BAD DESTINY
.
.
.
.
Proudly Present :
Kai
Kyungsoo
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION FOR ALL KAISOOSHIPPER
.
.
.
ENJOY THE FICTION
.
.
.
.
CHAPTER 3
Previous Chapter :
"AAAARRRRGGGGHHHHH...!"
Kai berteriak keras dan memegangi kepalanya. Chanyeol, Kris dan Sehun langsung menghampiri Kai yang terlihat kesakitan. Mereka bertiga memegangi Kai dengan susah payah. Tenaga Kai terlalu besar untuk mereka tahan. Kai terus bergerak resah dan memegangi kepalanya. Satu tangannya digunakan untuk menumpu tubuhnya dan yang satunya terus memegangi kepalanya. Pupil matanya berubah-ubah. Kris terus memegangi tubuh Kai. Ini belum puncak purnama tapi Kai sudah menunjukkan perubahannya. Kris khawatir jika Kai akan hilang kesadaran. Dan jika itu terjadi maka ia tak akan bisa kembali menjadi wujud manusianya.
Ditempat lain, ada seseorang yang mengalami hal sama seperti yang dialami Kai. Bukan menunjukka perubahan melainkan mengalami rasa sakit yang dirasakan oleh Kai. Seorang namja mungil yang sedang menikmati makan malamnya bersama teman-temannya tiba-tiba saja terganggu. Tubuhnya terasa panas dan kepalanya seperti dihantam batu keras. Jantungnya berdetak kencang. Namja itu memegangi dada dan kepalanya. Teman-temannya seketika panik.
"Ada apa denganmu, Kyung?"
"Apa yang terjadi?"
"Kita bawa kerumah sakit"
Kyungsoo menggeleng menjawab semua pertanyaan teman-temannya. Kepalanya benar-benar sakit. Air mata Kyungsoo mengalir begitu saja. Entah apa yang terjadi tapi ia merasa sedih dan sesak didadanya. Kyungsoo seperti merasakan penderitaan orang lain didalam dirinya.
'Ada apa denganku? Kenapa rasanya sakit dan sesesak ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Perasaan apa ini?' monolog Kyungsoo.
.
.
BAD DESTINY
.
.
Setelah mengalami purnama yang sulit akhirnya para warewolf meninggalkan hutan mereka. Para serigala setia mereka mengantar majikannya hingga keperbatasan. Kris mengelus pelan serigalanya. Ia sudah memerintahkan serigalanya itu untuk menjaga dan memimpin yang lain. Masing-masing dari serigala itu akan menjadi penjaga disetiap penjuru hutan. Tugas mereka adalah memastikan para serigala lain untuk tetap menurut.
Serigala milik Kris memimpin serigala lain untuk kembali kedalam hutan. Akan sangat berbahaya jika manusia melihat mereka. Chanyeol melambai kearah anak-anaknya. Sungguh berat meninggalkan mereka. Apalagi selama ini mereka tak pernah sekalipun pergi meninggalkan hutan dan meninggalkan mereka. Kris, Chanyeol dan Sehun melanjutkan perjalanan mereka. Kai masih setia berdiri ditempatnya sambil memandangi kawanan serigalanya menjauh. Setelah memastikan kawanan itu memasuki hutan, Kai menyusul ketiga saudaranya.
Kris membawa ketiga saudara hingga kejalan utama. Disana ada sebuah mobil yang sudah menunggu. Seorang pria tua dengan setelan jasnya yang rapi berdiri tegak disamping mobil itu. Pria tua itu membungkuk saat Kris dan yang lain datang. Kris tersenyum sekilas.
"Perkenalkan dia Pak Lee. Dia adalah pelayan setia keluarga kita. Dari generasi ke generasi keluarga Pak Lee mengabdi kepada kita" tutur Kris.
"Senang bisa bertemu dengan Tuan Muda sekalian. Saya sudah menunggu kedatang anda sekalian. Silahkan masuk. Maaf hanya ada mobil ini. Akan kurang nyaman jika saya membawa mobil kecil untuk tuan muda sekalian" ucap pak Lee.
"Tak apa, pak Lee. Dengan mobil seperti ini tak membuat kami menocolok"
Keempat namja itu memasuki mobil van yang dibawa pak Lee. Kai tampak terlalu bersemangat dengan kepergian mereka. Kris menyadari itu. Tapi tak ada pilihan lain. Ia harus segera menemukan mate Kai. Karena menurut sejarah keluarganya, hanya mate yang bisa mengendalikan seorang warewolf. Seorang warewolf akan bertindak layaknya anjing setia jika bersama matenya. 'Mate' juga yang akan mengontrol segala sifat serigala warewolf. Dan Kris berharap jika 'mate'nya Kai adalah orang yang bisa mengerti kondisi Kai.
"Bagaimana kita tau 'mate' kita yang sesungguhnya, hyung?" tanya Chanyeol.
"Semua tak bisa diprediksi. Tergantung respon dari tubuh kalian" jawab Kris.
"Apa kau sudah menemukan 'mate'mu, hyung?" tanya Sehun.
"Sudah"
"Eonjae?" tanya Chanyeol penasaran.
"Sewaktu aku berkunjung ke kota beberapa hari yang lalu"
"Apa yang kau rasakan?" tanya Sehun.
"Awalnya aku mencium bau yang sangat enak. Saat aku menyentuh tangannya tubuhku terasa panas dan sifat serigalaku muncul. Mataku langsung berubah merah dan kuku jariku memanjang. Dan semenjak itu aku tau jika dia adalah 'mate'ku"
"Wah...belum apa-apa kau sudah menemukan 'mate'mu hyung. Aku ragu akan menemukannya" ucap Chanyeol.
"Anda tak perlu khawatir tuan muda. Semua seperti takdir. Sudah terencana dan tak terduga. Sekuat apapun anda menghindarinya, anda tak akan bisa lari. Takdir tak bisa dihindari. Seburuk apapun itu" ungkap pak Lee.
"Terdengar menyeramkan ditelingaku" sahut Sehun.
'Takdir tak bisa dihindari, seburuk apapun itu'. Kata-kata itu terngiang-ngiang ditelinga Kai. Itu berarti ia tak akan bisa lepas dari takdirnya untuk berhubungan dengan manusia. Dan entah kenapa kata-kata itu seperti menyiratkan sesuatu. 'Seburuk apapun itu', kalimat terakhir itu seakan-akan menghantui pikiran Kai. Apa yang lebih buruk dari berhubungan dengan manusia? batin Kai.
.
.
.
Rombongan Kris akhirnya sampai ditujuan mereka. Satu persatu mereka keluar dan memperhatikan rumah baru mereka. Rumah itu tampak menyeramkan dari luar karena memang dirancang seperti itu. Rumah tua dengan gaya eropa kuno. Walaupun sudah tua tapi rumah itu terawat dengan apik. Rumah itu terletak dipinggiran kota. Sengaja bertempat disana agar tak mencolok mata orang-orang.
Kai mendahului saudara-saudaranya untuk masuk kedalam. Ia tak terlalu suka dengan terik matahari yang menyengat tubuhnya. Kacamata hitam masih bertengger dihidungnya. Ia terlalu malas melepasnya. Lagipula saat ini matanya sedang berwarna merah. Ia tak mau ada orang yang melihatnya. Sehun mengikuti Kai dari belakang. Ia sudah melepas kacamatanya semenjak menginjakkan kaki dirumah barunya. Ia pikir lumayan juga tinggal ditempat ini meskipun ia sedikit tak nyaman.
Kai berhenti didepan tangga menuju lantai dua. Ia tak tau harus kemana. Ia putuskan untuk menunggu kedua hyungnya yang masih asik memandangi halaman luar rumahnya. Kai melepas kacamatanya. Mata yang semerah darah masih berbinar. Semenjak puncak purnama matanya terus berwarna merah. Sehun menatap Kai datar.
"Kontrol emosimu. Matamu semakin berwarna merah" tutur Sehun. Kai mencoba mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan. Tapi efek matanya masih sama.
"Tuan muda dapat memilih kamar yang tuan sukai. Disini memiliki banyak kamar. Selamat beristirahat" pamit pak Lee.
Kai pertama kali yang mengambil inisiatif memilih kamar. Ia melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Sesampainya diatas Kai berfikir sejenak untuk mengambil arah kanan atau kiri. Sehun yang berada dibelakangnya menepuk pundak Kai dan menunjuk arah kanan. Kai mengangguk dan memilih kamar yang berada dikanan. Ia memilih kamar paling pojok sedangkan Sehun kamar disebelah Kai.
Kai memasuki kamar barunya. Kamarnya gelap karena lampu belum dinyalakan dan korden jendela kamarnya masih tertutup rapat. Kai berjalan menuju arah jendela. Ia sibakkan kordennya hingga cahaya matahari berlomba-lomba masuk kedalam. Kai sedikit memicingkan matanya karena cahaya yang tiba-tiba menyapanya. Kai membuka jendela kamarnya. Udara sejuk tercium dihidungnya. Walaupun tak senyaman dirumah pohonnya tapi Kai mulai membiasakan diri.
Pintu kamar Kai terbuka dan menampilkan sosok Kris. Kai tak sedikitpun membalikkan tubuhnya. Ia sudah tau jika itu adalah Kris. Kai bisa mencium bau Kris dari jauh. Kris mengedarkan pandangannya kesekitar kamar Kai. Ia ingat, kamar ini adalah kamar yang dulu appanya gunakan. Banyak sekali foto appanya dikamar ini dan ia yakin jika Kai masih belum menyadari akan hal itu.
"Kau memilih kamar appa rupanya" ucap Kris. Kai membalikkan tubuhnya dan benar saja, banyak sekali foto appanya dikamar ini. Ia benar-benar tak menyadarinya.
"Appa sangat suka dengan kamar ini. Katanya pemandangan luar dari kamar ini sangat bagus dan kurasa itu benar" lanjut Kris dan berjalan menuju jendela. Kris menatap pemandangan luar.
"Awalnya aku ingin memilih kamar ini. Tapi kau sudah lebih dulu menempatinya. Apa boleh buat"
Kai berjalan kearah kumpulan foto appanya. Ia pegangi satu persatu foto appanya. Kai tersenyum samar saat menemukan sebuah foto lama dimana appa dan eommanya sedang tersenyum lebar. Ia ambil foto itu dan mengusapnya pelan.
"Foto itu diambil setelah appa berhasil mendapatkan eomma. Cepat temukan 'mate'mu dan jangan pikirkan hal lain" ucap Kris lalu meninggalkan Kai. Kai mendengus mendengar penuturan Kris. Yang benar saja ia harus melupakan balas dendamnya. Dengan alasan 'menemukan mate', Kai akan mulai mencari pembunuh kedua orang tuanya. Ia tak akan dengan mudah melepaskan rasa dendamnya.
.
.
.
"Apa ini?" tanya Sehun.
"Itu daging, bodoh!" sinis Chanyeol.
"Aku tau! Tapi apa yang terjadi dengan daging ini?" ketus Sehun.
"Mulai sekarang kalian harus membiasakan diri dengan makanan manusia. Kalian tidak akan memakan daging segar lagi melainkan dimasak. Kita sudah terlalu lama tak memakan makanan seperti ini" ucap Kris.
"Tapi lebih enak daging segar, hyung!" protes Sehun.
"Diamlah, maknae. Makan saja tanpa banyak protes!" suruh Kai dingin.
Keempat namja itu sekarang sedang menikmati makan malamnya. Mereka tak terbiasa menikmati makanan yang dimasak. Dulu eommanya selalu membuatkan mereka makanan-makanan seperti ini tapi semenjak kematiannya tak ada lagi yang membuatkan makanan matang.
Sehun memberengut dan makan makanannya. Ia paling tak suka daging yang dibumbui atau dimasak. Menurutnya daging segar dengan darah yang masih menempel adalah yang terbaik. Bahkan aromanya sangat menggoda untuknya. Dan sekarang ia harus melupakan daging segar sebagai santapannya. Chanyeol terkekeh melihat Sehun yang tak bersemangat dengan makanannya. Dari dulu Sehun tak pernah suka dengan makanan seperti ini.
Saat mereka berempat makan dengan tenang tiba-tiba saja Kai menghentikan kunyahannya. Matanya kembali berbinar merah. Tangannya terkepal kuat diatas meja makan. Kris yang melihat itu langsung menghampiri Kai. Ia cengkeram kuat pundak Kai.
"Ya! Kau kenapa?! Jawab aku, Kai!" seru Kris panik. Chanyeol dan Sehun langsung memposisikan diri disebelah Kris dan Kai.
Kai hanya diam saja dan menggeram. Pupil matanya berubah bentuk. Taring-taringnya keluar. Ia menghentakan cengkraman Kris dan berlari keluar rumah. Kris, Chanyeol dan Sehun langsung mengejar Kai. Mereka harus menghentikan Kai agar tak menyakiti siapapun. Dan sangat gawat jika manusia tau wujud Kai seperti sekarang.
Ketiganya terus mengejar Kai yang berada jauh didepannya. Sial bagi mereka karena Kai dalam keadaan berubah sempurna sehingga kekuatannya jauh dari mereka yang sudah memakai kekuatan warewolf mereka. Aksi kejar-kejaran itu terus berlangsung hingga kepusat kota. Kris dan yang lainnya berusaha untuk tidak sampai terlihat oleh manusia. Mereka memutuskan untuk mengejar Kai dari atas bangunan.
.
.
.
.
Kyungsoo berjalan sendiri menuju apartemennya setelah membeli beberapa makanan ringan untuknya dan temannya. Kyungsoo mengangkat belanjaannya dan tersenyum lucu. Ia bisa membayangkan betapa konyolnya teman-temannya itu jika sudah ribut berbagi ramyeon. Ia sengaja membeli beberapa ramyeon untuk ia nikmati bersama dengan teman-temannya.
Jalanan menuju apartemen Kyungsoo cukup sepi. Ia harus melewati sebuah bangunan yang sedang dibangun. Banyak rumor yang menyatakan jika bangunan itu berhantu. Tapi sebagai akademis yang percaya dengan hal-hal yang berbau logika, Kyungsoo tak semudah percaya itu. Dan sebagai namja ia tak takut dengan apapun itu.
"Huah...cuacanya menyenangkan. Pasti anak-anak itu sedang menungguku sambil bertengkar tak jelas. Kkkk"
Kyungsoo terkikik sendiri ditengah jalan. Bayangan teman-temannya selalu saja bisa membuatnya tertawa sendiri. Kyungsoo dengan semangatnya mengayun belanjaanya berkali-kali. Tiba-tiba saja kantong belanjaannya robek dan seluruh isi belanjaannya berantakan. Kyungsoo yang terkaget langsung memunguti belanjaannya. Ia meruntuki dirinya yang terlalu bersemangat hari ini.
KRIEK
Kyungsoo mendengar sebuah suara. Ia edarkan pandangannya keseluruh penjuru. Ia tak menyadari jika ia saat ini berada dipinggir bangunan yang sedang dibangun. Suara tadi semakin jelas terdengar ditelinganya. Kyungsoo terus saja mencari asal suara itu. Saat putus asa tak menemukannya, Kyungsoo mendongak dan menemukan sebuah tiang besi yang tergantung diatasnya meluncur dengan cepat kearahnya. Kyungsoo menutup matanya. Jika ini adalah akhir dari hidupnya maka ia akan terima itu. Ia menyesal tak bisa berpamitan dengan teman-temannya.
BRAK
"Grrrrr..."
Kyungsoo tergelak saat mendengar suara geraman seekor binatang. Ia juga merasa tak terjadi sesuatu padanya padahal ia yakin jika ia mendengar suara benturan yang keras. Kyungsoo membuka salah satu matanya guna mengintip apa yang terjadi. Betapa kagetnya ia saat menemukan seorang yang melindunginya dari besi yang terjatuh.
Kyungsoo memandangi orang itu. Rasanya ada yang aneh dengan orang itu. Matanya berpendar merah dengan pupil mata yang aneh. Giginya sangat tajam seperti gigi binatang buas. Suaranya sangat rendah saat menggeram layaknya binatang. Orang itu juga terus menatap intens Kyungsoo tanpa berbuat apa-apa. Ia terus dalam posisinya walaupun besi tua yang menimpanya sudah terongok disebelahnya.
"Ggg-wwen-cchaana?" tanya Kyungsoo terbata-bata.
"Grrr!"
Suara geraman menjadi jawaban pertanyaan Kyungsoo. Bukannya takut, Kyungsoo mengangkat tangannya dan menyentuh wajah orang itu dengan hati-hati. Bagai ada sebuah aliran listrik ditangannya saat kulit tangannya bersentuhan dengan kulit wajah orang itu. Sensasi yang ditimbulkan terasa berbeda. Ada perasaan takut tapi disaat itu pula ada rasa nyaman.
Kyungsoo memperhatiakan penyelamantnya itu. Pupil matanya yang menajam kemudian berubah. Matanya yang berwarna merah itu berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi hitam. Geraman yang sedari tadi keluar dari mulutnya kini mulai hilang tak terdengar. Kyungsoo langsung menjauhkan tangannya. Orang itu masih saja memandang Kyungsoo hingga kesadarannya hilang.
Kyungsoo terkejut saat ada 3 pemuda mengerubunginya. Ia tak bisa melihat dengan jelas wajah ketiga pemuda itu karena penerangan yang minim. Pemuda dengan tinggi diatas rata-rata mengambil tubuh penyelamatnya. Sedangkan dua yang lain mengumpulkan belanjaan Kyungsoo yang tercecer. Ketiga pemuda itu pergi meninggalkan Kyungsoo dengan semua pertanyaan yang menghampirinya. Satu yang Kyungsoo ingat dari para pemuda itu, mereka memiliki warna mata yang sama yaitu merah. Warna yang terlihat jelas dikegalapan malam.
.
.
.
.
.
.
Kris merebahkan Kai keranjangnya. Pak Lee terlihat khawatir saat melihat ketiga tuan mudanya kembali dengan membawa Kai yang sedang pingsan. Pak Lee mengusap keringat didahi Kai. Pria tua itu dengan telaten merawat Kai yang tampak kelelahan.
"Apa menurutmu namja tadi melihat Kai, hyung?" tanya Chanyeol.
"Mungkin. Tapi aku tak terlalu yakin" jawab Kris seadanya.
"Tentu saja dia melihat Kai. Wajah mereka terlalu dekat untuk tak saling melihat" sahut Sehun.
"Masih untung namja itu tak berteriak" lanjutnya.
"Tapi aku merasa ada yang aneh. Saat namja itu menyentuh Kai tiba-tiba saja Kai langsung jatuh pingsan" komentar Kris.
"Apa mungkin namja itu 'mate'nya Kai?" sambung Chanyeol.
"Bisa jadi. Dari yang aku baca, perubahan sempurna seorang warewolf dapat dihentikan dan ditimbulkan dari pasangan 'mate'nya" tutur Kris.
"Jadi sang 'mate' yang mampu mengontrolnya?" selidik Chanyeol.
"Aku rasa. Tapi itu masih belum pasti"
"Hanya 'mate' sejati yang mampu mengontrol kekuatan sang warewolf. Antara 'mate' dengan warewolf harus memiliki ikatan batin yang kuat. Keduanya saling terhubung. Jika salah satu diantara mereka terluka maka pasangannya akan segera mengetahuinya. Warewolf akan segera menghampiri sang 'mate' jika pasangannya dalam bahaya" jelas pak Lee.
"Jadi...Kai merasakan namja itu dalam bahaya makanya dia berubah dan mencari 'mate'nya?" tanya Sehun berspekulasi dan menatap pak Lee.
"Itu mungkin saja tuan muda"
"Lalu apa maksud pak Lee dengan 'mate' sejati? Apa ada beberapa jenis 'mate'?" tanya Chanyeol.
"Bukan seperti itu maksud saya tuan muda. Hanya saja ada beberapa warewolf yang dapat menyatu dengan 'mate'nya. Tanpa berkata mereka saling tau dengan apa yang dirasakan"
"Kita tak dapat menyimpulkan itu secepat ini. Kita masih harus mencari tau apa yang terjadi dengan Kai dan namja itu. Lagipula kita baru satu hari disini. Masih banyak kemungkinan yang terjadi" ungkap Kris.
"Pak Lee bisa beristirahat. Kalian juga istirahatlah" lanjut Kris.
Pak Lee beserta Chanyeol dan Sehun keluar kamar Kai. Kris terus memandangi Kai yang tertidur pulas. Ia tak menyangka membawa adiknya yang satu ini kedunia luar akan semerepotkan ini. Kris tak ada pilihan lain. Ia harus menyelamatkan ketiga saudaranya. Mereka tak mempunyai banyak waktu. Mereka harus segera menemukan 'mate' mereka.
.
.
.
Suara berisik mulai terdengar pagi ini dikampus Kyungsoo. Semua mahasiswa sedang heboh membicarakan sesuatu. Kyungsoo sendiri merasa risih dengan bisik-bisik yang dilakukan para namja dan yeoja dikampusnya. Sebenarnya bukan dia yang sedang dibicarakan hanya saja kehebohan yang ditimbulkan membuat Kyungsoo gerah.
"Ada apa sih yang terjadi dikampus ini?" celetuk Luhan.
"Entahlah. Seperti ada idol saja yang datang" cibir Baekhyun.
"Mungkin mereka idolnya" tunjuk Tao pada sekumpulan namja yang baru saja datang.
Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo langsung mengikuti arah yang ditunjuk Tao. Dihalaman parkir kampus mereka ada beberapa namja yang sedang turun dari mobil mereka. Para namja itu sama-sama mengenakan kacamata hitamnya. Para yeoja yang ada dikampus sama sekali tak berkedip melihat ketampanan mereka. Tiga diantara mereka melepas kacamata hitamnya yang membuat para gadis menjerit histeris.
Kyungsoo menegang saat melihat namja yang masih menggunakan kacamata hitamnya. Kyungsoo sangat mengenali wajah itu walaupun matanya tertutup kacamata. Bagaimana tidak, wajah itu menghantui Kyungsoo tadi malam. Wajah sang penyelamatnya yang aneh. Walaupun saat itu sangat minim cahaya tapi Kyungsoo masih bisa dengan jelas melihat wajah sang penyelamatnya.
"Cih...mereka sok tampan. Masih tampanan aku dibanding mereka" sinis Baekhyun.
"Sok artis sekali gaya mereka. Menyebalkan" cibir Luhan.
'Eoh...bukankah itu ahjussi yang menabrakku waktu itu?" celoteh Tao.
Baekhyun dan Luhan langsung memandang Tao dan memandang namja yang dimaksud Tao.
"Nugu?" tanya Baekhyun dan Luhan penasaran.
"Yang paling tinggi diantara mereka" tunjuk Tao kearah Kris yang berjalan didepan saudara-saudaranya.
"Kau yakin?" tanya Luhan memastikan. Tao mengangguk.
"Tentu saja. Wajahnya sama dengan orang yang menabrakku waktu itu" yakin Tao.
"Lebih baik kita kembali kekelas. Sebentar lagi aku ada kelas" ucap Kyungsoo mengalihkan perhatian teman-temannya dari pendatang baru.
"Kaja! Tak ada gunanya juga kita berada disini" ucap Luhan membenarkan.
.
.
Kris berjalan didepan para saudaranya untuk menunjukkan jalan dimana seharusnya mereka pergi. Hanya Kris yang pernah datang kesini jadi wajar saja jika yang menunjukkan jalan. Chanyeol menguap lebar dengan bodohnya. Biasanya jam segini ia masih tertidur pulas diranjangnya. Tapi demi berbaur dengan manusia ia harus mengikuti segala aktifitas yang diikuti para manusia.
Kai berjalan paling belakang. Ia tak terlalu memperdulikan ketiga saudaranya yang berjalan didepan. Ia ingin segera pulang dan mengakhiri hari ini. Kai sengaja tidak membuka kacamata hitamnya. Teriknya matahari diluar membuatnya silau. Ia tak terlalu suka dengan matahari. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan dan menurutnya gelap adalah temannya yang paling baik.
Kris menghentikan langkahnya dan membuat Chanyeol dan Sehun kebingungan. Kris terlihat mengendus-endus sesuatu. Chanyeol dan Sehun saling berpandangan. Mereka masih belum mengerti apa yang sedang dilakukan hyungnya itu. Kai juga tampak mengendus-endus sesuatu. Tatapan matanya langsung menjurus kearah sekelompok namja mungil yang lewat didepan mereka.
Kai langsung saja mendekati mereka tanpa basa-basi. Ia hanya terpaku pada salah satu sosok diantara mereka. Sekumpulan namja itu langsung berhenti saat Kai menghadang jalan mereka. Kai langsung menyingkirkan namja didepannya yang menghalangi namja yang diincarnya. Namja yang ditatap Kai menunduk takut. Kai terus saja berjalan menghampiri namja itu.
"Kau..."
"Maafkan dia berbuat tak sopan" sela Kris memotong ucapan Kai. Kris memberi kode kepada Chanyeol dan Sehun untuk membawa Kai pergi. Keduanya mengangguk dan menarik Kai pergi.
"Sekali lagi maafkan kami" ucap Kris lalu mengikuti ketiga adiknya.
"Apa-apaan mereka?!" kesal Baekhyun.
"Kyung, gwenchana?" tanya Luhan.
"N-Ne.." jawab Kyungsoo gugup.
"Pendatang baru tak tau diri!" umpat Baekhyun.
"Jaga bicaramu, Byun!" tegur Luhan.
Chanyeol dan Sehun terus menyeret Kai. Entah apa yang merasuki Kai saat ini hingga berbuat nekat mendekati manusia yang tak dikenalnya. Kris menyuruh Chanyeol dan Sehun melepaskan Kai.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sehun.
"Salah satu diantara mereka adalah 'mate'ku" jawab Kris.
"Mwo?! Bagaimana kau tau hyung?" kaget Chanyeol.
"Dari aromanya, bodoh! Bukankah aku bilang jika sebelumnya aku pernah bertemu dengannya!" ketus Kris.
"Lalu namja mungil tadi adalah 'mate'nya Kai?" tanya Sehun lagi. Chanyeol dan Kris memandang Kai yang sedari tadi hanya diam.
"Kau mencium baunya bukan? Makanya kau mendekatinya" sambung Kris.
"Molla" jawab Kai singkat lalu pergi.
"Ya! Eodiga?!" teriak Chanyeol.
"Apa mungkin namja tadi adalah namja kemarin yang ditolong Kai?" tanya Sehun.
"Bisa jadi. Untuk sementara aku dan Kai sudah menemukan 'mate' kami. Jadi tinggal kalian berdua. Segera temukan dan kita harus segera melakukan 'mating' sebelum purnama selanjutnya" ujar Kris. Chanyeol dan Sehun mengangguk.
.
.
.
.
TBC
Halloha...Annyeong. Aku kembali lagi. Maafkan aku yang lama apdet. Ok. kali ini aku tak akan banyak komentar. Terima kasih buat para readers semua yang masih menanti kelanjutan cerita ini. Aku berharap kalian masih menghargai usahaku. Terima kasih juga sudah mendukung EXO selama ini. Mari kita menjadi fansnya yang baik dan selalu mendukung segala yang dilakukan EXO.
Aku rindu pake banget momen kaisoo. Aku rindu Kai. Bagaimana kabarnya ya? Dari pada baper mending review.
Review juseyo~~~~~
