BAD DESTINY

.

.

.

.

Proudly Present :

Kai

Kyungsoo

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION FOR ALL KAISOOSHIPPER

.

.

.

ENJOY THE FICTION

.

.

.

.

CHAPTER 4

Previous chapter :

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sehun.

"Salah satu diantara mereka adalah 'mate'ku" jawab Kris.

"Mwo?! Bagaimana kau tau hyung?" kaget Chanyeol.

"Dari aromanya, bodoh! Bukankah aku bilang jika sebelumnya aku pernah bertemu dengannya!" ketus Kris.

"Lalu namja mungil tadi adalah 'mate'nya Kai?" tanya Sehun lagi. Chanyeol dan Kris memandang Kai yang sedari tadi hanya diam.

"Kau mencium baunya bukan? Makanya kau mendekatinya" sambung Kris.

"Molla" jawab Kai singkat lalu pergi.

"Ya! Eodiga?!" teriak Chanyeol.

"Apa mungkin namja tadi adalah namja kemarin yang ditolong Kai?" tanya Sehun.

"Bisa jadi. Untuk sementara aku dan Kai sudah menemukan 'mate' kami. Jadi tinggal kalian berdua. Segera temukan dan kita harus segera melakukan 'mating' sebelum purnama selanjutnya" ujar Kris. Chanyeol dan Sehun mengangguk.

.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Kai berjalan menyusuri pinggiran pertokoan. Sebuah kertas dipegangnya dan dipandanginya berkali-kali. Ada suatu tempat yang ingin ia kunjungi. Kertas itu merupakan petunjuk yang masih ia dapatkan saat ini. Kai membenarkan letak kacamata hitamnya dan bergegas menuju tempat itu.

Sesampainya ditempat yang ia tuju, Kai kembali melirik sebuah tulisan yang ada dikertasnya. Ia mencocokkan sebuah alamat yang ada didalamnya. Sangat jelas dimatanya jika alamat itu benar. Tapi tempat yang ia cari selama ini seperti tak menunjukkan adanya kehidupan. Sebuah rumah besar yang tak terawat berada didepan Kai. Rumah itu sepertinya sudah lama sekali tak ditinggali dilihat dari banyaknya rumput liar yang tumbuh disekitar rumah itu.

Kai memustuskan untuk masuk kedalam rumah itu. Perlahan-lahan Kai membuka pintu rumah yang terlihat rapuh. Suara decitan amat keras menggema diseluruh penjuru rumah. Kai memasuki rumah itu dan memutuskan untuk berkeliling. Didalam rumah itu banyak barang berserakan sepertinya rumah itu ditinggalkan begitu saja. Kai berjalan menuju tempat perapian. Kai mengambil salah satu bingkai foto tapi tak ada apapun disitu.

Kai kembali melanjutkan jalannya mengelilingi rumah itu. Satu persatu kamar ia masuki dan mencari sebuah petunjuk. Kamar terakhir yang ia datangi tampaknya seperti kamar seorang yeoja. Terlihat feminim walaupun sudah tertutup jaring laba-laba. Kai mengambil sesuatu dari meja rias yang ada disana. Ia menemukan sebuah foto seorang gadis kecil yang sedang tersenyum. Kai membersihkan foto itu dari debu kemudian menyimpan foto itu disaku celananya.

Tak ada petunjuk berarti baginya saat ini. Segala informasi yang diam-diam ia kumpulkan ternyata mengalami kebuntuan. Kai keluar dari rumah itu. Ia menatap sejenak rumah yang ada didepannya sebelum ia pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan Kai? Diam-diam Kai mencari informasi tentang pembunuh kedua orang tuanya. Tak mudah mencari informasi yang sudah terjadi puluhan tahun itu. Kai tak menyerah begitu saja, ia terus mencari keberadaan pembunuh itu hingga ia mendapatkan sebuah alamat dimana pembunuh itu tinggal. Sangat disayangkan ternyata para pembunuh itu sudah tak mendiami rumah itu. Setidaknya Kai sudah mendapat sebuah titik terang. Perlahan-lahan ia akan mencari orang-orang itu.

Kai mengambil foto yang ada disakunya dan menatapnya lama. Foto seorang gadis itu bisa menjadi kelanjutan pencariannya. Ia harus mencari gadis itu. Kai yakin jika gadis itu ada hubungannya dengan para pembunuh orang tuanya. Ia harus bertindak cepat sebelum saudara-saudaranya menyadari jika ia masih mencari pembunuh kedua orang tuanya. Ia tak ingin Kris mengetahui apa yang ia temukan sejauh ini. Kris akan berusaha menjauhkannya dari semua petunjuk yang ia dapat.

.

BAD DESTINY

.

Chanyeol tertidur diperpustakaan kampus. Ia sengaja melarikan diri dari kuliah membosankan itu. Ia masih tak habis berfikir bagaimana mungkin para manusia bisa betah duduk berlama-lama mendengarkan ocehan gila orang yang berada didepan. Hanya satu menit didalam kelas langsung membuatnya bosan dan ingin segera keluar. Jika bukan perintah dari Kris ia tak ingin melakukannya.

Chanyeol langsung membuka kedua matanya saat mencium bau yang sangat enak. Matanya berubah merah. Chanyeol berdiri dan mencari siapa orang yang mempunyai bau seperti ini. Rak perrak dilalui Chanyeol. Untung tak banyak orang yang datang keperpustakaan saat ini sehingga Chanyeol tak perlu repot-repot menutupi warna matanya. Chanyeol semakin mendekati sumber bau yang diciumnya.

Langkahnya berhenti saat menemukan orang yang dicarinya. Chanyeol perlahan mendekati orang itu. Chanyeol berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh orang didepannya. Chanyeol sedikit mengendus-endus orang itu agar yakin jika bau itu berasal dari orang didepannya. Lagi-lagi Chanyeol beruntung karena orang itu sekarang sedang tertidur. Sepertinya orang ini sedang membaca buku dipojokan perpustakaan dan akhirnya jatuh tertidur.

Chanyeol menatapi wajah namja didepannya. Kulitnya sangat halus tanpa harus ia sentuh. Wajahnya sangat cantik untuk seukuran namja dan jangan lupa tubuhnya terlihat ramping seperti yeoja. Chanyeol mencoba menyentuh wajah namja itu. Tapi tangannya langsung berhenti saat kedua mata namja itu terbuka. Pandangan keduanya bertemu. Seperti disihir, namja didepannya tak bisa mengalihkan pandangannya. Seharusnya ia berteriak keras karena ada orang asing yang ingin menyentuhnya. Tapi semua teriakan bahkan suaranya rasanya tertelan begitu saja.

Baekhyun menatap dalam ke kedua mata berwarna merah namja didepannya. Mata itu seakan membawa Baekhyun jatuh lebih dalam dan terjerat oleh pesona kuat namja didepannya. Baekhyun dapat menyaksikan sendiri pantulan wajahnya dari mata itu. Tangannya terangkat menyentuh wajah itu. Sebuah sengatan terasa ditangan kecil Baekhyun. Baekhyun dapat mendengar pria didepannya menggeram rendah. Matanya terlihat semakin memerah.

Tak tau apa yang terjadi dengannya, tiba-tiba saja bibirnya dan bibir namja itu bertemu. Lumatan-lumatan kecil diberikan namja itu. Baekhyun bahkan masih mencerna apa yang sedang terjadi. Ia sekalipun tak merespon ciuman dari namja asing itu. Lumatan itu semakin menuntut. Baekhyun terdesak hingga semakin merapat kedinding. Semakin lama ciuman itu semakin ganas. Baekhyun yang tak kuasa menahan godaan luar biasa akhirnya menyerah dan menikmati setiap sentuhan bibir laki-laki itu dibibirnya.

Chanyeol melepas ciumannya. Ia tatap namja manis didepannya yang sedang terengah-engah. Bibir mungilnya yang menggoda sekarang menjadi bengkak memerah akibat perbuatannya. Smirk khasnya tercetak jelas diwajah tampan Chanyeol. Akhirnya ia menemukan 'mate'nya. Tinggal sedikit lagi ia bisa melakukan 'mating' dengan namja didepannya ini. Chanyeol tak menyangka akan mendapatkan 'mate' semanis ini.

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke Baekhyun. Baekhyun seketika menahan nafasnya saat nafas hangat namja asing itu menerpa wajahnya.

"Ingat baik-baik. Mulai sekarang kau adalah milik Park Chanyeol. Ingat nama itu dikepala mungilmu ini" bisik Chanyeol tepat didepan bibir Baekhyun. Chanyeol tersenyum senang kemudian meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku.

"Ah...Jangan lupa untuk bernafas. Aku tak ingin 'mate'ku mati karena tak bisa bernafas" lanjut Chanyeol sebelum benar-benar meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun langsung bernafas terburu-buru. Namja asing itu benar-benar membuatnya linglung seketika. Baekhyun mengingat-ingat kembali apa yang baru saja dikatakan namja itu. 'Park Chanyeol' gumam Baekhyun tanpa sadar. Ia harus mencari namja itu dan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi hari ini. Baekhyun memukul-mukul kepalanya. Bagaiamana mungkin ia diam saja tanpa melawan apa yang dilakukan namja itu kepadanya.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Luhan meregangkan badannya yang terasa kaku. Kuliah hari ini sangat menguras tenaganya. Mendengarkan Song seosaengnim selama lebih dari dua jam membuat badannya kaku. Salah fokus sedikit akan langsung ditegur oleh dosen galak itu. Luhan terus berjalan disepanjang trotoar kampusnya. Ia harus segera keluar dari kampus untuk pulang. Hari ini adalah jatahnya untuk membuat makan malam. Sebelum sampai apartemen ia harus belanja ke minimarket dulu dan itu harus ia lakukan dengan cepat agar ia tak terlambat sampai apartemennya.

Tubuh Luhan langsung limbung saat tanpa sengaja ia tersandung batu. Tubuhnya langsung condong kedepan. Luhan yang sudah menerima dirinya akan jatuh langsung saja memejamkan matanya. Seseorang dari belakang langsung menangkap tangan Luhan dan menariknya. Seketika itu tubuh Luhan langsung berputar kebelakang dan menubruk tubuh orang yang menariknya.

Jantung Luhan langsung berpacu dengan cepat saat tangan-tangan kekar yang menolongnya itu bertengger dipinggangnya. Tangan itu tak menunjukkan akan terlepas. Luhan mendongak melihat siapa yang menolongnya. Tatapan keduanya bertemu. Sekilas Luhan dapat melihat mata namja yang menolongnya itu berubah warna menjadi merah. Luhan mengedipkan matanya berkali-kali takut jika ia salah lihat.

Namja berkulit putih dihadapan Luhan tersenyum miring. Sepertinya ia mendapatkan tangkapan besar hari ini. Seekor rusa kecil tiba-tiba saja terhidang dihadapannya tak berdaya. Bahkan rusa kecil itu sama sekali tak menyadari jika ia telah dihadapkan oleh seekor serigala yang akan menerjangnya kapan saja.

Sehun melepas rengkuhannya. Aroma tubuh Luhan benar-benar membuatnya mabuk. Jika ia tak tau tempat, Sehun langsung akan menerjang rusa kecil itu disini. Tapi ia tak akan melakukannya karena sekarang mereka sedang ditempat terbuka. Sehun mengusak pelan rambut Luhan. Rusa kecilnya itu masih saja terdiam bodoh didepannya. Sehun memberikan senyuman tampannya dihadapan Luhan.

"Bukankah kau sedang terburu-buru sampai kau tersandung batu?" tanya Sehun. Luhan sadar dari lamunan panjangnya langsung menepuk dahinya. Ia harus segera ke minimarket. Luhan langsung berbalik dan bersiap untuk lari tapi tangannya dicekal oleh Sehun.

"Biar ku antar. Aku takut kau akan terjatuh lagi" ucap Sehun dan menggandeng tangan Luhan.

Luhan hanya menurut pada pria asing itu. Padahal ia baru bertemu dengan pria ini tapi segala yang dilakukan olehnya Luhan selalu menurut. Seperti anak kecil yang tak tau apa-apa Luhan mengikuti langkah namja didepannya. Melihat tangannya yang bertautan dengan namja tak dikenalnya membuat jantungnya kembali berdebar-debar. Rasanya hangat itulah yang Luhan rasakan saat ini. Namja itu membuatnya sangat nyaman diawal pertemuan mereka. Bahkan Luhan tak tau nama namja itu. Saat sadar dengan lamunannya Luhan langsung mendongak dan menatap belakang tubuh namja didepannya.

"Sehun. Oh Sehun, itu namaku"

Luhan tersentak saat namja yang bernama Sehun itu menyebutkan namanya. Apa ia tau apa yang aku pikirkan batin Luhan. Luhan menggeleng-geleng kecil. Mungkin hanya kebetulan saja.

"Ireumi mwoeyo?" tanya Sehun tanpa menolehkan kepalanya.

"Luhan. Xi Luhan" lirih Luhan. Ia tak yakin jika laki-laki didepannya mendengarkan kata-katanya. Sehun mendengar jelas perkataan Luhan. Seorang warewolf sepertinya mempunyai pendengaran yang baik.

Sehun sedikit menarik paksa Luhan agar mereka bisa berjalan berdampingan. Luhan yang merasa ditarik langsung mensejajari Sehun dan menyamai langkah besar Sehun. Luhan agak sedikit kewalahan mengikuti langkah Sehun. Kaki jenjang Sehun berjalan dengan kecepatan biasa tapi untuk kaki mungilnya agak sedikit kesusahan. Sehun melirik Luhan yang terlihat kepayahan dengan langkahnya. Sedikit ia terkikik melihat tingkah lucu Luhan yang terus menerus mengimbangi langkahnya.

Sehun menghentikan langkahnya dan memandang Luhan. Luhan ikut berhenti dan menatap Sehun penuh tanya. Ah...Sehun bisa gila, hanya dengan melihat Luhan yang linglung seperti ini membuatnya ingin memakannya hidup-hidup.

"Dimana arah rumahmu?" tanya Sehun.

Luhan menunjukkan arah menggunakan tangannya. Sehun mengangguk dan terus menggandeng tangan Luhan. Orang dari awah berlawanan menyenggol bahu Luhan. Luhan yang tak siap langsung limbung. Sehun dengan sigap memegangi Luhan agar tak terjatuh. Tubuh keduanya saling menempel. Luhan menahan nafasnya saat bibirnya dan bibir Sehun berhadap-hadapan. Jika salah satu dari mereka bergerak maka bibir keduanya pasti akan bertemu. Sehun menjauhkan wajahnya dan mengumpat pelan. Ia sudah tak tahan lagi.

Sehun langsung menarik Luhan yang masih membatu. Ia tak peduli lagi Luhan kesakitan atau tidak. Diotaknya sekarang hanya ingin memiliki rusa kecil dibelakangnya. Sehun memilih sebuah gang sempit yang jarang dilalui orang. Sehun terus membawa Luhan entah kemana hingga tiba ditempat yang cukup sepi dan sedikit gelap. Sehun memojokkan Luhan didinding dan langsung mencumbunya.

Sehun terus mengecap bibir manis milik Luhan. Tubuhnya bergerak terus menekan tubuh Luhan kedinding. Luhan sendiri tak bisa menolak perlakuan Sehun. Sejak awal tubuhnya telah dikuasai penuh oleh Sehun hanya lewat tatapan matanya. Mata Sehun berubah menjadi merah darah. Kuku jari tajamnya muncul. Dengan hati-hati Sehun memegang tubuh Luhan tanpa melukainya. Ia tak ingin tubuh mulus Luhan lecet hanya karena ulahnya yang terlalu kasar. Ia harus bisa menguasai dirinya untuk tak bertindak lebih jauh.

Sehun melepas panggutannya dan menjauhkan kepalanya dari wajah Luhan. Luhan sedikit kesulitan dalam bernafas. Perlahan-lahan Luhan membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang namja dengan mata semerah darah tengah menatapnya dalam. Luhan membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya bahwa orang yang menciumnya tadi berubah menjadi monster.

Sehun membelai wajah Luhan yang ketakutan dengan kuku jarinya yang tajam. Ia masih menikmati ekspresi Luhan yang menatapnya tak percaya. Sehun tersenyum miring melihat Luhan yang masih terpaku dengan segala keterkejutannya dan ketakutannya. Sehun memejamkan matanya kemudian membuka matanya perlahan. Warna matanya sekarang sudah berubah normal dan juga kuku jarinya sudah mulai normal.

"Kau tak akan pernah bisa lari dariku, Xi Luhan. Kau hanya milikku. Milik Oh Sehun" bisik Sehun dengan nada rendah. Luhan mengangguk kaku. Sehun tersenyum kecil.

"Maafkan aku karena menakutimu. Aku akan menceritakan semuanya tentangku asal kau terus berada disampingku"

Luhan mengangguk lagi tapi lebih pasti dari sebelumnya. Sungguh Luhan tak bisa lari dari Sehun. Sejak pertama melihatnya, Luhan merasa seperti ada yang menjeratnya. Ikatan takdir apa yang membuatnya terjebak dengan seorang monster seperti Sehun ia tak ingin memikirkannya. Sekarang prioritas utamanya adalah bersama dengan Sehun, namja yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Namja yang mengubah seluruh hidupnya.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Kyungsoo membaca bukunya sambil berjalan. Ia terlalu asik dengan bukunya dan tak menghiraukan sekitarnya. Dari arah berlawanan Kai berjalan dengan angkuhnya dengan tangan dikedua sakunya. Lirikan para yeoja tak membuatnya risih atau berbangga hati. Kai tak terlalu peduli dengan kehidupan manusia yang membosankan –menurutnya.

BRAK

Buku Kyungsoo terjatuh saat sang empunya menabrak seorang pria yang kini berdiri dengan santainya tanpa mau mengambilkan bukunya. Kyungsoo mendelik kearah namja itu. Kai masih tak bergeming ditempatnya. Hidungnya mencium aroma khas yang ia kenal. Kai langsung menoleh kearah namja mungil yang sedang memungut bukunya dengan kesal. Kai mengalihkan kepalanya dan segera pergi dari tempat itu. Kyungsoo yang merasa ditinggalkan langsung merasa gondok dengan sikap namja itu.

"YA! Harusnya kau minta maaf!" teriak Kyungsoo.

Kyungsoo sangat kesal dengan namja itu dan menghentakkan kakinya keras. Ia berbalik dan pergi dengan perasaan marah. Berjalanpun ia masih menghentak-hentakkan kakinya hingga dihentakan yang entah keberapa kali, kaki Kyungsoo tidak berpijak dengan baik dan membuat pergelang kakinya keseleo. Kyungsoo terduduk memegangi kakinya yang kesakitan.

Kai menghentikan langkahnya saat jantungnya berdetak dengan cepat. Dengan cepat Kai membalik badannya dan mendapati Kyungsoo terduduk dengan rintihan kesakitan. Kai melebarkan matanya dan langsung menghampiri Kyungsoo. Wajahnya seketika menjadi panik. Ia pandangi kaki Kyungsoo yang terluka. Kyungsoo cukup terkejut melihat namja yang menabraknya tadi kembali dengan wajah panik. Setaunya tadi namja itu sangat tak peduli dengan keadaannya tapi sekarang ia terlihat sangat khawatir.

Kai langsung saja membopong tubuh Kyungsoo didepan layaknya sang pangeran membawa sang putri. Kyungsoo yang kaget langsung memberontak digendongan Kai. Kai tak tinggal diam, ia semakin mengeratkan gendongannya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyungsoo. Jantung Kyungsoo berdebar kencang saat jarak wajahnya berada beberapa senti dari wajah Kai. Kai membawa Kyungsoo pergi. Tanpa mereka sadari mereka menjadi tontonan para mahasiswa yang tak sengaja melintas didekat mereka. Para mahasiswa itu menyaksikan kejadian dari awal kejadian tabrakan hingga aksi gendong Kai.

Kai membawa Kyungsoo kesebuah ruang perawatan. Kai mendudukkan Kyungsoo diranjang dengan hati-hati. Kyungsoo hanya diam mengamati Kai. Wajah Kai terlihat masih sama dengan wajah yang dilihatnya saat menyelamatkannya malam itu. Sebenarnya sampai sekarang Kyungsoo tak mengetahui siapa nama Kai yang sebenarnya. Kai berjongkok tepat didepan kaki Kyungsoo yang menggantung ditepi ranjang. Kai mencoba membuka sepatu Kyungsoo tapi mendapat respon penolakan dari Kyungsoo.

"Diam!" suruh Kai dingin. Nyali Kyungsoo langsung menciut. Ia membiarkan saja apa yang akan dilakukan Kai kepadanya.

Kai melepaskan sepatu Kyungsoo pelan-pelan agar tak menyakiti pergelangan Kyungsoo. Ia lepaskan juga kaos kaki yang menempel dikaki Kyungsoo. Kai sedikit mengangkat kaki Kyungsoo. Kyungsoo sedikit meringis saat kakinya digerakan. Mata Kyungsoo langsung terbuka lebar saat mengetahui apa yang sedang dilakukan Kai kepada kakinya. Kai tiba-tiba saja mencium pergelangan kaki Kyungsoo. Kecupan itu sangat lembut dan mengalirkan sesuatu yang hangat didalam diri Kyungsoo. Hatinya tiba-tiba menghangat mendapat perlakuan dari Kai.

Kai masih dalam posisinya mencium pergelangan kaki Kyungsoo. Semburat merah muncul dipipi gembul Kyungsoo. Baru kali ini ada orang yang memperlakukannya lembut. Sesuatu menggelitiki perutnya membuatnya gatal. Perasaan ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kai menjauhkan kepalanya dari kaki Kyungsoo. Kai melihat pergelangan kaki Kyungsoo dan memijitnya pelan. Tak ada respon dari Kyungsoo, Kai langsung berdiri dari posisinya. Ia menepuk kedua tangannya dan meninggalkan Kyungsoo.

"Neo...nuguya? Neo...mwoya?" tanya Kyungsoo melihat punggung Kai yang akan menghilang dari balik pintu.

"Kau tak perlu tau. Jangan pernah berada disekitarku. Aku benci melihat wajahmu" ucap Kai dingin dan datar lalu pergi.

DEG

Jantung Kyungsoo serasa berhenti. Nafasnya seakan berhenti mendengar penuturan Kai. Dadanya sesak dan ia ingin menangis. Padahal Kai bukan siapa-siapanya tapi kenapa semenyakitkan ini mendengar kata-kata itu dilontarkan oleh Kai. Kyungsoo menahan tangisnya. Ia pegangi dadanya yang sesak. Ia pukul-pukul dadanya berharap bisa membaik. Tapi semakin ia pukul semakin sakit rasanya. Dalam keheningan ruang perawatan, Kyungsoo menangis dalam diam.

Kai memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit. Nafasnya pendek terputus-putus. Rasanya seperti ada yang menghambat dijalur pernafasannya. Kai bersandar didinding lorong kampusnya yang sepi. Ia berusaha untuk terus berjalan tapi rasa sesak itu terus menderanya. Kai ambruk dengan satu kaki menumpu tubuhnya. Jantungnya mulai berdetak lemah. Ia tak tau apa yang terjadi dan yang terakhir ia lihat hanya bayangan Kris berlari kearahnya dengan wajah panik.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Kai melenguh pelan dalam tidurnya. Ia mencoba membuka kedua kelopak matanya. Tubuhnya masih terasa sakit untuk digerakan. Kai berusaha untuk duduk dan langsung dibantu Sehun yang berada dipinggir ranjangnya. Chanyeol merapikan bantal Kai agar nyaman untuk bersandar. Sehun dengan pelan membantu Kai bersandar.

Kai melihat ketiga saudaranya berwajah khawatir. Kris menghela nafasnya. Ingin sekali ia memukuli Kai tapi kondisi Kai yang sekarang sedang tak memungkinkan. Chanyeol memberikan segelas air kearah Kai dan langsung diteguk habis oleh Kai.

"Jadi kenapa aku menghindarinya?" tanya Kris tak sabar.

"Hyung! Kai baru saja sadar dan kau sudah ingin mengintrogasinya?" sahut Chanyeol.

"Tunggu hingga kondisi Kai membaik, hyung" imbuh Sehun.

"Kita tak bisa menunggu! Kalian tau waktu kita tak banyak!" bentak Kris emosi.

"Apa maksudmu, hyung?" tanya Kai tak mengerti.

"Kenapa kau menghindari Kyungsoo?" tanya Kris menstabilkan emosinya. Kai mengerutkan dahinya.

"Nugu?"

"Jangan pura-pura bodoh, Kai! Kyungsoo adalah 'mate'mu! Kenapa kau menghindarinya?!" bentak Kris.

"Ah...namja mungil itu. Itu karena dia 'mate'ku makanya aku menghindarinya" jawab Kai santai. Kris menggeram. Chanyeol langsung menahan Kris yang ingin menyerang Kai.

"Kau tau seberapa penting 'mate' untuk kita?! Kenapa kau mengabaikannya, hah?! Kau...kau..kau...Aish! Sialan!" umpat Kris dan meninggalkan kamar Kai. Chanyeol ingin mengejar Kris tapi lebih baik membiarkan Kris sendirian dulu untuk sementara waktu.

"Meninggalkan 'mate'mu sama saja mati perlahan Kai, kau tau itu" ucap Chanyeol.

"Apalagi kau memiliki ikatan batin kuat dengan Kyungsoo. Saat ia tersakiti maka kau juga tersakiti. Jadi jangan menyusahkan dirimu" lanjut Chanyeol.

"Aku tak akan mendekatinya jika aku masih belum bisa menemukan pembunuh kedua orang tua kita, hyung" lirih Kai.

"Tak bisakah kau mencarinya setelah purnama ini? Kita tak punya banyak waktu yang tersisa Kai" bujuk Sehun.

"Aku tak bisa, Hun. Aku sudah hampir menemukan keberadaan mereka. Tinggal sedikit lagi aku akan menemukan mereka"

"Setelah menemukan mereka, apa yang akan kau lakukan?" tanya Chanyeol.

"Membunuh mereka" balas Kai singkat.

"Jika mereka sudah mati?" tanya Chanyeol lagi.

"Aku akan membunuh keturunannya. Sampai keujung dunia aku akan menemukan dimana keturunan pembunuh itu hidup"

"Sebelum itu kau sudah mati duluan, Kai. Kau harus melakukan 'mating' jika ingin menjalankan rencanamu"

"Akan aku pikirkan nanti, hyung"

.

.

BAD DESTINY

.

.

Benar apa yang dikatakan Chanyeol. Setelah mencari cukup lama, Kai akhirnya menemukan keberadaan pembunuh kedua orang tuanya. Dua batu nisan kini berada dihadapan Kai. Batu nisan yang mengukir nama para pembunuh kedua orang tuanya. Sial baginya karena kedua orang itu telah mati terlebih dahulu.

Kai mengeluarkan sebuah foto keluarga dimana ada tiga orang tertawa bahagia didepan kamera. Dua orang namja dewasa dan seorang namja kecil. Kai mengambil satu foto lagi disakunya dan mengamati kedua foto itu. Ia harus mencari namja kecil dikedua foto itu. Ia yakin jika anak dari pembunuh orang tuanya itu masih hidup. Ia masih mempunyai kesempatan untuk membalaskan dendamnya.

"Aku akan menemukanmu dan membawamu bertemu dengan orang tuamu. Kau harus menerima hukuman dari apa yang telah orang tuamu lakukan kepada orang tuaku"

Kai menatap sengit kedua nisan itu dan beranjak pergi dari sana. Kebenciannya semakin besar dan hasrat ingin membalas dendam semakin kuat. Ia tak akan pernah menyerah. Ia harus berhasil memenuhi keinginannya.

Beberapa menit Kai meninggalkan makam datang seorang namja mungil dengan dua buket bunga ditangannya. Namja itu membungkuk hormat didepan makam kedua orang tuanya. Namja mungil itu meletakkan masing-masing buket dimakan orang tuanya. Ia tersenyum lebar.

"Eomma...appa...Kyungsoo wasseoyo. Apa eomma dan appa merindukanku disana? Aku harap begitu. Aku sangat merindukan kalian"

.

.

.

.

TBC

Yuhu...ku kembali lagi. Terima kasih supportnya. Cepetkan updatenya? kkkk.

REVIEW JUSEYO~~~~