino diam sejenak, lalu melanjutkan, "... kau mendahuluiku mendapatkan pemuda ini..." nada sesal tersirat dalam suaranya yang parau.
Sasuke menatap lekat-lekat jantung di tangan Ino, lalu menatap matanya, "Maaf."
Kenapa ia meminta maaf, Sasuke juga tidak tahu. Mungkin karena ia mengingat wajah berurai air mata wanita ini saat hukuman atas Sai diputuskan. Mungkin karena ia mengingat teriakannya yang penuh keputusasaan saat tubuh Sai terjatuh ke bawah di tiang gantungan. Mungkin karena ia terlalu terpana untuk bereaksi lain.
"Tidak perlu, " Ino menggeleng, dan membalikkan tubuhnya menjauhi Sasuke.
"Lagipula, kau juga kehilangan..." kata wanita itu pelan, lalu pergi. Dan Sasuke hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh, sampai akhirnya menghilang dari pandangan.
Sasuke memutuskan untuk tidak mengejarnya.
TBC
Perasaan saya aja, atau emang cerita ini jadi makin aneh? Oh well, anyway, review?
