BAD DESTINY

.

.

.

.

Proudly Present :

Kai

Kyungsoo

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION FOR ALL KAISOOSHIPPER

.

.

.

ENJOY THE FICTION

.

.

WARNING! MATURE CONTENT!

.

.

CHAPTER 6

Previous chapter :

"KRIS, BERHENTI! KEMARI!" jerit Tao lantang.

Seketika tubuh Kris langsung berhenti memukuli Kai. Chanyeol dan Sehun memanfaatkan keadaan itu dengan menarik tubuh Kai menjauh dan menahannya agar tak menyerang lagi. Kris seperti anjing setia langsung saja menghampiri Tao yang berdiri penuh kebingungan melihat tingkah laku Kris.

"Brengsek!" umpat Kris saat dirinya tau kedua saudaranya itu memanfaatkan Tao untuk menghentikan perkelahiannya.

"Mwo?! Kau mengataiku brengsek?!" tanya Tao dengan mata berkaca-kacanya. Kris gugup seketika melihat wajah Tao yang akan menangis.

"Aku membencimu!" teriak Tao lalu pergi. Kris mengacak-acak rambutnya kemudian mengejar Tao.

Chanyeol dan Sehun tersenyum kemenangan. Akhirnya ada orang yang bisa membantu mereka disaat genting seperti ini. Sehun dan Chanyeol kemudian membawa Kai kekamarnya. Untung saja sekarang Kai sudah kembali kekeadaan normalnya. Jadi keduanya tak perlu menghabiskan tenaga untuk meladeni kebringasan Kai.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Luhan, Baekhyun dan Tao duduk santai dikantin kampus mereka. Ketiganya tampak muram dan hanya mengaduk-aduk makanan mereka. Mereka bertiga serempak menghela nafas mereka. Jika dilihat-lihat mereka seperti yeoja yang sedang patah hati.

"Kenapa wajahmu seperti itu, panda?"

Tao membalikkan badannya dan mendapati Kris dan saudara-saudaranya berjalan mendekati meja mereka. Tao mengacuhkan pertanyaan Kris dan memilih diam memandangi makanannya. Ketiga namja tinggi itu memposisikan dirinya duduk disebelah 'mate' mereka masing-masing.

"Kau belum menjawabku, panda" tegur Kris.

"Apa urusanmu?! Pergi sana!" usir Tao.

Seperti sebuah robot yang dikendalikan, tubuh Kris tiba-tiba saja berdiri dan meninggalkan kelima orang yang berada dikantin. Tao mendengus pelan. Sedangkan Chanyeol dan Sehun tertawa terbahak-bahak melihat Kris seperti boneka mainan Tao.

"Kenapa kalian tertawa? Hyungmu pergi kemana?" tanya Baekhyun penasaran.

"Aku tak menyangka akan seampuh ini efeknya. Tao kau benar-benar hebat" ucap Chanyeol dan memberikan jempolnya untuk Tao. Tao mencibik pelan.

"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Baekhyun lagi.

"Tanya saja pada kedua manusia jadi-jadian ini. Aku pergi" kesal Tao.

"Panda! Kau mau kemana?!" teriak Luhan tapi Tao terus melangkah menjauh tanpa menjawab pertanyaan Luhan.

"Ah...aku hampir lupa. Bagaiaman keadaan Kyungsoo?" tanya Chanyeol.

Baekhyun dan Luhan mengernyit heran. Setau mereka, mereka tak menceritakan kepada siapapun perihal sakitnya Kyungsoo. Kenapa tiba-tiba Chanyeol bertanya seolah ia tau jika Kyungsoo sedang sakit?

"Bagaimana kau tau?" selidik Baekhyun.

"Kemarin kami baru ke apartemen kalian dan menemukan Kyungsoo pingsan" jawab Chanyeol santai.

"Kenapa kalian ke apartemen kami?" penasaran Baekhyun.

"Aku mencarimu tapi kau tak ada" bohong Chanyeol.

"Aku tau kau bohong"

Luhan dan Sehun yang sedari tadi mendengarkan perdebatan kecil Chanbaek hanya diam. Luhan memberi kode Sehun menanyakan ada apa. Tapi Sehun hanya tersenyum dan membawa Luhan pergi dari tempat itu.

"Katakan padaku, Park!" tegas Baekhyun.

"Aku akan mengatakannya tapi tidak disini" ucap Chanyeol menyerah.

Chanyeol membawa Baekhyun keluar kantin. Percuma saja ia menutupi apa yang terjadi. Toh lelaki mungilnya ini akan terus bertanya hingga ia puas dengan jawabannya. Chanyeol membawa Baekhyun kerumahnya. Baekhyun cukup tertegun dengan bangunan klasik didepannya. Bahkan hingga turun dari mobil Chanyeol, Baekhyun masih saja memandangi bangunan didepannya.

Chanyeol tanpa berkata apa-apa langsung menarik tangan Baekhyun dan mengajaknya kedalam. Namja mungil incarannya ini terkadang menyusahkan juga. Pintu utama terbuka lebar dan menampilkan sosok lelaki tua yang Chanyeol tau betul siapa itu.

"Bagaimana keadaan Kai?" tanya Chanyeol.

"Tuan muda Kai masih berada dikamar. Sepertinya beliau belum sadar" jawab Pak Lee.

"Bagaimana dengan lukanya?"

"Tak separah kemarin, hanya saja sedikit lambat untuk sembuh. Sepertinya ini berhubungan dengan 'mate'nya"

"Aish...namja bodoh. Kenapa dia suka sekali membuat orang lain susah" gerutu Chanyeol.

"Kajja!"

Chanyeol menarik Baekhyun mendekat dan meraih pinggang rampingnya. Baekhyun hanya diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Baekhyun membungkuk singkat saat melewati lelaki tua yang diajak Chanyeol berbincang tadi. Lelaki tua itu membalas membungkuk dan tersenyum penuh arti. Baekhyun sedikit bingung dengan lelaki tua itu.

Segala pemikiran yang berkecamuk didalam otak Baekhyun, ia tak menyangka sudah masuk didalam kamar Chanyeol. Chanyeol membiarkan Baekhyun mengamati kamarnya. Ia mengunci kamarnya lalu mengikuti langkah Baekhyun. Baekhyun mengedarkan pandangannya kesegala penjuru kamar. Baru kali ini ia melihat kamar dengan nuansa klasik dijaman kuno.

"Aku ingin membuat sebuah kesepakatan" ujar Chanyeol. Baekhyun berbalik dan memandang Chanyeol penuh tanya.

"Kesepakatan?" tanya Baekhyun.

"Benar. Aku akan menjawab segala pertanyaan yang ada dikepala kecilmu itu tapi kau hanya perlu membalasnya dengan menuruti setiap keinginanku"

"It's not fair!" seru Baekhyun.

"Terserah. Jika kau tak mau tak masalah bagiku" balas Chanyeol cuek. Baekhyun mendelik tak suka.

"Lalu apa maumu?" tanya Baekhyun.

"Kau hanya perlu menjawab deal or no deal. Setelahnya aku akan menjawab setiap pertanyaanmu tapi tidak untuk apa keinginanku"

"Ck. Kau pemaksa sekali. Sejak awal bertemu denganmu kau selalu memaksakan kehendakmu!"

"Itu sifat naluriahku. Aku tak bisa mencegahnya"

"Fine! Deal! Aku menyetujui kesepakatanmu"

Chanyeol tersenyum miring. Akhirnya ia mendapatkan Baekhyun tanpa harus bersusah payah. Chanyeol menggiring Baekhyun untuk duduk disofa yang berada dikamarnya. Keduanya duduk berhadapan. Chanyeol menunggu Baekhyun untuk memulai.

"Jadi...sebenarnya kau ini apa? Aku tau jika kau bukan manusia biasa"

"Warewolf" Baekhyun menaikan satu alisnya.

"Warewolf? Aku rasa itu hanya didongeng saja. Kau tak mengarangnya kan?"

"Tidak"

Baekhyun geram. Bagaimana bisa laki-laki jangkung didepannya ini menjawab begitu santai dan sangat singkat. Ia sangat serius saat ini.

"Aku serius, Park Chanyeol! Jawablah dengan benar!" kesal Baekhyun.

Chanyeol terkekeh pelan. Betapa menyenangkannya mengerjai simungil ini. Baekhyun memberengut saat lelaki giant didepannya ini ketawa. Jika bukan rasa penasarannya yang tinggi, mana sudi ia berada dikamar Chanyeol. Chanyeol menarik tangan Baekhyun hingga Baekhyun terjatuh didada bidang Chanyeol

"Kau sangat menggemaskan, Baek" ucap Chanyeol mengelus rambut Baekhyun.

Bekhyun menikmati setiap sentuhan Chanyeol. Rasanya nyaman, apalagi sekarang ia berada dipelukan Chanyeol.

"Jika kau warewolf, apa mata semerah darah itu merupakan buktinya?"

"Kau melihatnya?" Baekhyun mengangguk.

"Bisa dibilang begitu. Tapi hanya dalam keadaan-keadaan tertentu"

"Seperti apa?"

"Marah, bulan purnama dan menciummu"

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol.

"Apa maksud kalimat terakhirmu?"

Chanyeol membawa Baekhyun kedekapannya lagi.

"Kau ini terlalu banyak protes. Tak usah bertanya. Aku akan menjelaskannya"

"Jadi aku dan saudara-saudaraku seorang warewolf. Kami lebih tampak seperti manusia dibandingkan serigala. Hanya dalam keadaan marah dan bulan purnama saja yang membuat kami berubah. Mata kami akan berubah menjadi semerah darah dan kuku-kuku kami akan memanjang dan terlihat seperti cakar. Kami sudah hidup puluhan tahun. Umur kami memang tak sama seperti umur manusia pada umumnya. Dan sekarang kami mengalami pendewasaan. Dan untuk melewati masa pendewasaan kami membutuhkan seorang 'mate' untuk melakukan 'mating'"

Baekhyun beranjak dari dekapan Chanyeol dan duduk dihadapannya. Kini ia mulai tertarik dengan cerita Chanyeol.

"Mate? Mating? Sebenarnya apa itu?"

"'Mate' adalah takdir kami dan pendamping hidup kami. Setiap warewolf akan mempunyai satu 'mate' yang ditakdirkan untuk mereka"

"Lalu apa aku dan teman-temanku merupakan 'mate' kalian?"

"Luar biasanya, iya. Kami sendiri tak menyangkanya. Jujur saja itu merupakan keuntungan buat kami. Kami jadi tak perlu repot-repot membungkam kalian untuk menyebarkan bahwa kami seorang warewolf"

"Jika Luhan hyung dengan namja albino, kemudian Tao dengan namja tinggi tadi dan aku dengan...dengan..mu. Lalu Kyungsoo dengan siapa?" tanya Baekhyun. Ia meruntuki mulutnya yang gugup saat menyebut namanya dan Chanyeol. Chanyeol tersenyum.

"Kyungsoo dengan Kai. Kau pasti sudah bertemu dengannya"

"Tapi aku tak pernah melihat Kyungsoo berdekatan dengan Kai?"

"Itu karena Kai menghindari Kyungsoo. Kai menolak Kyungsoo sebagai 'mate'nya"

Baekhyun yang melihat perubahan mimik wajah Chanyeol langsung bertanya-tanya.

"Memangnya bisa kalian menolak seorang 'mate'?"

"Tidak. Aku sudah bilang bukan jika satu warewolf ditakdirkan memiliki 'mate'. Seberapa besar menolak kami tak bisa mengacuhkannya begitu saja. Karena 'mate' mempunyai ikatan batin yang kuat dengan warewolf terutama setelah 'mating'"

"Lalu kenapa Kai menolak Kyungsoo?"

"Karena Kai berada disini bukan mencari 'mate'nya. Ia disini karena ingin mencari pembunuh kedua orang tua kami"

Baekhyun ikut merasa sedih. Ia peluk tubuh Chanyeol dan mengusap punggungnya pelan. Baekhyun tiba-tiba saja dapat merasakan kesedihan Chanyeol. Namja tinggi dipelukannya ini sebenarnya rapuh. Ia memendam segala masalahnya sendiri dan Baekhyun dengan senang hati menjadi tempat adunya.

"Maafkan aku harus membuatmu menceritakan semuanya" ucap Baekhyun tulus.

"Tidak. Aku memang harus menceritakan yang sebenarnya kepadamu. Aku butuh bantuanmu. Aku tak tega melihat Kyungsoo dan Kai yang saling melukai"

Baekhyun melepaskan pelukannya.

"Apa maksudmu?"

"Kai dan Kyungsoo mempunyai ikatan batin yang sangat kuat walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Keduanya akan merasakan apa yang dirasakan pasangannya. Dan penolakan Kai terhadap Kyungsoo membuat Kyungsoo terpuruk dan itu sama saja membuat Kai ikut terpuruk. Kai berusaha membuat Kyungsoo membencinya dan menghilang dari pandangannya tapi jika sampai itu terjadi, keduanya akan mati perlahan"

"A-Apa?!" Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya dengan apa yang akan dikatakan Chanyeol.

"Mereka istimewa, Baek. Perasaan mereka bisa menjadi penyembuh sekaligus dewa kematian untuk mereka sendiri. Seorang warewolf tak akan hidup lama jika sang 'mate' tak berada disampingnya. Dan kau tau, Kai memiliki kekuatan yang paling besar dari kami. Jika pada bulan purnama mendatang ia tak melakukan 'mating' dengan Kyungsoo maka Kai akan berubah menjadi monster dan kehilangan seluruh kendali diri. Sedangkan Kyungsoo akan mati dan setelah kematian Kyungsoo, Kai juga akan mati"

Baekhyun terdiam. Kenapa Kyungsoo mempunyai nasib yang benar-benar buruk batin Baekhyun. Ia tak bisa kehilangan Kyungsoo. Ia harus melakukan sesuatu untuk Kyungsoo tetap hidup. Baekhyun menatap Chanyeol penuh keyakinan.

"Ayo temukan pembunuh kedua orang tuamu. Kita selesaikan urusan pribadi Kai agar ia bisa melihat Kyungsoo" Chanyeol mengerutkan dahinya.

"Sebelum kesana. Aku ingin kau mengabulkan keinginanku"

"Chanyeol-ah! Itu tak penting! Kita harus menyelamatkan Kyungsoo!" tolak Baekhyun.

"Ini penting Baek. Penting untuk kita berdua"

Ucapan Chanyeol membuat semangat Baekhyun menurun. Ia menantikan kalimat selanjutnya dari Chanyeol.

"Keinginanku adalah 'mating' denganmu"

Baekhyun memundurkan badannya saat melihat mata Chanyeol berwarna merah. Sungguh ia sangat takut jika Chanyeol seperti ini. Baekhyun yang sudah mengambil ancang-ancang untuk lari tak dapat berkutik saat tubuhnya dihempaskan begitu saja diranjang. Badan Baekhyun gemetaran.

"C-Chan..."

Chanyeol menghentikan pergerakannya. Dilihatnya lelaki mungil dibawahnya meringkuk ketakutan. Chanyeol menutup matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia harus sadar. Jika ia kehilangan kendali maka ia bisa menyakiti Baekhyun. Chanyeol beranjak dari tubuh Baekhyun. Samar-samar Baekhyun mendengar geraman. Baekhyun melihat seksama tubuh Chanyeol. Ia tak menyadari jika kuku tajam Chanyeol sudah keluar. Pasti Chanyeol menahan sedari tadi.

Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol. Sebenarnya Baekhyun masih ketakutan tapi melihat Chanyeol seperti sedang kesakitan membuatnya tak tega. Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol dari belakang. Badannya masih gemetar tapi hatinya bersikukuh memeluk Chanyeol.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Yeol. Tolong jangan ditahan. Aku tak sanggup melihatmu tersakiti" lirih Baekhyun. Chanyeol membalikkan badan Baekhyun dan menatapnya.

"Aku tak bisa. Dengan tampangku yang seperti ini saja kau sudah ketakutan, Baek. Jika kau menyuruhku lebih lanjut aku takut menyakitimu"

Baekhyun menggeleng lemah.

"Kesakitanmu kesakitanku. Aku percaya padamu" ucap Baekhyun menatap manik mata Chanyeol yang berwarna merah.

Chanyeol membawa Baekhyun keranjang dan menurunkannya pelan. Tanpa sadar Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Tangan Chanyeol terulur kedagu Baekhyun. Tangan hangat Chanyeol mengalir disekitar wajah Baekhyun. Perpaduan kehangatan tangan dan dinginnya kuku-kuku Chanyeol membuat sensasi tersendiri untuk Baekhyun.

Chanyeol mulai mencium Baekhyun pelan. Bibir manis Baekhyun membuatnya ketagihan. Tubuhnya bergerak menindih tubuh mungil Baekhyun. Keduanya tenggelam dalam ciuman dalam dan panas itu. Baekhyun mencengkeram kuat pundak Chanyeol saat tangan Chanyeol mulai mengeksplor tubuhnya. Tubuh Baekhyun melengkung saat merasakan sensasi nikmat akibat perlakuan Chanyeol.

Entah sejak kapan Chanyeol membuka seluruh pakaiannya, kini Baekhyun sudah tergeletak tanpa mengenakan sehelai kainpun. Chanyeol menatap lapar tubuh Baekhyun dan mulai aksinya dari perut Baekhyun. Baekhyun menggelinjang saat benda basah nan kenyal menyentuh perut ratanya. Desahan demi desahan keluar begitu saja dari mulut Baekhyun.

Keduanya tenggelam dalam hasrat mereka. Chanyeol yang harus dengan segera melakukan penyatuan langsung memposisikan dirinya. Chanyeol menatap Baekhyun seolah meminta ijin dari simungil. Baekhyun hanya mengangguk sekilas. Dirasa mendapat persetujuan, Chanyeol langsung saja melesatkan kejantanannya kedalam lubang Baekhyun.

"AARRRRGGGGGHHHHH!"

"GRRRRRRRR!"

Keduanya menjerit dan menggeram bersamaan. Penyatuan yang sempurna dilanjutkan dengan gerakan lambat namun pasti. Baekhyun mendesah keras saat merasakan benda asing memenuhi lubangnya. Rasanya sedikit perih tapi begitu nikmat. Chanyeol terus menggerakkan tubuhnya hingga membuat tubuh Baekhyun tersentak-sentak.

Baekhyun mencakar-cakar punggung Chanyeol hingga menimbulkan luka gores yang cukup banyak. Keduanya masih belum berhenti melakukannya. Tubuh Baekhyun sudah cukup lelah tapi lelaki diatasnya masih saja menggenjotnya kuat.

Baekhyun yang merasakan sesuatu didalam dirinya langsung mencengkeram kuat pundak Chanyeol. Chanyeol langsung menggeram kesakitan. Kuku-kuku Baekhyun yang tumbuh menusuk kulitnya. Chanyeol melihat Baekhyun yang sebentar lagi akan keluar langsung mempercepat genjotannya.

"AAAAHHHH~~~~~"

Baekhyun menjerit saat dirinya keluar. Chanyeol yang merasa dirinya akan keluar sebentar lagi langsung menggerakan pinggulnya lagi tanpa menunggu kesiapan Baekhyun. Kasur berdecit hebat akibat keganasan Chanyeol. Terus dan terus, Chanyeol menggenjot lubang Baekhyun.

"GGGGRRRRRRRRRHHHHHH!"

Chanyeol menggeram tertahan saat ia orgasme yang disusul dengan robohnya ranjang mereka. Chanyeol merasakan tenaganya luar biasa terisi. Belum pernah ia mendapat kekuatan seperti ini. Ia pandangi namja mungil yang sudah jatuh pingsan akibat sesi panas mereka. Chanyeol bergerak dan membuat ranjang yang sudah roboh itu semakin hancur.

Chanyeol terkekeh pelan saat menyadari tenaganya yang luar biasa. Ia berdiri dan merapikan puing-puing ranjangnya agar tak melukai Baekhyun. Setelah cukup bersih-bersihnya, Chanyeol beranjak ke kamar mandi. Pantulan kaca yang menampilkan wajahnya membuat Chanyeol sedikit tertegun. Matanya sekarang tak lagi berwarna merah darah melainkan warna kuning sama seperti milik Kris. Ia tersenyum samar mengingat dirinya sudah melakukan 'mating' dengan Baekhyun. Sekarang saatnya menyelesaikan masalah Kai.

.

.

BAD DESTINY

.

.

Kai melenguh pelan dan membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa sakit. Biasanya tubuhnya akan cepat sembuh tapi kenapa dia merasakan jika tubuhnya tak seperti dulu. Kai mencoba untuk duduk tapi kepalanya terasa pening. Ia rebahkan kembali tubuhnya. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.

Seorang pria tua masuk kekamar Kai sambil membawa nampan. Pria tua itu tersenyum samar saat melihat Tuan mudanya sudah siuman. Namja itu menghampiri ranjang Kai dan meletakkan nampan dimeja dekat ranjang Kai.

"Bagaimana keadaan anda Tuan muda Kai?" tanya pak Lee.

"Kepalaku pusing sekali. Apa yang terjadi padaku?" tanya Kai serak.

"Anda masih harus beristirahat. Keadaan anda masih belum stabil"

"Berapa lama aku pingsan?"

"Sekitar 2 hari. Saya membawakan daging segar untuk anda. Ini bisa membuat anda lebih segar"

Kai hanya diam dan menutup matanya. Perasaannya kacau. Ia ingat saat bertemu Kyungsoo terakhir kali membuatnya merasa sedih dengan segala kondisinya. Ia sadar jika takdirnya tak bisa dihindari tapi mau bagaimana lagi. Selama ia belum membalaskan dendam kedua orang tuanya, ia masih belum bisa tenang. Dendam itu sudah menemani hidupnya selama ini.

Pak Lee yang melihat kondisi Kai kian memburuk ikut khawatir. Jujur saja ia tak ingin melihat tuan mudanya seperti itu. Pak Lee yang hendak keluar kamar Jongin menghentikan langkahnya saat melihat sebuah foto yang tergeletak tak jauh dari ranjang Kai. Pak Lee meraihnya dan memandang sekilas foto itu. Ia mengambil foto itu dan memasukkan kedalam jasnya. Ia akan menyelidiki orang yang ada difoto itu.

Kai menatap sekeliling kamarnya. Dilubuk hatinya terasa sakit yang amat sangat. Perasaan menyakitkan itu terus menyerangnya. Tanpa sadar Kai menitikkan air matanya. Tubuhnya sedikit bergetar merasakan pedihnya yang dideritanya.

"Kenapa aku menangis? Apa yang sedang terjadi? Kenapa harus aku yang menjadi seperti ini?" gumam Kai.

"Apa aku terlalu menyakitimu hingga kau sesakit ini? Sungguh ini menyakitkan"

Dilain tempat, Kyungsoo menyandarkan tubuhnya didashboard kasurnya. Ia hanya diam dengan pandangan kosong. Hidupnya terlalu menyakitkan untuk dikenang. Belum lama ia menjalani hidup layaknya orang normal, ia sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit. Bertemu dengan seseorang yang sama sekali membencinya. Apa salahnya? Sedikitpun ia tak mengenali orang itu sebelumnya tapi kenapa orang itu datang kepadanya dan memberikan segala kebencian kepadanya?

Kyungsoo memegangi dadanya yang merasa sesak. Ini sangat menyakitkan untuknya. Padahal ia sangat menyukai penyelamatnya itu. Ia berharap bisa mengenalnya lebih jauh. Tapi semua itu sirna setelah penolakan dari penyelamatnya itu. Kyungsoo sempat bertanya-tanya, ada hubungan apa antara dia dan orang itu. Kenapa orang itu begitu menyalahkannya akan kehadirannya?

"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubunganku denganmu? Kenapa aku sangat terluka? Sungguh ini menyakitkan" lirih Kyungsoo.

.

.

.

.

.

TBC

Mian...Jeongmal mianhae #deepbow. Sumpah ngaretnya lama banget. Maaf klo NC Kristao kemarin kurang hot. Dan yang punya chanbaek juga kurang hot. huhuhuhu. Maafkan aku T,T

Terima kasih yang sudah support aku selama ini. Maaf juga klo lama apdetnya. Terus dukung Kaisoo ya. Akhir-akhir ini banyak banget momennya Kaisoo. Semoga badai ga dateng lagi. Amin.

Cukup cuap-cuap dari aku. Terima kasih semua readers yang udah baca, follow, fav n review epep ini. Klo masih gaje harap dimaklumi dan berikanlah saran kepadaku.

REVIEW JUSEYO~~~~~