Warn : Hati-hati sakit mata


Berjalan menyusuri lorong sebuah mansion, kelelahan jelas terlihat diwajah cantiknya. Tapi meski begitu, dia masih mempunyai kewajiban untuk mendukung perkembangan ras-nya.

Dengan empat pelayan perempuan berbaris mengekor dibelakangnya, disertai tumpukan dokumen di pelukan masing-masing. Dia juga bisa melihat betapa lelahnya mereka.

Tidak diragukan lagi jika dia tidak asing dengan menangani berbagai dokumen, mengingat dulunya dia adalah salah satu Heiress salah satu rumah pilar dari 72 pilar iblis. Dia dibiasakan dengan mengurusi berbagai dokumen dan apapun yang menyangkut dengan kesejahteraan Klan.

Dan sebagai salah satu dari empat Maou, perbedaan yang terlihat pastinya tentang cakupan wilayah yang sekarang menjadi keseluruhan iblis.

Boom...

Langkahnya terhenti ketika mendengar ledakan dan sapuan aura yang menerpa dirinya.

"Kalian cepat bawa dokumen ke ruanganku, dan beritahu Otou-sama dan Okaa-sama tentang ini. Aku akan menyelidikinya!"

"Hai, Leviathan-sama!"

Dengan tergesa-gesa dia segera menyuruh para pelayan yang mengikutinya untuk menyimpan dokumen dan melaksanakan apa yang diperintahkan. Dan tentu saja para pelayan langsung menuruti tanpa protes, karena bagaimanapun mereka hanyalah iblis pelayan dari rumah yang lebih rendah tidak dikhususkan untuk pertarungan.

Segera Leviathan atau yang dikenal sebagai Serafall menuju semburan energi yang perlahan melemah. Dia menemukan jika energi tersebut berasal dari perkebunan Sitri. Terasa agak familiar tapi berbeda, dia tau itu apa; itu adalah chakra yang digunakan oleh para Youkai, tapi ini terasa sangat berbeda, ini sangat padat, sangat berbeda dengan apa yang diketahuinya. Dia tidak tau, apakah ini Yokai kuno atau apa, jika bisa menghasilkan kepadatan chakra sedemikian rupa.

Tak berselang lama dia menemukan sumber energi tersebut.

'Manusia?!'

Terkejut? Tentu. Siapa yang mengira jika energi yang dikiranya sebagai bentuk chakra yang lebih padat tersebut berasal dari manusia.

Bisa dibilang keadaan manusia tersebut sangat memprihatinkan; Darah yang merembes keluar dari tangan kanan yang hilang, pakaian orange dan hitamnya yang sobek dibanyak bagian, memperlihatkan luka-luka baru dan lama yang telah mengering, wajahnya yang dihiasi tiga goresan dimasing-masing pipinya menyerupai kumis kucing dipenuhi dengan lebam dan aliran darah kering, rembesan darah kering juga terlihat di mata kirinya yang tertutup.

Deru nafas lambat yang menandakan kehidupan masih melekat pada tubuh tersebut.

Sungguh, dia tidak bisa membayangkan apa yang telah menimpa pemuda didepannya.

Dia mulai mendekat perlahan, berhati-hati dengan gerakan sekecil apapun yang mungkin akan membuat sesuatu lebih runyam.

'Oh demi Satan, dia seksi!'

Sekelebat pikiran cabul menyusup tanpa peringatan saat dia semakin jelas dengan pandangannya akan tubuh pemuda terbaring tersebut, lihatlah tubuh dibalik jaket yang terbuka tersebut, yang memperlihatkan kaus yang dikiranya sebagi jaring-jaring ketat melekat ditubuhnya yang memperlihatkan otot yang terbentuk di tubuhnya yang tidak begitu kurus namun cukup berisi.

Memang dia tidak asing dengan tubuh lawan jenis, apalagi dengan teman-temannya saat mereka memasuki perang saudara diwilayah iblis dulu. Tapi entah kenapa dia merasa beegitu berbeda dengan saat dia melihat bentuh tubuh pemuda didepannya, seperti sesuatu menarik dan menantangnya untuk melihat lebih dekat dan rasakan bagaimana tubuh tersebut akan bereaksi dengan dirinya.

Menggeleng cepat untuk mengusir pikiran cabulnya, dia melanjutkan langkahnya.

Ketika dia telah mencapai jarak yang tak lebih dari dua meter dari tubuh pemuda yang terbaring tersebut, pemikiran lain muncul.

'Bisakah aku membawanya kedalam gelar Kebangsawananku?'

Dia tidak salah dengan pemikiran tersebut, mau bagaimanapun dia adalah iblis, dan iblis terkenal dengan pembawaan akan nafsu, dan karena itulah mereka dilambangkan dengan Tujuh Dosa Mematikan; Nafsu, Kerakusan, Ketakamakan, Kemalasan, Kemarahan, Iri, Kebanggaan. Dan sebagai salah satu iblis yang membawa salah satu dosa Nafsu, yang dia yakini sebagai landasan ketamakannya atas sesuatu yang harus dia miliki. Meski dia yakin dia dapat mengendalikan pikirannya atas dosa yang dia wakili, itu bukan berarti dia bisa mengendalikannya selalu setiap saat. Karena setiap satu dosa yang diwakili dapat memicu dosa lain untuk bereaksi, jadi pada dasarnya dia memiliki satu dosa aktif dengan enam dosa yang akan aktif juga jika nafsu, yang sebagai dosa utamanya dipicu oleh sesuatu.

Dengan ragu, dia mengeluarkan kotak tipis yang berupa papan catur dengan beberapa bidak yang melayang ditangannya. Mendekat dan semakin mendekat dia segera mengeluarkan bidak yang dikiranya akan cocok; dan pikirannya mengarah pada bidak Queen. Aneh memang, tapi kesampingkan itu.

Saat dia akan meletakkan bidak Queen tersebut diatas tubuh pemuda itu, dia harus menahan jeritan terkejutnya ketika tangan yang tersisa dari tubuh tak sadarkan diri tersebut meraih tangannya tanpa dia bisa melihat gerakannya.

Nafas tercekat ketika dia mendongak dan bertemu dengan mata tak serasi yang menghuni kedua rongga matanya, mata kanannya merah dengan tiga koma kecil berputar pelan dengan keanggunan penuh, mata kirinya berwarna ungu metalik dengan cincin demi cincin menghuni rongganya, tak lupa juga dengan koma yang sama menghuni lingkaran cincinnya berjumlah enam dengan masing-masing memegang tiga koma disetiap lingkarannya.

Dia memang terpesona dengan kedua mata berbeda warna tersebut, tapi dia tidak bisa menghalangi perasaan terancam ketika menatapnya. Terlebih lagi, perasaan tersebut lebih kuat ketika dia menatap mata bagian kirinya, dia bisa merasakan tingkat ancaman yang lebih besar dari mata tersebut dibanding dengan mata kanannya.

'Sacred Gear? Tidak, bukan. Ini jelas bukan Berkah yang menyelimuti manusia itu, ini... ini jelas kekuatan murni yang terkandung bersama tekanan kekuatan chakra padat itu.'

"Si-siapa kau?"

Segala jenis konflik dipikirannya harus terpaksa berhenti ketika dia mendengar suara lemah yang berasal dari pemuda didepannya.

"Serafall, Serafall Sitri. Atau sekarang aku dikenal sebagai Serafall Leviathan, dan jika boleh kutahu; Siapa anda? Darimana anda berasal? Dan bagaimana anda bisa sampai ke keadaan anda saat ini?"

Jawaban dengan disertai pertanyaan yang bisa menjelasakan apa yang terjadi meluncur cepat dari Serafall.

"N-Naruto... U-Uz-"

Dan jawaban yang diharapkannya segera menghilang ketika pemuda tersebut pingsan sebelum bisa menyelesaikannya.

Dia ingin membangunkan pemuda tersebut yang diketahuinya bernama Naruto, Naruto... eh Fishcake? Seperti... dari topping ramen?

Menggelengkan kepala menghindari pemikiran yang tidak perlu, dan dia menyadari kenapa Naruto pingsan.

'Astaga kau bodoh Serafall, dia terluka idiot!'

Memaki diri sendiri menyadari dia mencoba untuk menggiling informasi dari seseorang yang tengah sekarat, segera dia mencoba memapah Naruto yang pingsan tersebut dipunggungnya, tidak lupa untuk memasukan kembali Evil Piece-nya ke dimensi saku.

Yang dia sadari dari Naruto adalah dia seorang petarung yang cakap dengan pengalaman mumpuni, seolah dia adalah veteran perang yang memiliki kewaspadaan diluar kendalinya. Terbukti dengan gerakannya yang ketika dirinya tidak sadarkan diri, tapi bisa mencegah situasi ancaman diluar keadaan tak sadarkan dirinya terjadi, itu adalah respon bawah sadar yang menakjubkan, dia tidak bisa merasa tidak beruntung jika bisa mendapatkannya dibawah sayap kebangsawanannya.

Oh, betapa benarnya kau Serafall...

Melupakan sejenak pemikiran untuk memasukkan Naruto kedalam gelar kebangsawanannya, dia harus segera membawa tubuh tak sadarkan diri tersebut menuju Mansion untuk mendapat perawatan, tidak berarti dia menyerah untuk mendapatkan manusia tersebut dilain kesempatan.

'Dia ringan sekali...'

Meski beban yang dia tanggung dipunggungnya tidak terasa berat, sejenak dia menyesal ketika tinggi tubuhnya tidak memadai, terbukti dengan terseretnya kaki Naruto ditanah.


"Dan begitulah aku bertemu dengannya!"

Seruan bersemangat datang dari seseorang yang dikenal sebagai Childish-Maouーuntuk beberapa orang yang dekat dengannya, yang saat ini telah selesai menceritakan pertemuan pertamanya dengan Naruto kepada adiknya, yang saat ini termenung disofa bersamanya.

"Dan kau tidak mendapatkan apa-apa dari itu?"

Keraguan bisa terlihat jelas diwajah Sitri yang lebih muda ketika kakaknya menyelesaikan ceritanya. Mau dilihat darimana pun harusnya kakaknya mengetahui sesuatu dengan jelas tentang Naruto meskipun itu hanya secuil informasi, seperti yang dia yakini dari apa yang pernah didengarnya; Bahkan dengan sedikit informasi, itu bisa menentukan sedikit dari banyaknya kemenangan dalam peperangan. Yang dengan kata lain dia menginginkan suatu hal yang perlu diketahuinya, walau sekecil apapun itu, terlebih lagi jika informasi itu menyangkut sesuatu yang fatal bagi yang bersangkutan.

Dengan kata lain dia menginginkan suatu hal yang bisa berakibat fatal bagi Naruto jika dia memang seseorang yang mempunyai niat untuk mencelakakannya atau sesama pewaris klan yang bersama dengan anggota peerage masing-masing.

Sebut dia paranoid, dia tidak akan menanggapinya lebih jauh; lebih baik berjaga-jaga daripada celaka.

"Tidak, karena selepas dia bangun setelah dua hari pingsannya dia hanya duduk diam seakan bermeditasi dan tidak menjawab bahkan satu pertanyaanpun dari kami saat itu, dan bahkan luka-luka yang dideritanya sebelumnya menghilang seakan-akan tidak pernah ada disana sebelumnya." Serafall membuat gaya berpikir yang dipikirnya cukup imut dengan tangan kirinya menopang tangan kanannya dengan jari yang mengetuk dagunya pelan.

"Ah!"

"Nee-sama?" Cukup terkejut dengan teriakan tiba-tiba kakaknya, dia mulai memandang aneh kakaknya yang mengerutkan keningnya seakan berpikir keras.

"Tidak, jika dipikir-pikir. Cukup aneh jika aku lupa dengan sensasi yang mengalir melalui dirinya waktu itu."

"A-apa maksudmu, Nee-sama?"

"Aku tidak begitu tahu waktu itu, tapi aku yakin satu hal yang pasti jika kupikirkan dengan benar sekarang," seolah-olah tau kakaknya belum selesai, Sona hanya tetap diam menunggu hingga Serafall mengarahkan pandangannya, yang cukup mengejutkan Sona betapa tajamnya mata kakaknya ketika memandangnya. "Itu adalah senjutsu yang mengalir ketika dia bermeditasi, memang benar aku tidak tau apa itu dulu. Tapi setelah aku melakukan urusan diplomatik dengan pemimpin Yokai Kyoto, aku merasakan perasaan yang sama mengalir melalui Yasaka no Kyuubi, meski jika kuingat dengan benar itu hanya sedikit berbeda dengan aliran yang mengalir dengan punya Naru-tan."

"S-senjutsu?! T-tapi bagaimana mungkin? Bukankah Naruto-sensei hanya seorang manusia?!"

"Tenang Sona, tenang." Serafall menghmbuskan nafas pelan, meski dia juga awalnya cukup terkejut mengetahui bahwa seorang manusia dapat menggunakan senjutsu yang dari apa yang diketahuinya cukup berbahaya, bahkan hanya beberapa Yokai yang dapat menggunakan senjutsu tanpa menjadi gila.

"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan dari yang kurasakan meski yang Naru-tan kumpulkan saat itu sangat padat, bahkan lebih padat daripada yang mengalir melalui pemimpin Yokai Kyoto, tapi satu hal yang pasti; bahwa Naru-tan bahkan seperti tidak terganggu dengannya."

Sona benar-benar merasa harus menganggap ini omong kosong, ada apa dengan Naruto-sensei nya itu? Bagaimana mungkin bahkan manusia biasa bisa menggungakan senjutsuーralat, jika dipikirkan ulang, itu sudah aneh jika benar senseinya pernah mendarat di Underworld dengan luka parahnya yang bahkan faktor penyembuhannya yang dari apa yang dikatakan kakaknya sudah cukup gila, bahkan mungkin menyamai faktor regenerasi Klan Phenex.

'Ini semakin membingungkan.'

Oke, Sona membutuhkan sesuatu yang cukup mengatasi rasa pusingnya sekarang...


Kembali dengan pahlawan pirang kita yang sedang melakukan rutinitas kecilnya dihutan Kuoh.

Dia cukup dengan ketenangan ini sekarang, karena kucing yang mulai tinggal bersamanya mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia cukup terkejut ketika melihat kucing itu menemukannya didalam rimbunnya hutan ketika dia memulai penyaringan energi Alam.

Sungguh, dia tidak merasa terganggu sama sekali, bahkan bisa dibilang dia sangat menikmatinya.

Pijatan kecil di paha dengan beberapa perasaan cakar yang menyangkut kulit dibalik pakaian yang dikenakannya cukup untuk membuatnya membuka matanya, melihat pada makhluk kecil tersebut dia mulai menghentikan aliran energi alam yang mengalir melaluinya, membelai bulu halus kucing kecil tersebut yang menghasilkan dengkuran puas darinya.

"Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang, Kuro?"

Bertanya pada kucing tersebut yang tetap sama sekali menjawab dengan geraman disertai dengkuran pelan.

"Hmm, bagaimana jika kita membelikanmu beberapa daging dan beberapa kotak susu untuk persediaanmu?" Mengeong seakan setuju, Kuro mulai mendaki dan mulai mendengkur ketika menemukan kenyamanan ketika dia melingkarkan dirinya dibelakang lehernya.

"Yah, baiklah. Mari berangkat!" Mulai berdiri dan membersihkan beberapa kotoran yang menempel ketika dirinya bermeditasi.

Berjalan serta bersenandung pelan ketika perjalanan yang cukup nyaman terjadi di dalam hutan yang mulai menggelap.

"Kau tahu jika dia bukan hanya sekedar 'kucing', bukan?"

Sebuah suara berat yang menyerupai geraman terdengar didalam kepalanya, suara yang sangat amat dikenalnya semenjak dia pertama kali bertemu dengannya.

'Yah, jika bukan sang rubah perkasa Kyuubi no Youko kita, bagaimana ramah tamahmu dengan saudaramu?'

"Jangan ingatkan aku tentang itu sialan!"

'Maa aku hanya bercanda, kau tahu? Tapi untuk pertanyaanmu, tentu saja. Akan jadi apa aku jika tidak bisa mengetahui hal seperti itu?'

"Baguslah jika memang begitu. Sudah cukup aku melihat betapa idiotnya dirimu, jangan buat aku melihat sesuatu yang kecil seperti ini membunuhmu."

'Oh ayolah Kurama, kau tahu aku. Tidak mungkin aku hanya menghadapi kematian dengan hal-hal bodoh yang melintas dipikiranmu, bukan?'

"..."

Kediaman suram yang bisa dirasakan Naruto ketika tidak mendapat jawaban dari salah satu penghuninya.

'Oi, kau bercanda kan? Kurama?!'

"Sebenarnya, Naruto..."

Suara berat namun lembut menyambutnya.

'Matatabi!'

Seakan-akan menemukan harapan untuk jawaban dari pertanyaannya datang, bibirnya membentuk senyuman lebar menunggu jawaban dari Ekor Dua untuk sedikit kepuasannya.

"Maaf Naruto..." senyumnya jatuh membentuk garis lurus, "meski kami bisa dibilang baru mengenalmu semenjak kami bangun, mungkin untuk kali ini beberapa dari kami atau bahkan mungkin semua setuju dengan Kurama."

Mengerucutkan bibirnya seakan dia masih anak-anak yang kehilangan minat akan mainannya, 'apa kalian serius?! Mungkin, tapiーOh dari semua hal kalian setuju dengan bola bulu bodoh itu?!'

"Tutup mulutmu, sialan!"

Menghiraukan teriakan marah dari bola bulu tersebut, dia tetap menunggu jawaban dari penghuni lainnya.

"..."

"Oh, ayolah..."

Ratapan pelan lolos darinya menghasilkan lirikan dari kucing yang masih setia bertengger dilehernya.

...

"Baiklah, jadi hanya tersisa daging untukmu ya..."

Gumaman pelan keluar ketika Naruto mulai menyusuri beberapa deretan rak disupermarket, berjalan menuju tempat yang diketahuinya sebagai tempat khusus untuk beberapa daging yang tersedia dengan troli yang berisi beberapa kebutuhannya serta kucing kecilnya.

"Hmm, kau mau yang mana?"

"Meong."

"Daging ayam?" Mengangkat sebungkus daging dan bertanya kepada kucing yang masih diam dipundaknya, mengembalikan daging tersebut dan mulai mengambil sebungkus lainnya, "atau sapi?"

"Meong!"

"Sapi?"

"Meow!" Seakan menegaskan jawaban, Kuro mulai menjilati pipi berhiaskan kumis kucing yang serupa dengannya.

"Wow, bukankah kau tau cara menguras dompetku?"

Dengusan terdengar dari kucing hitam tersebut seakan bangga dengan hal tersebut.

Mengabaikan beberapa tatapan yang berasal dari orang-orang disekitarnya, kebanyakan tawa geli dari ibu-ibu, cekikikan dari gadis-gadis remaja sekolah yang seumuran dengan murid yang diajarnya, bahkan beberapa berani mengambil gambar dari interaksi kecil yang menurut mereka lucu tersebut.


Berjalan menyusuri malam dikeramaian jalan Kuoh, masih bersama kucing kecilnya yang tetap nyaman menggulung dirinya dilehernya. Tangan tunggalnya sibuk membawa kantong belanja yang penuh dengan kebutuhannya untuk seminggu kedepan.

Ada sesuatu yang tidak beres, dan dia tahu itu...

Dia tahu sesuatu atau bahwa seseorang sedang mengikutinya sedari dia keluar dari supermarket, cukup mengagumkan betapa dia bisa menghindari penginderaannya sesaat. Mungkin agak sulit merasakannya pada awalnya, tapi berterima kasihlah pada alam yang mengalir melalui dirinya, dia mengetahui pada akhirnya bahwa dirinya diikuti pada jarak aman.

Dia tidak tahu siapa dia, tapi yang diketahuinya adalah bahwa seseorang ini jelas sebagai Malaikat Jatuh. Dan dari Auranya menegaskan jika dia bukan Kejatuhan yang biasa dia lawan, ini kuat. Tapi dia cukup yakin bahwa bahkan tanpa mengeluarkan semuanya, dia masih bisa menjatuhkan yang satu ini dengan sedikit usaha.

"Bukankah lebih baik kau memancingnya?"

'Dan untuk apa itu? Jika dia tidak memiliki permusuhan denganku?'

"Kau tahu jika jenis mereka susah untuk dipercaya, bukan?"

'Pertanyaan yang sama bisa kuarahkan padamu tentang Serafall bukan? Dan lihat, apakah Serafall masih susah untuk dipercaya untuk sedikitnya?'

"Aku tidak akan menjawab untuk yang itu, tapi bisa kukatakan jika dia memang merupakan seseorang yang bisa kau percaya untuk sedikitnya memegang rahasiamu, maka aku tidak akan menghalangimu..." Kurama diam beberapa saat, "Tapi harus kau ingat konsekuensi nya bilamana kepercayaan yang kau taruh bisa salah tempat, Naruto."

'Dan harusnya kau juga melakukan itu padaku, Kurama.'

"Aku sudah melakukannya untuk sedikitnya saat awal perang," masih berjalan pelan, Naruto menunggu Kurama melanjutkan. "Dan kau berbeda, Naruto. Itu yang bisa kukatakan."

"Yepp, Rubah tua benar Naruto, kau berbeda. Kau menyelamatkan kami semua terlepas dari semua hal yang kau lalui, kau tetap memegang teguh janji yang kau buat untuk kami disini."

'Tapi aku tetap belum bisa membebaskan kalian semua dari tubuhku untuk merasakan apa itu kebebasan yang sebenarnya, Shukaku.'

"Maa, bahkan aku sekarang tidak berpikir untuk keluar dari sini, kau tahu?"

'Apa maksudmu, Son?'

"Yahh, bagaimana aku harus mengatakannya," Son menimang beberapa kata yang akan terucap. "Aku cukup bahagia disini kau tahu, bersama saudara yang diciptakan bersama denganku semenjak Rikudou mengasuh kami semua. Terlepas dari janji yang kau buat dengan kami, aku tidak berharap bahwa kau akan menepatinya dengan begitu banyak usaha yang kau curahkan, itu sebenarnya cukup menurutku ketika melihatmu berusaha begitu keras demi kami semua."

"Dia benar, Naruto. Aku pun cukup melihat dari sini bersama dengan yang lainnya." Matatabi menimpali.

"Yap, dan jangan pernah bisa berfikir untuk berpisah denganku, karena tanpaku si Lucky Seven keberuntunganmu tidak akan bisa lebih baik lagi dari sekarang!"

'Choumei...'

"Yahh, begitulah pendapatku juga, Naruto. Bersamamu dan Bee merupakan suatu anugrah karena dengan kalian berdua selalu menyenangkan bagiku."

'T-tapi, janji tetaplah janji, dan aku tidak akan pernah menarik janjiku, 'Ttebayo.'

"Dan karena itu kami sangat berterima kasih padamu, untuk semua usaha yang kau lakukan demi kami semua."

Naruto tidak bisa menahan genangan yang menaungi matanya, melihat dan merasakan betapa bersyukurnya dia ketika dia masih bersama para Bijuu hingga saat ini. Tidak pernah terpikir baginya akan jadi apa dirinya jika tidak pernah ada Bijuu bersamanya didunia ini, lebih tepatnya dunia baru ini.

Bahkan jika hanya Kurama yang tersisa, dia tidak yakin bisa menghadapi semuanya, dia berterima kasih atas komitmen tentang janji yang selalu dia pegang teguh. Bahkan jika para Bijuu tidak menginginkannya, dia akan tetap mencari cara untuk mengeluarkan para Bijuu dengan satu cara, atau bahkan lain cara, lagi dan lagi hingga dia berhasil.

"Hentikan rengekan menyedihkanmu itu, kit." Kurama menyela pikirannya ketika dia dengan baik menurut, menghapus genangan air mata dengan tangan cacatnya, "kita masih punya sesuatu yang lain untuk diurus saat ini."

'Ah, kau benar. Maafkan aku, teman-teman.'

"Hm, tidak masalah." Kurama mewakili semua Bijuu yang sekarang diam, "hanya jangan pernah berfikir bahwa kau sendirian disini, masih ada kami bersamamu, kit."

'Terima kasih, semuanya.'

Sekali lagi Naruto mulai fokus pada jalan yang mulai sepi dari beberapa lalu lalang yang lewat, sedikit aneh bagi orang lain jika mereka bisa melihatnya, tapi tidak baginya. Ini sudah sering terjadi padanya ketika dia memulai perburuannya untuk beberapa kejatuhan dan iblis liar, yang sering mengganggu sekitar kawasan yang sering terjadi 'kecelakaan' bagi beberapa media manusia.

Masih berjalan diam menunggu sesuatu datang.

Dan seperti yang diharapkan, sebuah lesatan cahaya melesat dari titik butanya. Tapi jangan harap jika serangan simpel tersebut bisa membunuhnya, bahkan melukainya.

Melangkah ke samping menghindari lesatan tersebut yang diketahuinya berbentuk tombak yang terbuat dari cahaya, dia berkeringat kecil.

'Serius? Apakah mereka tidak bisa membentuk serangan lain selain tombak dan pedang?'

Pikiran absurd melintas dikepalanya.

"Mungkin karena mereka memang tidak bisa berimajinasi," Kurama menyahut pikiran host-nya, "bahkan aku berani bertaruh jika imajinasi petapa kodok yang kau sebut ayah baptis bisa lebih daripada ini."

'Oi!'

Naruto berkedut mendengarnya, dia tidak menampik hal itu. Tapi dia berani bertaruh jika yang dimaksud Kurama adalah tentang buku porno yang ditulis oleh ayah baptisnya.

"Baiklah, apa yang kutemukan disini? Aku sedang pulang dari berbelanja dan diperjalanan pulang, dan aku dilempar tombak yang kuyakin jika menembus tubuhku akan menyebabkan sesuatu yang fatal. Apa kau serius?"

Perkataan yang menyiratkan kejengkelannya terdengar saat itu juga.

"Maafkan aku untuk yang satu itu, tapi melihat dari caramu menghindari seranganku. Aku bisa yakin jika kau adalah orang yang berpengalaman dalam bertarung, yang jika itu benar maka aku yakin bahwa kaulah yang bertanggung jawab atas beberapa kematian anak buahku dalam beberapa tahun ini."

Pernyataan datar yang keluar dari sosok yang melayang diatasnya membuat dirinya mendongak, untuk melihat lebih jelas seperti apa rupa seseorang yang menyerangnya tersebut. Dan sial, meski penglihatannya baik, dia masih tidak bisa melihat dengan jelas rupa tersebut meski dibantu dengan penerangan cahaya lampu jalan disekitarnya, meski jika dia menilik dari suaranya, dia terdengar seperti seseorang yang masih diusia pertengahan 30-an.

Dan sesuatu yang dia yakini sebagai sayap mencuat dari punggungnya sebanyak lima pasang.

"Hm, apa maksudmu? Anak buah? Pembunuhan? Apa kau bercanda? Aku warga negara yang baik bung!"

"Tidak perlu berpura-pura, Ningen." Sosok itu tetap berbicara dengan nada datarnya, "dari caramu menghindar dan bahkan reaksimu ketika melihat makhluk yang berbeda dengan kalian para manusia, ditambah auramu, aku bisa yakin jika kau adalah dalang dibalik hilangnya para anak buahku. Yahh meski aku tidak terlalu peduli dengan mereka, mengingat betapa lemahnya mereka."

Tatapan mata Naruto menajam ketika mendengar hal itu, dia benci itu. Meski mereka yang telah dibasminya melenceng, tapi dia tidak bisa menerima bahwa mereka hanyalah alat sekali pakai yang digunakan oleh orang yang lebih miring lagi dari mereka.

"Jadi begitu." Masih menatap tajam pada sosok melayang tersebut, "dan lagipula, siapa juga kau hingga repot-repot menemui seseorang yang menghapus beberapa jenismu? Tidak takut jika aku menghapusmu juga"

"Ho~, jadi berhenti berpura-pura," Kejatuhan tersebut mulai melayang turun. "Apakah itu tadi ancaman? Oh, aku hanya ingin melihat seberapa besar ancaman yang ditimbulkan olehmu untukku dimasa depan. Dan mengenai siapa aku, maafkan jika aku terlambat memperkenalkan diri..."

Ketika dia menapak tanah, saat itulah Naruto dengan jelas bisa melihat bahwa orang tersebut memiliki telinga runcing dengan mata merah dan rambut hitam panjang yang serasi dengan jubah hitam yang dipakainya.

"Namaku Kokabiel, dan izinkan aku untuk melakukan beberapa evaluasi terhadap ancaman yang berwujud dirimu, Ningen."


27-05-2023